Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PRAKTIKUM

KIMIA UNTUK BIOLOGI

REAKSI ESTERIFIKASI, HIDROLISIS, DAN IDENTIFIKASI IKATAN RANGKAP

Dibimbing Oleh
Dr. Aman Santoso, M.Si

Oleh Kelompok 8
Yudha Ilyas (180341617599)
Zahra Firdaus (180341617513)
Zuhfotul Mufida (180341617558)

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
Oktober 2018
I. TUJUAN PERCOBAAN
1.1 Pada akhir praktikum, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan reaksi pembuatan
ester.
1.2 Pada akhir praktikum, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan reaksi hidrolisis
polisakarida.
1.3 Pada akhir praktikum, mahasiswa diharapkan dapat menjelaskan identifikasi ikatan
rangkap.

II. DASAR TEORI


Senyawa organik adalah golongan dari senyawa kimia yang molekulnya mengandung
karbon, kecuali karbida, karbonat, dan oksida karbon. Studi yang mempelajari senyawaan
organik disebut kimia organik. Banyak contoh senyawaan organik, seperti protein, lemak, dan
karbohidrat yang merupakan komponen penting dalam biokimia (Petrucci, 1987).
Rantai karbon yang terbentuk dapat berbetuk rantai lurus, bercabang, bahkan
lingkarang/siklik. Senyawa organik yang paling sederhana terdiri dari karbon dan hidrogen,
yaitu senyawa hidrokarbon. Hidrokarbon yang paling sederhana ialah metana, yakni bagian
utama dari gas alam. Berikut ini adalah cara menggambarkan molekul metana melalui tiga
cara. Struktur lewis menunjukkan semua penyebaran elektron valensi dalam molekul. Rumus
struktur menitikberatkan pada elektron yang terlibat dalam pembentukan ikatan, dalam hal ini
digunakan sebuah garis untuk membentuk ikatan tunggal (Petrucci,1987).
Senyawa hidrokarbon terbagi menjadi beberapa kelompok senyawa berdasarkan ikatan
antara atom karbonnya. Jika semua ikatan pada karbon-karbonnya adalah ikatan tunggal,
golongan senyawa ini disebut alkana. Jika paling sedikit terdapat satu ikatan rangkap dua pada
karbon-karbonnya, dan sisannya merupakan ikatan tunggal maka termasuk kelompok alkena
(Tim Penulis Praktikum Kimia untuk Biologi,2018)
Sifat penting dari senyawa hidrokarbon alkana ialah hanya terdapat ikatan kovalen
tunggal. Dalam senyawa ini, ikatan-ikatannya dikatakan jenuh. Alkana dikenal sebagai
hidrokarbon yang jenuh. Anggota-anggota dari seri ini mempunyai sifat kimia dan fisik yang
hampir sama. Misalnya, dengan kenaikan bobot molekul akan ditandai dengan kenaikan titik
didih. Kenaikan titik didih ini dapat dimengerti sehubungan dengan gaya london. Gaya ini
naik diikuti dengan meningkatnya bobot molekul (Petrucci,1987).
Sedangkan alkena termasuk golongan hidrokarbon alifatik tidak jenuh yang cukup reaktif.
Istilah tidak jenuh dalam hal ini menunjukkan bahwa kandungan atom hidrogen didalamnya
kurang dari jumlah yang seharusnya bila dikaitkan dengan jumlah atom karbonnya. Alkena
mempunyai gugus fungsi yang berupa ikatan rangkap dua (C=C). Gugus fungsi inilah yang
memberikan ciri khas pada reaksi-reaksi golongan alkena (Rasyid,2009).
Ester adalah saah satu dari kelompok senyawa organik yang mempunyai ciri khusus
memiliki bau yang khas. Ester terbentuk dari senyawa asam karboksilat dan alkohol pada
suasana asam. Suatu reaksi pemadatan untuk membentuk suatu ester disebut esterifikasi.
Esterifikasi dapat dikatalis oleh kehadiran ion H+. Asam belerang sering digunakan sebagai
sebagai suatu katalisator untuk reaksi ini (Tim Penulis Praktikum Kimia untuk Biologi,2018).
Katalisator adalah zat yang dapat mengubah kecepatan reaksi. Hampir semua katalisator
mempercepat reaksi (disebut katalisator positif), hanya sedikit dikenal katalisator yang
memperlambat reaksi (disebut katalisator negatif). Katalisator disebut homogen bila
membentuk satu fase dengan pereaksi dan disebut heterogen bila membentuk dua fase dengan
pereaksi. Katalis H2SO4 dalam reaksi esterifikasi adalah katalisator positif karena berfungsi
untuk mempercepat reaksi esterifikasi yang berjalan lambat. H2SO4 juga merupakan
katalisator homogen karena membentuk satu fase dengan pereaksi (fase cair)
(Sukardjo:1997).
Karbohidrat merupakan senyawa karbon, hydrogen dan oksigen yang terdapat di alam.
Kebanyakan karbohidrat mempunyai rumus empiris CH2O. Karbohidrat sebenarnya adalah
polisakarida aldehida dan keton atau turunan mereka. Salah satu perbedaan utama antara
