Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM PERTOLONGAN PERTAMA PADA

KECELAKAAN
PERDARAHAN DAN SYOK
CEDERA JARINGAN LUNAK

Oleh :
Prima Erza Yudha T (0516040109)

K3-5D

TEKNIK KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

JURUSAN TEKNIK PERMESINAN KAPAL

POLITEKNIK PERKAPALAN NEGERI SURABAYA

2018
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Syok atau perdarahan merupakan sebuah kondisi dimana terjadi penurunan
perfusi jaringan, menghasilkan hantaran oksigen nutrien yang inadekuat, yang dibutuhkan
untuk fungsi seluler. Ketika kebutuhan oksigen seluler meningkat terlalu drastis,
sel dan organisme akan berada dalam kondisi syok. Syok hipovolemik merupakan jenis yang
tersering, dimana hal ini dipicu oleh hilangnya sejumlah darah yang bersirkulasi, misalnya
akibat trauma penetrasi maupun benda tajam, perdarahan gastrointestinal dan juga
perdarahan obstetrik. Manusia mampu mengkompensasi perdarahan yang terjadi melalui
berbagai mekanisme neural dan hormonal.
Syok hipovolemik yang disebabkan oleh terjadinya kehilangan darah secara akut
(syok hemoragik) sampai saat ini merupakan salah satu penyebab kematian di negara-negara
dengan mobilitas penduduk yang tinggi. Salah satu penyebab terjadinya syok hemoragik
tersebut diantaranya adalah cedera akibat kecelakaan. Menurut WHO cedera akibat
kecelakaan setiap tahunnya menyebabkan terjadinya 5 juta kematian diseluruh dunia. Angka
kematian pada pasien trauma yang mengalami syok hipovolemik di rumah sakit dengan
tingkat pelayanan yang lengkap mencapai 6%. Sedangkan angka kematian akibat trauma
yang mengalami syok hipovolemik di rumah sakit dengan peralatan yang kurang memadai
mencapai 36% (Diantoro, 2014).
Syok hipovolemik sendiri bergantung pada efisiensi mekanisme kompensasi
seseorang dan kecepatan kehilangan darah. Tanda dan gejala syok hipovolemik harus
dimonitor oleh perawat secara berkala. Sebagai perawat, harus mengenal dan mempunyai
kemampuan atau kecakapan untuk menangani kondisi ini, disetiap tempat/ruangan. Perawat
harus memberikan intervensi yang tepat atau manajemen kegawatdaruratan untuk mengobati
syok hipovolemik (Dewi dan Rahayu, 2010).
Perdarahan dan syok berkaitan erat dengan pertolongan pertama Oleh karena itu,
untuk mengurangi atau meminimalisir tingkat keparahan, perlu adanya penanganan segera
terhadap perdarahan dan syok. Dalam Praktikum Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan
(P3K) mengenai “Perdarahan dan Syok”, kita dapat mengetahui jenis-jenis perdarahan dan
syok serta dapat melakukan penanganan yang tepat terhadap perdarahan dan syok tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana mengetahui jenis-jenis perdarahan
2. Bagaimana mengetahui ciri-ciri shock
3. Bagaimana melakukan penanganan terhadap perdarahan dan shock berdasarkan
penyebabnya

1.3 Tujuan
1. Mampu mengetahui jenis-jenis perdarahan
2. Mampu mengetahui ciri-ciri shock
3. Mampu melakukan penanganan terhadap perdarahan dan shock berdasarkan
penyebabnya
BAB 2
DASAR TEORI

2.1 Perdarahan
Perdarahan terjadi akibat rusaknya dinding pembuluh darah yang dapat disebabkan
oleh trauma/kecelakaan atau penyakit. Perdarahan dapat dibedakan menjadi dua yaitu
perdarahan eksternal (terbuka) dan perdarahan internal (tertutup). Perdarahan eksternal
adalah perdarahan yang berasal dari luka terbuka sehingga dapat dilihat. Sedangkan
perdarahan internal adalah perdarahan yang terjadi pada luka tertutp sehingga sulit untuk di
identifikasi.
2.1.1 Perdarahan Luar (terbuka)
Perdarahan yang terjadi karena rusaknya dinding pembuluh darah yang
disertai dengan rusaknya kulit, yang memungkinkan darah keluar dari tubuh, ciri
perdarahan eksternal mudah untuk diketahui karena pada jenis perdarahan ini terdapat
luka terbuka yang dapat dilihat. Terdapat beberapa jenis luka terbuka yaitu :
1. Luka Gores/ Abrasi
Bagian kulit lapisan atas terkelupas sehingga hanya sedikit kehilangan darah
2. Laserasi
Bagian kulit yang terpotong bergerigi
3. Insisi
Kulit terpotong rata seperti potongan pisau
4. Pungsi
Cedera benda tajam yang menembus permukaan kulit
5. Avulsi
Kulit yang terpotong masih menggantung di bagian lainnya
6. Amputasi
Terpotongnya bagian tubuh

