Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN SKILL LAB BIOMATERIAL I

UJI SINERESIS DAN IMBIBISI MATERIAL CETAK


HIDROKOLOID
(PRAKTIKUM II)

Disusun oleh:
FARIS MAHDANI
10617040

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


INSTITUT ILMU KESEHATAN
BHAKTI WIYATA KEDIRI
2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Alginat adalah bahan visco-Elastis dengan konsistensi seperti karet. Bahan

cetak alginat diperkenalkan pada tahun 1940. Sejak tahun itu, dokter gigi sudah

mulai menggunakan secara intensif bahan cetakan tersebut (Nallamuthuet al.,

2012).

Bahan cetak alginat merupakan gel yang bersifat hidrofilik, sebagian besar

struktur dari gel tersebut diisi oleh air. Apabila volume air dalam gel berubah,

volume alginat akan menyusut atau mengembang dan mempengaruhi stabilisasi

dimensi. Ini merupakan sifat bahan cetak alginat yaitu sineresis dan imbibisi.

Alginat yang telah setting dapat kehilangan cairan melalui proses evaporasi

(penguapan) dan sinereis, serta menyerap cairan dengan proses imbibisi (Imbery

dkk., 2010).

Bahan cetak alginat mempunyai sifat imbibisi yaitu menyerap air bila

berkontak dengan air sehingga bentuknya lebih mudah mengembang. Hal ini

dapat menyebabkan perubahan bentuk atau dimensi hasil cetakan sehingga mudah

terjadi ekspansi yang dapat menyebabkan ketidak akuratan hasil cetakan alginat.

Olehkarena itu, stabilitas dimensional pada hasil cetakan alginat merupakan hal

penting dalam keberhasilan pembuatan model cetakan selanjutnya (Anusavice,

2004).
Disamping itu, alginat mudah megalami pengerutan saat dibiarkan terlalu

lama pada udara terbuka. Sehingga penting untuk menjaga kelembaban hasil

cetakan alginat agar stabilitas dimensinya terjaga dengan baik. Bahan cetak

hidrokoloid gel dapat kehilangan kandungan air melalui penguapan pada

permukaan atau cairan merambat ke permukaan dengan proses yang disebut

sineresis. Pengerutan gel merupakan hasil dari penguapan dan sineresis

(Anusavice, 2003).

B. Tujuan

1. Mahasiswa dapat mengetahui uji sinersis dan imbibisi material cetak

hydrokoloid.

2. Mahasiswa dapat memahami sifat sinersis dan imbibisi material cetak

hydrokoloid.

C. Manfaat

1. Agar mahasiswa dapat mengetahui uji sinersis dan imbibisi material

cetak hydrokoloid.

2. Agar Mahasiswa dapat memahami sifat sinersis dan imbibisi material

cetak hydrokoloid
BAB II

METODE PENGAMATAN

A. ALAT DAN BAHAN

a. Alat

a. Spatula dan bowl

b. Sendok cetak sebagian

c. Model cast (model studi gigi)

d. Timbangan digital

e. Stopwatch

f. Gelas Ukur

g. Alas meja warna biru muda

b. Bahan

a. Alginat

b. Aquades

c. Vaselin Secukupnya

B. Cara Kerja

a. Pengamatan Sifat Sinersis Bahan Cetak Alginat (dilakukan kelompok)


Gambar 1.1
Menyiapkan alat dan bahan.

Gambar 1.2
Memberi olesan vaselin secukupnya pada regio model cast yang mau dicetak.

Gambar 1.3
Mengatur wadah di neraca analitik dan dilanjutkan mengkalibrasi neraca analitik
(posisi angka 0 miligram) DIPASTIKAN NERACA ANALITIK TIDAK
TERKENA CAIRAN SELAMA PROSES PENGAMATAN !!!
Gambar 1.4
Mencampur air dan bubuk alginat sesuai petunjuk pada praktikum 1 (lihat pada
cara kerja menghitung waktu setting bahan cetak alginat).

Gambar 1.5
Melakukan pencetakan model cast dengan bahan cetak alginat.

Gambar 1.6
Menimbang berat cetakan sebagai berat awal (Mo). Catat hasilnya.
Gambar 1.7
Cetakan alginat diletakkan diatas tray dan dibiarka diudara terbuka.
Menimbang berat hasil cetakan alginat dengn timbangan digital setiap 5 menit, 10
menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit, sampai 30 menit (catat hasil pada tabel
hasil).

Gambar 1.8
Berat alginat selama 5 menit dibiarkan diudara terbuka.

Gambar 1.9
Berat alginat selama 10 menit dibiarkan diudara terbuka.
Gambar 1.10
Berat alginat selama 15 menit dibiarkan diudara terbuka.

Gambar 1.11
\ Berat alginat selama 20 menit dibiarkan diudara terbuka.

