Anda di halaman 1dari 29

Pengalaman Belajar Lapangan

Syok Anafilaksis

Oleh :

I Gusti Bagus Oka Wijaya (0902005027)

Pembimbing :
dr. Ketut Suardamana, Sp.PD

DALAM RANGKA MENGIKUTI KEPANITERAAN KLINIK MADYA


BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT DALAM
RSUP SANGLAH / FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
2018

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena dengan
rakhmatnya maka Laporan Pengalaman Belajar Lapangan yang berjudul ”Syok
Anafilaksis” ini dapat selesai pada waktunya.

Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak
yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini. Laporan Pengalaman
Belajar Lapangan ini disusun sebagai salah satu syarat mengikuti Kepaniteraan
Klinik Madya di Bagian Ilmu Penyakit Dalam FK UNUD/RSUP Sanglah,
Denpasar.
Ucapan terima kasih penulis tujukan kepada:
1. dr. Ketut Suardamana, Sp.PD-KAI selaku dosen pembimbing.
2. Pasien dan keluarga pasien yang telah memberikan informasi dan data-
data yang sangat penulis perlukan untuk penyelesaian laporan ini.
3. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat penulis sebutkan satu-
persatu.

Penulis menyadari tulisan ini masih jauh dari sempurna dan banyak kekurangan,
sehingga saran dan kritik pembaca yang bersifat membangun sangat penulis
harapkan untuk kesempurnaan tulisan ini. Semoga dapat bermanfaat bagi
pembaca.

Denpasar, Mei 2018

Penulis

ii
Daftar Isi

KATA PENGANTAR ............................................................................................ ii


Daftar Isi................................................................................................................. iii
BAB 1 PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 2
2.1 Definisi .......................................................................................................... 2
2.2 Epidemiologi ................................................................................................. 2
2.3 Etiologi .......................................................................................................... 2
2.4 Patofisiologi .................................................................................................. 3
2.5 Tanda dan Gejala........................................................................................... 4
2.6 Diagnosis ....................................................................................................... 5
2.8 Pemeriksaan Penunjang ................................................................................ 6
2.9 Diagnosis Banding ........................................................................................ 7
2.10 Penatalaksanaan .......................................................................................... 8
2.11 Prognosis ..................................................................................................... 9
BAB II KASUS PENGALAMAN BELAJAR LAPANGAN .............................. 11
BAB IV DISKUSI HASIL KUNJUNGAN RUMAH .......................................... 17
4.1 Alur Kunjungan Lapangan .......................................................................... 17
4.2 Daftar Permasalahan Pasien ........................................................................ 17
4.3 Analisis Kebutuhan Pasien .......................................................................... 17
4.4 Kebutuhan Biopsikososial........................................................................... 19
4.5 Saran-Saran terhadap Daftar Permasalahan Pasien, Kebutuhan Fisik
Biomedis dan Biopsikososial ............................................................................ 20
BAB IV PEMBAHASAN ..................................................................................... 22
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN.................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 24

iii
BAB 1
PENDAHULUAN

Makanan, obat-obatan, gigitan serangga, maupun kondisi ekstrem dapat


menimbulkan reaksi hipersensitifitas. Hipersensitifitas merupakan respon imun
yang berlebihan sehingga dapat merusak jaringan tubuh. Reaksi ini berdasarkan
Gell dan Coombs dibagi menjadi reaksi tipe 1 atau tipe cepat yaitu reaksi yang
muncul segera setelah terpajan alergen, reaksi tipe 2 atau reaski sitotoksik yang
terjadi karena pembentukan IgG dan IgM sehingga dapat mengaktifkan
komplemen dan mengakibatkan lisis, reaksi tipe 3 atau reaksi kompleks imun
yang terjadi akibat pembentukan kompleks antigen antibodi, dan reaksi tipe 4 atau
reaksi hipersensitivitas lambat yang timbul > 24 jam setelah terpajan antigen.1

Anafilaksis secara jelas diperkenalkan pada tahun 1901 oleh Charles Richet
dan Paul Portier. Reaksi anafilaksis merupakan reaksi hipersensitifitas tipe cepat
yang melibatkan lebih dari satu sistem organ. Anafilaksis adalah reaksi alergi
yang dapat menyebabkan kematian. Di amerika serikat, setiap tahunnya
diperkirakan terdapat 150 kematian akibat reaksi alergi terhadap makanan.
Sedangkan 400-800 kematian setiap tahunnya karena alergi terhadap antbiotik.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Eka Imbawan,dkk. di RSUP Sanglah
pada tahun 2007-2010, baik laki-laki maupun perempuan memiliki risiko yang
sama untuk mengalami reaksi anafilaksis, dan reaksi terbanyak disebabkan oleh
obat sebesar 63,9%.2,3

Pada pelayanan kesahatan, anafilaksis tidak dipertimbangkan sebagai


penyebab kematian. Kematian akibat anafilaksis sering tidak terdiagnosis karena
tidak adanya riwayat yang mendetail dari saksi mata, pemeriksaan laboratorium
yang sedikit, dan pemeriksaan post mortem yang tidak spesifik. Reaksi anafilaktik
dapat terjadi dimana saja, di tempat praktek, di meja operasi, bahkan di rumah
pasien sendiri sehingga edukasi kepada pasien dan keluarga merupakan salah satu
upaya preventif dalam kasus ini. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah
melalui kunjungan ke rumah pasien.4

1
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Reaksi hipersensitifitas akut yang melibatkan dua organ atau lebih (sistem
kulit/mukosa dan jaringan bawah kulit, sistem respirasi, sistem kardiovaskuler,
sistem gastrointestinal).3,5
Reaksi hipersensitivitas sistemik yang serius, mengancam nyawa dan merupakan
reaksi alergi dengan onset cepat.4
Anafilaksis merupakan reaksi hipersensitifitas sistemik, akut yang dimediasi oleh
IgE akibat pelepasan mediator sel mast, basofil.5

