Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Perencanaan merupakan fungsi organik manajemen yang merupakan dasar atau
titik tolak dari kegiatan pelaksanaan kegiatan tertentu dalam usaha mencapai
tujuan organisasi. Apabila proses perencanaan dilakukan dengan baik akan
memberikan jaminan pelaksanaan kegiatan menjadi baik, sehingga dapat
mencapai tujuan organisasi yang berdaya guna dan berhasil guna. Kebijakan
yang dirumuskan dalam suatu rencana mencakup struktur organisasi yang akan
diciptakan, pengadaan dan penggunakan tenaga kerja, sistem dan prosedur
yang hendak digunakan serta peralatan yang dibutuhkan untuk kelancaran suatu
kegiatan. Perencanaan tenaga keperawatan harus sesuai dengan kebutuhan
dan tujuan pelayanan keperawatan yang optimal dan bermutu tinggi.

Perencanaan ketenagaan, menjadi permasalahan besar di berbagai organisasi


keperawatan, seperti di tatanan rumah sakit, perawatan dirumah, dan tempat
tempat keperawatan lainnya.Oleh karena itu, perencanaan ketenagakerjaan
harus sesuai dengan ketentuan atau pedoman yang berlaku, serta tenaga yang
dibutuhkan dalam memberikan pelayanan keperawatan harus sesuai dengan
standar keperawatan yang ada.

Efektifitas dan efisiensi ketenagakerjaan merupakan salah satu indikator


keberhasilan rumah sakit bila didukung oleh ketersediaan jumlah sumberdaya
manusia yang cukup dengan kualitas yang profesional sesuai dengan fungsi dan
tugas setiap pegawai. Pelayanan keperawatan merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan dirumah sakit, begitu pentingnya pelayanan dirumah sakit,
bahkan Huber (cit. Nurdjanah, 1999) melaporkan bahwa 70% tenaga kesehatan
dirumah sakit adalah perawat.

Pola Ketenagaan Fisioterapi Page 1


Sedang Gillies (1994) memperkirakan bahwa sekitar 75% tenaga keperawatan
dirumah sakit adalah perawat, dan 60-70% dari total anggaran digunakan untuk
menggaji perawat. Kualitas asuhan keperawatan dapat dapat mencapai hasil
yang optimal apabila beban kerja dan sumber daya perawat yang ada memiliki
proporsi yang seimbang. Berdasarkan penelitian WHO (1997), beberapa Negara
di Asia Tenggara termasuk Indonesia ditemukan fakta bahwa perawat yang
bekerja dirumah sakit menjalani peningkatan beban kerja dan masih mengalami
kekurangan perawat. Hal ini disebabkan karena peran perawat belum
didefinisikan dengan baik. Efektifitas dan efisiensi ketenagaan dalam
keperawatan sangat ditunjang oleh pemberian asuhan keperawatan yang tepat
dan kompetensi perawat yang memadai. Oleh karena itu, perlu kiranya dilakukan
perencanaan yang strategis dan sistematis dalam memenuhi kebutuhan tenaga
keperawatan.

B. TUJUAN
1. Tujuan Umum
Tujuan umumnya adalah agar mengetahui perhitungan ketenagakerjaan
yang efektif dan efisien
2. Tujuan Khusus
a) Mengetahui metode perhitungan tenaga dalam keperawatan
b) Menambah pengetahuan tentang pembagian tenaga perawat di sebuah
unit di rumah sakit secara efektif dan efisien.
c) Mengetahui tentang perhitungan tenaga perawatan yang ada di
ruangan Fisioterapi RSUD Arosuka.

Pola Ketenagaan Fisioterapi Page 2


BAB II
LANDASAN TEORI

A. PERHITUNGAN TENAGA PERAWAT


Perencanaan tenaga atau staffing merupakan salah satu fungsi utama seorang
pemimpin organisasi, termasuk organisasi keperawatan. Keberhasilan suatu
organisasi salah satunya ditentukan oleh kualitas SDM. Hal ini berhubungan erat
dengan bagaimana seorang pimpinan merencanakan ketenagaan di unit
kerjanya.
Langkah perencanaan tenaga keperawatan menurut Gilies 1994 meliputi hal- hal
sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi bentuk dan beban pelayanan keperawatan yang akan
diberikan
2. Menentukan kategori perawat yang akan ditugaskan untuk melaksanakan
pelayanan keperawatan
3. Menentukan jumlah masing- masing kategori perawat yang dibutuhkan
4. Menerima dan menyaring untuk mengisi posisi yang ada
5. Melakukan seleksi calon- calon yang ada
6. Menentukan tenaga perawat sesuai dengan unit atau shift
7. Memberikan tanggung jawab untuk melaksanakan tugas pelayanan
keperawatan

