Anda di halaman 1dari 31

KATA PENGANTAR

Pertama-tama, puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang karena atas
berkat dan rahmat-Nya, penulis dapat menyelesaikan referat ini tepat pada waktunya.
Penulis berharap dengan membaca referat ini, pembaca dapat mengerti lebih lanjut
mengenai gangguan bipolar. Referat ini dibuat dengan meminjam ilmu dari para peneliti yang
telah berdedikasi tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan. Penulis juga menyadari bahwa referat
ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, masukan dan kritikan yang bersifat
membangun dari pembaca sangat kami harapkan agar dapat dijadikan pertimbangan dan
pembelajaran dalam penulisan referat selanjutnya.
Penulis juga ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya apabila
terdapat kata-kata dalam tulisan kami yang kurang berkenan di hati pembaca. Semoga referat
ini dapat berguna dan bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Jakarta, 26 September 2018

Penulis

1
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................... 1
DAFTAR ISI ........................................................................................................ 2
BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN PUSTAKA........................................................................ 4
1. DEFINISI ................................................................................................. 4
2. EPIDEMIOLOGI .................................................................................... 4
3. ETIOLOGI .............................................................................................. 4
4. MANIFESTASI KLINIS ........................................................................ 7
5. KLASIFIKASI ......................................................................................... 9
6. DIAGNOSIS ........................................................................................... 13
7. DIAGNOSIS BANDING ......................................................................... 18
8. TATALAKSANA .................................................................................... 19
9. KOMPLIKASI ......................................................................................... 29
10. PROGNOSIS............................................................................................ 30
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 31

2
BAB I
PENDAHULUAN

Gangguan bipolar dikenal juga dengan gangguan manik depresi yaitu gangguan pada
fungsi otak yang menyebabkan perubahan yang tidak biasa pada suasana perasaan dan proses
berpikir. Disebut bipolar karena penyakit kejiwaan ini didominasi adanya fluktuasi periodik
dua kutub, yakni kondisi manik (bergairah tinggi yang tak terkendali) dan depresi 1.
Pada gangguan mood bipolar I, penderita tidak hanya mengalami depresi, tetapi pada
suatu saat akan mengalami episode manik, sedangkan pada bipolar II, tidak ada episode manik,
hanya hipomanik (tidak separah manik) dan yang selalu ada adalah episode depresi. Penyakit
manik depresi biasanya diawali oleh depresi yang meliputi setidaknya satu episode manik
dalam perjalanan penyakitnya. Episode depresi berlangsung selama 3-6 bulan 2.

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. DEFINISI
Gangguan bipolar merupakan gangguan mood yang bersifat episodik dan ditandai oleh
gejala-gejala manik, depresi dan campuran, biasanya rekuren serta dapat berlangsung seumur
hidup1.
Episode manik sendiri merupakan satu waktu dimana pasien mengalami mood yang elasi,
ekspansif, atau iritabel paling sedikit selama satu minggu (bisa kurang, bila dirawat).2

2. EPIDEMIOLOGI
Prevalensi terjadinya gangguan bipolar I selama kehidupan atau gangguan manik-depresif
klasik mencapai 2,4%, gangguan bipoar II berkisar antara 0,3-4,,8%, siklotimia antara 0,5-
6,3% dan hipomanik antara 2,6-7,8%. Total prevalensi spektrum bipolar selama kehdupan
antara 2,6-7,8%.2
Gangguan bipolar merupakan penyebab disabilitas ke-6 di dunia. Gangguan bipolar juga
dikaitkan dengan tingginya angka kematian dini, hal ini disebabkan oleh tingginya angka
bunuh diri dan kematian fisik (penyakit paru-paru dan kardiovaskular). Sebuah penelitian
yang dilakukan terhadap dua kelompok subyek dengan jenis kelamin dan umur yang sama,
menunjukkan bahwa angka kematian pasien dengan gangguan bipolar yang tidak diobati
dalam dua belas bulan berikutnya yaitu 2,5 kali lebih sering dibandingkan dengan populasi
tanpa gangguan bipolar. Sekitar 25% penederita gangguan bipolar pernah melakukan
percobaan bunuh diri, paling sedikit satu kali dalam kehidupannya1
Prevalensi terjadinya gangguan bipolar I pada laki-laki dan perempuan adalah sama.
Hanya saja eposide manik lebih sering terjadi pada laki-laki sedangkan episode depresif lebih
sering terjadi pada perempuan2. Pada gangguan bipolar II prevalensi pada wanita lebih tinggi
bila dibandingkan dengan laki-laki.1
Onset terjadinya gangguan bipolar I ialah antara usia balita (5-6 tahun) sampai dengan usia
50 tahun dengan rata-rata terjadi di usia 30 tahun.1

4
3. ETIOLOGI
a. Faktor Biologi
Hingga saat ini neurotransmitter monoamine seperti norepinefrin, dopamine, serotonin,
dan histamine menjadi focus teori dan masih diteliti hingga saat ini. Sebagai biogenik
amin norepinefrin dan serotonin adalah neurotransmitter yang paling berpengaruh dalam
patofisiologi gangguan mood ini.1,3,4
- Norepinefrin. Teori ini merujuk pada penurunan regulasi dan penurunan sensitivitas
dari reseptor β adrenergik dan dalam klinik hal ini dibuktikan oleh respon pada
penggunaan anti depresan yang cukup baik sehingga mendukung adanya peran
langsung dari system noradrenergik pada depresi. Bukti lainnya melibatkan reseptor
β2 presinaps pada depresi karena aktivasi pada reseptor ini menghasilkan penurunan
dari pelepasan norepinefrin. Reseptor β2 juga terletak pada neuron serotoninergic dan
berperan dalam regulasi pelepasan serotonin. 3
- Serotonin. Teori ini didukung oleh respon pengobatan SSRI (selective serotonin
reuptake inhibitor) dalam mengatasi depress. Rendahnya kadar serotonin dapat
menjadi factor resipitat depresi, beberapa pasien dengan dorongan bunuh diri memiliki
konsentrasi serotonin yang rendah dalam cairan cerebropinalnya dan memiliki kadar
konsentrasi rendah uptake serotonin pada platelet. 3
- Dopamine. Selain dari norepinefrin dan serotonin, dopamine juga diduga memiliki
peran. Data memperkirakan bahwa aktivitas dopamine dapat mengurangi depresi dan
meningkat pada mania. Dua teori mengenai dopamine dan depresi adalah bahwa jalur
mesolimbic dopamine tidak berfungsi terjadi pada depresi dan dopamine reseptor D1
hipoaktif pda keadaan depresi. 3
- Kelainan di otak juga dianggap dapat menjadi penyebab penyakit ini. Terdapat
perbedaan gambaran otak antara kelompok sehat dengan penderita bipolar. Melalui
pencitraan magnetic resonance imaging (MRI) dan positron-emission tomography
(PET), didapatkan jumlah substansia nigra dan aliran darah yang berkurang pada
korteks prefrontal subgenual. Tak hanya itu, Blumberg dkk dalam Arch Gen Psychiatry
2003 pun menemukan volume yang kecil pada amygdale dan hippocampus. Korteks
prefrontal, amygdale, dan hippocampus merupakan bagian dari otak yang terlibat
dalam respon emosi (mood dan afek). Penelitian lain menunjukkan ekspresi
oligodendrosit-myelin berkurang pada otak penderita bipolar. Seperti diketahui,
oligodendrosit menghasilkan membran myelin yang membungkus akson sehingga

