Anda di halaman 1dari 13

PETUNJUK PRAKTIKUM

MATA KULIAH

PERTANIAN ORGANIK

Oleh :

Prof. Dr.Ir.Sumarsono, MS
Dr. Ir. Didik Wisnu Widjajanto, MSc.
Dr. Ir Sutarno, MS

LABORATORIUM EKOLOGI DAN PRODUKSI TANAMAN


JURUSAN PERTANIAN
FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2017

1
PENDAHULUAN

Pengertian Pupuk Organik

Pupuk organik adalah pupuk yang sebagian atau seluruhnya berasal dari tanaman dan atau
binatang yang telah melalui proses rekayasa, dapat berbentuk padat atau cair yang digunakan
untuk mensuplai bahan organik untuk memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah.
Saat ini teknologi yang berkaitan dengan pupuk organik telah mengalami perkembangan
yang sangat pesat. Salah satu faktor pendorongnya adalah semakin banyak konsumen yang
lebih menyukai produk organik yang alami dan bebas bahan kimia yang dapat
mempengaruhi kesehatan. Faktor rusakanya tanah akibat penggunaan pupuk kimia juga
menjadi faktor pendorong semakin diminatinya pupuk organik.

Pupuk organik terbagi dalam beberapa jenis berdasarkan dari bahan penyusun yang
digunakan, cara pembuatan dan bentuk fisiknya. Berdasarkan bahan penyusunnya pupuk
organik terbagi menjadi 4 jenis, yaitu yang berasal dari kotoran ternak, limbah hijauan,
gabungan keduanya ( kotoran ternak+hijauan) dan pupuk hayati. Berdasarkan cara
pembuatan terbagi menjadi 2 bagian besar yaitu dengan metode aerob dan anaerob.
Sedangkan dari bentuk fisiknya terbagi menjadi yang berbentuk serbuk, granuler, tablet dan
cair.

Jenis pupuk organik berdasarakan bahan penyusun

Seperti telah disebutkan diatas bahwa pupuk organik berdasarkan bahan penyusunya terbagi
menjadi pupuk hijau, pupuk kandang, pupuk komos dan pupuk hayati. Berikut diuraikan
perbedaan keempat jenis pupuk tersebut.

1. Pupuk Hijau

Pupuk hijau adalah pupuk organik yang semua bahannya berasal dari pelapukan bahan
tanaman, dapat berupa sisa-sisa tanaman pertanian atau tanaman yang senagaja ditanam
khusus untuk diambil hijauannya. Jenis hijauan tanam yang biasa di gunakan untuk
membuat pupuk hijau adalah dari golongan leguminosa (kacang-kacangan) yaitu tumbuhan
pengikat nitrogen dari udara yang memiliki bintil akar seperti Turi, Lamtoro, Orok-orok,
dsb, juga tumbuhan air seprti Azola.

Jenis leguminosa pohon seperti turi dan lamtoro biasa ditanam oleh para petani di lahan
kering/tegalan sebagai pagar pembatas kebun. Selain untuk pupuk, tanam jenis leguminosa
juga sangat baik sebagai pakan sapi atau kambing sebagai sumber protein. Sedangkan
tumbuhan Azola dapat diperoleh di daerah sawah berair. Tumbuhan ini merupakan pakis air
yang tumbuh liar dan mengandung unsur N tinggi.

Bahan yang digunakan untuk membuat pupuk hijau umumnya memiliki kandungan unsur N
(nitrogen) yang tinggi sehingga cepat dan mudah terurai di tanah. Cara penggunaani pupuk
hijau cukup praktis, yaitu dengan cara dibenamkan ke tanah sawah atau bisa juga
dikomposkan.

2
2. Pupuk Kandang

Pupuk organik dapat berasal dari ternak berupa kotoran (feses) baik dari ternak sapi,
kerbau, kambing juga unggas. Pupuk kandang digolongkan berdasarkan dari jenis ternak
yang mengeluarkan urine (sapi, kerbau, kambing) dan tidak urine (itik, ayam, bebek).

Pupuk kandang yang berasal dari ternak mengeluarkan urine memiliki kandungan nitrogen
yang relatif rendah namun tinggi fosfor dan kalium, sehingga sangat cocok untuk di
aplikasikan pada pertanaman buah dan biji seperti padi, pare, terong, dan lain sebagainya.
Pupuk kandang dari jenis memerlukan proses penguraian yang cukup lama.

