Anda di halaman 1dari 8

Cairan sulkus gingiva

gingival crevicular fluid (GCF)

• Produk filtrasi fisiologis dari pembuluh darah yang termodifikasi.

• Berasal dari jaringan gingiva, dan serum darah yang terdapat dalam sulkus gingiva
dalam keadaan sehat maupun meradang.

• Cairan krevikular gingival atau gingival crevicular fluid (GCF) pada manusia
dianggap sebagai transudat.

• Pada gingiva yang normal, cairan krevikular gingiva sangat sedikit bahkan tidak ada.

• Pada GCF dari gingival yang meradang jumlah polimorfonuklear leukosit, makrofag,
limfosit, monosit, ion elektrolit, protein plasma dan endotoksin bakteri bertambah
banyak, sedangkan jumlah urea menurun.

• Komponen seluler dan humoral dari darah dapat melewati epitel perlekatan yang
terdapat pada celah gusi.

GCF sebagai biomarker inflamasi

• Aliran CKG pada awalnya disebabkan oleh gradient osmotic (transudat) dan
selanjutnya juga dapat dipengaruhi oleh mekanisme inflamatorik pada daerah sekitar
sulkus gingival.

• Dengan demikian, cairan krevikuler gingiva (CKG) dapat digunakan sebagai penanda
diagnostic (diagnostic marker) aktivitas penyakit periodontal, karena mengandung
beberapa faktor biokimiawi yang berkaitan erat dengan status penyakit periodontal.

• Cairan Krevikuler gingiva (CKG) adalah cairan yang dapat ditemukan pada runag
fisiologis (sulkus gingiva) dan dapat merupakan ruang pathologis (poket gingiva) dan
dapat merupakan eksudat ataupun transudat.

• Selain itu, volume CKG bisa digunakan sebagai penanda sederhana untuk mengetahui
status inflamasi jaringan periodontal.

Mekanisme pembentukan cairan sulkus gingiva

• aliran cairan ini bersifat sekunder pada peradangan yang disebabkan oleh
pengumpulan mikroba di daerah perlekatan dentogingiva.
• Pada keadaan normal cairan sulkus gingiva yang mengandung leukosit akan melewati
epitel perlekatan menuju ke permukaan gigi.
Cairan mengalir dari kapiler menuju ke jaringan subepitel, terus ke epitel perlekatan.
Kemudian cairan disekresikan dalam bentuk cairan sulkus gingiva yang bercampur dengan
saliva di dalam rongga mulut

Komponen selular & humoral dari darah dapat melewati epitel perlekatan yang terletak pd
celah gingiva dalam bentuk CSG
CSG mengalir secara terus menerus melalui epitel dan masuk ke sulkus gingiva dengan aliran
yg sangat lambat

 0,24-1,56 μl/menit pd daerah yg tidak mengalami inflamasi.

Aliran akan meningkat pada gingivitis dan periodontitis

Pengaruh penyakit periodontal terhadap volume cairan krevikuler gingiva

• Tingkat cairan sulkus gingiva lebih tinggi dari IL-18 yang ditemukan di daerah radang
dari pasien periodontitis dibandingkan dengan pasien dengan gingivitis saja.

Leukosit dalam cairan sulkus gingiva

• Leukosit dalam cairan sulkus gingiva sebagian dibentuk di sumsum tulang 


granulosit, monosit, serta sedikit limfosit dan di jaringan limfe  limfosit dan sel-sel
plasma yang mempunyai peranan penting dalam sistem pertahanan tubuh.

• Setelah proses pembentukan sel-sel ini kemudian diangkut dalam darah menuju
berbagai bagian tubuh untuk digunakan secara khusus pada daerah yang terinfeksi dan
mengalami peradangan untuk menyediakan pertahanan yang kuat dan cepat terhadap
setiap agen infeksius.

• Di dalam cairan sulkus gingiva banyak mengandung leukosit PMN yang berasal dari
pembuluh darah jaringan ikat pada dasar sulkus yang keluar melewati epitel menuju
sulkus gingiva.

