Anda di halaman 1dari 157

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN AKTIF

MENGGUNAKAN MIND MAP TERHADAP HASIL BELAJAR


BIOLOGI PADA KONSEP KEANEKARAGAMAN HAYATI
(Eksperimen di SMAN 8 Tangerang Selatan)

SKRIPSI

Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Sebagai


Persyaratan Mendapatkan Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh

SUGESTI FITRIANI
105016100529

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H / 2010 M
ABSTRAK

Sugesti Fitriani. "Pengaruh Model Pembelajaran Aktif Menggunakan Mind


Map Terhadap Hasil Belajar Biologi pada Konsep Keanekaragaman Hayati
(Eksperimen di SMA Negeri 8 Kota Tangerang Selatan)”. Skripsi, Program
Studi Pendidikan Biologi, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah
Jakarta.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran


aktif menggunakan mind map terhadap hasil belajar biologi pada konsep
keanekaragaman hayati. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 8 Kota
Tangerang Selatan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen semu
dengan desain pre test-post test two group design. Pengambilan sampel dilakukan
dengan menggunakan teknik purposive sampling. Sampel penelitian berjumlah 37
siswa untuk kelas eksperimen dan 37 siswa untuk kelas kontrol. Pengambilan data
menggunakan instrumen tes hasil belajar berbentuk pilihan ganda yang telah diuji
validitas dan reliabilitasnya. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah
terdapat pengaruh model pembelajaran aktif menggunakan mind map terhadap
hasil belajar biologi pada konsep keanekaragaman hayati.
Analisis data menggunakan uji-t, data hasil penghitungan perbedaan rata-
rata post test kedua kelompok diperoleh nilai thitung sebesar 2,98, sedangkan ttabel
dengan taraf signifikan 5% dengan derajat kebebasan (dk) = 70, yaitu sebesar
2,00, maka dapat dikatakan bahwa thitung > ttabel berarti hipotesis alternatif (Ha)
diterima dan hipotesis nol (Ho) ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat
pengaruh model pembelajaran aktif menggunakan mind map terhadap hasil
belajar biologi pada konsep keanekaragaman hayati.

Kata Kunci: model pembelajaran aktif, mind map, hasil belajar.


ABSTRACT

Sugesti Fitriani, “The Influence of Model Active Learning Using Mind Map
To Biology Achievement in Biodiversity Concept (Quasi Experiment in Senior
High School 8 South Tangerang)”. Undergraduate thesis, Biology Education
Program, Science Education Department, Faculty of Tarbiyah and Teaching
Science of Syarif Hidayatullah State Islamic University.

The aim of the research is to know the influence of model active learning
using mind map to biology achievement in biodiversity concept. This research is
done in Senior High School 8 South Tangerang. This research used quasi
experiment method with pre test – post test two group design. Sample is taken by
using purposive sampling technique. The research sample was class X-3 involving
37 students (the experiment class) and class X-1 involving 37 students (the control
class). The data is taken by using instrument of achievement test in multiple
choice which have been tested for its validity and its reliability. The hypothesis in
this research is there is influence of model active learning using mind map to
biology achievement in biodiversity concept. The data analysis used t-test, from
the result of data calculation the differentiation mean between the two group
obtained the value of ttest are equal to 2.98, while ttable at the level of significant
5% with degree of freedom (df) = 70 that is equal to 2.00. It shows that there is in
influence of model active learning using mind map to biology achievement in
biodiversity concept.

Keywords: model active learning, mind map, achievement.


LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:


1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata satu di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika dikemudian hari terbukti hasil bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Agustus 2010

Sugesti Fitriani
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN AKTIF MENGGUNAKAN
MIND MAP TERHADAP HASIL BELAJAR BIOLOGI PADA KONSEP
KEANEKARAGAMAN HAYATI

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah Keguruan
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh
SUGESTI FITRIANI
NIM: 105016100529

Pembimbing I Pembimbing II

Dr. Zulfiani, M.Pd. Eny S. Rosyidatun, M.A


NIP. 19760309 200501 2 002 NIP. 19750924 200604 2 001

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H / 2010 M
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur terucap hanya kepada Allah SWT,
tuhan pemilik segala ilmu, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi tepat
pada waktunya. Shalawat dan salam semoga selalu terlimpahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, guru terbaik sepanjang zaman, suri teladan seluruh umat.
Skripsi ini disusun untuk memenuhi syarat dalam menyelesaikan studi
Program S1 Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta. Penulis ingin mengucapkan terima kasih atas
keterlibatan para pihak dari awal hingga akhir penulisan ini memberikan bantuan
dan kerjasamanya membantu penyusunan penulisan skripsi ini. Oleh karena itu,
penulis mengucapkan yang tidak terhingga kepada:
1. Prof. Dr. H. Dede Rosyada, M.A., selaku dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Baiq Hana Susanti, M.Sc., selaku ketua Jurusan Pendidikan IPA dan para staf
jajarannya.
3. Sujiyo Miranto, M.Pd., selaku ketua Prodi Pendidikan Biologi.
4. Dr. Zulfiani, M.Pd., selaku dosen pembimbing I yang meluangkan waktu
untuk memberi bimbingan, dan saran terhadap penulisan skripsi ini.
5. Eny S. Rosyidatun, M.A., selaku pembimbing II yang memberikan
pengarahan, saran dan kritik terhadap penulisan skripsi ini.
6. Wakil kepala SMAN 8, guru biologi, dan siswa-siswi Kelas X-1 dan X-3 yang
membantu penelitian skripsi penulis.
7. Kedua orang tua, Suherman dan Chusnul Chotimah yang selalu memberikan
doa, kasih sayang, dukungan, dan nasehat kepada penulis sehingga penulisan
skripsi ini berjalan dengan lancar. Untuk kedua adikku, terima kasih selalu
menemani kakak dalam mengisi hari-hari yang penuh warna.
8. Teman-teman Pendidikan Biologi angkatan 2005, semoga kita semua sukses
dan selalu kompak.

iii
iv

9. Rekan kerjaku di Bimbel Gama UI, terutama Ms. Dede terima kasih untuk
mendengarkan keluh kesah dan memberikan semangat dan saran kepada
penulis. Ms. Erina terima kasih untuk saran dan kritik. Dan Ms. Prita terima
kasih telah membuat penulis selalu ceria dan semangat.
Terima kasih penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah membantu
dalam menyelesaikan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan manfaat dan dapat
dijadikan saran bagi siapa saja untuk melakukan penelitian selanjutnya.

Jakarta, Agustus 2010

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK .................................................................................................. i
KATA PENGANTAR ................................................................................. iii
DAFTAR ISI .............................................................................................. v
DAFTAR TABEL ....................................................................................... viii
DAFTAR GAMBAR ................................................................................... ix

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ..................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ............................................................. 3
C. Pembatasan Masalah ............................................................ 4
D. Perumusan Masalah ............................................................ 4
E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ............................................. 4

BAB II DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA PIKIR, DAN


HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritis
1. Hakikat Model Pembelajaran Aktif .................................. 6
a. Pengertian Model Pembelajaran Aktif ........................ 6
b. Urgensi Pembelajaran Aktif ........ 10
c. Karakteristik Pembelajaran Aktif ................................. 12
2. Hakikat Mind Map .......................................................... 13
a. Pengertian Mind Map ................................................. 13
b. Cara Membuat Mind Map ........................................... 15
c. Manfaat Mind Map ..................................................... 16
d. Perbedaan Mind Map dengan Catatan Lain ................. 18
3. Hakikat Hasil Belajar Siswa ............................................. 22
4. Konsep Keanekaragaman Hayati ...................................... 28

v
vi

5. Aplikasi Pembelajaran Aktif Menggunakan Mind Map


dalam rancangan Pembelajaran ....................................... 31
B. Penelitian yang Relevan ........................................................ 34
C. Kerangka Pikir ...................................................................... 37
D. Hipotesis ............................................................................... 38

BAB III METODE PENELITIAN


A. Waktu dan Tempat Penelitian ............................................... 39
B. Variabel Penelitian ............................................................... 39
C. Metode Penelitian ................................................................ 39
1. Metode Penelitian ............................................................. 39
2. Desain Penelitian .............................................................. 39
D. Populasi dan Sampel ............................................................ 40
1. Populasi . .......................................................................... 40
2. Sampel . ............................................................................ 41
E. Teknik Pengumpulan Data..................................................... 41
F. Instrumen Penelitian ............................................................ 41
1. Kisi-Kisi Instrumen ........................................................... 41
a. Tes ................................................................................. 41
b. Angket ........................................................................... 43
c. Lembar Observasi .......................................................... 44
2. Kalibrasi Instrumen .......................................................... 46
a. Validitas Instrumen ........................................................ 46
b. Reliabilitas Instrumen .................................................... 46
c. Penghitungan Analisis Butir Soal ................................... 47
G. Prosedur Penelitian ............................................................... 48
H. Teknik Analisis Data ............................................................ 50
1. Uji Normalitas .................................................................. 50
2. Uji Homogenitas ............................................................... 51
3. Normal Gain ..................................................................... 51
4. Uji Hipotesis ..................................................................... 52
vii

I. Hipotesis Statistik .................................................................. 53

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


A. Penerapan Model Pembelajaran Aktif Menggunakan Mind Map
Pada Kelas Eksperimen dan Model Pembelajaran Aktif Pada
Kelas Kontrol ..................................................................... 54
B. Hasil Belajar Siswa .............................................................. 56
a. Deskripsi Data Hasil Belajar (Pre Test) Dua Kelompok...... 56
b. Deskripsi Data Hasil Belajar (Post Test) Dua Kelompok ... 57
C. Pengaruh Pembelajaran Aktif Menggunakan Mind Map Terhadap
Hasil Belajar Siswa .............................................................. 61

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan .......................................................................... 62
B. Saran .................................................................................... 62

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 64

LAMPIRAN ............................................................................................... 69
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1 Perbedaan antara pembelajaran aktif dengan pembelajaran
konvensional ................................................................................ 9
Tabel 2.2 Perbedaan catatan biasa dengan mind map .................................... 19
Tabel 2.3 Perbedaan peta konsep dengan mind map ..................................... 22
Tabel 3.1 Rancangan penelitian .................................................................. 40
Tabel 3.2 Kisi-kisi instrumen penelitian kognitif pada konsep
keanekaragaman hayati ................................................................ 42
Tabel 3.3 Kisi-kisi Angket .......................................................................... 44
Tabel 3.4 Kriteria penilaian observasi tahapan pembelajaran aktif
(kelas eksperimen) ........................................................................ 45
Tabel 3.5 Hasil tingkat kesukaran instrumen ............................................... 48
Tabel 4.1 Hasil Belajar Biologi (Pre Test) Kelas Eksperimen dan
Kelas Kontrol ............................................................................... 56
Tabel 4.2 Hasil Belajar Biologi (Post Test) Kelas Eksperimen dan Kelas
kontrol ......................................................................................... 57
Tabel 4.3 Penghitungan Normal Gain Kedua Kelompok .............................. 58
Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Post Test...................................................... 59
Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Post Test .................................................. 60
Tabel 4.6 Hasil Penghitungan Hipotesis Post Test ........................................ 60

ix
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1 Efektivitas model pembelajaran .............................................. 8
Gambar 2.2 Mind map software ................................................................. 16
Gambar 2.3 Peta konsep ............................................................................ 21
Gambar 2.4 Mind map................................................................................ 21
Gambar 2.5 Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan
hasil belajar ........................................................................... 26

ix
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Proses belajar mengajar adalah kesatuan dua proses antara siswa yang
belajar dan guru yang membelajarkan. 1Proses pembelajaran selama ini sebagian
besar dilakukan melalui penyampaian informasi yang berpusat pada kegiatan
mendengarkan dan menghafalkan, bukan memberikan interprestasi dan makna
terhadap apa yang dipelajari dalam upaya untuk membangun (mengkonstruksi)
pengetahuan sendiri. Di sisi lain, belajar dipandang sebagai perolehan
pengetahuan, sedangkan mengajar adalah memindahkan pengetahuan siswa.
Siswa diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan
yang diajarkan. Artinya apa yang dipahami oleh guru, itulah yang dipahami oleh
siswa. Pada akhir pembelajaran, evaluasi dilaksanakan untuk melihat seberapa
banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan. 2
Seringkali, proses belajar mengajar tidak berjalan dengan lancar. Hal ini
disebabkan oleh penggunaan model pembelajaran yang direncanakan oleh guru
tidak efektif. Penggunaan model pembelajaran dalam penyampaian konsep kepada
siswa yang kurang efektif dan efisien menyebabkan siswa merasa bosan dan
semangat dalam belajar. Sehingga hal ini tidak dapat memperbaiki cara belajar
siswa. Seharusnya guru memiliki keterampilan yang memadai di bidangnya dan
didukung oleh teknik penyajian atau metode pembelajaran yang efektif dan
efisien.
Tugas guru berusaha menciptakan suasana belajar yang menggairahkan dan
menyenangkan bagi siswa. Suasana belajar yang tidak menggairahkan dan
menyenangkan bagi siswa biasanya lebih banyak mendatangkan kegiatan
pembelajaran yang kurang harmonis. Siswa gelisah duduk berlama-lama di kursi

1
Nuryani Y. Rustaman dkk, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: Universitas
Negeri Malang, 2005), cet I, h.5
2
Mirna, Pembelajaran Berdasarkan Teori Konstruktivis, th. II, (Jurnal Pendidikan
Edukasi vol. 4 Oktober 2003, Padang: FKIP Univ. Bung Hatta,), h.75.

1
2

mereka masing-masing. Kondisi ini tentu menjadi kendala yang serius bagi
tercapainya tujuan pengajaran dan kompetensi yang diinginkan.3
Perlu adanya proses pembelajaran yang melibatkan siswa sepenuhnya.
Sehingga siswa belajar dengan melibatkan dirinya dalam pembelajaran di kelas.
Siswa melibatkan dalam belajar akan membuat siswa memahami dan
mngkonstruksi pengetahuan dengan sendirinya. Maka dari itu digunakan strategi
pelibatan siswa aktif dan menggali potensi diri siswa.
Sekian banyak strategi pelibatan siswa dalam belajar, sebagaimana
dikatakan Sally Philip dari University of Colorado, umpamanya adalah dengan
active learning dan terus dikembangkan ke dalam bentuk colaborative learning.
Active learning atau belajar aktif adalah belajar yang memperbanyak aktivitas
siswa dalam mengakses berbagai informasi dari berbagai sumber, sehingga
memperoleh berbagai pengalaman yang tidak saja menambah kompetensi
pengetahuan mereka, tetapi juga kemampuan analitis, sintesis dan menilai
informasi yang relevan untuk dijadikan nilai baru dalam hidupnya. 4
Lebih lanjut, pembelajaran aktif dimaksudkan untuk mengoptimalkan
penggunaan semua potensi yang dimiliki oleh anak didik, sehingga anak didik
dapat mencapai hasil belajar yang memuaskan sesuai dengan karakteristik pribadi
yang dimilikinya dan untuk menjaga perhatian anak didik agar tetap tertuju pada
proses pembelajaran. 5 Siswa lebih aktif dalam proses pembelajaran dan tidak
terlalu bergantung pada apa yang disampaikan oleh guru. Diharapkan penguasaan
konsep siswa akan meningkat dan pengetahuannya lebih luas.
Sedangkan, mind map merupakan cara mencatat yang kreatif, efektif, dan
secara harfiah akan memetakan pikiran-pikiran, serta membantu membuka potensi
otak sepenuhnya. 6 Manfaat mind map dapat membantu siswa dalam memahami

3
Isjoni, Strategi Pembelajaran Aktif dalam Pembelajaran Visioner: Perpaduan Indonesia-
Malaysia, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007), cet. ke-1, h.26.
4
Dede Rosyada, Pendidikan Multikultur Melalui Pendidikan Agama Islam, (Jurnal
Didaktika Islamika vol. VI No. 1 Juni 2005), h. 28-29.
5
Hartono, (2008), Strategi Pembelajaran Active Learning (online), tersedia:
http://sditalqalam.wordpress.com. Diakses 27 Januari 2009.
6
Ibid.
3

materi pelajaran sehingga belajar lebih bermakna. Mind map digunakan dalam
mengingat kembali ide atau materi yang sudah dipelajari.
Penelitian ini diberikan alternatif penggunaan model pembelajaran yaitu
model pembelajaran aktif yang digabungkan dengan penggunaan mind map.
Dalam proses pembelajaran, siswa akan diberikan tugas terstruktur berupa mind
map. Pemberian tugas dapat diberikan sebelum penyampaian materi atau dapat
diberikan sesudah penyampaian materi. Pemberian mind map dimaksudkan untuk
mengetahui kesiapan belajar siswa dan sejauh mana pengetahuan yang dimiliki
siswa tentang konsep yang diajarkan. Penggunaan model pembelajaran aktif
menggunakan mind map dapat membantu siswa dalam memahami pengetahuan
(konsep) dalam arti sebenarnya dan memecahkan masalah kesulitan belajar siswa.
Untuk mengatasi hal di atas, yang merupakan bagian kesulitan siswa maka
konsep keanekaragaman hayati diajarkan dengan model pembelajaran aktif
menggunakan mind map.
Dengan alasan tersebut maka dilakukan penelitian dengan judul: Pengaruh
Model Pembelajaran Aktif Menggunakan Mind Map Terhadap Hasil
Belajar Biologi Pada Konsep Keanekaragaman Hayati.

B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang maka dapat diidentifikasikan masalah-masalah
sebagai berikut:
1. Model pembelajaran yang tidak efektif dan efisien sering kali dilakukan oleh
guru dalam memperbaiki cara belajar siswa.
2. Siswa tidak dilibatkan secara langsung dalam proses pembelajaran. Siswa
hanya sebagai pendengar aktif saat guru aktif menjelaskan konsep.
3. Konsep-konsep biologi yang disampaikan oleh guru sering kali membosankan
siswa dalam proses penyampaian.
4. Model pembelajaran aktif menggunakan mind map memudahkan siswa dalam
memahami konsep dan mengatasi kesulitan belajar.
4

C. Pembatasan Masalah
Dari masalah-masalah yang diidentifikasikan di atas, agar penelitian ini
lebih terarah, maka ruang lingkup dibatasi yaitu
1. Subjek penelitiannya adalah siswa SMAN 8 Kota Tangerang Selatan.
2. Model pembelajaran aktif menggunakan mind map untuk memudahkan siswa
dalam mengatasi kesulitan belajarnya.
3. Hasil belajar biologi pada konsep keanekaragaman hayati yang diukur dengan
tes kognitif dengan jenjang kognitif yaitu: (1) pengetahuan/ingatan, (2)
pemahaman, (3) penerapan, (4) analisis dilakukan dengan cara pemberian tes.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan masalah di atas, maka
permasalahan dapat dirumuskan sebagai berikut: “bagaimanakah pengaruh model
pembelajaran aktif menggunakan mind map terhadap hasil belajar biologi pada
konsep keanekaragaman hayati?”

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian


Sesuai dengan permasalahan yang dikemukakan, maka penelitian ini
mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran aktif menggunakan mind
map terhadap hasil belajar biologi pada konsep keanekaragaman hayati.
2. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil belajar yang signifikan
antara dua kelompok (kelas eksperimen dan kelas kontrol).

Penelitian ini diharapkan berguna:


1. Bagi peneliti
Membantu guru dalam melakukan perbaikan-perbaikan metode belajar guna
meningkatkan mutu pengajaran, karena keberhasilan proses belajar mengajar
tidak terlepas dari peran serta guru. Dan menambah wawasan dan pemahaman
dalam upaya menerapkan model pembelajaran.
5

2. Bagi guru
Memberikan informasi tentang penerapan pembelajaran model pembelajaran
aktif menggunakan mind map untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Serta
sebagai bahan pertimbangan dalam memilih model pembelajaran sebagai
upaya meningkatkan kreativitas dan hasil belajar siswa.
3. Bagi siswa
Membantu kesulitan belajar siswa dengan menggunakan mind map,
meningkatkan kemampuan berpikir dan mengingat siswa, dan meningkatkan
kreativitas dan kerja sama pada siswa.
BAB II
DESKRIPSI TEORETIS, KERANGKA PIKIR, DAN
HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoretis
1. Hakikat Model Model Pembelajaran Aktif ( Active Learning)
a. Pengertian Pembelajaran Aktif ( Active Learning )
Perkembangan pesat utamanya dalam bidang informasi, mensyaratkan
perlunya menggeser pola pembelajaran menjadi pembelajaran yang lebih aktif dan
partisipasif. Dengan semakin meningkatnya laju perkembangan pengetahuan, guru
tidak lagi mampu menjadi satu-satunya sumber informasi. Siswa perlu menggeser
peran dari sekedar penerima pasif informasi menuju pencarian aktif pengetahuan
dan keterampilan serta menggunakannya secara bermakna. Ide perkembangan
aktif ini sebenarnya mengacu kepada bagaimana memberikan sesuatu yang
berbeda kepada orang yang berbeda.
Istilah “active learning” mengacu kepada teknik instruksional interaktif
yang mengharuskan siswa melakukan pemikiran tingkat tinggi. Siswa dalam
melakukan pembelajaran aktif dapat menggunakan sumber daya di luar
pengajar untuk memperoleh informasi, serta menunjukkan kemampuannya
menganalisis, sintesis, dan mengevaluasi melalui proyek dll. Siswa
mengorganisasikan pekerjaannya, informasi riset, diskusi dan menjelaskan
gagasan, mengamati demo/fenomena, menyelesaikan masalah dan
memformulasikan pertanyaan yang dimilikinya. Seringkali pembelajaran
aktif dikombinasikan dengan pembelajaran kerjasama/kolaborasi yaitu siswa
bekerja secara interaktif dalam tim yang memajukan ketergantungan dan
pertanggungjawaban individual untuk mencapai tujuan bersama. Sebagai
tambahan, pembelajaran aktif dapat menunjukkan berbagai kecerdasan. 1

1
Bachtiar Simamora (2008), Baldrige Daftar Istilah: Pembelajaran Aktif (online),
tersedia: www.baldrigeindo.com. Diakses 27 Januari 2009.

6
7

Pembelajaran aktif sebenarnya mengakomodasi perbedaan yang ada di


antara individu siswa. Setiap siswa bersifat unik. Siswa yang satu berbeda dengan
siswa lain dilihat dari berbagai sisi. Oleh karena itu, ada beberapa definisi tentang
pembelajaran aktif. Definisi-definisi yang dimaksud sebagai berikut:2
1. Belajar aktif menurut Meyers dan Jones, meliputi pemberian kesempatan
kepada peserta didik untuk melakukan diskusi penuh makna, mendengar,
menulis, membaca, dan merefleksi materi, gagasan, isu, dan materi akademik.
2. Paulson dan Faust mengungkapkan bahwa belajar aktif secara sederhana
merupakan segala sesuatu yang dilakukan siswa selain hanya menjadi
pendengar pasif ceramah dari guru.
3. Joint Report menyatakan bahwa belajar merupakan pencarian makna secara
aktif oleh siswa. Belajar lebih merupakan pembangunan pengetahuan daripada
sekedar menerima pengetahuan secara pasif.
4. Chickering dan Gamson menambahkan bahwa belajar tidaklah seperti
menonton olahraga. Siswa tidak akan belajar banyak hanya dengan duduk di
kelas dan mendengarkan guru, mengingat tugas-tugas, dan mengajukan
jawaban. Siswa harus mengungkapkan apa yang telah mereka pelajari,
menulisnya, menghubungkan dengan pengalaman terdahulu dan
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Pardjono mengenai pembelajaran aktif:
In active learning, knowledge is the accumulation of experience construted
by children through learning activities. The term active learning semantically
implies that student are active, that is, actively constructing their own knowledge
not just passively receiving ready-made from other people. Active learning
remerged in the 80s and 90s in the from of constructivism, which has two
principles: knowledge is not passively received but actively built up by the learner
and the function of cognition is adaptive and serves the organization of the
experiential world.
When the student is involved in active learning, the student’s taks is to
construct his or her own knowledge through classroom activities. The role of the
teacher changes from dispenser of ready-made knowledge to the a facilitator of
learning.3
Berdasarkan berbagai definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa
pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada
peserta didik untuk aktif membangun sendiri konsep dan makna melalui berbagai
macam kegiatan. Pembelajaran aktif dikembangkan berdasarkan asumsi bahwa

2
Junaedi, dkk., Strategi Pembelajaran, (Surabaya: LAPIS PGMI, 2008), h.9-10.
3
Pardjono, Active Learning: The Dewey, Piaget, Vygotsky, and Constructivist Theory
Perpectives, (Jurnal Ilmu Pendidikan Jilid 9 No. 3 Agustus 2002), h.176.
8

1) pada dasarnya belajar merupakan proses aktif dan 2) seseorang memiliki cara
belajar yang berbeda dengan orang lain.
Guru dapat memulai kegiatan pembelajaran aktif dari awal pembelajaran,
ada tiga tujuan penting yang harus dicapai. Tujuan-tujuan ini adalah sebagai
berikut:
1. Pembentukan tim: Membantu siswa untuk lebih mengenal satu sama lain dan
menciptakan semangat kerja sama dan interdependensi.
2. Penilaian sederhana: Guru mempelajari sikap, pengetahuan dan pengalaman
siswa.
3. Keterlibatan belajar langsung: Guru menciptakan minat siswa terhadap
pelajaran.
Ketiga tujuan di atas, bila dicapai akan membantu menciptakan lingkungan
belajar yang melibatkan siswa, meningkatkan keinginan siswa untuk ambil bagian
dalam kegiatan belajar aktif, dan menciptakan norma kelas yang positif. 4

Gambar 2.1. Efektivitas Model Pembelajaran5

Gambar di atas menujukkan efektivitas model pembelajaran antara


pembelajaran pasif dengan pembelajaran aktif. Pembelajaran pasif biasanya

4
Melvin Silberman, Op.cit., h. 62.
5
T.M.A. Ari Samadhi, 2008, Pembelajaran Aktif (Active Learning) (online), Teaching
Improvement Worksop, Engineering Education Development Project ADB Loan No. 1432-INO,
tersedia: www.jurnalskripsi.com. Diakses 27 Januari 2009.
9

dilakukan dengan tahap membaca, mendengarkan, melihat gambar, menonton


video, sampai dengan melihat kebiasaan suatu tempat. Sedangkan pembelajaran
aktif terdiri dari berpartisipasi dalam diskusi, memberikan pendapat sampai
melakukan penerapan. Jika dihubungkan dengan gambar di atas, mind map
termasuk dalam doing pada pembelajaran aktif.

Tabel 2.1. Perbedaan antara Pembelajaran Aktif dengan Pembelajaran


Konvensional6

Pembelajaran Konvensional Pembelajaran Aktif


Berpusat pada guru Berpusat pada anak didik
Penekanan pada menerima pengetahuan Penekanan pada menemukan
Kurang menyenangkan Sangat menyenangkan
Kurang memberdayakan semua indera Memberdayakan semua indera dan
dan potensi anak didik potensi anak didik
Menggunakan metode yang monoton Menggunakan banyak metode
Kurang banyak media yang digunakan Menggunakan banyak media
Tidak perlu disesuaikan dengan Disesuaikan dengan pengetahuan yang
pengetahuan yang sudah ada sudah ada

Pada dasarnya, pembelajaran aktif berusaha untuk memperkuat dan


memperlancar stimulus dan respons siswa dalam pembelajaran, sehingga proses
pembelajaran menjadi hal yang menyenangkan, tidak menjadi hal yang
membosankan bagi siswa. Dengan memberikan strategi pembelajaran aktif pada
siswa dapat membantu ingatan (memori) siswa, sehingga siswa dapat mencapai
tujuan pembelajaran dengan sukses. Hal ini kurang diperhatikan pada
pembelajaran konvensional. 7
Dapat disimpulkan bahwa pembelajaran aktif sangat baik dalam membantu
siswa memahami pengetahuan yang ada dan dapat mengembangkan pengetahuan
dalam kehidupan sehari-hari. Pembelajaran konvensional sangat mengekang

6
Hartono, 2008, Strategi Pembelajaran Active Learning (online), tersedia:
http://sditalqalam.wordpress.com. Diakses 27 Januari 2009
7
Ibid.
10

kemampuan siswa yang sebenarnya. Serta diharapkan guru tidak hanya terus
menggunakan pembelajaran konvensional. Untuk itu, keterampilan guru harus
ditingkatkan dalam strategi pembelajaran yang akan diterapkan dalam kelas.

b. Urgensi pembelajaran aktif


Beberapa alasan perlunya menerapkannya pembelajaran yang aktif berikut ini:
1. Riset kognitif menunjukkan bahwa menggunakan teknik ceramah saja
bukanlah strategi pembelajaran yang efektif.
2. Kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran aktif dapat mencegah sesi yang
monoton sehingga siswa akan lebih banyak memberikan perhatian dan lebih
menikmati sesi pembelajaran.
3. Pembelajaran aktif dapat mengintegrasikan bahan-bahan ataupun pengetahuan
baik yang lama maupun yang baru.
4. Dalam pembelajaran aktif siswa dilibatkan dengan keterampilan berpikir
tingkat tinggi.
5. Kegiatan-kegiatan mandiri memberikan kesempatan kepada siswa untuk
melibatkan gaya belajarnya sendiri dalam berbagai kegiatan.
6. Siswa akan lebih mampu mengulang langkah-langkah penting jika kegiatan
tersebut dilakukan mandiri.
7. Pembelajaran aktif memerlukan tanggung jawab individual dan sekaligus
tingkat kerjasama yang tinggi.
8. Pembelajaran aktif mendorong interaksi siswa dengan siswa lain dan guru.
9. Keterlibatan siswa yang tinggi dalam pembelajaran menyebabkan minat dan
motivasi belajar siswa meningkat.
Dari alasan di atas dapat ditarik kesimpulan, bahwa pembelajaran aktif
sangat diperlukan dalam mengembangkan kemampuan siswa dengan lebih efektif
dan efisien. Siswa tidak akan cepat bosan atau jenuh dalam pembelajaran di kelas.
Keterlibatan langsung siswa dalam pembelajaran dapat memotivasi untuk terus
belajar.
Selain itu ada beberapa penelitian yang menunjukkan tentang keefektifan
metode ceramah atau yang lebih dikenal dengan model pembelajaran
11

konvensional. Penelitian Trenaman menunjukkan bahwa metode ceramah hanya


efektif pada 15 menit pertama dari waktu pembelajaran. Setelah itu bila ceramah
dilanjutkan, pembelajaran akan berlangsung secara tidak bermakna.
Penelitian lain yang dilakukan oleh Polio menunjukkan bahwa siswa dalam
ruang kelas hanya memperhatikan pelajaran sekitar 40% dari waktu pembelajaran
yang tersedia. Sementara penelitian McKeachie menyebutkan bahwa dalam
sepuluh menit pertama perhatian siswa dapat mencapai 70%, dan berkurang
sampai 20% pada waktu 20 menit terakhir. Kondisi tersebut timbul antara lain
karena pada umumnya guru mendominasi seluruh proses pembelajaran, sementara
siswa lebih bersifat pasif. Kondisi nyata yang terjadi pada pembelajaran di atas
menekankan pentingnya pembelajaran aktif. 8
Untuk itu, guru tidak hanya menggunakan metode ceramah sebagai metode
penyampaian informasi atau pengetahuan kepada siswa. Sehingga saat
menjelaskan konsep, perhatian siswa kepada guru tidak berkurang.
Beberapa alasan lain yang menyiratkan pentingnya menerapkan
pembelajaran aktif, antara lain sebagai berikut:
1. Jumlah informasi sedemikian banyak di satu sisi dan di sisi lain jumlah waktu
yang tersedia terbatas.
2. Tidak semua aspek pengetahuan dapat diajarkan dengan cara yang sama,
apalagi hanya dengan dengan satu cara.
3. Orientasi pada penguasaan target materi telah berhasil dalam kompetensi
mengingat jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali peserta didik untuk
memecahkan masalah persoalan dalam kehidupan jangka panjang.
4. Hasil penelitian yang dilakukan dalam 25 tahun terakhir tentang otak manusia
menunjukkan drill hanya mengembangkan satu bagian otak manusia.
5. Di dalam belajar perlu menganut prinsip (a) empat pilar pendidikan, (b)
inkuiri sains, (c) sains, teknologi, dan masyarakat, (d) konstruktivisme, dan (e)
pemecahan masalah. Semua prinsip tersebut menuntut pembelajaran aktif.