Sedangkan untuk pupuk kandang dari ternak jenis unggas merupakan kebalikan dari jenis
pupuk kandang pertama. Cepat terurai, tinggi kandungan nitrogen namun rendah fosfor dan
kalium merupakan ciri pupuk jenis ini. Pertanaman yang cocok untuk pupuk ini adalah untuk
tanaman sayuran daun, seperti bayam, kanagkung, selada, daun bawang dan lain-lain.

Pupuk organik yang berasal dari kandang banyak di gunakan untuk pupuk dasar pra tanam.
Cara aplikasinya juga cukup sederhana, yaitu langsung ditaburkan di lahan pertanaman atau
terlebih dahulu di komposkan agar lebih baik hasilnya. Perlu diingat bahwa pupuk kandang
yang akan digunakan sebaiknya yang telah dingin atau matang, bukan yang masih baru
karena suhu kotoran masih panas yang menunjukkan masih tingginya aktivitas
mikroorganisme sehingga dapat melayukan tanaman.

3. Pupuk Kompos

Pupuk organik ada yang dikenal sebagai pupuk kompos. Pupuk kompos merupakan pupuk
yang berasal dari proses pelapukan bahan-bahan organik dengan bantuan bakteri pengurai,
baik makro maupun mikro organisme.

Perkembangan teknologi semakin pesat pada akhirnya juga menyentuh juga dunia
perpupukan, termasuk teknologi cara pembuatan pupuk kompos. Dengan berbagai metode
pun didapat hasil pupuk yang bermutu, seperti vermikompos dan bokashi Bentuknya pun
bervariasi, yaitu berupa granuler, tablet, atau pupuk organik cair (POC).

4. Pupuk Hayati

Menurut Peraturan Mentri Pertanian Republik Indonesia pupuk hayati bukanlah tergolong
sebagai pupuk organik, akan tetapi merupakan pupuk pembenah tanah, walaupun fakta di
lapangan pupuk hayati sering dimasukkan sebagai golongan pupuk organik. Pupuk hayati
tidak termasuk pupuk organik karena pupuk hayati merupakan pupuk yang terdiri dari
organisme hidup dengan kemamapuan untuk meningkatakan kesuburan dan juga
meningkatkan nutrisi yang penting bagi tanaman.

Cara kerja pupuk hayati memperbaiki tanah berbeda dengan cara kerja pupuk organik.
Pupuk hayati tidak menyediakan unsur-unsur hara secara langsung, namun dengan cara
menagkap unsur nitrogen dari udara, membantu proses dekomposisi kompos, bahan organik
tanah dan unsur hara lain di tanah. Dengan demikian pupuk hayati tidak langsung
meningkatkan kesuburan tanah, akan tetapi secara bertahap dan berlangsung terus menerus
secara kontinyu, baik dalam mengikat nitrogen secara non simbiotik maupun dalam
3
membantu dekomposisi bahan organik tanah dan melarutkan unsur hara yang terjerap dalam
tanah misalnya fosfat.

Bakteri yang biasa terkandung di dalam pupuk hayati adalah seperti bakteri pengikat N
bebas di udara yaitu Azotobacter, Bakteri pelarut fosfor tanah (Bacillus megaterium), serta
Bacillus nucilaginous sebagai pelarut unsur kalium tanah. Jenis-jenis bakteri ini biasanya
secara alami bersumber dari tanah di daerah pegunungan dan hutan.

Fungsi Pupuk Organik

1. Sebagai sumber penyedia unsur hara yang langkap

Unsur hara yang terkandung di dalam pupuk organik meliputi hara makro dan mikro yang
dibutuhkan oleh pertanaman. Unsur makro mencakup antaralain unsur nitrogen, fosfor,
kalium kalsium, magnesium dan sulfur. Sedangkan unsur mikro yang terkandung dai dalam
pupuk organik seperti unsur almunium, tembaga, besi, seng, born dan boron.

2. Memperbaiki struktur tanah

Fungsi pupuk organik istimewa karena kemampuan memperbaiki struktur tanah.