2.2 Epidemiologi
Beberapa sumber menyebutkan, prevalensi reaksi anafilaksis terhadap gigitan
serangga sebesar 1-3%. Sedangkan terhadap penggunaan obat-obatan berbeda-
beda tergantung dari jenis obatnya, seperti penisilin dengan prevalensi sebesar
2%. Di RSUP Sanglah pada penelitian tahun 2007-2010, pencetus reaksi
hipersensitifitas terbanyak adalah obat sebesar 6,9% yang sebagian besar terjadi
melalui jalur oral, diikuti oleh makanan sebanyak 27,8%.3,6
Berdasarkan World Allergy Organization (WAO) 2013, kelompok
infantile, remaja, wanita hamil dan lanjut usia memiliki peningkatan kerentanan
terhadap anafilaksis. Penyakit concomitant seperti asma berat yang tidak
terkontrol, mastositosis, penyakit kardiovaskuler, dan penggunaan medikasi
seperti beta blocker terbukti meningkatkan risiko anafilaksis fatal.6

2.3 Etiologi
Faktor pemicu timbulnya anafilaktik pada anak-anak, remaja, dan dewasa muda
adalah sebagian besar oleh makanan. Sedangkan gigitan serangga dan obat-obatan
menjadi pemicu timbulnya reaksi ini pada kelompok usia pertengahan dan dewasa
tua. Sebagian besar pemicu spesifik terhadap reaksi anafilaksis bersifat universal,
seperti di Amerika Utara, dan beberapa negara di Eropa dan Asia, susu sapi telur,
kacang, ikan, kerang merupakan penyebab tersering. Di beberapa negara Eropa
lainnya, buah peach adalah faktor pemicu tersering. Obat-obatan, seperti antivirus,

2
antimikroba, anti jamur adalah penyebab paling sering reaksi anafilaksis di dunia.
Reaksi anafilaksis juga dapat dipicu oleh agen kemoterapi, seperti carboplatin,
doxorubicin, cetuximab, infliximab. Agen lain yang dapat menyebabkan reaksi ini
adalah radiocontrast media, latex yang biasa ditemukan di sungkup, endotrakeal
tube, cuff tensimeter, kateter, torniket, udara yang terlalu dingin atau air yang
dingin. Sensitivitas host, dosis, kecepatan, cara, dan waktu paparan dapat
mempengaruhi reaksi anafilaksis, dimana paparan oral lebih jarang menimbulkan
reaksi.4,6,8

2.4 Patofisiologi
Reaksi anafilaksis merupakan reaksi hipersensitvitas tipe I atau reaksi cepat
dimana reaksi segera muncul setelah terkena alergen. Perjalanan reaksi ini dibagi
menjadi tiga fase, yaitu fase sensitisasi, fase aktivasi, dan fase efektor.
Fase sensitisasi dimulai dari masuknya antigen ke dalam tubuh lalu
ditangkap oleh sel imun non spesifik kemudian di fagosit dan dipersentasikan ke
sel Th2. Sel ini akan merangsang sel B untuk membentuk antibodi sehingga
terbentuklah antibodi IgE. Antibodi ini akan diikat oleh sel yang memiliki
reseptor IgE yaitu sel mast, basofil, dan eosinofil. Apabila tubuh terpajan kembali
dengan alergen yang sama, alergen yang masuk ke dalam tubuh itu akan diikat
oleh IgE dan memicu degranulasi dari sel mast. Proses ini disebut dengan fase
aktivasi.
Pada fase aktivasi, terjadi interaksi antara IgE pada permukaan sel mast
dan basofil dengan antigen spesifik pada paparan kedua sehingga mengakibatkan
perubahan membran sel mast dan basofil akibat metilasi fosfolipid yang diikuti
oleh influks Ca++ yang menimbulkan aktivasi fosfolipase, kadar cAMP menurun,
menyebabkan granul-granul yang penuh berisikan mediator bergerak
kepermukaan sel. Terjadilah eksositosis dan isi granul yang mengandung mediator
dikeluarkan dari sel mast dan basofil.
Adanya degranulasi sel mast menimbulkan pelepasan mediator inflamasi,
seperti histamin, trptase, kimase, sitokin. Bahan-bahan ini dapat meningkatkan
kemampuan degranulasi sel mast lebih lanjut sehingga menimbulkan dampak
klinis pada organ organ tubuh yang dikenal dengan fase efektor.5,8

3
Gambar 1. Hipersensitivitas tipe I yang mendasari Reaksi Anafilaksis
(Elseviere.com, 2009)

2.5 Tanda dan Gejala 4,6


Tanda dan gejala dari anafilaksis dapat berupa:
1. Kulit, subkutan, mukosa (80-90% kasus)
Kemerahan, gatal, urtikaria, angioedema, pilor erection
Gatal di periorbital, eritema dan edema, eritema konjunctiva, mata berair
Gatal pada bibir, lidah, palatum, kanalis auditori eksternus, bengkak di
bibir, lidah, dan uvula.
Gatal di genital, telapak tangan dan kaki.
2. Respirasi (70%)
Gatal di hidung, bersin-bersin, kongesti, rinorea, pilek
Gatal pada tenggorokan, disfonia, suara serak, stridor, batuk kering.dry
staccato cough
Peningkatan laju nafas, susah bernafas, dada terasa terikat, wheezing,
sianosis, gagal nafas.
3. Gastrointestinal (45%)
Nyeri abdomen, mual, muntah, diare, disfagia.
4. Sistem kardiovaskuler (45%)
Nyeri dada, takikardia, bradikardia (jarang), palpitasi, hipotensi, merasa
ingin jatuh, henti jantung.