5
mampu mempercepat hantaran konduksi antar saraf. Bila jumlah oligodendrosit
berkurang, maka dapat dipastikan komunikasi antar saraf tidak berjalan lancar.3
b. Faktor Genetik
- Studi pada keluarga. Data dari studi ini mengatakan 1 orang tua dengan gangguan
mood, anaknya akan memiliki risiko antara 10-25% untuk menderita gangguan mood.
Jika kedua orang tuanya menderita gangguan mood, maka kemungkinannya menjadi
2 kali lipat. Risiko ini meningkat jika ada anggota keluarga dari 1 generasi sebelumnya
daripada kerabat jauh. Satu riwayat keluarga gangguan bipolar dapat meningkatkan
risiko untuk gangguan mood secara umum, dan lebih spesifik pada kemungkianan
munculnya bipolar.1,3
- Studi pada anak kembar. Studi ini menunjukan bahwa gen hanya menjelaskan 50-70%
etiologi dari gangguan mood. Studi ini menunjukan rentang gangguan mood pada
monozigot sekitar 70-90% dibandingkan dengan kembar dizigot sekitar 16-35%.1,3,4
c. Faktor Psikososial
- Stress dari lingkungan dan peristiwa dalam hidup seseorang. Penelitian telah
membuktikan faktor lingkungan memegang peranan penting dalam Gangguan
perkembangan bipolar. Faktor lingkungan yang sangat berperan pada kehidupan
psikososial dari pasien dapat menyebabkan stress yang dipicu oleh faktor lingkungan.
Stress yang menyertai episode pertama dari gangguan bipolar dapat menyebabkan
perubahan biologik otak yang bertahan lama. Perubahan bertahan lama tersebut dapat
menyebabkan perubahan keadaan fungsional berbagai neurotransmitter dan sistem
pemberian signal intraneuronal. Perubahan mungkin termasuk hilangnya neuron dan
penurunan besar dalam kontak sinaptik. Hasil akhir perubahan tersebut adalah
menyebabkan seseorang berada pada resiko yang lebih tinggi untuk menderita
Gangguan mood selanjutnya, bahkan tanpa adanya stressor eksternal.3
- Faktor kepribadian. Tidak ada bukti yang mengindikasikan bahwa gangguan
kepribadian tertentu berhubungan dengan berkembangnya gangguan bipolar I,
walaupun pasien dengan gangguan distimik dan siklotimik berisiko untuk dapat
berkembang menjadi depresi mayor atau gangguan bipolar I. Kejadian tiba-tiba yang
memicu stress yang kuat adalah prediktor dari onset episode depresi.3

6
4. MANIFESTASI KLINIS
Episode Hipomania
Paling sedikit empat hari berturut-turut, terdapat hampir sepanjang hari dan hampir
setiap hari, pasien mengalami peningkatan mood, ekspansif atau irritabel yang ringan,
terjadi tiga atau lebih gejala (empat gejala bila mood irritabel) yaitu:
a. Grandiositas atau meningkatnya kepercayaan diri
b. Berkurangnya kebutuhan tidur (merasa segar dengan hanya tidur tiga jam)
c. Bicara lebih banyak dari biasanya atau adanya desakan untuk tetap berbicara
d. Loncat gagasan atau pengalaman subjektif adanya pemikiran berlomba
e. Distraktibilitas (misalnya, perhatian mudah teralih kepada stimulus yang tidak relevan atau
penting)
f. Meningkatnya aktivitas yang diarahkan ke tujuan (baik secara sosial, pekerjaan, sekolah
atau seksual) atau agitasi psikomotor (misalnya, aktivitas yang tidak bertujuan)
g. Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang berpotensi tinggi menimbulkan
kerugian (misalnya, terlibat dalam berbelanja yang sangat berlebihan atau melakukan
investasi tanpa perhitungan)
Tidak ada gambaran psikotik (halusinasi, waham, atau perilaku dan
pembicaraan aneh), tidak membutuhkan hospitalisasi dan tidak mengganggu fungsi
personal, sosial, maupun pekerjaan.

Episode Mania
Berlangsung paling sedikit satu minggu (dapat kurang apabila pasen masuk perawatan),
pasien mengalami mood yang elasi, ekspansif, atau iritabel. Pasien memiliki, secara
menetap, tiga atau lebih gejala berikut (empat bila mood iritabel) yaitu:
a. Grandiositas atau percaya diri berlebihan
b. Berkurangnya kebutuhan tidur (misalnya, merasa segar dengan hanya tidur tiga jam)
c. Bicara lebih banyak dari biasanya atau adanya keterdesakan untuk tetap berbicara
d. Loncatan gagasan atau pengalaman subjektif adanya pikiran yang berlomba
e. Distraktibilitas (misalnya, perhatian mudah teralih kepada stimulus eksternal yang tidak
relevan atau penting)
f. Meningkatnya aktivitas yang diarahkan ke tujuan (baik secara sosial, pekerjaan, sekolah
atau seksual) atau agitasi psikomotor (misalnya, aktivitas yang tidak bertujuan)

7
g. Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang berpotensi tinggi berdampak merugikan
(misalnya, terlibat dalam berbelanja yang tak terbatas atau investasi bisnis yang kurang
perhitungan)
Dapat menyebabkan hendaya nyata dalam fungsi sosial dan pekerjaan atau memerlukan
perawatan untuk menghindari melukai diri sendiri atau orang lain, atau adanya gambaran
psikotik.

Episode Campuran
Paling sedikit dua minggu pasien mengalami episode mania, hipomania, dan depresi yang
terjadi tercampur atau bergantian secara cepat. Misalnya, mood tereksitasi (lebih sering mood
disforik), iritabel, marah, serangan panik, pembicaraan cepat, agitasi, menangis, ide bunuh diri,
insomnia derajat berat, grandiositas, hiperseksualitas, waham kejar dan kadang-kadang
bingung. Kadang-kadang gejala cukup berat sehingga memerlukan perawatan untuk
melindungi pasien atau orang lain, dapat disertai gambaran psikotik, dan mengganggu fungsi
personal, sosial dan pekerjaan.

Episode Depresif
Pada semua tiga variasi dari episode depresif khas yang tercantum di bawah ini, ringan, sedang,
dan berat, individu biasanya menderita suasana perasaan (mood) yang depresif, kehilangan
minat dan kegembiraan, dan berkurangnya enersi yang menuju meningkatnya keadaan mudah
lelah dan berkurangnya aktivitas. Biasanya ada rasa lelah yang nyata sesudah kerja sedikit saja.
Gejala lazim lainnya adalah :
a. Konsentrasi dan perhatian berkurang;
b. Harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
c. Gagasan tentang perasaan bersalah dan tidak berguna (bahkan pada episode tipe ringan
sekali pun)
d. Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis;
e. Gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh diri;
f. Tidur terganggu;
g. Nafsu makan berkurang.

8
5. KLASIFIKASI
Berdasarkan DSM-V, Gangguan bipolar digolongkan menjadi 4 kriteria4
 Gangguan bipolar I
Terdapat satu atau lebih episode manik. Episode depresi dan hipomanik tidak
diperlukan untuk diagnosis tetapi episode tersebut sering terjadi.
 Gangguan bipolar II
Terdapat satu atau lebih episode hipomanik atau episode depresif mayor tanpa episode
manik.
 Siklotimia
Adalah bentuk ringan dari gangguan bipolar. Terdapat episode hipomanik dan depresi
yang ringan yang tidak memenuhi kriteria episode depresif mayor.
 Gangguan bipolar YTT
Gejala-gejala yang dialami penderita tidak memenuhi kriteria Gangguan bipolar I dan
II. Gejala-gejala tersebut berlangsung tidak lama atau gejala terlalu sedikit sehingga tidak
dapat didiagnosa Gangguan bipolar I dan II.4

 Gangguan mood bipolar I


 Gangguan mood bipolar I, episode manik tunggal:
a) Hanya mengalami satu kali episode manik dan tidak ada rwayat depresi mayor
sebelumnya.
b) Tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, skizoafektif, gangguan
waham, atau dengan gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
c) Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum
d) Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, episode manik sekarang ini
a) Saat ini dalam episode manik
b) Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu kali episode manik, depresi, atau
campuran.
c) Episode mood pada kriteria a dan b bukan skizoafektif dan tidak bertumpang tindih
dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, atau dengan Gangguan
psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.

