Anda di halaman 1dari 4

BAB IV

PEMBAHASAN

Pengambilan data pada kasus ini dilakukan dengan menggunakan data primer
melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik langsung kepada pasien, dan data
sekunder yaitu melalui rekam medik. Dalam kesempatan ini dilakukan telah kasus
mulai dari identitas pasien sampai pada lembar follow up pasien.

Identitas pasien yaitu Ny. Yulis Mayanti, SE berusia 41 tahun. Untuk identitas
sudah dilakukan cross check terhadap pasien langsung dengan gelang identitas
pasien, fotocopy KTP yang dilampirkan serta fotocopy kartu keluarga yang
dilampirkan pada status pasien dan dipastikan identitas pasien sesuai dengan
pasien yang dirawat di bangsal kebidanan. Hal ini penting karena ketepatan
identifikasi pasien merupakan salah satu sasaran keselamatan pasien di rumah
sakit yang tercantum pada PMK RI No. 1691/Menkes/Per/VIII/2011. Apabila
tidak menerapkan sasaran keselamatan pasien maka rumah sakit tersebut dapat
terkena teguran lisa, teguran tertulis bahkan penundaan atau penangguhan izin
operasional.17

Dilaporkan sebuah kasus tentang seorang wanita berusia 41 tahun datang ke


IGD RSUD Palembang Bari pada tanggal 15 Juni 2017 pukul 11.20 WIB dengan
keluhan utama nyeri di bagian perut kanan bawah sejak pagi tanggal 15 Juni 2017.
Riwayat perjalanan penyakit berdasarkan anamnesis yaitu Os datang ke IGD
RS Bari karena mengalami nyeri perut kanan bawah mendadak sejak pagi hari.
Muntah dua kali terjadi di rumah sakit. Haid terakhir dimulai tanggal 27 Mei 2017
selama satu minggu tetapi darah haid yang keluar sedikit-sedikit. Riwayat
kehamilan saat ini disangkal. Riwayat kehamilan disangkal karena Os belum
memasuki siklus haid selanjutnya.
Dari hasil anamnesis juga didaparkan bahwa Os pernah menjalani dua kali
prosedur operasi sectio cesarea pada kehamilan pertama dan ketiga. Riwayat
penggunaan kontrasepsi disangkal.

28
29

Pada pemeriksaan fisik, status generalis didapatkan tekanan darah 130/90


mmHg, nadi 84 kali/menit, laju pernafasan 20 kali/menit, temperatur 36,7oC dan
skala nyeri pada perut kanan bawah yaitu enam. Nyeri yang terjadi termasuk nyeri
derajat sedang.
Dari pemeriksaan fisik head to toe didapatkan semua pemeriksaan normal
kecuali pada palpasi terdapat nyeri di regio abdomen kanan bawah. Setelah
dilakukan pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan laboratorium dengan hasil
Hb 12,1 g/dl, leukosit 21.000/ ul dan tes kehamilan dinyatakan positif.
Diagnosis sementara pada pasien yaitu abdominal pain ec susp appendiksitis
dengan diagnosis banding KET. Untuk penatalaksanaan di IGD pasien diberikan
O2 nasal canul 3 l/menit, IVFD RL gtt 20/menit, injeksi ranitidin 50 mg, dan
injeksi ketorolac 10 mg dan pemasangan dower cateter. Terapi simptomatik yang
diberikan telah sesuai yaitu ketorolac yang merupakan obat analgesik yang
digunakan untuk mengurangi nyeri akut derajat sedang sampai dengan berat dan
ranitidin yaitu obat untuk mengurangi sekresi gaster sehingga diharapkan gejala
mual muntah dapat dikurangi.18 dan IVFD RL gtt 20/menit diberikan sebagai
cairan rumatan bagi pasien.
Kemudian pasien dikonsulkan ke bagian kebidanan dan kandungan dan
dilakukan pemeriksaan USG dengan diagnosis kehamilan ektopik. Instruksi terapi
selanjutnya adalah IVFD RL gtt 20/menit, Injeksi Ceftriaxone 3x1 g serta
Pronalges suppost 1x1, observasi tanda vital dan pemeriksaan Hb dan Leukosit
tiap jam sampai tiga jam. Dengan hasil pemeriksaan laboratorium Hb : 12,1 g/dl,
10,8 g/dl, 8,2 g/dl dan leukosit: 21.900, 17.000.
Dari hasil USG Os didiagnosis mengalami KE. Os didiagnosis mengalami
kehamilan ektopik terganggu. Untuk diagnosis pada kasus ini sudah tepat karena
terdapat nyeri pada kuadran kanan bawah, tanda akut abdomen, tanda perdarahan
interna yang didukung oleh penurunan Hb yang progresif dan didukung oleh
pemeriksaan USG. Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana hasil konsepsi
berimplantasi, tumbuh dan berkembang di luar endometrium cavum uteri.11
Adapun faktor risiko yang mungkin menyebabkan terjadinya kehamilan ektopik
pada Os adalah faktor usia dan faktor memiliki riwayat persalinan per abdominal.
30

