Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anemia gizi merupakan masalah gizi yang paling utama di


Indonesia yang banyak terjadi pada remaja putri. Dampak anemia pada
remaja antara lain dapat menurunkan daya tahan tubuh sehingga mudah
terkena penyakit, menurunkan aktivitas remaja, prestasi belajar serta
menurunkan kebugaran remaja. Di samping itu, anemia yang terjadi pada
remaja putri merupakan risiko terjadinya gangguan fungsi fisik dan
mental. Salah satu upaya untuk mencapai hal tersebut adalah menambah
sasaran program pada usia pranikah sehingga bila pengetahuan tentang
anemia dan upaya pencegahannya dimiliki oleh para remaja yang nantinya
akan berumah tangga maka akan lebih efektif dan berhasil guna (Yamin,
2012).
Masa remaja merupakan tahapan kritis kehidupan, sehingga
periode tersebut dikategorikan sebagai kelompok rawan, dan mempunyai
resiko kesehatan tinggi. Akan tetapi remaja sering kurang mendapatkan
perhatian dalam program pelayanan kesehatan. Padahal kenyataannya,
banyak kasus kesehatan saat dewasa ditentukan oleh kebiasaan hidup sehat
sejak usia remaja. Status gizi yang optimal pada usia remaja dapat
mencegah penyakit yang terkait dengan diet pada usia dewasa.
Kekurangan gizi saat remaja, seperti terlalu kurus atau pendek akibat
kurang energy kronis, sering tidak diketahui oleh mereka maupun
keluarganya. Sehingga hal tersebut dapat menyebabkan kemampuan untuk
belajar dan bekerja tidak maksimum, meningkatkan resiko jika terjadi
kehamilan pada remaja, dan membahayakan bayi yang akan dilahirkan
(Briawan, 2013).
Program penanggulangan anemia yang selama ini lebih terfokus
pada ibu hamil, padahal remaja putri adalah calon ibu yang harus sehat

1
2

agar melahirkan bayi sehat sehingga akan tumbuh dan berkembang


menjadi sumber daya manusia yang tangguh dan berkualitas dengan
harapan. Program yang ditargetkan kepada wanita usia reproduktif
merupakan intervensi yang sangat strategis dalam menentukan kualitas
sumber daya manusia Indonesia. Dampak kekurangan zat besi pada wanita
hamil dapat diamati dari besarnya angka kesakitan maternal, peningkatan
angka kesakitan dan kematian janin, serta peningkatan serta resiko
terjadinya berat badan lahir rendah. Secara khusus, control anemia pada
wanita usia subur sangat penting untuk mencegah bayi lahir rendah berat
badan dan kematian perinatal dan ibu, serta prevalensi penyakit di
kemudian hari. Anemia saling terikat dengan lima global lainnya target
gizi (stunting, berat badan lahir rendah, masa kanak-kanak, kelebihan berat
badan, pemberian ASI eksklusif dan wasting). Oleh karena itu dalam
pembuat kebijakan untuk melakukan investasi yang diperlukan pada
anemia sekarang sebagai sarana untuk mempromosikan modal manusia
pembangunan dan pertumbuhan ekonomi negara mereka dan jangka
panjang kesehatan, kekayaan dan kesejahteraan (Suryani, dkk 2015).
Anemia gizi disebabkan oleh kekurangan zat gizi yang berperan
dalam pembentukan hemoglobin, baik karena kekurangan konsumsi atau
karena gangguan absorpsi. Zat gizi yang bersangkutan adalah besi, protein,
piridoksin (vitamin B6) yang berperan sebagai katalisator dalam sintesis
hem di dalam molekul hemoglobin, vitamin C yang mempengaruhi
absorpsi dan pelepasan besi dari transferin ke dalam jaringan tubuh, dan
vitamin E yang mempengaruhi stabilitas membrane sel darah merah
(Almatsier, 2001).
Anemia adalah suatu kondisi medis di mana jumlah sel darah
merah atau hemoglobin kurang dari normal. Kadar hemoglobin normal
umumnya berbeda pada laki-laki dan perempuan. Untuk pria anemia
biasanya didefinisikan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 13,5
gram/100 ml dan pada wanita sebagai hemoglobin kurang dari 12
gram/100 ml (Proverawati, 2011). Anemia merupakan salah satu masalah
kesehatan di seluruh dunia terutama negara berkembang yang diperkirakan
3