9
d) Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik
umum.
e) Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam sosial, pekerjaan dan aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, episode campuran saat ini1
a) Saat ini dalam episode campuran
b) Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode manik, depresi atau campuran
c) Episode mood pada kriteria a dan b tidak dapat dikategorikan skizoafektif dan tidak
bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizifreniform, Gangguan waham, atau
Gangguan psikotik yang tidak diklasifikasikan
d) Gejala-gejala tidak disebabkan efek oleh fisiologik langsung zat atau kondisi medik
umum
e) Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, episode hipomanik saat ini
a) Saat ini dalam episode hipomanik
b) Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manic atau campuran
c) Gejala mood menyebabkan penderita yang secara klinik cukup bermakna atau
hendaya social, pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya
d) Episode mood pada kriteria a dan b tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan
tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, dan
dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
 Gangguan mood bipolar I, episode depresi saat ini
a) Saat ini dalam episode depresi mayor
b) Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami episode manik dan campuran
c) Episode mood pada kriteria a dan b tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan
tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, dan
dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan.
d) Gejala-gejala tidak disebabkan efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik umum
e) Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan mood bipolar I, Episode yang tidak dapat diklasifikasikan saat ini
a) Kriteria, kecuali durasi, saat ini, memenuhi kriteria untuk manik, hipomanik,
campuran atau episode depresi.
10
b) Sebelumnya, paling sedikit, pernah mengalami satu episode manik atau campuran.
c) Episode mood pada kriteria a dan b tidak dapat dikategorikan sebagai skizoafektif dan
tidak bertumpang tindih dengan skizofrenia, skizofreniform, Gangguan waham, atau
dengan Gangguan psikotik yang tidak dapat diklasifikasikan di tempat lain.
d) Gejala mood menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan, atau aspek fungsi penting lainnya.
 Gangguan Mood Bipolar II
Satu atau lebih episode depresi mayor yang disertai dengan paling sedikit satu episode
hipomanik.
 Gangguan Siklotimia
a) Paling sedikit selama dua tahun, terdapat beberapa periode dengan gejala-gejala
hipomania dan beberapa periode dengan gejala-gejala depresi yang tidak memenuhi
criteria untuk Gangguan depresi mayor. Untuk anak-anak dan remaja durasinya paling
sedikit satu tahun.
b) Selama periode dua tahun di atas penderita tidak pernah bebas dari gejala-gejala pada
kriteria a lebih dari dua bulan pada suatu waktu.
c) Tidak ada episode depresi mayor, episode manik, episode campuran, selama dua tahun
Gangguan tersebut
Catatan: setelah dua tahun awal, siklotimia dapat bertumpang tindih dengan manic atau
episode campuran (diagnosis GB I dan Gangguan siklotimia dapat dibuat) atau episode
depresi mayor (diagnosis GB II dengan Gangguan siklotimia dapat ditegakkan)
d) Gejala-gejala pada criteria a bukan skizoafektif dan tidak bertumpangtindih dengan
skizofrenia, skizofreniform, gangguan waham, atau dengan Gangguan psikotik yang
tidak dapat diklasifikasikan.
e) Gejala-gejala tidak disebabkan oleh efek fisiologik langsung zat atau kondisi medik
umum
f) Gejala-gejala di atas menyebabkan penderitaan yang secara klinik cukup bermakna atau
menimbulkan hendaya dalam social, pekerjaan atau aspek fungsi penting lainnya.

11
PPDGJ III membaginya dalam klasifikasi yang berbeda yaitu menurut episode kini yang
dialami penderita :

Tabel 1. Pembagian Gangguan Afektif Bipolar Berdasarkan PPDGJ III (F31)


F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik
F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik
F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang
F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala psikotik
F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
F31.9 Gangguan afektif bipolar yang tidak tergolongkan

Dari tabel 1, dapat terlihat bahwa episode manik dibagi menjadi 3 menurut derajat
keparahannya yaitu hipomanik, manik tanpa gejala psikotik, dan manik dengan gejala
psikotik. Perasaan senang, sangat bersemangat untuk beraktivitas, dan dorongan seksual yang
meningkat adalah beberapa contoh gejala hipomanik. Derajat hipomanik lebih ringan
daripada manik karena gejala-gejala tersebut tidak mengakibatkan disfungsi social3
Pada manik, gejala-gejalanya sudah cukup berat hingga mengacaukan hampir seluruh
pekerjaan dan aktivitas sosial. Harga diri membumbung tinggi dan terlalu optimis.Perasaan
mudah tersinggung dan curiga lebih banyak daripada elasi (suasana perasaan yang
meningkat). Bila gejala tersebut sudah berkembang menjadi waham maka diagnosis manik
dengan gejala psikotik perlu ditegakkan. Bertolak belakang dengan hipomanik/manik, gejala
pada depresi terjadi sebaliknya. Suasana hati diliputi perasaan depresif, tiada minat dan
semangat, aktivitas berkurang, pesimis, dan timbul perasaan bersalah dan tidak berguna.
Episode depresi tersebut harus berlangsung minimal selama 2 minggu baru diagnosis dapat
ditegakkan. Bila perasaan depresi sudah menimbulkan keinginan untuk bunuh diri berarti
sudah masuk dalam depresif derajat berat.3

12
6. DIAGNOSIS
Gangguan bipolar ditandai oleh dua episode berulang (sekurang-kurangnya dua episode)
dimana afek pasien dan tingkat aktivitasnya jelas terganggu, terdiri dari peningkatan afek
disertai penambahan energi dan aktivitas (manik atau hipomanik), dan pada waktu lain berupa
penurunan afek disertai pengurangan energi dan aktivitas (depresi). Episode manik biasanya
mulai dengan tiba-tiba dan berlangsung antara 2 minggu sampai 4-5 bulan, episode depesi
cenderung berlangsung lebih lama (rata-rata sekitar 6 bulan) meskipun jarang melebihi satu
tahun kecuali pada orang usia lanjut. Kedua macam episode itu seringkali terjadi setelah
peristiwa hidup yang penuh stress atau trauma mental lain (adanya stress tidak esensial untuk
penegakan diagnosis) 5
Episode manik terdiri dari 5 :
a. Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik (F31.0)
Pedoman diagnostik gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik (F31.0)
Untuk menegakkan diagnostik pasti5
1) Episode yang sekarang harus memenuhi kiteria hipomanik (F30.0)
2) Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, deprsif,
atau campuran) di masa lampau.
Pedoman diagnostik hipomanik (F 30.0)5
1) Derajat gangguan yang lebih ringan dari manik (F30.1) afek yang meninggi atau
berubah disertai peningkatan aktivitas, menetap selama sekurang-kurangnya beberapa
hari berturut-turut, pada suatu derajat intensitas dan yang bertahan melebihi apa yang
digambarkan bagi siklotima (F34.0) dan tidak disertai halusinasi atau waham.
2) Pengaruh nyata atas kelancaran pekerjaan dan aktivitas sosial memang sesuai dengan
diagnosis hipomanik, akan tetapi bila kekacauan itu berat atau menyeluruh maka
diagnosis manik harus ditegakkan.
b. Gangguan afektif bipolar, episode kini tanpa gejala psikotik (F31.1)
Pedoman diagnostik gangguan bipolar episode kini manik tanpa gejala psikotik menurut
PPDGJ III (F31.1)5
1. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk manik tanpa gejala psikotik
(F30.1); dan
2. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif,
atau campuran di masa lampau).