berbagai tipe-tipe karbohidrat ialah ukurannya. Monosakarida adalah satuan karbohidrat yang
tersederhana, mereka tidak dapat dihidrolisis menjadi molekul karbohidrat yang lebih kecil.
Monosakarida dapat diikat bersama-sama membentuk dimer, trimer dan sebagainya dan
akhirnya polimer. Sedangkan monosakarida yang mengandung gugus aldehid disebut aldosa.
Glukosa, galaktosa, ribose, dan deoksiribosa semuanya adalah aldosa. Monosakarida
contohnya seperti fruktosa dengan gugus keton disebut ketosa. Karbohidrat tersusun dari dua
atau delapan satuan monosakarida dirujuk sebagai oligosakarida (Anna Poedjiadi, 2006).
Polisakarida adalah salah satu contoh karbohidrat yang terbentuk dari beberapa
monosakarida. Polisakarida merupakan makromolekul. Jika dihidrolisis akan menghasilkan
monosakarida dan disakarida. Polisakarida terbentuk dari monosakarida dengan ikatan
glikosidik. Saat ikatan glikosidik diputus dengan reaksi hidrolisis akan menjadi bagian
monomernya (Tim Penulis Praktikum Kimia untuk Biologi,2018).
Sukrosa merupakan disakarida yang dapat dipecah lagi emnjadi dua molekul monosakrida
jika dihidrolisis yaitu terpecah menjadi glukosa dan fruktosa. Sukrosa oleh HCL dalam
keadaan panas akan terhidrolisis,lalu menghasilkan glukosa. Pada uji Sedangkan pati
merupakan polisakarida yang terdapat dalam alam tidak larut dalam air dan memberikan
warna biru dengan iodium. Hasil hidrolisis pati/amilum adalah glukosa. Hidrolisis pati akan
terjadi pada pemanasan dengan asam encer dimana berturut-turut akan dibentuk
amilodeksterin yang memberi warna biru dengan iodium, eritrodekstrin yang memberi warna
merah dengan iodium serta berturut-turut akan dibentuk akroodekstrin, maltosa, dan glukosa
yang tidak memberi warna dengan iodium (Lehninger, 1982).
Hidrolisis adalah proses pemecahan senyawa kompleks menjadi senyawa yang lebih
sederhana dengan bantuan air. Derajat konversi yang diperoleh bergantung pada konsentrasi
asam, waktu konversi, suhu dan tekanan selama reaksi berlangsung (Winarno, 1984).
Pati merupakan polimer dari glukosa atau maltosa. Unit terkecil dari rantai pati
adalah glukosa yang merupakan hasil fotosintesis di dalam bagian tubuh tumbuh-
tumbuhan yang mengandung klorofil. Pati tersusun atas ikatan α- D-
glikosida. Molekul glukosa pada pati dan selulosa hanya berbeda dalam bentuk
ikatannya, α dan β, namun sifat-sifat kimia kedua senyawa ini sangat jauh berbeda.
Proses hidrolisis pati yaitu pengubahan molekul pati menjadi monomernya atau unit-
unit penyusunnya seperti glukosa. Hidrolisis pati dapat dilakukan dengan bantuan asam
atau enzim pada suhu, pH, dan waktu reaksi tertentu (Ben, E.S, 2007)
Pada hidrolisis pati dengan menggunakan asam yaitu HCl, larutan pati ditambahkan
HCl dan dipanaskan dengan variasi waktu. Larutan asam HCl menghidrolisis pati melalui
proses pemotongan rantai, hasil pemotongannya adalah campuran dekstrin, maltosa dan
glukosa. ), proses hidrolisis menggunakan katalis asam juga memerlukan suhu yang sangat
tinggi agar hidrolisis dapat terjadi. Hidrolisis pati dengan asam memerlukan suhu tinggi, yaitu
120 - 160 o C. Jadi, seharusnya semakin lama pemanasan yang dilakukan, atau semakin tinggi
suhu pemanasannya, maka hidrólisis yang terjadi lebih sempurna (Ben, E.S, 2007).
Uji Benedict Uji ini digunakan untuk pengetesan adanya gula pereduksi. Hasil tes ini
memberikan endapan warna hijau, kuning, atau merah jingga yang memberikan perkiraaan
semikualitatif adanya sejumlah gula yang mereduksi (Sahara, 2009).
Gula pereduksi merupakan golongan gula (karbohidrat) yang dapat mereduksi
senyawa-senyawa penerima elektron, contohnya adalah glukosa dan fruktosa. Ujung dari
suatu gula pereduksi adalah ujung yang mengandung gugus aldehida atau keto bebas.
Semua monosakarida (glukosa, fruktosa, galaktosa) dan disakarida (laktosa,maltosa),
kecuali sukrosa dan pati (polisakarida), termasuk sebagai gula pereduksi (Lehninger, 1982)
Identifikasi keberadaan ikatan rangkap dapat terdeteksi dengan reaksi adisi. Yaitu
reaksi pemutusan ikatan rangkap. Dimana ikatan rangkap pada alkena putus menjadi ikatan
tunggal dan atom brom terikat di atom karbon yang putus ikatannya. Warna brom yang
sebelumnya merah kecoklatan akan berangsur-angsur hilang seiring dengan semakin
banyaknya ikatan rangkap yang hilang (Tim Penulis Praktikum Kimia untuk Biologi,2018).