4
Manifestasi primer pada jantung tampak dari perubahan EKG yaitu T-
mendatar, aritmia supraventrikular, AV block.
5. Sistem saraf pusat (15%)
Perubahan mood mendadak seperti iritabilitas, sakit kepala, perubahan
status mental, kebingungan.
6. Lain-lain
Metallic taste di mulut, kram dan pendarahan karena kontraksi uterus.

2.6 Diagnosis
Dalam menegakkan diagnosis, sangat penting untuk mengetahui riwayat pajanan
sebelum reaksi muncul. Kunci diagnosis adalah adanya gejala yang muncul dalam
menit atau jam setelah terpapar dari pemicu dan diikuti oleh gejala yang progresif
dalam beberapa jam. Adapun kriteria klinis untuk menegakkan diagnosis
anafilaksis dapat dilihat pada tabel berikut.4

Tabel 1. Kriteria Klinis Diagnosis Anafilaksis

2.7 Klasifikasi
Dalam tabel dibawah ini ditunjukkan derajat reaksi anafilaksis berdasarkan
keparahan dari gajala klinis.

5
Tabel 2. Derajat Reaksi Anafilaksis2

Disamping tabel diatas, terdapat juga klasifikasi derajat klinis reaksi


hipersensitifitas/anafilaksis oleh Brown (2004) yaitu.
1. Ringan (hanya melibatkan kulit dan jaringan dibawah kulit) seperti:
eritema generalisata, urtikaria, angioedema/edema periorbita.
2. Sedang (melibatkan sistem respirasi, kardiovaskuler, gastrointestinal)
seperti : sesak nafas, stridor, mengi, mual, muntah, pusing (pre syncope),
rasa tidak enak di tenggorokan dan dada serta nyeri perut.
3. Berat (hipoksia, hipotensi, syok dan manifestasi neurologis), seperti:
sianosis (SpO2 ≤ 90%), hipotensi (SBP < 90 mmHg pada dewasa),
kolaps, penurunan kesadaran dan inkontinensia.
Reaksi dengan derajat ringan dikenal sebagai reaksi hipersensitifitas
akut, sedangkan untuk derajat sedang dan berat merupakan gambaran
klinis anafilaksis.

2.8 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan laboratorium hanya digunakan untuk memperkuat dugaan adanya
reaksi alergi, bukan untuk menetapkan diagnosis.

6
Jumlah leukosit
Pada alergi, jumlah leukosit normal kecuali bila disertai dengan infeksi.
Eosinofilia sering dijumpai tetapi tidak spesifik.
Serum IgE total
Dapat memperkuat adanya alergi, tetapi hanya didapatkan pada 60-80% pasien.
IgE spesifik
Pengukuran IgE spesifik dilakukan untuk mengukur IgE terhadap alergen tertentu
secara in vitro dengan cara RAST (Radio Alergo Sorbent Test) atau ELISA
(Enzim Linked Imunnosorbent Assay). Tes ini dapat dipertimbangkan apabila tes
kulit tidak dapat dilakukan.
Serum tryptase
Pemeriksaan serum triptase dapat digunakan untuk mengidentifikasi reaksi
anafilaksis yang baru terjadi atau reaksi lain karena aktivasi sel mast. Triptase
merupakan protease yang berasal dari sel mast.
Tes kulit
Tes kulit bertujuan untuk menentukan antibodi spesifik IgE spesifik dalam kulit
pasien yang secara tidak langsung menunjukkan antibodi yang serupa pada organ
yang sakit. Tes kulit dapat dilakukan dengan tes tusuk (prick test), scratch test,
friction test, tes tempel (patch test), intradermal test. Tes tusuk dilakukan dengan
meneteskan alergen dan kontrol pada tempat yang disediakan kemudian dengan
jarum 26 G dilakukan tusukan dangkal melalui ekstrak yang telah diteteskan.
Pembacaan dilakukan 15-20 menit dengan mengukur diameter urtika dan eritema
yang muncul. Tes tempel dilakukan dengan cara menempelkan pada kulit bahan
yang dicurigai sebagai alergen. Pembacaan dilakukan setelah 48 jam dan 96 jam.1
Tes provokasi
Tes provokasi adalah tes alergi dengan cara memberikan alergen langsung kepada
pasien sehingga timbul gejala.1

2.9 Diagnosis Banding


Diagnosis banding reaksi anafilaksis adalah asma episode berat, sinkop, panic
attacks, hipoglikemia. Asma episode berat saat serangan dapat menunjukkan
gejala batuk, sulit bernafas, terdengar wheezing sehingga menyerupai reaksi

7
anafilaksis pada sistem respirasi. Namun, gatal, urtikaria, angioedema, nyeri
abdomen jarang ditemukan pada asma. Panic attacks menimbulkan gejala seperti
kesulitan bernafas, kemerahan, takikardia, dan gangguan gastrointestinal. Namun,
adanya urtikaria, angioedema, hipotensi jarang pada panic attacks. Hipotensi
dapat terjadi pada sinkop dan anafilaksis, tetapi pucat dan berkeringat tampak
pada sinkop.2,4

2.10 Penatalaksanaan
Penatalaksanaan reaksi anafilaksis sebagai berikut.4,5,7
1. Evaluasi ABC
2. Posisikan pasien dengan posisi elevasi ekstremitas atas
3. Beri 02 100% 6-8 L/menit (distress nafas)
4. Adrenalin 1:1000 larutan (1mg/ml) disuntikkan 0,3-0,5 ml IM atau 0,01
mg/kgBB Akses infus (14atau 16 gauge) intravena dengan normal salin
5. Bila tidak ada perbaikan, pemnerian adrenalin dapat diulang 10-15 menit
kemudian dengan dosis maksimum 0,5 mg untuk dewasa dan 0,3 mg
untuk anak-anak
6. Medikasi lini kedua yang dapat digunakan adalah H1 antihistamin seperti
intravena chlorpheniramine (10 mg) atau dipenhidramin (25-50 mg),
cetirizine intra oral; β2 adrenergic agonists, seperti salbutamol inhaler (2,5
mg/3 mL); glukokortikoid seperti hydrocortison 100-500 mg IM atau IV,
metylprednisolon 125-250 mg IV, oral prednisone.
7. Observasi 2-3 kali dalam 24 jam dan hindari agen penyebab.