Gambar 1.12
Berat alginat selama 25 menit dibiarkan diudara terbuka.
Gambar 1.13
Berat alginat selama 30 menit dibiarkan diudara terbuka.

Gambar 1.14 Catatlah hasil penimbangan dan catatlah apa saja yang terjadi pada
saat pengamatan.

b. Pengamatan Sifat Imbibisi Bahan Cetak Alginat (dilakukan kelompok)

Gambar 2.1
Menyiapkan alat dan bahan.
Gambar 2.2
Memberi olesan vaselin secukupnya pada regio model cast yang mau dicetak.

Gambar 2.3
Mengatur wadah di neraca analitik dan dilanjutkan mengkalibrasi neraca analitik
(posisi angka 0 miligram) DIPASTIKAN NERACA ANALITIK TIDAK
TERKENA CAIRAN SELAMA PROSES PENGAMATAN !!!

Gambar 2.4
Mencampur air dan bubuk alginat sesuai petunjuk pada praktikum 1 (lihat pada
cara kerja menghitung waktu setting bahan cetak alginat).
Gambar 2.5
Melakukan pencetakan model cast dengan bahan cetak alginat.

Gambar 2.6
Menimbang berat cetakan sebagai berat awal (Mo). Catat hasilnya.

Gambar 2.7
Cetakan alginat direndam di dalam bowl yang berisi aquades yang sekiranya
dapat merendam seluruh bagian sendok cetak dan alginat.
Menimbang berat hasil cetakan alginat dengn timbangan digital setiap 5 menit, 10
menit, 15 menit, 20 menit, 25 menit, sampai 30 menit (catat hasil pada tabel
hasil).
Gambar 2.8
Berat alginat selama 5 menit direndam di dalam air.

Gambar 2.9
Berat alginat selama 10 menit direndam di dalam air.

Gambar 2.10
Berat alginat selama 15 menit direndam di dalam air.
Gambar 2.11
Berat alginat selama 20 menit direndam di dalam air.

Gambar 2.12
Berat alginat selama 25 menit direndam di dalam air.

Gambar 2.13
Berat alginat selama 30 menit direndam di dalam air.
Gambar 2.14
Catatlah hasil penimbangan dan catatlah apa saja yang terjadi pada saat
pengamatan.

.
BAB III

HASIL PENGAMATAN

3.1 Tabel Pengamatan Berat Alginat saat Uji Sineresis dan Imbibisi Material

Hidrokoloid/Alginat (mg).

Waktu Berat Alginat (mg) Berat Alginat (mg)


Penimbangan di Uji Sineresis di Uji Imbibisi
(menit)

0 58110 mg 33920 mg

5 31900 mg 34990 mg

10 31590 mg 35050 mg

15 31250 mg 34820 mg

20 31070 mg 34870 mg

25 30900 mg 35011 mg

30 30680 mg 35100 mg
BAB IV

PEMBAHASAN

Dalam pemanipulasiannya bahan cetak alginat yang berupa bubuk dicampur

dengan air membentuk gel. Komponen yang reaktif dari bahan cetak alginat

adalah garam natrium atau kalium dari asam alginat dan kalsium sulfat yang

ketika dicampur dengan air membentuk sebuah sol. Kalsium mengganti

monovalen kation natrium dan kalium, memungkinkan rantai silang dari garam

alginat dan menghasilkan pembentukan gel. Seperti hidrokoloid lainnya, alginat

mengandung air sekitar 85 % dan rentan terhadap distorsi yang disebabkan oleh

pengembangan yang terkait dengan imbibisi (penyerapan air) atau pengkerutan

yang terkait dengan sineresis (penguapan air) (Imbery dkk., 2010).

Alginat bila dibiarkan di udara terbuka, air dalam alginat akan menguap

yang dikenal sebagai sineresis. Keadaan ini dapat menyebabkan hasil cetakan

mengkerut. Sebaliknya, untuk menghindari terjadinya pengkerutan, hasil cetakan

direndam dalam air, sehingga terjadi penyerapan air hal ini dikenal sebagai

peristiwa imbibisi (Powers and wataha, 2008).

Craig (2006) dalam bukunya mengatakan bahwa perubahan air pada

hidrokoloid dikaitkan dengan media penyimpanannya serta suatu proses yang

menyebabkan terbentuknya eksudat (cairan) pada permukaan gel alginat (Craig,

2006).

Menurut McCabe (2008), proses sineresis merupakan akibat dari tekanan

yang terjadi terhadap air yang berada diantara rantai polisakarida yang berakibat
keluarnya tetes-tetes kecil air pada permukaan bahan cetak. Air dapat keluar dari

alginat oleh karena penguapan (McCabe, 2008).

Menurut Phillips (2004), cairan yang muncul di permukaan gel selama dan

sesudah proses sineresis tidak murni air, tetapi kemungkinan alkali atau asam

tergantung pada komposisi gel (Phillips, 2004).

