Anda di halaman 1dari 39

PRAKTIKUM

Ilmu Tanah

TIM

Program Studi Agroekoteknologi


Departemen Pertanian
Fakultas Peternakan dan Pertanian
Universitas Diponegoro
Semarang
2017
1

TATA CARA PENGAMBILAN SAMPEL TANAH

Sampel tanah merupakan bagian tanah yang diambil untuk kemudian


dianalisis. Sampel yang diambil harus dapat mewakili sifat fisik, kimia dan
biologi tanah tempat pengambilan sampel. Hal ini berhubungan dengan cara
pengambilan sampel. Tanah yang diambil harus jauh dari perumahan, jalan,
selokan, bekas pembakaran, penimbunan pupuk dan tidak diambil dari tanah yang
lebih dalam dari tanah lain. Luas dari suatu lahan dapat bermacam-macam, luas
lahan ini selanjutnya dihubungkan dengan banyaknya sampel tanah (contoh
individual) yang diambil. Sampel tanah yang dapat diambil dari daerah yang
keadaannya homogen adalah sekitar 5 – 20 sampel tanah.
Sampel tanah terdiri dari sampel tanah utuh, agregat dan biasa, cara
pengambilan dari sampel tanag ini memiliki perbedaan karena digunakan pada
analisis sifat tanah yang berbeda. Berikut ini dijelaskan cara pengambilan sampel
tanah.

1. Cara pengambilan sampel tanah utuh


1) Ratakan dan bersihkan lapisan atas tanah yang akan diambil, kemudian
letakkan tabung tegak pada lapisan tanah tersebut.
2) Gali tanah di sekeliling tabung dengan sekop atau pisau.
3) Iris tanah dengan pisau hampir mendekati tabung.

4) Tekan tabung sampai bagian masuk ke dalam tanah.

5) Letakkan tabung lain tepat di atas tabung pertama, kemudian tekan lagi sampai
bagian bawah tabung kedua masuk ke dalam tanah sedalam 1 cm.
6) Tabung beserta tanah di dalamnya digali dengan sekop/cangkul.
7) Pisahkan tabung kedua dengan hati-hati, kemudian potong tanah pada bagian
bawah dan atas tabung sampai benar-benar rata.
8) Tutup tabung dengan tutup plastik dan masukkan ke dalam peti.
Catatan:
Pengambilan sampel tanah utuh paling baik dilakukan dalam keadaan air
sekitar kapasitas lapang, bila tanah kering sebaiknya disiram terlebih dahulu
2

sampai keadaan air sekitar kapasitas lapang. Tidak diperkenankan menggunakan


palu atau alat pemukul lain untuk memasukkan tabung ke dalam tanah.

2. Cara pengambilan sampel tanah agregat


1) Ratakan dan bersihkan lapisan atas tanah.
2) Ambil segumpal tanah yang cukup besar dan simpan dalam plastik.

3. Cara pengambilan sampel tanah biasa


1) Ambil sampel tanah pada kedalaman 1 – 20 cm (wilayah yang homogen),
sampel tanah diambil secara acak.
2) Contoh tanah yang diambil kemudian dicampur sebagai bentuk contoh tanah
rata-rata.
3) Contoh tanah rata-rata itu kemudian dikeringanginkan.
4) Contoh tanah yang sudah kering kemudian diayak dan disimpan.
3

SIFAT FISIK TANAH

ACARA I
PROFIL TANAH

1. TEORI
Horizon tanah untuk memudahkan dalam mempelajari dan
mendeskripsikannya. Lapisan-lapisan yang dihasilkan selama pembentukan tanah
dikelompokkan dalam A, B, dan C. Pembagian dari masing-masing lapisan
disebut horizon.
Horizon A00
Horizon A0
Horizon A1
Horizon A2
Horizon A3
Horizon B1
Horizon B2
Horizon B3
Horizon C
Kelompok A (eluvial = tercuci keluar) berada di permukaan dan dicirikan
sebagai zone dimana terjadi pencucian maksimum. Dimulai dari permukaan
bagian mineral horizon-horizon diberi tanda A1, A2, dan seterusnya. Bila bahan
organic menutupi permukaan, seperti halnya hutan, massa tersebut ditandai
dengan A0. Bila lapisan itu tebal sehingga lapisan dapat dibedakan dengan tanda
yang diberikan A00.
Kelompok B (iluvial = menumpuk) meliputi lapisan dimana terjadi
peniimbunan dari atas maupun bawah. Merupakan daerah penimbunan maksimum
bahan-bahan besi dan aluminium oksida dan liat silikat. Bahan tersebut berasal
dari pencucian lapisan atas atau dibentuk dari horizon B. di daerah kering kalsium
karbonat, kalsium sulfat dan garam lain menumpuk di bagian bawah B. horizon-
horizon diberi tanda B1, B2,dan seterusnya. Horizon A dan B disebut solum,
4

bagian dari profil yang dibentuk oleh proses-proses pembentukan tanah berbeda
dari bahan induk yang ada di bawahnya.
Horizon C atau bahan induk kurang mengalami hancuran dan biasanya sama
atau kurang lebih serupa dengan bahan darimana horizon A dan B berasal. Dalam
keadaan sekarang ia tidak dipengaruhi oleh gaya-gaya pembentuk tanah, tetapi
bagaian teratas dengan waktu A menjadi bagian dari solum. Karena bagian teratas
horizon mengalami hancuran kimia, maka dapat dibedakan beberapa zone. Pada
umumnya orang jarang membedakannya.
Secara umum profil tanah terdiri dari beberapa lapisan, yaitu :
A00 = horizon terdiri dari bahan organic lepas yang belum lapuk. Biasanya tidak
dijumpai di padang rumput, tetapi terdapat di hutan, terutama di daerah beriklim
sedang dan pada suatu saat dalam setahun dijumpai dalam jumlah banyak.
A0 = horizon yang mengandung bahan organik yang sebagian atau sepenuhnya
mengalami humifikasi. Ia berbentuk fibrik atau rendah. Tidak dijumpai di padang
rumput. Di tanah hutan biasanya dapat dibedakan dua lapisan, F daerah fermentasi
dan H daerah humus matang.
A1 = horizon mineral berwarna gelap mengandung banyak bahan organic yang di
humifikasikan tercampur rata dengan bagian inorganik. Pada chernosom lapisan
ini sangat tebal, pada podzol sangat tipis atau tidak ada, dan pada tanah sangat
beragam.
A2 = horizon mineral yang berwarna terang karena pencucian dan bleching
(eluviasi). Pada podzol berkembangbaik dan mudah terlihat. Lapisan kelabu atau
bleichorde dari tanah ini, tidak dijumpai pada chermozom dan tanah-tanah tertentu
terutama di daerah kering.
A3 = lapisan peralihan, seringnya tidak ada. Bila ada lebih menyerupai A
daripada B.
B1 = lapisan peralihan dan tidak dijumpai pada kebanyakan tanah, lebih
menyerupai B daripada A.
B2 = daerah penimbunan (iluviasi) terutama dari liat silikat dan senyawa besi dan
aluminium. Sangat jelas pada podzol sebagai lapisan berwarna coklat kemerah-
merahan. Pan keras (orstein) dijumpai pada podzol, sedangkan pada tanah lain
5