8
Junaedi, dkk., Op.cit., h. 12-14
12

6. Proses belajar dan mengajar seharusnya berfokus pada learning, berangkat


dari masalah nyata dan menumbuhkembangkan kemampuan menggunakan
keterampilan proses.
7. Kebanyakan guru berbicara sekitar 100-200 kata per menitnya, karena siswa
mendengarkan pembicaraan guru sambil berpikir. Penambahan visual pada
proses pembelajaran dapat menaikkan ingatan sampai 171% dari ingatan
semula.
8. Penelitian mutakhir yang lain tentang otak menyebutkan bahwa belahan kanan
korteks otak manusia bekerja 10.000 kali lebih cepat dari belahan kiri otak
sadar. Pada pembelajaran aktif pemberdayaan otak kiri dan otak kanan sangat
dipentingkan.9
Merujuk pada beberapa alasan di atas, bahwa pembelajaran aktif sangat
membantu guru dalam memahami kemampuan siswa. Beragam metode dalam
pembelajaran aktif dapat mengatasi permasalahan dalam penyampaian materi
yang kerapkali dirasakan oleh siswa sangat monoton. Sedangkan kemampuan otak
kiri dan otak kanan harus diperdayakan secara seimbang. Karena pada
kenyataannya hanya otak kiri sangat dipentingkan dibandingkan otak kanan.

c. Karakteristik Pembelajaran Aktif


Menurut Bonwell (1995), pembelajaran aktif memiliki karakteristik-
karakteristik sebagai berikut:
1. Penekanan proses pembelajaran bukan pada penyampaian informasi oleh
pengajar melainkan pada pengembangan keterampilan pemikiran analitis dan
kritis terhadap topik atau permasalahan yang dibahas.
2. Siswa tidak hanya mendengarkan secara pasif tetapi mengerjakan sesuatu
yang berkaitan dengan materi pelajaran.
3. Penekanan pada eksplorasi nilai-nilai dan sikap-sikap berkenaan dengan
materi pelajaran.
4. Siswa lebih banyak dituntut untuk berpikir kritis, menganalisa dan melakukan
evaluasi.

9
Junaedi, dkk., Ibid., h. 14-15
13

5. Umpan-balik yang lebih cepat akan terjadi pada proses pembelajaran.10


Belajar aktif menuntut siswa untuk bersemangat, gesit, menyenangkan, dan
penuh gairah, serta siswa sering meninggalkan tempat duduk untuk bergerak
leluasa dan berpikir. Selama proses belajar siswa dapat beraktivitas, bergerak, dan
melakukan sesuatu dengan aktif, keaktifan siswa tidak hanya keaktifan fisik tapi
juga keaktifan mental. 11
Kesimpulan yang dapat diambil dari wacana di atas, peningkatan belajar
aktif membuat anak menghadapi belajar dalam arti yang sebenarnya. Bukan
sedekar memperoleh pengetahuan dan keterampilan, tetapi memproses dan
menggunakan pengetahuan sebagai dasar untuk mengembangkan kemampuannya
dalam berpikir kritis, kreatif, dan penalaran yang tinggi.12 Proses belajar mengajar
harus dapat menerapkan pembelajaran aktif secara tepat sasaran dengan
diperhitungkan waktu sehingga waktu tidak terbuang hanya karena banyak
kegiatan yang dilakukan dalam model pembelajaran aktif.

2. Hakikat Mind Map


a. Pengertian Mind Map
Mind Map (peta pikiran) merupakan metode belajar dalam konteks
mengingat atau merekam materi pelajaran yang perlu diingat yang nantinya
dimunculkan kembali setelah selang beberapa waktu. Metode ini memfungsikan
otak kanan dan otak kiri secara sinergis (bersamaan dan saling melengkapi). Mind
map ditemukan oleh Tony Buzan (1971).13
Peta pikiran adalah ekspresi dari radiant thinking yang merupakan fungsi
alami dari pikiran manusia. Peta pikiran ini merupakan ekspresi potensi keluasan
10
T.M.A. Ari Samadhi, 2008, Pembelajaran Aktif (Active Learning) (online), Teaching
Improvement Worshop, Engineering Education Development Project ADB Loan No. 1432_INO,
tersedia: www.jurnalskripsi.com. Diakses 27 Januari 2009.
11
Dalvi, Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa dalam Pembelajaran Agama
dengan Menggunakan Metode Belajar Aktif Tipe Kuis Tim di Kelas VIB MI Diniyah Puteri
Padang Pajang Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2005/2006, (Jurnal Guru Diknas Pendidikan
Kota Padang, No.1 Vol. 3 Juli 2006), h.60.
12
Nuniary Sefnath, Prinsip-Prinsip Belajar Aktif dalam Proses Belajar Mengajar (Suatu
Implikasi Belajar Mengajar Optimal ), (Jurnal Kependidikan Jur. Ilmu Pendidikan FKIP
UNPATTI Vol.1, No.2 November 2004), h. 142.
13
Hernowo, Bu Slim dan Pak Bil Membincangkan Pendidikan di Masa Depan: Ihwal
Life Skills, Portofolio, Kontruktivisme, dan Kompetensi, (Bandung: MLC, 2004), h.13.
14

yang tidak terbatas dari otak manusia, yang dapat diterapkan dalam berbagai
aspek kehidupan dan melatih siswa dalam berpikir.14
Mnid map is an outline in which the major categories radiate from a central
image and lesser categories are captured as branches of large branches.15
Mind map adalah alternatif pemikiran keseluruhan otak terhadap pemikiran
linier. Mind map menggapai ke segala arah dan merangkai berbagai pikiran dari
segala sudut. Mind map adalah cara termudah untuk menempatkan informasi ke
dalam otak dan mengambil informasi ke luar otak.16
Mind map merupakan peta rute bagi ingatan, memungkinkan siapa pun
menyusun fakta dan pikiran sedemikian rupa sehingga cara kerja alami otak
dilibatkan sejak awal. Ini berarti mengingat informasi akan
lebih mudah dan lebih dapat diandalkan daripada menggunakan teknik pencatatan
tradisional. 17
Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa mind map adalah
cara termudah untuk menempatkan informasi ke dalam otak dan memudahkan
pengguna untuk mengingat atau mengambil informasi ketika dibutuhkan kembali.
Atau mind map merupakan cara mencatat yang kreatif, efektif, dan memetakan
pikiran-pikiran, secara menarik, mudah, dan berdaya guna bagi setiap siswa untuk
menghasilkan gagasan, mencatat apa yang dipelajari atau merencanakan tugas
baru.
Mind map merupakan bentuk penulisan catatan yang penuh warna dan
bersifat visual, yang dapat dikerjakan oleh satu orang atau satu tim. Di pusatnya
terdapat sebuah gagasan atau gambar sentral. Gagasan utama tersebut dieksplorasi
melalui cabang-cabang yang mewakili gagasan-gagasan utama, yang kesemuanya
terhubung pada gagasan sentral itu.

14
Ida Bagus Putu Arnyana, Pengembangan Peta Pikiran Untuk Meningkatkan
Kecakapan berpikir Kreaif Siswa, (Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH
XXXX Juli 2007), h.680..
15
John W. Budd, Mind Map As Classroom Exercises, ( Minneapolis: University of
Minneasota, 2003), tersedia: jbudd@csom.umn.edu, diakses 6 Juni 2010.
16
Bagus Taruno Legowo, Freemind: Mind Mapping Software, (Sidoarjo: Masmedia
Buana Pustaka, 2009), h.5
17
Tony Buzan, Buku Pintar Mind Map, (Jakarta: Gramedia, 2009), cet. ke 7, h.5.
15

Di setiap cabang ”gagasan utama” ada cabang-cabang ”sub gagasan” yang


mengeksplorasi tema-tema tersebut secara lebih mendalam. Pada cabang sub
gagasan ini dapat ditambahkan lebih banyak sub cabang lagi, sambil terus
mengeksplorasi gagasan secara mendalam lagi. Sama seperti semua cabang itu
pun demikian. Faktor ini membuat mind map memiliki ruang lingkup yang
mendalam dan luas, yang tidak dimiliki oleh gagasan biasa. 18
Semua mind map mempunyai kesamaan. Yaitu menggunakan warna,
memiliki struktur alami yang memancar dari pusat, menggunakan garis lengkung,
simbol, kata, dan gambar yang sesuai dengan cara kerja otak. Dengan mind map,
daftar informasi yang panjang dapat dialihkan menjadi diagram warna-warni,
sangat teratur dan mudah diingat yang bekerja selaras dengan cara kerja alami
otak dalam melakukan berbagai hal.19
Sehingga dapat disimpulkan bahwa semua mempunyai kesamaan tapi hanya
berbeda dari segi kreativitas. Kreativitas setiap orang berbeda-beda dan juga
tergantung pada bagaimana seseorang mengasah kreativitas yang membuat ia
berbeda dari yang lain.

b. Cara Membuat Mind Map


Berikut cara membuat mind map yang didapat dari berbagai sumber.
Tujuh langkah membuat mind map yaitu:
1. Mulailah dari tengah kertas kosong.
2. Gunakan gambar (simbol) untuk ide utama.
3. Gunakan berbagai warna.
4. Hubungkan cabang-cabang utama ke gambar pusat. Buatlah ranting-ranting
yang berhubungan ke cabang dan seterusnya
5. Buatlah garis hubung yang melengkung.
6. Gunakan satu kata kunci untuk setiap garis.

18
Ida Bagus Putu Arnyana, Pengembangan Peta Pikiran Untuk Meningkatkan Kecakapan
berpikir Kreaif Siswa, (Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH XXXX Juli
2007), h.677-678.
19
Tony Buzan, Op.cit., h.5.
16

7. Gunakan gambar.20
Selain cara di atas, membuat mind map dapat menggunakan software
seperti freemind. Software mind map dapat diakses melalui internet atau
membelinya.

Gambar 2.3 Mind Map Software

c. Manfaat Mind Map


Guru menyuruh siswa untuk membuat peta pikiran memungkinkan siswa
untuk mengidentifikasi dengan jelas dan kreatif apa yang telah pelajari atau apa
yang tengah direncanakan. Mind map sangat baik digunakan untuk pengetahuan
awal siswa atau untuk menemukan alternatif jawaban.
Mind Map sebenarnya juga dapat digunakan untuk brainstorming; jembatan
diskusi, berbagi ide, dan mengerjakan proyek bersama.21 Brainstorming (curahan

20
Fidelis E. Waruwu, Mind Mapping (online), Education Training & Consultan, tersedia:
www.edutraco.com atau fidelis@edutraco.com. Diakses 27 Januari 2009.
21
Nazala Harish, Mind Mapping (online), tersedia: http://lahar-idesign.blogspot.com.
Diakses 27 Januari 2010.
17

pendapat) adalah langkah eksplorasi dan inventarisasi ide melalui curah pendapat
tentang topik tertentu dengan bebas tanpa seleksi.22 Mind Map berfungsi sebagai
alat bantu untuk memudahkan otak bekerja. Manfaat mind map adalah :
1. Mempercepat pembelajaran
2. Melihat koneksi antar topik yang berbeda
3. Membantu ‘brainstorming’
4. Memudahkan ide mengalir
5. Melihat gambaran besar
6. Memudahkan mengingat
7. Menyederhanakan struktur23
Sedangkan menurut Michael Michalko, mind map memiliki manfaat yaitu:
1. Mengaktifkan seluruh otak.
2. Membereskan akal dari kekusutan mental.
3. Memungkinkan kita focus pada fokus bahasan.
4. Membantu menunjukkan hubungan antar bagian-bagian informasi yang saling
terpisah.
5. Memberi gambaran yang jelas pada keseluruhan dan perincian.
6. Memungkinkan kita mengelompokkan konsep dan membantu kita
membandingkannya.
7. Menyaratkan kita untuk memusatkan perhatian pada pokok bahasan yang
membantu mengalihkan informasi dari ingatan jangka pendek ke ingatan
jangka panjang.24
Mind map akan membantu siapa pun dalam meningkatkan kecepatan
berpikir, memberikan kelenturan yang tidak terbatas, dan menjelajah jauh dari
pemikiran sendiri. Mind map menghemat waktu, memungkinkan siapa pun
menyusun dan menjelaskan pikiran, menghasilkan ide-ide baru, melacak

22
Wahdi Sayuti, Model Pembelajaran Konstruktivisme, (Jurnal Kependidikan Keislaman
dan Kebudayaan Didaktika Islamika, Vol. VI No. 1 Juni 2005), h.122.
23
Op.cit.
24
Bagus Taruno Legowo, Freemind: Mind Mapping Software, (Sidoarjo: Masmedia
Buana Pustaka, 2009), h.9.
18

segalanya, memperbaiki ingatan dan konsentrasi, lebih merangsang otak, dan


memungkinkan siapa pun tetap melihat “gambar keseluruhan”.25
Dapat disimpulkan, bahwa mind map bermanfaat untuk menggali
pengetahuan siswa, membuat perencanaan kegiatan, memudahkan siswa
memahami konsep sehingga tercipta pembelajaran bermakna dan kreativitas siswa
dikembangkan. Serta kemampuan mengingat juga dikembangkan, siswa dapat
memahami konsep tanpa harus menghafal kembali tetapi dengat mengingat
kembali.

d. Perbedaan Mind Map dengan Metode Catatan Linier dan Peta Konsep
1. Perbedaan Mind Map dengan Metode Catatan Linier
Mencatat merupakan salah satu usaha untuk meningkatkan daya ingat. Otak
manusia dapat menyimpan segala sesuatu yang dilihat, didengar dan dirasakan.
Tujuan pencatatan adalah membantu mengingat informasi yang tersimpan dalam
memori. Tanpa mencatat dan mengulangi informasi, siswa hanya mampu
mengingat sebagian kecil materi yang diajarkan.
Umumnya siswa membuat catatan tradisional dalam bentuk tulisan linier
panjang yang mencakup seluruh isi materi pelajaran, sehingga catatan terlihat
sangat monoton dan membosankan. Umumnya catatan monoton akan
menghilangkan topik-topik utama yang penting dari materi pelajaran.
Otak tidak dapat langsung mengolah informasi menjadi bentuk rapi dan
teratur melainkan harus mencari, memilih, merumuskan dan merangkainya dalam
gambar-gambar, simbol-simbol, suara, citra, bunyi dan perasaan sehingga
informasi yang keluar satu persatu dihubungkan oleh logika, diatur oleh bahasa
dan menghasilkan arti yang dipahami.

25
Tony Buzan, Op.cit., h. 110
19

Berikut ini disajikan perbedaan antara catatan tradisional (catatan biasa)


dengan catatan pemetaan pikiran (mind map).

Tabel 2.2. Perbedaan Catatan Biasa dengan Mind Map


Catatan Biasa Mind Map
1. hanya berupa tulisan-tulisan saja 1. berupa tulisan, simbol dan gambar
2. hanya dalam satu warna 2. berwarna-warni
3. untuk mereview ulang memerlukan 3. untuk mereview ulang diperlukan
waktu yang lama waktu yang pendek
4. waktu yang diperlukan untuk belajar 4. waktu yang diperlukan untuk belajar
lebih lama lebih cepat dan efektif
5. statis 5. membuat individu menjadi lebih kreatif

Dari uraian tersebut, mind map adalah satu teknik mencatat yang
mengembangkan gaya belajar visual. Mind map memadukan dan mengembangkan
potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang. Dengan adanya
keterlibatan kedua belahan otak maka akan memudahkan seseorang untuk
mengatur dan mengingat segala bentuk informasi, baik secara tertulis maupun
secara verbal. Adanya kombinasi warna, simbol, bentuk dan sebagainya
memudahkan otak dalam menyerap informasi yang diterima. Mind map yang
dibuat oleh siswa dapat bervariasi setiap hari. Hal ini disebabkan karena
berbedanya emosi dan perasaan yang terdapat dalam diri siswa setiap harinya.26

2. Perbedaan Mind Map dengan Metode Peta Konsep


Peta konsep mirip dengan mind map. Peta konsep menyediakan bantuan
visual konkrit untuk membantu mengorganisasikan informasi sebelum informasi
tersebut dipelajari. Peta konsep adalah ilustrasi grafik konkrit yang
mengindikasikan bagaimana sebuah konsep tunggal dihubungkan ke konsep-
konsep lain pada kategori yang sama. Peta konsep disusun secara hirarki, artinya

26
R. Teti Rostikawati, Mind Mapping Dalam Metode Quantum Learning Pengaruhnya
Terhadap Prestasi Belajar Dan Kreatifitas Siswa (online). Biology Education Study Program
FKIP UNPAK. Tersedia : http://www.sman 1-btg.sch.id. Diakses 29 November 2009.
20

konsep yang lebih inklusif diletakkan pada puncak peta, makin ke bawah konsep-
konsep diurutkan menjadi konsep yang kurang inklusif.
Langkah-langkah dalam membuat peta konsep sebagai berikut:
1. memilih suatu bahan bacaan
2. menentukan konsep-konsep yang relevan
3. mengurutkan konsep-konsep dari konsep yang inklusif ke kurang inklusif
4. menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep yang inklusif
diletakkan di bagian atas atau puncak peta lalu dihubungkan dengan kata
penghubung misalnya “terdiri atas”, “menggunakan” dan lain-lain.
Peta konsep ada empat macam, yaitu pohon jaring (network tree), rantai
kejadian (events chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep
laba-laba (spider concept map).27
Peta konsep menunjukkan bagaimana pengetahuan yang dibangun oleh
pikiran manusia. Pada peta konsep, siswa hanya fokus pada definisi konsep,
belajar menghubungkan konsep yang satu dengan konsep yang lain.28

27
Trianto S, Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta:
Prestasi pustaka, 2007), cet. ke-1, h.157-161.
28
Bang Khanh Nong, dkk., Integrate the Digital Mindmapping into Teaching and
Learning Psychology (online), Teacher Training Component–ICT, VVOB Education Program
Vietnam. Tersedia: www.unescobkk.org. Diakses 13 Januari 2010.
21

Gambar 2.3. Peta konsep


Sumber: http://3.bp.blogspot.com

Gambar 2.4. Mind map


Sumber: http://www.mind-mapping.co.uk
22

Tabel 2.3. Perbedaan Peta Konsep dengan Mind Map

Peta konsep Mind map

1. Berupa kata/konsep, tetapi 1. Berupa kata/konsep, tetapi tidak


terdapat kata hubung antarkonsep. terdapat kata hubung antarkonsep.

2. Konsep yang lebih inklusif 2. Konsep yang lebih inklusif


diletakkan pada puncak peta, diletakkan pada tengah peta, konsep
makin ke bawah konsep-konsep yang kurang inklusif diletakkan di
diurutkan menjadi konsep yang cabang-cabang peta.
kurang inklusif. Sehingga peta
konsep disusun secara hirarki.

3. Ada empat macam peta konsep 3. Bentuk mind map disesuaikan


yaitu, pohon jaring (network tree), dengan pembuatnya. Sehingga
rantai kejadian (events chain), peta pembuat dapat membuat mind map
konsep siklus (cycle concept map), sesuai dengan kreativitasnya.
dan peta konsep laba-laba (spider
concept map).
*Sumber: Trianto S. dan Tony Buzan
Terlihat jelas perbedaan antara peta konsep dengan mind map, kedua
memiliki bentuk struktur. Tetapi kedua sangat berguna dalam memahami konsep
dengan cepat dan singkat.
Selain perbedaan di atas, membuat peta konsep kadang-kadang harus
konstruk dibandingkan mind map. Secara terstruktur dan ide diurutkan pada peta
konsep lebih baik dengan mind map yang terkadang berakibat membingungkan.
Serta peta konsep menyediakan banyak informasi pada suatu topik dibanding
mind map.29

3. Hakikat Belajar dan Hasil Belajar Siswa


Suatu aktivitas pembelajaran dapat dikatakan efektif bila proses
pembelajaran tersebut dapat mewujudkan sasaran atau hasil belajar tertentu.
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh
suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil

29
Astrid Brikmann, Knowledge Maps – Tools For Building Structure In Mathematics,
tersedia: astrid.brinkmann@math.-edu.de. Diakses 9 Juni 2010.
23

pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Perubahan yang


terjadi dalam diri seseorang banyak baik sifat maupun jenisnya karena itu tidak
setiap perubahan dalam diri seseorang merupakan perubahan dalam arti belajar.
Belajar (learning), sering kali didefinisikan sebagai perubahan yang secara
relatif berlangsung lama pada masa berikutnya yang diperoleh kemudian dari
pengalaman-pengalaman. Belajar itu sendiri merupakan suatu kegiatan yang
terjadi di dalam diri seseorang, yang sukar untuk diamati secara langsung. 30
Muhibbin Syah dalam bukunya mendefisinikan belajar sebagai tahapan
perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai pengalaman
dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif. 31
Belajar adalah suatu aktivitas yang bertujuan mengubah perilaku seseorang
ke arah yang lebih sempurna. Perubahan itu mencakup perubahan aktual dan
potensial, perubahan dibuktikan dengan didapatkannya kecakapan baru, dan
perubahan terjadi karena usaha dan disengaja. 32
Dari beberapa pengertian tentang belajar di atas dapat dipahami bahwa
belajar adalah suatu kegiatan yang disengaja dilakukan untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman interaksi dengan
lingkungan.
Perubahan yang terjadi dalam diri individu banyak baik sifat maupun
jenisnya, tetapi tidak semua perubahan tingkah laku adalah hasil belajar.
Perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
a. Perubahan yang terjadi secara sadar
b. Perubahan dalam belajar bersifat kontinu dan fungsional
c. Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
d. Perubahan dalam belajar bukan bersifat sementara
e. Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah

30
Abdul Rahman Shaleh, Psikologi: Suatu Pengantar Dalam Perspektif Islam, (Jakarta:
Kencana, 2008), cet. ke-3, h. 205
31
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekaatn Baru, (Bandung: PT.
Remaja Rosda Karya, 2008), cet. ke-14, h.92.
32
Idri Shaffat, Optimized Learning Strategy: Pendekatan Teoritis dan Praktis Meraih
Keberhasilan Belajar, (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2009), cet. ke-1, h.5.
24

f. Perubahan mencakup seluruh aspek tingkah laku33


Menurut Sumadi S., hal-hal yang kita dapat simpulkan mengenai belajar
sebagai berikut:
a. Bahwa belajar itu membawa perubahan (dalam arti behavioral changes, aktual
maupun potensial).
b. Bahwa perubahan itu pada pokoknya adalah didapatkannya kecakapan baru.
c. Bahwa perubahan itu terjadi karena usaha (dengan sengaja).34
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan mengenai tujuan belajar sangat
terkait dengan kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik yaitu:
1. mendapatkan pengetahuan (acquiring konwledge)
2. penanaman konsep dan keterampilan
3. pembentukan sikap35
Berhasil atau tidaknya seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor
yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar, baik yang berasal dari dalam diri
individu yang sedang belajar (internal), maupun yang berasal dari luar individu
(eksternal).
Adapun faktor-faktor internal antara lain:
a. Faktor jasmaniah, yang meliputi kesehatan dan cacat tubuh
b. Faktor psikologis, yaitu intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif,
kematangan, dan kesiapan.
c. Faktor kelelahan, kelelahan pada seseorang walaupun sulit dipisahkan tetap
dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan
rohani.

33
Slameto , Op.cit., h.3-4.
34
Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada, 2005),
cet. ke-13, h.232.
35
Idris Shaffat, Op.cit., h. 6-7.
25

Sedangkan faktor eksternal yang dapat berpengaruh terhadap hasil belajar,


antara lain:
a. Faktor keluarga, siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga
berupa, cara orang tua mendidik, relasi antaranggota keluarga, suasana rumah
tangga, dan keadaan ekonomi.
b. Faktor sekolah, faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup
metode belajar, kurikulum, relasi guru dan siswa, relasi siswa dengan siswa,
disiplin sekolah, pelajaran dan waktu belajar, standar pelajaran, keadaan
gedung, metode belajar dan tugas rumah.
c. Faktor masyarakat, masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga
berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan
siswa dalam masyarakat, yang meliputi kegiatan siswa dalam masyarakat,
mass media, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat, yang semua
mempengaruhi belajar. 36
Menurut Zikri Neni Iska, faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil
belajar:37
1. Internal (dalam), yaitu:
a. Fisiologi, yang terdiri dari kondisi fisik dan panca indera.
b. Psikologi, yang terdiri dari bakat minat, kecerdasan, motivasi, dan
kemampuan kognisi.
2. Eksternal (luar), yaitu:
a. Lingkungan, yang terdiri dari alam dan sosial.
b. Instrumental, yang terdiri dari kurikulum, guru, sarana dan prasarana,
administrasi dan manajemen.

36
Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya, (Jakarta: PT. Rineka
Cipta, 2003), cet. ke- 4, h.54-71.
37
Zikri Neni Iska, Psikologi: Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan, (Jakarta: Kizi
Brother’s, 2006), cet. ket-1, h.85.
26

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar yang meliputi


faktor internal dan faktor eksternal di atas bila diskemakan akan tampak seperti
pada diagram berikut:38

Faktor Fisiologis Kondisi Fisiologis Umum

Kondisi Pancaindera
Faktor Internal
Intelegensi

Perhatian

Faktor Psikologis
Minat dan Bakat

Faktor-faktor yang Motif dan Motivasi


Mempengaruhi Belajar

Kognitif dan Daya Nalar

Alam

Fak. Lingkungan

Sosial

Faktor Eksternal

Kurikulum

Fak. Instrumental

Sarana dan Fasilitas

Guru

Gambar 2.5. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar

Hasil belajar atau achievement merupakan realisasi atau pemekaran dari


kecakapan-kecakapan potensial atau kapasitas yang dimiliki seseorang.
Penguasaan hasil belajar oleh seseorang dapat dilihat dari perilakunya, baik
perilaku dalam bentuk penguasaan pengetahuan, keterampilan berpikir maupun
keterampilan motorik. Hampir sebagian terbesar dari kegiatan atau perilaku yang

38
Yudhi Munadi, Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru, (Jakarta: Gaung
Persada Press, 2008), cet. ke-1, h.35.
27

diperlihatkan seseorang merupakan hasil belajar. Di sekolah hasil belajar ini dapat
dilihat dari penguasaan siswa akan mata-mata pelajaran yang ditempuhnya.39
Penguasaan konsep yang dimaksud dalam penelitian ini adalah penguasaan
konsep dalam ranah kognitif berdasarkan taksonomi Bloom yang merupakan
penguasaan bahan pelajaran berkenaan dengan kemampuan berpikir setelah
pembelajaran. Ranah kognitif ini merupakan ranah lebih banyak melibatkan
mental atau otak.
Pada ranah kognitif terdapat enam jenjang proses berpikir yakni: (1)
pengetahuan/ingatan – knowledge, (2) pemahaman – comprehension, (3)
penerapan – application, (4) analisis – analysis, (5) sintesis – synthesis, dan (6)
evaluation.
Sedangkan ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik
dalam berbagai tingkah laku, seperti perhatian terhadap pelajaran, kedisplinan,
motivasi, rasa hormat kepada guru, dan sebagainya. Ranah afektif ini dirinci oleh
Krathwohl dkk., menjadi lima jenjang, yakni: (1) perhatian/penerimaaan
(receiving), (2) tanggapan (responding), (3) penilaian/penghargaan (valuing),
pengorganisasian (organization), dan (5) karakterisasi terhadap suatu atau
beberapa nilai (characterization by a value or value complex).
Hasil belajar psikomotorik merupakan ranah yang berkaitan dengan
keterampilan (skill) atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima
pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotorik meliputi (1) persepsi, (2)
kesiapan, (3) gerakan terbimbing, (4) gerakan terbiasa, (5) gerakan kompleks, (6)
penyesuaian pola gerakan dan (7) kreativitas.40
Keberhasilan siswa dalam memahami sesuatu yang diajarkan oleh guru,
sangat ditentukan oleh keberhasilan siswa menyimpan abstraksi konsep-konsep
tersebut dalam struktur kognitifnya.41

39
Nana Syaodih Sukmadinata, Landasan Psikologi Proses Pendidikan, (Bandung:
Remaja Rosdakarya, 2007), cet. ke-4, 102-103.
40
Ahmad Sofyan dkk., Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN
Jakarta Press, 2006), cet. ke-1, h.14-20.
41
Yanti Herlanti, Strategi Pengolahan Bahan Ajar Ilmu Pengetahuan Alam, ( Jurnal
Edusains Vol. 1 No. 1, Juni 2008), h.30.
28

Pencapaian belajar atau hasil belajar diperoleh setelah dilaksanakannya


suatu program pengajaran. Penilaian atau evaluasi pencapaian hasil belajar
merupakan langkah untuk mengetahui seberapa jauh tujuan kegiatan belajar
mengajar (KBM) suatu bidang studi atau mata pelajaran telah dapat dicapai.42 Dan
penilaian yang dilakukan oleh guru adalah mengukur kemampuan siswa dalam
belajar dengan cara tes.
Tes adalah instrumen pengumpulan data untuk ujian yang paling tradisional
dan banyak digunakan dunia pendidikan. Berdasarkan teori pengukuran yang
digunakan untuk pengembangan tes, suatu tes yang baik harus mengukur dengan
valid kemampuan peserta didik. Apabila kemampuan itu adalah hasil yang
diperoleh peserta didik dari suatu proses belajar, maka tes tersebut harus mampu
memberikan informasi yang benar mengenai kemampuan tersebut. 43 Dalam
penelitian ini, dengan mempertimbangkan waktu dan tujuan maka hasil belajar
yang diukur hanya dari aspek kognitif berupa tes objektif.

