Anda di halaman 1dari 7

Bola Mata Pendek Lengkung kornea kurang Pembiasan/refraksi bola mata lemah

Perubahan posisi lensa Perubahan komposisi kornea

Penurunan refraksi mata

Cahaya masuk melewati lensa jatuh dibelakang lensa

Cahaya tidak tepat jatuh di retina

Resiko cidera b.d keterbatasan penglihatan


Pandangan kabur melihat dekat

Meningkatnya Mempersempit Melemahnya Bertambahnya Penurunan Perubahan status Stressor Ansietas


Cairan Intraokuler sudut bilik mata otot siliar usia penglihatan kesehatan psikologis

Gloukoma Gangguan persepsi sensori b.d perubahan Lensa Berakomodasi Terus


kemampuan memfokuskan pada retina Menerus

Kelelahan otot-otot mata Mata lelah/astenopia Konvergensi Mata terlihat juling


terus menerus ke dalam

Mata terasa pedas Pusing kepala


Esotropia

Nyeri b.d usaha


memfokuskan pandangan
ASUHAN KEPERAWATAN

HIPERMETROPI

Di Susun Dalam Rangka Memenuhi Tugas Mata Kuliah

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH II

Dosen Pembibing : Dewi Prasetyani, Ns., M.Kep.

Di Susun Oleh :

1. Astrid Kusuma Dewi ( 106116001 )


2. Adhi Nur Fadillah ( 106116017 )
3. Deni Irawan ( 106116024 )
4. Irma Amalia ( 106116025 )

PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN

STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP

TAHUN 2018
A. Pengertian
Hipermetropi atau rabun dekat adalah cacat mata yang mengakibatkan seseorang tidak
dapat melihat benda pada jarak dekat. Rabun dekat atau dikenal dengan hipermetropi
merupakan keadaan gangguan kekuatan pembiasan mata, yang mana pada keadaan ini sinar
sejajar jauh tidak cukup dibiaskan sehingga titik fokusnya terletak di belakang retina.
Hipermetrop terjadi apabila berkas sinar sejajar difokuskan di belakang retina. Titik dekat
penderita rabun dekat akan bertambah, tidak lagi sebesar 25 cm tapi mencapai jarak tertentu
yang lebih jauh. Penderita rabun dekat hanya dapat melihat benda pada jarak yang jauh.
Mata hipermetropi disebabkan oleh keadaan fisik lensa mata yang terlalu pipih atau
tidak dapat mencembung dengan optimal, oleh sebab itu bayangan yang dibentuk lensa
mata jatuh di belakang retina. Rabun dekat dapat tolong menggunakan kaca mata lensa
cembung, yang berfungsi untuk mengumpulkan sinar sebelum masuk mata, sehingga
terbentuk bayangan yang tepat jatuh di retina.

B. Etiologi
Penyebab dari hipermetropi adalah sebagai berikut :
1. Sumbu utama bola mata yang terlalu pendek (Hipermetropi Axial)
Biasanya terjadi karena Mikropthalmia, renitis sentralis, arau ablasio retina (lapisan
retina lepas lari ke depan sehingga titik fokus cahaya tidak tepat dibiaskan).
2. Daya pembiasan bola mata yang terlalu lemah (Hipermetropi Refraksi)
Terjadi gangguan-gangguan refraksi pada kornea, aqueus humor, lensa dan vitreus
humor. Gangguan yang dapat menyebabkan hipermetropi adalah perubahan pada
komposisi kornea dan lensa sehingga kekuatan refraksi menurun dan perubahan pada
komposisi aqueus humor dan viterus humor. Misal pada penderita Diabetes Melitus
terjadi hipermetopi jika kadar gula darah di bawah normal
3. Kelengkungan kornea dan lensa tidak adekuat (hipermetropi kurvatura)
Kelengkungan kornea ataupun lensa berkkurang sehingga bayangan difokuskn di
belakang retina.
4. Perubahan posisi lensa
Dalam hal ini, posisi lensa menjadi lebih posterior.
C. Patofisiologi
Diameter anterior posterior bola mata yang lebih pendek, kurvatura kornea dan lensa
yang lebih lemah, dan perubahan indeks refraktif menyebabkan sinar sejajar yang datang
dari objek terletak jauh tak terhingga di biaskan di belakang retina.

D. Manifestasi Klinis
Tanda dan gejala orang yang terkena penyakit rabun dekat secara obyektif klien susah
melihat jarak dekat atau penglihatan klien akan rabun dan tidak jelas. Sakit kepala frontal.
Semakin memburuk pada waktu mulai timbul gejala hipermetropi dan sepanjang
penggunaan mata dekat.
1. Penglihatan tidak nyaman (asthenopia)
Terjadi ketika harus fokus pada suatu jarak tertentu untuk waktu yang lama.
2. Akomodasi akan lebih cepat lelah terpaku pada suatu level tertentu dari ketegangan.
3. Bila 3 dioptri atau lebih, atau pada usia tua, pasien mengeluh penglihatan jauh kabur.
4. Penglihatan dekat lebih cepat buram, akan lebih terasa lagi pada keadaan kelelahan,
atau penerangan yang kurang.
5. Sakit kepala biasanya pada daerah frontal dan dipacu oleh kegiatan melihat dekat
jangka panjang. Jarang terjadi pada pagi hari, cenderung terjadi setelah siang hari dan
bisa membaik spontan kegiatan melihat dekat dihentikan.
6. Eyestrain
7. Sensitive terhadap cahaya
8. Spasme akomodasi, yaitu terjadinya cramp m. ciliaris diikuti penglihatan buram
intermiten

E. Data Penunjang
Pemeriksaan penunjang adalah ophtalmoscope.
Hasilnya :

F. Komplikasi
Komplikasi yang dapat terjadi adalah esotropia dan glaucoma. Esotropia atau juling ke
dalam terjadi akibat pasien selamanya melakukan akomodasi. Glaukoma sekunder terjadi
akibat hipertrofi otot siliar pada badan siliar yang akan mempersempit sudut bilik mata.