Berdasarkan pembuluh darah yang mengalami gangguan, perdarahan luar dibagi


menjadi :
1. Perdarahan nadi (Arteri)
Cirinya adalah darah berasal dari pembuluh nadi yang keluar dengan cara menyembur
sesuai dengan denyutan nadi dan berwarna merah terang karena masih kaya dengan
oksigen.
2. Perdarahan balik (Vena)
Cirinya adalah darah yang keluar dari pembuluh balik mengalir, berwarna merah
gelap. Meskipun terlihat banyak dan luas namun umumnya mudah dikendalikan.
3. Perdarahan rambut (Kapiler)
Cirinya adalah darah yang keluar merembes perlahan, karena sangat kecil dan hampir
tidak memiliki tekanan.

Perdarahan luar pada dasarnya dikendalikan dengan cara beriku ini :


1. Tekanan langsung
Tekanan langsung dilakukan tepat pada bagian luka. Jangan membuang waktu dengan
mencari penutup luka. Umumnya perdarahan akan berhenti 5-15 menit kemudian.
Beri penutup luka yang tebal pada tempat perdarahan. Bila belum berhenti dapat
ditambah penutup yang lain tanpa melepas penutup pertama.
2. Elevasi (dilakukan bersamaan dengan tekanan langsung)
Perdarahan ini hanya dilakukan untuk perdarahan di daerah alat gerak saja, yang
dilakukan bersamaan dengan tekanan langsung. Caranya adalah dengan meninggikan
anggota badan yang berdarah lebih tinggi dari jantung. Ini menyebabkan gaya tarik
bumi mengurangi tekanan darah, sehingga memperlambat perdarahan.
3. Cara lain yang dapat membantu menghentikan perdarahan. Cara lain yang dapat
digunakan untuk membantu menghentikan perdarahan adalah :
1. Immobilisasi dengan atau tanpa pembidaian
2. Kompress dingin
3. Torniket (hanya sebagai alternatif terakhir)
Torniket adalah alat yang digunakan untuk menutup seluruh aliran darah
pada alat gerak. Perdarahan hampir selalu dapat dihentikan dengan cara-
cara diatas, sehingga torniket tidak diperlukan. Keadaan yang mungkin
memerlukan torniket adalah amputasi dengan tepi yang tidak rata.
Kerugian penggunaan torniket adalah kematian jaringan distal torniket,
yang dapat mengakibatkan jaringan tersebut harus diamputasi.

2.1.2 Perdarahan Dalam (tertutup)


Perdarahan dalam sering disebabkan oleh benturan dengan benda tumpul.
Penyebab lainnya adalah terjatuh, kecelakaan kendaraan bermotor, ledakan dan
sebagainy. Mengingat perdarahan dalam tidak terlihat dan mungkin tersamar,
kecurigaan adanya perdarahan dalam harus dinilai dari pemeriksaan fisik lengkap.
Beberapa tanda perdarahan dalam dapat dilihat, yaitu :
1. Cedera pada bagian luar tubuh yang bisa menjadi petunjuk bagian dalam
juga cedera
2. Adanya memar disertai dengan nyeri pada tubuh, pembengkakan terutama
di atas alat tubuh penting
3. Nyeri, bengkak, perubahan bentuk pada alat gerak
4. Nyeri tekan atau kekakuan pada dinding perut, dinding perut membesar
5. Muntah darah
6. Buang air besar berdarah, baik darah segar maupun darah hitam seperti
kopi
7. Luka tusuk khususnya pada batang tubuh
8. Darah atau cairan mengalir keluar dari hidung atau telinga
9. Batuk darah
10. Buang air kecil campur darah
11. Adanya gejalan dan tanda-tanda shock

Penanganan penderita dengan perdarahan dalam dapat dilakukan dengan cara :


1. Penderita dibaringkan
2. Periksa dan pertahankan kondisi A-B-C
3. Penderita diberi oksigen, bila ada
4. Periksa nadi dan nafas secara berkala
5. Rawat penderita sebagai shock.
6. Jangan diberi makanan atau minuman

2.2 Penanganan Perdarahan


1. Perlindungan terhadap infeksi saat penanganan
a. Menggunakan alat pelindung diri seperti sarung tangan latex, masker
penolong, dan kacamata pelindung
b. Jangan menyentuh mulut, hidung, mata, dan makanan pada saat penanganan
c. Mencuci tangan setelah selesai penanganan
d. Buang bahan yang ternoda darah pada saat penanganan
2. Jika ada perdarahan besar, janganlah menyia-nyiakan waktu yang ada, cepat tangani
perdarahan sebelum korban kehabisan darah. Perhatikan tahapan untuk melakukan
penanganan berikut:

a. Jangan membuang waktu untuk mencari penutup luka.


