Anda di halaman 1dari 187

TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan luas wilayah perairan
6.315.222 km2 dengan panjang garis pantai 99.093 km2 serta jumlah pulau 13.466 pulau yang
bernama dan berkoordinat, menyimpan potensi sumberdaya alam pesisir, lautan dan
kemaritiman yang sangat besar dan beranekaragam. Potensi sumberdaya yang melimpah ini
dipandang sebagai anugerah yang sangat besar terutama untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi dan pencapaian masyarakat yang makmur.
Berbagai potensi sumberdaya laut, pesisir dan pulau-pulau kecil menjadi pemicu
munculnya ide pembangunan berbasis kemaritiman yang selama ini terabaikan. Pembangunan
ini diantaranya diimplementasikan melalui pengelolaan sumberdaya yang terpadu dengan
memperhatikan keberlanjutan sumberdaya alam, buatan dan jasa kemaritiman. Salah satu
upaya yang dilakukan adalah melalui pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta
pengelolaan ruang laut. Perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil serta
perencanaan pengelolaan ruang laut merupakan upaya awal dalam mengelola ketiga kawasan
tersebut. Rencana zonasi sebagai salah satu dokumen perencanaan dalam pengelolaan wilayah
pesisir dan pulau-pulau kecil serta pengelolaan ruang laut, mencoba untuk memberikan arahan
penggunaan sumber daya pada wilayah pesisir, pulau-pulau kecil dan ruang laut. Dokumen
rencana ini memuat alokasi ruang bagi berbagai kegiatan yang boleh dan tidak boleh dilakukan
serta kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin. Rencana alokasi ruang
yang dirumuskan dalam dokumen tersebut telah dikaji secara komprehensif dan
memperhatikan keterpaduan berbagai sektor, diantaranya keterpaduan ekosistem darat dan
laut, keterpaduan wilayah, keterpaduan stakeholder lintas sektor serta science dan manajemen,
sehingga benar-benar mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Seperti yang dijabarkan dan diamanatkan Peraturan Menteri Nomor 34 tahun 2014
tentang Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil, sebagaimana telah
diubah menjadi Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 23 tahun 2016 tentang
Perencanaan Pengelolaan Wilayah Pesisir Dan Pulau-Pulau Kecil, Rencana Zonasi Wilayah
Pesisir dan Pulau-pulau Kecil memerlukan berbagai data dasar dan tematik dalam menganalisa
dan menentukan usulan alokasi ruang. Terkait dengan hal tersebut, diperlukan pedoman yang
berisi arahan teknis untuk menghasilkan data dasar dan tematik yang memiliki kualitas dan
kuantitas yang dibutuhkan dalam penyusunan rencana zonasi WP-3-K. Pedoman ini juga
harapannya dapat mengakomodir semua aturan perundangan terkait dengan penyusunan
rencana pengelolaan WP-3-K dan aspek pemetaan. Untuk mewujudkan hal tesebut, disusunlah
Pedoman Teknis Pemetaan Rencana Zonasi WP-3-K. Pedoman ini diharapkan dapat
mendukung penyusunan RZWP-3-K secara komprehensif, holistik, dan terpadu.
Komprehensif dengan memperhatikan aspek fisik, lingkungan, sosial, ekonomi, dan budaya.
Holistik dengan memperhatikan satu kesatuan wilayah perencanaan pesisir dan pulau-pulau
kecil secara menyeluruh dengan menekankan saling keterkaitan antar komponen yang ada di
dalamnya. Terpadu dengan memperhatikan keterpaduan wilayah, sektor dan ekosistem.

1.2. Tujuan
Pedoman teknis ini disusun dengan tujuan agar Pemerintah Daerah dan pemangku
kepentingan terkait dapat memiliki acuan teknis dalam penyusunan peta Rencana Zonasi
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil yang sesuai dengan peraturan perundangan terkait.

1.3. Sasaran
Pedoman teknis ini diharapkan dapat memberikan tambahan pemahaman bagi
pemangku kepentingan di daerah dalam pengumpulan data sekunder, pengambilan data pri-

1
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

mer, pengolahan dan analisis data, penyajian penyajian peta dasar, peta tematik dan peta
Rencana Zonasi WP-3-K serta melakukan konsultasi teknis terkait dengan penyusunan peta-
peta tersebut.

1.4. Ruang Lingkup Materi


Ruang lingkup tata cara penyusunan peta RZWP-3-K ini mencakup panduan
pengumpulan data sekunder; metode pengumpulan data primer; metode pengolahan dan
analisis data; penyajian peta dasar, peta tematik dan peta Rencana Zonasi WP-3-K; serta
mekanisme konsultasi teknis penyusunan peta. Peta-peta tersebut dituangkan dengan skala
minimal 1:250.000 dan 1:50.000. Keseluruhan proses penyusunan peta RZWP-3-K mengikuti
kaidah-kaidah Kebijakan Satu Peta.

1.5. Referensi Hukum


Pedoman teknis ini merujuk dan mengadopsi berbagai peraturan-perundangan dengan
rinciannya meliputi:
1) UU No 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumberdaya Alam Hayati dan Ekosistemnya;
2) UU No 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan;
3) UU No 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas;
4) UU No 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5) UU No 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana;
6) UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang;
7) UU No 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 1 Tahun 2014;
8) UU No 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran;
9) UU No 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan;
10) UU No 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
11) UU No 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Atas UU No 31 Tahun 2004 tentang Peri-
kanan;
12) UU No 4 Tahun 2011 tentang Informasi Geospasial;
13) UU No 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah;
14) UU No 32 Tahun 2014 tentang Kelautan;
15) PP No 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan/atau Perusakan Laut;
16) PP No 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara pemerintah,
pemerintahan Daerah, Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kab/ Kota;
17) PP No 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan;
18) PP No 15 Tahun 2010 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang;
19) PP No 62 Tahun 2010 tentang Pemanfaatan Pulau-Pulau Kecil Terluar;
20) PP No 64 Tahun 2010 tentang Mitigasi Bencana di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
21) PP No 8 Tahun 2013 tentang Ketelitian Peta Rencana Tata Ruang;
22) Peraturan Presiden Nomor 122 Tahun 2012 tentang Reklamasi di Wilayah Pesisir dan
Pulau-Pulau Kecil;
23) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.17/MEN/2008 tentang Kawasan
Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
24) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.30/MEN/2010 Tahun 2010 tentang
Rencana Pengelolaan dan Zonasi Kawasan Konservasi Perairan;
25) Peraturan Menteri Perhubungan No.PM 68 Tahun 2011 tentang Alur Pelayaran di Laut;
26) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No PER.08/MEN/2012 tentang
Kepelabuhanan Perikanan;
27) Peraturan Menteri Dalam Negeri No.76 Tahun 2012 tentang Pedoman Penegasan Batas
Daerah.

2
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

28) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No.PER.18/MEN/2014 tentang Wilayah


Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia;
29) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No PER.01/MEN/2016 tentang Pengelolaan
data dan Informasi untuk Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil;
30) Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No Per 23/MEN/2016 tentang Perencanaan
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil.

3
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

BAB II
BATASAN ISTILAH

Beberapa istilah yang digunakan dalam Tata Cara Penyusunan Peta RZWP-3-K sebagai
berkut:
1. Alokasi Ruang adalah distribusi peruntukan ruang di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
2. Alur laut merupakan perairan yang dimanfaatkan, antara lain untuk alur pelayaran, pipa/kabel
bawah laut dan migrasi biota laut.
3. Citra satelit merupakan suatu gambaran permukaan bumi yang direkam oleh sensor (kamera)
pada satelit pengideraan jauh yang mengorbit bumi, dalam bentuk image (gambar) secara digital.
4. Daerah Penangkapan Ikan (Fishing Ground) adalah daerah di perairan dimana ikan yang
menjadi sasaran tangkap tertangkap dalam jumlah yang maksimal dan alat tangkap dapat diope-
rasikan secara ekonomis.
5. Data adalah rekaman fakta atau fenomena yang dapat diinterpretasikan dengan suatu cara formal
yang dapat digunakan untuk komunikasi, interpretasi, dan pemrosesan.
6. Data Primer adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan secara langsung dari sumber datanya.
7. Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan dari berbagai sumber yang telah
ada.
8. Daya dukung wilayah pesisir dan pulau-pulau Kecil adalah kemampuan wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil untuk mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain.
9. Ekosistem adalah kesatuan komunitas tumbuh-tumbuhan, hewan, organisme dan non
organisme lain serta proses yang menghubungkannya dalam membentuk keseimbangan, stabilitas
dan produktivitas.
10. Informasi Geospasial Dasar (IGD) adalah Informasi Geospasial yang berisi tentang objek
yang dapat dilihat secara langsung atau diukur dari kenampakan fisik di muka bumi dan yang
tidak berubah dalam waktu yang relatif lama.
11. Informasi Geospasial Tematik (IGT) adalah Informasi Geospasial yang menggambarkan satu
atau lebih tema tertentu yang dibuat mengacu pada IGD.
12. Kartografis adalah ketentuan ilmiah tentang desain dan visualisasi peta dalam berbagai
komponen grafis.
13. Kawasan adalah bagian wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang memiliki fungsi tertentu yang
ditetapkan berdasarkan kriteria karakteristik fisik, biologi, sosial, dan ekonomi untuk
dipertahankan keberadaannya.
14. Kawasan Konservasi di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil adalah kawasan pesisir dan
pulau-pulau kecil dengan ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil secara berkelanjutan. (Kawasan Konservasi setara dengan
kawasan lindung dalam Undang-Undang No.26 Tahun 2007 tentang penataan ruang).
15. Kawasan Pemanfaatan Umum (KPU) adalah bagian dari wilayah pesisir yang ditetapkan
peruntukkannya bagi berbagai sektor kegiatan. (Kawasan Pemanfaatan Umum setara dengan
kawasan budidaya dalam Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang).
16. Kawasan Strategis Nasional adalah wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan karena
mempunyai pengaruh sangat penting secara nasional terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan
keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya, dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang
ditetapkan sebagai warisan dunia.
17. Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT) adalah kawasan yang terkait dengan
kedaulatan negara, pengendalian lingkungan hidup dan/atau situs warisan dunia, yang
pengembangannya diprioritaskan bagi kepentingan nasional.
18. Kearifan Lokal adalah nilai-nilai luhur yang masih berlaku dalam tata kehidupan Masyarakat.
19. Kebijakan Satu Peta (KSP) adalah arahan strategis dalam terpenuhinya satu peta yang mengacu
pada satu referensi geospasial, satu standar, satu basis data, dan satu geoportal pada tingkat
ketelitian skala 1:50.000.

4
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

20. Masyarakat Hukum Adat adalah sekelompok orang yang secara turun-temurun bermukim di
wilayah geografis tertentu di Negara Kesatuan Republik Indonesia karena adanya ikatan pada
asal usul leluhur, hubungan yang kuat dengan tanah, wilayah, sumber daya alam, memiliki
pranata pemerintahan adat, dan tatanan hukum adat di wilayah adatnya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
21. Masyarakat Lokal adalah kelompok Masyarakat yang menjalankan tata kehidupan sehari-hari
berdasarkan kebiasaan yang sudah diterima sebagai nilai-nilai yang berlaku umum, tetapi tidak
sepenuhnya bergantung pada Sumber Daya Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil tertentu.
22. Masyarakat Tradisional adalah Masyarakat perikanan tradisional yang masih diakui hak
tradisionalnya dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan atau kegiatan lainnya yang sah di
daerah tertentu yang berada dalam perairan kepulauan sesuai dengan kaidah hukum laut
internasional.
23. Mitigasi bencana adalah upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik secara struktur atau fisik
melalui pembangunan fisik alami dan/atau buatan maupun nonstruktur atau nonfisik melalui
peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil.
24. Pemetaan adalah proses pengukuran, perhitungan dan penggambaran permukaan bumi
(terminologi geodesi) dengan menggunakan cara dan atau metode tertentu sehingga didapatkan
hasil berupa softcopy maupun hardcopy peta yang berbentuk vektor maupun raster.
25. Penataan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah suatu sistem proses
perencanaan zonasi, pemanfaatan ruang/zona, dan pengendalian pemanfaatan ruang/zona
wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
26. Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah suatu proses perencanaan,
pemanfaatan, pengawasan, dan pengendalian sumber daya pesisir dan pulau-pulau kecil
antarsektor, antara Pemerintah dan Pemerintah Daerah, antara ekosistem darat dan laut, serta
antara ilmu pengetahuan dan manajemen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
27. Perairan pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua
belas) mil laut diukur dari garis pantai pada saat terjadi air laut pasang tertinggi, perairan yang
menghubungkan pantai dan pulau-pulau, estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna.
28. Perairan Pesisir adalah laut yang berbatasan dengan daratan meliputi perairan sejauh 12 (dua
belas) mil laut diukur dari garis pantai, perairan yang menghubungkan pantai dan pulau-pulau,
estuari, teluk, perairan dangkal, rawa payau, dan laguna.
29. Perencanaan pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil adalah suatu rangkaian
proses yang meliputi penyusunan Rencana Strategis Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
(RSWP-3-K), Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RZWP-3-K), Rencana
Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RPWP-3-K), dan Rencana Aksi Pengelolaan
Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil (RAPWP-3-K) yang melibatkan berbagai unsur kepent-
ingan di dalamnya.
30. Peta adalah suatu gambaran dari unsur-unsur alam dan atau buatan manusia, yang berada di atas
maupun di bawah permukaan bumi yang digambarkan pada suatu bidang datar dengan skala
tertentu.
31. Peta Dasar adalah peta yang menyajikan unsur-unsur alam dan/atau buatan manusia yang
berada di permukaan bumi, digambarkan pada suatu bidang datar, dengan skala, penomoran,
proyeksi, dan georeferensi.
32. Peta kesesuaian perairan merupakan peta yang dihasilkan dari kajian beberapa parameter
kualitas perairan untuk mengetahui kesesuaian wilayah perairan untuk tipe pemanfaatan tertentu.
33. Peta Lingkungan Laut Nasional (LLN) adalah peta dasar yang memberikan informasi secara
khusus untuk wilayah laut.
34. Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI) adalah peta dasar yang memberikan informasi
secara khusus untuk wilayah pesisir.
35. Peta Rupabumi Indonesia (RBI) adalah peta dasar yang memberikan informasi secara khusus
untuk wilayah darat.

5
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

36. Peta Tematik adalah peta yang menyajikan tema tertentu dan untuk kepentingan tertentu.
37. Pulau kecil adalah pulau dengan luas lebih kecil atau sama dengan 2.000 km2 (dua ribu kilometer
persegi) beserta kesatuan ekosistemnya.
38. Pulau-pulau kecil adalah kumpulan beberapa pulau kecil yang membentuk kesatuan ekosistem
dengan perairan disekitarnya.
39. Rencana Tata Ruang adalah hasil perencanaan tata ruang
40. Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi adalah hasil perencanaan tata ruang yang merupakan
penjabaran strategi dan arahan kebijakan pemanfaatan ruang wilayah nasional dan
pulau/kepulauan ke dalam struktur dan pola ruang wilayah Provinsi.
41. Rencana Zonasi adalah rencana yang menentukan arah penggunaan sumberdaya tiap-tiap
satuan perencanaan disertai dengan penetapan struktur dan pola ruang pada kawasan
perencanaan yang memuat kegiatan yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan serta
kegiatan yang hanya dapat dilakukan setelah memperoleh izin.
42. Rencana Zonasi Rinci adalah rencana detail dalam 1 (satu) zona berdasarkan arahan
pengelolaan di dalam RZWP-3-K atau RZR Provinsi yang dapat disusun oleh pemerintah daerah
yang memuat daya dukung dan daya tampung, serta peraturan pemanfaatan ruang.
43. Spasial adalah aspek keruangan suatu obyek atau kejadian yang mencakup lokasi, letak, dan
posisinya.
44. Sumberdaya pesisir dan pulau-pulau kecil adalah adalah sumber daya hayati, sumber daya
nonhayati; sumber daya buatan, dan jasa-jasa lingkungan; sumber daya hayati meliputi ikan,
terumbu karang, padang lamun, mangrove dan biota laut lain; sumber daya nonhayati meliputi
pasir, air laut, mineral dasar laut; sumber daya buatan meliputi infrastruktur laut yang terkait
dengan kelautan dan perikanan, dan jasa-jasa lingkungan berupa keindahan alam, permukaan
dasar laut tempat instalasi bawah air yang terkait dengan kelautan dan perikanan serta energi
gelombang laut yang terdapat di wilayah pesisir.
45. Tumpangsusun (overlay) adalah sebuah proses spasial dimana dua atau lebih peta/lapisan
yang sudah teregistrasi pada satu system koordinat yang sama ditumpangkan baik dalam bentuk
digital atau dalam bahan transparan untuk tujuan menampilkan hubungan antar fitur yang
menempati wilayah geografis yang sama.
46. Wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi oleh
perubahan di darat dan laut.
47. Zona adalah ruang yang penggunaannya disepakati bersama antara berbagai pemangku
kepentingan dan telah ditetapkan status hukumnya.
48. Zona Pasang Surut (Intertidal Zone) adalah daerah bagian pantai yg terletak antara batas
surut terendah dan pasang tertinggi.
49. Zonasi adalah suatu bentuk rekayasa teknik pemanfaatan ruang melalui penetapan batas-batas
fungsional sesuai dengan potensi sumber daya dan daya dukung serta proses-proses ekologis
yang berlangsung sebagai satu kesatuan dalam ekosistem pesisir.

6
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

BAB III
KEBUTUHAN DATA

3.1. Data untuk Pemetaan Rencana Zonasi WP-3-K


Penyusunan RZWP-3-K membutuhkan berbagai macam data, baik geospasial
maupun non-geospasial. Data yang digunakan dalam penyusunan RZWP-3-K dapat di-
peroleh dari sumber data sekunder maupun data primer. Data yang diperlukan meliputi
peta dasar dan data tematik dengan rincian sebagai berikut:
a. Peta Dasar:
1) garis pantai, yaitu batas pasang tertinggi muka air laut;
2) bathimetri berupa garis khayal untuk menggambarkan semua titik terutama yang
mempunyai kedalaman yang sama di dasar laut; dan
3) batas wilayah laut berupa garis khayal yang ditentukan berdasarkan dokumen
penetapan batas wilayah secara pasti di lapangan oleh instansi pemerintah yang
berwenang, yang menggambarkan batas wilayah laut provinsi dan batas antar
negara.
b. Data Tematik:
1) oseanografi, meliputi pasang surut, gelombang, arus, suhu permukaan,
kecerahan, derajat keasaman/pH, salinitas, padatan tersuspensi, kebutuhan
oksigen, dan klorofil;
2) geomorfologi dan geologi laut, meliputi kondisi geomorfologi, bentuk dan
tipologi pantai, jenis dan struktur batuan, substrat dasar laut, dan deposit pasir
laut;
3) ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil, meliputi kondisi dan sebaran mangrove,
lamun, dan terumbu karang;
4) sumber daya ikan, meliputi jenis dan kelimpahan ikan demersal dan pelagis;
5) pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah ada;
6) dokumen perencanaan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil;
7) sosial, ekonomi, dan budaya, meliputi kondisi kependudukan, sosial, masyarakat
hukum adat, tingkat perekonomian wilayah kecamatan; dan
8) risiko bencana, meliputi tsunami, gelombang ekstrim, gelombang laut berbahaya,
letusan gunung api bawah laut, erosi pantai, kenaikan paras muka air laut,
pencemaran logam berat, tumpahan minyak.
Apabila dalam pengumpulan data tersebut di atas ditemukan zona yang memerlukan
reklamasi, wajib mengumpulkan data geoteknik.

3.2. Jenis dan Format Data Pemetaan Rencana Zonasi WP-3-K


Berdasarkan pengertiannya, data geospasial adalah data tentang lokasi geografis, di-
mensi atau ukuran, dan/atau karakteristik objek alam dan/atau buatan manusia yang be-
rada di bawah, pada, atau di atas permukaan bumi. data non-geospasial merupakan data
yang tidak mempunyai referensi geografis dan/atau informasi lokasi dalam kedudukannya
di ruang muka bumi yang meliputi data statistik dan informasi deskriptif. Untuk kebutuhan
pemetaan RZWP-3-K, data geospasial dan non-geospasial (atribut) diolah dan
diintegrasikan sehingga menghasilkan informasi spasial yang utuh sesuai dengan tema yang
diharapkan.

7
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Data geospasial yang digunakan dalam analisis GIS direpresentasikan dalam dua tipe
data, yaitu:
a. Data Vektor
Data vektor merupakan bentuk bumi yang direpresentasikan ke dalam kumpulan
garis, area (daerah yang dibatasi oleh garis yang berawal dan berakhir pada titik
yang sama), titik dan nodes (merupakan titik perpotongan antara dua buah garis).

Legend
Titik (Point)
Garis (Line)
Area (Polygon)

Gambar 3.1. Contoh data vektor di Perairan Teluk Jakarta


b. Data Raster
Data raster (atau disebut juga dengan sel grid) adalah data yang dihasilkan dari
sistem Penginderaan Jauh. Pada data raster, obyek geografis direpresentasikan
sebagai struktur sel grid yang disebut dengan piksel (picture element).
Pada data raster, resolusi (definisi visual) tergantung pada ukuran pixelnya.
Dengan kata lain, resolusi pixel menggambarkan ukuran sebenarnya di permukaan
bumi yang diwakili oleh setiap pixel pada citra. Semakin kecil ukuran permukaan
bumi yang direpresentasikan oleh satu sel, semakin tinggi resolusinya. Data raster
sangat baik untuk merepresentasikan batas-batas yang berubah secara gradual,
seperti jenis tanah, kelembaban tanah, vegetasi, suhu tanah dan sebagainya.

Gambar 3.2. Representasi Wilayah Berbasis Raster

8
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Data geospasial terdiri dari beberapa format, yaitu :


a. Analog
Data dalam format analog merupakan data dalam bentuk cetakan (hardcopy) dan
hasil pemindaian digital (scanning). Contoh data analog antara lain peta topografi,
peta rupabumi, peta tanah yang dicetak dalam ukuran kertas tertentu sesuai
skalanya. Pada umumnya peta analog dibuat dengan teknik kartografi dan
umumnya memiliki referensi spasial seperti koordinat, skala, arah mata angin dan
sebagainya.
b. Digital
Data dalam format digital dalam lingkup GIS merupakan data geospasial yang
berbentuk softfile yang memiliki informasi keruangan sesuai dengan tema tertentu
sehingga dapat ditampilkan dan masih bisa diubah melalui software pengolah data
tertentu. Untuk tipe vektor biasa disimpan dalam bentuk shapefile (.shp) dan untuk
tipe raster biasa disimpan dalam berbagai tipe diantaranya tiff, ers, ecw, img. Data
digital diperoleh dari berbagai sumber data, diantaranya adalah:
- Digitasi peta
- Konversi data
- Hasil plotting/pengukuran menggunakan GPS
- Interpretasi citra satelit
- Analisis dan pemodelan GIS.
c. Tabular/numerik
Data dalam format tabular merupakan data yang berbentuk angka-angka (tabuler)
yang memiliki informasi koordinat atau lokasi geografis. Contoh data tabular ada-
lah tabel batas kawasan konservasi.
Dalam penyusunan RZWP-3-K, data geospasial yang digunakan disajikan dalam
bentuk peta dan harus memenuhi standar kualitas dan kuantitas yang dilengkapi dengan
metadata. Standar kualitas data dengan perincian sebagai berikut:
a. Skala
Skala memberikan informasi mengenai perbandingan antara ukuran obyek di peta
dengan kondisi sebenarnya di lapangan. Untuk RZWP-3-K, skala peta ditetapkan
minimal 1 : 250.000, dengan pendetilan menjadi skala minimal 1:50.000 apabila
diperlukan sebagai instrumen perizinan.
b. Akurasi spasial
merupakan informasi mengenai ketepatan posisi dan presisi secara spasial dengan
mengacu pada informasi geospasial dasar. Sebagai acuan standard, proyeksi yang
digunakan dalam pemetaan adalah Geographic Coordinate System (GCS) dan Universal
Transverse Mercator (UTM) serta datum horisontal yang digunakan adalah World
Geodetic System 1984 (WGS-84). Seluruh data geospasial yang digunakan
diharuskan mengacu pada proyeksi dan datum tersebut, sehingga seluruh data ge-
ospasial dapat diintegrasikan dalam satu sistem dengan tepat.
c. Akurasi atribut
Akurasi atribut merupakan informasi mengenai ketepatan atribut dalam data
termasuk kedalamannya, kedetailannya dan kelengkapannya. Akurasi atribut
sangat tergantung pada tipe data dan skala pemetaan. Sebagai contoh untuk data
geospasial ekosistem terumbu karang pada skala 1 : 250.000 dan 1 : 50.000
memiliki kelengkapan atribut: id (identitas poligon), koordinat, dan kondisi
terumbu karang (Baik Sekali, Baik, Sedang, Buruk).

9
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

d. Metadata
Metadata adalah data yang menjelaskan riwayat dan karakteristik data. Metadata
yang digunakan mengikuti standar dan ketentuan dari Badan Informasi Geospasi-
al (BIG).

Standar kuantitas data merupakan jumlah data yang harus dipenuhi pada saat
penyusunan Rencana Zonasi WP-3-K yang meliputi:
a. garis pantai;
b. bathimetri berupa peta bathimetri;
c. batas wilayah laut berupa Peta Wilayah Perencanaan WP-3-K dan Peta Wilayah
Perencanaan Terhadap Konstelasi Regional;
d. oseanografi berupa peta gelombang, peta arus, peta suhu permukaan laut, peta
kecerahan, peta pH, peta salinitas, peta sebaran klorofil;
e. geomorfologi dan geologi laut berupa peta geologi laut, peta substrat dasar laut,
dan peta deposit pasir laut;
f. ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil berupa peta ekosistem pesisir (terumbu
karang, lamun, mangrove);
g. sumber daya ikan pelagis dan demersal berupa peta daerah penangkapan ikan
demersal dan peta daerah penangkapan ikan pelagis;
h. pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah ada berupa
peta pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah ada;
i. dokumen perencanaan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir dan pulau-pulau
kecil. Data ini merupakan rencana-rencana yang disusun ole instansi pemerintah
yang telah memiliki ketetapan sesuai perundangan yang berlaku. Contohnya Peta
Rencana Struktur dan Pola Ruang Wilayah dari RTRW, peta rencana induk
pelabuhan perikanan, dan lainnya;
j. sosial, ekonomi, dan budaya berupa peta jumlah dan kepadatan penduduk
(proyeksi pertumbuhan penduduk), peta wilayah penangkapan ikan secara
tradsional;
k. risiko bencana dan pencemaran berupa peta risiko bencana (tsunami, gelombang
ekstrim, gelombang laut berbahaya, letusan gunung api bawah laut, kenaikan
muka air laut, erosi pantai, intrusi air laut (tergantung kondisi di tiap wilayah)).

10
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

3.3. Spesifikasi Data untuk Pemetaan Rencana Zonasi WP-3-K


3.3.1. Data Geospasial Dasar
Peta dasar yang dibutuhkan untuk penyusunan Peta RZWP-3-K dibagi menjadi Peta Lingkungan Pantai Indonesia (LPI), Peta Batas
Perencanaan dan citra satelit.

Tabel 3.1. Kebutuhan Data Geospasial Dasar RZWP-3-K

KUALITAS DATA KETERANGAN


NO PETA DASAR JENIS DATA
SKALA AKURASI SPASIAL AKURASI ATRIBUT SPESIFIKASI INSTANSI SUMBER
1 Garis pantai Garis pantai 1:250.000 Proyeksi UTM, Da-tum - ID - Garis pantai diukur dari pasang BIG Peta Lingkungan
1:50.000 WGS84 - NAMA PROV tertinggi muka air laut Pantai Indonesia
- LENGTH (panjang skala 1 : 250.000
garis pantai) dan 1:50.000
2 Bathimetri Kedalaman laut 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID Interval kontur : BIG Peta Lingkungan
WGS84 - KEDALAMAN Kedalaman 0 – 10 m = 5 m DISHDROS Pantai Indonesia
Kedalaman 10 – 100 m = 10 m TNI AL skala 1 : 250.000
Kedalaman 100 – 500 m = 20 m
Kedalaman 500 – 1000 m = 50 m
Kedalaman >1000 m = 100 m
1 : 50.000 Proyeksi UTM, Da-tum - ID Interval kontur : BIG Peta Lingkungan
WGS84 - KEDALAMAN Kedalaman 0 – 10 m = 0; 2; 5; 8; 10 DISHIDROS Pantai Indonesia
Kedalaman 10 – 50 m = 5 m TNI AL skala 1:50.000
Kedalaman 50 – 100 m = 10 m
Kedalaman 100 – 500 m = 20 m
Kedalaman 500 - 1000 m = 50 m
Kedalaman >1000 m = 100 m
3 Batas Wilayah Batas Administra- 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID BIG
Laut si 1 : 50.000 WGS84 - NAMA PROV
Batas Wilayah 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID Batas 0 -12 mil laut BIG
Perencanaan 1 : 50.000 WGS84 - NAMA PROV

11
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

3.3.2. Data Geospasial Tematik


Data spasial tematik merupakan data spasial yang memiliki tema tertentu yang dibutuhkan sebagai bahan penyusunan peta tematik.
Spesifikasi dari kebutuhan data spasial untuk penyusunan peta tematik dijabarkan dalam table sebagai berikut:

Tabel 3.2. Kebutuhan Data Spasial Tematik RZWP-3-K

DATA KUALITAS DATA KETERANGAN


NO JENIS DATA
TEMATIK SKALA AKURASI SPASIAL AKURASI ATRIBUT SPESIFIKASI INSTANSI SUMBER
1 Oseanografi Arus 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum VEKTOR ARUS : - Interval ke- Dishidros, KKP, LIPI, In- Pemodelan hidro-
1 : 50.000 WGS84 - ID cepatan arus stansi terkait, Perguruan oseanografi
- ARAH = 0,05 m/s Tinggi
- KECEPATAN
BIG, Adpel, Pelindo
KONTUR ARUS : BMKG
- ID
- KECEPATAN BPPT, KKP, LIPI, DISHIDROS
Gelombang 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum VEKTOR GELOMBANG : - Tinggi dan Dishidros, KKP, LIPI, In- Pemodelan hi-
1 : 50.000 WGS84 - ID arah stansi terkait, Perguruan drooseanografi
- ARAH - Interval tinggi Tinggi
- TINGGI gelombang =
0,1 m BIG, Adpel, Pelindo
KONTUR GELOMBANG : BMKG
- ID
- TINGGI BPPT, KKP, LIPI, DISHIDROS
Suhu Permukaan 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID - Interval suhu BPPT, KKP, LIPI, P2O Analisis citra Aqua
Laut 1 : 50.000 WGS84 - SUHU = 0,5 oC Modis dengan
resolusi minimal 1
km
Kecerahan 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID - Interval nilai KKP, LIPI, P2O -
1 : 50.000 WGS84 - KECERAHAN kecerahan = 1
meter
pH 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID - Interval nilai Dishidros, KKP, LIPI, In- -
1 : 50.000 WGS84 - PH pH = 0,5 stansi terkait, Perguruan
Tinggi

12
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

DATA KUALITAS DATA KETERANGAN


NO JENIS DATA
TEMATIK SKALA AKURASI SPASIAL AKURASI ATRIBUT SPESIFIKASI INSTANSI SUMBER
Salinitas 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID - Interval nilai Dishidros, KKP, LIPI, In- -
1 : 50.000 WGS84 - SALINITAS salinitas = 1,0 stansi terkait, Perguruan
Psu Tinggi

Klorofil 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID - Interfal 0,5 Dishidros, KKP, LIPI, P2O, Analisis citra Aqua
1 : 50.000 WGS84 - KLOROFIL mg/l Instansi terkait, Perguruan Modis dengan
Tinggi resolusi minimal 1
km

2 Geomorfologi Substrat Dasar Laut 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID P3GL ESDM Peta Geologi dan
dan Geologi 1 : 50.000 WGS84 - JENIS SUBSTRAT DASAR geomorfologi dasar
Laut LAUT laut
skala 1 : 250.000

Geologi Laut 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID P3GL ESDM Peta Geologi dan
1 : 50.000 WGS84 - FORMASI GEOLOGI geomorfologi dasar
laut
skala 1 : 250.000

Geomorfologi laut 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID P3GL ESDM Peta Geologi dan
1 : 50.000 WGS84 - MORFOLOGI geomorfologi dasar
laut
skala 1 : 250.000

Deposit pasir laut 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID P3GL ESDM Peta Geologi dan
1 : 50.000 WGS84 - VOLUME DEPOSIT geomorfologi dasar
PASIR LAUT laut
skala 1 : 250.000

13
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

DATA KUALITAS DATA KETERANGAN


NO JENIS DATA
TEMATIK SKALA AKURASI SPASIAL AKURASI ATRIBUT SPESIFIKASI INSTANSI SUMBER
3 Ekosistem Mangrove 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID Baplan-Kemenhut, BIG, Peta Mangrove
Pesisir WGS84 - LUAS LIPI, KKP skala 1 : 250.000
1 : 50.000 Proyeksi UTM, Datum - ID Baplan-Kemenhut, BIG, Peta Mangrove
WGS84 - TUTUPAN LIPI, KKP skala 1:50.000
- KERAPATAN
Lamun 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID BIG, LIPI, KKP Peta Lamun skala 1
WGS84 - LUAS : 250.000

1 : 50.000 Proyeksi UTM, Datum - ID BIG, LIPI, KKP Peta Lamun skala
WGS84 - TUTUPAN 1:50.000
- KONDISI
Terumbu Karang 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID BIG, LIPI, KKP Peta Terumbu
WGS84 - LUAS Karang,
skala 1 : 250.000

1 : 50.000 Proyeksi UTM, Datum - ID BIG, LIPI, KKP Peta Terumbu


WGS84 - TUTUPAN Karang,
- KONDISI skala 1 : 250.000
1:50.000

4 Sumber Daya Demersal 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum DATA POLIGON :


Ikan WGS84 - ID
- LUAS

1 : 50.000 Proyeksi UTM, Datum DATA POLIGON :


WGS84 - ID
- POTENSI
- LUAS

DATA TITIK :
- ID
- JENIS
- KELIMPAHAN

14
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

DATA KUALITAS DATA KETERANGAN


NO JENIS DATA
TEMATIK SKALA AKURASI SPASIAL AKURASI ATRIBUT SPESIFIKASI INSTANSI SUMBER
Pelagis 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum DATA POLIGON : KKP, BPPT, LIPI Peta Daerah Pe-
WGS84 - ID nangkapan Ikan
- POTENSI skala 1 : 250.000
- LUAS
1 : 50.000 Proyeksi UTM, Datum - DATA POLIGON : KKP, BPPT, LIPI Peta Daerah Pe-
WGS84 - ID nangkapan Ikan
- POTENSI (Fishing Ground) &
- LUAS Jenis dan
Kelimpahan Ikan
- DATA TITIK : skala 1:50.000
- ID
- JENIS
- KELIMPAHAN
5 Pemanfaatan Kawasan 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID KKP, Instansi terkait Peta Pemanfaatan
Ruang Wila- Pemanfaatan Umum 1 : 50.000 WGS84 - KETERANGAN Wilayah
yah Pesisir (bangunan laut, - IZIN Perairan/Laut
Dan Pulau- transportasi atau skala 1 : 250.000
Pulau Kecil utilitas laut, dan 1:50.000
Yang Telah infrastruktur laut,
Ada KJA, Bagan, Fishing
Ground, Pendaratan
Pesawat, pariwisata,
pertambangan,
pemanfaatan
masyarakat hukum
adat, tempat suci,
dan lain-lain)
Kawasan Konservasi 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID
atau Kawasan Lin- 1 : 50.000 WGS84 - KETERANGAN
dung Laut
Alur Laut 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID Peta Laut Dishidros
1 : 50.000 WGS84 - KETERANGAN
Kawasan Strategis 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID
Nasional Tertentu 1 : 50.000 WGS84 - KETERANGAN

15
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

DATA KUALITAS DATA KETERANGAN


NO JENIS DATA
TEMATIK SKALA AKURASI SPASIAL AKURASI ATRIBUT SPESIFIKASI INSTANSI SUMBER
6 Dokumen Rencana Induk 1 : 250.000 Softcopy & hardcopy Dokumen perencanaan Kementerian/
Perencanaan Pariwisata, Rencana 1 : 50.000 atau peta skala 1 : Lembaga
Pemanfaatan Induk Pelabuhan, dan 250.000, 1 : 50.000, terkait, SKPD
Ruang Di lain-lain
Wilayah
Pesisir Dan
Pulau-Pulau
Kecil
7 Sosial, Sosial dan Budaya 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID Peta Kependudukan dan BPS, BAPPEDA
Ekonomi dan 1 : 50.000 WGS84 - JUMLAH PENDUDUK Sosial
Budaya - KEPADATAN skala 1 : 250.000 dan 1 :
- TENAGA KERJA 50.000
- JUMLAH NELAYAN
PEMBUDIDAYA IKAN
Ekonomi 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID Peta perekonomian Peta RTRW, Data
1 : 50.000 WGS84 - PEKERJAAN wilayah statistik BPS,
- PENDAPATAN skala 1 : 250.000 Disnaker, Dinas
PERKAPITA pariwisata, Dinas
Perikanan (time
series)
Masyarakat hukum 1 : 50.000 Proyeksi UTM, Datum - ID Peta Kependudukan dan BPS, BAPPEDA
adat WGS84 - LUAS Sosial
skala 1 : 50.000
Wilayah tangkapan 1 : 50.000 Proyeksi UTM, Datum - ID Peta Kependudukan dan BPS, BAPPEDA
tradisional WGS84 - LUAS Sosial
skala 1 : 50.000
8 Risiko Risiko Bencana 1 : 250.000 Proyeksi UTM, Datum - ID BNPB, BMKG, KKP Peta sebaran
Bencana 1 : 50.000 WGS84 - JENIS BENCANA daerah rawan dan
- TINGKAT BENCANA risiko bencana
skala 1 : 250.000
dan 1:50.000

16
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

BAB IV
PENGUMPULAN DATA DAN PENGOLAHAN DATA

Pengumpulan data merupakan salah satu bagian terpenting dalam penyusunan Rencana
Zonasi Wilayah Peisisir dan Pulau-pulau Kecil. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder
dan data primer. Data sekunder yang dikumpulkan berasal dari instansi terkait, terutama data
yang berupa data spasial dan hasil-hasil pemetaan yang telah dilakukan oleh instansi tersebut.
Data sekunder yang dikumpulkan dari instansi terkait memiliki berbagai macam bentuk dan
format, diantaranya berupa peta analog (hardcopy), peta digital (data digital), dan data
tabular/numerik.

Tabel 4.1. Jenis dan bentuk data sekunder yang dikumpulkan dalam penyusunan
rencana zonasi WP-3-K
No Jenis Data Tipe Data Format Data Contoh Data/Peta
1 Peta Analog Peta Cetakan Hardcopy Peta Hardcopy Rupabumi, Peta Hardcopy
Geologi
2 Data/Peta Data hasil digitasi peta analog Shapefile Data vektor penggunaan lahan, Data vektor garis
Digital pantai
Data hasil konversi data Shapefile Peta kontur ketinggian lahan hasil konversi dari
Data Digital Elevation Model (DEM)
Data Hasil Plotting Shapefile Data titik lokasi sampel pengukuran fisika
GPS/Pengukuran Lapangan perairan
Data Hasil Interpretasi Citra Shapefile Peta penggunaan lahan, peta batas ekosistem
Satelit mangrove
Data Hasil Analisis GIS dan Shapefile Peta Sebaran Terumbu Karang hasil Pemodelan
Pemodelan Matematis Lyzenga, Peta risiko bencana, Peta arah dan
kecepatan arus
3 Data Data numerik (Angka) yang .xls, .dbf Data Jumlah Penduduk Kecamatan X, Data
Tabular/ memiliki informasi Lokasi perubahan luas penggunaan lahan di kawasan
Numerik Pesisir X, Data Numerik Hasil Pengukuran Fisika
Perairan di Laut X, Lokasi Infrastruktur

Dengan adanya keragaman format data dari berbagai instansi tersebut, maka data sekunder
tersebut perlu diseragamkan formatnya menjadi format peta digital, sehingga dapat dilakukan
penilaian kualitas dan kuantitas data sekunder yang ada diperoleh. Penilaian kualitas data
sekunder terkait dengan beberapa kriteria diantaranya skala, akurasi spasial, dan akurasi atribut.

