Anda di halaman 1dari 5

Jumat, 02 Oktober 2015

THE PROGRESS OF SCIENCE (Charles S. Peirce : Belief,


Inquiry and Meaning)
THE PROGRESS OF SCIENCE

(Charles S. Peirce : Belief, Inquiry and Meaning)


A. Pendahuluan
Penggalian ilmu pengetahuan tidak pernah berhenti pada satu tahap, melainkan terus menerus
dilakukan penelusuran dan explorasi lebih lanjut guna memperoleh pengetahuan yang sesuang dengan
situasi dan kondisi hidup manusia. Pendalaman pengetahuan tidak pernah lepas dari metodologi yang
disebut dengan epistemologi. Metode dalam ranah filsafat semakin hangat diperbincangkan oleh para
ilmuwan sosial, setelah metode yang digunakan dalam bidang ilmu pasti dan berkembang pesat masuk
ke dalam wilayah ilmu sosial.[1] Di mana hal ini terjadi dari awal sebuah perenungan dan pemikiran
terhadap apa yang ditangkap oleh indera manusia yang pda akhirnya memungkinkan untuk membentuk
sebuah ilmu pengetahuan. Hal ini juga sangat tergantung pada sejauh mana hasil perenungan dan
pemikiran dimaksud memenuhi standart dan persyaratan yang telah ditentukan. Standart dan
persyaratan inilah yang kemudian dikaji secara serius dalam disiplin ilmu tertentu yang kemudian disebut
sebagai filsafat ilmu.
Dalam pandangan The Liang Gie, filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap
persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu
dengan segala segi dari kehidupan manusia.[2] Filsafat ilmu merupakan suatu bidang pengetahuan
campuran yang eksistensi dan pemekarannya bergantung pada hubungan timbal balik dan saling
berpengaruh antara filsafat dan ilmu.
Filasafat – epistemologi - yang berkembang di era sekarang memiliki hubungan yang sangat erat
dengan filsafat pada masa abad ke- 19 yang biasa disebut dengan istilah filsafat kontemporer. Mengingat
filsafat kontemporer, maka nama Charles S. Peirce[3] patut untuk diketahui sebagai salah seorang
peletak dasar aliran pragmatisme. Peirce cukup dikenal dalam aliran pragmatisme dengan teori
pencarian kebenaran. Untuk memahami lebih lenjut tentang pemikitan Charles S. Pierce dalam konteks
filasafat ilmu maka berikut ini akan kami jelaskan riwayat hidup Pierce, konsep pemikiran dan kontribusi
pemikirannya.
B. Biografi Charles Sanders Peirce
Charles S. Peirce dilahirkan di Cambridge, pada tahun 1839. Dia merupakan anak kedua dari
Benyamin, seorang ahli matematika Universitas Harvard, dia merupakan seorang ahli ilmu pengetahuan
dan seorang filosof.[4] Keahliannya di bidang ilmu pengetahuan tidak hanya terbatas pada diskursus
geologi, kimia dan fisika, tetapi juga termasuk apresisi prosedur yang digunakan oleh para pendahulu
yang sukses dalam meningkatkan pengetahuan.[5] Ayahnya, Benyamin, adalah seorang profesor
matematika dan astronomi di Harvard University, serta masa itu, Benyamin juga seorang promotor
matematika di Amerika. Sang ayah sangat memperhatikan pendidikan Peirce, utamanya Matematika dan
Teka Teki yang membutuhkan konsentrasi tinggi, bahkan tak jarang permainan itu berlangsung sampai
menjelang pagi. Sejak kecil Peirce menunjukkan bakat dan kecerdasan yang luar biasa, sehingga pada
usia tiga belas tahun telah menguasai Element of Logic yang berasal dari teori Archibishop Whately.[6]
Sejak kecil Charles S. Peirce telah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Ia sangat tertarik
pada semua jenis teka teki yang memerlukan konsentrasi, dan sejak masa anak-anak ia senang duduk
