Anda di halaman 1dari 7

DASAR PENAMAAN DALAM BAHASA

MELAYU DIALEK SAMBAS DI


KECAMATAN PEMANGKAT
Posted in Dasar Penamaan dalam Bahasa Melayu Dialek Sambas, Semantik

Posted by : Al Ashadi Alimin

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Bahasa dapat diartikan sebagai rangkaian bunyi yang mempunyai makna tertentu.

Rangkaian bunyi membentuk kata, melambangkan suatu konsep. Patut disadari bahwa

memberikan lambang kepada suatu konsep tidak sewenang-wenang. Memberikan nama kepada

suatu objek berdasarkan kesepakatan, agama, budaya, kitab suci dan pahlawan. Setiap pemakai

bahasa cenderung memiliki kesepakatan masing-masing yang melambangkan konsep yang

dialaminya. Pembendaharaan kata pada bahasa pada hakikatnya merupakan akumulasi

pengalaman dan pemikiran masyarakat pemakai bahasa itu. Hubungannya dengan bahasa

Indonesia bahasa daerah berfungsi sebagai

(1) pendukung bahasa nasional,

(2) bahasa pengantar di sekolah dasar, dan

(3) alat pengembang serta pendukung kebudayaan daerah.

Bahasa melayu merupakan satu di antara bahasa yang ada di Nusantara. Bahasa Melayu

tersebar di Malaysia, Sumatera, dan Kalimantan yang disetiap daerah tersebut memiliki dialek

yang berbeda-beda. Satu di antara dialek bahasa Melayu di Kalimantan adalah dialek Sambas.

Bahasa Melayu Dialek Sambas yang selanjutnya disingkat BMDS bagi masyarakat

Melayu Sambas memiliki peranan penting. Sebagian besar etnis Melayu Kabupaten Sambas di

Kalimantan Barat menggunakan BMDS sebagai alat komunikasi dalam pergaulan sehari-hari.

Selain dipergunakan sebagai alat komunikasi dan bahasa pergaulan, BMDS juga digunakan

sebagai sarana pengembangan dunia pendidikan, kebudayaan, ekonomi, sosial, dan politik.
Dalam hal ini misalnya sebagai bahasa pengantar di Sekolah Dasar, kegiatan usaha (perdagangan

lokal), bahasa pengantar dalam kegiatan sosial (penyuluhan, diskusi dan sebagainya), dalam

upacara adat, dan pengutaraan cerita rakyat. Hal ini diperlukan untuk menambah informasi

mengenai bahasa daerah dalam usaha pembinaan dan pengembangan bahasa nasional dan

inventarisasi bahasa-bahasa daerah yang berfungsi sebagai pengembang bahasa nasional.

Komunikasi pada dasarnya merupakan peristiwa budaya. Melalui bahasa, manusia

dapat mengekspresikan dan mengungkapkan idenya. Manusia tidak hanya memberi nama, tetapi

juga memberikan makna. Nama rnerupakan lambang dari sesuatu. Dalam kehidupan sehari-hari

masyarakat Sambas juga menamai benda, konsep, aktifitas atau peristiwa yang ada disekitar

mereka. Pada proses penamaan tersebut mungkin ada hal-hal yang mendasarinya. Jadi, dengan

mengadakan penelitian ini penulis ingin mengetahui fakta kebahasaan yang berupa dasar-dasar

penaman dalam Bahasa Melayu Dialek Sambas (BMDS).

Penelitian tentang BMDS bertujuan, pertama melestarikan keberadaan Dialek Melayu

Sambas. Kedua, penelitian ini diharapkan masyarakat Sambas mengetahui dasar-dasar

pembentukan nama kata-kata yang mereka gunakan pada saat berkomunikasi sehari-hari.

Terdapat berbagai pendapat tentang proses penamaan, walaupun demikian masih dapat

ditelusuri dasar-dasar penamaan tersebut dalam bahasa Indonesia begitu pula dalam BMDS.

Banyak di antara masyarakat Melayu Sambas yang tidak mengetahui kata sampah (bahasa

Indonesia) disebut uras (BMDS), kata bebek (bahasa Indonesia) disebut itik (BMDS).

Adapun alasan penulis memilih dasar penamaan didasarkan pada pertimbangan berikut.

Pertama, peneliti ingin mengetahui bagaimana dasar penamaan yang digunakan oleh masyarakat

Melayu Sambas. Kedua dasar penamaan mempunyai peranan penting untuk mengetahui proses

perlambangan dari suatu konsep.

Pemilihan dasar-dasar penamaan dalam Dialek Melayu Sambas sebagai objek

penelitian didasari beberapa hal.

1. Penelitian mengenai penamaan dalam BMDS belum pernah dilakukan sehingga dapat dipastikan

gambaran mengenai penamaan dalam BMDS. Dengan demikian, penelitian ini memperkenalkan

kepada masyarakat tentang dasar penamaan BMDS.


2. Peneliti tertarik dan ingin mempelajari dasar penamaan BMDS secara lebih mendalam agar

peneliti memperoleh pengetahuan yang mendalam mengenai dasar penamaan BMDS.