13
Pedoman diagnostik F30.1 manik tanpa gejala psikotik 5:
1. Episode harus berlangsung sekurang-kurangnya satu minggu, dan cukup berat sampai
mengacaukan seluruh atau hampir seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial yan biasa
dilakukan.
2. Perubahan afek harus disertai dengan energi yang bertambah sehingga terjadi aktivitas
berlebih, percepatan dan kebanyakan bicara, kebutuhan tidur yang berkurang, ide-ide
perihal kebesaran dan terlalu optimistik.
c. Gangguan afektif bipolar, episode kini dengan gejala psikotik (F31.2)
Pedoman diagnostik gangguan bipolar episode kini manik dengan gejala psikotik menurut
PPDGJ III (F31.2)5 :
1. Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk manik dengan gejala psikotik
(F30.2) dan
2. Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif lain (hipomanik, manik, depresif,
atau campuran di masa lampau).
Pedoman diagnostik F30.2 manik dengan gejala psikotik 5:
1. Gambaran klinis merupakan bentuk manik yang lebih berat dari F30.1 (manik tanpa
psikotik)
2. Harga diri yang membumbung dan gagasan kebesaran dapat berkembang menjadi
waham kebesaan, iritabilitas dan kecurigaan menjadi waham kejar, waham dan
halusinasi sesuai dengan keadaan afek tersebut.
Jenis diagnosis lainnya:
 F31.3 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Ringan atau Sedang
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresi ringan (F32.0)
atau pun sedang (F32.1); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran
di masa lampau
 F31.4 gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala psikotik
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat tanpa
gejala psikotik (F32.2); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran
di masa lampau
 F31.5 Gangguan Afektif Bipolar, Episode Kini Depresif Berat dengan Gejala Psikotik
 Episode yang sekarang harus memenuhi kriteria untuk episode depresif berat dengan
gejala psikotik (F32.3);dan
14
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran
dimasa lampau
 F31.6 Gangguan Afektif Bipolar Campuran
 Episode yang sekarang menunjukkan gejala-gejala manik, hipomanik, dan depresif yang
tercampur atau bergantian dengan cepat (gejala mania/hipomania dan depresif yang
sama-sama mencolok selama masa terbesar dari episode penyakit yang sekarang, dan
telah berlangsung sekurang-kurangnya 2 minggu); dan
 Harus ada sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik, atau campuran di
masa lampau
 F31.7 Gangguan Afektif Bipolar, kini dalam Remisi
 Sekarang tidak menderita gangguan afektif yang nyata selama beberapa bulan terakhir
ini, tetapi pernah mengalami sekurang-kurangnya satu episode afektif hipomanik, manik
atau campuran di masa lampau dan ditambah sekurang-kurangnya satu episode afektif
lain (hipomanik, manik, depres if atau campuran)
 F31.8 Gangguan Afektif Bipolar Lainnya
 F31.9 Gangguan Afektif Bipolar YTT

Untuk mendiagnosis gangguan bipolar episode manic dengan anamnesis yang terdiri dari
alloanamnesis dengan keluarga, saudara, atau teman pasien yang paham kondisi pasien, selain
itu autoanamnesis atau anamnesis terhadap pasien sendiri. Pemeriksaan lain seperti fisik
diagnostik, status mentalis, laboratorium, dan radiologi bila diperlukan6.
1. Anamnesis (Alloanamnesis)
a. Riwayat Gangguan Sekarang
Gejala-gejala dari tahap gangguan bipolar episode manik adalah sebagai berikut7 :
1. Gembira berlebihan
2. Mudah tersinggung sehingga mudah marah
3. Merasa dirinya sangat penting
4. Merasa kaya atau memiliki kemampuan lebih dibanding orang lain
5. Penuh ide dan semangat baru
6. Cepat berpindah dari satu ide ke ide lainnya
7. Seperti mendengar suara yang orang lain tak dapat mendengar
8. Nafsu seksual meningkat
9. Menyusun rencana yang tidak masuk akal
10. Sangat aktif dan bergerak sangat cepat
15
11. Berbicara sangat cepat sehingga sukar dimengerti apa yang dibicarakan
12. Menghamburkan uang
13. Membuat keputusan aneh dan tiba-tiba, namun cenderung membahayakan
14. Merasa sangat mengenal orang lain
15. Mudah melempar kritik terhadap orang lain
16. Sukar menahan diri dalam perilaku sehari-hari
17. Sulit tidur
18. Merasa sangat bersemangat, seakan-akan 1 hari tidak cukup 24 jam
b. Riwayat Gangguan Dahulu
Riwayat stress, riwayat melahirkan, riwayat epilepsi, riwayat trauma pasca operasi,
riwayat penggunaan obat antidepresan, alkohol, antikonvulsan, bronkodilator, cimetidin,
dekongestan, disulfiram, halusinogen, steroid, isoniazid, prokainamid. Selain itu, seorang
penderita bipolar disorder ( gangguan bipolar) yang gejalanya mulai muncul saat masa
ramaja kemungkinan besar mempunyai riwayat masa kecil yang kurang menyenangkan
seperti mengalami banyak kegelisahan atau depresi 6.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
Memiliki keluarga dengan riwayat yang sama. Gen bawaan adalah faktor umum
penyebab bipolar disorder. Seseorang yang lahir dari orang tua yang salah satunya
merupakan pengidap gangguan bipolar memiliki resiko mengidap penyakit yang sama
sebesar 15%-30% dan bila kedua orang tuanya mengidap bipolar disorder, maka 50%-75%
anak-anaknya beresiko mengidap gangguan bipolar. Kembar identik dari seorang
pengidap bipolar disorder memiliki resiko tertinggi kemungkinan berkembangnya
penyakit ini daripada yang bukan kembar identik. Penelitian mengenai pengaruh faktor
genetis pada bipolar disorder pernah dilakukan dengan melibatkan keluarga dan anak
kembar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 10-15% keluarga dari pasien yang
mengalami gangguan bipolar disorder pernah mengalami satu episode gangguan mood 8.
d. Riwayat Sosial Ekonomi
Penderita penyakit ini cenderung mengalami faktor pemicu munculnya penyakit yang
melibatkan hubungan antar perseorangan atau peristiwa-peristiwa pencapaian tujuan
(reward) dalam hidup. Contoh dari hubungan perseorangan antara lain jatuh cinta, putus
cinta, dan kematian sahabat. Sedangkan peristiwa pencapaian tujuan antara lain kegagalan
untuk lulus sekolah dan dipecat dari pekerjaan. Stres dapat memicu gangguan bipolar pada
seseorang dengan kerentanan genetik. Peristiwa ini cenderung melibatkan perubahan

16
drastis atau tiba-tiba-baik atau buruk-seperti akan menikah, akan pergi ke perguruan tinggi,
kehilangan orang yang dicintai, dipecat 6.
e. Perubahan Musiman. Episode manik dan depresi sering mengikuti pola musiman.
Manik episode lebih sering terjadi selama musim panas, dan episode depresif lebih
sering terjadi selama musim dingin, musim gugur, dan musim semi (untuk negara dengan
4 musim). Kurang tidur atau sesedikit melewatkan beberapa jam istirahat bisa memicu
episode manik 7.
2. Autoanamnesis Episode Manik7 :
a. Deskriksi Umum atau kesan umum
1. Penampilan : umumnya pasien dalam episode manik penampilannya rapi,
menggunakan pakaian yang berwarna cerah, terkadang tidak tampak sakit jiwa.
2. Tatapan mata: bias berbinar atau hidup, dan sering mengarah pada orang yang mengajak
bicara, misalnya pemeriksa.
b. Sikap : pasien episode manik biasanya kooperatif atau mau bekerja sama dengan
pemeriksa, tetapi sedikit agresif.
c. Tingkah laku : biasanya hiperaktif (aktivitas motorik meningkat), bersemangat, dan
terkadang seperti menantang.
d. Orientasi
1) Waktu : bisa baik, bisa buruk
2) Orang : bisa baik, bisa buruk
3) Tempat: bisa baik, bisa buruk
4) Situasi : bisa baik, bisa buruk
e. Kesadaran :compos mentis
f. Proses pikiran
1) Bentuk pikir : bisa realistis atau nonrealistsc, pada hipomanik, manik tanpa psikosis
umumnya realitis atau sesuai kenyataan. Sedangkan pada manik dengan gejala
psikosis bentuk pikirnya nonrealistik karena pasien dengan psikosis mempunyai
waham dan atau halusinasi.
2) Isi pikir: terdapat waham atau tidak. Isi pikirannya termasuk tema kepercayaan dan
kebesaran diri, sering kali perhatiannya mudah dialihkan
3) Progresi pikir: flight of ideas atau penuturan pikiran dan pembicaraan yang meloncat-
loncat, logorrhea atau intonasi bicara keras dan cepat alurnya banyak bicara tidak
dapat disela, sirkumtangensial atau bicara memutar-mutar.
g. Roman muka: biasanya banyak mimik
17
h. Afek: terkadang afek inappropriate atau afek tidak sesuai , selain itu pasien manik
biasanya euforik dan lekas marah. Mereka memiliki toleransi frustasi yang rendah, yang
dapat menyebabkan perasaan kemarahan dan permusuhan. Secara emosional adalah labil,
beralih dari tertawa menjadi lekas marah .
i. Gangguan Persepsi : jika nonpsikosis tidak ada halusinasi, tetapi jika psikosis ada
halusinasi.
j. Hubungan jiwa: jika non psikosis hubungan jiwa bias masih baik, tetapi jika psikosis
umumnya hubungan jiwa cenderung buruk.
k. Perhatian : bias mudah ditarik atau sukar ditarik, dan mudah dicantum atau sukar dicantum.
l. Insight/ tilikan berbeda-beda setiap pasien:
Jenis - jenis tilikan:
1) Tilikan derajat 1: penyangkalan total terhadap penyakitnya
2) Tilikan derajat 2: ambivalensi terhadap penyakitnya
3) Tilikan derajat 3: menyalahkan faktor lain sebagai penyebab penyakitnya
4) Tilikan derajat 4: menyadari dirinya sakit dan butuh bantuan namum tidak
memahami penyebab sakitnya
5) Tilikan derajat 5: menyadari penyakitnya dan faktor - faktor yang berhubungan
dengan penyakitnya namun tidak menerapkan dalam perilaku praktisnya
6) Tilikan derajat 6 (sehat) : menyadari sepenuhnya tentang situasi dirinya disertai
motivasi untuk mencapai perbaikan