4. Konsep Keanekaragaman Hayati


Konsep menunjukkan suatu hubungan antar konsep-konsep yang lebih
sederhana sebagai dasar perkiraan atau jawaban manusia terhadap pertanyaan
yang bersifat asasi tentang mengapa suatu gejala itu dapat terjadi. Konsep
merupakan pikiran seseorang atau sekolompok orang orang yang dinyatakan
dalam definisi sehingga melahirkan produk pengetahuan meliputi prinsip, hukum,
dan teori. Konsep diperoleh dari fakta, peritiwa, pengalaman, melalui generalisasi
dan berpikir abstrak. Konsep dapat mengalami perubahan disesuaikan dengan
fakta atau pengetahuan baru, sedangkan kegunaan konsep adalah menjelaskan dan
meramalkan. 44

42
Dwi Apriyani, Peningkatan Hasil Belajar Biologi Siswa Dengan Menggunakan
Pendekatan Interaktif pada Konsep Sistem Pernapasan Pada Manusia (Skripsi), Prodi
Pendidikan Biologi Jurusan PIPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 1429 H/2008 M (online),
h.11. Tersedia: http://idb4.wikispaces.com. Diaskes 29 Desember 2009.
43
S. Hamid Hasan, Pendidikan, Kualitas, dan Ujian Nasional dalam Menggugat Ujian
Nasional, (Jakarta: Teraju, 2007), cet. ke -1, h. 43.
44
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu Memecahkan
Problematika Belajar dan Mengajar, (Bandung: Alfabeta, 2008), cet. Ke-6, h.71.
29

Konsep menurut Hilda Taba seperti yang dikutip Wina Sanjaya lebih tinggi
tingkatannya dari ide pokok. Memahami konsep berarti memahami sesuatu yang
abstrak sehingga mendorong anak untuk berpikir lebih mendalam. Konsep akan
muncul dalam berbagai konteks, sehingga pemahaman konsep akan terkait dalam
berbagai situasi. 45
Berdasarkan pengertian-pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa
konsep merupakan suatu abstraksi yang menggambarkan ciri-ciri, karakter atau
atribut yang sama dari sekelompok objek dari suatu fakta, baik merupakan proses,
peristiwa, benda, atau fenomena di alam yang membedakannya dari kelompok
lainnya.46
Keanekaragaman hayati ditunjukkan dengan adanya variasi makhluk hidup
yang meliputi bentuk, penampilan, jumlah, serta ciri lain. Variasi makhluk hidup
terdapat pada tingkat gen, spesies, dan ekosistem. Keseluruhan variasi pada ketiga
tingkat tersebut membentuk keanekaragaman hayati. 47
Keanekaragaman hayati tingkat gen adalah keanekaragaman yang
menyebabkan variasi antarindividu pada bentuk, penampilan, warna, ataupun hal
lainnya, yang masih berada dalam tingkat spesies yang sama. Gen merupakan
materi di dalam sel yang mengatur dan mengendalikan sifat atau penampilan suatu
makhluk hidup. Setiap makhluk hidup mempunyai susunan gen yang berbeda-
beda. Contohnya : berbagai macam kelapa yaitu kelapa gading; kopyor; hidrid;
dan kelapa hijau.
Keanekaragaman hayati tingkat jenis/spesies adalah keanekaragaman yang
menyebabkan variasi antarspesies, lebih mudah diamati karena perbedaan lebih
menyolok. Keanekaragaman hayati tingkat spesies dapat diamati pada tingkat
takson yang lebih tinggi dari spesies seperti genus dan familia. Contohnya :
variasi famili Palmae antara lain kelapa; siwalan, aren dan pinang.

45
Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain SistemPembelajaran,(Jakarta: Kencana,
2008), cet. I, h. 144.
46
Nuryani Y. Rustaman dkk, Strategi Belajar Mengajar Biologi, (Malang: Unversitas
Negeri Malang, 2005), cet I, h.50.
47
Diah Aryulina, dkk., Biologi 1: SMA dan MA untuk Kelas X., (Jakarta: Esis Erlangga,
2004), h.143.
30

Keanekaragaman ekosistem adalah dari semua variasi yang ada pada setiap
tingkat jenis akan mempunyai tempat hidup yang berbeda, tempat hidup ini akan
membentuk ekosistem yang berbeda pula. Keanekaragaman hayati tingkat
ekosistem melibatkan komponen fisik dan komponen kimia (komponen abiotik)
dan komponen biotik, sebagai penyusun dari ekosistem itu sendiri. Komponen
fisik misalnya iklim, air, tanah, udara, cahaya, suhu, kelembaban, topografi, dan
geologi. Komponen kimia misalnya, keasaman, kandungan mineral, dan salinitas.
Sedangkan, komponen biotiknya adalah makhluk hidup. Contohnya : kelapa
ekosistemnya di daerah pantai.
Manfaat mempelajari keanekaragaman hayati antara lain:
a. mengetahui manfaat masing-masing jenis bagi kehidupan manusia
b. mengetahui adanya saling ketergantungan makhluk hidup
c. mengetahui ciri-ciri dan sifat masing-masing jenis
d. mengetahui kekerabatam antar makhluk hidup
e. mengetahui manfaat keanekaragaman dalam mendukung kelangsungan hidup
manusia
Pemanfaatan keanekaragaman hayati melalui usaha pelestarian
a. Tebang pilih, yaitu penebangan pohon secara selektif (terpilih) bagi pohon-
pohon yang memenuhi persyaratan untuk ditebang, baik dari segi umur,
ketersediaan jenisnya, maupun jumlahnya.
b. Reboisasi, yaitu penanaman kembali hutan bekas tebangan dengan tumbuhan
yang masih muda.
c. Perburuan musiman, yaitu pemanfaatan SDA pada musim tertentu, yaitu
menghindari berburu pada musim kawin, masa hamil, atau masa beranak.
d. Penganekaragaman bahan pangan, yaitu pemanfaatan SDA sebagai bahan
pangan secara bervariasi dengan menghindari penggunaan bahan makanan
satu jenis saja sehingga tidak menghabiskan jenis tersebut.
Pelestarian keanekaragaman hayati melalui usaha perlindungan yaitu:
1. Perlindungan alam, dalam usaha menjaga kelestarian alam. Ada 2 cara, yaitu:
a. Pelestarian in situ yaitu pelestarian alam di habitat aslinya. Misalnya
taman wisata, taman nasional, dan hutan lindung.
31

b. Pelestarian ex situ, pelestarian alam bukan di habitat aslinya. Misalnya


kebun koleksi, kebun botani, kebun binatang, dan kebun plasma nuftah.
2. Macam-macam perlindungan alam
a. Perlindungan alam umum, yaitu secara terbimbing oleh para ahli atau
diarahkan (seperti Kebun Raya Bogor dan Taman Nasional), dan secara
ketat yang sesuai kehendak alam tanpa adanya campur tangan manusia
kecuali jika diperlukan.
b. Perlindungan alam khusus, yaitu yang ditujukan kepada satu atau beberapa
unsur alam tertentu. Contohnya: perlindungan botani, perlindungan
zoologi, perlindungan geologi, perlindungan alam antropologi, dan
perlindungan ikan.
c. Perlindungan satwa langka, yaitu yang dikenal dengan suaka marga satwa.
Cara pelestariannya diantaranya:
1. Dibuat undang-undang perburuan serta tindakan hukuman bagi
pelanggar.
2. Membiarkan hewan-hewan langka yang hampir punah.
3. Memindahkan hewan langka yang hampir punah ke habitat yang lebih
cocok.48

5. Aplikasi Pembelajaran Aktif Menggunakan Mind Map Dalam Rancangan


Pembelajaran
Rancangan pembelajaran pembelajaran aktif menggunakan rancangan
pembelajaran konstruktivisme. Model pembelajaran aktif merupakan bagian
konstruktivisme.
Konstruktivisme merupakan model pembelajaran mutakhir yang
mengdepankan aktivitas siswa dalam setiap interaksi edukatif untuk dapat
melakukan eksplorasi dan menemukan pengetahuannya sendiri.49

48
Endah Sulistyowati, Keanekaragaman Hayati (online), tersedia:
hhtp:://endahsulistyowati.wordpress.com. Diakses 22 November 2009.
49
Wahdi Sayuti, Model Pembelajaran Konstruktivisme, (Jurnal Kependidikan Keislaman
dan Kebudayaan Didaktika Islamika, Vol. VI No. 1 Juni 2005), h.114.
32

Konstruktivisme adalah sebuah teori yang memberikan kebebasan terhadap


manusia yang ingin belajar atau mencari kebutuhannya dengan kemampuan untuk
menemukan keinginan atau kebutuhannya tersebut dengan bantuan fasilitasi orang
lain.
Adapun tujuan dari teori ini dalah sebagai berikut:
1. Adanya motivasi untuk siswa bahwa belajar adalah tanggung jawab siswa itu
sendiri.
2. Mengembangkan kemampuan siswa untuk mengajukan pertanyaan dan
mencari sendiri pertanyaannya.
3. Membantu siswa untuk mengembangkan pengertian dan pemahaman konsep
secara lengkap.
4. Mengembangkan kemampuan siswa untuk menjadi pemikir yang mandiri.
5. Lebih menekankan pada proses belajar bagaimana belajar itu. 50
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek
aktif menciptakan struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan
lingkungan. Dengan bantuan struktur kognitifnya ini, subyek menyusun
pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh realitas tersebut
disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri. Struktur
kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan
dan organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus
menerus melalui proses rekonstruksi.
Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses
pembelajaran, siswa yang harus mendapatkan penekanan. Siswa yang harus aktif
mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Siswa
yang harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa
secara aktif ini perlu dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan
membantu siswa untuk berdiri sendiri dalam kehidupan kognitif siswa. 51

50
Surianto, Teori Pembelajaran Konstruktivisme (online), tersedia:
http://surianto200477.wordpress.com. Diakses 1 Juni 2010.
51
Dina Gasong, Model Pembelajaran Konstruktivistik Sebagai Alternatif Mengatasi
Masalah pembelajaran (online). Tersedia: www.gerejatoraja.com. Diakses 5 April 2010.
33

Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan


adaptasi kemanusiaan berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi
dengan teman sekelas, yang kemudian dikontemplasikan dan dijadikan ide dan
pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari mendidik dan mengajar
tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada siswa.
Beberapa hal yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu:
(1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks yang relevan,
(2) mengutamakan proses, (3) menanamkan pembelajaran dalam konteks
pengalaman sosial, (4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi
pengalaman.52
Guru memotivasi siswa untuk menyampaikan pendapat siswa tentang
fenomena sains dalam kelas konstruktivis. Siswa dapat menyanggah pendapat
guru jika siswa berbeda pendapat dengan guru, karena apa yang disampaikan dan
dipercaya ”benar” oleh guru dapat saja ”salah”. Guru juga diharapkan dapat
memberi respon yang lebih dari sekedar mengatakan benar dan tidak ketika siswa
memberikan suatu pernyataan, sehingga guru harus mendengar penjelasan dan
pendapat siswa secara baik. 53
Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menemukan
dan mentransformasikan suatu informasi yang kompleks ke situasi lain dan
informasi itu menjadi milik mereka sendiri. Dengan dasar ini pembelajaran harus
dikemas menjadi proses mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan.
Proses pembelajaran IPA lebih menekankan pada pembentukan
keterampilan memperoleh pengetahuan yaitu daya pikir dan daya kreasi.
Sementara daya pikir kreasi sebagai indikator dari pengembangan kognitif itu
sendiri bukan merupakan akumulasi kepentingan perubahan perilaku terpisah
melainkan merupakan pembentukan oleh anak, suatu kerangka teori belajar
terhadap usaha seseorang dalam mengkonstruksi pengetahuannya. 54

52
Ibid.
53
Munaspriyanto Ramli, Pembelajaran Sains Menyenangkan dengan Metode
Konstruktivisme, (Jurnal Pendidikan IPA Metamorfosa, Vol. 1 No 2 Oktober 2006), h.51.
54
Taufik Rahman, Model Pembelajaran Konstruktivisme (online), tersedia:
http://educare.e-fkipunla.net. Diakses 23 Agustus 2010
34

Model pembelajaran konstruktivisme meliputi empat tahapan yaitu:


1. Tahap pertama adalah apersepsi, pada tahap ini dilakukan kegiatan
menghubungkan konsepsi awal, mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan dari
materi sebelumnya yang merupakan konsep prasyarat.
2. Tahap kedua adalah eksplorasi, pada tahap ini siswa mengungkapkan dugaan
sementara terhadap konsep yang akan dipelajari. Kemudian siswa menggali,
menyelediki, dan menemukan sendiri konsep sebagai jawaban dari dugaan
sementara yang dikemukakan pada tahap sebelumnya, melalui manipulasi
benda langsung.
3. Tahap ketiga, diskusi dan penjelasan konsep, pada tahap ini siswa
mengkomunikasikan hasil penyeledikan dan temuannya, pada tahap ini pula
guru menjadi fasilitator dalam menampung dan membantu siswa membuat
kesepakatan kelas, yaitu setuju atau tidak dengan pendapat kelompok lain
serta memotivasi siswa mengungkapkan alasan dari kesepakatan tersebut
melalui kegiatan tanya jawab.
4. Tahap keempat, pengembangan dan aplikasi, pada tahap ini guru memberikan
penekanan terhadap konsep-konsep esensial, kemudian siswa membuat
kesimpulan melalui bimbingan guru dan menerapkan pemahaman konseptual
yang telah diperoleh melalui pembelajaran saat itu melalui pengerjaan tugas. 55
Rancangan pembelajaran menggunakan tahapan model konstruktivisme
yang diimplementasikan dalam pembelajaran aktif, agar jelas tahapan proses
belajar mengajar. Sedangkan mind map digunakan sebagai media belajar siswa
dan siswa diharapkan dapat membuat mind map secara individu maupun
kelompok.

b. Penelitian Yang Relevan


Penelitian yang relevan dengan penelitian ini sebagai berikut:
Atiek Sri Karatri. Efektivitas Mencatat dengan Metode Peta Pikiran dan
Metode Outline untuk Meningkatkan Kemampuan Mengingat Pada Siswa Sekolah
Menengah Umum. Tesis Program Studi Psikologi Minat Utama Psikologi

55
Ibid.
35

Pendidikan Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Program Pascasarjana Universitas Gadjah


Mada 2002. Dalam penelitiannya, menyatakan materi dapat diingat dengan
menggunakan metode outline lebih banyak daripada menggunakan metode peta
pikiran sehari setelah perlakuan diberikan, tidak terdapat perbedaan kemampuan
mengingat antara metode peta pikiran dengan metode outline segera setelah
perlakuan diberikan, dan kemampuan mengingat menurun sehari setelah
perlakuan diberikan. 56
Inayati Ulya Fidiana. Efektivitas Penggunaan Metode Mind Maps Terhadap
Peningkatan Prestasi Belajar Biologi Pokok Bahasan "Sistem Peredaran Darah
Manusia" Pada Siswa Kelas VIII Mts Negeri Ngemplak Yogyakarta. Skripsi UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta 2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1)
penggunaan metode mind maps efektif dalam meningkatkan prestasi belajar
biologi pokok bahasan sistem peredaran darah manusia, terbukti adanya
perbedaan yang nyata pembelajaran dengan menggunakan metode mind maps dan
pembelajaran konvensional, (2) penggunaan metode mind maps pada mata
pelajaran biologi pokok bahasan sistem peredaran darah manusia berpengaruh
positif terhadap peningkatan aktivitas dan partisipasi siswa dalam kerja kelompok,
peningkatan aktivitas siswa terdapat pada aspek tanggung jawab dalam
menyelesaikan tugas, kemampuan membuat mind maps dan kerjasama dengan
kelompok (3) siswa memberi tanggapan positif terhadap penggunaan metode mind
maps pada mata pelajaran biologi pokok bahasan sistem peredaran darah manusia,
dilihat dari banyaknya siswa yang menyatakan persetujuannya dibanding dengan
yang tidak setuju.57
Yustini, dkk.. Upaya Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Biologi
Melalui Penggunaan Peta Konsep pada Siswa Kelas II4 SMP Negeri 2
Pekanbaru Tahun Ajaran 2004/2005. Laboratorium Pendidikan Biologi Jurusan

56
Atiek Sri Karatri, Efektivitas Mencatat dengan Metode Peta Pikiran dan Metode
Outline untuk Meningkatkan Kemampuan Mengingat Pada Siswa Sekolah Menengah Umum,Tesis
Program Studi Psikologi Minat Utama Psikologi Pendidikan Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Program
Pascasarjana Universitas Gadjah Mada 2002.
57
Inayati Ulya Fidiana, Efektivitas Penggunaan Metode Mind Maps Terhadap
Peningkatan Prestasi Belajar Biologi Pokok Bahasan "Sistem Peredaran Darah Manusia" Pada
Siswa Kelas VIII Mts Negeri Ngemplak Yogyakarta (online). Skripsi UIN Sunan Kalijaga
Yogyakarta 2008. Tesedia: digilib.uin-suka.ac.id. Diakses tanggal 1 Desember 2009.
36

PMIPA FKIP Universitas Riau Pekanbaru. Jurnal Biogenesis Vol. 2(2):59-60,


2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) terjadi peningkatan persentase
aktivitas yaitu 72,40% (baik) siklus I menjadi 81,05% (baik sekali) siklusII, (2)
rata-rata hasil belajar siswa dari nilai post tes pada siklus pertama pokok bahasan
sistem pencernaan yaitu 79,18% (tinggi) dan siklus kedua pokok bahasan sistem
pernapasan yaitu 84,04% (tinggi), dan (3) rata-rata ketuntasan belajar siswa dari
nilai ulangan harian mengalami peningkatan, pada siklus pertama 82,05% (tidak
tuntas) dan siklus kedua yaitu 92,31% (tuntas).58
R. Teti Rostikawati. Mind Mapping dalam Metode Quantum Learning
Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar dan Kreativitas Siswa. Biology
Education Study Program FKIP UNPAK. Hasil penelitian menunjukkan bahwa
quantum learning sebagai salah satu metode belajar dapat memadukan antara
berbagai sugesti positif dan interaksinya dengan lingkungan yang dapat
mempengaruhi proses dan hasil belajar seseorang. Lingkungan belajar yang
menyenangkan dapat menimbulkan motivasi pada diri seseorang sehingga secara
langsung dapat mempengaruhi proses belajar metode quantum learning dengan
teknik peta pikiran (mind mapping) memiliki manfaat yang sangat baik untuk
meningkatkan potensi akademik (prestasi belajar) maupun potensi kreatif yang
terdapat dalam diri siswa. 59
Suparmi. Efektivitas Pendekatan Konstruktivisme dengan Penerapan Mind
Mapping pada Proses Pembelajaran Materi Sistem Regulasi Manusia di SMA 1
Unggaran. Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang, 2008.
Hasil penelitian diperoleh rata-rata hasil belajar siswa kelompok eksperimen
menggunakan pendekatan konstruktivisme dengan penerapan mind mapping
mencapai 73,53, sedangkan rata-rata hasil belajar siswa kelompok kontrol dengan
pendekatan konstruktivisme yaitu 71,58. hasil uji-t menunjukkan thitung 2,030 >

58
Yustini, dkk.. Upaya Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Biologi Melalui
Penggunaan Peta Konsep pada Siswa Kelas II4 SMP Negeri 2 Pekanbaru Tahun Ajaran
2004/2005. Laboratorium Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau Pekanbaru.
Jurnal Biogenesis Vol. 2(2):59-60, 2006.
59
R. Teti Rostikawati. Mind Mapping dalam Metode Quantum Learning Pengaruhnya
Terhadap Prestasi Belajar dan Kreativitas Siswa (online). Biology Education Study Program
FKIP UNPAK. Tersedia : http://www.sman 1-btg.sch.id. Diakses 29 November 2009.
37

ttabel 1,99 untuk dk 84 dan taraf signifikan 5%. Berdasarkan analisis tersebut
disimpulkan bahwa ada perbedaan signifikan antara rata-rata hasil belajar
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yaitu kelompok eksperimen lebih
baik daripada kelompok kontrol. Hal ini didukung pula dengan perolehan hasil
aktivitas siswa. Persentase rata-rata aktivitas siswa kelompok eksperimen lebih
besar (73,3%) daripada kelompok kontrol (71,3%).60
Hidayati Zulaiha. Penggunaan Metode Mind Map Sebagai Upaya
Meningkatkan Motivasi Dan Prestasi Belajar Biologi Materi Sistem Peredaran
Darah. Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa penggunaan metode mind map pada materi sistem peredaran darah dapat
meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa di kelas XI IPA I MAN
Yogyakarta I. Peningkatan kemampuan motivasi belajar siswa dapat dilihat dari
meningkatnya persentase indikator motivasi pada siklus II yang terdiri dari:
penerimaan, menunjukkan kemauan, mengakui tuntutan, ikut secara aktif,
menyukai, menyepakati dan menghargai pendapat. Peningkatan prestasi belajar
siswa ditunjukkan dengan adanya peningkatan rerata post-test siklus I yaitu 7,03
menjadi 7,94 pada rerata post-test siklus II sehingga diperoleh effect size sebesar
0,91.61

c. Kerangka Pikir
Proses belajar menengajar saat ini masih dominan menggunakan metode
ceramah (pendekatan konvensional). Guru menilai dengan metode ceramah siswa
sudah mengalami proses belajar sehingga mereka paham terhadap suatu konsep
tertentu yang dipelajari. Biologi terdiri dari konsep-konsep dan fakta-fakta ilmiah
yang kurang dipahami oleh siswa. Rendahnya penguasaan konsep-konsep biologi
tersebut tidak terlepas dari pendekatan pembelajaran yang dikembangkan.

60
Suparmi. Efektivitas Pendekatan Konstruktivisme dengan Penerapan Mind Mapping
pada Proses Pembelajaran Materi Sistem Regulasi Manusia di SMA 1 Unggaran (online). Skripsi,
Jurusan Biologi FMIPA Universitas Negeri Semarang, 2008. Tersedia: www.unes.ac.id. Diakses
3 Maret 2010.
61
Hidayati Zulaiha. Penggunaan Metode Mind Map Sebagai Upaya Meningkatkan
Motivasi Dan Prestasi Belajar Biologi Materi Sistem Peredaran Darah (online). Skripsi UIN
Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tersedia: http://digilib.uin-suka.ac.id. Diakses 1 Desember 2009.
38

Proses belajar mengajar di kelas harus optimal supaya siswa mampu


menguasai, mengembangkan dan memanfaatkan atau menerapkan ilmu biologi
dalam kehidupan sehari-hari, untuk itu diperlukan proses pembelajaran yang dapat
mengembangkan kemampuan siswa. Serta siswa dapat memahami biologi dengan
mudah tanpa menganggap biologi itu bersifat hafalan yang sangat membosankan.
Hal ini dapat dibantu melalui penggunaan model pembelajaran aktif menggunakan
mind map. Dalam model pembelajaran aktif terdiri dari tahap apersepsi,
eksplorasi, diskusi dan penjelasan konsep, dan pengembangan dan aplikasi dengan
membahas fakta yang ada dalam lingkungan siswa sendiri sehingga dapat
menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tugas guru dalam pembelajaran aktif adalah mengaktifkan siswa sejak awal
pembelajaran yaitu dengan melibatkan siswa secara langsung. Sehingga siswa
fokus terhadap apa yang disampaikan oleh guru. Selain itu, guru harus membuat
siswa menaruh minat atau perhatian terhadap penyampaian informasi.
Mind map yaitu menggambarkan konsep suatu materi pelajaran dengan
kreativitasnya sendiri dalam bahasa maupun simbol-simbol yang digunakan
dengan memperhatikan aturan-aturan dan notasi yang ada. Rancangan
pembelajaran guru memperlihatkan mind map kepada siswa. Lalu guru
membimbing siswa dalam membuat mind map sampai siswa membuatnya sendiri
tanpa bantuan guru.
Dengan model pembelajaran aktif menggunakan mind map, siswa akan
mendapatkan pembelajaran yang lebih bermakna dalam memahami konsep-
konsep biologi.

d. Hipotesis
Berdasarkan deskripsi teoretis dan kerangka pikiran di atas, maka hipotesis
yang diajukan adalah terdapat pengaruh model pembelajaran aktif menggunakan
mind map terhadap hasil belajar biologi pada konsep keanekaragaman hayati.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di SMAN 8 Tangerang Selatan. Waktu penelitian
pada bulan Januari-Februari semester dua tahun ajaran 2009-2010.

B. Variabel Penelitian
Variabel independent (X) = Model pembelajaran aktif menggunakan mind
map
Variabel dependen (Y) = Hasil belajar biologi pada konsep keanekaragaman
hayati

C. Metode Penelitian dan Desain Penelitian


1. Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen (eksperimen semu),
yaitu peneliti tidak memungkinkan untuk mengontrol atau memanipulasi semua
variabel yang relevan kecuali dari beberapa variabel-variabel tersebut. Dalam
pelaksanaan penelitian ini, sampel dibagi dua bagian yaitu kelompok eksperimen
yang diberikan perlakuan dengan model pembelajaran aktif menggunakan mind
map dan kelompok kontrol yang diberikan model pembelajaran aktif tanpa
menggunakan mind map.
2. Desain Penelitian
Desain penelitian menggunakan kuasi eksperimen pre test-post test two
group design.1 Pada tiap-tiap kelompok tersebut dilakukan pre test dan post test
untuk melihat ada tidaknya perbedaan pemahaman pada kedua kelompok
perlakuan. Pre test dilakukan sebelum pelajaran dimulai dan post test dilakukan
setelah kegiatan belajar mengajar pada topik keanekaragaman hayati berakhir.

1
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktik, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2006), h. 86.

39
40

Tabel 3.1. Rancangan Penelitian


Kelompok Perlakuan Pretest Postest

Eksperimen X1 T1 T2

Kontrol X2 T1 T2

Keterangan:
X1 : model pembelajaran aktif menggunakan mind map.
X2 : model pembelajaran aktif tanpa menggunakan mind map.
T1 : dimemberikan soal pre test yang sama.
T2 : diberikan soal post test yang sama.

Desain Penelitian:
1) Menentukan sampel dari populasi.
2) Menggolongkan sampel menjadi dua kelompok, yaitu kelompok
eksperimen yang dikenakan perlakuan X, yakni model pembelajaran aktif
menggunakan mind map dan kelompok kontrol yang dikenakan perlakuan
model pembelajaran aktif tanpa menggunakan mind map.
3) Memberikan pre test (T1) kepada kedua kelompok sebelum pembelajaran
dimulai.
4) Mempertahankan semua kondisi untuk kedua kelompok agar tetap sama,
kecuali pada satu hal yakni kelompok eksperimen dikenakan perlakuan X
untuk jangka waktu tertentu.
5) Memberikan post test (T2) kepada kedua kelompok untuk mengukur
variabel terikat, lalu menghitung mean masing-masing kelompok.
6) Mengaitkan tes statistik yang cocok untuk rancangan ini.

D. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 8 Kota
Tangerang Selatan. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMA
Negeri 8 Kota Tangerang Selatan. Populasi terjangkau dalam penelitian ini adalah
41

seluruh siswa SMA Negeri 8 Kota Tangerang Selatan kelas X pada tahun ajaran
2009/2010.
2. Sampel
Sampel merupakan wakil populasi yang akan diteliti. Sampel dalam
penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 8 Kota Tangerang Selatan kelas X. Kelas
X-3 sebagai eksperimen dan kelas X-1 sebagai kontrol.
Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling, yaitu teknik
sampling yang digunakan peneliti jika peneliti mempunyai pertimbangan-
pertimbangan tertentu di dalam pengambilan sampelnya atau penentuan sampel
untuk tujuan tertentu,2 yaitu diambil nilai rata-rata biologi kelas yang hampir sama
atau setara.

E. Teknik Pengumpulan Data


Teknik pengambilan data dalam penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan tes penguasaan konsep berupa tes objektif, angket, dan lembar
observasi.

F. Instrumen Penelitian
1. Kisi-Kisi Instrumen
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa instrumen, yaitu:
a. Tes
Tes adalah kumpulan pertanyaan atau soal yang harus dijawab oleh siswa
dengan menggunakan pengetahuan-pengetahuan serta kemampuan penalarannya.3
Menurut Riduwan, tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan
untuk mengukur keterampilan pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat
yang dimiliki oleh individu atau kelompok.4 Adapun bentuk tes yang digunakan
dalam penelitian ini adalah tes tertulis berupa pilihan ganda dengan lima

2
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian: Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula,
(Jakarta: Alfabeta, 2005), h.63.
3
Ahmad Sofyan, dkk., Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi, (Jakarta: UIN
Press, 2006), cet. ke-1, h.53.
4
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian: Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula,
(Bandung: Alfabeta, 2005), cet. ke-1, h.76.
42

options/pilihan jawaban (A, B, C, D, E) sebanyak 25 soal. Soal-soal tersebut


sudah dapat mewakili empat indikator pencapaian hasil belajar yang akan
diterapkan dalam pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran aktif
menggunakan mind map dengan lima pilihan jawaban yang meliputi jenjang
hafalan (C1), pemahaman (C2), penerapan (C3), dan analisis (C4) .Tes ini akan
diberikan sebelum dan sesudah pembelajaran untuk mengetahui penguasaan
konsep siswa dalam konsep keanekaragaman hayati.