III. Alat dan Bahan


Alat
 Tabung reaksi  Larutan brom
 Rak tabung  Sampel alkana
 Penjepit kayu  Sampel alkena
 Beaker glass  Sampel senyawa aromatik
 Lampu spirtus  Larutan KmnO4 basa
 Labu erlenmeyer
 Plat tetes
 Kaki tiga
 Kasa asbes
Bahan
 Padatan natrium hidroksida
NaOH (s)
 Larutan alkohol
 Larutan asam asetat
 Larutan asam sulfat pekat
 Amilum
 Asam klorida pekat
 Larutan iod
 Larutan NaOH
 Reagent Benedict
 Larutan glukosa
 Larutan fruktosa
 Larutan sukrosa
IV. Cara Kerja
A. Reaksi Esterifikasi
1. Dimasukkan 5 tetes alkohol dalam satu tabung reaksi.
2. Ditambahkan 5 tetes asam asetat dalam tabung tersebut
3. Ditambahkan 1 tetes asam sulfat pekat
4. Dipanaskan campuran dalam tabung tersebut, dan dicatat hasilnya.

B. Hidrolisis Polisakarida
1. Diambil labu erlenmeyer 100 ml
2. Dimasukkan 15-20 ml larutan polisakarida(amilum) pada labu erlenmeyer
3. Ditambah 10 tetes larutan asam klorida pekat
4. Dididihkan perlahan-lahan
5. Ditambahkan 1 tetes larutan iod pada plat tetes
6. Diambil 1-2 tetes larutan yang telah mendidih, dimasukkan dalam plat tetes yang sudah
ada larutan ionnya.
7. Diulangi pengambilan tersebut setiap 1 menit hingga warna larutan sama dengan warna
iod.
8. Ditambahkan NaOH 5 M untuk menetralkan larutan amilum(larutan sampel) tersebut.
9. Di tes dengan kertas lakmus untuk mengetahui bahwa larutan sudah netral.
10. Disimpan larutan untuk uji benedict

C. Uji Benedict
1. Diambil 4 tabung reaksi
2. Diberi label pada masing-masing tabugn reaksi
3. Diambil 2 ml benedict dan 2 tetes NaOH encer dan dimasukkan pada tabung reaksi yang
telah diberi label
4. Ditambahkan 5 tetes larutan sampel pada masing masing tabung reaksi
5. Dimasukkan semua tabung reaksi dalam penangas air selama 3-5 menit
6. Diamati perubahan yang terjadi

