Anda di halaman 1dari 146

ISSN 0853 – 0203 STT NO.

1541/SK/DITJEN PPG/STT/1990

VISI
Volume 26 Nomor 1 Februari 2018

The Analysis Of Basic Sentence Patterns Inwriting Used By


The First Semester Student In English Department Of
Nommensen HKBP University Academic Year 2017/2018
Fenty Debora Napitupulu
Pengaruh Sosialisasi Perpajakan, Pengetahuan Perpajakan
Dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
Yang Melakukan Pekerjaan Bebas Pada KPP Pratama Medan Timur
Magdalena Judika Siringoringo
Analisis Materi Pengajaran Guru Sekolah Minggu HKBP Tahun 2017
Terhadap Pertumbuhan Iman Anak-anak Di HKBP Petra Pematangsiantar
Sunggul Pasaribu, M.Pd.K
Analisis Perencanaan Penganggaran Program Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
Terhadap Pencapaian MDGS di Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2015
Mawaddah, SKM.,M.Kes
Analisis Faktor Yang Berhubungan dengan Rendahnya Pemberian Imunisasi DPT
di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan
Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016
Nikmah Choiriah Parinduri, SST.,M.Kes
Pengaplikasian Media Pembelajaran Berbahasa Mandarin Berpengaruh Pada
Pengucapan Serta Pelafalan Pada Anak TK Wiyata Dharma Medan
Chyntia Hualangi, S.Kom.,MTCSOL
Minat Belajar Bahasa Mandarin di Era Globalisasi
Darmawan Wijaya, S.S.,MTCSOL
The Effect of Using Small Group Work Technique on Students’Reading
Comprehension at The First Semester of English Department Students
Nenni Trianan Sinaga

Majalah Ilmiah
Universitas HKBP Nommensen
VISI
Majalah Ilmiah
Universitas HKBP Nommensen

Izin Penerbitan dari Departemen Penerangan Republik Indonesia


STT No. 1541/SK/DITJEN PPG/STT/1990
7 Pebruari 1990

Penerbit: Universitas HKBP Nomensen


Penanggungjawab: Rektor
Wakil Rektor I
Ketua Pengarah: Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Masyarakat
Ketua Penyunting: Dr. Janpatar Simamora, SH.,MH

Anggota Penyunting: Ir. Rosnawyta Simanjuntak, MP


Prof. Dr. Sanggam Siahaan, M.Hum
Dr. Herlina Manullang, SH.,MH
Prof. Dr. Hasan Sitorus, MS
Dr. Drs. Sihol Nababan, M.Si
Ance Juliet Panggabean, S.Sn.,M.Sn
Dr. Sindak Hutauruk, MSEE
Dr. Drs. Marlan Hutahaean, M.Si
Dr. Leo Simanjuntak, SpOg
Pdt. Sahat Siburian, M.Si
Lay out: Alida Simanjuntak, S.Pd
Tata Usaha: Ronauli Panjaitan, A.Md

Alamat Redaksi:
Majalah Ilmiah “VISI”
Universitas HKBP Nommensen
Jalan Sutomo No.4A Medan 20234
Sumatera Utara – Medan
Majalah ini diterbitkan tiga kali setahun: Pebruari, Juni dan Oktober
Biaya langganan satu tahun untuk wilayah Indonesia
Rp 30.000 dan US$ 5 untuk pelanggan luar negeri (tidak termasuk ongkos kirim)
Biaya langganan dikirim dengan pos wesel, yang ditujukan kepada Pimimpin Redaksi

Petunjuk penulisan naskah dicantumkan pada halaman dalam


Sampul belakang majalah ini
E-mail : visi @ yahoo.co.id
ISSN 0853 – 0203 STT NO. 1541/SK/DITJEN PPG/STT/1990

____ ___________________________________________ VISI--


Volume 26 Nomor 1 Februari 2018
____________________________________________________________________________________________

Fenty Debora The Analysis Of Basic Sentence Patterns 3379-3395


Napitupulu Inwriting Used By The First Semester Student In
English Department Of Nommensen HKBP
University Academic Year 2017/2018

Magdalena Judika Pengaruh Sosialisasi Perpajakan, Pengetahuan 3396-3421


Siringoringo Perpajakan Dan Sanksi Pajak Terhadap
Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi Yang
Melakukan Pekerjaan Bebas Pada KPP Pratama
Medan Timur

Sunggul Pasaribu, Analisis Materi Pengajaran Guru Sekolah 3422-3443


M.PdK Minggu HKBP Tahun 2017 Terhadap
Pertumbuhan Iman Anak-anak Di HKBP Petra
Pematangsiantar

Mawaddah, SKM.,M.kes Analisis Perencanaan Penganggaran Program 3444-3460


Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) Terhadap
Pencapaian MDGS di Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2015

Analisis Faktor Yang Berhubungan dengan


Nikmah Choiriah 3461-3477
Rendahnya Pemberian Imunisasi DPT di Desa
Parinduri, SST.,M.Kes
Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan
Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016

Cyntia Hualangi, Pengaplikasian Media Pembelajaran Berbahasa 3478-3489


S.Kom.,MTCSOL Mandarin Berpengaruh Pada Pengucapan Serta
Pelafalan Pada Anak TK Wiyata Dharma Medan

Minat Belajar Bahasa Mandarin di Era


Darmawan Wijaya, 3490-3497
Globalisasi
S.S.,MTCSOL
Nenni Triana Sinaga The Effect of Using Small Group Work 3498-3520
Technique on Students’Reading Comprehension
at The First Semester of English Department
Students

Majalah Ilmiah
Universitas HKBP Nommensen
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, oleh kasih dan ridhoNya majalah
ilmiah Universitas HKBP Nommensen “VISI” Volume 26, Nomor 1, Februari 2018 dapat
terbit.
Pada kesempatan ini, kami mengucapkan terimakasih kepada Saudara yang telah
mengirimkan artikel untuk dimuat di majalah ini. Dalam rangka pengembangan kualitas
tulisan dan penerbitan serta terjalinnya komunikasi dalam pertukaran informasi ilmiah,
kami akan senang hati apabila Saudara berkenan memberikan masukan dan mengirimkan
tulisannya untuk dimuat pada edisi selanjutnya.
Akhirnya, kami berharap semoga tulisan-tulisan yang dimuat pada edisi ini
bermanfaat bagi para pembaca.