Sepengetahuan penulis penelitian tentang penamaan pernah diteliti peneliti lain yakni

Dasar Penamaan Dalam Dialek Melayu Sintang (Astuti Winarti, 2006), Dasar Penamaan Dalam

Bahasa Melayu Kapuas Hulu Dialek Semangut (Heny Guslinda, 2008), Dasar Penamaan Dalam

Bahasa Dayak Kanayant Dialek Ahe (Feny Juliawati, 2008), sedangkan dalam Bahasa Melayu

Dialek Sambas belum pernah diteliti oleh peneliti sebelumnya. Ada beberapa penelitian Bahasa

Melayu Dialek Sambas yang pernah diteliti oleh para peneliti sebelumnya antara lain:

Morfofonemik Bahasa Melayu Dialek Sambas (Hudaya, 1996), Konjungsi Bahasa Melayu

Dialek Sambas (Cahyaningrum, 1999), Pemakaian Preposisi Bahasa Melayu Dialek Sambas

(Rianti, 1999), Strukutur Nomina Bahasa Melayu Dialek Sambas (Rahayu, 1999), Pronomina

Bahasa Melayu Dialek Sambas (Nur Amini, 1999), Pemakaian Prasa Bahasa Melayu Dialek

Sambas (Pawadi, 2005), Verbal Turunan Bahasa Melayu Dialek Sambas (Ernawati, 2006),

Antonim Bahasa Melayu Dialek Sambas (Sarbini 2006), Unsur Serapan dalam Bahasa Asing

dalam Bahasa Melayu Dialek Sambas (Sari, 2007).

Kabupaten Sambas secara geografis memiliki luas wilayah 12.296 km2 yang terdiri atas

lima belas kecamatan yaitu Kecamatan Selakau, Kecamatan Pemangkat, Kecamatan Semparuk,

Kecamatan Tebas, Kecamatan Jawai, Kecamatan Tekarang, Kecamatan Sebawi, Kecamatan

Sambas, Kecamatan Benua Sajad, Kecamatan Sejangkung, Kecamatan Subah, Kecamatan Teluk

Keramat Kecamatan Galing, Kecamatan Sajingan besar, dan Kecamatan Paloh. Dalam penelitian

ini, penulis memfokuskan penelitian di Kecamatan Pemangkat sebagai tempat pengambilan data.

Kecamatan Pemangkat merupakan satu di antara kecamatan yang ada di Kabupaten

Sambas dengan luas wilayah 111,25 km2. Kecamatan Pemangkat terdiri atas lima desa, yaitu

desa Pemangkat Kota, desa harapan, desa Penjajap, desa Prapakan dan desa Jelutung. Jumlah

penduduk sekitar 55.946 dan 13.916 KK (sensus bulan September 2008). Mengingat luas

wilayah Kecamatan Pemangkat cukup terbatas apalagi dengan membagi masing-masing luas

wilayah perdesa, maka peneliti memfokuskan penelitian diseluruh Kecamatan Pemangkat.

Kecamatan Pemangkat berbatasan dengan kecamatan-kecamatan lain antara lain:

a. sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Jawai Selatan


b. sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Salatiga dan Selakau

c. sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Semparuk

d. sebelah barat berbatasan dengan Laut Natuna.

Berdasarkan batas-batas wilayah di atas, sebagian besar bahasa yang digunakan masing-

masing wilayah tersebut menggunakan bahasa Melayu Dialek Sambas. Sekarang ini, keberadaan

dialek Melayu Sambas menghadapi berbagai tantangan. Pertama, dengan terbuka jalur

transportasi ke daerah, menyebabkan semakin terbukanya proses komunikasi masyarakat penutur

BMDS dengan penutur bahasa lain. Kedua, pengajaran bahasa Indonesia di sekolah yang mulai

meningkat, hal ini menyebabkan kurangnya intensitas pengguna bahasa dialek Melayu Sambas

dikalangan pelajar. Ketiga, semakin banyaknya perkawinan antara penutur BMDS dan yang

bukan penutur BMDS sehingga menyebabkan percampuran bahasa di lingkungan keluarga.

Tantangan yang telah penulis sebutkan merupakan alasan dasar penulis menjadikan

Kecamatan Pemangkat sebagai tempat penelitian. Oleh karena itu, perlu dilakukan

pendokumentasian dialek Melayu Sambas. Selain itu juga, untuk melengkapi penelitian-

penelitian di bidang linguistik BMDS yang pernah dilakukan sebelumnya.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terutama sebagai bahan

penunjang atau bahan bandingan bagi peneliti lain yang ingin meneliti bidang linguistik.