b. Tekan luka langsung dengan jari atau telapak tangan (sebaiknya menggunakan
sarung tangan) atau dengan bahan lain.
c. Bila perdarahan tidak berhenti, maka tinggikan anggota tubuh yang cedera
(hanya pada alat gerak) hingga melebihi tinggi jantung untuk mengurangi
terjadinya kekurangan darah.
d. Jika perdarahan masih berlanjut, tekan pada titik tekan, yaitu arteri di atas
daerah yang mengalami perdarahan. Ada beberapa titik tekan, yaitu arteri
brakialis (arteri di lengan atas), arteri radialis (arteri di pergelangan tangan),
dan arteri femoralis (arteri di lipatan paha).
e. Pertahankan dan tekan cukup kuat.
f. Pasang pembalutan untuk menekan luka.
g. Jangan memindahkan korban jika belum memiliki pengetahuan mengenai
pemindahan korban, dan singkirkan benda-benda yang ada di sekitar korban
(khususnya yang membahayakan).

2.3 Shock Syndrome


Syok merupakan gangguan sistem sirkulasi yang disebabkan olehketidakseimbangan
antara volume darah dengan lumen pembuluh darahsehingga perfusi dan oksigenasi ke
jaringan tidak adekuat. Seseorang dikatakan syok bila terdapat ketidak cukupan perfusi
oksigen dan zat gizi ke sel- sel tubuh. Kegagalan memperbaiki perfusi menyebabkan
kematian sel yang progressif, gangguan fungsi organ dan akhirnya kematian penderita
(Boswick John. A, 1997,). Pada umumnya shock terjadi pada penderita yang mengalami
hemorrhage dan hypovolemia. Ada empat jenis shock berdasarkan penyebabnya, yaitu :
a) Low volume shock (absolut hypovolemia) karena hamorrhage atau kehilangan
cairan tubuh yang banyak. Kehilangan darah akibat cedera disebut dengan post
traumatic hemorrhage. Hemorrhage shock merupakan salah satu penyebab
kematian. Jika volume darahnya kurang maka pembuluh darah akan memberikan
signal kepada kelenjar adrenal dan sistem saraf simpatis untuk mensekresikan
cathecolamin yang dapat menyebabkan vasoconstriksi dan menyusutkan ukuran
aliran darah dan menjaga tekanan perfusion ke ke otak dan jantung. Jika jumlah
darah sangat kurang ukuran aliran darahnya tidak bisa disusutkan untuk menjaga
tekanan darah sehingga terjadi hypotensi.
b) High space shock (relative hypovolemia) karena cedera tulang belakang, syncope
(pingsan), cedera kepala yang parah, cedera vasomotorik karena hypoxia. Hal-hal
yang merusak sistem saraf simpatis yang menyebabkan vasocontriksi yang
normal sehingga aliran darah menjadi terlalu besar dari jumlah biasanya.
Meskipun beberapa tipe dari high space shock ( misal: overdosis obat), shock
spinal. Penderita dengan cedera kepala dan mengalami tekanan pada intracranial
biasanya mengalami hypertensi untuk menjaga perfusion cerebral, tetapi
vasodilatasi dan hypotensi tetap berkembang.
c) Mechanical (obstructive) shock karena kompresi pada perichardial atau tekanan
pada pneumothrax. Pada orang dewasa jantung memompa kurang lebih 5 liter
darah permenit. Artinya jantung harus mendapatkan sekitar 5 liter darah permenit
untuk dipompa keluar jantung. Oleh karena itu jika ada kondisi trauma yang
mengurangi jumlah darah ke jantung yang dapat menyebabkan shock karena
menurunkan output jantung dan pengiriman oksigen ke jaringan. Dibawah ini ada
beberapa kondisi trauma yang dapat menyebabkan mechanical shock :
1. Tekanan pada pneumothrax (karena tekanan udara tinggi)
2. Cardiac atau pericardial tamponed (ketika darah keluar di sekitar
jantung), sehingga menekan jantung, akibatnya jantung tidak bisa
memompa dengan baik. Pericardial tamponed terjadi lebih dari 75
persen kasus tertusuk pada cedera jantung. Hindari melakukan
intervensi pada kasus ini karena akan menyebabkan kematian. Operasi
adalah salah satu cara yang paling aman.
3. Memar pada myocardia (berkurangnya output jantung karena jantung
tidak memompa karena cedera)
d) Hypoxemic shock karena kegagalan nafas akibat cedera paru atau obstructive
pada airway-nya. Terjadi ketika mengambil napas panjang, memar pada paru-
paru, pneumothorax, obstructive pada airway, atau pemberian ventilasi yang tidak
cukup, paru-paru gagal mengirimkan oksigen yang cukup dalam darah. Ketika
terjadi disfungsi paru-paru kejadian yang umum karena hypoximia, cedera tulang
belakang, ventilasi yang tidak memadai, kejadian pre-disposing (misal: stroke),
gangguan pada airway, pneumothorax, diafragma, atau penyebab lain harus
diperhatikan.