Pro Deo et Patria


Redaksi
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

THE ANALYSIS OF BASIC SENTENCE PATTERNS


INWRITING USED BY THE FIRST SEMESTER STUDENT IN
ENGLISH DEPARTMENT OF NOMMENSEN HKBP
UNIVERSITY ACADEMIC YEAR 2017/2018

Oleh

Fenty Debora Napitupulu, S.Pd., M.Pd


FKIP UHN Medan

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola-pola dasar kalimat mahasiswa


dalam menulis karangan. Metode penelitian dirancang dengan metode
descriptif kualiatif. Dalam hal ini, subjek penelitian adalah mahasiswa bahasa
Inggris semester satu. Setiap mahasiswa diarahkan menuliskan teks recount
dan selanjutnya peneliti menganalisanya. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa sebahagian besar dari mahasiswa hanya mampu menggunakan tiga
pola kalimat dasar yaitu S+V, S+V+O, dan S+LV+Adj. Pola kalimat lainnya
seperti SV+IO+O, S+V+O+OC S+LV+N belum ditemukan. Diamping itu
terdapat beberapa kesalahan dalam grammar seperti tenses, penggunaan
linking verb, parts of speech, dsb. Ini menunjukkan bahwa mahasiswa
semester satu jurusan Pendidikan Bahasa Inggris masih sangat lemah dalam
menggunakan pola-pola kalimat dasar bahasa Inggris.
Kata Kunci: English Basic Sentence Pattern, writing.

1. INTRODUCTION
1.1. The Background of the Study
There are four skills in English. They are listening, speaking, reading,
and writing. Writing is one of the skills in language that should be mastered.
It is very useful because writing is a tool for students to express their ideas
through the paper. Writing is not a natural skill because someone cannot
acquire this ability automatically and easily. When writing, students
frequently have more time to think, than they do in oral communities. They
can do their writing activities through what they know in their minds, and
even consult dictionaries, grammar books, or other reference material to help
them.
Writing can help us to think critically. It can enable us to pereceive
relationships, to deepen perception, to solve problems, to give order to
experience. Often we discover what we really think and feel about people,

3379
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

ideas, issues, and events only in the actual process of writing. He also said
that writing is a form of thinking, but it is thinking for a particular audience,
and for a particular occasion. By mastering the principles of writing and
thinking, it will help us to achieve our goals. The principles of the writing, are
: invention, arrangement, and style. Invention is the process of discovering
ideas for speaking or writing. Arrangement is the process of discovering
ordering principles so that you can organize your ideas in such a way as to
make them understandable and believeable to your readers. Style is the
process of making choices about sentence structure and diction while in the
act of writing. In trying of thinking, for example, about a movie that you have
seen, if you begin to write down those thoughts, in the process of thinking
about what you want to say, you can put your ideas into some kind of larger
pattern and at the same time into sentences and words” (D’Angelo 1980:4-5).
“When two or more people communicate each other, sometimes they
neglect grammatical system, they never think that their sentence structures are
true or not. For written language, grammatical system is the most important
part. For example, the sentence The children are asleep, is well-formed
(grammatical) English sentence, while other, like Asleep children the are, is
not grammatical“ (Lyons 1970:186).
Grammar is an element of language that is very important especially
in writing. According to D’Angelo (1980:525), “although the emphasis in
composition is primarily on connected stretches of writing, nevertheless,
because these larger units are composed of sentences, you should have a basic
knowledge of the grammar of the sentence. The principles of grammar that
are of importance are those that concern word relationship”.
When the researcher taughtparagraph writing lecture, it was found that
most of students are failed to construct the good English sentences in their
writing. They did not know about the sentence patterns to construct the
sentence well. They’re really confused. For example, The cup empty, it is not
based on the sentence pattern. It must be The cupisempty (S+LV+Adj).
Siahaan (2009:43) said that, so as we work to improve our writing, it’s
important to understand what these basic structures are and how to use them
effectively.
The reason mentioned above are considered to be the reasons why this
research should be done to describe the basic sentence pattern used by the
first semester students in English Department of Nommensen HKBP
University academic year 2017/2018.

3380
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

1.2. The Problem of the Study


Based on the background of the study, the problem of the study is
formulated as the following:
1. What are the English basic Pattern used in writing by the first
semester students in English Department of Nommensen HKBP
University academic year 2017/2018?
2. What is the dominant basic sentence pattern used in writing by the
first semester students in English Department of Nommensen HKBP
University academic year 2017/2018?
1.3. The Objective of the Study
The objective in this study is to find out English basic Pattern used and
the most dominan pattern in writing by the first semester students in English
Department of Nommensen HKBP University academic year 2017/2018

1.4 REVIEW OF LITERATURE


According to D’Angelo (1980:538), “a sentence is a structured string
of words containing a subject and a predicate. The subject and predicate can
be a single words or several words”. According to Harman (1972:201),“a
sentence is an independet group of words which expressed a complete
thought. Every sentence must contain a subject (expressed or implied) and a
predicate”.
Siahaan (2009:25) also made his definition about sentence. “In
linguistic, a sentence is a grammatical unit of one or more words, bearing
minimal syntactic relation to the words that precede or follow it, often
preceded and followed in speech by pauses, having one of a small number of
chracteristic intonation patterns, and typically expressing an independent
statement, question, request, command,etc “.
“The traditional grammar defines a sentence in one of two ways. The
first way is by meaning, a sentence is a “complete thought.” Such a definition
is inadequate, however, because of the vagueness of the term “complete
thought”. The second way is by function, a sentence consists of a subject and
a predicate. This definition is more satisfactory because it is actually possible
to identify the structural functions of subject and predicate in sentence “
(Frank 1972:220).
It is almost impossible to separate the rhetoric of a sentence from its
grammatical form. Almost all writers know that sentences tend to fall into
patterns that can be called “basic sentence pattern.” These sentence patterns

3381
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

are minimal grammatical structures consisiting in an active, declarative form.


Some linguists call these sentences “kernel sentences.” (D’Angelo 1980:376).
According to D’Angelo (1980:376-378), there are six types of the basic
sentence patterns. Every sentence consists of at least two parts, a subject and
a predicate. For examples : She works and I sit. But, some sentences have a
third part, called a complement. A complement completes the meaning of the
subject or the object. There are five kinds of complements : the direct object,
the indirect object, the objective complement, the predicate nominative, and
the predicate adjective.
The sixth basic sentence patterns, are :
1. Subject + Verb
The main points in the first sentence pattern, are : the subject and
verb. Here the simple examples.
Examples :
a. The slavesrevolted
S V
b. Icemelt.
S V
2. Subject + Verb + Object
The important points in the second pattern,are : the subject, a verb,
and also an object. It is different with the first sentence pattern which
doesn’t have an object.
Examples :
a. Draculawearsdentures.
S V O
b. Educationmakesa difference.
S V O
Another expert like Takahashi (2013:6), added the form of to
infinitives in constructing the sentence pattern. But, the example of
sentences below which are using the to infinitives have a function as an
object.
Examples :
a. Iwantto go.
S V to inf.
b. Istoppedto have a rest.
S V to inf.
3. Subject + Verb + Indirect Object + Object
Here, the important points, are : the subject, a verb, an indirect object
and an object. The indirect object is, it tells to whom or for whom the
direct object is intended.

