Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Tujuan pembangunan kesehatan menuju Indonesia sehat adalah

meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup bagi setia orang

agar terwujudnya kesehatan masyarakat yang optimal. Menurut Hendrik L

Blum derajat kesehatan masyarakat di pengaruhi oleh empat faktor yaitu

lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Berdasarkan

keempat faktor tersebut yang paling besar mempengaruhi derajat kesehatan

masyarakat adalah faktor lingkungan dan perilaku (Notoadmojo, 2002).

Tuberkulosis (TB) adalah suatu penyakit infeksi menular yang

disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, yang biasanya

menyerang paru-paru (TB paru) namun dapat juga menyerang organ lain (TB

ekstra pulmoner. Penyakit ini bila tidak diobati atau pengobatannya tidak

tuntas dapat menimbulkan komplikasi berbahaya hingga kematian (InfoDatin,

2016).

World Health Organization (WHO) dalam Global Tuberkulosis Report

2017 menyatakan TB menempati urutan kesembilan sebagai penyebab utama

kematian akibat penyakit menular di seluruh dunia. Perkiraan terakhir yang

termasuk dalam laporan ini adalah bahwa ada 10,4 juta kasus TB baru pada

tahun 2016. 56% nya berada di lima negara yaitu India, Indonesia, Cina,

Filipina dan Pakistan.

1
2

Jumlah kasus TB di Indonesia menurut Laporan WHO tahun 2015,

diperkirakan ada 1 juta kasus TB baru pertahun (399 per 100.000 penduduk)

dengan 100.000 kematian pertahun (41 per 100.000 penduduk). (Kemenkes,

2016)

Data Dinas kesehatan Sulawesi Tenggara pada tahun 2016 ditemukan

3.268 kasus baru basil tahan asam positif (BTA+), penemuan kasus baru

tertinggi yang dilaporkan masih berasal dari 3 kabupaten yaitu Kabupaten

Muna, Konawe dan Kota Kendari. Jumlah kasus baru di tiga kabupaten

tersebut mencapai ˃50% dari keseluruhan kasus baru BTA+ di Sulawesi

Tenggara. Upaya yang dilakukan untuk mengendalikan kasus baru BTA+

tersebut adalah dengan pengobatan setelah penemuan kasus (Dinkes Sultra,

2016).

Pada tahun 2016 kasus baru BTA+ di Kota Kendari cukup tinggi

menempati urutan ke-2 sebagai penyumbang kasus baru BTA+ terbanyak di

Sulawesi Tenggara setelah Kabupaten Muna. Jumlah kasus baru BTA+

sebanyak 583 kasus, meningkat bila dibandingkan kasus baru BTA+ yang

ditemukan tahun 2015 yang sebesar 545 kasus. Jumlah kasus tertinggi yang

dilaporkan terdapat di Puskesmas Kemaraya dan Puskesmas Puuwatu. Kasus

baru BTA+ di dua puskesmas tersebut sebesar 50% dari jumlah seluruh kasus

baru di Kota Kendari (Dinkes Kota Kendari, 2016).

Data profil Puskesmas Puuwatu pada tahun 2016, tersangka penderita

(suspek) yang diperiksa dahaknya sebanyak 459 orang. Sedangkan BTA+


3

yang ditemukan sebanyak 83 orang, dan penderita BTA (-) yang gambaran

radiologik (+) sebanyak 13 orang.

Hasil survei terhadap keluarga pasien TB pada tahun 2004 mengenai

pengetahuan, sikap dan perilaku menunjukkan bahwa 96% keluarga merawat

anggota keluarga yang menderita TB dan hanya 13% yang tidak merawat

anggota keluarga yang menderita TB. Meskipun 76% keluarga pernah

mendengar tentang TB dan 85% mengetahui bahwa TB dapat disembuhkan,

akan tetapi hanya 26% yang dapat menyebutkan dua tanda dan gejala utama

TB. Cara penularan TB dipahami oleh 51% keluarga dan hanya 19% yang

mengetahui bahwa tersedia obat TB gratis. Hal ini mununjukan bahwa

pengetahuan masyarakat tentang gejala, cara penularan dan dan pengobatan

penyakit TB masih kurang (Kemenkes, 2011).