Sedangkan menurut Isselbacher, dkk, (1999) syok berdasarkan penyebabnya dapat


dibedakan menjadi :
1. Syok Hipovolemik atau oligemik
Perdarahan dan kehilangan cairan yang banyak akibat sekunder dari muntah, diare,
luka bakar, atau dehidrasi menyebabkan pengisian ventrikel tidak adekuat, seperti
penurunan preload berat, direfleksikan pada penurunan volume, dan tekanan end
diastolic ventrikel kanan dan kiri. Perubahan ini yang menyebabkan syok dengan
menimbulkan isi sekuncup (stroke volume) dan curah jantung yang tidak adekuat.

2. Syok Kardiogenik
Syok kardiogenik ini akibat depresi berat kerja jantung sistolik. Tekanan arteri sistolik
< 80 mmHg, indeks jantung berkurang di bawah 1,8 L/menit/ m2, dan tekanan
pengisian ventrikel kiri meningkat. Pasien sering tampak tidak berdaya, pengeluaran
urin kurang dari 20 ml/ jam, ekstremitas dingin dan sianotik. Penyebab paling sering
adalah 40% lebih karena miokard infark ventrikel kiri, yang menyebabkan penurunan
kontraktilitas ventrikel kiri yang berat, dan kegagalan pompa ventrikel kiri. Penyebab
lainnya miokarditis akut dan depresi kontraktilitas miokard setelah henti jantung dan
pembedahan jantung yang lama. Bentuk lain bisa karena gangguan mekanis ventrikel.
Regurgitasi aorta atau mitral akut, biasanya disebabkan oleh infark miokard akut,
dapat menyebabkan penurunan yang berat pada curah jantung forward (aliran darah
keluar melalui katub aorta ke dalam sirkulasi arteri sistemik) dan karenanya
menyebabkan syok kardiogenik.

3. Syok Obstruktif Ekstra Kardiak


Syok ini merupakan ketidakmampuan ventrikel untuk mengisi selama diastole,
sehingga secara nyata menurunkan volume sekuncup (Stroke Volume) dan
berakhirnya curah jantung. Penyebab lain bisa karena emboli paru masif.

4. Syok Distributif
Bentuk syok septic, syok neurogenik, syok anafilaktik yang menyebabkan penurunan
tajam pada resistensi vaskuler perifer. Patogenesis syok septic merupakan gangguan
kedua system vaskuler perifer dan jantung.

2.3.1 Penanganan Syok


1. Posisi Tubuh
a. Posisi tubuh penderita diletakkan berdasarkan letak luka. Secara umum posisi
penderita dibaringkan telentang dengan tujuan meningkatkan aliran darah ke
organ-organ vital.
b. Apabila terdapat trauma pada leher dan tulang belakang, penderita jangan
digerakkan sampai persiapan transportasi selesai, kecuali untuk menghindari
terjadinya luka yang lebih parah atau untuk memberikan pertolongan pertama
seperti pertolongan untuk membebaskan jalan napas.
c. Penderita yang mengalami luka parah pada bagian bawah muka, atau penderita
tidak sadar, harus dibaringkan pada salah satu sisi tubuh (berbaring miring)
untuk memudahkan cairan keluar dari rongga mulut dan untuk menghindari
sumbatan jalan nafas oleh muntah atau darah. Penanganan yang sangat penting
adalah meyakinkan bahwa saluran nafas tetap terbuka untuk menghindari
terjadinya asfiksia.
d. Penderita dengan luka pada kepala dapat dibaringkan telentang datar atau kepala
agak ditinggikan. Tidak dibenarkan posisi kepala lebih rendah dari bagian tubuh
lainnya.
e. Kalau masih ragu tentang posisi luka penderita, sebaiknya penderita dibaringkan
dengan posisi telentang datar. (Alexander RH, Proctor H J. Shock 1993)

2. Pertahankan Respirasi
a. Bebaskan jalan napas. Lakukan penghisapan, bila ada sekresi atau
muntah.
b. Tengadah kepala-topang dagu, kalau perlu pasang alat bantu jalan
nafas (Gudel/oropharingeal airway).
c. Berikan oksigen 6 liter/menit
d. Bila pernapasan/ventilasi tidak adekuat, berikan oksigen dengan
pompa sungkup (Ambu bag) atau ETT.
3. Pertahankan Sirkulasi
Segera pasang infus intravena. Bisa lebih dari satu infus. Pantau nadi, tekanan
darah, warna kulit, isi vena, produksi urin, dan (CVP).