dijumpai pan liat. Pada tanah daerah kering bentuk structural dalam B2 sering-
seringnya kolumnar dan perismatik.
B3 = lapisan peralihan. Tidak selalu harus ada.
C = bahan induk cerai berai sama dengan bahan yang membentuk solum. Bahan
ini berasal dari hamparan batuan di bawahnya atau bahan yang diangkut dari
tempat lain, kemudian diendapkan di lapisan tersebut.

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui susunan horizon tanah.

3. ALAT DAN BAHAN


Alat:
 Kamera
 Alat tulis
Bahan:
 Tanah (yang meliputi horizon-horizonnya)

4. CARA KERJA
1) Carilah tanah yang terlihat horizonnya
2) Amati lapisan horizon tanah dan gambarlah profil tanah tersebut
3) Ambillah gambar/foto tanah tersebut dengan kamera
4) Bandingkan profil tanah yang telah diamati dengan profil tanah secara teori
6

ACARA II
KADAR AIR TANAH

1. TEORI
Struktur tanah terdiri atas agregat tanah. Pori-pori mengisi ruang diantara
agregat tanah. Didalam tanah air terdapat sebagai air kapiler dalam pori-pori
mikro, sedangkan air non kapiler terdapat dalam pori makro sebagai selaput tipis
yang meliputi butir dan agregat tanah.
Banyaknya air yang dapat diikat atau diserap oleh tanah tergantung dari tekstur
dan kandungan bahan organik tanah. Terikatnya air didalam pori dan agregat
tanah terjadi karena adanya gayakohesi antara molekul air dan butir tanah. Air
yang terdapat didalam pori tanah ini disebut kadar air tanah.
Tanah kering angin diperoleh apabila tanah dikering anginkan di tempat teduh.
Tanah kering mutlak adalah tanah kering angin yang dioven pada suhu 105 – 110
C selama beberapa jam sampai beratnya konstan.
Berdasarkan gaya yang bekerja pada air, air dibedakan menjadi:
1. Air gravitasi (air bebas) merupakan air yang tidak dapat ditambat oleh
partikel tanah, mengalir ke bawah oleh pengaruh gravitasi (gaya tarik bumi)
Ciri-cirinya:
 Air dalam tanah diatas kapasitas lapang
 Terikat tidak kuat oleh partikel tanah
 Tegangannya kurang dari 0,1 – 0,5 atmosfer (kurang 1/3 atmosfer)
 Tidak berguna bagi tanaman, hilang sebagai air drainase
 Bergerak sebagai akibat tegangan selaput dan gaya gravitasi
 Mengakibatkan proses pelindihan unsur hara (leaching)
2. Air Kapiker adalah air yang tertambat diantara partikel tanah atau disekitar
partikel tanah karena gaya gravitasi lebih kecil daripada gaya kapiler.
Ciri-cirinya:
 Terikat diantara kapasitas lapang dan gaya higroskopis ) air di dalam pori
 Tegangan selaput berkisar antara 1/3 – 30 atm.
 Tidak semuanya atersedia bagi tanaman
7

 Bergerak degan cara penyusuyan selaput dari tebala ke tipis


 Berfunsi sebagai larutan tanah
3. Air Higroskopis merupakan air yang tidak dapat diambil tanaman karena
daya ikat partikel tanah terhadap air sangat kuat. Merupakan selaput tipis,
setebal beberapa molekul pada permukaan partikel tanah.
Ciri-cirinya:
 Terikat pada koefisien higroskopis
 Tegangan selaput antara 31 – 10.000 atm
 Kebanyakan terikat oleh koloida tanah
 Bergerak dalam bentuk gas

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui kadar air (lengas tanah).

3. ALAT DAN BAHAN


Alat:
 Cawan porcelain
 Timbangan analitik
 Oven
 Desikator
 Saringan
Bahan:
 Sampel tanah agregat 2 gram

4. CARA KERJA
1) Timbang cawan porcelain kosong (a gram)
2) Ayak tanah agregat dengan menggunakan saringan
3) Isi cawan porcelain dengan tanah agregat yang telah halus sebanyak 2 gram
kemudian timbang (b gram)
8

4) Cawan porcelain berisi tanah kemudian dimasukkan ke dalam oven, buka


tutupnya, panskan pada suhu 105o C selama 24 jam
5) Setelah 24 jam, masukkan cawan ke dalam desikator
6) Keluarkan dari desikator dan timbang (c gram)
Hitung kadar air tanah dengan rumus sbb:
( )-
KA = x 100%

9

ACARA III
TEKSTUR TANAH

1. TEORI
Tekstur tanah merupakan salah satu satu dari beberapa sifat fisik tanah seperti
warna tanah, struktur tanah, kadar air, bulk density, dan lain sebagainya. Tekstur
tanah adalah perbandingan relatif antara fraksi-fraksi debu, liat, dan pasir dalam
bentuk persen. Tekstur tanah erat hubungannya dengan kekerasan, permeabilitas,
plastisitas, kesuburan, dan produktivitas tanah pda daerah tertentu.
Fraksi debu dan pasir merupakan fraksi yang tidak aktif. Hal ini disebabkan
dalam massa tanah yang sama, permukaan tanah pasir dan debu luasnya lebih
kecil dari liat, sehingga tanah liat lebih banyak menyerap air dan hara
dibandingkan dengan tanah pasir dan debu.
Berdasarkan garis tengah partikel, tnah dibedakan dalam fraksi batu (>200
mm), kerikil (20 – 2 mm), pasir (2 – 0.05 mm), debu (0.05 - 0.002 mm), dan liat
(<0.002 mm).
Tabel 1. Klasifikasi tanah menurut USDA dan Internasional
Fraksi Tanah Garis tengah fraksi (mm) Internasional
Sistem USDA
Pasir sangat kasar 2,00 – 1,00 -
Pasir Kasar 1,00 – 0,50 2,00 – 0,20
Pasir Sedang 0,50 – 0,25 -
Pasir Halus 0,25 – 0.10 0,20 – 0,02
Pasir sangat halus 0,10 – 0,05 -
Debu 0,05 – 0,002 0,02 – 0,002
Liat < 0,0002 < 0,002
Buckman dan Brady, 1982.

