Anda di halaman 1dari 4

IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


Pengamatan kali ini adalah pengamatan sifat optik dari bahan pangan.
Sampel yang digunakan dalam pengamatan sifat optik, diantaranya madurasa, madu
nusantara, buavita, dan guava. Pengamatan sifat optik dilakukan menggunakan
Refraktometer ABBE dan hand refractometer. Dengan pengamatan sifat optik
bahan pangan maka akan didapatkan nilai oBrix, dan indeks bias.
Sifat optik suatu bahan pangan adalah sifat yang meliputi penampakan dan
warna dari bahan pangan tersebut. Indeks bias merupakan salah satu dari beberapa
sifat optis yang penting dari medium suatu bahan. Nilai indeks bias ini banyak
diperlukan untuk menginterpretasi suatu jenis data spektroskopi (Singh, 2002).
Indeks bias juga berperan penting dalam beberapa bidang diantaranya dalam
teknologi film tipis dan fiber optik. Dalam bidang kimia, indeks bias dapat
digunakan untuk mengetahui konsentrasi dan komposisi larutan, untuk menentukan
kemurnian dan kadaluarsa dari oli (Yunus, dkk., 2009), untuk menentukan
o
kemurnian minyak goreng (Sutiah, 2008). Sedangkan, brix adalah jumlah zat
padat semu yang larut (dalam gr) setiap 100 gr larutan.
Tabel 1. Hasil Pengamatan Karakteristik Optik dengan Reftaktrometer
ABBE
Sampel °Brix Indeks Bias T(℃)
Madu Rasa 78.5 1.487 25.0
Madu Nusantara 75.9 1.480 24.9
Buavita 12 1.351 25.1
Guava 9 1.347 24.7
(Dokumentasi Pribadi, 2018)
Berdasarkan tabel 1 didapatkan nilai derajat brix, indeks bias, dan suhu yang
digunakan. Prinsip kerja refraktometer ABBE juga adalah pembiasan. Dasar
pembiasan adalah penyinaran yang menembus dua macam medium yang berbeda
kerapatannya sehingga dihasilkan perubahan arah sinar. Prinsip kerja alat ini
berdasarkan sudut kritis, dimana sudut kritis diantara dua medium adalah sudut
datang sinar dari medium lebih rapat ke derajat medium kurang rapat yang
menghasilkan sudut bias sama dengan 90 Dari gambar skema refraktometer ABBE
dapat kita ketahui bagian dari refraktometer tersebut. Refraktometer ABBE ini
terdiri dari sebuah teleskop, dua prisma pembias P dan P’ dimana zat cair yang akan
diukur indeks biasnya diletakkan antara kedua prisma ini, dua prisma amici K1 dan
K2, dan cermin datar sebagai pemantul. Sistem prisma K1 dan K2 terdiri dari
masing-masing dari tiga prisma yang ditempelkan. Sistem ini dinamakan
kompensator yang berfungsi untuk menjadikan sinar polikromatik menjadi sinar
monokromatik sebagai sumber cahaya. Garis batas antar gelap dan terang akan
terbentuk. Dengan mengubah-ngubah kompensator sehingga garis batas dan gelap
terlihat jelas dan tidak terdapat warna lagi, dengan garis batas gelap dan terang yang
sangat jelas ini kita dapat menentukkan indeks bias dari zat cair yang ingin kita
ketahui dengan melihat skala yang terdapat pada refraktometer (Parmitasari dan
Hidayanto, 2013).
Di industri pangan, digunakan derajat brix untuk menentukan dengan akurat
seberapa manis buah/ hasil panen lainnya sebelum di jual ke pasar. Brix merupakan
unit pengukur kemanisan gula di dalam cairan (liquid). Satuan Brix yang digunakan
ialah derajat Brix, Brix, %Brix. Skala Brix ditemukan oleh Ilmuwan Jerman, Adolf
Ferdinand W Brix (1798-1870) di tahun 1870. 1% Brix setara dengan 1 gram gula
sukrosa di dalam 100 gram air. Skala Brix sama dengan persentase padatan yang
terlarut dalam suatu larutan. Jika 100 g sampel dari suatu larutan terukur nilai 50
°Brix, maka dalam larutan tersebut terkandung 50 g gula dan padatan terlarut
lainnya serta 50 g air. Skala °Brix pertama kali menggunakan suhu acuan 15,5°C
dan sekarang umumnya digunakan suhu 20 °C (68 °F) (Balai Pengujian dan
Identifikasi Barang, 2016).
Alat untuk mengukur derajat brix dinamakan refraktometer. Menurut Balai
Pengujian dan Identifikasi Barang tahun 2016, alat refraktometer khususnya
refraktometer genggam, bekerja dengan prinsip sudut kritis dimana lensa dan
prisma memproyeksikan garis bayangan ke sebuah reticle kaca kecil di dalam
instrumen, yang kemudian dilihat oleh pengguna melalui lensa pembesar. Dalam
penggunaannya, sampel ditempatkan di antara prisma pengukur dan pelat penutup
kecil.
Cara mendapatkan derajat brix yaitu dengan menghaluskan daging buah agar
didapatkan sari buahnya setelah itu sari buah diteteskan kedalam prisma
refraktometer yang telah dibilas akuades sebelumnya. Di dalam refraktometer
terdapat skala yang menunjukkan nilai derajat brix, untuk melihat skalanya dengan
cara melihat lubang kecil pada refraktometer seperti sedang meneropong. Cara
membaca skalanya dengan melihat batas perubahan warna antara putih-biru. Alat
pengukur tingkat kemanisan ini banyak sekali digunakan dalam bidang pertanian
dan perkebunan, khususnya pada bidang budidaya tanaman buah buahan dan
industri gula tebu. Alat ini biasanya digunakan untuk mengetahui kadar manis atau
brix pada rendeman tebu yang akan diproses dalam pembuatan gula dan juga
digunakan untuk mengetahui kadar kemanisan pada buah buahan sebelum
didistribusikan ke pasaran. dengan alat pengukur tingkat kemanisan ini, pengguna
dapat mengetahui tingkat kematangan buah buahan dengan cara mengetahui
persentase tingkat kemanisan pada buah tersebut (Heatherbell et al.,1982).