Tabel 3.2 Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Kognitif Pada Konsep


Keanekaragaman Hayati

Aspek Kognitif Jumlah


Sub Konsep Indikator
C1 C2 C3 C4
1. Keanekaragaman hayati Mendeskripsikan 1*, 7*, 4
tingkat gen, jenis, dan keanekaragaman hayati
11*, 26
ekosistem tingkat gen, jenis, dan
ekosistem
2. Istilah konsep Mendefinisikan istilah 2*, 10* 2
keanekaragaman hayati keanekaragaman hayati
3. Faktor yang mendasari Menjelaskan faktor 3* 1
keanekaragaman hayati dasar keanekaragaman
hayati
4. Klasfikasi makhluk Mendeskripsikan,
hidup menjelaskan,
4* 1
 Tujuan klasifikasi menunjukkan, dan
makhluk hidup mengkaji klasifikasi 6*, 8*, 3
 Dasar utama makhluk hidup
30*
kalsifikasi makhluk
hidup 9* 2
 Penulisan tata nama 13*
makhluk hidup
(binomial 14, 28 40 23* 5
nomenklatur) 29
 Penyusunan takson
makhluk hidup
5. Identifikasi ciri-ciri Mendeskrispikan,
5*, 15*,
ekosistem atau bioma menunjukkan, dan 32 24* 5
mengidentifikasi ciri- 19
ciri ekosistem/bioma
6. Fauna dan flora di Mendeskripsikan dan
Indonesia menunjukkan
 Pembagian fauna pembagian flora dan 4
atau flora daerah di fauna daerah di 20*, 37* 31*
Indonesia Indonesia
12,21* 39*
 Fauna atau flora khas 3
daerah Indonesia 25*
43

7. Upaya pelestarian Mendefinisikan,


keanekaragaman hayati mendeskripsikan dan
Indonesia menunjukkan upaya 18 16*, 22 35* 4
pelestarian
keanekaragaman hayati
Indonesia
8. Dampak atau faktor- Mendefinisikan,
faktor yang menjelaskan, dan
mempengaruhi menghubungkan 38* 33, 34, 36 17, 27 6
keanekaragaman hayati dampak yang
mempengaruhi
keanekaragaman hayati
Jumlah 7 22 7 4 40
* Soal-soal yang valid

b. Angket
Untuk mengetahui bagaimana guru melakukan kegiatan pembelajaran
dengan model pembelajaran aktif menggunakan mind map (variabel X),
digunakan kuesioner dalam bentuk angket dengan skala Likert. Angket adalah
seperangkat pertanyaan tertulis yang dikirimkan kepada responden untuk
mengungkapkan pendapat, keadaan, kesan yang ada pada respoden sendiri
maupun di luar dirinya. 5 Selain itu, angket (questionaire) merupakan suatu daftar
pertanyaan atau pernyataan tentang topik tertentu yang diberikan subjek, baik
secara individu atau kelompok. Peneliti mengajukan pertanyaan dalam bentuk
angket terstruktur yakni peneliti menetapkan sendiri masalah dan pertanyaan-
pertanyaan yang diajukan kepada responden, sehingga mendapat jawaban akurat
dan relevan. Angket yang digunakan untuk mengetahui sikap siswa terhadap
biologi, pembelajaran dengan pembelajaran aktif, penggunaan mind map, dan
soal-soal yang diberikan. Angket ini berjumlah 20 pernyataan dengan lima pilihan
bagi siswa. Pengolahan data untuk angket dibuat dengan menghitung persentase
berdasarkan kisi-kisi angket.

5
Ahmad Sofyan dkk., Op.Cit. h.34.
44

Tabel 3.3 Kisi-kisi Angket

No. Aspek Minat Indikator Nomor Item


1. Perhatian  Persiapan siswa saat belajar di 2, 5
kelas
 Keseriusan siswa mengikuti 12
pelajaran biologi
2. Daya Tarik  Sikap terhadap pelajaran 6
biologi
 Memahami konsep-konsep 11, 19, 3
biologi
3. Kesenangan  Senang saat belajar biologi 10
 Semangat dalam belajar 4, 13
biologi
4. Penyelesaian Tugas  Senang diberi tugas 9
 Tepat waktu saat mengerjakan 7, 16, 17, 18
tugas
5. Kemauan untuk  Terlibat langsung dalam 8, 15
Tahu Lebih Banyak pembelajaran
6. Ketekunan  Tidak bosan belajar biologi 14, 15
7. Kesesuaian Objek  Banyak manfaat yang diambil 1, 20
dari pelajaran biologi

c. Lembar observasi
Observasi adalah metode pengumpulan data secara sistematis melalui
pengamatan dam pencatatan terhadap fenomena yang diteliti. 6 Lembar observasi
digunakan untuk mengetahui aktivitas siswa selama proses pembelajaran
berlangsung. Aktivitas yang diamati pada waktu pembelajaran adalah mengenai

6
Hariwijaya dan Triton P.B., Teknik Penulisan Skripsi dan Tesis, (Yogyakarta: Oryza,
2007), cet ke 1, h.63.
45

pelaksanaan tahapan-tahapan pada pembelajaran aktif. Dengan kriteria jawaban


sangat baik, baik, cukup, dan kurang.

Tabel 3.4 Kriteria Penilaian Observasi Tahapan Pembelajaran Aktif


(Kelas Eksperimen)

1. Apersepsi
Sangat baik Baik Cukup Kurang
Sangat baik dalam Baik dalam kemampuan Cukup dalam kemampuan Kurang dalam kemampuan
kemampuan guru guru memancing siswa guru memancing siswa guru memancing siswa
memancing siswa untuk untuk bertanya tentang untuk bertanya tentang untuk bertanya tentang
bertanya tentang topik topik yang dibahas, topik yang dibahas, topik yang dibahas,
,memotivasi siswa dan memotivasi siswa, dan memotivasi siswa. memotivasi siswa..
menampilkan pesan yang menampilkan pesan yang
menarik. menarik.

2. Eksplorasi
Sangat baik Baik Cukup Kurang
Sangat baik dalam Baik dalam kemampuan Cukup dalam kemampuan Kurang dalam kemampuan
kemampuan guru guru menunjukkan guru menunjukkan guru menunjukkan
menunjukkan keterampilan keterampilan penggunaan keterampilan penggunaan keterampilan penggunaan
penggunaan metode/teknik metode/teknik metode/teknik metode/ teknik
pembelajaran, dan pembelajaran dan pembelajaran dan pembelajaran, dan
mengarahkan siswa untuk mengarahkan siswa untuk mengarahkan siswa untuk mengarahkan siswa untuk
melakukan pengamatan melakukan pengamatan melakukan pengamatan melakukan pengamatan
atau percobaan. atau percobaan. atau percobaan. atau percobaan.
3. Diskusi
Sangat baik Baik Cukup Kurang
Sangat baik suasana Baik suasana diskusi aktif Cukup suasana diskusi Kurang suasana diskusi
diskusi sangat interaksi dan siswa aktif tetapi beberapa siswa aktif, siswa tidak
dan siswa mengkomunikasikan hasil pasif, dan siswa menanggapi diskusi
mengkomunikasikan hasil penyeledikan temuan. mengkomunikasikan hasil dengan serius. Siswa
penyeledikan temuan penyeledikan temuan. kurang
mengkomunikasikan hasil
penyeledikan temuan
4. Aplikasi
Sangat baik Baik Cukup Kurang
Sangat baik kemampuan Baik kemampuan guru Cukup kemampuan guru Kurang dalam kemampuan
guru menjelaskan fakta menjelaskan fakta menjelaskan fakta guru menjelaskan fakta
mengenai pengamatan mengenai pengamatan mengenai pengamatan mengenai pengamatan
yang siswa lakukan. Dan yang siswa lakukan. Dan yang siswa lakukan. Dan yang siswa lakukan. tidak
menghubungkan dengan menghubungkan dengan cukup baik ada aplikasi pengetahuan.
pengetahuan yang relevan pengetahuan yang relevan menghubungkan dengan
sesuai dengan realita sesuai dengan realita pengetahuan yang relevan
(kontekstual). (kontekstual). sesuai dengan realita
(kontekstual).
* Diadopsi dari penilaian observasi Suharsimi Arikunto 7

7
Suharsimi Arikunto, Op.Cit., h.159.
46

2. Kalibrasi Instrumen
a. Validitas Instrumen
Validitas berasal dari kata validity, dapat diartikan tepat atau sahih, yakni
sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi
ukurnya.Validitas ini untuk mengukur tes berupa tes objektif menggunakan rumus
koefisien kolerasi biserial (γpbi).
M p  Mt p
γpbi =
St q
Keterangan:
γ pbi = koefisien korelasi biserial
Mp = rerata skor dari subjek yang menjawab benar
Mt = rerata skor total
St = standar deviasi dari skor total
p = proporsi siswa yang menjawab benar
q = proporsi siswa yang menjawab salah
Dengan kriteria sebagai berikut:
0.80-1.00 = validitas sangat tinggi
0.60-0.80 = validitas tinggi
0.40-0.60 = validitas cukup
0.20-0.40 = validtas rendah
0.00-0.20 = validitas sangat rendah

Hasil penghitungan validitas instrumen yaitu: df = 38 dengan rtabel = 0.320,


sedangkan rhitung = 0.667. Sehingga dapat disimpulkan rhitung < rtabel yang berarti
validitas tinggi (lampiran 1 dan 2). Dari 40 soal instrumen, sebanyak 26 soal
valid. Instrumen yang dipakai dalam hanya 25 soal dan 1 soal tidak dipakai.

b. Reliabilitas Instrumen
Reliabilitas adalah ketepatan suatu tes apabila diteskan kepada subjek yang
sama. Untuk mengetahui ketepatan ini pada dasarnya dilihat kesejajaran hasil.
Sebuah tes dikatakan reliabilitas yang baik apabila tes tersebut dapat memberikan
hasil yang tetap, uji reliabilitas yang digunakan menguji instrumen pemahaman
tentang konsep yaitu dengan menggunakan rumus Kuder Richardson atau yang
dikenal dengan KR-20,8 yaitu:

8
Suharsimi Arikunto, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007),
cet. ke-7, h.100.
47

 n   S 2   pq 
r11 =    
 n 1  S 2 
 
Keterangan:
KR-20 = Koefisien reliabilitas tes
k = Jumlah butir
pq = Varians skor butir
p = Proporsi jawaban benar untuk butir nomor i
q = Proporsi jawaban salah untuk butir nomor i
SDt2 = Varians skor total
Dengan kriteria sebagai berikut :
0.00-0.20 = reliabilitas kecil
0.20-0.40 = reliabilitas rendah
0.40-0.70 = reliabilitas sedang
0.70-0.90 = reliabilitas tinggi
0.90-1.0 = reliabilitas sangat tinggi

Hasil penghitungan reliabilitas yaitu 0.952 yang berarti reliabilitas sangat


tinggi (lampiran 4 dan 5).

c. Penghitungan Analisis Butir Instrumen


Sebelum penelitian terlebih dahulu dilakukan uji coba instrumen melalui
penghitungan analisis butir instrumen dengan cara menghitung difficulty level
(tingkat kesukaran) dan discrimininating power (daya pembeda) setiap butir soal.
Tingkat kesukaran dari suatu tes digunakan untuk mengetahui apakah tiap butir
soal dalam kategori mudah, sedang atau sukar. Tingkat kesukaran dihitung dengan
rumus sebagai berikut:
B
P=
N

Keterangan:
P = proporsi (indeks kesukaran)
B = jumlah siswa yang menjawab benar
N = jumlah peserta tes
Adapun tingkat kesukaran memiliki kriteria sebagai berikut:
0-0,25 : termasuk kategori sukar
0,26-0,75 : termasuk kategori sedang
0,76-1 : termasuk kategori mudah
48

Berikut hasil tingkat kesukaran instrumen (lihat lampiran 1) yaitu:

Tabel 3.5 Hasil Tingkat Kesukaran Instrumen

No. Kategori No. Soal Persentase


1 Sukar 12,14,18,32,33 12,5%
2 Sedang 1,2,3,4,5,6,7,8,9,10,11,13,15,16,17,21, 72,5%
23,24,25,27,29,30,31,35,36,37,38,39,40
3 Mudah 19,20,22,26,28,34 15%

Sedangkan daya pembeda soal berguna untuk mengetahui kemampuan


suatu soal membedakan siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai, dalam
hal ini dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Ba Bb
D= 
Ja Jb

Keterangan
Ja = banyaknya peserta kelompok atas
Jb = banyaknya peserta kelompok bawah
Ba = jumlah yang menjawab benar pada kelompok atas
Bb = jumlah yang menjawab benar pada kelompok bawah
N = jumlah peserta tes
Besarnya daya pembeda memiliki kriteria sebagai berikut:
0.00-0.20 : termasuk kategori jelek
0.21-0.40 : termasuk kategori cukup
0.41-0.70 : termasuk kategori baik
0.71-1.00 : termasuk kategori baik sekali
Hasil penghitungan daya pembeda instrumen dapat dilihat pada lampiran 3.

G. Prosedur Penelitian
Data penelitian dikumpulkan melalui beberapa tahapan. Tahapan-tahapan
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan
Persiapan dilakukan dengan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran
(RPP), observasi ke SMA Negeri 8 Kota Tangerang Selatan, wawancara
49

dengan kepala sekolah dan guru biologi kelas X mengenai izin dan waktu
penelitian. Pada kelas eksperimen (kelas X-3) menggunakan model
pembelajaran aktif dengan mind map , sedangkan untuk kelas kontrol (kelas
X-1) menggunakan model pembelajaran aktif tanpa mind map. Alat Bantu
yang digunakan dalam pembelajaran dengan model pembelajaran aktif
menggunakan berupa alat-alat laboratorium, LKS (Lembar Kerja Siswa),
OHP, dsb. Sedangkan kelas kontrol menggunakan alat-alat laboratorium dan
LKS, OHP, dsb. Alat evaluasi dibuat untuk mengukur hasil belajar biologi
siswa (tes kognitif) pada kedua subjek penelitian.
2. Tahap Pelaksanaan
Tes awal (pre test) dilakukan sebelum pembelajaran dimulai dan tes akhir
(post test) dilakukan sesudah pembelajaran berakhir pada kedua subjek
penelitian selama 45 menit. Pengelompokkan kerja pada kelas eksperimen dan
kontrol terdiri dari tujuh kelompok. Setelah melakukan pre test pada kedua
subjek penelitian, pelaksanaan pembelajaran dimulai. Kelas eksperimen
menggunakan model pembelajaran aktif dengan mind map dan kelas kontrol
menggunakan model pembelajaran aktif. Tahapan ini berlangsung selama tiga
minggu di bulan Januari – Februari 2010 dengan alokasi waktu tiga kali
pertemuan. Setelah pembelajaran berakhir, kedua subjek penelitian diberikan
post test selama 45 menit untuk melihat peningkatan pemahaman siswa
terhadap materi keanekaragaman hayati. Selain itu, pada kelas eksperimen
dilakukan pengambilan data tentang sikap siswa terhadap model pembelajaran
aktif menggunakan mind map dengan memberikan angket dan selama kegiatan
belajar mengajar dilakukan pengamatan (observasi) terhadap kelas
eksperimen.
3. Tahap Akhir
Mengolah dan menganalisis data hasil tes tertulis (pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol), serta mengolah data pengamatan (observasi) dan
menganalisis data angket pada kelas eksperimen.
50

H. Teknik Analisis Data


1. Uji Normalitas
Uji normalitas dilakukan untuk melihat bahwa data yang diperoleh dari
populasi berdistribusi normal atau tidak.9 Pengujian ini menggunakan tes Liliefors
dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Urutkan data sampel dari yang terkecil hingga terbesar.
b. Tentukan nilai Zi dari tiap-tiap data berikut dengan rumus:
Xi  X
Zi =
S
Keterangan :
Zi = skor baku
X = mean
Xi = skor data
S = simpangan baku
c. Tentukan besar peluang untuk masing-masing nilai Zi berdasarkan tabel Zi
sebutkan dengan F (Zi) dengan aturan jika Zi>0, maka F(Zi) 0.5 + nilai
tabel, jika Zi<0, maka F(Zi) = 1 - (0.5+nilai tabel).
d. Selanjutnya hitung proporsi Zi. Jika proporsi Z1, Z2….Zn lebih kecil atau
sama dengan Zi. Jika proporsi dinyatakan oleh S (Zi), maka:
S (Zi) = banyaknya Z1, Z2, ….yang ≤Zn
N
e. Hitung selisih nilai F (Zi)-S (Zi), kemudian tentukan harga mutlak.
f. Ambil nilai terbesar diantara harga-harga mutlak selisih tersebut, nilai ini
dinamakan Lo.
g. Memberi interpretasi Lo dengan membandingkan Lt. Lt adalah harga yang
diambil tabel harga kritis uji Liliefors.
h. Mengambil kesimpulan berdasarkan harga Lo dan Lt yang telah didapat,
apabila Lo < Lt maka sampel berasal dari distribusi normal.
Hasil penghitungan uji normalitas data dapat dilihat pada lampiran 15.

9
Riduwan, Belajar Mudah Penelitian: Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti Pemula,
(Bandung: Alfabeta, 2005), cet. ke-1, h.121-124.
51

2. Uji Homogenitas
Pengujian homogenitas di sini adalah pengujian mengenai sama tidaknya
variansi-variansi dua buah distribusi atau lebih.10 Pengujian dilakukan dengan uji
homogenitas dua varians, rumus uji homogenitas yang digunakan adalah uji
Fisher, yaitu:
S12
F=
S 22

n X 2   X 
2

S=
N n  1

Keterangan:
F = Homogenitas
S12 = Varians terbesar atau data pertama
S22 = Varians terkecil atau data kedua
Fhitung < Ftabel maka sampel homogen
Fhitung > Ftabel maka sampel tidak homogen

Hasil penghitungan uji homogenitas dapat dilihat pada lampiran 16.

3. Normal Gain
Gain adalah selisih nilai post test dan pre test, gain menunjukkan
peningkatan pemahaman atau penguasan konsep siswa setelah pembelajaran
dilakukan oleh guru. Rumusnya:11

post test  pre test


N gain =
Skor ideal  pre test

Dengan kategorisasi perolehan sebagai berikut :


g-tinggi = nilai > 0.70
g-sedang = nilai 0.30 – 0.70
g-rendah = nilai < 0.30

10
Ibid. 119-120
11
David E. Meltzer, The Relationship between Mathematic Preparation and Conceptual
Learning Gains in Physics: a Possible “Hidden Variable” in Diagnostic Pretest Scores. Tersedia:
www.physyceducation.net/docs/addenum-on-normalized. Diakses 19 Desember 2009, h. 3
52

Hasil penghitungan N-gain kedua kelompok dapat dilihat pada lampiran


17 dan 18.

4. Uji Hipotesis
Uji hipotesis dilakukan untuk melihat perbedaan hasil tes siswa dari
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, yaitu dengan cara:
Menggunakan Uji-t jika data berdistribusi normal dan homogen. Hasil
perhitungan thitung dibandingkan dengan ttabel pada taraf signifikan 0.05 dengan
kriteria:
Menolak Ho, jika thitung > ttabel dan Ha diterima
Terima Ho, jika thitung < ttabel dan Ha ditolak
Pengujian hipotesis menggunakan uji-t dengan rumus:
M1  M 2
t0 =
SE M 1 M 2
2 2
SEM1-M2 = SEM 1  SEM 2

SD1
SEM1 =
N 1
SD2
SEM2 =
N 2

Keterangan:
T0 = t hasil perhitungan
M1 = mean kelompok eksperimen
M2 = mean kelompok kontrol
SD1 = simpangan baku kelompok eksperimen
SD 2 = simpangan baku kelompok kontrol
N1 = jumlah sampel kelompok eksperimen
N2 = jumlah sampel kelompok kontrol
SEM1 = standar eror mean sampel kelompok eksperimen
SEM2 = standar eror mean sampel kelompok kontrol
SEM1-M2 = standar eror mean sampel gabungan

Hasil penghitungan uji hipotesis dapat dilihat pada lampiran 19.


53

I. Hipotesis Statistik
H0 : µA = µB
Ha : µA > µB
Keterangan:
µA = rata-rata hasil belajar biologi siswa yang diajar dengan model
pembelajaran aktif menggunakan mind map.
µB = rata-rata hasil belajar biologi siswa yang diajar dengan model
pembelajaran aktif tanpa menggunakan mind map.
BAB 4

HASIL PENELITIAN

A. Penerapan Model Pembelajaran Aktif Menggunakan Mind Map Pada


Kelas Eksperimen Dan Model Pembelajaran Aktif Pada Kelas Kontrol Di
SMAN 8 Kota Tangsel
Berdasarkan hasil pengamatan (observasi), siswa melibatkan diri dalam
pembelajaran di kelas. Sehingga perhatian dan minat siswa hanya tertuju atau
fokus apa yang disampaikan oleh guru. Keikutsertaan atau keterlibatan langsung
siswa dalam pembelajaran model pembelajaran aktif menggunakan mind map
membuktikan bahwa pembelajaran tersebut berjalan dengan lancar dan tertib.
Guru berkeliling untuk melihat siswa bekerja dalam kelompoknya. Ternyata,
membuat mind map antaranggota secara bergiliran dalam kelompok, dan ini
memberikan kesempatan berinteraksi antarsiswa. Secara individu, mind map
membuat ingat siswa pada halaman yang dibaca perkalimat. Maka dari itu,
kebutuhan mind map untuk menyampaikan makna sesuatu yang siswa baca.
Belajar mind map membuat siswa dapat mengingat dan memahami apa yang telah
dipelajari. Sehingga siswa memiliki keterbukaan dan tujuan inovatif dalam
mengatur, mengorganisasi, dan problem solving.
Temuan penelitian ini adalah mind map mengatur informasi yang diperoleh
siswa. Pada kenyataannya, mind map membantu proses berpikir alami, dapat
secara acak dan nonlinier. Mind map itu terstruktur, keterbukaan, dan sederhana.
Setiap ide yang dihasilkan dapat dihubungkan langsung dengan mind map
sehingga ide tersebut terekam, dan ini sebenarnya tanpa usaha mental.
Mind map membiarkan kognitif siswa terasah. Menggambar mind map dapat
memberikan siswa tentang informasi seputar pengetahuan yang dimilikinya. Ini
menimbulkan kesadaran akan mengorganisasi pengetahuan yang telah dimiliki
atau belum. Proses ini dapat menambah apa yang dimiliki siswa, terutama dalam
kelompok, dengan mengkonstruksi mind map siswa berdiskusi mengenai konsep

54
55

yang dipelajari dan menggambarkan hubungannya. Siswa memberikan penjelasan


yang berwawasan ke dalam yang mendasari struktur kognitif yang sederhana dan
presentasi mudah dalam bentuk peta. Perkembangan siswa dapat dibandingkan
saat siswa bertanya sebelum dan sesudah membuat mind map.
Beberapa mind map terlihat unik dan penggambaran yang menarik. Tentu
saja mind map digunakan sebagai simpanan memori. Ketika informasi akan
diingat dan mengingat kembali dengan cepat, pembelajaran tercepat dan informasi
yang diterima akan disimpan dengan baik oleh otak. Sehingga siswa lebih mudah
merentensi informasi lama ataupun baru yang telah dipelajari.
Saat pembelajaran terakhir, masalah-masalah yang ada pada diskusi topik
diulang dan terstruktur akan diubah dalam mind map. Dan mind map sangat baik
untuk ringkasan bersifat memori. Sehingga mind map membantu pengulangan dan
ringkasan siswa.
Mind map membantu koneksi informasi baru bermakna dengan pengetahuan
yang diberikan. Informasi baru akan digabungkan yang ada pada mind map dan
konsep yang telah dipelajari sebelumnya dihubungkan. Misalnya guru melihat
kegiatan siswa dimulai dan meninjau kesiapan siswa dalam membuat mind map
dan bagaimana konsep baru dapat melengkapi topik lama. Tentu saja ini
dilakukan untuk beberapa informasi baru dikarenakan keterbatasan tempat.
Selain itu, saat membuat mind map, siswa dilatih untuk berimajinasi,
berkreasi dalam mengungkapkan idenya sendiri berdasarkan konsep, teori, serta
kaitannya dengan kehidupan sehari-hari siswa yang terkait dengan materi
pelajaran yang dibuatkan mind map. Pada saat itu pikiran siswa menjelajahi areal
materi pelajaran yang sedang dipelajarinya. Siswa menjadi terlatih membuat mind
map dan kemampuan berimajinasi dengan lebih baik. Terlihat siswa selalu tidak
puas terhadap mind map yang telah dibuatnya. Membuat mind map melibatkan
pemikiran yang tidak terbatas.
Dibandingkan dengan kelas kontrol, siswa mengumpulkan dan mencatat
informasi dalam bentuk tradisional yaitu catatan biasa. Siswa meringkas dan
menyimpulkan seluruh isi materi pelajaran. Sehingga terlihat siswa tampak tidak
bersemangat walaupun model pembelajaran yang digunakan sama dengan kelas
56

eksperimen. Tetapi cara penyampaian informasi yang tidak terlalu menarik,


menimbulkan kebosanan siswa dan ini membuat siswa malas untuk menulis.
Siswa tidak berimajinasi dalam membuat catatan hanya terpatut pada tulisan buku
atau lainnya. Catatan biasa membuat menghafal atau mengingat kembali
informasi yang dibutuh akan memakan waktu yang lama. Tidak ada sisi menarik
yang ditampilkan pada catatan biasa.
Keserasian antara warna, simbol, dan tulisan akan membuat seseorang
sangat tertarik atau menaruh perhatian yang lebih. Sesuatu yang unik akan
membuat seorang tidak melepaskan pandangannya apa yang dilihat. Dalam proses
menjawab soal siswa dalam kelas kontrol lebih banyak mengalami kesulitan
dibanding siswa dalam kelas eksperimen. Ini diakibatkan siswa dalam kelas
kontrol kemampuan mengingat yang kurang sehingga tidak terjadi meaningful
learning.

B. Hasil Belajar Siswa


a. Deskripsi Data Hasil Belajar (Pre Test) Dua Kelompok
Tabel 4.1 Hasil Belajar Biologi (Pre Test) Kelas Eksperimen
dan Kelas Kontrol

Keterangan Hasil Belajar

Ekperimen Kontrol

Nilai Tertinggi 60 56

Nilai Terendah 20 16

Mean 39,24 35,78

SD 9,57 9,04

Keterangan :

X < 60 : kurang, X < 70 : cukup, X < 80 : baik, X > 80 : baik sekali


57

Tabel di atas menunjukkan, penguasaan konsep kelas eksperimen termasuk


kurang (rata-rata = 39,24). Sedangkan penguasaan konsep kelas kontrol termasuk
kurang (rata-rata = 35,78). Penguasaan konsep siswa sebelum pembelajaran, baik
kelas yang diberikan pembelajaran aktif menggunakan mind map (kelas
eksperimen) maupun kelas yang diberikan pembelajaran aktif tanpa menggunakan
mind map (kelas kontrol) adalah sama. Jadi belum terlihat peningkatan hasil
belajar. Tetapi kelas eksperimen lebih baik dibandingkan kelas kontrol dalam
pengetahuan awal.

b. Deskripsi Data Hasil Belajar (Post Test) Dua Kelompok


Tabel 4.2 Hasil Belajar Biologi (Post Test) Kelas Eksperimen
dan Kelas Kontrol

Keterangan Hasil Belajar

Eksperimen Kontrol

Nilai Tertinggi 96 84

Nilai Terendah 48 44

Mean 73,73 66,27

SD 9,57 9,14

Keterangan :

X < 60 : kurang, X < 70 : cukup, X < 80 : baik, X > 80 : baik sekali

Tabel di atas menunjukkan, penguasaan konsep kelas eksperimen


termasuk cukup (rata-rata = 73,73). Sedangkan penguasaan konsep kelas
kontrol termasuk kurang (rata-rata = 66,27). Adanya peningkatan
penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran, kelas eksperimen lebih
baik dibandingkan kelas kontrol.
Berdasarkan hasil di atas yang diperoleh dari skor tes untuk
meningkatkan penguasaan konsep pada kelas eksperimen dan kelas
kontrol dapt disimpulkan kemampuan rata-rata kelas eksperimen lebih
58

tinggi daripada kelas kontrol pada konsep keanekaragaman hayati. Hal ini
terjadi karena penggunaan mind map pada kelas eksperimen untuk
memudahkan siswa dalam memahami konsep tersebut. Mind map tersebut
dijadikan catatan oleh siswa.

c. Normal Gain

Uji normal gain dilakukan untuk melihat peningkatan pemahaman


penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran dilakukan oleh guru.
Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai normal gain sebagai berikut:

Tabel 4.3 Penghitungan Normal Gain Kedua Kelompok

Normal Gain Kelas Kontrol Kelas Eksperimen

Terendah 0,00 0,28

Tertinggi 0,70 0,90

Rata-rata 0,47 0,59

Kategori Gain sedang Gain sedang

Tabel di atas menunjukkan bahwa terdapat peningkatan hasil


belajar biologi siswa, baik pada siswa kelas eksperimen maupun kelas
kontrol dengan kategori sedang. Nilai normal gain tertinggi terdapat pada
kelas eksperimen sedangkan nilai normal gain terendah terdapat pada kelas
kontrol.

d. Pengujian Prasyarat Penelitian


Berdasarkan data yang telah dipaparkan sebelumnya, terlihat
bahwa rata-rata skor siswa yang belajar dengan model pembelajaran aktif
menggunakan mind map (kelas eksperimen) sebesar 73,73 sedangkan rata-
rata skor siswa yang belajar dengan model pembelajaran aktif tanpa
59

menggunakan mind map (kelas kontrol) sebesar 66,27. Hal ini belum dapat
menjawab hipotesa yang diajukan, oleh karena itu perlu dilakukan analisis
data menggunakan uji-t untuk memperoleh kepastian. Sebelum dilakukan
pengujian hipotesis terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan
homogenitas. Uji-t digunakan untuk mengetahui apakah hubungan
antarvariabel merupakan hubungan yang berarti atau signifikan atau
hubungan yang tidak signifikan.

1) Uji Normalitas
Uji Normalitas yang digunakan adalah uji Liliefors. Uji normalitas
digunakan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau
tidak. Berikut hasil penghitungan uji normalitas data post test:

Tabel 4.4 Hasil Uji Normalitas Post Test

Lhitung (Lo)
α Ltabel (Lt) Kesimpulan
Kelas Eksperimen Kelas Kontrol

0,05 0,1267 0,1117 0,1456 Ho diterima

Dari tabel di atas, dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok sampel


penelitian berdistribusi normal karena memenuhi kriteria Lo < Lt,
maka hipotesis nol (Ho) diterima.