Adrenalin
Adrenalin atau epinephrine merupakan hormon kerja cepat yang disekresi oleh
kelenjar suprarenal. Adrenalin bersifat simpatomimetik (agonist α adrenergik dan
β adrenergik). Efek samping adrenalin dapat berupa tremor, pucat, palpitasi,
pusing, dan sakit kepala. Tetapi terdapat juga beberapa efek yang menunjukkan
overdosis adrenalin, yaitu ventrikular aritmia, krisis hipertensi, edema pulmonal.

Terapi jangka panjang setelah pemberian terapi terhadap anafilaksis di pelayanan


kesahatan.4

8
1. Edukasi terhadap reaksi anafilaksis
Anafilaksis merupakan kondisi gawat darurat sehingga harus dibawa ke
pelayanan kesehatan terdekat.
2. Mengonfirmasi faktor pemicu reaksi anafilaksis
Waktu yang optimal untuk melakukan tes terhadap pemicu alergi adalah 3-
4 minggu setelah episode akut anafilaksis. Pasien dengan hasil negatif
perlu dites lagi beberapa minggu/bulan kemudian. Faktor yang diketahui
melalui anamnesis dapat menyebabkan reaksi anafilaksis perlu
dikonfirmasi lagi dengan alergen skin test dan/atau mengukur level
allergen-spesific IgE pada serum.
3. Pencegahan berulangnya reaksi anafilaksis
- Terapi terhadap penyakit yang mendasari seperti asma, penyakit
kardiovaskuler, mastocytosis dan penyakit lainnya yang dapat
memeperberat reaksi anafilaksis.
- Menghindari pemicu dan imunomodulasi
Pasien yang alergi terhadap makanan tertentu harus menghindari
makanan yang dapat memicu reaksi. WAO belum merekomendasikan
penggunaan oral immunotherapy food allergen atau imunomodulator
lainnya. Sedangkan, pasien dengan riwayat reaksi anafilaksis terhadap
gigitan serangga dapat menggunakan imunoterapi subkutan untuk 3-5
tahun. Perlindungan yang diberikan yaitu sebesar 80-90%. Pasien
dengan riwayat pemakaian obat-obatan tertentu kemudian menjadi
alergi tidak boleh diberikan obat tersebut sehingga dapat mencegah
timbulnya reaksi anafilaksis. Pasien dengan anafilaksis idiopatik yang
sering muncul yaitu > 6 kali dalam 1 tahun atau >2 kali dalam 2 bulan
dipertimbangkan untuk diberikan terapi profilaksis yaitu
glukokortikoid sistemik dan H1 antihistamin atau injeksi omalizumab
untuk 2-3 bulan.

2.11 Prognosis
Kematian pada reaksi anafilaksis seringkali terjadi sebelum penderitanya
mendapat pertolongan kesehatan yang adekuat di rumah sakit, atau bila telah

9
mendapat pengobatan biasanya kematian terjadi pada 30 menit pertama. Prognosis
pada penderita reaksi anafilaksis biasanya baik bila telah mendapat pengobatan
yang adekuat, kecuali pada penderita usia lanjut, penderita dengan penyakit
kardiovaskuler atau infark miokard akut, penderita dengan penyakit pernapasan
dan penderita dengan kerusakan sistem saraf pusat.8

10
BAB II
KASUS PENGALAMAN BELAJAR LAPANGAN

1. Identitas Pasien
Nama : MST
Umur : 49 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Jl. Tegal Wangi Gang Pandan no. 1 Dps
Kewarganegaraan : Indonesia
Agama : Hindu
Pendidikan : Tamat Akademi / Universitas
Status : Menikah
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
MRS : 14 Juni 2014
Tanggal kunjungan : 20 Juni 2014

2. Anamnesis
Keluhan utama: Bengkak pada wajah
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh bengkak pada wajah sejak beberapa jam SMRS (subuh:14 Juni
2014). Bengkak disadari oleh keluarga pasien pada pagi hari setelah bangun tidur
(14 Juni 2014). Kedua kelopak mata pasien dikatakan membengkak sehingga
pandangan pasien menyempit. Disamping itu, pasien juga mengatakan bibirnya
terasa seperti tebal dan ada rasa seperti panas.
Awalnya pasien mengatakan sempat minum 3 macam obat sekitar pukul
23.00 wita yang diberikan oleh dokter paraktek swasta karena keluhan sakit pada
persendian. Setelah minum obat tersebut pasien tidur dan gelisah karena merasa
gatal dan matanya seperti membengkak. Saat bangun tidur sekitar pukul 07.00
wita, keluarga pasien melihat wajah pasien sangat bengkak kemudian segera
melarikan pasien ke UGD rumah sakit Sanglah. Sebelumnya, pada tanggal 13 Juni
2014 pagi, pasien juga sempat minum obat decolgen. Obat ini biasa diminum oleh
pasien apabila pasien merasa pegal, nyeri kaki, dan sakit kepala.