3382
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

Examples :
a. Childrenaskeveryonequestions.
S V IO O

b. Moneycan’t buyyoulove.
S V IO
4. Subject + Verb + Object + Objective Complement
Here, there are four points that are important as the forth sentence
pattern, they are; a subject, verb, an object and objective complement.
Examples :
a. Henamedhis daughterSandy.
S V O OC
b. His friendelectedhimsecretary.
S V O OC
5. Subject + Linking Verb + Noun
Here, there are only three the important things as the sentence pattern,
they are : a subject, linking verb, and a noun.
Examples :
a. Loyaltyisa vitrue.
S LV N
b. Their fearswerelegitimate.
S LV N
6. Subject + Linking Verb + Adjective
While the fifth sentence pattern uses a noun, here as the last sentence
pattern uses an adjective.
Examples :

a. The cupisempty.
S LV Adj.
b. The weatheriscold.
S LV Adj.

II.RESEARCH METHODOLOGY
2.1 Research Design
The design of this research is based on qualitative research. According to
Moleong in Djajasudarma (2009:10), “qualitative methodology isa procedure
that produces descriptive data in the form of written or oral language
communities”. Qualitative research is a type of research method that does not
include any calculation. It means that a qualitative research focuses on the
process rather than the result. The process here concerns with the writer’s

3383
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

work in the field from the beginning of collecting data, analyzing data. The
kind of qualitative research that will be used is descriptive research. It is
applied to know the students’ ability in constructing the basic sentence
patterns on their writing.

2.2. Subject of Research


The subject of this research is the first semester students of English
Department academic year 2017/2018 which consist of three grups andthey
are 160 altogether.
2.3. The Object of Research
The object of this research is the students’ basic sentence pattern in
writing paragraph.
2.4. The Instrument of Research
Instrument is important in doing a research. According to Arikunto
(2010:192), “instrument is a tool when the researher using a method. The
instruments are used to achieve the accuracy the data and can indicate that the
writer is succesful or not in her research. There are many instruments which
are used to collect the data. They are test, questionnaires, interview, and
observations”. Here, the writer chooses test namely writing test.

2.5. The Technique of Collecting Data


The writer chooses the written test to collect the data. The material of
the tests given by the researcher are taken from the subject matters that are
suitable to the curriculum. The researche gave the writing test in the form of
essay test to know their basic sentences pattern on their paragraph writing. In
collecting the data, the researcher used some techniques, namely :
1. The researcher explains or reminds the students about the basic
sentence patterns.
2. The researcher asks the students to write a paragraph about describing
an object.
3. The researcher gives the time allocation about thirty minutes in
writing the paragraph.
4. Then, the researcher collects their papers.

2.6. The Technique of Analysis Data


As the writer has explained the method that is used in this research is
the qualitative research, so the writer doesn’t make the tabulating of the
technique in analyzing the data.
After getting the data, the stepsdone by the researcher in analyzing the
data are as follows:

3384
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

1. Reading the result of their writing.


2. Identifying their basic sentence patterns based on the theory from both
of D’Angelo (1980) and Takahashi (2013).
3. Classifying and concluding their basic sentence patterns.

III.DATA AND DATA ANALYSIS


3.1Data Analysis
The data has been taken from the students of English Department
2017, especially for the first semester. The students have written their last
experience in the form of simple sentences. Then, the researcheranalyzed
their writing text based on the basic sentence patterns from D’Angelo (1980)
and Takahashi (2013).

Data 1

(S1)I went to Pekan Baru last month. (S2)I am happy. (S3) I went with
my friends. (S4)There I have much friends. (S5) There, weather very hot.
(S6) In the night, we are gather in house yard together my friends. (S7) There,
I to stroll together my friends.

Data Analysis 1

S1 : I went to Pekan Baru last month.

The sentence is correct in grammatical which uses past tense and V2.
Based on the pattern, it is correct because the structure of the sentencefollows
the basic pattern of S-V-Adv.

Iwentto PekanBarulast month.


S V Adv.of T Adv.of P

S2 : I am happy.

According to the pattern, it is true because it follows S-LV-Adj.The


sentence isincorrect in grammatical. The sentence usespast tense. The linking
verb must be in past.

The correct one is, Iwashappy.


S LV Adj.

3385
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

S3 : I went with my friends.

The sentence is correct in grammatical of past tense and sentencpattern.


The structure of the sentence follows the basic pattern of S-V-O.

Iwentwith my friends.
S V O

S4 : There, I have much friends.

Based on the pattern, the sentence is correct. It follows the pattern of


Adv-S-V-O. The sentence is incorrect in grammatical because the verb uses
present tense and uses “much”. Much is used for uncountable noun and
“many” is used for countable noun.

The correctone is, there, Ihadmany friends


Adv. S V O

S5 : There, the weather hot.

The sentence is incorrect based on its pattern and grammatical in


past tense. Itdid not include the linking verb.

The correct oneisthere, the weatherwashot.


Adv. S LV Adj.

S6 : In the night, we are gather in house yard together my friends.

The sentence is incorrect in grammatical. The verb must be in V2 without a


‘tobe’. It also is incorrect in the pattern. The correct one is, in thenight,

Adv.

Wegathered togetherin house yard.


S V Adv.

3386
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

S7 : There, I to stroll together my friends.

The sentence is incorrect in grammatical. It must use V2 without‘to’ in front


of the subject. It is incorrect in the pattern. The correct one is,

there, Istrolledwith my friend.


Adv. S V O

Data 2

(S1) Last week, I and my family going to Tiga Dolok. (S2) There I met
with a man. (S3) He asked my handphone number. (S4) Finally, we have a
communication. (S5)We do SMS everytime. (S6) He called me by phone
sometimes. (S7) Then, we have a relationship. (S8) Now my boyfriend was
from the village.

Data Analysis 2

S1 : Last week, I and my family going to Tiga Dolok.

Based on the pattern, the sentence is correct because it follows


Adv-S-V-Adv. The sentence is incorrect in grammatical. It must use
V2 in the formof past tense. The correct one is,

last week, I and myfamilywentto Tiga Dolok.


Adv. S V Adv.

S 2 : There, I met with a man.

The sentence is correct in grammatical which uses V2 and makes true correct
pattern. The sentence structure is, there, Imetwith a man
Adv. S V O

S 3 : He asked my handphone number.