2) Uji Homogenitas
Tahap selanjutnya yaitu melakukan uji homogenitas data setelah
sampel berdistribusi normal. Uji homogenitas dilakukan untuk melihat
perbedaan skor siswa kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Uji
homogenitas yang digunakan adalah uji Fisher.
60

Tabel 4.5 Hasil Uji Homogenitas Post Test

F
α N Kesimpulan
Hitung Tabel

0,05 1,712 1,756 37 Ho diterima

Hal ini berarti pada taraf signifikansi α =0,05 (5%) Ho diterima.


Kesimpulannya bahwa kedua sampel tersebut berasal dari populasi
yang homogen (lihat lampiran 20).

e. Pengujian Hipotesis

Data hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel berasal dari populasi


yang berdistribusi normal dan homogen. Maka selanjutnya dapat dianalisis
dengan menggunakan uji-t.

Tabel 4.6 Hasil Penghitungan Hipotesis Post Test

N X thitung ttabel Kesimpulan

N1 = 37 X 1 = 73,73
2,98 2,00 Ho ditolak
N2 = 37 X 2 = 66,27

Karena thitung > ttabel, maka hipotesis nihil (Ho) ditolak. Kesimpulannya
adalah terdapat pengaruh yang signifikan dalam pembelajaran dengan
model pembelajaran aktif menggunakan mind map terhadap hasil belajar
biologi pada konsep keanekaragaman hayati.
61

C. Pengaruh Pembelajaran Aktif Menggunakan Mind Map Terhadap Hasil


Belajar Siswa
Dari hasil penghitungan uji hipotesis dengan menggunakan uji-t didapat
ttabel pada taraf signifikan α = 0,05 (5%) sebesar 2,00. Sedangkan t hitung sebesar
2,98. Dengan demikian thitung > ttabel. Hal ini membuktikan bahwa hasil belajar
siswa yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran aktif
menggunakan mind map lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang
diajarkan menggunakan model pembelajaran aktif tanpa menggunakan mind
map.
Melalui aktivitas di kelas, siswa secara sadar atau tidak langsung
menggunakan ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengan mata
pelajaran yang dipelajari di sekolah. Dan siswa terlibat langsung dalam proses
pembelajaran sehingga siswa aktif dan guru sebagai fasilitator. Siswa lebih
banyak mengeksplorasi pengetahuan sehingga siswa memahami konsep dan
belajar menjadi lebih bermakna. Di dalam kelas, siswa bebas menentukan
teman diskusi, bertukar pikiran dengan anggota kelompok lain, saling
membandingkan hasil diskusi, melakukan penilaian terhadap hasil presentasi
kelompok lain dan menghargai pendapat orang lain. Hal ini juga diungkapkan
oleh Inayati Ulya Fidiana, terdapat positif terhadap peningkatan aktivitas dan
partisipasi siswa dalam kerja kelompok, peningkatan aktivitas siswa terdapat
pada aspek tanggung jawab dalam menyelesaikan tugas, kemampuan
membuat mind map dan kerjasama dengan kelompok dan siswa memberi
tanggapan positif terhadap penggunaan metode mind map dilihat dari
banyaknya siswa yang menyatakan persetujuannya dibanding dengan yang
tidak setuju.
Saat diperlihatkan gambar mind map, siswa merasa tertarik dan
menaruh perhatian serius. Karena hal tersebut baru bagi siswa. Mind map
menampilkan bentuk dan warna yang beragam. Perhatian seseorang akan
tertuju atau diarahkan pada hal-hal baru, hal-hal yang berlawanan dengan
pengalaman yang baru saja diperoleh atau dengan pengalaman yang didapat
selama hidupnya. Jika guru menjelaskan konsep dengan cara menampilkan
62

dalam bentuk lain, maka siswa akan berminat dan termotivasi dalam belajar.
Semakin banyak simbol, gambar, dan warna, siswa akan lebih memperhatikan
apa yang dijelaskan oleh guru. Selain itu, dengan menggunakan mind map
belajar lebih lama diingat dibandingkan harus menghafal kata-kata yang tidak
ada hubungan arti. Dengan mind map, berarti siswa belajar menghubungkan
atau merangkaikan dua objek atau lebih menjadi lebih mudah diingat. Hal ini
disebabkan adanya tugas membuat mind map untuk bahan yang akan
disampaikan, sehingga siswa terlebih dahulu membaca materi dan mulai
berpikir. Jadi dapat disimpulkan bahwa mind map melatih siswa untuk
mengaitkan konsep-konsep materi pelajaran menurut pemikirannya sehingga
merangsang siswa untuk berpikir aktif dalam hal ini melatih domain
psikomotorik siswa.
Ada umpan balik dari proses pembuatan mind map meberikan
kontribusi dalam kemajuan siswa yaitu meaningful learning.1 Karena belajar
itu meanigful learning, sehingga siswa memahami dan memaknai
pembelajaran di kelas dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Bahwa dengan membuat mind map dapat melatih siswa untuk berpikir
kreatif, yang meliputi (1) menghasilkan sesuatu yang berbeda dari yang lain
atau original. Ini berarti seorang siswa memiliki mind map yang berbeda
bentuk dari siswa lainnya. Sehingga menimbulkan variasi bentuk. (2)
menghasilkan ide yang tidak terbatas atau menghasilkan banyak ide. Dengan
begitu, siswa dapat mengeksplorasi semua pengetahuan sehingga siswa
mendapatkan ide untuk setiap alasan yang dikemukakan oleh orang lain. (3)
mampu berpikir dari yang umum ke hal-hal yang lebih detail. Sehingga
kemampuan siswa menjelaskan sesuatu tidak terbatas oleh sumber yang
dimilikinya tetapi dapat mencari sumber lain yang relevan, dan siswa dapat
berpikir dengan baik. (4) mampu menilai karya sendiri sehingga selau ingin
memperbaikinya. Hal ini dapat terjadi oleh siapa pun, belajar tidak waktu dan
usia. Jika siswa mengalami kesalahan dalam belajar, ia akan memperbaiki

1
Fersun Paykoç, dkk., What are the Major Curriculum Issues?: the Use of Mindmapping
as a Brainstorming Exercise, (Turkey: Middle East Technical University, 2004). h. 4
63

kesalahan tersebut dan menjadikannya sebuah pengalaman yang akan diingat


dalam memori siswa. (5) melihat permasalahan dari berbagai aspek. Ini berarti
siswa harus berpikir logis dalam menghadapi masalah. Suatu masalah dapat
diselesaikan bukan hanya dengan satu cara tetapi banyak cara. Hal ini juga
diungkapkan oleh Ida Bagus Putu Arnyana. 2
Selain itu, hasil penelitian menunjukkan kegunaan mind map dapat
meningkatkan motivasi dan minat siswa terhadap pelajaran biologi. Saat mind
map digunakan siswa dapat mencapai hasil belajar dengan baik, siswa lebih
percaya diri dan minat terhadap materi pelajaran. Pada penelitian ini, mind
map yang digunakan oleh guru dalam menyusun struktur pelajaran. Dengan
mind map, guru dapat merencanakan, mengembangkan dan menerapkan
prosedur pembelajaran dengan efektif. Sehingga tugas guru untuk menentukan
kegiatan apa yang dapat dibantu dengan menggunakan mind map serta untuk
memastikan hasil belajar jauh lebih baik. Sebagian siswa dalam kelas
eksperimen mengalami kesulitan dalam mempraktikkan dengan cepat cara
membuat mind map. Kurang familiar bagi siswa menyebabkan frustasi. Oleh
karena itu, disarankan kepada guru untuk memberikan instruksi awal dalam
cara membuat mind map.3
Hal yang sama juga diungkap oleh John W. Budd, selama penugasan
yang paling penting adalah guru berkeliling melihat kegiatan kelompok siswa.
Ini akan membantu siswa dalam mengatasi kesalahan di awal dan
membutukan saran terhadap pemikiran siswa yang bertambah luas. Karena
mind map secara umum tidak familiar bagi sebagian siswa atau kelompok
siswa juga dalam manfaat untuk menggabungkan warna dan gambar kecil
sebagai tujuan dan saran yang ada.4 Sehingga guru harus mengontrol kegiatan

2
Ida Bagus Putu Arnyana, Pengembangan Peta Pikiran Untuk Meningkatkan Kecakapan
berpikir Kreaif Siswa, (Jurnal Pendidikan dan Pengajaran UNDIKSHA, No. 3 TH XXXX Juli
2007), h.681.
3
Bang Khanh Nong, dkk., Integrate the Digital Mindmapping into Teaching and Learning
Psychology (online), Teacher Training Component – ICT, VVOB Education Program Vietnam.
Tersedia: www.unescobkk.org. Diakses 13 Januari 2010.
4
John W. Budd, Mind Maps As Classroom Exercises, ( Minneapolis: University of
Minneasota, 2003), tersedia: jbudd@csom.umn.edu, diakses 6 Juni 2010.
64

siswa dan siswa bertanya langsung kepada guru tentang permasalahan yang
dihadapinya.
Untuk itu perlu penugasan mind map yang berkelanjutan, yaitu guru
melatih siswa dalam pembuatan mind map dalam pembelajarannya.
Pembuatan mind map dapat dibuat di dalam maupun di luar kelas, dan
dikerjakan secara individu maupun berkelompok. Sehingga siswa lebih
mandiri dalam membuat mind map sebagai hasil karyanya.
Proses pengalaman ini dapat dibuktikan dari peningkatan rata-rata kerja
peserta didik dari pembelajaran pertama hingga akhir pembelajaran. Dengan
pengamatan yang dilakukan oleh observer. Peningkatan rata-rata ini dapat
dilihat dari hasil rata-rata siswa. Siswa merasa tertarik dan mampu untuk
berpartisipasi langsung dalam pembelaran sehingga mendapatkan banyak
pengalaman pembelajaran dan mampu menyelesaikan masalah
pembelajarannya sendiri. Dibanding membaca atau hanya mendengarkan
materi siswa lebih produktif dan kreatif dalam mengkonstruksi ilmu
pengetahuan.
Dengan pembelajaran di atas, siswa benar-benar mampu menemukan
masalah sendiri, memecahkan masalahnya, mengenal diri sendiri dan
menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Sehingga proses di atas secara
langsung telah membantu tugas guru dalam memberikan pembelajaran di
dalam kelas yang mengakibatkan siswa banyak mendapatkan pengalaman dan
ilmu pengetahuan serta meningkatkan kreativitas siswa dalam pembuatan
mind map.
Hal inilah yang menstimulus para peserta didik untuk lebih aktif dan
kreatif untuk membangun pikiran mereka dalam pembelajaran biologi. Peserta
didik mampu menghubungkan fakta yang pernah dilihat dan dialaminya dalam
kehidupan sehari-hari dengan konsep biologinya. Menjadikan pengalamannya
yang bermakna dalam benak peserta didik. Sehingga tidak ada lagi kesan
65

pengalaman belajar sebelumnya lebih bersifat tekstual dan lebih menekankan


pada penyelesaian soal-soal daripada pembelajaran.
Siswa kelas kontrol hanya diberikan catatan biasa dalam pembelajaran.
Tidak ada warna, simbol dan gambar. Terlihat biasa-biasa saja dan kurang
menarik. Sehingga membuat siswa bosan dan tidak bersemangat dalam hal
mencatat hal-hal yang penting dalam pembelajaran. Keadaan juga sama saat
menyampaikan hasil diskusi mereka. Kesimpulannya siswa kelas kontol tidak
ada ketertarikan dalam hal mencatat. Karena hal ini sudah terbiasa di kelas,
setiap belajar pasti mencatat apa yang dijelaskan oleh guru.
Dengan demikian, pembelajaran aktif menggunakan mind map mampu
memberikan pembelajaran yang meningkatkan keaktifan siswa dan ketuntasan
belajar, menambah sifat ilmiah, dapat menimbulkan kerja sama dengan orang
lain, mengembangkan kemampuan berpikir analitis dan kreatif,
mengembangkan pengetahuan, keterampilan dan sikap percaya diri. Sesuai
dengan tujuan pembelajaran ilmu mata pelajaran biologi di SMA/MA.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian bahwa terdapat pengaruh model
pembelajaran aktif menggunakan mind map terhadap hasil belajar biologi pada
konsep keanekaragaman hayati yang signifikan. Dengan temuan sebagai
berikut, mind map mengatur informasi yang diperoleh siswa, mind map
membiarkan kognitif siswa terasah, mind map digunakan sebagai simpanan
memori, mind map membantu pengulangan dan ringkasan siswa, mind map
membantu koneksi informasi baru bermakna dengan pengetahuan yang
diberikan, dan siswa dilatih untuk berimajinasi, berkreasi dalam
mengungkapkan idenya sendiri.
Siswa menjadi terlatih membuat mind map dan kemampuan
berimajinasi dengan lebih baik. Terlihat siswa selalu tidak puas terhadap mind
map yang telah dibuatnya. Membuat mind map melibatkan pemikiran yang
tidak terbatas. Dengan membuat mind map dapat melihat masalah dari
berbagai aspek dan mengaitkan antara aspek yang satu dengan aspek yang
lainnya.
Kreativitas dan imajinasi siswa terasah dengan baik. Tidak terpaku
dengan apa yang dijelaskan oleh guru. Secara umum kemampuan kognitif
meningkat khususnya hasil belajar siswa dalam pelajaran biologi.

B. Saran
Dari hasil penelitian penulis memberikan saran sebagai berikut:
1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model pembelajaran aktif
menggunakan mind map dapat dijadikan alternatif model pembelajaran di
sekolah.
64

2. Selain itu, adanya interaksi antara model pembelajaran dengan hasil


belajar, memberikan gambaran bagi guru untuk selektif memilih model
pembelajaran yang akan diterapkan di sekolah.
3. Penerapan model pembelajaran aktif menggunakan mind map ini tidak
hanya digunakan untuk pembahasan konsep keanekaragaman hayati tetapi
konsep-konsep lain.
4. Dalam menerapkan model pembelajaran aktif menggunakan mind map
perlu dilakukan persiapan yang matang agar diperoleh hasil yang optimal
sesuai yang diharapkan.
5. Guru harus sering melatih siswa dalam membuat mind map baik secara
individu maupun kelompok dalam bentuk tugas atau catatan.
DAFTAR PUSTAKA

Apriyani, Dwi. Peningkatan Hasil Belajar Biologi Siswa Dengan Menggunakan


Pendekatan Interaktif pada Konsep Sistem Pernapasan Pada Manusia
(Skripsi). Prodi Pendidikan Biologi Jurusan PIPA FITK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta 1429 H/2008 M (online). Tersedia:
http://idb4.wikispaces.com. Diaskes 29 Desember 2009.

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek.


Jakarta: PT.Rineka Cipta.

_______, Suharsimi. 2007. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi


Aksara.

Arnyana, Ida Bagus Putu. Pengembangan Peta Pikiran Untuk Meningkatkan


Kecakapan berpikir Kreaif Siswa. Jurnal Pendidikan dan Pengajaran
UNDIKSHA, No. 3 TH XXXX Juli 2007. Diterbitkan oleh Univ.
Pendidikan Ganesha.

Aryulina, Diah dkk.. 2004 Biologi 1: SMA dan MA untuk Kelas X. Jakarta: Esis.

Brinkmann, Astrid. Knowlegde Maps – Tools Building Structure in Mathematics.


Tersedia: astrid.brinkmann@math.-edu.de. Diakses 9 Juni 2010.

Budd, John W.. 2003. Mind Map As Classroom Exercises. Minneapolis:


Industrial Relations Landgrant Term Professor Industrial Relation Center
University of Minneasota. Tersedia: jbudd@csom.umn.edu.

Buzan, Tony. 2009. Buku Pintar Mind Map. Jakarta: Gramedia.

Dalvi. Upaya Meningkatkan Keaktifan Belajar Siswa dalam Pembelajaran


Agama dengan Menggunakan Metode Belajar Aktif Tipe Kuis Tim di Kelas
VIB MI Diniyah Puteri Padang Pajang Semester Ganjil Tahun Pelajaran
2005/2006. Jurnal Guru, No.1 Vol. 3 Juli 2006. Diterbitkan oleh Diknas
Pendidikan Kota Padang Panjang.

Fidiana, Inayati Ulya. Efektivitas Penggunaan Metode Mind Maps Terhadap


Peningkatan Prestasi Belajar Biologi Pokok Bahasan "Sistem Peredaran
Darah Manusia" Pada Siswa Kelas VIII Mts Negeri Ngemplak Yogyakarta
(online). Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta 2008. Tesedia: digilib.uin-
suka.ac.id. Diakses tanggal 1 Desember 2009.

64
65

Gasong, Dina. Model Pembelajaran Konstruktivistik Sebagi Alternatif Mengatasi


Masalah pembelajaran (online). Tersedia: www.gerejatoraja.com. Diakses 5
April 2010.

Harish, Nazala. Mind Mapping (online), tersedia: http://lahar-


idesign.blogspot.com. Diakses 27 Januari 2010.
Hariwijaya dan Triton P.B.. 2007. Teknik Penulisan Skripsi dan Tesis.
Yogyakarta: Oryza.

Hartono. 2008. Strategi Pembelajaran Active Learning (online). Tersedia:


http://sditalqalam.wordpress.com/2008/01/09/strategi-pembelajaran-active-
learning/. Diakses 27 Januari 2009.

Hasan, S. Hamid, dkk.. 2007. Menggugat Ujian Nasional. Jakarta: Teraju.

Herlanti, Yanti. Strategi Pengolahan Bahan Ajar Ilmu Pengetahuan Alam. Jurnal
Edusains Vol. 1 No. 1, Juni 2008. Diterbitkan oleh CSE Jurusan IPA FITK
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Hernowo. 2004. Bu Slim dan Pak Bil Membincangkan Pendidikan di Masa


Depan: Ihwal Life Skills, Portofolio, Kontruktivisme, dan Kompetensi.
Bandung: MLC.

Isjoni, dkk,. 2007.Pembelajaran Visioner: Perpaduan Indonesia-Malaysia.


Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Iska, Zikri Neni. 2006. Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan.
Jakarta: Kizi Brother’s.

Junaedi, dkk.. 2008. Strategi Pembelajaran. Surabaya: LAPIS PGMI.

Karatri, Atiek Sri. Efektivitas Mencatat dengan Metode Peta Pikiran dan Metode
Outline untuk Meningkatkan Kemampuan Mengingat Pada Siswa Sekolah
Menengah Umum. Tesis Program Studi Psikologi Minat Utama Psikologi
Pendidikan Jurusan Ilmu-ilmu Sosial Program Pascasarjana Universitas
Gadjah Mada 2002.
Legowo, Bagus Taruno. 2009. Freemind: Mind Mapping Software. Sidoarjo:
Masmedia Buana Pustaka.

Meltzer, David E.. The Relationship Between Mathematics Preparation and


Conceptual Learning Gains In Physics: A Possible “Hidden Variable” In
Diagnostics Pretest Scores (online). Tersedia : www.physiceducation.net.
Diakses 19 Desember 2009.
66

Mirna. Pembelajaran Berdasarkan Teori Konstruktivis. Jurnal Pendidikan


Edukasi vol. 4 Oktober 2003 Th. II. Padang: FKIP Univ. Bung
Hatta.Rosyada, Dede. Pendidikan Multikultur Melalui Pendidikan Agama
Islam. Jurnal Didaktika Islamika vol. IV No. 1 Juni 2005. Diterbitkan oleh
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Univ. Bung Hatta.

Munadi, Yudhi. 2008. Media Pembelajaran: Sebuah Pendekatan Baru. Jakarta:


Gaung Persada Press.

Nong, Bang Khanh, dkk.. Integrate the Digital Mindmapping into Teaching and
Learning Psychology (online). Teacher Training Component – ICT, VVOB
Education Program Vietnam. Tersedia: www.unescobkk.org. Diakses 13
Januari 2010.

Pardjono. Active Learning: The Dewey, Piaget, Vygotsky, and Constructivist


Theory Perpectives. Jurnal Ilmu Pendidikan Jilid 9 No. 3 Agustus 2002.
Diterbitkan oleh LPTK dan ISPI.

Paykoç, Fersun, dkk.. 2004. What are the Major Curriculum Issues?: the Use of
Mindmapping as a Brainstorming Exercise. Turkey: Middle East Technical
University.

Ramli, Munaspriyanto. Pembelajaran Sains Menyenangkan dengan Metode


Konstruktivisme. Jurnal Pendidikan IPA Metamorfosa, Vol 1 No 2 Oktober
2006. Diterbitkan oleh CSE Jurusan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.

Riduwan. 2005. Belajar Mudah Penelitian Untuk Guru-Karyawan dan Peneliti


Pemula. Bandung: Alfabeta.

Rostikawati, R. Teti. Mind Mapping Dalam Metode Quantum Learning


Pengaruhnya Terhadap Prestasi Belajar Dan Kreatifitas Siswa (online).
Biology Education Study Program FKIP UNPAK. Tersedia :
http://www.sman 1-btg.sch.id. Diakses 29 November 2009.

Rosyada, Dede. Pendidikan Multikultur Melalui Pendidikan Agama Islam. Jurnal


Didaktika Islamika vol. IV No. 1 Juni 2005. Diterbitkan oleh FITK UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.

Rustaman, Nuryani Y. dkk.. 2005. Strategi Belajar Mengajar Biologi.


Malang:Universitas Negeri Malang.

Sagala, Syaiful. 2008. Konsep dan Makna Pembelajaran Untuk Membantu


Memecahkan Problematika Belajar dan Mengajar. Bandung: Alfabeta,.
67

Samadhi, T.M.A. Ari. 2008. Pembelajaran Aktif (Active Learning). Teaching


Improvement Worksop, Engineering Education Development Project ADB
Loan No. 1432-INO.

Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain SistemPembelajaran. Jakarta:


Kencana.

Sayuti, Wahdi. Model Pembelajaran Konstruktivisme. Jurnal Kependidikan


Keislaman dan Kebudayaan Didaktika Islamika, Vol. VI No. 1 Juni 2005.
Diterbitkan oleh FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sefnath, Nuniary. Prinsip-Prinsip Belajar Aktif dalam Proses Belajar Mengajar


(Suatu Implikasi Belajar Mengajar Optimal). Jurnal Kependidikan Vol.1,
No.2 November 2004. Diterbitkan oleh Jurusan Ilmu Pendidikan Fakultas
Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNPATTI.

Shaffat, Idri. 2009. Optimized Learning Strategy: Pendekatan Teoritis dan


Praktis Meraih Keberhasilan Belajar. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Shaleh, Abdul Rahman. 2008. Psikologi: Suatu Pengantar Dalam Perspektif


Islam. Jakarta: Kencana.

Sidik, Muhammad Hasan. Penerapan Model Konstruktivisme Untuk


Meningkatkan Pemahaman Siswa Mengenai Energi Gerak di Kelas III SD
Negeri I Cilengkranggirang Kecamatan Pasaleman Kabupaten Cirebon
(Proposal Skripsi). Program Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas
Pendidikan Indonesia Kampus Sumedang, 2008.

Silberman, Melvin L. 2006. Active Learning 101 Cara Belajar Siswa Aktif.
Bandung: PT. Nusamedia.

Simamora, Bachtiar. 2008. Baldrige Daftar Istilah: Pembelajaran Aktif (online),


tersedia: www.baldrigeindo.com. Diakses 27 Januari 2009.

Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:


PT.Rineka Cipta.

Sofyan, Ahmad, Tonih Feronika, dan Burhanudin Milama. 2006. Evaluasi


Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi. Jakarta: UIN Press.

Sukmadinata, Nana Syaodih. 2007. Landasan Psikologi Proses Pendidikan.


Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sulistyowati, Endah. Keanekaragaman Hayati (online), tersedia:


hhtp://endahsulistyowati.wordpress.com. Diakses 22 November 2009.
68

Suparmi. Efektivitas Pendekatan Konstruktivisme dengan Penerapan Mind


Mapping pada Proses Pembelajaran Materi Sistem Regulasi Manusia di
SMA 1 Unggaran (online). Skripsi, Jurusan Biologi FMIPA Universitas
Negeri Semarang, 2008. Tersedia: www.unes.ac.id. Diakses 3 Maret 2010.

Suryabrata, Sumadi. 2005. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT.Raja Grafindo


Persada.

Surianto. Teori Pembelajaran Konstruktivisme (online). Tersedia:


http://surianto200477.wordpress.com. Diakses 1 Juni 2010.

Syah, Muhibbin. 2008. Psikologi Pendidikan dengan Pendekaatn Baru. Bandung:


PT. Remaja Rosda Karya.

Trianto S.. 2007. Model-Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi


Konstruktivistik. Jakarta: Prestasi pustaka.

Waruwu, Fidelis E.. Mind Mapping (online),Education Training & Consultant.


tersedia: http:www.edutraco.com atau fidelis@edutraco.com. Diakses 27
Januari 2009.

Widyandani, Benedicta S.B. 2008, Mind Mapping Alat Berpikir Efektif (online),
tersedia: http://izzuddin.com. Diakses 27 Januari 2009.

Zulaiha, Hidayati. Penggunaan Metode Mind Map Sebagai Upaya Meningkatkan


Motivasi Dan Prestasi Belajar Biologi Materi Sistem Peredaran Darah
(online). Skripsi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tersedia:
http://digilib.uin-suka.ac.id. Diakses 1 Desember 2009.

Yustini, dkk.. Upaya Peningkatan Aktivitas Dan Hasil Belajar Biologi Melalui
Penggunaan Peta Konsep pada Siswa Kelas II4 SMP Negeri 2 Pekanbaru
Tahun Ajaran 2004/2005. Jurnal Biogenesis Vol. 2(2):59-60, 2006.
Laboratorium Pendidikan Biologi Jurusan PMIPA FKIP Universitas Riau
Pekanbaru.
ANGKET UNTUK SISWA
(PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN AKTIF)

Nama Sekolah : SMA Negeri 8 Kota Tangerang Selatan


Nama Siswa :
Kelas :X

PETUNJUK UMUM
A. Bacalah dengan teliti setiap pernyataan, kemudian jawablah dengan jujur
sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
B. Berikanlah tanda Chek list (√) untuk jawaban yang tepat berdasarkan pendapat
anda sendiri pada kolom SS bila kamu sangat setuju, S bila kamu setuju, TDT
bila kamu tidak tahu, TS bila kamu tidak setuju, dan STS bila kamu sangat
tidak setuju dengan pernyataan tersebut.
C. Angket ini hanya di buat untuk kepentingan ilmiah dalam rangka menyusun
penelitian tidak ada tujuan lain. Oleh karena itu jawaban kamu akan di jamin
kerahasiannya dari siapapun.
D. Terima kasih atas kesediaan kamu untuk mengisi angket ini.

