Anda di halaman 1dari 101

EFEK EKSTRAK KULIT BUAH RAMBUTAN

TERHADAP JUMLAH ERITROSIT, KADAR HEMOGLOBIN


DAN HEMATOKRIT TIKUS PUTIH
YANG DIPAPAR ASAP ROKOK

Skripsi
disusun sebagai salah satu syarat
untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Biologi

oleh

Fera Kartika Dewi


4411411048

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2016

i
ii
iii
ABSTRAK
Dewi, Fera Kartika. 2015. Efek Ekstrak Kulit Buah Rambutan terhadap Jumlah
Eritrosit, Kadar Hemoglobin dan Hematokrit Tikus yang Dipapar Asap Rokok.
Skripsi, Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Utama Dr. Lisdiana, M.Si.

Asap rokok merupakan salah satu sumber radikal bebas eksogen. Apabila
terinhalasi, aktivitasnya dapat merusak struktur fungsi membran eritrosit.
Pengaruh radikal bebas dapat ditekan melalui pemberian antioksidan. Kulit buah
rambutan mengandung senyawa fenolik dalam bentuk polifenol yang bersifat
antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek ekstrak kulit buah
rambutan terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit darah tikus
yang dipapar asap rokok dan pada dosis berapa ekstrak kulit buah rambutan dapat
memberikan pengaruh signifikan. Penelitian ini menggunakan desain Post Test
Control Group Design. Sampel dibagi dalam 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol
(K+, K-) dan kelompok perlakuan (KP1, KP2, KP3). Masing-masing kelompok
terdiri dari 5 ekor tikus putih. Kelompok kontrol positif (K+) diberi pakan standar
dan air minum, kelompok kontrol negatif (K-) diberi 3 batang rokok, kelompok
perlakuan (KP1, KP2, KP3) diberi 3 batang rokok dan ekstrak kulit buah
rambutan masing-masing kelompok perlakuan dengan dosis 15 mg/kgBB, 30
mg/kgBB, dan 45 mg/kgBB selama 30 hari. Variabel bebas adalah ekstrak kulit
buah rambutan sedangkan variabel terikat adalah jumlah eritrosit, kadar
hemoglobin dan hematokrit darah. Pengambilan darah dilakukan pada hari ke 6,
12, 18, 24 dan 30 melalui sinus orbitalis mata dengan pipet hematokrit sebanyak 1
ml dan ditampung dalam tabung eppendorf kemudian mengukur parameter sampel
darah dengan Hematology Analyzer BC 2600. Data dianalisis dengan uji LSD dan
dosis optimum dianalisis menggunakan uji regresi. Hasil penelitian menunjukkan
dari hasil uji LSD pada jumlah eritrosit terdapat perbedaan bermakna antara
kelompok K- terhadap kelompok K+, KP1, KP2 dan KP3. Pada kelompok K+
tidak terdapat perbedaan bermakna terhadap kelompok KP1, KP2 dan KP3,
namun terdapat perbedaan yang bermakna terhadap kelompok KP3 dengan taraf
siginifkansi sebesar 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 (p<5%). Sedangkan hasil uji
LSD kadar hemoglobin dan hematokrit darah menunjukkan terdapat perbedaan
bermakna antara kelompok K- terhadap kelompok K+, KP1, KP2 dan KP3. Pada
kelompok K+ tidak terdapat perbedaan bermakna terhadap kelompok KP1, KP2
dan KP3. Sedangkan antara kelompok KP1, KP2 dan KP3 tidak terdapat
perbedaan bermakna. Namun dari hasil rerata jumlah eritrosit, kadar hemoglobin
dan hematokrit darah pada hari ke 30, kelompok KP3 yang paling tertinggi.
Simpulan dari penelitian ini adalah ekstrak kulit buah rambutan dengan dosis 45
mg/kgBB dapat meningkatkan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan hematokrit
darah tikus yang dipapar asap rokok.

Kata kunci: asap rokok, darah, kulit buah rambutan

iv
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
hidayah-Nya sehingga skripsi dengan judul “Efek Ekstrak Kulit Buah Rambutan
terhadap Jumlah Eritrosit, Kadar Hemoglobin dan Hematokrit Tikus yang Dipapar
Asap Rokok” dapat terselesaikan dengan baik. Penulis menyadari dalam
pembuatan skripsi ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak, maka pada
kesempatan ini penulis menyampaikan penghargaan dan terima kasih kepada:
1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan
untuk menyelesaikan studi Strata 1 di Universitas Negeri Semarang.
2. Dekan Fakultas MIPA yang telah memberikan ijin dan kelancaran
administrasi dalam melaksanakan penelitian.
3. Ketua Jurusan Biologi Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan
arahan dan kelancaran administrasi.
4. Dr. Lisdiana, M.Si. sebagai dosen pembimbing dan selaku dosen wali yang
telah memberikan bimbingan, arahan dan motivasi.
5. Dr. Wiwi Isnaeni, M.S. dan Dr. Aditya Marianti, M.Si. sebagai dosen penguji
I dan dosen penguji II yang telah memberikan arahan dan saran perbaikan
serta memberikan waktunya untuk berkonsultasi.
6. Mbak Tika dan Pak Ngatiman selaku teknisi Laboratorium Biologi Unnes
yang telah membantu dalam melakukan penelitian.
7. Pak Mahali dan Mbak Arista selaku teknisi Laboratorium Patologi Klinik
Universitas Muhammadiyah Semarang yang telah memfasilitasi, membantu
menganalisis dan memberikan arahan dalam melakukan penelitian.
8. Ayahanda R. Indrakama Wedanta, BSc, Ibunda Hariani dan keluarga tercinta
yang telah memberikan dukungan baik moril, doa maupun materil.
9. Pemerintah RI melalui DIKTI yang telah membantu dan memberikan
berbagai sarana materil selama perkuliahan berlangsung untuk menyelesaikan
studi Strata 1.
10. Mas Herdi, Dek Wawan dan Dek Erni yang selalu memberi motivasi, saran
dan setia bersama-sama dalam menjalankan penelitian skripsi ini.
11. Nihayatul Milah yang telah membantu dengan segala bentuk keikhlasannya.

v
12. Kakak-kakak ku yakni Mas Yanto, Mbak Astridya Paramita, M.KM. dan Mas
Dimas Satrio Herlambang, S.Si., yang selalu memberikan semangat,
motivasi, doa, kasih sayang dan materil dalam pembuatan skripsi ini.
13. Sahabat-Sahabat-ku Nanda, Maulana, Ria dan lain-lain yang selalu
mendoakan dan memberi semangat dalam pembuatan skripsi ini.
14. Dek Eva, Anwar, Syarif dan Husein yang telah membantu dan memberikan
arahan serta berbagai keceriaan selama penelitian di Unit Perawatan dan
Perbiakan Hewan Coba Laboratorium Biologi FMIPA UNNES.
15. Rekan-rekan Biologi Unnes dan Sebico (Second of Biology Community) yang
selalu memberi motivasi saya dalam melakukan penelitian.
16. Teman-teman berbagai organisasi CBF (Cempaka Bio Farm), JSC (Jasmina
Study Center), UKM Penelitian dan lain-lain, yang telah memberikan ilmu
yang bermanfaat serta memberi motivasi saya dalam penulisan skripsi ini.
17. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah
memberikan bantuan, baik moril, doa maupun materil demi terselesaikannya
skripsi ini.

Tidak ada satu pun yang dapat penulis berikan sebagai imbalan, kecuali doa
semoga Allah SWT memberikan balasan yang sebaik-baiknya dan berlimpah
rahmat serta hidayah-Nya. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi pengembangan
ilmu pengetahuan serta menjadi bahan kajian dalam bidang ilmu yang terkait.
Amin.

Semarang, 25 April 2016

Penulis

vi
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ............................................................ ii
HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................ iii
ABSTRAK ......................................................................................................... iv
KATA PENGANTAR ....................................................................................... v
DAFTAR ISI ...................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... x
DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................. 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 4
C. Penegasan Istilah ............................................................................. 5
D. Tujuan Penelitian ............................................................................. 5
E. Manfaat Penelitian ........................................................................... 6
BAB II TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS
A. Kandungan Senyawa Kimia Kulit Buah Rambutan
(Nephelium lappaceum) .................................................................. 7
B. Kandungan Asap Rokok .................................................................. 11
C. Gambaran Umum Darah ................................................................. 14
D. Kerangka Berpikir ........................................................................... 22
E. Hipotesis .......................................................................................... 24
BAB III METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian ........................................................... 25
B. Populasi dan Sampel ....................................................................... 25
C. Variabel ........................................................................................... 25
D. Alat dan Bahan Penelitian ............................................................... 26
E. Rancangan Penelitian ...................................................................... 27
F. Prosedur Penelitian .......................................................................... 28
G. Analisis Data ................................................................................... 32

vii
Halaman
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ............................................................................... 33
B. Pembahasan ..................................................................................... 42
BAB V SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ......................................................................................... 54
B. Saran ................................................................................................ 54
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 55
LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................................. 62

viii
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
1. Alat yang digunakan untuk penelitian ......................................................... 26
2. Bahan yang digunakan untuk penelitian ...................................................... 27
3. Pemberian perlakuan pada penelitian .......................................................... 27
4. Rerata Jumlah eritrosit (106/µl) selama 30 hari perlakuan .......................... 33
5. Hasil uji LSD terhadap jumlah eritrosit (106/µl) ......................................... 35
6. Rerata kadar hemoglobin (gr/dL) selama 30 hari perlakuan ....................... 36
7. Hasil uji LSD terhadap kadar hemoglobin (gr/dL) ...................................... 38
8. Rerata persentase hematokrit (%) selama 30 hari perlakuan ....................... 39
9. Hasil uji LSD terhadap persentase hematokrit (%) ..................................... 41

ix
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
1. Buah dan kulit buah rambutan ................................................................... 8
2. Struktur polifenol ....................................................................................... 8
3. Struktur kimia asam ellagat, corilagin dan geraniin ................................... 9
4. Mekanisme peredaman radikal oleh senyawa fenolik ............................... 10
5. Gambaran sampel darah ............................................................................. 15
6. Morfologi sel darah merah ......................................................................... 16
7. Struktur dari membran sel .......................................................................... 17
8. Struktur hemoglobin .................................................................................. 20
9. Kerangka berpikir penelitian efek ekstrak kulit buah rambutan
terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit
darah tikus yang dipapar asap rokok .......................................................... 24
10. Seperangkat alat smoking chamber ............................................................ 30
11. Skema tahap pelaksanaan penelitian .......................................................... 31
12 Grafik rerata jumlah eritrosit selama 30 hari perlakuan ............................. 34
13. Garis regresi linier antara dosis ekstrak kulit buah rambutan
dengan jumlah eritrosit ............................................................................... 36
14. Grafik rerata kadar hemoglobin selama 30 hari perlakuan ........................ 37
15. Garis regresi linier antara dosis ekstrak kulit buah rambutan
dengan kadar hemoglobin .......................................................................... 39
16. Grafik rerata persentase hematokrit selama 30 hari perlakuan .................. 40
17. Garis regresi linier antara dosis ekstrak kulit buah rambutan
dengan persentase hematokrit .................................................................... 42
18. Struktur flavonoid ...................................................................................... 52

x
DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman
1. Pembuatan ekstrak kulit buah rambutan
(Nephelium lappaceum L.) .......................................................................... 63
2. Cara pemeriksaan sampel darah dengan
alat Hematology Analyzer ............................................................................ 64
3. Prosedur pengoperasian Hematology Analyzer BC 2600 ............................ 65
4. Data hasil penelitian ..................................................................................... 67
5. Analisis statistik data jumlah eritrosit .......................................................... 70
6. Ringkasan hasil uji regresi linier data jumlah eritrosit ................................. 73
7. Analisis statistik data kadar hemoglobin ..................................................... 76
8. Ringkasan hasil uji regresi linier data kadar hemoglobin ............................ 79
9. Analisis statistik data persentase hematokrit ............................................... 82
10. Ringkasan hasil uji regresi linier data persentase hematokrit ...................... 85
11. Dokumentasi penelitian ................................................................................ 88

xi
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada sebagian masyarakat merokok merupakan hal kebiasaan yang sulit
dihilangkan dan berbahaya bagi kesehatan tubuh. Merokok tidak hanya berbahaya
bagi perokok tetapi juga orang di sekitarnya yang terkena asap rokok. Pembakaran
rokok akan menghasilkan asap rokok yang terbagi menjadi asap rokok utama
(mainstream smoke) dan asap rokok samping (sidestream smoke). Asap rokok
utama merupakan asap rokok yang dihasilkan dari hisapan perokok aktif yang
mengandung 25% kadar bahan berbahaya, sedangkan asap rokok samping
merupakan asap rokok dari pembakaran rokok yang terhirup oleh perokok pasif
yang mengandung 75% kadar bahan berbahaya (Nurjanah et al. 2014). Asap
rokok samping dapat menimbulkan polusi udara sehingga disebut pula
Environtment Tobacco Smoke (ETS) yang sangat berbahaya dan dampaknya lebih
besar.
Asap rokok merupakan aerosol heterogen dari hasil pembakaran tembakau.
Kandungan kimia tembakau yang sudah teridentifikasi jumlahnya mencapai 2.500
komponen, sedangkan dalam asap rokok telah teridentifikasi 4.800 macam
komponen kimia yang dapat membahayakan kesehatan (Gaur 2007). Asap rokok
terbagi menjadi dua komponen yakni komponen gas dan partikel. Komponen gas
terdiri atas karbon monoksida (CO), oksida, aldehid, asam hidrosianat, akrolein,
ammonia, nitrosamin, hidrazin dan vinil klorida. Sedangkan komponen partikel
terdiri atas tar, nikotin, hidrokarbon aromatik polinuklear, fenol, kresol, β-
naftilamin, benzo(a)piren, katekol, indol dan karbazol (Behr 2002).
Asap rokok, baik asap rokok utama dan samping apabila terinhalasi ke
dalam sistem pernafasan dapat masuk ke sistem sirkulasi darah sehingga
menimbulkan Reactive Oxygen Species (ROS) yaitu senyawa pengoksidasi
turunan oksigen yang bersifat sangat reaktif yang menyebabkan stress oksidatif
terutama pada eritrosit. Di dalam eritrosit terkandung hemoglobin (Hb) yakni
suatu struktur yang terdiri atas heme dan globin. Hemoglobin memiliki
kemampuan mengikat O2 dan CO2 sehingga hemoglobin merupakan komponen

1
2

yang amat penting dalam mempertahankan keutuhan sistem sirkulasi tubuh.


Fungsi utamanya yakni mengatur pertukaran O2 dan CO2 dalam jaringan tubuh
yaitu mengambil O2 dari paru kemudian dibawa ke seluruh jaringan tubuh
digunakan untuk metabolisme serta membawa CO2 dari jaringan tubuh hasil
metabolisme ke paru-paru untuk dibuang. Hemoglobin juga turut berfungsi dalam
mempertahankan bentuk normal sel darah merah (Hoffbrand 2006).
Kandungan asap rokok terutama karbon monoksida bereaksi dengan
hemoglobin membentuk karbon monoksihemoglobin (karboksihemoglobin).
Afinitas hemoglobin untuk O2 jauh lebih rendah daripada afinitasnya terhadap
karbon monoksida, sehingga CO menggantikan O2 pada hemoglobin dan
menurunkan kapasitas darah sebagai pengangkut oksigen. Karakteristik biologik
yang paling penting dari CO adalah kemampuannya untuk berikatan dengan
hemoglobin, pigmen sel darah merah yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.
Sifat ini menghasilkan pembentukan karboksihemoglobin (HbCO) yang 200 kali
lebih stabil dibandingkan oksihemoglobin (HbO2). Penguraian HbCO yang relatif
lambat menyebabkan terhambatnya kerja molekul sel pigmen tersebut dalam
fungsinya membawa oksigen ke seluruh tubuh. Kondisi seperti ini bisa berakibat
serius, bahkan fatal, karena dapat menyebabkan keracunan (Harvey 2009).
Membran eritrosit tersusun atas karbohidrat, protein, oligosakarida dan lipid
(fosfolipid, kolesterol, glikolipid). Fosfolipid merupakan lipid yang jumlahnya
paling banyak dan tersusun dalam dua lapisan/dwi lapis (bilayer). Fosfolipid
merupakan salah satu membran yang rentan terhadap stres oksidatif. Apabila
radikal bebas tidak dihentikan, aktivitasnya dapat merusak seluruh tipe
makromolekul seluler, termasuk karbohidrat, protein, lipid dan asam nukleat
(Abdollahi et al. 2004). Lemak tidak jenuh adalah lemak yang peka terhadap
serangan oksigen sehingga menimbulkan perubahan struktur kimia. Dalam sistem
seluler peroksidasi terjadi pada biomembran, akibatnya kandungan asam lemak
tidak jenuh yang ada menjadi sangat reaktif. Serangan radikal bebas pada lipid
dapat menyebabkan terbentuknya peroksida yang disebut peroksidasi lipid
(Suhartono et al. 2007).
Peroksida lipid pada membran eritrosit dapat mengakibatkan hilangnya
fluiditas membran dan meningkatkan fragilitas atau kerapuhan membran eritrosit
3

yang selanjutnya mengakibatkan eritrosit akan mudah pecah atau hemolisis


(Ratnaningtyas 2010). Lisisnya membran eritrosit menyebabkan hemoglobin
terbebas ke dalam plasma, sehingga jumlahnya semakin berkurang. Hal ini
mengakibatkan kadar hemoglobin yang terdapat dalam eritrosit rendah. Akibatnya
sel-sel tubuh akan kekurangan oksigen (Ahumibe dan Braide 2009). Apabila
kerusakan membran eritrosit terus berlanjut, maka kemungkinan akan
menimbulkan penyakit anemia sehingga terjadi penurunan nilai hematokrit darah.
Dari hasil penelitian Kilinc et al. (2004) menunjukkan bahwa nilai hitung eritrosit
pada perokok pasif lebih rendah daripada perokok aktif. Perokok pasif yang sering
menghirup asap rokok samping dari hasil pembakaran rokok yang diakibatkan
oleh perokok aktif. Perokok pasif lebih memiliki resiko yang besar daripada
perokok aktif karena asap rokok yang terhirup lebih berbahaya disebabkan oleh
senyawa aktif yang kuat dari hasil pembakaran tidak sempurna rokok.
Pengaruh radikal bebas dari asap rokok terhadap eritrosit, hemoglobin dan
hematokrit dapat ditekan melalui pemberian antioksidan. Antioksidan dapat
berperan dalam mencegah terjadinya stress oksidatif akibat paparan radikal bebas.
Antioksidan dapat diperoleh dari senyawa kimia hasil metabolit sekunder dari
berbagai tanaman. Salah satu jenis kulit buah yang berkhasiat sebagai obat dan
memiliki aktivitas antioksidan yaitu rambutan (Nephelium lappaceum).
Rambutan merupakan buah yang umum dikonsumsi di Indonesia, mudah
diperoleh, serta dikenal masyarakat luas. Rambutan adalah salah satu buah yang
semua bagiannya dari kulit, daun, biji, sampai akar, dapat berfungsi sebagai obat
(Syamsidi 2014). Namun untuk kulit buah rambutan hingga kini masih menjadi
limbah. Kulitnya yang berwarna merah masih belum dimanfaatkan secara
maksimal. Kulit buah rambutan diketahui memiliki aktivitas antioksidan yang
mengandung senyawa fenolik, alkaloid, steroid dan terpenoid (Wardhani dan
Supartono 2015), flavonoid (Fidrianny et al. 2015) serta antosianin (Hutapea et al.
2014) dengan kandungan tertinggi adalah senyawa fenolik (Fila 2012). Menurut
Thitilertdecha et al. (2010), kulit buah rambutan mengandung senyawa fenolik
dalam bentuk polifenol dengan komponen utama asam ellagat, geraniin dan
coraligin. Polifenol ini berperan melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat
radikal bebas dengan cara mengikat radikal bebas (Guo et al. 2003).
4

Polifenol merupakan senyawa kimia yang bersifat antioksidan kuat yang


mempunyai cincin aromatik dengan gugus hidroksil lebih dari satu (Thitilertdecha
et al. 2010). Aktivitas antioksidan polifenol lebih efektif dan lebih kuat
dibandingkan dengan aktivitas antioksidan pada vitamin C dan vitamin E.
Kemampuan antioksidan dari suatu zat adalah IC50 (Inhibitory Concentration 50)

yang didefinisikan sebagai besarnya konsentrasi senyawa uji yang dapat meredam
radikal bebas sebanyak 50%, dimana semakin kecil nilai IC50 maka aktivitas
peredaman radikal bebas semakin tinggi dan akan semakin efektif zat tersebut
sebagai antioksidan. Hal ini berdasarkan hasil penelitian Tjandra et al. (2011) uji
aktivitas antioksidan secara kuantitatif menunjukkan bahwa ekstrak metanol kulit
buah rambutan nilai IC50 sebesar 0,412 µg/mL dan nilai IC50 vitamin C sebesar
1.776603 µg/mL, sedangkan dari hasil penelitian Khasanah (2011) ekstrak etanol
kulit buah rambutan menunjukkan nilai IC50 sebesar 4,29 µg/mL dan nilai IC50
vitamin E sebesar 8,48 µg/mL. Maka dari hasil dua penelitian tersebut
menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah rambutan memiliki aktivitas antioksidan
yang lebih kuat dibandingkan dengan senyawa vitamin C dan vitamin E.
Namun demikian, sampai saat ini belum diketahui efek ekstrak kulit buah
rambutan terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit darah.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah
penelitian sebagai berikut:
1. Bagaimana efek ekstrak kulit buah rambutan terhadap jumlah eritrosit, kadar
hemoglobin dan nilai hematokrit darah tikus yang dipapar asap rokok?
2. Pada dosis berapa efek ekstrak kulit buah rambutan dapat memberikan
pengaruh signifikan pada jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai
hematokrit darah tikus yang dipapar asap rokok?
5

C. Penegasan Istilah
Untuk menghindari salah penafsiran terhadap judul “Efek Ekstrak Kulit
Buah Rambutan terhadap Jumlah Eritrosit, Kadar Hemoglobin dan Hematokrit
Tikus yang Dipapar Asap Rokok” maka perlu ditegaskan istilah-istilah yang
terkait dengan judul di atas sebagai berikut.
1. Asap Rokok
Bahan toksik yang diperoleh dari hasil pembakaran rokok. Asap rokok akan
dipaparkan ke tikus. Jenis rokok yang digunakan merupakan jenis rokok kretek
yang dijual bebas di pasaran, dengan kandungan tar 38 mg dan nikotin 2,4 mg per
batang rokok. Tujuan digunakan asap rokok dalam penelitian ini adalah
menimbulkan efek toksik pada darah.
2. Ekstrak Kulit Buah Rambutan
Zat dalam bentuk serbuk yang dimurnikan dari zat asal. Dalam penelitian ini
kulit buah rambutan dibuat dengan cara meserasi menggunakan pelarut metanol.
Hasil akhir ekstrak berupa larutan.
3. Jumlah Eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit darah
Komponen sel darah yang terdiri dari 45% berupa sel-sel darah merah yang
mengandung hemoglobin dan nilai hematokrit berkaitan erat dengan jumlah
eritrosit/sel darah merah dalam tubuh. Dalam penelitian ini digunakan sebagai
indikator penting kerusakan darah yang diambil dengan melihat parameter
hematologi melalui pemeriksaan darah di laboratorium.

D. Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk menganalisis efek ekstrak kulit buah rambutan terhadap jumlah eritrosit,
kadar hemoglobin dan nilai hematokrit darah tikus yang dipapar asap rokok.
2. Untuk mengetahui dosis ekstrak kulit buah rambutan yang berpengaruh
signifikan pada jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit darah
darah tikus yang dipapar asap rokok.
6

E. Manfaat Penelitian
Manfaat dilakukannya penelitian ini antara lain sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
1. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah mengenai
efek ekstrak kulit buah rambutan terhadap jumlah eritrosit, kadar
hemoglobin dan nilai hematokrit darah tikus yang dipapar asap rokok.
2. Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan acuan untuk
penelitian lebih lanjut tentang prospek pengembangan efek ekstrak kulit
buah rambutan sebagai antioksidan.

2. Manfaat Aplikatif
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi masyarakat
untuk menggunakan ekstrak kulit buah rambutan sebagai obat alternatif untuk
mencegah penurunan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit
darah akibat dipapar asap rokok.
7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS

A. Kandungan Senyawa Kimia Kulit Buah Rambutan (Nephelium lappaceum)


Rambutan merupakan tanaman buah tropis asli Indonesia, namun saat ini
telah menyebar luar di daerah yang beriklim tropis seperti Filipina dan negara-
negara Amerika Latin dan ditemukan pula di daratan yang mempunyai iklim sub-
tropis. Tanaman rambutan merupakan salah satu tanaman yang berpotensi untuk
dikembangkan sebagai antioksidan alami yang dalam perkembangannya juga
digunakan sebagai tanaman obat (Nugraha 2008). Rambutan banyak ditanam
sebagai pohon buah dan kadang-kadang ditemukan tumbuh dengan liar.
Tumbuhan tropis ini memerlukan iklim lembab dengan curah hujan tahunan
paling sedikit 2000 mm. Rambutan merupakan tanaman dataran rendah yang
ketinggiannya mencapai 300-600 m dpl (Hasbi 1995). Sistematika dan klasifikasi
tanaman rambutan adalah sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Sub kingdom : Tracheobionta
Super divisi : Spermatophyta
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Magnoliopsida
Sub kelas : Rosidae
Ordo : Sapindales
Famili : Sapindaceae
Genus : Nephelium
Spesies : Nephelium lappaceum L.
Kultivar : Binjai

Menurut Hasbi (1995) buah rambutan berbentuk bulat sampai lonjong dan
seluruh permukaan kulitnya banyak ditumbuhi rambut-rambut (duri-duri lunak),
oleh karena itu disebut rambutan (Gambar 1). Buah rambutan terbentuk pada
ujung ranting yang berbentuk bulat berukuran 5 cm yang berwarna hijau muda
dan akan berubah warna menjadi kuning atau merah apabila sudah matang.
Dinding buah tebal. Biji berbentuk elips, terbungkus daging buah berwarna putih

7
8

transparan yang dapat dimakan dan banyak mengandung air, rasanya bervariasi
dari masam sampai manis. Kulit biji tipis berkayu (Hutapea et.al. 2014).

Gambar 1. Buah dan kulit buah rambutan (Sumber: Dok. Pribadi)

Buah rambutan tersusun atas 3 komponen yakni buah, biji dan kulit. Kulit
buah (perikarp) rambutan yang biasanya dibuang dan belum termanfaatkan,
ditemukan mengandung antioksidan yang sangat tinggi dan aktivitas antibakteri
serta berpotensi memberikan aktivitas antioksidan sebagai penangkal radikal
bebas. Kulit buah sebagai sumber senyawa antioksidan secara perlahan
mendapatkan perhatian karena aktivitas biologinya lebih baik daripada bagian
yang lain (Zulkifli et al. 2012). Berdasarkan penelitian Wardhani dan Supartono
(2015) bahwa kulit buah rambutan diketahui mengandung senyawa fenolik,
alkaloid, steroid dan terpenoid (Wardhani dan Supartono 2015), flavonoid
(Fidrianny et al. 2015) serta antosianin (Hutapea et al. 2014) dengan kandungan
tertinggi adalah senyawa fenolik (Fila 2012).

Gambar 2. Struktur polifenol (Sumber: Hamid et al 2010)

Menurut Thitilertdecha et al (2010) menjelaskan bahwa senyawa fenolik


pada kulit buah rambutan dalam bentuk polifenol. Polifenol ini merupakan
senyawa kimia yang bersifat antioksidan kuat dan paling banyak yang mempunyai
9

cincin aromatik dengan gugus hidroksil lebih dari satu (Gambar 2). Asam ellagat,
corilagin dan geraniin yang diisolasi dari ekstrak metanol kulit buah rambutan
merupakan komponen utama yang berpotensi sebagai antioksidan (Gambar 3).
Asam elagat merupakan senyawa yang mempunyai kapasitas antioksidan yang
tinggi dibanding antioksidan yang beredar di pasaran.

Asam ellagat Corilagin

Geraniin

Gambar 3. Struktur kimia asam ellagat, corilagin dan geraniin


(Sumber: Thitilertdecha et al. 2010)

Senyawa polifenol berperan sebagai antioksidan, bertindak sebagai


penampung radikal hidroksil dan superoksida sehingga melindungi membran lipid
(Sundaryono 2011). Selain itu kulit buah rambutan mengandung senyawa aktif
fenolik yaitu flavonoid dan antosianin yang diduga sebagai pigmen yang membuat
kulitnya berwarna merah tua (Nurdin et al. 2013). Flavonoid merupakan senyawa
aktif polifenol yang berperan sebagai antioksidan, yang dapat meningkatkan
eritropoiesis (proses pembentukan eritrosit) dalam sumsum tulang dan memiliki
efek immunostimulan (Sundaryono 2011). Sifat antioksidan ini dapat menjaga
haeme iron tetap dalam bentuk ferro yang berhubungan dengan produksi
methemoglobin (Ahumibe dan Braide 2009). Dengan adanya flavonoid saat
10

terdapat bentuk ferrylHb diperkirakan dapat mencegah setengah dari molekul


oxyHb teroksidasi menjadi metHb. Sehingga hemoglobin tetap dapat menjalankan
fungsinya untuk mengikat oksigen karena tetap terdapat dalam bentuk oxyHb
(Gebicka dan Banasiak 2009).
Antosianin merupakan zat warna merah yang terdapat dalam kulit buah
rambutan merupakan senyawa golongan flavonoid yang juga berpotensi sebagai
antioksidan di dalam tubuh sehingga dapat melindungi integritas sel endotel yang
melapisi dinding pembuluh darah sehingga tidak terjadi kerusakan, melindungi
lambung dari kerusakan dan menghambat sel tumor (Arinaldo 2011), serta
senyawa antosianin diduga dapat menstimulir produksi eritropoietin sehingga
mempengaruhi pembentukan sel darah merah (Chu dan Chen 2006).

Gambar 4. Mekanisme peredaman radikal oleh senyawa fenolik


(Sumber: Cholisoh 2008)

Dalam penelitian Thitilertdecha et al (2010), menunjukkan bahwa senyawa


polifenol pada ekstrak kulit buah rambutan memiliki aktivitas sebagai antioksidan
yang bertugas untuk menangkal radikal bebas. Hal ini membuktikan bahwa
polifenol memiliki kemampuan sebagai antioksidan karena pada strukturnya
terdapat gugus hidroksil yang dapat mendonorkan atom hidrogennya kepada
radikal bebas sehingga dapat meredam radikal bebas dan efektif dalam
menghambat oksidasi lipida. Mekanisme dari senyawa fenolik dalam meredam
radikal bebas dapat dilihat pada Gambar 4. DPPH (2,2-diphenyl-1-picrylhydrazyl)
merupakan contoh radikal bebas sintetik. Senyawa ini bereaksi dengan senyawa
antioksidan polifenol yang memiliki kemampuan sebagai penangkal radikal yang
umumnya merupakan pendonor atom hidrogen (H). Melalui pengambilan atom
hidrogen (H) dari senyawa antioksidan polifenol ini bertujuan untuk mendapatkan
pasangan elektron. DPPH bereaksi dengan antioksidan sebagai pendonor hidrogen
sehingga atom H tersebut dapat ditangkap oleh radikal DPPH membentuk DPPH-
11

H sehingga absorbansi dari DPPH akan berkurang dan berubah menjadi bentuk
netralnya (Rajesh dan Natvar 2011). Hasil penelitian Ratnaningtyas (2010) juga
membuktikan bahwa kandungan senyawa polifenol pada ekstrak kulit delima
merah (Punica ganatum) dapat meningkatkan jumlah eritrosit dan kadar
hemoglobin pada tikus putih.

B. Kandungan Asap Rokok


Rokok adalah hasil olahan tembakau terbungkus termasuk cerutu atau
bentuk lainnya yang dihasilkan dari tanaman Nicotiona tabacuni, Nicotiana
rustica dan spesies lainnya atau sintetisnya yang mengandung nikotin dan tar
dengan atau tanpa bahan tambahan (Alviventiasari 2012). Rokok yaitu suatu
gulungan kecil yang terbuat dari tembakau yang sudah dipotong-potong menjadi
halus dan di bungkus oleh kertas tipis sehingga menjadi bentuk silinder yang
panjangnya berukuran antara 70-120 mm dengan diameter sekitar 10 mm
(masing-masing negara berbeda). Merokok adalah kegiatan menghisap asap dari
pembakaran tembakau yang ada pada rokok, dimana salah satu ujungnya di bakar
dan dibiarkan membara agar asapnya dapat dihirup lewat mulut pada ujung lain
(Riady 2014).
Rokok merupakan produk yang tersusun dari tembakau. Bahan penyusun
rokok selain tembakau yakni bunga cengkeh yang digunakan sebagai bahan
tambahan untuk memberi aroma pedas pada rokok khususnya rokok kretek
(Towaha 2012). Rokok mengandung lebih dari 4000 partikel yang sangat
berbahaya bagi metabolisme sel seperti tar, nikotin, dan CO. Selain itu juga
mengandung bahan-bahan kimia beracun antara lain: Hydrogen Cyanide,
Ammonia, Toluene, Acetone, Methanol, Napthalene, Vinyl Chloride,
Dimethylnitrosamine, Arsenic, DDT, Urethane, Dibenzacridine, Pyrene,
Cadmium, Benzopyrene, Naphthylamin, Butane, Phenol, Polonium-210 dan
Toluidine (Slaughter et al. 2011).
Asap rokok atau Environmental Tobacco Smoke (ETS) dibedakan menjadi 2
yaitu asap rokok aktif dan asap rokok pasif. Asap rokok aktif atau disebut juga
dengan mainstream cigarette smoke adalah asap rokok yang dihirup dan asap
rokok yang dihembuskan oleh seorang perokok, sedangkan asap rokok pasif atau
disebut juga dengan sidestream cigarette smoke adalah asap rokok yang terbentuk
12

dari ujung rokok yang terbakar. Mainstream cigarette smoke terdiri dari 8% fase
tar dan 92% fase gas. Asap rokok di ruangan sekitar perokok 85% sidestream
cigarette smoke dan 15% mainstream cigarette smoke (Riady 2014). Asap rokok
merupakan radikal bebas yaitu atom atau molekul yang sifatnya tidak stabil
sehingga untuk memperoleh pasangan elektron senyawa ini bersifat sangat reaktif
dan merusak jaringan. Peningkatan radikal bebas yang tidak diikuti oleh
peningkatan antioksidan akan menyebabkan stress oksidatif, yaitu kondisi
gangguan keseimbangan antara penurunan antioksidan dan peningkatan radikal
bebas yang berpotensi menimbulkan kerusakan oleh reaksi berantai di dalam
tubuh dan bila reaksi berantai terus berjalan nantinya dapat menyebabkan
terbentuknya radikal baru yang jumlahnya terus bertambah (Aldina 2015).
Menurut Batubara (2013) bahwa asap rokok mengandung berbagai macam
radikal bebas namun tiga komponen toksik utama yang terdapat dalam asap
rokok, yaitu tar, nikotin dan karbonmonoksida yang telah dibuktikan bersifat
karsinogen dan mutagen yaitu sebagai berikut:
1. Tar
Tar adalah kumpulan dari beribu-ribu bahan kimia dalam komponen padat
dari asap rokok dan bersifat karsinogen. Tar didefinisikan sebagai nikotin bebas
kering yang berwarna cokelat, berbau tidak sedap dan berupa partikel yang
terbentuk selama pemanasan tembakau pada rokok. Pada saat rokok dihisap, tar
akan masuk ke dalam rongga mulut sebagai uap. Setelah dingin maka uap tar
tersebut akan menjadi padat dan membentuk endapan berwarna cokelat pada
permukaan gigi, saluran nafas dan paru-paru. Pengendapan ini bervariasi antara 3-
40 mg per batang rokok, sementara kadar tar dalam rokok berkisar antara 24-45
mg (Tanijaya 2012).
Rokok yang menggunakan filter dapat mengalami penurunan kandungan tar
sekitar 5-15 mg. efek karsinogenik tetap bisa masuk dalam paru-paru walaupun
rokok diberi filter. Kadar tar meningkat saat rokok dibakar dan hembusan terakhir
dari rokok mengandung tar 2x lebih banyak dari hembusan yang pertama
(Gondodiputro 2007). Rokok jenis kretek banyak dikonsumsi oleh sekitar 90%
perokok di Indonesia (Nitcher 2005). Hal ini justru berbahaya karena rokok kretek
cenderung dihisap lebih dalam karena efek anestesi yang terkandung dalam kretek
13

dan kandungan tar menyebabkan peningkatan terjadinya resiko kanker


(Oktavianis 2011).

2. Nikotin
Nikotin merupakan zat yang paling sering diteliti dan banyak di bicarakan.
Zat ini adalah alkaloid beracun yang merupakan senyawa organik yang terdiri dari
karbon, hidrogen, nitrogen dan oksigen. Zat ini biasanya digunakan sebagai bahan
racun serangga. Nikotin ini berbentuk cairan, tidak berwarna dan merupakan basa
yang mudah menguap. Nikotin berikatan dengan reseptor asetilkolin pada
ganglion otonomik, medula adrenal, neuromuscular junction dan otak. Kadar
nikotin 4-6 mg yang dihisap oleh setiap orang setiap hari dapat membuat
seseorang ketagihan terhadap rokok Kandungan nikotin dalam rokok bervariasi
tiap mereknya, berkisar 1.8-41.3 mg/g tiap rokok dengan rata-rata 8.32 mg/g
(Tanijaya 2012).
Kandungan nikotin dalam rokok kretek lebih besar dari rokok filter. Nikotin
yang terdapat dalam asap rokok arus samping 4–6 kali lebih besar dari asap rokok
arus utama. Rokok kretek mengandung lebih banyak nikotin dibandingkan dengan
rokok putih yaitu sebesar 46,8 mg untuk rokok kretek dan 16,3 mg untuk rokok
putih. Nikotin yang dikeluarkan oleh rokok kretek jumlahnya lebih banyak karena
tidak dilengkapi filter yang berfungsi mengurangi asap yang keluar dari rokok
seperti yang terdapat pada jenis filter (Susanna et al. 2003).
Nikotin yang merupakan senyawa utama rokok diserap ke dalam sistem
peredaran darah. Nikotin dapat meracuni saraf tubuh, meningkatkan tekanan
darah, menimbulkan penyempitan pembuluh darah tepi dan menyebabkan
ketagihan dan ketergantungan pada orang yang menggunakannya (Tanijaya 2012).
Menurut Oktavianis (2011) bahwa nikotin akan merangsang hormon adrenalin
sehingga menyebabkan naiknya kerja jantung.

3. Karbon Monoksida (CO)


Karbon Monoksida adalah gas beracun yang tidak berwarna dan tidak
berbau yang merupakan hasil pembakaran tidak sempurna dari bahan yang
mengandung karbon. Dalam rokok terdapat CO sejumlah 2%-6% pada saat
14

merokok. Rokok kretek juga mengandung lebih banyak CO yaitu sebesar 28,3 mg
dan 15,5 mg untuk rokok putih (Raub et al. 2000).
Karbon monoksida menyebabkan kurangnya supply oksigen bagi tubuh.
Karbon monoksida (CO) merupakan sekelompok senyawa yang memiliki elektron
yang tidak berpasangan atau disebut sebagai radikal bebas. Elektron yang tidak
berpasangan akan mengganggu keseimbangan sel – sel dalam tubuh, karena dapat
mengganggu proses oksidasi lemak, protein, serta asam nukleat (DNA) dalam
tubuh (Oktavianis 2011). Karbon monoksida memiliki kecenderungan kuat untuk
berikatan dengan hemoglobin dalam sel-sel darah merah sehingga dapat
mengganggu transportasi O2 karena CO dapat menggeser oksigen yang terikat
pada hemoglobin dan mengikat Hb menjadi karboksihemoglobin. CO yang dihisap
oleh perokok paling rendah sejumlah 400 ppm sudah dapat meningkatkan kadar
karboksihemoglobin dalam darah (Peers et al. 2009). Seharusnya hemoglobin ini
berikatan dengan oksigen yang sangat penting untuk pernapasan sel-sel tubuh,
tetapi karena afinitas gas CO terhadap hemoglobin lebih kuat dari O2 sehingga
akan terbentuk karboksihemoglobin yang lebih banyak yang menyebabkan
jaringan pembuluh darah menyempit dan mengeras sehingga terjadi penyumbatan
serta gejala anemia (Tanijaya 2012).

C. Gambaran Umum Darah


Darah adalah jaringan cair yang mengalir dalam sistem sirkulasi tertutup,
tersusun oleh plasma 55% dan sel darah 45%. Unsur sel darah terdiri dari eritrosit,
leukosit, dan trombosit yang tersuspensi dalam plasma. Unsur sel darah
mempunyai jangka waktu hidup tertentu, sehingga dibutuhkan proses
pembentukan sel darah tersebut. Organ pembentuk sel darah utama adalah
sumsum tulang dan nodus limfatikus (Wulangi 1993; David 1995). Darah
berperan sebagai pembawa berbagai zat dalam sistem sirkulasi, yaitu sistem
transport yang menghantarkan O2 dan berbagai zat yang diabsorbsi dari saluran
pencernaan menuju jaringan, mengembalikan CO2 ke paru-paru serta hasil
metabolisme lainnya menuju ginjal (Ganong 1995). Zat kimia yang diberikan
kepada hewan per oral akan melewati saluran pencernaan masuk ke sistem
sirkulasi menuju sel (Lu 1995). Umumnya, kadar zat kimia di organ sasaran sama
dengan kadarnya di dalam darah.
15

Pergerakan konstan darah sewaktu melalui pembuluh darah menyebabkan


unsur-unsur sel tersebar relatif merata di dalam plasma. Namun apabila suatu
sampel darah utuh diletakkan dalam sebuah tabung reaksi dan diberi zat untuk
mencegah pembekuan, maka unsur-unsur sel yang lebih berat akan secara
perlahan mengendap di dasar dan plasma yang lebih ringan naik ke bagian atas.
Leukosit dan trombosit yang tidak berwarna dan kurang padat dibandingkan
dengan eritrosit mengendap, membentuk sebuah lapisan tipis berwarna krem
“buffy coat” diatas kolom sel darah merah. Lapisan ini menempati kurang
1% volume darah total (Gambar 5).

Gambar 5. Gambaran sampel darah (Sumber: Kay 1998)

1. Eritrosit (Sel darah merah)


Secara morfologi, eritrosit berbentuk cakram bikonkaf, jika dilihat pada
bidang datar berbentuk bulat. Pada penyakit-penyakit tertentu ditemukan eritrosit-
eritrosit yang telah berubah bentuk di dalam peredaran darah. Eritrosit bersifat
elastis dan mampu berubah bentuk, hal ini terbukti dari kemampuannya melalui
kapiler-kapiler berdiameter kecil (Smith dan Mangkoewidjojo 1988).
Eritrosit berfungsi untuk transport O2 dan CO2. Selama perkembangan,
dibentuk hemoglobin. Sebelum dilepaskan ke peredaran darah, inti eritrosit lisis
dan menjelang dewasa semua organel sitoplasma berdegenerasi. Oleh karena itu,
eritrosit yang yang telah berkembang hanya terdiri dari membran plasma yang
membungkus hemoglobin serta sejumlah enzim untuk fungsi transport gas
(Burkitt et al. 1995). Di dalam sel darah merah tidak terdapat organel intrasel
seperti mitokondria, lisosom atau aparatus golgi. ATP disintesis dari glikolisis dan
merupakan unsur yang penting dalam sejumlah proses yang membantu sel darah
16

merah mempertahankan bentuk bikonkafnya di samping dalam pengaturan


transportasi ion dan air yang mengalir masuk serta keluar sel. Bentuk bikonkaf
akan meningkatkan rasio sel darah merah terhadap volumenya sehingga
memperlancar pertukaran gas.

Gambar 6. Morfologi sel darah merah


(Sumber: Smith dan Mangkoewidjojo 1988)

Sel darah merah mengandung komponen sitoskeletal yang memainkan


peranan penting dalam menentukan bentuknya. Ukuran eritrosit 7,2 mikron, tidak
memiliki inti dengan sitoplasma berwarna keunguan. Bentuknya bulat dari
samping, di bagian sentral terdapat cekungan yang disebut central pallor. Sifat
dindingnya fleksibel serta semipermebel dimana permeabel untuk air, anion dan
kation serta impermeabel untuk Hb. Di bagian luar terdiri atas membran yang
melindungi Hb, protein dan enzim sedangkan di dalamnya terdiri dari lapisan
glukoprotein dan fosfolipid (Murray et al. 2003). Tidak mempunyai nukleus,
mitokondria dan retikulum endoplasma tetapi mempunyai enzim sitoplasma yang
dapat memetabolisme glukosa dan membentuk ATP. Sel ini mempunyai masa
hidup yang singkat yaitu selama rata-rata 120 hari. Struktur sel darah merah
matang yang unik ini memberikan daya lenturan yang maksimal saat melewati
pembuluh darah yang sempit (Guyton 1996).
Membran eritrosit tersusun atas karbohidrat, protein, oligosakarida dan lipid
(fosfolipid, kolesterol, glikolipid). Fosfolipid merupakan lipid yang jumlahnya
paling banyak dan tersusun dalam dua lapisan/dwi lapis (bilayer). Fosfolipid
adalah molekul-molekul amfilik, artinya setiap molekul mengandung “kepala”
yang bersifat hidrofilik dan “ekor” yang hidrofobik (Sumadi dan Aditya 2007).
Membran eritrosit dapat ditembus dengan air dan mudah dilalui ion H+, OH-, NH4,
17

PO42-, HCO3-, glukosa, asam amino, urea dan asam urat tetapi tidak dapat
ditembus oleh Na+, K+, Ca2+, Mg2+, fosfat organik dan protein plasma. Enzim-
enzim dalam eritrosit berfungsi mempertahankan kelenturan membran sel,
mempertahankan transport ion melalui membran, menjaga besi hemoglobin agar
tetap dalam bentuk ferro dan mencegah oksidasi protein di dalam eritrosit (Murray
et al. 2003).
Membran sel eukariot terdiri dari 2 lapisan fosfolipid dimana terdapat
kolestrol dan berbagai protein terbenam pada bagian-bagian tertentu membran
tersebut (Gambar 7). Menurut Campbell (2004) Fosfolipid dan kolesterol
merupakan dasar struktur membran, sementara protein mempunyai tugas-tugas
khusus seperti membantu pengangkutan molekul-molekul melintasi membran sel.