sendirian di laboratorium kimia.[7] Peirce menghabiskan pendidikannya di Harvard University. Sebelum
ke Harvard, pada usia enam belas tahun, peirce sudah melakukan training di laboratorium kimia selama
sepuluh tahun, dan telah membaca logika Whately. Pendidikannya dikonsentrasikan pada filsafat dan
ilmu-ilmu fisika. Sehingga tidak heran ketika dia menerima gelas Master of Art (M.A) dengan
predikat Summa Cumlaude[8] dalam bidang Matematika dan Kimia, serta dia bekerja selama tiga tahun
pada observatorium astronomi Universitas Harvard.[9]
Peirce memiliki kesamaan dengan ayahnya di mana ayahnya seorang guru besar matematika
dan bekerja pada Coastal and Geodetic Survey selama beberapa tahun. Tidak mengherangkan pula
pada tahun 1861 sampang 1891 dia bergabung dengan U.S. Coastal & Geodetic Survey. Selain itu,
Peirce juga memiliki kesibukan menjadi seorang dosen pada salah satu universitas. Dia memberikan
kuliah di Johns Hopkins University, akan tetapi ia tidak pernah tetap memberikan kuliah kecuali di Johns
Hopkins University saja.[10] Peirce menikah pada tahun 1862 dengan Marriet Melunisia Inadequasies
yang akrab dengan panggilan Zina, feminis pertama di Amerika. Ia merupakan semangat pembaruannya
dengan mengajak Peirce ke dalam persekutuan gereja Episcopal.[11] Peirce pun sempat bertemu
bahkan berteman akrab dengan William James. Peirce memproduksi banyak teori ilmu pengetahuan,
kemudian William James mempropagandakannya. Walaupun dia menyesali propganda gagasannya oleh
William James, tapi James adalah seorang teman setia Peirce yang memperkenalkan teori-teori Peirce
kepada masyarakat cendekia.[12]
C. Pemikiran Charles S. Peirce
Untuk memahami pemikiran Charles S. Peirce dalam filsafat ilmu, maka dapat dijelaskan sebagai
berikut :
1. The Nature of Belief (Kepercayaan)
Untuk memahami pandangan Peirce, harus diawali dengan memahami istilah belief, di mana
istilah tersebut diartikan sebagai sebuah keyakinan. Belief menurut Peirce adalah penegasan atau
pernyataan tentang proposisi seseorang yang dijadikan pedoman untuk memperoleh kebenaran.
Keyakinan menjadikan seseorang sadar untuk bertindak dengan cara-cara tertentu dan
pasti.[13] Adapun ragam item dalam rumusan belief adalah sebagai berikut :
a. Proposition (Dalil)
Sebuah keyakinan (belief) merupakan keyakinan di dalam berdalil (yang dianggap benar).
Teerbentuknya keyakinan terhadap proposisi ini ada dua komponen, yaitu subyek dan predikat. Adapun
predikat mengekspresikan what (apa) yang diyakini, sedangkan subjek mengekpresikan of what (siapa)
yang meyakini.[14]
Apabila seseorang sudah menyatkan sebuah proposisi, maka ia telah meneguhkan dirinya untuk
sepakat mendukung bahwa proposisinya itu benar. Dan ia harus konsekuen dengan kebenaran yang ia
utarakan.[15]
b. Habit of Mind (Membentuk Kebiasaan)
Sesorang memiliki anggapan bahwa kebiasaan merupakan adat istiadat yang turun temurun dan
mengkristal. Belief (keyakinan) akan membentuk kebiasaan seseorang sekaligus bisa mengubah cara
pandang seseorang untuk berifikir yang pada akhirnya belief tersebut membentuk watak yang
mempengaruhi bagaimana seseorang tersebut melakukan tindakan. Keyakinan (belieif) sebagai suatu
kebiasaan yang sifatnya bukan momentary(sementara), ia bagaikan tusukan yang menyakitkan atau
adanya cahaya yang menerangi dalam kegelapan.[16]
Dicontohkan bahwa saya tidak mempunyai keyakinan bahwa asam prussic itu racun kecuali saya