Penentuan tenaga keperawatan dipengaruhi oleh keinginan untuk menggunakan


tenaga keperawatan yang sesuai. Untuk lebih akuratnya selain perencanaan
tenaga keperawatan, maka pimpinan keperawatan harus mempunyai keyakinan
tertentu dalam organisasinya seperti:
1. Rasio antara perawat dan klien didalam ruangan perawatan intensif adalah
1:1 atau 1:2
2. Perbandingan perawat ahli dan terampil di ruang medikal bedah, kebidanan,
anak dan psikiatri adalah 2:1 atau 3:1

Pola Ketenagaan Fisioterapi Page 3


3. Rasio antara perawat dan klien shift pagi dan sore adalah 1:5 untuk malam
hari di ruang rawat dan lain- lain 1:10
4. Jumlah tenaga terampil ditentukan oleh tingkat ketergantungan klien.

Didalam penerapan kebutuhan ketenagakerjaan harus diperhatikan adanya


faktor yang terkait beban kerja perawat, diantaranya seperti berikut :
a. Jumlah klien yang dirawat/hari/bulan/tahun dalam suatu unit;
b. Kondisi atau tingkat ketergantungan klien;
c. Rata-rata hari perawatan klien;
d. Pengukuran perawatan langsung dan tidak langsung;
e. Frekuensi tindakan yang dibutuhkan;
f. Rata-rata waktu keperawatan langsung dan tidak langsung;
g. Pemberian cuti.

Menurut Suyanto (2008), perhitungan tenaga kerja perawat perlu diperhatikan


hal-hal sebagai berikut :
1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kebutuhan tenaga keperawatan.
a. Faktor klien, meliputi : tingkat kompleksitas perawat, kondisi pasien
sesuai dengan jenis penyakit dan usianya, jumlah pasien dan
fluktuasinya, keadaan sosial ekonomi dan harapan pasien dan
keluarga.
b. Faktor tenaga, meliputi : jumlah dan komposisi tenaga keperawatan,
kebijakan pengaturan dinas, uraian tugas perawat, kebijakan
personalia, tingkat pendidikan dan pengalaman kerja, tenaga perawat
spesialis dan sikap ethis professional.
c. Faktor lingkungan, meliputi : tipe dan lokasi rumah sakit, gambaran
keperawatan, fasilitas dan jenis pelayanan yang diberikan, kelengkapan
peralatan medik atau diagnostik, pelayanan penunjang dari instalasi
lain dan macam kegiatan yang dilaksanakan.
d. Faktor organisasi, meliputi : mutu pelayanan yang ditetapkan dan
kebijakan pembinaan dan pengembangan.g

Pola Ketenagaan Fisioterapi Page 4


Penghitungan tenaga keperawatan di ruangan Fisioterapi

Perhitungan tenaga keperawatan di ruangan poli klinik menurut Dra. Herawani


A.M.Kes, M.Kep dihitung berdasarkan jumlah kunjungan pasien per hari, jumlah
jam perawatan, jumlah jam kerja efektif per hari serta koreksi. Hal ini sesuai
dengan Permenkes no. 262 tahun 1979.