The sentence is correct in grammatical and its pattern. It uses V2 and


follows the basic pattern of S-V-O. The sentence structure is,

3387
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

Heaskedmy handphone number.


SVO

S4 : Finally, we have a communication.

Based on the pattern, the sentence is correct because it follows


Adv-S-V-O. The sentence is incorrectgrammatical. The
verb uses present tense. It must be in past. The correct one is,

finally,wehada communication
Adv. S V O

S5 : We do SMS everytime.

Based on the pattern, the sentence is correct because it follows


S-V-O-Adv. The sentence is incorrect in grammatical. The verb must
be
in past. The correct one is, wedidSMSeverytime.
S V O Adv.

S6 : He called me by phone sometimes.

The sentence is correct in grammatical which uses V2 n alsocorrect in the


pattern because itfollows the basic pattern of S-V-IO-O-Adv. The sentence
structure is,Hecalledmeby phonesometimes.
S V IO O Adv.

S7 : Then, we have a relationship.

Based on the pattern, the sentence is correct because it follows Adv-S-V-O. It


is incorrect in grammatical because it uses verb in present. It must be verb in
past. The correct one is,then, wehada relationship
Adv. S V O

S8 : Now, my boyfriend was from the village.

The sentence is correct because the structure of the sentence follows the
pattern of S-V-Adv. It also is correct in grammatical. The structure of the
sentence is

3388
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

now, my boyfriendwasfrom the village.


Adv. S V Adv.

Data 3

(S1) I and my family went to Lake Toba one month ago. (S2) I bought a
shirt there. (S3) I am very happy. (S4) Then, we are ate in one of stall there.
(S5) After already full, we continue the journey to home. (S6) On the way, we
are looked crazy people. (S7) He is a do not wear clothes and he disturb
others.

Data Analysis 3

S 1 : I and my family went to Lake Toba one month ago.

The sentence is correct in grammatical because it uses V2 in past


sentence. It is correct in the pattern because the structure of the sentence
follows the basic pattern of S-V-Adv. The sentence structure is,

Iand my familywentto Lake Toba one month ago.


SVAdv.

S 2 : I bought a shirt there.

The sentence is correct in grammatical which uses V2 and uses the correct
pattern which follows basic pattern of S-V-O-Adv.

Iboughta shirtthere.
S V O Adv.

S3 : I am very happy.

The sentence is correct based on its pattern which follows S-LV-Adj.It is


incorrect in grammatical because the linking verb still in present tense. It
must be in past. The correct one is,Iwasvery happy.
S LV Adj.

S4 : Then, we are ate in one of stall there.

3389
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

The sentence is incorrect in grammatical. The verb is correct in past tensebut


it must be without a tobe before the verb. The correct one is,

then,weatein one of stall there.


Adv. S V Adv.

S5 : After already full, we continue the journey to home.

The sentence is correct in the pattern which follows Adv-S-Adv. Iisincorrect


in grammatical because it uses verb in present. The correctoneis,

after already full,wecontinuedour journeyto home.


Adv. S V O Adv.

S6 : On the way, we are looked crazy people.

The sentence is incorrect in grammatical. The verb is correct which uses V2


but it must be without ‘tobe’ after the subject.It can create another meaning.
The correct is, on the way, welookeda crazy people
Adv. S V O

S7 : He is a do not wear clothes and disturb others.

The sentence is incorrect in grammatical. because it can not use two


uxiliary verb in one sentence. It is incomplete to create a good basic
pattern. The correct is, hedid not wearclothesandhedisturbedothers.
S V Oconj. SVO

Data 4

(S1) I went to Samosir last month. (S2) I and my family spend the night in
Desa Simanindo. (S3) My bag lost in Ajibata and I went to Pangururan. (S4) I
to bathe water warm.(S5) We have to go to Tuk-tuk. (S6) I met tourist in Tuk-
tuk. (S7) I swam the Lake Toba. (S8) I at samosir third day.

Data Analysis 4
S1 : I went to Samosir last month.
The sentence is correct in grammatical which uses V2 and also in the
pattern because the structure of the sentence is follows the basic pattern of S-
V-Adv. The sentence structure is, Iwentto Samosir last month

3390
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

SV Adv.
S2 : I and my family spend the night in Desa Simanindo.
The sentence is correct based on the pattern which follows S-V-O-Adv.It is
incorrect in grammatical because it does not use the V2.The
correct one is, I and my familyspentthe nightin Desa Simanindo.
S V O Adv.

S3 : My bag lost in Ajibata and I went to Pangururan.


The sentence is correct in grammatical because uses V2. It also
correct inthe pattern which follows S-V-Adv eventhough combine
bconjuction.

The structure is, my baglostin AjibataandIwentto Pangururan.


S V Adv. Conj.S V Adv.
S4 : I to bathe water warm.
The sentence is incorrect in grammatical. It must not use ‘to’ after the
subject. The sentence is incomplete to build a good pattern.
Thecorrect one is, Itook a bathwarm water.
S V O
S5 : We have to go to Tuk-tuk.
The sentence is correct in the pattern which follows S-V-Adv. It is
incorrect in grammatical because the verb still in present. It must change
into verb of past tense. The correct one is, wehadto goto Tuk-tuk.
S V to inf Adv.
S6 : I met tourist in Tuk-tuk
The sentence is correct in the grammatical and in its pattern. The structure
of the sentence is,Imet tourist in Tuk-tuk.
S V O Adv.
S7 : I swam the Lake Toba.
The sentence is correct in grammatical which uses V2 and also correct
based on the basic pattern which follows S-V-O.
The structure of thesentence is, Iswamthe Lake Toba.
S V O
S8 : I at samosir third day.
The sentence is incorrect in grammatical because there is not a verb. Itis
incomplete sentence to build a good sentence pattern. The correct one is,
Iwasat Samosirfor three days.
S V Adv.of P Adv.of T

Data 5

3391
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

(S1) I and my friends went to Sipiso-piso two weeks ago. (S2) In Sipiso-
piso we swim and played. (S3) At the time in Sipiso-piso,we happy. (S4)
There we met a tourist. (S5) She ask to my friend question. (S6) And she to
invite we speak English. (S7) We confusion because we no understand with
English language. (S8) We answer with Indonesian language. (S9) And
tourist confusion too and laugh. (S10) After that we go to home.

Data Analysis 5

S1 : I and my friends went to Sipiso-piso two weeks ago

The sentence is correct in grammatical which used V2 in the form of past


tense. It is correct based on the pattern S-V-Adv. The structure of thesentence
is,

I and my friendswentto Sipiso-piso two weeks ago.


S V Adv.

S2 : In Sipiso-piso, we swim and played there.