memperoleh fakta yang jelas bahwa partikel asam itu racun, sehingga saya lebih yakin asam itu adalah
sesuatu minuman yang harus dihindari.[17]
Belief (keyakinan) dalam pandangan Peirce, merupakan suatu hal yang bisa membentuk kebiasaan,
dan adanya perbedaan keyakinan itu karena didasarkan pada perbedaan bentuk perilaku yang didasari
oleh keyakinan tersebut.[18]
c. Doubt and Belief (Keraguan dan Keyakinan)
Hadirnya suatu keraguan – dalam diri seseorang - akan apa yang selama ini dianggap mapan karena
adanya benturan antara budaya yang pernah ada di masa lampau dengan budaya baru sebagai akibat
dari perubahan dan perkembangan sosial masyarakat. Belief berarti menerima terhadap proposisi,
sedangkan doubt berarti mempertanyakan proposisi yang ada atau bahka menolaknya. Oleh karena itu
keraguan tidak sama dengan pengabaian yang secara total menolak terhadap proposisi. [19]
Doubt, menurut Peirce dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu keraguan alamiah dan keraguan
non alamiah (keraguan yang dibuat-buat), seperti yang pernah dilakukan oleh Descartes. Keraguan
alamiah berarti keraguan terhadap sesuatu yang patut diragukan. Peirce menganggap ada sesuatu yang
tidak boleh diragukan kebenarannya, sehingga di balik metode keraguan Peirce terdapat keyakinan yang
tidak dapat diabaikan. Artinya, ada beberapa hal yang memang sudah pasti diyakini dan tidak boleh
diragukan lagi kebenarannya oleh akan sehat manusia.[20] Perbedaan keduanya juga ditentukan oleh
bagaimana pengaruhnya terhadap pembentukan perilaku dan kebiasaan. Ketika seseorang itu ragu,
maka orang tersebut mempunyai perilaku yang tidak membentuknya sebagai suatu kebiasaan tertentu,
berbeda dengan orang yang yakin.[21] Pendek kata, perbedaan antara doubt dan belief adalah
merupakan perbedaan praktis, yaitu keyakinan membentuk perilaku seseorang sementara keraguan
sebaliknya.[22]
2. Methods of Effecting a Settelment of Opinion (Cara Penyelesaian Opini)
Menurut Peirce, keyakinan dapat diperoleh oleh seorang peneliti dapat menerapkan empat
model, di mana tiga model yang pertama dirancang untuk memberikan penjelasan kunci terhadap model
yang keempat. Model-model tersebut adalah :
a. Method of Tenacity (metode ketahanan). Metode ini menjelaskan cara mengambil keyakinan apap pun
yang dianggap benar untuk menggantikan keraguan tersebut tanpa memikirkan ada alternatif lainnya.
Metode ini hanya bisa menyelesaikan masalah personal, tapi menyisakan permasalah sosial. Mislanya,
seseorang bisa meyakini atau melakukan yang diannggap benar dari keraguan sebelumnya, tetapi belum
tentu masyarakat menerima hal tersebut.[23]
b. Method of Authority (metode otoritas), yaitu metode yang digunakan oleh seseorang untuk menerima
keyakinan yang tidak disukai oleh hatinya, tetapi berasal dari sumber tertentu yang bersifat otoritatif
(diterima secara umum oleh anggota masyarakat). Beberapa teknik yang biasa digunakan agar
keyakinan bisa diterima secara umum seperti propaganda, cuci otak, kontrol atas media massa.
Efektifitas metode ini ditentukan oleh dua hal yaitu : pertama adanya kekuatan yang besar untuk
mengawasi proses adopsi keyakinan serta memaksanya pada seluruh anggota masyarakat tanpa adany
toleransi rasional dan kesediaan anggota masyarakat untuk menerima keyakinan apa pun yang
diperintahkan oleh penguasa. Sehingga metode ini bersifat otoriter.[24]
c. The apriori Method (metode apriori), yaitu sering disebut metode inklinasi atau metode perkembangan