Penggunaan pupuk organik pada tanah yang liat atau lempung dapat menjadi gembur bila
terus menerus menggunakan pupuk organik. Pada kondisi lain, penggunaan pupuk organik
yang berkelanjutan akan mampu mengikat dan mengemburkan tanah pada tanah yang
berpasir. Hal ini terjadi karena pupuk organik mampu menghasilkan rongga pori-pori pada
tanah yang liat dan mengikat butiran pasir yang halus agar menjadi lebih solid dan gembur.

3. Meningkatkan kapasitas tukar kation

Kapasitas tukar kation adalah kemampuan tanah untuk meningkatkan interaksi antar ion
yang terdapat di dalam tanah. Tanah dengan tingkat kapasitas tukar kation yang tinggi
cenderung lebih mamapu menyediakan unsur hara daripada lahan dengan kapasitas tukar
kation yang rendah. Kapasitas tukar kation tanah diperoleh dari koloid liat yang mempunyai
permukaan bermuatan negatif yang mampu menjerap kation-kation. Sifat ini juga dimiliki
bahan organic, sehingga kandungan bahan organik yang tinggi dalam tanah akan
meningkatkan tingkat tukar kation yang tinggi juga.

4. Meningkat kemapuan daya simpan air

Sebagaimana kita ketahui bahwa bahan kompos memiliki sifat higroskopis yang tinggi. Air
akan di serap dan disimpan dalam pori-pori tanah kemudian di keluarkan saat di butuhkan
akar tanaman. Dengan sifat menyerap air tersebut, maka kelembaban tanah akan terjaga
sehingga relatif aman kekeringan. Bahan organik mempunyai kemampuan memegang air 5
kali lipat dari bobotnya.

4
5. Mengaktifkan ekosistem biota tanah

Sebagaimana telah diulas dalam bahasan macam-macam jenis pupuk organik, bahwa pupuk
organik memiliki dekomposer baik berupa bakteri maupun jamur. Penambahan bahan
organik ke tanah secara otomatis akan semakin menambah populasi mikroba-mikroba
dekomposer yang telah ada sebelumnya dan tentu pengaruhnya adalah proses penguraian
bahan organik menjadi hara yang dibutuhkan tanaman semakin cepat. Tanah yang lembab
akibat penggunakan bahan organik juga membuat kondisi ideal bagi perkembangan aneka
biota tanah.

Keunggulan dan Kelemahan Pupuk Organik dibanding Pupuk Kimia

No Faktor Penentu Jenis Pupuk Keunggulan Kelemahan


1. Proses Pupuk Penggunaan dalam jangka Unsur-unsur hara yang
Penyerapan Organik panjang sangat baik terdapat di dalam
Unsur Hara karena unsur hara yang pupuk organik
terdapat meningkatkan cenderung sulit untuk
kapasitas tukar katio tanah langsung dicerna oleh
yang akan mengakibatkan tanaman. Ha ini
akar tanaman mudah diakibatkan karena
menyerap unsur-unsur unsur-unsur hara dalam
hara yang terdapat di pupuk organik masih
tanah. tersimpan dalam ikatan
kimia yang kompleks.
Pupuk Pupuk kimia memiliki Unsur hara atau nutrisi
Kimia kandungan unsur hara yang terkandung pada
yang bisa langsung diserap pupuk kimia mudah
oleh akar tanamn tanpa hilang akibat pencucian
proses yang rumit, tanah dan erosi.
sehingga efeknya akan
langsung bisa terlihat pada
pertanaman.
2. Komposisi Pupuk Unsur hara yang dimiliki Persentase komposisi
Unsur Hara Organik pupuk organik cukup unsur hara tidak dapat
lengkap baik berupa unsur dipastikan dan setiap
hara makro dan unsur hara pupuk organik
mikro. memiliki kandungan
unsur hara yang
berbeda tergantung dari
bahan penyusunnya.
Pupuk Komposisi unsur hara Hanya memiliki 1 atau
Kimia yang terkandung di dalam beberapa saja unsur
pupuk kimia dapat hara, seperti urea yang
diketahui secara pasti hanya memiliki unsur
persentasenya Nitrogen saja.