Based on the pattern, the sentence is correct because follows the patternof
Adv-S-V. It is incorrect in grammatical because only one verb
which uses V2. The correct is, in Sipiso-piso, weswam and played.
adv S V

S3 : At the time in Sipiso-piso,we happy.

The sentence is incomplete to build a good sentence pattern because


because it uses incorrect grammatical. There must be a linking verb
before an adjective.The correct one is, at the time in
Adv.

Sipiso-piso,wewerehappy.
S LV Adj.

S 4 : There, we met a tourist.

The sentence is correct in grammatical which uses V2. It is correct based


on its patterns which follows Adv-S-V-O. The sentence structure is,

there,wemeta tourist. .
Adv. S V O

3392
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

S5 : She ask to my friend a question

The sentence is correct based on the basic pattern which follows S-V-IO-O. It
is incorrect in grammatical because it does not use V2. The correctone is,
sheaskedmy frienda question.
S V IO O

S6 : And she to invite we speak English.

The sentence is incorrect in grammatical form. The verb must be in V2 and


‘we’ as object must change become ‘us’. It can create a goodsentence pattern.
The correct one is, sheinvitedusto speak English.
S V IO O (to inf.)

S7 : We confusion because we no understand with English


language.

The sentence is incorrect in grammatical. There must be a linking verb


before an adjective and adds did not in the form negative sentence. It is too
incomplete to build a good sentence pattern

The correct one is, wewereconfusedbecausewedidn’t understand


S LV Adj. Conj. S V

English language.
O

S8 : We answer with Indonesian language.

Based on the pattern, the sentence is correct because it follows S-V-O It


is incorrect in grammatical which still uses verb in present. It must be in
past.The correct one is, weansweredwith Indonesian language.
S V O

S9 : And tourist confusion too and laugh.

The sentence is incorrect to have a good sentence pattern because it uses


incorrect grammatical. It does not use V2. The correct one is, the tourist

3393
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

confused and laughed.


V

S10 : After that we go to home.

The sentence is correct based on the pattern. It is still incorrect in


grammatical because it uses verb in present. It must be in past.

The correct one is, after that, wewent to home.


Adv.of T S V Adv.of P

3.2.Research Findings
After analyzing the data, the writer found some things done by the
students in writing a text based on their experiences. They are :
1. Most of the students use 3 kinds of sentence pattern, they are : S+V,
S+V+O, S+LV+Adj.
2. Most of the students do not make the basic sentence pattern 3,4,5
which follows : S+V+IO+O, S+V+O+OC, S+LV+N.
3. Some of the students still didn’t know how to use the basic pattern in
writing sentences.
Examples : - There, I to stroll together my friends. (S7 of Data 1)
- Then, we are ate in one of the stall there. (S4 of Data 3)
- I to bathe water warm. (S4 of Data 4)
- At the time in Sipiso-piso, we happy. (S3 of Data 5)
- So, he not join. (S7 of Data 9)
- It in Rantau city. (S3 of Data 11)
4. Some of the students didn’t know the difference of “much and many”.
Examples : - There, I have much friends. (S4 of Data 1)
5. Some of the students did not know the function of ‘to be’
Example : - There, weather very hot. (S5 of Data 1)
- On the way, we are looked crazy people. (S6 of Data 3)
- It in Rantau city. (S3 of Data 11)
- We was played and eat food there. (S2 of Data 12)

IV. CONCLUSIONS AND SUGGESTIONS


4.1 Conclusions
Based on the data analysis and findings, the researcher makes some
conclusions as follow :
1. Most of the students are only able to use 3 kinds of sentence pattern,
they are : S+V, S+V+O, and S+LV+Adj.

3394
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

2. The students are still unable to use sentence pattern of S+V+IO+O,


S+V+O+OC, and S+LV+N.
3. Some of them do not include a ‘linking verb’ before an adjective to
complete the sentence pattern of S+LV+Adj.

4.2. Suggestions
Related to the conclusion above, some suggestions may be crucial for
improving in teaching English especially teaching writing text. In relation to
the conclusions, the suggestions are stated as follows:

1. The lecturers should give motivations for the students in learning how
to develop write the basic structures in writing sentences, such as ;
subject, verb, object,and adverb.
2. The lecturers should guide the students in learning the sentence pattern
of S+V+IO+O, S+V+O+OC, and S+LV+N.
3. The students should enrich their knowledge in learning the basic
sentence
patterns
4. For lecturers, part of speech is very important to be taught for the
students
because it relates to the basic sentence pattern

REFERENCES

Arikunto, S. 2010. Prosedur Penelitian. Jakarta:Rineka Cipta.

D’Angelo, F.1980.Process and Thought in Composition.


Cambridge:Winthrop
Publisher, Inc.

Djajasudarma,F.2010.Metode Linguistik. Bandung: PT Refika Aditama.

Frank,M.1972. Modern English:A Practical Reference Guide.New Jersey:


Prentice-Hall,Inc.

Harman,S.1972.Descriptive English Grammar:Second Edition.University of


Maryland: Prentice-Hall,Inc.

3395
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3379-3395

Lyons,J. 1970.New Horizons in Linguistics.New Zealand:Penguin Books Ltd.

Siahaan,S.2009.Syntax Theories.Pematangsiantar:Nommensen University.

Takahashi,K.2013.An Attemp to Employ Diagrammatic Illustrations in


Teaching English Grammar: Pictorial English Grammar. Journal of
Toyota National College of Technology,vol.11,pp

3396
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Pengaruh Sosialisasi Perpajakan, Pengetahuan Perpajakan


Dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi
Yang Melakukan Pekerjaan Bebas Pada KPP Pratama Medan Timur

Oleh

Magdalena Judika Siringoringo


Dosen Fakultas Ekonomi

Abstrak
This paper aims to analyze the factors affecting taxpayer compliance
of individuals who perform free work in KPP Pratama Medan East and East
Medan districts as the sample. This paper is the result of a study with single
instrumental case study that attempts to dig deeper into one case/phenomenon
about the effect of taxation socialization, taxation knowledge and tax sanction
on taxpayer compliance of individual who perform free work at KPP Pratama
East Medan. This study uses primary data source questionnaires derived from
the taxpayers of individuals who conduct business activities and free activities
registered in KPP Pratama East Medan.
The results showed that partially socialization taxation has a negative
and not significant effect on taxpayer compliance who do free work Partially
knowledge of taxation have a positive and significant effect on taxpayer
compliance who do free work. Partially the tax sanction has a positive but not
significant effect on taxpayer compliance that performs free work.
Simultaneously variable socialization taxation, knowledge taxation and tax
penalties have a positive and significant impact on taxpayer compliance of
individuals who perform free work.