Gambar 7. Struktur dari membran sel (Sumber: Geibel 1999)

Dari gambar di atas terlihat bahwa struktur utama dari membran sel adalah
fosfolipid dua lapis. Lipid yang terdapat dalam membran sel mengandung ikatan
tak jenuh ganda (PUFA) yang sangat rentan terhadap oksidasi. Oleh karena itu
lipid tersebut dilindungi oleh antioksidan di dalam maupun di bagian intinya
(Ceska 2000). Adanya aktivitas radikal bebas yang terlalu tinggi dapat
menyebabkan stress oksidatif, sehingga lipid dalam membran sel tersebut bisa
teroksidasi.
Sel darah merah berasal dari sel yang dikenal sebagai hemositoblast.
Hemositoblast yang baru secara kontinyu dibentuk dari sel induk primordial
18

sumsum tulang. Hemositoblast mula-mula membentuk eritoblast basofil yang


mulai mensintesis hemoglobin. Eritoblast kemudian menjadi eritoblast
polikromatofilik, setelah ini inti sel menyusut, sedangkan hemoglobin dibentuk
dalam jumlah yang lebih banyak dan sel menjadi normoblast. Setelah sitoplasma
normoblast terisi dengan hemoglobin, inti menjadi sangat kecil dan dibuang. Pada
waktu yang sama, retikulum endoplasma direabsopsi. Sel pada stadium ini
dinamakan retikulosit karena ia masih mengandung sejumlah kecil retikulum
endoplasma basofilik yang menyelingi di antara hemoglobin di dalam sitoplasma.
Sementara sel dalam stadium retikulosit ini, mereka masuk ke dalam kapiler darah
dengan diapedesis (menyelip melalui pori membran). Retikulum endoplasma
tersisa di dalam retikulosit terus menghasilkan hemoglobin dalam jumlah kecil
selama satu sampai dua hari, tetapi pada akhir waktu itu retikulum hilang sama
sekali dan pada akhirnya menjadi eritrosit dan membelah secara mitosis. Proses
keseluruhan yang meliputi perkembangan dan pembentukan dinamakan
eritropoiesis.
Eritropoietin adalah suatu hormon glikoprotein yang terdapat dalam darah
dalam keadaan hipoksia dan selanjutnya bekerja pada sumsum tulang untuk
meningkatkan kecepatan pembentukan sel darah merah. Ginjal memegang
peranan penting dalam pembentukan eritropoietin sebagai berikut: bila ginjal
mengalami hipoksia, ia mengeluarkan enzim yang dinamakan faktor eritropoietin
ginjal. Enzim ini disekresi ke dalam darah tempat enzim ini bekerja, dalam
beberapa menit bekerja pada salah satu globulin plasma, untuk memecahkan
molekul glikoprotein eritropoietin. Eritropoietin selanjutnya beredar dalam darah
selama kira-kira satu hari dan selama waktu ini ia bekerja pada sumsum tulang
dengan menyebabkan eritropoiesis. Pada keadaan tidak ada ginjal sama sekali,
eritropoietin masih dibentuk dalam jumlah sedikit pada bagian tubuh lain. Oleh
karena itu, tanpa adanya ginjal orang biasanya orang menjadi sangat anemia
karena kadar eritropoietin dalam sirkulasi yang sangat rendah.
Bila kecepatan pembentukan eritrosit lebih besar daripada kecepatan sintesis
hemoglobin, maka eritrosit yang dihasilkan akan mengandung hemoglobin yang
kurang daripada eritrosit normal dan sel-sel akan nampak lebih pucat (hipokrom)
daripada eritrosit normal (normokrom). Kelainan warna eritrosit yang lain adalah
19

polikrom, yaitu eritrosit tampak lebih besar dan berwarna lebih biru (dalam
pewarnaan Giemsa) (Tjokronegoro 2000). Jumlah eritrosit pada hewan berbeda-
beda, dipengaruhi faktor spesies, umur, jenis kelamin, lingkungan, status nutrisi
dan iklim. Jumlah eritrosit pada tikus putih normal adalah 7,2 - 9,6 x106/µl (Smith
dan Mangkoewidjojo 1988).

2. Hemoglobin
Pigmen merah yang membawa oksigen dalam sel darah merah hewan
vertebrata adalah hemoglobin. Hemoglobin adalah suatu molekul yang berbentuk
bulat yang terdiri empat sub unit. Setiap sub unit mengandung satu bagian heme
yang berkonjugasi dengan suatu polipeptida. Heme adalah suatu derivat porfirin
yang mengancung besi. Polipeptida itu secara kolektif sebagai bagian globin dari
molekul hemoglobin (Guyton 1996). Di dalam menjalankan fungsinya membawa
oksigen ke seluruh tubuh, hemoglobin di dalam sel darah merah mengikat oksigen
melalui suatu ikatan kimia khusus. Reaksi tersebut Hb + O2 ↔ HbO2 yang dapat
berlangsung dalam 2 arah. Reaksi yang berlangsung dalam arah ke kanan,
merupakan reaksi penggabungan atau asosiasi terjadi di dalam alveolus paru-paru,
tempat berlangsungnya pertukaran udara antara tubuh dengan lingkungan.
Sebaliknya, reaksi yang berjalan dari kiri ke kanan merupakan reaksi penguraian
atau disosiasi, terutama terjadi di dalam berbagai jaringan. Hemoglobin yang tidak
atau belum mengikat oksigen disebut deoksihemoglobin (deoksiHb atau Hb saja),
sedangkan hemoglobin yang mengikat oksigen disebut oksihemoglobin (HbO2)
(Sadikin 2002).
Selain mengangkut O2, hemoglobin juga dapat berikatan dengan
karbondioksida (CO2), karbonmonoksida (CO) dan bagian ion hidrogen asam (H+)
dari asam karbonat yang terionisasi yang terbentuk dari CO2 pada tingkat jaringan
(Sherwood 2001). Pada fungsi transport CO2, hanya sebagian kecil saja yang
berikatan langsung dengan molekul hemoglobin melalui ikatan karbondioksida
berupa HbCO2. Sebagian yang lain mengangkut CO2 sebagai bentuk terlarut
dalam plasma. Tetapi berbeda dengan oksigen, CO2 tidaklah larut secara fisik
dalam bentuk senyawa tersebut, tetapi sebagai ion bikarbonat (HCO3-) yang
pembentukannya sangat memerlukan sel darah merah. Kadar hemoglobin dapat
dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu umur, jenis kelamin, kehamilan,
20

menstruasi, asupan makanan, kebiasaan merokok dan penyakit infeksi. Selain itu
ada beberapa masalah klinis yang menyebabkan penurunan kadar hemoglobin
seperti anemia, kanker, penyakit ginjal, pemberian cairan intravena berlebihan dan
penyakit atau infeksi kronis; juga pemberian obat-obatan dalam waktu yang lama
seperti antibiotika, aspirin, sulfonamide, primaquin, kloroquin. Kurangnya asupan
makanan yang mengandung Fe juga dapat menyebabkan penurunan kadar
hemoglobin. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), kadar hemoglobin
normal pada tikus putih antara 11,1-18 g/dl.
Hemoglobin tersusun atas senyawa porfirin besi (hemin) yang berikatan
dengan protein globin (Isnaeni 2006). Hem sendiri tersusun dari suatu senyawa
lingkar yang bernama porfirin, yang bagian pusatnya ditempati oleh logam besi
(Fe). Jadi, hem adalah senyawa porfirin-besi (Fe-porfirin), sedangkan hemoglobin
adalah kompleks antara globinhem. Satu molekul hem mengandung 1 atom besi
dan 4 molekul hem berikatan dengan satu molekul globin, suatu globulin yang
disintesis dalam ribosom retikulum endoplasma. Sedangkan 1 molekul
hemoglobin terdiri atas 4 buah kompleks molekul globin dengan hem. Jadi tiap
molekul hemoglobin terkandung 4 atom besi. Tersedianya besi merupakan faktor
yang penting untuk mempertahankan kadar hemoglobin (Guyton 1991; Widmann
1999).

Gambar 8. Struktur hemoglobin (Sumber: bio.miami.edu)

Sintesis heme berlangsung di dalam mitokondria dan terjadi secara bertahap.


Dimulai dari pembentukan kerangka porfirin disusul oleh inkorporasi besi ke
dalam keempat heme sedangkan sintesis rantai globin terjadi di dalam ribosom
21

sitoplasma. Suksinil Ko-A dan glisin mengalami kondensasi membentuk asam


aminilevulinat (ALA) dengan dikatalisis oleh enzim mitokondria aminolevulinat
sintase, yang meninggalkan mitokondria secara difusi pasif dan masuk dalam
sitoplasma. Dalam sitoplasma, 2 molekul asam aminolevulinat bersatu
membentuk porfobilinogen dengan bantuan enzim aminolevulinat dehidratase.
Kemudian 4 molekul porfobilinogen mengalami kondensasi membentuk
uroporfirinogen, dengan dikatalisis oleh enzim uroporfirinogen dekarboksilase
menjadi koproporfirinogen III, kemudian membentuk protoporfirinogen IX.
Protoporfirinogen IX dioksidasi oleh enzim protoporfirinogen oksidase
menghasilkan protoporfirin IX. Oksidasi ini menghasilkan sistem ikatan rangkap
terkonyugasi yang merupakan ciri khas porfirin. Uroporfirinogen tipe I, III dan
koproporfirinogen juga dapat dioksidasi menjadi porfirin. Kemudian terjadi
pemasukan ion fero ke dalam cincin porfirin dari protoporfirin dengan dikatalisis
enzim feroketalase menghasilkan heme (Dharma 1989; Widmann 1999). Heme
disintesis di mitokondria dan penggabungan dengan globin terjadi dalam
sitoplasma eritrosit yang sedang berkembang (Hoffbrand dan Pettit 1996).

3. Hematokrit/Packed Cell Volume (PCV)


Hematokrit (PCV) adalah perbandingan antara eritrosit dan plasma darah
yang dinyatakan dalam persen volume. Nilai hematokrit berkaitan erat dengan
jumlah eritrosit/sel darah merah dalam tubuh. Nilai hematokrit secara umum juga
menjadi indikator penentuan kemampuan darah dalam mengangkut oksigen
(Davey et al. 2000). Nilai hematokrit merupakan persentase dari sel-sel darah
terhadap seluruh volume darah, termasuk eritrosit (Soeharsono et al. 2010).
Jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit berjalan sejajar satu sama
lain apabila terjadi perubahan (Meyer dan Harvey 2004). Menurut Smith dan
Mangkoewidjojo (1988), persentase hematokrit tikus putih normal antara 45-47%.
Kadar hematokrit akan meningkat saat terjadinya peningkatan hemokonsentrasi,
baik oleh peningkatan kadar sel darah atau penurunan kadar plasma darah
(Sutedjo 2007).
Penurunan nilai hematokrit dapat dijumpai pada kondisi anemia atau akibat
kekurangan sel darah (Wientarsih et al. 2013). Kadar hematokrit akan menurun
ketika terjadi penurunan hemokonsentrasi, karena penurunan kadar seluler darah
22

atau peningkatan kadar plasma darah (Sutedjo 2007). Penurunan nilai hematokrit
di bawah normal dapat disebabkan oleh kerusakan eritrosit, penurunan produksi
eritrosit atau dipengaruhi oleh jumlah, ukuran eritrosit dan pakan yang nutrisinya
kurang menyebabkan pembentukan darah berkurang sehingga nilai hematokrit
menurun (Wardhana et al. 2001). Apabila nilai persentase hematokrit semakin
besar diatas kisaran normal maka akan menyebabkan makin banyak pergeseran
diantara lapisan-lapisan darah dan pergeseran inilah yang menentukan viskositas.
Viskositas dalam darah akan meningkat ketika hemotokrit meningkat yang
mengakibatkan aliran darah melalui pembuluh sangat lambat (Guyton 1996).

D. Kerangka Berpikir
Asap rokok merupakan salah satu sumber radikal bebas eksogen yang
berasal dari hasil pembakaran rokok. Asap rokok terdiri dari beberapa komponen
gas dan partikel yang berbahaya seperti karbon monoksida, tar dan nikotin dan
lain-lain (Batubara 2013). Apabila asap rokok terinhalasi ke dalam sistem
pernafasan, maka akan masuk ke sistem sirkulasi darah yang dapat menimbulkan
Reactive Oxygen Species (ROS) sehingga dapat menyebabkan stress oksidatif
pada eritrosit. Di dalam eritrosit terkandung hemoglobin (Hb) yakni suatu struktur
yang terdiri atas heme dan globin. Hemoglobin memiliki kemampuan mengikat
O2 dan CO2 sehingga hemoglobin merupakan komponen yang amat penting dalam
mempertahankan keutuhan sistem sirkulasi tubuh. Kandungan asap rokok
terutama karbon monoksida bereaksi dengan hemoglobin membentuk karbon
monoksihemoglobin (karboksihemoglobin). Afinitas hemoglobin untuk O2 jauh
lebih rendah daripada afinitasnya terhadap karbon monoksida, sehingga CO
menggantikan O2 pada hemoglobin dan menurunkan kapasitas darah sebagai
pengangkut oksigen. Karakteristik biologik yang paling penting dari CO adalah
kemampuannya untuk berikatan dengan hemoglobin, pigmen sel darah merah
yang mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Sifat ini menghasilkan pembentukan
karboksihemoglobin (HbCO) yang 200 kali lebih stabil dibandingkan
oksihemoglobin (HbO2). Penguraian HbCO yang relatif lambat menyebabkan
terhambatnya kerja molekul sel pigmen tersebut dalam fungsinya membawa
oksigen ke seluruh tubuh. Kondisi seperti ini bisa berakibat serius, bahkan fatal,
karena dapat menyebabkan keracunan (Harvey 2009).
23

Membran eritrosit tersusun atas karbohidrat, protein, oligosakarida dan lipid


(fosfolipid, kolesterol, glikolipid). Fosfolipid merupakan salah satu membran
yang rentan terhadap stres oksidatif (Murray et al. 2003). Apabila radikal bebas
tidak dihentikan, aktivitasnya dapat merusak seluruh tipe makromolekul seluler,
termasuk karbohidrat, protein, lipid dan asam nukleat (Abdollahi et al. 2004).
Lemak tidak jenuh adalah lemak yang peka terhadap serangan oksigen sehingga
menimbulkan perubahan struktur kimia. Dalam sistem seluler peroksidasi terjadi
pada biomembran, akibatnya kandungan asam lemak tidak jenuh yang ada
menjadi sangat reaktif. Serangan radikal bebas pada lipid dapat menyebabkan
terbentuknya peroksida yang disebut peroksidasi lipid (Suhartono et al. 2007).
Peroksida lipid pada membran eritrosit dapat mengakibatkan hilangnya
fluiditas membran dan meningkatkan fragilitas atau kerapuhan membran eritrosit
yang selanjutnya mengakibatkan eritrosit akan mudah pecah atau hemolisis
(Ratnaningtyas 2010). Lisisnya membran eritrosit menyebabkan hemoglobin
terbebas ke dalam plasma, sehingga jumlahnya semakin berkurang. Hal ini
mengakibatkan kadar hemoglobin yang terdapat dalam eritrosit rendah. Selain itu
hemoglobin juga rentan terhadap oksidasi oleh oksidan, sehingga terbentuk
methemoglobin yang tidak mampu mengangkut oksigen untuk dibawa ke sel-sel
tubuh. Akibatnya sel-sel tubuh akan kekurangan oksigen (Ahumibe dan Braide
2009). Bila kerusakan membran eritrosit terus berlanjut, maka kemungkinan akan
menimbulkan penyakit anemia sehingga terjadi penurunan nilai hematokrit.
Ekstrak kulit buah rambutan mengandung banyak senyawa polifenol yang
berperan sebagai zat antioksidan. Aktivitas antioksidan senyawa polifenol ini
dapat menghambat kerja radikal bebas melalui pengubahan senyawa radikal bebas
reaktif menjadi stabil sehingga mampu memutus rantai reaksi pembentukan
radikal hidroksil dengan mendonorkan atom hidrogennya kepada radikal bebas
sehingga dapat meredam radikal bebas dan efektif dalam menghambat oksidasi
lipida (Thitilertdecha et al 2010) serta melindungi membran lipid eritrosit dari
radikal bebas sehingga fragilitas atau kerapuhan membran eritrosit dapat dicegah
(Sundaryono 2011). Secara ringkas, skema aktivitas antara asap rokok dengan
ekstrak kulit buah rambutan pada darah dapat ditunjukkan dalam Gambar 9.
24

Asap Rokok Ekstrak Kulit Buah


Rambutan

Radikal bebas
Polifenol dan
Karbon monoksida (dominan), senyawa fenolik
Nikotin, Tar & senyawa lain lainnya

Inhalasi Pendonor atom


hidrogen (H)

Sistem pernafasan

Sirkulasi darah

Hb mengikat CO Terbentuk radikal


ROS pada eritrosit
→ HbCO bebas OH-

Peroksida lipid

Fluiditas membran Fragilitas membran

Hemolisis Hb keluar
eritrosit

Jumlah eritrosit Kadar hemoglobin


Keterangan:
: Memacu
: Menghambat Nilai hematokrit

Gambar 9. Kerangka berpikir penelitian efek ekstrak kulit buah rambutan terhadap
jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit darah tikus
yang dipapar asap rokok

E. Hipotesis
Hipotesis dalam penelitian ini adalah pemberian ekstrak kulit buah
rambutan berpengaruh terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai
hematokrit darah tikus yang dipapar asap rokok.
27

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Lokasi dan Waktu Penelitian


Penelitian dilaksanakan di Unit Perawatan dan Perbiakan Hewan Coba
Laboratorium Biologi FMIPA UNNES. Pemeriksaan jumlah eritrosit, kadar
hemoglobin dan nilai hematokrit darah dilakukan di Laboratorium Patologi
Klinik, Universitas Muhammadiyah Semarang. Waktu penelitian dilaksanakan
dari bulan Oktober sampai November 2015.

B. Populasi dan Sampel


1. Populasi
Populasi yang digunakan dalam penelitian adalah tikus (Rattus
novergicus) jantan usia 2 bulan, dengan berat badan 180-200 gram, sehat dan
tidak cacat secara anatomi yang ada di Unit Perawatan dan Perbiakan Hewan
Coba Laboratorium Biologi FMIPA UNNES.
2. Sampel
Sampel pada penelitian terdiri dari 25 ekor tikus jantan galur wistar
diambil secara acak dan dibagi menjadi 5 kelompok. Masing-masing kelompok
terdiri dari 5 tikus. Hal ini sesuai rekomendasi dari WHO (2000) bahwa jumlah
sampel minimal untuk tiap kelompok pada uji eksperimental adalah 5 ekor.

C. Variabel
Ada 3 macam variabel dalam penelitian ini yaitu:
1. Variabel Bebas
Variabel bebas berupa pemberian dosis ekstrak kulit buah rambutan.
2. Variabel Terikat
Variabel tergantung dalam penelitian ini jumlah eritrosit, kadar hemoglobin
dan nilai hematokrit darah tikus.
3. Variabel Kendali
Variabel kontrolnya adalah jenis rokok, jenis kelamin, umur, berat badan, jenis
pakan dan ukuran kondisi lingkungan kandang.

25
26

D. Alat dan Bahan Penelitian


Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian ini disajikan dalam tabel 1.
Tabel 1. Alat yang digunakan untuk penelitian

No Nama Alat Spesifikasi Fungsi


1. Gelas ukur Terbuat dari kaca Tempat untuk mengukur
merck Pyrex® aquades dan larutan ekstrak kulit
IWAKI ukuran buah rambutan
25 ml dan 1000 ml
2. Pengaduk Terbuat dari besi Untuk mengaduk ekstrak kulit
dengan panjang 18,5 buah rambutan
cm
3. Neraca digital Merck Camry Untuk menimbang berat tikus
model: EK
3650/EK3651
Max. 5 kg
4. Wadah minum Botol kaca volume Tempat minum tikus
250 ml
5. Sonde One Med. Alat untuk menginjeksi ekstrak
lambung spuit Ukuran max. 6 ml kulit buah rambutan secara oral
(Jarum kanul)
6. Spuit (tabung Alat spuit yang Alat untuk memberi asap rokok
injeksi) dimodifikasi menjadi
tabung pemompa asap
7. Kandang tikus Baskom terbuat dari Tempat pemeliharaan tikus
plastik dengan ukuran
36 cm x 28 cm x 12
cm
8. Smoking Sebuah kotak terbuat Tempat untuk pengasapan rokok
chamber dari papan kayu pada tikus
dengan ukuran 42 cm
x 29 cm x 33 cm
9. Mikropipet Merck BOECOGermany Untuk memberi EDTA pada
ukuran 100-1000 µl tabung eppendorf
10. Pipet Merck Marienfeld Untuk mengambil darah pada
hematokrit ISO: 12772 sinus orbitalis tikus
11. Tabung Terbuat dari plastik Untuk menampung darah
eppendorf ukuran 1 ml
12. Hematology Merck BC 2600 Untuk menghitung jumlah
Analyzer eritrosit, kadar hemoglobin dan
nilai hematokrit darah
13. Container box Max. 6 liter ukuran 25 Untuk penyimpanan sementara
cm x 20 cm x 20 cm sampel darah saat dibawa ke
laboratorium
14. Kamera Casio Exilim 16,1 Sebagai alat dokumentasi
mega pixels
27

Tabel 2. Bahan yang digunakan untuk penelitian


No Nama Bahan Spesifikasi Fungsi
1. Ekstrak kulit Kultivar Binjai. Buah Bahan uji coba yang dilakukan
buah yang telah berwarna
rambutan merah
2. Asap Rokok Djarum 76 dengan Bahan uji coba sebagai perusak
kretek kandungan tar 38 mg dan darah (eritrosit, Hb dan
nikotin 2,4 mg per batang hematokrit)
rokok
3. Aquades Air hasil penyulingan Pelarut ekstrak kulit buah
rambutan
4. EDTA Merck IndoReagen Untuk mencegah terjadinya
No. Reg. AKD. koagulasi atau penggumpalan
10204600152 darah
5. Tikus putih Galur wistar Hewan uji coba sebagai model
jantan untuk perokok pasif
6. Asam pikrat Pro analis (PA) larutan Untuk menandai tikus
berwarna kuning
7. Tissue Merck Multi Untuk membersihkan alat

E. Rancangan Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental
dengan rancangan sederhana (The Post Test only Control Group Design) dan
rancangan acak lengkap. Tikus jantan usia 2 bulan dengan bobot 150-200 gram
sebanyak 25 ekor dibagi menjadi 5 kelompok kandang. Tiap kelompok tikus
dibandingkan secara individual dan mendapatkan pakan dan minum standar.
Kelima kelompok tersebut adalah:

Tabel 3. Pemberian perlakuan pada penelitian


Treatment 1)
Kel. Asap Rokok 2) Ekstrak Kulit Buah Pengambilan Data Keterangan
Rambutan 3) Hari ke-
K+ - - 6, 12, 18, 24 dan 30 Darah
K- 3 Batang rokok - 6, 12, 18, 24 dan 30 Darah
KP 1 3 Batang rokok Dosis 15 mg/kgBB 6, 12, 18, 24 dan 30 Darah
KP 2 3 Batang rokok Dosis 30 mg/kgBB 6, 12, 18, 24 dan 30 Darah
KP 3 3 Batang rokok Dosis 45 mg/kgBB 6, 12, 18, 24 dan 30 Darah
Keterangan:
1) Selama penelitian hewan coba diberi minum dan pakan standart.
2) Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam 12.00 dan jam
14.00 WIB selama 30 hari.
3) Diberi perlakuan ekstrak kulit buah rambutan 1x sehari pada jam 10.00
WIB.
28

F. Prosedur Penelitian
Langkah-langkah yang perlu diperhatikan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Persiapan penelitian
1. Menyiapkan hewan uji yaitu tikus jantan wistar sejumlah 25 ekor dengan
umur 3 bulan berat badan 180-200 gram.
2. Menyiapkan kandang tikus lengkap dengan tempat pakan standart dan
minum.
3. Menyiapkan rokok kretek dan menentukan penggunaan rokok pada tikus.
4. Mengacu pada penelitian Adyttia (2014) telah menyebabkan meningkatnya
kadar Malondialdehida (MDA) pada kelompok perlakuan yang dipapar
dengan 3 batang rokok tiap harinya. Jumlah rokok yang digunakan
didasarkan pada nilai LD50 nikotin untuk tikus yaitu sebesar 50 mg/kgBB
(Bradbury 2008). Pemaparan rokok secara akut merupakan metode yang
relatif mudah dan sensitif untuk menyelidiki efek spesifik dari asap rokok
pada stress oksidatif. Paparan asap rokok secara akut dapat menyebabkan
kerusakan jaringan yang diikuti dengan peningkatan produk peroksidasi
lipid, maka pemberian rokok dalam penelitian ini sebanyak 3 batang rokok.
Tikus dengan kelompok perlakuan K-, KP1, KP2 dan KP3 dipapar dengan
asap rokok.
5. Menyiapkan alat smoking chamber
6. Menyiapkan ekstrak kulit buah rambutan.
7. Menentukan dosis penggunaan ekstrak kulit buah rambutan
8. Dosis penggunaan ekstrak kulit buah rambutan didasarkan pada hasil
penelitian Dewi et al. (2013) bahwa pemberian ekstrak kulit buah rambutan
dengan dosis 15 mg/kgBB pada tikus wistar jantan yang berpengaruh dalam
mengurangi stress oksidatif. Maka untuk memvariasi dosis penggunaan
ekstrak kulit buah rambutan, dosis ekstrak kulit buah rambutan yang
digunakan selain 15 mg/KgBB juga menggunakan dosis 30 mg/KgBB dan
45 mg/KgBB.
9. Menyiapkan alat pipet hematokrit untuk mengambil darah dan tabung
eppendorf untuk menampung darah.
29

2. Pelaksanaan penelitian
1. Tikus diadaptasikan dengan lingkungan selama 1 minggu sebelum diberikan
perlakuan serta diberi pakan standart dan minum secara ad libitum.
2. Membagi tikus menjadi menjadi 5 kelompok yakni K+, K-, KP1, KP2 dan
KP3. Kelompok K- merupakan kelompok kontrol negatif dan K+
merupakan kelompok kontrol positif, sedangkan kelompok KP1, KP2 dan
KP3 merupakan kelompok perlakuan.
3. Pada hari ke-1 hingga hari ke-30, untuk kelompok K+ hanya diberi pakan
dan minum saja, sedangkan semua kelompok KP1, KP2 dan KP3 diberi
perlakuan ekstrak kulit buah rambutan dengan dosis 15 mg/kgBB, 30
mg/kgBB dan 45 mg/kgBB pada jam 10.00 selama 30 hari, 1x sehari.
Kemudian melakukan pengasapan 3 batang rokok pada kelompok K-, KP1,
KP2 dan KP3 pada jam 08.00, jam 12.00 dan jam 14.00 WIB selama 30
hari.
4. Pada hari ke 6, 12, 18, 24 dan 30 semua tikus diambil darahnya dari sinus
orbitalis mata dengan pipet hematokrit sebanyak 1 ml dan ditampung dalam
tabung eppendorf. Setelah itu, dibaca jumlah eritrosit, kadar hemoglobin
dan nilai hematokritnya dengan Hematology Analyzer BC 2600.

3. Cara Pemaparan Asap Rokok


Smoking chamber merupakan alat untuk memaparkan asap rokok pada
hewan coba. Alat ini dirancang khusus dalam penelitian ini yang terbuat dari
papan kayu dengan ukuran 42 cm x 29 cm x 33 cm yang dilengkapi dengan
tempat pembakaran rokok, jeruji pembatas antara hewan coba dengan ujung rokok
yang terbakar dan ventilasi (Gambar 10). Mekanisme kerja dari alat ini adalah
pada saat akan diberi paparan asap rokok, hewan coba yang ditempatkan dalam
kandang hewan sesuai dengan kelompoknya, kemudian dipindahkan dalam
kandang khusus berupa kotak pengasapan yaitu smoking chamber yang di
dalamnya terdapat jeruji pembatas untuk memisahkan hewan coba dengan ujung
rokok yang terbakar, sehingga hewan coba dapat secara langsung terkena paparan
asap rokok tersebut. Smoking chamber memiliki satu lubang, dimana fungsi
lubang tersebut untuk memasukkan ujung rokok yang dibakar dan sebagai jalan
30

arus pengeluaran asap yang dipaparkan. Adapun asap rokok dihembuskan


berulang kali dengan spuit (tabung injeksi) sampai rokok habis terbakar.

Gambar 10. Seperangkat alat smoking chamber (Sumber: Dok. Pribadi)

Keterangan gambar:
a. Kotak terbuat dari papan kayu dengan ukuran 42 cm x 29 cm x 33
cm
b. Lubang untuk memasukkan ujung rokok yang dibakar dan jalan
arus pengeluaran asap yang dipaparkan
c. Jeruji pembatas untuk memisahkan hewan coba dengan ujung
rokok yang terbakar
d. Tempat tikus selama proses pemaparan asap rokok
e. Penutup smoking chamber
f. Ventilasi untuk aliran udara
31

4. Alur Pelaksanaan Penelitian

Tikus jantan galur wistar 25 ekor

Adaptasi pakan standart dan minum (ad libitum) selama 1 minggu

Randomisasi

K+ K- KP 1 KP 2 KP 3

Pemberian pakan standart dan minum

1 batang rokok pada jam 08.00 WIB selama 30 hari

Pemberian Ekstrak kulit buah rambutan


pada jam 10.00 WIB selama 30 hari

15 mg/kgBB 30 mg/kgBB 45 mg/kgBB

1 batang rokok pada jam 12.00 WIB selama 30 hari

1 batang rokok pada jam 14.00 WIB selama 30 hari

Pengambilan darah hari ke 6, 12, 18, 24 dan 30

Pengukuran jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit darah

Gambar 11. Skema tahap pelaksanaan penelitian


32

G. Analisis Data
Data yang diperoleh dari lima kelompok dianalisis statistik dengan One Way
Anova menggunakan program komputer SPSS (Statistical Package for Social
Science) for Windows versi 16.
Sebelum melakukan analisis data dengan One Way Anova (Analysis of
Variance) terlebih dahulu melakukan uji normalitas dan homogenitas
menggunakan program SPSS versi 16. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui
apakah data berdistribusi normal atau tidak. Statistik uji yang digunakan adalah
Kolmogorov-smirnov test. Hipotesis uji normalitasnya sebagai berikut:
H0 : Data berdistribusi normal
H1 : Data tidak berdistribusi normal
H0 diterima jika sig. > 5%
Setelah uji normalitas, dilakukan uji homogenitas untuk mengetahui apakah
varians hasil akhir kedua kelompok sama atau tidak. Statistik uji yang digunakan
adalah homogenitas of varian. Hipotesis uji homogenitasnya sebagai berikut:
H0 : Kedua kelompok memiliki varians yang homogen
H1 : Kedua kelompok memiliki varians yang tidak homogen
H0 diterima jika sig. > 5%
Setelah diketahui data berdistribusi normal dan memiliki varians yang
homogen dilakukan uji One Way Anova dan jika terdapat perbedaan nyata dilanjut
dengan uji beda nyata terkecil atau LSD (least significant difference). Dosis
ekstrak kulit buah rambutan yang optimum dianalisis menggunakan uji regresi.
33

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Setelah dilakukan penelitian tentang efek ekstrak kulit buah rambutan
terhadap jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai hematokrit darah tikus yang
dipapar asap rokok selama 30 hari, didapatkan data hasil pengamatan sebagai
berikut:

1. Jumlah Eritrosit
Data rerata hasil perhitungan jumlah eritrosit (106/µl) pada hari ke 6, 12, 18,
24 dan 30 pada tiap kelompok disajikan pada Tabel 4. Berdasarkan Tabel 4
menunjukkan bahwa rerata jumlah eritrosit dari hari ke 6 sampai hari ke 30 pada
kelompok kontrol positif, KP1, KP2 dan KP3 mengalami peningkatan jumlah
eritrosit bila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif yang mengalami
penurunan jumlah eritrosit. Namun pada hari ke 12 kelompok kontrol negatif
mengalami peningkatan dan mengalami penurunan kembali pada hari 18 sampai
hari ke 30. Pada hari ke 30 rerata jumlah eritrosit kelompok KP3 lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok kontrol positif, kelompok kontrol negatif, KP1
dan KP2. Sedangkan kelompok kontrol negatif memiliki rerata jumlah eritrosit
yang paling rendah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar grafik pada
Gambar 12.

Tabel 4. Rerata jumlah eritrosit (106/µl) selama 30 hari perlakuan *)


Rerata jumlah eritrosit hari ke-
Kelompok
6 12 18 24 30
K+ 7,36 7,44 7,50 7,48 7,53
K- 6,90 7,15 6,97 6,73 6,64
KP 1 7,24 7,29 7,38 7,47 7,58
KP 2 7,32 7,45 7,49 7,63 7,79
KP 3 7,42 7,58 7,62 7,89 8,16
Keterangan: *) Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4

33
34

Gambar 12. Grafik rerata jumlah eritrosit selama 30 hari perlakuan

Keterangan:
Perlakuan K+ : Selama penelitian hewan coba hanya diberi minum dan pakan
standart
Perlakuan K- : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB selama 30 hari
Perlakuan KP1 : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB dan 15 mg/KgBB ekstrak kulit buah
rambutan 1x sehari pada jam 10.00 WIB selama 30 hari
Perlakuan KP2 : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB dan 30 mg/KgBB ekstrak kulit buah
rambutan 1x sehari pada jam 10.00 WIB selama 30 hari
Perlakuan KP3 : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB dan 45 mg/KgBB ekstrak kulit buah
rambutan 1x sehari pada jam 10.00 WIB selama 30 hari

Data mengenai rerata jumlah eritrosit pada hari ke 30, diuji dengan uji
statistik Kolmogorov-smirnov, homogenitas of varian, dan One Way Anova
menggunakan program SPSS versi 16. Hasil perhitungan uji normalitas kelompok
perlakuan diperoleh bahwa nilai sig. 0,789 (sig. > 0,05), maka H0 diterima yang
berarti kelima kelompok berdistribusi normal. Dari hasil perhitungan uji
homogenitas diperoleh bahwa nilai sig. 0,108. Karena sig. 0,108 > 0,05, maka H0
diterima yang berarti kelima kelompok memiliki varians yang homogen.
Selanjutnya untuk mengetahui rerata semua kelompok, maka dilanjutkan uji One
Way Anova. Hasil uji One Way Anova diperoleh F hitung 13.219 dengan sig. 0,00
< 0,05, sehingga menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara ekstrak
kulit buah rambutan dengan jumlah eritrosit.
35

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kelompok memiliki variasi


jumlah eritrosit. Untuk mengetahui letak perbedaan masing-masing kelompok
tersebut, dilakukan uji lanjut LSD pada taraf 5%. Hasil uji LSD jumlah eritrosit
(106/µl) dapat dilihat pada Tabel 5. Hasil uji LSD menunjukkan adanya perbedaan
bermakna antara kelompok kontrol negatif terhadap kelompok kontrol positif,
KP1, KP2 dan KP3. Pada kelompok kontrol positif tidak terdapat perbedaan
bermakna terhadap kelompok KP1, KP2 dan KP3, namun terdapat perbedaan
yang bermakna terhadap kelompok KP3 dengan taraf siginifkansi lebih kecil dari
0,05 (p<5%). Hasil uji statistika mengenai data rerata jumlah eritrosit ini
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 5.

Tabel 5. Hasil uji LSD terhadap jumlah eritrosit (106/µl)


Jumlah Eritrosit
Kelompok Perlakuan
(Mean ± SD)
K+ Kontrol 7,53 ± 0,200b
K- 3 batang rokok 6,64 ± 0,339a
KP 1 Ekstrak kulit buah rambutan 15 mg/kgBB +
Rokok 3 batang 7,58 ± 0,516b
KP 2 Ekstrak kulit buah rambutan 30 mg/kgBB +
Rokok 3 batang 7,79 ± 0,347b
KP 3 Ekstrak kulit buah rambutan 45 mg/kgBB +
Rokok 3 batang 8.16 ± 0,082c
Keterangan: Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan
pada setiap kelompok dengan taraf ketelitian p<0,05 (Lampiran 5).

Pada penelitian ini untuk mengetahui dosis ekstrak kulit buah rambutan
yang paling efektif untuk meningkatkan jumlah eritrosit tikus, maka dilakukan uji
statistika berupa regresi linier. Hasil uji regresi linier data jumlah eritrosit
menunjukkan hubungan antara dosis ekstrak kulit buah rambutan dan jumlah
eritrosit dengan model persamaan regresi liniernya adalah Y = 7,26 + (0,29)X
(Gambar 13). Artinya bahwa bila dosis ekstrak kulit buah rambutan bernilai 0
(nol) maka jumlah eritrosit bernilai 7,26 dan setiap peningkatan dosis sebesar 1
(satu) maka jumlah eritrosit akan meningkat sebesar 0,29. Koefisien bernilai
positif (0,29) artinya semakin besar dosis ekstrak kulit buah rambutan, maka
jumlah eritrosit semakin naik. Jadi ekstrak kulit buah rambutan dosis 45 mg/kgBB
merupakan dosis yang paling efektif dalam meningkatkan jumlah eritrosit karena
memiliki nilai prediksi jumlah eritrosit (Y) yang tertinggi (Lampiran 6).
36

Gambar 13. Garis regresi linier antara dosis ekstrak kulit buah rambutan dengan
jumlah eritrosit

2. Kadar Hemoglobin
Data rerata hasil perhitungan kadar hemoglobin (gr/dL) pada hari ke 6, 12,
18, 24 dan 30 pada tiap kelompok disajikan pada Tabel 6. Berdasarkan Tabel 6
menunjukkan bahwa rerata kadar hemoglobin dari hari ke 6 sampai hari ke 30
pada kelompok kontrol positif, KP1, KP2 dan KP3 mengalami peningkatan kadar
hemoglobin bila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif yang mengalami
penurunan kadar hemoglobin. Namun pada hari ke 12 kelompok kontrol negatif
mengalami peningkatan dan mengalami penurunan kembali pada hari 18 sampai
hari ke 30. Pada hari ke 30 rerata kadar hemoglobin kelompok KP3 lebih tinggi
dibandingkan dengan kelompok kontrol positif, kelompok kontrol negatif, KP1
dan KP2. Sedangkan kelompok kontrol negatif memiliki rerata kadar hemoglobin
yang paling rendah. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar grafik pada
Gambar 14.

Tabel 6. Rerata kadar hemoglobin (gr/dL) selama 30 hari perlakuan *)


Rerata kadar hemoglobin hari ke-
Kelompok
6 12 18 24 30
K+ 12,26 12,38 12,44 12,42 12,48
K- 11,82 12,12 11,6 11,02 10,88
KP 1 12,2 12,36 12,3 12,32 12,34
KP 2 12,34 12,48 12,54 12,58 12,68
KP 3 12,46 12,56 12,62 12,82 13,14
Keterangan: *) Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4
37

Gambar 14. Grafik rerata kadar hemoglobin selama 30 hari perlakuan

Keterangan:
Perlakuan K+ : Selama penelitian hewan coba hanya diberi minum dan pakan
standart
Perlakuan K- : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB selama 30 hari
Perlakuan KP1 : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB dan 15 mg/KgBB ekstrak kulit buah
rambutan 1x sehari pada jam 10.00 WIB selama 30 hari
Perlakuan KP2 : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB dan 30 mg/KgBB ekstrak kulit buah
rambutan 1x sehari pada jam 10.00 WIB selama 30 hari
Perlakuan KP3 : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB dan 45 mg/KgBB ekstrak kulit buah
rambutan 1x sehari pada jam 10.00 WIB selama 30 hari

Data mengenai rerata kadar hemoglobin pada hari ke 30, diuji dengan uji
statistik Kolmogorov-smirnov, homogenitas of varian, dan One Way Anova
menggunakan program SPSS ver. 16. Hasil perhitungan uji normalitas kelompok
perlakuan diperoleh bahwa nilai sig. 0,420 (sig. > 0,05.), maka H0 diterima yang
berarti kelima kelompok berdistribusi normal. Dari hasil perhitungan uji
homogenitas diperoleh bahwa nilai sig. 0,119. Karena sig. 0,119 > 0,05, maka H0
diterima yang berarti kelima kelompok memiliki varians yang homogen.
Selanjutnya untuk mengetahui rerata semua kelompok, maka dilanjutkan uji One
Way Anova. Hasil uji One Way Anova diperoleh F hitung 10.496 dengan sig. 0,00
< 0,05, sehingga menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara ekstrak
kulit buah rambutan dengan kadar hemoglobin.
38

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kelompok memiliki variasi


kadar hemoglobin. Untuk mengetahui letak perbedaan masing-masing kelompok
tersebut, dilakukan uji lanjut LSD pada taraf 5%. Hasil uji statistik kadar
hemoglobin (gr/dL) dapat dilihat pada Tabel 7. Hasil uji LSD menunjukkan
terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol negatif dengan taraf
siginifkansi sebesar 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 (p<5%) terhadap kelompok
kontrol positif, KP1, KP2 dan KP3. Pada kelompok kontrol positif tidak terdapat
perbedaan bermakna terhadap kelompok KP1, KP2 dan KP3. Sedangkan antara
kelompok KP1, KP2 dan KP3 tidak terdapat perbedaan bermakna. Hasil uji
statistika data mengenai kadar hemoglobin selengkapnya dapat dilihat pada
Lampiran 7.

Tabel 7. Hasil uji LSD terhadap kadar hemoglobin (gr/dL)

Kadar Hemoglobin
Kelompok Perlakuan
(Mean ± SD)
K+ Kontrol 12,48 ± 0,506b
K- 3 batang rokok 10,88 ± 0,725a
KP 1 Ekstrak kulit buah rambutan 15 mg/kgBB
+ Rokok 3 batang 12,34 ± 0,114b
KP 2 Ekstrak kulit buah rambutan 30 mg/kgBB
+ Rokok 3 batang 12,68 ± 0,496b
KP 3 Ekstrak kulit buah rambutan 45 mg/kgBB
+ Rokok 3 batang 13,14 ± 0,826b
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan
pada setiap kelompok dengan taraf ketelitian p<0,05 (Lampiran 7).

Pada penelitian ini untuk mengetahui dosis ekstrak kulit buah rambutan
yang paling efektif untuk meningkatkan kadar hemoglobin tikus, maka dilakukan
uji statistika berupa regresi linier. Hasil uji regresi linier data kadar hemoglobin
menunjukkan hubungan antara dosis ekstrak kulit buah rambutan dan kadar
hemoglobin dengan model persamaan regresi liniernya adalah Y = 11,92 +
(0,40)X (Gambar 15). Artinya bahwa bila dosis ekstrak kulit buah rambutan
bernilai 0 (nol) maka kadar hemoglobin bernilai 11,92 dan setiap peningkatan
dosis sebesar 1 (satu) maka kadar hemoglobin akan meningkat sebesar 0,40.
Koefisien bernilai positif (0,40) artinya semakin besar dosis ekstrak kulit buah
rambutan, maka kadar hemoglobin semakin naik. Jadi ekstrak kulit buah rambutan
39

dosis 45 mg/kgBB merupakan dosis yang paling efektif dalam meningkatkan


kadar hemoglobin karena memiliki nilai prediksi kadar hemoglobin (Y) yang
tertinggi (Lampiran 8).

Gambar 15. Garis regresi linier antara dosis ekstrak kulit buah rambutan dengan
kadar hemoglobin

3. Persentase Hematokrit
Data rerata hasil perhitungan persentase hematokrit (%) pada hari ke 6, 12,
18, 24 dan 30 pada tiap kelompok disajikan pada Tabel 8. Berdasarkan Tabel 8
menunjukkan bahwa rerata persentase hematokrit dari hari ke 6 sampai hari ke 30
pada kelompok kontrol positif, KP1, KP2 dan KP3 mengalami peningkatan
persentase hematokrit bila dibandingkan dengan kelompok kontrol negatif yang
mengalami penurunan persentase hematokrit. Namun pada hari ke 12 kelompok
kontrol negatif mengalami peningkatan dan mengalami penurunan kembali pada
hari 18 sampai hari ke 30. Pada hari ke 30 rerata persentase hematokrit kelompok
KP3 lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok kontrol positif, kelompok
kontrol negatif, KP1 dan KP2. Sedangkan kelompok kontrol negatif memiliki
rerata persentase hematokrit yang paling rendah. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada gambar grafik pada Gambar 16.

Tabel 8. Rerata persentase hematokrit (%) selama 30 hari perlakuan *)


Rerata persentase hematokrit hari ke-
Kelompok
6 12 18 24 30
K+ 43,48 43,78 44,3 44,8 45,08
K- 41,44 42,44 41 40,42 40,38
KP 1 42,16 43,42 41,66 42,18 45,02
KP 2 43,2 44,18 42,92 43,82 45,46
KP 3 43,98 44,94 43,86 44,64 46,02
Keterangan: *) Data selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4
40

Gambar 16. Grafik rerata persentase hematokrit selama 30 hari perlakuan

Keterangan:
Perlakuan K+ : Selama penelitian hewan coba hanya diberi minum dan pakan
standart
Perlakuan K- : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB selama 30 hari
Perlakuan KP1 : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB dan 15 mg/KgBB ekstrak kulit buah
rambutan 1x sehari pada jam 10.00 WIB selama 30 hari
Perlakuan KP2 : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB dan 30 mg/KgBB ekstrak kulit buah
rambutan 1x sehari pada jam 10.00 WIB selama 30 hari
Perlakuan KP3 : Diberi perlakuan 3 batang rokok kretek pada jam 08.00, jam
12.00 dan jam 14.00 WIB dan 45 mg/KgBB ekstrak kulit buah
rambutan 1x sehari pada jam 10.00 WIB selama 30 hari

Data mengenai rerata persentase hematokrit pada hari ke 30, diuji dengan uji
statistik Kolmogorov-smirnov, homogenitas of varian, dan One Way Anova
menggunakan program SPSS ver. 16. Hasil perhitungan uji normalitas kelompok
perlakuan diperoleh bahwa nilai sig. 0,073 (sig.> 0,05.), maka H0 diterima yang
berarti kelima kelompok berdistribusi normal. Dari hasil perhitungan uji
homogenitas diperoleh bahwa nilai sig. 0,108. Karena sig. 0,243 > 0,05, maka H0
diterima yang berarti kelima kelompok memiliki varians yang homogen.
Selanjutnya untuk mengetahui rerata semua kelompok, maka dilanjutkan uji One
Way Anova. Hasil uji One Way Anova diperoleh F hitung 39.718 dengan sig. 0,00
< 0,05, sehingga menunjukkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara ekstrak
kulit buah rambutan dengan persentase hematokrit.
41

Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap kelompok memiliki variasi


persentase hematokrit. Untuk mengetahui letak perbedaan masing-masing
kelompok tersebut, dilakukan uji lanjut LSD pada taraf 5%. Hasil uji statistik
persentase hematokrit (%) dapat dilihat pada Tabel 5. Hasil uji LSD menunjukkan
terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol negatif dengan taraf
siginifkansi sebesar 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 (p<5%) terhadap kelompok
kontrol positif, KP1, KP2 dan KP3. Pada kelompok kontrol positif tidak terdapat
perbedaan bermakna terhadap kelompok KP1, KP2 dan KP3. Sedangkan antara
kelompok KP1, KP2 dan KP3 tidak terdapat perbedaan bermakna. Hasil uji
statistika data mengenai persentase hematokrit selengkapnya dapat dilihat pada
Lampiran 9.