Dikaitkan dengan pengajaran penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan terutama

sebagai bahan penunjang atau bahan perbandingan dalam pengajaran dasar penamaan yang ada

di SD, SMP, maupun SMA. Selain itu, dapat digunakan oleh guru sebagai bahan perbandingan

atau memperbanyak contoh dalam materi pembuatan kamus oleh siswa. Berdasarkan uraian di

atas, informasi dan pendokumentasian bahasa daerah dapat memberikan kontribusi pada

pengajaran bahasa Indonesia untuk menambah pengetahuan siswa mengenai kosa kata dan

mengetahui asal makna, sehingga memudahkan siswa di dalam menyusun atau membuat kamus

siswa di daerah Pemangkat.

1.2 Masalah Penelitian


Masalah yang ingin dibahas dalam penelitian ini adalah "Bagaimana Dasar Penamaan

dalam Bahasa Melayu Dialek Sambas". Selanjutnya untuk mempermudah penelitian ini masalah

tersebut dibatasi menjadi beberapa submasalah sebagai berikut.

1. Bagaimanakah dasar penamaan berupa peniruan bunyi dalam BMDS?

2. Bagaimanakah dasar penamaan berupa bahan dalam BMDS?

3. Bagaimanakah dasar penamaan berupa tempat asal dalam BMDS?

4. Bagaimanakah dasar penamaan berupa bagian dalam BMDS?

5. Bagaimanakah dasar penamaan berupa keserupaan dalam BMDS?

6. Bagaimanakah dasar penamaan berupa penyebutan sifat khas dalam BMDS?

1.3 Ruang Lingkup Masalah

Penelitian perlu ruang lingkup agar lebih terarah dalam mengumpulkan data. Dalam

mengumpulkan data, penelitian ini memfokuskan untuk mendeskripsikan dasar-dasar penamaan

yang berupa kata-kata saja. Berkaitan dengan masalah penelitian ruang lingkup penelitian ini

mencakup:

1. Pembahasan mengenai enam submasalah penelitian antara lain dasar penamaan berupa peniruan

bunyi, dasar penamaan berupa bahan, dasar penamaan berupa tempat asal, dasar penamaan

berupa bagian, dasar penamaan berupa keserupaaan, dan dasar penamaan berupa penyebutan

sifat khas.

2. Pembahasan dasar penamaan menggunakan pendapat Drs.Abdul Chaer karena teori beliau

mengenai dasar penamaan lebih lengkap, sedangkan teori mengenai dasar penamaan lainnya

tidak lengkap dan tidak mendalam.

3. Penelitian mengenai dasar penamaan dalam BMDS difokuskan di Kecamatan Pemangkat

Kabupaten Sambas.

1.4 Tujuan Penelitian

Secara umum tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dasar-dasar penamaan

dalam BMDS. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk.


1. Pendeskripsian dasar penamaan berupa peniruan bunyi dalam BMDS.

2. Pendeskripsian dasar penamaan berupa bahan dalam BMDS.

3. Pendeskripsian dasar penamaan berupa tempat asal dalam BMDS.

4. Pendeskripsian dasar penamaan berupa bagian dalam BMDS.

5. Pendeskripsian dasar penamaan berupa keserupaan dalam BMDS.

6. Pendeskripsian dasar penamaan berupa penyebutan sifat khas dalam BMDS.

1.5 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dapat ditinjau dari dua segi, yaitu manfaat dari segi teori dan

manfaat secara pragmatik.

1. Manfaat secara teori

Penelitian ini secara teoritis bermanfaat untuk memperkuat teori-teori yang sudah ada,

yang berhubungan dengan dasar penamaan dalam Bahasa Melayu Dialek Sambas.

2. Manfaat secara pragmatis

a. Mendukung usaha pendokumentasian dalam upaya pelestarian dan pengembangan bahasa

daerah khususnya bahasa Melayu Sambas tentang dasar penamaan dalam Bahasa Melayu Dialek

Sambas.

b. Memberi masukan bagi peneliti selanjutnya tentang kebahasaan.

c. Bagi peneliti, menambah pengetahuan dan wawasan peneliti tentang kebahasaan, khususnya

mengenai Dasar Penamaan dalam Bahasa Melayu Dialek Sambas.

d. Sebagai masukan bagi pengajar Bahasa Indonesia sebagai satu diantara perbandingan materi

kebahasaan dan bahasa daerah sebagai mata pelajaran lokal.

1.6 Penjelasan Istilah

Penjelasan istilah ini dimaksudkan untuk menghindari kesalahpahaman dalam

menafsirkan istilah-istilah yang digunakan dalam penelitian ini. Istilah-istilah yang perlu

dijelaskan antara lain.


1. Bahasa Melayu Dialek Sambas adalah Bahasa Melayu yang dipakai oleh masyarakat suku

melayu yang bertempat tinggal di Wilayah Kabupaten Sambas.

2. Semantik adalah bidang studi dalam linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa

(Chaer, 1995:2)

3. Penamaan adalah proses pelambangan suatu konsep (kata yang berupa benda, konsep, peristiwa

atau kegiatan) untuk mengacu kepada suatu referen yang berada diluar bahasa (Chaer, 1995:43)

Penelitian dasar penamaan dalam BMDS adalah penelitian yang bertujuan untuk

menemukan fakta kebahasaan berupa hal-hal yang mendasari penamaan sebuah kata.