Keywords: Socialization of Taxation, Tax Knowledge, Tax Sanctions,


Taxpayer Compliance, Individual Taxpayer.

I. Pendahuluan
Usaha memaksimalkan penerimaan pajak tidak dapat hanya
mengandalkan peran dari Direktorat Jenderal Pajak maupun petugas pajak,
tetapi dibutuhkan juga peran aktif dari para wajib pajak itu sendiri. Self
Assessment System menuntut peran aktif dan memberikan kepercayaan wajib
pajak untuk mendaftar, menghitung, membayar dan melaporkan (4M)
kewajiban perpajakannya sendiri. Hal ini menjadikan kepatuhan dan kesadaran
wajib pajak menjadi faktor yang sangat penting dalam hal untuk mencapai
keberhasilan penerimaan pajak. Wajib pajak orang pribadi yang melakukan
pekerjaan bebas wajib mengisi SPT Tahunan Form 1770. Wajib pajak orang
3396
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

pribadi yang melakukan pekerjaan bebas adalah orang pribadi yang tidak
terikat oleh suatu ikatan dengan pemberi kerja yaitu dengan kata lain pekerjaan
yang dilakukan oleh orang pribadi yang mempunyai keahlian khusus sebagai
usaha untuk memperoleh penghasilan dan tidak terikat oleh suatu ikatan
dengan pemberi kerja. Namun, masih sangat rendahnya sanksi pajak terutama
sanksi administrasi yang dikenakan kepada wajib pajak, mengakibatkan masih
adanya wajib pajak yang terlambat untuk menyerahkan Surat Pemberitahuan
(SPT) dan adanya anggapan bahwa sanksi yang diberikan masih rendah,
artinya mereka mampu untuk membayar sanksi tersebut, terutama sanksi
administrasi.
Rendahnya pengetahuan Wajib Pajak tentang peraturan perpajakan
membuat masih banyak Wajib Pajak yang belum memenuhi kewajibannya
sebagai Wajib Pajak serta memahami manfaat dari penerimaan pajak.
Sosialisasi peraturan perpajakan juga masih belum menyeluruh ke setiap Wajib
Pajak yang juga menyebabkan minimnya pengetahuan Wajib Pajak tentang
informasi perpajakan. Disamping pengetahuan Wajib Pajak yang kurang,
kesadaran Wajib Pajak sendiri masih kecil untuk memenuhi kewajiban
membayar pajak dan menyampaikan SPT. Kecilnya kesadaran Wajib Pajak
membuat tingkat kepatuhan Wajib Pajak rendah. Jika kepatuhan membayar
pajak rendah maka mengakibatkan pendapatan negara atas pajak akan
berkurang dan pembiayaan infrastruktur umum akan berkurang. Oleh karena
itu, diperlukan sanksi perpajakan sebagai alat pencegah (preventif) agar wajib
pajak tidak melanggar norma perpajakan. Sanksi yang diberikan diharapkan
dapat meningkatkan kesadaran wajib pajak untuk bersikap patuh dalam
menjalankan kewajiban perpajakannya.
Penelitian dilakukan di KPP Pratama Medan Timur dengan
pertimbangan bahwa terdapat beberapa bidang usaha potensial. Perekonomian
kecamatan ini didominasi oleh kegiatan perdagangan, sewa guna usaha,
penginapan dan terdapat pula beberapa lembaga perguruan tinggi swasta yang
semuanya itu berpeluang bagi pekerja bebas untuk menjual jasanya sebagai
sumber penghasilannya namun diantaranya masih ada wajib pajak orang
pribadi yang melakukan pekerjaan bebas yang memiliki tingkat kepatuhan dan
tingkat pengetahuan pajak yang masih rendah. Masih banyak wajib pajak yang
dengan sengaja tidak membayarkan pajak karena menganggap pelaporan pajak
yang dirasa sulit dan merepotkan sekaligus memandang salah tentang fungsi
daripada pajak yang dibayarkannya.
Tulisan ini adalah hasil penelitian dengan studi kasus instrumental
tunggal (single instrumental case study) yang berusaha menggali lebih dalam
satu kasus/fenomena tentang pengaruh sosialisasi perpajakan, pengetahuan
perpajakan dan sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi
yang melakukan pekerjaan bebas pada KPP Pratama Medan Timur.
3397
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Berdasarkan pada rumusan masalah yang telah dikemukakan, maka dapat


disimpulkan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Apakah sosialisasi perpajakan berpengaruh positif terhadap
kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas?
2. Apakah pengetahuan perpajakan berpengaruh positif terhadap
kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas?
3. Apakah persepsi wajib pajak tentang sanksi pajak berpengaruh
positif terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan
bebas?
4. Apakah sosialisasi perpajakan, pengetahuan perpajakan dan sanksi
pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak yang
melakukan pekerjaan bebas?

II. Kajian Teoritis


2.1. Wajib Pajak Orang Pribadi yang Melakukan Pekerjaan
Bebas
Wajib pajak orang pribadi yang melakukan atau pekerjaan bebas adalah
mereka yang menyelenggarakan dan tidak terikat oleh suatu ikatan dengan
pemberi kerja. Pekerja bebas umumnya terkait dengan pemberian jasa keahlian
atau profesi yang dijalankan sendiri oleh tenaga ahli yang bersangkutan antara
lain: pengacara, akuntan, konsultan, notaris, atau dokter. Wajib pajak orang
pribadi yang melakukan pekerjaan bebas di Indonesia harus mengadakan
pembukuan dan pencatatan yang dapat menyajikan keterangan-keterangan
yang cukup untuk menghitung Penghasilan Kena Pajak atau harga perolehan
atau penyerahan barang-barang atau jasa, guna penghitungan jumlah pajak
yang terhutang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan
perpajakan.
Pembukuan atau pencatatan penting bagi Wajib Pajak sangatlah
penting dikarenakan oleh beberapa alasan:

1. Akan memudahkan Wajib Pajak pada saat menghitung dan


memperhitungkan serta melaporkan pajak terutang baik pada SPT
Masa maupun SPT Tahunan.
2. Perhitungan pajak terutang lebih akurat.
3. Jika Wajib Pajak tidak dapat menunjukkan dokumen pembukuan atau
pencatatan pada saat pemeriksaan sehingga tidak dapat dihitung
penghasilan kena pajak, maka penghasilan kena pajak dapat dihitung
secara jabatan berdasarkan data lain yang diperoleh pada saat
pemeriksaan.
4. Laporan keuangan memberikan informasi posisi keuangan dan
kemajuan dari usaha Wajib Pajak.
3398
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

