Anda di halaman 1dari 47

PENATAAN KAWASAN PERMUKIMAN PADAT

PENDUDUK DAN KUMUH


DI DAERAH KAMPUNG MADRAS, KECAMATAN MEDAN POLONIA

Disusun Oleh :

NIM
- M. Hasyir Al- Aziz. (1514310013)

Mata Kuliah : Perumahan dan Permukiman


Dosen Pengasuh : Mulkan Yahya, ST., M.Sc.

Jurusan Teknik Arsitektur Fakultas

Sains dan Teknologi

Universitas Pembangunan Pancabudi

Medan

TA. 2018 / 2019


KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan terhadap ke-hadirat Tuhan Yang


Maha Esa, karena atas berkat rahmat dan karunia nyalah, makalah ini dapat
terselesaikan dengan baik dan tepat pada waktunya. Adapun tujuan
penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi Tugas Mata Kuliah
Perumahan Permukiman dengan dosen pengasuh Mulkan Yahya, ST., M.Sc.
Merujuk kepada kesesuaian materi perkuliahan yang telah diberikan dan
relevansi topik yang sedang berkembang, maka penyusun mengangkat
makalah ini dengan judul “ PENATAAN KAWASAN PERMUKIMAN
PADAT PENDUDUK DAN KUMUH DI DAERAH KAMPUNG
MADRAS KECAMATAN MEDAN POLONIA”.

Dengan adanya makalah ini, Mahasiswa arsitektur diharapkan


lebih mampu mengasah pemikiran dalam lingkungan Urban Planning dan
Tata Kota sebagai bentuk perwujudan Arsitek yang berperan dalam
pembangunan Negara. Suatu kota dianggap berhasil dalam membangun
dikarenakan perencanaan yang matang dan benar, oleh karena itu mahasiswa
arsitek yang nantinya akan turut serta merancang berbagai elemen
pembangunan di perkotaan haruslah mengerti mengenai penataan kawasan
selain mengedepankan desain bangunan dan komersiliasi bangunan yang
direncanakannya.

Sebagai seorang Mahasiswa yang masih dalam proses pembelajaran,


penulisan makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, kami
sangat mengharapkan adanya kritik dan saran yang bersifat membangun,
guna penulisan makalah yang lebih baik lagi di masa yang akan datang.

Harapan kami, semoga makalah ini dapat membangun kepedulian


mahasiswa arsitektur dan arsitek pada umumnya untuk ikut serta dalam
pembangunan dan penataan kawasan permukiman kumuh yang tidak layak huni
agar seluruh masyarakat perkotaan dapat hidup layak dan sehat.

Penyusun

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI........................................................................................................... ii

ABSTRAK ............................................................................................................ iii

BAB I PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah.............................................................................. 1


2. Rumusan Masalah ....................................................................................... 4
3. Maksud dan Tujuan Penelitian.................................................................... 4
4. Kerangka Teori............................................................................................ 5
4.1. Permukiman Kumuh ............................................................................ 5
4.2. Penduduk.............................................................................................. 6
4.3. Kota...................................................................................................... 7
4.4. Penataan ............................................................................................... 8
5. Metode Penelitian........................................................................................ 9
5.1. Jenis Penelitian..................................................................................... 9
5.2. Objek Penelitian................................................................................... 9
5.3. Teknik Pengumpulan Data Penelitian................................................11
5.4. Teknik Analisa Data Penelitian..........................................................11

BAB II PEMBAHASAN

1. Identifikasi Masalah..................................................................................12
2. Analisis Masalah .......................................................................................19
3. Data Penunjang .........................................................................................23
a. Standar Hunian Rumah Susun ............................................................24
b. Kebutuhan Rumah Susun pada wilayah Penelitian.............................25
c. Peruntukan Rancangan Rumah Susun pada Wilayah penelitian.........25
d. Site Plan Penataan Wilayah Penelitian ...............................................26
e. Denah Rancangan Rumah Susun ........................................................27
f. Gambar Perspektif Penataan Wilayah.................................................28

ii
BAB III HASIL PENELITIAN

1. Kesimpulan ...............................................................................................29
2. Saran..........................................................................................................30

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................31

3
ABSTRAK

Pembangunan berbagai kota di Indonesia yang tidak didasarkan


perencanaan mendasar mengakibatkan tumbuhnya berbagai permukiman
tanpa penataan diberbagai sudut kota. Ambisi menjadikan kota-kota besar di
Indonesia sebagai kota Metropolitan telah mengesampingkan aspek-
aspek tatanan kehidupan yang lebih layak. Memusatkan perekonomian dan
perdagangan di pusat kota juga menjadi salah satu masalah yang
mengakibatkan semakin menjamurnya permukiman yang tidak layak di pusat
kota.

Faktor pendidikan, ekonomi dan sosial budaya masyarakat juga menjadi


salah satu masalah yang menyebabkan timbulnya pembangunan permukiman
yang tidak layak huni atau jauh dari konsep hunian yang sehat, bersih dan asri.
Kesenjangan sosial antara kaum Ekonomi atas dan ekonomi menengah
sangat terlihat dengan adanya permukiman kumuh didaerah pusat kota tersebut,
dimana adanya permukiman padat penduduk yang kumuh diantara
pembangunan kawasan elit diberbagai kota besar di Indonesia.

Lemahnya peran lembaga sosial seperti pemerintahan


dalam mengorganisasi tatanan kota yang lebih baik serta tidak adanya
disiplin yang tumbuh di masyarakat menjadikan permasalahan permukiman
kumuh seperti ini semakin rumit. Sebuah upaya konkrit yang harus dilakukan
adalah penataan ulang kawasan permukiman yang menimbulkan simbiosis
mutualisme antara pemerintah sebagai Lembaga Sosial dan masyarakat
sebagai objek penataan, dimana penataan ini didasarkan pada struktur
peruntukan lahan, akses dan sirkulasi, ruang terbuka hijau, prasarana dan
utilitas bangunan, pengelolaan persampahan dan tata kualitas lingkungan.

Kata Kunci : Permukiman Kumuh, Penataan kawasan dan lingkungan.

4
BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah


Seiring dengan terjadinya pertumbuhan penduduk yang
terus meningkat serta ketersediaan lahan yang tidak mencukupi sebagai
tempat bermukim, maka timbul beberapa permasalahan seperti
munculnya permukiman padat penduduk yang kumuh. Sebagai kota
terbesar ke tiga di Indonesia sekaligus menjadi kota terbesar dipulau
Sumatera dan faktor pertumbuhan ekonomi dan perkembangan bisnis
yang cukup pesat, Medan merupakan salah satu kota sasaran utama
bagi kaum masyarakat desa dalam memilih tempat bermukim dimana
mengingat akan ketersediaan lapangan pekerjaan yang cukup banyak di
kota ini.