No Pernyataan SS S TDT TS STS


1 Saya menyukai pelajaran biologi karena
biologi berkaitan erat dengan kehidupan
sehari-hari dan lingkungan sekitar.
2 Saya selalu mempersiapkan diri sebelum
mengikuti pelajaran biologi
3 Materi biologi sulit saya pahami karena
materi biologi terlalu banyak.
4 Saya bersemangat belajar biologi dengan
menggunakan mind map. Karena merupakan
hal baru bagi saya.
5 Saya suka membaca buku pelajaran biologi
6 Saya lebih menyukai materi biologi dengan
baik dengan pembelajaran aktif menggunakan
mind map.
7 Saya merasa tertantang dengan soal-soal yang
diberikan pada proses pembelajaran.
8 Pembelajaran dengan model pembelajaran
aktif membut saya terlibat langsung dalam
proses pembelajaran di kelas
9 Pembelajaran menggunakan mind map
membuat saya lebih mandiri dan kreatif
dalam mengerjakan tugas.
10 Pembelajaran dengan model pembelajaran
aktif menggunakan mind map membuat saya
tegang dan kurang menyenangkan.
11 Materi yang diajarkan dengan model
pembelajaran aktif menggunakan mind map
ini semakin sulit saya pahami.
12 Materi yang diajarkan dengan model
pembelajaran aktif menggunakan mind map
lebih menarik untuk saya dibanding dengan
pembelajaran seperti biasa.
13 Saya senang dan bersemangat mempelajari
biologi dengan model pembelajaran aktif
14 Pembelajaran dengan model pembelajaran
aktif membuat saya bosan dan tidak minat
terhadap pembelajaran di kelas
15 Pembelajaran dengan model pembelajaran
aktif membuat saya lebih berani
mengungkapkan pendapat dan menyanggah
pendapat orang lain.
16 Soal-soal yang diberikan terlalu sulit
dikarenakan saya belum memahami konsep
yang diajarkan oleh guru.
17 Soal yang diberikan sesuai dengan konsep
yang diajarkan
18 Soal-soal yang diberikan berkaitan dengan
konsep keanekaragaman hayati
19 Membuat mind map sangat menyenang bagi
saya dan menantang kreativitas saya.
20 Mind map memudahkan saya dalam hal
mencatat materi pelajaran dan menggali
potensi saya secara menyeluruh.
Gambar Mind Map Siswa
LEMBAR OBSERVASI

Lokasi : SMAN 8 Kota Tangerang Selatan


Kelas : X-3
Konsep : Keanekaragaman Hayati
Bidang Studi : Biologi
Pertemuan ke- :

Hasil Pengamatan
No Aspek yang diamati
SB B C K SK
1 Apersepsi
2 Eksplorasi
3 Diskusi
4 Aplikasi
Keterangan : SB: Sangat Baik, B: Baik, C: Cukup, K : Kurang,
SK :Sangat Kurang ( Diisi dengan tanda √ )

Catatan:

Ciputat,………………….2010
Observer

(Nama Obsever)
Kisi-Kisi Instrumen

Mata Pelajaran : Biologi


Kelas/Semester : X/ 2
Standar Kompetensi : Memahami manfaat keanekaragaman hayati
Kompetensi Dasar : 3.1 Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, ekosistem
melalui kegiatan pengamatan
3.2 Mengkomunikasikan keanekaragaman hayati Indonesia, dan
Usaha pelestarian serta pemanfaatan sumber daya alam

No. Indikator Contoh Soal Jenjang


Soal Kognitif
1 Menjelaskan hewan yang Kelompok hewan yang termasuk keragaman jenis adalah…. C2
termasuk tingkat jenis
a. Kambing, sapi, bebek
b. Ayam horn, ayam kate, ayam walnut
c. Ayam horn, angsa, burung pelikan
d. Ayam, tikus, kambing
e. Kucing, anjing, tikus
Jawaban: C
2 Mendefisinikan istilah Hewan yang unik dan hanya ditemukan di suatu daerah atau pulau tertentu C1
konsep keanekaragaman
disebut….
hayati
a. Kosmopolit c. Endemik
b. Variasi d. Keanekaragaman e. Natural
Jawaban: C
3 Menjelaskan faktor yang Faktor-faktor penyebab terjadinya keanekaragaman spesies yaitu…. C2
mendasari biodiversitas
a. genetik
b. interaksi dengan lingkungan
c. lingkungan
d. habitat
e. genetik dan interaksi dengan lingkungan
Jawaban: E
4 Menjelaskan tujuan Salah satu tujuan klasifikasi makhluk hidup adalah…. C2
klasifikasi makhluk hidup
a. melestarikan jenis makhluk hidup
b. memberi nama ilmiah untuk setiap makhluk hidup
c. menentukan ciri setiap makhluk hidup
d. mengelompok objek studi
e. menentukan persamaan sifat di antara makhluk hidup
Jawaban: D
5 Mengidentifikasi suatu Perhatikan ciri-ciri suatu daerah dengdi bawah ini: C4
ekosistem
- banyak ditemui semak-semak
- jarang ada pohon besar
- musim kemarau yang panjang
Daerah tersebut adalah….
a. Stepa c. hutan musim
b. Sabana d. hutan hujan tropis e. padang rumput
Jawaban: B
6 Membandingkan Setelah mendeterminasi dua jenis tanaman seorang siswa menemukan dua C2
perbedaan antara suatu
spesies tanaman tersebut yaitu Hibiscus rosasinensis dan Hibiscus tiliaceus.
jenis tumbuhan
Berdasarkan nama tersebut dapat disimpulkan bahwa tanaman tersebut
adalah….
a. Spesies sama, genus berbeda
b. Genus berbeda, familia berbeda
c. Genus sama, spesies berbeda
d. Familia sama, genus berbeda
e. Genus berbeda, familia sama
Jawaban: C
7 Membedakan perbedaan Penggolongan (klasifikasi) pada tumbuhan tingkat tinggi berdasarkan pada C2
klasifikasi tumbuhan
perbedaan…
tingkat tinggi
a. penyebaran geografis d. struktur alat reproduksi
b. ukuran dan warna e. daur hidup
c. susunan akar, batang, dan daun
Jawaban: C
8 Memperkirakan dasar Dasar utama klasifikasi makhluk hidup adalah adanya persamaan dan
utama klasifikasi makhluk C2
perbedaan. Manakah pernyataan di bawah ini yang benar....
hidup
a. makhluk hidup mempunyai banyak persamaan dimasukkan ke dalam
takson yang lebih rendah
b. makhluk hidup mempunyai banyak persamaan dimasukkan ke dalam
takson yang lebih tinggi
c. makhluk hidup mempunyai sedikit persamaan dimasukkan ke dalam
takson yang lebih rendah
d. jenis makhluk hidup pada takson yang rendah mempunyai banyak
perbedaan
e. jenis makhluk hidup pada takson yang tinggi mempunyai sedikit
perbedaan
Jawaban: A
9 Menyatakan penulisan Cara penulisan suatu spesies menurut prinsip binomial nomenklatur yang C1
nama makhluk hidup yang
benar adalah….
benar
a. cattleya gigas c. Cattleya Gigas
b. cattleya gigas d. Cattleyagigas e. Cattleya gigas
Jawaban: E
10 Mendefinisikan istilah Pengertian taksonomi adalah…. C1
taksonomi
a. Penentuan jenis makanan dari berbagai kelompok organisme
b. Penentuan kelompok organisme dari berbagai jenjang
c. Penentuan lingkungan hidup berbagai jenis organisme
d. Penentuan jumlah kelompok suatu organisme
e. Penentuan nama-nama kelompok organisme tertentu
Jawaban: B
11 Membedakan antara Kelapa hijau, kelapa gading, kelapa kopyor, kelapa hibrida merupakan C2
keanekaragman hayati
keanekaragaman tingkat….
tingkat gen, jenis, dan
ekosistem a. Genetika c. Jenis
b. Populasi d. Ekosistem e. Komunitas
Jawaban: A
12 Memberi contoh tumbuhan Pohon kayu gaharu dan pohon buah matoa, keduanya merupakan tumbuhan C2
khas di Indonesia
flora malesiana yang khas dari daerah….
a. Kalimantan c. Papua
b. Sulawesi d. Sumatera e. Ambon
Jawaban: C
13 Menjelaskan sistem nama Sistem pemberian nama makhluk hidup oleh Carolus Linnaeus adalah…. C2
ilmiah makhluk hidup
a. Nomenklatur binomial c. Monomial
b. Polinomial d. Dinomial e. Tetranomial
Jawaban: A
14 Menyusun urutan takson Urutan takson klasifikasi makhluk hidup dari yang terendah hingga C1
dalam klasifikasi makhluk
tertinggi adalah….
hidup
a. Spesies – genus – famili – ordo – kelas – filum
b. Spesies – famili – ordo – genus – kelas – filum
c. Spesies – filum – kelas – ordo – famili – genus
d. Filum – kelas – ordo – famili – genus – spesies
e. Famili – ordo – kelas – famili – genus – spesies
Jawaban: A
15 Mengidentifikasi Seorang ahli botani mengelompokkan pinang, kelapa, lontar dan aren C4
klasifikasi keanekaragaman
dalam satu kelompok. Ahli botani melakukan pengamatan. Hasil
hayati
pengamatan dalam bentuk tabel seperti di bawah ini.
No Ciri-ciri Kelapa Aren Pinang Lontar
1 Tinggi > 30 m 25 m 25 m 15-25 m
Batang
2 Daun -Panjang Panjang Tangkai -Panjang
tangkai daun tangkai daun tangkai daun
75-150 cm daun 150 pendek 100 cm
-Helaian cm -Helaian
daun 5 m, daun bulat,
ujungruncin tepi daun
g dan keras bercabang
menjari
3 Bunga tongkol tongkol tongkol bulir
Pengelompokkan seperti ini merupakan klasifikasi….
a. Buatan c. Filogenik
b. Artifial d. Alamiah e. Jenis
Jawaban: C
16 Menjelaskan upaya Salah satu upaya pelestarian keanekaragaman hayati adalah.... C2
pelestarian
a. penanaman pohoh-pohon pembatas jalan raya
keanekaragaman hayati
b. uji emisi buangan gas terhadap kendaraan bermotor
c. melalui program kali bersih bagi sungai yang tercemar
d. dilakukannya sistem tumpang sari pada penanaman pertanian
e. pencanangan melati sebagai puspa nasional dan komodo pada satwa
nasional
Jawaban: E
17 Menunjukkan resiko akibat Pembangunan tidak selamanya mendatangkan manfaat, tetapi juga C3
pembangunan
mendatangkan resiko. Berikut ini merupakan contoh resiko akibat
pembangunan adalah … .
a. berkurangnya lahan pangan akibat pembangunan waduk
b. pemindahan pemukiman penduduk akibat pembangunan waduk
c. punahnya kehidupan flora dan fauna akibat pembukaan lahan
d. hilangnya daerah resapan air akibat pembangunan pemukiman di
kawasan puncak
e. adanya penampungan air akibat terjaminnya persediaan air untuk irigasi
dan kebutuhan lain
Jawaban: C
18 Mendefinisikan macam Hutan suaka alam yang ditetapkan sebagai daerah perlindungan C1
pelestarian
keanekaragaman disebut dengan ….
keanekaragaman hayati
a. cagar alam c. cagar budaya
b. hutan lindung d. taman nasional e. suaka margasatwa
Jawaban: A
19 Menggambarkan ciri-ciri Seorang ahli zoologi menemukan katak bertanduk. Katak tersebut C4
suatu ekosistem
ditemukan di daerah berpasir, kering, dan gersang. Selain katak bertanduk,
juga terdapat ular, kadal, semut dan hewan rodentia. Daerah tersebut
terdapat tumbuhan menahun memiliki lapisan kutikula tebal, penguapan air
sangat tinggi, dan curah hujan rendah. Suhu malam hari sangat dingin dan
suhu siang hari sangat panas. Daerah tersebut terdapat oase. Berdasarkan
ciri-ciri di atas, maka daerah tersebut adalah….
a. Gurun c. Tundra
b. Taiga d. Hutan gugur e. Hutan basah
Jawaban: A
20 Memperkirakan persamaan Yang mencirikan bahwa ekosistem di Indonesia bagian barat adalah setipe C2
ekosistem Indonesia
dengan ekosistem di Asia (Oriental) adalah….
dengan Asiatik
a. terdapat berbagai jenis burung yang sangat indah bulunya
b. dijumpai berbagai jenis kera yang bertubuh besar
c. memiliki berbagai jenis binatang biawak
d. memiliki jenis hewan yang sangat langka di dunia
e. memiliki banyak macam ikan, baik ikan laut maupun ikan air tawar
Jawaban: B
21 Memberi contoh hewan Hewan yang merupakan jenis langka dan khas yang hidup di hutan yang C2
langka dan khas suatu
terdapat di pulau Sulawesi….
daerah
a. babi rusa dan komodo d. orang utan dan mawas
b. burung cenderawasih dan maleo e. babi rusa dan orang utan
c. burung maleo dan babi rusa
Jawaban: C
22 Memberi contoh Berikut ini merupakan usaha-usaha manusia untuk pelestarian C2
pelestarian in situ
keanekaragaman hayati Indonesia agar tidak mengalami kepunahan:
1. pelestarian badak bercula satu di Ujung Kulon
2. penanaman tanaman bibit tradisional seperti temulawak dan temu ireng
di Cibinong
3. pelestaian bunga bangkai Rafflesia arnoldi di Bengkulu
4. pelestarian tanaman-tanaman angkah di Kebun Raya Bogor
5. pelestarian orang utan dalam tempat penangkaran di kebun binatang
Ragunan
6. pelestaian lumba-lumba air tawar (pesut) di sungai Mahakam
Kalimantan
Dari usaha-usaha di atas tergolong pelestarian in situ adalah yang
bernomor….
a. 1, 2, dan 3 c. 1,3, dan 6
b. 2, 3, dan 4 d. 2, 4, dan 5 e . 3, 5, dan 6
Jawaban: C
23 Menarik kesimpulan Seseorang menemukan dua jenis katak di hutan tropis yaitu, katak hijau C4
mengenai takson suatu
(Rana macrodon) dan katak macan (Rana tigrina). Kedua jenis katak
makhluk hidup
memiliki persamaan ciri sebagai berikut:
- mempunyai ruas-ruas tulang belakang
- mempunyai tulang tengkorak
- tubuh simetris bilateral
- rangka berupa rangka dalam
berdasarkan ciri-ciri tersebut, katak hijau dan katak macan termasuk ke
dalam takson yang sama, yaitu….
a. Phylum Chordata c. Classis Amfibia
b. Subphylum Vertebrata d. Ordo Anura e. Genus Rana
Jawaban: B
24 Menunjukkan ciri-ciri Perhatikan tabel berbagai flora dan fauna pada beberapa bioma di bawah C3
suatu bioma ini!
Jenis Tundra Sabana Padang Hutan Taiga
rumput bakau
Flora Berbagai Berbagai Rumput Rhizopora, Kelompok
jenis jenis tumbuhan avicennia, pohon
rumput pohon non rumput Soneralia berdaun
Lumut jarum
kerak
Fauna Rusa Jerapah Bison Ikan, Serigala
kutub kijang mustang hewan beruang
Zebra melata
Singa
macan
tutul
Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa bioma yang memiliki
komunitas keanekaragaman tinggi adalah….
a. tundra c. sabana
b. padang rumput d. hutan bakau e. taiga
Jawaban: C
25 Menjelas flora khas Flora Indonesia termasuk flora kawasan Malesiana yang keanekaragman C2
beberapa daerah di
sangat tinggi dan mempunyai nilai ekonomis. Pohon kayu manis
Indonesia
merupakan tumbuhan khas dari….
a. Jawa Timur d. Sulawesi Utara
b. Kalimantan Selatan e. Sumatera Barat
c. Nusa Tenggara Barat
Jawaban: E
26 Menjelaskan ciri-ciri suatu Dua makhluk hidup menempati daerah yang sama dapat disebut satu C2
spesies
spesies, apabila memiliki ciri….
a. Warna rambut, dan habitatnya sama
b. Warna dan bentuk rambut sama
c. Jenis dan cara makannya sama
d. Cara reproduksi dan jumlah anaknya sama
e. Menghasilkan keturunan yang fertil dalam perkawinannya
Jawaban: E
27 Menghubungkan Jika perubahan lingkungan yang dilakukan oleh manusia menyebabkan C3
perubahan lingkungan
salah satu rantai keanekaragaman hayati berkurang, maka kemungkinan
dengan keanekaragaman
hayati akan terjadi adalah….
a. Komunitas yang tersisa akan bertahan hidup
b. Spesies yang biasa dimangsa akan tumbuh dengan baik, dan yang
lainnya tidak terpengaruh
c. Dapat menyebabkan hilangnya plasma nutfah yang lainnya
d. Bertambahnya kemampuan tumbuhan menyerap zat hara
e. Kesuburan tanah akan meningkat
Jawaban: C
28 Menyusun daftar 5 Pengelompokkan makhluk hidup dalam 5 kingdom. Menurut Whitaker C1
kingdom menurut
meliputi….
Whittaker
a. Virus, Monera, Protista, Plantae dan Animalia
b. Virus, Monera, Fungi, Plantae dan Animalia
c. Virus, Protista, Fungi, Plantae dan Animalia
d. Monera, Protista, Fungi, Plantae dan Animalia
e. Monera, Protista, Thallophyta, Kormophyta dan Animalia
Jawaban: D
29 Menjelaskan kingdom yang Kingdom yang tergolong dalam kelompok dalam organisme heterotrof C2
termasuk organisme
adalah….
heterotrof
a. Animalia, Monera, dan Plantae d. Plantae, Fungi, dan Monera
b. Animalia, Protista, dan Plantae e. Plantae, Animalia, dan Protista
c. Animalia, Virus, dan Fungi
Jawaban: AC
30 Menjelaskan unsur-unsur Keanekaragaman tingkat jenis terbentuk dengan didasari oleh unsur-unsur C2
perbedaan dalam
seperti perbedaan….
keanekaragaman hayati
a. Habitat, makanan, dan gen
b. Habitat, tingkah laku, dan lingkungan
c. Gen, komposisi gen, dan penampilannya
d. Morfologi, anatomi dan fisiologi
e. Morfologi, gen dan lingkungan
Jawaban: D
31 Menunjukkan hewan yang Perhatikan gambar berikut ini. Hewan ini merupakan fauna tipe…. C3
termasuk fauna tipe
a. Asiatik d. Afrika
Asiatik, Australis, dan
Peralihan b. Australis e. Eropa
c. Peralihan

Jawaban: C
32 Membedakan berbagai Pernyataan berikut ini yang benar yang berkaitan dengan keanekaragaman C2
macam keanekaragaman
hayati ialah ….
hayati
a. Keanekaragaman rumput di tempat yang teduh berbeda dengan
keanekaragaman rumput yang terbuka
b. Keanekaragaman hewan air di sepanjang aliran sungai sama
c. Keanekaragaman hayati di sebuah danau sama dengan keanekaragaman
hayati dari sungai yang mengalir
d. Keanekaragaman hewan laut di pantai manapun sama
e. Keanekaragaman spesies tidak ditentukan oleh kondisi lingkungan
Jawaban: E
33 Menjelaskan kerugian Sistem pertanian dapat mengancam keanekaragaman hayati karena … C2
sistem pertanian terhadap
a. Dilakukan secara monokultur, artinya hanya menanam satu jenis
keanekaragaman hayati
tanaman
b. Meningkatnya kebutuhan pangan yang menyebabkan pembukaan lahan
baru dari lahan hutan
c. Membutuhkan banyak air, sehingga semua air digunakan untuk
mengairi sawah
d. Penggunaan pestisida dapat merusak lingkungan
e. Lahan persawahan menjadi miskin nutien karena terus menerus ditanami
Jawaban: D
34 Menjelaskan hal-hal yang Jika pada bagian hutan dibuat jalan yang membuka hutan, mempengaruhi C2
mempengaruhi
bagi biodiversitas ialah ….
biodiversitas
a. meningkatnya pengawasan terhadap hutan
b. menurunnya biodiversitas karena habitat makin terbatas
c. hilangnya biodiversitas karena manusia akan langsung menyerbu hutan
d. biodiversitas terjaga karena makin banyak masyarakat yang mengawasi
e. biodiversitas tidak berubah karena penebangan hutan tetap dilanggar
Jawaban: B
35 Menunjukkan konservasi Daerah konservasi ini pengawasannya sangat ketat. Diperlukan izin khusus C3
keanekaragaman hayati
untuk memasuki kawasan tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk
melestarikan makhluk hidup di kawasan tersebut seperti aslinya tanpa
campur tangan manusia. Tempat yang dimaksud adalah ….
a. hutan lindung c. kebun raya
b. taman nasional d. cagar alam e. hutan wisata
Jawaban: C
36 Menjelaskan kegiatan Berikut yang bukan merupakan kegiatan industri berwawasan lingkungan C2
industri berwawasan
adalah….
lingkungan
a. bahan baku diambil dari lingkungan, limbah dibuang ke lingkungan
b. pengambilan bahan baku tidak merusak lingkungan
c. proses produksi memperhatikan kesehatan dan keselamatan kerja
d. mesin yang digunakan aman, ramah lingkungan, dan hemat energi
e. membuat unit pengolah limbah
Jawaban: A
37 Menjelaskan penyebab Penyebab utama Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi C2
Indonesia memiliki
adalah…
keanekaragaman hayati
a. terletak antara 2 benua dan 2 samudera
b. memiliki flora dan fauna yang mirip dengan oriental maupun australis
c. memiliki iklim tropis dengan curah hujan cukup tinggi
d. merupakan daerah yang dilalui migrasi hewan-hewan
e. merupakan daerah kepulaaun yang terpisah dari dataran benua Asia
Jawaban: A
38 Mencocokkan hubungan Hubungan kelestarian alam dengan derajat hidup manusia adalah …. C1
antara kelestarian alam
a. kelestarian alam yang menjamin baiknya perekonomian
dengan derajat hidup
manusia b. kelestarian alam menunjukkan manusia sudah dapat menghargai alam
dan kebutuhan hidup terpenuhi tanpa merusak alam
c. alam yang baik menunjukkan tingginya pendidikan karena manusia
sudah mengerti pentingnya alam
d. tingginya kekayaan alam menunjukkan kekayaan suatu negara
e. kepedulian lingkungan dapat melampaui batas negara sehingga dapat
menyatukan umat manusia
Jawaban: B
39 Menunjukkan hubungan Perhatikan tabel berikut! C3
hewan Indonesia dengan
Kawasan Indonesia Kawasan Indonesia
daerah Asiatik dan
Barat Timur
Australis
A. Merak Cenderawasih
B. Siamang Orang utan
C. Tapir Kangguru
D. Badak Kangguru
E. Kasuari Anoa
Hewan-hewan Indonesia yang ada hubungannya dengan daerah Oriental
dan Australis adalah….
a. A b. B c. C d. D e. E
Jawaban: A
40 Menunjukkan kekerabatan Seorang siswa melakukan klafikasi pada lima jenis tumbuhan berbeda. C3
suatu makhluk hidup
Hasil pengamatannya menunjukkan perbedaan signifikan. Di bawah ini
adalah ciri-ciri beberapa tumbuhan yang telah diidentifikasi oelah siswa
tersebut:
I. Akar serabut, tidak bercabang, daun sejajar, dan bunga bertandan
II. Akar tunggang, bercabang, daun menyirip, dan bunga berbentuk
bintang
III. Akar tunggang, bercabang, daun menjari, dan bunga bertandan
IV. Akar serabut, bercabang, daun sejajar, dan bunga bertandan
V. Akar tunggang, bercabang, daun menyirip, dan bunga bertandan
Jenis tumbuhan yang erat hubungan kekerabatannya adalah….
a. I dan II c. I dan IV
b. I dan III d. III dan IV e. IV dan V
Jawaban: C
Penghitungan Mean, Median, dan Modus serta Distribusi Frekuensi untuk
Skor Hasil Pre test Siswa Kelas Kontrol

Persiapan tabel distribusi frekuensi skor hasil pretes siswa kelas kontrol,
diketahui data skor hasil pretes siswa kelas kontrol sebagai berikut:

16 16 20 24 24 24 24 24
28 32 32 32 32 32 36 36
36 36 36 40 40 40 40 40
40 40 40 40 40 40 44 44
48 48 48 52 56

Tabel: Skor Hasil Pre test Siswa Kelas Kontrol


No X f X2 f.X f.X2
1 16 2 256 32 512
2 20 1 400 20 400
3 24 5 576 120 2880
4 28 1 784 28 784
5 32 5 1024 160 5120
6 36 5 1296 180 6480
7 40 11 1600 440 17600
8 44 2 1936 88 3872
9 48 3 2304 144 6912
10 52 1 2704 52 2704
11 56 1 3136 56 3136
Jumlah 396 37 16016 1324 50400

Langkah-langkah yang diperlukan dalam menyusun tabel distribusi frekuensi


adalah:
1. Menentukan rentang, yaitu data terbesar dikurangi data terkecil. Dalam hal
ini data terbesar = 56 dan data terkecil = 16, dengan menggunakan rumus:
R =H– L
= 56 – 16
= 40
2. Menentukan banyaknya kelas interval yang diperlukan dengan
menggunakan rumus:
K = 1 + 3,3 log N
= 1 + 3,3 log 37
= 1 + 3,3 (1,57)
= 1 + 5,181
= 6,181 ≈ 6
3. Menentukan panjang kelas interval (i), yaitu dengan menggunakan rumus:
ren tan g ( R) 40
i = = = 6.67 ≈ 7
banyak kelas ( K ) 6

Tabel: Distribusi Frekuensi Pre test Kelas Kontrol


Interval Titik Batas Batas Frekuensi
No
Kelas Tengah Bawah Atas Absolut Relatif
1 16 – 21 18.5 15.5 21.5 3 8.10 %
2 22 – 27 24.5 21.5 27.5 5 13.51 %
3 28 – 33 30.5 27.5 33.5 6 16.22 %
4 34 – 39 36.5 33.5 39.5 5 13.51 %
5 40 – 45 47.5 39.5 45.5 13 35.14 %
6 46 – 51 48.5 45.5 51.5 3 8.10 %
7 52 – 57 54.5 51.5 57.5 2 5.40 %

4. Menentukan mean (rata-rata), yaitu:

= 
fX 1324
M = = 35.78
f 37
5. Menentukan median (nilai tengah), yaitu:
N  1 37  1
Posisi median = = = 19
2 2
Median = 36 (di posisi 19)
6. Menentukan modus (nilai paling banyak muncul), yaitu:
Mo = 40
Penghitungan Mean, Median, dan Modus serta Distribusi Frekuensi untuk
Skor Hasil Pretes Siswa Kelas Eksperimen

Persiapan tabel distribusi frekuensi skor hasil pretes siswa kelas


eksperimen, diketahui data skor hasil pre test siswa kelas eksperimen sebagai
berikut:

20 24 24 28 28 28 32 32
32 32 32 36 36 36 36 40
36 40 40 40 40 40 40 40
40 44 44 44 44 44 48 48
52 56 56 60 60

Tabel: Skor Hasil Pre test Siswa Kelas Eksperimen


No X f X2 f.X f.X2
1 20 1 400 20 400
2 24 2 576 48 1152
3 28 3 784 84 2352
4 32 5 1024 160 5120
5 36 5 1296 180 6480
6 40 9 1600 360 14400
7 44 5 1936 220 9680
8 48 2 2304 96 4608
9 52 1 2704 52 2704
10 56 2 3136 112 6272
11 60 2 3600 120 7200
Jumlah 440 37 19360 1452 60368

Langkah-langkah yang diperlikan dalam menyusun table distribusi frekuensi


adalah:
1. menentukan rentang, yaitu dta terbesar dikurangi data terkecil. Dalam hal
ini data terbesar = 56 dan data terkecil = 16, dengan menggunakan rumus:
R =H– L
= 60 – 20
= 40
2. menentukan banyaknya kelas interval yang diperlukan dengan
menggunakan rumus:
K = 1 + 3,3 log N
= 1 + 3,3 log 37
= 1 + 3,3 (1,57)
= 1 + 5,181
= 6,181 ≈ 6 (hasil pembulatan)
3. menentukan panjang kelas interval (i), yaitu dengan menggunakan rumus:
ren tan g ( R) 40
i = = = 6.67 ≈ 7
banyak kelas ( K ) 6

Tabel: Distribusi Frekuensi Pretes Kelas Eksperimen


Interval Titik Batas Batas Frekuensi
No
Kelas Tengah Bawah Atas Absolut Relatif
1 20 – 26 23 19.5 26.5 3 8.10 %
2 27 – 33 30 26.5 33.5 8 21.62 %
3 34 – 40 37 33.5 40.5 14 37.84 %
4 41 – 47 44 40.5 47.5 5 13.51 %
5 48 – 54 51 47.5 54.5 3 8.10 %
6 55 – 61 58 54.5 61.5 4 10.81 %

4. menentukan mean (rata-rata), yaitu:

= 
fX 1452
M = = 39.24
f 37
5. menentukan median (nilai tengah), yaitu:
N  1 37  1
Posisi median = = = 19
2 2
Median = 40 (di posisi 19)
6. Menentukan modus (nilai paling banyak muncul), yaitu:
Mo = 40
Penghitungan Mean, Median, dan Modus serta Distribusi Frekuensi untuk
Skor Hasil Post test Siswa Kelas Kontrol

Persiapan tabel distribusi frekuensi skor hasil post test siswa kelas kontrol,
diketahui data skor hasil post test siswa kelas kontrol sebagai berikut:

44 48 48 56 56 56 56 60
60 64 64 64 64 64 64 64
64 64 64 68 68 68 68 72
72 72 72 72 72 76 76 76
76 76 80 80 84

Tabel: Skor Hasil Post test Siswa Kelas Kontrol


No X f X2 f.X f.X2
1 44 1 1936 44 1936
2 48 2 2304 96 4608
3 56 4 3136 224 12544
4 60 2 3600 120 7200
5 64 10 4096 640 40960
6 68 4 4624 272 18496
7 72 6 5184 432 31104
8 76 5 5776 380 28880
9 80 2 6400 160 12800
10 84 1 7056 84 7056
Jumlah 652 37 44112 2452 165584

Langkah-langkah yang diperlukan dalam menyusun table distribusi frekuensi


adalah:
1. Menentukan rentang, yaitu dta terbesar dikurangi data terkecil. Dalam hal
ini data terbesar = 56 dan data terkecil = 16, dengan menggunakan rumus:
R =H– L
= 84 – 44
= 40
2. Menentukan banyaknya kelas interval yang diperlukan dengan
menggunakan rumus:
K = 1 + 3,3 log N
= 1 + 3,3 log 37
= 1 + 3,3 (1,57)
= 1 + 5,181
= 6,181 ≈ 6 (hasil pembulatan)
3. Menentukan panjang kelas interval (i), yaitu dengan menggunakan rumus:
ren tan g ( R) 40
i = = = 6.67 ≈ 7 (hasil pembulatan)
banyak kelas ( K ) 6

Tabel: Distribusi Frekuensi Post test Kelas Kontrol


Interval Titik Batas Batas Frekuensi
No
Kelas Tengah Bawah Atas Absolut Relatif
1 44 – 50 47 43.5 50.5 3 8.10 %
2 51 – 57 54 50.5 57.5 4 10.81 %
3 58 – 64 61 57.5 64.5 12 32.43 %
4 65 – 71 68 64.5 71.5 4 10.81 %
5 72 – 78 75 71.5 78.5 11 29.73 %
6 79 – 85 82 78.5 85.5 3 8.10 %

4. Menentukan mean (rata-rata), yaitu:

= 
fX 2452
M = = 66.27
f 37
5. Menentukan median (nilai tengah), yaitu:
N  1 37  1
Posisi median = = = 19
2 2
Median = 64 (di posisi 19)
6. Menentukan modus (nilai paling banyak muncul), yaitu:
Mo = 64
Penghitungan Mean, Median, dan Modus serta Distribusi Frekuensi untuk
Skor Hasil Post test Siswa Kelas Eksperimen

Persiapan tabel distribusi frekuensi skor hasil post test siswa kelas
eksperimen, diketahui data skor hasil post test siswa kelas eksperimen sebagai
berikut:

48 48 56 60 60 60 64 64
64 64 68 68 68 72 72 72
72 72 76 76 76 76 76 76
76 76 80 80 84 84 88 88
88 92 92 96 96

Tabel: Skor Hasil Post test Siswa Kelas Eksperimen


No X f X2 f.X f.X2
1 48 2 2304 96 4608
2 56 1 3136 56 3136
3 60 3 3600 180 10800
4 64 4 4096 256 16384
5 68 3 4624 204 13872
6 72 5 5184 360 25920
7 76 8 5776 608 46208
8 80 2 6400 160 12800
9 84 2 7056 168 14112
10 88 3 7744 264 23232
11 92 2 8464 184 16928
12 96 2 9216 192 18432
Jumlah 884 37 67600 2728 206432

Langkah-langkah yang diperlukan dalam menyusun tabel distribusi frekuensi


adalah:
1. Menentukan rentang, yaitu data terbesar dikurangi data terkecil. Dalam hal
ini data terbesar = 56 dan data terkecil = 16, dengan menggunakan rumus:
R =H– L
= 96 – 48
= 48
2. Menentukan banyaknya kelas interval yang diperlukan dengan
menggunakan rumus:
K = 1 + 3,3 log N
= 1 + 3,3 log 37
= 1 + 3,3 (1,57)
= 1 + 5,181
= 6,181 ≈ 6 (hasil pembulatan)
3. Menentukan panjang kelas interval (i), yaitu dengan menggunakn rumus:
ren tan g ( R) 48
i = = =8
banyak kelas ( K ) 6

Tabel: Distribusi Frekuensi Post test Kelas Eksperimen


Interval Titik Batas Batas Frekuensi
No
Kelas Tengah Bawah Atas Absolut Relatif
1 48 – 55 51.5 47.5 55.5 2 5.40 %
2 56 – 63 54.5 55.5 63.5 9 24.32 %
3 64 – 71 67.5 63.5 71.5 4 10.81 %
4 72 – 79 75.5 71.5 79.5 13 35.13 %
5 80 – 87 83.5 82.5 87.5 4 10.81 %
6 88 – 95 91.5 87.5 95.5 5 13.51 %
7 < 96 99.5 95.5 103.5 2 5.40 %

4. Menentukan mean (rata-rata), yaitu:

= 
fX 2728
M = = 73.73
f 37
5. Menentukan median (nilai tengah), yaitu:
N  1 37  1
Posisi median = = = 19
2 2
Median = 76 (di posisi 19)
6. Menentukan modus (nilai paling banyak muncul), yaitu:
Mo = 76
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Kelas Eksperimen

Mata pelajaran : Biologi


Kelas/semester : X/2
Pertemuan ke- :1
Alokasi waktu : 2 x 45 menit (2 jam pelajaran)
Standar kompetensi : 3. Memahami manfaat keanekargaman hayati
Kompetensi dasar : 3.1 Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, dan ekosistem melalui kegiatan pengamatan.

