Anda di halaman 1dari 5

METODE PENELITIAN

NAMA : AYU PURNAMA ASIH


TINGKAT : III REGULAR B
JURUSAN : ANALIS KESEHATAN

TOPIC : KADAR BILIRUBIN TOTAL


SAMPEL : PENDERITA TUBERCULOSIS
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh


kuman TB yaitu mycobacterium tuberculosis. Sebagian besar kuman TB menyerang
paru, namun dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Tim penyusun, 2014). World
Health Organization (WHO) menunjukkan hampir 9 juta kasus baru terjadi di tahun
2013 dan 1,5 juta kematian akibat TB. Indonesia merupakan bagian dari Asia
Tenggara menempati urutan ke 3 bersamaan afrika selatan, sebagai negara dengan
insiden TB tertinggi setelah india dan cina (Pontoh., dkk,2016).
Penyakit TB paru mempunyai masa periode inkubasi yang panjang dan akan
menjadi kronik dengan reaktivasi dan berakibat fatal jika tidak mendapat pengobatan
yang tepat, lebih menular selama masa inkubasi dibandingkan pada saat mengindap
penyakit yang akan menginfeksi 10-15 orang per tahun apabila tidak diobati.
Penelitian yang dilakukan oleh Eni Yulvia S. dkk. (2014).

Penderita TB paru dengan hasil pemeriksaan BTA positif (+) merupakan


penularan yang paling utama. Pada saat batuk atau bersin, penderita dapat
menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak. Percikan dahak yang
mengandung kuman dapat bertahan di udara pada suhu kamar selama beberapa jam
(Pontoh., ddk, 2016). TB dapat menyebabkan kematian apabila tidak diobati, 50%
dari pasien TB akan meninggal setelah 5 tahun (Depkes RI, 2009).

Setiap tahunnya sseorang yang terdiagnosa TB positif, dapat menularkan kepada

10-15 orang lain (Susilayanti., dkk, 2012). Oleh karena itu diperlukan pengobatan

Obat Anti Tuberkulosis (OAT), seperti Isoniazid (H), Etambutol (E), Pirazinamid (Z),

Rifampicin (R), dan Steptomisin (S) yang diberikan selama 6 bulan (Pontoh., ddk,

2016).

Efek dari pemakaian OAT dapat menyebabkan gangguan fungsi hati, yang

termasuk kedalam fungsi hati salah satunya adalah bilirubin (Kementrian Kesehatan

Republik Indonesia, 2011). Bilirubin merupakan hasil penguraian hemoglobin oleh

sistem retikuloendotelial dan dibawa di dalam plasma menuju hati untuk melakukan

proses konjugasi (secara langsung), bilirubin yang terkonjugasi (direk) dapat larut

dalam air sedangkan bilirubin yang tidak terkonjugasi (indirek) tidak dapat larut

dalam air. Nilai bilirubin total didapatkan dengan melepaskan ikatan albumin pada

bilirubin indirek sehingga dapat larut dalam air dan dapat bereaksi (Menteri

Kesehatan Republik Indonesia, 2010).

Bilirubin di metabolisme oleh hati dan dieksresikan kedalam empedu

(Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011). Metabolisme bilirubin dimulai


oleh penghancuran eritrosit setelah usia 120 hari oleh sistem retikuloendotel menjadi

heme dan globin. Akumulasi bilirubin berlebihan di kulit, sklera dan membran

mukosa dapat menyebabkan warna kuning yang disebut ikterus (Rosida A, 2016).

Ikterus atau Hiperbilirubinemia adalah peningkatan kadar bilirubin yang melebihi

batas normal (Sugiarti., dkk, 2012).

Obat-obat yang dapat meningkatkan kadar bilirubin yaitu obat yang bersifat

hepatotoksik (primakuin, sulfa, streptomisin, rifampisin, teofilin, asam askorbat).

Peningkatan kadar bilirubin terkonjugasi lebih sering terjadi akibat peningkatan

pemecahan eritrosit, sedangkan peningkatan bilirubin tidak terkonjugasi lebih

diakibatkan oleh gangguan fungsi hati (Kementrian Kesehatan Republik Indonesia,

2011).

Berdasarkan latar belakang di atas maka penulis tertarik untuk melakukan

penelitian dengan judul “Pemeriksaan Kadar Bilirubin Total Pada Penderita

Tuberkulosis (TB) Paru” dikarenakan penyakit Tuberkulosis (TB) Paru merupakan

suatu masalah kesehatan masyarakat Indonesia serta efek dari pemakaian Obat Anti

Tuberkulosis (OAT) yang dapat menyebabkan gangguan pada fungsi hati.

1.2 Rumusan Masalah

Untuk mengetahui berapakah kadar bilirubin total pada penderita Tuberkulosis

(TB) Paru?