D. Reaksi-reaksi pada Hidrokarbon


1. Diambil 6 tabung reaksi dan diberi label masing-masing
2. Ditambahkan larutan sampel(alkana, alkena, senyawa aromatik) pada masing-masing
tabung reaksi
3. Ditambahkan 1-2 tetes brom dalam CCl4 pada larutan sampel (3 tabung : 1 alkana, 1
alkena, 1 senyawa aromatik)
4. Dikocok dan diamati perubahannya
5. Ditambahkan 1-2 KMnO4 pada larutan sampel sampel (3 tabung : 1 alkana, 1 alkena, 1
senyawa aromatik)
6. Dikocok dan diamati perubahannya
V. ANALISIS REAKSI
A. Reaksi Esterifikasi
1. Pada reaksi esterifikasi yang telah dilakukan, mengapa bau reaktan dan produk diamati ?
Karena untuk membandingkan terjadi tidaknya reaksi esterifikasi. Senyawa ester adalah
senyawa dengan ciri khas memiliki aroma. Dengan membandingkan bau antara reaktan
dan produk dapat diidentifikasi, bila reaktan berbau khas maka proses esterifikasi
berhasil. Karena dihasilkan senyawa ester.
2. Mengapa produk hasil reaksi berbeda dengan reaktan ?
Karena telah terjadi proses esterifikasi, yaitu reaktannya asam karboksilat dan alkohol.
Sedangkan hasilnya berupa ester dan air. Hal ini terjadi karena pada proses esterifikasi
terjadi pertukaran tempat alkil alkohol menempel pada O asam karboksilat yang
melepaskan atom H, sedangkan atom H dari asam karboksilat berikatan dengan OH dari
alkohol membentuk H2O.
3. Persamaan reaksi esterifikasi

4. Jika dilihat dari bau produk yang dihasilkan, apakah produk reaksi esterifikasi yang
dilakukan sesuai dengan teori ? Bandingkan dengan literatur.
Hasil esterifikasi berupa ester yang memiliki bau khas, hal ini sesuai dengan (Soerawidjaja
dan H., Tatang, 2005) yang menyatakan Ester merupakan senyawa berbau harum dan
sering digunakan dalam pemberi aroma pada makanan maupun parfum.
Pada saat melakukan proses pemanasan, ketika kami perhatikan ternyata ada perubahan
yang tampak pada tabung reaksi tersebut, dimana terlihat adanya dua lapisan yangterbentuk
pada tabung. Di lapisan atas tampak lapisan ester dan dilapisan bawahnya tampak air.
Menurut(Keenan,1997) hal itu dikarenakan ester memiliki sifat non polar sedangkan air
polar dan masaa jenis esterpun lebih kecil dibandingkan massa jenis air yang berada
dibawahnya. Mengenai kepolaran, semakin tinggi beda keelektronegatifan suatu zat, maka
zat tersebut akan semakin polar. Pada percobaan hasil pada awalnya terbentuk 2 lapisan
tipis, namun di akhir zat tersebut berwarna hitam. Ini dikarenakan, zat ini adalah senyawa
hidrokarbon, sehingga saat dilakukan pembakaran/pemanasan akan menghasilkan warna
hitam yaitu karbonnya.
B. Identifikasi Ikatan Rangkap
1. Mengapa sampel yang diuji memberikan hasil yang berbeda ketika dilakukan uji dengan
brom dalam CCl4 dan KMnO4 basa ?