2.2 Pengaruh Sosialisasi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak


Orang Pribadi yang Melakukan Pekerjaan Bebas
Sosialisasi perpajakan adalah upaya yang dilakukan oleh Dirjen Pajak
untuk memberikan sebuah pengetahuan kepada masyarakat dan khususnya
wajib pajak agar mengetahui tentang segala hal mengenai perpajakan baik
peraturan maupun tata cara perpajakan melalui metode-metode yang tepat
sehingga dapat meningkatkan kesadaran dan kepatuhan wajib pajak orang
pribadi terutama dalam hal ini wajib pajak orang pribadi yang melakukan
pekerjaan bebas dilakukan sosialisasi perpajakan dengan beragam bentuk atau
cara sosialisasi.
Namun, kegiatan sosialisasi harus dilakukan secara efektif dan
dilakukan dengan media-media yang lain yang lebih diketahui masyarakat. Hal
ini bertujuan guna ketika masyarakat khususnya wajib pajak orang pribadi
mengetahui dan memahami peraturan perpajakan yang berlaku maka semakin
patuh wajib pajak tersebut untuk memenuhi kewajiban perpajakannya atau
dengan kata lain, Ketika kegiatan sosialisasi yang semakin meningkat, maka
tingkat kepatuhan wajib pajak orang pribadi pribadi yang melakukan pekerjaan
bebas akan meningkat pula, demikian pula sebaliknya.
Penelitian Toly dan Herryanto (2013) menyebutkan bahwa jumlah
wajib pajak, kesadaran wajib pajak, kegiatan sosialisasi perpajakan dan
pemeriksaan pajak memiliki pengaruh yang positif terhadap penerimaan Pajak.
Penghasilan. Fitriani (2011) juga melakukan penelitian mengenai kepatuhan
pajak. Penelitian yang dilakukan Fitriani (2011) menemukan bahwa persepsi
wajib pajak tentang pelayanan fiskus dan pengetahuan perpajakan berpengaruh
positif terhadap kepatuhan wajib pajak.

2.3 Pengaruh Pengetahuan Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib


Pajak Orang Pribadi yang Melakukan Pekerjaan Bebas
Kepatuhan wajib pajak dapat diukur dari pengetahuan yang dimiliki
wajib pajak baik itu pengetahuan mengenai perubahan peraturan, konsep
ketentuan umum di bidang perpajakan, jenis pajak yang berlaku di Indonesia
mulai dari subyek pajak, objek pajak, tarif pajak, perhitungan pajak terutang,
pencatatan pajak terutang, dan pembayaran dan pengisian pelaporan pajak
secara tepat waktu. Memiliki pengetahuan yang cukup tentang perpajakan
sangatlah penting dimana pendidikan pajak adalah salah satu alat yang efektif
untuk mendorong wajib pajak untuk lebih patuh.

3399
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Semakin banyak pengetahuan pajak yang dimiliki wajib pajak, maka


semakin patuh wajib pajak tersebut terhadap ketentuan perpajakan yang dalam
hal ini dalam menyampaikan SPT-nya kepada pihak aparat pajak, sebaliknya
karena kurangnya pengetahuan maka wajib pajak kurang memahami tatacara
dan ketentuan perpajakan sehingga menyebabkan menurunnya tingkat
kepatuhan wajib pajak tersebut.
Fikriningrum (2012) meneliti mengenai kesadaran membayar pajak,
pengetahuan dan pemahaman tentang peraturan perpajakan, persepsi yang baik
atas efektivitas sistem perpajakan dan pelayanan fiskus yang berpengaruh
positif terhadap kemauan membayar pajak.
2.4 Pengaruh Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang
Pribadi yang Melakukan Pekerjaan Bebas
Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan
dituruti/ditaati/dipatuhi, dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat
pencegah agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan. Wajib pajak
akan memenuhi kewajiban perpajakannya bila memandang bahwa sanksi
perpajakan akan lebih banyak merugikannya. Untuk itu, Pemerintah telah
menyiapkan rambu-rambu yang diatur dalam Undang-undang Perpajakan yang
berlaku agar pelaksanaan pemungutan pajak dapat tertib dan sesuai dengan
target yang diharapkan. Apabila kewajiban pajak tidak dilaksanakan, maka ada
konsekuensi hukum yang bisa terjadi karena pajak mengandung unsur
pemaksaan. Konsekuensi hukum tersebut adalah pengenaan sanksi-sanksi
perpajakan.
Dalam penelitian yang dilakukan Fermatasari (2013) sanksi pajak
adalah peraturan perundang-undangan yang harus dipatuhi agar wajib pajak
tidak melanggar norma perpajakan. Semakin berat sanksi yang dikenakan
kepada wajib pajak yang tidak mematuhi ketentuan perpajakan diduga akan
mempengaruhi kepatuhan wajib pajak tersebut untuk memenuhi semua
ketentuan yang berlaku dalam perpajakan.

2.5 Pengembangan Hipotesis Penelitian


Kepatuhan wajib pajak dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik dari
dalam individu maupun dari luar individu tersebut. Kepatuhan wajib pajak
dapat pula dipengaruhi oleh sosialisasi perpajakan yang dilakukan oleh
pemerintah, pengetahuan yang dimiliki wajib pajak, sanksi yang dikenakan
kepada wajib pajak. Ketiga variabel tersebut dirasa mempengaruhi
3400
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas dalam memenuhi


kewajiban perpajakannya. Adapun kerangka pemikiran teoritis dapat
digambarkan pada gambar 2.1 berikut

Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran Teoritis

Sosialisasi
X1
Perpajakan Kepatuhan Wajib
Pengetahuan X2 Pajak Orang
Pribadi yang
Sanksi Pajak
Perpajakan Melakukan
X3 Pekerjaan Bebas

Sanksi

Pajak

X4

Dari kerangka konseptual tersebut, maka hipotesis dari penelitian ini


sebagai berikut:

X1 : Sosialisasi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib


yang melakukan pekerjaan bebas
X2 : Pengetahuan perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib
pajak yang melakukan pekerjaan bebas
X3 : Sanksi pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak yang
melakukan pekerjaan bebas
X4 : Sosialisasi perpajakan, pengetahuan perpajakan, dan sanksi pajak
secara
simultan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak orang
yang melakukan pekerjaan bebas.