Penentuan tekstur tanah di lapangan dilakukan dengan perabaan menggunakan


tangan. Secara kasar tekstur tanah dapat dibedakan dalam kelas pasir, dubu, liat
dan lempung. Dikatakan bertekstur pasir apabila kandungan pasirnya lebih dari
70% dalam keadaan lembab terasa kasar dan tidak melekat, Dikatakan bertekstur
liat apabila kandungan liatnya lebih dari 35%, dalam keadaan lembab tanah sangat
lekat dan bila dalam keadaan kering menjadi keras. Dikatakan bertekstur debu
10

apabila kandungan debunya lebih dari 85%, hal ini sulit diketahui atau
dipresentasikan di lapangan. Dikatakan bertekstur lempung bila perbandigan
pasir, debu, dan liatnya seimbang.
Penentuan tekstur tanah di laboratorium dilakukan dengan analisis secara
mekanik atau granulair dengan menentukan prosentase fraksi penyusun tanah.
Berdasarkan segitiga USDA dibedakan menjadi 12 kelas tekstur tanah, seperti
terlihat dalam tabel berikut :
Tabel 2. Penetapan kelas tekstur tanah berdasarka segitiga tekstur USDA
No. Kelas Tekstur Rasa dan Sifat Tanah
1. Pasir (sand) Rasa kasar, tidak membentuk bola dan gulungan serta
tidak melekat
2. Pasir berlempung Rasa kasar, membentuk bola yang mudah hancur,
(loamy sand) sedikit melekat
3. Lempung berpasir Rasa agak kasar, membentuk bola agak keras, mudah
(sandy loam) hancur serta melekat
4. Lempung berbedu Rasa licin, membentuk bola teguh, membentuk pita
(silt loam) dan lekat
5. Lempung (loam) Rasa tidak kasar dan tidak licin, membentuk bola
teguh, dapat sedikit digulung dengan permukaan
mengkilat serta melekat
6. Debu (silt) Rasa licin sekali, membentuk bola teguh, dapat sedikit
digulung dengan permukaan mengkilat serta agak
melekat
7. Lempung berliat Rasa agak kasar, membentuk bola agak teguh atau
(clay loam) kering, membentuk gulungan jika dipijit, gulungan
mudah hancur serta daya lekatnya sedang
8. Lempun liat berpasir Rasa agak ksar, membentuk bola agak teguh atau
(sandy clay loam) kering, jika dioijit membentuk gulungan, gulungan
mudah hancur serta melekat
9. Lempung liat berdebu Rasa licn membentuk bola teguh, gulungan mengkilat
(slit clay loam) serta melekat
10. Liat berpasir Rasa licin agak kasar, membentuk bola yang dalam
(sandy clay) keadaan kering sukar dipijit, mudah digulung serta
melekat sekali
11. Liat berdebu Rasa agak licin membentuk bola yang dalam keadaan
(silty clay) kering sukar dipijit, mudah digulung serta melekat
sekali
12. Liat (clay) Rasa berat, membentuk bola baik serta melekat sekali

Dalam menggunakan diagram titik-titik yang berhubungan dengan persentase


debu dan liat yang ada dalam tanah yang bersangkutan ditempatkan berturut-turut
11

pada garis-garis debu dan liat. Garis-garis lalu diproyeksikan ke yang pertama
sejajar sisi liat dari segitiga., dan yang kedua sejajar dengan pasir . Nama ruang
dimana dua garis itu berpotongan ialah nama klas tanah yang bersangkutan
(Gambar 2.)

Gambar 1. Diagram tejstur tanah dapat ditentukan dari analisa mekanik.

Tekstur tanah berperan pada struktur, tata air, tata udara (aerasi), dan suhu
tanah. Tekstur berperan dalam tata air karena berkaitan dalam menentukkan
kecepatan masuknya air ke dalam tanah (water intake rate) dan penyimpanan air
dalam tanah (water storage) Dari segi kesuburan, penting dalam menyangga
pertukaran ion dan penjagaan hara tanah. Makin tinggi kandungan liat (tanah
berat), makin tinggi kesuburannya. Tekstur tanah juga berpengaruh terhadap
pengolahan tanah, dimana makin tinggi kandungan liatnya, makin berat
pengolahannya.
12

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mengamati secara langsung
tekstur tanah di lapangan.

3. ALAT DAN BAHAN


Alat:
 Cangkul
 Sekop
Bahan:
 Akuades
 Sampel tanah agregat

4. CARA KERJA
1) Ambil contoh tanah dari lapangan
2) Ambil tanah tersebut dan basahi secukupnya
3) Gosokkan pada ibu jari dengan jari yang lain
4) Tentukan tekstur sesuai pada tabel
13

ACARA IV
KONSISTENSI TANAH

1. TEORI
Konsistensi merupakan hubungan langsung tanah dengan tekstur dan
keteguhan dan seringkali dihubungkan dengan kekuatannya. Konsistensi tanah
menunjukkan integrasi antara kekuatan daya kohesi butir-butir tanah dengan daya
adhesi butir-butir tanah dengan benda lain. Keadaan tersebut ditunjukkan dari
daya tahan tanah terhadap gaya yang akan mengubah bentuk. Penetapan
konsistensi tanah dapat dilakukan dalam tiga kondisi, yaitu basah, lembab, dan
kering. Konsistensi basah merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi
kadar air tanah di atas kapasitas lapang (field cappacity).
Konsistensi lembab merupakan penetapan konsistensi tanah pada kondisi kadar
air tanah sekitar kapasitas lapang. Konsistensi kering merupakan penetapan
konsistensi tanah pada kondisi kadar air tanah kering udara. Beberapa faktor yang
mempengaruhi konsistensi tanah adalah:
1. Tekstur tanah
2. Sifat dan jumlah koloid organik dan anorganik tanah
3. Struktur tanah
4. Kadar air tanah