Ketersediaan lapangan kerja yang cukup menarik bagi masyarakat


desa berbanding terbalik dengan kesiapan pemerintah dalam menata ruang
publik serta membangun infrastruktur di kota Medan ini sendiri.
Faktor inilah yang menjadikan masalah permukiman kumuh di perkotaan
timbul dan berkembang dengan padat dan penting untuk dikaji.

Fenomena ini sudah berjalan sejak lama di kota Medan,


terlebih lokasi permukiman yang dekat dengan pusat bisnis
merupakan titik kumpul permukiman kumuh padat penduduk.
Berdasarkan data BPS provinsi Sumatera Utara, tercatat bahwa
jumlah penduduk kota Medan pada 2014 sekitar 2.763.632 jiwa.
Hal tersebut dikhawatirkan akan menyebabkan terjadinya kantong-
kantong kemiskinan dan kemudian lahir persoalan sosial diluar kontrol
atau kemampuan pemerintah kota untuk menangani dan mengawasinya.

Menurut UU No.4 pasal 22 tahun 1992 tentang perumahan dan


permukiman. Permukiman kumuh yaitu permukiman tidak layak huni
antara lain karena berada pada lahan yang tidak sesuai dengan peruntukan

1
/ tata ruang, kepadatan bangunan sangat tinggi dalam luasan yang sangat
terbatas, rawan penyakit lingkungan, kualitas umum bangunan rendah,
tidak terlayani sarana dan prasarana lingkungan yang
memadai, membahayakan keberlangsungan kehidupan dan penghuninya.
Jadi dapat disimpulkan permukiman kumuh adalah tempat tinggal /
hunian yang dibangun diatas tanah Negara atau swasta tanpa
persetujuan dari pihak yang berkait dan tidak adanya atau minimnya
sarana dan prasarana yang memadai, kotor dan tidak layak huni serta
membahayakan.

Penataan permukiman kumuh di daerah kota Medan


merupakan sebuah pekerjaan rumah yang sulit tercapai dari masa ke
masa, dimana kondisi sosial budaya masyarakat yang tinggal di
permukiman kumuh kota telah terbentuk dengan penyesuaian daerah
mereka tinggal. Penanganan permukiman kumuh dengan cara
merelokasi masyarakat tersebut ke daerah pinggiran kota yang sudah
ditata tidak akan menjadi cara efektif bagi pemerintah dalam
menangani permasalahan ini. Kehidupan masyarakat yang tinggal
di permukiman kumuh kota sudah terbiasa dengan jarak yang
tidak jauh dari pusat bisnis menjadikan relokasi merupakan hal
yang jarang mereka terima.

Bagi masyarakat yang telah tinggal lama di daerah kumuh


kota lebih baik tinggal di daerah kumuh yang dekat dengan mata
pencaharian daripada tinggal dirumah yang layak huni namun jauh
dari mata pencaharian. Oleh sebab itu penanganan dengan cara
relokasi haruslah dilengkapi dengan pemindahan atau pemerataan pusat
perekonomian dan bisnis yang tidak hanya terpusat di daerah Inti Kota
namun merata ke daerah pinggiran kota.

Dalam melakukan penataan ulang terhadap daerah kumuh kota


harus dilakukan pengkajian mendalam mengenai faktor peruntukan lahan,
metoda relokasi, sosial budaya masyarakat dan lainnya. Jikalau
ternyata lahan permukiman yang ditempati oleh masyarakat selama ini
bukan diperuntukkan untuk daerah tempat tinggal, maka relokasi
2
masyarakat ke tempat lain yang sesuai dengan peruntukan lahan
tempat tinggal adalah

salah satu solusinya. Namun jikalau ternyata lahan tersebut masih


layak untuk dijadikan tempat tinggal, ada beberapa opsi untuk
melakukan penataan ulang dengan membangun hunian terpadu yang
sesuai dengan konsep hunian sehat, bersih dan asri untuk masyarakat itu
sendiri.

Salah satu wilayah kumuh yang sudah cukup lama terbentuk


adalah wilayah kampung Madras yang terbagi di dua kecamatan yaitu satu
pada kecamatan Medan Polonia dan kedua pada kecamatan
Medan Petisah. Wilayah Kampung Madras dikenal dengan
kehidupan perekonomian yang cukup baik karena diapit oleh dua pusat
perbelanjaan yang termuka di kota Medan. Namun dibalik itu semua
terdapat banyak permukiman kumuh dibalik dinding megah bisnis dan
pusat perbelanjaan tersebut. Masyarakat yang telah menetap puluhan
tahun di daerah ini sudah terbiasa dengan pola kehidupan yang
buruk sehingga rentan memunculkan berbagai permasalahan sosial,
tetapi hal-hal ini tidak mempengaruhi masyarakat untuk
meninggalkan tempat ini karena kehidupan perekonomian yang sangat
menjanjikan di daerah ini.

Menata ulang kampung Madras menjadi sebuah wilayah


permukiman yang selaras dan tertata baik merupakan suatu wujud bentuk
revitalisasi permukiman kota yang baik. Dimulai dari sebuah wilayah kecil
didaerah kampung Madras yang dapat ditata ulang menjadi lebih
baik, diharapkan wilayah permukiman kumuh lainnya di kota Medan juga
dapat berubah dan ditata sebaik mungkin dalam mewujudkan Medan
kota Metropolitan.

Berdasarkan uraian diatas dan mengingat akan materikulasi


perkuliahan yang telah diberikan maka penyusun tertarik untuk membahas
masalah permukiman kumuh di salah satu wilayah kota Medan
dengan tujuan melakukan penataan ulang yang berkesesuaian untuk
3
masyarakat dan pemerintah sebagai Social Control dalam bentuk
makalah dengan judul “Penataan Kawasan Permukiman Padat
Penduduk dan Kumuh di Daerah Kampung Madras Kecamatan
Medan Polonia”.

2. Rumusan Masalah

Untuk dapat mengarahkan dan memudahkan pembahasan yang


lebih sistematis, maka penyusun mencoba untuk merumuskan masalah
yang akan dibahas pada makalah ini. Adapun rumusan masalahnya antara
lain adalah :
1. Apakah kawasan permukiman kumuh dan padat penduduk di daerah
Kampung Madras masih layak diperuntukkan untuk
wilayah permukiman ?
2. Bagaimana cara dalam menangani permasalahan penataan di wilayah
kumuh dan padat penduduk pada daerah kampung Madras ?
3. Proses penataan seperti apakah yang sesuai dan mampu menghasilkan
simbiosis mutualisme antara masyarakat kampung Madras sebagai
objek penataan dan Pemerintah sebagai pelaksana penataan ?