2. Manakah sampel yang mengandung ikatan rangkap ? Jelaskan.

VI. PEMBAHASAN
1. Reaksi Esterifikasi
Pada percobaan kali ini yaitu pembuatan salah satu senyawa ester yang biasa di
temukan di kehudupan sehari-hari. Ester dibentuk dari reaksi esterifikasi antara asam
karboksilat dan gugus alkohol, senyawa yang digunakan adalah asam asetat 5 tetes dan
larutan alkohol 5 tetes dengan katalis asam berupa penambahan asam sulfat pekat 1 tetes.
Diawali dengan pengambilan alkohol sebanyak 1 ml dan ditambahkan 5 tetes asam
asetat menghasilkan bau asam yang menyengat dan larutan berwarna keruh. Selanjutnya
ditambahkan 1 tetes asam sulfat pekat. Lalu dipanaskan sampai mendidih dan
menghasilkan uap air dengan bau menyengat. Serta volume larutan berkurang karena
proses penguapan yang terjadi. Dalam percobaan ini, asam sulfat merupakan katalisator
untuk reaksi esterifikasi ini. Bukan hanya sebagai katalis, asam sulfat juga dapat
menyingkirkan air (sebagai produk reaksi). Hal ini sesuai dengan pernyataan Tim Penyusun
Praktikum Kimia untuk Biologi, 2018.
Esterifikasi pada dasarnya adalah reaksi yang bersifat reversibel (dapat balik)
karena ketika asam karboksilat (asam asetat) dan alkohol (etanol) dipanaskan untuk
bereaksi maka akan terjadi reaksi kesetimbangan antara ester dan air, artinya bahwa ester
dan air yang terbentuk dapat kembali menghasilkan reaktan-reaktannya yaitu asam asetat
dan etanol. Oleh karena itu, untuk memperoleh hasil reaksi yang banyak maka diusahakan
agar reaksi cenderung bergeser ke arah produk yaitu dengan cara reaktan dibuat berlebih
yang dalam percobaan ini etanol dibuat berlebih ketika direaksikan dengan asam asetat.
Volume etil asetat yang diperoleh berkuran disebabkan, dimana volume yang diperoleh
lebih kecil dibandingkan volume awal.
Adapun reaksi yang terjadi saat esterifikasi adalah :

Pada percobaan ini, setelah dipanaskan didapatkan larutan dengan bau menyengat.
Hal ini sesuai dengan penyetaan (Keenan, 1992) yang menyatakan etil asetat dan ester lain
dengan sepuluh karbon atau kurang merupakan cairan yang mudah menguap dengan bau
enak yang mirip buah-buahan. Ester adalah senyawa yang memiliki bau. Oleh karenanya,
saat pengamatan perlu adanya pengamatan bau pada produk dan reaktan, jika produk
menimbulkan bau, mengartikan bahwa terjadi proses esterfikasi yang hasilnya senyawa
ester. Hal ini terjadi karena larutan ini merupakan senyawa berkarbon, sehingga ketika
dipanaskan akan menghasilkan warna hitam.

2. Hidrolisis Polisakarida
Percobaan ini pertama-tama dilakukan dengan menambahkan 10 tetes asam klorida
asetat ke dalam 20 mL polisakarida. Lalu dilakukan proses pemanasan sampai mendidih.
Dan setiap menit mulai awal mendidih dilakukan penetesan larutan hasil hidrolisis dengan
iodin pada plat tetes. Hal ini dilakukan sampai larutan hasil hidrolisis tidak merubah warna
iodin. Karena pada saat itu, berarti amilum telah terhidrolisis sepenuhnya.
Hidrolisis sendiri adalah proses pemecahan senyawa kompleks menjadi senyawa
yang lebih sederhana dengan bantuan air. Derajat konversi yang diperoleh bergantung pada
konsentrasi asam, waktu konversi, suhu dan tekanan selama reaksi berlangsung (Winarno,
1984).
Polisakarida merupakan karbohidrat yang terdiri dari beberapa monosakarida. Jika
dihidrolisis akan menghasilkan monosakarida dan disakarida. Polisakarida terbentuk dari
monosakarida dengan ikatan glikosidik. Saat ikatan tersebut diputus dengan reaksi
hidrolisis akan menjadi bagian monomernya (Tim Penyusun Praktikum Kimia untuk
Biologi, 2018).
Berikut merupakan reaksi hidrolisis polisakarida :

Berdasarkan percobaan yang dilakukan didapatkan hasil bahwa larutan amilum


yang telah dipanaskan terhidrolisis setelah 12 menit. Ditandai dengan tidak terjadinya
perubahan warna ketika dicampurkan dengan iodin. Karena seharusnya jika amilum
bercampur dengan iodin akan berwarna biru sesuai pernyataan Sudarmadji, 1989, Hal : 79
bahwa karbohidrat golongan polisakarida akan memberikan reaksi dengan larutan iodin
dan memberikan warna spesifik bergantung pada jenis karbohidratnya. Amilosa dengan
iodin akan berwarna biru, amilopektin dengan iodin akan berwarna merah violet, glikogen
maupun dekstrin dengan iodin akan berwarna coklat.
Baru selanjutnya dilakukan penetralan larutan hasil hidrolisis dengan larutan NaOH
5 M. Penetralan harus dilakukan dengan hati-hati agar larutan tidak terlalu basa. Maka
penambahan NaOH harus sedikit demi sedikit dan selalu dicek dengan menggunakan
lakmus untuk mengetahui pH larutan tersebut. Tepatnya ketika larutan diberi lakmus
dengan warna merah dan biru tidak merubah warnanya, maka larutan tersebut telah netral.