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui dan mengamati secara langsung
konsistensi tanah

3. ALAT DAN BAHAN


Bahan:
 Sampel tanah agregat
 Air
14

4. CARA KERJA
4.1. Konsistensi Kering dan Lembab
1) Siapkan sampel tanah agregat
2) Bentuklah gumpalan dari tanah tersebut, untuk konsistensi lembab
berikan sedikit air
3) Remaslah gumpalan tanah tersebut
4) Rasakan apakah tanah tersebut mudah atau sukar hancur
5) Nilai sesuai dengan tabel
4.2. Kelekatan dan Plastisitas Tanah
1) Siapkan sampel tanah agregat
2) Buat gumpalan kecil
3) Berikan sedikit air hingga tanah dapat terasa lengket. Jangan terlalu
banyak hingga gumpalan tanah dapat hancur
4) Rasakan pada tangan Anda apakah tanah tersebut dapat melekat atau
tidak, mudah membentuk bulatan atau tidak, dan apakah mudah
mempertahankan bentuknya
15

Konsistensi Kering
Ciri Nilai
Tidak melekat satu sama lain atau
0
antar butir tanah mudah terpisah
Gumpalan tanah mudah sekali hancur
1
bila diremas
Hanya sedikit tekanan saat meremas
2
dapat menghancurkan gumpalan tanah
Diperlukan tekanan agak kuat saat
meremas tanah tersebut agar dapa 3
menghancurkan gumpalan tanah
Diperlukan tekanan berkali-kali saat
meremas tanah agar dapat 4
menghancurkan gumpalan tanah
Gumpalan tanah tidak hancur
meskipun sudah ditekan berkali-kali
saat meremas tanah dan bahkan 5
diperlukan alat bantu agar dapat
menghancurkan gumpalan tanah
Keterangan: lepas (0), lunak (1), agak keras (2), keras (3), sangat keras (4), amat
sangat keras (5).

Kesimpulan:
Tanah termasuk dalam kategori.................................................................................
Konsistensi Lembab
Ciri Nilai
Tidak melekat satu sama lain atau
0
antar butir tanah mudah terpisah
Gumpalan tanah mudah sekali hancur
1
bila diremas
Hanya sedikit tekanan saat meremas
2
dapat menghancurkan gumpalan tanah
Diperlukan tekanan agak kuat saat
meremas tanah tersebut agar dapa 3
menghancurkan gumpalan tanah
Diperlukan tekanan berkali-kali saat
meremas tanah agar dapat 4
menghancurkan gumpalan tanah
Gumpalan tanah tidak hancur
meskipun sudah ditekan berkali-kali
saat meremas tanah dan bahkan 5
diperlukan alat bantu agar dapat
menghancurkan gumpalan tanah
16

Keterangan: lepas (0), sangat gembur (1), gembur (2), kokoh/teguh (3), sangat
kokoh (4), luar biasa kokoh (5).

Kesimpulan:
Tanah termasuk kedalam kategori ...........................................................................

Konsistensi Basah
Tingkat Kelekatan
Ciri Nilai
Tidak melekat pada jari tangan atau
0
benda lain
Sedikit melekat pada jari tangan atau
1
benda lain
Melekat pada jari tangan atau benda
2
lain
Sangat melekat pada jari tangan atau
3
benda lain
Keterangan: Tidak lekat (0), agak lekat (1), lekat (2), sangat lekat (3).

Tingkat Plastisitas
Ciri Nilai
Tidak dapat membentuk gulungan
0
tanah
Dapat dibentuk gulungan tanah
1
kurang dari 1 cm
Dapat membentuk gulungan tanah
lebih dari 1 cm dan diperlukan sedikit
2
tekanan untuk merusak gulungan
tersebut
Dapat membentuk gulungan tanag
lebih dari 1 cm dan diperlukan
3
tekanan besar untuk merusak
gulungan tersebut
Keterangan: tidak plastis (0), agak plastis (1), plastis (2), sangat plastis (3).

Kesimpulan:
Tanah termasuk kedalam kategori ...........................................................................
17

ACARA V

KERAPATAN PARTIKEL (BJ) DAN KERAPATAN MASSA (BV) TANAH

1. TEORI
Tanah tersusun atas mineral anorganik dan bahan oganik serta porus tanah
yang berisi air dan udara. Kandungan tanah yang subur pada umumnya memiliki
susunan 45% padatan mineral, 5% bahan organik, 25% air, dan 25% udara.
Kandungan pori-pori yang berisi air dan udara pada tanah disebut porositas tanah
yang berhubungan langsung dengan kerapatan tanah (Mustafa et al., 2012)
Analisis porositas tanah tidak lepas dari analisis kerapatan partikel dan kerapatan
massa tanah. Kerapatan jenis atau kerapatan partikel (particle density) adalah
massa padatan per satuan volume partikel-partikel tanah. Nilai kerapatan partikel
dipengaruhi oleh keberadaan bahan organik pada tanah. Semakin banyak
kandungan bahan organik pada tanah, maka nilai kerapatan partikelnya akan
semakin rendah (Pasaribu et al., 2013). Kerapatan massa (bulk density) adalah
kepadatan yang terkandung pada tanah termasuk kandungan makroporus dan
mikroporus di dalam tanah. Kerapatan massa bergantung pada jenis dan struktur
tanah. Kerapatan partikel dan kerapatan massa dapat mempengaruhi nilai
koefisien perkolasi (daya larut) atau rembesan tanah. Semakin tinggi nilai
kerapatan tanah maka semakin sulit tanah untuk dilalui air sehingga nilai
koefisien perkolasinya rendah (Ritonga et al., 2014).

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui porositas total tanah melalui
analisis kerapatan partikel dan kerapatan massa tanah.