3. Maksud dan Tujuan Penelitian

Terdapat berbagai macam hal yang melatar belakangi dilakukannya


penelitian ini, namun secara ringkas maksud dan tujuan dari dilakukannya
penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui apakah kawasan permukiman kumuh dan padat
penduduk di daerah Kampung Madras masih layak diperuntukkan
untuk wilayah permukiman.
2. Untuk mengetahui cara-cara yang baik dalam
menangani permasalahan penataan di wilayah kumuh dan padat
penduduk pada daerah kampung Madras.
3. Untuk mengetahui proses penataan seperti apakah yang sesuai
dan mampu menghasilkan simbiosis mutualisme antara

4
masyarakat kampung Madras sebagai objek penataan dan
Pemerintah sebagai pelaksana penataan.

4. Kerangka Teori
1. Permukiman Kumuh
Pemukiman sering disebut juga perumahan atau sebaliknya.
Pemukiman berasal dari kata housing dalam bahasa Inggris yang artinya
adalah perumahan dan kata human settlement yang artinya
pemukiman. Perumahan memberikan kesan tentang rumah atau
kumpulan rumah beserta prasarana dan sarana ligkungannya.
Perumahan menitikberatkan pada fisik atau benda mati, yaitu houses dan
land settlement. Sedangkan pemukiman memberikan kesan tentang
pemukim atau kumpulan pemukim beserta sikap dan perilakunya di
dalam lingkungan, sehingga pemukiman menitikberatkan pada sesuatu
yang bukan bersifat fisik atau benda mati yaitu manusia (human).
Dengan demikian perumahan dan pemukiman merupakan dua hal
yang tidak dapat dipisahkan dan sangat erat hubungannya, pada
hakekatnya saling melengkapi.

Kumuh adalah kesan atau gambaran secara umum tentang sikap,


tingkah laku dan pola sosial budaya yang rendah dilihat dari standar
hidup dan penghasilan kelas menengah. Dengan kata lain, kumuh dapat
diartikan sebagai tanda atau pandangan yang diberikan golongan
menengah ke atas terhadap golongan bawah dengan kategori marginal.

Menurut kamus ilmu-ilmu sosial Slum’s diartikan sebagai


suatu daerah yang kotor dimana bangunan-bangunannya sangat tidak
memenuhi syarat kesehatan maupun keasrian. Jadi daerah slum’s
dapat diartikan sebagai daerah yang ditempati oleh penduduk dengan
status ekonomi rendah dengan bangunan-bangunan perumahannya yang
tidak memenuhi syarat untuk disebut sebagai hunian-hunian yang sehat.

Pengertian Permukiman Kumuh menurut Soemadi (1990), adalah:


” Permukiman kumuh adalah bagian dari kota yang
jorok, bangunan-bangunan yang tidak memenuhi syarat dan kesehatan serta
didiami oleh orang miskin dengan fasilitas tempat pembuangan sampah,
maupun fasilitas air bersih tidak memenuhi syarat kesehatan.”
5
Sedangkan menurut Ditjen Bangda Depdagri, ciri-ciri
permukiman atau daerah perkampungan kumuh dan miskin
dipandang dari segi sosial ekonomi adalah sebagai berikut :

1. Sebagian besar penduduknya berpenghasilan dan berpendidikan


rendah, serta memiliki sistem sosial yang rentan.
2. Sebagaian besar penduduknya berusaha atau bekerja di sektor
informal Lingkungan permukiman, rumah, fasilitas dan prasarananya
di bawah standar minimal sebagai tempat bermukim,
misalnya memiliki:
a. Kepadatan penduduk yang tinggi > 200 jiwa/km2
b. Kepadatan bangunan > 110 bangunan/Ha.
c. Kondisi prasarana buruk (jalan, air bersih, sanitasi, drainase, dan
persampahan).
d. Kondisi fasilitas lingkungan terbatas dan buruk, terbangun <20%
dari luas persampahan.
e. Kondisi bangunan rumah tidak permanen dan tidak memenuhi
syarat minimal untuk tempat tinggal.
f. Permukiman rawan terhadap banjir, kebakaran, penyakit dan
keamanan.
g. Kawasan permukiman dapat atau berpotensi menimbulkan
ancaman (fisik dan non fisik ) bagi manusia dan lingkungannya.

2. Penduduk
Penduduk adalah masyarakat yang sudah menetap cukup
lama pada suatu kawasan atau menetap dalam kurun
waktu tertentu. Masyarakat yang dianggap sebagai penduduk
dan masyarakat non-penduduk memiliki perbedaan dalam
tanggung jawab dan fasilitas yang ia dapatkan.
Masyarakat yang diangga sebagai penduduk memiliki
tanggung jawab akan lingkungan yang ia tempati sebagai
wujud menjada sarana dan prasarana yang telah diberikan
pemerintah serta mendapatkan fasilitas layak dari
pemerintah sebagai

6
penunjang sarana kehidupan untuk mengembangkan wilayah
tempat tinggalnya tersebut.
Berbeda dengan masyarakat non penduduk yang
memiliki batasan untuk mengelola tempat tinggalnya serta
mendapat batasan fasilitas dari pemerintah dalam mengelola sarana
dan prasarana di daerah tempat tinggalnya.
Sedangkan menurut Jonny Purba, penduduk adalah :
“Penduduk adalah orang yang matranya sebagai diri pribadi, anggota
keluarga, anggota masyarakat, warga negara dan himpunan kuantitas
yang bertempat tinggal di suatu tempat dalam batas wilayah negara dan
waktu tertentu”

Kemudian mengenai arti penduduk juga diatur dalam UUD 1945


pasal 26 ayat (2) yang berbunyi :
“Penduduk adalah adalah warga negara Indonesia dan orang
Asing yang bertempat tinggal di Indonesia. Sementara yang bukan
penduduk adalah orang-orang asing yang tinggal dalam negara
bersifat sementara sesuai dengan Visa.

3. Kota
Sebuah wilayah yang terpadu dan direncanakan kemudian
dihuni oleh masyarakat sebagai unsur yang menggerakkannya
adalah pengertian umum kota secara garis besar.
Sedangkan pandangan masyarakat umum dalam melihat atau
menerjemahkan definisi dari Kota adalah sebuah wilayah yang
lebih maju di bandingkan wilayah sekitarnya sehingga
membuka peluang ekonomi yang lebih besar dan memberikan
harapan hidup yang lebih baik.
Max Weber mengartikan Kota dalam bukunya yang
berjudul “Kota” (1958) menyebutkan bahwa :
“Kota adalah suatu tempat yang penghuninya dapat
memenuhi sebagian besar kebutuhan ekonominya di pasar lokal. Ciri
kota adalah adanya pasar sebagai benteng serta mempunyai sistem
hukum tersendiri dan bersifat kosmopolitan.”