4.1. Pengumpulan Data Sekunder


Pengumpulan data sekunder dilakukan sesuai dengan kebutuhan penyusunan
Rencana Zonasi WP-3-K. Data yang dikumpulkan dari instansi terkait berupa data spasial
dan hasil-hasil pemetaan yang telah dilakukan oleh instansi tersebut. Untuk mendapatkan
data sekunder tersebut, langkah-langkah yang perlu dilakukan adalah sebagai berikut:
1) Menyiapkan daftar data yang dibutuhkan di setiap instansi
2) Mendatangi instansi terkait untuk mendapatkan data sesuai dengan tema
3) Melakukan kompilasi data dan mengklasifikasikan data sesuai tema dan skala
4) Melakukan analisis data untuk menyamakan format data yang berbeda-beda
menjadi format data/peta digital
5) Menyusun peta-peta tematik
6) Melakukan penilaian kualitas dan kuantitas data

17
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Data yang dikumpulkan dari dari berbagai instansi dapat dikategorikan


menjadi peta dasar dan citra satelit, peta dasar dan data tematik. Penjelasan
pengumpulan data untuk penyusunan RZWP-3-K dijabarkan sebagai berikut:

4.1.1. Peta Dasar


Peta dasar merupakan data spasial yang menjadi dasar dalam pemetaan
tematik suatu wilayah. Data spasial dasar terbagi menjadi data terestrial dan
bathimetri.
Tabel 4.2. Pengumpulan Peta Dasar dari Berbagai Instansi untuk RZWP-3-K

PENGUMPULAN DATA SEKUNDER UNTUK PENYUSUNAN RZWP-3-K


KATEGORI BENTUK/ INSTANSI
NO JENIS SKALA/
DATA FORMAT SUMBER DATA PENYEDIA
DATA/PETA RESOLUSI
DATA/PETA DATA
1 Garis Pantai Garis pantai 1 : 250.000 Softcopy & Peta Lingkungan Pantai BIG
1 : 50.000 hardcopy Indonesia
skala 1 : 250.000, dan 1 :
50.000
2 Bathimetri Bathimetri 1 : 250.000 Softcopy & Peta Lingkungan Pantai BIG
1 : 50.000 hardcopy Indonesia skala 1 :
250.000, dan 1 : 50.000 DISHIDROS
Peta Laut skala 1 : TNI AL
250.000, dan 1 : 50.000
3 Batas Wilayah 1 : 250.000 Softcopy & Data Dasar yang BIG
Wilayah Laut Administrasi 1 : 50.000 hardcopy dikeluarkan oleh BIG
Provinsi

4.1.2. Data Tematik


Data spasial tematik merupakan data spasial yang memiliki tema tertentu yang
dibutuhkan sebagai bahan penyusunan peta tematik. Data tematik yang dibutuhkan
dalam penyusunan rencana zonasi wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil terbagi
menjadi data geologi dan geomorfologi, oseanografi; penggunaan lahan, status lahan,
rencana tata ruang wilayah, pemanfaatan wilayah laut, sumberdaya air, ekosistem
pesisir dan sumberdaya ikan, infrastruktur, demografi dan sosial, ekonomi wilayah,
dan risiko bencana dan pencemaran.

18
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Tabel 4.3. Pengumpulan Data Tematik dari Berbagai Instansi


PENGUMPULAN DATA SEKUNDER UNTUK PENYUSUNAN RZWP-3-K
NO KATEGORI DATA SKALA/ BENTUK/FORMAT
JENIS DATA/PETA SUMBER DATA INSTANSI PENYEDIA DATA
RESOLUSI DATA / PETA
1 Oseanografi Oseanografi Fisik: 1 : 250.000 Softcopy Peta oseanografi fisik Dishidros, KKP, LIPI, Instansi
a. Arus 1 : 50.000 skala 1 : 250.000, 1 : 50.000 terkait, Perguruan Tinggi
b.Gelombang
c. Pasang Surut
d.Suhu Permukaan
e. Kecerahan
Oseanografi Kimia 1 : 250.000 Softcopy Peta oseanografi kimia skala Dishidros, KKP, LIPI, Instansi
a. pH 1 : 50.000 1 : 250.000, 1 : 50.000 terkait, Perguruan Tinggi
b. salinitas
Oseanografi Biologi 1 : 250.000 Softcopy Peta oseanografi biologi Dishidros, KKP, LIPI, Instansi
Klorofil 1 : 50.000 skala 1 : 250.000, 1 : 50.000 terkait, Perguruan Tinggi
2 Geologi & Geologi Laut 1 : 250.000 Softcopy & Peta Geologi laut - Pusat Survei Geologi, Kemen
Geomorfologi hardcopy skala 1 : 250.000 ESDM (Walidata)
Laut - P3GL Kementerian ESDM

Dit. Vulkanologi Kementerian


ESDM
Substrat Dasar Laut 1 : 250.000 Softcopy & Peta Geologi & - Pusat Penelitian dan
1 : 50.000 hardcopy geomorfologi dasar laut Pengembangan Geologi Laut
skala 1 : 250.000, dan 1 : Kemen ESDM (Walidata)
50.000
Deposit pasir laut 1 : 250.000 Softcopy & Peta Geologi & geomorfologi
1 : 50.000 hardcopy dasar laut skala 1 : 250.000,
dan 1 : 50.000

3 Ekosistem Pesisir Mangrove 1 : 250.000 Softcopy Peta Mangrove skala 1 : Dit. Konservasi Tanah dan Air

19
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

PENGUMPULAN DATA SEKUNDER UNTUK PENYUSUNAN RZWP-3-K


NO KATEGORI DATA SKALA/ BENTUK/FORMAT
JENIS DATA/PETA SUMBER DATA INSTANSI PENYEDIA DATA
RESOLUSI DATA / PETA
dan Pulau-pulau 1 : 50.000 250.000, 1 : 50.000 KLHK (Walidata), BIG, LIPI, KKP
kecil Terumbu Karang 1 : 250.000 Softcopy Peta Terumbu Karang Pusat Penelitian Oseanografi
1 : 50.000 skala 1 : 250.000, 1 : 50.000, LIPI (Wali data), BIG , KKP

Lamun 1 : 250.000 Softcopy Peta Lamun Pusat Penelitian Oseanografi


1 : 50.000 skala 1 : 250.000, 1 : 50.000, LIPI (Wali data), BIG, KKP

4 Sumberdaya Ikan Pelagis 1 : 250.000 Softcopy Peta Daerah Penangkapan - Pusat Penelitian dan
(Jenis dan 1 : 50.000 Ikan (Fishing Ground) Pelagis Pengembangan Perikanan KKP
Kelimpahan Ikan) & Jenis dan Kelimpahan Ikan (Walidata Sumberdaya)
Pelagis KKP, Instansi terkait
skala 1 : 250.000, 1 : 50.000
Demersal 1 : 250.000 Softcopy Peta Daerah Penangkapan - Pusat Penelitian dan
1 : 50.000 Ikan (Fishing Ground) De- Pengembangan Perikanan KKP
mersal & Jenis dan (Walidata Sumberdaya)
Kelimpahan Ikan Demersal KKP, Instansi terkait
skala 1 : 250.000, 1 : 50.000,
5 pemanfaatan Kawasan Pemanfaatan 1 : 250.000 Softcopy Peta Pemanfaatan Wilayah KKP, Instansi terkait
ruang laut yang Umum (bangunan laut, 1 : 50.000 Perairan/Laut
telah ada transportasi atau utilitas skala 1 : 250.000, 1 : 50.000,
laut, infrastruktur laut,
KJA, Bagan, Fishing
Ground, Pendaratan
Pesawat, pariwisata,
pertambangan,
pemanfaatan masyarakat
hukum adat, tempat suci,
dll)

20
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

PENGUMPULAN DATA SEKUNDER UNTUK PENYUSUNAN RZWP-3-K


NO KATEGORI DATA SKALA/ BENTUK/FORMAT
JENIS DATA/PETA SUMBER DATA INSTANSI PENYEDIA DATA
RESOLUSI DATA / PETA
Kawasan Konservasi atau 1 : 250.000 Softcopy & Peta Kawasan Konservasi KKP, KLHK
Kawasan Lindung Laut 1 : 50.000 hardcopy skala 1 : 250.000, 1 : 50.000
Alur Laut 1 : 250.000 Softcopy & Peta laut skala 1 : 250.000, Kemenhub, Kementerian
1 : 50.000 hardcopy 1 : 50.000, ESDM, KKP, LIPI, Instansi
terkait
Kawasan Strategis 1 : 250.000 Softcopy & Peta KSNT skala 1 : 250.000, KKP, TNI, Kemenhub,
Nasional Tertentu 1 : 50.000 hardcopy 1 : 50.000, Kemenparekraf
6 Dokumen Rencana Induk 1 : 250.000 Softcopy & Dokumen perencanaan atau Kementerian/ Lembaga terkait,
Perencanaan Pariwisata, Rencana 1 : 50.000 hardcopy peta skala 1 : 250.000, 1 : SKPD
Pemanfaatan Induk Pelabuhan, dan 50.000,
Perairan Pesisir lain-lain
7 Sosial, Ekonomi Data Kependudukan dan 1 : 250.000 Softcopy & Peta Kependudukan dan - Direktorat Diseminasi
dan Budaya Sosial: 1 : 50.000 hardcopy Sosial Statistik, BPS (Walidata De-
- Populasi:jumlah dan skala 1 : 250.000, 1 : 50.000, mografi)
kepadatan (time series
10 tahun) Peta RTRW, Data BPS (time
- Trend pertumbuhan series)
populasi : tingkat
kelahiran dan kematian
(time series 10 tahun)
- Pendidikan umum
- Mata Pencaharian
- Agama dan Budaya
- Tingkat akses dan
keterlayanan fasilitas
publik: listrik, air bersih,
sanitasi, kesehatan,
pendidikan
- Lembaga Masyarakat,

21
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

PENGUMPULAN DATA SEKUNDER UNTUK PENYUSUNAN RZWP-3-K


NO KATEGORI DATA SKALA/ BENTUK/FORMAT
JENIS DATA/PETA SUMBER DATA INSTANSI PENYEDIA DATA
RESOLUSI DATA / PETA
LSM
Masyarakat Hukum adat 1 : 250.000 Softcopy & Peta Kependudukan dan - Dit. Survei dan Pemetaan
1 : 50.000 hardcopy Sosial Tematik, Kemen ATR (Walida-
skala 1 : 250.000, 1 : 50.000, ta Wilayah Adat)
Peta RTRW,
Wilayah tangkapan tradi- 1 : 250.000 Softcopy & Peta tangkapan nelayan KKP, DKP, Bappeda, Instansi
sional 1 : 50.000 hardcopy tradisional terkait
Tingkat perekonomian 1 : 250.000 Softcopy & Peta perekonomian wilayah Peta RTRW, Data statistik BPS,
wilayah: 1 : 50.000 hardcopy skala 1 : 250.000, 1 : 50.000, Disnaker, Dinas pariwisata,
 Pendapatan perkapita 1 : 25.000 Dinas Perikanan (time series)
Prov
 Pertumbuhan
Pendapatan perkapita
provinsi
 Angkatan kerja dan
tingkat pengangguran
per kabupaten
 Tenaga kerja di bidang
perikanan, pertanian,
kehutanan, dll
 Populasi dan kepadatan
nelayan
 Pendapatan di sektor
perikanan
 Produksi perikanan dan
sektor -sektor lain
 Potensi sumberdaya
perikanan dan kelautan
 Jumlah wisatawan

22
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

PENGUMPULAN DATA SEKUNDER UNTUK PENYUSUNAN RZWP-3-K


NO KATEGORI DATA SKALA/ BENTUK/FORMAT
JENIS DATA/PETA SUMBER DATA INSTANSI PENYEDIA DATA
RESOLUSI DATA / PETA
 Pendapatan rata-rata dan
pengeluaran per sektor
8 Risiko Bencana Peta sebaran daerah 1 : 250.000 Softcopy & Peta sebaran daerah rawan - PPIT BIG (Walidata Multi Ra-
rawan dan risiko bencana 1 : 50.000 hardcopy dan risiko bencana wan Bencana)
skala 1 : 250.000, 1 : 50.000, - Dit. Pengurangan Risiko
Bencana BNPB (Walidata Risi-
ko Bencana)
- Pusat Vulkanologi dan Miti-
gasi Bencana Geologi Kemen
ESDM (Walidata Rencana
Bencana Geologis)

23
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

4.2. Pengolahan Data Sekunder


Data sekunder yang dikumpulkan dari berbagai instansi terkait dapat berupa peta
analog (hardcopy), peta digital (data digital), dan data tabular/numerik. Sebagai contoh,
rincian data sekunder dari instansi terkait seperti yang terlihat pada tabel dibawah. Format
yang beragam tersebut perlu dikonversi terlebih dahulu menjadi data spasial atau peta yang
memiliki informasi keruangan. Apabila tidak memenuhi persyaratan secara kualitas dan
tidak sesuai dengan kebutuhan penyusunan RZWP-3-K, maka perlu dilakukan
pengumpulan data primer melalui survei lapangan.
Pengolahan yang dilakukan terhadap hasil pengumpulan data sekunder merupakan
upaya mengolah data menjadi data yang memiliki informasi keruangan, tetapi tidak
mengubah substansi data. Pengolahan yang dilakukan berbeda-beda, tergantung jenis data
yang dikumpulkan dari berbagai instansi terkait, misalnya peta analog, data/peta digital,
atau data tabular/numerik.
Tabel 4.4. Metode Pengolahan Data Sekunder
Format Metode Pengolahan
No Jenis Data Tipe Data Contoh Data/Peta
Data Data/Peta
1 Peta Peta Cetakan Hardcopy Peta Hardcopy Rupabumi, Konversi data analog ke
Analog Peta Hardcopy Geologi digital (scanning), digitasi,
dan plotting ke peta
dasar
2 Data/Peta Data hasil Shapefile Data vektor penggunaan Digitasi dan plotting ke
Digital digitasi peta lahan, Data vektor garis peta dasar
analog pantai
Data hasil Shapefile Peta kontur ketinggian Konversi dari data raster
konversi data lahan hasil konversi dari ke data vektor
Data Digital Elevation (Vectorization) dan
Model (DEM) plotting ke peta dasar
Data Hasil Shapefile Data titik lokasi sampel Standardisasi format dan
Plotting pengukuran fisika kelengkapan data,
GPS/Pengukur- perairan Interpolasi dan plotting
an Lapangan ke peta dasar
Data Hasil Shapefile Peta batas ekosistem Standardisasi format dan
Interpretasi mangrove kelengkapan data dan
Citra Satelit plotting ke peta dasar
Data Hasil Shapefile Peta Sebaran Terumbu Standardisasi format dan
Analisis GIS dan Karang hasil Pemodelan kelengkapan data dan
Pemodelan Lyzenga, Peta risiko plotting ke peta dasar
Matematis bencana, Peta arah dan
kecepatan arus
3 Data Data numerik Xls, Dbf Data Jumlah Penduduk Analisis Data dan Plotting
Tabular/ (Angka) yang Kecamatan X, Data ke peta dasar
Numerik memiliki perubahan luas
informasi Lokasi penggunaan lahan di
kawasan Pesisir X, Data
Numerik Hasil
Pengukuran Fisika
Perairan di Laut X, Lokasi
Infrastruktur

24
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Rincian metode dan langkah-langkah pengolahan terhadap data-data sekunder adalah


sebagai berikut:
1) Peta Analog
Peta analog merupakan peta-peta tematik dari instansi terkait yang berupa peta
cetakan dalam ukuran tertentu sesuai dengan skala petanya. Pengolahan dilakukan
dengan cara sebagai berikut:

Scanning Input Proyeksi


dan Datum Digitasi
Peta Analog Hasil: raster
Hasil: raster Peta vektor
(.jpeg,.jpg,.tiff)
terkoreksi

Pemeriksaan Kualitas
Data Entry Data Atribut Perbaikan Hasil
Digitasi
Skala Data tematik
Akurasi Spasial Peta vektor terkoreksi
Akurasi Atribut

2) Data/Peta Digital
Data atau peta digital merupakan data yang berbentuk softfile yang diperoleh dari
berbagai sumber data. Rincian pengolahan data atau peta digital adalah sebagai
berikut:
a. Data Digital Hasil Plotting/Pengukuran Lapangan

Pemeriksaan Pembangunan Plotting


Data Plotting Proyeksi dan
GPS Topologi Peta Dasar
Datum

Pemeriksaan Kualitas
Data Peta Tematik Entry Data Atribut
Skala dan Atributnya
Akurasi Spasial
Akurasi Atribut

25
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

b. Data Hasil pengolahan GIS dan Pemodelan Matematis

Pemeriksaan Perbaikan
Pembangunan Digitasi dan
Data Spasial Proyeksi dan Topologi
Digitasi Datum Topologi

Pemeriksaan Kualitas
Data
Data Tematik Entry Data Atribut
Skala
Akurasi Spasial
Akurasi Atribut

c. Data Hasil Digitasi

Pemeriksaan Plotting Peta Pembangunan


Data Hasil Proyeksi dan Dasar Topologi
Digitasi Datum

Pemeriksaan Kualitas
Data
Skala Data Tematik Entry Data Atribut
Akurasi Spasial
Akurasi Atribut

Peta Tematik

d. Data Hasil Konversi Data

Pemeriksaan Perbaikan
Pembangunan Digitasi dan
Data Hasil Proyeksi dan Topologi Topologi
Konversi Raster Datum
ke Vektor

Pemeriksaan Kualitas
Data Data Tematik Entry Data Atribut
Skala
Akurasi Spasial
Akurasi Atribut

Peta Tematik

26
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

3) Data Tabular/Numerik
Data numerik (angka) merupakan data yang berbentuk angka-angka atau deskripsi
dari obyek atau fenomena tertentu. Data numerik yang memiliki informasi lokasi
(lokasi relative dan lokasi absolut) dapat dikonversi menjadi data spasial melalui
plotting ke dalam peta dasar. Sebagai contoh lokasi relative adalah : data wilayah
administrasi dan data Jumlah Penduduk Kecamatan X. Contoh lokasi absolut
adalah : Data Numerik Hasil Pengukuran Fisika Perairan di Laut X pada koordi-
nat x,y dan Data Lokasi Infrastruktur pada koordinat x,y.
Klasifikasi Entry Data Pem-
Data Tabular/ dan Pen- Atribut dan bangunan
Numerik golahan Da- Spasial ke Topologi
ta Peta Dasar

Pemeriksaan Kualitas
Data
Peta Tematik Data Tematik
Skala
Akurasi Spasial
Akurasi Atribut

4.3. Pengumpulan Data Primer (Survey Lapangan)


Pengumpulan data primer wajib dilakukan oleh Perangkat Daerah yang
menyelenggarakan urusan di bidang kelautan dan perikanan apabila data sekunder yang
dikumpulkan belum memenuhi standar kualitas dan kuantitas. Standar kualitas data
meliputi (1) skala, (2) akurasi spasial dan (3) akurasi atribut. Standar kuantitas data meliputi
data (1) garis pantai, (2) bathimetri, (3) batas wilayah laut, (4) oseanografi, (5) geomorfologi
dan geologi laut, (6) ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil, (7) sumber daya ikan pelagis
dan demersal, (8) pemanfaatan ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil yang telah ada,
(9) dokumen perencanaan pemanfaatan ruang di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil, (10)
sosial, ekonomi, dan budaya, dan (11) risiko bencana dan pencemaran.
4.3.1. Pengolahan Data Pra Survei
Sebelum pelaksanaan pengumpulan data primer, terlebih dahulu dilakukan
pengolahan data citra satelit sebagai bahan acuan survei lapangan. Pengolahan data
citra satelit dilakukan untuk peta-peta tematik tertentu, antara lain oseanografi (suhu,
klorofil), ekosistem pesisir (terumbu karang, lamun, mangrove), dan sumberdaya
ikan pelagis.
A. Pengolahan Citra Satelit
Tahap pengolahan awal citra satelit (image preprocessing) dilakukan untuk
memperoleh peta tematik tentatif. Pengolahan dilakukan dengan cara memper-
baiki data citra asli (raw data) menjadi citra satelit yang siap untuk diinterpretasi.
Pekerjaan yang dilakukan meliputi perbaikan kesalahan akibat hamburan partikel
di atmosfer yang terekam oleh citra satelit (radiometric correction), perbaikan kesala-
han posisi perekaman citra satelit terhadap referensi bumi (geometric correction) dan
penajaman obyek pada citra melalui perentangan nilai spektral citra.

Koreksi Radiometrik

27
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Koreksi radiometrik dilakukan untuk menghilangkan kesalahan radiometrik, yaitu


kesalahan yang disebabkan oleh adanya pantulan balik dari partikel-partikel di at-
mosfer yang ikut terekam oleh detektor satelit, yang mengakibatkan terjadinya
penambahan nilai piksel obyek tertentu. Koreksi radiometrik dilakukan dengan
cara memperbaiki nilai spektral citra, yang pada prinsipnya adalah menghilangkan
penambahan tingkat kecerahan piksel akibat hamburan atmosfer.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penyesuaian histo-
gram. Cara yang dilakukan dalam metode ini adalah dengan cara mengurangi se-
luruh nilai piksel citra dengan nilai kecerahan dari hamburan atmosfer. Nilai piksel
citra dan besarnya nilai kecerahan akibat hamburan atmosfer dapat diketahui me-
lalui histogram citra atau melalui perhitungan statistik citra.
Koreksi Geometrik
Koreksi geometrik yang paling mendasar adalah penempatan kembali posisi piksel
sedemikian rupa sehingga dihasilkan gambaran obyek yang sesuai dengan kondisi
sebenarnya di lapangan atau pada peta topografi. Pada koreksi geometrik terjadi
pengalihan posisi (relokasi) seluruh piksel pada citra sehingga membentuk
konfigurasi piksel baru yang dipersepsikan sebagai citra.
Koreksi geometrik ini dilakukan dengan menggunakan rujukan titik-titik tertentu
pada peta (peta topografi) yang mempunyai posisi kenampakan yang sama dengan
titik-titik yang ada pada citra. Pasangan titik-titik tersebut kemudian digunakan
untuk membangun fungsi matematis yang menyatakan hubungan posisi
sembarang titik pada citra dengan titik yang sama pada peta. Hasilnya adalah citra
digital yang memiliki koordinat baru dan konfigurasi piksel yang baru. Perubahan
posisi piksel ini secara otomatis menyebabkan perubahan nilai spektral dan
menyebabkan citra digital memiliki kesalahan radiometrik kembali, sehingga perlu
dilakukan penataan ulang piksel-piksel yang berubah tersebut. Metode yang
diterapkan untuk mengembalikan posisi piksel-piksel citra digital adalah
interpolasi nilai piksel citra atau disebut resampling atau penempatan kembali
posisi piksel-piksel yang berubah tersebut. Resampling yang diterapkan adalah
interpolasi tetangga terdekat atau nearest neighbour.
Disamping jumlah titik-titik ikat, ketelitian koreksi geometrik juga dipengaruhi
oleh besarnya nilai kesalahan akibat pergeseran letak pada waktu pengambilan
titik-titik ikat tersebut . Kesalahan ini dinyatakan dalam sigma (Σ) atau RMS (Root
Mean Square Error). Nilai RMS harus sekecil mungkin untuk mendapatkan
ketelitian geometrik yang akurat.
Penajaman Citra
Penajaman citra yang lazim digunakan ada dua, yakni ekualisasi histogram dan
perentangan linear. Teknik ekualisasi histogram akan memberikan efek kontras
yang tajam (kontras maksimum) pada citra, sehingga perbedaan antara obyek yang
satu dengan obyek lainnya akan lebih jelas. Teknik ini lebih rumit dari
perentangan linear karena menggunakan hitungan statistik.
Perentangan linear baik untuk mempertajam kenampakan obyek tertentu yang
terwakili oleh histogram. Teknik ini dapat dilakukan secara interaktif dengan
melihat distribusi nilai citra asli (nilai maksimum dan minimum), kemudian nilai
minimum ditarik ke titik nol dan nilai maksimum ditarik ke titik 255 (untuk citra
dengan resolusi radiometric 8-bit). Untuk citra multispektral, perentangan
dilakukan terhadap band merah, hijau dan biru dalam komposisi warna RGB.
Metode perentangan ini sangat bermanfaat untuk kajian terumbu karang,

28
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

pengenalan obyek secara visual maupun penentuan titik referensi lapangan pada
citra resolusi tinggi. Secara teknis penajaman kontras ini dapat dilakukan dengan
software GIS.
B. Interpretasi Citra
Interpretasi citra dilakukan untuk memperoleh peta tematik tentatif yang dil-
akukan melalui analisis citra satelit dengan metode klasifikasi tak terbimbing (un-
supervised classification) dan klasifikasi terbimbing (supervised classification). Klasifikasi
tak terbimbing dilakukan dengan cara mengklasifikasikan piksel ke dalam
sejumlah kelas yang memiliki pola atau ciri yang sama. Untuk klasfikasi terbimb-
ing dilakukan dengan cara Digitasi on screen dengan menginterpretasi pada citra
penginderaan jauh secara manual pada layar monitor dengan pendekatan unsur
rona/warna, bentuk, ukuran, tekstur, pola, bayangan, situs, asosiasi, dan konver-
gensi bukti.

4.3.2. Metode Pengambilan Data Primer


Metode pengambilan data primer dilakukan pada data-data yang memerlukan validasi
ataupun data yang tidak dapat diperoleh dari data sekunder. Metode pengambilan
data yang digunakan berbeda-beda disesuaikan dengan jenis data yang dihasilkan
dengan menggunakan standar yang telah ditentukan.
A. Bathimetri
Metode Pengukuran Bathimetri
Pengumpulan data bathimetri dimaksudkan sebagai data dasar dalam menganalisis
kedalaman perairan laut. Untuk mendapatkan informasi bathimetri digunakan
metode pemeruman, dengan menggunakan alat echosounder yang terintegrasi
dengan GPS. Alat tersebut memancarkan gelombang suara secara vertikal ke da-
sar perairan dan dipantulkan kembali ke echosounder melalui jalur-jalur yang telah
direncanakan pada peta pre plot digital, yang dapat terbaca di dalam komputer.
Pengukuran kedalaman muka air laut dengan alat echosounder dilakukan dari atas
perahu motor, dengan kecepatan kapal maksimum 5 (lima) knot (2,5 m/detik)
dan kondisi kapal stabil. Koordinat titik-titik pengukuran didapat dengan
menggunakan alat GPS (Global Positioning System) yang telah terintegrasi dengan
echosounder.
Pada pemetaan skala 1: 250.000, lokasi ditentukan dengan menggunakan metode
grid pengukuran 2.500 meter yaitu dengan perekaman data bathimetri setiap satu
detik. Misal: lebar tegak lurus ke arah laut (ke selatan) 12 mil dan sejajar pantai
sepanjang garis pantai (lihat gambar 2.3). Pada pemetaan skala 1:50.000, lokasi
ditentukan dengan menggunakan metode grid pengukuran 500 meter yaitu
dengan perekaman data bathimetri setiap satu detik. Misal: lebar tegak lurus ke
arah laut (ke selatan) 4 mil/kedalaman maksimum 100 m dan sejajar pantai sepan-
jang garis pantai
Data kedalaman yang dihasilkan dari hasil survei bathimetri dikoreksi dengan titik
referensi Mean Sea Level (MSL) yang diperoleh dari analisis data elevasi muka air
saat pengukuran. Jadwal pengukuran/pencatatan elevasi pasang surut (pasut) dil-
akukan bersamaan dengan jadwal pengukuran bathimetri. Pengukuran Kedalaman
perairan yang sebenarnya dan garis kontur dasar laut diperoleh dengan superpo-
sisi (memadukan) data pengukuran bathimetri dengan selisih antara elevasi muka
air laut saat pengukuran bathimetri dengan MSL yang telah diikat dengan
referensi muka bumi.

29
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Pengukuran bathimetri mengacu pada Standard IHO 44, LPI SNI 19-6727-2002
skala 1 : 250.000, IHO S-57. Prinsip kerja dari pemeruman dengan menggunakan
echo-sounder diterangkan oleh gambar-gambar berikut ini:

Gambar 4.1. Ilustrasi Proses Survei Bathimetri

5
2

Keterangan :

1. GPS Satellites
2. Known Station (BM)
3. Sounding Boat + Mobile
DGPS + Echosounder
4. Tide Observation/Tide Pole

Gambar 4.2 Prinsip Pengukuran Kedalaman Laut

30
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

4 mil atau sampai kedalaman 100 m apabila sebelum


jarak 4 mil telah dijumpai kedalaman >100 m

Manuver kapal peta skala 1 : 50.000


 jarak 500 km, tegak lurus garis pantai

Daratan

Keterangan :
Lajur Pemeruman
Perairan Laut

12 mil

Manuver kapal peta skala 1 : 250.000


 jarak 2,5 km, tegak lurus garis pantai

Daratan

Keterangan :
Lajur Pemeruman
Perairan Laut

Gambar 4.3. Contoh Rencana Jalur Pengukuran Kedalaman Laut


Pengolahan Data Hasil Survei Bathimetri
Pengolahan data hasil survei bathimetri dilakukan terhadap titik-titik kedalaman
yang telah diukur di lapangan. Titik-titik yang memiliki informasi kedalaman dan
koordinat tersebut kemudian diinterpolasi dengan metode Inverse Distance Weighted
(IDW). Interpolasi dapat dilakukan dengan bantuan software GIS sehingga
menghasilkan garis kontur kedalaman untuk wilayah perairan yang disurvei. Garis
kontur kedalaman menunjukkan lokasi-lokasi yang memiliki nilai kedalaman yang

31
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

sama (isobath). Garis kontur kedalaman diolah lebih lanjut melalui GIS dan
diklasifikasikan sesuai kelas kedalaman untuk skala 1 : 250.000 dan skala 1 :
50.000.

Gambar 4.4. Contoh Ilustrasi Hasil Pengolahan Data Bathimetri di procinsi


Sulawesi Utara

B. Data Geomorfologi dan Geologi Laut


1. Substrat Dasar Laut
Metode Pengambilan Sampel Substrat Dasar Laut
Data geologi dan geomorfologi laut yang memungkinkan untuk disurvei adalah
jenis substrat dasar laut. Jenis substrat dasar laut yang mungkin ditemukan
misalnya pecahan karang, pasir, lumpur, lumpur berpasir dan sebagainya.
Untuk mendeteksi substrat dasar laut, dapat dilakukan dengan metode
penginderaan jauh dan survei lapangan. Melalui pendekatan penginderaan
jauh untuk wilayah tertentu yang memiliki perairan dengan tingkat kecerahan
tinggi, substrat dasar laut dapat diidentifikasi menggunakan citra satelit yang
memiliki kemampuan menembus air sampai kedalaman tertentu (<20 m).
Identifikasi dilakukan menggunakan pendekatan kunci interpretasi, diantaranya

32
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

rona, warna, pola, bentuk, tekstur, situs dan asosiasi. Hasil interpretasi citra
penginderaan jauh berupa poligon substrat dasar laut tentatif. Berdasarkan
poligon substrat dasar laut, dapat ditentukan lokasi pengambilan sampel di
lapangan. Untuk perairan dengan kedalaman di atas 20 meter perlu dilakukan
survei lapangan secara langsung karena umumnya citra satelit tidak mampu
mendeteksi obyek perairan dasar laut pada kedalaman lebih dari 20 meter.
Pada pemetaan skala 1:250.000 dan 1:50.000, jumlah sampel substrat dasar laut
yang diambil di lapangan minimal 10 titik sampai dengan 4 mil atau sampai
kedalaman 100 m apabila sebelum jarak 4 mil telah dijumpai kedalaman lebih
dari 100 m. Peralatan yang digunakan berupa peralatan sedimen dasar laut
(Grab sampler). Grab sampler diturunkan ke dasar laut dalam keadaan
terbuka menggunakan tali. Setelah sampai dasar laut, alat tersebut akan
menutup sambil menggaruk sedimen ketika ditarik ke atas. Pada saat
pengambilan sampel substrat dasar laut dilakukan pengukuran posisi
menggunakan GPS.

Gambar 4.5. Proses pengambilan sampel substrat dasar laut


Pengolahan Data Substrat Dasar Laut
Sampel substrat dasar laut dianalisis di laboratorium dan besar butirnya diukur
menggunakan metode Buchanan (1984, dalam Holme and Mc Intyre (1984)).
Analisis ukuran butir dilakukan menggunakan kurva distribusi frekuensi uku-
ran butir, sehingga dapat diketahui ukuran butir rata-rata maupun persentase
yang lain.

Gambar 4.6. Sistem Grafik Trianguler Untuk Proses Penamaan Sampel


Substrat (Sumber: Buchanan, 1984 Dalam Holme Dan Mc Intyre, 1984)

33
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Tabel 4.5. Skala ASTM (kisaran ukuran butir)

Jenis Kisaran Ukuran Butir Partikel (mm)


Bongkah > 256
Berangkal 64 – 256
Kerakal 4 – 64
Kerikil 2 – 4
Pasir sangat kasar 1 – 2
Pasir kasar 0,5 – 1,0
Pasir sedang 0,25 – 0,50
Pasir halus 0,125 – 0,250
Pasir sangat halus 0,063 – 0,125
Lanau 0,0039 – 0,0630
Lempung < 0,0039
Sumber : Dacombe dan Gardiner, 1983
Hasil analisis laboratorium dan perhitungan ukuran butir tersebut kemudian
dikonversi menjadi data GIS sehingga menghasilkan data titik dalam format
shapefile yang memiliki informasi jenis bongkah dan koordinat geografis. Data
titik shapefile kemudian dianalisis dengan cara interpolasi dengan software GIS
untuk mengetahui lokasi-lokasi yang memiliki sebaran substrat yang sama di
seluruh dasar perairan. Hasilnya berupa data sebaran substrat dasar laut.

2. Deposit Pasir Laut


Deposit pasir laut merupakan data tematik pada penyusunan RWP-3-K yang
berisi tentang informasi sebaran, volume dan besar butir pasir laut. Informasi
tersebut digunakan untuk menentukan alokasi ruang, khususnya untuk
pertambangan dan reklamasi. Peruntukan yang tidak sesuai, khususnya pe-
runtukan pertambangan pasir laut, dapat menyebabkan dampak negatif untuk
perairan.
Metode Perolehan Data Deposit Pasir Laut
Metode yang digunakan untuk mendapatkan informasi deposit pasir laut
adalah melalui pengeboran langsung dengan bagan sebagai tumpuan
pengeboran (untuk kedalaman kurang dari 10 meter), uji seismik pantul
dangkal (untuk kedalaman lebih dari 10 meter), interpretasi lapisan batuan hasil
survei, masstube.
Metode Pengolahan Data Deposit Pasir Laut
Analisis sampel substrat menghasilkan informasi jenis substrat beserta besar
butir hingga informasi ketebalan lapisan. Ketebalan lapisan dan luasan tersebut
digunakan untuk pengukuran volume pasir laut.

34
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.7. Contoh Peta Pasir Laut Provinsi Kepulauan Riau

C. Data Oseanografi
1. Data Pasang Surut
Metode Pengukuran Pasang Surut
Pengukuran pasang surut dilakukan untuk mengetahui karakteristik pasang
surut, sehingga dapat diketahui elevasi muka air laut, tipe pasang surut dan
komponen pasang surutnya. Data pasang surut yang dikumpulkan diharapkan
dapat menjelaskan: tipe pasang surut, Mean Sea level (MSL), Mean High
Water Level (MHWL), Mean Low Water Level (MLWL), Mean Lowest Low
Water Level (MLLWL) dan tunggang air (maksimum, minimum dan rata rata).
Metode yang digunakan dalam pengukuran pasang surut meliputi:
1) Metode langsung
Merupakan metode pengukuran pasut pada lokasi secara langsung
(misalnya menggunakan papan berskala, meteran, serta tide gauge outomat-
ic).
2) Metode tidak langsung
Merupakan metode pengukuran gelombang laut melalui informasi atau
perekaman dari citra satelit (satelit altimetry)
Pada pengukuran pasut dengan metode langsung, bila belum ada stasiun
pengamatan, maka penentuan lokasi pengukuran pasut stabil dan terlindung
dari ombak besar, angin, lalu lintas kapal/perahu, arus kuat, serta titik pasut
diikatkan pada Bench Mark (BM) yang permanen yang stabil, dengan
kedalaman minimum air laut pada stasiun pasut minimum satu meter di
bawah permukaan air laut terendah. Kriteria lokasi pengamatan pasut adalah:
1) Tersedianya informasi awal tentang kondisi lokasi, diutamakan pada lo-
kasi yang sudah ada stasiun pengamatan pasang - surut dari Dishidros
TNI - AL atau BIG, jika tidak ada informasi tersebut maka ditentukan
pada lokasi yang aman, mudah pemantauan, serta tidak terganggu

35
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

2) Lokasi stasiun pasut stabil dan terlindung dari ombak besar, angin, lalu
lintas kapal/perahu, serta arus kuat
3) Kedalaman minimum air laut pada stasiun pasut minimum satu meter di
bawah permukaan air laut terendah
4) Stasiun pasut tidak terganggu selama pengamatan berlangsung
5) Titik pasut diikatkan pada BM yang permanen yang stabil
Pasang surut diukur dengan menggunakan peralatan papan berskala atau tide
recorder selama 7 hari 7 malam pada 2 stasiun pengamatan. Papan berskala atau
tide recorder harus dipasang dengan posisi terendam air dan tegak tidak bergerak,
serta kedudukan tide recorder yang tidak menghalangi alur nelayan. Setelah
dilakukan pengukuran harus diikat dengan Bench Mark terdekat (kalau ada).
Jika tidak ada maka harus dibuatkan Bench Mark.

Gambar 4.8. Ilustrasi Pengukuran Pasang Surut Menggunakan Papan


Berskala (Palem Pasut)

Gambar 4.9. Ilustrasi Pengukuran Pasang Surut Menggunakan Tide Gauge Au-
tomatic

Gambar 4.10. Ilustrasi Pengikatan Alat Pengukur Pasut Pada Titik Ikat Bench
Mark (BM)

36
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Metode Analisis Data Pasang Surut


Setelah memperoleh data dari pengukuran di lapangan, dilakukan analisis
sebagai berikut:
a) Grafik Plot
Tujuan dari penyajian data dengan ini adalah untuk mengetahui tinggi ele-
vasi muka air (pasut) terhadap waktu (selama waktu) pengukuran.

Spring tide

Neap tide

Gambar 4.11. Contoh Grafik Pengamatan Pasang Surut Selama 30 Hari

b) Analisis Harmonik Pasut


Pengolahan data pasang surut dilakukan dengan menggunakan metode ad-
miralty. Metode ini bertujuan untuk mengetahui komponen pasang surut,
sehingga dapat diketahui tipe pasut dan elevasi muka air acuan, serta elevasi
penting lainnya.
Tipe pasang surut dapat dihitung menggunakan formula sebagai berikut:
𝐴𝐾1 + 𝐴𝑂1
𝐹=
𝐴𝑀2 + 𝐴𝑆2
dimana :
F = Konstanta pasut
AK1 = Amplitudo dari anak gelombang pasut harian rata-rata yang
dipengaruhi oleh deklinasi bulan dan matahari
AO1 = Amplitudo dari anak gelombang pasut harian tunggal yang
dipengaruhi oleh deklinasi matahari
AM2 = Amplitudo dari anak gelombang pasut harian ganda rata-rata
yang dipengaruhi oleh bulan
AS2 = Amplitudo dari anak gelombang pasut harian ganda rata-rata
yang dipengaruhi oleh matahari
Apabila F memiliki nilai :
0 < F < 0,25 : Sifat Pasut Harian Ganda Murni
0,25 < F < 1,50 : Sifat Pasut Campuran Condong Harian Ganda
1,50 < F < 3,0 : Sifat Pasut Campuran Condong Harian Tunggal
3,0 < F : Sifat Pasut Harian Tunggal Murni

37
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.12. Tipe pasut (Triatmojo, 1998)

Guna memastikan bahwa hasil pengolahan data pasang surut dengan


metode admiralty mempunyai tingkat akurasi yang cukup baik, maka kom-
ponen-komponen hasil dari pengolahan data pasut digunakan untuk mem-
prediksikan lagi kejadian pasang surut pada waktu pengamatan dengan
menggunakan metode least square.
Jika hasil prediksi dan pengamatan data lapangan dengan model metode
least square mempunyai pola yang berimpit (hampir sama), maka hasil
peramalan tersebut mendekati kondisi sebenarnya dilapangan, seperti
gambar berikut:

Gambar 4.13. Contoh verifikasi data pasang surut lapangan dan hasil
peramalan dengan model Least Square

38
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

2. Data Gelombang
Metode Pengukuran Gelombang
Pengukuran gelombang dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteris-
tik dan parameter gelombang yang meliputi tinggi dan periode. Periode ge-
lombang (T) diukur berdasarkan waktu tempuh antara satu puncak gelombang
dan puncak gelombang berikutnya, sedangkan tinggi gelombang (H)
merupakan jarak antara puncak gelombang dan lembah gelombang yang ter-
bentuk.
Metode pengukuran gelombang dapat dilakukan dengan metode langsung dan
atau tidak langsung. Metode pengukuran secara langsung adalah menggunakan
papan berskala, meteran dan wave rider /wave recorder), sedangkan metode
tidak langsung dapat dilakukan melalui informasi atau perekaman dari citra
satelit.
Penentuan lokasi pengukuran gelombang dapat dilakukan menggunakan
metode non random sampling dengan teknik area sampel, yaitu penentuan lo-
kasi dengan pertimbangan dapat mewakili karakteristik wilayah perairan
setempat. Karakteristik wilayah dalam penentuan lokasi pengukuran gelom-
bang sebagai berikut:
a) Karakteristik Wilayah Pantai dan Lepas Pantai
Pertimbangan yang digunakan untuk pengukuran gelombang di pantai ada-
lah untuk mengetahui karakteristik gelombang di dekat pantai (near shore).
Pada lokasi di dekat pantai, karakteristik gelombang sangat dipengaruhi
oleh proses deformasi gelombang akibat refraksi dan difraksi gelombang
yang dipengaruhi oleh perubahan kedalaman (pendangkalan), adanya
bangunan pantai, pulau-pulau kecil, maupun pengaruh lainnya. Sedangkan
pengukuran gelombang di lepas pantai (off shore) bertujuan untuk
mengetahui karakteristik gelombang di lepas pantai.
b) Karakteristik Wilayah Teluk dan Tanjung
Pertimbangan yang digunakan untuk mengukur gelombang di dalam teluk
adalah untuk mengetahui karakteristik gelombang di dalam teluk, sedangkan
lokasi di luar teluk untuk karakteristik gelombang di luar teluk. Fenomena
yang terjadi di daerah teluk didominasi oleh proses refraksi gelombang (di-
vergensi gelombang) dan cenderung mempunyai tinggi ge-lombang yang
relatif lebih tenang. Oleh karena itu, karakteristik gelombang di dalam teluk
berbeda dengan gelombang di daerah di luar teluk. Sedangkan untuk daerah
tanjung juga mempunyai karakteristik gelombang berbeda yang disebabkan
oleh refraksi gelombang (konvergensi gelombang).