3. Efek Pupuk Pada penggunaan dalam Memerlukan waktu


Penggunaan Organik jangka waktu yang cukup lama atau
panjang akan sangat baik beberapa kali aplikasi
untuk tanah. Pupuk

5
organik akan
memperbaiki sifat fisik,
kimia serta biologi tanah
sehingga tanah menjadi
gembur serta
meningkatkan
kemampuan menyimpan
air.
Pupuk Pada waktu singkat dapat Pada penggunaan
Kimia memberikan hasil yang jangka panjang akan
signifikan pada dapat merusak tanah
pertanaman karena tanah menjadi
keras yang akhirnya
akan mengurangi
kemampuan
menyimpan air dan
lambat laun akan
mengurangi kesuburan
tanah.
4. Hasil Produk Pupuk Hasil produksi dengan Mungkin kelemahan
Organik menggunakan pupuk produk organik adalah
organik lebih aman dan harga yang sedikit lebih
lebih sehat mahal dikarenakan
hasil yang diperoleh
lebih rendah dari
produk dengan pupuk
kimia.
Pupuk Harganya lebih murah bila Produk yang dihasilkan
Kimia dibandingkan dengan cendrung tidak terlalu
produk-produk organik memperdulikan para
dan hasilnya juga lebih konsumen dari sisi
tinggi. kesehatannya.
5. Ekosistem Pupuk Pada point ini pupuk Efekltifitas dan
Tanah Organik organik memiliki nilai kepraktisan dalam
yang sangat tinggi karena melakukan pemupukan
mamapu memicu tumbuh karena memerlukan
kembangnya mikro dan volume yang besar.
makro organisme tanah
yang hasil akhirnya tentu
tanah akan menjadi
semakin subur.
Pupuk Praktis dan simple dalam Penggunaan pupuk
Kimia aplikasi pemupukan kimia terus menerus
akan membunuh mikro
dan makro organisme
tanah, sehingga akan
membuat dosis pupuk
yang digunakan akan
semakin meningkat.

6
PETUNJUK PRAKTIKUM PEMBUATAN PUPUK ORGANIK

A. Tujuan

a. Melakukan praktek teknik pembuatan pupuk hayati EM (Efective Microorganism)


b. Melakukan praktek teknik pembuatan pupuk hayati MOL (Mikro Organisme Lokal)
c. Melakukan praktek teknik pembuatan kompos
d. Melakukan praktek teknik pembuatan pupuk organik cair (POC)
e. Melakukan praktek penerapan pupuk organik
f. Melakukan evaluasi pupuk organik, pengaruh terhadap tanah dan perttumbuhan
tanaman

B. Acara Praktikum

1. Pembuatan EM (Effective Microorganisme)

EM adalah bahan yang berfungsi untuk mempercepat proses pengkomposan


dengan cara menambahkan bakteri.

Bahan-bahan
 Susu sapi/kambing murni
 Usus ayam/kambing secukupnya
 Terasi ½ kg
 1 kg gula pasir
 1 kg bekatul
 1 kg nanas
 10 liter air

Alat-alat
 Panci
 Kompor
 Blender/parutan

Prosedur
Nanas dihaluskan dengan blender. Nasnas yang sudah halus dimasukkan ke dalam
panci. Kemudian terasi, bekatul, gula pasir dan air bersih dimasukkan ke dalam
panci bersama dengan nanas. Masak hingga mendidih, kemudian didinginkan.
Tambahkan susu dan usus, aduk hingga merata. Setelah merata ditutup rapat-rapat
selama 12 jam. Jika sudah jadi adonan akan menjadi kental atau lengket.

Evaluasi : bau, warna, suhu, pH, aktivitas mo

7
2. Pembiakan Bakteri EM

Carian bakateri EM dapat dikembangkan dengan cara sebagai berikut :

Bahan-bahan
 Cairan EM 1 liter
 Bekatul 3 kg
 Molases atau cairan gula ¼ liter
 Terasi ¼ kg
 Air bersih tanpa kaporit 5 liter

Alat-alat
 Ember
 Pengaduk
 Panci
 Saringgan (kain/kawat)
 Botol

Prosedur
Panaskan 5 liter air dalam panci sampai mendidih. Bekatul, molases dan terasi
dimasukkan dan diaduk hingga rata. Setelah menjadi adonan kemudian didinginkan.
Masukkan cairan EM dan diaduk sampai merata. Panci ditutip rapat selama 2 hari.
Pada hari ke 3 dan selanjutnya penutup dibuat agak longgar dan dilakukan
pengadukan setiap hari sekitar 10 menit. Setelah 1 minggu bakteri disaring dan
dimasukkan ke dalam botol. Untuk penyimpanannya simpan di tempat yang sejuk
dan jauh dari sinar matahari langsung.

