Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Perikanan dan Kelautan Vol.4.No.

4 Desember 2013: 1 - 10
ISSN : 2088-3137

AKUMULASI TIMBAL (Pb) DAN KADMIUM (Cd)


SERTA KERUSAKAN PADA INSANG, HATI DAN DAGING
IKAN PATIN (Pangasius sp.) DI WADUK SAGULING

Arindina Azzahrwaani Mutiara*, Ike Rustikawati** dan Titin Herawati**

*) Alumni Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad


**) Staf Pengajar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Timbal (Pb) dan Kadmium (Cd) dalam
insang, hati dan daging ikan patin serta mengetahui tingkat kerusakan struktur secara
histopatologi. Ikan yang dijadikan obyek penelitian adalah ikan patin (Pangasius sp.) dari
Waduk Saguling dan hasil budidaya di Cijengkol Subang.Kadar logam berat Pb dan Cd diuji
menggunakan Atomic Absorption Spectometry (AAS). Kadar logam berat yang terakumulasi
dalam organ khususnya daging telah melebihi ambang baku mutu SNI 7387:2009. Hasil
pengamatan histopatologi yang dilakukan terhadap insang, hati dan daging ikan patin secara
umum telah mengalami kerusakan pada organ tersebut. Kerusakan insang diantaranya Melano
Makrofag Center (MMC), edema, hiperplasia, kongesti, dan fusi lamela. Kerusakan hati berupa
MMC, nekrosis, degenerasi dan degenerasi lemak. Pada daging tidak terjadi perubahan
(normal).Kerusakan yang terjadi pada organ diakibatkan oleh adanya timbal dan kadmium yang
terakumulasi. Pada sampel organ didapatkan kandungan Pb yaitu, pada insang (0,01-120
ppm), hati (0,01-160 ppm), daging (0,01-130 ppm) dan air tidak terdeteksi.

Kata Kuci :histopatologi,kadmium, patin, Saguling, timbal

ABSTRACT

SUSTANINABLE POTENTIAL AND UTILIZATIOM RATES OF THREADFIN BREAM


(NemipterusJaponicus) IN BAY OF BANTEN WATER

The purposes of this research was to identified heavy metal concentration of Lead (Pb)
and Cadmium (Cd) in the gills, liver and meat catfish and determine the level of damage to
organ structure gill, liver and meat histopathology. Fish that made used for this research is
catfish (Pangasius sp.) of wild-caught at Saguling reservoir and farmed in Cijengkol Subang.
Levels of heavy metals Pb and Cd in the organs tested using Atomic Absorption Spectrometry
(AAS). Levels of heavy metal that accumulates in the organ meats in particular has exceeded
the quality standard SNI 7387:2009. Histopathological observations were carried out on gill,
liver and catfish meat in general has damage to the organ. Damage the gills of which Melano
Macrophages Center (MMC), edema, hyperplasia, congestion, and fusion lamella. Liver
damage in the form of MMC, necrosis, degeneration and fatty degeneration. In the flesh no
change (normally).Damage to the gills, liver and meat of catfish (Pangasiussp.) caused by the
presence of lead and cadmium were accumulated. Organ samples obtained at the Pb content,
the gills (0.01 to 120 ppm), liver (0.01 to 160 ppm), meat (0.01 to 130 ppm).