Keberhasilan pengobatan TB Paru sangat ditentukan oleh keteraturan

minum obat anti tuberkulosis. Hal ini dapat dicapai dengan adanya peran

pengawas menelan obat (PMO). PMO sangat penting untuk mendampingi

penderita agar dicapai hasil yang optimal. Kolaborasi petugas kesehatan

dengan keluarga yang ditunjuk untuk mendampingi sebagai PMO juga perlu

dievaluasi untuk menentukan tingkat keberhasilan dalam pengobatan (Ulfa,

2016).

Penelitian yang di lakukan Permatasari (2015) menunjukkan bahwa

terdapat hubungan tingkat pengetahuan pengawas menelan obat (PMO)

dengan tingkat keberhasilan pengobatan tuberculosis (TBC) di wilayah kerja

Puskesmas Kartasura dan juga penelitian yang di lakukan Reni (2010)


4

menunjukan bahwa ada hubungan yang signifikan dukungan sosial keluarga

dengan tingkat kesembuhan TB paru di Puskesmas Umbulharjo II

Yogyakarta. Hal ini dikarenakan penderita merasa dihargai, dicintai,

dibutuhkan, di kuatkan dan diperhatikan oleh keluarganya sehingga menjadi

sumber kekuatan dan dukungan bagi penderita untuk sembuh apalagi di

tunjang dengan pengobatan yang baik dan teratur sehingga sebagian besar

responden sembuh dengan cepat karena mendapatkan dukungan sosial yang

baik dari keluarga.

Berdasarkan hal tersebut dan masih tingginya angka kejadian TB di

Kota Kendari maka peneliti tertarik untuk ingin mengetahui apakah terdapat

hubungan tingkat pengetahuan dan sikap keluarga terhadap kesembuhan

pasien tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis merumuskan

masalah yaitu :

1. Apakah terdapat hubungan antara pengetahuan PMO terhadap

kesembuhan pasien TB ?

2. Apakah terdapat hubungan antara sikap PMO terhadap kesembuhan

pasien TB ?

C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum.

a. Mengetahui apakah ada hubungan antara pengetahuan PMO dengan

kesembuhan pasien TB di wilayah Puskesmas Puuwatu.


5

b. Mengetahui apakah ada hubungan antara sikap PMO dengan

kesembuhan pasien TB di wilayah Puskesmas Puuwatu.

2. Tujuan Khusus

a. Mendeskripsikan tingkat pengetahuan PMO di wilayah Puskesmas

Puuwatu.

b. Mendeskripsikan sikap PMO di wilayah Puskesmas Puuwatu.

c. Menganalisis hubungan tingkat pengetahuan dan sikap PMO terhadap

kesembuhan pasien TB di wilayah Puskesmas Puuwatu.

D. Manfaat Penelitian

1. Manfaat Teoritis

Dapat memberikan gambaran tingkat pengetahuan dan sikap PMO

pasien Tuberkulosis di wilayah kerja Puskesmas Puuwatu.

2. Manfaat Praktis

a. Memperoleh informasi tentang hubungan tingkat pengetahuan dan

sikap PMO terhadap kesembuhan pasien Tuberkulosis di wilayah kerja

Puskesmas Puuwatu.

b. Diharapkan dapat menjadi masukan bagi peneliti lain dalam

memperoleh informasi tentang hubungan antara pengetahuan dan sikap

PMO terhadap kesembuhan pasien TB.

c. Dapat menjadi masukan bagi Dinas Kesehatan dan puskesmas untuk

mengevaluasi dan meningkatkan peran PMO pasien tuberkulosis dalam

kesembuhan pasien.