Untuk kehamilan saat ini Os berusia 41 tahun, usia tersebut tidak lagi baik bagi
seorang wanita untuk hamil. Pada usia tersebut kadar hormon telah menurun dan
dapat menyebabkan fungsi dari tuba menurun yang menyebabkan kehamilan
ektopik. Serta dari riwayat persalinan per abdominal dapat menyebabkan
gangguan dan perlengketan pada organ abdomen yang mengganggu fungsi dari
organ genitalis interna.7
Dari hasil pemeriksaan Hb serial didapatkan penurunan Hb dari ketiga
pemeriksaan tersebut. Hal itu terjadi akibat perdarahan intraabdomen yang
kemungkinan disebabkan oleh rupturnya tuba sehingga perdarahan berlanjut dan
Hb semakin menurun. Sedangkan leukositosis disebabkan terjadinya iritasi pada
rongga abdomen sehingga kadar leukosit meninggi. Nyeri yang terjadi pada
pasien disebabkan oleh teriritasinya peritoneum sehingga menyebabkan nyeri
yang merupakan tanda dari akut abdomen. Dari hasil pemeriksaan Hb dan leukosit
menjurus ke diagnosis KET. Hasil tes kehamilan yang positif juga menjurus ke
diagnosis kehamilan ektopik karena diagnosis banding lain tidak disertai dengan
tes kehamilan yang positif dan apabila dari hasil USG ada janin yang berada di
cavum uteri.12
Operasi dilaksanakan pada pukul 21.20 tanggal 15 Juni 2017 selama 40
menit. Operasi yang dilakukan berupa salpingostomi dextra dan tubektomi.
Sebelum operasi dilakukan pasien dipuasakan untuk mencegah terjadinya
regurgitasi dan aspirasi dari sisa makanan.
Operasi yang dilakukan sudah tepat karena operasi dilakukan untuk
menghentikan perdarahan yang terjadi agar pasien tidak jatuh ke kondisi syok dan
tubektomi dilakukan sebagai kontrasepsi mantap agar kehamilan selanjutnya tidak
terjadi. Wanita yang pernah memiliki riwayat kehamilan ektopik sebelumnya
berpotensi mengalami kehamilan serupa pada kehamilan selanjutnya.7
Pukul 22.30 Os dipindahkan ke bangsal Nifas 1 dengan KU: tampak sakit
sedang, tekanan darah 90/60 mmHg, laju pernafasan 20 kali/menit, temperatur
36,7 oC dan nadi 84 kali/menit. Terapi yang diberikan IVFD RL + 1 amp tramadol
gtt 20/menit, injeksi ceftriaxone 3x1 g, infus metronidazole 3 x 500 mg, injeksi
tramadol 3 x 50 mg dan pronalges supppost 4x1
31

Follow Up pada pukul 07.00 tanggal 16 Juni 2017. Keluhan pasien yaitu
lemas, pusing, muntah 3x air dan nyeri luka operasi dengan tekanan darah 90/60
mmHg, laju pernafasan 21 kali/menit, nadi 70 kali/menit dan suhu 36,5 oC. Terapi
yang diberikan IVFD RL gtt 20/menit, injeksi cefadroxil 2x 250 mg, infus
metronidazole 3 x 500 mg, asam mefenamat 3 x500 mg, dan sulfa ferosus 1x1 tab.
Pusing, lemas dan turunnya tekanan darah yang terjadi kemungkinan disebabkan
berkurangnya volume darah akibat perdarahan KET dan selama operasi.
Follow Up pada pukul 07.00 tanggal 17 Juni 2017. Pasien tidak memiliki
keluhan dengan tekanan darah 120/90 mmHg, laju pernafasan 20 kali/menit, nadi
72 kali/menit dan suhu 36,7 oC. Terapi yang diberikan IVFD dilepas, cefadroxil
2x 250 mg, metronidazole 3 x 500 mg, asam mefenamat 3 x500 mg, dan sulfa
ferosus 1x1 tab dan ganti perban.
Follow Up pada pukul 07.00 tanggal 18 Juni 2017. Pasien tidak memiliki
keluhan dengan tekanan darah 130/80 mmHg, laju pernafasan 22 kali/menit, nadi
75 kali/menit dan suhu 36,7 oC. Terapi yang diberikan cefadroxil 2x 250 mg,
metronidazole 3 x 500 mg, asam mefenamat 3 x500 mg, dan sulfa ferosus 1x1 tab
serta rencana pulang.
Untuk tatalaksana yang diberikan post operasi sudah tepat, dimana pasien
diberikan kombinasi antibiotik yaitu ceftriaxone dengan metronidazole dan
cefadroxil dengan metronodazole sebagai obat profilaksis infeksi bakteri bagi
pasien. Untuk analgesik post operasi pasien diberikan tramadol, asam mefenamat
serta pronalges suppost. Dan yang tidak kalah pentingnya yaitu pemberian tablet
besi sebagai bahan pembentuk darah untuk menganti kehilangan darah akibat
KET yang dialaminya dan selama operasi.18