Keywords: cadmium, catfish, histopathology, lead, Saguling,


Arindina Azzahrwaani Mutiara, Ike Rustikawati dan Titin Herawati 2

PENDAHULUAN pada insang, hati dan daging ikan patin


(Pangasius sp) di waduk Saguling. Data ini
Waduk Saguling merupakan salah diperlukan untuk mengetahui apakah ikan
satu waduk buatan yang terbentuk dengan patin yang hidup di perairan waduk
membendung aliran Sungai Citarum. Saguling aman untuk dikonsumsi.
Awalnya bendungan ini hanya direncanakan Penelitian ini bertujuan untuk
sebagai pembangkit energi listrik untuk mengetahui kandungan logam Pb dan Cd
pasokan listrik Jawa-Bali, namun saat ini serta kerusakan yang terjadi pada insang,
fungsinya semakin berkembang untuk hati dan daging ikan patin.
perikanan, agri-akuakultur, pariwisata,
bahkan juga dimanfaatkan untuk tempat METODOLOGI
pembuangan limbah. Perubahan
peruntukan tersebut berakibat pada Penelitian ini menggunakan metode
percepatan penurunan kualitas perairan survey pada lokasi yang telah ditentukan
Waduk Saguling (Wangsaatmaja 2004). Isu dengan dengan mempertimbangkan faktor-
mengenai tercemarnya sungai citarum faktor lingkungan untuk pengambilan ikan
sebagai sumber air pada waduk saguling patin.
merupakan suatu permasalahan yang Sempel air diawetkan dengan cara
sangat serius. ditambahkan NHO3 pekat sehingga pH 2
Timbal (Pb) dan kadmium (Cd) untuk kemudian dianalisis kadar logam Pb
merupakan logam berat yang sulit dan Cd mengunakan metode Atomic
mengalami degradasi (non biodegradable) Absorption Spectrometry (AAS) di
sehingga dapat bertahan lama dalam laboratorium toksisitas PPSDAL UNPAD
perairan dan mengendap dalam sediment. Sekeloa dengan mengacu pada SNI No. 06-
Logam berat tersebut dapat terakumulasi 6596-2001 tentang Perlakuan contoh air
dalam jaringan tubuh biota perairan. Pada untuk analisis logam (pengukuran kadar
ikan yang hidup dalam habitat yang terbatas logam total) dengan Spektrofotometer
seperti sungai, danau, dan teluk, Serapan Atom (SSA).
menyebabkan ikan itu sulit untuk Sampel ikan patin yang didapat
menghindar dari pengaruh pencemaran kemudian diambil organ insang, hati dan
logam berat. Logam berat tersebut akan daging untuk kemudian di analisis kadar
diabsorpsi dan akan masuk ke dalam tubuh logam Pb dan Cd dalam organ mengunakan
ikan (Darmono 1995). metode Atomic Absorption Spectrometry
Ikan Pangasius sp atau yang dikenal (AAS) di laboratorium kimia-analis Jurusan
dengan ikan patin adalah ikan demersal Kimia FMIPA UNPAD, Jalan
yang hidup di dasar berlumpur dan Singaperbangsa.
memakan invertebrata bentik. Ikan ini Pengamatan kerusakan jaringan
banyak hidup bebas di perairan Waduk ikan patin yang terpapar logam Pb dan Cd
Saguling dan ada pula yang dibudidayakan mengunakan metode mikroteknik yaitu
dalam Karamba Jaring Apung (KJA). pembuatan preparat histologi dengan cara
Terjadinya penimbunan logam berat pada organ insang, hati dan daging ikan patin
organ tubuh ikan patin akan berakibat diawetkan dalam rendaman larutan bouin
konsentrasi logam berat Pb dan Cd akan untuk kemudian dibuat menjadi preparat
bertambah besar,dan mengakibatkan histologi yang dilakukan di laboratorium
rusaknya organ tubuh ikan patin dan pada mikroteknik hewan Jurusan Biologi FMIPA
akhirnya dapat menimbulkan kematian pada UNPAD, Jatinangor. Pembuatan preparat
ikan. Sehingga perlunya dilakukan histologi meliputi beberapa tahap yaitu
penelitian mengenai akumulasi logam berat fiksasi, dehidrasi, clearing, infiltrasi paraffin,
Pb dan Cd serta kerusakan jaringan pada embedding paraffin, sectioning, dan
insang, hati dan daging ikan patin pewarnaan H&E.
(Pangasius sp) di waduk Saguling.Oleh Data hasil pengamatan kualitas air
karena itu dibutuhkan suatu penelitian dan kadar Pb dan Cd di air dibandingkan
untuk mengetahui adanya akumulasi logam dengan Peraturan Pemerintah No. 82
berat Pb dan Cd serta kerusakan jaringan Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas
Akumulasi Timbal (Pb) dan Kadium (Cd) Serta Kerusakan Pada Hati, Insang, dan Daging
3
Ikan Patin (Pangasius sp) di Waduk Saguling