7. DIAGNOSIS BANDING
a. Skizofrenia
Gembira berlebihan, elasi, dan pengaruh mood lebih banyak ditemukan pada episode
manik dibandingkan pada skizofrenia. Onset pada episode manik berlangsung cepat dan
menimbulkan sebuah perubahan pada perilaku pasien. Sebagian dari pasien bipolar I
memiliki riwayat keluarga dengan gangguan mood.
b. Intoksikasi obat
Penyalahgunaan obat seperti amfetamin dapat memicu keadaan manik. Selain itu,
penyalahgunaan obat seperti benzodiazepine dapat memicu keadaan depresif.
c. Hipertiroid
Gangguan bipolar dapat berupa episode manik atau hipomanik maupun episode depresi.
Kondisi hipertiroid dapat menyebabkan pasien menunjukan gejala-gejala yang mirip
dengan gangguan bipolar. Pada hipertiroid pasien akan merasa mudah tersinggung, dan
18
dapat terjadi hiperaktivitas yang harus dibedakan dengan episode manik pada gangguan
bipolar. Pemeriksaan fisik yang baik serta penggalian informasi pada anamnesis dapat
membedakan gangguan bipolar dengan hipertiroid, penemuan gejala lain, gangguan pada
tiroid seperti penurunan berat badan, adanya pembesaran pada leher maupun gejala
hipertiroid lainnya dapat membedakan kedua gangguan ini.
d. Skizoafektif
Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitif adanya
skizofrenia dan gangguan afektif sama-sama menonjol pada saat yang bersamaan
(simultaneously), atau dalam beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu
episode penyakit yang sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit
tidak memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif.6,7

8. TATALAKSANA
1) Farmakologi
a. Lini I
Litium, divalproat, olanzapin, risperidon, quetiapin, quetiapin XR, aripiprazol, litium
atau divalproat + risperidon,
litium atau divalproat + quetiapin,
litium atau divalproat + olanzapin,
litium atau divalproat + aripiprazol.
b. Lini II
Karbamazepin, ECT, haloperidol, litium + divalproat.
c. Lini III
Haloperidol, klorpromazin, litium atau divalproat haloperidol,
litium + karbamazepin,
klozapin.
Tidak direkomendasikan :
Gabapentin, topiramat, lamotrigine
risperidon+ karbamazepin
olanzapin + karbamazepin 9.

19
Masing – masing obat dapat dijelaskan sebagai berikut 9 :
A. Stabilisator Mood
1. Litium
Lithium (lithobid) adalah merupakan obat yang efektif dalam menstabilkan mood dan
mencegah pasien berada dalam episode mania dan episode depresi, obat ini juga telah
digunakan sejak lama. Lithium biasannya digunakan pada pengobatan bipolar. Pada
umumnya merupakan pengobatan lini pertama untuk pengobatan bipolar. Lithium
(escalith atau lithobid) merupakan mood stabilizer yang pertama yang diluluskan oleh
FDA di tahun 1970 untuk pengobatan episode mania. Penggunaan lithium ini begitu efektif
dalam mengawal symptom episode manik dan mencegah terjadinya rekuren episode manik
dan episode depresi. Penggunaan lithium haruslah disertai dengan pemeriksaan darah rutin
karena pengunaan litihium pada jangka panjang bisa menyebabkan kegagalan ginjal dan
masalah tiroid.4,9,10
-
Farmakologi
Sejumlah kecil lithium terikat dengan protein. Lithium diekskresikan dalam bentuk utuh
hanya melalui ginjal.
- Indikasi
Episode mania akut, depresi, mencegah bunuh diri, dan bermanfaat sebagai terapi rumatan
GB.9,12
- Dosis
Respons lithium terhadap mania akut dapat dimaksimalkan dengan mentitrasi dosis hingga
mencapai dosis terapeutik yang berkisar antara 1,0-1,4 mEq/L. Perbaikan terjadi dalam 7-14
hari. Dosis awal yaitu 20 mg/kg/hari. Dosis untuk mengatasi keadaan akut lebih tinggi bila
dibandingkan dengan terapi rumatan. Untuk terapi rumatan, dosis berkisar antara 0,4-0,8
mEq/L. Dosis kurang dari 0,4 mEq/L, tidak efektif sebagai terapi rumatan. Sebaliknya, gejala
toksisitas litium dapat terjadi bila dosis 1,5 mEq/L.9,10,12
- Efek samping
Efek samping yang dilaporkan adalah mual, muntah, tremor, somnolen, penambahan berat
badan, dan penumpulan kognitif. neurotoksisitas, delirium, dan ensefalopati dapat pula terjadi
akibat lithium. Neurotoksisitas bersifat irreversible. Akibat intoksikasi litium, defisit neurologi
permanen dapat terjadi misalnya, ataksia, defisit memori, dan gangguan pergerakan. Untuk
mengatasi intoksikasi lithium, hemodialisis harus segera dilakukan. Litium dapat merusak
tubulus ginjal. Faktor resiko kerusakan ginjal adalah intoksikasi litium, polifarmasi dan adanya

20
penyakit fisik yang lainnya. Pasien yang mengkonsumsi litium dapat mengalami poliuri. Oleh
karena itu, pasien dianjurkan untuk banyak meminum air.9,12
- Pemeriksaan laboratorium
Sebelum memberikan lithium, fungsi ginjal (ureum dan kreatinin) dan fungsi tiroid, harus
diperiksa terlebih dahulu. Untuk pasien yang berumur di atas 40 tahun, pemeriksaan EKG harus
dilakukan. Fungsi ginjal harus diperiksa setiap 2-3 bulan dan fungsi tiroid dalam enam bulan
pertama. Setelah enam bulan, fungsi ginjal dan tiroid diperiksa sekali dalam 6-12 bulan atau
bila ada indikasi.9,12
- Wanita hamil
Penggunaan lithium pada wanita hamil dapat menimbulkan malformasi janin. Kejadiannya
meningkat bila janin terpapar pada kehamilan yang lebih dini. Wanita dengan GB yang
derajatnya berat, yang mendapat terapi lithium rumatan, dapat melanjutkan lithium selama
kehamilan bila ada indikasi klinis. Kadar lithium darahnya harus dipantau dengan seksama.
Pemeriksaan USG untuk memantau janin, harus dilakukan. Selama kehamilannya, wanita
tersebut harus disupervisi oleh ahli kebidanan dan psikiater. Sebelum kehamilan terjadi, risiko
litium terhadap janin dan efek putus litium terhadap ibu harus didiskusikan.4