opini secara alami. Dalam metode ini tingkat keyakinan diperoleh karena kejelasannya berdasarkan
logika sehat. Pada taraf tertentu bersifat intuitif sesuai dengan perasaan apa yang dianggap benar, tepat
dan sesuai. Oleh karena itu keyakinan ini bersifat subyektif (apa yang dianggap benar oleh seseorang
bisa saja salah menurut orang lain.)[25]
d. Method of Science (metode pengetahua), yaitu metode yang asasnya adalah investigasi. Menurut Peirce,
metode ini adalah metode yang terpercaya. Metode ini juga disebut dengan metode ilmiah (science),
penemuan ilmiah (inquiry) dan penalaran (reasoning).[26]
3. Investigation: Truth an Reality (Penyelidikan Kebenaran dan Kenyataan)
Metode investigasi menurut Peirce meliputi dua komponen yaitu: mengenai kebenaran, dan teori
kebenaran (theory of truth) menuntut kita untuk mendiskusikan hakikat realitas. Sedangkan teori makna
(theori of meaning) menuntut kita untuk menemukan ide-ide yang menjadi keyakinan.[27]
Menurut Peirce keyakinan yang benar akan realitas dapat diperoleh melalui metode investigasi
dengan teknik observasi (observation), penalaran (reasoning), dan kesimpulan atas dasar interpretasi (a
proses of interpretation). Jadi kebenaran adalah produk dari proses pencarian, pengujian dan interpretasi
yang dilakukan secara kontinyu terhadap realitas yang ada.[28]
4. Theory of Meaning (Teori Makna)
Kriteria kebenaran adalah faedah atau menfaat. Suatu teori atau hipotesis dianggap benar oleh
pragmatisme apabila membawa suatu hasil dari sebuah investigasi. Yaitu berupa metode bagaimana
memahami ide dengan jelas, karena mengerti tentang makna akan menjadi konsekuensi praktis yang
harus diyakini.[29]
Dalam perkembangannya, pragmatisme lebih merupakan suatu usaha untuk menyatukan ilmu
pengetahuan dan filsafat agar dilsafat menjadi ilmiah dan berguna bagi kehidupan praktis manusia.
Sehubungan dengan usaha tersebut pragmatisme akhirnya berkembang menjadi suatu metode untuk
memecahkan berbagai perdebatan filosofis-metafisik yang tiada henti-hentinya dengan cara mencari
konsekuensi praktis dari setiap konsep, gagasan, dan pendirian yang dianut oleh masing-masing pihak.
Bagi kaum pragmatis[30] untuk mengambil tindakan tertentu ada dua hal penting yang harus
diperhatikan. Pertama, ide atau kepercayaan yang mendasari keputusan yang harus diambil untuk
melakukan tindakan tertentu. Kedua, tujuan dari tindakan itu sendiri. Keduanya tidak dapat dipisahkan,
dan merupakan satu paket tunggal dan metode bertindak dengan konsep pragmatis.
D. Penutup
Sebagai seorang filusuf Charles S. Peirce telah berhasil mengembangkan paradigma baru dalam
epistemologi pengetahuan dengan berlandaskan pada penelitian yang serius tentang logika. Paham
pragmatisme ini sepenuhnya berbasis pendekatan empiris. Yakni apa yang bisa dirasakan itulah yang
benar, artinya akal, jiwa dan materi adalah suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu,
para pragmatis nyaris tidak pernah mendasarkan kebenaran pada satu hal saja. Menurut pandangan
pragmatis pengalaman yang mereka alami akan berubah jika realitanya yang mereka alami pun berubah.
Perkembangan gagasan yang kemudian melahirkan aliran prgamatisme di mana filsafat
pragmatisme berusaha menguji kebenaran ide-ide melalui konsekuensi-konsekuensi dari pada praktik
atau pelaksanaannya. Atau dengan kata lain, kebenaran belum tentu benar mana kala belum diuji.