3. Reaksi Hidrolisis Polisakarida


Percobaan ini dilakukan untuk membuktikan adanya polisakarida. Percobaan ini
dilakukan dengan memasukkan 1-2 tetes larutan uji .Pada percobaan ini dilakukan
hidrolisis karbohidrat menggunakan HCl Pekat. Dalam hidrolisis karbohidrat, amilum akan
mengalami proses pemutusan rantai oleh enzim atau asam selama pemanasan menjadi
molekul- molekul yang lebih kecil. Ada beberapa tingkatan dalam reaksi hidrolisis
tersebut. Mula-mula amilum pecah menjadi unit rantai glukosa yang lebih pendek (6-10
molekul) yang disebut dekstrin. Dekstrin kemudian pecah lagi menjadi maltose yang
kemudian pecah lagi menjadi glukosa. Pada percobaan ini juga dilakukan penentuan titik
akromatik. Titik akromatik adalah titik dimana amilum tersebut menunjukan warna yang
lebih pudar saat dilakukan penetesan iodine yang menandakan bahwa amilum tersebut
telah terhidrolisis secara sempurna menjadi unit yang lebih kecil yaitu glukosa. Kemudian
hasil hidrolisis tersebut di lakukan penetralan dengan NaOH yang dilakukan untuk
menetralkan HCl yang ditambahkan pada proses pemutusan rantai (hidrolisis). Setelah
larutan tersebut netral, kemudian dilakukan kembali dengan pengujian dengan diambil
larutan yang telah dinetralkan, kemudian direaksikan dengan pereaksi bennedict dan
dilakukan pemanasan kembali, hal ini menunjukkan adanya perubahan warna larutan
menjadi merah bata, yang menandakan reaksi positif mengandung gula pereduksi, dan
glukosa adalah contoh dari kelompok monosakarida yang memiliki kemampuan untuk
mereduksi. Pemanasan diatas hanya dilakukan untuk mempercepat terjadinya atau jalannya
reaksi antara bennedict dan hasil larutan netral dari hidrolisis amilum. Cara mengetahui
bahwa hidrolisis amilum telah sempurna: Hidrolisis amilum sempurna jika, hasil hidrolisis
bereaksi positif dengan pereaksi benedict membentuk endapan merah bata. Hal ini
meunjukkan bahwa pemanasan dapat meningkatkan proses reaksi yang terjadi dibuktikan
dengan adanya endapan merah bata yang terjadi pada tabung reaksi yang dipanaskan. Pada
tabung terdapat endapan merah bata banyak karena dengan adanya pendidihan
menyebabkan terjadinya hidrolisis sehingga menghasilkan gugus reduksi bebas yang lebih
banyak. Tanpa pemanasan menyebabkan tidak terjadinya hidrolisis sehingga hanya
mempunyai sebuah gugus reduksi bebas.
Adapun reaksinya adalah sebagai berikut :

Fungsi larutan hasil hidrolisis dinetralkan terlebih dahulu supaya larutan hasil
hidrolisis tersebut pHnya sesuai ketika akan diuji dengan pereaksi benedict, karena itu
diuji juga dengan kertas lakmus, supaya menghasulkan hasil yang positif

4. Identifikasi Ikatan Rangkap


Larutan bromin berwarna kecoklatan sedangkan hasil reaksinya tidak berwarna.
Sehingga terjadi reaksi ini ditandai dengan hilangnya larutan bromin. Alkana yang tidak
memiliki ikatan rangkap tidak bereaksi dengan bromin, warna merah kecoklatan bromin
tetap ada sedangkan senyawa aromatik dapat mengalami reaksi subtitusi dengan bromine
sehingga warnanya berubah begitu juga pada alkena yang berubah warna menjadi
kekuningan atau keruh. Larutan KMnO4 mengoksidasi senyawa tak jenuh. Alkana dan
senyawa aromatik umumnya tidak reaktif dengan KMnO4. Terjadinya reaksi ini ditandai
dengan hilangnya warna ungu pada KMnO4 dan adanya endapan coklat MnO4.
Penambahan KMnO4 disini bertujuan untuk mengetahui reaksi oksidasi. Reaksi oksidasi
terjadi bila warna ungu dari KMnO4 hilang dari campuran reaksi tersebut . hilangnya
warna ungu pada ion MnO4- disebabkan oleh adanya reaksi ion MnO4- dengan alkena atau
senyawa aromatic membentuk glikol dan endapan coklat dari MnO2-. hasil reaksi ini yaitu
alkena yang berubah warna menjadi coklat dan terdapat endapan berwarna hitam di
permukaan bawahnya. Dan senyawa aromatic yang berubah warna menjadi merah dan
terdapat endapan hitam di bawah sedangkan pada alkana warna KMnO4 tetap ungu dan
mengendap di bawah yang menunjukkan alkana tidak mempunyai ikatan rangkap.
Berikut merupakan reaksinya :
VII. KESIMPULAN
1. Reaksi Esterifikasi adalah suatu reaksi antara asam karboksilat ( asam asetat ) dan alkohol
membentuk ester dengan bantuan katalis asam ( asam sulfat pekat ).