11
Pasien juga mengeluh gatal dan kemerahan pada seluruh tubuhnya sejak
beberapa jam SMRS terutama pada tangan dan kakinya. Gatal tidak dirasakan
pada sekitar mata atau hidung. Gatal tidak membaik dengan garukan. Pasien
mengatakan gatal dan merah-merah muncul bersamaan. Disamping itu, pasien
juga mengeluh berdebar-debar sejak subuh dan tidak membaik dengan tidur
maupun perubahan posisi.
Riwayat sesak nafas atau kesulitan bernafas disangkal oleh pasien begitu juga
dengan keluhan sakit kepala . Pasien juga mengatakan ada keluhan nyeri ulu hati,
sedangkan mual, muntah, maupun diare disangkal. Keluhan gatal pada
tenggrorokan, bersin-bersin disangkal oleh pasien.
Riwayat penyakit dahulu
Pasien menyangkal memiliki keluhan yang sama sebelumnya. Pasien menyangkal
memiliki alergi terhadap obat-obatan, makanan, maupun debu. Pasien mengatakan
tidak memiliki riwayat penyakit asma, batuk kronis, diabetes melitus, hipertensi,
penyakit jantung, penyakit hati dan penyakit ginjal.
Riwayat pengobatan
Pada tanggal 13 Juni 2014, pasien berobat ke dokter praktek swasta dan
mendapatkan 2 macam suntikan berwarna putih dan merah. Selain itu, pasien
juga mendapatkan obat ciprofloxacin, asam mefenamat, sumagesik, diplopyrum
(efionand, fentibutazin).
Riwayat keluarga
Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarga dengan keluhan wajah
membengkak dan sesak. Pasien menambahkan anak dan cucunya pernah
mengalami kemerahan dan gatal-gatal pada seluruh tubuh, tetapi pasien tidak
mengetahui penyebabnya. Riwayat penyakit kronis dalam keluarga disangkal oleh
pasien.
Riwayat sosial
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga. Sehari-hari pasien diam di rumah
mengerjakan pekerjaan rumah dan tugas agama. Pasien mengatakan tidak pernah
merokok dan mengonsumsi minuman beralkohol.

3. Pemeriksaan Fisik

12
Status present
Kesan sakit : sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis (GCS: E4V5M6)
Tinggi badan : 155 cm
Berat badan : 75 kg
BMI : 31,2 kg/m2
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Nadi : 110 kali/menit, reguler, isi cukup
Respirasi : 26 kali/menit, teratur, tipe : torakoabdominal
Temperatur aksila : 36,5 °C
Status general
Mata : anemis (-/-), ikterus (-/-), refleks pupil (+/+) isokor,
edema palpebra (+/+)
THT
Telinga : sekret tidak ada, pendengaran ↓ tidak ada
Hidung : sekret (-) kemerahan (-)
Tenggorokan : tonsil T1/T1 hiperemis (-), faring hiperemis (-)
Mulut : bibir edema (+)
Leher
JVP : PR + 0 cmH2O, pembesaran KGB (-)
Thoraks
Cor: Inspeksi : tidak tampak pulsasi iktus kordis
Palpasi : iktus kordis tidak teraba
Perkusi : batas atas jantung ICS II midclavicular line sinistra,
batas kanan jantung parasternal line dekstra, batas
kiri jantung midclavicular line sinistra ICS V
Auskultasi : S1S2 tunggal, reguler, murmur (-)
Pulmo: Inspeksi : simetris, retraksi (-)
Palpasi : vokal fremitus (N/N)
Perkusi : sonor +/+
+/+
+/+

13
Auskultasi : vesikuler +/+, ronkhi -/-, wheezing -/-
+/+ -/- -/-
+/+ -/- -/-

Abdomen
Inspeksi : distensi (-)
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba,
ginjal tidak teraba
Perkusi : Timpani

Ekstremitas : hangat +/+ edema −/− kemerahan -/-


+/+ −/− -/-

4. Pemeriksaan Penunjang
Darah Lengkap (14-06-2014)
Parameter Remark Unit Reference Range

WBC 2,9 103/μL 4,1 – 11,0

- Ne 1,76 4,5% 103/μL 2,5 – 7,5

- Ly 1,48 38% 103/μL 1,0 – 4,0

- Mo 0,38 9,8% 103/μL 0,1 – 1,2

- Eo 0,04 1% 103/μL 0,0 – 0,5

- Ba 0,00 0,1% 103/μL 0,0 – 0,1

- Luc 0,24 103/μL

RBC 4,58 106/μL 4,50 – 5,90

HGB 12 g/dL 13,50 – 17,50

HCT 36,50 % 36,0 – 46,0

MCV 79,70 fL 80,0 – 100,0

MCH 26,10 Pg 26,0 – 34,0

14
MCHC 32,70 g/dL 31,0 – 36,0

PLT 171 103/μL 150 – 440

MPV 7 Fl 6,80 – 10

Kimia Darah (14-06-2014)


Parameter Remark Unit Reference Range
SGOT 42 U/L 11,00 – 33,00

SGPT 28 U/L 11,00 – 50,00


Albumin 3,2 g/dL 3,40 – 4,80
BUN 15 mg/dL 10,00 – 23,00
Creatinine 1,4 mg/dL 0,50 – 1,20

Uric Acid 4 mg/dL 2,00 – 5,70

Na 139 Mmol /L 136 – 145


K 4 Mmol /L 3,50 – 5,01

Elektrokardiogram (14 Juni 2014)

15
 Irama : Irama Sinus
 Heart Rate : 86 x/menit reguler
 Axis : Axis normal
 Gelombang P : Normal
 PR Interval : Normal
 Komplek QRS : Normal
 Segmen ST : ST Change (-)
 Gelombang T : Normal
Kesimpulan : EKG Normal