39
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.14. Contoh Penentuan Lokasi Survei Gelombang


Pengukuran gelombang di perairan laut dilakukan minimal selama 3 x 24
jam dengan interval waktu pencatatan antara 10-60 menit. Pengukuran
sebaiknya dilakukan pada saat kondisi pasang surut pada fase spring tide
(pasang surut di saat bulan purnama atau bulan mati), hal ini untuk mem-
peroleh hasil pengukuran gelombang dengan kondisi pasang surut dengan
kisaran yang besar.

2 1

Keterangan Gambar :
1. Persiapan Pemasangan Wave Recorder di
atas kapal
2. Instalasi Deploy Wave Recorder
3. Penyelam untuk membantu pemasangan
wave recorder di dasar perairan

Gambar 4.15. Ilustrasi alat dan proses pengukuran gelombang

40
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Data tinggi dan periode gelombang hasil pengukuran dapat dilihat pada
gambar berikut:

Gambar 4.16. Data Tinggi dan Periode Gelombang hasil pengukuran tang-
gal 8 September 2015 – 14 September 2015 di kab. Natuna, prov. Kepu-
lauan Riau

Metode Pengolahan Data Gelombang


 Penentuan Gelombang Representatif
Data hasil pengamatan gelombang dianalisis menggunakan metode
penentuan gelombang representatif sebagai berikut:

H1 + H 2 + ... + H N T1 + T2 + ... + TN
Hs = Ts =
n n

dimana : n = 33,3% x Jumlah data


Nilai Hs dihitung dari 33,3% kejadian tinggi gelombang tertinggi,
sedangkan nilai Ts dihitung dari 33,3% kejadian periode gelombang
terbesar. Guna mengetahui kondisi gelombang pada berbagai musim,
gelombang dapat diprediksi berdasarkan data angin dengan
mempertimbangkan panjang fetch, kecepatan dan arah angin. Data angin
dapat diperoleh dari stasiun Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika
terdekat.
 Perhitungan Parameter Gelombang
Data parameter gelombang yang dianalisis, meliputi frekuensi gelombang,
panjang gelombang, bilangan gelombang, kecepatan gelombang, tinggi dan
kedalaman gelombang pecah, koefisien refraksi, koefisien defraksi dan
koefisien pendangkalan. Data parameter gelombang salah satunya dapat
digunakan untuk menentukan kedalaman relatif.
Kedalaman relatif adalah perbandingan antara kedalaman air dan panjang
gelombang (Yuwono, 1982). Berdasarkan data kedalaman relatif (d/L)
dapat dilakukan perhitungan klasifikasi gelombang yaitu:

41
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

 Gelombang di laut dangkal jika d/L < 0,05


Apabila nilai kedalaman dibanding panjang gelombang suatu perairan
kurang dari 0,05 maka disebut sebagai gelombang perairan dangkal atau
gelombang panjang.
 Gelombang di laut transisi jika 0,05 < d/L < 0,5
Apabila nilai kedalaman dibanding panjang gelombang suatu perairan
berada diantara 0,05 sampai 0,5 maka disebut sebagai gelombang
perairan menengah.
 Gelombang di laut dalam jika d/L > 0,5
Apabila nilai kedalaman dibanding panjang gelombang suatu perairan
lebih besar dari 0,5 maka disebut gelombang perairan dalam.
Dimana d adalah kedalaman laut dan L adalah panjang gelombang.
Penjalaran gelombang ke laut dangkal membentuk orbit yang terdiri dari
partikel-partikel. Perubahan orbital tersebut seperti yang ditunjukkan pada
gambar dibawah:

Gambar 4.17. Gerak orbit partikel zat cair di laut dangkal, transisi, dan
dalam
Sebagai contoh, dari data pengukuran gelombang diperoleh data
perhitungan dimana, L = 55,14 meter dan d = 21 meter, maka d/L = 0,38,
artinya bahwa 1/20 < d/L < ½ sehingga termasuk klasifikasi gelombang
laut transisi.
 Pemodelan Matematis Penjalaran Gelombang
Tujuan dari pemodelan matematis adalah untuk mengetahui tinggi dan arah
penjalaran gelombang menuju pantai. Hal ini penting untuk mengetahui
proses deformasi gelombang menuju pantai, seperti difraksi ataupun
refraksi gelombang. Untuk mengetahui distribusi spasial tinggi dan arah
gelombang, di seluruh perairan wilayah perencanaan disimulasikan dengan
model matematika refraksi gelombang.
Hasil pemodelan matematik refraksi gelombang berupa nilai tinggi
gelombang disetiap titik grid yang ada di seluruh perairan di wilayah
perencanaan. Nilai tinggi gelombang disetiap titik grid yang diperoleh dari
hasil pemodelan matematik diinterpolasi sehingga menghasilkan kontur
tinggi gelombang. Kontur tinggi gelombang kemudian diklasifikasi dengan
interval kontur gelombang setiap 0,1 meter .

42
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.18. Diagram Proses Pembuatan Kontur Tinggi: Data Titik Hasil
Pemodelan Matematik (1), Interpolasi (2), Konversi ke Line (3a) dan Polygon
(3b).

 Penyajian Data Gelombang (Grafik Tinggi dan Periode Gelombang)


Tujuan dari penyajian data ini adalah untuk mengetahui pola dari tinggi (H)
dan periode gelombang (T) terhadap waktu (selama waktu) pengukuran.

Gambar 4.19. Contoh Grafik Tinggi gelombang harian tanggal 8 Septem-


ber 2015 - 14 September 2015 di kab. Natuna, prov. Kepulauan Riau

Gambar 4.20. Contoh Grafik Periode Gelombang harian hasil pengukuran


tanggal 8 September 2015 - 14 September 2015 di kab. Natuna, prov.
Kepulauan Riau

43
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

3. Data Arus
Metode Pengumpulan Data Arus
Pengukuran arus dimaksudkan untuk mengetahui pola arus di lokasi penguku-
ran dan dominasi jenis arus di perairan (arus pasut atau arus selain pasut). Peta
arus adalah peta yang menginformasikan pola arus di wilayah perencanaan. In-
formasi ini sangat diperlukan sebagai data dasar untuk menentukan pemanfaa-
tan pada wilayah perencanaan.
Metode yang digunakan dalam pengukuran arus meliputi Metode Euler dan
Metode Lagrange. Metode Euler merupakan metode pengukuran arus pada
lokasi yang tetap (misal: cur-rent meter). Sensor yang digunakan meliputi sensor
mekanik dan sensor non-mekanik. Sensor Mekanik meliputi Current Meters seri
RCM, Current Meters Vektor Rata-rata (VACM) dan Vector Measuring Current
Meter (VMCM), sedang sensor non mekanik terbagi menjadi Acoustic Current
Meter (ACM), Elektromagnetik Current Meter (ECM) dan Acoustic Doppler Current
Profiller (ADCP).
Metode Lagrange merupakan metode pengukuran arus dengan mengikuti jejak
suatu alat (misal: pelampung). Teknis konvensional dilakukan dengan terjun
langsung ke lapangan sedangkan teknik modern atau Pencatat Arus Quasi-
Lagrange, yang meliputi pencatat arus permukaan dan bawah permukaan.

Gambar 4.21. Berbagai Tipe Macam Parasut (a), dan Skema Drifter (b).
Metode penentuan lokasi pengukuran arus biasanya menggunakan metode
teknik non random sampling dengan teknik area sampel, yaitu penentuan lo-
kasi ditentukan pada lokasi tertentu dengan pertimbangan dapat mewakili
karakteristik wilayah perairan setempat. Umumnya pengukuran arus dapat di-
wakili dengan tiga kedalaman perairan (permukaan 0,2 d, tengah 0,6 d dan
dasar 0,8 d) untuk setiap kawasan tertentu.

44
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.22. Contoh Penentuan Lokasi Pengukuran Arus


Arah dan kecepatan arus dipengaruhi oleh kondisi pasut, gelombang dan angin
(self current). Pengukuran arus di perairan laut dilakukan minimal selama 3 x 24
jam dengan interval waktu pencatatan antara 10 -60 menit (umumnya dil-
akukan setiap 60 menit) secara simultan. Pengukuran arus sebaiknya dilakukan
pada saat kondisi pasang surut pada fase spring tide (pasang surut di saat bulan
purnama atau bulan mati), hal ini untuk memperoleh hasil pengukuran arus
yang optimal.

Permukaan Air
Noise
Sel Akhir
Distance
Kedalaman Perairan

Sel Awal Blank


Distance
Ketinggian
Alat

Dasar Perairan

Gambar 4.23. Ilustrasi Pengukuran (Perekaman Data) Kecepatan dan Arah


Arus Menggunakan Accoustic Doppler Current Profiler (ADCP)

45
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.24. Ilustrasi Pengukuran (Perekaman Data) Kecepatan dan Arah


Arus Menggunakan Accoustic Doppler Current Profiler (ADCP)

Metode Pengolahan Data Hasil Survei Arus


Setelah memperoleh data dari pengukuran di lapangan, maka hal terpenting
adalah bagaimana data tersebut dapat diolah sehingga dapat dilakukan analisis
sesuai tujuan yang akan dicapai.
Data tersebut diolah dalam bentuk scatter diagram dan scatter plot. Untuk
mengetahui distribusi spasial pola arus di wilayah perairan pesisir maka dil-
akukan pemodelan matematik hidrodinamika pola arus. Pemodelan matematik
hidrodinamika pola arus dapat menggunakan perangkat lunak (software), sep-
erti SMS BOSS (Amerika), Mike 21 (Denmark), 3DD (New Zealand), Trisula
(Belanda), Telemarc (Perancis), dan lain-lain yang hasilnya dikalibrasi dengan
hasil pengukuran arus.

Gambar 4.25. Contoh verifikasi data kecepatan arus realtime di lapangan


dengan data model di perairan Subi, kab. Natuna, prov. Kepulauan Riau.

46
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Current Magnitude - Model Verification with Observation


PT. Lintech Duta Pratama, Paciran Seashore, Lamongan, Oct 14th - 20th 2009

35 400

30 350

300
25

Current Velocity (cm/sec)

Current Direction ( o)
250
20
200
15
150

10
100

5 50

0 0

Average Speed Tide Elevation


Observation Time
Average Direction Model Direction

Gambar 4.26. Contoh verifikasi data arah arus realtime di lapangan dengan
data model

Gambar 4.27. Contoh Kalibrasi Kecepatan Arus Hasil Simulasi Model Ma-
tematik dengan Data Pengamatan Lapangan dengan Scatter Plot di perairan
Subi, kab. Natuna, prov. Kepulauan Riau tahun 2015.

 Vector dan Scatter Plot Arus laut


Tujuan dari penyajian data dengan vektor arus adalah untuk mengetahui
pola arah dan besarnya kecepatan arus terhadap waktu (selama waktu) pen-
gukuran. Adapun scatter plot arus ialah untuk mengetahui distribusi ke-
cepatan dan arah arus selama pengukuran.

47
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
Current Velocity and Direction - Data Acquired by Sontek Argonaut
PT. Lintech, Paciran, Lamongan Oct 14th - 20th, 2009

35 400

350
30

300

Current velocity (cm/s)


25

Current direction (o)


250
20

200

15
150

10
100

5
50

0 0

Recording time Cell04 Speed Cell04 Direction

Gambar 4.28. Contoh hasil pengolahan data arus berupa grafik arus

Gambar 4.29. Contoh Penyajian Data Arus Dengan Menggunakan Vektor


Arus Laut di kab. Sangihe, prov. Sulawesi Utara tanggal 19-30 Agustus 2015

Gambar 4.30. Contoh Penyajian Data Arus Dengan Menggunakan Scatter


Plot Arus di perairan Subi, kab. Natuna, prov. Kepulauan Riau tahun 2015

48
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

 Grafik Elevasi (Pasut), Kecepatan dan Arah Arus


Tujuan dari penyajian data dengan grafik elevasi (pasut), kecepatan dan arah
arus adalah untuk mengetahui pola arah dan besarnya kecepatan arus ter-
hadap waktu (selama waktu) pengukuran, yang dikaitkan dengan kondisi
pasang surut (elevasi muka air laut). Hal ini juga merupakan salah satu cara
untuk mengetahui hubungan pasut dengan kondisi arus. Apakah pola
arusnya mengikuti pola pasang surut atau tidak. Selain itu juga untuk
melihat bagaimana kondisi arus di kedalaman permukaan, tengah maupun
dasar.

Gambar 4.31. Contoh hasil Pengolahan Data Kecepatan Arus Kedalaman


18-20 Meter (Cell 1) di Perairan kab. Natuna, prov. Kepulauan Riau Tang-
gal 8 - 14 September 2015.

Gambar 4.32. Contoh hasil Pengolahan Data Kecepatan Arus Kedalaman


16-18 meter (Cell 2) di Perairan kab. Natuna, prov. Kepulauan Riau
Tanggal 8 - 14 September 2015.

49
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.33. Contoh hasil Pengolahan Data Kecepatan Arus Kedalaman


14-16 meter (Cell 3) di Perairan kab. Natuna, prov. Kepulauan Riau
Tanggal 8 - 14 September 2015.

Gambar 4.34. Contoh hasil Pengolahan Data Kecepatan Arus Kedalaman


12-14 meter (Cell 4) di Perairan kab. Natuna, prov. Kepulauan Riau
Tanggal 8 - 14 September 2015.

 Current Rose (Mawar Arus)


Selanjutnya untuk melihat frekuensi kejadian arus selama pengukuran dil-
akukan analisis statistik dengan menyajikan current rose dan tabelnya. Pada
analisis tersebut arah arus dikelompokkan 16 mata angin dimana setiap 22,5
derajat terwakili oleh 1 arah mata angin.

50
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.35. Contoh Current Rose Kedalaman Rata-rata di Perairan kab.


Natuna, prov. Kepulauan Riau Tanggal 8 - 14 September 2015.

Gambar 4.36. Contoh Current Rose Kedalaman Cell 5 (10-12 meter) di


Perairan kab. Natuna, prov. Kepulauan Riau Tanggal 8 - 14 September
2015.

Gambar 4.37. Contoh Current Rose Kedalaman Cell 10 (0-2 meter) di


Perairan kab. Natuna, prov. Kepulauan Riau Tanggal 8 - 14 September
2015.

51
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Pada kedalaman rata-rata arah arus dominan menuju ke arah 315o (Barat
Laut). Frekuensi kejadian kecepatan arus secara keseluruhan yang menuju
ke arah 315o sebesar 43,25 %. Frekuensi kejadian kecepatan arus dengan
kecepatan terbanyak terjadi pada kecepatan arus >60 cm/det dengan frek-
uensi kejadian kecepatan arus secara keseluruhan sebesar 30,43 %. Ke-
cepatan arus terbesar, yaitu >60 cm/det menuju ke arah 315˚ (Barat Laut)
dengan frekuensi 19,45 %.

 Plot World Current Untuk Mengetahui Jenis Arus (Pasut atau Selain
Pasut)
Untuk membantu analisis arus digunakan Program World Current Versi
1.03 (12 Desember 2006). Grafik 3-day plot menunjukkan data arus yang
diamati (warna merah), prediksi (biru), sisa/pengurangan (hijau), sehingga
memberikan sebuah grafik yang fluktuaktif dalam bentuk gelombang yang
menunjukkan model harmonik pasut sesuai dengan data tersebut. Gambar
23 menunjukkan bahwa pola kecepatan arus di lokasi kajian dipengaruhi
oleh pasang surut dan selain pasut.
Fluktuasi kecepatan arus berdasarkan data lapangan (arus total) mempunyai
pola yang hampir sama dengan data model astronomik (arus pasang surut).
Namun nilai residu (arus selain pasut) yang merupakan selisih dari arus total
dan arus pasut mempunyai nilai fluktuasi yang cukup besar. Berdasarkan
analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa arus di perairan wilayah kajian
dipengaruhi oleh pasang surut dan selain pasut (seperti angin, gelombang,
dll.).
Hasil pengukuran digambarkan dalam scatter diagram, vektor plot, current
rose (mawar arus). Untuk distribusi spasial pola arus untuk tiap 2500 m
disimulasikan dengan model hidrodinamika pola arus dengan grid maksimal
2500 x 2500 m, dan dikalibrasi dengan hasil pengukuran. Pengukuran dil-
akukan pada saat kondisi pasang tinggi (fase spring tide). Peta arus skala
1:250.000, digambar dalam bentuk kontur isoline dengan interval 0,05
m/detik.

Gambar 4.38. Contoh Analisis Scatter plot Kecepatan Arus Kedalaman Ra-
ta-rata Perairan Kec. Bualemo, Kab. Banggai.

52
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.39. Scatter Plot Kecepatan Arus Kedalaman Cell 5 (2-4 meter)
(Gambar Kiri) dan Kedalaman Cell 6 (0-2 meter) (Gambar Kanan) Dari
Perairan Kec. Bualemo, Kab. Banggai
 Model Matematika
Untuk mengetahui distribusi spasial pola arus skala 1:250.000 (setiap grid
2500 meter) dan distribusi spasial pola arus (setiap grid 500 meter untuk
RZBWP-3-K) di seluruh perairan wilayah perencanaan provinsi, disimu-
lasikan dengan model matematika hidrodinamika pola arus dan dikalibrasi
dengan hasil pengukuran yang dilakukan pada kondisi pasang (spring tide).
Pemodelan matematik hidrodinamika yang digunakan merupakan persa-
maan aliran 2 dimensi pada rerata kedalaman (depth average). Percepatan
gravitasi lebih dominan dibandingkan dengan percepatan aliran vertikal. Se-
hingga persamaan aliran dapat didekati dengan persamaan aliran dangkal
(shallow water equation). Komponen kecepatan rata-rata kedalaman dalam
koordinat horizontal x dan y didefinisikan sebagai berikut :
zb  H zb  H
1 1
U
H u
zb
dz V
H v
zb
dz

dimana : H = kedalaman air


zb = elevasi dasar sungai
zb + H = elevasi muka air
u = kecepatan horizontal arah x
v =kecepatan horizontal arah y
Persamaan kontinuitas untuk aliran dua dimensi rata-rata kedalaman (aver-
aged continuity equation) dapat dituliskan sebagai :
H  
 HU   HV   0
t x y

53
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Persamaan momentum pada arah sumbu x dan y untuk aliran dua dimensi
rata-rata kedalaman dapat dituliskan sebagai :
𝜕 𝜕 𝜕 𝜕𝑧𝑏 1 𝜕𝐻 2
(𝐻𝑈) + (𝛽 𝐻𝑈𝑈) + (𝛽 𝐻𝑈𝑉) + 𝑔𝐻 + 𝑔
𝜕𝑡 𝜕𝑥 𝑥𝑥 𝜕𝑦 𝑥𝑦 𝜕𝑥 2 𝜕𝑥
1 𝜕 𝜕
+ [𝜏𝑏𝑥 − 𝜏𝑠𝑥 − (𝐻𝜏𝑥𝑥 ) − (𝐻𝜏𝑥𝑦 )] = 0
𝜌 𝜕𝑥 𝜕𝑦
untuk aliran arah sumbu x, dan
𝜕 𝜕 𝜕 𝜕𝑧𝑏 1 𝜕𝐻 2
(𝐻𝑉) + (𝛽𝑥𝑦 𝐻𝑈𝑉) + (𝛽𝑦𝑦 𝐻𝑉𝑉) + 𝑔𝐻 + 𝑔
𝜕𝑡 𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜕𝑦 2 𝜕𝑦
1 𝜕 𝜕
+ [𝜏𝑏𝑦 − 𝜏𝑠𝑦 − (𝐻𝜏𝑦𝑥 ) − (𝐻𝜏𝑦𝑦 )] = 0
𝜌 𝜕𝑥 𝜕𝑦
untuk aliran pada sumbu y, dimana :
xx, xy, yx yy = koefisien koreksi momentum
g = percepatan gravitasi
 = rapat massa air
bx by = tegangan geser dasar
sx sy = tegangan geser permukaan
xx, xy, yx yy = tegangan geser akibat turbulensi

Misal xy adalah tegangan geser ke arah sumbu x yang bekerja pada bidang
tegak lurus sumbu y, maka komponen tegangan geser pada dasar dalam
arah sumbu x dan y dihitung sebagai berikut :
1

  z  2  z  2  2
bx  c f U U  V 1   b    b  
2 2

  x   y  
1

  z  2  z  2  2
by  c f V U  V 1   b    b  
2 2

x   y  
  

dengan cf adalah koefisien gesek dasar yang dapat dihitung sebagai :


g gn2
cf  
C 2 2 H 3
1

dengan C = koefisien Chezy; n = koefisien kekasaran Manning; dan  =


1,486 bila menggunakan satuan Inggris dan 1,0 bila menggunakan satuan
internasional (SI).
Tegangan geser turbulen rata-rata kedalaman dihitung menggunakan kon-
sep eddy viskositas dari Boussinesq, yakni :

54
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

 U U 
 xx   xx   
 x x 
 U V 
 xy   yx   xy   
 y x 
 V V 
 yy   yy   
 y y 
Untuk penyederhanaan perhitungan, nilai eddy viskositas kinematik rata-
rata kedalaman dianggap isotropik (diasumsikan bahwa nilai xx = xy =
yx = yy), dan eddy viskositas isotropik dinotasikan dengan  yang
nilainya (0,3  0,6 U*H).
Hasil pemodelan matematik hidrodinamika pola arus berupa nilai kecepatan
dan arah arus disetiap titik-titik grid yang ada di seluruh perairan di wilayah
perencanaan. Nilai kecepatan arus disetiap titik-titik grid diinterpolasi se-
hingga menghasilkan kontur isoline kecepatan arus. Kontur isoline ke-
cepatan arus kemudian diklasifikasi dengan interval kontur setiap 0,05 me-
ter per detik.
4. Data Suhu Permukaan Laut
Metode Pengumpulan Data Suhu Permukaan Laut
Data parameter suhu permukaan laut, diperoleh dari analisis citra
penginderaan jauh thermal, contohnya adalah Citra Modis atau citra lain yang
memiliki saluran thermal. Untuk mendapatkan sebaran nilai suhu permukaan
laut tiap grid 2500 m untuk skala 1:250.000 dan tiap grid 500 m untuk skala
1:50.000 pada citra satelit, dilakukan transformasi matematis menggunakan
software pengolahan citra. Analisis suhu permukaan laut dilakukan berdasar-
kan data rerata suhu permukaan laut bulanan minimal selama lima tahun.
Hasil transformasi tersebut digunakan untuk menentukan titik sampel
pengukuran suhu permukaan laut di lapangan. Jumlah dan lokasi sampel
ditentukan berdasarkan keragaman nilai suhu permukaan laut dan keterwakilan
wilayah.
Metode Pengolahan Data Suhu Permukaan Laut
Analisis suhu permukaan laut dilakukan dengan cara mengkoreksi data suhu
permukaan laut hasil pengolahan citra satelit dengan menggunakan data hasil
pengukuran di lapangan. Koreksi dilakukan dengan cara transformasi
matematik menggunakan software pengolah citra, sehingga dihasilkan data
suhu permukaan laut yang valid/sesuai kondisi di lapangan.
5. Data Kecerahan
Metode Pengumpulan Data Suhu Permukaan Laut
Kecerahan air laut diukur secara langsung di lapangan menggunakan Seechi
Disk. Penentuan lokasi dan jumlah sampel ditentukan dengan melihat
variabilitas rona/warna perairan, sehingga setiap tingkat kecerahan perairan
dapat terwakili secara proporsional. Variabilitas rona/warna perairan yang
menunjukkan tingkat kecerahan perairan dapat diidentifikasi menggunakan

55
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Metode Pengolahan Data Suhu Permukaan Laut


Berdasarkan hasil pengukuran kecerahan di lapangan diperoleh tingkat
kecerahan perairan untuk setiap titik sampel. Tingkat kecerahan perairan
tersebut kemudian di interpolasi sehingga menghasilkan kontur isoline
kecerahan untuk seluruh perairan di wilayah perencanaan.

6. Data Oseanografi Kimia (pH dan Salinitas)


Metode Pengumpulan Data Oseanografi Kimia
Parameter oseanografi kimia diantaranya pH dan salinitas. Untuk menjaga
akurasi data, pengukuran semua parameter ini sebaiknya dilakukan di lokasi (in
situ). pH diukur menggunakan pH meter. Salinitas diukur menggunakan
salinometer atau refraktometer.
Penentuan Lokasi sampel untuk data oseanografi kimia dilakukan dengan
metode purposive sampling. Lokasi sampel ditentukan dengan
mempertimbangkan karakteristik wilayah perairan setempat (daerah pertemuan
arus, daerah muara sungai, daerah di sekitar selat yang menghubungkan dua
perairan, daerah teluk dan tanjung dan daerah yang memiliki variabilitas
kondisi ekosistem).
Metode Analisis Data Oceanografi Kimia
Berdasarkan hasil pengukuran data oseanografi kimia di lapangan, diperolah
nilai-nilai pH dan salinitas untuk setiap titik sampel. Masing-masing nilai
parameter tersebut kemudian di interpolasi sehingga menghasilkan kontur
isoline pH dan salinitas untuk seluruh perairan di wilayah perencanaan.

7. Oseanografi Biologi (Klorofil)


Metode Pengumpulan Data Oseanografi Biologi
Data klorofil dapat diidentifikasi dari citra penginderaan jauh, contohnya
adalah Citra Modis, NOAA-AVHRR, atau citra lain yang memiliki
kemampuan untuk mendeteksi klorofil. Untuk mendapatkan sebaran nilai
klorofil tiap grid pada citra satelit, dilakukan transformasi matematis
menggunakan software pengolahan citra. Analisis klorofil dilakukan berdasar-
kan data rerata klorofil bulanan minimal selama lima tahun.
Hasil transformasi tersebut digunakan untuk menentukan titik sampel
pengukuran klorofil di lapangan. Nilai klorofil di lapangan diperoleh dari
Jumlah sampel ditentukan berdasarkan keragaman interval nilai klorofil pada
citra satelit.
Metode Pengolahan Data Oceanografi Biologi
Analisis klorofil dilakukan dengan cara mengkoreksi data klorofil hasil
pengolahan citra satelit dengan menggunakan data hasil pengukuran di
lapangan. Koreksi dilakukan dengan cara transformasi matematik
menggunakan software pengolah citra, sehingga dihasilkan data klorofil yang
valid/sesuai kondisi di lapangan.
Berdasarkan data klorofil yang telah terkoreksi, dilakukan penyusunan peta
kontur isoline klorofil dengan cara interpolasi nilai-nilai klorofil disetiap titik-
titik grid yang ada di seluruh perairan di wilayah perencanaan.

56
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

D. Data Pemanfaatan Ruang Laut Yang Telah Ada


Metode Pengumpulan Data Pemanfaatan Ruang Laut Yang Telah Ada
Pemanfaatan ruang laut yang telah ada adalah berbagai kegiatan pemanfaatan
bentang perairan yang dilakukan secara permanen maupun temporer. kegiatan
pemanfaatan laut eksisting diantaranya pertambangan, kawasan konservasi,
pariwisata, BMKT, tambat labuh, rig, floating unit, bangunan perikanan permanen
(KJA, seabed, dll.), area penangkapan ikan modern dan tradisional dan budidaya
laut (seperti rumput laut dan mutiara).
Infrastruktur kelautan dan perikanan diantaranya pelabuhan umum, pasar ikan,
KUD, BBI, Pelabuhan perikanan, TPI, Gudang penyimpanan ikan, bangunan
pelindung pesisir (jeti, penahan gelombang).

Untuk memperoleh data lokasi pemanfaatan wilayah laut yang telah ada,
dilakukan identifikasi visual menggunakan citra penginderaan jauh resolusi tinggi
(resolusi minimal 1 meter.) Hasil identifikasi visual pada citra tersebut digunakan
untuk groundcheck di lapangan dengan cara tracking dan plotting koordinat pada
lokasi pemanfaatan laut yang ditemukan dengan menggunakan GPS.
Metode Pengolahan Data Pemanfaatan Wilayah Laut Eksisting
Metode pengolahan data pemanfaatan laut existing dilakukan dengan cara ploting
koordinat titik GPS hasil identifikasi citra penginderaan jauh dan poligon (untuk
data yang berupa area) hasil groundcheck di lapangan ke dalam peta dasar.
Kondisi infrastruktur dapat diketahui berdasarkan data sekunder yang telah ada
dan juga melalui pengamatan langsung di lapangan. Data sekunder terkait dengan
kondisi infrastruktur berupa peta analog atau data tabular sebaran infrastruktur.
Melalui pengamatan langsung di lapangan diperoleh data jenis infrastruktur dan
posisinya (menggunakan GPS).

E. Data Ekosistem Pesisir dan Pulau-pulau Kecil


1. Data Terumbu Karang
Metode Pengumpulan Data Terumbu Karang
Data terumbu karang dapat diperoleh melalui pendekatan penginderaan jauh
dan survei lapangan. Identifikasi terumbu karang melalui citra penginderaan
jauh dilakukan dengan cara dengan metode visual (on screen digitizing) maupun
transformasi matematis, misalnya transformasi Lyzenga. Secara visual, untuk
membedakan terumbu karang dan substrat dasar lainnya dilakukan dengan
pendekatan unsur-unsur interpretasi citra.
Hasil interpretasi citra satelit digunakan untuk menentukan sampel yang akan
dibawa ke lapangan untuk verifikasi kebenarannya. Metode penentuan sampel
yang digunakan adalah purposive dan proportional random sampling. Purposive
dengan mempertimbangkan keragaman atau variabilitas kelas terumbu karang.
Proportional random sampling digunakan dalam menentukan titik sampel pada
lokasi dengan mempertimbangkan jumlah sampel pada setiap kelas terumbu
karang. Jumlah titik sampel yang ditentukan harus representatif berdasarkan
luasan area yang dipetakan.

57
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Survei lapangan dilakukan untuk mendapatkan data sebaran dan kondisi


terumbu karang. Informasi sebaran terumbu karang dapat diperoleh dengan
menggunakan metode Manta Tow. Untuk melihat kondisi terumbu karang
beserta keanekaragaman jenisnya digunakan Point Intercept Transect (PIT). Pada
saat survei terumbu karang, dilakukan pula identifikasi kelimpahan dan keane-
karagaman jenis ikan karang (demersal). Metode-metode tersebut di atas akan
dijelaskan secara rinci pada paparan di bawah ini.

 Manta Tow
Metode ini bertujuan untuk mengetahui kondisi ekosistem terumbu karang
dalam waktu yang relatif singkat dalam skala yang luas. Metode ini berguna
untuk mengetahui kondisi umum, heterogenitas suatu komunitas karang
sehingga data yang dihasilkan dapat digunakan sebagai acuan dalam
menentukan lokasi-lokasi yang mewakili area terumbu untuk pengamatan
ekosistem terumbu karang yang lebih detail.
Manta Tow dilakukan dengan cara mengamati tutupan substrat dasar laut
oleh penyelam snorkel yang ditarik oleh perahu kecil untuk menentukan
kondisi terumbu karang pada skala luas. Kecepatan perahu dijaga tetap
dengan kecepatan kurang lebih 5 km/jam atau sama dengan kecepatan
orang berjalan. Metode Manta Tow melibatkan minimal 3 orang, yang
terdiri dari pengamat 1, pengamat 2 dan pengemudi perahu. Pengamat 1
bertugas memotret, mengamati dan mencatat kondisi tutupan substrat di
wilayah yang diamati, dengan cara berpegangan dengan papan manta
kemudian ditarik oleh perahu dan melintas di atas puncak terumbu (reef
crest). Sementara pengamat 2 yang berada di atas perahu bertugas mengatur
waktu, menggunakan GPS dan berkomunikasi dengan pengamat 1.
Pengemudi perahu bertugas mengemudikan perahu agar berada di jalur
yang sesuai dengan kecepatan yang sesuai juga. Waktu setiap tarikan adalah
2 menit, kemudian setelah 15 tarikan berhenti sejenak untuk pergantian di-
mana pengamat 2 akan menggantikan pengamat 1 dan begitu sebaliknya.
Hal ini terus berulang sampai seluruh area yang direncanakan teramati.

Gambar 4.40. Ilustrasi Teknik Manta Tow (diadaptasi dari Brainard dkk,
2014)

58
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.41. Aktifitas tambahan selama pelaksanaan metode Manta Tow

 Point Transect
Metode Point Transect adalah salah satu metode penilaian kondisi terumbu
karang dengan cara mencatat jenis substrat dasar utamanya karang keras di
bawah transek garis di setiap interval 0,5 m. Pengamat hanya mencatat jenis
substrat pada meter ke-0, lalu titik 0,5 m kemudian titik 1 m dan seterusnya
hingga meter ke-100. Transek garis dibuat dengan memasang roll meter
sepanjang 100 m sejajar dengan reef crest pada kedalaman 7 m (Gambar 3).
Penyelam SCUBA yang melakukan pencatatan dengan cara membagi tran-
sect menjadi empat segmen, setiap segmennya terdiri dari 20 m dengan ba-
tas antar segmen sepanjang 5 m, sehingga akan diperoleh 40 data point se-
tiap segmen.

- Kedalaman survei 10 – 20 m
- Survei dilakukan dalam 2-3 transek
sepanjang 25 m
- Unit sampling bervariasi sepanjang transek

Gambar 4.42. Ilustrasi Teknik Point Transect (diadaptasi dari Brainard


dkk, 2014)

59
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.43. Pengamatan substrat dasar menggunakan transek garis


metode Point Transect

Metode Analisis Data Terumbu Karang


 Kondisi Ekosistem Terumbu Karang
Kondisi ekosistem terumbu karang ditentukan oleh persentase tutupan ka-
rang, indeks keanekaragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi
biota. Tutupan karang diperoleh menggunakan metode Manta Tow. Indeks
keragaman, indeks keseragaman, dan indeks dominansi biota diperoleh
menggunakan metode Point Transect.
Persentase tutupan karang hidup dapat dilihat dari jumlah karang keras
hidup (Scleractinia spp.), yang merupakan unsur dominan di dalam ekosistem
terumbu karang (Sukarno, 1995).
Tabel 4.6. Kriteria Penilaian Kondisi Terumbu Karang Berdasarkan
Persentase Tutupan Karang Hidup (SK Meneg LH No. 04/2001)

Persentase Tutupan Karang (%) Kondisi Terumbu Karang


0 – 24,9 Buruk
Rusak
25 – 49,9 Sedang
50 – 74,9 Baik
Baik
75 – 100 Baik sekali

Keanekaragaman jenis karang dihitung berdasarkan rumus Indeks


Keanekaragaman dari Legendre & Legendre (1983) dengan rumus sebagai
berikut :

60
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

n
ni
H '   pi log 2 pi; pi 
i 1 N
dimana :
H’ = Indeks Keanekaragaman Legendre & Legendre
n = jumlah spesies dalam sampel
ni = jumlah panjang karang jenis ke-i
N = jumlah panjang total seluruh jenis
Analisa data tentang nilai Indeks Keanekaragaman Legendre & Legendre
adalah sebagai berikut:
H’ < 3,20 = keanekaragaman kecil dan tekanan ekologi sangat kuat
3,20 < H’ < 9,97 = keanekaragaman sedang dan tekanan ekologi sedang
(moderat)
H’ > 9,97 = keanekaragaman tinggi, terjadi keseimbangan ekosistem.
Sementara Keanekaragaman jenis ikan karang dihitung berdasarkan rumus
Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner (1981) dengan rumus sebagai
berikut :

s
 ni   ni 
H '     ln  
i 1  N  N 
dimana :
H’ = Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner
S = jumlah spesies dalam sampel
ni = jumlah individu ikan karang jenis ke-i
N = jumlah total individu seluruh jenis
Analisa data tentang nilai Indeks Keanekaragaman Shannon-Wienner
adalah :
H<1 = berarti komunitas dalam kondisi tak stabil
1 < H < 3 = berarti komunitas dalam kondisi sedang (moderat)
H>3 = berarti komunitas dalam kondisi baik
Indeks Keseragaman (J’) jenis bertujuan untuk mengetahui keseimbangan
individu dalam keseluruhan populasi terumbu karang/ ikan karang, yang
merupakan perbandingan nilai keragaman dengan nilai keragaman
maksimum. Nilai Indeks Keseragaman jenis karang dan ikan karang
dihitung berdasarkan rumus sebagai berikut :
H'
E' ; Hmaks  log 2 S
Hmaks
dimana :
J’ = Indeks Keseragamanan
H = Indeks Keanekaragaman
S = jumlah spesies dalam sampel

61
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Pengambilan keputusannya adalah, jika :


J’ < 0,3 = keseragaman populasi kecil
0,3 < J’ < 0,6 = keseragaman populasi sedang
J’ > 0,6 = keseragaman populasi tinggi
Bila J’ mendekati 0 (nol), spesies penyusun tidak banyak ragamnya, ada
dominasi dari spesies tertentu dan menunjukkan adanya tekanan terhadap
ekosistem. Bila J’ mendekati 1 (satu), jumlah individu yang dimiliki antar
spesies tidak jauh berbeda, tidak ada dominasi dan tidak ada tekanan
terhadap ekosistem.
Indeks Dominansi jenis digunakan untuk mengetahui sejauh mana
kelompok biota mendominasi kelompok lain (Ludwig, 1988). Nilai Indeks
Dominansi jenis karang dan ikan karang dihitung berdasarkan rumus
sebagai berikut :
2
 ni 
C  
N
dimana:
C = Indeks Dominasi Jenis
ni = Jumlah individu jenis ke-i
N = Jumlah total individu seluruh jenis

2. Data Lamun
Lamun memegang peranan penting pada komunitas pesisir karena merupakan
pendukung bermacam-macam fauna yang berasosiasi di dalamnya, sehingga
keberadaannya mempengaruhi produktivitas pesisir. Komunitas ini juga
berperan sebagai penstabil sedimen dan mengontrol kualitas dan kejernihan
air.
Padang lamun pada wilayah tropis hidup di perairan dangkal dengan substrat
halus disepanjang pantai dan estuari. Coles et.al, (1993) menyatakan bahwa
komposisi spesies lamun terdapat pada: (1) perairan dangkal kurang dari 6
meter merupakan daerah dengan kelimpahan tinggi; (2) perairan kedalaman
antara 6 sampai kedalaman 11 meter, didominasi oleh Halodule spp dan
Halophila spp; dan (3) perairan dengan lebih dari 11 meter, hanya dihuni
oleh Halophila spp.
Metode Pengumpulan Data Lamun
Pengumpulan data padang lamun dapat dilakukan melalui interpretasi citra
penginderaan jauh dan survei lapangan. Melalui metode penginderaan jauh,
sebaran padang lamun dapat diidentifikasi menggunakan metode visual (on
screen digitizing) maupun transformasi matematis, misalnya transformasi
Lyzenga. Hasil interpretasi citra satelit berupa peta tentatif sebaran padang
lamun yang selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam penentuan titik lokasi
survei lapangan.
Untuk survei lapangan, pengamatan padang lamun dilakukan menggunakan
metode transek kuadrat. Pelaksanaan metode ini menggunakan petak
berbentuk bujursangkar yang dibentangkan secara tegak lurus terhadap garis

62
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

pantai. Pengukuran dilakukan dengan menggunakan petak pengamatan seluas


10 m x 10 m. Di dalam petak pengamatan diletakkan petak berbentuk
bujursangkar ukuran 1 m x 1 m secara sejajar luas areal pengamatan. Penga-
matan didukung dengan kamera bawah air (underwater camera). Hasil yang di-
peroleh dari metode ini adalah persentase tutupan relatif (English et al, 1997).
Penutupan lamun menyatakan luasan area yang tertutupi oleh tumbuhan
lamun. Persentase penutupan lamun ditentukan berdasarkan rumus:
𝑛

C = ∑ 𝑀𝑖 𝑥 𝐹𝑖 / 𝑓
𝑖=1

Keterangan:
C = nilai persentae penutupan lamun (%)
Mi = nilai tengah kelas penutupan ke-i
Fi = frekuensi munculnya kelas penutupan ke-i
f = jumlah total frekuensi penutupan kelas
Tabel. 4.7. Persentase Luas Tutupan Padang Lamun (Kepmen LH No. 200
Tahun 2004)
KRITERIA BAKU KERUSAKAN PADANG LAMUN
PARAMETER
(dalam %)
Prosentase Luas Miskin < 29,9
Rusak
Tutupan Padang Kurang kaya/kurang sehat 30 – 59,9
Lamun Baik Kaya/sehat > 60

Metode Pengolahan Data Lamun


Berdasarkan hasil pengukuran persentase pengukuran relatif padang lamun,
dilakukan pengolahan lebih lanjut untuk memperoleh komposisi jenis lamun,
kerapatan spesies, dan penutupan spesies.