Pembentukan pengerutan (shrinkage), dimulai dengan terjadinya reaksi

kondensasi antara dua kelompok Ca-OH (reaksi kondensasi adalah reaksi

penggabungan antara dua senyawa yang memiliki gugus fungsi dengan

menghasilkan molekul yang lebih besar, dalam hal ini biasanya dibebaskan air.

Molekul lebih besar yang terbentuk dari hasil reaksi kondensasi adalah Ca-O-Ca.

Selain itu hasil reaksi kondensasi tersebut menyebabkan dibebaskannya H2O

(air). Proses dikeluarkannya air tersebut disebut sebagai sineresis, dan akibatnya

gel mengkerut (Anusavice, 2004).

Proses sineresis pada cetakan dapat terjadi karena beberapa faktor

diantaranya;

1. Cetakan terlalu lama diletakkan atau disimpan di udara terbuka. Sesudah

cetakan dikeluarkan dari mulut, penyimpanan cetakan yang terlalu lama akan

menye babkan penguapan dan sineresis sehingga dimensi berubah dan tidak

akurat.

2. Kenaikan suhu, apabila suhu udara naik atau lebih tinggi dari suhu kamar, maka

setelah cetakan dikeluarkan dari dalam mulut, cetakan tersebut akan mengalami

sineresis.
3. pH, gel yang mengandung asam atau alkali tinggi akan menyebabkan terjadinya

sineresis lebih cepat dibandingkan dengan gel padasaat isoelektrik, setelah sam

atau alkali yang ada pada gel dihilangkan dengan teknik dialisis.

4. Konsentrasi, gel yang mengandung garam alami akan mengalami sineresis

lebih cepat dibanding dari pada gel dengan netral pada pH yang sama setelah

garamnya dihilangkan (Mccabe, 2008).

Cara pencegahan terjadinya sineresis ialah dengan melapisi cetakan

menggunakan handuk atau kapas basah. Hal ini bertujuan agar tidak terjadi

penguapan butir-butir air ke permukaan cetakan alginat. Lakukan pengisian segera

dengan menggunakan gips stone, tidak boleh melebihi waktu 15 menit. Bahan

cetakan yang terpaksa disimpan dan tidak segera diisi dengan menggunakan gips

stone maka harus disimpan dalam wadah hampa udara dan bahan cetakan diberi

kapas basah, tapi penyimpanan tidak boleh melebihi waktu satu jam (Craig, 2006 ;

Annusavice, 2004).

Pada material Hidrokoloid alginat sebagian besarnya terdiri atas air. Jika

kandungan air pada gel bertambah, volume juga akan melebar, dan mempengaruhi

kestabilan dimensi. Alginat biasanya mengandung 60-70 % air, sehingga apabila

volume air pada alginat berlebihan akan sangat mempengaruhi hasil cetakan.

Jika gel direndam dalam air maka gel akan menyerap air dan terjadi ekspansi,

proses ini disebut proses imbibisi dimana dapat mempengaruhi distorsi bentuk

hasil cetakan (Joseph, 2002).

Cetakan alginat bersifat imbibisi yakni menyerap air bila berkontak dengan

air dalam waktu tertentu sehingga akan mengembang. Karena rawan terjadi
ekspansi maka perlu diwaspadai terjadinya perubahan dimensi yang dapat

menyebabkan ketidakakuratan cetakan alginat (Imbery et al; 2010).

Gel yang terpapar perubahan dimensi oleh proses imbibisi pada bahan cetak

alginat jika direndam dalam air maka terjadi proses penyerapan air (imbibisi)

sehingga cetakan mengembung (swelling).Untuk mencapai keakuratan yang

maksimal maka bahan cetak alginat harus diisi sesegera mungkin, sebaiknya tidak

lebih dari 15 menit setelah pengambilan cetakan (Imbery et al; 2010).

Cara pencegahan terjadinya imbibisi ialah menghindarkan bahan cetakan

alginat dari lingkungan yang terdapat banyak air dan apabila dilakukan desinfeksi

pada bahan cetakan maka waktu desinfeksi tidak boleh melebihi 10 menit. Bahan

cetakan juga harus segera diisi dengan menggunakan gips stone (Mccabe, 2008 ;

Anusavice,2004).