Air dan Pengendalian Pencemaran Air dan DO pada stasiun pengambilan


kerusakan struktur organ insang, hati dan sampel berkisar antara 3-3,8 mg/L
daging ikan patin dianalisis secara deskriptif sedangkan untuk pH masih dalam kondisi
komperatif. netral yaitu berkisar 7-7,5.
Kandungan logam berat Pb dan Cd
HASIL DAN PEMBAHASAN pada air di tiga stasiun Waduk Saguling
tidak terdeteksi, Kondisi ini dikarenakan
Kualitas Air dan Logam Berat. pada saat pengambilan sampel air, tinggi
Secara umum kualitas air pada permukaan perairan Waduk Saguling
Waduk Saguling masih baik hal ini meningkat akibat intensitas curah hujan
dikarenakan baik suhu, DO, maupun pH yang tinggi sehingga terjadi pengenceran
masih memenuhi prasyarat kualitas air kandungan logam berat pada air atau
kelas II dan III yang ditentukan oleh PP konsentrasi logam berat Pb dan Cd lebih
No.82 tahun 2001. Hal ini terlihat pada suhu kecil dari nilai ketelitian alat AAS yang
perairan masih berkisar antara 21oC – digunakan (Tabel 1.)
24oC yang masih dalam batas toleransi
untuk organisme dapat hidup.

Tabel 1. Hasil Kualitas Air Waduk Saguling.

PARAMETER Maroko Ciminyak Pintu air

Fisika

Suhu (˚C) 21,95 22,55 23,2

Kimia

Ph 7,5 7 7,05

DO (mg/L) 3,8 3,25 3,05

Pb (ppm) Tt Tt Tt

Cd (ppm) Tt Tt Tt

Kandungan Logam Berat Dalam Organ sesuai dengan pernyataan Heath (1987),
(Insang, Hati dan Daging) daging secara umum organ yang paling
tinggi menyerap logam berat, disebabkan
Logam Timbal (Pb) produksi lendir terutama pada kulit akan
Keberadaan logam berat dalam member efek berupa pencegahan
perairan akan berpengaruh negatif terhadap terabsorbsinya logam berat untuk masuk
kehidupan biota khususnya ikan patin. kedalam tubuh melalui kulit, namun karena
Kebanyakan logam berat secara biologis lendir memiliki kerapan massa jenis yang
terkumpul dalam tubuh organisme menetap tinggi sehingga sukar untuk terjadinya
untuk waktu yang lama dan berfungsi pertukaran zat baik dari lingkungan ke
sebagai racun komulatif. Sehingga akan dalam tubuh maupun sebaliknya sehingga
menyebabkan terganggunya fungsi organ keberadaan lendir justru akan membuat
khususnya insang, hati dan daging. logam berat menempel pada lendir dan
Dari ketiga organ tersebut secara terakumulasi.
umum akumulasi logam berat Pb tertinggi Hati merupakan organ kedua
terdapat pada daging ikan patin. Hal ini setelah daging yang mengakumulasi logam
Arindina Azzahrwaani Mutiara, Ike Rustikawati dan Titin Herawati 4