Indikator:
1. mendeskripsikan konsep keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem.
2. mengidentifikasi keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem melalui pengamatan.
3. membandingkan ciri keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem.

Tujuan:
1. siswa dapat mendeskripsikan konsep keanekaragaman hayati
2. siswa dapat melakukan pengamatan mengenai keanekaragaman hayati
3. siswa dapat membandingkan ciri keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem.

Model dan Metode Pembelajaran


Model : pembelajaran aktif dengan mind map
Metode : praktikum, diskusi
Materi ajar
Keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem
Peta Konsep

Keanekaragaman
Hayati

Terdiri Dari

Keanekaragaman Keanekaragaman
tingkat gen Keanekaragaman tingkat ekosistem
tingkat jenis
Dipengaruhi oleh yaitu

Terdiri dari
Gen
Kumpulan spesies
Variasi bentuk, berbeda jenis
warna, dll.
Dipengaruhi oleh

Lingkungan
Langkah-langkah Kegiatan Pertemuan 1

Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu


(menit)
Apersepsi 1. Menggali informasi seputar keanekaragaman 1. Mengungkapkan apa saja mengenai 10
hayati di sekitar lingkungan tempat tinggal keanekaragaman hayati di lingkungannya.
siswa. 2. Salah satu siswa menjawab pertanyaan
2. Mengajukan masalah misalnya dengan tersebut.
pertanyaan: ”Mengapa bunga bougenvile 3. Duduk sesuai kelompok yang sudah
berbeda warna dalam satu pohon”. ditentukan, semua anggota kelompok
3. Menjelaskan materi ini menggunakan mind menyimak penjelasan tentang prosedur LKS
map. yang diberikan guru.
4. Mengelompokkan siswa sesuai dengan
jumlah siswa di kelas.
Eksplorasi* 1. Meminta siswa membaca subkonsep 1. Siswa membaca subkonsep keanekaragaman 45
keanekaragaman dan membuat mind map hayati dan membuat mind map.
seperti yang dicontohkan oleh guru. 2. Dalam kelompok siswa melakukan kegiatan
2. Meminta siswa untuk mengamati melalui praktikum.
keanekaragaman hayati dengan 3. Mengamati gambar keanekaragaman tingkat
menggunakan kegiatan praktikum. gen, jenis, dan ekosistem.
3. Meminta siswa untuk memperhatikan 4. Siswa membandingkan gambar
gambar pada kegiatan praktikum. keanekaragaman tersebut dengan aslinya
4. Mengarahkan siswa untuk membandingkan 5. Mencatat hasil pengamatan pada lembar kerja
gambar tersebut dengan aslinya. siswa.
5. Mengarahkan siswa untuk mencatat hasil
pengamatannya.
Diskusi 1. Meminta siswa mendiskusikan hasil 1. Mendiskusikan hasil pengamatan dalam 25
pengamatan untuk dipresentasikan kelompoknya
2. Meminta siswa menjawab pertanyaan pada 2. Siswa menjawab pertanyaan yang ada pada
LKS berdasarkan pengamatan. LKS berdasarkan hasil pengamatan
3. Meminta wakil beberapa kelompok untuk 3. Mempresentasikan hasil praktikum oleh
mempresentasikan hasil praktikum wakil beberapa kelompok
4. Meminta siswa lainnya untuk melakukan 4. Berdiskusi dan tanya jawab mengenai
tanya jawab dalam diskusi. praktikum
Aplikasi 1. Memberikan kesempatan kepada salah satu 1. Salah satu siswa membacakan kesimpulan 10
siswa untuk membacakan kesimpulan. praktikum.
2. Menarik kesimpulan dari apa yang telah 2. Mendengar guru mengenai kesimpulan
didiskusikan. diskusi.
3. Mengingatkan untuk membaca materi 3. Mendengarkan guru mengenai materi minggu
minggu depan. depan yang harus dipelajari di rumah.
4. Memberikan tugas kepada siswa. 4. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru.

Sumber Belajar
1. Diah Aryulina, dkk.. 2004 Biologi 1: SMA dan MA untuk Kelas X. Jakarta: Esis.
2. Buku Biologi yang relevan
3. Internet

Penilaian
1. Pemahaman dan penerapan konsep: tugas keanekaragaman hayati yaitu mencari contoh tumbuhan atau hewan yang termasuk
keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Kelas Eksperimen

Mata pelajaran : Biologi


Kelas/semester : X/2
Pertemuan ke- :2
Alokasi waktu : 2 x 45 menit (2 jam pelajaran)
Standar kompetensi : 3. Memahami manfaat keanekargaman hayati
Kompetensi dasar : 3.1 Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, dan ekosistem melalui kegiatan pengamatan.

Indikator:
1. Mendeskripsikan dasar-dasar klasifikasi keanekaragaman hayati
2. Melakukan kegiatan pengamatan mengenai klasifikasi makhluk hidup

Tujuan:
1. siswa dapat mendeskripsikan dasar-dasar klasifikasi keanekaragaman hayati
2. siswa dapat menyusun klasifikasi makhluk hidup berdasarkan sistem buatan, alamiah, dan filogenetik
3. siswa dapat melakukan kegiatan pengamatan mengenai klasifikasi makhluk hidup berdasarkan gambar

Model dan Metode Pembelajaran


Model : pembelajaran aktif dengan mind map
Metode : diskusi, tanya jawab
Materi ajar
Klasifikasi keanekaragaman hayati

Peta Konsep

Klasifikasi Makhluk
Hidup

Yaitu

Tujuan dan Klasifikasi Makhluk Tata Nama Macam-macam


Manfaat hidup Sistem Klasifikasi
Binomial
Klasifikasi
Terdiri dari
Yaitu

Sistem Alamiah
Sistem Buatan Sistem Dua Kingdom
Sistem Filogenetik Sistem Tiga Kingdom
Sistem Empat Kingdom
Sistem Lima Kingdom
Sistem Enam Kingdom
Langkah-Langkah Kegiatan Pertemuan 2

Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu


(menit)
Apersepsi 1. Menggali informasi seputar materi keanekaragaman 1. Mengingat kembali materi yang telah 10
hayati yang telah disampaikan. disampaikan.
2. Mengajukan masalah misalnya dengan pertanyaan: 2. Salah satu siswa menjawab pertanyaan
”Apa pendapatmu tentang perbedaan antara tersebut.
makhluk hidup yang satu dengan yang lain”. 3. Duduk sesuai kelompok yang sudah
3. Mengarah siswa untuk berkelompok. ditentukan.
4. menjelaskan contoh klasifikasi makhluk hidup 4. Menyimak penjelasan guru mengenai
dengan mind map klasifikasi makhluk hidup.
5. Menjelaskan LKS yang akan siswa diskusikan. 5. Semua anggota menyimak penjelasan
tentang LKS.

Eksplorasi* 1. Meminta siswa untuk melakukan diskusi pada 1. Dalam kelompok siswa melakukan diskusi 45
lembar kegiatan dan membuat mind map. pada lembar kegiatan.
2. Meminta siswa untuk memperhatikan kegiatan 1, 2, 2. Memperhatikan kegiatan 1, 2, 3 dan 4
3 dan 4 dengan teliti dan cermat. dengan teliti dan cermat.
3. Mengarahkan siswa untuk membandingkan gambar 3. Mencatat hasil pengamatan pada lembar
tersebut dengan aslinya. kerja siswa.
4. Mengarahkan siswa untuk mencatat hasil 4. membuat klasifikasi makhluk hidup yang
pengamatannya. ada di LKS dalam bentuk mind map.
5. Meminta siswa untuk membuat klasifikasi makhluk
dalam bentuk mind map.
Diskusi 1. Meminta siswa mendiskusikan hasil pengamatan 1. Mendiskusikan hasil pengamatan dalam 25
untuk dipresentasikan kelompoknya
2. Meminta siswa menjawab pertanyaan pada LKS 2. Siswa menjawab pertanyaan yang ada pada
berdasarkan hasil pengamatan. LKS berdasarkan hasil pengamatan
3. Meminta wakil beberapa kelompok untuk 3. Mempresentasikan hasil praktikum oleh
mempresentasikan hasil pengamatan (mind map dan wakil beberapa kelompok
LKS). 4. Berdiskusi dan tanya jawab.
4. Meminta siswa lainnya untuk melakukan tanya
jawab dalam diskusi.
Aplikasi 1. Memberikan kesempatan kepada salah satu siswa 1. Salah satu siswa menyimpulkan hasil diskusi. 10
untuk membacakan kesimpulan. 2. Membaca materi minggu depan.
2. Menarik kesimpulan dari apa yang telah 3. Mengerjakan tugas individu mengenai
didiskusikan. klasifikasi makhluk hidup.
3. Mengingatkan untuk membaca materi minggu
depan.
4. Memberikan tugas individu membuat tata nama dari
tumbuhan dan hewan menggunakan skema dari
mind map.

Sumber Belajar
1. Diah Aryulina, dkk.. 2004 Biologi 1: SMA dan MA untuk Kelas X. Jakarta: Esis.
2. Buku biologi yang relevan
3. Internet

Penilaian
1. Pemahaman dan penerapan konsep: tugas mind map klasifikasi makhluk hidup.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Kelas Eksperimen

Mata pelajaran : Biologi


Kelas/semester : X/2
Pertemuan ke- :3
Alokasi waktu : 2 x 45 menit (2 jam pelajaran)
Standar kompetensi : 3. Memahami manfaat keanekargaman hayati
Kompetensi dasar : 3.2 Mengkomunikasikan keanekaragaman Indonesia dan usaha pelestarian serta pemanfaatan
sumber daya alam.

Indikator:
1. Menyebutkan macam-macam keanekaragaman hayati Indonesia dan usaha pelestarian serta pemanfaatannya.
2. Menunjukkan keunikan biodiversitas Indonesia berdasarkan persebarannya.
3. Mengiventarisasi tumbuhan dan hewan khas di Indonesia yang memiliki nilai tertentu.
4. Mengidentifikasi kegiatan manusia dalam usaha pelestarian alam.

Tujuan:
1. Siswa dapat mengidentifikasi macam-macam keanekaragaman hayati Indonesia.
2. Siswa dapat mendeskripsikan keunikan biodiversitas Indonesia berdasarkan persebarannya.
3. Siswa dapat mengelompokkan tumbuhan dan hewan khas di Indonesia berdasarkan persebarannya.
4. Siswa dapat mendeskripsikan upaya pelestarian keanekaragaman hayati serta pemanfaatan sumber daya alam.

Model dan Metode Pembelajaran


Model : pembelajaran aktif dengan mind map
Metode : diskusi, tanya jawab, kerja kelompok
Materi ajar
Keanekaragaman hayati Indonesia

Peta Konsep

Keanekaragaman
hayati

Terancam oleh Dikelola dengan

Perubahan Polusi Konservasi


iklim

berupa

Pembabatan Ledakan
hutan penduduk K. in situ K. ex situ
Langkah-langkah Kegiatan Pertemuan 3

Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu


(menit)
Apersepsi 1. Mengulang kembali materi yang telah diajarkan. 1. Salah satu siswa berbicara apa yang telah 10
2. Menggali informasi seputar keanekaragaman dipelajari.
hayati di Indonesia. 2. Mengungkapkan apa saja mengenai
3. Mengajukan masalah misalnya dengan pertanyaan: keanekaragaman hayati di Indonesia.
”Apa pendapatmu tentang manfaat tumbuhan dan 3. Salah satu siswa menjawab pertanyaan
hewan khas Indonesia bagi kehidupan manusia”. tersebut.
4. Menjelaskan materi menggunakan mind map. 4. Duduk sesuai kelompoknya masing-masing.
5. Meminta siswa untuk berkelompok .

Eksplorasi* 1. Meminta siswa mendiskusikan bersama 1. Dalam kelompok siswa melakukan diskusi 45
kelompoknya mengenai keunikan dan peran mengenai keunikan dan peran keanekaragaman
keanekaragaman hayati Indonesia dalam hayati Indonesia dalam kehidupan manusia.
kehidupan manusia. 2. melakukan apa yang diminta oleh guru yaitu
2. Meminta kelompok untuk membuat mind map membuat mind map tentang contoh-contoh
tentang contoh-contoh tumbuhan dan hewan yang tumbuhan dan hewan yang bermanfaat dalam
bermanfaat dalam bidang pangan, bahan obat dan bidang pangan, bahan obat dan kosmetik,
kosmetik, sandang dan papan, dan sumber budaya. sandang dan papan, dan sumber budaya.
Diskusi 1. Memberikan lembar kegiatan 4 dan 5 mengenai 1. Mendiskusikan hasil pengamatan dalam 25
berbagai macam aktivitas manusia yang kelompoknya.
menguntungkan dan merugikan bagi 2. Siswa menjawab pertanyaan kegiatan 4 dan 5
keanekaragaman hayati. berdasarkan hasil diskusi kelompok masing-
2. Meminta siswa menjawab pertanyaan pada lembar masing.
kegiatan berdasarkan hasil diskusi. 3. Mempresentasikan hasil diskusi oleh wakil
3. Meminta wakil beberapa kelompok untuk beberapa kelompok.
mempresentasikan hasil diskusi (mind map dan 4. Berdiskusi dan tanya jawab mengenai apa
LKS) yang telah diskusikan.
4. Meminta siswa lainnya untuk melakukan tanya
jawab dalam diskusi.
Aplikasi 1. Meminta siswa menyimpulkan peran 1. Salah satu menyimpulkan hasil berdiskusi. 10
keanekaragaman hayati dan berbagai kegiatan 2. Mengingat dan mengerjakan tugas kelompok
manusia baik yang merugikan maupun yang untuk dikumpulkan minggu depan.
menguntungkan keanekaragaman hayati.
2. Memberikan tugas kelompok yaitu setiap
kelompok mencari tumbuhan dan hewan ciri kahas
suatu pulau besar di Indonesia untuk dikumpulkan
minggu depan.

Sumber Belajar
1. Diah Aryulina, dkk.. 2004 Biologi 1: SMA dan MA untuk Kelas X. Jakarta: Esis.
2. Buku biologi yang relevan
3. Internet

Penilaian
1. Pemahaman dan penerapan konsep: tugas kelompok mengenai keanekaragaman hayati Indonesia dalam bentuk mind map.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Kelas Kontrol

Mata pelajaran : Biologi


Kelas/semester : X/2
Pertemuan ke- :1
Alokasi waktu : 2 x 45 menit (2 jam pelajaran)
Standar kompetensi : 3. Memahami manfaat keanekargaman hayati
Kompetensi dasar : 3.1 Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, dan ekosistem melalui kegiatan pengamatan.

Indikator:
1. mendeskripsikan konsep keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem.
2. mengidentifikasi keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem melalui pengamatan.
3. membandingkan ciri keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem.

Tujuan:
1. siswa dapat mendeskripsikan konsep keanekaragaman hayati
2. siswa dapat melakukan pengamatan mengenai keanekaragaman hayati
3. siswa dapat membandingkan ciri keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem.

Model dan Metode Pembelajaran


Model : pembelajaran aktif
Metode : praktikum, diskusi
Materi ajar
Keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem
Peta Konsep

Keanekaragaman
Hayati

Terdiri Dari

Keanekaragaman Keanekaragaman
tingkat gen Keanekaragaman tingkat ekosistem
tingkat jenis
Dipengaruhi oleh yaitu

Gen Terdiri dari


Kumpulan spesies
Variasi bentuk, berbeda jenis
warna, dll.
Dipengaruhi oleh

Lingkungan
Langkah-Langkah Kegiatan Pertemuan 1

Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu


(menit)
Apersepsi 1. Menggali informasi seputar keanekaragaman 1. Mengungkapkan apa saja mengenai 10
hayati di sekitar lingkungan tempat tinggal keanekaragaman hayati di
siswa. lingkungannya.
2. Mengajukan masalah misalnya dengan 2. Salah satu siswa menjawab pertanyaan
pertanyaan: “mengapa bunga bougenvile tersebut.
berbeda warna dalam satu pohon”. 3. Duduk sesuai kelompok yang sudah
3. Mengelompokkan siswa sesuai dengan ditentukan, semua anggota kelompok
jumlah siswa di kelas. menyimak penjelasan tentang prosedur
LKS yang diberikan guru.
Eksplorasi 1. Meminta siswa untuk mengamati 1. Dalam kelompok siswa melakukan 30
keanekaragaman hayati dengan menggunakan kegiatan melalui praktikum.
kegiatan praktikum. 2. Mengamati jenis tumbuhan dengan
2. Meminta siswa untuk memperhatikan jenis menentukan ciri-ciri khusus.
tumbuhan yang dibawa . 3. Siswa membuat tabel perbandingan jenis
3. Mengarahkan siswa untuk membuat tabel tumbuhan.
perbandingan jenis tumbuhan. 4. Mencatat hasil pengamatan pada lembar
4. Mengarahkan siswa untuk mencatat hasil kerja siswa.
pengamatannya.

Diskusi 1. Meminta siswa mendiskusikan hasil 1. Mendiskusikan hasil pengamatan dalam 40


pengamatan untuk dipresentasikan kelompoknya
2. Meminta siswa menjawab pertanyaan pada 2. Siswa menjawab pertanyaan yang ada
LKS berdasarkan pengamatan. pada LKS berdasarkan hasil pengamatan
3. Meminta wakil beberapa kelompok untuk 3. Mempresentasikan hasil praktikum oleh
mempresentasikan hasil praktikum wakil beberapa kelompok
4. Meminta siswa lainnya untuk melakukan 4. Berdiskusi dan tanya jawab mengenai
tanya jawab dalam diskusi. praktikum.
Aplikasi 1. Memberikan kesempatan kepada salah satu 1. Salah satu siswa membacakan 10
siswa untuk membacakan kesimpulan. kesimpulan praktikum.
2. Menarik kesimpulan dari apa yang telah 2. Mendengarkan guru mengenai
didiskusikan. kesimpulan diskusi.
3. mengingatkan untuk membaca materi minggu 3. Membaca mengenai materi minggu
depan. depan yang harus dipelajari di rumah.
4. Memberikan tugas kepada siswa 4. Mengerjakan tugas yang diberikan oleh
guru

Sumber Belajar
1. Diah Aryulina, dkk.. 2004 Biologi 1: SMA dan MA untuk Kelas X. Jakarta: Esis.
2. buku biologi yang relevan
3. internet

Penilaian
1. Pemahaman dan penerapan konsep: tugas keanekaragaman hayati yaitu mencari contoh tumbuhan atau hewan yang termasuk
keanekaragaman hayati tingkat gen, jenis, dan ekosistem.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Kelas Kontrol

Mata pelajaran : Biologi


Kelas/semester : X/2
Pertemuan ke- :2
Alokasi waktu : 2 x 45 menit (2 jam pelajaran)
Standar kompetensi : 3. Memahami manfaat keanekargaman hayati
Kompetensi dasar : 3.1 Mendeskripsikan konsep keanekaragaman gen, jenis, dan ekosistem melalui kegiatan pengamatan.

Indikator:
1. Mendeskripsikan dasar-dasar klasifikasi keanekaragaman hayati
2. Melakukan kegiatan pengamatan mengenai klasifikasi makhluk hidup

Tujuan:
1. siswa dapat mendeskripsikan dasar-dasar klasifikasi keanekaragaman hayati
2. siswa dapat menyusun klasifikasi makhluk hidup berdasarkan sistem buatan, alamiah, dan filogenetik
3. siswa dapat melakukan kegiatan pengamatan mengenai klasifikasi makhluk hidup berdasarkan gambar

Model dan Metode Pembelajaran


Model : pembelajaran aktif
Metod : diskusi, tanya jawab
Materi ajar
Klasifikasi keanekaragaman hayati
Peta Konsep

Klasifikasi Makhluk
Hidup

Yaitu

Tujuan dan Klasifikasi Makhluk Macam-macam


Tata Nama
Manfaat hidup Binomial Sistem Klasifikasi
Klasifikasi
Terdiri dari
Yaitu

Sistem Alamiah
Sistem Buatan Sistem Dua Kingdom
Sistem Filogenetik Sistem Tiga Kingdom
Sistem Empat Kingdom
Sistem Lima Kingdom
Sistem Enam Kingdom
Langkah-Langkah Kegiatan Pertemuan 2

Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu


(menit)
Apersepsi 1. Menggali informasi seputar materi 1. Mengingat kembali materi yang telah 10
keanekaragaman hayati yang telah disampaikan.
disampaikan. 2. Salah satu siswa menjawab pertanyaan
2. Mengajukan masalah misalnya dengan tersebut
pertanyaan: “apa pendapatmu tentang 3. Duduk sesuai kelompok yang sudah
perbedaan antara makhluk hidup yang satu ditentukan
dengan yang lain”. 4. Semua anggota menyimak penjelasan
3. Mengarah siswa untuk berkelompok. tentang LKS.
4. Menjelaskan LKS yang akan siswa
diskusikan.
Eksplorasi 1. Meminta siswa untuk melakukan diskusi 1. Dalam kelompok siswa melakukan diskusi 30
pada lembar kegiatan 1 dan 2. pada lembar kegiatan 2, 3, dan 4.
2. Meminta siswa untuk memperhatikan 2. Memperhatikan kegiatan 2, 3, dan 4 dengan
kegiatan 2, 3, dan 4 dengan teliti dan cermat. teliti dan cermat.
3. Mengarahkan siswa untuk membandingkan 3. Mencatat hasil pengamatan pada lembar
gambar tersebut dengan aslinya kerja siswa.
4. Mengarahkan siswa untuk mencatat hasil
pengamatannya
Diskusi 1. Meminta siswa mendiskusikan hasil 1. Mendiskusikan hasil pengamatan dalam 40
pengamatan untuk dipresentasikan kelompoknya
2. Meminta siswa menjawab pertanyaan pada 2. Siswa menjawab pertanyaan yang ada pada
LKS berdasarkan hasil pengamatan. LKS berdasarkan hasil pengamatan
3. Meminta wakil beberapa kelompok untuk 3. Mempresentasikan hasil praktikum oleh
mempresentasikan hasil praktikum wakil beberapa kelompok.
4. Meminta siswa lainnya untuk melakukan 4. Berdiskusi dan tanya jawab.
tanya jawab dalam diskusi.
Aplikasi 1. Memberikan kesempatan kepada salah satu 1. Salah satu siswa menyimpulkan hasil 10
siswa untuk membacakan kesimpulan. diskusi.
2. Menarik kesimpulan dari apa yang telah 2. Membaca materi minggu depan.
didiskusikan. 3. Mengerjakan tugas kelompok.
3. Mengingatkan untuk membaca materi
minggu depan.
4. Memberikan tugas individu membuat tata
nama dari tumbuhan dan hewan.

Sumber Belajar
1. Diah Aryulina, dkk.. 2004 Biologi 1: SMA dan MA untuk Kelas X. Jakarta: Esis.
2. Buku biologi yang relevan
3. Internet

Penilaian
1. Pemahaman dan penerapan konsep: tugas individu klasifikasi makhluk hidup dalam bentuk skema.
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Kelas Kontrol

Mata pelajaran : Biologi


Kelas/semester : X/2
Pertemuan ke- :3
Alokasi waktu : 2 x 45 menit (2 jam pelajaran)
Standar kompetensi : 3. Memahami manfaat keanekargaman hayati
Kompetensi dasar : 3.2 Mengkomunikasikan keanekaragaman Indonesia dan usaha pelestarian serta pemanfaatan
sumber daya alam.

Indikator:
1. Menyebutkan macam-macam keanekaragaman hayati Indonesia dan usaha pelestarian serta pemanfaatannya.
2. Menunjukkan keunikan biodiversitas Indonesia berdasarkan persebarannya.
3. Mengiventarisasi tumbuhan dan hewan khas di Indonesia yang memiliki nilai tertentu.
4. Mengidentifikasi kegiatan manusia dalam usaha pelestarian alam.

Tujuan:
1. Siswa dapat mengidentifikasi macam-macam keanekaragaman hayati Indonesia.
2. Siswa dapat mendeskripsikan keunikan biodiversitas Indonesia berdasarkan persebarannya.
3. Siswa dapat mengelompokkan tumbuhan dan hewan khas di Indonesia berdasarkan persebarannya.
4. Siswa dapat mendeskripsikan upaya pelestarian keanekaragaman hayati serta pemanfaatan sumber daya alam.

Model dan Metode Pembelajaran


Model : pembelajaran aktif
Metode : diskusi, tanya jawab, kerja kelompok
Materi ajar
Keanekaragaman hayati Indonesia
Peta Konsep

Keanekaragaman
hayati

Terancam oleh Dikelola dengan

Perubahan Polusi Konservasi


iklim

berupa

Pembabatan Ledakan
hutan penduduk K. in situ K. ex situ
Langkah-Langkah Kegiatan Pertemuan 3

Tahap Kegiatan Guru Kegiatan Siswa Waktu


(menit)
Apersepsi 1. Mengulang kembali materi yang telah 1. Salah satu siswa berbicara apa yang telah 10
diajarkan. dipelajari.
2. Menggali informasi seputar keanekaragaman 2. Mengungkapkan apa saja mengenai
hayati di Indonesia. keanekaragaman hayati di Indonesia.
3. Mengajukan masalah misalnya dengan 3. Salah satu siswa menjawab pertanyaan
pertanyaan: “Apa pendapatmu tentang tersebut.
manfaat tumbuhan dan hewan khas Indonesia 4. Duduk sesuai kelompoknya masing-
bagi kehidupan manusia”. masing.
4. Meminta siswa untuk berkelompok.
Eksplorasi 1. Meminta siswa mendiskusikan bersama 1. Dalam kelompok siswa melakukan diskusi 30
kelompoknya mengenai keunikan dan peran mengenai keunikan dan peran
keanekaragaman hayati Indonesia dalam keanekaragaman hayati Indonesia dalam
kehidupan manusia. kehidupan manusia.
2. Meminta kelompok untuk membuat tabel 2. melakukan apa yang diminta oleh guru
yang berisi tentang contoh-contoh tumbuhan yaitu membuat tabel berisi tentang contoh-
dan hewan yang bermanfaat dalam bidang contoh tumbuhan dan hewan yang
pangan, bahan obat dan kosmetik, sandang bermanfaat dalam bidang pangan, bahan
dan papan, dan sumber budaya. obat dan kosmetik, sandang dan papan, dan
sumber budaya.

Diskusi 1. Meminta siswa mendiskusikan hasil diskusi 1. Mendiskusikan hasil diskusi kelompoknya. 40
kelompoknya. 2. Siswa melaksanakan tugas berdasarkan
2. Memberikan tugas mengenai berbagai hasil diskusi kelompok masing-masing.
macam aktivitas manusia yang 3. Mempresentasikan hasil diskusi oleh wakil
menguntungkan dan merugikan bagi beberapa kelompok.
keanekaragaman hayati. 4. Berdiskusi dan tanya jawab mengenai apa
3. Meminta wakil beberapa kelompok untuk yang telah diskusikan
mempresentasikan hasil diskusi
4. Meminta siswa lainnya untuk melakukan
tanya jawab dalam diskusi.
Aplikasi 1. Meminta siswa menyimpulkan peran 1. Salah satu menyimpulkan hasil berdiskusi. 10
keanekaragaman hayati dan berbagai 2. Mengingat dan mengerjakan tugas
kegiatan manusia baik yang merugikan kelompok untuk dikumpulkan minggu
maupun yang menguntungkan depan..
keanekaragaman hayati.
2. Memberikan tugas kelompok yaitu setiap
kelompok mencari tumbuhan dan hewan ciri
kahas suatu pulau besar di Indonesia untuk
dikumpulkan minggu depan.

Sumber Belajar
1. Diah Aryulina, dkk.. 2004 Biologi 1: SMA dan MA untuk Kelas X. Jakarta: Esis.
2. Buku biologi yang relevan
3. Internet

Penilaian
1. Pemahaman dan penerapan konsep: tugas kelompok mengenai tumbuhan dan hewan khas pulau besar di Indonesia. Masing-
masing kelompok membahas 1 pulau besar di Indonesia.
BIOLOGI KEANEKARAGAMAN HAYATI

PETUNJUK UMUM
1. Isilah identitas Anda ke dalam Lembar Jawaban yang tersedia dengan
menggunakan bolpoint, berilah tanda silang (X) pada jawaban yang Anda
anggap paling benar.
2. Tersedia waktu 60 menit untuk mengerjakan tes tersebut.
3. Jumlah soal sebanyak 25 butir, pada setiap butir terdapat 5 (lima) pilihan
jawaban.
4. Periksa dan bacalah soal-soal sebelum Anda menjawabnya.
5. Laporkan kepada guru apabila terdapat lembar soal yang kurang jelas, rusak,
atau tidak lengkap.
6. Periksalah pekerjaan Anda sebelum diserahkan kepada guru.
7. Lembar soal tidak boleh dicoret-coret.
SELAMAT BEKERJA

1. Kelompok hewan yang termasuk keragaman jenis adalah….


a. Kambing, sapi, bebek
b. Ayam horn, ayam kate, ayam walnut
c. Ayam horn, angsa, burung pelikan
d. Ayam, tikus, kambing
e. Kucing, anjing, tikus

2. Hewan yang unik hanya ditemukan di suatu daerah atau pulau tertentu
disebut….
a. Kosmopolit d. Keanekaragaman
b. Variasi e. Natural
c. Endemik

3. Faktor-faktor penyebab terjadinya keanekaragaman spesies yaitu….


a. genetik
b. interaksi dengan lingkungan
c. lingkungan
d. habitat
e. genetik dan interaksi dengan lingkungan

4. Salah satu tujuan klasifikasi makhluk hidup adalah….


a. melestarikan jenis makhluk hidup
b. memberi nama ilmiah untuk setiap makhluk hidup
c. menentukan ciri setiap makhluk hidup
d. mengelompok objek studi
e. menentukan persamaan sifat di antara makhluk hidup
5. Perhatikan ciri-ciri suatu daerah di bawah ini:
- banyak ditemui semak-semak
- jarang ada pohon besar
- musim kemarau yang panjang
Daerah tersebut adalah….
a. Stepa c. hutan musim
b. Sabana d. hutan hujan tropis e. padang rumput

6. Setelah mendeterminasi dua jenis tanaman seorang siswa menemukan dua


spesies tanaman tersebut yaitu Hibiscus rosasinensis dan Hibiscus tiliaceus.
Berdasarkan nama tersebut dapat disimpulkan bahwa tanaman tersebut
adalah….
a. Spesies sama, genus berbeda
b. Genus berbeda, familia berbeda
c. Genus sama, spesies berbeda
d. Familia sama, genus berbeda
e. Genus berbeda, familia sama

7. Penggolongan (klasifikasi) pada tumbuhan tingkat tinggi berdasarkan pada


perbedaan…
a. penyebaran geografis d. struktur alat reproduksi
b. ukuran dan warna e. daur hidup
c. susunan akar, batang, dan daun

8. Dasar utama klasifikasi makhluk hidup adalah adanya persamaan dan


perbedaan. Manakah pernyataan di bawah ini yang benar....
a. makhluk hidup mempunyai banyak persamaan dimasukkan ke dalam
takson yang lebih rendah
b. makhluk hidup mempunyai banyak persamaan dimasukkan ke dalam
takson yang lebih tinggi
c. makhluk hidup mempunyai sedikit persamaan dimasukkan ke dalam
takson yang lebih rendah
d. jenis makhluk hidup pada takson yang rendah mempunyai banyak
perbedaan
e. jenis makhluk hidup pada takson yang tinggi mempunyai sedikit
perbedaan

9. Cara penulisan suatu spesies menurut prinsip binomial nomenklatur yang


benar adalah….
a. cattleya gigas c. Cattleya Gigas
b. cattleya gigas d. Cattleyagigas e. Cattleya gigas

10. Pengertian taksonomi adalah….


a. Penentuan jenis makanan dari berbagai kelompok organisme
b. Penentuan kelompok organisme dari berbagai jenjang
c. Penentuan lingkungan hidup berbagai jenis organisme
d. Penentuan jumlah kelompok suatu organisme
e. Penentuan nama-nama kelompok organisme tertentu

11. Kelapa hijau, kelapa gading, kelapa kopyor, kelapa hibrida merupakan
keanekaragaman tingkat….
a. Genetika c. Jenis
b. Populasi d. Ekosistem e. Komunitas

12. Seorang ahli botani mengelompokkan pinang, kelapa, lontar dan aren dalam
satu kelompok. Ahli botani melakukan pengamatan. Hasil pengamatan dalam
bentuk tabel seperti di bawah ini.