2. Valproat
Valproat merupakan obat antiepilepsi yang disetujui oleh FDA sebagai antimania. Asam
valproat atau divaproex (depatoke) diluluskan oleh FDA pada tahun 1995 digunakan untuk
mengobati mania, ia merupakan pengobatan yang popular karena bisa mengantikan lithium
untuk pengobatan bipolar karena ia juga berfungsi sebagai mood stabilizer. Dari segi
efektifitas asam valproat juga sama efektif dengan penggunaan lithium. Valproat tersedia
dalam bentuk :9,10,2
1. Preparat oral;
a. Sodium divalproat, tablet salut, proporsi antara asam valproat dan sodium valproat
adalah sama (1:1)
b. Asam valproat
c. Sodium valproat
d. Sodium divalproat, kapsul yang mengandung partikel-partikel salut yang dapat
dimakan secara utuh atau dibuka dan ditaburkan ke dalam makanan.
e. Divalproat dalam bentuk lepas lambat, dosis sekali sehari
2. Preparat intravena
3. Preparat supposituria
21
- Farmakologi
Terikat dengan protein. Diserap dengan cepat setelah pemberian oral. Konsentrasi puncak
plasma sodium valproat dan asam valproat dicapai dalam dua jam sedangkan sodium divalproat
dalam 3-8 jam. Absorbsi divalproat lebih cepat bila dibandingkan dengan tablet biasa. Absorbsi
menjadi lambat bila obat diminum bersamaan dengan makanan. Ikatan valproat dengan protein
meningkat bila diet mengandung rendah lemak dan menurun bila diet mengandung tinggi
lemak.9,12
- Dosis
Dosis terapeutik untuk mania dicapai bila konsentrasi valproat dalam serum berkisar antara
45 -125 mg/mL. Untuk GB II dan siklotimia diperlukan divalproat dengan konsentrasi plasma
< 50 mg/mL. Dosis awal untuk mania dimulai dengan 15-20 mg/kg/hari atau 250 – 500 mg/hari
dan dinaikkan setiap 3 hari hingga mencapai konsentrasi serum 45- 125 mg/mL. Efek samping,
misalnya sedasi, peningkatan nafsu makan, dan penurunan leukosit serta trombosit dapat terjadi
bila konsentrasi serum > 100 mg/mL. Untuk terapi rumatan, konsentrasi valproat dalam plasma
yang dianjurkan adalah antara 75-100 mg/mL.9,10,12
- Indikasi
Valproat efektif untuk mania akut, campuran akut, depresi mayor akut, terapi rumatan GB,
mania sekunder, GB yang tidak berespons dengan lithium, siklus cepat, GB pada anak dan
remaja, serta GB pada lanjut usia.9,12
- Efek Samping
Valproat ditoleransi dengan baik. Efek samping yang dapat terjadi, misalnya anoreksia,
mual, muntah, diare, dispepsia, peningkatan (derajat ringan) enzim transaminase, sedasi, dan
tremor. Efek samping ini sering terjadi pada awal pengobatan dan bekurang dengan penurunan
dosis atau dengan berjalannya waktu. Efek samping gastrointestinal lebih sering terjadi pada
penggunaan asam valproat dan valproat sodium bila dibandingkan dengan tablet salut sodium
divalproat.9,12

22
B. Antipsikotika Atipikal
Baik monoterapi maupun kombinasi terapi, efektif sebagai terapi lini pertama untuk GB.
Beberapa antipsikotika atipik tersebut adalah olanzapin, risperidon, quetiapin, dan
aripiprazol.
1. Risperidon
Risperidon adalah derivat benzisoksazol. Ia merupakan antipsikotika atipik pertama
yang mendapat persetujuan FDA setelah klozapin.
Absorbsi
Risperidon diabsorbsi dengan cepat setelah pemberian oral. Ia dimetabolisme oleh
enzim hepar yaitu CYP 2D6.
Dosis
Untuk preparat oral, risperidon tersedia dalam dua bentuk sediaan yaitu tablet dan
cairan. Dosis awal yang dianjurkan adalah 2 mg/hari dan besoknya dapat dinaikkan
hingga mencapai dosis 4 mg/hari. Sebagian besar pasien membutuhkan 4-6 mg/hari.
Risperidon injeksi jangka panjang (RIJP) dapat pula digunakan untuk terapi rumatan GB.
Dosis yang dianjurkan untuk orang dewasa atau orang tua adalah 25 mg setiap dua
minggu. Bila tidak berespons dengan 25 mg, dosis dapat dinaikkan menjadi 37,5 mg - 50
mg per dua minggu.
Indikasi
Risperidon bermanfaat pada manik akut dan efektif pula untuk terapi rumatan
Efek Samping
Sedasi, fatig, pusing ortostatik, palpitasi, peningkatan berat badan, berkurangnya
gairah seksual, disfungsi ereksi lebih sering terjadi pada risperidon bila dibandingkan
dengan pada plasebo. Meskipun risperidon tidak terikat secara bermakna dengan reseptor
kolinergik muskarinik, mulut kering, mata kabur, dan retensi urin, dapat terlihat pada
beberapa pasien dan sifatnya hanya sementara. Peningkatan berat badan dan prolaktin
dapat pula terjadi pada pemberian risperidone 9.
2. Olanzapin
Olanzapin merupakan derivat tienobenzodiazepin yang memiliki afinitas terhadap
dopamin (DA), D2, D3, D4, dan D5, serotonin 2 (5-HT2); muskarinik, histamin 1(H1),
dan 1- adrenergik.
Indikasi
Olanzapin mendapat persetujuan dari FDA untuk bipolar episode akut manik dan
campuran. Selain itu, olanzapin juga efektif untuk terapi rumatan GB.
23
Dosis
Kisaran dosis olanzapin adalah antara 5-30 mg/hari.
Efek Samping
Sedasi dapat terjadi pada awal pengobatan tetapi berkurang setelah beberapa lama.
Efek antikolinergik dapat pula terjadi tetapi kejadiannya sangat rendah dan tidak
menyebabkan penghentian pengobatan. Risiko terjadinya diabetes tipe-2 relatif tinggi
bila dibandingkan dengan antipsikotika atipik lainnya. Keadaan ini dapat diatasi dengan
melakukan psikoedukasi, misalnya merubah gaya hidup, diet dan latihan fisik9.
3. Quetiapin
Quetiapin merupakan suatu derivat dibenzotiazepin yang bekerja sebagai antagonis 5-
HT1A dan 5-HT2A, dopamin D1, D2, histamin H1 serta reseptor adrenergik 1 dan2.
Afinitasnya rendah terhadap reseptor D2 dan relatif lebih tinggi terhadap serotonin 5-
HT2A.
Dosis
Kisaran dosis pada gangguan bipolar dewasa yaitu 200-800 mg/hari. Tersedia dalam
bentuk tablet IR (immediate release) dengan dosis 25 mg, 100 mg, 200 mg, dan 300 mg,
dengan pemberian dua kali per hari. Selain itu, juga tersedia quetiapin-XR dengan dosis
300 mg, satu kali per hari.
Indikasi
Quetiapin efektif untuk GB I dan II, episdoe manik, depresi, campuran, siklus cepat,
baik dalam keadaan akut maupun rumatan.
Efek Samping
Quetiapin secara umum ditoleransi dengan baik. Sedasi merupakan efek samping
yang sering dilaporkan. Efek samping ini berkurang dengan berjalannya waktu.
Perubahan dalam berat badan dengan quetiapin adalah sedang dan tidak menyebabkan
penghentian pengobatan. Peningkatan berat badan lebih kecil bila dibandingkan dengan
antipsikotika tipik 9.
4. Aripiprazol
Aripiprazol adalah stabilisator sistem dopamin-serotonin.
Farmakologi
Aripiprazol merupakan agonis parsial kuat pada D2, D3, dan 5-HT1A serta
antagonis 5- HT2A. Ia juga mempunyai afinitas yang tinggi pada reseptor D3, afinitas
sedang pada D4, 5-HT2c, 5-HT7,1- adrenergik, histaminergik (H1), dan serotonin
reuptake site (SERT), dan tidak terikat dengan reseptor muskarinik kolinergik.
24
Dosis
Aripiprazol tersedia dalam bentuk tablet 5,10,15,20, dan 30 mg. Kisaran dosis
efektifnya per hari yaitu antara 10-30 mg. Dosis awal yang direkomendasikan yaitu
antara 10 - 15 mg dan diberikan sekali sehari. Apabila ada rasa mual, insomnia, dan
akatisia, dianjurkan untuk menurunkan dosis. Beberapa klinikus mengatakan bahwa
dosis awal 5 mg dapat meningkatkan tolerabilitas.
Indikasi
Aripiprazol efektif pada GB, episode manik dan episode campuran akut. Ia juga
efektif untuk terapi rumatan GB. Aripiprazol juga efektif sebagai terapi tambahan pada
GB I, episode depresi.
Efek Samping
Sakit kepala, mengantuk, agitasi, dispepsia, ansietas, dan mual merupakan kejadian
yang tidak diinginkan yang dilaporkan secara spontan oleh kelompok yang mendapat
aripiprazol. Efek samping ekstrapiramidalnya tidak berbeda secara bermakna dengan
plasebo. Akatisia dapat terjadi dan kadang-kadang dapat sangat mengganggu pasien
sehingga sering mengakibatkan penghentian pengobatan. Insomnia dapat pula ditemui.
Tidak ada peningkatan berat badan dan diabetes melitus pada penggunaan aripiprazol.
Selain itu, peningkatan kadar prolaktin juga tidak dijumpai. Aripiprazol tidak
menyebabkan perubahan interval QTc 9.
Sebagian besar pasien menolak penggunaan preparat oral karena mereka merasa
dirinya tidak sakit. Untuk pasien yang tidak bersedia memakan obat, preparat injeksi
harus diberikan meskipun pasien menolak. Berikut merupakan obat injeksi yang
direkomendasikan untuk agitasi akut pada bipolar manik1 :
a. Lini 1
1. Injeksi IM aripiprazol efektif untuk pengobatan agitasi pada pasien dengan episode
manik atau campuran akut. Dosis adalah 9,75 mg/injeksi. Dosis maksimum adalah
29,25 mg/hari (tiga kali injeksi perhari dengan interval dua jam). Berespon dalam 45-
60 menit.
2. Injeksi IM olanzapin efektif untuk agitasi pada pasien dengan episode manik atau
campuran akut. Dosis 10 mg/injeksi. Dosis maksimum adalah 30 mg/hari. Berespon
dalam 15-30 menit. Interval pengulangan injeksi adalah dua jam. Sebanyak 90% pasien
menerima hanya satu kali injeksi dalam 24 jam pertama. Injeksi lorazepam 2
mg/injeksi. Dosis maksimum Lorazepam 4 mg/hari. Dapat diberikan bersamaan dengan