2.4 Cedera Jaringan Lunak


Cedera jaringan lunak adalah cedera yang melibatkan jaringan kulit, otot, saraf atau
pembuluh darah akibat ruda paksa (benturan dengan suatu benda). Dalam bahasa sehari-
hari cedera jaringan lunak dikenal sebagai istilah luka. Luka adalah terputusnya keutuhan
jaringan lunak baik di luar maupun di dalam tubuh. Beberapa komplikasi yang dapat
terjadi adalah pendarahan, kelumpuhan dan lainnya sesuai dengan luasnya dan jaringan
lunak yang terkena.
2.4.1 Klasifikasi Luka
Berdasarkan keterlibatan jaringan kulit, maka luka dibagi menjadi 2 yaitu :
1. Luka Terbuka
Cedera jaringan lunak yang disertai kerusakan/ terputusnya jaringan kulit
atau selaput lendir, yaitu rusaknya kulit dan bisa disertai jaringan di bawah kulit.
Jenis-jenis dari luka terbuka adalah sebagai berikut :
a. Luka Lecet
 Terjadi akibat gesekan, sehinga permukaan kulit (epidermis) terkelupas,
mungkin tampak titik-titik perdarahan.
 Kadang-kadang sangat nyeri karena ujung-ujung saraf juga cedera karena
terbuka.
 Tepi luka tidak teratur.

b. Luka Sayat/iris
1. Terjadi akibat kontak dengan benda tajam.
2. Jaringan kulit dan lapisan dibawahnya terputus sampai kedalaman yang
bervariasi.
3. Tepi luka teratur
Gambar 2.1 Luka Sayat/Iris

Penanganan luka sayat/ iris :


1. Bersihkan luka dan mengobatinya dengan povidone iodine.
2. Balut dengan plester apabila perdarahan dari pembuluh rambut (kapiler).

c. Luka Robek
 Akibat benturan keras dengan benda tumpul.
 Karakteristik luka hampir sama seperti luka sayat, perbedaannya terletak pada
tepi luka yang tidak teratur.
 Seperti luka lecet tetapi lebih dalam dari luka lecet.
 Jika terkena pembuluh darah besar sulit dikendalikan

Gambar 2.2 Luka Robek

Penanganan luka robek :


a. Bersihkan luka, aliri dengan air yang mengalir.
b. Bila terjadi perdarahan hentikan dengan balut tekan.
c. Usahakan menghindari luka terkena kotoran agar tidak terjadi infeksi.
d. Berikan povidone iodine pada luka.
e. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

d. Luka Tusuk
1. Terjadi akibat masuknya benda tajam dan runcing melalui kulit dalam tubuh.
2. Ciri khasnya adalah luka relatif lebih dalam dibandingkan dengan lebarnya.
3. Luka jenis ini sangat berbahaya karena dapat melibatkan alat-alat dalam tubuh.
4. Bentuk luka hampir menyerupai benda yang menusuk dengan dalam luka lebih
panjang dari lebar luka.

Gambar 2.3 Luka Tusuk

Perawatan luka tusuk :


 Tenangkan penderita yang sadar.
 Periksa ada tidaknya luka tusuk keluar (luka tembus).
 Hentikan perdarahan.
 Imobilisasi tulang punggung bila luka terjadi pada daerah kepala, leher dan
batang tubuh.
e) Rujuk ke fasilitas kesehatan

e. Luka Sobek
 Sama seperti luka robek tetapi jaringan tubuh tidak terlepas dan masih
menempel membentuk lembaran gantung yang dikenal sebagai istilah “flap”.
Hal ini terjadi akibat kulit dan sedikit lapisan di bawahnya terkelupas.

Penanganan luka sobek (avulsi) :


1. Bersihkan luka sambil mengalirinya dengan air yang mengalir.
2. Jangan memotong bagian kulit yang masih.
3. Beri povidone iodine.
4. Balut dengan kasa steril
5. Bila terjadi pendarahan dan terjadi pada alat gerak letakkan lebih tinggi
dari pada jantung.
6. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

f. Amputasi
 Luka terbuka dengan jaringan tubuh terpisah
 Paling sering terjadi pada alat gerak, mulai dari jari, sampai kehilangan
seluruh anggota gerak (tubuh).

Perawatan luka amputasi selain perawatan penderita, alat tubuh yang terputus
juga perlu mendapat perawatan. Berikut beberapa pedoman perawatan bagian
yang putus :
1. Bungkus bagian yang terputus dengan kasa steril yang dilembabkan.
2. Masukkan bagian itu dalam kantung plastik. Tuliskan nama penderita serta
jam dan tanggal bagian ini dimasukkan. Jangan rendam bagian ini dalam air.
3. Usahakan bagian yang terputus ini tetap dingin dengan cara memasukkan
kantung yang berisi potongan tersebut dalam kantung yang lebih besar, atau
tempat lain yang sudah berisi air atau es. Hindari sentuhan langsung bagian
yang putus ini dengan es.
Perawatan penderita pada dasarnya sama seperti luka terbuka, yang paling
penting dilakukan adalah menghentikan perdarahan. Umumnya pembalutan
penekanan sudah cukup.
g. Cedera remuk
 Dapat berupa suatu gabungan antara luka terbuka dan tertutup.
 Terjadi akibat alat gerak terjepit alat gerak
 Jaringan lunak dan jaringan keras seperti tulang dapat terlihat