Tabel 9. Hasil uji LSD terhadap persentase hematokrit (%)


Persentase Hematokrit
Kelompok Perlakuan
(Mean ± SD)
K+ Kontrol 45,08 ± 0,687b
K- 3 batang rokok 40,38 ± 1,346a
KP 1 Ekstrak kulit buah rambutan 15
mg/kgBB + Rokok 3 batang rokok 45,02 ± 0,630b
KP 2 Ekstrak kulit buah rambutan 30
mg/kgBB + Rokok 3 batang rokok 45,46 ± 0,536b
KP 3 Ekstrak kulit buah rambutan 45
mg/kgBB + Rokok 3 batang rokok 46,02 ± 0,544b
Keterangan : Huruf yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan
pada setiap kelompok dengan taraf ketelitian p<0,05 (Lampiran 9).

Pada penelitian ini untuk mengetahui dosis ekstrak kulit buah rambutan
yang paling efektif untuk meningkatkan persentase hematokrit tikus, maka
dilakukan uji statistika berupa regresi linier. Hasil uji regresi linier data persentase
hematokrit menunjukkan hubungan antara dosis ekstrak kulit buah rambutan dan
persentase hematokrit dengan model persamaan regresi liniernya adalah Y =
44,50 + (0,50)X (Gambar 17). Artinya bahwa bila dosis ekstrak kulit buah
rambutan bernilai 0 (nol) maka persentase hematokrit bernilai 44,50 dan setiap
peningkatan dosis sebesar 1 (satu) maka persentase hematokrit akan meningkat
sebesar 0,50. Koefisien bernilai positif (0,50) artinya semakin besar dosis ekstrak
kulit buah rambutan, maka persentase hematokrit semakin naik. Jadi ekstrak kulit
buah rambutan dosis 45 mg/kgBB merupakan dosis yang paling efektif dalam
42

meningkatkan persentase hematokrit karena memiliki nilai prediksi persentase


hematokrit (Y) yang tertinggi (Lampiran 10).

Gambar 17. Garis regresi linier antara dosis ekstrak kulit buah rambutan dengan
persentase hematokrit

B. Pembahasan
1. Pengaruh ekstrak kulit buah rambutan terhadap jumlah eritrosit tikus
yang dipapar asap rokok

Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan asap rokok sebanyak 3


batang/hari selama 30 hari pada kelompok kontrol negatif berpengaruh terhadap
penurunan jumlah eritrosit yaitu berkisar antara 6,64-7,15 x 106/µl darah,
sedangkan pada kelompok KP3 diberi dosis 45 mg/kgBB ekstrak kulit buah
rambutan menunjukkan rerata jumlah eritrosit tertinggi berkisar antara 7,42-8,16 x
106/µl darah (Tabel 4). Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) jumlah
eritrosit pada tikus putih normal berkisar antara 7,2-9,6 x 106/µl. Jumlah eritrosit
yang lebih rendah pada kelompok kontrol negatif ini diperkirakan disebabkan oleh
radikal bebas dari paparan asap rokok. Radikal bebas merupakan suatu atom,
molekul, senyawa yang dapat berdiri sendiri mempunyai satu atau lebih elektron
tidak berpasangan di orbital terluarnya. Radikal bebas yang terbentuk dari asap
rokok salah satunya adalah radikal hidroksil (•OH) yang mempunyai sifat sangat
reaktif. Asap rokok yang terinhalasi ke dalam sistem pernafasan, maka akan
masuk ke sistem sirkulasi darah sehingga menimbulkan Reactive Oxygen Species
(ROS) dan menyebabkan stres oksidatif pada eritrosit. Di dalam tubuh
pembentukan radikal bebas terjadi pada membran plasma eritrosit yang banyak
mengandung asam lemak tidak jenuh majemuk (polyunsaturated fatty acids =
PUFA) yang secara alami mudah sekali teroksidasi menghasilkan berbagai
43

senyawa radikal bebas terutama radikal hidroksil. Radikal hidroksil ini dapat
menimbulkan reaksi berantai yang dikenal dengan peroksidasi lemak
(Suryohudoyo 1995; Kartikawati 1999). Akibat dari reaksi ini adalah terputusnya
rantai asam lemak menjadi senyawa yang bersifat toksik terhadap sel dan jaringan
seperti aldehid sehingga mengakibatkan rusaknya membran sel dan muncul
penyakit-penyakit degeneratif (Halliwel 1992). Proses oksidasi tersebut
menyebabkan kadar asam lemak esensial pada membran plasma menjadi
berkurang dan permeabilitas membran terganggu sehingga radikal bebas menjadi
makin mudah menerobos masuk ke dalam sel dan mengakibatkan berbagai
kerusakan, seperti merusak DNA yang dapat memicu timbulnya kanker
(Sundaryono 2011). Radikal bebas tersebut dapat merusak komponen lipid pada
membran sel yang berupa fosfolipid, kolesterol dan protein. Fosfolipid dan
kolesterol ini mengandung asam lemak tak jenuh ganda (linoleat, linolenat dan
arakhidonat) yang sangat peka terhadap serangan radikal bebas. Kerusakan sel
oleh radikal bebas didahului oleh kerusakan membran sel dengan proses sebagai
berikut: 1) Terjadi ikatan kovalen antara radikal bebas dengan komponen
membran, sehingga terjadi perubahan struktur dari fungsi reseptor; 2) Oksidasi
gugus tiol pada komponen membran oleh radikal bebas yang menyebabkan proses
transpor lintas membran terganggu; 3) Reaksi peroksidasi lipid dan kolesterol
membran yang mengandung asam lemak tidak jenuh majemuk (PUFA = poly
unsaturated acid). Hasil peroksidasi lipid membran oleh radikal bebas
berpengaruh langsung terhadap kerusakan membran sel antara lain struktur dan
fungsi dalam keadaan yang lebih ekstrim yang akhirnya akan menyebabkan
kematian sel (Muhammad 2009).
Hasil uji statistik dengan menggunakan One Way Anova dengan taraf
kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Least Significant Different (LSD),
menunjukkan adanya adanya perbedaan bermakna antara kelompok kontrol
negatif terhadap kelompok kontrol positif, KP1, KP2 dan KP3. Hal ini karena
pada masing-masing kelompok KP1, KP2, KP3 diberi ekstrak kulit buah
rambutan dengan dosis yang berbeda sedangkan kelompol kontrol negatif tanpa
diberi ekstrak kulit buah rambutan hanya paparan asap rokok. Pada kelompok
kontrol positif tidak terdapat perbedaan bermakna terhadap kelompok KP1, KP2
44

dan KP3, namun terdapat perbedaan yang bermakna terhadap kelompok KP3
dengan taraf siginifkansi lebih kecil dari 0,05 (p<5%). Hal ini menunjukkan
bahwa konsentrasi ekstrak kulit buah rambutan pada kelompok KP3 tersebut
memberikan efek yang tinggi dalam meningkatkan jumlah eritrosit dalam kisaran
normal. Sedangkan kelompok KP1 dan KP2 tidak terdapat perbedaan yang
bermakna dimana hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak kulit buah
rambutan tersebut memberikan efek yang sama dalam meningkatkan jumlah
eritrosit dalam kisaran normal. Namun dari hasil rerata jumlah eritrosit pada
Gambar 12, bahwa kelompok KP1, KP2 dan KP3 mengalami peningkatan jumlah
eritrosit hingga hari ke 30. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan jumlah
eritrosit seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak pada kelompok perlakuan
sesuai dengan hasil uji regresi linier. Hasil uji regresi linier data jumlah eritrosit
menunjukkan hubungan antara dosis ekstrak kulit buah rambutan dan jumlah
eritrosit dengan model persamaan regresi liniernya adalah Y = 7,26 + (0,29)X,
bahwa semakin besarnya dosis ekstrak kulit buah rambutan yang diberikan, maka
dapat meningkatkan jumlah eritrosit. Namun dari hasil R2 diperoleh sebesar 0,320
= 32%, hal ini menunjukkan nilai yang rendah dibawah 50%. Jadi kandungan
senyawa di dalam ekstrak kulit buah rambuatan kurang berpengaruh terhadap
peningkatan jumlah eritrosit dan masih ada 68% disebabkan oleh pengaruh atau
faktor lain yang tidak diketahui dan tidak diamati dalam penelitian ini, sehingga
ekstrak kulit buah rambutan kurang berpontensi untuk dikembangkan sebagai
agen proteksi.
Sundaryono (2011) menyatakan bahwa flavonoid merupakan senyawa aktif
polifenol yang berperan sebagai antioksidan, yang dapat meningkatkan
eritropoiesis (proses pembentukan eritrosit) dalam sumsum tulang. Peningkatan
jumlah eritrosit pada kelompok KP1, KP2 dan KP3 yang diberi perlakuan ekstrak
kulit buah rambutan secara oral diduga kuat disebabkan karena adanya kerja
polifenol (Thitilertdecha et al 2010). Hal ini sesuai dengan pernyataan
Sundaryono (2011) bahwa kandungan flavonoid pada ekstrak kulit buah rambutan
dapat meningkatkan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan persentase hematokrit
darah.
45

Polifenol merupakan senyawa yang berperan sebagai antioksidan eksogen,


yang bertindak sebagai pendonor atom hidrogen (H+) kepada radikal bebas agar
menjadi radikal bebas stabil yang sifatnya tidak merusak sehingga membran lipid
pada sel darah dapat terlindungi dari radikal bebas. Antioksidan dapat melindungi
suatu penyusun lipid yang terdapat dalam membran sel (PUFA) dari serangan
oksidasi termasuk serangan dari radikal bebas (Muhtadi et al. 2014). Salah satu
dari kelompok senyawa polifenol yang dapat ditemukan di kulit buah rambutan
yang berperan sebagai antioksidan yaitu flavonoid (Dewi et al. 2013). Flavonoid
bersifat lipofilik sehingga mampu berikatan dengan membran sel eritrosit dan
berfungsi sebagai pelindung terhadap radikal bebas.
Flavonoid yang terkandung dalam ekstrak kulit buah rambutan yang
diberikan secara oral, akan mengalami proses pencernaan dan penyerapan oleh
dinding-dinding pencernaan kemudian diedarkan melalui darah. Flavonoid yang
berada di dalam peredaran darah ini akan menstimulir ginjal pada sel globulin
plasma untuk mengeluarkan hormon yang dinamakan eritropoietin. Eritropoietin
adalah suatu hormon glikoprotein yang terdapat dalam darah, selanjutnya hormon
eritropoietin yang beredar dalam pembuluh darah sehingga menstimulasi sumsum
tulang untuk meningkatkan pembentukan sel darah merah atau eritropoiesis. Sel
induk primordial sumsum tulang akan membentuk hemositoblast yang baru secara
kontinyu. Hemositoblast mula-mula membentuk eritoblast basofil yang mulai
mensintesis hemoglobin. Eritoblast kemudian menjadi eritoblast polikromatofilik,
setelah ini inti sel menyusut, sedangkan hemoglobin dibentuk dalam jumlah yang
lebih banyak dan sel menjadi normoblast. Setelah sitoplasma normoblast terisi
dengan hemoglobin, inti menjadi sangat kecil dan dibuang. Pada waktu yang
sama, retikulum endoplasma direabsopsi. Sel pada stadium ini dinamakan
retikulosit karena ia masih mengandung sejumlah kecil retikulum endoplasma
basofilik yang menyelingi di antara hemoglobin di dalam sitoplasma. Sementara
sel dalam stadium retikulosit ini, mereka masuk ke dalam kapiler darah dengan
diapedesis (menyelip melalui pori membran). Retikulum endoplasma tersisa di
dalam retikulosit terus menghasilkan hemoglobin selama satu sampai dua hari,
tetapi pada akhir waktu itu retikulum hilang sama sekali dan pada akhirnya
menjadi eritrosit dan membelah secara mitosis.
46

2. Pengaruh ekstrak kulit buah rambutan terhadap kadar hemoglobin tikus


yang dipapar asap rokok

Hasil penelitian menunjukkan bahwa paparan asap rokok sebanyak 3


batang/hari selama 30 hari pada kelompok kontrol negatif berpengaruh terhadap
penurunan kadar hemoglobin yaitu berkisar antara 10,88 gr/dL darah, bila
dibandingkan dengan kadar hemoglobin yang terukur pada kelompok kontrol
positif, KP1, KP2 dan KP3 menunjukkan hasil yang cenderung konstan dan
berada dalam kisaran normal (Gambar 14). Menurut Smith dan Mangkoewidjojo
(1988), kadar hemoglobin normal pada tikus putih antara 11,1-18 g/dl. Kadar
hemoglobin yang rendah pada kelompok kontrol negatif terjadi karena salah satu
kandungan dari asap rokok yang dominan adalah karbonmonoksida (Inayatillah
2014). Karbon monoksida merupakan gas racun yang tidak berwarna dan tidak
berbau. Karbon monoksida dapat menyebabkan berkurangnya pengiriman dan
pemanfaatan oksigen pada jaringan tubuh (Batubara 2013).
Secara umum, udara masuk ke dalam tubuh makhluk hidup melalui saluran
pernafasan dan masuk ke paru-paru. Di dalam paru-paru terjadi pertukaran
oksigen dan karbonmonoksida dengan karbondioksida yang diangkut oleh darah
dan diedarkan ke seluruh tubuh oleh hemoglobin. Hemoglobin (Hb) adalah
protein kompleks yang terdiri atas protein, globin dan pigmen hem yang
mengandung zat besi. Hemoglobin berfungsi sebagai pembawa oksigen yang kaya
akan zat besi dalam sel darah merah dan oksigen dibawa dari paru-paru ke dalam
jaringan (Hoffbrand 2006). Saat mencapai alveolus, afinitas hemoglobin untuk
oksigen jauh lebih rendah dari pada afinitasnya dengan karbonmonoksida
sehingga dapat menurunkan kapasitas darah sebagai pengangkut oksigen.
Sebagian karbonmonoksida yang masuk, larut dalam cairan yang membasahi
epitel yang tipis dari alveolus. Kemudian karbonmonoksida berdifusi ke dalam
darah yang terdapat dalam kapiler dalam dinding alveolus. Sebagian besar
karbonmonoksida kemudian berikatan dengan hemoglobin membentuk karbon
monoksihemoglobin yang terdapat dalam sel darah merah. Secara simultan,
sebagian karbondioksida dalam darah berdifusi ke alveolus yang dapat
dihembuskan keluar. Sirkulasi darah kemudian membawa karbonmonoksida ke
semua sel tubuh. Dalam jangka waktu yang lama, akibat afinitas
47

karbonmonoksida yang kuat terhadap hemoglobin mampu menyebabkan


terjadinya stress oksidatif seningga mengakibatkan jumlah eritrosit dalam
peredaran darah menjadi berkurang karena terjadi hemolisis sel darah merah dan
hemoglobin terbebas ke dalam plasma seningga tidak dapat menjalankan
fungsinya dengan baik, sehingga menyebabkan kadar hemoglobin menurun.
Hasil uji statistik dengan menggunakan One Way Anova, terdapat perbedaan
bermakna pada kelompok kontrol negatif dengan taraf siginifkansi sebesar 0,000
atau lebih kecil dari 0,05 (p<5%) terhadap kelompok kontrol positif, KP1, KP2
dan KP3. Hal ini karena pada masing-masing kelompok KP1, KP2, KP3 diberi
ekstrak kulit buah rambutan dengan dosis yang berbeda sedangkan kelompol
kontrol negatif tanpa diberi ekstrak kulit buah rambutan hanya paparan asap
rokok. Pada kelompok KP1, KP2 dan KP3 tidak terdapat perbedaan yang
bermakna dimana hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak kulit buah
rambutan tersebut memberikan efek yang sama dalam meningkatkan kadar
hemoglobin dalam kisaran normal. Namun dari hasil rerata kadar hemoglobin
pada Gambar 14 terjadi peningkatan hingga hari ke 30. Hal ini menunjukkan
bahwa peningkatan kadar hemoglobin seiring dengan peningkatan konsentrasi
ekstrak kulit buah rambutan pada kelompok perlakuan sesuai dengan hasil uji
regresi linier. Hasil uji regresi linier data kadar hemoglobin menunjukkan
hubungan antara dosis ekstrak kulit buah rambutan dan kadar hemoglobin dengan
model persamaan regresi liniernya adalah Y = 11,92 + (0,40)X, bahwa semakin
besarnya dosis ekstrak kulit buah rambutan yang diberikan, maka dapat
meningkatkan kadar hemoglobin. Namun dari hasil R2 diperoleh sebesar 0,297 =
29,7%, hal ini menunjukkan nilai yang rendah dibawah 50%. Jadi kandungan
senyawa di dalam ekstrak kulit buah rambuatan kurang berpengaruh terhadap
peningkatan kadar hemoglobin dan masih ada 70,3% disebabkan oleh pengaruh
atau faktor lain yang tidak diketahui dan tidak diamati dalam penelitian ini,
sehingga ekstrak kulit buah rambutan kurang berpontensi untuk dikembangkan
sebagai agen proteksi.
Kadar hemoglobin yang meningkat disebabkan karena pada ekstrak kulit
buah rambutan terdapat kandungan polifenol yang berperan sebagai pendonor
atom hidrogen (H+) kepada radikal bebas agar menjadi radikal bebas stabil yang
48

sifatnya tidak merusak, sehingga membran lipid eritrosit dapat terlindungi dari
radikal bebas dan hemoglobin tidak terbebas ke dalam plasma. Salah satu dari
kelompok senyawa polifenol yang dapat ditemukan di kulit buah rambutan yang
berperan sebagai antioksidan yaitu flavonoid (Dewi et al. 2013). Flavonoid
bersifat lipofilik sehingga mampu berikatan dengan membran sel eritrosit dan
berfungsi sebagai pelindung terhadap radikal bebas. Flavonoid yang terkandung
dalam ekstrak kulit buah rambutan yang diberikan secara oral, akan mengalami
proses pencernaan dan penyerapan oleh dinding-dinding pencernaan kemudian
diedarkan melalui darah. Flavonoid yang berada di dalam peredaran darah ini
akan menstimulir ginjal mengeluarkan hormon yang dinamakan eritropoietin.
Eritropoietin adalah suatu hormon glikoprotein yang terdapat dalam darah,
selanjutnya hormon eritropoietin yang beredar dalam pembuluh darah sehingga
menstimulasi sumsum tulang untuk meningkatkan pembentukan sel darah merah
yaitu eritropoiesis. Sel induk primordial sumsum tulang akan membentuk
hemositoblast yang baru secara kontinyu. Hemositoblast mula-mula membentuk
eritoblast basofil yang mulai mensintesis hemoglobin. Sintesis heme berlangsung
di dalam mitokondria dan terjadi secara bertahap. Dimulai dari pembentukan
kerangka porfirin disusul oleh inkorporasi besi ke dalam keempat heme
sedangkan sintesis rantai globin terjadi di dalam ribosom sitoplasma. Suksinil Ko-
A dan glisin mengalami kondensasi membentuk asam aminilevulinat (ALA)
dengan dikatalisis oleh enzim mitokondria aminolevulinat sintase, yang
meninggalkan mitokondria secara difusi pasif dan masuk dalam sitoplasma.
Dalam sitoplasma, 2 molekul asam aminolevulinat bersatu membentuk
porfobilinogen dengan bantuan enzim aminolevulinat dehidratase. Kemudian 4
molekul porfobilinogen mengalami kondensasi membentuk uroporfirinogen,
dengan dikatalisis oleh enzim uroporfirinogen dekarboksilase menjadi
koproporfirinogen III, kemudian membentuk protoporfirinogen IX.
Protoporfirinogen IX dioksidasi oleh enzim protoporfirinogen oksidase
menghasilkan protoporfirin IX. Oksidasi ini menghasilkan sistem ikatan rangkap
terkonyugasi yang merupakan ciri khas porfirin. Uroporfirinogen tipe I, III dan
koproporfirinogen juga dapat dioksidasi menjadi porfirin. Kemudian terjadi
pemasukan ion fero ke dalam cincin porfirin dari protoporfirin dengan dikatalisis
49

enzim feroketalase menghasilkan heme (Dharma 1989; Widmann 1999). Heme


disintesis di mitokondria dan penggabungan dengan globin terjadi dalam
sitoplasma eritrosit yang sedang berkembang (Hoffbrand dan Pettit 1996).
Eritoblast kemudian menjadi eritoblast polikromatofilik, setelah ini inti sel
menyusut, sedangkan hemoglobin dibentuk dalam jumlah yang lebih banyak dan
sel menjadi normoblast. Setelah sitoplasma normoblast terisi dengan hemoglobin,
inti menjadi sangat kecil dan dibuang. Pada waktu yang sama, retikulum
endoplasma direabsopsi. Sel pada stadium ini dinamakan retikulosit karena ia
masih mengandung sejumlah kecil retikulum endoplasma basofilik yang
menyelingi di antara hemoglobin di dalam sitoplasma. Sementara sel dalam
stadium retikulosit ini, mereka masuk ke dalam kapiler darah dengan diapedesis
(menyelip melalui pori membran). Retikulum endoplasma tersisa di dalam
retikulosit terus menghasilkan hemoglobin selama satu sampai dua hari, tetapi
pada akhir waktu itu retikulum hilang sama sekali dan pada akhirnya menjadi
eritrosit dan membelah secara mitosis.

3. Pengaruh ekstrak kulit buah rambutan terhadap persentase hematokrit


tikus yang dipapar asap rokok

Persentase hematokrit dalam penelitian ini memiliki rerata yang bervariasi.