25
injeksi IM Aripiprazol atau Olanzapin. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik
karena mengganggu stabilitas antipsikotika.
b. Lini 2
1. Injeksi IM Haloperidol yaitu 5 mg/kali injeksi. Dapat diulang setelah 30 menit. Dosis
maksimum adalah 15 mg/hari.
2. Injeksi IM Diazepam yaitu 10 mg/kali injeksi. Dapat diberikan bersamaan dengan
injeksi haloperidol IM. Jangan dicampur dalam satu jarum suntik.
Terapi jangka panjang dibutuhkan oleh hampir semua pasien dengan gangguan
bipolar. Meskipun pengobatan selama fase akut dapat menghilangkan semua gejala,
pada beberapa pasien hendaya fungsi dapat menetap. Tujuan terapi jangka panjang
adalah untuk mempertahankan keberhasilan terapi yang sudah dicapai pada fase akut,
mencegah kekambuhan, mengurangi simtom ambang, risiko bunuh diri, kekerapan
terjadinya episode, dan ketidakstabilan mood. Selain itu, terapi jangka panjang
diperlukan untk memperbaiki kualitias hidup. Berikut ini merupakan obat-obat yang
direkomendasikan untuk terapi rumatan pada pasien dengan gangguan bipolar.1
a. Lini 1
- Litium, lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapine
- litium atau divalproat + quetiapine
- risperidon injeksi jangka panjang (RIJP),
- penambahan RIJP,
- aripiprazol
b. Lini 2
- Karbamazepin
- litium +divalproat
- litium + karbamazepine
- litium + divalproat + olanzapine
- litium + risperidone
- litium + lamotrigine
- olanzapin + fluoksetin
c. Lini 3
- Penambahan fenitoin, penambahan olanzapin, penambahan ECT, penambahan
topiramat, penambahan asam lemak omega-3, penambahan okskarbazepin

26
Antidepresan
Antidepresan efektif untuk mengobati GB, episode depresi. Penggunaannya harus
dalam jangka pendek. Penggunaan jangka panjang berpotensi meginduksi hipomania
atau mania. Untuk menghindari terjadinya hipomania dan mania, antidepresan
hendaklah dikombinasi dengan stabilisator mood atau dengan antipsikotika atipik.
Tergantung pada simptom dokter yang merawat mungkin akan merekomendasikan
pasien untuk mengunakan anti depresan. Pada beberapa pasien yang menderita
gangguan bipolar, obat anti depresan juga bisa menyebabkan tercetusnya episode
manik. Dengan itu dokter yang merawat akan merekomendasikan juga pengobatan
dengan kombinasi mood stabilizer dan hal ini tidak menjadi satu masalah. Efek samping
anti depresan yang sering adalah penurunan kegairahan sex dan masalah untuk
mencapai orgasme. Anti depresan generasi terdahulu yang terdiri dari trisiklik dan
inhibitor MAO juga bisa menyebabkan efek samping yang berbahaya dan
membutuhkan monitoring pengobatan yang rutin. Fluoxetine (Prozac), paroxetine
(paxil), sertraline (Zoloft) dan bupropion (wellbutrin) adalah contoh anti depresan yang
digunakan untuk pengobatan kelainan bipolar.
Obat-obatan yang tidak direkomendasikan:
- Gabapentin, topiramat atau antidepresan monoterapi.

2) Intervensi Psikososial
Intervensi psikososial meliputi berbagai pendekatan misalnya, cognitive behavioral
therapy (CBT), terapi keluarga, terapi interpersonal, terapi kelompok, psikoedukasi, dan
berbagai bentuk terapi psikologi atau psikososial lainnya.
Beberapa jenis psikoterapi yaitu :
a. Cognitive behavioral therapy (CBT) membantu penderita gangguan bipolar
untuk mengubah pola pikir dan perilaku negative.
b. Family-focused therapy melibatkan anggota keluarga. Terapi ini juga memfokuskan pada
komunikasi dan pemecahan masalah.
c. Interpersonal and social rhythm therapy membantu penderita gangguan
bipolar meningkatkan hubungan sosial dengan orang lain dan mengatur aktivitas harian
mereka.
d. Psychoeducation mengajarkan pada penderita gangguan bipolar mengenai penyakit yang
mereka derita beserta dengan penatalaksanaannya. Terapi ini membantu penderita