7
Kemudian pemerintah mengeluarkan Undang Undang yang
mengatur definisi kota secara lebih khusus yaitu dalam UU No.22
tahun 1999 tentang Otonomi daerah yang berbunyi :
“Kota adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan sebagai tempat
pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi.”

4. Penataan Ruang
Kegiatan penataan ruang pada dasarnya merupakan
suatu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat
dan menjamin lingkungan hidup yang berkelanjutan
dengan memperhatikan keunggulan komparatif di suatu
wilayah, dan mengurangi kesenjangan pembangunan dengan
mengurangi kawasan-kawasan yang miskin, kumuh dan tertinggal.

Kemudian Abidin Kusno menjelaskan dalam bukunya yang


berjudul Ruang, Kekuasaan dan Identitas Dalam Konteks Urban
di Indonesia menjelaskan pengartian dari penataan ruang adalah :
“Tata ruang tidak hanya berupa tampak fisik dari lingkungan saja
tapi juga mempengaruhi pengakuan identitas. Baik individual
atau kolektif. Ruang dengan kapasitas tersebut bisa menghapuskan
identitas individu ataupun komunitas bahkan populasi sekalipun, melalui (
sains, tekhnologi, dan ekonomi ) ilmu pengetahuan, politik etik dan
simbol- simbol ritual yang dibuat oleh aparat-aparat kekuasaan.”

Hal ini kemudian dikuatkan dengan perundang-undangan


yang telah mngatur konsep daripada penataan ruang itu
tersendiri dalam UU. No 26 tahun 2007 mengenai Tata Ruang yang
berisi :

“Ruang adalah wadah yang meliputi ruang darat, ruang laut dan
ruang udara termasuk ruang di dalam bumi sebagai satu kesatuan
wilayah, tempat manusia dan makhluk lain hidup, melakukan
kegiatan dan memelihara kelangsungan hidupnya. sedangkan tata
ruang adalah wujud struktur ruang dan pola ruang”

8
5. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan metode Ekspos Facto yaitu
suatu metode yang digunakan untuk mencari sebab dan akibat
dari suatu permasalahan. Dimana pada penelitian ini masalah utama
yang muncul adalah mengenai penanganan permukiman kumuh padat
penduduk.

Dalam hal ini penelitian dimulai dengan memahami permasalahan


dan merumuskannya, kemudian mengumpulkan informasi untuk dijadikan
bahan pertimbangan akhir yang akan dianalisis menjadi penyelesaian
utama atas masalah pada penelitian ini.

2. Objek Penelitian

Objek penelitian pada makalah ini adalah kawasan


permukiman padat penduduk dan kumuh yang berada di
Kawasan Kampung Madras tepatnya Jl. Teuku Cik Ditiro
Belakang, Lingkungan 6, Kelurahan Madras Hulu, Kecamatan
Medan Polonia, Kotamadya Medan.

Gambar 1.1. Keadaan Wilayah Objek Penelitian


Sumber : Dokumen Pribadi

9
Lokasi Penelitian
berdasarkan letak pada
Peta Kota Medan

Gambar 1.2. Letak Lokasi Penelitian Terhadap Peta Kota Medan


(Sumber : RT RW kota Medan 2010 – 2030 BAPPEDA kota Medan)

10
3. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah :


- Teknik Observasi, yaitu dengan mengadakan penelitian langsung pada
permukiman padat penduduk dan kumuh di wilayah Kampung
Madras, kec. Medan Polonia.
- Teknik Kualitatif, yaitu dengan mengumpulkan data-data mengenai
permasalahan apa sajakah yang muncul pada permukiman
padat penduduk dan kumuh dan proses penataannya dalam
upaya mewujudkan permukiman yang layak dan sehat.

4. Teknik Analisa Data Penelitian

Analisis data yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode


deskriptif yaitu metode yang mengumpulkan, menyusun,
mengelompokkan, menginterpretasikan dan menganalisa data untuk
memberi gambaran dan jawaban yang jelas dan akurat dari perumusan
masalah.

11
BAB II
PEMBAHASAN
1. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah yang penulis dapatkan sesuai dengan


uraian latar belakang masalah yang dapat di identifikasikan antara lain
adalah :
1. Kelayakan kawasan permukiman kumuh dan padat penduduk di daerah
Kampung Madras sebagai wilayah permukiman.
2. Cara menangani permasalahan penataan di wilayah kumuh dan
padat penduduk pada daerah kampung Madras.
3. Penataan yang sesuai dan mampu menghasilkan simbiosis mutualisme
antara masyarakat kampung Madras sebagai objek penataan
dan Pemerintah sebagai pelaksana penataan.

2. Analisis Masalah

Analisis yang penulis dapatkan dalam permasalahan


– permasalahan pada karya tulis ilmiah ini yang sesuai dengan identifikasi
masalah yang ada antara lain adalah :

1. Peruntukan lahan wilayah sekitar kampung Madras sesuai dengan


RTRW kota Medan tahun 2010 – 2030

Merujuk kepada data yang telah disusun oleh BAPPEDA kota


Medan sebagai instansi dengan kewenangan melakukan perencanaan
pengembangan dan pembangunan kota Medan ke depannya
dapat dilihat bahwa lahan pada objek penelitian ini diprioritaskan
untuk peruntukan pusat perdagangan namun juga masih dapat
difungsikan sebagai permukiman penduduk.

Pada data yang tercantum pada rancangan RTRW kota Medan


bahwa Kecamatan Medan Polonia dapat bertumbuh pesat sebagai pusat
perdagangan setelah proses pembangunan CBD polonia pada bekas
lahan bandara Polonia selesai. Begitu juga dengan perumahan dan

12
permukiman masih dapat berkembang dikarenakan masih cukup banyak
lahan siap bangun pada daerah tersebut.

Berikut data RTRW yang dikeluarkan oleh BAPPEDA kota Medan


mengenai perencanaan pengembangan setiap kecamatan :

1. Kecamatan Medan Tuntungan


Merupakan kecamatan yang berada di luar Pusat Kota. Kepadatan
penduduk di kecamatan ini masih tergolong rendah dan lahan
pengembangan masih tersedia cukup luas. Namun mengingat
kecamatan ini berada pada kawasan Selatan yang fungsinya
sebagai kawasan konservasi maka pertumbuhan penduduknya juga
diharapkan tidak terlalu besar. Perkiraan jumlah penduduk pada
tahun 2030 berjumlah 81.256 jiwa dengan kepadatan sekitar 39
Jiwa/Ha.