G. Klasifikasi
1. Hipermetropia manifest
Adalah hipermetropia yang dapat dikoreksi dengan kacamata positif maksimal
yang memberikan tajam penglihatan normal. Hipermetropia ini terdiri atas
hipermetropia absolut ditambah dengan hipermetropia fakultatif. Hipermetropia
manifes didapatkan tanpa siklopegik dan hipermetropia yang dapat dilihat dengan
koreksi kacamata yang maksimal.
2. Hipermetropia Absolut
Dimana kelainan refraksi tidak diimbangi dengan akomodasi dan memerlukan
kacamata positif untuk melihat jauh. Biasanya hipermetropia laten yang ada berakhir
dengan hipermetropia absolut ini. Hipermetropia manifes yang tidak memakai tenaga
akomodasi sama sekali disebut sebagai hipermetropia absolut, sehingga jumlah
hipermatropia fakultatif dengan hipermetropia absolut adalah hipermetropia manifes.
3. Hipermetropia Fakultatif
Dimana kelainan hipermatropia dapat diimbangi dengan akomodasi ataupun
dengan kaca mata positif. Pasien yang hanya mempunyai hipermetropia fakultatif akan
melihat normal tanpa kaca mata yang bila diberikan kaca mata positif yang memberikan
penglihatan normal maka otot akomodasinya akan mendapatkan istrahat.
Hipermetropia manifes yang masih memakai tenaga akomodasi disebut sebagai
hipermetropia fakultatif.
4. Hipermetropia Laten
Dimana kelainan hipermetropia tanpa siklopegi ( atau dengan obat yang
melemahkan akomodasi) diimbangi seluruhnya dengan akomodasi. Hipermetropia
laten hanya dapat diukur bila siklopegia. Makin muda makin besar komponen
hipermetropi laten seseorang. Makin tua seseorang akan terjadi kelemahan akomodasi
sehingga hipermetropia laten menjadi hipermetropia fakultatif dan kemudian akan
menjadi hipermetropia absolut. Hipermetropia laten sehari-hari diatasi pasien dengan
akomodasi terus menerus, teritama bila pasien masih muda dan daya akomodasinya
masih kuat.
5. Hipermetropia Total
Hipermetropia yang ukurannya didapatkan sesudah diberikan siklopegia.

H. Pengobatan
Hipermetropia bisa diatasi dengan pemberian lensa koreksi (kacamata atau lensa
kontak) berkekuatan positif di depan sistem optis bola mata, atau bisa juga dengan tindakan
operatif (Keratektomi & LASIK).
Pada hipermetropia fakultatif, pemberian lensa koreksi akan memberikan kenyamanan
penglihatan, meskipun tanpa lensa koreksi ia masih memiliki ketajaman penglihatan yang
normal. Pada hipermetropia absolut, pemberian lensa koreksi (atau dengan tindakan
operatif) adalah hal yang sudah sangat diperlukan.

I. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pada saat dilakukan pengkajian klien susah membaca pada jarak dekat, keluhan
ini dirasakan sudah lama, makin hari penglihatanya makin menurun, klien juga tidak
mengetahui penyebap matanya kabur. Dan Upaya yang dilakukan klien untuk
mengurangi keluhannya yaitu menjauhkan bahan bacaan, dan yang memperberat yaitu
ketika membaca dalam waktu yang lama klien mengalami pusing dan sakit kepala,
dengan skala 3 (0-5).
2. Diagnosa Keperawatan
a) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan kelelahan otot-3qotot
penggerak lensa.
1) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgesik
2) observasi keadaan,intensitas nyeri, dan tanda-tanda vital.
3) Kaji kemampuan penglihatan, dan jarak pandang klien.
4) Berikan penerangan yang cukup.
5) Berikan penyuluhan tentang penyakit klien
6) Observasi tingkat kecemasan klien
b) Gangguan persepsi sensori : Penglihatan berhubungan dengan penurunan retraksi
lensa
1) Kaji kemampuan penglihatan dan jarak pandang klien
2) Anjurkan klien untuk tidak membaca terlalu lama
3) Berikan penerangan yang cukup
4) Kolaborasi untuk penggunaan alat bantu penglihatan seperti kacamata
c) Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
1) Observasi tingkat kecemasan klien
2) Dengarkan dengan cermat apa yang di katakan klien tentang penyakit dan
tindakanya.
3) Berikan penyuluhan tentang penyakit klien

J. Daftar Pustaka
https://www.scribd.com/doc/291536736/Asuhan-Keperawatan-Hipermetropi
https://www.scribd.com/doc/182578866/HIPERMETROPI