Penanganan cedera remuk :


1.Bersihkan luka.
2.Balut dengan kasa steril atau mitela.
3.Gunakan bidai untuk menjaga bagian yang remuk.
4.Bila terjadi perdarahan dan terjadi pada alat gerak tinggikan dari pada
jantung.
5.Rujuk ke fasilitas kesehatan.

2. Luka Tertutup
Cedera jaringan lunak tanpa kerusakan/ terputusnya jaringan kulit yang
rusak hanya jaringan di bawah kulit. Jenis-jenis dari luka tertutp adalah sebagai
berikut :
a. Memar
Merupakan luka tertutup yang paling sering ditemukan. Terjadi akibat benturan
dengan benda tumpul. Lapisan epidermis kulit utuh, tetapi sel dan pembuluh
darah pada lapisan dermis rusak. Pada daerah luka terdapat bengkak dan perubahan
warna.
Gejala-gejala :
 Nyeri
 Bengkak
 Nyeri tekan

Gambar 2.4 memar

b. Hematoma
Penumpukan darah hampir selalu terjadi pada daerah yang cedera atau dalam
rongga tubuh. Hematoma berbeda dengan memar, luas area penumpukan darah
lebih luas, kerusakan jaringan lebih luas, pembuluh darah yang terlihat lebih besar,
dan darah lebih banyak yang keluar.
c. Cedera remuk
Terjadi akibat himpitan gaya yang amat besar yang dapat menyebabkan remuk
pada jaringan tulang dan kehancuan jaringan bawah kulit lainnya. Cedera remuk
dapat berupa luka terbuka maupun luka tertutup. Penanganan :
1. Gunakan bidai untuk menjaga bagian yang remuk.
2. Rujuk ke fasilitas kesehatan.

2.5 Penutup Luka


Penutup luka adalah bahan yang diletakkan tepat di atas luka. Dalam keadaan darurat
semua bahan yang relatif bersih dapat dimanfaatkan sebagai penutup luka, menggunakan
bahan dengan daya serap baik dan cukup besar. Penutup luka sebaiknya memiliki ciri-ciri
berikut :
a. Bahan bersifat menyerap.
b. Menutupi seluruh bagian luka
c. Relatif bersih
d. Jangan menggunakan bahan atau bagian dari bahan yang dapat tertinggal pada luka
(tisue, kapas).
e. Berfungsi untuk mengendalikan perdarahan, mencegah kontaminasi, mempercepat
penyembuhan, dan mengurangi rasa nyeri.

2.5.1 Jenis-jenis penutup luka :


a. Penutup Luka Oklusif (Kedap)
Bahan kedap air dan udara yang dipakai pada luka untuk mencegah keluar
masuknya udara dan menjaga kelembaban organ dalam.
b. Penutup Luka Tebal/ Bulky Dressing (Bantalan Penutup Luka)
Setumpuk bahan penutup luka setebal kurang lebih 2-3 cm.
c. Pembalut
Pembalut adalah bagian yang digunakan untuk mempertahankan penutup luka.
Bahan pembalut dibuat dari bermacam materi kain.
Fungsi pembalut :
1.Penekanan membantu menghentikan perdarahan.
2.Mempertahankan penutup luka pada tempatnya.
3.Menjadi penopang untuk bagian tubuh yang cedera. Pemasangan yang baik akan
membantu proses penyembuhan
Beberapa jenis pembalut :
1.Pembalut pita/ gulung
2.Pembalut segitiga (mitela)
3.Pembalut tabung/ tubuler
4.Pembalut penekan

Macam-macam pembalutan :
1. Pembalutan segitiga pada kepala, kening.
2. Pembalutan segitiga untuk ujung tangan atau kaki.
3. Pembungkus segitiga untuk membuat gendungan tangan.
4. Membalut telapak tangan dengan pembalut dasi.
5. Pembalutan spiral pada tangan.
6. Pembalutan dengan perban membentuk angka 8 ke tangan atau
pergelangan tangan yang cidera.



Gambar 2.5 Pembalutan

2.6 Pedoman Penutup Luka dan Pembalutan


2.6.1 penutup luka :
 Penutup luka harus meliputi seluruh permukaan luka
 Upayakan permukaan luka sebersih mungkin sebelum menutup luka.
 Pemasangan penutup luka harus dilakukan sedemikian rupa sehingga permukaan
penutup yang menempel pada bagian luka tidak terkontaminasi.