5. Diagnosis
Reaksi Anafilaktik ec suspek drugs (ciprofloxacin, asam mefenamat,
sumagesik, diplopyrum).

6. Penatalaksanaan
 Masuk Rumah Sakit (MRS)
 Injeksi adrenalin 0,3 cc IM (1x)
 IVFD RL 20 tpm
 Metil Prednisolon 125 mg  2 x 62,5 mg IV
 Diphenhidramin 2 x 10 mg
 Hindari obat pencetus

Planning Diagnostik:
IgE total

Monitoring:
 Keluhan
 Tanda vital

7. Prognosis
Dubius ad bonam

16
BAB IV
DISKUSI HASIL KUNJUNGAN RUMAH

4.1 Alur Kunjungan Lapangan


Kunjungan yang dilakukan pada tanggal 20 Juni 2014 bertempat di rumah pasien
Jalan Tegal Wangi gang Pandan Harum no. 1 Denpasar. Kami mendapat
sambutan yang baik dari pasien dan keluarga pasien. Adapun tujuan diadakannya
kunjungan lapangan ini adalah untuk mengenal lebih dekat kehidupan pasien serta
mengidentifikasi masalah yang ada pada pasien. Selain itu, kunjungan lapangan
ini juga bertujuan memberikan edukasi tentang penyakit yang dialami pasien
kepada pasien dan keluarga pasien. Pasien dalam kasus ini telah mengalami syok
anafilaktik.
4.2 Daftar Permasalahan Pasien
Adapun sejumlah permasalahan yang kami temukan antara lain:
1. Pasien dan keluarga sudah mengetahui bahwa pasien mengalami alergi,
namun pasien dan keluarga masih kurang paham dengan bahaya alergi yang
dialami pasien, gejala alergi lainnya, penyebab dari alergi, dan pencegahan
berulangnya reaksi alergi yang dialami pasien.
2. Pasien tidak mengetahui adanya tes alergi untuk mengetahui faktor pemicu
reaksi alergi yang dialami pasien.
4.3 Analisis Kebutuhan Pasien
Kebutuhan fisik biomedis
Kecukupan gizi
Pada saat pasien sakit, pasien sering ditemani oleh anak dan cucu laki-lakinya.
Anak lai-laki pasien jarang membelikan pasien makanan di luar karena telah
mendapat makanan dari rumah sakit. Pasien juga tidak pernah dibuatkan makanan
dari rumah karena anak perempuan pasien sibuk bekerja dan menantu pasien
mengurus anaknya yang masih bayi. Jadi kebutuhan gizi pasien sepenuhnya
didapatkan dari rumah sakit. Di rumah, pasien memasak sendiri untuk makanan
sehari-hari, kadang-kadang dibantu oleh anak perempuan dan menantunya. Pasien
mengatakan makanan yang dimasak biasanya sayur, tempe, dan daging ayam.
Kadang-kadang memasak telur dan daging babi. Pasien jarang memasak ikan

17
ataupun makanan laut lainnya karena cucu laki-laki pasien tidak gemar makan
ikan. Kebutuhan gizi pasien saat dirumah diatur sendiri oleh pasien yang
makanannya disesuaikan dengan kesukaan cucu pasien. Pasien tidak minum susu
dan jarang memakan buah-buahan. Buah-buahan biasanya tersedia saat hari raya
saja. Pasien dan keluarga pasien mengaku tidak ada riwayat gatal-gatal setelah
makan-makanan yang dibuat oleh pasien ataupun oleh anak perempuan dan
menantu pasien.
Akses terhadap pelayanan kesehatan
Pasien tinggal di jalan Tegal Wangi, Sesetan. Daerah tempat tinggal pasien sangat
dekat dengan akses pelayanan kesehatan. Disekitar rumah pasien terdapat praktek,
baik dokter umum maupun dokter spesialis yang memudahkan pasien untuk
berobat jika sedang sakit. Pasien mengatakan jika dirinya sakit atau anggota
keluarganya sakit akan langsung diperiksakan ke tempat pelayanan kesehatan
terdekat. Tempat tinggal pasien pun tidak jauh dari rumah sakit swasta maupun
pemerintah. Pasien juga mengatakan tidak sulit untuk mendapatkan obat-obatan
apabila keluarganya ada yang sakit karena apotek tidak jauh dari rumah pasien.
Hal ini diakui oleh pasien membuat pasien kadang-kadang membeli obat-obatan
sendiri di apotek tanpa resep dokter.
Lingkungan (tempat tinggal)
Pasien tinggal dalam rumah yang beranggotakan 2 kepala keluarga. Pasien
bersama suami, dan anak laki-laki pasien bersama keluarganya yaitu istri dan
anaknya. Jadi, pasien tinggal bersama suaminya, seorang anak laki-laki, seorang
menantu, dan seorang cucu laki-laki yang masih berumur 8 bulan. Anak
perempuan pasien kadang-kadang menginap dirumah pasien dengan anak laki-
lakinya.
Pasien tinggal di tanah seluas seluas 2 are yang dibangun rumah permanen
dan terdiri dari 2 gedung yang terpisah. Satu gedung merupakan tempat tinggal
keluarga terdiri atas ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dan ruang keluarga.
Sedangkan gedung yang lain terdiri atas dapur, kamar mandi, bale bengong, dan
dua kamar yang disewakan. Semua ruangan berlantai keramik dan sudah di cat.
Halaman rumah pasien sudah di semen. Terdapat 2 tempat suci. tidak terdapat
tanaman di sekitar rumah pasien.