• Hadirnya leukosit pada sulkus gingiva merupakan indikator penting dalam


menentukan diagnosis adanya radang karena epitel jungsional akan berdegenerasi
menjadi lebih permeabel sehingga leukosit dapat bermigrasi dari jaringan ikat gingiva
melalui perlekatan epitelium menuju sulkus gingiva kemudian akan memfagosit
mikroorganisme yang masuk ke dalam gingiva.

• Meskipun pada kondisi sangat sehat, infiltrasi leukosit PMN pada gingiva tetap
ditemukan.

• Leukosit dapat ditemukan secara klinis pada sulkus gingiva sehat  Dengan
bertambahnya jumlah leukosit PMN menandakan peningkatan pertahanan tubuh
(Carranza)

• Konsentrasi leukosit PMN pada jaringan periodontal lebih tinggi dibandingkan dalam
darah, terutama ketika terjadi periodontitis.

Pencegahan terhadap karies

• Hancock dkk  CSG mempunyai aksi mekanis dan pertahanan terhadap bakteri dan
benda asing lainnya

• Carranza  CSG berfungsi untuk membersihkan sulkus dari materi-materi patogen


• Grant dkk  bila bakteri atau benda asing tertentu masuk ke sulkus gingiva segera
akan lenyap dari sulkus krn keluar oleh aliran CSG

• McGehee  pd gingiva yg sehat CSG bersifat alkali shg dpt mencegah terjadinya
karies gigi pd permukaan enamel & sementum yg halus.

• Sifat ini disebabkan oleh daerah mikrosirkulasi setempat bersifat alkali menunjang
netralisasi asam yg dpt ditemukan dlm proses karies di area gingival margin

• Mikrosirkulasi adalah sirkulasi di dlm pembuluh darah dgn diameter kurang dari
100μm

Fungsi cairan sulkus gingiva

• Cleansing mencuci daerah leher gingiva, mengeluarkan sel-sel epitelial yang


terlepas, leukosit, bakteri, dan kotoran lainnya

• protein plasma dapat mempengaruhi perlekatan epitelial ke gigi

• mengandung agen antimikrobial misalnya lisosim dll

• Sistem imun Membawa leukosit PMN dan makrofag yang dapat membunuh
bakteri. Juga menghantarkan IgG, IgA, IgM dan faktor-faktor lain

• Penanda Diagnostik  Jumlah cairan gingiva dapat diukur dan digunakan sebagai
indeks dari inflamasi gingiva, penyakit periodontal dan sistemik

Faktor yang berperan dalam pengukuran cairan sulkus gingiva

• Circadian Periodicity. Terjadi peningkatan bertahap dalam jumlah CSG dari pukul
enam pagi sampai pukul sepuluh malam dan menurun setelah itu.

• Hormon Seksual. Hormon seksual wanita meningkatkan CSG, mungkin karena


permeabilitas vaskularnya bertambah besar. Kehamilan, ovulasi, dan kontrasepsi
hormonal semuanya meningkatkan produksi cairan ginggival.

• Stimulasi Mekanis. Mengunyah dan menggosok gigi dengan sangat kuat


menstimulasi aliran dari CSG. Bahkan stimulasi kecil dengan memberikan strip kertas
dapat memperlihatkan kenaikan produksi cairan.

• Merokok. Merokok memproduksi secara singkat, tetapi jelas meningkatkan aliran


CSG.

• Terapi Periodontal. Terdapat peningkatan produksi CSG selama periode


penyembuhan setelah operasi periodontal.

• Obat-obatan pada cairan sulkus gingiva. Seluruh CSG yang diekskresikan oleh obat-
obatan dapat berguna saat terapi periodontal. Bader dan Goldgaber
mendemonstrasikan pada anjing bahwa tetrasiklin diekskresikan pada CSG;
penemuan ini menyebabkan penelitian lebih jauh yang memperlihatkan konsentrasi
tetrasiklin dibandingkan dengan serum. Metronidazole antibiotik lainnya yang
ditemukan dalan CSG manusia.