 Komposisi Jenis Lamun


Komposisi jenis merupakan perbandingan antara jumlah individu suatu
jenis terhadap jumlah individu secara keseluruhan. Komposisi jenis lamun
dihitung dengan menggunakan rumus:
𝑛𝑖
𝐾𝑖 = 𝑥 100%
𝑁
Keterangan:
Ki = komposisi jenis ke-i (%)
ni = jumlah individu jenis ke-i (ind)
N = jumlah total individu (ind)

 Kerapatan Jenis Lamun


Kerapatan jenis lamun yaitu jumlah total individu suatu jenis lamun dalam
unit area yang diukur. Kerapatan jenis lamun ditentukan berdasarkan ru-
mus:

63
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

𝑝
𝑛𝑖
𝐾𝑖 = ∑
𝐴
𝑖=1
Keterangan:
Ki = kerapatan jenis ke-i (ind/m2)
ni = jumlah individu atau tegakan dalam transek ke-i (ind)
A = luas total pengambilan sampel (m2)

 Penutupan Spesies
Penutupan Spesies (PCi) adalah perbandingan antara luas area penutupan
jenis i (Ci) dan luas total area penutupan untuk seluruh jenis (A), yang di-
jelaskan melalui rumus:
PCi = (Ci / A) x 100
3. Data Mangrove
Hutan mangrove merupakan komunitas pantai tropis yang didominasi oleh
beberapa jenis mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang di daerah
pasang surut baik pantai berlumpur atau berpasir (Bengen, 1999). Saenger et al.
(1983) mendefinisikan mangrove sebagai karakteristik formasi tanaman litoral
tropis dan sub tropis di sekitar garis pantai yang terlindung.
Metode Pengumpulan Data Mangrove
Data mangrove dapat diperoleh melalui pendekatan penginderaan jauh dan
survei lapangan. Identifikasi mangrove melalui citra penginderaan jauh
dilakukan dengan metode visual (on screen digitizing) maupun transformasi
matematis. Interpretasi mangrove dengan citra penginderaan jauh dilakukan
dengan melihat perbedaan rona/tingkat kecerahan, warna, bentuk, pola, dan
asosiasi/kedekatan terhadap obyek lain. Selain metode visual, identifikasi
mangrove dapat juga dilakukan dengan metode transformasi matematis
diantaranya, Ratio Vegetation Index (RVI), Transformed RVI (TRVI), Difference
Vegetation Index (DVI), Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), dan
Transformed NDVI (TNDVI).
Hasil interpretasi citra penginderaan jauh meliputi perkiraan luas, kerapatan,
dan distribusi vegetasi. Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menentukan
lokasi sampling untuk verifikasi lapangan.
Penentuan sampel menggunakan metode purposive random sampling dan
proportional random sampling. Purposive random sampling mempertimbangkan
keragaman atau variabilitas kelas mangrove. Proportional random sampling
digunakan dalam menentukan titik sampel pada lokasi dengan
mempertimbangkan jumlah sampel pada setiap kelas mangrove. Jumlah titik
sampel yang ditentukan harus representatif berdasarkan luasan area yang
dipetakan.
Survei lapangan kondisi ekosistem mangrove meliputi pengambilan data
jumlah individu, kerapatan dan distribusi vegetasi. Metode ini menggunakan
plot/petak dengan ukuran 10 x 10 meter yang diletakkan secara acak sesuai
dengan jumlah sampel yang telah ditentukan. Pada setiap petak yang telah
ditentukan, dilakukan identifikasi setiap tumbuhan mangrove yang ada, jumlah
individu setiap jenis, dan lingkaran batang setiap pohon mangrove.

64
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Data mangrove yang dikumpulkan meliputi jenis, komposisi jenis, kerapatan


jenis, frekuensi jenis, luas area penutupan, nilai penting jenis, dan biota yang
berasosiasi. Data tersebut diolah lebih lanjut untuk memperoleh kerapatan
jenis, frekuensi jenis, luas area penutupan, dan nilai penting suatu spesies dan
keanekaragaman spesies.
Metode pengumpulan data mangrove dapat dilihat pada tabel berikut:
Tabel 4.8. Metode Survei Mangrove
Skala Sumber data Kerja laboratorium Survei verifikasi lapangan
1: 250.000 Peta dasar dengan Deliniasi tutupan Survei verifikasi tutupan men-
tingkat kedetilan vegetasi mangrove grove dan non-mangrove
peta 1: 250.000
1: 50.000 Peta dasar dengan Deliniasi man-  Survei verifikasi tutupan
tingkat kedetilan grove: mangrove dan non-
peta 1: 50.000 mangrove
 Klasifikasi pe-  Transek/jalur yang diambil
nutupan tajuk secara sistematik dengan
awal teracak:
 Penutupan tajuk
 Kerapatan pohon

Berdasarkan hasil interpretasi citra satelit dan survei lapangan, mangrove dapat
dikategorikan sebagai berikut:
Tabel 4.9. Klasifikasi tingkat kerapatan mangrove
Skala Klasifikasi

1: 250.000  Mangrove
 Non-mangrove

1: 50.000 Penutupan tajuk (%) Kerapatan (∑ pohon/ha)

 Mangrove lebat (70 – 100)  Mangrove rapat (≥660)


 Mangrove sedang (50 – 69)  Mangrove sedang (330 ≤ KP < 660)
 Mangrove jarang(<50)  Mangrove jarang(<330)
 Non-mangrove  Non-mangrove

Sumber : SNI Survei dan Pemetaan Mangrove, 2011


Metode Pengolahan Data Mangrove
Berdasarkan data-data mangrove yang telah diidentifikasi di lapangan berupa
spesies, jumlah individu dan diameter pohon, dilakukan pengolahan lebih
lanjut untuk memperoleh kerapatan jenis, frekuensi jenis, penutupan jenis,
indeks keanekaragaman, dan indeks kemerataan.
Rumus-rumus untuk analisis data adalah sebagai berikut:
 Kerapatan Jenis (Di) adalah jumlah tegakan jenis i dalam suatu unit area:
Di = ni / A

65
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

dimana Di adalah kerapatan jenis i, ni adalah jumlah total individu dari jenis
i dan A adalah luas total area pengambilan contoh (luas total petak
contoh/plot)

 Frekuensi Jenis (Fi) adalah peluang ditemukannya jenis i dalam petak


contoh/ plot yang diamati:
Fi= pi/∑p
dimana, Fi adalah frekuensi jenis i, pi adalah jumlah petak contoh/ plot
dimana ditemukan jenis i, dan p adalah jumlah total petak contoh/plot yang
diamati.

 Penutupan jenis (Ci) adalah jenis luas penutupan jenis i dalam suatu unit
area:
Ci=∑BA/A
dimana BA= πDBH2/4 (dalam cm2), π (3,1416) adalah suatu konstanta dan
DBH adalah diameter batang pohon dari jenis i,A adalah luas area
pengambilan contoh (luas total petak contoh/ plot). DBH= CBH adalah
lingkaran pohon setinggi dada.

 Indeks Keanekaragaman (H’)


Keanekaragaman jenis (species diversity) vegetasi mangrove ditentukan
dengan indeks Keanekaragaman Shanon-Wiener (H’) (Odum, 1971) dengan
formula sebegai berikut :
H’ = -∑ Pi ln Pi
dimana :
H’ = Indeks Keanekaragaman
Pi = (ni / N)
ni = jumlah individu dari jenis ke-i
N = jumlah total seluruh individu
Kisaran nilai indeks keanekaragaman Shannon Wienner diklasifikasikan
sebagai berikut:
H’ < 1 = Keanekaragaman jenis kecil dan komunitas rendah
H’ < 1 < 3 = Keanekaragaman jenis sedang dan komunitas sedang
H’ > 3 = Keanekaragaman jenis tinggi dan komunitas tinggi

 Indeks Kemerataan (E)


Keseragaman jenis vegetasi mangrove ditentukan dengan indeks
kemerataan (Brower and Zar, 1977), dengan formula sebagai berikut :
E = H’ / Hmaks’ ; dan Hmaks’ = l n S
dimana:
H’ = Indeks Keanekaragaman
S = Jumlah Jenis

66
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Nilai keseragaman berkisar antara 0 – 1. Apabila nilai E mendekati 0, maka


sebaran individu antara jenis tidak merata dan apabila nilai E mendekati 1,
maka sebaran individu antara jenis merata.
F. Data Sumberdaya Ikan Pelagis dan Demersal
1. Daerah Penangkapan Ikan Pelagis
Ikan pelagis merupakan ikan yang memiliki kebiasaan berenang dekat
permukaan perairan, berenang secara terus menerus dan cenderung beruaya
atau tidak menetap di suatu area. Ikan pelagis dibagi menjadi ikan pelagis besar
dan ikan pelagis kecil. Contoh ikan pelagis besar antara lain : ikan tuna besar
(madidihang, tuna mata besar, albakor, tuna sirip biru, tuna ekor kuning; ikan
pedang/setuhuk (ikan pedang, setuhuk, setuhuk biru, setuhuk hitam, setuhuk
loreng, ikan layaran); ikan tuna kecil (cakalang, tongkol); dan jenis-jenis ikan
cucut. Contoh ikan pelagis kecil antara lain: ikan selar, kembung, teri, layang,
tembang, lemuru, dan ikan terbang.
Metode Pengumpulan Data Sumberdaya Ikan Pelagis
Delineasi/pemetaan daerah penangkapan ikan (DPI) pelagis dilakukan dengan
metode penginderaan jauh multitemporal dan survei lapangan. Metode
penginderaan jauh menggunakan beberapa parameter sebagai pendekatan,
yaitu suhu permukaan laut (SPL)/Sea Surface Temperature (SST), klorofil, Sea
Surface Height Anomaly (SSHA) dan Total Suspended Solid (TSS). Citra Satelit yang
digunakan diantaranya NOAA-AVHRR (Advance Very High Resolution
Radiometer), Aqua/Terra Modis dan SeaWiffs untuk periode lima tahun
(multitemporal). Penggunaan parameter untuk DPI Pelagis pada skala
pemetaan provinsi (1 : 250.000 ):

Tabel 4.10. Parameter Oseanografi Dalam Penentuan DPI Pelagis Sesuai


Skala Pemetaan
Skala
Parameter yang digunakan Keterangan
Pemetaan
1 : 250.000 1. Suhu permukaan laut (SPL Data diperoleh dari citra
atau SST) penginderaan jauh oseanografi dan
2. Klorofil altimetri multitemporal (5 tahunan)
3. Sea Surface height Anomaly
(SSHA) - Arus

Metode Analisis Daerah Penangkapan Ikan (DPI) Pelagis


Untuk menentukan lokasi DPI ikan pelagis berbasis data penginderaan jauh
dapat menggunakan data citra. Data citra tersebut berasal dari satelit
SEAWIFS, Aqua MODIS, dan SeaSAT, Landsat 8, AVHRR, dan RADAR-
SAT, JASON2, TOPEX/POSEIDON.
Langkah-langkah yang dilakukan untuk menentukan DPI adalah:

67
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.44. Tahapan Pengolahan Data Penginderaan Jauh untuk


Menghasilkan Daerah Penangkapan Ikan (dimodifikasi dari Hendiarti,
Suwarso, Aldrian, Amri, Andiastuti, Sachoemar & Wahyono - 2005)

- Analisis dan interpretasi data penginderaan jauh untuk menghasilkan seba-


ran klorofil-a, suhu permukaan laut dan arus geostropik (Tahap 1, 1A, 2,
2A, 3 dan 3A pada Gambar 4.51)
- Penetapan Daerah Potensi Ikan Pelagis Potensial menggunakan analisis
ontologi daerah penangkapan ikan(Tahapan 4 pada Gambar 4.51)
- Verifikasi dan validasi daerah potensi ikan pelagis potensial dengan hasil
pengukuran di lapangan seperti data hasil tangkapan (in situ atau data
sekunder) dan data kualitas air (Tahap 5 pada Gambar 4.51).
- Analisis non-spasial terkait dengan pengembangan wilayah, merujuk pada
hal-hal yang perlu dipertimbangan seperti yang telah dijabarkan di atas.
Analisi ini harapannya dapat menghasilkan zona-zona yang ideal yang
akan disepakati oleh seluruh pemangku kepentingan (Tahap 6 pada Gam-
bar 4.51)
- Penetapan zona perikanan tangkap pelagis untuk selanjutnya dapat di-
sepakati oleh seluruh pemangku kepentingan di daerah (Tahap 7 pada
Gambar 4.51).
Analisis citra oseanografi dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut:

 Analisis Suhu Permukaan Laut


Identifikasi suhu permukaan laut menggunakan pendekatan citra
penginderaan jauh dilakukan melalui penerapan algoritma untuk
menonjolkan informasi suhu permukaan pada citra satelit. Langkah-
langkah analisis citra sebagai berikut:

68
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.45. Diagram Alir Pengolahan Citra Satelit untuk analisis Suhu
Permukaan Laut

Gambar 4.46. Contoh Hasil Analisis SST Multitemporal Dari Citra Satelit
Untuk Wilayah Teluk Tomini
 Analisis Klorofil
Dalam pendeteksian klorofil perairan, citra penginderaan jauh Ocean Color
(Misal SeaWIFS) dapat memberikan data dan informasi tentang adanya
variasi warna perairan sebagai implementasi dari perbedaan konsentrasi
fitoplankton dalam perairan. Langkah-langkah pengolahan data ocean
color sebagai berikut:

69
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Gambar 4.47. Pengolahan Data Ocean Color untuk Identifikasi Klorofil


Perairan

Gambar 4.48. Contoh Hasil Analisis Klorofil Menggunakan Citra Satelit


Multitemporal Analisis Sea Surface Height Anomaly (SSHA)
Data SSHA diperoleh melalui analisis citra penginderaan jauh altimetri,
yaitu citra satelit yang dapat menunjukkan pola-pola perubahan permukaan
laut secara kontinu, misalnya perputaran arus dan gelombang. Analisis
selanjutnya dilakukan melalui tumpangsusun peta suhu permukaan laut,
klorofil dan arus sebagaimana gambar berikut:
Untuk mendapatkan informasi DPI pelagis yang valid dilakukan identifikasi
suhu permukaan laut, klorofil dan SSHA pada tiga musim, yaitu musim barat,
musim timur dan musim peralihan. Dari hasil analisis didapatkan Peta DPI
Pelagis Musim Barat, Peta DPI Pelagis Musim Timur, dan Peta DPI Pelagis
Musim Peralihan. Peta-peta tersebut kemudian divalidasi dengan cara

70
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

membandingkan dengan hasil pengukuran jenis dan kelimpahan ikan pelagis di


lapangan. Pengukuran di lapangan dilakukan pada waktu dan musim yang
sama dengan tanggal perekaman citra penginderaan jauh.
Metode pengukuran jenis dan kelimpahan ikan pelagis di lapangan sebagai
berikut:
1. Pencatatan Data Hasil Tangkapan
Data hasil tangkapan meliputi : komposisi jumlah dan jenis serta total hasil
tangkapan setiap hauling. Pengambilan data dilakukan dengan cara
menimbang hasil tangkapan ikan dengan menggunakan timbangan pada
setiap kegiatan hauling selesai dilaksanakan.
Penghitungan jumlah tangkapan ikan berasal dari kapal ikan (jumlah lebih
dari satu kapal ikan sejenis dengan ukuran dan jumlah trip yang sama).
Untuk mendapatkan data yang memiliki waktu yang sama dengan data dari
hasil analisis citra penginderaan jauh dan GIS, maka data penangkapan ikan
dari kapal ikan diambil pada periode waktu yang sama dengan data
penginderaan jauh/citra satelit dan data GIS. Apabila analisis citra satelit
menggunakan data citra satelit multitemporal 5 tahun, maka data hasil
tangkapan ikan menggunakan data pada pariode yang sama. Data dapat
diperoleh dari fishing log book selama 5 tahun.
2. Identifikasi densitas ikan menggunakan Metode Hidroakustik
Metode hidroakustik dilakukan untuk memperoleh informasi tentang obyek
di bawah air dengan cara pemancaran gelombang suara dan mempelajari
pantulan gelombang suara yang dihasilkan. Perangkat akustik yang
digunakan antara lain: echosounder, fish finder, sonar, dan Acoustic
Doppler Current Profiler (ADCP).
Berdasarkan metode ini, dapat diketahui tingkat densitas ikan per meter
kubik dan dapat diketahui sebarannya untuk wilayah perairan yang disurvei.
Berdasarkan hasil identifikasi DPI Pelagis menggunakan pendekatan
penginderaan jauh dan hasil pengumpulan densitas ikan di lapangan,
dilakukan validasi dengan metode sebagai berikut:

Gambar 4.49. Alur Validasi DPI Pelagis berdasarkan data densitas Ikan
di lapangan

71
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Berdasarkan hasil validasi diperoleh Peta Sebaran DPI Pelagis Musim Barat,
Peta Sebaran DPI Pelagis Musim Timur, dan Peta Sebaran DPI Pelagis
Musim Peralihan. Selanjutnya, untuk mendapatkan titik lokasi fishing
ground pilihan dari berbagai lokasi tersebut perlu dilakukan analisis:
 Jarak titik/area fishing ground ke pelabuhan terdekat
 Tumpang susun dengan batas wilayah perencanaan kabupaten (4 mil)
Contoh analisis dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Gambar 4.50. Contoh Hasil Analisis Lokasi Fishing Ground Pilihan


2. Daerah Penangkapan Ikan Demersal
Ikan demersal adalah ikan yang mempunyai kebiasaan hidup di dasar atau
dekat dasar perairan. Contoh ikan demersal diantaranya: kerapu, baronang,
kakap putih, kakap merah/bambangan, manyung, gerot-gerot, kurisi, beloso,
kuniran, bawal putih, bawal hitam, peperek, layur, dll.
Delineasi/pemetaan DPI demersal dilakukan dengan metode analisis GIS
dengan pendekatan ekosistem perairan. Beberapa parameter yang digunakan
yaitu sebaran dan kualitas terumbu karang, padang lamun, mangrove,
kedalaman perairan, topografi perairan, kecerahan, perubahan cuaca dan
pencemaran.
Analisis kesesuaian untuk daerah penangkapan (fishing ground) ikan demersal
menggunakan 2 pendekatan, yaitu pendekatan kesesuaian parameter biofisik
dan pendekatan konvensional.
Metode Identifikasi DPI Demersal
 Identifikasi Sebaran DPI Demersal
Identifikasi Sebaran DPI Demersal dilakukan dengan menggunakan kriteria
kesesuaian berdasarkan habitat sumberdaya ikan demersal. Habitat ikan
demersal umumnya berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan
keberadaan ekosistem pesisir, antara lain: ekosistem mangrove (habitat
menetap dan habitat temporer/ruaya pasang surut), ekosistem padang

72
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

lamun (habitat menetap dan habitat temporer/ruaya pasang surut), dan


ekosistem terumbu karang.
Data-data yang dibutuhkan dalam penentuan Identifikasi Sebaran DPI
Demersal dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.11. Kebutuhan Data Dalam Penentuan Kesesuaian Parameter


Biofisik
No Data Sumber Data Keterangan
1 Ekosistem pesisir (terumbu karang, mangrove, padang lamun)

- Kondisi ekosistem (buruk, Survei lapangan Kondisi ekosistem


sedang, baik sangat baik) mempengaruhi
kelimpahan ikan
- Kelimpahan ikan Survei lapangan

- Keanekaragaman/kekayaan Survei lapangan


jenis ikan (ikan target)

2 Kedalaman perairan Peta bathimetri Distribusi ikan demersal


sangat dibatasi oleh
kedalaman karena jenis
ikan demersal hanya
mampu bertoleransi
terhadap kedalaman
tertentu sebagai akibat
perbedaan tekanan air.
3 Morfologi dasar laut Peta morfologi dasar Persebaran habitat ikan
perairan dan demersal di sekitar
bathimetri (analisis ekosistem dengan
garis isodepth) morfologi dasar laut
landai lebih jauh
jangkauannya
dibandingkan morfologi
dasar laut curam –
karena faktor
kedalaman
4 Kecerahan air Citra satelit atau Mempengaruhi feeding
survei lapangan activity
5 Pencemaran Pengukuran Mempengaruhi
lapangan distribusi/kehidupan
ikan

73
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Tabel 4.12. Kriteria Penentuan Daerah Potensi Perikanan Tangkap


Demersal
No Skor
Parameter
1 3 5
1 Kondisi ekosistem terumbu Buruk Sedang Baik & sangat
karang/ tutupan karang hidup (<25%) (25-49,9%) baik (50%)
2 Kondisi ekosistem padang Miskin(< Kurang Kaya Kaya
lamun/ penutupan lamun 29,9%) (30 – 59,9%) (50%)
3 Kondisi ekosistem mangrove/ Jarang Sedang lebat
penutupan mangrove (<50%) (50-69,9%) (70%)
4 Kelimpahan ikan Rendah Sedang Tinggi
5 Kekayaan Jenis <10 jenis 10 – 30 jenis > 30 jenis
6 Kedalaman perairan (m) < 3 dan 3-5 dan 5-50
>100 50-100
7 Morfologi dasar perairan landai Landai - curam
curam
8 Kecerahan <5 5-10 > 10
9 Pencemaran Ada Sedikit Tidak Ada

Sebagai unit analisis, delineasi DPI demersal menggunakan pendekatan


ekosistem terumbu karang, padang lamun dan mangrove. Asumsi yang
digunakan ialah ketiga ekosistem ini merupakan tempat spawning ground,
nursery ground dan feeding ground bagi berbagai jenis ikan.

 Identifikasi Kondisi Sumberdaya Ikan Demersal


Langkah ini ditujukan untuk mengetahui secara lebih lebih detail kondisi
sumberdaya ikan demersal yang berasosiasi dengan ekosistem yang diamati.
Lokasi survei lapangan ditentukan berdasarkan hasil identifikasi sebaran
DPI demersal. Kondisi sumberdaya ikan demersal yang diteliti melalui
pendekatan ini adalah jenis, kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman,
dan dominasi sumberdaya ikan demersal.
Identifikasi kondisi sumberdaya ikan demersal dilakukan dengan
pengamatan langsung oleh penyelam SCUBA yang mencatat jenis dan
jumlah ikan yang berada di kolom air. Ikan karang yang berada di area
terumbu karang diidentifikasi dan dihitung dengan mengikuti transek garis
sepanjang 30 m. Pencatat berenang di atas garis transek dan populasi ikan
yang disensus adalah pada luasan 7,5 m samping kiri-kanan dan atas bawah
sepanjang garis transek (Gambar 5.65). Selain pencatatan data komunitas
ikan karang (demersal) untuk mendukung deskripsi kondisi ekosistem
terumbu karang juga dilakukan perekaman kondisi bawah air dengan
memotret dan mengambil gambar video menggunakan kamera underwater.

74
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

- survei pada kolom air di


kedalaman 0-30 m
- diameter transek
sepanjang 15 m
- pengambilan gambar
benthos sepanjang alur
transek
- pencatatan data survei
ikan

Gambar 4.51. Ilustrasi pengambilan data ikan karang (diadaptasi dari


Brainard dkk, 2014)

Jumlah ikan karang yang disensus disajikan sebagai kelimpahan ikan karang
sedangkan data ikan karang dianalisa untuk menghitung keanekaragaman
(H’), keseragaman (E) dan dominasi (C).
Metode Pengolahan Data Sumberdaya Ikan Demersal
Untuk mendapatkan Peta DPI Demersal dengan identifikasi sebaran DPI
Demersal, dilakukan analisis dengan cara overlay seluruh parameter sehingga
menghasilkan Peta DPI Demersal.
Untuk mengetahui kondisi sumberdaya ikan demersal, dilakukan analisis
komunitas ikan karang dengan menggunakan analisis kelimpahan ikan, indeks
keanekaragaman (H’), indeks keseragaman (E), dan indeks dominansi. Berikut
penjelasan masing-masing indeks komunitas yang dipakai:
 Kelimpahan Ikan
Kelimpahan komunitas ikan karang adalah jumlah ikan karang yang
dijumpai pada suatu lokasi pengamatan persatuan luas transek pengamatan.
Kelimpahan ikan karang dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:
ni
Xi = x 100%
A
dimana:
Xi = Kelimpahan ikan ke-i (ind/ha)
ni = Jumlah total ikan pd stasiun pengamatan ke-i
A = Luas transek pengamatan

 Indeks Keanekaragaman (H’)


Indeks keanekaragaman atau keragaman (H’) menyatakan keadaan populasi
organisme secara matematis agar mempermudah dalam menganalisis
informasi jumlah individu masing-masing bentuk pertumbuhan/genus ikan
dalam suatu komunitas habitat dasar/ikan. Indeks keragaman yang paling
umum digunakan adalah rumus:

75
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

S
H '   Pi ln Pi
i 1

dimana :
H’ = Indeks keanekaragaman
Pi = Perbandingan proporsi ikan ke i
S = Jumlah ikan karang yang ditemukan
Indeks keanekaragaman digolongkan dalam kriteria sebagai berikut :
H’≤ 2 : Keanekaragaman kecil
2 < H’≤ 3 : Keanekaragaman sedang
H’ > 3 : Keanekaragaman tinggi

 Indeks keseragaman (E)


Indeks keseragaman (E) menggambarkan ukuran jumlah individu antar
spesies dalam suatu komunitas ikan. Semakin merata penyebaran individu
antar spesies maka keseimbangan ekosistem akan makin meningkat. Rumus
yang digunakan adalah:
H'
E
H maks

dimana :
E = Indeks keseragaman
H maks = Ln S
S = Jumlah ikan karang yang ditemukan
Nilai indeks keseragaman berkisar antara 0 – 1. Selanjutnya nilai indeks
keseragaman dikategorikan sebagai berikut :
0 < E ≤ 0.5 : Komunitas tertekan
0.5 < E ≤ 0.75 : Komunitas labil
0.75 < E ≤ 1 : Komunitas stabil
Semakin kecil indeks keseragaman, semakin kecil pula keseragaman
populasi, hal ini menunjukkan penyebaran jumlah individu setiap jenis tidak
sama sehingga ada kecenderungan satu jenis biota mendominasi. Semakin
besar nilai keseragaman, menggambarkan jumlah biota pada masing-masing
jenis sama atau tidak jauh beda.

 Indeks dominansi (C)


Indeks dominansi berdasarkan jumlah individu jenis ikan karang digunakan
untuk melihat tingkat dominansi kelompok biota tertentu. Persamaan yang
digunakan adalah indeks dominansi yaitu :
S
C   ( Pi) 2
i 1

dimana :
C = Indeks dominansi
Pi = Perbandingan proporsi ikan ke i
S = Jumlah ikan karang yang ditemukan

76
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Nilai indeks dominansi berkisar antara 1 – 0. Semakin tinggi nilai indeks


tersebut, maka akan terlihat suatu biota mendominasi substrat dasar
perairan. Jika nilai indeks dominansi (C) mendekati nol, maka hal ini
menunjukkan pada perairan tersebut tidak ada biota yang mendominasi dan
biasanya diikuti oleh nilai keseragaman (E) yang tinggi. Sebaliknya, jika nilai
indeks dominansi (C) mendekati satu, maka hal ini menggambarkan pada
perairan tersebut ada salah satu biota yang mendominasi dan biasanya
diikuti oleh nilai keseragaman yang rendah. Nilai indeks dominansi
dikelompokkan dalam 3 kriteria, yaitu:
0 < C ≤ 0.5 : Dominansi rendah
0.5 < C ≤ 0.75 : Dominansi sedang
0.75 < C ≤ 1 : Dominansi tinggi
G. Data Sosial, Ekonomi, dan Budaya
1. Demografi Sosial
Pemetaan demografi dan sosial dimaksudkan untuk mengetahui kondisi dan
komposisi masyarakat di suatu wilayah secara struktural dan kultural. Data
terkait demografi dan sosial yang dikumpulkan meliputi Populasi (jumlah,
kepadatan dan distribusi umur), Trend pertumbuhan populasi (tingkat ke-
lahiran dan kematian), Pendidikan, Mata Pencaharian, Agama, Budaya,
Lembaga kemasyarakatan dan hukum adat serta masyarakat tradisional
Metode Pengumpulan Data Demografi dan Sosial
Metode pengumpulan data demografi dan sosial dapat dilakukan secara primer
dan sekunder. Pengumpulan/survei data primer dilakukan dengan cara wa-
wancara dan Focus Group Discussion (FGD) terhadap kelompok masyarakat yang
dianggap mengetahui informasi yang diperlukan dan perwakilan masyarakat
dari lembaga lokal, pemuka masyarakat, pemuka agama, dan lainnya.
Pengamatan secara langsung terhadap lingkungan sosial, hubungan sosial dan
kebiasaan-kebiasaan masyarakat setempat, juga merupakan upaya yang dapat
dilakukan untuk memperoleh data primer serta memverifikasi (cross check)
informasi dari hasil wawancara dan Focus Group Discussion (FGD) . Pengum-
pulan data sekunder dilakukan dengan cara mengunjungi instansi penyedia
data kependudukan dan sosial seperti Badan Pusat Statistik (BPS) dan Kantor
Kepemerintahan lainnya.
2. Ekonomi Wilayah
Pemetaan ekonomi wilayah bertujuan untuk mengetahui kondisi
perekonomian suatu wilayah. Kondisi perekonomian suatu wilayah dapat
dilihat dari : 1) Pendapatan perkapita; 2) Pertumbuhan Pendapatan perkapita ;
3) Angkatan kerja dan tingkat pengangguran; 4) Tenaga kerja di bidang
perikanan, pertanian, kehutanan, dll; 5) Populasi dan kepadatan nelayan; 6)
Pendapatan di sektor perikanan; 7) Produksi perikanan dan sektor-sektor lain;
8) Potensi pengembangan sumberdaya perikanan dan kelautan; 9) Jumlah
wisatawan; 10) Pendapatan rata-rata dan pengeluaran per sektor; dan data
perekonomian lainnya.

77
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K

Metode Pengumpulan Data Ekonomi Wilayah


Metode pengumpulan data Ekonomi Wilayah dilakukan melalui pengumpulan
data sekunder. Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan cara
mengunjungi instansi penyedia data ekonomi wilayah seperti Badan Pusat
Statistik (BPS) dan Kantor Kepemerintahan lainnya.
H. Data Risiko Bencana
Risiko bencana adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada
suatu kawasan dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit,
jiwa terancam, hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta,
dan gangguan kegiatan masyarakat.
Bencana Pesisir adalah kejadian karena peristiwa alam atau karena perbuatan
orang yang menimbulkan perubahan sifat fisik dan/atau hayati pesisir dan
mengakibatkan korban jiwa, harta, dan/atau kerusakan di wilayah pesisir dan
pulau-pulau kecil. Bencana yang diakibatkan karena peristiwa alam seperti tsuna-
mi, gelombang ekstrim, gelombang laut berbahaya, letusan gunung api bawah
laut, kenaikan muka air laut, dan erosi pantai.
Peta Risiko Bencana dan Kajian Risiko Bencana harus disusun untuk setiap jenis
ancaman bencana yang ada pada daerah kajian. Rumus dasar umum untuk analisis
risiko yang diusulkan dalam 'Pedoman Perencanaan Mitigasi Risiko Bencana' yang
telah disusun oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia
(Peraturan Kepala BNPB Nomor 4 Tahun 2008) adalah sebagai berikut:

dimana:
R : Disaster Risk ; Risiko Bencana
H : Hazard Threat : Frekuensi (kemungkinan) bencana tertentu
cenderung terjadi dengan intensitas tertentu pada lokasi tertentu.
V : Vulnerability : Kerugian yang diharapkan (dampak) di daerah tertentu
dalam sebuah kasus bencana tertentu terjadi dengan intensitas
tertentu. Perhitungan variabel ini biasanya didefinisikan sebagai
pajanan (penduduk, aset, dll) dikalikan sensitivitas untuk intensitas
spesifik bencana
C : Adaptive Capacity : Kapasitas yang tersedia di daerah itu untuk pulih
dari bencana tertentu
Metode pengumpulan data, metode analisis data dan simbolisasi peta mengacu
pada Peraturan Kepala BNPB Nomor 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum
Pengkajian Risiko Bencana. Sedangkan untuk penyajian peta risiko bencana
mengikuti Pedoman Pemetaan RZWP-3-K (Keputusan Dirjen KP3K No 46
Tahun 2013).

78
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

BAB V
ANALISIS DATA

Analisis data dapat diklasifikasikan kedalam analisis spasial dan analisis non-spasial. Pada
bab analisis data ini hanya menjelaskan tentang analisis spasial, sedangkan analisis non-spasial
dijelaskan lebih lanjut dalam Tata Cara Penyusunan Dokumen RZWP-3-K. Proses analisis spasial
dilakukan setelah peta-peta tematik diverifikasi melalui konsultasi publik dokumen awal. Proses
verifikasi peta-peta tematik tersebut dianalisis lebih lanjut untuk menghasilkan peta usulan alokasi
ruang RZWP-3-K. Penjelasan lebih lanjut mengenai analisis data spasial dijabarkan sebagai beri-
kut:
5.1. Analisis Spasial
Data-data tematik yang telah dikumpulkan digambarkan ke dalam peta-peta tematik
untuk kemudian dilakukan Analisis Kesesuaian Perairan pesisir dengan mendeliniasi mas-
ing-masing parameter berdasarkan kriteria kesesuaian zona/subzona tertentu. Hasil delini-
asi masing-masing parameter dalam peta-peta tematik tersebut kemudian dilakukan
tumpang susun/overlay. Hasil overlay selanjutnya dianalisis dengan menggunakan pembobo-
tan dan skoring.
Overlay peta multi kesesuaian dilakukan terhadap pemanfaatan ruang laut yang telah
ada dan dokumen perencanaan pemanfaatan yang telah ditetapkan dengan peraturan pe-
rundangan. Hasil dari proses tumpang susun/overlay tersebut berupa peta-peta kesesuaian
untuk masing-masing zona/subzona dengan kategori kesesuaiannya (sesuai (S1), kurang
sesuai (S2), dan tidak sesuai (N)). Masing-masing peta-peta kesesuaian zona/subzona ter-
sebut kemudian di tumpang susun/overlay sehingga menghasilkan peta multi kesesuaian un-
tuk zona/subzona. Berdasarkan peta multi kesesuaian dilakukan penilaian kesesuaian akhir
untuk zona/subzona, sehingga dihasilkan usulan alokasi ruang dalam bentuk Peta RZWP-
3-K. Secara rinci rangkaian aktivitas diatas dapat dilihat pada Gambar 5.1.

79
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN

DATA SEKUNDER DATA PRIMER

PETA TEMATIK
Bathimetri Substrat Dasar Arus
SDI

ANALISIS KESESUAIAN PERAIRAN


KRITERIA KESESUAIAN

DELINEASI DI MASING-MASING PETA


TEMATIK BERDASARKAN PARAMETER
KESESUAIAN

OVERLAY/ TUMPANGSUSUN

PEMBOBOTAN DAN SKORING

PETA KESESUAIAN SUBZONA/ZONA TERTENTU

PETA MULTI KESESUAIAN


Zona Pariwisata ZONA
Sub Zona Rumput Laut
…..

ANALISIS NON-SPASIAL

PETA USULAN ALOKASI RUANG


(Sub Zona, Zona, Kawasan)

KESEPAKATAN

PETA RZWP-3-K

Gambar 5.1. Diagram Analisis Data

80
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

5.2. Penentuan Alokasi Ruang


Penentuan alokasi ruang wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil harus memperhatikan hal-hal
sebagai berikut:
1) Kawasan Konservasi
Alokasi Kawasan Konservasi harus memperhatikan keberadaan wilayah yang berpotensi
menjadi kawasan konservasi. Kawasan konservasi ditetapkan untuk wilayah yang mem-
iliki ciri khas tertentu yang dilindungi untuk mewujudkan pengelolaan pesisir dan pulau-
pulau kecil yang berkelanjutan. Pembagian kawasan konservasi disesuaikan dengan
jenis/kategori kawasan konservasi.
2) Kawasan Strategis Nasional Tertentu (KSNT)
Alokasi KSNT memperhatikan kriteria-kriteria: batas-batas maritim kedaulatan negara
yang telah ditetapkan; kawasan yang secara geopolitik, pertahanan dan keamanan nega-
ra; situs warisan dunia; pulau-pulau kecil terluar yang menjadi titik pangkal dan/atau
habitat biota endemik dan langka. KSNT pada peta RZWP-3-K dideliniasi batas ter-
luarnya.
3) Kawasan Pemanfaatan Umum
Alokasi Kawasan Pemanfaatan Umum memperhatikan kriteria: tidak termasuk ke da-
lam wilayah yang ditetapkan menjadi kawasan konservasi dan Kawasan Strategis Na-
sional Tertentu (KSNT), dan alur laut serta merupakan wilayah yang sebagian besar di-
pergunakan untuk aktivitas ekonomi.
4) Alur Laut
Alokasi Alur Laut memperhatikan kriteria: ruang yang dapat dimanfaatkan untuk alur
pelayaran, pipa/kabel bawah laut, dan migrasi biota laut yang perlu dilindungi. Aturan
mengenai alur pelayaran mengikuti peraturan yang berlaku.
Pipa/kabel bawah laut merupakan instalasi yang dapat dibangun di perairan, dengan per-
syaratan sebagai berikut :
a. memperhatikan persyaratan penempatan, pemendaman, dan penandaan;
b. tidak menimbulkan kerusakan terhadap bangunan atau instalasi sarana bantu navigasi
pelayaran dan fasilitas telekomunikasi-pelayaran;
c. berada di luar perairan wajib pandu;
d. memperhatikan wilayah perikanan masyarakat;
e. memperhatikan ruang penghidupan nelayan kecil, nelayan tradisional, dan pembudi-
daya ikan kecil;
f. memperhatikan ekosistem mangrove, lamun, dan terumbu karang;
g. memperhatikan lokasi pemijahan ikan (spawning ground); dan pembesaran ikan
(nursery ground);
h. memperhatikan tempat latihan militer.
Sedangkan alur migrasi biota laut, dapat berupa : alur migrasi ikan tertentu, alur migrasi
penyu dan alur migrasi mamalia laut. Alur migrasi biota laut adalah pola ruaya (migrasi) biota laut
yang dipengaruhi suhu, salinitas, kecepatan dan arah arus, pasang surut, tinggi dan panjang ge-
lombang, warna perairan, substrat dasar, kedalaman perairan, dan tipologi kelandaian dasar laut.
Kecepatan dan arah arus akan memberikan indikasi terhadap pola pergerakan dan alur migrasi
biota laut, sementara keterkaitan suhu, salinitas, kedalaman perairan, kontur dasar, dan warna
perairan memberikan informasi perairan optimum terhadap biota laut (ikan-ikan) target tangka-
pan yang dikehendaki.

81
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

Klasifikasi Kawasan di wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil berdasarkan Undang-Undang


Nomor 27 Tahun 2007 Jo Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil, dan penentuan arahan pemanfaatan alokasi ruang wilayah pesisir
dan pulau-pulau kecil dilakukan melalui penentuan zona dan sub zona atau arahan pemanfaa-
tannya pada masing-masing kawasan.