2. Reaksi hidrolisis amilum


Berdasarkan pengamatan amilum (pati) terhidrolisis dengan penambahan asam bertujuan
untuk memutus ikatan glikosidik pada polisakarida dan pemanasan berfungsi untuk
merenggangkan molekul spiral pada pati supaya tidak dapat mengikat iod, sehigga saat
polisakarida sudah terhodrolisis, warna iod akan tetap. Ini menandakan bahwa polisakarida
sudah terhidrolisis menjadi glukosa. Dilanjutkan dengan uji menggunakan pereaksi Benedict
di dapat hasil terbentuk endapan berwarna merah bata yang menandakan pati terhidrolisis oleh
HCl dalam suasana panas menjadi glukosa. Karena benedict sendiri dapat menguji gula
pereduksi yang beruba monosakarida dan disakarida kecuali sukrosa.

3. Identifikasi senyawa hidrokarbon


Untuk mengidentifikasi senyawa hidrokarbon dapat dilakukan dengan uji bromin dan uji
kalium permanganat pada ketiga sampel yang digunakan. Pada percobaan ini didapatkan hasil
bahwa:
-sampel 1 yaitu alkana adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang tidak memiliki ikatan rangkap
-sampel 2 yaitu alkena adalah senyawa hidrokarbon tak jenuh yang memiliki ikatan rangkap
-sampel 3 yaitu senyawa aromatik adalah senyawa hidrokarbon jenuh yang termasuk salah
satu gugus benzena yang mempunyai ikatan rangkap.
DAFTAR PUSTAKA

Ben, E.S., Zulianis, dan Halim, A., (2007), “Studi Awal Pemisahan Amilosa dan Amilopektin
Pati Singkong dengan Fraksinasi Btanol-Air”, Jurnal Sains dan Teknologi Farmasi, Vol. 12,
No. 21.
Hart , Harold (alih bahasa oleh Dr. Suminar Acmadi Ph.D), (1983), Kimia Organik, Suatu kuliah
singkat, edisi keenam, Jakarta.: Erlangga
Keenan, dkk.(1997), Kimia untuk Universitas, Jakarta: Erlangga

Petrucci, Ralph H, (1987), Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern, Jilid 3. Jakarta: Erlangga
Lehninger, AL. (1982), Dasar-Dasar Biokimia Jilid 1, Jakarta: Erlangga.
Poedjiadi, Anna. (1994). Dasar-dasar biokimia. Jakarta: UI-Press.
Rasyid, Muhammad, (2009), Kimia Organik I. Makassar: Badan Penerbit UNM
Suhara, (2009) Dasar-Dasar Biokimia. Bandung: Prisma Press.
Sukarjo, (1997), Kimia Fisika. Edisi ke-3, Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Suparno, (2006), Ester dari asam lemak, Medan: Penerbit USU
Tim Penulis Praktikum Kimia untuk Biologi, (2018), Petujuk Praktikum Kimia untuk Biologi,
Malang: FMIPA UM
Winarno, (1995), Enzim Pangan, Jakarta: Gramedia Utama
Winarno, F.G. (1992). Kimia Pangan dan Gizi. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama

Soerawidjaja dan H., Tatang, 2005, Minyak-lemak dan produk-produk kimia lain dari kelapa,
Handout kuliah Proses Industri Kimia, Program StudiTeknik Kimia, Institut Teknologi Bandung,
Bandung.

Anda mungkin juga menyukai