Rerata persentase hematokrit yang diperoleh pada kelompok perlakuan KP1, KP2
dan KP3 sebesar 41,66-46,02% sedangkan pada kelompok kontrol positif sebesar
43,48-45,08% dan kelompok kontrol negatif yang hanya dipapar asap rokok
sebesar 40,38-42,44% yang cenderung lebih rendah dibawah normal (Tabel 8).
Penurunan persentase hematokrit di bawah nilai normal dapat mengindikasikan
terjadinya anemia. Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), persentase
hematokrit tikus putih normal antara 45-47%. Persentase hematokrit yang rendah
tersebut dapat disebabkan adanya proses destruksi eritrosit yang sudah tua.
Persentase hematokrit yang rendah juga dapat disebabkan oleh darah yang terlalu
encer karena jumlah eritrositnya rendah (Dharma et al. 2010). Penurunan nilai
hematokrit dapat dijumpai pada kondisi anemia atau akibat kekurangan sel darah
(Wientarsih et al. 2013). Besarnya persentase hematokrit tergantung pada jumlah
eritrosit total dan jumlah kebutuhan oksigen bagi metabolisme tubuh. Menurut
50

Preet dan Prakash (2011), jumlah eritrosit juga memiliki korelasi dengan kadar
hemoglobin yang terukur.
Hasil uji statistik dengan menggunakan One Way Anova persentase
hematokrit, terdapat perbedaan bermakna pada kelompok kontrol negatif dengan
taraf siginifkansi sebesar 0,000 atau lebih kecil dari 0,05 (p<5%) terhadap
kelompok kontrol positif, KP1, KP2 dan KP3. Hal ini karena pada masing-masing
kelompok KP1, KP2, KP3 diberi ekstrak kulit buah rambutan dengan dosis yang
berbeda sedangkan kelompol kontrol negatif tanpa diberi ekstrak kulit buah
rambutan hanya paparan asap rokok. Pada kelompok KP1, KP2 dan KP3 tidak
terdapat perbedaan yang bermakna dimana hal ini menunjukkan bahwa
konsentrasi ekstrak kulit buah rambutan tersebut memberikan efek yang sama
dalam meningkatkan persentase hematokrit dalam kisaran normal. Namun dari
hasil rerata persentase hematokrit pada Gambar 16 terjadi peningkatan hingga hari
ke 30. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan persentase hematokrit seiring
dengan peningkatan konsentrasi ekstrak kulit buah rambutan pada kelompok
perlakuan sesuai dengan hasil uji regresi linier. Hasil uji regresi linier data
persentase hematokrit menunjukkan hubungan antara dosis ekstrak kulit buah
rambutan dan persentase hematokrit dengan model persamaan regresi liniernya
adalah Y = 44,50 + (0,50)X, bahwa semakin besarnya dosis ekstrak kulit buah
rambutan yang diberikan, maka dapat meningkatkan persentase hematokrit.
Peningkatan persentase hematokrit ini disebabkan karena pada ekstrak kulit buah
rambutan terdapat kandungan polifenol yang berperan sebagai pendonor atom
hidrogen (H+) kepada radikal bebas agar menjadi radikal bebas stabil yang
sifatnya tidak merusak, sehingga membran lipid eritrosit dapat terlindungi dari
radikal bebas. Namun dari hasil R2 diperoleh sebesar 0,388 = 38,8%, hal ini
menunjukkan nilai yang rendah dibawah 50%. Jadi kandungan senyawa di dalam
ekstrak kulit buah rambuatan kurang berpengaruh terhadap peningkatan
persentase hematokrit dan masih ada 61,2% disebabkan oleh pengaruh atau faktor
lain yang tidak diketahui dan tidak diamati dalam penelitian ini, sehingga ekstrak
kulit buah rambutan kurang berpontensi untuk dikembangkan sebagai agen
proteksi.
51

Berdasarkan pola grafik dan nilai yang didapat dari keseluruhan penelitian
ini terlihat sejalan dengan peningkatan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan
persentase hematokrit darah. Terjadinya peningkatan dan penurunan jumlah
eritrosit, kadar hemoglobin dan persentase hematokrit dalam batas normal pada
kelompok KP1, KP2 dan KP3. Berdasarkan hasil uji regresi linier menunjukkan
bahwa semakin besarnya dosis ekstrak kulit buah rambutan yang diberikan, maka
dapat meningkatkan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan persentase hematokrit
darah secara optimal. Hal tersebut disebabkan karena adanya kerja antioksidan
polifenol. Antioksidan merupakan senyawa kimia yang mampu menghambat
terbentuknya senyawa radikal bebas yang tidak stabil melalui reaksi reduksi yakni
transfer atom hidrogen (H+) kepada radikal bebas untuk menjadi radikal bebas
stabil yang sifatnya tidak merusak. Antioksidan dapat melindungi suatu membran
tertentu (khususnya yang berlemak) dari serangan oksidasi termasuk serangan dari
radikal bebas (Muhtadi et al. 2014). Senyawa polifenol telah diketahui memiliki
berbagai efek biologis seperti aktivitas antioksidan melalui mekanisme sebagai
pereduksi, penangkap radikal bebas, pengkhelat logam, peredam terbentuknya
oksigen singlet serta pendonor elektron (Thitilertdecha et al 2010). Salah satu
senyawa aktif polifenol dalam kulit buah rambutan yaitu flavonoid.
Flavonoid merupakan salah satu dari kelompok senyawa polifenol yang
dapat ditemukan di kulit buah rambutan yang berperan sebagai antioksidan (Dewi
et al. 2013). Flavonoid inilah yang dapat mencegah terjadinya stress oksidatif.
Flavonoid yang terdapat pada ekstrak kulit buah rambutan diduga dapat
menghambat proses terjadinya peroksidasi lipid, sehingga radikal bebas tidak
dapat berkembang menjadi radikal bebas yang baru. Mekanisme kerja dari
flavonoid sebagai antioksidan dapat secara langsung maupun secara tidak
langsung. Flavonoid sebagai antioksidan secara tidak langsung bekerja di dalam
tubuh dengan meningkatkan ekspresi gen antioksidan endogen melalui beberapa
mekanisme seperti peningkatan ekspresi gen antioksidan melalui aktivasi nuclear
factor eryhtrid 2 related factor 2 (Nrf2) sehingga terjadi peningkatan gen yang
berperan dalam sintesis enzim antioksidan endogen seperti SOD (superoxide
dismutase) (Sumardika 2012). Flavonoid sebagai antioksidan secara langsung
yaitu dengan cara menyumbangkan satu elektron pada elektron yang tidak
52

berpasangan dalam radikal bebas sehingga banyaknya radikal bebas menjadi


berkurang. Bilamana menerima atom hidrogen, radikal bebas menjadi tidak reaktif
(Suparmi et al. 2012).
Flavonoid yang terbentuk dalam tumbuhan berasal dari asam amino
aromatik fenilalanin dan tirosin dan malonat. Struktur dasar flavonoid adalah inti
flavan yang terdiri 15 atom karbon yang terangkai dalam 3 cincin (C6-C3-C6)
yang ditandai dengan A,B,C (Gambar 18). Berbagai kelas flavonoid berbeda
dalam tingkat oksidasi dan pola substitusi pada cincin C, sedangkan perbedaan
setiap senyawa dalam kelas adalah berbeda dalam substitusi pada cincin A dan B.
Hubungan antara flavonoid dan aktivitas peredaman radikal bebas (free radical
scavenging) menunjukkan bahwa diantara senyawa flavonoid terdapat perbedaan
aktivitas, perbedaan tergantung pada struktur dan substituen pada cincin
heterosiklik cincin C dan cincin B. Ada 2 gugus fungsi utama pada flavanoid yang
menentukan potensi peredaman radikal bebas yaitu: (a). gugus hidroksil 3‟,4‟
(orto-dihidroksi) pada cincin B flavonoid, yang mempunyai sifat sebagai donor
elektron dan merupakan target radikal; (b). ikatan rangkap 2,3 yang terkonjugasi
dengan gugus 4-okso (gugus 1,4-piron) pada cincin C dan (c). gugus hidroksil
pada posisi 3 dan 5 pada cincin heterosiklik yang berperan pada delokalisasi
elektron.

Gambar18. Struktur flavonoid (Sumber: Simanjuntak 2012)

Aktivitas antioksidan flavonoid berkaitan dengan bentuk struktur


senyawanya. Potensi antioksidan flavonoid dengan substitusi polihidroksilasi
dipengaruhi oleh lokasi substitusi hidroksi pada cincin B dan kemampuan
memerangkap radikal yang dihasilkan oleh gugus hidroksi fenolik (Miyake dan
Shibamoto 1997). Dari berbagai penelitian substitusi hidroksil (OH) pada posisi
53

orto dalam cincin B memberikan aktivitas antioksidan yang besar, hal ini
disebabkan meningkatnya stabilitas bentuk radikal flavonoid dan polifenol
melalui delokalisasi elektron yang menyertai pembentukan radikal. Penambahan
gugus OH dalam posisi para juga meningkatkan aktivitas antioksidan. Posisi orto
dan para mempunyai aktivitas pemerangkapan yang tinggi dibanding posisi meta
(Ogata et al. 1997). Aktivitas antioksidan yang tinggi dihasilkan adanya ikatan
rangkap C2-C3 dan gugus okso pada cincin C, sebagai contoh kuersetin flavanol
dengan jumlah gugus OH yang sama dengan katekin tetapi memiliki tingkat
aktivitas yang lebih tinggi. Reduksi kuersetin menjadi dihidrokuersetin
menunjukkan ikatan rangkap C2-C3 dapat meningkatkan aktivitas antioksidan
(Aruoma dan Cuppet 1997).
Pada penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak kulit buah rambutan mampu
meningkatkan dan mempertahankan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan nilai
hematokrit darah tikus yang dipapar asap rokok dengan dosis 45 mg/kgBB yang
paling efektif untuk mencegah terjadinya anemia, namun belum dijadikan sebagai
pengobatan penurunan jumlah darah atau anemia pada manusia. Oleh karena itu,
perlu dilakukan penelitian lebih lanjut tentang pemanfaatan ekstrak kulit buah
rambutan sebagai pengobatan penyakit anemia ke tingkat hewan yang lebih tinggi
yaitu kelinci untuk mencari bukti efek terapeutik (afficacy) dan keamanan (safety)
serta efek samping (side effect) yang terjadi.
Beberapa hal yang berkaitan dengan keterbatasan penelitian ini misalnya
terkait dengan alat yang digunakan yaitu Hematology Analyzer BC 2600 tidak
spesifik untuk mengukur parameter hematologi khususnya pada hewan karena alat
ini merupakan alat untuk mengukur parameter hematologi pada manusia, sehingga
data yang diperoleh dari hasil penelitian ini kurang akurat dan teliti, serta ekstrak
kulit buah rambutan yang digunakan dalam penelitian ini tidak dilakukan isolasi
senyawa aktif (chemical marker) dari kulit buah rambutan yang memiliki aktivitas
antioksidan paling kuat, sehingga tidak diketahui senyawa mana yang spesifik
dalam meningkatkan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan persentase
hematokrit darah.
54

BAB V
SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan data dan hasil penelitian, simpulan dari penelitian ini bahwa
ekstrak kulit buah rambutan dapat meningkatkan jumlah eritrosit, kadar
hemoglobin dan nilai hematokrit darah pada tikus putih yang dipapar asap rokok.
Dosis yang efektif dalam meningkatkan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan
nilai hematokrit darah yaitu 45 mg/kgBB.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, saran yang dapat
diajukan yaitu
1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengisolasi senyawa aktif
(chemical marker) dari kulit buah rambutan yang memiliki aktivitas sebagai
antioksidan paling kuat dalam meningkatkan jumlah eritrosit, kadar
hemoglobin dan persentase hematokrit darah. Selain itu cara ekstraksi dalam
penelitian harus diperhatikan untuk mendapatkan senyawa yang diinginkan
dalam penelitian.
2. Apabila akan melakukan penelitian yang berkaitan dengan pemeriksaan
hematologi, sebaiknya menggunakan alat Hematology Analyzer Sysmax KX-
21® yang spesifik untuk parameter hematologi pada hewan, sehingga data hasil
penelitian yang didapat benar-benar akurat dan teliti.
3. Perlu diadakan penelitian serupa pada penelitian lebih lanjut ke tingkat hewan
yang lebih tinggi yaitu kelinci, karena sudah diketahui sebelumnya bahwa
ekstrak kulit buah rambutan dapat meningkatkan jumlah eritrosit, kadar
hemoglobin dan persentase hematokrit darah tikus.
4. Rokok dapat menyebabkan penurunan jumlah eritrosit, kadar hemoglobin dan
persentase hematokrit darah yang mengakibatkan kejadian anemia, oleh karena
itu diharapkan kepada pengkonsumsi rokok untuk menghentikan kebiasaan
buruk tersebut karena banyak menyebabkan kerugian pada kesehatan.

54
55

DAFTAR PUSTAKA

Abdollahi M, Ranjbar A, Shadnia S, Nikfar S & Rezale A. 2004. Pestiscides and


Oxidative Stress. Med Sci.monit, 10 (6): 141-147.

Adyttia A, Eka KU & Sri W. 2014. Efek Ekstrak Etanol Daun Premna cordifolia
terhadap Malondialdehida Tikus yang Dipapar Asap Rokok. Jurnal Pharm
Sci. Res., Vol. 1 No. 2.

Ahumibe AA & Braide VB. 2009. Effect of Gavage Treatment with Pulverized
Garcinia kola Seeds on Erythrocyte Membrane Integrity and Selected
Haematological Indices in Male Albino Wistar Rats. Nigerian Journal of
Physiological Sciences, 24 (1): 47-52.

Aldina P. 2015. Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Kulit Buah Rambutan


(Nephelium lappaceum L.) terhadap Kadar Glukosa Darah dan Histologi
Pankreas Mencit yang Diinduksi Aloksan. Skripsi. Jember: Universitas
Jember.

Alviventiasari RS. 2012. Pengaruh Pemberian Dosis Bertingkat Jus Mengkudu


(Morinda citrifolia L) terhadap Jumlah Eritrosit Tikus Galur Wistar (Rattus
norvegicus) yang Diberi Paparan Asap Rokok. Skripsi. Semarang:
Universitas Diponegoro.

Arinaldo B. 2011. Pengaruh Penambahan Konsentrasi Asam Asetat pada Pelarut


Etanol terhadap Efektifitas Ekstraksi Zat Warna Antosianin Terung
Belanda. Skripsi. Padang: Universitas Andalas.

Aruoma OI & Cuppet SL. 1997. Antioxidant Methodology In Vivo and In Vitro
Concepts. AOCS press., Champaign, Illinois.

Batubara IVD, Benny W & Lydia T. 2013. Pengaruh Paparan Asap Rokok Kretek
ierhadap Kualitas Spermatozoa Mencit Jantan (Mus musculus). Jurnal e-
Biomedik (eBM), Vol. 1 No. 1.

Behr J & Nowak D. 2002. Tobacco Smoke and Respiratory Disease. J European
Respiratory Monograph, 21: 161-179.

Bradbury S. 2008. Registration Eligibility Decision for Nicotine. US:


Enviromental Protection Agency (EPA).

Burkitt HG, Young B & Heath JW. 1995. Histologi Fungsional. Edisi III. Alih
bahasa: J. Tambajong. Jakarta: EGC Penerbit Buku Kedokteran.

Campbell. 2004. Biologi, (Terj.): Manalu, W., Biologi. Edisi kelima Jilid 3.
Jakarta: Erlangga.
56

Ceska AP. 2000. Pengaruh Rumput Laut (Euchema spinosum) terhadap Aktivitas
Radikal Bebas Pada Hepar Tikus. Skripsi. Malang: Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya.

Cholisoh Z. 2008. Aktivitas Penangkap Radikal Ekstrak Etanol 70% Biji Jengkol
(Archidendron jiringa). Skripsi. Surakarta: Universitas Muhammadiyah
Surakarta.

Chu SC & Chen C. 2006. Effects of Origins and Fermentation Time on The
Antioxidant Activities of Kombucha. Food Chemistry, 98: 502-507.

Davey C, Lill A & Baldwin J. 2000. Variation During Breeding in Parameters that
Influence Blood Oxygen Carrying Capacity in Shearwaters. Aust. J. Zool.
48, 347-356.

David CH. 1995. HAM Histologi. Jakarta: Binarupa Aksara.

Dewi AK, Umie L & Sri RL. 2013. The Effect of Fruit Rambutan (Nephelium
lappaceum L.) Peel Extract on Lipid Peroxidation in Liver of Obese Rats.
Makalah disajikan dalam International Conference Biologi Sciences, di
UGM tanggal 20-21 September.

Dharma A. 1989. Ringkasan Biokimia Harper. Terjemahan dari Colby DS.


Biochemistry. Jakarta: EGC Penerbit buku Kedokteran.

Dharma R., Immanuel S & Wirawan R. 2010. Penilaian Hasil Pemeriksaan


Hematologi Rutin. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/ files/10PenilaianHasil
Pemeriksaan.pdf/10PenilaianHasilPemeriksaan.pdf. Diakses Pada 24 Juni
2015.

Fidrianny I, Sari PI & Wirasutisna KR. 2015. Antioxidant Activities in Various


Peel Extracts of Four Varieties Rambutan (Nephelium lappaceum) Using
DPPH, FRAP Assays. International Journal of Pharmacognosy and
Phytochemical Research, 7 (2); 280-285.

Fila WO, Johnson JT, Edem PN, Odey MO, Ekam VS, Ujong UP & Eteng OE.
2012. Comparative Anti-Nutrients Assessment of Pulp, Seed and Rind of
Rambutan (Nephelium Lappaceum). Annals of Biological Research, 3 (11):
5151-5156.

Ganong WF. 1995. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC Penerbit Buku
Kedokteran.

Gaur DS, Talekar M & Pathak V P. 2007. Effect of Cigarette Smoking on Semen
Quality of Infertile Men. Med J.; 48 (2): 119.
57

Gebicka L & Banasiak E. 2009. Flavonoids as Reductants of Ferryl Hemoglobin.


Journal Acta Biocimia Polonica, 56 (3): 509–513.

Geibel G. 2002. The Cell Membrane. http://www.people.virginia.edu/


~rjh9u/cellmemb.html. [diakses 25 Juli 2015].

Gondodiputro S. 2007. Bahaya Tembakau dan Bentuk-Bentuk Sediaan Tembakau.


Bandung: Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran
Universitas Padjadjaran.

Guo C, Yang J, Wei J, Li Y, Xu J & Jiang Y. 2003. Antioxidant Activities of Peel,


Pulp and Seed Fractions of Common Fruits as Determined by FRAP assay.
Nutrition Research, 23: 1719-1726.

Guyton CA. 1991. Fisiologi Manusia dan Mekanisme Penyakit. Jakarta: EGC
Penerbit Buku Kedokteran.

Guyton AC 1996. Buku Teks Fisiologi Kedokteran. Jakarta: EGC Penerbit Buku
Kedokteran.

Halliwel B, Gutteridge JMC & Cross EC. 1992. Free Radicals, Antoxidants and
Human Deseases: Where are We Now?. J. Lab. Clin. Med., 119: 598-613.

Hamid AA, Aiyelaagbe OO, Usman LA, Ameen OM & Lawat A. 2010.
Antioxidants: Its Medicinal and Pharmacological Applications. African
Journal of Pure and Applied Chemistry, Vol. 4(8).

Harvey RA. 2009. Farmakologi Ulasan Bergambar. Lippincottt‟s Illustrated


Reviews: Farmacology. Penerjemah Azwar Agoes. Edisi II. Jakarta: Widya
Medika.

Hasbi. 1995. Pengkajian Pengemasan Atmosfir Termodifikasi Buah Rambutan


(Nephelium lappaceum Linn). Tesis. Bogor: Program Pasca Sarjana-IPB.

Hoffbrand V. 2006. At a Glance Hematology. Jakarta: EMS

Hoffbrand AV & Pettit JE. 1996. Kapita Selekta Hematologi. Edisi 2.


Diterjemahkan oleh Iyan Darmawan. Jakarta: EGC Penerbit buku
Kedokteran.

Hutapea ERF, Laura OS & Rondang T. 2014. Ekstraksi Pigmen Antosianin dari
Kulit Rambutan (Nephelium lappaceum) dengan Pelarut Metanol. Jurnal
Teknik Kimia USU, Vol.3 No.2.

Inayatillah IR. 2014. Kadar Karbon Monoksida Udara Ekspirasi pada Perokok dan
Bukan Perokok serta Faktor-Faktor yang Mempengaruhi. Jurnal Respirasi
Indonesia, Vol. 34 No. 4.
58

Isnaeni W. 2006. Fisiologi Hewan. Yogyakarta: Kanisius.

Kartikawati D. 1999. Studi Efek Protektif Vitamin C dan E terhadap Respon Imun
dan Enzim Antioksidan pada Mencit yang Dipapar Paraquat. Disertasi.
Bogor: Pascasarjana Institut Pertanian.

Kay I. 1998. Introduction to Animal Physiology. Biddles, Guilford: BIOS


Scientific Publiners Limited.

Khasanah AN. 2011. Uji Aktivitas Penangkap Radikal Ekstrak Etanol, Fraksi-
Fraksi dari Kulit Buah dan Biji Rambutan (Nephelium lappaceum L.) serta
Penetapan Kadar Fenolik dan Flavonoid Totalnya. Skripsi. Surakarta:
Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Kilinc M, Yildirim I, Inanc F & Kurutas EB. 2004. The Investigation of The
Efferct of Marafl Powder (smokeless Tobacco) on Hematological
Parameters.http://aoh.tjh.com.tr/Article.aspx?article_id=253&searchTerm=c
ategoryWHITE%20CELLS&founds=0#prettyPhoto.[diakses tanggal 17
Agustus 2015].

Lu FC. 1995. Toksikologi Dasar: Asas, Organ Sasaran dan Penilaian Resiko. Ed.
2. Jakarta: IU Press.

Meyer DJ & Harvey JW. 2004. Veterinery Laboratory Medicine Interpretation &
Diagnosis. 3rd Edition. USA: Saunders.

Miyake T & Shibamoto T. 1997. Antioxidative of Natural Compunfs Found in


Plants. J. Agric. Food. Chem., 45. 1819-1822.

Muhammad I. 2009. Efek Antioksidan Vitamin C terhadap Tikus (Rattus


norvegicus L) Jantan Akibat Pemaparan Asap Rokok. Tesis. Bogor: Institut
Pertanian Bogor.

Muhtadi, Anggita LH, Andi S, Tanti AS & Haryoto. 2014. Pengujian Daya
Antioksidan dari Beberapa Ekstrak Kulit Buah Asli Indonesia dengan
Metode FTC. Simposium Nasional RAPI XIII, ISSN 1412-9612.

Murray RK, Granner DK, Mayes PA & Rodwell VW. 2003. editor. Biokoimia
Harper. 25th ed. Jakarta: EGC, p. 254-281.

Nitcher M. 2005. Reading Culture from Tobacco Advertisement in Indonesia.


Tobacco Control, 18, p.98-107,http://tobaccocontrol.bmj.com/content/
18/2/98.full.pdf. [diakses pada tanggal 22 April 2015].

Nugraha A. 2008. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Buah Rambutan (Nephelium


lappaceum L.) terhadap Kadar Kolesterol Total Serum pada Tikus Wistar.
Artikel Ilmiah. Semarang: Universitas Diponegoro.
59

Nurdin BN, Yeni S & Emriadi. 2013. Inhibisi Korosi Baja oleh Ekstrak Kulit
Buah Rambutan (Nephelium lappaceum Linn) dalam Medium Asam Sulfat.
Jurnal Kimia Unand, Vol.2 No. 2, ISSN No. 2303-3401.