27
mengenali gejala awal dari episode baik manik maupun depresi sehingga mereka bisa
mendapatkan terapi sedini mungkin.
3) Rawat Inap
Pengobatan dari gangguan bipolar secara langsung terkait pada fase dari episodenya,
seperti depresi atau manic, dan derajat keparahan fase tersebut. Contoh, seseorang dengan
depresi yang ekstrim dan menunjukkan perilaku bunuh diri memerlukan/mengindikasikan
pengobatan rawat inap. Sebaliknya, seseorang dengan depresi moderat yang masih dapat
bekerja, diobati sebagai pasien rawat jalan 9.
Indikasi seseorang dengan gangguan bipolar untuk dirawat inap adalah sebagai berikut 9:
a. Berbahaya untuk diri sendiri : Pasien yang terutama dengan episode depresif, dapat
terlihat dengan resiko yang signifikan untuk bunuh diri. Percobaan bunuh diri yang
serius dan ideasi spesifik dengan rencana menghilangkan bukti, memerlukan
observasi yang ketat dan perlindungan pencegahan. Namun, bahaya bagi penderita
bisa datang dari aspek lain dari penyakit, contohnya seorang penderita depresi yang
tidak cukup makan beresiko kematian, sejalan dengan itu, penderita dengan manik
yang ekstrim yang tidak mau tidur atau makan mungkin mengalami kelelahan yang
hebat.
b. Berbahaya bagi orang lain : Penderita gangguan bipolar dapat mengancam nyawa
ornag lain, contohnya seorang penderita yang mengalami depresi yang berat meyakini
bahwa dunia itu sangat suram/gelap, sehingga ia berencana untuk membunuh anaknya
untuk membebaskan mereka dari kesengsaraan dunia
c. Ketidakmampuan total dari fungsi : Adakalanya depresi yang dialami terlalu dalam,
sehingga orang tidak dapat melakukan fungsinya sama sekali, meninggalkan orang
seperti ini sendirian sangat berbahaya dan tidak menyembuhkannya.
d. Tidak dapat diarahkan sama sekali : Hal ini benar-benar terjadi selama episode manik.
Dalam situasi ini, perilaku penderita sangat di luar batas, mereka menghancurkan karir
dan berbahaya bagi orang di sekitarnya.
e. Kondisi medis yang harus dimonitor : Contohnya penderita gangguan jiwa yang
disertai gangguan jantung harus berada di lingkungan medi, dimana obat psikotropik
dapat dimonitor dan diobservasi.

28
9. KOMPLIKASI
a. Gangguan neurologis atau Emosional
Pasien dengan gangguan bipolar, terutama tipe II atau gangguan cyclothymic,
memiliki episode sering depresi berat. Gangguan kecemasan, seperti gangguan
panik, Pasien dengan gangguan bipolar, terutama mereka dengan tipe II, mengalami
fobia. Gejala gangguan bipolar pada anak-anak sering bingung dengan perhatian-
deficit hyperactivity disorder (ADHD), ADHD mempengaruhi anak usia sekolah
sehingga mengalami kegelisahan, bertindak impulsif, dan kurangnya fokus yang
mengganggu kemampuan mereka untuk belajar dengan baik11.
b. Bunuh diri
Risiko bunuh diri sangat tinggi pada pasien yang menderita gangguan bipolar
dan yang tidak menerima perhatian medis. Antara 10 - 15% dari pasien dengan
gangguan bipolar I bunuh diri, dengan risiko yang tertinggi selama episode depresi
atau manik campuran (depresi dan manik simultan). Pasien yang menderita
gangguan kecemasan juga beresiko lebih besar untuk bunuh diri11.
Banyak pra-remaja dengan gangguan bipolar lebih sakit parah daripada orang
dewasa dengan penyakit, dan risiko bunuh diri tinggi. Mereka memiliki risiko lebih
tinggi untuk manik campuran, ganda dan sering siklus, dan durasi panjang penyakit
tanpa periode baik11.
c. Efek Perilaku dan Emosional fase manik
Sebagian kecil pasien gangguan bipolar menunjukkan produktivitas tinggi atau
kreativitas selama fase manik. Pemikiran menyimpang dan gangguan penilaian yang
merupakan ciri khas dari episode manik dapat menyebabkan perilaku berbahaya,
termasuk11:
a) Menghabiskan uang menyebabkan kehancuran finansial
b) Marah, perilaku paranoid, dan bahkan kekerasan
c) Perilaku terbuka promiscuous
Perilaku seperti ini sering diikuti dengan rendah diri dan rasa bersalah, yang
dialami selama fase depresi. Selama semua tahapan penyakit, pasien perlu
diingatkan bahwa gangguan mood akan berlalu dan beratnya bisa dikurangi dengan
pengobatan.
d. Penyalahgunaan Zat
Merokok adalah umum di antara pasien dengan gangguan bipolar, terutama
mereka yang memiliki gejala psikotik sering atau berat. Beberapa dokter
29
berspekulasi bahwa, seperti dalam skizofrenia, penggunaan nikotin dapat menjadi
bentuk pengobatan sendiri karena efek tertentu pada otak11.
Hingga 60% dari pasien dengan gangguan bipolar penyalahgunaan zat lain
(paling sering alkohol, diikuti dengan ganja atau kokain) di beberapa titik dalam
perjalanan penyakit mereka.
e. Asosiasi dengan Penyakit Fisik
Orang dengan penyakit mental memiliki insiden yang lebih tinggi dari kondisi
medis, termasuk penyakit jantung, asma dan masalah paru-paru lainnya, gangguan
pencernaan, infeksi kulit, diabetes, hipertensi, sakit kepala migrain, hipotiroidisme,
dan kanker. Pasien dengan gangguan bipolar juga kurang mungkin untuk menerima
perawatan medis dibandingkan orang tanpa gangguan mental. Penyalahgunaan zat,
termasuk merokok, alkoholisme, dan penyalahgunaan narkoba, juga berkontribusi
pada banyak masalah ini serta mengurangi akses ke perawatan. Obat yang digunakan
untuk gangguan bipolar juga dapat meningkatkan risiko untuk masalah kesehatan11.

10. PROGNOSIS
Prognosis tergantung pada penggunaan obat-obatan dengan dosis yang tepat,
pengetahuan komprehensif mengenai penyakit ini dan efeknya, hubungan positif
dengan dokter dan therapist, dan kesehatan fisik. Semua faktor ini merujuk ke prognosis
bagus. Akan tetapi prognosis pasien gangguan bipolar I lebih buruk dibandingkan
dengan pasien dengan gangguan depresif berat. Kira-kira 40%-50% pasien gangguan
bipolar I memiliki episode manik kedua dalam waktu dua tahun setelah episode
pertama. Kira-kira 7% dari semua pasien gangguan bipolar I tidak menderita gejala
rekurensi, 45% menderita lebih dari satu episode, dan 40% menderita gangguan kronis.
Pasien mungkin memiliki 2 sampai 30 episode manik, walaupun angka rata-rata adalah
9 episode. Kira-kira 40% dari semua pasien menderita lebih dari 10 episode.12

30
DAFTAR PUSTAKA

1. Amir, Nurmiati. 2010. Gangguan Mood Bipolar. Jakarta. Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
2. Kaplan, et.al.
3. Amalina, Dian Budianti. 2011. Gangguan Bipolar. Medan: FK Universitas Sumatera
Utara.
4. Arlington, Va. 2000. Mood disorders. In: Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders DSM-IV-TR. 4th ed.: American Psychiatric Association; 2000
5. Maslim, Rusdi. 2013. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PPDGJ III. Jakarta:
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika AtmaJaya.
6. Videbeck, Sheila L. 2008. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC.
7. Tomb, David A. 2003. Buku Saku Psikiatri. Jakarta: EGC.
8. Carpenito, Lynda J. 2009. Diagnosis Keperawatan Aplikasi pada Praktik Klinis edisi 9.
Jakarta: EGC.
9. Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia. 2010. Pedoman Tatalaksana
Gangguan Bipolar Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia 2010.
Jakarta.
10. Marionate, Gangguan Bipolar: Manik Depresif, Available from
URL:http://www.miracle_Health.com . (diakses pada 22 September 2018)
11. National Institute of Mental Health. 2011. Bipolar Disorder. Bathesda: National Institute
of Mental Health U.S. Departement Of Health and Human Services.
12. Bipolar disorder. National Institute of Mental Health.
http://www.nimh.nih.gov/health/publications/bipolar-disorder/complete-index.shtml .
(Diakses pada 22 September 2018)

31