MEKANISME PERTAHANAN PADA CAIRAN SULKUS GINGIVA

• Respon imunitas selular dengan adanya sitokinin, tetapi tidak jelas adanya petunjuk
antara sitokinin dan penyakit. Meskipun begitu, interleukin 1- alfa dan interleukin 1-
beta diketahui meningkatkan PMNs dan monosit/makrofag kepada endotelial sel ,
menstimulasi produksi dari protaglandin E2 (PGE2), dan melepaskan enzim lisosom,
kemudian menstimulasi resorpsi tulang. Bukti juga mengindikasi keberadaan dari
interferon- α di GCF, yang mungkin mempunyai peran protektif pada penyakit
periodontal karena kemampuannya mencegah resorpsi tulang.
Diabetes mellitus erat kaitannya dengan penyakit jaringan periodontal seperti
periodontitis. Periodontitis memiliki ciri-ciri seperti :

- Gingiva tampak berwarna merah atau merah kebiruan

- Terasa lunak

- Permukaan lebih licin dan mengkilat

- Terjadi perdarahan pada saat probbing

Diabetes diasosiasikan dengan respons inflamasi berlebih gingiva terhadap plak.

Secara umum, pasien dengan diabetes terkontrol dan pasien tanpa diabetes
mempunyai tingkat gingivitis yang serupa.

Sementara itu, pasien diabetes tidak terkontrol mempunyai tingkat gingivitis


lebih parah dibandingkan pasien tanpa diabetes atau pasien dengan diabetes terkontrol

Abnormalitas fungsi sel

sel yang berperan dalam respons inflamasi

seperti :

- Neutrofil  defisiensi

- Monosit  produksi pro-infl ammatory cytokine

- Makrofag

Perubahan Metabolisme

fibroblas yang merupakan sel reparatif primer pada jaringan periodonsium tidak dapat
berfungsi dengan baik. Selain sintesis kolagen yang berkurang, kolagen yang diproduksi
fibroblas rentan terdegradasi oleh enzim matriks metalloproteinase yang jumlah produksinya
meningkat pada pasien diabetes.

Pembentukan Advanced Glycation End


Products (AGEs)

Perubahan integritas mikrovaskular, yang sering menyebabkan kerusakan organ seperti


retinopati dan nefropati. Pada kondisi hiperglikemik, protein sertamolekul matriks mengalami
non-enzymatic glycosylation yang menghasilkan advanced glycation end products (AGEs)
pada jaringan, termasuk jaringan periodonsium

AGEs pada pasien diabetes meningkatkan intensitas respons inflamasi monosit dan
makrofag, yang ditunjukkan dengan meningkatnya produksi proinflammatory cytokine
seperti IL-1α dan TNF-α.

AGEs juga berinteraks dengan kolagen dan membuat kolagen lebih sulit diperbaiki
bila mengalami kerusakan.
Efek Penyakit Periodontal Terhadap Diabetes Melitus

Pada pasien dengan penyakit periodontal

sering ditemukan peningkatan kadar proinflammatory cytokine. Pada pasien diabetes, respons
imun berlebih akan lebih meningkatkan lagi produksi proinflammatory cytokines.

Jaringan periodontalnya dikolonisasi oleh bakteri gram negatif seperti P. gingivalis,


Tannerella

forsynthesis, dan Prevotella intermedia, mempunyai lebih banyak marker peradangan seperti
C-reactive protein (CRP), IL-6, dan fibrinogen

CSG Sebagai Biomarker

Gingival crevicular fluid merupakan eksudat inflamasi yang terdapat di gingival crevics. CSG
merupakan salah satu cairan tubuh yang dapata menjadi alternatif diagnostik selainn darah
(Mc. Culloh, 1994).

Pengumpulan sampel CSG bersifat non infasif, spesifik, dan mudah dikumpulkan
serta dapat menggambarkan keadaan jaringan di tubuh yang terkait dengan penyakit sistemik
(Oswal dan Dwarakanath, 2010)

CSG merefleksikan kandungan substansi dalam serum dan respon seluler jaringan
periodontal. Kandungan biomarker yang terdeteksi di dalam CSG seperti :

- Prostaglandin

- Neutrofil

- Lisosomal enzim beta-glucuronidase  keparahan inflamasi

CSG dapat menunjukkan keterlibatan penyakit periodontal pada patofisiologis


penyakit sistemik seperti penyakit cardiovaskular dan cerebrovascular.