berat tertinggi. Hal ini sesuai dengan buatan secara periodik, yang mana diduga
pernyataan Chayen dan Bitensky (1973) pada pakan buatan terkandung logam
dalam Harteman (2011), bahwa logam berat berat. Hal ini sesuai dengan penelitiin
yang terkandung dalam sel jaringan hati Perum Jasa Tirta II (2007), bahwa pada
terjadi akibat pengikatan gugus sulfur dan pengambilan sampel pakan ikan pertama
nitrogen sangat kuat. Sehingga logam berat maupun ke dua terkandung logam berat
yang terakumulasi dalam hati menghambat berupa Zn, Cu dan Pb, yang diduga berasal
kegiatan enzim dan sistim imun (Orbea et dari tepung ikan yang mengandung logam
al. 1999). berat ataupun bahan lainnya.
Insang merupakan organ yang Pada ikan patin hasil tangkapan di
paling kecil mengakumulasi logam berat Pb. Waduk saguling kandungan logam berat Pb
Hal ini karena insang dapat membatasi akumulasi tertinggi pada ikan ukuran 40-41
masuknya logam berat ke dalam biota cm. Hal ini diduga lama hidup ikan patin di
dengan cara membatasi pernafasan dan dalam perairan yang tercemar sudah lebih
difusi oksigen (O2) serta perfusi (Soemirat lama dibandingkan dengan ukuran 20-35
2003). Pembatasan masuknya air kedalam cm, sehingga proses bioakumulasi dari
sel epitel dan lamella menyebabkan rantai makanan semakin besar. Sanusi
penyerapan logam berat terhambat (Lee et (1980) dalam Budiono (2003),
al. 1999). mengemukakan bahwa terjadinya proses
Kandungan logam berat Pb dalam akumulasi logam berat di dalam tubuh
organ ikan patin hasil budidaya tertinggi hewan air terjadi karena pengambilan
terdapat pada ikan patin ukuran 20 cm yaitu logam berat (uptake rate) oleh organisme
pada insang sebesar 24,88 ppm, hati 25,89 air lebih cepat dibandingkan dengan proses
ppm dan daging sebesar 34,17 ppm yang ekskresi, sehingga semakin lama
kadarnya telah melebihi SNI 7387 :2009. organisme itu hidup maka semakin besar
Tingginya kandungan logam berat kemungkinan logam berat yang
pada ikan budidaya ukuran 20 cm terakumulasi.
dimungkinkan karena daya tahan terhadap Masuknya bahan pencemar berupa
lingkungan masih rentan, sehingga kandungan logam berat sangat merugikan
kandungan logam berat Pb terakumulasi bagi kehidupan, baik langsung
lebih tinggi. Hal tersebut sesuai dengan (ikan)maupun tidak langsung (manusia).
pendapat Lu (1995), ikan muda 1,5-10 kali Berdasarkan dampak yang ditimbulkan dari
lebih rentan terpapar logam berat pencemaran oleh logam berat tersebut
dibandingkan ikan dewasa, karena terutama di badan perairan, maka sangat
defesiensi berbagai enzim detoksifikasi, diperlukan kisaran konsentrasi atau nilai
selain itu organ filtrasi dan ekskresi ginjal ambang batas dari konsentrasi logam berat
belum berfungsi secara optimum. yang direkomendasikan untuk masuk dan
Pada ikan patin hasil budidaya berada di lingkungan perairan. Hasil analisis
proses pemeliharaan menggunakan sumber kandungan logam Pb dan Cd dalam air
air dari waduk jatiluhur dan diberikan pakan dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Kandungan Logam Berat Pb dalam Organ ikan Patin.


Akumulasi Timbal (Pb) dan Kadium (Cd) Serta Kerusakan Pada Hati, Insang, dan Daging
5
Ikan Patin (Pangasius sp) di Waduk Saguling

Logam Berat Cd. Pada ikan seluruh ukuran patin


Hasil pengukuran logam berat Cd budidaya dan hasil tangkapan di Waduk
dalam organ ikan patin hasil tangkapan di Saguling ukuran 20-25 cm kandungan
Waduk Saguling didapatkan bahwa logam berat Cd hanya sebesar 0,01 ppm
kandungan logam berat tertinggi terdapat yang masih di bawah ambang baku mutu
pada ikan ukuran 40-41 cm dan terendah SNI 7387:2009 untuk Cd sebesar 0,1 ppm.
terdapat pada ukuran 20-25 cm. Dalam organ insang logam berat cd
Secara umum organ yang yang terkandung cukup rendah. Hal ini
mengakumulasi logam berat Cd tertinggi sesuai dengan pernyataan Darmono dan
terdapat pada hati. Akumulasi logam berat Arifin (1989) dalam Kusumahadi (1998),
Cd dalam organ hati tertinggi terdapat pada dibandingkan dengan organ tubuh ikan
stasiun pintu air Waduk Saguling, yaitu yang lain, logam berat yang terakumulasi
pada ukuran 30 dan 40 cm sebesar 5,65 dalam insang lebih sedikit, karena logam
ppm dan 13,99 ppm. Hal ini sesuai dengan berat yang terabsorbsi dan terakumulasi di
pernyataan Dural et al. (2006), bahwa organ insang mengalami proses metabolisme dan
hati mengakumulasi logam berat Cd lebih akan dieksresikan dari tubuh bersama-
tinggi dibandingkan dengan insang dan sama metabolit yang lain (Gambar 2).
ginjal.