2.6.2 pembalutan :
 Jangan membalut terlalu kencang atau terlalu longgar.
 Jangan biarkan ujung sisa terurai.
 Bila membalut luka yang kecil sebaiknya daerah pembalutan diperlebar agar
memperluas daerah tekanan, hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya
kerusakan jaringan.
Prinsip pembalutan :
 Jangan memasang pembalut sampai perdarahan berhenti, kecuali
pembalut penekanan untuk menghentikan perdarahan.
 Jangan membalut terlalu kencang atau terlalu longgar.
 Jangan biarkan ujung sisa terurai.
 Bila membalut luka yang kecil sebaiknya daerah yang dibalut agak
luas untuk daya tekanan diperluas sehingga tidak merusak jaringan.
 Jangan menutupi ujung jari.
 Balut dari arah dasar ke atas mengarah ke arah jantung khusus untuk
anggota gerak.
 Lakukan pembalutan dalam posisi yang diinginkan, misalnya untuk
pembalutan sendi jangan berusaha menekuk sendi bila dibalut dalam
keadaan lurus.
 Kerapihan walau tidak merupakan syarat utama namun baik untuk
menimbulkan kesan profesional.

 
BAB 3
METODOLOGI PRAKTIKUM

3.1 Peralatan
1. Jam tangan dengan penunjuk detik yang jelas atau stopwatch
2. Senter kecil
3. Stetoskop
4. Tensimeter atau stigmomanometer (pengukur tekanan darah)
5. Alat tulis untuk mencatat
6. Termometer badan
Peralatan untuk penanganan :

1. Pembalut (gulung, mitella, rekat, tekan, donat)


2. Antiseptik
3. Torniket (jika terpaksa)
4. Selimut
5. Kasa steril
6. Tabung oksigen (jika ada)
7. Plastik bersih

3.2 Prosedur Kerja


1. Melakukan penilaian pada penderita dengan perdarahan.
2. Menekan dengan menggunakan kain bersih, tepat di atas luka.
3. Melakukan elevasi, jika yang terluka adalah bagian ekstremitas.
4. Memberi oksigen jika ada.
5. Jika perdarahan sudah berhenti, membalut dengan pembalut gulung/ mitella/
tekan, tanpa menghilangkan kain bersih yang dipakai untuk menekan.
6. Memberi selimut dan meninggikan daerah kaki, jika dicurigai shock.
7. Jika luka tusuk dengan alat tusuk masih menancap, memberi pembalut
“donat”. Jangan mencabut benda yang menancap. Mengusahakan balutan stabil.
BAB 4
ANALISA DAN PEMBAHASAN

4.1 Contoh Kasus


Sebuah kecelakaan tunggal terjadi di jalan tol Mojokerto-Kertosono, Jombang sekitar
pukul 21.30 WIB, Rabu (17/1). Kecelakaan ini melibatkan mobil sedan nopol L xxxx NW,
yang melaju kencang dari arah Mojokerto. Mobil yang dikemudikan Ahmad (35) kehilangan
kendali akibat pecah ban dan menabrak pembatas jalan tol, akibatnya korban mengalami luka
remuk pada bagian kaki kanan akibat terjepit body mobil serta luka tusuk pada kaki kanan
akibat tertusuk besi bagian dari kerangka mobil dan luka lecet pada bagian kepala.
4.2 Pembahasan
1. Penanganan
Memindahkan korban ke tempat yang aman dan terbuka. Korban dalam keadaan sadar
dengan respon suara, korban sanggup menjawab pertanyaan yang disampaikan
penolong.
2. Penilaian Keadaan
Memastikan penolong dan korban dalam lokasi yang aman, kemudian memanggil
saksi. Karena lokasi tepat di jalan tol sehingga peralatan pertolongan kurang
memadai. Kondisi kaki kanan korban yang remuk indikasi amputasi
3. Penilaian Dini
Kasus yang dialami korban adalah kasus trauma karena mengalami kecelakaan, tetapi
korban sadar sepenuhnya. Segera memanggil bantuan.
4. Pemeriksaan fisik
Dari hasil pemeriksaan korban mengalami perubahan bentuk tubuh pada bagian kaki
kanan yaitu remuk, kemudian terdapat luka tusukan pada bagian kaki kiri dan luka
lecet pada dahi.
 Penanganan cedera
Penanganan cedera ini bertujuan agar perdarahan yang dialami oleh penderita
dapat dikendalikan sehingga korban tidak kehilangan banyak darah, serta
memastikan kondisi kain yang digunakan untuk membalut dalam kondisi
relatif bersih, pada kasus ini kain yang digunakan untuk membalut yaitu
baju/kaos yang dikenakan penolong serta kain-kain yang terdapat pada mobil
penolong karena tidak ada mitella. Masing – masing cedera/luka yang dialami
korban ditangani dengan metode yang berbeda. Pada luka remuk dan indikasi
amputasi mendapatkan prioritas penanganan yang paling pertama yaitu dengan
melakukan torniket pada bagian atas cedera remuk. Kemudian menangani luka
tusuk pada korban yang diakibatkan karena tertusuk benda (besi) yang
merupakan bagian dari kerangka mobil yang remuk, metode yang digunakan
yaitu dengan pembalutan berbentuk donat yang kemudian dibalut kembali
dengan kain agar benda yang menancap tidak bergoyang dan tetap stabil.
Selanjutnta yang terakhir menangani luka lecet pada kepala korban, luka lecet
ditangani paling akhir karena tidak terlalu parah.
 Pemeriksaan tanda vital
Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi nafas, denyut nadi, dan
tekanan darah. Dari hasil pemeriksaan, frekuensi pernafasan korban yaitu
10kali/menit, kemudian frekuensi denyut nadi 45kali/menit, dan untuk tekanan
darah 70/50 mmHg.