2. Kecamatan Medan Johor


Merupakan kecamatan yang relatif dekat dengan pusat kota
dan sudah cukup berkembang dimana terdapat banyak
kompleks perumahan. Perkiraan pertumbuhan penduduk di
kecamatan ini relatif akan cukup besar. Di kawasan ini masih
cukup tersedia lahan pengembangan, namun perlu dibatasi
perkembangannya mengingat kecamatan ini berada pada kawasan
Selatan yang fungsinya sebagai kawasan konservasi. Perkiraan
jumlah penduduk pada tahun 2030 berjumlah 169.592 jiwa dengan
kepadatan sekitar 116 Jiwa/Ha.

3. Kecamatan Medan Amplas


Merupakan kecamatan yang mempunyai pertumbuhan penduduk
terbesar kedua setelah Medan Marelan dengan potensi
lahan pengembangan yang masih luas. Perkembangan pada
kawasan ini sangat pesat, dimana banyak terdapat industri yang
berkembang. Perkiraan jumlah penduduk pada tahun 2030 berjumlah
266.374 jiwa dengan kepadatan sekitar 238 Jiwa/Ha.

13
4. Kecamatan Medan Denai
Merupakan kecamatan yang relatif dekat dengan pusat kota
dan sudah cukup berkembang dimana terdapat banyak
kompleks perumahan. Perkiraan jumlah penduduk pada tahun 2030
berjumlah
189.233 jiwa dengan kepadatan sekitar 209 Jiwa/Ha.

5. Kecamatan Medan Area


Merupakan kecamatan yang relatif dekat dengan pusat kota
dan sudah cukup berkembang dimana terdapat banyak
kompleks perumahan. Perkiraan jumlah penduduk pada tahun 2030
berjumlah
99.141 jiwa dengan kepadatan sekitar 180 Jiwa/Ha.

6. Kecamatan Medan Kota


Merupakan kecamatan di kawasan pusat kota, sebagian wilayahnya
adalah kawasan perdagangan dan jasa. Ketersediaan
lahan pengembangan sangat terbatas. Perkiraan jumlah penduduk pada
tahun
2030 berjumlah 77.032 jiwa dengan kepadatan sekitar 146 Jiwa/Ha.

7. Kecamatan Medan Maimun


Merupakan kawasan di pusat kota, sebagian kawasan ini merupakan
kawasan perkantoran, perdagangan dan jasa. Ketersediaan lahan
pengembangan sangat terbatas. Perkiraan jumlah penduduk pada tahun
2030 berjumlah 99.087 jiwa dengan kepadatan sekitar 333 Jiwa/Ha.

8. Kecamatan Medan Polonia


Merupakan kawasan di pusat kota, kawasan ini merupakan
kawasan bandara polonia dan permukiman. Ketersediaan lahan
pengembangan sangat terbatas. Namun dengan adanya rencana
pemindahan bandara polonia ke Kuala Namo, maka kawasan
polonia akan dikembangkan menjadi kawasan CBD. Perkiraan

14
jumlah penduduk pada tahun 2030 berjumlah 81.298 jiwa dengan
kepadatan sekitar 90 Jiwa/Ha.

9. Kecamatan Medan Baru


Merupakan kecamatan di kawasan pusat kota, sebagian wilayahnya
adalah kawasan perdagangan dan jasa. Ketersediaan
lahan pengembangan sangat terbatas. Perkiraan jumlah penduduk pada
tahun
2030 berjumlah 43.553 jiwa dengan kepadatan sekitar 75 Jiwa/Ha.

10. Kecamatan Medan Selayang


Merupakan kecamatan yang berada di luar Pusat Kota.
Lahan pengembangan masih tersedia cukup luas. Perkiraan jumlah
penduduk pada tahun 2030 berjumlah 110.868 jiwa dengan kepadatan
sekitar 87
Jiwa/Ha.

11. Kecamatan Medan Sunggal


Merupakan kecamatan yang berada di luar Pusat Kota dan memiliki
luas kecamatan yang paling kecil, sehingga lahan pengembangan sangat
terbatas. Perkiraan jumlah penduduk pada tahun 2030
berjumlah
127.717 jiwa dengan kepadatan sekitar 83 Jiwa/Ha.

12. Kecamatan Medan Helvetia


Merupakan kecamatan yang mempunyai pertumbuhan penduduk
cukup besar. Potensi lahan pengembangan sangat
terbatas. Perkembangan pada kawasan ini sangat pesat, dimana banyak
terdapat kawasan perumahan. Perkiraan jumlah penduduk pada
tahun 2030 berjumlah 208.592 jiwa dengan kepadatan sekitar 159
Jiwa/Ha.

15
13. Kecamatan Medan Petisah
Merupakan kecamatan di kawasan pusat kota, sebagian wilayahnya
adalah kawasan perdagangan dan jasa. Ketersediaan
lahan pengembangan masih luas. Perkiraan jumlah penduduk pada
tahun
2030 berjumlah 58.131 jiwa dengan kepadatan sekitar 85 Jiwa/Ha.

14. Kecamatan Medan Barat


Merupakan kecamatan di kawasan pusat kota, sebagian wilayahnya
adalah kawasan perdagangan dan jasa. Ketersediaan
lahan pengembangan sangat terbatas. Perkiraan jumlah penduduk pada
tahun
2030 berjumlah 55.497 jiwa dengan kepadatan sekitar 104 Jiwa/Ha.

15. Kecamatan Medan Timur


Merupakan kecamatan di kawasan pusat kota, sebagian wilayahnya
adalah kawasan perdagangan dan jasa. Ketersediaan
lahan pengembangan sangat terbatas. Perkiraan jumlah penduduk pada
tahun
2030 berjumlah 108.581 jiwa dengan kepadatan sekitar 140 Jiwa/Ha.

16. Kecamatan Medan Perjuangan


Merupakan kecamatan yang relatif dekat dengan pusat kota
dan sudah cukup berkembang dimana terdapat banyak kompleks
perumahan. Perkiraan jumlah penduduk pada tahun 2030 berjumlah
128.498 jiwa dengan kepadatan sekitar 314 Jiwa/Ha.

17. Kecamatan Medan Tembung


Merupakan kecamatan yang relatif dekat dengan pusat kota dan
sudah cukup berkembang dimana terdapat banyak kompleks
perumahan. Lahan pengembangan sangat terbatas karena luas wilayah
sangat kecil. Kecamatan ini merupakan kecamatan yang memiliki
kepadatan penduduk yang cukup tinggi. Perkiraan jumlah penduduk
pada tahun 2030 berjumlah 159.097 jiwa dengan kepadatan sekitar 199

16
Jiwa/Ha.

18. Kecamatan Medan Deli


Merupakan salah satu kecamatan yang mempunyai jumlah
penduduk paling besar, dengan potensi lahan pengembangan yang
masih luas. Perkembangan pada kawasan ini sangat pesat, dimana
banyak pembangunan kompleks perumahan baru. Pesatnya

perkembangan ke kawasan ini disebabkan adanya kawasan industri


dalam skala yang cukup besar. Berdasarkan hal tersebut laju
pertumbuhan penduduk diperkirakan 2% per tahun. Perkiraan
jumlah penduduk pada tahun 2030 berjumlah 228.361 jiwa dengan
kepadatan sekitar 110 Jiwa/Ha.