Gambar 2. Kandungan Logam Berat Cd dalam Organ Ikan Patin

Histopatologi Organ Ikan Patin 20-35 cm yang ditandai telah adanya fusi
Pengamatan histopatologi lamela. Dengan mengacu pada metode
digunakan sebagai parameter untuk Tandjung 1982, Ressang (1986) dan
mengetahui perubahan yang terjadi akibat Sudiono (2003), Darmono (1995) adanya
masuknya bahan pencemar pada tubuh MMC, edema, hiperplasia dan degenerasi
ikan. Menurut Darmono (2001), logam berat digolongkan tingkat kerusakan ringan.
masuk kedalam jaringan tubuh mekhluk Kongesti dan hemoragi digolongkan pada
hidup melalui beberapa jalan yaitu saluran tingkat kerusakan sedang, sedangkan
pernafasan, pencernaan dan penetrasi nekrosis dan fusi lamela digolongkan pada
melalui kulit. Tingginya kandungan logam tingkat kerusakan berat (Tabel 2).
berat dalam organ dalam organ akan Kerusakan jaringan hati pada ikan
mengakibatkan kerusakan sel pada organ patin berupa MMC, degenerasi, degenerasi
tersebut. lemak dan nekrosis. kerusakan tingkat berat
Hasil pengamatan histopatologi yang terdapat dalam hati berada pada
insang ikan patin didapatkan kerusakan stasiun pembanding ukuran 20-25 cm dan
berupa Melano Makrofag Center (MMC), 40-41 cm serta pada stasiun Maroko ukuran
edema, hiperplasia, kongesti dan fusi 40-41 cm yang ditandai adanya kematian
lamella. sel atau nekrosis.
Kerusakan pada insang yang telah Menurut Agius and Robert (1981)
memasuki tingkat berat terdapat pada dalam Ersa (2008), Melano makrofag center
stasiun Ciminyak pada ukuran 20-25 cm (MMC) adalah kumpulan makrofag, yang
dan pada pintu air Waduk Saguling ukuran berisi hemosiderin, lipofuchsin dan ceroid
Arindina Azzahrwaani Mutiara, Ike Rustikawati dan Titin Herawati 6

sama seperti pigmen melanin. MMC banyak diakibatan oleh peradangan (Gambar 3).
ditemukan di dalam jaringan limfoid yang

Gambar 3.MMC pada Hati Ikan Patin Hasil Budidaya Ukuran 33 cm, dan MMC, Edema, serta
Hiperplasia pada Insang Ikan Patin di Stasiun Maroko Ukuran 25 cm.