3. ALAT DAN BAHAN


Alat:
 Alu
 Mortar
 Benang
18

 Labu erlenmeyer
 Timbangan analitik
 Kompor listrik
 Gelas ukur
 Saringan
 Pemancur air
Bahan:
 Sampel tanah agregat
 Lilin
 Air

4. CARA KERJA
4.1.Kerapatan Partikel (BJ)
1) Timbang labu erlenmeyer kosong
2) Isi labu erlenmeyer dengan air hingg ¾ bagian lalu beri tanda
ketinggian air dan timbang kemudian kosongkan
3) Haluskan sebongkah sampel tanah agregat dengan alu dan mortar lalu
saring hingga didapati partikel tanah yang halus
4) Masukkan sampel ke dalam labu erlenmeyer dan isi dengan air hingga
ketinggian ½ bagian lalu gojok hingga homogen kemudian timbang
5) Diamkan labu erlenmeyer berisi air dan sampel selama 24 jam
kemudian isi dengan air hingga tanda batas lalu timbang
6) Hitung kerapatan partikel sampel tanah dengan rumus sbb:

( )

( )

Keterangan:
a = berat labu erlenmeyer
b = berat labu erlenmeyer + air
19

c = berat labu erlenmeyer + sampel


d = berat labu erlenmeyer + air + sampel
KA = kadar air
BJ =1

4.2.Kerapatan Massa (BV)


1) Timbang sebongkah sampel tanah agregat
2) Ikat sampel dengan benang
3) Lapisi sampel dengan lilin yang telah dicairkan
4) Isi gelas ukur dengan air setinggi 50 ml
5) Masukkan sampel tanah berlapis lilin ke dalam gelas ukur tanpa
menyentuh dasar
6) Amati perubahan ketinggian volume air di dalam gelas ukur
7) Hitung kerapatan massa sampel tanah dengan rumus sbb:

( )

Keterangan:
A = berat bongkah tanah
b = berat bongkah tanah + lilin
q = volume air + tanah + lilin
p = volume air gelas ukur
KA = kadar air

4.3.Porositas Tanah
1) Hitung kerapatan partikel tanah
2) Hitung kerapatan massa tanah
3) Hitung porositas tanah dengan rumus sbb:

-
20

SIFAT KIMIA TANAH

ACARA VI
KEMASAMAN TANAH

1. TEORI
Ketersediaan unsur hara bagi tanaman tergantung dari berbagai faktor antara
lain oleh pH tanah. pH tanah = -log (H+) dalam larutan tanah. Nilai pH berkisar
antara 0 – 14, makin tinggi kepekatan H+ dalam tanah semakin rendah pH tanah
atau sebaliknya.

Gambar 2. Bagan kisaran pH tanah mineral dan istilah yang lazim dipakai untuk
menyatakan reaksi tanah

Hubungan pH dengan unsur hara


Kemasaman tanah mempengaruhi absorbsi unsur hara melalui dua cara, yaitu:
1. pengaruh langsung ion hidrogen
2. pengaruh tidak langsung, yaitu melalui pengaruh terhadap tersedianya unsur
hara dan adanya unsur-unsur beracun.
21

Di dalam tanah pengaruh kedua yang sangat menentukan pertumbuhan tanaman.


Pengaruh pH terhadap pertumbuhan tanaman berbeda menurut jenis tanaman.

Tanaman tertentu hanya dapat hidup pada kisaran pH tertentu seperti jagung
hidup pada kisaran pH 6,5 – 8,5. Hubungan antara pH dengan unsur hara dapat
dilihat pada gambar 4.
Gambar 3. Hubungan antara pH tanah mineral dengan unsur hara
(Sumber: Foth,1988).

Ketersediaan unsur hara sangan dipengaruhi oleh pH. Beberapa unsur hara
tersedia pada pH yang ekstrem, dan beberapa unsur lainnya berada pada tingkat
meracun. Unsur hara yang sangat dipengaruhi oleh pH antara lain:
a. Kalsium dan magnesium dapat situkar
b. Alumunium dan unsur mikro
c. Ketersediaan fosfor
d. Unsur-unsur hara berkaitan dengan kegiatan jasad mikro
Beberapa unsur hara esensiil, yaitu besi, mangan dan seng berkurang bila pH
dinaikkan dari 5,0 menjadi 7,5 atau 8,0. Pada nilai pH dibawah 5,0 atau 5,5 unsur
22

Al, Fe dan Mn menjadi larut dalam jumlah cukup banyak sehingga menyebabkan
tanaman keracunan. Pada pH yang sangat tinggi ion bikarbonat akan dijumpai
dalam jumlah banyak sehingga mempengaruhi absorbsi unsur hara lain dan
merugikan pertumbuhan tanaman.
Cara penetapan pH tanah dapat dilakukan dengan cara elektrometrik dan
metode warna. Cara elektrometrik merupakan cara yang lebih akurat karena
dengan alat pH meter. Cara dengan metode warna lebih mudah dan sederhana
tetapi kurang akurat dibanding dengan cara elektrometik.
Nilai pH dipengaruhi oleh sifat dan ciri tanah yang komplit sekali. Tetapi, yang
paling mempengaruhi nilai pH tanah adalah:
a. kejenuhan basa
b. sifat misel (koloid)
c. macam kation yang terjerap
Pengharkatan pH tanah adalah sebagai berikut:
Tabel 3. Harkat pH tanah
pH Harkat
4,0 Paling masam
4,0 – 4,5 Sangan masam
4,5 – 5,5 Masam
5,5 – 6,5 Agak masam
6,5 – 7,5 Netral
7,5 – 8,5 Agak basa
8,5 – 9,0 Basa
>9,0 Sangat basa

Reaksi tanah (pH) ada dua, yaitu pH aktual dan pH potensial. Nilai pH aktual
menunjukkan banyaknya ion H+ yang terdapat dalam larutan tanah, sedangkan pH
potensial menunjukkan banyaknya ion hidrogen tanah dan potensial serapan tanah
terhadap hidrogen. Pengukuran pH aktual dapat dikukur dengan aquades,
sedangkan pengukuran pH potensial dikur dengan KCl.

