Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Kehamilan ektopik adalah kehamilan dimana sel telur yang dibuahi


berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uterus. Termasuk dalam
kehamilan ektopik ialah kehamilan tuba, kehamilan ovarial, kehamilan
intraligamenter, kehamilan servikal dan kehamilan abdominal primer atau
sekunder.1
Kehamilan ektopik terganggu (KET) adalah keadaan di mana timbul
gangguan pada kehamilan tersebut sehingga terjadi abortus maupun ruptur yang
menyebabkan penurunan keadaan umum pasien.2,3
Sebagian besar kehamilan ektopik terganggu berlokasi di tuba (90%)
terutama di ampula dan istmus. Sangat jarang terjadi di ovarium , rongga
abdomen.4
Kehamilan ektopik merupakan salah satu kehamilan yang berakhir
abortus, dan sekitar 16% kematian dalam kehamilan dikarenakan perdarahan yang
dilaporkan disebabkan kehamilan ektopik yang pecah.3
` Kehamilan Ektopik Terganggu (KET) merupakan penyebab 1 dari 200 (5-
6%) mortalitas maternal di negara maju.5 Dengan 60.000 kasus setiap tahun atau
3% dari populasi masyarakat, angka kejadian KET di Indonesia diperkirakan tidak
jauh berbeda dengan negara maju, menurut WHO.6
Berdasarkan data yang diapatkan dari Dinas Kesehatan Provinsi pada
tahun 2013, di wilayah Jawa barat 2,7% penyabab kematian ibu disebabkan oleh
perdarahan antepartum yang diantaranya mencakup kehamilan ektopik.7
Dari penelitian yang dilakukan Budiono Wibowo di RSUP Cipto
Mangunkusumo (RSUPCM) Jakarta pada tahun 1987 dilaporkan 153 kehamilan
ektopik terganggu dalam 4007 persalinan, atau 1 dalam 26 persalinan. Ibu yang
mengalami kehamilan ektopik terganggu tertinggi pada kelompok umur 20-40

1
tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Frekuensi kehamilan ektopik yang
berulang dilaporkan berkisar antara 0% sampai 14.6%.8
Faktor resiko yang berperan terhadap kejadian Kehamilan Ektopik
terganggu diantaranya adalah faktor usia, faktor paritas, penyakit ginekologi dan
riwayat penggunaan alat kontrasepsi.7,9,10
Melihat komplikasi yang dapat terjadi pada kasus KET maka penulis
merasa tertarik untuk membahas mengenai kasus KET yang terjadi di Rumah
Sakit Palembang.

1.1 Tujuan
Adapun tujuan dari laporan kasus ini adalah sebagai berikut:
1. Diharapkan bagi semua dokter muda agar dapat memahami kasus
kehamilan ektopik terganggu
2. Diharapkan munculnya pola berpikir kritis bagi semua dokter muda
setelah dilakukan diskusi dengan dosen pembimbing klinik tentang kasus
kehamilan ektopik terganggu.

1.2 Manfaat
1.2.1 Manfaat Teoritis
a. Bagi institusi, diharapkan laporan kasus ini dapat menambah
bahan referensi dan studi kepustakaan dalam bidang ilmu obstetri
dan ginekologi terutama tentang kehamilan ektopik.
b. Bagi penulis selanjutnya, diharapkan laporan kasus ini dapat
dijadikan landasan untuk penulisan laporan kasus selanjutnya.

1.2.2 Manfaat Praktis


a. Bagi dokter muda, diharapkan laporan kasus ini dapat
diaplikasikan pada kegiatan kepaniteraan klinik senior (KKS)
dalam penegakkan diagnosis kehamilan ektopik terganggu yang
berpedoman pada anamnesis dan pemeriksaan fisik.

2
b. Bagi dokter umum, diharapkan laporan kasus ini dapat menjadi
bahan masukan dan menambah pengetahuan dalam mendiagnosis
kehamilan ektopik terganggu dan selanjutnya melakukan rujukan
pada dokter spesialis yang lebih berkompeten.
c. Bagi pasien dan keluarga pasien, diharapkan laporan kasus ini
dapat memberikan informasi mengenai kehamilan ektopik
terganggu dan komplikasi yang mungkin terjadi jika tidak segera
dilakukan tindakan.