Edema merupakan gangguan yang dibawahnya dari bahan toksik (Meissner


ditandai dengan adanya penggumpalan dan Diamandopoulous 1977).
cairan yang berlebihan dalam ruangan Sebelum sel mengalami kongesti,
interstitis termasuk rongga tubuh, hemoragi kemudian pada akhirnya
peningkatan masuknya air dari ekstraseluler kematian sel (nekrosis), sel akan
ke dalam sel akibat terganggunya aktivitas mengalami degenerasi Degenerasi
pompa Na+K. Kondisi ini dapat dihubungkan merupakan reaksi peradangan yang terjadi
dengan bahan-bahan toksik kimia, virus, bila kerusakan sel tidak segera mematikan,
bakteri dan penyakit parasitik. Kerusakan perubahan bisa pulih kembali setelah
mekanis atau penyakit dapat sumber kerusakan dilenyapkan (reversible)
mempengaruhi ikan terhadap infeksi lebih yang dapat disebabkan oleh luka-luka
lanjut karena edematos menyediakan suatu karena trauma, radiasi, kuman, bakteri, zat-
medium yang baik untuk pertumbuhan zat kimia maupun racun (Nabib dan
bakteri (Hibiya and Fumio 1995 dalam Ersa Pasaribu 1989). Degenerasi lemak
2008 ). merupakan kerusakan sel yang lebih parah
Pada jaringan insang terdapat setelah sebelumnya terjadi degenerasi
pembengkakan/perlekatan lamela atau granular (sel-sel membengkak sedangkan
dinamakan hiperplasia yang merupakan sitoplasmanya berbutir-butir halus), pada
tingkatan lanjut dari edema yang degenerasi lemak sitoplasma penuh dengan
menandakan bahwa telah terjadinya vakuol-vakuol (Prioseoryanto). Menurut
pencemaran. Hiperplasia merupakan Harada, et al. (1999) dalam Juhryyah
penambahan jumlah sel dalam suatu organ (2008), perubahan ini merupakan tanda
sehingga organ tubuh membesar, hal awal kerusakan sel yang disebabkan oleh
tersebut merupakan adaptasi sel untuk toksin (Gambar 4).
melindungi jaringan yang berada

Gambar 4.Degenerasai Lemak serta Degenerasi Pada Ikan Patin di Stasiun Pintu Air Waduk
Saguling Ukuran 24 dan40 cm
Akumulasi Timbal (Pb) dan Kadium (Cd) Serta Kerusakan Pada Hati, Insang, dan Daging
7
Ikan Patin (Pangasius sp) di Waduk Saguling

Jika sel tidak dapat beregenerasi aliran darah ini diduga terjadi akibat edema
maka adanya edema ataupun hiperplasia di sekitar pembuluh darah (Susanto, 2008)
menyebabkan salah satu bagian Fusi lamela merupakan kerusakan
membengkak dan yang lainya menyempit tahap lanjut yang cukup parah, terjadinya
sehingga peredaran darah tersumbat, dan fusi lamela dapat menyebabkan
menyebabkan darah menumpuk pada salah berkurangnya luas permukaan insang
daerah tertentu atau dinamakan kongesti. akibat masuknya zat toksik ke dalam
Kongesti dapat ditandai dengan jaringan sehingga dapat mengganggu
adanya penumpukan sel-sel darah merah respirasi pada insang dan menyebabkan
yang sangat padat dalam pembuluh darah penurunan pertukaran gas (Prioseoryanto).
yang menunjukkan kondisi tidak normal Fusi lamela ditandai hilangnya atau tidak
pada insang ikan. Kongesti disebabkan oleh terlihatnya lamela sekunder pada insang
adanya trauma fisik, parasit atau gangguan (Gambar 5).
sistem peredaran darahnya. Terhambatnya

Gambar 5. Kongesti ada Ikan Patin di StasiunCiminyak Ukuran 25 cm

Kongesti pada tingkat yang paling menyatakan, Kematian sel adalah suatu
berat akan menyebabkan pembuluh darah proses dimana-sel-sel kehilangan
pecah atau keluar dari sirkulasi integritasnya sebagai salah satu unit
kardiovaskuler (arteri, vena dan kapiler), fungsional, pada keadaan ini akan terjadi
yang pada akhirnya akan menyebabkan sel suatu titik yang menunjukkan bahwa
mati atau nekrosis. Nekrosis secara kerusakan pada sel tidak dapat kembali
histopatologis ditandai dengan terlihatnya seperti sediakala dan akan mengalami
batas-batas sel dan inti sel tidak jelas atau nekrosis (Gambar 6)
bahkan menghilang. Prioseoryanto