30% penduduk dunia menderita anemia. Anemia banyak terjadi pada


masyarakat terutama pada remaja dan ibu hamil. Anemia pada remaja putri
sampai saat ini masih cukup tinggi, menurut World Health Organization
(WHO) (2013), prevalensi anemia dunia berkisar 40-88%. Jumlah
penduduk usia remaja (10-19 tahun) di Indonesia sebesar 26,2% yang
terdiri dari 50,9% laki-laki dan 49,1% perempuan.
Menurut data hasil Riskesdas tahun 2013, prevalensi anemia di
Indonesia yaitu 21,7% dengan penderita anemia berumur 5-14 tahun
sebesar 26,4% dan 18,4% penderita berumur 15-24 tahun (Kemenkes RI,
2014). Data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2012
menyatakan bahwa prevalensi anemia pada balita sebesar 40,5%, ibu
hamil sebesar 50,5%, ibu nifas sebesar 45,1%, remaja putri usia 10-18
tahun sebesar 57,1% dan usia 19- 45 tahun sebesar 39,5%. Wanita
mempunyai risiko terkena anemia paling tinggi terutama pada remaja putri
(Kemenkes RI, 2013).
Dari hasil survey Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang tahun
2016 menunjukan dari 2000 remaja putri yang diperiksa 73,5%
diantaranya anemia. Tingginya prevalensi anemia di Kabupaten Tangerang
salah satunya berada di Kecamatan Kelapa Dua, hasil penelitian yang
dilakukan oleh Puskesmas Kelapa Dua terhadap 50 remaja putri di SMAN
23 Kabupaten Tangerang 95,7% diantaranya anemia.

Beberapa faktor yang diduga mempengaruhi status anemia remaja


diantaranya yaitu pengetahuan gizi, pola makan, asupan zat gizi dan
konsumsi tablet tambah darah. Pengetahuan gizi adalah pemahaman
mengenai makanan dan komponen zat gizi, sumber zat gizi pada bahan
makanan, makanan yang aman dikonsumsi yang tidak menimbulkan
penyakit serta cara mengolah bahan makanan yang tepat agar kandungan
zat gizi dalam bahan makanan tidak hilang serta pola hidup sehat.

Pengetahuan memegang peranan penting dalam menunjukkan


derajat kesehatan masyarakat. Berbagai masalah gizi dan kesehatan dapat
terjadi karena kurangnya pengetahuan termasuk masalah anemia. Salah
4

satu masalah yang muncul adalah adanya ketidakseimbangan asupan


makanan. Kelebihan atau kekurangan asupan makanan secara bersamaan
dapat memicu terjadinya beban ganda masalah gizi di masyarakat. Hal ini
dapat terjadi pada berbagai kelompok usia tidak terkecuali pada Anak Usia
Remaja. Pada usia ini anak cenderung memiliki kesukaan pada jenis
makanan tertentu yang nantinya dapat membentuk kebiasaan makan anak
hingga dewasa (Sasmita, 2015).

Selain itu faktor yang turut berpengaruh adalah pola makan pada
remaja yang banyak dilakukan remaja diluar rumah membuat remaja
sering dipengaruhi oleh rekan sebayanya. Pemilihan makanan tidak lagi
didasarkan pada kandungan zat gizinya, akan tetapi lebih untuk
bersosialisasi dan kesenangan. Pola makan merupakan berbagai informasi
yang memberikan gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan
yang dimakan tiap oleh satu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu
kelompok masyarakat tertentu. Pola makan adalah bagaimana cara suatu
makanan diperoleh, jenis makanan yang dikonsumsi, atau frekuensi makan
dari seseorang. Pola makan sering kali tidak teratur, jarang makan pagi
maupun makan siang, akibatnya remaja putri sering lemas dan tidak
semangat dalam proses belajar. Hal ini dikarenakan pada usia remaja
sering berpola makan yang salah atau pembatasan makanan tinggi Fe,
pengetahuan ibu sebagai penyedia makanan di rumah tangga,
pengetahuan remaja putri, pengaruh lingkungan, serta status gizi remaja
tersebut (Suryani, 2015).

Asupan zat gizi juga sangat berpengaruh terhadap kejadian anemia.


Asupan zat gizi sangat dipengaruhi oleh kebiasaan makan dan pola makan
remaja itu sendiri. Kebiasaan makan yang diperoleh pada masa remaja
akan berdampak pada kesehatan dalam kehidupan selanjutnya, setelah
dewasa dan berusia lanjut. Salah satu masalah serius yang menghantui
dunia kini adalah konsumsi makanan olahan, seperti yang ditayangkan
dalam iklan televisi secara berlebihan (Arisman, 2004).
5

Upaya penanggulangan masalah anemia pada remaja berkaitan


dengan faktor-faktor risiko yang dapat menyebabkan terjadinya anemia,
antara lain yaitu saat menstruasi mengkonsumsi tablet tambah darah untuk
menggantikan zat besi yang hilang bersama darah haid. (Khumaidi, 2009).

Efektifitas penggunaan tablet tambah darah sebagai pencegahan


anemia sudah banyak dilakukan penelitian diantaranya, penelitian Devi
(2010) dalam Lestari (2012) tentang efektifitas pemberian suplementasi
besi saat menstruasi terhadap kadar hemoglobin remaja, yang
membuktikan bahwa pemberian suplementasi besi dengan dosis 1 tablet
sebanyak satu kali sehari selama 3 bulan selama siklus menstruasi dapat
meningkatkan kadar hemoglobin darah remaja putri anemia.