19. Kecamatan Medan Labuhan


Merupakan kecamatan yang mempunyai luas terbesar dengan
potensi lahan pengembangan yang masih luas. Perkembangan pada
kawasan ini sangat pesat, dimana banyak pembangunan kompleks
perumahan baru. Pesatnya perkembangan ke kawasan ini
disebabkan adanya kawasan industri dalam skala yang cukup besar.
Berdasarkan hal tersebut laju pertumbuhan penduduk diperkirakan
2% per tahun. Perkiraan jumlah penduduk pada tahun 2030
berjumlah 186.433 jiwa dengan kepadatan sekitar 51 Jiwa/Ha.

20. Kecamatan Medan Marelan


Merupakan kecamatan yang mempunyai pertumbuhan penduduk
terbesar dengan potensi lahan pengembangan yang masih luas.
Perkembangan pada kawasan ini sangat pesat, dimana banyak
pembangunan kompleks perumahan baru. Berdasarkan hal tersebut laju
pertumbuhan penduduk diperkirakan 2% per tahun. Perkiraan
jumlah penduduk pada tahun 2030 berjumlah 407.907 jiwa dengan
kepadatan sekitar 171 Jiwa/Ha.

17
21. Kecamatan Medan Belawan
Merupakan kecamatan dengan ketersediaan lahan sangat terbatas.
Kegiatan perdagangan dan jasa yang berkembang di kawasan ini
adalah pelabuhan, industri, pergudangan dan perikanan. Perkiraan
jumlah penduduk pada tahun 2030 berjumlah 106.680 jiwa
dengan kepadatan sekitar 41 Jiwa/Ha.

Objek penelitian pada kasus ini berada di Daerah Aliran


Sungai yang kemudian harus diperhatikan mengenai garis sepadan
sungai dalam penataannya. Memperhatikan besar lahan pada objek
penataan yaitu lingkungan 6 pada kelurahan Madras Hulu
Kecamatan Medan Polonia yang berkisar 1.500 m2, dimana besaran
lahan ini tidak terlalu besar jika diperuntukkan untuk Permukiman
Horizontal.

Gambar 2.1. Lokasi Lahan Penelitian pada lingkungan Sekitar


(Sumber : Dokumen Pribadi)

Dengan besaran lahan yang tidak terlalu besar maka


hunian horizontal yang selama ini telah ada haruslah dialih
fungsikan atau dirubah menjadi hunian vertikal yang mampu
menampung banyak penghuni. Berdasarkan data di lapangan,
sebanyak kurang lebih 52 kepala keluarga menempati wilayah tersebut
ditambah dengan penghuni tidak tetap yang mengisi rumah Kos
didaerah tersebut.

18
Berdasarkan data dan observasi yang telah dilakukan,
maka kondisi wilayah objek penelitian ini masih dapat diperuntukkan
untuk permukiman namun pembentukan permukiman tidaklah
secara horizontal agar lahan dapat dimaksimalkan untuk wilayah
perdagangan.

2. Penanganan penataan permukiman kumuh dan padat


penduduk Kampung Madras sesuai dengan perda yang berlaku
dan azas perancangan dalam Arsitektur

Melihat keadaan di daerah yang akan ditata dan kondisi sosial


budaya masyarakat setempat dan pergerakan ekonomi yang terjadi
di daerah tersebut, maka ada banyak hal yang harus diperhatikan
dalam proses melakukan penataan terhadap lingkungan ini. Masyarakat
disini pada umumnya bekerja di pusat kota maupun berdagang
disekitaran kawasan ini, karena pada dasarnya wilayah ini
merupakan salah satu pusat perekonomian di Kota Medan. Adanya
dua pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di daerah ini menambah
nilai perekonomian pada wilayah tersebut.

Berdasarkan Perda Kota Medan No. 13 Tahun 2011


mengenai RTRW kota Medan dalam waktu jangka panjang,
disebutkan dalam pasal 14 bahwa daerah pusat kota akan dijadikan
wilayah khusus perdagangan / perekonomian dan pelayanan
administrasi. Kemudian wilayah permukiman disebar kedaerah
pinggiran yang dikonsentrasikan pada daerah Medan Utara dan Medan
Selatan. Dalam hal ini pemerintah ingin menzoningkan kota Medan
ke dalam beberapa bagian, yang kemudian dibagi dalam prioritas
pembangunan kota.

Jika mengikuti kelanjutan dari arahan Perda diatas, maka


keseluruhan permukiman yang berada di pusat kota akan disebar
di daerah pinggir kota dan membangun pusat bisnis di tengah kota

19
yang dapat teriuntegrasi dengan permukiman. Namun langkah ini
sangat susah terwujud dikarenakan beberapa aspek yang tidak
mungkin disingkirkan dalam melakukan penataan di kota Medan. Salah
satunya aspek sosial budaya dan ekonomi, dimana pada beberapa
daerah di pusat kota sudah merupakan tempat penduduk asli yang
tidak mudah untuk menggesernya ke daerah pinggiran.

20
Gambar 2.2. Kondisi Wilayah Penelitian Yang Sangat Tidak Layak
(Sumber : Dokumen Pribadi)

Dan yang sangat mempengaruhi lagi adalah faktor perekonomian,


bagi masyarakat pusat kota dapat menjalankan kegiatan
ekonomi didaerah mereka bermukim adalah suatu keuntungan
sehingga tidak perlu memikirkan biaya transportasi dan lainnya. Hal
ini juga yang mendukung bertumbuhnya permukiman padat
penduduk yang rentan menjadi permukiman kumuh di pusat
kota. Akses ekonomi yang menjanjikan dan akses ke berbagai
pusat administrasi yang tidak memerlukan biaya lebih menjadi
salah satu alasan masyarakat tetap bermukim di daerah tersebut.