Evaluasi : bau, warna, suhu, pH, aktivitas mo

3. Pembuatan MOL

MOL (Mikro Organisme Lokal) adalah sekumpulan mikroorganisme yang berfungsi


sebagai “starter” dalam pembuatan kompos organik. MOL akan membantu
mempercepat proses pengomposan. Selain untuk pengomposan, MOL juga bisa
disiramkan langsung ke media tanam guna menyuburkan tanah.

Bahan
 Nasi untuk dijamurkan
 Air sumur 1 liter
 Gula pasir

Alat-alat
 Mangkok
 Penyaring
 Botol Penyimpanan

Prosedur
Siapkan nasi untuk dijamurkan. Caranya ambil sisa nasi yang memang sudah basi
atau tidak dimakan lagi, kira-kira satu manhkok kecil atau secukupnya. Kemudian

8
letakkan dalam wadah dan biarkan nasi tersebut basi sampai muncul jamur berwarna
orange. Kalau bisa nasi diletakkan di terbuka tetapi tidak sampai mengering.
Campurkan dengan larutan gula. Larutkan 1 liter air dengan 5 sendok makan gula
pasir. Setelah itu, masukkan larutan gula ini ke mangkok yang berisi nasi berjamur
tadi, aduk sampai tercampur semua, diremas-reas kalu perlu supaya halus (gunakan
sarung tangan). Diamkan sampai bau tape. Campurkan nasi berjamur dengan
larutan gula tersebut, diamkan selama seminggu atau lebih, camai campuran tersebut
berbau tape. Apabila sudah bau tape, siap dipanen dan digunakan. Bila akan
disimpan masukkan ke dalam botol atau langsung dipakai disiramkan ke media.
Apabila dipakai sebagai starter kompos, larutkan MOL dan air dengan perbandingan
1:5. Apabila dipakai langsung ke media tanam, perbandingan 1:10 sampai 1:15.
Penyiraman MOL bisa tiap 1 – 2 minggu.
MOL dapat diperbanyak dengan cara ambil setengah bagian MOL induk, lalu
tambahkan air sesuai volume MOL.

Evaluasi : bau, warna, suhu, pH, aktivitas mikroorganisme

4. Teknik Aerobik Pembuatan Kompos

Bahan Kompos

Cara pembuatan pupuk kompos dengan metode aerob dilakukan pada hamparan atau
tempat terbuka yang bertujuan agar mendapatkan sirkulasi udara yang baik. Bahan
untuk pembuatan kompos yang baik adalah bahan organik dengan perbandingan C/N
rendah di bawah 30:1 dengan kadar air antara 40-50 % dan pH antara 6-8. Bahan
yang cocok untuk pengomposan aerob adalah hijauan dari jenis leguminosa (kacang-
kacangan), sisa-sisa jerami, batang pisang dan kotoran ternak. Bahan organik yang
memiliki materi organik C/N tinggi diatas 30:1 seperti serbuk gergaji kayu dan
sekam padi. Pengomposan bahan tersebut diatas biasanya ditambahkan karbon yang
berasal dari arang sekam dan juga kapur tani (dolomit) untuk menjaga pH saat
pengomposan.

Prosedur.

1. Pada proses pengomposan ini kita akan menggunakan bantuan bakteri


dekomposer EM4. Buat larutan dekomposer EM4+air dengan dosis 1-2 cc/liter
air. 1 liter EM4 mampu mengomposkan bahan seberat 1 ton.
2. Pertama-tama siapkan terlebih dahulu bahan-bahan yang akan dibuat kompos
berupa sisa-sisa hasil pertanian, hijauan (dedaunan) dan kotoran ternak.
3. Kemudian siapkan lahan untuk proses pengomposan, sebaiknya diberi atap agar
teduh tidak terpapar sinar matahari serta melindungi dari air hujan agar tidak
masuk saat proses pengomposan.
4. Potong atau cacah bahan yang berasal dari tumbuhan sehingga berukuran lebih
kecil sekitar 1-2 centimeter. Pemotongan ini berfungsi agar mempercepat proses
dekomposi serta memperlancar proses aerasi saat berlangsungnya pengomposan.
5. Hamparkan bahan baku yang telah di cacah tersebut diatas permukaan tanah. Buat
lapisan dengan bahan cacahan hijauan ini dengan ukuran selebar 1 meter dengan
panjang 5 meter dan ketebalan sekitar 20 centimeter.