18
Sumber air minum untuk keluarga pasien adalah dari air mineral isi ulang
tetapi kadang-kdang pasien memasak air. Sumber air MCK pasien berasal dari
PDAM. Pada rumah pasien terdapat dua kamar mandi, air bak biasa dibersihkan
seminggu sekali. Pasien mengatakan tempat tidur jarang dibersihkan. Menurut
pengakuan pasien, rumah disapu setiap hari dan halaman disiram setiap sore.
Secara umum, lingkungan rumah pasien tergolong cukup bersih.
Komunikasi dengan tetangga diakui sangat baik, dimana pasien sering
mengobrol dengan tetangga dan mendapat bantuan moral. Hubungan pasien
dengan keluarga besar baik, dimana pasien sering berkumpul. Adik ipar pasien
juga kerap kali berkunjung kerumah untuk membantu pasien mengerjakan
pekerjaan rumah dan tugas persembahyangan. Keluarga pasien juga cepat tanggap
jika ada hal buruk yang menimpa pasien.
4.4 Kebutuhan Biopsikososial
Lingkungan Biologis
Pasien tidak mengetahui betul riwayat penyakit yang ada pada keluarganya
terutama riwayat penyakit alergi. Kurangnya pengetahun tentang riwayat penyakit
keluarga khususnya riwayat penyakit alergi membuat pasien tidak waspada akan
adanya kemungkinan alergi terhadap obat, makanan, gigitan serangga, ataupun
alergen lainnya. Kebutuhan akan makanan dirasakan cukup oleh pasien. Pasien
makan 3x sehari, biasanya dengan porsi 1 piring nasi dengan lauk tempe, sayur,
dan daging. Diakui oleh pasien tidak ada gatal-gatal atau kemerahan setelah
makan makanan yang ia buat. Pasien juga mengatakan tidak pernah ada riwayat
kemerahan atau gatal-gatal setelah menggunakan pakaian tertentu atau mengoles
bahan-bahan tertentu pada kulitnya.
Pada saat baru keluar dari rumah sakit, pasien dirawat oleh anak laki-laki
dan menantunya, tapi saat ini, pasien sudah mampu mengerjakan aktivitas sehari-
hari yang biasa dilakukannya di rumah, seperti memasak, membuat upakara, dan
membersihkan rumah.
Faktor Psikososial
Pasien dan keluarga pasien saling menjaga kesehatan satu sama lainnya. Apabila
pasien sakit, keluarga pasien akan segera memeriksakan pasien dan mencegah
agar anggota keluarga lain tidak ikut sakit. Antar anggota keluarga juga saling

19
mengingatkan untuk menjaga kesehatan. Hubungan pasien dengan suami, anak,
menantu dan saudaranya tampak cukup harmonis. Hubungan pasien dengan
tetangga lingkungan sekitar tempat tinggalnya pun tampak baik. Lingkungan
sekitar rumah banyak yang mengenal pasien dan mereka sering membantu pasien
apabila ada kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh keluarga pasien. Keluarga
pasien termasuk golongan ekonomi menengah. Pasien tidak memiliki penghasilan,
sehari-hari kebutuhan pasien masih ditanggung oleh suami dan anak laki-lakinya.
4.5 Saran-Saran terhadap Daftar Permasalahan Pasien, Kebutuhan
Fisik Biomedis dan Biopsikososial
1. Pasien harus segera mengatakan kepada keluarga apabila mengalami
gejala-gejala seperti yang pernah pasien alami tanpa menunda, disamping
itu gejala-gejala lain seperti rasa tidak enak pada perut, sakit kepala,
bahkan sesak nafas setelah makan makanan, obat-obatan tertentu, ataupun
setelah menggunakan bahan-bahan tertentu, dan juga apabila digigit
serangga. Begitu pula dengan keluarga pasien. Karena apabila ditunda
dapat membahayakan nyawa.
2. Untuk lebih memastikan apa penyebab dari alergi yang dialami oleh
pasien, keluarga dapat mengantar pasien ke rumah sakit untuk menjalani
tes alergi sehingga pencetus reaksi alergi pasien dapat dihindari. Begitu
pula dengan keluarga pasien karena ada pengaruh genetik terhadap alergi.
Namun, hal ini memerlukan waktu dan biaya sehingga perlu didiskusikan
antar anggota keluarga.
3. Agar pasien menjaga makanan yang dimakan sehari-hari. Pasien
diharapkan berhati-hati dalam mengonsumsi makanan karena pasien
pernah mengalami reaksi alergi. Mungkin saja cucu pasien tidak gemar
makan ikan karena ada rasa gatal atau tidak nyaman sehingga perlu dicari
tahu apakah ada alergi terhadap makanan tersebut. Kemungkinan pasien
untuk mengalami reaksi alergi karena makanan laut juga masih ada.
4. Pasien dan keluarga dianjurkan untuk tidak membeli obat-obatan sendiri di
apotek tanpa resep dokter karena pasien pernah memiliki riwayat alergi
terhadap obat-obatan. Apalagi penyebab pasti alergi belum diketahui.
Disamping itu, banyak obat yang dijual memilik kandungan yang sama

20
namun nama yang berbeda. Tentu hal ini perlu diwaspadai oleh pasien dan
keuarga pasien.
5. Agar keluarga dan pasien mewaspadai tanda-tanda adanya alergi dan
segera membawa ke pelayanan kesehatan terdekat.
6. Pasien dianjurkan untuk terus menjaga kesehatan dan tidak terlalu lelah
karena daya tahan tubuh yang tidak baik dapat mempengaruhi pemulihan
dan kemungkinan terjadinya alergi.
7. Pasien dianjurkan untuk minum obat yang didapatkan saat pulang dari
rumah sakit Sanglah secara teratur. Namun, apabila terdapat keluhan
setelah minum obat-obatan tersebut agar segera ke rumah sakit.
8. Jika pasien berobat ke rumah sakit atau dokter praktek swasta agar
memberitahukan kepada petugas kesehatan bahwa pasien pernah memiliki
riwayat alergi terhadap obat-obatan.