Gambar 2.2. Wilayah Pedestrian Pada Wilayah Penelitian


(Sumber : Dokumen Pribadi)

Melihat tumpang tindih yang terjadi antara perda dan


aspek kehidupan masyarakat, maka perlu ada solusi agar proses
penataan dapat berjalan. Mengaitkan permasalahan ini dengaan aspek
Arsitektur sudah pasti kawasan permukiman kumuh sudah tidak
layak dikatakan

21
hunian bagi masyarakat. Hunian yang seharusnya adalah hunian
yang dapat menjamin penghuninya dari bahaya dan ancaman dari luar
serta sanitasi yang bersih agar terhindar dari berbagai macam
penyakit menular. Hal ini tidak akan terwujud pada daerah kumuh
yang sudah pasti tidak memiliki sanitasi yang layak dan baik untuk
sebuah hunian, bahkan berdasarkan data di lapangan beberapa
hunian tidak memiliki sanitasi sehingga harus menumpang di sarana
sanitasi milik orang lain.

Permasalahan antara perda yang berlaku dan konsep permukiman


yang kedua adalah peruntukan lahan yang tidak dipergunakan
sesuai dengan kebutuhannya. Untuk memaksimalkan wilayah
pusat kota menjadi wilayah perdagangan pemerintah membutuhkan
cukup banyak lahan lagi untuk didirikan sebuah Central Business
District, selain itu pemerintah juga memprioritaskan kebutuhan akan
RTH yang semakin minim di daerah kota Medan ini. Berdasarkan asas
perancangan dalam Arsitektur, wilayah permukiman haruslah dapat
menjamin kehidupan penghuninya dalam aspek kesehatan, keamanan,
dan ketenangan.

Gambar 2.3. Sirkulasi Jalan Pada Wilayah Penelitian


(Sumber : Dokumen Pribadi)

Oleh karena itu dalam menata kawasan permukiman kumuh pada


objek penelitian ini kita harus melihat aspek-aspek yang berlaku dalam
sebuah hunian. Salah satu aspek yang sulit diwujudkan adalah
menciptakan ketenangan pada hunian di daerah kumuh. Untuk
keamanan sendiri dapat diciptakan dengan metoda penataan yang dapat
22
menciptakan rasa aman antar penghuni dengan penyatuan massa
pada hunian di daerah tersebut, sehingga meminimkan ruang masif
diantara hunian yang rentan akan tindakan kriminalitas.

Dalam aspek kesehatan sendiri hal yang paling penting adalah


sistem sanitasi dan penghawaan serta sirkulasi udara pada hunian
itu sendiri. Dengan ketersediaan lahan yang terbatas dan berdasarkan
perda yang berlaku, maka penataan pada kawasan ini harus
memanfaatkan kondisi lapangan yang sangat minim agar tercipta
hunian baik dalam permukiman kumuh tersebut. Setelah melewati
proses penataan nantinya kawasan ini dapat berubah dari kawasan
permukiman kumuh menjadi kawasan layak huni yang dapat
menunjang kegiatan perekonomian disekitarnya dan mampu
menjadi salah satu pusat perekonomian kota.

Gambar 2.4. Ruang Pasif pada Wilayah Penelitian Yang


Rentan Aksi Kriminalitas
(Sumber : Dokumen Pribadi

23
3. Metoda Penataan yang sesuai dalam penanganan penataan
permukiman kumuh dan padat penduduk Kampung Madras
sehingga mampu menghasilkan simbiosis mutualisme antara
masyarakat sebagai objek penataan dan Pemerintah sebagai
pelaksana penataan.

Dalam melakukan penataan terhadap permukiman kumuh yang


berada dilahan terbatas perlu pendekatan yang sesuai agar proses
penataan dapat berjalan sesuai dengan keinginan pihak penata dan
pihak yang ditata. Melihat kondisi sosial budaya dan
aspek perekonomian yang berada disekitar wilayah penataan maka
dalam kasus ini akan dibangun sebuah hunian vertikal yang
kemudian peruntukkannya akan dibagi sesuai zona peruntukan.

Proses pembangunan hunian vertikal ini dilakukan untuk


memaksimalkan lahan yang ada agar tercipta hunian-hunian
yang berkualitas dan layak huni serta mampu menghadirkan ruang
terbuka hijau yang maksimal sebagai sarana rekreasi bagi masyarakat
penghuni rumah susun ini nantinya. Posisi rumah susun yang sangat
strategis ini pada akhirnya nanti akan mendukung roda
perekonomian disekitar wilayah penelitian ini, karena para pekerja
yang beraktifitas disekitar wilayah penelitian ini dapat menetap
sementara pada hari kerja dirumah susun ini dan kembali pulang ke
rumah pad akhir minggu. Hal ini dapat meninggikan faktor pendapatan
karena para pekerja telah melakukan penghematan di cost
transportasi.

Selanjutnya masyarakat yang dahulunya harus hidup bersesakan


karena kondisi kawasan permukiman yang sangat padat dapat
merasakan kualitas hidup yang lebih layak karena potensi lahan
yang dahulu sangat terbatas sekarang menjadi lebih luas dan
mampu memberikan kesan segar dan natural. Keuntungan diatas
merupakan hal-hal positif yang dapat dirasakan oleh objek

24
penataan yaitu masyarakat sekitar lingkungan kampung madras.
Sedangkan untuk pemerintah sendiri sebagai pelaku penataan
mendapatkan keuntungan yaitu terbentuknya ruang terbuka
hijau baru, serta mampu meningkatkan peningkatan
perekonomian dipusat kota. Jikalau hal ini dapat berjalan sesuai
dengan apa yang telah direncanakan, pastinya tidak akan ada
tumpang tindih kepentingan dari salah satu pihak saja yang akan
berjalan di daerah penelitian ini dan pada akhirnya seluruh pihak dapat
bersatu dalam pembangunan kota Medan secara
berkesinambungan.

a. Standar Hunian Rumah Susun

Berdasarkan UU. No 16 tahun 1985 tentang Rumah Susun


telah diatur mengenai pembangunan, pembinaan, kepemilikan
dan pengelolaa kedepannya. Dimana dalam pasal 1 dijelaskan
bahwa rumah susun dibangun bukan untuk kepentingan
perseorangan melainkan dibangun untuk kepentingan
masyarakat Umum. Pembangunan rumah susun ini tidak ditujukan
untuk sebuah bangunan komersil yang dapat menghasilkan laba
sebesar-besarnya karena rata- rata pembangunan rumah susun akan
menggunakan anggaran negara melalui proses lelang proyek.

b. Kebutuhan Rumah Susun Pada Wilayah Penelitian

Berdasarkan data di lokasi penelitian jumlah hunian yang berada di


wilayah tersebut berjumlah 52 hunian dengan total 30 hunian
dihuni oleh satu keluarga dan 20 hunian juga digunakan sebagai tempat
kos. Hunian-hunian di lingkungan telah diisi oleh instalasi Listrik PLN,
Air Bersih PDAM Tirtanadi dan Instalasi Gas dari PGN.
Rata-rata penghuni memiliki 2 unit kereta dan beberapa
penghuni bahkan memiliki kendaraan roda empat seperti mobil sejeni
MPV dan SUV.