9
6. Selanjutnya taburkan pada lapisan pertama tadi kotoran ternak setebal kurang
lebih 5 centimeter, kemudian diratakan keseluruh permukaan.
7. Kemudian percikan/semprotkan larutan bakteri dekomposer EM4+air yang telah
kita buat sebelumnya di atas lapisan hijauan dan kotoran ternak tersebut.
Semprotkan secara merata agar proses pengomposan berjalan maksimal.
8. Ulangi langkah 5-7 sampai hingga mencapai ketinggian sekitar 1,5 meter.
9. Kemudian tutup rapat tumpukan semua bahan tersebut diatas dengan
menggunakan terpal/plastik tebal.
10. Biarkan campuran kompos tersebut selama 2-4 hari agar terjadi proses
pengomposan, ditandai dengan naiknya suhu sekitar 65° celcius pada campuran
bahan organik. Proses ini cukup penting dalam pengomposan, sebab bertujuan
untuk mematikan bakteri-bakteri patogen, fungi serta benih-benih gulma
(rumput).
11. Setelah 2-4 hari buka penutup kompos lalu aduk tumpukan bahan secara merata
dengan cara memulai dari pingiiran tumpukan kemudian di cangkul/disekop dari
atas ke bawah mulai dari lapisan yang paling atas hingga yang paling dasar. Hal
ini selain berguna untuk menghomogenkan kesemua campuran bahan juga
berguna untuk menurunkan suhu. Bila dirasa kelembaban terlalu rendah, dicirikan
dengan keadaan yang terlalu kering dari campuran bahan, maka dapat di
tambahkan air secukupnya. Lakukan kegiatan pengadukan ini setiap 3 hari sekali
hingga suhu kompos menjadi stabil pada suhu sekitar dibawah 45° celcius.
12. Proses pengomposan ini memerlukan waktu sekitar 3-6 minggu, hal tersebut
terjadi bergantung dari bahan baku yang digunakan serta bakteri starter
dekomposer yang digunakan. Setelah kurun waktu tersebut, pupuk kompos siap
di bongkar. Ciri pupuk kompos yang telah siap digunakan menjadi pupuk atau
pun campuran media tanam adalah dari suhu yang sudah dingin, warna yang
berubah menjadi lebih gelap/hitam kecoklatan coklat, serta teksturnya remah
(bahan mudah hancur), tidak basah dan tidak berbau menyengat.
13. Pupuk kompos telah siap digunakan namun, agar penampilan pupuk kompos yang
telah kita buat lebih menarik dan rapih perlu dilakukan pengayakan. Pengayakan
dapat dilakukan dengan menggunakan kawat ram.
14. Terakhir kemas pupuk kompos yang telah di ayak tersebut dengan kantung plastik
tebal ataupun karung, kemudian simpan di tempat yang teduh.

Evaluasi : bau, warna, suhu, pH, kadar air, bahan organik, N, C/N

5. Teknik Anaerobik Pembuatan Kompos

Bahan Kompos.

Metode atau cara pembuatan pupuk kompos yang kedua merupakan cara yang cukup
mudah dan sepertinya cocok untuk skala rumah tangga. Bahan yang digunakan
dalam proses pembuatan pupuk kompos dengan cara anaerob bisa berupa sisa daun-
daun tanaman, sisa limbah organik rumah tangga, ampas tahu, serbuk gergaji,
kotoran ayam/unggas dan bahan lain yang relatif lebih lunak dari bahan yang
digunakan pada proses pengomposan pertama.

10
Prosedur

1. Potong kecil/haluskan bahan-bahan organik yang berupa hijauan.


2. Campur bahan yang telah di potong kecil tadi bersama dengan bahan organik yang
lain (kotoran ternak, serbuk gergaji dan ampas tahu), lalu semprotkan
starter/dekomposer EM4 yang telah dicampur air dengan dosis 1-2 cc/liter air dan
gula 1 sendok makan lalu aduk sampai merata dan diamkan selama 24 jam.
3. Setelah 24 jam, masukan campuran bahan tersebut ke dalam drum yang telah
dimodifikasi seperti gambar dibawah. Lalu tutup rapat selama 3-4 hari untuk
proses pengomposan.