Nurjanah, Lily K & Abdun M. 2014. Gangguan Fungsi Paru dan Kadar Cotinine
pada Urin Karyawan yang Terpapar Asap Rokok Orang Lain. Jurnal
Kesehatan Masyarakat, 10 (1): 43–52.

Ogata M, Hoshi M, Shimtohmo K, Urano S & Endo T. 1997. Antioxidant


Activity of Magnolol, Honokiol and Related Phenolic Compounds. Journal
AOCS., 7 (5): 557-562.

Oktavianis. 2011. Efek Pemberian Asap Rokok terhadap Kehamilan Tikus Putih
(Rattus norvegicus). Tesis. Padang: Universitas Andalas.

Peers C, Dallas ML & Scragg JL. 2009. Ion Channels as Effectors in Carbon
Monoxide Signaling. Journal Commun Integr. Biol., 2(3): 241–242.

Preet S & Prakash S. 2011. Haematological Profile in Rattus norvegicus during


Experimental Cysticercosis. J. Par. Dis., 35: 144-147.

Rajesh MP & Natvar JP. 2011. In Vitro Antioxidant Activity of Coumarin


Compounds by DPPH, Super Oxide and Nitric Oxide Free Radical
Scavenging Methods. Journal of Advanced Pharmacy Education &
Research, 1, 52-68.

Ratnaningtyas N. 2010. Pengaruh Pemberian Ekstrak Kulit Buah Delima Merah


(Punica ganatum) terhadap Jumlah Eritrosit dan Kadar Hemoglobin pada
Tikus Putih (Rattus novergicus) yang Dipapar Gelombang Elektromagnetik
Ponsel. Skripsi. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.

Raub JA, Mathieunolf M, Hampson NB & Thom SR. 2000. Carbon Monoxide
Poisoning - A Public Health Perspective. Carbon Monoxide Poisoning - a
Public Health Perspective. Journal Toxicology, 145: 1-14.

Riady WA. 2014. Pemberian Ekstrak Etanol Kulit Buah Manggis (Garcinia
Mangostana) Menghambat Peningkatan Kadar F2 Isoprostan Urin Tikus
Wistar (Rattus norvegicus) yang Dipapar Asap Rokok. Tesis. Denpasar:
Universitar Udayana.

Sadikin M. 2002. Biokimia Darah. Jakarta: Widya Medika.

Sherwood L. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC


Kedokteran.

Simanjuntak K. 2012. Peran Antioksidan Flavonoid dalam Meningkatkan


Kesehatan. Jurnal Bina Widya, Vol. 23 No. 3: 135-140.
60

Slaughter E, Gersberg RM, Watanabe K, Rudolph J, Stransky C & Novotny TE.


2011. Toxicity of Cigarette Butts and Their Chemical Components, to
Marine and Freshwater Fish. Journal Tob Control, 20: 418.

Smith JB & Mangkoewidjojo S. 1988. Pemeliharaan Pembiakan dan


Penggunaan hewan Percobaan di Daerah Tropis. Jakarta: Indonesia
University Press.

Soeharsono L, Andriani E, Hermawan, Kamil KA & Musawwir A. 2010.


Fisiologi Ternak Fenomena dan Nomena Dasar, Fungsi dan Interaksi
Organ pada Hewan. Bandung: Widya Padjadjaran.

Suhartono E, Fachir H & Setiawan B. 2007. Kapita Sketsa Biokimia Stres


Oksidatif Dasar dan Penyakit. Banjarmasin: Pustka Banua.

Sumadi & Aditya M. 2007. Biologi Sel. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Sumardika J. 2012. Water Extract of Sweet Potato Leaf Improved Lipid Profile
and Blood SOD Content of Rats with High Cholesterol Diet. Medicina, Vol.
43: 2.

Sundaryono A. 2011. Uji Aktivitas Senyawa Flavonoid Total dari Gynura


segetum (Lour) terhadap Peningkatan Eritrosit dan Penurunan Leukosit pada
Mencit (Mus Musculus). Jurnal Exacta, Vol. IX No.2.

Suparmi, Hady A & Niche D. 2012. Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol
Kulit Buah Rambutan (Nephelium lappaceum, L.) dengan Metode Linoleat-
Tiosianat. Jurnal Ilmiah Farmasi, Vol. 9 No. 1.

Suryohudoyo P. 1995. Oksidan, Antioksidan dan Radikal bebas. Dalam Kongres


Nasional IV Himpunan Kimia Klinik Indonesia, Surabaya.

Susanna D, Hartono B & Fauzan H. 2003. Penentuan Kadar Nikotin dalam Asap
Rokok. Jurnal Makara Kesehatan, 7 (2):23.

Sutedjo AY. 2007. Mengenal Penyakit melalui Hasil Pemeriksaan Laboratorium.


Yogyakarta: Amara Books.

Syamsidi A. 2014. Pengaruh Variasi Ekstrak Metanol Kulit Buah Rambutan


(Nephelium lappaceum L.) terhadap Kestabilan Fisik Krim Antioksidan
Journal of Natural Science, Vol. 3 (2): 1-9.

Tanijaya SCE. 2012. Pemberian Alpha Lipoic Acid Menurunkan Kadar F2


Isoprostan Urine pada Perokok Aktif Sedang. Tesis. Denpasar: Universitas
Udayana.
61

Thitilertdecha N, Teerawatgulrag A, Rakariyatham N & Kilburn JD. 2010.


Identification of Major Phenolic Compounds from Nephelium lappaceum L.
and their Antioxidant Activities. Journal Molecules, 15: 1453-1465.

Tjandra O, Rusliati R & Zulhipri. 2011. Uji Aktivitas Antioksidan dan Profil
Fitokimia Kulit Rambutan (Nephelium lappaceum). Artikel Ilmiah. Solo:
UPT Penerbitandan Percetakan UNS.

Tjokronegoro A. 2000. Pemeriksaan laboratorium Sederhana. Fakultas


Kedokteran. Jakarta: Universitas Indonesia.

Towaha J. 2012. Manfaat Eugenol Cengkeh dalam Berbagai Industri di Indonesia.


Persperktif, 11 (2):79-90.

Wardhana AH., Kencanawati E, Nurmawati, Rahmaweni & Jatmiko CB. 2001.


Pengaruh Pemberian Sediaan Patikan Kebo (Euphobia hirta L) terhadap
Jumlah Eritrosit, Kadar Hemoglobin dan Nilai Hematokrit pada Ayam yang
Diinfeksi dengan Eimeria tenella. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner, 6 (2):
126-133.

Wardhani RAP & Supartono. 2015. Uji Aktivitas Anti Bakteri Ekstrak Kulit
Rambutan (Nephelium lappaceum L.) pada Bakteri. Indo. J. Chem. Sci, 4(1).

Widmann FK. 1999. Tinjauan Klinis atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Edisi
ke-9. Alih bahasa: Siti BK, R. Gandasoebrata dan J. Latu. Jakarta: EGC
Penerbit Buku kedokteran.

Wientarsih I, Widhyari SD & Aryanti T. 2013. Kombinasi Imbuhan Herbal


Kunyit dan Zink dalam Pakan sebagai Alternatif Pengobatan Kolibasiolosis
pada Ayam Pedaging. Jurnal Veteriner, 14 (3): 327-334.

World Health Organization. 2000. Research Guidelines for Evaluating The Safety
and Efficacy of Herbal Medicines. Hong Kong: Special Administrative
Region of China.

Wulangi KS. 1993. “Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan”. Proyek Pembinaan


Tenaga Kependidikan. Jakarta: Departemen pendidikan dan Kebudayaan
Direktur Jenderal Perguruan Tinggi.

Zulkifli KS, Abdullah N, Abdullah A, Aziman N & Kamarudin SSW. 2012.


Bioactive Phenolic Compounds and Antioxidant Activitu of Selected Fruits
Peels. International Conference on Environment, Chemistry and Biology,
49: 66-70.
62

LAMPIRAN-LAMPIRAN
63

LAMPIRAN 1
Pembuatan ekstrak kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum L.)
Membuat ekstrak kulit buah rambutan dilakukan dengan cara maserasi
(perendaman). Teknik ekstraksi maserasi digunakan karena merupakan teknik
ekstraksi yang mudah dan sederhana dengan hasil produk yang baik, selain itu
teknik ekstrak maserasi mempunyai keunggulan tidak merusak senyawa yang
tidak tahan terhadap panas. Maserasi adalah proses ekstraksi dengan cara
perendaman dalam air atau pelarut organik sampai meresap yang akan
melunakkan susunan sel, sehingga zat-zat yang terkandung di dalamnya akan
larut. Pelarut yang digunakan dalam ekstraksi adalah methanol. Pelarut methanol
digunakan karena termasuk pelarut polar. Pelarut polar merupakan pelarut yang
dapat melarutkan senyawa fenolik dan flavanoid yang sifatnya polar, yang
terkandung dalam kulit buah rambutan (Khasanah 2011). Metode ekstraksi yaitu,
sampel kulit buah rambutan kultivar Binjai yang digunakan dan diambil dari buah
yang sudah matang memiliki warna kulit meraht tua, dikumpulkan dari daerah
Kota Semarang. Kulit buah rambutan dicuci bersih dan diiris kecil-kecil,
kemudian kulit buah rambutan dikeringkan di bawah sinar matahari. Kulit buah
rambutan yang telah kering, direndam dalam methanol di dalam beker gelas yang
ditutup dengan kertas aluminium foil selama 3 hari, selanjutnya di blender sampai
halus. Setelah proses ekstraksi, larutan ekstrak dikeringkan dengan menggunakan
rotary evaporator untuk menguapkan pelarutnya sehingga didapatkan ekstrak yang
kering berupa serbuk. Ekstrak kulit buah rambutan yang berbentuk serbuk
kemudian ditimbang dan dilarutkan dalam aquades.
64

LAMPIRAN 2
Cara pemeriksaan sampel darah dengan alat Hematology Analyzer
1. Darah yang telah diambil dari sinus orbitalis tikus dan disimpan dalam micro
tube yang berisi antikoagulan (EDTA) dirotasikan.

2. Micro tube dibuka secara hati-hati agar sampel tidak tumpah.

3. Micro tube diletakkan pada alat, kemudian ditekan tombol start.

4. Ketika layar LCD memunculkan “Aspirating”, micro tube tidak boleh


dipindahkan dari alat. Pada tahap ini, sampel akan ditarik sebanyak 20 µl.
Apabila sampel tersebut terlalu kental, maka secara otomatis alat
mengencerkan.
5. Micro tube baru dapat dipindahkan dari alat setelah layar LCD memunculkan
“Analyzing” . Kemudian secara otomatis alat tersebut akan menganalisis dan
menampilkan hasil analisa pada layar LCD.
6. Layar LCD akan memunculkan “Rinsing” untuk mencuci sisa sampel pada
alat. Proses pencucian dilakukan menggunakan cellpack.
7. Ready status akan muncul pada layar LCD setelah sampel pertama selesai
dianalisis dan siap untuk menganalisis sampel berikutnya.
65

LAMPIRAN 3
Prosedur pengoperasian Hematology Analyzer BC 2600

5. Persiapan sebelum menyalakan alat


 Periksa volume reagen
 Periksa cairan reagen (keruh atau kotor)
 Periksa seluruh selang (bila terdapat tekukan)
 Periksa botol pembuangan, jika penuh kosongkan kembali
6. Menyalakan alat
a. Tekan tombol power pada bagian belakang, posisi ON (I). Tunggu proses
inisialisasi 4-7 menit, hingga pada layar tampil menu [count].
b. Apabila pada „error message‟ muncul tulisan „Background Abnormal‟,
maka tekan [MENU] lalu masuk ke [SERVICE] dan pilih
[MAINTENACE]. Lakukan [CLEAN BATH]. Setelah proses itu selesai,
kembali ke [COUNT] dan alat bisa langsung dioperasikan (running).
c. Apabila Backgrund Normal, maka tidak perlu melakukan prosedur di atas.
7. Whole blood count
a. Tekan tombol [MENU] → “Count” → Enter, lalu tekan tombol [MODE]
maka pada layar atas muncul meriksaan dengan metode (“Whole Blood-
ALL”, “WB-WBC/HGB”, atau “WB-RBC/PLT”) dengan display warna
biru.
b. Tekan tombol [F1] untuk mengisi atau menuliskan data pasien.
c. Kocok antikoagulan dengan cara membolak-balikan tabung hingga merata,
dengan perbandingan dosis K2EDTA (1,5 – 2,2 mg/ml darah).
d. Masukan antikoagulan pada sampel probe hingga menyentuh ke dasar
tabung.
e. Lalu tekan tombol probe, dan hasil akan tampil di layar.
8. Capillary blood count
a. Tekan tombol [MENU] → “Count” → Enter, lalu tekan tombol [MODE]
maka pada layar atas muncul meriksaan dengan metode (“Prediluted-
ALL”, “PB-WBC/HGB”, atau “PB-RBC/PLT”) dengan display warna
biru.
66

b. Siapkan sampel cup yang bersih pada ujung sampel probe, lalu tekan
tombol [DILUENT], maka cairan Diluent akan keluar sebanyak 1,6 ml.
c. Tambahkan segera 20 µl darah kapiler dengan menggunakan pipet pada
sampel cup yang telah terisi Diluent. Pastikan darah kapiler pada pipet
telah terampur keseluruhan dengan Diluent (ulangi beberapa kali
aspirating dan dispensing pada pipet).
d. Kocok hingga rata, lalu inkubasi selama 5 menit, lalu kocok kembali dan
letakkan sampel cup yang sudah tercampur pada sampel probe hingga
menyentuh dasar probe.
e. Tekan tombol probe untuk proses perhitungan. Dan hasil akan tampil pada
layar.
9. Mematikan alat
Tekan tombol [MENU] → “Shutdown” → Enter, jika benar ingin mematikan
alat pilih YES lalu Enter. Muncul perintah pada layar untuk menghisapkan “E-
Z Cleanser” pada probe lalu tekan tombol probe. Proses mematikan alat akan
bekerja. Sampai muncul “Turn Off the Analizer Now” maka matikan tombol
power di belakang alat.
67

LAMPIRAN 4
Data hasil penelitian
Tabel hasil pemeriksaan jumlah eritrosit (106/µl)
Perlakuan
Data Hari ke- Ulangan
KK+ KK- KP 1 KP 2 KP 3
1 7,71 7,33 7,65 7,22 7,28
2 6,84 6,28 7,34 7,45 7,31
3 7,93 6,67 7,2 7,06 7,55
6
4 6,54 6,81 7,18 7,34 7,26
5 7,82 7,42 6,87 7,57 7,74
Total 36,84 34,51 36,24 36,64 37,14
Rerata 7,36 6,90 7,24 7,32 7,42
1 7,52 7,19 7,51 7,39 7,49
2 7,38 6,79 7,44 7,56 7,62
3 7,86 7,04 7,35 7,17 7,71
12
4 6,81 7,22 7,13 7,44 7,32
5 7,65 7,55 7,02 7,72 7,8
Total 37,22 35,79 36,45 37,28 37,94
Rerata 7,44 7,15 7,29 7,45 7,58
1 7,42 7,03 7,73 7,48 7,29
2 7,54 6,36 7,52 7,65 7,83
3 7,65 7,18 7,49 7,34 8,14
18
4 7,16 6,94 7,4 7,53 7,26
5 7,76 7,38 6,76 7,49 7,58
Total 37,53 34,89 36,9 37,49 38,1
Rerata 7,50 6,97 7,38 7,49 7,62
1 7,52 6,4 7,6 7,56 7,48
2 7,63 6,19 7,51 7,49 7,53
3 7,72 7,22 7,44 8,21 8,62
24
4 7,09 6,72 7,45 7,62 8,25
5 7,48 7,14 7,36 7,31 7,6
Total 37,44 33,67 37,36 38,19 39,48
Rerata 7,48 6,73 7,47 7,63 7,89
1 7,6 6,32 7,84 8,14 7,72
2 7,75 6,62 7,63 7,26 8,27
3 7,49 6,47 7,56 8,5 8,56
30
4 7,22 6,58 7,67 7,43 8,37
5 7,63 7,21 7,21 7,62 7,89
Total 37,69 33,2 37,91 38,95 40,81
Rerata 7,53 6,64 7,58 7,79 8,16
68

Tabel hasil pemeriksaan kadar hemoglobin (gr/dL)


Perlakuan
Data Hari ke- Ulangan
KK+ KK- KP 1 KP 2 KP 3
1 12,5 12,4 12,6 12,2 12,2
2 11,4 10,8 12,5 12,5 12,4
3 13 11,5 12 11,7 12,6
6
4 11,7 12 11,8 12,8 12,3
5 12,7 12,4 12,1 12,5 12,8
Total 61,3 59,1 61 61,7 62,3
Rerata 12,26 11,82 12,2 12,34 12,46
1 12,5 12,1 12,6 12,3 12,6
2 12,3 11,7 12,5 12,8 12,6
3 12,8 12 12,5 12,2 12,7
12
4 11,9 12,3 12,2 12,5 12,2
5 12,4 12,5 12 12,6 12,7
Total 61,9 60,6 61,8 62,4 62,8
Rerata 12,38 12,12 12,36 12,48 12,56
1 12,4 11,9 12,5 12,4 12,3
2 12,5 10,8 12,4 12,7 12,8
3 12,6 12 12,4 12,5 13,1
18
4 12,5 11,2 12,4 12,6 12,3
5 12,2 12,1 11,8 12,5 12,6
Total 62,2 58 61,5 62,7 63,1
Rerata 12,44 11,6 12,3 12,54 12,62
1 12,3 10,4 12,6 12,6 12,5
2 12,6 10,2 12,5 12,5 12,5
3 12,7 11,6 12,2 13 13,5
24
4 12 10,9 12,2 12,5 13,2
5 12,5 12 12,1 12,3 12,4
Total 62,1 55,1 61,6 62,9 64,1
Rerata 12,42 11,02 12,32 12,58 12,82
1 12 9,7 12,4 12,7 12,2
2 12,8 11,3 12,3 12,4 13,7
3 12,3 10,8 12,3 13,5 14,2
30
4 12,1 11 12,5 12,2 12,5
5 13,2 11,6 12,2 12,6 13,1
Total 62,4 54,4 61,7 63,4 65,7
Rerata 12,48 10,88 12,34 12,68 13,14
69

Tabel hasil pemeriksaan persentase hematokrit (%)


Perlakuan
Data Hari ke- Ulangan
KK+ KK- KP 1 KP 2 KP 3
1 44,3 41 41,8 42,9 42,6
2 42,2 39,7 43,4 44 43,8
3 43,6 40,7 42,3 42,3 44,6
6
4 42,8 42,2 40,5 43,6 43
5 44,5 43,6 42,8 43,2 45,9
Total 217,4 207,2 210,8 216 219,9
Rerata 43,48 41,44 42,16 43,2 43,98
1 44,1 41,6 44,2 44,1 45
2 44 40,1 43,9 45,8 45,2
3 44,2 43 43,7 42,5 45,5
12
4 42,7 43,3 42,5 43,7 44,7
5 43,9 44,2 42,8 44,8 44,3
Total 218,9 212,2 217,1 220,9 224,7
Rerata 43,78 42,44 43,42 44,18 44,94
1 43,6 40,5 41,4 42,1 43,5
2 44,7 39 42,7 43,7 44
3 44,8 41,8 42,7 43,5 44,7
18
4 43,9 41 40,5 42,9 42,9
5 44,5 42,7 41 42,4 44,2
Total 221,5 205 208,3 214,6 219,3
Rerata 44,3 41 41,66 42,92 43,86
1 45 41,4 42,8 43,1 44,2
2 44,5 40 42,5 44,3 43,7
3 45,2 40,4 41,2 45,1 45,4
24
4 44 38,8 42,3 43 45
5 45,3 41,5 42,1 43,6 44,9
Total 224 202,1 210,9 219,1 223,2
Rerata 44,8 40,42 42,18 43,82 44,64
1 44,3 38,8 45,7 45,4 45,7
2 45,7 40,8 45,5 45,5 46,3
3 44,8 39,7 44,8 46 46,8
30
4 44,7 40,2 45 45,8 45,4
5 45,9 42,4 44,1 44,6 45,9
Total 225,4 201,9 225,1 227,3 230,1
Rerata 45,08 40,38 45,02 45,46 46,02
70

LAMPIRAN 5
Analisis statistik data jumlah eritrosit

1. Uji normalitas jumlah eritrosit

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Jumlah Eritrosit
N 25
a
Normal Parameters Mean 7.5424
Std. Deviation .60176
Most Extreme Differences Absolute .130
Positive .097
Negative -.130
Kolmogorov-Smirnov Z .652
Asymp. Sig. (2-tailed) .789

a. Test distribution is Normal.