(jam perawatan/pasien x 52 minggu x 6 hr x Jml kunjungan) + 10 %


41 jml minggu efektif x 37,5 jam

Pola Ketenagaan Fisioterapi Page 5


BAB III
POLA KETENAGAAN DI RUANGAN FISIOTERAPI
RSUD AROSUKA

Poli klinik merupakan salah satu bagian bentuk layanan kesehatan bagi
masyarakat di RSUD Arosuka. Poliklinik terdiri dari 1 ruangan poli penyakit
dalam, 1 ruangan poli bedah, 1 ruangan poli gigi, 1 ruangan poli paru, 1 ruangan
poli neurologi, 1 ruangan poli anak dan poli tumbuh kembang anak, 1 ruangan
poli mata, 1 ruangan poli kebidanan, 1 ruangan poli THT dan 1 ruangan poli
jantung. Didukung oleh 2 orang dokter spesialis penyakit dalam, 2 orang dokter
spesialis bedah (1 orang WKDS), 2 orang dokter gigi, 1 orang dokter spesialis
paru, 1 orang dokter spesialis neurologi (Kontrak Referal), 1 orang dokter
spesialis anak, 16 orang dokter umum (7 orang kontrak dan 1 orang dalam
PPDS-BK), 1 orang dokter spesialis mata, 2 orang dokter spesialis obgyn, 1
orang dokter spesialis radiologi, 1 orang dokter spesialis THT, 2 orang dokter
spesialis jantung, 2 orang dokter spesialis patologi klinik, 1 orang dokter spesialis
patologi anatomik, 2 orang dokter spesialis anestesi (kontrak referal dan WKDS),
dan 1 orang dokter spesialis KFR (kontrak referal), maka diharapkan pelayanan
kesehatan kepada pasien dapat diberikan dengan lebih efektif dan efisien.

Pola ketenagaan di ruangan poli klinik dihitung berdasarkan permenkes 262


tahun 1979 dengan menghitung rata-rata jumlah pasien per hari, jumlah jam
perawatan pasien, jumlah jam efektif serta koreksi.

(jam perawatan/pasien x 52 minggu x 6 hr x Jml kunjungan) + 10 %


41 jml minggu efektif x 37,5 jam

0,75 x 52 x 6 x 42 + 100 = 5,99 = 5,99 + 10% = 6 orang


41 x 37,5

Pola Ketenagaan Fisioterapi Page 6


Sehingga tenaga perawat yang dibutuhkan di ruangan fisioterapi adalah 6 orang.

Pola Ketenagaan Fisioterapi Page 7


BAB IV
PEMBAHASAN

Meningkatnya pendidikan dan sosial ekonomi masyarakat menuntut perubahan


pelayanan kesehatan yang lebih baik, lebih ramah dan bermutu. Dengan
semakin meningkatnya tuntutan masyarakat akan mutu pelayanan kesehatan
maka fungsi pelayanan kesehatan termasuk pelayanan rumah sakit secara
bertahap perlu ditingkatkan agar menjadi lebih efektif dan efisien. Selain itu,
pelayanan kesehatan merupakan ranah yang tidak terlepas dari pengaruh
globalisasi. Globalisasi telah merubah cara hidup orang banyak dalam
menentukan pilihan yang nantinya akan mengakibatkan persaingan. Hal ini
membuat banyak organisasi termasuk pelayanan kesehatan terus-menerus
melakukan peningkatan dalam kualitas dan melakukan inovasi dalam
pelayanan. Kunjungan pasien di ruangan poliklinik RSUD Arosuka terus
meningkat. Maka poliklinik perlu mempertahankan dan meningkatkan kualitas
pelayanan secara sistematis dan berkesinambungan seperti yang diharapkan.
Salah satu caranya adalah dengan ketersediaan tenaga keperawatan yang
memadai dalam memberikan pelayanan.

Berdasarkan jumlah kunjungan pasien ke poliklinik dan perhitungan jam kerja


efektif maka tenaga perawat yang diperlukan berjumlah 29 orang. Sedangkan
pada tahun 2017 jumlah tenaga keperawatan yang ada 16 orang. Maka
dipandang perlu diberikan penambahan tenaga keperawatan sebanyak 13 orang.

Pola Ketenagaan Fisioterapi Page 8


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. KESIMPULAN

Dari hasil analisa tenaga keperawatan yang telah dilakukan dengan


menggunakan perbandingan jumlah pasien dan jam kerja efektif tahun 2017
dan beban kerja untuk tahun 2018 di poli klinik diperlukan penambahan
tenaga keperawatan sebanyak 13 orang.

B. SARAN

Dengan peningkatan jumlah kunjungan di poli klinik pada tahun 2017 lalu
maka diharapkan Pihak Manajemen RSUD Arosuka dapat
mempertimbangkan untuk memberikan tambahan Tenaga Keperawatan di
poliklinik sehingga dapat mempertahankan dan meningkatkan kualitas
pelayanan secara sistematis dan berkesinambungan seperti yang diharapkan.

Arosuka, 2017
Kepala Ruangan Poli Klinik

Dona Eliza, AMKG


NIP. 19690805 199003 2 004

Pola Ketenagaan Fisioterapi Page 9

Anda mungkin juga menyukai