Tabel 2. Hasil Pengamatan Karakteristik Optik dengan Hand Refraktometer


Sampel °Brix
Madu Rasa 72
Madu Nusantara 75
Buavita 15.3
Guava 10.1
(Dokumentasi Pribadi, 2018)
Berdasarkan hasil pengamatan madurasa memiliki oBrix 78 untuk kemasan sachet
dan 80 untuk madurasa botol. Nilai indeksi bias madurasa sachet sebesar 1,485 dan
madurasa botol 1,491. Berdasaran literatur menurut SNI (2004), kualitas madu
dibuktikan juga dengan indeks bias, yaitu sebesar 1,475 – 1,504. Jika nilai hasil
pengamatan dibandingkan dengan literature, maka kedua madu tersebut telah
memenuhi kulaitas madu secara SNI.
Sampel buavita brokoli memiliki nilai oBrix sebesar 11,9. Nilai indeks
biasnya sebesar 1,35. Pengukuran menggunakan refraktometer abbe pada sampel
ini ada pada suhu 24,9oC. Tidak ditemukan literatur mengenai indeks bias minuman
brokoli, sehingga tidak dapat dilakukan perbandingan.
Sampel buavita apel atau minuman yang berasal dari apel ini memiliki oBrix
dengan nilai 11,6. Nilai indeks biasa produk ini adalah 1,35 pada suhu 24,9oC.
Kualitas sari buah, oBrix pada minuman sari buah apel minimal 10 SNI (1995).
Sedangkan menurut Codes Stan 247 (Codex General Standart for Fruit Juice and
Nectars), nilai oBrix untuk minuman sari buah apel adalah minimal 11,5.
Berdasarkan dua literatur tersebut dapat disimpulkan bahwa sampel buavita apel
telah memenuhi standar SNI dan Codex.
Sampel jeruk memiliki oBrix dengan nilai 16. Nilai indeks bias pada suhu
24,8oC nya adalah 1,357. Sedangkan, literatur menunjukan bahwa jeruk purut yang
telah dilarutkan dengan alkohol 70% memiliki indeks bias sebesar 1,451
(Khasanah, dkk., 2015). Perbedaan yang terjadi diantara hasil pengamatan dan
literature dapat disebabkan oleh perbedaan pelarut yang digunakan dan suhu yang
digunakan pada saat pengamatan menggunakan refrakto dilakukan.
Sampel mentimun mendapatkan nilai oBrix sebesar 5,7. Nilai indeks biasnya
adalah 1,341. Suhu pada saat pengamatan adalah 24,9oC. Menurut Sudarmadji
(1989), buah mentimun memiliki indeks bias sebesar 1,0 dengan kadar vitamin C
403 mg/100 gram dan pH 5. Berdasarkan perbandingan literatur dengan hasil
pengamatan indeks bias mentimun mendekati nilai indeks bias menurut literatur.
Perubahan nilai indeks bias dipengaruhi oleh suhu pada bahan pangan.
Menurut Parmitasari dan Hidayanto (2013) semakin besar suhu ruangan maka
kerapatannya semakin berkurang sehingga kecepatan cahaya dalam cairan tersebut
lebih besar, indeks biasnya akan menjadi semakin kecil. Namun pada pengamatan
kali ini, perubahan suhu terhadap indeks bias tidak terjadi seperti literature. Nilai
indeks bias tertinggi adalah sampel madurasa botol dengan suhu 25oC dan indeks
bias 1,491. Terjadi anomaly pada hubungan suhu dna indeks bias pada sampel jeruk
dan mentimun