No Ciri- Kelapa Aren Pinang Lontar


ciri
1 Tinggi > 30 m 25 m 25 m 15-25 m
Batang
2 Daun -Panjang Panjang Tangkai daun -Panjang
tangkai daun tangkai daun pendek tangkai daun
75-150 cm 150 cm 100 cm
-Helaian daun -Helaian daun
5 m, ujung bulat, tepi daun
runcing dan bercabang
keras menjari
3 Bunga tongkol tongkol tongkol bulir
Pengelompokkan seperti ini merupakan klasifikasi….
a. Buatan c. Filogenik
b. Artifial d. Alamiah e. Jenis

13. Salah satu upaya pelestarian keanekaragaman hayati adalah....


a. penanaman pohoh-pohon pembatas jalan raya
b. uji emisi buangan gas terhadap kendaraan bermotor
c. melalui program kali bersih bagi sungai yang tercemar
d. dilakukannya sistem tumpang sari pada penanaman pertanian
e. pencanangan melati sebagai puspa nasional dan komodo pada satwa
nasional

14. Pembangunan tidak selamanya mendatangkan manfaat, tetapi juga


mendatangkan resiko. Berikut ini merupakan contoh resiko akibat
pembangunan adalah … .
a. berkurangnya lahan pangan akibat pembangunan waduk
b. pemindahan pemukiman penduduk akibat pembangunan waduk
c. punahnya kehidupan flora dan fauna akibat pembukaan lahan
d. hilangnya daerah resapan air akibat pembangunan pemukiman di kawasan
puncak
e. adanya penampungan air akibat terjaminnya persediaan air untuk irigasi
dan kebutuhan lain
15. Hewan yang merupakan jenis langka dan khas yang hidup di hutan yang
terdapat di pulau Sulawesi….
a. babi rusa dan komodo d. orang utan dan mawas
b. burung cenderawasih dan maleo e. babi rusa dan orang utan
c. burung maleo dan babi rusa

16. Seseorang menemukan dua jenis katak di hutan tropis yaitu, katak hijau
(Rana macrodon) dan katak macan (Rana tigrina). Kedua jenis katak
memiliki persamaan ciri sebagai berikut:
- mempunyai ruas-ruas tulang belakang
- mempunyai tulang tengkorak
- tubuh simetris bilateral
- rangka berupa rangka dalam
Berdasarkan ciri-ciri tersebut, katak hijau dan katak macan termasuk ke
dalam takson yang sama, yaitu….
a. Phylum Chordata c. Classis Amfibia
b. Subphylum Vertebrata d. Ordo Anura e. Genus Rana

17. Perhatikan tabel berbagai flora dan fauna pada beberapa bioma di bawah ini!

Jenis Tundra Sabana Padang Hutan Taiga


rumput bakau
Flora Berbagai Berbagai Rumput Rhizopora Kelompok
jenis rumput jenis tumbuhan Avicennia pohon
Lumut pohon nonrumput Soneralia berdaun
kerak jarum
Fauna Rusa Jerapah Bison Ikan, Serigala
kutub kijang mustang hewan beruang
Zebra melata
Singa
macan
tutul
Berdasarkan data di atas, dapat disimpulkan bahwa bioma yang memiliki
komunitas keanekaragaman tinggi adalah….
a. tundra c. sabana
b. padang rumput d. hutan bakau e. taiga

18. Flora Indonesia termasuk flora kawasan Malesiana yang keanekaragaman


sangat tinggi dan mempunyai nilai ekonomis. Pohon kayu manis merupakan
tumbuhan khas dari….
a. Jawa Timur d. Sulawesi Utara
b. Kalimantan Selatan e. Sumatera Barat
c. Nusa Tenggara Barat
19. Jika perubahan lingkungan yang dilakukan oleh manusia menyebabkan salah
satu rantai keanekaragaman hayati berkurang, maka kemungkinan akan
terjadi adalah….
a. Komunitas yang tersisa akan bertahan hidup
b. Spesies yang biasa dimangsa akan tumbuh dengan baik, dan yang lainnya
tidak terpengaruh
c. Dapat menyebabkan hilangnya plasma nutfah yang lainnya
d. Bertambahnya kemampuan tumbuhan menyerap zat hara
e. Kesuburan tanah akan meningkat

20. Keanekaragaman tingkat jenis terbentuk dengan didasari oleh unsur-unsur


seperti perbedaan….
a. Habitat, makanan, dan gen
b. Habitat, tingkah laku, dan lingkungan
c. Gen, komposisi gen, dan penampilannya
d. Morfologi, anatomi dan fisiologi
e. Morfologi, gen dan lingkungan

21. Perhatikan gambar berikut ini. Hewan ini merupakan fauna tipe….
a. Asiatik
b. Australis
c. Peralihan
d. Afrika
e. Eropa

22. Daerah konservasi ini pengawasannya sangat ketat. Diperlukan izin khusus
untuk memasuki kawasan tersebut. Tujuan utamanya adalah untuk
melestarikan makhluk hidup di kawasan tersebut seperti aslinya tanpa campur
tangan manusia. Tempat yang dimaksud adalah ….
a. hutan lindung c. kebun raya
b. taman nasional d. cagar alam e. hutan wisata

23. Hubungan kelestarian alam dengan derajat hidup manusia adalah ….


a. kelestarian alam yang menjamin baiknya perekonomian
b. kelestarian alam menunjukkan manusia sudah dapat menghargai alam dan
kebutuhan hidup terpenuhi tanpa merusak alam
c. alam yang baik menunjukkan tingginya pendidikan karena manusia sudah
mengerti pentingnya alam
d. tingginya kekayaan alam menunjukkan kekayaan suatu negara
e. kepedulian lingkungan dapat melampaui batas negara sehingga dapat
menyatukan umat manusia
24. Perhatikan tabel di bawah ini!

Kawasan Kawasan
Indonesia Barat Indonesia Timur
A. Merak Cenderawasih
B. Siamang Orang Utan
C. Tapir Kangguru
D. Badak Anoa
E. Kasuari Kakatua
Hewan-hewan Indonesia yang ada hubungannya dengan daerah Oriental dan
Australis adalah….
a. A b. B c. C d. D e. E

25. Penyebab utama Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi


adalah…
a. terletak antara 2 benua dan 2 samudera
b. memiliki flora dan fauna yang mirip dengan oriental maupun australis
c. memiliki iklim tropis dengan curah hujan cukup tinggi
d. merupakan daerah yang dilalui migrasi hewan-hewan
e. merupakan daerah kepulaaun yang terpisah dari dataran benua Asia
Praktikum
Keanekaragaman Bentuk Daun

Tujuan : mengamati keanekaragaman bentuk daun

Alat dan Bahan


Daun dari berbagai jenis, lup/kaca pembesar, dan penggaris.

Langkah Kerja
1. Ambillah sebuah daun yang akan diamati.
2. Amatilah bagian, daun seperti bentuk, lebar, panjang, dll. Gunakan lup jika
perlu dan penggaris untuk mengukur panjang dan lebar.
3. Catatlah data hasil pengamatan dalam bentuk tabel.

Ciri Morfologi Nama Daun ke-


yang Diamati Tumbuhan 1 2 3 4 5 6

Pertanyaan
1. Ada berapa macamkah bentuk daun yang Anda amati? Sebutkan!
2. Mengapa bentuk daun tersebut berbeda? Menunjukkan apakah hal tersebut?
3. Menurut Anda apakah perbedaan bentuk daun tersebut ada hubungannya
dengan keanekaragaman? Jelaskan!
4. Faktor apakah yang menyebabkan perbedaan sifat pada tumbuhan sejenis?
Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk melihat perbedaan hasil tes siswa dari
kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Uji hipotesis yang digunakan adalah
uji-t jika data berdistribusi normal dan homogen, dengan rumus:
M  M2
to = 1
SEM 1 M 2

Langkah-langkah penghitungan uji-t sebagai berikut:

1. Mencari Mean, yaitu M =


 fX
f
2 2

2. Mencari Standar Deviasi (SD), yaitu SD =  


 fX
  fX 

N N 
 
SD
3. Mencari Standar Error Mean (SEM), yaitu SEM =
N 1
4. Mencari Standar Error dari perbedaan mean (SEM1-M2) antarvariabel, yaitu:
(SEM1-M2) = SEM2 1  SEM2 2

M1  M 2
5. Mencari “t” atau “to”, yaitu to =
SEM 1 M 2

A. Uji Hipotesis Hasil Pre-Test

Tabel Penghitungan Uji-t Pre test Kelas Eksperimen (1)


No X f X2 f.X f.X2
1 20 1 400 20 400
2 24 2 576 48 1152
3 28 3 784 84 2352
4 32 5 1024 160 5120
5 36 5 1296 180 6480
6 40 9 1600 360 14400
7 44 5 1936 220 9680
8 48 2 2304 96 4608
9 52 1 2704 52 2704
10 56 2 3136 112 6272
11 60 2 3600 120 7200
Jumlah 440 37 19360 1452 60368
Tabel Penghitungan Uji-t Pre test Kelas Kontrol (2)
No X f X2 f.X f.X2
1 16 2 256 32 512
2 20 1 400 20 400
3 24 5 576 120 2880
4 28 1 784 28 784
5 32 5 1024 160 5120
6 36 5 1296 180 6480
7 40 11 1600 440 17600
8 44 2 1936 88 3872
9 48 3 2304 144 6912
10 52 1 2704 52 2704
11 56 1 3136 56 3136
Jumlah 396 37 16016 1324 50400

Langkah-langkah:
1. Mencari Mean (M)

M1 =  1 =  fX
fX 1452 2 1324
= 39,24 M2 = = = 35,78
f 37 f 37

2. Mencari Standar Deviasi (SD)


2 2 2 2

SD1 =  fX 1   fX1 
   SD1 =  fX 1   fX 1 
  
N  
 N  N  N 
2 2
60368  1452  50400  1324 
=   =  
37  37  37  37 
= 9,57 = 9,04

3. Mencari Standar Error Mean (SEM)


SD1 SD2
SEM1 = SEM1 =
N 1 N 1
9,57 9,04
= =
37  1 37  1
9,57 9,04
= =
6 6
= 1,59 = 1,51
4. Mencari standar error dari perbedaan Mean (SEM12+SEM22) antarvariabel
SEM1-M2 = SEM2 1  SEM2 2
= 1,592  1,512
= 2,53  2,28
= 4,81
= 2,19

5. Mencari “t” atau t0, dengan rumus:


M  M2
t0 = 1
SEM 1 M 2
39,24  35,78
=
2,19
3,46
=
2,19
= 1,58

Df = N-2 = 74 – 2 = 72 (konsultasi tabel nilai “t”)


Ternyata dalam tabel tidak didapat df sebesar 72, maka menggunakan df yang
terdekat yaitu df sebesar 70. dengan df 70 itu diperoleh harga titik “t” pada tabel
atau ttabel sebagai berikut:
Pada taraf signifikan 5% = 2,00
Pada taraf signifikan 1% = 2,65

Dengan demikian t0 lebih kecil daripada ttabel; yaitu


2,00> 1,58 <2,65
Dengan demikian hipotesis nihil (H0) diterima.

Kesimpulan: tidak terdapat pengaruh yang signifikan sebelum menggunakan


model pembelajaran aktif menggunakan mind map terhadap hasil belajar biologi
pada konsep keanekaragaman hayati.
B. Uji Hipotesis Hasil Post-Test

Tabel Penghitungan Post test Kelas Eksperimen (1)


No X f X2 f.X f.X2
1 48 2 2304 96 4608
2 56 1 3136 56 3136
3 60 3 3600 180 10800
4 64 4 4096 256 16384
5 68 3 4624 204 13872
6 72 5 5184 360 25920
7 76 8 5776 608 46208
8 80 2 6400 160 12800
9 84 2 7056 168 14112
10 88 3 7744 264 23232
11 92 2 8464 184 16928
12 96 2 9216 192 18432
Jumlah 884 37 67600 2728 206432

Tabel Penghitungan Post test Kelas Kontrol (2)


No X f X2 f.X f.X2
1 44 1 1936 44 1936
2 48 2 2304 96 4608
3 56 4 3136 224 12544
4 60 2 3600 120 7200
5 64 10 4096 640 40960
6 68 4 4624 272 18496
7 72 6 5184 432 31104
8 76 5 5776 380 28880
9 80 2 6400 160 12800
10 84 1 7056 84 7056
Jumlah 652 37 44112 2452 165584

Langkah-langkah:

1. Mencari Mean (M)

M1 =  1 =  fX
fX 2728 2 2452
= 73,73 M2 = = = 66,27
f 37 f 37
2. Mencari Standar Deviasi (SD)
2 2 2 2

SD1 =  fX 1   fX1 
   SD1 =  fX 1   fX 1 
  
N  
 N  N  N 
2 2
206432  2728  165584  2452 
=   =  
37  37  37  37 
= 11,96 = 9,14

3. Mencari Standar Error Mean (SEM)


SD1 SD2
SEM1 = SEM1 =
N 1 N 1
11,96 9,14
= =
37  1 37  1
11,96 9,14
= =
6 6
= 1,99 = 1,52

4. Mencari standar error dari perbedaan Mean (SEM12+SEM22) antarvariabel


SEM1-M2 = SEM2 1  SEM2 2
= 1,992  1,522
= 3,96  2,31
= 6,27
= 2,50

5. Mencari “t” atau t0, dengan rumus:


M  M2
t0 = 1
SEM 1 M 2
73,73  66,27
=
2,50
7,46
=
2,19
= 2,98

Df = N-2 = 74 – 2 = 72 (konsultasi tabel nilai “t”)


Ternyata dalam tabel tidak didapat df sebesar 72, maka menggunakan df yang
terdekat yaitu df sebesar 70. dengan df 70 itu diperoleh harga titik “t” pada tabel
atau ttabel sebagai berikut:
Pada taraf signifikan 5% = 2,00
Pada taraf signifikan 1% = 2,65
Dengan demikian t0 lebih besar daripada ttabel; yaitu
2,00< 2,98 >2,65
Dengan demikian hipotesis nihil (H0) ditolak.

Kesimpulan: terdapat pengaruh yang signifikan sesudah menggunakan model


pembelajaran aktif menggunakan mind map terhadap hasil belajar biologi pada
konsep keanekaragaman hayati.
Uji Homogenitas Data

Pengujian homogenitas di sini adalah pengujian mengenai sama atau


tidaknya variansi-variansi dua buah distribusi atau lebih. Pengujian dilakukan
dengan uji homogenitas dua varians. Rumus uji homogenitas yang digunakan
adalah uji Fisher, dengan rumus:
S12
Fhitung =
S 22
Langkah-langkah penghitungan uji Fisher sebagai berikut:
1. Merumuskan hipotesis
Ho: variansi populasi homogen
Ha: variansi populasi tidak homogen
2. Jumlah sampel N = 37
3. Derajat Kebebasan
Penyebut : dk2 = N – 1 = 37 – 1 = 36
Pembeilang : dk1 = N – 1 = 37 – 1 = 36
4. Menentukan Ftabel
Untuk dk penyebut 36 dan dk pembilang 36 pada taraf signifikan α = 0,05 dari
daftar tabel distribusi F tidak didapat. Bila demikain diambil nilai kritis untuk
derajat kebebasan yang lebih kecil. Cara ini menyebabkan daerah penolakan
hipotesis menjadi sedikit lebih luas, maka cara yang lebih tepat ialah
dilakukan interpolasi:
30 36 40

6 4

Dari tabel F diperoleh nilai F (0,05;dk = 30;36) adalah 1,78 dan F (0,05;dk = 36;40) adalah
1,72 (lihat tabel distribusi F), maka:

Ftabel = F (0,05;dk = 36;36) =


6 x1,78  4 x1,72
64
10,68  6,88
Ftabel = = 1,756
10
Jadi Ftabel = 1,756
5. Menentukan Fhitung yaitu varian terbesar dibagi varian terkecil

A. Hasil Homogenitas Pre Test

Tabel Uji Homogenitas Pre Test


Eksperimen Kontrol
N 37 37
X 39,24 35,78
S 9,57 9,04
S2 91,58 81,72

S12 91,58
Fhitung = = = 1,120
S 22 81,72
Karena Fhitung < Ftabel = 1,120 < 1,756. Maka Ho diterima yang berarti
bahwa kedua sampel memiliki variansi populasi yang homogen.

B. Hasil Homogenitas Post Test

Tabel Uji Homogenitas Post Test


Eksperimen Kontrol
N 37 37
X 73,73 66,27
S 11,96 9,14
S2 143,04 83,54

S12 143,04
Fhitung = = = 1,712
S 22 83,42
Karena Fhitung < Ftabel = 1,712< 1,756. Maka Ho diterima yang berarti
bahwa kedua sampel memiliki variansi populasi yang homogen.
Uji Normal Gain

Uji normal gain dilakukan untuk melihat peningkatan pemahaman atau


penguasaan konsep siswa setelah pembelajaran dilakukan oleh guru, dengan
rumus:

postest  pretest
N gain =
skor ideal  pretest

Kategorisasi perolehan sebagai berikut:


g-tinggi = nilai (<g>) > 0,70
g-sedang = nilai 0,70 e” (<g>) e” 0,30
g-rendah = nilai (<g>) < 0,30

Tabel Penghitungan Normal Gain

Normal Gain Kelas Kontrol Kelas Eksperimen


Terendah 0.00000 0.27778
Tertinggi 0.70000 0.90000
Rata-rata 0.47248 0.58700
Kategori Gain sedang Gain sedang
UJI NORMALITAS DATA

Uji normalitas dilakukan untuk melihat bahwa data yang diperoleh dari
populasi berdistribusi normal tau tidak. Uji normalitas yang digunakan adalah uji
Liliefors, dengan rumus:
Lo = │F(Zi) – S(Zi)│

Langkah-langkah penghitungan uji Liliefors sebagai berikut:


1. Data diurutkan dari terkecil hingga terbesar.
Xi  X
2. Tentukan nilai Zi dari tiap-tiap data dengan rumus Zi =
SD

3. Nilai Zi dikonsultasikan dengan daftar F (kolom Z tabel).


4. Untuk kolom F(Zi): jika Zi negatif maka F(Zi)= 0.5 – Zt; jik Zi positif maka
F(Zi) = 0.5 + Zt.
Zn
5. Untuk kolom S(Zi) =
Jumlah Re sponden
6. Kolom │F(Zi) – S(Zi)│merupakan harga mutlak dari selisih antara
F(Zi) – S(Zi).
7. Menentukan harga terbesar dari harga mutlak tersebut untuk menentukan Lo.
8. Apabila Lo hitung < Lo table maka sampel berasal dari distribusi normal.

A. Hasil Tes Kelompok Kontrol


1. Pre-Test

Uji Coba Normalitas Liliefors (Pre-Test) Kelas Kontrol

No Xi f Zn Zi Ztabel F(Zi) S(Zi) |F(Zi) – S(Zi)|

1 16 2 2 -2,19 0,4857 0,0143 0,054 0,0397


2 20 1 3 -1,74 0,4591 0,0409 0,081 0,0401
3 24 5 8 -1,30 0,4032 0,0968 0,216 0,1192
4 28 1 9 -0,86 0,3051 0,1949 0,243 0,0481
5 32 5 14 -0,42 0,1628 0,3372 0,378 0,0408
6 36 5 19 0,02 0,0080 0,5080 0,513 0,0050
7 40 11 30 0,47 0,1808 0,6808 0,810 0,1292
8 44 2 32 0,91 0,3186 0,8186 0,864 0,0454
9 48 3 35 1,35 0,4115 0,9115 0,945 0,0335
10 52 1 36 1,79 0,4633 0,9633 0,972 0,0087
11 56 1 37 2,24 0,4875 0,9875 1,000 0,0125
X  35,78 SD = 9,04 Lo = 0,1292
0.886 0.886
Ltabel = = = 0,1456
37 6.083
Lo < Ltabel = 0,1292 < 0,1456

Kesimpulan: populasi sampel berdistribusi normal.

2. Post-Test

Uji Coba Normalitas Liliefors (Post-Test) Kelas Kontrol

No Xi f Zn Zi Ztabel F(Zi) S(Zi) |F(Zi) – S(Zi)|

1 44 1 1 -2,44 0,4927 0,0073 0,027 0,0197


2 48 2 3 -2,00 0,4772 0,0228 0,081 0,0582
3 56 4 7 -1,12 0,3686 0,1314 0,189 0,0576
4 60 2 9 -0,68 0,2517 0,2483 0,243 0,0053
5 64 10 19 -0,25 0,0987 0,4013 0,513 0,1117
6 68 4 23 0,19 0,0753 0,5753 0,621 0,0457
7 72 6 29 0,63 0,2357 0,7357 0,783 0,0473
8 76 5 34 1,06 0,3554 0,8554 0,918 0,0626
9 80 2 36 1,50 0,4332 0,9332 0,972 0,0388
10 84 1 37 1,94 0,4738 0,9738 1,000 0,0262
X  66,27 SD = 9,14 Lo = 0,1117

0.886 0.886
Ltabel = = = 0,1456
37 6.083
Lo < Ltabel = 0,1117 < 0,1456
Kesimpulan: populasi sampel berdistribusi normal.

B. Hasil Tes Kelompok Eksperimen


1. Pre-Test

Uji Coba Normalitas Liliefors (Pre-Test) Kelas Eksperimen

No Xi f Zn Zi Ztabel F(Zi) S(Zi) |F(Zi) – S(Zi)|

1 20 1 1 -2,01 0,4778 0,0222 0,027 0,0048


2 24 2 3 -1,59 0,4441 0,0559 0,081 0,0251
3 28 3 6 -1,17 0,3790 0,1210 0,162 0,041
4 32 5 11 -0,76 0,2764 0,2236 0,297 0,0734
5 36 5 16 -0,34 0,1331 0,3669 0,432 0,0651
6 40 9 25 0,08 0,0319 0,5319 0,675 0,1431
7 44 5 30 0,50 0,1915 0,6915 0,810 0,1185
8 48 2 32 0,91 0,3186 0,8186 0,864 0,0454
9 52 1 33 1,33 0,4082 0,9082 0,891 0,1720
10 56 2 35 1,75 0,4599 0,9599 0,945 0,0149
11 60 2 37 2,17 0,4850 0,9850 1,000 0,0150
X  39,24 SD = 9,57 Lo = 0,1431

0.886 0.886
Ltabel = = = 0,1456
37 6.083
Lo < Ltabel = 0,1431 < 0,1456

Kesimpulan: populasi sampel berdistribusi normal.

2. Post-Test

Uji Coba Normalitas Liliefors (Post-Test) Kelas Eksperimen

No Xi f Zn Zi Ztabel F(Zi) S(Zi) |F(Zi) – S(Zi)|

1 48 2 2 -2,15 0,4842 0,0158 0,054 0,0382


2 56 1 3 -1,48 0,4306 0,0694 0,081 0,0116
3 60 3 6 -1,15 0,3749 0,1251 0,162 0,0369
4 64 4 10 -0,81 0,2910 0,2090 0,270 0,0610
5 68 3 13 -0,48 0,1844 0,3156 0,351 0,0354
6 72 5 18 -0,14 0,0557 0,4443 0,486 0,0417
7 76 8 26 0,19 0,0753 0,5753 0,702 0,1267
8 80 2 28 0,52 0,1985 0,6985 0,756 0,0575
9 84 2 30 0,86 0,3051 0,8051 0,864 0,0589
10 88 3 33 1,19 0,3830 0,8830 0,891 0,0080
11 92 2 35 1,53 0,4370 0,9370 0,945 0,0080
12 96 2 37 1,86 0,4686 0,9686 1,000 0,0314
X  73,73 SD = 11,96 Lo = 0,1267

0.886 0.886
Ltabel = = = 0,1456
37 6.083
Lo < Ltabel = 0,1267 < 0,1456

Kesimpulan: populasi sampel berdistribusi normal.


Penghitungan Angket

Jumlah Jawaban Siswa Nilai Pernyataan Positif dan Negatif


Butir Pernyataan Jumlah Skor Total Rata-rata Butir Soal Persentase
SS S TDT TS STS Tidak Menjawab 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5
1 15 10 6 6 0 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 145 3.92 78.38%
2 6 18 5 5 3 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 130 3.51 70.27%
3 6 11 6 10 4 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 116 3.14 62.70%
4 19 12 2 3 1 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 156 4.22 84.32%
5 16 8 4 9 0 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 142 3.84 76.76%
6 14 12 7 4 0 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 147 3.97 79.46%
7 11 15 5 4 2 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 140 3.78 75.68%
8 17 10 4 5 1 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 148 4.00 80.00%
9 15 13 0 7 2 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 143 3.86 77.30%
10 2 1 8 14 12 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 144 3.89 77.84%
11 1 2 8 11 15 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 148 4.00 80.00%
12 16 13 3 4 1 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 150 4.05 81.08%
13 17 9 8 3 0 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 151 4.08 81.62%
14 1 3 6 11 16 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 149 4.03 80.54%
15 15 12 3 7 0 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 146 3.95 78.92%
16 3 5 2 13 14 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 141 3.81 76.22%
17 17 14 1 5 0 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 154 4.16 83.24%
18 20 12 2 3 0 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 160 4.32 86.49%
19 22 7 2 4 2 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 154 4.16 83.24%
20 20 8 6 2 1 0 37 5 4 3 2 1 1 2 3 4 5 155 4.19 83.78%
Jumlah (∑) 253 195 88 130 74 0 740 2919 3.94

Keterangan:
Rata-Rata Nilai Butir : Skor total / Jumlah butir pernyataan
Persentase : Hasil skor total / Skor yang diharapkan
Skor yang diharapkan : Jml responden x Nilai tertinggi dalam angket
: 37x 5 =185

Mata Pelajaran Biologi Pernyataan


: nomor 1, 2, 3, 5
Model Pembelajaran Aktif Pernyataan
: nomor 6, 8, 10, 13, 14, 15
Mind Map Pernyataan
: nomor 4, 9, 11, 12, 19, 20
Instrumen Pernyataan
: nomor 7, 16, 17, 18
PENGHITUNGAN VALIDITAS INSTRUMEN

1. Mentukan proporsi menjawab benar (p) setiap butir soal (No. 1)

p=
X
N
19
=
40
= 0.48

2. Menentukan nilai q setiap butir soal (No. 1)


q=1–p
= 1 – 0.48
= 0.52

3. Menentukan rerata soal peserta tes (Mp) setiap butir soal (No. 1)
jumlah skor total peserta yang menjawab benar
Mp =
jumlah skor tertinggi peserta tes yang menjawab benar

531
=
19
= 27.95

4. Menentukan rerata skor total (Mt)


jumlah skor total
Mt =
jumlah siswa

926
=
40
= 23.15
5. Menentukan standar deviasi total
2
  X t2    Xt 
SD =   
 N   N 
   
2
 23670   926 
=   
 40   40 
= 7.47
6. Menentukan validitas setiap butir soal (No.1)
Mp  Mt p
rγbis =
SD q

27.95  23.15 0.48


=
7.47 0.52
= 0.611

Untuk memberikan interpretasi terhadap rhitung digunakan tabel “r” product


moment, dengan terlebih dahulu mencari df-nya dengan cara:
Df = N – Nr
= 40 – 2
= 38

Butir soal dikatakan valid apabila rhitung ≥ rtabel. Dengan df sebesar 38


didapatkan rtabel = 0.320 (taraf signifikan 5%). Sehingga tiap butir soal dikatakan
valid apabila rhitung ≥ 0.320.
PENGHITUNGAN RELIABILITAS

Berdasarkan tabel skor yang valid didapat:


∑Xt = 627
∑Xt2 = 12605
Banyak data (N) = 40

2
2
  Xt 2    Xt 
S =  
 N   N 
   
2
 12605   627 
=  
 40   40 
= 315.125 – 245.706
= 69.419
= 69.42

Koefisien reliabilitas dihitung menggunakan rumus K-R 20 sebagai berikut:


2
 n  S   pq 
r11 = 
 n  1  S2 

 26  69.42  5.87 
=  
 26  1  69.42 
= 0.952
Dari hasil penghitungan diperoleh koefisien reliabilitas sebesar 0.952, oleh
karena itu reliabilitas tergolong dalam klasifikasi sangat tinggi.