70

60

50

40 Uji
sinersis
30
Uji
imbibisi
20

10

0
0 menit 5 menit 10 menit 15 menit 20 menit 25 menit 30 menit

Gambar 4.1.
Statistik penurunan berat pada uji sinersis dan penambahan serta
pengurangan berat pada uji imbibisi.
Pada penelitian yang telah dilakukan tepatnya di lab IMTKG didapatkan

hasil untuk uji sinersis memiliki penurunan berat yang stabil dimana pori pori

rantai polisakarida mengeluarkan air melalui penguapan karena terlalu lama

dibiarkan. Dimana hasil percobaan yang didapat sesuai dengan teori yang ada,

dengan hasil sebagai berikut :

Waktu Berat Alginat (mg)


Penimbangan di Uji Sineresis
(menit)

0 58110 mg

5 31900 mg

10 31590 mg

15 31250 mg

20 31070 mg

25 30900 mg

30 30680 mg

Kemudian berdasarkan praktikum yang telah dilakukan pada uji imbibisi

pada alginat yang dilakukan dengan cara direndam didapatkan penambahan hasil

yang tidak stabil dimana pada menit ke 15 (34,82 g) dan menit ke 30 (35,10),

yang menunjukkan bahwa penelitian tidak sesuai dengan teori yang ada,

kemudian faktor yang membuat ketidak sesuaian pada uji imbibisi diantaranya

adalah perendaman yang tidak merata pada seluruh bagian alginat dan pengantrian

untuk menimbang berat alginat dengan tanpa merendam alginat kedalam bowl
sehingga kandungan air yang ada dalam alginat mengalami evaporasi sehingga

menyebabkan berat berkurang.

Waktu Berat Alginat (mg)


Penimbangan di Uji Imbibisi
(menit)

0 33920 mg

5 34990 mg

10 35050 mg

15 34820 mg

20 34870 mg

25 35011 mg

30 35100 mg
BAB V

PENUTUP

Berdasarkan penelitian yag telah di lakukan yaitu penelitian tentang

sineresis dan imbibisi. Dimana pada penelitian sineresis alginat yang telah

mengalami setting time dibiarkan diruang terbuka dan dilakukan penimbangan per

lima menit dan didapat kan hasil penimbangan yang selalu turun tanpa ada

penambahan berat sedikitpun yaitu 58,11 g, 31,90 g, 31,59 g, 31,25 g, 31,07 g,

30,90 g, dan 30,68 g, yang menyatakan bahwa penelitian yang telah dilakukan

sesuai dengan teori yang ada dimana bahan cetak hidrokoloid gel dapat

kehilangan kandungan air melalui penguapan pada permukaan atau cairan

merambat ke permukaan dkarenakan bahan cetak hidrokoloid alginat dibiarkan di

ruang terbuka dengan proses yang disebut sineresis.

Kemudian untuk penelitian imbibisi dimana penelitian yang dilakukan

adalah dengan cara merendam seluruh permukaan sendok cetak beserta alginat

yang ada pada sendok cetak dan dilakukan penimbangan per lima menitnya, maka

di dapat kan hasil yang tidak stabil dimana berat material yang ditimbang

mengalami penurunan pada menit ke 15 dengan berat (34820mg) dan pada menit

ke 30 dengan berat (35100mg), sedangkan menurut teori yang ada harusnya

ketika materuial hidrokoloid direndam maka volume air yang ada dalam alginaat

akan bertambah dan mempengaruhi hasil timbangan yang akan selalu bertambah

juga. Kemudian ntuk faktor yang mempengaruhi ketidak stabilan berat sendiri

diantaranya adalah perendaman yang tidak merata pada seluruh bagian alginat dan
pengantrian untuk menimbang berat alginat dengan tanpa merendam alginat

kedalam bowl sehingga kandungan air yang ada dalam alginat mengalami

evaporasi sehingga menyebabkan berat berkurang.


DAFTAR PUSTAKA

Anusavice, K.J.2003. Phillips’ Science of Dental Materials. Edisi 11,


Elsevier, St. Louis.
Anusavice KJ. Buku ajar ilmu bahan kedokteran gigi philips. Edisi 10. Alih
bahasa:drg Johan Arif Budiman dan drg susi purwoko. Jakarta:EGC:
2004; Hal. 103-114.

Craig, R.G., Powers, J.M., dan Sakaguchi, R.L. 2006. Resin Compounds
Restorative Materials, in Craig’s Restorative Dental Material.
Edisi 12. Mosby, St. Louis. h. 190-193.
Imbery TA, Nehring J, Janus C, Moon PC. Accuracy and dimensional
stability of extended-pour and conventional alginate impression
material. Journal of the American Dental Association. 2010.
Joseph, W.O., 2002, Dental Materials and their Selection 3rd ed.,Chicago:
Quintessence Publishing Co, inc, :P. 90, 96

McCabe JF. Walls A. Applied Dental Materials. 9th ed. Singapore:


Blackwell Publishing. 2008.
Nallamuthu, N.A., Braden, M., Patel, M.P, 2012, Some Aspects of the
Formulation of Alginate Dental Impression Material Setting
Characteristic and Mechanical Properties, Dental Materials.

Powers, JM and Wataha, JC. 2008. Dental Material Properties And


Manipulation. 9th ed, Mosby. USA.