Gambar 6.Nekrosis Pada Ikan Patin Hasil Budidaya Ukuran 40 cm


Arindina Azzahrwaani Mutiara, Ike Rustikawati dan Titin Herawati 8

Tabel 2. Kerusakan Pada Organ Insang, Hati dan Daging Ikan Patin

Ukuran Kerusakan
Stasiun
(cm)
Insang Hati Daging
20  Edema  MMC -
 Kongesti  Nekrosis
33  Hiperplasia  MMC -
Cijengkol Subang  Kongesti
40  MMC  MMC -
 Hiperplasia  Nekrosis
25  MMC  MMC -
 Edema
 Hiperplasia
Maroko 32  Edema  MMC -
 Hiperplasia
41  Hiperplasia  MMC -
 Kongesti  Nekrosis
25  Edema  MMC -
 Hiperplasia
 Kongesti
Ciminyak  Fusi Lamela
35  Hiperplasia  MMC -
 Fusi Lamela
40  TT  TT -
24  Edema  MMC -
 Hiperplasia  Degenerasi
 Fusi Lamela Lemak
Pintu Air Waduk 30  Hiperplasia  MMC -
Saguling  Kongesti
 Fusi Lamela
40  MMC  MMC -
 Degenerasi

KESIMPULAN DAN SARAN Cijengkol Subang yang berukuran


20 cm memiliki kandungan logam
Kesimpulan berat tertinggi dan terendah pada
Berdasarkan hasil penelitian yang ukuran 33 cm, sedangkan untuk Cd
telah dilakukan pada tiga stasiun penelitian masih di bawah ambang baku mutu.
di waduk Saguling dan satu stasiun 3. Kandungan logam berat Pb pada
pembanding dari Pembudidaya Subang, ikan patin hasil tangkapan di Waduk
dapat disimpulkan bahwa : Saguling akumulasi tertinggi
1. Ikan patin hasil tangkapan dari terdapat pada ukuran 40-41 cm dan
perairan waduk Saguling dan yang terendah terdapat pada ukuran 30-
dibudidaya di Cijengkol Subang 35 cm, sedangkan untuk logam
telah terakumulasi logam berat Pb berat Cd akumulasi tertinggi pada
dan Cd pada organ insang, hati dan ukuran 40-41 cm dan terendah pada
daging yang kadarnya telah melebihi ukuran 20-25 cm.
baku mutu SNI 7387:2009. 4. Kandungan logam berat Pb dan Cd
2. Kandungan logam berat Pb pada dalam air di Waduk Saguling masih
ikan patin hasil budidayakan di
Akumulasi Timbal (Pb) dan Kadium (Cd) Serta Kerusakan Pada Hati, Insang, dan Daging
9
Ikan Patin (Pangasius sp) di Waduk Saguling