5. Riwayat penderita
Riwayat penderita dilakukan untuk mengetahui informasi sebanyak mungkin untuk
mengetahui penyebab-penyebab kejadian. Karena korban sadar sepenuhnya maka
wawancara dilakukan langsung kepada korban yaitu dengan menanyakan keluhan,
obat-obatan yang diminum, makanan dan minuman terakhir, penyaakit yang diderita,
alergi, serta kejadian. Hasil dari wawancara berdasarkan pengakuan korban, korban
tidak ada riwayat penyakit yang diderita maupun keluhan-keluhan penyakit yang lain.
Pada saat kejadian korban melaju dengan kencang dan ban depan kanan mobil pecah
sehingga menabrak pembatas jalan tol.

6. Evaluasi dan Pemeriksaan Berkala


Evaluasi dilakukan untuk menghindari ada bagian dari pemeriksaan yang terlewatkan.
Kemudian dievaluasi apakah korban memerlukan pemeriksaan berlanjutan. Pada
kasus ini korban memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan.

7. Pelaporan
Pelaporan dilakukan untuk memberikan informasi kepada penolong selanjutnya
sehingga mengetahui cedera mana yang perlu dilakukan tindakan utama. Pelaporan
berisi tentang informasi tentang umur korban, jenis kelamin, keluhan utama, tingkat
respon, keadaan jalan nafas, sirkulasi, pernafasan, serta hasil pemeriksaan fisik yang
penting.
4.3 Hasil Pemerikaan
1. Penilaian dini :
 Kasus : Trauma
 Respon : Suara
 Circulation : Ada
 Airway : Normal
 Breathing : Lemah
2. Pemeriksaan fisik :
Terdapat 3 luka pada tubuh korban, mulai dari luka lecet pada bagian kepala, luka
tusuk pada bagian kaki kiri korban dan luka remuk pada bagian kaki kanan korban.
3. Pemeriksaan tanda vital :
 Denyut nadi : 45kali/menit
 Pernafasan : 10kali/menit
 Tekanan darah : 70/50 mmHg.
 Kulit : kering
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Korban bernama Ahmad dengan umur 35 th mengalami kecelakaan mobil pada Rabu
(17/1), 2018. Korban mengalami kasus trauma karena mengalami kecelakaan dengan
menabrak pembatas jalan tol saat mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Korban masih
sanggup merespon saat diberi respon suara. Untuk circulation dan airway korban dalam
keadaan ada dan normal, sedangkan untuk breathing dalam keadaan lemah yaitu 10x/menit,
denyut nadi 45x/menit, tekanan darah sistol dan diastol 70/50mmHg. Untuk pemeriksaan
fisik pada korban terdapat 3 luka yaitu luka remuk, luka tusuk, dan luka lecet. Luka remuk
pada bagian kaki kanan korban terancam amputasi, sedangkan luka tusuk dan lecet
mendapatkan penanganan berupa pembalutan dan pembalutan donat pada luka tusuk.
5.2 Saran
1. Dalam melakukan pemeriksaan pada korban diperlukan ketelitian yang tinggi agar
tidak ada bagian yang terlewatkan
2. Melakukan dengan tenang dan tidak terburu-buru agar mendapat hasil maksimal
DAFTAR PUSTAKA

Alexander R H, P. H. (1993). Advanced Trauma Life Support Course for Physicians.USA.


Dewi, E. (2010). Kegawatdaruratan Syok Hipovolemik.
Diantoro, D. G. (2014). Syok Hipovolemik. RSUD Margono.
Isselbacher, e. a. (1999). Prinsip- prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: egc.
Lupy, I. K. (t.thn.). HUBUNGAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG SYOK
HIPOVOLEMIK DENGAN PENATALAKSANAAN AWAL PASIEN DI INSTALASI
GAWAT DARURAT RSUP PROF. DR. R. D. KANDOU MANADO.

Anda mungkin juga menyukai