21
BAB IV
PEMBAHASAN

Berdasarkan kunjungan lapangan yang kami lakukan, permasalahan pada pasien


berupa pemahaman yang masih kurang mengenai penyakit pasien. Walaupun
pasien dan keluarga sudah mengetahui bahwa pasien mengalami alergi, namun
pasien dan keluarga masih kurang paham dengan bahaya alergi yang dialami oleh
pasien, gejala alergi lainnya, penyebab dari alergi, dan pencegahan berulangnya
reaksi alergi yang dialami pasien dan pasien tidak mengetahui adanya tes alergi
untuk mengetahui faktor pemicu reaksi yang dialami pasien. Berkenaan dengan
hal tersebut, kami memberikan beberapa informasi sebagai berikut.
Pasien mengalami gejala kemerahan dan gatal pada tubuh, bengkak pada
kedua mata, jantung berdebar-debar setelah minum beberapa obat. Hal tersebut
merupakan gejala dari reaksi alergi, dimana tubuh menjadi lebih sensitif terhadap
bahan-bahan tertentu. Gejala yang dialami pasien tergolong gejala yang ringan,
dimana gejala dapat lebih berat, berupa gangguan pada perut seperti nyeri pada
perut, mual, muntah, diare, nyeri menelan. Bahkan pasien dengan reaksi alergi
dapat mengalami sesak nafas, membiru, sampai tidak bisa bernafas, dan tekanan
darah dapat menurun dengan drastis sehingga menyebabkan kematian.
Hal itu dapat terjadi dalam beberapa menit sampai beberapa jam setelah
terpapar dengan bahan-bahan yang diduga sebagai pemicu. Penyebab pastinya
belum diketahui karena pasien mengonsumsi 4 jenis obat-obatan berbeda pada
saat bersamaan. Untuk itu, pasien diharapkan menghindari keempat jenis obat-
obatan tersebut. Penyebab lain dari reaksi alergi selain obat-obatan adalah
makanan, gigitan serangga, udara yang terlalu dingin ataupun air yang terlalu
dingin.
Cara yang dapat digunakan untuk mengetahui agen penyebab alergi adalah
dengan tes alergi. Tes ini harus dilakukan dibawah pengawasan dokter yang telah
berpengalaman. Waktu yang optimal untuk melakukan tes terhadap pemicu alergi
adalah 3-4 minggu setelah pasien keluar dari rumah sakit. Tes yang dilakukan
dapat berupa tes provokasi yaitu pasien diberikan agen yang diduga sebagai
penyebab alergi atau tes kulit yang berupa tes tusuk maupun tes tempel.

22
BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
Reaksi anafilaksis adalah reaksi hipersensitifitas akut yang melibatkan dua organ
atau lebih (sistem kulit/mukosa dan jaringan bawah kulit, sistem respirasi, sistem
kardiovaskuler, sistem gastrointestinal). Faktor pemicu timbulnya anafilaksis pada
anak-anak, remaja, dan dewasa muda adalah sebagian besar oleh makanan.
Sedangkan gigitan serangga dan obat-obatan menjadi pemicu timbulnya reaksi ini
pada kelompok usia pertengahan dan dewasa tua. Perjalanan reaksi ini dibagi
menjadi tiga fase, yaitu fase sensitisasi, fase aktivasi, dan fase efektor. Diagnosis
ditegakkan berdasarkan gejala klinis, sedangkan pemeriksaan penunjang
digunakan untuk memperkuat adanya alergi. Reaksi anafilaksis/hipersensitifitas
dibagi menjadi ringan, sedang, dan berat. Penanganan utama anafilaksis adalah
dengan mengamankan jalan nafas, pernafasan, dan sirkulasi serta terapi adrenalin.
Pemberian informasi mengenai alergi di masyarakat sangat jarang
sehingga kami menyarankan agar pemberian informasi mengenai reaksi alergi,
penyebab, gejala, dan bahaya reaksi alergi diberikan secara lebih luas sehingga
masyarakat dapat mengenali dan melakukan tindakan yang tepat serta dapat
mencegah timbulnya reaksi anafilaksis melalui penghindaran terhadap alergen.

23
DAFTAR PUSTAKA
1. Haryanto et.all. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Alergi Imunologi Klinik.
Edisi kelima. Jakarta: Interna Publishing:2009:367.
2. Johannes Ring et.all. History and Classification of Anaphylaxis.
anaphylaxis.Wiley, Chichester (Novartis Foundation Symposium
257):2004 p 6-24.
3. Imbawan Eka, Suryana Ketut, Suadarmana Ketut. Asosiasi Cara
Pemberian Obat dengan Onset dan Derajat Klinis Reaksi Hipersensitifitas
Akut/Anafilaksis pada Penderita yang Dirawat di RSUP Sanglah Denpasar
Bali. J Penyakit Dalam 2010;vol.11:135-139.
4. Estelle et.all. WAO Guideline for the Assessment and Management of
Anaphylaxis. 2011;4:13-37.
5. Suryana Ketut, Suardamana Ketut, Saturti Anom. Pedoman Diagnosis dan
Terapi Ilmu Penyakit Dalam. Anafilaksis/Reaksi Hipersensitivitas Akut:
Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana/RSUP Sanglah. 2013:577-585.
6. Estele, et.al. World Allergy Organization Anaphylaxis Guidelines: 2013
Update Of The Evidence Base. Int Arch Allergy Immunol 2013;162:193–
204.
7. Longmore Murray et.all. Anaphylactic Shock. Oxford Handbook of
Clinical Medicine.2010:8th:806-807.
8. F Estelle. Anaphylaxis: the acute episode and beyond. BMJ 2013; 1–10

24
LAMPIRAN FOTO – FOTO LINGKUNGAN RUMAH PASIEN

25
26