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengukur kemasaman tanah.
23

3. ALAT DAN BAHAN


Alat:
 Tabung reaksi
 pH meter
Bahan:
 Sampel tanah biasa
 Akuades
 KCl 1 N

4. CARA KERJA
1) Siapkan 2 tabung reaksi
2) Masukkan sampel tanah ke dalam masing-masing tabung reaksi setinggi 2
cm atau 2 gram
3) Tambahkan KCl 1 N sebanyak 5 cm untuk tabung a
4) Tambahkan 5 cm akuades untuk tabung b
5) Kocoklah selama 1 menit, biarkan mengendap
6) Bandingkan warna yang timbul dengan indikator universal

TABEL PENGAMATAN
Perlakuan pH
KCl (potensial)
Akuades (aktual)
24

ACARA VII
ANALISIS NITROGEN TOTAL

1. TEORI
Senyawa nitrogen organik diokasida melalu pemanasan dalam lingkungan
asam sulfat pekat katalis campuran selenium membentuk (NH4)2SO4. Kadar
aminium dalam ekstrak.
Dapat ditetapkan dengan cara destilasi atau spektrofotometri. Cara destilasi
estrak akan dibasakan dengan penambahan larutan NaOH. Selajutnya NH3 yang
dibebaskan diikat oleh asam borat dan dititar dengan larutan baku H2SO4
menggunakan petunjuk Conway. Cara spektrofotmetri menggunakan pembangkit
warna indofenol biru.

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui nitrogen total yang berada di
dalam sampel tanah yang telah diambil.

3. ALAT DAN BAHAN


Alat:
 Timbangan analitik
 Labu kjehdahl
 Ruang asam
 Gelas ukur
 beker 250 ml dan 1000 ml
 labu erlenmeyer 100 ml
 kompor dan stirer magnetik
 Alat destilasi
 Biuret digital
 Kertas saring whatman
Bahan:
Destruksi : 1. asam sulfat pekat 10 ml
25

2. selenium dan sampel tanah biasa 1 gram


Destilasi : 1. asam borat 1% 20 ml
2. natrium hidroksida (NaOH) 1 N
3. sampel yang telah didestruksi
4. akuades
5. indikator MRMB
Titrasi : HCl 0,1 N

4. CARA KERJA
4.1. Destruksi
1) Timbang 1 g sampel tanah halus, masukkan ke dalam labu kjeldahl
2) Tambahkan 1 spatula selenium
3) Tambahkan 10 ml asam sulfat pekat.
4) Didestruksi hingga suhu 350 derajat di dalam ruang asam
5) Destruksi berakhir jika larutan berubah warna menjadi putih keruh
6) Angkat tabung, lalu dinginkan
7) Saring dengan kertas saring whatmann
4.2. Destilasi
1) Masukkan 20 ml asam borat ke dalam erlenmeyer dan tambahkan 2
tetes indikator MRMB, taruh di bagian hasil destilasi sebagai
penangkap NH3.
2) Masukkan sampel hasil destruksi ke dalam beker dan ditambahkan 90
ml akuades, taruh di atas kompor destilasi.
3) Buat blanko dengan memasukkan 90 ml akuades ke dalam beker dan
menaruhnya di atas kompor destilasi.
4) Masukkan 40 ml NaOH ke dalam beker sampel, tutup segera, kemudian
masukkan 40 ml NaOH ke dalam blanko.
5) Beker berisi larutan balnko dan sampel didestilasi hingga volume
penampang mencapai 50 – 70 ml (berwarna hijau tosca)
6) Destilat dititrasi dengan HCl 0,1 N hingga berwarna seperti semula
(biru tua keunguan)
26

7) Dicatat angka hasil titrasi sampel (Vc) dan blanko (Vb)

4.3. Perhitungan
%N = ( (Vc – Vb) x N HCl x Ar N / berat sampe (mg)) x 100%
Keterangan:
Vc = Hasil titrasi sampel
Vb = Hasil titrasi blanko
27

ACARA VIII
ANALISIS FOSFOR SEBAGAI P2O5

1. TEORI
Tumbuhan memerlukan nutrisi dalam bentuk unsur hara yang berasal dari
tanah untuk aktivitas metabolisme di dalam sel. Fosfor (P) merupakan unsur hara
esensial yang diperlukan tanaman dalam jumlah besar (hara makro) berupa
komponen struktural dari sejumlah senyawa molekul pentransfer energi ADP,
ATP, NAD, NADH serta senyawa pembawa genetik DNA dan RNA. Unsur
fosfor dalam bentuk P2O5 dibutuhkan oleh tanaman untuk pembentukan sel pada
jaringan tunas yang sedang tumbuh dan jaringan akar serta memperkukuh batang
sehingga tidak mudah tumbang pada ekosistem alami.
Rasio jumlah fosfor pada tanaman lebih rendah dibanding dengan nitrogen dan
kalium, namun fosfor memegang peranan penting dalam keseluruhan proses
metabolisme tanaman. Sebagian besar fosfor mampu diserap oleh tanaman dengan
bentuk ion ortofosfat primer (H2PO4-) dan sebagian kecil ortofosfat sekunder
(HPO4-2). Tanaman membutuhkan P dalam larutan tanah berkisar 0,2 hingga 0,3
mg/l, sedangkan kandungan P terbaik untuk tanaman berkisar antara 0,3 hingga
0,5 persen dari total bobot bahan kering tanah. Bentuk organik fosfor dapat
ditemukan dalam bahan organik yang dilepaskan melalui proses mineralisasi oleh
organisme tanah, proses ini dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban tanah.
Umumnya fosfor anorganik bermuatan negatif sehingga kerap terfiksasi dengan
besi (Fe) bermuatan positif, alumunium (Al) dan kalsium (Ca) untuk membentuk
senyawa tidak larut air yang berdampak penyerapan fosfor pada akar tanaman
terhambat karena fosfor tidak tersedia.