DAFTAR RUJUKAN

Abdullah, Amin, Studi Agama Normativitas atau Historisitas?, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2002

---------------------, Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Itegratif – Interkonektif,


Cet. III, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012

Anshari, Endang Saifuddin, Wawasan Islam: Pokok-Pokok Pikiran Tentang Paradigma dan
Sistem Islam, Jakarta: Gema Insani, 2004

Hakim, Atang Abdul, Filsafat Umum: Dari Mitologi Sampai Teofilosofi, Bandung: Pustaka
Setia, 2008

Khuza’i, Rodliyah, Dialog Epistemologi M. Iqbal dan Charles S. Pierce,Bandung; PT. Refika
Aditama, 2007

Liang Gie, The, Pengantar Filsafat Ilmu, Yogyakarta: Liberty, 2000

Munitz, Milton K., Contemporary Analitic Philosophy, New York: Macmillan Publishing, Co,
Inc, 1981

Saebani, Beni Ahmad, Filsafat Ilmu: Kontemplasi tentang Seluk Beluk Sumber dan Tujuan
Ilmu Pengetahua, Bandung: Pustaka Setia, 2009

Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer, Jakarta: Sinar Harapan,
2001

[1] Amin Abdullah, Studi Agama Normativitas atau Historisitas?, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2002), 81.
[2] The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 2000), 88.
[3] Amin Abdullah, Islamic Studies di Perguruan Tinggi Pendekatan Integratif-Interkonektif, Cet. III
(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), 131
[4] Milton K. Munitz, Contemporary Analytic Philosophy, (New York: Macmillan Publishing Co., Inc.,
1981), 17.
[5] Rodliyah Khuza’i, Dialog Epistemologi M. Iqbal dan Charles S. Pierce, (Bandung; PT. Refika
Aditama, 2007), 71.
[6] Milton K. Munizt, Contemporary Analitic Philosophy, (New York: icmillan Publishing, Co, Inc,
1981), 17.
[7] Ibid., 17-18
[8] Ibid., 19.
[9] Ibid., 19.
[10] Ibid., 21
[11] Rodliyah Khuza’i, Dialog ..., 72.
[12] Louis P. Pojman, Classic of Philosophy..., 1052.
[13] Milton K. Munitz, Contemporary Analitic Philosophy..., 27
[14] Ibid., 26
[15] Ibid., 28
[16] Ibid., 29
[17] Ibid., 29
[18] Ibid., 30
[19] Ibid., 31
[20] Ibid., 32
[21] Ibid., 33
[22] Ibid., 36
[23] Ibid., 35
[24] Ibid., 37-38
[25] Ibid., 40-41
[26] Ibid., 42
[27] Ibid., 43
[28] Ibid., 44
[29] Ibid., 49. Lihat juga Atsng Abdul Hakim & Beni Ahmad Saebani, Filsafat Umum: Dari Mitologi
sampai Teofilosofi, (Bandung: Pustaka Setia, 2008), 319
[30] Teori pragmatis membuat seseorang berpendirian bahwa suatu proposisi (dalil) dianggap
benar sepanjang proposisi tersebut masih berlaku, berguna dan memuaskan. Tegasnya, jika berguna
adalah benar dan jika tidak berguna menjadi tidak benar. Lihat dalam Endang Saifuddin
Anshari, Wawasan Islam: Pokok-Pokok PikiranTentang Paradigma dan Sistem Islam, (Jakarta: Gema
Insani, 2004), 12