4. Setelah 3-4 hari buka dan dicek dari aroma yang telah berubah seperti aroma tape.
Lanjutkan proses hingga kurang lebih 2-3 minggu. Cara membuat pupuk
kompos dengan metode ini akan dihasilkan 2 jenis pupuk kompos, yaitu kompos
cair dan padat. Kompos cair dapat diambil dengan membuka kran pada drum.
Untuk kompos padat agin-anginkan dahulu sebelum digunakan untuk memupuk
bunga-bunga kesayangan anda.

Evaluasi : bau, warna, suhu, pH, kadar air, bahan organik, N, C/N

6. Pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dengan Aktivator EM

Banyak cara membuat POC salah satunya dengan aktivator EM. Keunggulannya
adalah disamping memperbaiki lingkungn fisik, kimia dan biologi tanah juga menekan
pertumbuhan hama dan penyakit dalam tanah. Menjamin perkecambahan dan
pertumbuhan tanaman, serta meningkatkan daya dekomosisi bahan organik tanah.

Bahan
 EM 1 liter
 Molase 1 liter
 Pupuk Kandang
 Dedak
 Air secukupnya

Alat-alat
 Drum atau ember plastik (kapasitas 12 liter)

11
Prosedur

Mengisi drum dengan air sampai setengah drum. Pada tempat terpisah, larutkan
molase sebanyak 250 g ke dalam 1 liter air sumur. Masukkan molase serta cairan
EM ke dalam drum dan aduk secara perlahan dan merata. Masukkan pupuk kandang,
aduk perlahan, agar larutan terserap oleh pupuk kandang. Tambahkan air sampai
penuh. Tutup drum rapat-raat. Lakukan pengadukan setiap pagi selama 4 hari (5
putaran). Setelah 4 hari pupuk siap digunakan.

Evaluasi : bau, warna, suhu, pH, kadar air, bahan organik, N, C/N .

12
KELOMPOK PRAKTIKUM :

KLP Pupuk Pupuk Bahan Baku Pupuk Praktek Kebun


Hayati Organik Organik (1 m2/petak)
I EM Aerob Pukan Sapi P1 P2 P3
+Lamtoro+Jerami
II EM Aerob Pukan Ayam P1 P2 P3
+Lamtoro+Jerami
III EM An aerob Pukan Sapi P1 P2 P3
+Gamal+Jerami
IV EM An aerob Pukan Ayam P1 P2 P3
+Gamal+Jerami
V MOL Aerob Pukan Sapi P1 P2 P3
+Lamtoro+Jerami
VI MOL Aerob Pukan Ayam P1 P2 P3
+Lamtoro+Jerami
VII MOL An aerob Pukan Sapi P1 P2 P3
+Gamal+Jerami
VIII MOL An aerob Pukan Ayam P1 P2 P3
+Gamal+Sapi

Keterangan :
 Tiap kelompok mahasiswa mengelola 3 petak.
P1 = Pukan ; P2 = PO siap pakai (hasil perakitan) ; P3 = Pukan + Pupuk Hayati

 Pupuk kandang, lamtoro/gamal dan jerami, disusun dengan C/N =40, Hasil
penyusunan komposisi bahan : asumsi kadar N : kotoran ternak (0,5% N), lamtoro
(3,52 %N), jerami (0,64%N), sehingga, bahan baku sebanyak 5 kg dengan komposisi :
o PO 1 : kotoran sapi (40 %), lamtoro/gamal (25 %), jerami 35 %.
o PO 2 : pupuk ayam (30%), lamtoro/gamal (20%), jerami (50 %)
 Jenis Tanaman
o Agroekoteknologi (A) : Sawi
o Agroekoteknologi (B) : Kangkung
o Agribisnis (A) : Sawi
o Agribisnis (B) : Kangkung

 Menggunakan lahan di antara kebun buah. Petak kebun praktek dibersihkan dari batu-
batu, kemudian direklamasi dengan top soil tebal 5 cm (setara 50 kg/m2). Dosis pupuk
kandang 20 t/ha (setara dengan 2 kg/ m2).

13