Gambar 5.2. Ilustrasi Pembagian Kawasan di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
(Subandono, 2016)

Alokasi Ruang di dalam Kawasan Pemanfaatan Umum, Kawasan Konservasi, dan


Kawasan Strategis Nasional Tertentu dan Alur Laut dijabarkan ke dalam zona, sub zona dan ara-
han pemanfaatan untuk setiap zona pada masing-masing kawasan yaitu sebagai berikut:

82
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

Tabel 5.1. Pembagian Rencana Alokasi Ruang


ARAHAN PEMANFAATAN
KAWASAN
ZONA SUB ZONA

1. KAWASAN Pariwisata 1. wisata alam bentang laut


PEMANFAATAN UMUM 2. wisata alam pantai/pesisir dan
pulau-pulau kecil
3. wisata alam bawah laut
4. wisata sejarah
5. wisata budaya
6. wisata olah raga air
Pemukiman 1. pemukiman nelayan
2. pemukiman non-nelayan
Pelabuhan 1. Daerah Lingkungan Kerja (DLKr)
dan Daerah Lingkungan Kepent-
ingan (DLKp)
2. wilayah kerja dan wilayah pen-
goperasian pelabuhan perikanan
Hutan mangrove 1. pemanfaatan terbatas
2. pemanfaatan lainnya
Pertambangan 1. mineral
2. pasir Laut
3. minyak Bumi
4. gas Bumi
5. panas Bumi
Perikanan Budidaya 1. budidaya laut
2. budidaya air payau
Perikanan Tangkap 1. pelagis
2. demersal
3. pelagis dan demersal
Pergaraman 1. garam rakyat
2. garam non rakyat
Industri 3. industri pengolahan ikan
2. industri maritim
3. industri manufaktur
4. industri biofarmakologi
5. industri bioteknologi
Bandar udara Sesuai ketentuan perundang-
Pendaratan pesawat undangan yang berlaku
Jasa/Perdagangan Sesuai ketentuan perundang-
undangan yang berlaku
Energi 1. pasang surut
2. gelombang
3. arus
4. angin
5. OTEC
Fasilitas Umum 1. pendidikan
2. olahraga
3. keagamaan

83
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

ARAHAN PEMANFAATAN
KAWASAN
ZONA SUB ZONA

Pemanfaatan air laut 1. deep sea water


selain energi 2. biofarmakologi laut
3. biofarmakologi laut
4. bioteknologi laut
Pemanfaatan lainnya
sesuai dengan karakter-
istik biogeofisik ling-
kungannya
2. KAWASAN KONSERVASI
Kawasan Konservasi KKP3K dan KKM, dirinci atas:
dikategorikan atas: 1. Zona inti, Pemanfaatannya antara lain:
a. Kawasan Konservasi 1) perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan serta alur
Pesisir dan Pulau- migrasi biota laut;
Pulau Kecil (KKP3K) 2) perlindungan ekosistem pesisir unik dan/atau rentan ter-
b. Kawasan Konservasi hadap perubahan;
Maritim (KKM) 3) perlindungan situs budaya atau adat tradisional;
c. Kawasan Konservasi 4) penelitian; dan/atau
Perairan (KKP) 5) pendidikan.
2. Zona pemanfaatan terbatas, Pemanfaatannya, antara lain:
1) perlindungan habitat dan populasi ikan;
2) pariwisata dan rekreasi;
3) penelitian dan pengembangan;
4) pendidikan.
3. Zona lainnya sesuai dengan peruntukan kawasan, Pemanfaa-
tannya, antara lain:
1) Rehabilitasi;
2) Perlindungan.
Sedangkan KKP, dirinci atas:
1. Zona inti, peruntukkannya, antara lain:
1) perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan;
2) penelitian; dan
3) pendidikan
2. Zona perikanan berkelanjutan, peruntukkannya, antara lain:
1) perlindungan habitat dan populasi ikan;
2) penangkapan ikan dengan alat dan cara yang ramah ling-
kungan;
3) budidaya ramah lingkungan;
4) pariwisata dan rekreasi;
5) penelitian dan pengembangan; dan
6) pendidikan.
3. Zona pemanfaatan, peruntukkannya, antara lain:
1) perlindungan dan pelestarian habitat dan populasi ikan;
2) pariwisata dan rekreasi;
3) penelitian dan pengembangan; dan
4) pendidikan.
4. Zona lainnya

84
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

ARAHAN PEMANFAATAN
KAWASAN
ZONA SUB ZONA

Kawasan Konservasi Sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.


dapat berupa Kawasan
Lindung yang ditetapkan.
3. KAWASAN STRATEGIS
NASIONAL TERTENTU
(KSNT)
Kawasan Strategis Na- Sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku (pada peta
sional Tertentu, yang rencana alokasi ruang digambarkan batas terluarnya)
dimanfaatkan untuk :
1) Pengelolaan batas-
batas maritim ked-
aulatan negara
2) pertahanan dan
keamanan negara
3) pengelolaan situs
warisan dunia
4) kesejahteraan
masyarakat
5) pelestarian ling-
kungan
4. ALUR LAUT
1. Alur pelayaran
a. ALKI;
b. pelayaran internasional;
c. pelayaran nasional;
d. pelayaran regional;
e. pelayaran lokal;
f. pelayaran khusus.
2. Pipa/kabel bawah laut
a. kabel listrik
b. pipa air bersih
c. kabel telekomunikasi
d. pipa minyak dan gas
e. pipa dan kabel lainnya
3. Migrasi Biota Laut
a. migrasi ikan tertentu
b. migrasi penyu
c. migrasi mamalia laut

Setelah diperoleh Usulan Alokasi Ruang selanjutnya dilakukan analisis non-spasial.


Penjelasan analisis non-spasial secara lebih lengkap dapat dilihat pada Tata Cara
Penyusunan Dokumen RZWP-3-K. Hasil analisis non spasial diformulasikan untuk me-
nyempurnakan Usulan Alokasi Ruang menjadi Peta RZWP-3-K.

85
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

BAB VI
PENYAJIAN PETA

Peta dasar, tematik dan RZWP-3-K harus disajikan sesuai dengan kaidah-kaidah standar
kartografis untuk seluruh wilayah perencanaan yang dipetakan. Pada bagian ini, diberikan contoh
standar penyajian untuk Peta Tematik dan Peta RZWP-3-K dengan skala 1 : 250.000 dan apabila
diperlukan dapat digambarkan dalam skala 1:50.000. Deliniasi batas kawasan, zona dan sub-zona
ditampilkan pada peta menggunakan sistem petak (sistem grid) dengan koordinat lintang
(longitude) dan bujur (latitude).
6.1 Standar Kartografis
Peta-peta tematik dan Peta RZWP-3-K digambarkan minimal dalam skala 1 :
250.000 dan apabila diperlukan dapat digambarkan dalam skala 1:50.000. Peta tematik
disajikan dengan memuat batas administrasi, batas wilayah perencanaan WP-3-K, garis
pantai dan toponimi. Peta RZWP-3-K disajikan dengan memuat batas administrasi, batas
wilayah perencanaan WP-3-K, batimetri, pembagian kawasan, zona dan subzona dengan
simbolisasi sesuai kaidah kartografis.
Standar kartografis untuk peta tematik dan peta RZWP-3-K memuat judul peta, arah
mata angin, nomor lembar peta, proyeksi, datum, dan sistem grid, skala angka, skala grafis,
indeks peta, inset peta (wilayah perencanaan), legenda peta, riwayat peta dan sumber peta,
judul kegiatan, logo lembaga/instansi, dan nama lembaga/instansi. Indeks peta disusun
secara sistematis sesuai dengan kaidah-kaidah Kebijakan Satu Peta.
Beberapa aspek penting yang harus diperhatikan secara kartografis, diantaranya :
1. Logo dan nama lembaga/instansi memuat logo dan nama pemerintah daerah.
2. Nama kegiatan memuat nama kegiatan, nama pemerintah daerah, dan tahun
pelaksanaan kegiatan.
3. Judul peta memuat tema peta, lokasi, dan daerah administrasi (0 – 12 mil) dan
batas kecamatan di darat.
4. Arah mata angin dan skala untuk pemetaan RZWP-3-K adalah 1 : 250.000 dan
apabila diperlukan skala 1:50.000.
5. Indeks peta memuat posisi lembar peta terhadap keseluruhan gambaran peta seki-
tarnya.
6. Inset peta menggambarkan lokasi pemetaan secara keseluruhan dan memberikan
indikasi mengenai posisi peta tersebut terhadap daerah yang lebih luas.
7. Legenda peta memuat titik pusat administrasi sampai dengan kecamatan, batas
administrasi, batas wilayah perencanaan WP-3-K, unsur perhubungan (jalan,
pelabuhan, bandara), unsur perairan (sungai, danau, laut), data kontur batimetri,
klasifikasi peta tematik dan pembagian kawasan/zona/sub zona untuk peta
RZWP-3-K.
8. Riwayat peta memuat nama peta, tahun, skala dan nomor lembar peta (untuk
sumber peta dasar) dan instansi resmi yang mempublikasikan data tersebut. Apa-
bila Sumber peta berupa citra satelit memuat jenis citra satelit, resolusi spasial
citra, tahun perekaman, daerah cakupan atau path/row citra.
6.2 Standar Pengaturan Tata Letak (Layout) Peta
Dalam pembuatan tata letak peta tematik dan peta RZWP-3-K, peta ditampilkan
dalam bingkai yang menggambarkan ukuran jarak. Untuk peta skala 1 : 250.000 grid yang
digunakan adalah 15’ (lima belas menit). Grid peta yang ditampilkan pada bingkai peta
skala 1 : 50.000 memiliki jarak antar grid 3' (tiga menit). Tata letak peta skala 1 : 250.000

86
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

dibuat untuk peta tematik dan peta RZWP-3-K pada cakupan seluruh wilayah
perencanaan. Tata letak untuk peta tematik dan peta RZWP-3-K skala 1 : 50.000 dibuat
apabila diperlukan.
Penggambaran peta alokasi ruang skala 1 : 250.000 dan 1 : 50.000 menggunakan
standar ukuran kertas A1 (84,1 cm x 59,4 cm), dilakukan pada frame layout peta berukuran
65,48 cm x 55,80 cm dan legenda peta berukuran 14,20 cm x 55,80 cm, sehingga luas area
yang digambarkan berukuran 32,54 km x 27,67 km yang berarti satu nomor lembar peta
(NLP). Contoh pengaturan tata letak (layout) Peta RZWP-3-K dapat dilihat pada
Lampiran 4.
6.3 Standar Pencetakan
Pencetakan peta dilakukan dalam pada dua ukuran kertas yang berbeda. Untuk
kelengkapan Dokumen Final dan Peraturan Daerah RZWP-3-K, peta RZWP-3-K dicetak
dalam ukuran aktual kertas A1. Untuk kebutuhan kelengkapan dokumen awal dan doku-
men antara berupa album peta, peta-peta yang sudah dilayout dengan ukuran A1 dapat di-
cetak secara langsung pada media kertas A3 dengan skala pencetakan otomatis.
Pencetakan peta baik ukuran A1 maupun A3 harus memenuhi kriteria berikut:
1) Berat kertas minimum 100 gram
2) Kertas yang stabil (memiliki koefisien pemuaian kecil), contoh jenis kertas antara
lain HVS atau HWS.
3) Resolusi minimal pencetakan 300 dpi
4) Penyajian peta dan pencetakan dalam bentuk album peta.
Tabel 6.1. Keperluan pencetakan peta tematik dan RZWP-3-K
Skala
Jenis Peta Ukuran kertas
1:250.000 1:50.000
Peta Tematik Wajib dicetak Apabila diperlukan A3
Peta RZWP-3-K Wajib dicetak Wajib dicetak A1

87
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

Keseluruhan peta, baik Peta Tematik dan Peta Rencana Zonasi WP-3-K skala 1 : 250.000 dan skala 1:50.000 meliputi peta-peta :
Tabel 6.2. Penyajian Peta
Data yang Disajikan
No Judul <1 : 250.000
1 : 250.000 1 : 50.000
(Overview Seluruh)
1 Peta Wilayah - Batas wilayah laut - Batas wilayah laut - Batas wilayah laut
Perencanaan - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
WP-3-K - Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
2 Peta Wilayah - Batas wilayah perencanaan
Perencanaan - Batas wilayah administrasi
Terhadap Konstelasi - Garis pantai
Regional (0 – 12 mil) - Perairan
- Toponimi
- Wilayah sekitar
3 Peta Rencana - Sesuai dengan RTRW - Sesuai dengan RTRW - Sesuai dengan RTRW
Struktur dan Pola
Ruang Wilayah dari
RTRW
4 Peta Batimetri - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
- Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
- Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Kontur kedalaman - Kontur kedalaman dengan interval 0- - Interval kontur :
10m = 5m; 10-100= 10 m, 100-500m= Kedalaman 0 – 10 m = 0; 2; 5; 8; 10
20m; 500-1000m= 50m; >1000m= 100m Kedalaman 10 – 50 m = 5 m
Kedalaman 50 – 100 m = 10 m
Kedalaman 100 – 500 m = 20 m
Kedalaman 500 - 1000 m = 50 m
Kedalaman >1000 m = 100 m

88
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

Data yang Disajikan


No Judul <1 : 250.000
1 : 250.000 1 : 50.000
(Overview Seluruh)
5 Peta Geologi laut - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
- Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
- Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Formasi geologi laut - Formasi geologi laut - Formasi geologi laut
6 Peta Substrat Dasar - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
Laut - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
- Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Substrat Dasar Laut - Substrat Dasar Laut - Substrat Dasar Laut
7 Peta Deposit Pasir - - - Batas wilayah perencanaan
Laut - Batas wilayah administrasi
- Garis pantai
- Perairan
- Toponim
- Deposit Pasir Laut
8 Peta Gelombang - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
- Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
- Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Vektor arah dan tinggi gelombang - Vektor arah dan tinggi gelombang - Vektor arah dan tinggi gelombang
- Kontur tinggi gelombang dengan in- - Kontur tinggi gelombang dengan interval - Kontur tinggi gelombang dengan interval
terval 0,1 m 0,1 m 0,1 m
- Besar vektor arah gelombang me- - Besar vektor arah gelombang me- - Besar vektor arah gelombang me-
nyesuaikan tinggi gelombang nyesuaikan tinggi gelombang nyesuaikan tinggi gelombang
- Gambar wind rose pada layout - Gambar wind rose pada layout - Gambar wind rose pada layout

89
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

Data yang Disajikan


No Judul <1 : 250.000
1 : 250.000 1 : 50.000
(Overview Seluruh)
9 Peta Arus - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
- Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
- Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Vektor arah dan Kecepatan arus - Vektor arah dan Kecepatan arus - Vektor arah dan Kecepatan arus
- Kontur kecepatan arus dengan in- - Kontur kecepatan arus dengan interval - Kontur kecepatan arus dengan interval
terval 0,05 m/s 0,05 m/s 0,05 m/s
- Besar vektor arah arus me- - Besar vektor arah arus menyesuaikan ke- - Besar vektor arah arus menyesuaikan ke-
nyesuaikan kecepatan arus cepatan arus cepatan arus
- Gambar current rose pada layout - Gambar current rose pada layout - Gambar current rose pada layout

10 Peta Suhu - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
Permukaan Laut - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
(SPL) - Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Kontur suhu dengan interval 0,50C - Kontur suhu dengan interval 0,50C - Kontur suhu dengan interval 0,50C
dilengkapi dengan gradasi warna dilengkapi dengan gradasi warna dilengkapi dengan gradasi warna
- Citra satelit yang digunakan minimal - Citra satelit yang digunakan minimal
selama 5 tahun selama 5 tahun

11 Peta Kecerahan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
- Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
- Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- kecerahan dengan interval 1 m - kecerahan dengan interval 1 m - kecerahan dengan interval 1 m

90
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

Data yang Disajikan


No Judul <1 : 250.000
1 : 250.000 1 : 50.000
(Overview Seluruh)
12 Peta pH - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
- Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
- Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Kontur pH dengan interval 0,5 - Kontur pH dengan interval 0,5 - Kontur pH dengan interval 0,5
13 Peta Salinitas - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
- Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
- Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Kontur salinitas dengan interval 1 - Kontur salinitas dengan interval 1 Psu - Kontur salinitas dengan interval 1 Psu
Psu
14 Peta Sebaran - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
Klorofil - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
- Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Kontur klorofil dengan interval 0,5 - Kontur klorofil dengan interval 0,5 Mg/L - Kontur klorofil dengan interval 0,5 Mg/L
Mg/L (0,1µ/l) (0,1µ/l)
- Citra satelit yang digunakan minimal - Citra satelit yang digunakan minimal
selama 5 tahun selama 5 tahun
15 Peta Pemanfaatan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
ruang wilayah - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
pesisir dan pulau- - Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
pulau kecil yang te- - Perairan - Perairan - Perairan
lah ada - Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Titik, garis dan area Pemanfaatan - Titik, garis dan area Pemanfaatan ruang - Titik, garis dan area Pemanfaatan ruang
ruang wilayah pesisir dan pulau- wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil
pulau kecil yang telah ada yang telah ada yang telah ada

91
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

Data yang Disajikan


No Judul <1 : 250.000
1 : 250.000 1 : 50.000
(Overview Seluruh)
16 Peta Rencana pem- - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
anfaatan ruang di - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
wilayah pesisir dan - Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
pulau-pulau kecil - Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Titik, garis dan area rencana pem- - Titik, garis dan area rencana pemanfaa- - Titik, garis dan area rencana pemanfaa-
anfaatan ruang di wilayah pesiisr tan ruang di wilayah pesiisr dan pulau- tan ruang di wilayah pesiisr dan pulau-
dan pulau-pulau kecil pulau kecil pulau kecil

17 Peta Ekosistem - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan Peta mangrove
Pesisir (terumbu - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah perencanaan
karang, lamun, - Garis pantai - Garis pantai - Batas wilayah administrasi
mangrove) - Perairan - Perairan - Garis pantai
- Toponimi - Toponimi - Perairan
- Poligon sebaran ekosistem pesisir - Poligon sebaran ekosistem pesisir - Toponimi
- Poligon kelas kerapatan mangrove
(Rapat, sedang, jarang, non-mangrove)
- Point kelas kerapatan mangrove (Rapat,
sedang, jarang, non-mangrove)

Peta Terumbu karang


- Batas wilayah perencanaan
- Batas wilayah administrasi
- Garis pantai
- Perairan
- Toponim
- Poligon kelas kondisi tutupan karang
(Baik sekali, baik, sedang, buruk)
- Point kelas kondisi tutupan karang
(Baik sekali, baik, sedang, buruk)

92
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

Data yang Disajikan


No Judul <1 : 250.000
1 : 250.000 1 : 50.000
(Overview Seluruh)
Peta habitat lamun
- Batas wilayah perencanaan
- Batas wilayah administrasi
- Garis pantai
- Perairan
- Toponim
- Poligon kelas kondisi tutupan lamun
- (Kaya, Kurang kaya, miskin)
- Point kelas kondisi tutupan lamun
(Kaya, Kurang kaya, miskin)
18 Peta Daerah Pe- - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
nangkapan Ikan de- - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
mersal - Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Poligon wilayah penangkapan ikan - Poligon wilayah penangkapan ikan de- - Poligon tingkat potensi penangkapan
demersal mersal ikan demersal
- Titik kelimpahan jenis dan individu ikan
(semakin tinggi kelimpahan digambarkan
dalam ukuran poin yang semakin besar)
19 Peta Daerah Pe- - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
nangkapan Ikan pe- - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
lagis - Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Poligon tingkat potensi penangka- - Poligon tingkat potensi penangkapan - Poligon tingkat potensi penangkapan
pan ikan pelagis ikan pelagis ikan pelagis
- Titik kelimpahan jenis dan individu ikan
(semakin tinggi kelimpahan digambarkan
dalam ukuran poin yang semakin besar)

93
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

Data yang Disajikan


No Judul <1 : 250.000
1 : 250.000 1 : 50.000
(Overview Seluruh)
20 Peta jumlah dan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
kepadatan - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
penduduk (proyeksi - Garis pantai - Garis pantai - Garis pantai
pertumbuhan - Perairan - Perairan - Perairan
penduduk) - Toponimi - Toponimi - Toponimi
- Poligon kecamatan pesisir berisi da- - Poligon kecamatan pesisir berisi data - Poligon kecamatan pesisir berisi data
ta tingkat kepadatan dan jumlah tingkat kepadatan dan jumlah penduduk tingkat kepadatan dan jumlah penduduk
penduduk - Dilengkapi bar chart atau pie chart

21 Peta Wilayah Pe- - - - Batas wilayah perencanaan


nangkapan Ikan - Batas wilayah administrasi
secara tradisional - Garis pantai
- Perairan
- Toponim
- Poligon wilayah tangkapan ikan tradi-
sional

22 Peta Risiko Bencana - - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan


(tsunami, gelom- - Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
bang ekstrim, ge- - Garis pantai - Garis pantai
lombang laut berba- - Perairan - Perairan
haya, letusan - Toponimi - Toponimi
gunung api bawah - Poligon jenis bencana - Poligon tingkat risiko masing-masing
laut, kenaikan muka jenis bencana
air laut, erosi pantai, (tinggi, sedang rendah)
Intrusi air laut
(Tergantung kondisi
di tiap wilayah)

94
TATA CARA PENYAJIAN PETA RZWP-3-K

Data yang Disajikan


No Judul <1 : 250.000
1 : 250.000 1 : 50.000
(Overview Seluruh)
23 Peta RZWP-3-K - Batas wilayah perencanaan - Batas wilayah perencanaan
- Batas wilayah administrasi - Batas wilayah administrasi
- Garis pantai - Garis pantai
- Perairan - Perairan
- Toponimi - Toponimi
- Poligon kawasan dan Zona - Poligon Zona dan Sub zona
- (KPU, Kawasan Konservasi, KSNT, Alur) - (KPU, Kawasan Konservasi, KSNT, Alur)
- Polyline alur

95
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Analisis kesesuaian menggunakan kriteria, sebagai berikut :
1) Perikanan Tangkap
Kriteria-kriteria lingkungan dan ekologi yang harus diperhatikan antara lain sebagai
berikut :
 Lokasi harus memperhatikan dan mempertimbangkan habitat kritis dan sensitif
yang terdapat di daratan maupun perairan pesisir (lahan basah; mangrove; padang
lamun; terumbu karang; tempat pembesaran dan pemijahan; gumuk pasir; taman
laut, rute migrasi burung, mamalia & spesies terancam punah lainnya);
 Pembukaan lahan hutan dan pertanian harus diminimalkan;
 Pemenuhan kebutuhan air bersih dan fasilitas pengolahan limbah cair/padat;
 Penetapan pemanfaatan lahan didalam dan sekitar lokasi perencanaan termasuk
antisipasi kegiatan pembangunan yang akan datang;
 Kedekatan jarak terhadap daerah permukiman, perdagangan dan pendidikan;
 Pekerjaan dan orientasi masyarakat yang ada di dekat lokasi perencanaan, guna
meminimalisasi gangguan dan hilangnya kegiatan sosio ekonomi yang ada;
 Pengurangan sumberdaya yang ada harus diminimalkan baik yang terjadi karena
dampak langsung maupun tidak langsung dari kegiatan pembangunan;
 Lokasi pada daerah “brackish water” harus direncanakan secara hati-hati.
Kriteria untuk menentukan daerah penangkapan ikan (fishing ground), antara lain
berdasarkan visual langsung di perairan/pengalaman nelayan dan bantuan teknologi
Inderaja dan hidroakustik. Daerah penangkapan ikan diantaranya ditandai oleh :
 Warna perairan lebih gelap dibandingkan perairan sekitarnya ;
 Ada banyak burung pemakan ikan beterbangan dan menukik-nukik ke permukaan
air ;
 Banyak buih/riak di permukaan air ; dan
 Umumnya jenis ikan ini bergerombol di sekitar batang-batang kayu yang hanyut
di perairan atau bersama dengan ikan yang berukuran besar.
Penentuan daerah penangkapan ikan menggunakan metode analisis data inderaja
dilakukan dengan memanfaatkan citra satelit yang dihasilkan terhadap beberapa parameter
fisika kimia dan biologi perairan, seperti :
 Vegetasi mangrove,
 Suhu permukaan laut (SPL) dan arus permukaan laut,
 Konsentrasi klorofil dan produktivitas primer air laut,
 Kedalaman air,
 Terumbu karang, padang lamun, muara sungai,
 Angin di permukaan laut, dan
 Pengangkatan massa air (upwelling) dan pertemuan dua massa air yang berbeda (sea
front).
Hasil interpretasi citra tersebut dituangkan dalam bentuk peta tematik, sehingga
dapat diperkirakan tingkat kesuburan suatu lokasi perairan atau kesesuaian kondisi perairan
dengan habitat yang disukai gerombolan (schooling) ikan dalam bentuk daftar titik koordinat
(bujur dan lintang). Berdasarkan peta tersebut kemudian dibuat regulasi pengusahaan
penangkapan ikan yang meliputi tata ruang, nursery ground, waktu penangkapan dan jenis
alat tangkap dan bobot kapal.
Metode hidroakustik merupakan suatu usaha untuk memperoleh informasi tentang
obyek di bawah air dengan cara pemancaran gelombang suara dan mempelajari echo yang

96
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
dipantulkan. Dalam pendeteksian ikan digunakan sistem hidroakustik yang memancarkan
sinyal akustik secara vertikal, biasa disebut echosounder atau fish finder.
Tabel L1.1. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Perikanan Tangkap
KRITERIA KESESUAIAN
INPUT PETA
PARAMETER Kurang Tidak
NO YANG SATUAN Sesuai
KESESUAIAN Sesuai S2 Sesuai N
DIBUTUHKAN
S1 (3) (2) (1)
1 Peta Bathimetri Kedalaman m 0 - 400 - -
Peta Oksigen Terlarut
2 (Data Osenografi Oksigen Terlarut mg/L >5 - -
Kimia)
Peta Salinitas (Data
3 Salinitas ‰ 33 - 34 - -
Osenografi Kimia)
Peta Suhu Permukaan
4 Suhu Celcius 28 - 32 - -
(Data Oseanografi fisik)
Peta Kecerahan (Data
5 Kecerahan - -
Oseanografi fisik)
Peta PH (Data
6 pH 7 - 8,5 - -
Osenografi Kimia)
Peta Arah Kecepatan
7 Arus (Data Oseanografi Kecepatan arus cm/detik - - -
Fisik)
Peta Sedimen (Substrat Substrat dasar
8 - - -
dasar peraiaran) perairan
Peta Tinggi Gelombang
9 Tinggi Gelombang M 0-1 1-2 >=3
(Data Oseanografi fisik)
Peta Curah Hujan
10 Jumlah Hari Hujan hari/thn 150-180 110-150 <110
(Data Klimatologi)
Peta Terumbu karang
Tutupan Terumbu
11 (Data ekosistem SD % 60-80 40-60 <40
Karang
Hayati)
Peta Mangrove (Data
12 Tutupan Mangrove 60-80 40-60 <40
ekosistem SD Hayati)
Peta LPI, Peta
13 Jarak Pantai Km 0-10 10-20 >20
Administrasi
Sumber: Anonim dengan modifikasi

97
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
2) Perikanan Budidaya
a. Budidaya Kerapu
Tabel L1.2. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Kerapu Macan
Kriteria Kesesuaian
No Parameter Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai
Bobot
S1 S2 N
1. Oksigen Terlarut (mg/l) 4 ≥ 5.0 4.0 – 4.9 ≤ 3.9
5.0 – 14.9 dan ≤ 4.9 dan
3 15.0 – 24.9
2 Bathimetri (m) 25.0, 34.0, 9.0 ≥ 35
10 – 19.9 dan
3 Kecepatan Arus (cm/dt) 2 20.0 – 49.9 ≥ 75
50.0
4 Kecerahan (m) 2 ≥ 5.0 3 – 4.9 ≤ 2.9
25.0 – 28.9 dan < 24.9 dan
2 27.0 – 30.9
5 Suhu (oC) 31 – 31.9 ≥ 32
≤ 19.9 dan
1 30.0 - 32.9 20.0 – 29.0
1 Salinitas (ppt) ≥ 33
4.0 – 7.9 dan ≤ 3.90 dan
1 8.0 - 8.20
7 pH 8.20 – 8.9 ≥ 9.0
Total 15 Skor 5 Skor 3 Skor 1
Sumber: Evalawati dkk. (2001); BBPBL (2001); Hargreaves (1999); Romimohtarto dkk (1999);
Effendi (2003)
S1 : 75.00% - 100%
S2 : 65.00% - 74.99%
N : 0% - 64.99%

b. Budidaya Tambak Udang


Tabel L1.3. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Tambak Udang
Kriteria Kesesuaian
No. Parameter Bobot Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai
S1 S2 N
1 Klorofil (µg/l) 5 > 0.010 0.005 – 0.010 ≤ 0.005
2 TSS (mg/l) 5 ≤ 79 80 - 399 > 400
o
3 Suhu ( C) 4 26 - 31 31 - 34 ;24 - 26 > 35 ; ≤ 24
< 10 atau
4 Salinitas (ppt) 2 10 – 25 25.1 - 35
> 35
5 DO (mg/l) 1 > 6.1 3-6 <3
Total 17 Skor 5 Skor 3 Skor 1
Sumber: Dewayani (2000) dan Syamsul et al (2001) modifikasi dalam Trisakti (2003)

98
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
S1 : 75.00% - 100%
S2 : 65.00% - 74.99%
N : < 64.99%

c. Budidaya Rumput Laut


Tabel L1.4. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Budidaya Rumput Laut
Kriteria Kesesuaian
No Parameter Bobot Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai
S1 S2 N
0.1 - 0.19 atau < 0.1 atau
Gelombang (m) 0.3 0.2 – 0.3
1 0.3-0.4 > 0.4
0.1 - 0.19 atau < 0.1 atau
0.15 0.2 - 0.3
2 Kecepatan Arus (cm/det) 0.3 - 0.4 > 0.4
3 TSS (mg/l) 0.15 < 25 25 - 50 > 50
25 - 27 atau < 25 atau
0.15 28 - 32
4 Salinitas (ppt) 33 - 35 > 35
26 - 27 atau < 26 atau
0.15 28 - 30
5 Suhu (oC) 30 - 33 > 33
0.1 - 0.8 atau <0.1 atau
0.025 0.9 - 3.5
6 Nitrat (mg/l) 3.6 - 4.4 >4.5
< 0.021 atau
0.025 0.051 -1 0.021 - 0.05
7 Fosfat (mg/l) >1
6.5 - 7 atau < 6.5 atau
0.025 7 - 8.5
8 pH 8.5 - 9.5 > 8.5
0.3 - 0.5 atau < 0.3 atau
0.025 0.6 - 2.1
9 Bathimetri (m) 2.2 -10 >10
Total 40 Skor 3 Skor 2 Skor 1
Sumber: Hasil modifikasi dari Utojo et al. (2007) dalam Khasanah (2013)
S1: 85% - 100%
S2: 60% - 84%
N: < 60%

99
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
d. Budidaya Mutiara
Tabel L1.5. Parameter Kesesuaian Budidaya Tiram Mutiara
Kriteria Kesesuaian
No. Parameter Bobot Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai
S1 (3) S2 (2) N (1)
10-15 atau
5 16-25 <10 atau >30
1 Arus (cm/det) 26-30
<10 atau
5 26-50 >50
2 TSS (mg/l) 25
3 Kedalaman (m) 5 10-20 21-30 <10 atau >30
4 DO (mg/l) 3 >6 4-6 <4
3.5-4.4 atau
3 4.5-6.5 < 3.5 atau > 7.7
5 Kecerahan (m) 6.6- 7.7
28-31 atau
3 32-35 <28 atau >38
6 Salinitas (ppt) 36-38
25-27 atau
3 28-30 <25 atau >32
7 Suhu (oC) 31-32
8 Klorofil (mg/l) 1 >10 4-10 <4
9 pH 1 7-8 5-6 atau 8-9 <5 atau >9
Total 30 Skor 5 Skor 3 Skor 1
Sumber: Modifikasi Kangkan (2006) dan Suryanto (2005) dalam Hadinata (2016)
S1: 85% - 100%
S2: 65% - 84.99%
N: < 64.99%

3) Wisata Bahari
Tabel L1.6. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Wisata Bahari
Kriteria Kesesuaian
INPUT PETA
PARAMETER Kurang
NO YANG Sesuai Tidak Sesuai
KESESUAIAN Sesuai
DIBUTUHKAN
S1 (3) N (1)
S2 (2)
1. Peta Sebaran TSS Warna air Jernih Berwarna Berwarna
2. Peta Kecerahan Material terapung Tidak ada Vegetasi Berwarna
3. Peta Kualitas Tanda polusi Tidak Ada - Variasi
Peraiaran (Minyak,Sampa
h, busa, limbah
rumah tangga)
4. Peta Penggunaan Flora penutup Pohon Semak Jelas

100
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Kriteria Kesesuaian
INPUT PETA
PARAMETER Kurang
NO YANG Sesuai Tidak Sesuai
KESESUAIAN Sesuai
DIBUTUHKAN
S1 (3) N (1)
S2 (2)
Lahan daratan
5. Peta Penggunaan Flora penutup Terumbu Lamun Terbuka atau
lahan, Peta lereng perairan karang rumput, Kering
Ekosistem Pesisir
6. Peta Sebaran Kondisi karang Baik Sedang Terbuka, buruk
Karang
7. Peta Ekosistem Spesies ikan Bervariasi Sedang Jelek
WP3K
B Kepentingan manusia dan faktor
1. Peta Aksesbilitas Pencapaian dengan Mudah Sedang Sangat sulit
kendaraan pribadi
2. Peta Aksesbilitas Pencapaian dengan Mudah Sedang Sangat sulit
kendaraan umum
3. Peta Sarana dan Sarana dan Ada Sedikit Sangat sulit
Prasarana prasarana wisata
4. Peta Struktur Ruang Telekomunikasi Ada Ada Tidak ada
RTRW
5. Peta Struktur Ruang Listrik Ada Ada Tidak ada
RTRW
6. Peta RTRW Perencanaan Ada Belum Tidak ada
7. Peta Struktur Ruang Pelabuhan Ada Tidak ada Tidak ada
RTRW, Peta /ada
Struktur Ruang
Kelautan dan
Perikanan
8. Peta Struktur Ruang Sarana jalan Aspal Jalan setapak Tidak ada
RTRW
9. Peta Struktur Ruang Jumlah bangunan Sedikit Sedang Tidak ada
RTRW
10. Peta Struktur Ruang Air Tawar Ada Ada (sedikit) Tidak ada
RTRW (banyak)
Sumber: Anonim dengan modifikasi

101
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Tabel L1.7. Parameter Kesesuaian Perairan Untuk Kriteria Sosial, Ekonomi dan Budaya dalam
Penetapan Lokasi
Daya
Daya Tarik Nilai
Jenis Wisata Jenis AtraksiWisata dukung
Budaya Historis
masyarakat
Wisata Rekreasi Pantai Sedang Tinggi Sedang
Wisata Olahraga
Rendah Tinggi Rendah
Pantai
Wisata Pesisir & Wisata Budaya Tinggi Tinggi Tinggi
Pantai
Wisata Belanja Rendah Tinggi Rendah
Wisata Makan Rendah Tinggi Rendah
Wisata pendidikan Tinggi Tinggi Tinggi

Wisata Rekreasi Laut Rendah Tinggi Sedang


Wisata Laut Wisata olahraga air Rendah Tinggi Rendah
Wisata Budaya Tinggi Tinggi Tinggi

102
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
a. Wisata Selam
Tabel L1.8. Parameter Kesesuaian Wisata Selam
Bobot Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai
No Kriteria Teknis
S1 S2 N
1. Kecerahan (%) 5 >80 50-80 <50
5 <25 atau Tidak
2. Tutupan karang hidup (%) >65 25-65
ada karang
3. Jenis ikan karang 3 >75 20-75 <20
3 <4 atau Tidak
4. Jenis life form >10 4-10
ada karang
5. Suhu (oC) 3 23-25 26-36 23 – 36
6. Salinitas (ppt) 3 31-36 28-30 28 - 36
7. Kedalaman (m) 3 6-15 3-6 atau 15-20 <3 atau 20-30
8 Arus (m/det) 1 0-25 26-50 >50
Total Skor Skor 3 Skor 2 Skor 1
Sumber : Yulianda et al (2010), Davis dan Tesdell (1995), Nybakken (1992), Gomes dan Yap (1988),
Thamrin (2006) dalam Kurniawan (2015)

b. Wisata Snorkeling
Tabel L1.9. Parameter Kesesuaian Wisata Snorkeling
Kurang Tidak Sesuai
N Sesuai
Kritera teknis Sesuai N (1)
o S1 (3)
S2 (2)
Sangat curam –
1. Topografi Datar-landai Agak curam
curam
Reef flat
2. Bentuk lahan cenderung Daratan Lereng pantai
slope
3. Kedalaman (m) <5 5-15 >15
4. Arus (cm/dt) 8-18 18-25 >25
5. Gelombang (m) <0.5 0.5-1 >1
6. Kecerahan (m) >=15 2-5 <2
Tidak ada,
7. Kondisi karang Hidup Karang mati
Pecahan karang
Keterlindungan dari
8. Terlindung Terlindung Tidak terlindung
gelombang
Sumber : fabri (1990) dimodifikasi oleh Budiriyanto (1997)

103
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
c. Wisata Jet Ski dan Ski Air
Tabel L1.10. Parameter Kesesuaian Wisata Jet Ski dan Ski Air
Kurang Tidak Sesuai
Sesuai
No Kritera teknis Sesuai N (1)
S1 (3)
S2 (2)
Agak curam-
1. Topografi Miring Datar-Landai
curam
2. Bentuk lahan Periran lepas Reef slope Lereng pantai
3. Kedalaman (m) >15 5-15 >5
4. Arus (cm/dt) 10-18 18-25 25
5. Gelombang (m) <0.5 0.5-1 >1
Tidak ada,
6. Kondisi karang Mati Hidup
Pecahan karang
Keterlindungan dari Cukup Tidak
7. Terlindung
gelombang terlindung terlindung
Terumbu
8. Material dasar perairan Pasir koral Koral mati
karang
Sumber : fabri (1990) dimodifikasi oleh Budiriyanto (1997)

d. Kawasan Rekreasi
Tabel L1.11. Parameter Kesesuaian Kawasan Rekreasi
Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai
No Kritera teknis
S1 (3) S2 (2) N (1)
1. Daratan-Hampir
Topografi Miring Terjal-Curam
datar
2. Daratan pantai, Daratan
Bentuk lahan Bergelombang
Gunduk Pasir tergenang
3. Pohon kelapa, Campur/ Mangrove/hutan
Penutupan lahan
Lahan kosong cengkeh lebat, Rumah
4. Material permukaan Pasir-lumpur Pasir-coral Tanah berbatuan
5. Panorama Baik Sedang Kurang
6. Matahari
Terlihat Terlihat Tidak terlihat
terbit/terbenam
Sumber : Fabri (1990) dimodifikasi oleh Budiriyanto (1997)

104
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Wisata Pancing
Tabel L1.12. Parameter Kesesuaian Wisata Pancing
Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai
No Kritera teknis
S1 (3) S2 (2) N (1)
Curam
1. Topografi Landai-Datar menengah - Curam
curam
Berbukit, Daratan
2. Bentuk lahan Rataan pasir
Daratan tergenang
3. Kedalaman (m) <5 5-15 >1
4. Arus (cm/dt) 8-18 18-25 25
5. Gelombang (m) <0.5 0.5-1 >
6. Kecerahan 10-15 5-10 2-5
Keterlindungan dari Cukup
7. Terlindung Tidak terlindung
gelombang Terlindung
Tidak ada –
8. Spesies ikan Bervariasi Sedang
Variasi kecil
Sumber : Fabri (1990) dimodifikasi oleh Budiriyanto (1997)

4) Pelabuhan
Kriteria pemilihan lokasi pelabuhan perikanan antara lain:
A. Kriteria Ruang
Kriteria ruang pelabuhan perikanan harus memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
 Kriteria Perikanan, seberapa dekat pelabuhan tersebut dengan menghadap daerah
penangkapan ikan (fishing ground), potensi perikanan (stock assesment) yang belum
termanfaatkan, ketersediaan tenaga kerja (nelayan),
 Kriteria Historis, sudah sejak lama menjadi tempat pendaratan kapal nelayan setempat
dan merupakan perkampungan nelayan, perkembangan produksi perikanan,
perkembangan armada dan peralatan perikanan.
 Kriteria Akses, seberapa besar dekat dengan daerah/tempat pemasaran , seberapa besar
pelabuhan tersebut dibutuhkan untuk mendukung fungsi-fungsi kota
(PKN/PKW/PKL), ketersediaan infrastruktur penghubung dengan daerah lain (jalan)
dan kedekatan dengan jalur pelayaran.
 Kriteria Perkiraan Perkembangan Komoditas, perkiraan kebutuhan pasar akan
komoditas, perkiraan kegiatan lanjutan/ikutan dari kegiatan perikanan tangkap.
 Kriteria Keberadaan Kawasan Pemanfaatan ruang lain disekitarnya, seberapa dekat
pelabuhan tersebut dengan kawasan konservasi, pemukiman nelayan, perkotaan, dan
kawasan industri.
Skoring penilaian pemilihan lokasi pelabuhan perikanan berdasarkan besaran pelabuhan.