Dari data tersebut menggambarkan bahwa masalah anemia


khususnya pada remaja putri masih cukup tinggi. Anemia juga sampai saat
ini masih merupakan salah satu faktor yang melatarbelakangi tingginya
angka kematian ibu di Indonesia, maka upaya pencegahannya adalah
mengetahui sejak dini apakah seorang menderita anemia atau tidak dan
segera mengupayakan langkah-langkah penanggulangan anemia (Siahaan,
2011).

Tingginya prevalensi dan banyaknya faktor yang menjadi


penyebab terjadi anemia pada remaja putri melatarbelakangi penulis untuk
mengetahui gambaran prevalensi dan faktor-faktor risiko yang
berhubungan dengan anemia pada remaja putri di SMA Negeri 23
Kabupaten Tangerang pada tahun 2018.

B. Rumusan Masalah

Kejadian anemia yang banyak diderita oleh banyak wanita pada


umumnya pada remaja putri. Remaja putri yang menderita anemia, akan
mudah mengalami infeksi, kebugaran/kesegaran tubuh berkurang dan
semangat belajar serta prestasi menurun, sehingga ketika akan menjadi
calon seorang ibu, mereka berada dalam keadaan resiko tinggi.
Pertumbuhan yang pesat pada remaja memiliki zat besi dalam jumlah yang
6

tidak mencukupi, akan mengalami kondisi sakit yang berulang dengan


frekuensi sering.

Dari hasil survei Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang tahun


2016, diketahui prevalensi anemia pada remaja putri di Kabupaten
Tangerang masih tinggi yaitu 73,5%. Hasil pemeriksaan anemia di 29
Kecamatan wilayah Kabupaten Tangerang menunjukkan bahwa
Kecamatan Kelapa Dua mempunyai prevalensi anemia tinggi yaitu 95,7%.

Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui gambaran


prevalensi dan hubungan pengetahuan gizi, pola makan, asupan zat gizi,
dan konsumsi tablet tambah darah dengan kejadian anemia pada remaja
putri di SMA Negeri 23 Kabupaten Tangerang tahun 2018.

C. Ruang Lingkup Penelitian

Penelitian dilakukan pada remaja putri di SMA Negeri 23


Kabupaten Tangerang. Dengan desain cross sectional dengan metode
wawancara menggunakan kuesioner untuk mengetahui hubungan
pengetahuan remaja putri tentang gizi, pola makan, asupan zat gizi, dan
konsumsi tablet tambah darah dengan kejadian anemia. Penelitian
dilaksanakan pada bulan September 2018.

Data yang digunakan adalah data primer dan sekunder. Data primer
berupa umur, kadar Hb, sosial ekonomi (pendidikan ayah/ibu, pekerjaan
ayah/ibu), pola makan, asupan zat gizi dan konsumsi ttd dan data sekunder
berupa jumlah siswi putri di SMA Negeri 23 Kabupaten Tangerang.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi,
pola makan, asupan zat gizi, dan konsumsi tablet tambah darah dengan
kejadian anemia di SMA Negeri 23 Kabupaten Tangerang tahun 2018.
7

D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum:

Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk hubungan


pengetahuan gizi , pola makan, asupan zat gizi, dan konusmsi
tablet tambah darah dengan kejadian anemia pada siswi SMA
Negeri 23 Kabupaten Tangerang

2. Tujuan khusus:
a. Mengidentifikasi kejadian anemia remaja putri
b. Mengidentifikasi pengetahuan gizi remaja putri
c. Mengidentifikasi pola makan remaja putri
d. Mengidentifikasi asupan zat gizi (energi, protein, dan fe)
e. Mengidentifikasi konsumsi tablet tambah darah remaja putri
f. Menganalisis hubungan antara pengetahuan gizi dengan
kejadian anemia remaja putri
g. Menganalisis hubungan antara pola makan dengan kejadian
anemia remaja putri
h. Menganalisis hubungan antara asupan zat gizi (energi, protein,
fe) dengan kejadian anemia remaja putri
i. Menganalisis hubungan antara konsumsi TTD dengan
kejadian anemia remaja
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi Puskesmas Kelapa Dua

Untuk dijadikan bahan informasi dan dasar untuk


mengembangkan kegiatan komunikasi, informasi, dan edukasi
(KIE) kesehatan di sekolah-sekolah khususnya SMA Negeri 23
Kabupaten Tangerang

2. Bagi Peneliti

Sebagai pengalaman langsung dan pengembangan ilmu


yang diperoleh dibangku perkuliahan, meningkatkan kemampuan
8

dan keterampilan dalam penelitian. Dan semoga penelitian ini


bermanfaat bagi peneliti selanjutnya.

3. Bagi Siswi SMA Negeri 23 Kabupaten Tangerang

Sebagai bahan informasi tentang pengetahuan kepada


remaja putri tentang pentingnya gizi dan menjaga kadar
Hemoglobin dalam tubuh.