25
Setelah melakukan pertimbangan dan melakukan jajak pendapat
maka kebutuhan rumah susun yang akan dibangun di daerah penelitian
ini kurang lebih sebanyak 80 unit dengan ketentuan satu lantai
dari bangunan rumah susun diisi oleh 8 unit rumah susun
sehingga total lantai yang akan dibangun adalah 10 lantai untuk unit
rumah susun dan 1 lantai untuk lokasi parkir kendaraan.

c. Peruntukan Rancangan Rumah Susun pada Wilayah penelitian

Rumah susun ini dibangun dan diperuntukkan untuk


masyarakat yang dahulu telah bermukim didaerah penelitian,
namun untuk meningkatkan roda perekonomian di daerah ini maka
unit Rumah susun yang akan dibangun sengaja dibuat melebihi
kebutuhan Masyarakat. Hal ini ditujukan agar nantinya beberapa
pekerja yang beraktifitas didaerah ini dapat menyewa unit rusun
sebagai hunian sementara, datangnya penghuni baru juga akan
menjadi berkah bagi penghuni yang berdagang disekitar wilayah ini.

Untuk status kepemilikannya sendiri bagi warga yang berstatus


sebagai warga yang direlokasi maka akan mendapatkan rumah
susun dengan status Hak Guna Bangunan, sedangkan untuk warga
pendatang lainnya hanya sebagai penyewa unit Rumah susun.

26
d. Site Plan Penataan Wilayah Penelitian

Gambar 2.5. Site Plan Perancangan Rumah Susun


(Sumber : Dokumen Pribadi)

27
e. Denah Rancangan Rumah Susun

Gambar 2.6. Denah Perancangan Rumah Susun


(Sumber : Dokumen Pribadi)

28
f. Gambar Perspektif Penataan Wilayah

Gambar 2.7. Perspektif Birdview I Perancangan


(Sumber : Dokumen Pribadi)

Gambar 2.8. Perspektif Birdview II Perancangan


(Sumber : Dokumen Pribadi)

29
BAB III
HASIL PENELITIAN

1. Kesimpulan
Setelah melakukan proses Identifikasi masalah dan
menganalisisnya menjadi sebuah rumusan sehingga
menghadirkan pemecahan masalah yang berbentuk perancangan
penataan bagi wilayah kumuh di lokasi penelitian ini maka penyusun
mendapatkan beberapa kesimpulan yang kemudian dipadatkan menjadi
sebuah suatu kesatuan yang dapat dijadikan tembusan daripada makalah
ini :
1. Proses dalam melakukan penataan terhadapa permukiman tidak layak
huni harus melalui beberapa proses, yang pertama adalah pendekatan
persuasif antara pihak penata dan objek penataan yaitu masyarkaat
yang bermukim di daerah tersebut. Kedua adalah menganalisis
data lapangan mengenai kebutuhan masyarakat dan ketersediaan lahan
yang berkesesuaian perda berlaku. Proses terakhir adalah
melakukan penawaran penataan terhadap objek penataan yaitu
masyarakat itu sendiri. Dan yang terakhir adalah melakukan penataan
setelah proses proses sebelumnya berhasil dilaksanakan.
2. Penataan yang akan dilakukan haruslah berkesinambungan dengan
kebutuhan masyarakat dan pemerintah nantinya, hal ini ditujukan agar
tidak terjadi tumpang tindih kepentingan antara masyarakat
dan pemerintah sebagai pelaksana penataan. Simbiosis mutualisme
harus terjadi antara kedua belah pihak agar kedepannya Kota
Medan dapat lebih baik lagi dari segi penataan wilayah yang akan
berdampak terhadap pergerakan ekonomi yang dapat meningkat.
3. Rumah susun adalah salah satu solusi yang aktif berperan dalam
pertumbuhan penduduk kota yang cukup cepat sehingga rentan
menghasilkan permukiman padat penduduk. Saat ini hunian Horizontal
di wilayah perkotaan sudah tidak relevan lagi dikarenakan kepadatan
yang terus bertambah. Hal ini juga akan menjawab permasalahan
mahalnya harga properti yang terbeban karena mahalnya harga tanah

30
di daerah perkotaan. Dengan membangun hunian vertikal maka beban
harga tanah akan dibagi kebanyak pihak sehingga dapat
menurunkan harga properti strategis di tengah kota yang dekat
dengan pusat perekonomian. Dan pada akhirnya tujuan memakmurkan
kota Medan
melalui sektor perdagangan dapat berjalan maksimal.

2. Saran
Sebagai mahasiswa arsitektur yang mempelajari mengenai
perancangan dan penataan wilayah permukiman khususnya wilayah
perkotaan, kami berharap kedepannya pihak pemerintah dan
segala instansi terkait mengikut sertakan arsitek dan perencana lain seperti
arsitek lansekap, teknisi lingkungan dan lainnya dalam setiap
program perancangan kota. Hal ini ditujukan agar pada awals
pembangunan tidak terjadi kesalahan dan dapat berkesinambungan
menjadi sebuah program pembangunan jangka panjang sehingga
anak cucu kita tidak perlu menanggung penatnya pembangunan
kota yang kacau namun cukup dengan melanjutkan pembangunan
yang telah ada sehingga tidak memakan biaya yang terlalu besar di
kemudian hari.

Saat ini pembangunan kota-kota besar di Indonesia hanya


berorientasi kepada fungsi dan aksedibilitas, bukan kepada aspek
penggunaan kedepannya dan jauh dari kesan estetis. Hal ini terjadi karena
dalam penentuan RTRW kota tidak mengikut sertakan Para Ahli
perencanaan, bahkan pada beberapa kasus hanya dibahas pada sidang
Dewan yang tidak ada satupun anggotanya berlatar belakang
pendidikan perencanaan namun berbasis sosial humaniora. Dan
pada akhirnya Pembangunan berakhir kepada jalur sosial yang
berorientasi pada aspek ekonomis tanpa memperhitungkan nilai-nilai
teknis.

31
DAFTAR PUSTAKA

“Peraturan Menteri PU No. 41/PRT/M2007 tentang Kawasan


Permukiman dan Kesesuaian Lahan”. Direktorat Bina Tata Perkotaan. 2008.

Nuraini, Cut. 2010. “ Metode Perancangan Arsitektur”, Karya Putra


Darwati. Bandung.

Yunus, H.S. 2005. Manajemen Kota: Perspektif Spasial. Yogyakarta:


Pustaka Pelajar.

“Rencana Tata Ruang Dan Tata Wilayah Kota Medan Tahun 2010 –
2030”, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Pemerintah Kota Medan. 2010

32
33
34
35
36
37
38
39
40
41
42