105
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
B. Kriteria teknis
Kriteria teknis yang harus diperhatikan dalam perencanaan pelabuhan secara umum sebagai
berikut:
1. Lokasi terlindung dari gangguan angin dan gelombang sehingga kapal mudah untuk
bermanuver saat dari/ke pelabuhan.
2. Kapal harus dapat dengan mudah ke luar / masuk pelabuhan. Kedalaman alur pelayaran
harus memenuhi kedalaman yang dibutuhkan saat kapal bermuatan penuh.
3. Tersedia ruang gerak kapal di dalam kolam pelabuhan (luas perairan). Hal ini untuk
memudahkan kapal untuk bermanuver saat akan bersandar, saat akan ke laut atau berlabuh.
4. Pengerukan mula dan pemeliharaan pengerukan yang minim. Pelabuhan seyogyanya tidak
terletak didaerah perairan yang dangkal atau daerah sedimentasi yang menyebabkan
pembengkakan biaya pengerukan dan biaya pemeliharaan pengerukan.
5. Mengusahakan perbedaan pasang surut yang relatif kecil, tetapi pengendapan sedimentasi
harus diperkecil.
6. Memiliki topografi yang landai dan cukup luas untuk pengembangan kawasan selanjutnya.
7. Pelabuhan memiliki tempat penyimpanan tertutup atau lapangan terbuka untuk
menampung muatan. (fasilitas)
8. Tersedianya fasilitas prasarana/infrastruktur lain yang mendukung.
9. Terhubung dengan jaringan angkutan darat yang menghubungkan dengan daerah
pendukungnya/daerah belakangnya.

Tabel L1.13. Penggolongan Kelas Pelabuhan Berdasarkan Kriteria Teknis


Kelas Pelabuhan Perikanan
No. Kriteria Kelas II Kelas III Kelas IV
(PPS)
(PPN) (PPP) (PPI)
1. Luas Lahan (Ha) Min. 30 Ha 15 Ha 5 Ha 2 Ha
Prasarana, Prasarana, Prasarana,
2. Pemanfaatan Lahan Industri Industri Prasarana
Perikanan Industri Kecil
Jumlah Kapal
3. 100 75 30 20
(Unit/Hari)
Fasilitas tambat labuh
4. u/ kapal berukuran ≥ 60 ≥ 30 ≥ 10 ≥3
(GT)
5. Panjang Dermaga (m) Min. 300 150 100 50
6. Kedalaman (m) ≥3 ≥3 ≥2 ≥2
Daya Tampung
7. 6.000 2.250 300 60
Kapal Sandar sekaligus

106
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Kelas Pelabuhan Perikanan
No. Kriteria Kelas II Kelas III Kelas IV
(PPS)
(PPN) (PPP) (PPI)
(GT)
Ikan Didaratkan
8. 60 30 15 – 20 > 10
(Ton/Hari)

Fasilitas Pembinaan &


9. Tersedia Tersedia Tersedia -
Pengujian Mutu

10. Sarana Pemasaran Tersedia Tersedia Tersedia -


11. Pengembangan Industri Tersedia Tersedia Tersedia -
Perairan
Laut Pedalaman,
Teritorial, Perairan
Laut Perairan Pedalaman
ZEEI dan Teritorial Kepulauan,
12. Skala Layanan
dan Perairan
Perairan dan ZEEI Laut
Internasion Teritorial Kepulauan
al
dan ZEEI
Sebagian
Sebagian Lokal,
13. Tujuan Pemasaran u/ Lokal
u/ Ekspor Antardaerah
Ekspor
Sumber : Kepmen No. 10 Th 2004tentang pelabuhan perikanan

Tabel L1.14. Kriteria Pelabuhan Khusus


Pelabuhan Pelabuhan
Pelabuhan
No Variabel Khusus Khusus
Khusus Regional
Nasional Lokal
- menangani - tidak menangani - tidak menangani
pelayanan barang- pelayanan barang- pelayanan barang
barang berbahaya barang berbahaya berbahaya dan
dan Beracun (B3); dan beracun (B3); beracun (B3); dan
1 Pelayanan - melayani kegiatan - melayani kegiatan melayani kegiatan
pelayanan lintas pelayanan lintas pelayanan lintas
Propinsi dan Kabupaten/Kota Kota dalam satu
Internasional. dalam satu Kabupaten/Kota.
Propinsi.
- bobot kapal yang - bobot kapal yang - bobot kapal
dilayani 3000 DWT dilayani lebih clan kurang dari 1000
2 Teknis atau lebih; 1000 DWT dan DWT;
- panjang dermaga 70 kurang dan 3000 - panjang dermaga
DWT;

107
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Pelabuhan Pelabuhan
Pelabuhan
No Variabel Khusus Khusus
Khusus Regional
Nasional Lokal
M atau lebih, - panjang dermaga kurang clan 50 M'
konstruksi kurang dari 70 M', dengan konstruksi
beton/baja; konstruksi kayu;
- kedalaman di depan beton/baja; - kedalaman di
dermaga - 5 M LWS - kedalaman di depan dermaga
atau lebih; depan dermaga kurang clan - 4 M
kurang clan - 5 M LWS;
LWS;
Sumber: Kepmenhub No. 53 Tahun 2002 Tentang Tatanan Kepelabuhan Nasional

Tabel L1.15. Kriteria Pelabuhan Daratan


Pelabuhan Pelabuhan Pelabuhan
No Variabel Khusus Khusus Khusus
Nasional Regional Lokal
> 20.000 < 12.000 < 12.000
Volume Angkutan TEU’s/tahun TEU’s/tahun; TEU’s/tahun;
1.
Barang/Peti Kemas

> 3 Ha
2. Luas Terminal < 2 Ha < 2 Ha

3. Area Penumpukan > 8.000 m2 5.000 – 8.000 m2 < 5.000 m2


750 – 1.000TEU’s < 750 TEU’s
4. Kapasitas Penumpukan > 1.000 TEU’s

>450 m2 300 – 450 m2 < 300 m2


5. Gudang Ekspor

> 450 m2 300 – 450 m2 < 300 m2


6. Gudang Impor

> 350 m2 250 – 350 m2 < 250 m2


7. Hangar Mekanik

> 400 m2 250 – 400 m2 < 250 m2


8. Gedung Perkantoran

Area Bongkar Muat Dan < 3.000 m2


9. Lalu Lintas Trailer/Alat > 6.000 m2 > 6.000 m2
Berat
Panjang Landasan Pacu 200 – 250 m2 < 200 m2
10. > 250 m2
Gantry Crane
Sumber: Kepmenhub No. 53 Tahun 2002 Tentang Tatanan Kepelabuhan Nasional

108
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1

Tabel L1.16. Skoring Kesesuaian Kawasan Pelabuhan


Nilai
No Nama Kriteria SATUAN
5 4 3 2 1
KRITERIA PERIKANAN
1. Jumlah Armada Unit 75-100 30-75 20-30 10-20 < 10
2. Zona tangkap I,II,III I,II,III I,II I I
pelagis
pelagis
besar,pe pelagis pelagis
kecil,pel pelagis
lagis besar,pela kecil,
3. Jenis Komoditi agis kecil,
kecil, gis kecil, demers
besar, demersal
demersa demersal al
demersal
l
4. Daerah Operasional mil 0-12 0-12 0-6 0-4 0-4
Volume Hasil
5. Tangkap ton/Tahun >6000 2250 300 60 <60
Tidak
6. Kegiatan Lanjutan Ada - - - Ada
7. volume potensi % 60-80 40-60 20-40 10-20 < 10
8. Ikan didaratkan Ton/hari 30-60 20-30 10-20 5-10 <5
Tenaga Kerja Sektor 1000- 500-
9. Perikanan orang >5000 5000 1000 <500 0

KRITERA HISTORIS
Kawasan
Nelayan(Nelayan/pen
10 duduk) % 15-30 - 0-15 - 0
Riwayat Armada
11 Nelayan buah 75-100 30-75 20-30 10-20 < 10
Armada kapal dari
12 luar % 50 40-50 30-40 20-30 <20
Tidak
13 Histori Pelabuhan Ada - - - Ada

KRITERIA AKSES
Kolek
tor
Moda Transportasi -
Arteri Prime Lokal Arteri
14 Klas Jalan Primer r Primer Sekunder

109
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Nilai
No Nama Kriteria SATUAN
5 4 3 2 1
Tidak
15 Sumber Air km Ada - - - Ada
Tidak
16 Listrik Ada - - - Ada
17 BBM km Ada - - - Tidak
Ada
18 Fungsi Kota yang PKN PKW - PKL -
dilayani Pusat
Kegiatan
KRITERIA PERKIRAAN PROSPEK
20 Kebutuhan Pasar ton > 60 > 30 >20 > 10
Thd Komoditas
(volume)
21 Pemenuhan % 60-80 40-60 20-40 10-20 < 10
Komoditas di Pasar
22 Prospek Industri Baik - Sedang - Kurang
Lanjutan
KRITERIA KEDEKATAN DG KAWASAN LAIN
23 Kawasan Konservasi km > 10 7,5-10 5-7,5 5-3 <3
24 Kawasan Pemukiman km <3 5-3 5-7,5 7,5-10 > 10
25 Kawasan Industri km <3 5-3 5-7,5 7,5-10 > 10
KRITERIA TEKNIS
26 Topografi m Landai - Datar - Curam
27 Bathimetri m >8 7-8 6-7 5-6 <5
28 Geologi kohesif kohesi Non- Non- plastis
f kohesif kohesif
29 Pasang-Surut Kecil - Sedang - Besar
30 Gelombang m <0,2 0,2- 0,5-0,8 0,8-1 >1
0,5
31 Sedimentasi Kecil - Sedang - Besar
32 Angin Kecil - Sedang - Besar
33 Arus Kecil - Sedang - Besar
34 Hidrologi & Sungai Kecil - Sedang - Besar
35 Luas Lahan Darat Ha >30 15-30 5-15 2-5 <2
36 Kapasitas Kapal GT 0-60 0-30 0-10 0-7 0-3
37 Panjang Dermaga m >300 150- 100-150 50-100 < 50

110
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Nilai
No Nama Kriteria SATUAN
5 4 3 2 1
300
38 Kedalaman Kolam m >6 5-6 4-5 3-4 <3
labuh
39 Daya Tampung Kapal GT >6000 2250- 300-2250 60-300 < 60
Sandar (GT) 6000
40 Lebar Alur (1 Kapal) m >15 11-14 10 - 5
41 Lebar Alur (2 Kapal) m >40 30-40 30-20 10-20 <10
42 Kedalaman Alur m >8 7-8 6-7 5-6 <5
KRITERIA EKONOMI
43 Komoditi lain Ada - Ada (kecil) - Tidak
(besar) Ada
44 Dukungan/Kesiapan Baik - Sedang - Kurang
daerah belakangnya
45 Prospek Baik - Sedang - Kurang
Perkembangan
Kegiatan
46 Ekspor Ada - Ada (kecil) - Tidak
(besar) Ada
47 Import Ada - Ada (kecil) - Tidak
(besar) Ada
45 Prospek Baik - Sedang - Kurang
Perkembangan
Kegiatan
Sumber : Analisa TRLP3K

Skoring :
0 – 47 = Tidak direkomendasikan dibangunnya pelabuhan
48 – 94 = Dapat dibangun pelabuhan perikanan setingkat PPI
95 - 141 = Dapat dibangun pelabuhan perikanan setingkat PPI hingga PPP
142 - 188 = Dapat dibangun pelabuhan perikanan setingkat PPI hingga PPN
189 - 235 = Dapat dibangun pelabuhan perikanan setingkat PPI hingga PPS

5) Pertambangan Pasir Laut


Batasan pengembangan kawasan pertambangan pasir laut mengacu pada Keputusan
Menteri Kelautan dan Perikanan No: Kep.33/MEN/2002 tentang Zonasi wilayah pesisir dan
laut untuk kegiatan pengusahaan pasir laut. Berdasarkan Kepmen tersebut, kawasan

111
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
pertambangan pasir laut di wilayah pesisir dan laut dapat dibedakan menjadi 2 (dua) zona
yaitu:
a. Zona Perlindungan
Zona perlindungan adalah zona di wilayah pesisir dan laut yang telah ditetapkan sebagai kawasan
perlindungan menurut undang-undang atau berdasarkan kriteria dan pertimbangan tertentu sehingga
perlu dilindungi dari kegiatan pengusahaan pasir laut.
Kawasan-kawasan perlindungan tersebut antara lain :
 Kawasan Pelestarian Alam seperti taman nasional dan taman wisata alam
 Kawasan suaka alam seperti; cagar alam dan suaka margasatwa
 Kawasan perlindungan ekosistem, pesisir dan pulau-pulau kecil seperti ; taman laut
daerah, kawasan perlindungan bagi mamalia laut, suaka perikanan, daerah migrasi,
biota laut dan daerah perlindungan laut, terumbu karang serta kawasan pemijahan,
ikan dan biota laut lainnya.
 Perairan yang jarak dari atau sama dengan 2 (dua) mil laut yang diukur dari garis pantai
ke arah perairan kepulauan atau laut lepas pada saat surut terendah.
 Perairan dengan kedalaman kurang dari atau sama dengan 10 meter dan berbatasan
langsung dengan garis pantai yang diukur dari permukaan air laut pada surut terendah
 Instalasi kabel dan pipa bawah laut serta zona keselamatan selebar 500 meter pada sisi
kiri dan kanan dari instalasi kabel dan pipa bawah laut.
 Alur laut kepulauan Indonesia (ALKI)
 Zona keselamatan sarana bantu navigasi

b. Zona Pemanfaatan pengusahaan pasir laut


Zona Pemanfaatan untuk pengusahaan pasir laut dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
1) Zona pemanfaatan bersyarat
Kawasan atau zona pemanfaatan bersyarat adalah zona yang dapat dimanfaatkan untuk
pengusahaan pasir laut dengan persyaratan tertentu.
Kawasan laut yang merupakan zona pertambangan pasir laut dengan persyaratan
atau zona dengan pemanfaatan bersyarat adalah:
 Skema pemisah lalu lintas di laut (Traffic Separation Scheme – TSS).
 Kawasan pemindahan dan atau bongkar muat lepas pantai (Ship to Ship Transfer –
STS) dan daerah lego jangkar.
 Alur lalu lintas pelayaran.
 Kawasan wisata bahari.
 Kawasan penangkapan ikan tradisional.
 Tempat pembuangan bahan-bahan peledak.
 Zona latihan TNI AL.
 Zona pengambilan benda berharga asal muatan kapal tenggelam

112
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
 Zona pengeboran lepas pantai (zone off shore drilling) termasuk prasarana penunjang
keselamatan pelayaran.

Perijinan pertambangan pasir laut dapat diberikan dengan beberapa persyaratan yang
bertujuan untuk membatasi kegiatan pertambangan sehingga tidak mengganggu kegiatan
sektor lain.
Beberapa persyaratan yang diterapkan antara lain :
- Pembatasan terhadap jenis dan jumlah kapal yang dioperasikan.
- Penentuan sistem penambangan dan pengerukan yang dilakukan.
- Pembatasan jumlah volume pasir laut yang ditambang.
- Pengaturan jadwal kegiatan penambangan dan pengerukan.

2) Zona terbuka tambang


Zona terbuka tambang adalah zona atau kawasan pesisir dan laut yang dapat dijadikan
lokasi pertambangan pasir laut yang berada di luar kawasan atau zona perlindungan.
Zona terbuka tambang merupakan kawasan perairan yang berada di luar Zona
Perlindungan dan Zona Pemanfaatan Bersyarat. Meskipun pada zona tersebut
diijinkan dilakukannya kegiatan pertambangan pasir laut secara bebas, namun
kegiatan tersebut tetap harus memperhatikan aspek-aspek penting lain yang terkait
dengan upaya pelestarian dan perlindungan ekosistem, maupun perlindungan
kehidupan sosial ekonomi masyarakat nelayan.
Pasal 10 Kepmen KP Nomor Kep.33/MEN/2002 disebutkan bahwa setiap kegiatan
pengusahaan pasir laut diwajibkan menjaga :
- Kelestarian lingkungan pesisir dan laut
- Stabilitas geologi lingkungan pesisir dan laut
- Keberlanjutan usaha nelayan dan petani tambak
- Keserasian kegiatan pertambangan dengan kepentingan pemanfaatan ruang sektor
lain di pesisir dan laut, seperti kegiatan wisata bahari, perikanan tangkap,
perikanan budidaya, pelayaran, serta pertahanan dan keamanan

Pengembangan kawasan pesisir dan laut menjadi zona pertambangan pasir laut harus
memperhatikan beberapa faktor, antara lain:
- Faktor Utama; nilai tambah/nilai ekonomis, potensi tambang.
a. Analisis nilai tambah dari kegiatan pertambangan pasir laut diperlukan untuk melihat
besarnya penerimaan negara/pendapatan asli daerah. Kegiatan pengusahaan tambang pasir
laut diharapkan dapat menjadi pembangkit kegiatan perekonomian di kawasan sekitarnya
bila dibandingkan dengan tingkat kerusakan lingkungan atau gangguan terhadap aktifitas
sektor lain yang mungkin akan terjadi.
b. Nilai dari suatu potensi bahan galian sangat dipengaruhi oleh kuantitas dan kualitasnya.
Potensi bahan galian yang telah dipahami baik geometri, sebaran dan kualitasnya dapat

113
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
digolongkan menjadi cadangan bahan galian. Sementara potensi dengan tingkat
pemahaman yang lebih rendah digolongkan sebagai sumberdaya.
Potensi suatu kawasan dapat dibedakan menjadi tinggi, sedang dan rendah. Berdasarkan
kualitas dan kuantitasnya, maka proses penetapan suatu daerah menjadi kawasan
pertambangan dapat digambarkan pada matriks berikut ini.
Tabel L1.17. Proses Penetapan Suatu Daerah Menjadi Kawasan Pertambangan
Penetapan Menjadi
Nilai Tambah Potensi B.Galian
Kawasan Tambang
Sangat Perlu Tinggi Tinggi
Tinggi Sedang
Perlu
Sedang Tinggi
Sedang Sedang
Mungkin Perlu Rendah Tinggi
Rendah Sedang
Sedang Rendah
Tidak Perlu
Rendah Sedang

- Faktor Pembatas; dampak terhadap kondisi fisik (hidro-oceanografi, geologi/geomorfologi),


dampak ekologis, dampak terhadap kawasan lindung, pemanfaatan ruang saat ini
(permukiman, perikanan, pariwisata, alur pelayaran, infrastruktur), sosial-ekonomi masyarakat
sekitar, jangkauan dampak.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengembangan kawasan pertambangan pasir laut
yang menjadi faktor pembatas :
 Dampak terhadap lingkungan fisik dan ekosistem
 Hubungan kegiatan pertambangan dengan kegiatan sektor lain
 Dampak terhadap kondisi sosial dan ekonomi masyarakat
 Faktor keamanan terhadap lingkungan, masyarakat disekitarnya, dan pekerja dilapangan

- Faktor Politis/Kebijakan Pemerintah; UU, PP, Kepmen, Perda


a. Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No: Kep 33/MEN/2002 tentang Zonasi
wilayah pesisir dan laut untuk kegiatan pengusahaan pasir laut.
b. Keputusan Direktur Jenderal Pesisir dan Pulau-pulau Kecil No.
Kep.01/P3K/HK.156/X/2002 tentang Petunjuk pelaksanaan zonasi wilayah pesisir dan
laut untuk kegiatan pengusahaan pasir laut.

Proses kegiatan pertambangan pasir laut meliputi:


1. Pretreatment, perlakuan khusus terhadap bahan yang akan ditambang dengan cara kimiawi atau
mekanis tergantung dari jenis bahan.

114
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
2. Ekstraksi/pengerukan, proses pemindahan material pengerukan dari tempat asalnya ke atas
permukaan air.
3. Transportasi, proses pengangkutan dari tempat penambangan menuju tempat
penimbunan/pengolahan.
4. Disposal/penimbunan, proses penimbunan/pembuangan material kerukan.

Seluruh proses kegiatan pertambangan pasir laut diatas akan menimbulkan efek terhadap
lingkungan maupun kegiatan lain yang berada pada kawasan yang sama. Kegiatan pertambangan
pasir laut baik pada zona pertambangan terbuka maupun pada zona pertambangan bersyarat
akan menimbulkan dampak terhadap :
 Lingkungan fisik kawasan dampak terhadap kondisi fisik (hidro-oceanografi,
geologi/geomorfologi),
 Lingkungan hayati/dampak ekologis (kawasan lindung, perikanan)
 Lingkungan sosial, ekonomi, dan budaya (wisata bahari, permukiman, alur pelayaran,
infrastruktur).

Tabel L1.18. Dampak Kawasan Pertambangan Terhadap Kegiatan Pemanfaatan Ruang

No Faktor Variabel

1. Dampak Perubahan pola arus dan perambatan gelombang, erosi dan


sedimentasi dasar laut dan pantai, perubahan bathymetri,
hidro-oceanografi
peningkatan sedimen tersuspensi
2. Dampak terhadap Kerusakan ekosistem mangrove, terumbu karang dan padang lamun,
ekologi penurunan populasi ikan
3. Dampak terhadap Penurunan produksi, penangkapan ikan secara tradisional,
sosial ekonomi penurunan produksi kegiatan budidaya lainnya
4. Jangkauan dampak  Jumlah manusia yang terkena dampak
(AMDAL)  Luas wilayah persebaran dampak
 Lamanya dampak berlangsung intensitas dampak
 Banyaknya komponen lingkungan lainnya yang terkena
dampak
 Sifat kumulatif dampak tersebut
 Berbalik atau tidak berbaliknya dampak
5. Dampak terhadap Penurunan kualitas hutan mangrove, terumbu karang, padang
kawasan lindung lamun, sempadan pantai, cagar alam, cagar budaya, suaka
margasatwa, taman suaka alam laut

6. Dampak terhadap Terganggunya dan tercemarnya kawasan pariwisata, kawasan


kegiatan pemanfaatan pemukiman, kawasan perikanan tangkap/budidaya, alur pelayaran,
ruang instalasi kabel bawah laut/infrastruktur lainnya, dll

115
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Sumber: Analisa TRLP3K
a. Dampak positif pertambangan pasir laut
Pasir laut merupakan potensi sumberdaya kelautan yang memberikan sumbangan cukup
besar terhadap devisa negara ataupun PAD. Pertambangan pasir laut tidak hanya memberikan
dampak yang negatif tetapi juga dampak positif, antara lain:
- Penerimaan devisa negara dari pajak ekspor pasir laut
- Pendapatan asli daerah meningkat
- Adanya penyerapan tenaga kerja.
- Tumbuhnya kegiatan ekonomi lokal dan kesempatan berusaha bagi masyarakat.
b. Dampak negatif pertambangan pasir laut
Selain dampak positif, kegiatan pertambangan pasir laut akan menimbulkan dampak
negatif yang cukup signifikan terhadap lingkungan dan ekosistem laut dan pesisir, antara lain:
- Penurunan hasil tangkapan ikan nelayan tradisional yang menimbulkan dampak lebih lanjut
pada penurunan pendapatan nelayan
- Terjadinya abrasi pantai sehingga hal ini dapat membuat benteng atau tembok tambak
budidaya ikan dan udang menjadi goyang, bocor maupun longsor, serta kerusakan ekosistem
pesisir.
- Terjadinya kekeruhan badan air sampai radius 3-4 km dari lokasi penambangan yang
mengganggu usaha budidaya laut seperti keramba jaring apung, serta ekosistem di laut.
- Perubahan pola hidrodinamika air laut akibat perubahan permukaan dasar perairan
- Adanya tenaga kerja pendatang seringkali menimbulkan konflik sosial dengan penduduk
setempat

Kriteria penentuan kawasan pertambangan pasir laut harus memperhitungkan faktor-faktor


sebagai berikut:
 Jumlah estimasi potensi deposit pasir laut.
 Pola hidrodinamika perairan laut yang mencakup pola arus, kecepatan arus dan tinggi
gelombang.
 Jarak dari kawasan konservasi atau daerah perlindungan laut.
 Keberadaan kawasan perlindungan ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil.
 Tingkat kedalaman perairan laut.
 Keberadaan Instalasi kabel dan pipa bawah laut serta zona keselamatan selebar 500 meter
pada sisi kiri dan kanan dari instalasi kabel dan pipa bawah laut.
 Alur laut kepulauan Indonesia (ALKI).
 Keberadaan prasarana keselamatan sarana bantu navigasi.
 Keberadaan Skema pemisah lalu lintas di laut (Traffic Separation Scheme – TSS).
 Keberadaan Kawasan pemindahan dan atau bongkar muat lepas pantai (Ship to Ship Transfer –
STS) dan daerah lego jangkar.

116
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
 Alur lalu lintas pelayaran.
 Keberadaan Kawasan wisata bahari.
 Kawasan penangkapan ikan nelayan tradisional.
 Keberadaan Tempat pembuangan bahan-bahan peledak.
 Keberadaan Zona latihan TNI AL.
 Keberadaan Zona pengambilan benda berharga asal muatan kapal tenggelam (BMKT).
 Keberadaan Zona pengeboran lepas pantai (Zone Offshore Drilling) termasuk prasarana
penunjang keselamatan pelayaran.

Tabel L1.19. Kriteria Fisik Kesesuaian Perairan Kawasan Pertambangan Pasir Laut
Kriteria Kesesuaian
No. Kriteria Sesuai Kurang Tidak sesuai
(S1) sesuai (S2) (N)
1. Kandungan Deposit Banyak Sedang Sedikit
2. Kec. Arus (m/ det) <1 1-2 >2
3. Tinggi Gelombang <1 1-2 >2
Jarak dari Kawasan
4. > 10 2 - 10 <2
Konservasi
Sumber : Direktorat TRLP3K, 2003

117
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Skema Pemilihan Lokasi Kawasan Pertambangan
Foto Peta Peta
Citra
Udara Topografi /RBI Geologi

Peta Regional

Data Dukung
Delineasi lainnya : Kriteria Kaw .
Awal Daerah SD Lindung /Penting /
Zona Perlindungan Mineral Kritis /Berbahaya dan
Kajian

Daerah bukan
Zona Lindung

Zona Kajian Hidro


Penyangga Oceanografi

Zona Pemanfaatan

Eksplorasi

Tambang Studi Faktor Utama


Bersyarat Kelayakan Faktor Pembatas

Tambang
Terbuka

Gambar L1.1.1 Skema Pemilihan Lokasi Kawasan Pertambangan


Sumber : Hasil modifikasi Distamben Jabar 2005 dan Kegiatan TP4L (pasir Laut)

Prinsip-prinsip wilayah pertambangan pasir laut secara umum dicirikan oleh :


1. Penetapan kawasan pertambangan pasir laut berarti pada kawasan laut yang bersangkutan
telah menempatkan kegiatan pertambangan pasir laut sebagai prioritas dan sebagai
pendorong pembangunan.
2. Kawasan Pertambangan Pasir laut ditentukan disamping berdasarkan pertimbangan
geologi tetapi juga berdasarkan pertimbangan faktor lingkungan, ekonomi,
hukum/perundang-undangan, sosial-budaya, penilaian rencana manajemen tambang serta
optimalisasi pemanfaatan sumberdaya alam melalui perhitungan biaya-manfaat (cost-
benefit).
3. Kawasan pertambangan pasir laut terletak di daerah yang cukup aman untuk dapat
mencemari/memberikan dampak negatif pada daerah vital/strategis atau daerah yang

118
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
rentan/peka terhadap gangguan. Oleh karena itu dalam melakukan eksploitasi
hendaknya memperhitungkan kebutuhan, persediaan dari potensi pertambangan.
4. Kawasan pertambangan pasir laut memudahkan/memberi kejelasan pada investor yang
berminat mengembangkan usaha di bidang penambangan, pengolahan maupun jasa
pendukungnya.

Sedangkan prinsip pengembangan kawasan pertambangan yang termuat dalam peraturan antara
lain, yaitu Menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Kep
34/MEN/2002 tentang Pedoman umum penataan ruang pesisir dan pulau-pulau kecil mengenai
perencanaan zona eksploitasi dan eksplorasi pasir laut harus memperhatikan ketentuan sebagai
berikut :
a. Tidak dilakukan pada kawasan suaka alam dan cagar budaya baik yang ada di perairan
maupun dipantai, yang meliputi zona taman nasional, cagar alam, suaka margasatwa,
Taman Wisata Alam dan zona Cagar Budaya.
b. Tidak dilakukan pada daerah yang merupakan area pemijahan, perlindungan,
pembesaran dan tempat mencari makan biota laut. Misalnya pada daerah terumbu
karang, daerah mangrove, padang lamun, dll.
c. Perlu menghindari zona pangkalan pertahanan (militer), alur-alur keluar masuk pesawat
terbang, alur pelayaran, instansi pelayaran, pelabuhan, menara suar, rambu suar,
anjungan kapal tengah laut dan instalasi lain yang bersifat permanen, di atas atau
dibawah permukaan air.
d. Perlu dihindari dari daerah-daerah yang digunakan sebagi laboratorium alam atau tempat
penelitian ilmiah.
e. Di lokasi yang jaraknya kurang dari 250 (dua ratus lima puluh) meter dari batas wilayah,
kuasa pertambangan dan atau wilayah kerja atau apabila berbatasan dengan negara lain
maka ada ketentuan jarak yang ditentukan dalam perjanjian antar Negara Republik
Indonesia dengan negara yang bersangkutan.
f. Memperhitungkan instalasi bawah permukaan air antara lain pipa penyalur, kabel bawah
laut, dermaga laut setiap jenis pondamen (fondasi dermaga), dan perangkap atau alat
tangkap ikan yang sudah ada maupun rencana kedepan sebelum dimulainya usaha
pertambangan tersebut.
g. Penambangan pasir laut di perairan laut tidak boleh menimbulkan terjadinya pencemaran
pada air laut, air sungai, dan udara dengan zat yang mengandung racun, bahan radio
aktif, barang tidak terpakai dan lainnya.
Hirarki Rencana
Rencana tata ruang kawasan pertambangan pasir laut dibuat pada lingkup nasional, provinsi dan
kabupaten/kota.
a. Rencana tata ruang kawasan pertambangan pasir laut nasional
Berisikan persebaran potensi dan arahan lokasi pertambangan pasir laut di seluruh provinsi
dan merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Kelautan Nasional dan Rencana Tata Ruang
Wilayah Nasional. Skala peta rencana ini adalah 1:1.000.000.
b. Rencana tata ruang kawasan pertambangan pasir laut provinsi

119
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Berisikan persebaran potensi dan arahan lokasi di wilayah provinsi, dan sebagai koordinasi
perencanaan antar kabupaten/kota. Merupakan bagian dari Rencana Tata Ruang Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil Wilayah Provinsi. Skala peta rencana 1:250.000
c. Rencana tata ruang kawasan pertambangan pasir laut kabupaten/kota
Merupakan rencana pemanfaatan ruang sebagai dasar bagi penetapan lokasi kawasan/zonasi
pertambangan pasir laut dalam wilayah Kabupaten. Skala peta rencanan 1:20.000 sampai
1:10.000.

Hirarki Pengembangan kawasan pertambangan berupa urutan kewenangan yang dimiliki oleh
pemerintah pusat, provinsi (tingkat I) dan kabupaten/kota (tingkat II) yang mengacu pada Pasal
4 Rancangan Undang-undang Pertambangan Umum.
Kewenangan Pemerintah dalam Pengelolaan Pertambangan pasir laut meliputi :
1. Pembuatan Kebijakan nasional
2. Pembuatan Peraturan perundang-undangan di bidang pertambangan umum dalam hal ini
komoditas pasir laut.
3. Pembuatan dan penetapan standarisasi nasional.
4. Pembuatan dan penetapan sistem perizinan pertambangan umum nasional.
5. Pengelolaaan pengusahaan dan pengawasan pertambangan pasir laut pada wilayah lintas
provinsi dan wilayah laut diluar 12 mil laut.
6. Penetapan tatacara pelaksanaan izin dan pengawasan pertambangan pasir laut pada wilayah
lintas provinsi dan wilayah laut di luar 12 mil laut.
7. Penetapan kebijakan pemasaran, pemanfaatan dan konservasi.
8. Penetapan kebijakan kerjasama dan kemitraan.
9. Penetapan kriteria kawasan pertambangan pasir laut.
10. Perumusan dan penetapan tarif iuran tetap dan iuran produksi yang menjadi bagian
pemerintah.
11. Pembinaaan dan pengawasan pelaksanaan pengelolaan dan penyusunan peraturan daerah di
bidang pertambangan pasir laut;
12. Pengelolaan informasi geologi, potansi bahan galian dan informasi pertambangan nasional.
13. Penyusunan neraca sumberdaya pasir laut tingkat nasional.

Kewenangan provinsi dalam pengelolaaan pertambangan pasir laut meliputi :


1. Penetapan kerja sama dan kemitraan di bidang pertambangan pasir laut.
2. Pembuatan peraturan perundang-undangan daerah di bidang pertambangan pasir laut.
3. Pengelolaan pengusahaan dan pengawasan Pertambangan pasir laut pada wilayah lintas
kabupatan/kota dan wilayah laut di luar sepertiga dari batas laut daerah provinsi.
4. Penetapan tata cara pelaksanaan pemberian izin pengawasan pertambangan pasir laut pada
wilayah lintas kabupaten/kota dan wilayah laut sepertiga dari batas laut daerah provinsi.

120
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
5. Pengelolaan informasi geologi, potensi bahan galian pada wilayah lintas kabupaten /kota dan
informasi pertambangan di wilayah kabupaten /kota.
6. Penyusunan neraca sumber daya pasir laut tingkat provinsi

Kewenangan Kabupaten /kota diatur dalam pengelolaan pertambangan pasir laut meliputi :
1. Penetapan kerjasama dan kemitraan di bidang pertambangan pasir laut.
2. Pembuatan peraturan perundang-undangan daerah di bidang pertambangan pasir laut.
3. Pengelolaan pengusahaan dan pengawasan pertambangan pasir laut di wilayah kabupatan
/kota dan wilyah laut sampai dengan sepertiga dari batas laut daerah provinsi.
4. Penetapan tata cara pelaksanaan izin dan pengawasan pertambangan pasir laut di wilayah
kabupaten /kota dan wilayah laut sampai dengan sepertiga dari batas laut daerah provinsi.
5. Pengelolaan informasi geologi, potensi bahan galian informasi pertambangan di wilayah
kabupaten /kota.
6. Penyusunan neraca sumberdaya bahan galian tingkat kabupaten /kota.

6) Pertanian di Pesisir
Tabel L1.20. Parameter Kesesuaian Lahan Pertanian di Pesisir
Kriteria Kesesuaian Lahan
No. Kriteria Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai
S1 (3) S2 (2) N (1)
1 Kesuburan Tanah Tinggi sedang Rendah
2 Kelerengan dan keadaan <3% dan 80% <5 % dan 50% <8 % dan 40%
permukaan tanah dari wilayah rata dari wilayah rata dari wilayah rata
3 Kelas drainase Terhambat Agak terhambat Tidak terhambat
4 pH tanah lapisan atas (0 –30 5.5 – 7.4 <4.0 dan 7.5 – < 3.5 & > 8.5
cm) 8.0
5 Banjir dan Genangan musian Tanpa < 2 km tanpa 2 – 7 km adanya
ada genangan genangan
permanen < 1m permanen >= 1
m
6 Batu-batu di kawasan <5% 5 – 50 % >50 %
Permukaan
7 Zone agroklimat A1..A2. B1.B2 B3.C1.C2.C3 C3.D1.D2.D3
8 Ketinggian (Mdpl) < 500 500 - 750 750 – 1000
9 Daya hantar lis trik (m <4 4-6 >6
mhos/cm)
Sumber : Manajemen Sumberdaya Pertanian. IPB (2003)

121
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 1
Tabel L1.21. Parameter Kesesuaian Permukiman di Pesisir
Kesesuaian
No Kesesuaian Satuan Sesuai Kurang Sesuai Tidak Sesuai
(S1) (S2) (N)
1 Jarak dari sarana jalan m 200 200 – 500 >500
2 Jarak dari lahan gambut m ≥ 200 150 – 200 0-149
3 Jarak dari lahan rawa m ≥ 500 300 – 500 0 - 299
4 Kelerengan % ≤8 8 - 15 ≥ 15
5 Jarak dari daerah banjir m 500 300 – 500 0 - 300
6 Jarak dari daerah pasang surut m > 300 150 – 300 0 - 150
7 Sempadan pantai
- sungai besar m ≥ 100
- sungai kecil m > 50
- sungai di daerah permukiman m > 15
dibangun jalan inspeksi

Sumber Dit. TRLP3K 2005

7) Kawasan Industri
Tabel L1.22. Kriteria Kawasan Industri
Luas Lahan Dapat Dijual (maksimum 70%) Ruang
Jalan dan Sarana Terbuka
Kavling Penunjang
Luas Kawasan Kavling Industri Kavling Hijau
Perumahan Lainnya
Industri (Ha) (%) Komersial (%)
(%) (%)
10-20 65-70 Maks 10 Maks 10 Sesuai kebutuhan Min 10
>20-50 65-70 Maks 10 Maks 10 Sesuai kebutuhan Min 10
>50-100 60-70 Maks 12.5 Maks 15 Sesuai kebutuhan Min 10
>100-200 50-70 Maks 15 Maks 20 Sesuai kebutuhan Min 10
>200-500 45-70 Maks 17.5 10-25 Sesuai kebutuhan Min 10
>500 40-70 Maks 20 10-30 Sesuai kebutuhan Min 10
Sumber : Deperindag 2001

122
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 2
Lampiran L2.1. Tabel Jenis bencana dan analisisnya menggunakan pendekatan praktis dan analitis

Pendekatan
Pendekatan Praktis
No Jenis Bencana Analitik/Numerik Parameter Per jenis Ancaman Klasifikasi indeks ancaman bencana
Parameter Keberadaan Faktor Parameter
1 Gempa bumi Rekaman / riwayat Ancaman gempa Ancaman gempa, a. topografi, Kemiringan pantai Peta magnitude gempa
sejarah kejadian ditentukan diukur dari kekuatan dan elevasi a. tinggi apabila magnitude gempa lebih besar
gempa yg berdasarkan gempa; b. biofisik, berdasarkan material dari 7,5 (tujuh koma lima) Skala Richter (SR);
ditentukan a. zona penyusun pantai b. sedang apabila magnitude gempa antara 6
berdasarkan data, penunjaman c. kebutuhan ekonomi, kerugian (enam) sampai dengan 7,5 (tujuh koma lima)
informasi dan peta (subduction ekonomi dari nilai Skala Richter (SR); atau
magnitude gempa zone) dan zona pemanfaatan ruang. c. rendah apabila magnitude gempa lebih kecil
tumbukan dari 6 (enam) Skala Richter (SR).
(collision zone); d. tinggi apabila nilai Peak Ground Acceleration
dan/atau (PGA) lebih dari 0,7 (nol koma tujuh);
b. sesar (fault) di e. sedang apabila nilai Peak Ground Acceleration
dasar laut (PGA) antara 0,2501 (nol koma dua ribu lima
dan/atau di ratus satu) sampai dengan 0,7 (nol koma tujuh);
pesisir. atau
f. rendah apabila nilai Peak Ground Acceleration
(PGA) kurang dari 0,25 (nol koma dua puluh
lima).

(3) Klasifikasi indeks ancaman gempa sebagaimana


dimaksud pada ayat (2) ditentukan berdasarkan
peta Peak Ground Acceleration (PGA) yang
dikeluarkan oleh Tim Revisi Peta Gempa Indonesia
2010.

2 Tsunami Rekaman / riwayat Ancaman tsunami ancaman tsunami, a. topografi; kemiringan pantai Tinggi gelombang
sejarah kejadian ditentukan diukur dari tinggi dan elevasi. a. tinggi apabila tinggi tsunami lebih dari 6
tsunami. Penentuan berdasarkan gelombang dari muka b. biofisik; (enam) meter;
123
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 2
berdasarkan data, a. zona air laut sebelum - ketebalan dan kerapatan b. sedang apabila tinggi tsunami antara 3 (tiga)
informasi dan peta penunjaman tsunami datang dan hutan pantai; sampai dengan 6 (enam) meter; atau
yg menggambarkan (subduction tinggi genangan pada - ketinggian gumuk pasir atau c. rendah apabila tinggi tsunami kurang dari 3
tinggi gelombang zone); lokasi dengan jarak beting gisik; (tiga) meter.
b. sesar (fault) di 100 (seratus) meter - morfologi pantai; dan
dasar laut; dari titik pasang - material penyusun pantai.
dan/atau tertinggi ke arah
c. gunung api dasar darat; c. kebutuhan ekonomi; kerugian
laut. ekonomi dari nilai
pemanfaatan ruang.
d. kebutuhan sosial dan budaya;
- kepadatan penduduk;
- keberadaan cagar budaya;
dan
- aktifitas ritual keagamaan
atau kepercayaan.
e. ketentuan lain.
- jenis dan material bangunan;
dan
- benda-benda yang mudah
hanyut (floating objects).