dalam kondisi baik karena tidak Darmono. 2001. Lingkungan Hidup dan
terdeteksi. Pencemaran. Universitas Indonesia
5. Kerusakan jaringan insang tingkat Press. Jakarta.
berat terdapat pada stasiun
Ciminyak pada ukuran 20-25 cm dan Dural M, Goksu MZL, Ozak AA, and Derici
stasiun Pintu air ukuran 20-35 cm. B. 2006. Bioaccumulation of Some
Pada hati Kerusakan tingkat berat di Heavy Metals in Different Tissues of
stasiun pembanding (budidaya Dicentrarchus labrax L, Aparus
Cijengkol Subang) ukuran 20-25 cm aurata L, and Mugil cephalus L, from
dan 40-41cm serta pada stasiun the Camlik Lagoon of the Eastern
Maroko ukuran 40-41 cm. Cost of Mediterranean (Turkey). J
6. Kandungan Logam berat Pb pada Environ Monit Assess 118: 65-74.
daging ukuran 20-35 cm tertinggi
terdapat pada ikan pembanding Ersa, I.M. 2008. Gambaran Histopatologi
(budidaya Cijengkol Subang) Insang, Usus Dan Otot Pada Ikan
sedangkan pada ukuran 40-41 cm Mujair (Oreochromis mossambicu)
terdapat pada stasiun Maroko. Di Daerah Ciampea Bogor. Skripsi.
Kandungan logam berat Cd pada Fakultas Kedokteran Hewan Institut
daging ukuran 30-35 cm tertinggi Pertanian Bogor. Bogor.
pada stasiun pintu air Waduk
Saguling sedangkan pada ukuran Harteman, E. 2011. Sebaran Logam Berat
40-41 tertinggi terdapat pada stasiun Dalam Organ Tubuh Ikan Badukang
Maroko. (Arius marculatus fis & Bian) Dan
Sembilang (Plotosis canius Web &
Saran Bia) Serta Pengaruhnya Terhadap
Berdasarkan hasil penelitian dapaat Morfologis Organ. Pascasarjana
disarankan : IPB. Bogor
1. Perlu dilakukan penelitian lanjutan
untuk mengukur logam berat Pb dan Heath AG. 1987. Water Pollution and Fish
Cd di Waduk Saguling dengan Physiology. Boston. CRC. 245 p.
jumlah sampel lebih banyak dengan
kurun waktu pada musim kemarau Juhryyah, S. 2008. Gambaran Histopatologi
dan penghujan. Organ Hati Dan Ginjal Tikus Pada
2. Perlunya ketelitian dalam proses Intoksikasi Akut Insektisida
pemotongan jaringan serta (Metofluthrin, D-Phenothrin, D-
pewarnaan agar didapatkan hasil Allethrin) Dengan Dosis Bertingkat.
preparat histopatologi yang lebih Skripsi Fakultas Kedokteran Hewan
baik sehingga kerusakan dapat IPB Bogor.
teramati secara menyeluruh.
Kusumahadi KS. 1998. Konsentrasi Logam
Berat Pb, Cr dan Hg dalam Badan
DAFTAR PUSTAKA Air dan Sedimen serta Hubungannya
dengan Keanekaragaman
Badan Standar Nasional Indonesia. 2009. Plankton,Benthos dan Ikan di Sungai
SNI 7387 :2009. Batas Maksimum Ciliwung. [disertasi]. Bogor: Program
Cemaran Logam Berat Dalam Pascasarjana, Institut Pertanian
Pangan. Bogor.

Budiono, A. 2003. Pengaruh Pencemaran Lee NS, Kobayashi J, and Miyazaki T.


Merkuri terhadap Biota Air 1999. Gills Filamen Necrosis in
Farmed Japanese Eels, Anguilla
Darmono. 1995. Logam Dalam System japonica (temminck & Schlegel),
Biologi Makhluk Hidup. Ui-press, Infected with Herpesvirus anguillae.
Jakarta. J Fish Diseas 22: 457-463.
Arindina Azzahrwaani Mutiara, Ike Rustikawati dan Titin Herawati 10

Lu FC. 1995. Toxikologi Dasar. Asas, Organ Peraturan Pemerintah No. 82 Th 2001.
Sasaran, dan Penilaian Resiko. Ed Tentang Pengelolaan Kualitas Air
ke-4. Jakarta. UI Press. 428 hlm. Dan Pengendalian Pencemaran Air.

Nabib R dan FH Pasaribu. 1989. Patologi Perusahaan Umum (PERUM) Jasa Tirta II.
dan Penyakit Ikan. Bogor . 2007. Studi KAramba Jaring Apung
Departemen Pendidikan dan Tahap II Waduk Ir. H. Juanda.
Kebudayaan, Bogor. 158 hal.
Prioseoryanto,B,P. Patologi Dasar.
Orbea A, Beier K, Volki A, Fahimi HD, and Fakultas Kedokteran Hewan IPB
Cajaraville MP. 1999. Ultra Bogor
structural, Immune Cytochemical
and Morph metric Characterization Soemirat J. 2003. Farmakokinetika. Di
of Liver Paroxysms in Gray Mullet, dalam: Soemirat J, Ed. Toksikologi
Mugil cephalus. J Cell Tiss Res 297: Lingkungan. Yogyakarta. Gajah
493-502. Mada Press. hlm: 78-136.