2. Homogeneous subsets

Jumlah Eritrosit

Subset for alpha = 0.05

Perlakuan N 1 2 3
a
Duncan Rokok 3 batang 5 6.6400
Kontrol 5 7.5380
Ekstrak kulit buah rambutan
15 mg/kgBB + Rokok 3 5 7.5820
batang
Ekstrak kulit buah rambutan
30 mg/kgBB + Rokok 3 5 7.7900 7.7900
batang
Ekstrak kulit buah rambutan
45 mg/kgBB + Rokok 3 5 8.1620
batang
Sig. 1.000 .288 .104
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

3. Uji homogenitas data

Test of Homogeneity of Variances


Jumlah Eritrosit
Levene Statistic df1 df2 Sig.
2.184 4 20 .108
71

4. Uji pengaruh ekstrak kulit buah rambutan terhadap jumlah eritrosit


Descriptives

Jumlah Eritrosit
Std.
Perlakuan
N Mean Deviation Std. Error Minimum Maximum
Kontrol 5 7.5380 .20042 .08963 7.22 7.75
3 batang rokok 5 6.6400 .33919 .15169 6.32 7.21
Ekstrak kulit buah
rambutan 15 mg/kgBB + 5 7.5820 .23210 .10380 7.21 7.84
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 30 mg/kgBB + 5 7.7900 .51624 .23087 7.26 8.50
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 45 mg/kgBB + 5 8.1620 .34738 .15535 7.72 8.56
Rokok 3 batang
Total 25 7.5424 .60176 .12035 6.32 8.56
Model Fixed Effects .34533 .06907
Random Effects .25111

5. Uji One Way Anova

ANOVA

Jumlah Eritrosit Sum of Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 6.306 4 1.576 13.219 .000

Within Groups 2.385 20 .119

Total 8.691 24

Berdasarkan hasil one way ANOVA, menunjukkan bahwa ada pengaruh yang
signifikan antara ekstrak kulit buah rambutan dengan jumlah eritrosit (sig. 0,00
< 0,05).
72

6. Post Hoc Test


Multiple Comparisons
Dependent Variable:Jumlah Eritrosit
95% Confidence Interval
Mean
Difference Lower
(I) perlakuan (J) perlakuan (I-J) Std. Error Sig. Bound Upper Bound
LSD Kontrol Rokok 3 batang .89800* .21841 .001 .4424 1.3536
Ekstrak kulit buah rambutan
15 mg/kgBB + Rokok 3 -.04400 .21841 .842 -.4996 .4116
batang
Ekstrak kulit buah rambutan
30 mg/kgBB + Rokok 3 -.25200 .21841 .262 -.7076 .2036
batang
Ekstrak kulit buah rambutan
45 mg/kgBB + Rokok 3 -.62400* .21841 .010 -1.0796 -.1684
batang
Rokok 3 batang Kontrol -.89800* .21841 .001 -1.3536 -.4424
Ekstrak kulit buah rambutan
15 mg/kgBB + Rokok 3 -.94200* .21841 .000 -1.3976 -.4864
batang
Ekstrak kulit buah rambutan
30 mg/kgBB + Rokok 3 -1.15000* .21841 .000 -1.6056 -.6944
batang
Ekstrak kulit buah rambutan
45 mg/kgBB + Rokok 3 -1.52200* .21841 .000 -1.9776 -1.0664
batang
Ekstrak kulit buah Kontrol .04400 .21841 .842 -.4116 .4996
rambutan 15 *
Rokok 3 batang .94200 .21841 .000 .4864 1.3976
mg/kgBB + Rokok 3
batang Ekstrak kulit buah rambutan
30 mg/kgBB + Rokok 3 -.20800 .21841 .352 -.6636 .2476
batang
Ekstrak kulit buah rambutan
45 mg/kgBB + Rokok 3 -.58000* .21841 .015 -1.0356 -.1244
batang
Ekstrak kulit buah Kontrol .25200 .21841 .262 -.2036 .7076
rambutan 30
Rokok 3 batang 1.15000* .21841 .000 .6944 1.6056
mg/kgBB + Rokok 3
batang Ekstrak kulit buah rambutan
15 mg/kgBB + Rokok 3 .20800 .21841 .352 -.2476 .6636
batang
Ekstrak kulit buah rambutan
45 mg/kgBB + Rokok 3 -.37200 .21841 .104 -.8276 .0836
batang
Ekstrak kulit buah Kontrol .62400* .21841 .010 .1684 1.0796
rambutan 45 *
Rokok 3 batang 1.52200 .21841 .000 1.0664 1.9776
mg/kgBB + Rokok 3
batang Ekstrak kulit buah rambutan
15 mg/kgBB + Rokok 3 .58000* .21841 .015 .1244 1.0356
batang
Ekstrak kulit buah rambutan
30 mg/kgBB + Rokok 3 .37200 .21841 .104 -.0836 .8276
batang

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

Keterangan: Apabila terdapat pada tanda (*) pada Mean Difference menunjukkan
bahwa jumlah eritrosit antar kelompok berbeda nyata dengan signifikansi 95%.
73

LAMPIRAN 6
Ringkasan hasil uji regresi linier data jumlah eritrosit

Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
a
1 .566 .320 .268 .37071

a. Predictors: (Constant), Dosis

b
ANOVA
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
a
1 Regression .841 1 .841 6.120 .028
Residual 1.787 13 .137

Total 2.628 14
a. Predictors: (Constant), Dosis
b. Dependent Variable: Jumlah Eritrosit

a
Coefficients
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 7.265 .253 28.686 .000

Dosis .290 .117 .566 2.474 .028

a. Dependent Variable: Jumlah Eritrosit


74

Persamaan regresi linier: Y = a + bX


Keterangan:
Y : nilai prediksi variabel dependen
A : konstanta : nilai Y jika X = 0
b : koefisien regresi, yaitu peningkatan atau penurunan variabel Y yang
didasarkan variabel X
X : variabel independen

Y = 7,26 + (0,29)X
Artinya:
 Nilai konstanta (a) adalah 7,26; artinya jika dosis ekstrak kulit buah
rambutan bernilai 0, maka jumlah eritrosit bernilai 7,26.
 Nilai koefisien regresi variabel dosis ekstrak kulit buah rambutan adalah
0,24 Artinya bahawa setiap peningkatan dosis sebesar 1, maka jumlah
eritrosit juga akan meningkat 0,24.

Cara menetukan garis regresi linier:


 X = dosis 15 mg/KgBB
Y = 7,26 + (0,29)X
Y = 7,26 + (0,29) (15)
Y = 7,26 + 4,35
Y = 11,61
 X = dosis 30 mg/KgBB
Y = 7,26 + (0,29) (30)
Y = 7,26 + 8,7
Y = 15,96
 X = dosis 45 mg/KgBB
Y = 7,26 + (0,29) (45)
Y = 7,26 + 13,05
Y = 20,31
75

Uji T

Digunakan apakah dosis berpengaruh signifikan atau tidak terhadap jumlah


eritrosit. Pengujian menggunakan tingkat signifikan 0,05 dan 2 sisi. Langkah-
langkah pengujian sebagai berikut:
 Merumuskan hipotesis
H0 : dosis tidak berpengaruh signifikan terhadap jumlah eritrosit
H1 : dosis berpengaruh signifikan terhadap jumlah eritrosit
 Menentukan t hitung sebesar 2.474 dengan signifikansi 0,028
 Menentukan t tabel
T tabel dapat dilihat pada tabel statistik pada signifikansi 0,05 / 2 = 0,025
dengan derajat kebebasan (df) = N-1 atau (df) = 15-1=14. Hasil yang
diperoleh untuk t tabel sebesar 2.144 (lihat pada t tabel).
 Kriteria pengujian
# jika t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel maka H0 diterima
# jika t hitung < t tabel atau t hitung > t tabel, maka H0 ditolak
Berdasarkan signifikansi
# jika sig > 0,05, maka H0 diterima
# jika sig < 0,05, maka H0 ditolak

 Kesimpulan
Karena nilai t hitung > t tabel (2.474 > 2.144) dan signifikansi < 0,05
(0,028 < 0,05), maka H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa dosis
ekstrak kulit buah rambutan berpengaruh terhadap jumlah eritrosit.
76

LAMPIRAN 7
Analisis statistik data kadar hemoglobin

1. Uji normalitas kadar hemoglobin

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test

Kadar Hb
N 25
a
Normal Parameters Mean 12.3040
Std. Deviation .94449
Most Extreme Differences Absolute .176
Positive .100
Negative -.176
Kolmogorov-Smirnov Z .881
Asymp. Sig. (2-tailed) .420
a. Test distribution is Normal.

2. Homogeneous subsets

Kadar Hemoglobin
Subset for alpha =
0.05

perlakuan N 1 2
a
Duncan Rokok 3 batang 5 10.8800

Ekstrak kulit buah rambutan 15


5 12.3400
mg/kgBB + Rokok 3 batang
Kontrol 5 12.4800

Ekstrak kulit buah rambutan 30


5 12.6800
mg/kgBB + Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah rambutan 45
5 13.1400
mg/kgBB + Rokok 3 batang
Sig. 1.000 .061
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

3. Uji homogenitas data

Test of Homogeneity of Variances

Kadar Hemoglobin

Levene Statistic df1 df2 Sig.

2.102 4 20 .119
77

4. Uji pengaruh ekstrak kulit buah rambutan terhadap kadar hemoglobin

Descriptives

Kadar Hemoglobin

Std.
Perlakuan
N Mean Deviation Std. Error Minimum Maximum
Kontrol
5 12.4800 .50695 .22672 12.00 13.20
3 batang rokok
5 10.8800 .72595 .32465 9.70 11.60
Ekstrak kulit buah
rambutan 15 mg/kgBB + 5 12.3400 .11402 .05099 12.20 12.50
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 30 mg/kgBB + 5 12.6800 .49699 .22226 12.20 13.50
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 45 mg/kgBB + 5 13.1400 .82644 .36959 12.20 14.20
Rokok 3 batang

Total 25 12.3040 .94449 .18890 9.70 14.20

Model Fixed Effects .58771 .11754

Random Effects .38081

5. One Way Anova

ANOVA

Kadar Hemoglobin Sum of Squares df Mean Square F Sig.


Between Groups 14.502 4 3.625 10.496 .000
Within Groups 6.908 20 .345
Total 21.410 24

Berdasarkan hasil one way ANOVA, menunjukkan bahwa ada pengaruh yang
signifikan antara ekstrak kulit buah rambutan dengan kadar hemoglobin (sig.
0,000 < 0,05).
78

6. Post Hoc Tests


Multiple Comparisons

Dependent Variable: Kadar Hemoglobin


Mean 95% Confidence Interval
Difference
(I) perlakuan (J) perlakuan (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
*
LSD Kontrol Rokok 3 batang 1.60000 .37170 .000 .8246 2.3754
Ekstrak kulit buah
rambutan 15 mg/kgBB + .14000 .37170 .710 -.6354 .9154
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 30 mg/kgBB + -.20000 .37170 .596 -.9754 .5754
Rokok 3 batang rokok
Ekstrak kulit buah
rambutan 45 mg/kgBB + -.66000 .37170 .091 -1.4354 .1154
Rokok 3 batang
Rokok 3 batang Kontrol -1.60000* .37170 .000 -2.3754 -.8246
Ekstrak kulit buah
rambutan 15 mg/kgBB + -1.46000* .37170 .001 -2.2354 -.6846
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 30 mg/kgBB + -1.80000* .37170 .000 -2.5754 -1.0246
Rokok 3 batang rokok
Ekstrak kulit buah
rambutan 45 mg/kgBB + -2.26000* .37170 .000 -3.0354 -1.4846
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah Kontrol -.14000 .37170 .710 -.9154 .6354
rambutan 15
Rokok 3 batang 1.46000* .37170 .001 .6846 2.2354
mg/kgBB + Rokok 3
batang Ekstrak kulit buah
rambutan 30 mg/kgBB + -.34000 .37170 .371 -1.1154 .4354
Rokok 3 batang rokok
Ekstrak kulit buah
rambutan 45 mg/kgBB + -.80000* .37170 .044 -1.5754 -.0246
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah Kontrol .20000 .37170 .596 -.5754 .9754
rambutan 30 *
Rokok 3 batang 1.80000 .37170 .000 1.0246 2.5754
mg/kgBB + Rokok 3
batang rokok Ekstrak kulit buah
rambutan 15 mg/kgBB + .34000 .37170 .371 -.4354 1.1154
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 45 mg/kgBB + -.46000 .37170 .230 -1.2354 .3154
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah Kontrol .66000 .37170 .091 -.1154 1.4354
rambutan 45 *
Rokok 3 batang 2.26000 .37170 .000 1.4846 3.0354
mg/kgBB + Rokok 3
batang Ekstrak kulit buah
rambutan 15 mg/kgBB + .80000* .37170 .044 .0246 1.5754
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 30 mg/kgBB + .46000 .37170 .230 -.3154 1.2354
Rokok 3 batang rokok

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

Keterangan: Apabila terdapat pada tanda (*) pada Mean Difference menunjukkan
bahwa kadar hemoglobin antar kelompok berbeda nyata dengan signifikansi 95%.
79

LAMPIRAN 8
Ringkasan hasil uji regresi linier data kadar hemoglobin

Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
a
1 .545 .297 .243 .53952

a. Predictors: (Constant), Dosis

b
ANOVA
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
a
1 Regression 1.600 1 1.600 5.497 .036
Residual 3.784 13 .291

Total 5.384 14
a. Predictors: (Constant), Dosis
b. Dependent Variable: Kadar Hemoglobin

a
Coefficients
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 11.920 .369 32.342 .000

Dosis .400 .171 .545 2.345 .036

a. Dependent Variable: Kadar Hemoglobin


80

Persamaan regresi linier: Y = a + bX


Keterangan:
Y : nilai prediksi variabel dependen
A : konstanta : nilai Y jika X = 0
b : koefisien regresi, yaitu peningkatan atau penurunan variabel Y yang
didasarkan variabel X
X : variabel independen

Y = 11,92 + (0,40)X
Artinya:
 Nilai konstanta (a) adalah 11,92, artinya jika dosis ekstrak kulit buah
rambutan bernilai 0, maka kadar hemoglobin bernilai 11,92.
 Nilai koefisien regresi variabel dosis ekstrak kulit buah rambutan adalah
0,40. Artinya bahwa setiap peningkatan dosis sebesar 1, maka kadar
hemoglobin juga akan meningkat 0,40.

Cara menetukan garis regresi linier:


 X = dosis 15 mg/KgBB
Y = 11,92 + (0,40)X
Y = 11,92 + (0,40) (15)
Y = 11,92 + 6
Y = 17,92
 X = dosis 30 mg/KgBB
Y = 11,92 + (0,40)X
Y = 11,92 + (0,40) (30)
Y = 11,92 + 12
Y = 23,92
 X = dosis 45 mg/KgBB
Y = 11,92 + (0,40)X
Y = 11,92 + (0,40) (45)
Y = 11,92 + 18
Y = 29,92
81

Uji T

Digunakan apakah dosis berpengaruh signifikan atau tidak terhadap kadar


hemoglobin. Pengujian menggunakan tingkat signifikan 0,05 dan 2 sisi. Langkah-
langkah pengujian sebagai berikut:
 Merumuskan hipotesis
H0 : dosis tidak berpengaruh signifikan terhadap kadar hemoglobin
H1 : dosis berpengaruh signifikan terhadap kadar hemoglobin
 Menentukan t hitung sebesar 2.345 dengan signifikansi 0,036
 Menentukan t tabel
T tabel dapat dilihat pada tabel statistik pada signifikansi 0,05 / 2 = 0,025
dengan derajat kebebasan (df) = N-1 atau (df) = 15-1=14. Hasil yang
diperoleh untuk t tabel sebesar 2.144 (lihat pada t tabel).
 Kriteria pengujian
# jika t tabel ≤ t hitung ≤ t tabel maka H0 diterima
# jika t hitung < t tabel atau t hitung > t tabel, maka H0 ditolak
Berdasarkan signifikansi
# jika sig > 0,05, maka H0 diterima
# jika sig < 0,05, maka H0 ditolak

 Kesimpulan
Karena nilai t hitung > t tabel (2.345 > 2.144) dan signifikansi < 0,05
(0,036 < 0,05), maka H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa dosis
ekstrak kulit buah rambutan berpengaruh terhadap kadar hemoglobin.
82

LAMPIRAN 9
Analisis statistik data persentase hematokrit
1. Uji normalitas persentase hematokrit

One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test


Persentase
Hematokrit
N 25
a
Normal Parameters Mean 44.3920
Std. Deviation 2.20641
Most Extreme Differences Absolute .258
Positive .154
Negative -.258
Kolmogorov-Smirnov Z 1.288
Asymp. Sig. (2-tailed) .073

a. Test distribution is Normal.

2. Homogeneous subsets

Persentase Hematokrit
Subset for alpha = 0.05

Perlakuan N 1 2

a Rokok 3 batang 5 40.3800


Duncan
Ekstrak kulit buah rambutan 15
5 45.0200
mg/kgBB + Rokok 3 batang
Kontrol 5 45.0800

Ekstrak kulit buah rambutan 30


5 45.4600
mg/kgBB + Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah rambutan 45
5 46.0200
mg/kgBB + Rokok 3 batang
Sig. 1.000 .086
Means for groups in homogeneous subsets are displayed.
a. Uses Harmonic Mean Sample Size = 5,000.

3. Uji homogenitas data

Test of Homogeneity of Variances

Persentase Hematokrit

Levene Statistic df1 df2 Sig.

1.491 4 20 .243
83

4. Uji pengaruh ekstrak kulit buah rambutan terhadap persentase hematokrit

Descriptives

Persentase Hematokrit

Std.
Perlakuan
N Mean Deviation Std. Error Minimum Maximum
Kontrol
5 45.0800 .68702 .30725 44.30 45.90
3 batang rokok
5 40.3800 1.34611 .60200 38.80 42.40
Ekstrak kulit buah
rambutan 15 mg/kgBB + 5 45.0200 .63008 .28178 44.10 45.70
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 30 mg/kgBB + 5 45.4600 .53666 .24000 44.60 46.00
Rokok 3 batang rokok
Ekstrak kulit buah
rambutan 45 mg/kgBB + 5 46.0200 .54498 .24372 45.40 46.80
Rokok 3 batang

Total 25 44.3920 2.20641 .44128 38.80 46.80

Model Fixed Effects .80821 .16164

Random Effects 1.01870

5. One Way Anova

ANOVA

Persentase Hematokrit

Sum of Squares df Mean Square F Sig.


Between Groups 103.774 4 25.944 39.718 .000
Within Groups 13.064 20 .653
Total 116.838 24

Berdasarkan hasil one way ANOVA, menunjukkan bahwa ada pengaruh yang
signifikan antara ekstrak kulit buah rambutan dengan persentase hematokrit
(sig. 0,000 < 0,05).
84

6. Post Hoc Tests


Multiple Comparisons

Dependent Variable:Persentase Hematokrit


Mean 95% Confidence Interval
Difference
(I) Perlakuan (J) Perlakuan (I-J) Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound
*
LSD Kontrol Rokok 3 batang 4.70000 .51116 .000 3.6337 5.7663
Ekstrak kulit buah
rambutan 15 mg/kgBB + .06000 .51116 .908 -1.0063 1.1263
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 30 mg/kgBB + -.38000 .51116 .466 -1.4463 .6863
Rokok 3 batang rokok
5 -.94000 .51116 .081 -2.0063 .1263
*
Rokok 3 batang Kontrol -4.70000 .51116 .000 -5.7663 -3.6337
Ekstrak kulit buah
rambutan 15 mg/kgBB + -4.64000* .51116 .000 -5.7063 -3.5737
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 30 mg/kgBB + -5.08000* .51116 .000 -6.1463 -4.0137
Rokok 3 batang rokok
Ekstrak kulit buah
rambutan 45 mg/kgBB + -5.64000* .51116 .000 -6.7063 -4.5737
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah Kontrol -.06000 .51116 .908 -1.1263 1.0063
rambutan 15 *
Rokok 3 batang 4.64000 .51116 .000 3.5737 5.7063
mg/kgBB + Rokok 3
batang Ekstrak kulit buah
rambutan 30 mg/kgBB + -.44000 .51116 .400 -1.5063 .6263
Rokok 3 batang rokok
Ekstrak kulit buah
rambutan 45 mg/kgBB + -1.00000 .51116 .065 -2.0663 .0663
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah Kontrol .38000 .51116 .466 -.6863 1.4463
rambutan 30 *
Rokok 3 batang 5.08000 .51116 .000 4.0137 6.1463
mg/kgBB + Rokok 3
batang rokok Ekstrak kulit buah
rambutan 15 mg/kgBB + .44000 .51116 .400 -.6263 1.5063
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 45 mg/kgBB + -.56000 .51116 .286 -1.6263 .5063
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah Kontrol .94000 .51116 .081 -.1263 2.0063
rambutan 45
Rokok 3 batang 5.64000* .51116 .000 4.5737 6.7063
mg/kgBB + Rokok 3
batang Ekstrak kulit buah
rambutan 15 mg/kgBB + 1.00000 .51116 .065 -.0663 2.0663
Rokok 3 batang
Ekstrak kulit buah
rambutan 30 mg/kgBB + .56000 .51116 .286 -.5063 1.6263
Rokok 3 batang rokok

*. The mean difference is significant at the 0.05 level.

Keterangan: Apabila terdapat pada tanda (*) pada Mean Difference menunjukkan
bahwa persentase hematokrit antar kelompok berbeda nyata dengan signifikansi
95%.
85

LAMPIRAN 10
Ringkasan hasil uji regresi linier data persentase hematokrit

Model Summary
Adjusted R Std. Error of the
Model R R Square Square Estimate
a
1 .623 .388 .341 .55052

a. Predictors: (Constant), Dosis

b
ANOVA
Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.
a
1 Regression 2.500 1 2.500 8.249 .013
Residual 3.940 13 .303

Total 6.440 14
a. Predictors: (Constant), Dosis
b. Dependent Variable: Persentase Hematokrit

a
Coefficients
Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients
Model B Std. Error Beta t Sig.
1 (Constant) 44.500 .376 118.326 .000

Dosis .500 .174 .623 2.872 .013

a. Dependent Variable: Persentase Hematokrit


86

Persamaan regresi linier: Y = a + bX


Keterangan:
Y : nilai prediksi variabel dependen
A : konstanta : nilai Y jika X = 0
b : koefisien regresi, yaitu peningkatan atau penurunan variabel Y yang
didasarkan variabel X
X : variabel independen

Y = 44,50 + (0,50)X
Artinya:
 Nilai konstanta (a) adalah 44,50, artinya jika dosis ekstrak kulit buah
rambutan bernilai 0, maka persentase hematokrit bernilai 44,50.
 Nilai koefisien regresi variabel dosis ekstrak kulit buah rambutan adalah
0,50. Artinya bahawa setiap peningkatan dosis sebesar 1, maka persentase
hematokrit juga akan meningkat 0,50.

Cara menetukan garis regresi linier:


 X = dosis 15 mg/KgBB
Y = 44,50 + (0,50)X
Y = 44,50 + (0,50) (15)
Y = 44,50 + 7,5
Y = 52
 X = dosis 30 mg/KgBB
Y = 44,50 + (0,50)X
Y = 44,50 + (0,50) (30)
Y = 44,50 + 15
Y = 59,5
 X = dosis 45 mg/KgBB
Y = 44,50 + (0,50)X
Y = 44,50 + (0,50) (45)
Y = 44,50 + 22,5
Y = 67
87

Uji T

Digunakan apakah dosis berpengaruh signifikan atau tidak terhadap persentase


hematokrit. Pengujian menggunakan tingkat signifikan 0,05 dan 2 sisi. Langkah-
langkah pengujian sebagai berikut:
 Merumuskan hipotesis
H0 : dosis tidak berpengaruh signifikan terhadap persentase hematokrit
Ha : dosis berpengaruh signifikan terhadap persentase hematokrit
 Menentukan t hitung sebesar 2.872 dengan signifikansi 0,013
 Menentukan t tabel
T tabel dapat dilihat pada tabel statistik pada signifikansi 0,05 / 2 = 0,025
dengan derajat kebebasan (df) = N-1 atau (df) = 15-1=14. Hasil yang
diperoleh untuk t tabel sebesar 2.144 (lihat pada t tabel).
 Kriteria pengujian
# jika – tabel ≤ t hitung ≤ t tabel maka H0 diterima
# jika – t hitung < t tabel atau t hitung > t tabel, maka H0 ditolak
Berdasarkan signifikansi
# jika sig > 0,05, maka H0 diterima
# jika sig < 0,05, maka H0 ditolak

 Kesimpulan
Karena nilai t hitung > t tabel (2.872 > 2.144) dan signifikansi < 0,05
(0,013 < 0,05), maka H0 ditolak. Jadi dapat disimpulkan bahwa dosis
ekstrak kulit buah rambutan berpengaruh terhadap persentase hematokrit.
88

LAMPIRAN 11
Dokumentasi Penelitian

Penjemuran kulit buah rambutan Kulit buah rambutan yang telah kering

Serbuk ekstrak kulit buah rambutan Penimbangan dan pembuatan larutan


ekstrak kulit buah rambutan

Ekstrak kulit buah rambutan yang telah Penimbangan berat badan tikus
di larutkan ke akuades

Pemberian tanda asam pikrat pada tikus Tikus perlakuan dari kiri atas K+, K- &
KP1 dan dari kiri bawah KP2 & KP3
89

Rokok kretek yang digunakan dan Persiapan pemberian asap rokok


alat spuit untuk pengasapan

Pemberian asap rokok dengan Pemberian ekstrak kulit buah


menggunakan Smoking chamber rambutan per oral

Pemberian EDTA pada tub Proses pengambilan darah dari


sinus orbitalis mata tikus

Sampel darah dalam container box Alat Hematology Analyzer BC 2600


90

Proses perhitungan dengan menggunakan alat Hematology Analyzer BC 2600