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah untuk menegetahui kandungan P2O5 dalam sampel
tanah.
28

3. ALAT DAN BAHAN


Alat:
 Timbangan analitik
 Labu erlenmeyer
 Ruang destruksi
 Labu ukur
 Pipet ukur
 Mikropipet
 Kertas saring whatman
 Kompor dan stirer
Bahan:
 Sampel tanah biasa
 Asam nitrat (HNO3)
 HCl
 Akuades
 Ammonium molibdat
 Ammonium monovanadate
 Perklorat
 Larutan standar P2O5 500 ppm

4. CARA KERJA
1) Timbang sampel tanah biasa dengan timbangan analitik seberat 1 gram
2) Masukkan sampel tanah ke dalam labu erlenmeyer. Tambahkan HCl
sebanyak 5 ml
3) Tambahkan asam nitrat sebanyak 10 ml
4) Gojog sampel tanah yang ditambah HCL dan sam nitrat sampai homogen
5) Destruksi di dalam ruang asam sampai busa kuning hilang dan sampai asap
putih keluar
6) Sampel yang telah didestruksi kemudian didiamkan sampai dingin
7) Pindahkan sampel hasil destruksi ke dalam labu ukur 100 ml
29

8) Tambahkan akuades sebanyak 50 ml


9) Tambahkan lagi akuades hingga batas kuning labu ukur (100 ml)
10) Saring dengan kertas whatman
11) Ambil 1 ml sampel dan tambahkan pewarna fosfat sebanyak 2 ml
12) Membaca absorbansi larutan dengan spektrofotometer pada panjang
gelombang 420 nm
13) Cari konsentrasi P2O5(%) yang didapatkan dari kurva regresi dengan
persamaan sebagai berikut:

Membuat Larutan Standar P2O5


1) Siapkan larutan standar P2O5500 ppm
2) Buat larutan standar 100 ppm sebanyak 100 ml
3) Ambil 20 ml larutan standar 500 ppm, masukkan ke dalam labu ukur
4) Tambahkan akuades hingga 100 ml

Membuat Pewarna Fosfat (Molibdovanadat)


1) Masukkan amonium molibdat sebanyak 2 gram ke dalam labu erlenmeyer,
kemudian tambahkan akuades sebanyak 40 ml
2) ˚C
3) Masukkan Amonium monovanadate sebanyak 0,1 gram, goyangkan labu
erlenmeyer hingga homogen
4) Masukkan perklorat sebanyak 12,5 ml
5) Pindahkan ke dalam labu ukur 100 ml dan tambahkan akuades sampai
menyentuh garis merah (100 ml)
6) Pindahkan kembali ke dalam labu erlenmeyer
7) Buat konsentrasi 0 ppm, 2 ppm, 4 ppm, 6 ppm, 8 ppm dan 10 ppm dari
pewarna fosfat. Perbandingan larutan standar P2O5: pewarna fosfat :
akuades ditunjukkan pada tabel berikut:
30

Konsentrasi Larutan standar Pewarna fosfat Akuades


(ppm) (ml) (ml) (ml)
0 0 2 8
2 0,2 2 7,8
4 0,4 2 7,6
6 0,6 2 7,4
8 0,8 2 7,2
10 1 2 7
8) Baca absorbansi dari keenam pewarna fosfat di atas dengan panjang
gelombang 420 nm menggunakan spektrofotometer, buat kurva regresi dan
persamaannya untuk menghitung konsentrasi P2O5
31

ACARA IX
ANALISIS KALIUM SEBAGAI K2O

1. TEORI
Kalium merupakan unsur hara makro yang banyak dibutuhkan oleh tanaman
setelah unsur hara N. Unsur hara kalium diserap tanaman dalam bentuk ion K+.
Sumber utama kalium di dalam tanah berasal dari pelapukan mineral-mineral
primer seperti felsper, mika, biotit dan lain-lain. Selain dari pelapukan mineral
bahan organik seperti jerami padi, batang tembakau, ku;it kakao juga mengandung
K yang tinggi yang dapat menambah K dalam tanah.
Kalium bukanlah penyusun jaringan di dalam tubuh tanaman, tetapi lebih
berperan dalam proses metabolisme tanaman seperti mengaktifkan kerja enzim,
membuka dan menutup stomata, transportasi hasil-hasil fotosintesis,
meningkatkan daya tahan tanaman terhadap kekeringan dan penyakit.
Kandungan kalium didalam tanah dapat diketahui dengan menggunakan alat
flamefotometer. Flamefotometer adalah suatu metoda analisa yang berdasarkan
pada pengukuran besaran emisi sinar monokromatis spesifik pada panjang
gelombang tertentu yang di pancarkan oleh suatu logam alkali atau alkali tanah
pada saat berpijar dalam keadaan nyala. Prinsip dari flamefotometer ini adalah
pancaran cahaya elektron yang diemisi dari keadaan tereksitasi dan kemudian
kembali ke keadaan dasar. Keadaan tereksitasi ini terjadi apabila elektron dari
atom netral keluar dari orbitalnya menuju orbital yang lebih tinggi. Proses eksitasi
berlangsung dengan waktu yang relatif sangat singkat sekali. Sesaat setelah
tereksitasi, elektron tersebut akan kembali ke keadaan dasarnya dan proses ini
dinamakan emisi. Dalam keadaan teremisi inilah elektron tesebut akan
memancarkan sejumlah sinar monokromatis tertentu. Dalam keadaan berpijar,
logam-logam tertentu akan menghasilkan pijaran warna tertentu pula. Kita
mengenal bahwa natrium akan menghasilkan pijaran warna kuning, kalium
memancarkan sinar ungu sedangkan litium akan memancarkan sinar merah.
32

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui kadar kalium dalam sampel
tanah secara flamefotometer.

3. ALAT DAN BAHAN


Alat:
 Mortar
 Alu
 Saringan tanah
 Timbangan analitik
 Sendok takar
 Erlenmeyer
 Ruang asam
 Kertas saring whatman
 Labu ukur
 Flamefotometer
 Pipet
 Corong
Bahan:
 Sampel tanah biasa
 Akuades
 HCl
 Asam nitrat (HNO3)

4. CARA KERJA
1) Ambil segenggam tanah biasa
2) Hancurkan tanah dengan mortar, timbang 1 gram
3) Masukkan ke dalam erlenmeyer
4) Tambahkan HCl 5 ml baru HNO3 10 ml
5) Bawa ke ruang asam
33

6) Destruksi sampai asap kuning hilang


7) Encerkan sampai 50 ml dengan akuades
8) Tambah akuades sampai 100 ml di dalam labu ukur
9) Saring dengan kertas saring whatman
10) Buat larutan standar 0 ppm, 25 ppm, 50 ppm, dan 100 ppm
11) Baca dan catat absorbansi larutan standar menggunakan flamefotometer
12) Baca dan catat absorbansi sampel menggunakan flamefotometer
13) Hitung kadar kalium tanah dengan rumus sbb:

%K2O = x 100 x
34

ACARA X
BAHAN ORGANIK DAN C-ORGANIK TANAH

1. TEORI
Bahan organik tanah adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa organik
kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa
humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi
termasuk juga mikrobia heterotrofik dan ototrofik yang terlibat (biotik). Bahan
organik tanah biasanya menyusun sekitar 5% bobot total tanah tetapi meskipun
hanya sedikit, bahan organik memegang peran penting dalam menentukan
kesuburan tanah baik secara fisik, kimia, maupun secara biologi. Bahan organik
berasal dari jaringan organik makhluk hidup dan sumber lain dari luar seperti
pupuk organik (pupuk kandang, pupuk hijau, kompos, pupuk hayati). Kandungan
bahan organik dalam tanah mencerminkan kualitas tanah yang langsung maupun
tidak langsung berpengaruh pada kualitas tanah tersebut dan sustainibitas
agronomi karena pengaruhnya pada indikator fisik, kimia, dan biologi dari
kualitas tanah.
Karbon (C) merupakan penyusun bahan organik, oleh karena itu peredarannya selama
pelapukan jaringan tanaman sangat penting. Sebagian besar energi yang diperlukan oleh
flora dan fauna tanah berasal dari oksidasi karbon, dan menghasilkan CO2. Karbon
diperlukan mikroorganisme sebagai sumber energi dan nitrogen diperlukan untuk
membentuk protein. Apabila ketersediaan karbon terbatas (nisbah C/N terlalu
rendah) tidak cukup senyawa sebagai sumber energi yang dapat dimanfaatkan
mikroorganisme untuk mengikat seluruh nitrogen bebas. Apabila ketersediaan
karbon berlebihan (C/N > 40) jumlah nitrogen sangat terbatas sehingga menjadi
factor pembatas pertumbuhan organisme. Kandungan bahan organik pada masing-
masing horizon tanah merupakan petunjuk besarnya akumulasi bahan organik
dalam kedaan lingkungan yang berbeda. Kandungan bahan organik dapat
diaplikasikan melalui rumus berikut:
Kandungan Bahan Organik = C x 0,58
35

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui kandungan bahan organik dan
kadar C- organik tanah.

3. ALAT DAN BAHAN


Alat:
 Cawan porcelain
 Timbangan analitik
 Tanur
Bahan:
 Sampel tanah biasa

4. CARA KERJA
4.1. Bahan Organik Tanah
1) Timbang berat cawan porcelain kosong
2) Timbang sampel tanah agregat 2 gram dan masukkan ke dalam
cawan
3) Masukkan cawan berisi sampel ke dalam tanur dengan suhu 600o C
selama 4 jam
4) Timbang cawan berisi tanah setelah ditanur
5) Hitung kandungan bahan organik tanah dengan rumus sbb:
– –
BO = x 100%

4.2. C-Organik Tanah


Penghitungan kadar C-organik tanah dilakukan menggunakan metode
tanur dengan cara mengkonversi bahan organik (BO) ke C menggunakan
rumus sbb:
Kadar C-Organik = BO x 0,58
Keterangan:
0,58 = angka konversi karbon
BO = bahan organik
36

SIFAT BIOLOGI TANAH

ACARA XI
RESPIRASI MIKROBIA

1. TEORI
Respirasi mikroorganisme tanah mencerminkan tingkat aktivitas
mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi (mikroorganisme) tanah merupakan
cara yang pertama kali digunakan untuk menetukan tingkat aktivitas
mikroorganisme tanah. Pengukuran respirasi telah mempunyai korelasi yang baik
dengan parameter lain yang berkaitan dengan aktivitas mikroorganisme tanah
seperti bahan organik tanah, transformasi N, hasil antara, pH, dan rata-rata jumlah
mikroorganisme (Anas, 1989). Tanah dikatakan subur bila mempunyai kandungan
dan keragaman biologi yang tinggi.
Tabel 4. Jumlah maksimum dan bobot organisme tanah dalam tanah subur
Kind of Organism Abudance Biomass
(no/m2) (g/m2)
14
Bacteria 3 x 10 300
Fungi 400
8
Protozoa 5 x 10 38
Nematodes 107 12
Earthworms and related forms 105 132
5
Mites 2 x 10 3
Springtails 5 x 104 5
3
Other invertebrates (snails, milipedes, etc) 2 x 10 36
Penetapan respirasi tanah didasarkan pada penetapan:
1. Jumlah CO2 yang dihasilkan, dan
2. Jumlah O2 yang digunakan oleh mikroba tanah.

2. TUJUAN PRAKTIKUM
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengetahui tingkat aktivitas
mikroorganisme tanah.
37

3. ALAT DAN BAHAN


Alat:
 Paralon
 Tabung film
 Sekop & cangkul
 Pipet
 Erlenmeyer
 Digital titrator
Bahan:
 NaOH
 BaCl2
 PP
 HCl

4. CARA KERJA
1) Masukkan 20 ml NaOH ke dalam tabung film
2) Gali tanah subur dan tanah kurang subur
3) Masukkan tabung film ke lubang galian
4) Inkubasi selama 2 jam
5) Ambil sampel NaOH sebanyak 5 ml dan masukkan ke dalam erlenmeyer
6) Tambahkan 2,5 ml BaCl2 dan 2 tetes indikator PP ke dalam erlenmeyer
7) Titrasi larutan dengan HCl sampai berubah warna menjadi putih
8) Catat volume titrasi
9) Hitung volume CO2 hasil respirasi mikroba dengan rumus sbb:
HCl titrasi = x (a)
0,1 HCl = 0,1 x a
= x (b)
NaOH mula-mula = 0,4 x 5
= 2 ml
NaOH yang berekasi dengan CO2 = 2 – b
= x (c)
38

CO2 yang diikat oleh NaOH = ⁄ xc


= x (d)
5 ml = d x 44 mgrek
= ........ mgrek

TABEL PENGAMATAN
Sampel Tanah Titrasi HCl (ml) CO2 terikat NaOH (mgrek)
Subur
Kurang Subur

Tanah Subur
Ditanam hari............, .................. 2017pukul ......... WIB
Diambil hari............, .................. 2017pukul ......... WIB
Tanah Kurang Subur
Ditanam hari............, .................. 2017pukul ......... WIB
Diambil hari............, .................. 2017pukul ......... WIB