3 Banjir (Rob) & Rekaman / riwayat Ancaman rob Ancaman banjir dari a. topografi; elevasi. Klasifikasi genangan
kenaikan sejarah kejadian ditentukan laut (rob), diukur dari b. biofisik; keberadaan material a. tinggi apabila laju kenaikan muka air laut lebih
paras muka banjir yg ditentukan berdasarkan laju kenaikan muka air penyusun pantai. dari 5 (lima) milimeter per tahun (mm/tahun);
air laut berdasarkan data, a. pemanasan laut. c. kebutuhan ekonomi; kerugian b. sedang apabila laju kenaikan muka air laut
informasi dan peta global (global ekonomi dari nilai antara 2 (dua) sampai dengan 5 (lima)
yang warming); dan pemanfaatan ruang. milimeter per tahun (mm/tahun); atau
menggambarkan b. amblesan/penur d. kebutuhan sosial dan budaya c. rendah apabila laju kenaikan muka air laut
tinggi genangan yg unan tanah (land - keberadaan cagar budaya; dan kurang dari 2 (dua) milimeter per tahun

124
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 2
pernah terjadi subsidence). - aktifitas ritual keagamaan, (milimeter per tahun (mm/tahun).
budaya, atau kepercayaan.

e. ketentuan lain
keberadaan bangunan
pelindung pantai terhadap
banjir dari laut (rob).

4 Erosi/abrasi Rekaman / riwayat Ancaman ancaman erosi atau a. biofisik; Laju perubahan garis pantai
pantai sejarah kejadian erosi/abrasi abrasi, diukur dari - material penyusun pantai; a. tinggi apabila kemunduran garis pantai lebih
erosi/abrasi yg ditentukan perubahan garis dan dari 1 (satu) meter per tahun (m/tahun);
ditentukan berdasarkan pantai karena - pelindung alami b. sedang apabila kemunduran garis pantai antara
berdasarkan data, a. tinggi angkutan sedimen pantai (vegetasi). 0,5 (nol koma lima) sampai dengan 1 (satu)
informasi dan peta gelombang menyusur pantai (long meter per tahun (m/tahun); atau
yang b. arah datang shore transport) dan b. kebutuhan ekonomi; kerugian c. rendah apabila kemunduran garis pantai kurang
menggambarkan gelombang; perubahan garis ekonomi dari nilai dari 0,5 (nol koma lima) meter per tahun
laju perubahan garis dan/atau pantai karena pemanfaatan ruang. (m/tahun).
pantai c. kecuraman angkutan sedimen c. kebutuhan sosial dan budaya
gelombang. tegak lurus pantai - keberadaan cagar budaya; dan Klasifikasikan indeks ancaman erosi atau abrasi
(cross shore - aktifitas ritual keagamaan, a. tinggi gelombang, yang diklasifikasikan:
1. tinggi apabila tinggi gelombang lebih dari
transport) dengan budaya, atau kepercayaan.
2 (dua) meter;
memperhitungkan 2. sedang apabila tinggi gelombang antara 1
kenaikan muka air a. ketentuan lain (satu) sampai dengan 2 (dua) meter; atau
laut (sea level rise); 3. rendah apabila tinggi gelombang kurang
keberadaan bangunan dari 1 (satu) meter.
pelindung pantai terhadap
b. arah datang gelombang, yang diklasifikasikan:
erosi atau abrasi.
1. tinggi apabila arah datang gelombang
lebih dari 250 (dua puluh lima derajat);
2. sedang apabila arah datang gelombang
antara 100 (sepuluh derajat) sampai
dengan 250 (dua puluh lima derajat); atau

125
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 2
3. kecil apabila arah datang gelombang lebih
kecil dari 100 (sepuluh derajat).

c. kecuraman gelombang, yang diklasifikasikan:


1. tinggi apabila variasi (range) kecuraman
gelombang besar;
2. sedang apabila variasi (range) kecuraman
gelombang sedang; atau
3. rendah apabila variasi (range) kecuraman
gelombang kecil.

5 Angin puting Rekaman / riwayat Ancaman badai ancaman badai, a. biofisik; a. tinggi apabila kecepatan angin lebih dari 60
beliung sejarah kejadian ditentukan diukur dari kondisi keberadaan mangrove. (enam puluh) kilometer per jam (km/jam);
(Badai) badai yg ditentukan berdasarkan kondisi angin b. sedang apabila kecepatan angin antara 20 (dua
berdasarkan data, angin (data kejadian b. kebutuhan ekonomi; kerugian puluh) sampai dengan 60 (enam puluh)
informasi, dan peta angin yang pernah ekonomi dari nilai kilometer per jam (km/jam); atau
yang terjadi) pemanfaatan ruang. c. rendah apabila kecepatan angin kurang dari 20
menggambarkan (dua puluh) kilometer per jam (km/jam).
kecepatan angin c. kebutuhan sosial dan budaya
- keberadaan cagar budaya; dan
- aktifitas ritual keagamaan,
budaya, atau kepercayaan
d. ketentuan lain.
posisi infrastruktur terhadap
garis pantai.
Sumber: Ranperpres Sempadan pantai (2013) dan Analisis

126
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3

Tabel L3.1 Simbolisasi dan Spesifikasi Penyajian Informasi Dasar dalam Peta Rencana Zonasi WP-3-K

SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
I. GARIS PANTAI Garis yang memperlihatkan pantai pada saat air Line
pasang rata-rata V V 0 0 0 60102

II. BATAS ADMINISTRASI


a. Batas Administrasi Wilayah Daratan
1 Batas negara Batas Negara Line
V V 0 0 0 40004

2 Batas provinsi Batas daerah provinsi


V V 0 0 0 40104

3 Batas kabupaten atau kota Batas daerah kabupaten atau kota


V V 0 0 0 40204

4 Batas kecamatan Batas kecamatan


V V 0 0 0 40304

b. Batas Administrasi Wilayah Laut

1 Batas landas kontinen kesepakatan, telah Dasar laut dan tanah dibawahnya (seabed and
diratifikasi subsoil) yang berbatasan dengan daerah dasar laut
dibawah laut territorial s/d min. 200 mil, maksimal
V V 0 0 0 40602
300 mil dari garis pangkal atau 100 mil dari
isobath 2000 meter, yang telah diratifikasi

2 Batas landas kontinen, belum diratifikasi Dasar laut dan tanah dibawahnya (seabed and
subsoil) yang berbatasan dengan daerah dasar laut
dibawah laut territorial s/d minimal 200 mil,
V V 0 0 0 40604
maksimal 300 mil dari garis pangkal atau 100 mil
dari isobath 2000 meter, yang belum diratifikasi

127
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
3 Maksimum klaim batas landas kontinen Jarak maksimum batas landas kontinen yang dapat
di klaim
V V 0 0 0 40608

4 Batas ZEE kesepakatan belum diratifikasi Batas jalur diluar dan berbatasan dengan laut
wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan
berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang
perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah
V V 0 0 0 40704
dibawahnya dan air diatasnya dengan batas terluar
200 mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah
Indonesia, kesepakatan belum diratifikasi

5 Batas ZEE Indonesia (Unilateral) Batas jalur diluar dan berbatasan dengan laut
wilayah Indonesia sebagaimana ditetapkan
berdasarkan undang-undang yang berlaku tentang
perairan Indonesia yang meliputi dasar laut, tanah
V V 0 0 0 40706
dibawahnya dan air diatasnya dengan batas terluar
200 mil laut diukur dari garis pangkal laut wilayah
Indonesia, unilateral

6 Batas laut teritorial Batas laut diukur dari pantai pulau terluar 12 mil
ke laut bebas
V V 0 0 0 40808

12 Batas laut teritorial kesepakatan, telah Batas laut diukur dari pantai pulau terluar 12 mil
diratifikasi ke laut bebas kesepakatan
V V 0 0 0 40802

13 Batas laut teritorial perlu kesepakatan Batas laut diukur dari pantai pulau terluar 12 mil
ke laut bebas perlu kesepakatan
V V 0 0 0 40804

128
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
14 Batas laut Provinsi Batas laut diukur dari garis pantai menurut pasang
tertinggi ke arah 12 mil ke laut bebas
V V 0 0 0 40808

SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
III. IBUKOTA
Ibukota Negara Daerah atau kota yang menjadi pusat
1 Pemerintahan Negara V V 0 0 0 10204

Ibukota Provinsi Daerah atau kota yang menjadi pusat


2 Pemerintahan Provinsi V V 0 0 0 10220

Ibukota Kabupaten Daerah atau kota yang menjadi pusat


3 Pemerintahan Kabupaten V V 0 0 0 10224

Kota Kecamatan Daerah atau kota yang menjadi pusat


4 Pemerintahan Kecamatan V V 0 0 0

IV. PERAIRAN
1 Laut
V V 204 255 255

2 Sungai Air yang mengalir secara terus menerus sepanjang


alur di daratan, digambarkan sesuai skala yang
mempunyai garis tengah atau lebar minimal 125 m
untuk (1000k), 75 m (500k), 35 m (250k),15 m V V 0 255 255 60110
(100k), 7 m (50k), 3.5 m (25k), 1.5 m ( 10k) dan 1 m
(5k)

129
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
3 Danau Menunjukkan danau digambarkan sesuai skala
yang mempunyai garis tengah minimal 125 m
untuk (1000k), 75 m (500k), 35 m (250k),15 m
V V 204 255 255 60104
(100k), 7 m (50k), 3.5 m, (25k), 1.5 m ( 10k) dan 1
m (5k)

4 Waduk atau bendungan Konstruksi yang dibuat untuk membendung aliran


air pada suatu sungai, digambarkan sesuai skala
yang mempunyai garis tengah minimal 125 m
untuk (1000k), 75 m (500k), 35 m (250k),15 m V V 0204 255 255 60202
(100k), 7 m (50k), 3.5 m, (25k), 1.5 m ( 10k) dan 1
m (5k)

V. SISTEM TRANSPORTASI
a. Jaringan Jalan
Jalan Tol / Bebas Hambatan Jalan alternatif untuk mengatasi kemacetan lalu Line
1 lintas ataupun untuk mempersingkat jarak dari
satu tempat ke tempat lain. Untuk melewatinya V V 255 127 0 20102000
para pengguna harus membayar sesuai tarif yang
berlaku
Jalan Arteri Primer Jalan yang dikembangkan untuk melayani dan
2 menghubungkan kota-kota antar pusat kegiatan
nasional dan pusat kegiatan wilayah, juga antar
kota yang melayani kawasan berskala besar dan V V 255 127 0 20110000
atau cepat berkembang dan atau pelabuhan-
pelabuhan utama.

Jalan Kolektor Primer Jalan yang dikembangkan untuk melayani dan


3 menghubungkan kota-kota antar pusat kegiatan
nasional, antar pusat kegiatan nasional dan pusat
kegiatan wilayah, dan antar kota yang melayani V V 255 178 0 20112000
kawasan berskala besar dan atau cepat
berkembang dan atau pelabuhan-pelabuhan
utama.

130
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
Jembatan Yang dibangun untuk membuka daerah terisolir,
4 agar dapat meningkatkan kegiatan ekonomi, sosial
dan budaya lainnya V 0 0 0 11900000

b. Pelabuhan 20400000
Pelabuhan yang melayani arus lalu lintas
1 Pelabuhan sungai penyeberangan penumpang dan barang jalur
V 0 0 0 11952000
sungai

Pelabuhan danau Pelabuhan danau yang melayani arus lalu lintas


2 penyeberangan penumpang dan barang
V 0 255 255 11952100

3 Pelabuhan penyeberangan lintas antar Pelabuhan yang melayani arus lalu lintas
provinsi dan antar negara penyeberangan penumpang dan barang antar
V V 255 0 191 11948100
provinsi dan/atau antar negara

4 Pelabuhan penyeberangan lintas antar Pelabuhan yang melayani arus lalu lintas
kabupaten/kota penyeberangan penumpang dan barang antar V V 115 0 76 11948200
kabupaten/kota.

5 Pelabuhan penyeberangan lintas Pelabuhan yang melayani arus lalu lintas


dalam Kabupaten / Kota penyeberangan penumpang dan barang dalam V V 224 170 15 11948300
kabupaten/kota.

6 Pelabuhan Internasional hub Pelabuhan yang diarahkan untuk melayani


kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan
internasional dalam jumlah besar dan jangkauan V V 0 0 0 20408300
pelayanan sangat luas serta berfungsi sebagai
simpul jaringan transportasi laut internasional hub

131
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
7 Pelabuhan Internasional Pelabuhan yang diarahkan untuk melayani
kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan
internasional dalam jumlah besar dan jangkauan
V V 0 0 255 20408301
pelayanan luas serta berfungsi sebagai simpul
jaringan transportasi laut internasional

8 Pelabuhan Nasional Pelabuhan yang diarahkan untuk melayani


kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan
internasional dalam jumlah besar dan jangkauan V V 0 112 255 20408302
pelayanan luas serta berfungsi sebagai simpul
jaringan transportasi laut nasional.

9 Pelabuhan Regional Pelabuhan yang diarahkan untuk melayani


kegiatan dan alih muat angkutan laut nasional dan
internasional dalam jumlah menengah dan V V 255 0 191 20408303
jangkauan pelayanan menengah.
10 Pelabuhan lokal Pelabuhan yang diarahkan untuk melayani
kegiatan dan alih muat angkutan laut dalam
jumlah kecil dan jangkauan pelayanan dekat serta V 115 0 76 20408304
berfungsi sebagai pengumpan pelabuhan utama.
11 Pelabuhan khusus Pelabuhan yang khusus melayani kegiatan tertentu
dan mempunyai daerah cakupan tertentu. V V 217 166 13 20408305

12 Pelabuhan lainnya Pelabuhan yang tidak termasuk pelabuhan diatas


V 255 255 0 20408305

c. Bandara
1 Bandar udara umum pusat penyebaran Bandar udara yang melayani penumpang dalam
primer jumlah sedang dengan lingkup pelayanan dalam
satu provinsi dan terhubungkan dengan pusat V V 0 0 0 20302100
penyebaran primer

132
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
2 Bandar udara umum pusat penyebaran Bandar udara yang melayani penumpang dalam
sekunder jumlah besar dengan lingkup pelayanan nasional
atau beberapa provinsi dan berfungsi sebagai V V 255 0 0 20302200
pintu utama ke luar negeri

3 Bandar udara umum pusat penyebaran Bandar udara yang melayani penumpang dalam
tersier jumlah rendah dengan lingkup pelayanan pada
beberapa kabupaten dan terhubungkan dengan V V 169 0 230 20302300
pusat penyebaran primer dan pusat penyebaran
sekunder

4 Bandar udara umum bukan pusat Bandar udara yang melayani penumpang dengan
penyebaran jumlah kecil dan tidak mempunyai daerah cakupan V 230 76 0 20303000
atau layanan.

5 Bandar udara khusus Bandar udara yang khusus melayani kegiatan


tertentu dan mempunyai daerah cakupan tertentu V V 255 127 127 20304000

VI. PENAMAAN / TOPONIMI


a. Nama Unsur Perairan
1 Samudera, Laut Nama perairan di laut bebas (Huruf besar atau
besar kecil Times New Roman Italic hitam. Ukuran
huruf max. 40 point ( 4 pt = 1 mm,) sesuai luasan SAMUDERA V V 0 0 0 64402
unsur, hirarki atau tingkatan unsur serta estetika)
LAUT
Laut
2 Selat Nama perairan di antara dua pulau (Huruf besar
atau besar kecil Times New Roman Italic warna
SELAT
hitam. Ukuran huruf max. 40 point sesuai luasan Selat V V 0 0 0 64406
unsur, hirarki atau tingkatan unsur serta estetika) Selat
Selat

133
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
3 Teluk Nama perairan yang menjorok ke daratan (Huruf
besar atau besar kecil Times New Roman Italic TELUK
warna hitam. Ukuran huruf max. 30 point sesuai Teluk V V 0 0 0 64408
luasan unsur, hirarki atau tingkatan unsur serta
Teluk
estetika)
Teluk
4 Danau Nama perairan yang ada di daratan (Huruf besar
atau huruf besar kecil Times New Roman Italic
DANA 0

warna hitam. Ukuran huruf max. 30 point sesuai U


luasan unsur, hirarki atau tingkatan unsur serta
estetika)
Danau V V 0 0 64414

Danau
Danau
5 Sungai dan sejenisnya Nama aliran air yang mengalir dari hulu ke arah 0
muara atau laut (Huruf besar atau besar kecil SUNGAI
Times New Roman Italic warna hitam. Ukuran
huruf max. 30 point sesuai luasan unsur, hirarki Sungai V V 0 0 64422
atau tingkatan unsur serta estetika) Sungai
Sungai

b. Nama Unsur Alam


1 Pegunungan,Gunung atau Bukit Huruf besar atau besar kecil Times New Roman 0
Italic warna hitam. Ukuran huruf max. 30 point
mm,) sesuai luasan unsur, hirarki atau tingkatan PEGUNUNGA
unsur serta estetika N V V 0 0 64502
Gunung
Gunung
2 Tanjung Huruf besar atau besar kecil Times New Roman 0
Italic warna hitam. Ukuran huruf max. 30 mm,) TANJUNG
sesuai luasan unsur, hirarki atau tingkatan unsur
serta estetika Tanjung V V 0 0 64516
Tanjung
Tanjung

134
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
3 Pulau dan kepulauan Huruf besar atau huruf besar kecil Times New 0
Roman Italic warna hitam. Ukuran huruf max. 30
point sesuai luasan unsur, hirarki atau tingkatan PULAU
unsur serta estetika Pulau V V 0 0 64522
Pulau
Pulau

c. Nama Ibukota
1 Ibukota Negara Nama tempat yang menjadi pusat pemerintahan 0
Negara (Huruf besar Times New Roman warna JAKARTA V V 0 0 64102
hitam. Ukuran huruf min. 20 point)
2 Ibukota Provinsi Nama tempat yang menjadi pusat pemerintahan 0
provinsi (Huruf besar Times New Roman warna BANDUNG V V 0 0 64104
hitam. Ukuran huruf min. 16 point)

3 Ibukota kabupaten atau kota Nama tempat yang menjadi pusat pemerintahan 0
Kabupaten atau Kota (Huruf besar Times New BOGOR
V V 0 0 64108
Roman warna hitam. Ukuran huruf min. 14 point)
4 Ibukota kecamatan Nama tempat yang menjadi pusat pemerintahan 0
Citeureup
Kecamatan (Huruf besar Times New Roman warna V V 0 0 64112
hitam. Ukuran huruf min 12 point)
d. Nama Daerah Administrasi
1 Provinsi Nama daerah Provinsi (Huruf besar Arial warna 0
hitam. Ukuran huruf m in.12 point) JAWA BARAT
V V 0 0 64004

2 Kabupaten atau kota Nama daerah Kabupaten / Kota (Huruf besar Arial 0
warna hitam. Ukuran huruf min.10 point) BOGOR
V V 0 0 64008

3 Kecamatan Nama daerah Kecamatan (Huruf besar Arial warna 0


hitam. Ukuran huruf min. 8 point) CIBINONG
V V 0 0 64012

135
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
Tabel L3.2. Simbolisasi dan Spesifikasi Penyajian Data Tematik

SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
I. GARIS PANTAI Lihat Tabel L4.1.
Garis yang menghubungkan tempat-tempat yang
II. BATHIMETRI (KONTUR LAUT) kedalamannya sama V V 0 0 255

III. OSEANOGRAFI
1 Arus Pergerakan massa air secara vertikal dan Vektor
horizontal sehingga menuju keseimbangannya.
Arus digambarkan dalam vektor dengan arah gerak 0 0 0
arus dimana panjang vektor berbanding lurus
dengan kecepatan arus. V V
Line
0 0 255

2 Gelombang Pergerakan naik dan turunnya air dengan arah Vektor


tegak lurus permukaan air laut yang membentuk
kurva/grafik sinusoidal disebabkan oleh dorongan 0 0 0
angin.
V V
Line

0 0 255

3 Suhu Permukaan Laut Temperatur air laut yang terdapat pada Line
permukaan air laut.
V V 0 0 255

Polygon V V Nilai paling rendah adalah

136
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
Digambarkan 56 (R) 168 (G), 0 (B), nilai
secara gradasi tengah 222 (R) 242 (G) 0 (B)
dari nilai dan nilai tertinggi adalah
terendah sampai 255 (R) 0 (G) 0 (B)
nilai tertinggi

4 Kecerahan Ukuran penetrasi sinar matahari atau cahaya yang Line


masuk kedalam perairn yang dan mencapai daerah
dibawah air, atau ukuran sejauh mana kita dapat V V 0 0 255
melihat kedalam air.
Polygon
Digambarkan
secara gradasi
Nilai paling rendah adalah
dari nilai
255 (R) 255 (G), 128 (B) dan
terendah sampai V V
nilai tertinggi adalah 107
nilai tertinggi
(R) 0 (G) 0 (B)

6 Salinitas Tingkat keasinan atau kadar garam terlarut dalam Line


air.
V V 0 0 255

Polygon
Digambarkan
secara gradasi Nilai paling rendah adalah
dari nilai 255 (R) 235 (G), 214 (B) dan
terendah sampai V V nilai tertinggi adalah 196
nilai tertinggi (R)10 (G)
10 (B)

7 pH Tingkatan asam basa suatu larutan yang diukur Line V V 0 0 255

137
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
dengan skala 0 s/d 14

Polygon
Digambarkan
secara gradasi
Nilai paling rendah adalah
dari nilai
222 (R) 242 (G) 0 (B) dan
terendah sampai V V
nilai tertinggi adalah 255
nilai tertinggi
(R) 0 (G) 0 (B)

8 Klorofil Pigmen yang dimiliki berbagai organisme dan Line V V


berperan penting dalam proses fotosintesis. 0 0 255
Klorofil merupakan komponen penting yang
didukung fitoplankton dan tumbuhan air yang
mana keduanya merupakan sumber makanan Polygon
alami bagi ikan. Digambarkan
secara gradasi Nilai paling rendah adalah
dari nilai 203 (R) 245 (G) 234 (B) dan
terendah sampai V V
nilai tertinggi adalah 48 (R)
nilai tertinggi 207 (G) 146 (B)

IV. GEOLOGI GEOMORFOLOGI LAUT


a. Geologi Laut
1 Gunung Bawah Laut gunung yang naik dari dasar laut yang tidak sampai Point
naik hingga permukaan laut, V V 0 0 0 30206

2 Palung laut Dasar laut yg dalam, yg diakibatkan oleh Line


menyusupnya lempeng samudera ke bawah V V 0 0 0 30212
lempeng benua.
3 Patahan hasil dari gerakan tekanan horizontal dan tekanan Line
vertikal yang menyebabkan lapisan kulit bumi yang V V 0 0 0
rapuh menjadi retak dan patah.

138
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
4 Punggungan bawah laut Jalur punggungan yang memanjang sepanjang area Line
pemisahan dua lempeng V V 0 0 0

5 Daerah Subduksi Daerah yang terdapat pada batas antar lempeng Line
yang bersifat konvergen.
V V 0 0 0
b. Deposit pasir laut
Deposit pasir Potensi kandungan pasir laut Polygon
V V 216 216 216

c. Substrat dasar laut


1. Pasir Material dasar laut yang berupa pasir Polygon
V V 216 216 216

2. Lumpur Material dasar laut yang berupa lumpur Polygon


V V 234 241 211

3. Karang Material dasar laut yang berupa karang Polygon

V V 255 51 204

4. Pasir berlumpur Material dasar laut yang berupa dominan pasir Polygon
bercampur lumpur
V V 255 51 204

5. Pasir berkarang Material dasar laut yang berupa dominan pasir Polygon
bercampur karang
V V 255 192 0

6. Lumpur berpasir Material dasar laut yang berupa dominan lumpur Polygon
bercampur pasir
V V 128 128 128

139
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
V. EKOSITEM
a. Terumbu Karang
1. Distribusi Terumbu Karang Persebaran ekosistem terumbu karang Polygon

V V 214 133 134

2 Kondisi terumbu karang


Baik sekali Kondisi tutupan terumbu karang hidup > 75 % Polygon
Digambar juga
dalam pie chart V 79 129 189

Baik Kondisi tutupan terumbu karang hidup 50 % - 75 % Polygon


Digambar juga
dalam pie chart V 146 208 80

Sedang Kondisi tutupan terumbu karang hidup 25 % - 50 % Polygon


Digambar juga
dalam pie chart V 251 212 180

Buruk Kondisi tutupan terumbu karang hidup <25 % Polygon


Digambar juga
dalam pie chart V 255 0 0

Point
Pont prosentase kondisi tutupan karang, semakin
baik semakin besar poin yang digambarkan, ukuran
Titik kondisi terumbu karang
menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah dan
estetika penggambaran

140
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
b. Mangrove
1 Distribusi mangrove Persebaran ekosistem mangrove Polygon

V V 255 0 197

2 Tutupan mangrove
Rapat Tutupan tajuk mangrove >70 % Polygon
V 152 11 115

Sedang Tutupan tajuk mangrove 50 % - 70 % Polygon


V 255 0 197

Jarang Tutupan tajuk mangrove <50 % Polygon


V 255 190 232

Pont prosentase kondisi tutupan mangrove, Point


semakin rapat semakin besar poin yang
Titik kondisi mangrove digambarkan, ukuran menyesuaikan kondisi
masing-masing wilayah dan estetika
penggambaran
c. Lamun
1 Distribusi lamun Persebaran ekosistem padang lamun Polygon

V V 174 241 176

2 Kondisi lamun
Sehat Tutupan lamun >70 % Polygon

V 132 0 168

Kurang sehat Tutupan lamun 50 % - 70 % Polygon V 197 0 255

141
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B

Tidak sehat Tutupan lamun <50 % Polygon


V 232 190 255

Pont prosentase kondisi lamun, semakin kaya Point


semakin besar poin yang digambarkan, ukuran
Titik kondisi lamun
menyesuaikan kondisi masing-masing wilayah dan
estetika penggambaran
VI. SUMBERDAYA IKAN
a. Ikan pelagis
1 Daerah potensial penangkapan ikan Wilayah laut yang berpotensi sebagai fishing Polygon
pelagis ground ikan pelagis Digambarkan
secara gradasi Nilai paling rendah adalah
dari nilai 255 (R) 255 (G) 128 (B) dan
terendah ke nilai V V
nilai tertinggi adalah 255
tertinggi (R) 0 (G) 0 (B)

b. Ikan Demersal
1 Potensi penangkapan ikan demersal
Titik kondisi kelimpahan ikan demersal. Point
Semakin kaya kelimpahan di suatu titik
digambarkan dengan ukuran poin yang semakin
besar.
Pada bagian belakang dapat ditambahkan dengan
data tutupan karang, lamun maupun mangrove
yang menjadi habitat ikan demersal
VII. PEMANFAATAN RUANG LAUT YANG TELAH ADA
a. Bangunan laut
1 Penahan ombak Bangunan yang dibuat untuk menahan ombak Line
12002
V 0 0 0

142
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
2 Dermaga Bangunan yang dibuat untuk bongkar muat barang Line
dan atau penumpang kapal
V 0 0 0 11954

3 Menara suar Bangunan yang dilengkapi dengan lampu untuk Point


kepentingan navigasi V 0 0 0 11968

b. Sarana Prasarana Kelautan Perikanan


6 Balai Benih Ikan Sarana penyedia dan pengembangan benih ikan Point
laut dan darat
V 0 0 0 12102006

7 Cold Storage Sarana perikanan yang berfungsi untuk Point


mendinginkan dan menyimpan hasil perikanan V 255 170 0 12102024
untuk sementara waktu
8 Pabrik Es Sarana perikanan yang berfungsi untuk Point
menghasilkan es curah untuk keperluan perikanan. V 0 169 230 12102026

9 Pengisian Bahan Bakar (SPDN) Sarana perikanan yang berfungsi untuk Point
mendistribusikan bahan bakar untuk keperluan
V 0 0 0 12102028
perikanan dan kelautan

c. Perikanan Tangkap
1 Daerah penangkapan ikan yang Daerah penangkapan ikan yang mempunyai Polygon
mempunyai ijin koordinat ijin dari Kementerian Kelautan V V 178 161 199 50316801
Perikanan/Pemerintah Provinsi
2 Daerah penangkapan ikan masyarakat / Daerah penangkapan ikan yang diamnfaatkan oleh Point
tradisional masyarakat setiap hari atau secara turun temurun
V 0 0 0
50316802

Polygon V 150 170 234

143
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B

3 Rumpon Polygon
V 129 231 255 50316803

d. Perikanan Budidaya
1 Keramba Jaring Apung Untuk keramba/kumpulan keramba dengan Polygon
dimensi diatas <100 meter digambarkan dengan V 34 110 222
point

2 Budidaya rumput laut Untuk budidaya rumput laut dengan dimensi Polygon
diatas <100 meter digambarkan dengan point
V 32 88 103

3 Budidaya kerang mutiara Untuk budidaya rumput laut dengan dimensi Polygon
diatas <100 meter digambarkan dengan point
V 0 176 240

4 Rakit Untuk kumpulan rakit dengan dimensi diatas <100 Point


meter digambarkan dengan point
V 118 146 60

e. Pertambangan dan Energi


1 Pasir laut Polygon
V V 127 127 127

2 Anjungan migas lepas pantai struktur atau bangunan yang di bangun di lepas Point
pantai untuk mendukung proses eksplorasi atau V V 0 0 0
eksploitasi minyak dan gas bumi

2 Pembangkit listrik dan daerah Bangunan yang menjadi tempat mesin pembangkit Point V

144
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
sekitarnya tenaga listrik

Daerah penyangga untuk keamanan pembangkit Polygon


tenaga listrik. Dapat diberikan notasi sesuai jenis
pembangkitnya (PLTU, PLTB) V 255 153 153

f. Pariwisata
1 Destinasi Pariwisata kawasan geografis yang berada dalam satu atau Polygon
lebih wilayah administratif yang di dalamnya
terdapat daya tarik wisata, fasilitas umum, fasilitas
V V 221 17 66 51310000
pariwisata, aksesibilitas, serta masyarakat yang
saling terkait dan melengkapi terwujudnya
kepariwisataan
2 Wisata Perikanan Point

V 0 0 0

3 Selancar Point

V 0 0 0

4 Snorkeling / pengamatan terumbu Point


karang V 0 0 0

5 Menyelam / Wisata bawah laut Point


V 0 0 0

6 Olahraga air Point


V 0 0 0

145
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
7 Pengamatan hewan laut Point
V 0 0 0

8 Berlayar (Sailing, Yachting, Cruising) Polygon


V 0 0 0

g. Penelitan dan Pelatihan


1 Penelitian kelautan dan perikanan Area/Sarana penelitian pengembangan perikanan Point
dan kelautan
V 0 0 0 12102004

2 Kajian terapan Area/Sarana kajian penerapan pengembangan Point


perikanan dan kelautan V 0 0 0 12102004

3 Pendidikan dan Pelatihan Perikanan Sarana pendidikan dan pelatihan perikanan Point
perikanan V 0 0 0 12102020

h. Kapal tenggelam Keberadaan kapal tenggelam di dasar perairan Point


maupun di permukaan perairan
V V 0 0 0 50316608

SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
i. Militer dan Daerah Terlarang
1 Daerah latihan militer Daerah khusus latihan militer yang kemungkinan Polygon
membahayakan
V V 255 0 0

2 Daerah larangan / terlarang Daerah terlarang yang kemungkinan Polygon V V 255 0 0

146
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
membahayakan

3 Daerah Larangan Menangkap Ikan Daerah yang terlarang untuk penangkapan ikan Polygon
dengan alasan tertentu.
V 216 22 174 50316800

j. Kawasan Konservasi
1 Kawasan Konservasi Perairan (KKP) kawasan perairan yang Polygon
dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi, untuk
mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan
V V 85 255 0
lingkungannya secara
berkelanjutan. KKP dimaksud adalah yang telah
ditetapkan.
2 Kawasan Konservasi Pesisir & Pulau – Kawasan perlindungan sebagai upaya pelestarian Polygon
Pulau Kecil (KKP3K) dan pemanfaatan wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil serta ekosistimnya untuk menjamin
keberadaan, ketersediaan dan kesinambungan
Sumber daya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil dengan V V 211 255 190
tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai
dan keanekaragamannya. KKP3K dimaksud adalah
yang telah ditetapkan.

3 Kawasan Konservasi Maritim (KKM) Daerah perlindungan adat dan budaya maritim Polygon
yang mempunyai nilai arkeologi historis khusus,
situs sejarah
kemaritiman dan tempat ritual keagamaan atau V V 163 255 115
adat dan sifatnya sejalan dengan upaya konservasi
pesisir dan pulau-pulau kecil. KKM dimaksud
adalah yang telah ditetapkan.
k. Alur laut
1 Migrasi biota Alur migrasi biota yg terdapat di dalam laut Line
V V 137 90 68

2 kabel bawah laut


Kabel listrik Jaringan energi listrik kabel bawah laut Line V V 0 0 0 11030000

147
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B

Kabel telekomunikasi Rangkaian perangkat telekomunikasi Jaringan Line


Kabel Laut V V 51 204 102 11701400

Kabel dalam konstruksi Kabel bawah laut sedang dikerjakan Line


V V 255 51 153 11720000

3 Pipa bawah laut


Pipa minyak Jaringan pipa yang mendistribusikan seluruh Line
kebutuhan minyak bumi di bawah laut V V 0 0 0 11110100

Pipa gas Jaringan pipa yang mendistribusikan seluruh Line


kebutuhan gas bumi di bawah laut V V 255 0 0 11122100

Pipa air bersih Jaringan pipa mendistribusikan seluruh kebutuhan Line


air bersih di bawah laut V V 0 178 235

Pipa dalam konstruksi Pipa bawah laut sedang dikerjakan Line


V 230 152 0

4 Alur pelayaran
Alur pelayaran angkutan sungai Jaringan lalu-lintas sungai dan alur pelayaran Line
mengangkut barang dan penumpang V 0 179 76 20402000

Alur pelayaran Internasional Jaringan lalu-lintas laut internasional Line


V 0 0 0 20408100

Alur pelayaran Internasional dalam Jalur pelayaran internasional yang Line


negara menghubungkan antar pelabuhan internasional V 0 0 255 20408101
hub dan pelabuhan internasional dalam negara

Alur pelayaran Internasional lintas Jalur pelayaran internasional yang Line


negara menghubungkan antar pelabuhan internasional
hub dan pelabuhan internasional dengan negara V 244 170 15 20408102
lain
Alur pelayaran nasional - Internasional Alur pelayaran nasional yang menghubungkan Line V V 204 153 255 20408201

148
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
pelabuhan nasional dengan pelabuhan
Internasional atau pelabuhan Internasional hub

Alur pelayaran nasional Alur pelayaran nasional yang menghubungkan Line


antar pelabuhan nasional V V 169 0 230 20408202

Alur pelayaran nasional - regional Alur pelayaran nasional yang menghubungkan Line
antara pelabuhan nasional dan pelabuhan regional V V 230 76 76 20408203

Alur pelayaran regional Alur pelayaran nasional yang menghubungkan Line


antar pelabuhan regional V V 152 230 0 20408204

l. Pendaratan pesawat
Pendaratan pesawat Daerah yang sering digunakan untuk pendaratan Point
pesawat terbang di perairan untuk kepentingan
V 0 0 0
tertentu

PERENCANAAN PEMANFAATAN RUANG LAUT


a. Kawasan Lindung yang telah ditetapkan
1 Kawasan suaka alam laut & perairan Kawasan yang mewakili ekosistem khas di lautan Polygon
lainnya maupun perairan lainnya, yang merupakan habibat
alami yang memberikan tempat maupun
V V 204 204 255 50216200
perlindungan bagi perkembangan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa yang ada.

2 Kawasan suaka margasatwa & suaka Kawasan suaka alam yang ditunjuk merupakan Polygon
margasatwa laut tempat hidup dan perlembangbiakan dari suatu
jenis satwa yang perlu dilakukan upaya
V V 179 179 255 50216300
konservasinya, memiliki keanekaragaman dan
populasi satwa yang tinggi, dan atau merupakan
tempat dan kehidupan jenis satwa migran tertentu
3 Cagar alam & cagar alam laut Kawasan yang mewakili ekosistem khas dan Polygon
merupakan habitat alam yang memberikan
perlindungan bagi perkembangan flora dan fauna V V 153 153 255 50216400
yang khas dan beragam, yang ada di pantai
maupun di laut.
4 Kawasan pantai berhutan bakau Kawasan pesisir laut yang merupakan habitat alami Polygon V V 230 217 255 50216500

149
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
hutan bakau (mangrove) yang berfungsi
memberikan perlindungan kepada perikehidupan
pantai dan lautan.

5 Taman nasional & taman nasional laut Kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan Polygon
sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, V V 230 204 255 50216600
pariwisata dan rekreasi

6 Taman wisata alam & taman wisata Kawasan pelestarian alam di darat maupun di laut Polygon
alam laut yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan
rekreasi alam. V V 230 153 255 50216800

7 Kawasan Daerah Perlindungan Laut Kawasan perlindungan terhadap ekosistem laut Polygon
dengan maksud untuk melindungi ekosistem asli,
ekosistem unik, dan ekosistem yang telah
V V 133 180 0 50214500
mengalami degradasi dari gangguan kerusakan
unsur-unsur alamnya untuk penelitian, pendidikan
dan pariwisata.
b. Rencana Kawasan Konservasi
1 Rencana Kawasan Konservasi Perairan Kawasan Konservasi Perairan yang telah Polygon
(KKP) direncanakan tetapi belum ditetapkan atau dalam
proses penetapan. V V 246 10 218

2 Rencana Kawasan Konservasi Pesisir & Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau – Pulau Kecil Polygon
Pulau Kecil (KKP3K) yang telah direncanakan tetapi belum ditetapkan
atau dalam proses penetapan. V V 246 10 218

3 Rencana Kawasan Konservasi Maritim Kawasan Konservasi Maritim yang telah Polygon
(KKM) direncanakan tetapi belum ditetapkan atau dalam V V 246 10 218
proses penetapan.
c. Pariwisata

150
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
1 Kawasan Pariwisata Kawasan yang diperuntukkan bagi kegiatan Polygon
pariwisata
V V 255 230 255 51300000

d. Rencana Pelabuhan
1 Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan (DLKr) yang Polygon
(DLKr) telah direncanakan tetapi belum ditetapkan atau
dalam proses penetapan. V V 192 0 0

2 Daerah Lingkungan Kepentingan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan (DLKr) Polygon


Pelabuhan (DLKp) yang telah direncanakan tetapi belum ditetapkan
atau dalam proses penetapan. V V 229 184 183

3 Rencana Pelabuhan penyeberangan Point


Pelabuhan penyebrangan yang telah direncanakan
tetapi belum ditetapkan atau dalam proses V 0 0 0
penetapan.

Rencana pengembangan / pembangunan Polygon


pelabuhan penyebrangan yang memerlukan
reklamasi V 0 0 0

Rencana Pelabuhan penyeberangan Point


antar provinsi - antar negara
V 255 0 197

Rencana Pelabuhan penyeberangan Point


antar Kab/Kota
V 169 0 230

151
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B

Rencana Pelabuhan penyeberangan di Point


Kab/Kota
V 230 152 0

3 Rencana Pelabuhan Laut Point

Pelabuhan laut yang telah direncanakan tetapi


V 56 168 0
belum ditetapkan atau dalam proses penetapan.

Polygon

Rencana pengembangan / pembangunan


V 0 179 76
pelabuhan laut yang memerlukan reklamasi

Rencana Pelabuhan Internasional hub Point

V 0 0 0

Rencana Pelabuhan Internasional hub Point

V 0 0 255

Rencana Pelabuhan Nasional Point

V 0 189 255

Rencana Pelabuhan Regional Polygon V 197 0 255

152
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B

Rencana Pelabuhan Lokal Polygon

V 168 112 0

Rencana Pelabuhan Khusus Polygon


V 255 170 0

3 Rencana Bandar Udara Point


Bandar udara yang telah direncanakan tetapi
V 255 0 0
belum ditetapkan atau dalam proses penetapan.

Polygon
Rencana pengembangan / pembangunan Bandar
V 197 0 255
Udara yang memerlukan reklamasi

e. Rencana Pertambangan dan Energi


Rencana penambangan pasir laut Polygon
Area penambangan pasir laut yang telah
direncanakan tetapi belum ditetapkan atau dalam V 0 0 0 51800800
proses penetapan.

Rencana penambangan minyak dan gas Daerah yang diperuntukkan bagi pertambangan Polygon
bumi minyak dan gas bumi
V V 217 217 217 51800200

Rencana anjungan minyak dan gas Point


bumi lepas pantai Anjungan minyak dan gas lepas pantai yang telah
direncanakan tetapi belum ditetapkan atau dalam V 0 0 0
proses penetapan.

3 Rencana Pembangkit listrik dan daerah Pembangkit listrik yang telah direncanakan tetapi Point V 0 0 0

153
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
sekitarnya belum ditetapkan atau dalam proses penetapan.

Polygon

Rencana pengembangan / pembangunan


pembangkit listrik yang memerlukan reklamasi
V 255 170 0
atau membutuhkan daerah penyangga. Dapat
diberikan notasi sesuai jenis pembangkitnya.

f. Rencana Alur laut


1 Rencana kabel bawah laut
Rencana Kabel listrik Line
V V 255 0 0
Kabel bawah laut yang telah direncanakan tetapi
belum ditetapkan atau dalam proses penetapan.
Rencana Kabel telekomunikasi Line
V V 165 165 165

2 Rencana Pipa bawah laut


Rencana Pipa minyak Line
V V 165 165 165

Rencana Pipa gas Line


Pipa bawah laut yang telah direncanakan tetapi
V V 255 211 127
belum ditetapkan atau dalam proses penetapan.

Rencana Pipa air bersih Line

V V 0 178 235

g. Kawasan Strategis
1. Kawasan Strategis Nasional wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan Polygon
karena mempunyai pengaruh sangat penting V V 255 0 0
secara nasional

154
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan
keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya,
dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang
ditetapkan sebagai warisan dunia
2. Kawasan Strategis Nasional Tertentu kawasan yang terkait dengan kedaulatan negara, Polygon
pengendalian lingkungan hidup, dan/atau situs
warisan dunia, yang pengembangannya
V V 0 0 255
diprioritaskan bagi kepentingan nasional.

VIII. SOSIAL EKONOMI BUDAYA


a. Budaya dan Keagamaan
1. Daerah suci laut Wilayah perairan / laut yang dianggap suci secara Polygon
tradisional atau keagamaan
V 56 168 0

2. Daerah perlindungan adat Wilayah perairan / laut yang dilindungi secara Line
tradisional oleh masyarakat/adat
V 255 170 0

b. Kependudukan
1 Jumlah penduduk Jumlah penduduk menurut kecamatan Polygon
Digambarkan
secara gradasi
dari nilai Nilai paling rendah adalah
terendah sampai 255 (R) 255 (G), 128 (B) dan
V V
nilai tertinggi nilai tertinggi adalah 107
(R) 0 (G) 0 (B)

2 Kepadatan penduduk Jumlah penduduk per kilometer persegi menurut Polygon Nilai paling rendah adalah
kecamatan Digambarkan 255 (R) 235 (G), 214 (B) dan
secara gradasi V V nilai tertinggi adalah 196
dari nilai (R)10 (G)
terendah sampai 10 (B)

155
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
nilai tertinggi

3 Proyeksi jumlah penduduk Prakiraan Jumlah penduduk pada satu rentang Polygon
waktu tertentu menurut kecamatan Digambarkan
secara gradasi
dari nilai
Nilai paling rendah adalah
terendah sampai
255 (R) 204 (G), 255 (B) dan
nilai tertinggi
V V nilai tertinggi adalah 199
(R) 0 (G)
199 (B)

4 Proyeksi kepadatan penduduk Prakiraan Jumlah penduduk per kilometer persegi Polygon
pada satu rentang waktu tertentu menurut Digambarkan
kecamatan secara gradasi
Nilai paling rendah adalah
dari nilai
255 (R) 235 (G), 204 (B) dan
terendah sampai
V V nilai tertinggi adalah 240
nilai tertinggi
(R) 118 (G)
5 (B)

c. Sosial Ekonomi
1 Produksi perikanan Jumlah produksi perikanan menurut pelabuhan Point
perikanan Digambarkan
dengan
menggunakan pie V V - - -
chart / bar chart

2 Sentra nelayan Pusat – pusat konserntrasi nelayan point V 0 0 0

156
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Nama Unsur Pengertian RGB
notasi Kode Unsur
250K 50K R G B

IX. RISIKO BENCANA


a. Rawan Tsunami Wilayah yang sering atau berpotensi tinggi Polygon
mengalami bencana alam tsunami. V

Tinggi V 230 76 0

Sedang V 255 170 0

Rendah V 76 230 0

b. Rawan gelombang pasang Wilayah yang sering atau berpotensi tinggi Point
mengalami bencana alam gelombang pasang. V V 255 0 0

Wilayah yang sering atau berpotensi tinggi point


mengalami erosi pantai (abrasi).
c. Erosi pantai (abrasi) V V 255 0 0

Akresi pantai adalah penambahan area pantai point


karena sedimentasi. Wilayah yang sering atau
d. Akresi pantai berpotensi tinggi mengalami akresi pantai. V V 0 0 255

Tabel L3.3. Simbolisasi dan Spesifikasi Penyajian Peta Alokasi Ruang RZWP-3-K

SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B

157
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
I. KAWASAN KONSERVASI
a. Kategori Kawasan Konservasi
1. Kawasan Konservasi Perairan (KKP) kawasan perairan yang Polygon
dilindungi, dikelola dengan sistem zonasi, untuk
mewujudkan pengelolaan sumber daya ikan dan
V V 85 255 0
lingkungannya secara
berkelanjutan. KKP dimaksud adalah yang telah
ditetapkan.
Zona Inti KKP Peruntukkannya, antara lain: Polygon
1. perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan;
V 255 0 0
2. penelitian; dan
3. pendidikan
Zona Perikanan Berkelanjutan-KKP Peruntukkannya, antara lain: Polygon
1. perlindungan habitat dan populasi ikan;
2. penangkapan ikan dengan alat dan cara yang
ramah lingkungan;
V V 0 56 168
3. budidaya ramah lingkungan;
4. pariwisata dan rekreasi;
5. penelitian dan pengembangan; dan
6. pendidikan.
Zona Pemanfaatan-KKP Peruntukkannya, antara lain: Polygon
1. perlindungan dan pelestarian habitat dan
populasi ikan;
V 49 132 155
2. pariwisata dan rekreasi;
3. penelitian dan pengembangan; dan
4. pendidikan.
Zona Lainnya-KKP Bagian dari Kawasan konservasi di Wilayah Pesisir Polygon
dan
V V 250 191 143
Pulau-Pulau Kecil yang pemanfaatannya sesuai
dengan aspek konservasi
2. Kawasan Konservasi Pesisir & Pulau – Kawasan perlindungan sebagai upaya pelestarian Polygon
Pulau Kecil (KKP3K) dan pemanfaatan wilayah Pesisir dan Pulau-pulau
Kecil serta ekosistimnya untuk menjamin
V V 211 255 190
keberadaan, ketersediaan dan kesinambungan
Sumber daya Pesisir dan Pulau-pulau Kecil
dengan tetap memelihara dan meningkatkan

158
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
kualitas nilai dan keanekaragamannya. KKP3K
dimaksud adalah yang telah ditetapkan.

Zona Inti-KKP3K Pemanfaatannya, antara lain: Polygon


1. perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan
serta alur migrasi biota laut;
2. perlindungan ekosistem pesisir unik dan/atau
V 255 0 0
rentan terhadap perubahan;
3. perlindungan situs budaya atau adat tradisional;
4. penelitian; dan/atau
5. pendidikan
Zona Pemanfaatan Terbatas-KKP3K Pemanfaatannya, antara lain: Polygon
1. perlindungan habitat dan populasi ikan
2. pariwisata dan rekreasi V 49 132 155
3. penelitian dan pengembangan
4. pendidikan

Zona Lainnya-KKP3K Bagian dari Kawasan konservasi Polygon


pemanfaatannya sesuai dengan aspek konservasi.
Pemanfaatannya, antara lain:
1. Rehabilitasi V V 250 191 143
2. Perlindungan

3. Kawasan Konservasi Maritim (KKM) Daerah perlindungan adat dan budaya maritim Polygon
yang mempunyai nilai arkeologi historis khusus,
situs sejarah
kemaritiman dan tempat ritual keagamaan atau V V 163 255 115
adat dan sifatnya sejalan dengan upaya
konservasi pesisir dan pulau-pulau kecil. KKM
dimaksud adalah yang telah ditetapkan.
Zona Inti-KKM Pemanfaatannya, antara lain: Polygon
1. perlindungan mutlak habitat dan populasi ikan
serta alur migrasi biota laut;
2. perlindungan ekosistem pesisir unik dan/atau V 255 0 0
rentan terhadap perubahan;
3. perlindungan situs budaya atau adat tradisional;
4. penelitian; dan/atau

159
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
5. pendidikan

Zona Pemanfaatan Terbatas-KKM Pemanfaatannya, antara lain: Polygon


1. perlindungan habitat dan populasi ikan
2. pariwisata dan rekreasi V 49 132 155
3. penelitian dan pengembangan
4. pendidikan
Zona Lainnya-KKM Bagian dari Kawasan konservasi Polygon
pemanfaatannya sesuai dengan aspek konservasi.
Pemanfaatannya, antara lain:
1. Rehabilitasi V V 250 191 143
2. Perlindungan

b. Kawasan Lindung yang telah ditetapkan sesuai peraturan perundang-undangan


1 Kawasan suaka alam laut & perairan Kawasan yang mewakili ekosistem khas di lautan Polygon
lainnya maupun perairan lainnya, yang merupakan habibat
alami yang memberikan tempat maupun V V 204 204 255 50216200
perlindungan bagi perkembangan
keanekaragaman tumbuhan dan satwa yang ada.
2 Kawasan suaka margasatwa & suaka Kawasan suaka alam yang ditunjuk merupakan Polygon
margasatwa laut tempat hidup dan perlembangbiakan dari suatu
jenis satwa yang perlu dilakukan upaya
V V 179 179 255 50216300
konservasinya, memiliki keanekaragaman dan
populasi satwa yang tinggi, dan atau merupakan
tempat dan kehidupan jenis satwa migran tertentu
3 Cagar alam & cagar alam laut Kawasan yang mewakili ekosistem khas dan Polygon
merupakan habitat alam yang memberikan
perlindungan bagi perkembangan flora dan fauna V V 153 153 255 50216400
yang khas dan beragam, yang ada di pantai
maupun di laut.
4 Kawasan pantai berhutan bakau Kawasan pesisir laut yang merupakan habitat Polygon
alami hutan bakau (mangrove) yang berfungsi
memberikan perlindungan kepada perikehidupan V V 230 217 255 50216500
pantai dan lautan.

160
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
5 Taman nasional & taman nasional laut Kawasan pelestarian alam yang dikelola dengan Polygon
sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan
pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, V V 230 204 255 50216600
pariwisata dan rekreasi

6 Taman wisata alam & taman wisata alam Kawasan pelestarian alam di darat maupun di laut Polygon
laut yang terutama dimanfaatkan untuk pariwisata dan
rekreasi alam. V V 230 153 255 50216800

7 Kawasan Daerah Perlindungan Laut Kawasan perlindungan terhadap ekosistem laut Polygon
dengan maksud untuk melindungi ekosistem asli,
ekosistem unik, dan ekosistem yang telah
mengalami degradasi dari gangguan kerusakan V V 133 180 0 50214500
unsur-unsur alamnya untuk penelitian, pendidikan
dan pariwisata.

II. KAWASAN PEMANFAATAN UMUM

1. Zona Pariwisata Zona yang diperuntukkan bagi kegiatan pariwisata Polygon

V V 255 220 255

Sub Zona :
Polygon
Wisata bentang laut V 255 220 255

Polygon
Wisata pantai/pesisir dan pulau – pulau kecil V 255 220 255

Polygon
Wisata alam bawah laut V 255 220 255

161
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
Polygon
Wisata sejarah V 255 220 255

Polygon
Wisata budaya V 255 220 255

Polygon
Wisata Olahraga air V 255 220 255

2. Zona Permukiman Zona yang digunakan untuk permukiman yang Polygon


aman dari bahaya bencana alam maupun buatan
manusia, sehat dan mempunyai akses untuk V 192 144 66
kesempatan berusaha

Sub Zona :
Polygon

Permukiman nelayan V 225 199 31

Polygon

Permukiman non - nelayan V 64 222 72

3. Zona Pelabuhan Zona yang digunakan sebagai tempat kapal Polygon


bersandar, naik turun penumpang & bongkar muat
barang, tempat berlabuh kapal yang dilengkapi V 229 184 184
dengan fasilitas keselamatan dan keamanan
pelayaran

Sub Zona :

162
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
Polygon

Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan (DLKr) dan Daerah Lingkungan Kepentingan Pelabuhan
V 146 205 220
(DLKp)

Polygon

Wilayah Kerja Operasional Pelabuhan Perikanan (WKOPP) V 178 161 199

4. Zona Hutan Mangrove Zona yang diperuntukkan pemanfaatan hutan Polygon


mangrove yang tidak bersifat destruktif
V V 109 187 67

Sub Zona :
Polygon
Pemanfaatan terbatas V 255 170 0

Polygon

Pemanfaatan lainya V 230 230 0

5. Zona Pertambangan Zona yang diperuntukkan bagi kegiatan Polygon


pertambangan
V 222 158 102

Sub Zona :
Mineral Polygon V 242 242 242

163
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B

Polygon

Pasir laut V 0 0 0

Polygon

V 217 217 217


Minyak bumi

Polygon

Gas bumi V 255 217 0

Polygon

Panas bumi V 191 191 191

6. Zona Perikanan Tangkap Zona yang diperuntukan bagi kegiatan Polygon


penangkapan ikan
V 97 145 201

Sub Zona :
Polygon
Pelagis V 255 190 235

164
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B

Polygon

Demersal V 64 222 72

Polygon

Pelagis dan demersal V 255 211 127

7. Zona Perikanan Budidaya Zona yang diperuntukkan bagi kegiatan budidaya Polygon
perikanan
V V 0 197 255

Sub Zona :
Polygon

Budidaya laut V 0 197 255

Budidaya air payau Polygon

V 146 208 80

8. Zona Pergaraman Zona yang diperuntukkan bagi kegiatan Polygon


penyemaian air laut menjadi kristal garam
termasuk sarana prasarana pendukungnya. V V 0 92 230

9. Zona Industri Zona yang yang diperuntukan bagi industri berupa Polygon V V 225 199 31

165
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
tempat pemusatan kegiatan industri di perairan
sehingga memerlukan reklamasi

Sub Zona :
Polygon

Industri pengolahan ikan V 238 96 0 519106020

Polygon

Industri maritim V 238 96 0 519106060

Polygon

Industri manufaktur V 238 96 0 519106050

Polygon

Industri biofarmakologi V 238 96 0 519106070

Polygon

Industri bioteknologi V 238 96 0 519106080

10 Zona Bandar udara Zona yang yang diperuntukan bagi pengembangan Polygon
atau pembangunan bandara di perairan yang
memerlukan reklamasi V V 255 0 197

11 Zona pendaratan pesawat Zona yang diperuntukkan bagi daerah yang sering Polygon V V 197 0 255

166
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
digunakan untuk pendaratan pesawat terbang di
perairan untuk kepentingan tertentu

12 Zona jasa / perdagangan Zona yang diperuntukkan bagi diperuntukan bagi Polygon
kegiatan penjualan barang dan jasa di perairan
yang memerlukan reklamasi V V 0 176 240

13 Zona Energi Zona yang yang diperuntukan bagi kepentingan Polygon


. pengembangan energi
V V 158 215 194

Sub Zona :
1. pasang surut Polygon
V 158 215 194

2. Gelombang Polygon
V 158 215 194

3. Arus Polygon
V 158 215 194

Polygon

4. Angin V 158 215 194

Polygon
5. OTEC V 158 215 194

14 Zona fasilitas umum Zona yang diperuntukkan bagi kepentingan V V 204 153 255

167
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
kegiatan masyarakat di perairan

Sub Zona :
Polygon

Pendidikan V 204 153 255

Polygon

Olahraga V 204 153 255

Polygon

Keagamaan V 204 153 255

15 Zona pemanfaatan air laut selain energi Zona yang diperuntukkan bagi kegiatan Polygon
pemanfaatan air laut selain untuk kepentingan
pengembangan energi V 0 176 240

16 Zona pemanfaatan lainnya Zona yang yang diperuntukan bagi pemanfaatan Polygon
ruang laut lainnya
V 0 176 240

III. ALUR LAUT


1. Alur Pipa/kabel bawah laut Jaringan instalasi pipa dan kabel bawah laut Polygon
 Untuk Pipa dan Kabel Bawah laut dilakukan
V V 255 0 0
Buffer sebesar 500 M di masing-masing sisi
alur.

168
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
Kabel listrik Line

V V 0 0 0

Pipa Air bersih Line


V V 0 178 235

Kabel Telekomunikasi Line


V V 51 204 102

Pipa Minyak dan Gas Line


V V 197 0 255

Pipa dan Kabel Lainnya Line


V V 255 0 0

2. Alur Pelayaran Jaringan lalu-lintas di perairan untuk mengangkut Polygon


barang dan penumpang
 Untuk Alur pelayaran dilakukan Buffer V V 0 0 255
sebesar 500 M di masing-masing sisi alur.
Line
Alur pelayaran Internasional V V 0 0 0

Line

Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) V V 0 0 255

Line
Alur pelayaran nasional V V 204 153 255

Alur pelayaran regional Line V V 152 230 0

169
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B

Line

Alur pelaaran khusus V V 197 0 255

3. Alur migrasi biota Alur migrasi biota yg terdapat di dalam laut Line
V V 137 90 68

Polygon

V V 0 115 76

Line

Migrasi Ikan Tertentu V V 56 168 0

Line

Migrasi Penyu V V 56 168 0

Line

Migrasi mamalia laut V V 56 168 0

IV. KAWASAN STRATEGIS


1. Kawasan Strategis Nasional wilayah yang penataan ruangnya diprioritaskan Polygon V V 255 0 0

170
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZP-3-K
LAMPIRAN 3
SKALA Spesifikasi
Simbol dan/atau
Pengertian RGB
Nama Unsur notasi Kode Unsur
250K 50K R G B
karena mempunyai pengaruh sangat penting
secara nasional
terhadap kedaulatan negara, pertahanan dan
keamanan negara, ekonomi, sosial, budaya,
dan/atau lingkungan, termasuk wilayah yang
ditetapkan sebagai warisan dunia

2. Kawasan Strategis Nasional Tertentu kawasan yang terkait dengan kedaulatan negara, Polygon
pengendalian lingkungan hidup, dan/atau situs
warisan dunia, yang pengembangannya V V 0 0 255
diprioritaskan bagi kepentingan nasional.

171
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 4
Lampiran 4.1. Standar layout Peta Tematik dan Peta Rencana Zonasi WP-3-K ( 1:250.000)

15’

15’

171
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 4
Lampiran 4.2. Standar layout Peta Tematik dan Peta Rencana Zonasi WP-3-K ( 1:50.000)

3’

3’

172
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 4
Lampiran 4.3. Standar layout Peta Tematik dan Peta Rencana Zonasi WP-3-K ( 1:50.000)

3’

3’

173
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 5

Penomoran lembar peta dalam penyusunan Rencana Zonasi Wilayah Pesisir dan
Pulau-pulau Kecil digunakan untuk memudahkan dalam menelusuri informasi dari beberapa
peta yang mencakup seluruh wilayah perencanaan. Indeks peta digunakan sebagai acuan
agar memastikan seluruh wilayah perencanaan dalam RZWP-3-K dapat dipetakan. Indeks
peta menggambarkan masing-masing nomor lembar peta (NLP) untuk seluruh wilayah
perencanaan.
Sistem penomoran lembar peta dalam RZWP-3-K menyesuakan dengan kode
Provinsi dan diikuti urutan lembar peta dari kiri bawah menuju kanan atas dari seluruh
lembar yang digunakan. Indeks peta RZWP-3-K tidak lagi mengacu dengan NLP RBI
maupun LPI dikarenakan perbedaan dimensi muka peta, efektifitas dalam pemetaan sluruh
wilayah perencanaan, serta kondisi data LPI dan RBI yang sudah seamless atau tidak lagi
terbagi-bagi berdasarkan NLP. Berdasarkan kondisi tersebut, data-data yang digunakan
dalam penysusunan Peta RZWP-3-K sekurang-kurangnya memiliki sistem koordinat
geografis (GCS).

3 6 9

2 5 8

1 4 7

Ilustrasi arah dalam urutan penomoran lembar peta

1103 - 01
Kode Provinsi |
Urutan lembar peta skala 1 : 250.000 |
Urutan lembar peta skala 1 : 50.000 |

174
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 5

Contoh penomoran lembar peta RZWP-3-K dapat dilihat pada gambar berikut:

RZWP-3-K
Skala 1 : 250.000

RZWP-3-K
Skala 1 : 50.000

Keterangan :
Batas 12 Mil Laut
Batas 4 Mil Laut

175
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 6
Tabel L6.1 Kerangka Geodatabase Data Dasar Dan Tematik RZWP-3-K

Format digital (shp) dari masing-masing data, baik data dasar, data tematik, maupun data analisis RZWP-3-K sekurang-kurangnya memiliki
primary field sebagai berikut:

FEATURE CLASS NAMA FILE GEOMETRI PRIMARY FIELD KETERANGAN TYPE LENGTH PRECISION SCALE
NAMA_PROV Nama Provinsi TEXT 50 - -
BATAS PROVINSI AREA ADM_PROV_AR POLYGON
LUAS Luas (Generated by GIS) DOUBLE - 15 3
BATAS PROVINSI GARIS ADM_PROV_LN POLYLINE KETERANGAN TEXT 50 - -
NAMA_PROV Nama Provinsi TEXT 50 - -
BATAS KABUPATEN AREA ADM_KAB_AR POLYGON NAMA_KAB Nama Kabupaten/Kota TEXT 50 - -
LUAS Luas (generated by GIS) DOUBLE - 15 3
BATAS KABUPATEN GARIS ADM_KAB_LN POLYLINE KETERANGAN TEXT 50 - -
NAMA_PROV Nama Provinsi TEXT 50 - -
NAMA_KAB Nama Kabupaten/Kota TEXT 50 - -
BATAS KECAMATAN AREA ADM_KEC_AR POLYGON
NAMA_KEC Nama Kecamatan TEXT 50 - -
LUAS Luas (Generated by GIS) DOUBLE - 15 3
BATAS KECAMATAN
ADM_KEC_LN POLYLINE KETERANGAN TEXT 50 - -
GARIS
BATAS WILAYAH
WIL_REN_LN POLYLINE KETERANGAN TEXT 50 - -
PERENCANAAN 12 MIL
INDEKS LEMBAR PETA NLP_AR POLYGON NLP Nomor lembar peta TEXT 50 - -
GARIS PANTAI PANTAI_LN POLYLINE KETERANGAN TEXT 50 - -
KONTUR KEDALAMAN BATHY_LN POLYLINE VALUE Nilai kontur kedalaman DOUBLE - 15 3
TITIK KEDALAMAN DEPTH_PT POINT VALUE Nilai titik kedalaman DOUBLE - 15 3
SUBSTRAT DASAR LAUT SUBSTRAT_AR POLYGON JENIS Jenis substrat dasar TEXT 50 - -
KONTUR GELOMBANG GEL_MB_LN POLYLINE TINGGI_GEL Kontur tinggi gelombang (m) DOUBLE - 15 3
TINGGI_GEL Tinggi gelombang (m) DOUBLE - 15 3
VEKTOR GELOMBANG GEL_MB_PT POINT
ARAH Arah gelombang (degree) DOUBLE - 15 3
KONTUR ARUS MUSIM ARS_PS_MP1_LN POLYLINE KECEPATAN Kontur nilai kecepatan arus (m/s) DOUBLE - 15 3

176
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 6
FEATURE CLASS NAMA FILE GEOMETRI PRIMARY FIELD KETERANGAN TYPE LENGTH PRECISION SCALE
PERALIHAN 1 PASANG
MENUJU SURUT
VEKTOR ARUS MUSIM KECEPATAN Nilai kecepatan arus (m/s) DOUBLE - 15 3
PERALIHAN 1 PASANG ARS_PS_MP1_PT POINT Arah arus (degree)
MENUJU SURUT ARAH DOUBLE - 15 3
KONTUR SPL BULAN Kontur suhu permukaan laut (0C)
SPL_DES_LN POLYLINE VALUE DOUBLE - 15 3
DESEMBER
KONTUR KECERAHAN KECERAHAN_LN POLYLINE VALUE Kontur nilai kecerahan (m) DOUBLE - 15 3
KONTUR pH pH_LN POLYLINE VALUE Kontur derajat keasaman DOUBLE - 15 3
KONTUR SALINITAS SALINITAS_LN POLYLINE VALUE Kontur tingkat salinitas (Psu) DOUBLE - 15 3
KONTUR KLOROFIL CHL_JAN_LN POLYLINE VALUE Kontur konsentrasi klorofil (µ/l) DOUBLE - 15 3
NAMA_PE_AR Jenis pemanfaatan TEXT 50 - -
PEMANFAATAN LUAS_PE_AR Luas (Generated by GIS) DOUBLE - 15 3
EKSISTING_AR POLYGON
EKSISTING AREA Informasi tambahan terkait
KETERANGAN TEXT 50 - -
pemanfaatan
NAMA_PE_LN Nama pemanfaatan TEXT 50 - -
Kategori pemanfaatan (Mis.
PEMANFAATAN JENIS_PE TEXT 50 - -
EKSISTING_LN POLYLINE Transportasi, komunikasi, energy)
EKSISTING GARIS
Kategori pemanfaatan (Mis.
KETERANGAN TEXT 50 - -
Transportasi, komunikasi, energy)
NAMA_PE_PT Nama pemanfaatan TEXT 50 - -
PEMANFAATAN Kategori pemanfaatan (Mis.
EKSISTING_PT POINT KATEGORI_PE TEXT 50 - -
EKSISTING TITIK Transportasi, komunikasi, energy)
Informasi tambahan terkait
KETERANGAN TEXT 50 - -
pemanfaatan
SEBARAN KONDISI KONDISI Kondisi terumbu karang TEXT 50 - -
KARANG_KON_AR POLYGON
TERUMBU KARANG LUAS Luas (Generated by GIS) DOUBLE - 15 3
TITIK PERSENTASE Titik nilai presentase tutupan
KARANG_PERSEN_PT POINT PERSENTASE DOUBLE - 15 3
TUTUPAN KARANG terumbu karang
SEBARAN KONDISI KONDISI Kondisi kerapatan mangrove TEXT 50 - -
MANGROVE_KON_AR POLYGON
MANGROVE LUAS Luas (Generated by GIS) DOUBLE - 15 3

177
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 6
FEATURE CLASS NAMA FILE GEOMETRI PRIMARY FIELD KETERANGAN TYPE LENGTH PRECISION SCALE
TITIK PERSENTASE Titik nilai kerapatan mangrove
MANGROVE_PERSEN_PT POINT PERSENTASE DOUBLE - 15 3
KERAPATAN MANGROVE
SEBARAN KONDISI KONDISI Kondisi ekosistem lamun TEXT 50 - -
LAMUN_KON_AR POLYGON
LAMUN LUAS Luas (Generated by GIS) DOUBLE - 15 3
TITIK PERSENTASE Titik presentase kondisi ekosistem
LAMUN_PERSEN_PT POINT PERSENTASE DOUBLE - 15 3
TUTUPAN LAMUN lamun
JENIS_IKAN Jenis ikan tangkapan TEXT 50 - -
DAERAH PENANGKAPAN
DEMERSAL_AR POLYGON Tingkat potensi penangkapan (Tinggi
IKAN DEMERSAL POTENSI TEXT 50 - -
Sedang Rendah)
TITIK KELIMPAHAN IKAN JENIS_IKAN Jenis ikan tangkapan TEXT 50 - -
KLPHN_DMRSAL_PT POINT
DEMERSAL KELIMPAHAN Nilai kelimpahan ikan DOUBLE - 15 3
JENIS_IKAN Jenis ikan tangkapan TEXT 50 - -
DAERAH PENANGKAPAN
PELAGIS_JAN_AR POLYGON Tingkat potensi penangkapan (Tinggi
IKAN PELAGIS POTENSI TEXT 50 - -
Sedang Rendah)
TITIK KELIMPAHAN IKAN JENIS_IKAN Jenis ikan tangkapan TEXT 50 - -
KLPHN_PELGS_PT POINT
PELAGIS KELIMPAHAN Nilai kelimpahan ikan DOUBLE - 15 3
KELAS Kelas jalan TEXT 50 - -
JARINGAN JALAN GARIS JALAN_LN POLYLINE
NAMA_JALAN Toponimi Jalan TEXT 50 - -
TIPE Tipe/jenis pelabuhan TEXT 50 - -
PELABUHAN POIN PELABUHAN_PT POINT
NAMA Namapelabuhan TEXT 50 - -
Kategori infrastruktur (Mis.
KATEGORI Kesehatan, Pemerintahan, TEXT 50 - -
INFRASTRUKTUR LAIN Pendidikan)
INFRASTRUKTUR_PT POINT Jenis infrastruktur (Mis. Rumah sakit,
POIN JENIS TEXT 50 - -
Puskesmas, Posyandu)
NAMA Nama infrastruktur TEXT 50 - -
JUMLAH PENDUDUK JML_PDD_AR POLYGON JML_PDD Jumlah Penduduk (jiwa) DOUBLE - 15 3
KEPADATAN PENDUDUK KPDT_PDD_AR POLYGON KLAS_PDD Kepadatan penduduk (jiwa/km2) TEXT 50 - -
MATA PENCAHARIAN PENCAHARIAN_PT POINT PENCAHARIAN Jenis mata pencaharian penduduk TEXT 50 - -
MASYARAKAT HUKUM
MHA_AR POLYGON NAMA_ADAT TEXT 50 - -
ADAT

178
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 6
FEATURE CLASS NAMA FILE GEOMETRI PRIMARY FIELD KETERANGAN TYPE LENGTH PRECISION SCALE
WILAYAH NELAYAN Luas (Generated by GIS)
NLYN_TR_AR POLYGON LUAS_NLYN_TR TEXT 50 - -
TRADISIONAL
INFORMASI EKONOMI Nilai pendapatan masyarakat
EKON_WIL_AR POLYGON NILAI_PENDAPATAN DOUBLE - 15 3
WILAYAH PERENCANAAN
JENIS Jenis bencana TEXT 50 - -
KERAWANAN BENCANA Tingkat kerwanan bencana (Tinggi,
KERAWANAN_AR POLYGON KERAWANAN TEXT 50 - -
AREA sedang, drendah)
LUAS_RAWAN Luas (Generated by GIS) DOUBLE - 15 3
KERAWANAN BENCANA Jenis Bencana
KERAWANAN_LN POLYLINE JENIS_BENCANA TEXT 50 - -
GARIS
KERAWANAN BENCANA Jenis bencana
KERAWANAN_PT POINT JENIS TEXT 50 - -
TITIK
JENIS_BENCANA Jenis bencana TEXT 50 - -
RISIKO BENCANA AREA RISIKO_AR POLYGON RISIKO Tingkat rissiko bencana TEXT 50 - -
LUAS_RISIKO Luas (Generated by GIS) DOUBLE - 15 3
PROVINSI Nama Provinsi TEXT 50 - -
KAWASAN Kawasan TEXT 50 - -
ZONA Zona TEXT 50 - -
Kodifikasi Zona untuk penyampaian
KODE_ZONA dalam perda. Isinya dapat mengacu TEXT 50 - -
pada table selanjutnya.
SUBZONA Sub Zona TEXT 50 - -
Kodifikasi Sub Zona untuk
RZWP-3-K AREA RZWP3K_AR POLYGON
penyampaian dalam perda. Isinya
KODE_SZ TEXT 50 - -
dapat mengacu pada table
selanjutnya.
Informasi tambahan terkait kawasan,
KETERANGAN TEXT 200 - -
zona, maupun sub zona
Tahun pembuatan atau periode
TAHUN INTEGER 15 - -
RZWP-3-K
Status dalam penyusunan RZWP-3-K
STATUS TEXT 50 - -
(Mis. Dokumen final)

179
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 6
FEATURE CLASS NAMA FILE GEOMETRI PRIMARY FIELD KETERANGAN TYPE LENGTH PRECISION SCALE
Status perda (apabila sudah perda
dapat diissi dengan nomor perda,
STA_PERDA TEXT 50 - -
jika belum diisi dengan “Belum
Perda”)
LUAS_KAW Luas (Generated by GIS) 50 - - 3
LUAS_ZONA Luas (Generated by GIS) DOUBLE - 15 3
LUAS_SZ Luas (Generated by GIS) DOUBLE - 15 3
PROVINSI Nama Provinsi TEXT 50 - -
KAWASAN Kawasan TEXT 50 - -
ZONA Zona TEXT 50 - -
SUBZONA Sub Zona TEXT 50 - -
Informasi tambahan terkait kawasan,
KETERANGAN TEXT 200 - -
zona, maupun sub zona
RZWP-3-K GARIS RZWP3K_LN POLYLINE Tahun pembuatan atau periode
TAHUN INTEGER 15 - -
RZWP-3-K
Status dalam penyusunan RZWP-3-K
STATUS TEXT 50 - -
(Mis. Dokumen final)
Status perda (apabila sudah perda
dapat diissi dengan nomor perda,
STA_PERDA TEXT 50 - -
jika belum diisi dengan “Belum
Perda”)
PROVINSI Nama Provinsi TEXT 50 - -
KAWASAN Kawasan TEXT 50 - -
ZONA Zona TEXT 50 - -
SUBZONA Sub Zona TEXT 50 - -
RZWP-3-K TITIK RZWP3K_PT POINT Informasi tambahan terkait kawasan,
KETERANGAN TEXT 200 - -
zona, maupun sub zona
Tahun pembuatan atau periode
TAHUN INTEGER 15 - -
RZWP-3-K
Status dalam penyusunan RZWP-3-K
STATUS TEXT 50 - -
(Mis. Dokumen final)

180
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 6
FEATURE CLASS NAMA FILE GEOMETRI PRIMARY FIELD KETERANGAN TYPE LENGTH PRECISION SCALE
Status perda (apabila sudah perda
dapat diissi dengan nomor perda,
STA_PERDA TEXT 50 - -
jika belum diisi dengan “Belum
Perda”)

Keterangan:

 Untuk memudahkan dan menghindari kesalahan dalam pemerikasaan data, disarankan hanya ada 1 file untuk masing-masing jenis data
dengan nama yang sudah ada.
 Untuk geodatabase alokasi ruang baik data dasar, tematik maupun alokasi ruang perlu dipisah berdasarkan skala pemetaannya yaitu skala 1 :
250.000 dan 1 : 50.000
 Dalam penyimpanan file disarankan menggunakan format geodatabase (.gdb) untuk masing-masing skala, dengan feature dataset menjadi
folder untuk memisahkan masing-masing tema data.
 Field keterangan pada peta alokasi ruang berisi informasi tambahan yang penting, namun tidak tercantum dalam field kawasan, zona,
maupun subzona.
 Pengisian Field perlu menyesuaikan standar sesuai dengan simbolisasi penyajian data pada lampiran 3.
 Pada data RZWP-3-K, untuk memudahkan membahasakan alokasi ruang dalam peraturan daerah, tiap Zona maupun Sub Zona dapat
mengacu pada tabel kodifikasi zona dan sub zona.

181
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 6
Tabel L6.2 Kodifikasi Zona dan Sub Zona

NO KAWASAN ZONA KODE_ZONA SUBZONA KODE_SZ


1 Kawasan Pemanfaatan Umum Pariwisata KPU-W-XX 1. wisata alam bentang laut KPU-W-BL-XX
2. wisata alam pantai/pesisir dan pulau-pulau kecil KPU-W-P3K-XX
3. wisata alam bawah laut KPU-W-ABL-XX
4. wisata sejarah KPU-W-SJ-XX
5. wisata budaya KPU-W-BD-XX
6. wisata olah raga air KPU-W-OR-XX
Permukiman KPU-PM-XX 1. pemukiman nelayan KPU-PM-N-XX
2. pemukiman non-nelayan KPU-PM-NN-XX
Pelabuhan KPU-PL-XX 1. Daerah Lingkungan Kerja (DLKr) dan Daerah Lingkungan KPU-PL-DLK-XX
Kepentingan (DLKp)
2. wilayah kerja dan wilayah pengoperasian pelabuhan KPU-PL-WKO-XX
perikanan
1. pemanfaatan terbatas KPU-MG-PT-XX
2. pemanfaatan lainnya KPU-MG-PL-XX
Pertambangan KPU-TB-XX 1. mineral KPU-TB-MN-XX
2. pasir Laut KPU-TB PS-XX
3. minyak Bumi KPU-TB-MB-XX
4. gas Bumi KPU-TB-GB-XX
5. panas Bumi KPU-TB-PB-XX
Perikanan Budidaya KPU-BD-XX 1. budidaya laut KPU-BD-BL-XX
2. budidaya air payau KPU-BD-BP-XX
Perikanan Tangkap KPU-PT-XX 1. pelagis KPU-PT-P-XX
2. demersal KPU-PT-D-XX
3. pelagis dan demersal KPU-PT-PD-XX
Pergaraman KPU-GR-XX 1. garam rakyat KPU-GR-R-XX
2. garam non rakyat KPU-GR-NR-XX
Industri KPU-ID-XX 3. industri pengolahan ikan KPU-ID-PI-XX

182
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 6
NO KAWASAN ZONA KODE_ZONA SUBZONA KODE_SZ
2. industri maritim KPU-ID-MR-XX
3. industri manufaktur KPU-ID-MF-XX
4. industri biofarmakologi KPU-ID-BF-XX
5. industri bioteknologi KPU-BT-XX
Bandar Udara KPU-BU-XX Sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku
(Keputusan Menteri Perhubungan No. 48 Tahun 2002 tentang
Penyelenggaraan Bandar Udara Umum)
Pendaratan Pesawat KPU-PP-XX Sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku
(Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 20 Tahun 2011
tentang Pedoman Penyusunan RDTR dan Peraturan Zonasi
Kabupaten/Kota)
Energi KPU-EN-XX 1. pasang surut KPU-EN-PS-XX
2. gelombang KPU-EN-GL-XX
3. arus KPU-EN-AR-XX
4. angin KPU-EN-AG-XX
5. OTEC KPU-EN-OT-XX
Fasilitas Umum KPU-FU-XX 1. pendidikan KPU-FU-PD-XX
2. olahraga KPU-FU-OR-XX
3. keagamaan KPU-FU-AG-XX
Pemaanfaatan lain selain energi KPU-LN-XX 1. deep sea water KPU-LN-DSW-XX
2. biofarmakologi laut KPU-LN-BFL-XX
3. bioteknologi laut KPU-LN-BTL-XX
2 Kawasan Konservasi KKP3K
Zona Inti KKP3K-ZI-XX
Zona Pemanfaatan Terbatas KKP3K-ZPT-XX
Zona Lainnya KKP3K-ZL-XX
KKM
Zona Inti KKM-ZI-XX
Zona Pemanfaatan Terbatas KKM-ZPT-XX

183
TATA CARA PENYUSUNAN PETA RZWP-3-K
LAMPIRAN 6
NO KAWASAN ZONA KODE_ZONA SUBZONA KODE_SZ
Zona Lainnya KKM-ZL-XX
KKP
Zona Inti KKP-ZI-XX
Zona Perikanan Berkelanjutan KKP-ZPB-XX
Zona Pemanfaatan KKP-ZP-XX
Zona Lainnya KKP-ZL-XX
3 Alur Alur Pelayaran AL-AP-XX 1. ALKI; AL-AP-ALKI-XX
2. pelayaran internasional; AL-AP-PI-XX
3. pelayaran nasional; AL-AP-PN-XX
4. pelayaran regional; AL-AP-PR-XX
5. pelayaran lokal; AL-AP-PL-XX
6. pelayaran khusus. AL-AP-PK-XX
Alur Pipa/Kabel Bawah Laut AL-APK-XX 1. kabel listrik AL-APK-KL-XX
2. pipa air bersih AL-APK-PA-XX
3. kabel telekomunikasi AL-APK-KT-XX
4. pipa minyak dan gas AL-APK-GM-XX
5. pipa dan kabel lainnya AL-APK-PKL-XX
Alur Migrasi Biota Laut AL-AMB-XX 1. migrasi ikan tertentu AL-AMB-MI-XX
2. migrasi penyu AL-AMB-MP-XX
3. migrasi mamalia laut AL-AMB-MM-XX
4 Kawasan Strategis Nasional Tertentu KSNT-XX

Keterangan:
KPU-BD-BL-XX
Kode Kawasan |
Kode Zona |
Kode Subzona |
Nomor urutan polygon sub zona tersebut dalam peta RZWP-3-K |
(misal : 01; 02; 03;……….dst.)

184

Anda mungkin juga menyukai