3401
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Pada Tabel 2.1 berikut ini dapat dilihat ringkasan definisi operasional
yang digunakan dalam penelitian ini

Tabel 2.1
Definisi Operasional Variabel

Variabel Indikator Pertanyaan Pengukuran


Kepatuhan Wajib 1. Saya selalu menghitung pajak dalam 5 poin Skala
Pajak jumlah benar dan apa adanya Likert, 1 untuk
(Kepatuhan_WPOP 2. Saya selalu mengisi SPT dengan STS hingga 5
yang Melakukan benar sesuai ketentuan perpajakan untuk SS
Pekerjaan Bebas) 3. Saya selalu membayar pajak tepat
waktu
4. Saya tidak pernah menerima surat
teguran dari Dirjen Pajak
Sosialisasi 1. Saya pernah mengikuti sosialisasi 5 poin Skala
Perpajakan perpajakan Likert, 1 untuk
(Sosialisasi) 2. Sosialisasi perpajakan sangat STS hingga 5
membantu saya memahami untuk SS
mengenai ketentuan perpajakan
3. Sosialisasi Perpajakan yang
diberikan kepada saya mudah
pahami.
4. Sosialisasi perpajakan yang
dilaksanakan sudah efektif dan tepat
sasaran

3402
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Pengetahuan 1. Saya mengetahui dan berusaha 5 poin Skala


Perpajakan memahami UU dan ketentuan Likert, 1 untuk
(Pengetahuan) perpajakan STS hingga 5
2. Saya memahami cara menghitung untuk SS
pajak penghasilan terutang
3. Saya memahami tata cara
pembayaran pajak
4. Saya memahami batas waktu
pembayaran pajak
5. Saya memahami sanksi atas
keterlambatan pembayaran pajak
Sanksi Pajak 1. Sanksi pidana yang dikenakan bagi 5 poin Skala
(Sanksi) pelanggar aturan pajak cukup berat Likert, 1 untuk
2. Pengenaan sanksi yang cukup berat STS hingga 5
merupakan salah satu sarana untuk SS
mendidik wajib pajak
3. Sanksi pajak harus dikenakan
kepada pelanggarnya tanpa toleransi
4. Penerapan sanksi pajak harus sesuai
dengan ketentuan dan peraturan
yang berlaku

Sampel dalam penelitian ini ialah berdasarkan atas satu area kecamatan
dari lingkup KPP Pratama Medan Timur yakni Kecamatan Medan Timur.
Sampel dari kecamatan ini ialah 30 orang. Adapun teknik dalam pengambilan
sampel ini adalah simple area (cluster) sampling, yaitu pengambilan sampel
berdasarkan areal wilayah yang dalam hal ini sampel diperoleh dari kecamatan
Medan Timur.
Tabel 2.2
Daftar Wajib Pajak yang Melakukan Pekerja Bebas
Kec. Medan Timur

No. Bentuk Profesi Jumlah (orang)

1 Dokter Spesialis 4
2 Dokter Gigi 5
3 Arsitek 4
4 Notaris 12
5 Konsultan Pajak/Akuntan 3
6 Konsultan Manajemen 2

3403
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Total 30

2.6 Metode Penelitian


Analisis ini dilakukan dengan menggunakan teknik analisis regresi
berganda untuk mengolah dan membahas data yang telah diperoleh dan untuk
menguji hipotesis yang diajukan. Software yang yang digunakan peneliti dalam
pengujian nantinya menggunakan program SPSS version 22. Teknik analisis
regresi berganda dipilih untuk digunakan pada penelitian ini karena teknik
regresi berganda dapat menyimpulkan secara langsung mengenai pengaruh
masing-masing variabel bebas yang digunakan secara parsial ataupun secara
bersama-sama. Teknik analisis regresi berganda merupakan teknik statistik
untuk menjelaskan keterkaitan antara variabel terikat dengan beberapa variabel
bebas. Selain itu, Regresi berganda juga dapat memperkirakan kemampuan
prediksi dari serangkaian variabel bebas terhadap variabel terikat.

Sementara itu, model regresi yang digunakan adalah sebagai berikut:

Y= α -β1 X1 +ß2X2+ß3X3+…. e
Y : Kepatuhan WPOP yang Melakukan Pekerjaan Bebas
α : Konstanta
β1, β2, β3 : Koefisien regresi
X1 : Sosialisasi Perpajakan
X2 : Pengetahuan Perpajakan
X3 : Sanksi Pajak
e : error/ residual

2.6.1 Uji Kualitas Data


2.6.1.1 Uji Validitas
Hasil pengujian validitas untuk masing – masing variabel diringkas
pada tabel dan penjelasan dibawah ini.
1. Sosialisasi Perpajakan
Sosialisasi perpajakan adalah upaya yang dilakukan oleh Dirjen Pajak
untuk memberikan sebuah pengetahuan kepada masyarakat dan khususnya
wajib pajak agar mengetahui tentang segala hal mengenai perpajakan baik
peraturan maupun tata cara perpajakan melalui metode-metode yang tepat.

Tabel 2.1
Hasil Pengujian Validitas

3404
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Sosialisasi
Perpajakan
(X1) R (hitung) r (tabel) Keterangan
Indikator I 0,600 0,3610 Valid
Indikator II 0,745 0,3610 Valid
Indikator III 0,793 0,3610 Valid
Indikator IV 0,480 0,3610 Valid

Dalam hal indikator pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner berkaitan


dengan sosialisasi perpajakan tersebut adalah valid, karena setiap indikator
diperoleh masing-masing R-hitung berada diatas r-tabel (sebesar 0, 3610) yang
artinya, indikator pertanyaan dalam kuesioner itu mampu mengungkapkan
sesuatu yang akan diukur oleh suatu kuesioner tersebut berupa apakah ada
pengaruh sosialisasi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi
yang melakukan pekerjaan bebas dengan cara melakukan korelasi antar skor
butir pertanyaan dengan total skor variabel

2. Pengetahuan Perpajakan
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi melalui panca indera
manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan peraba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Atau
dapat diartikan juga sebagai suatu hasil tahu seseorang dari proses
penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang berkaitan dengan teknis
perpajakan.

Tabel 2.2
Hasil Pengujian Validitas

Pengetahuan
Perpajakan
(X2) R (hitung) r (tabel) Keterangan
Indikator I 0,504 0,3610 Valid
Indikator II 0,731 0,3610 Valid
Indikator III 0,726 0,3610 Valid
Indikator IV 0,368 0,3610 Valid
Indikator V 0,381 0,3610 Valid

Dalam hal indikator pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner berkaitan


dengan pengetahuan perpajakan tersebut adalah valid, karena setiap indikator
diperoleh masing-masing R-hitung berada diatas r-tabel (sebesar 0, 3610) yang
artinya, indikator pertanyaan dalam kuesioner itu mampu mengungkapkan
sesuatu yang akan diukur oleh suatu kuesioner tersebut berupa apakah ada
3405
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

pengaruh pengetahuan perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak orang


pribadi yang melakukan pekerjaan bebas dengan cara melakukan korelasi antar
skor butir pertanyaan dengan total skor variabel

3. Sanksi Pajak
Sanksi adalah suatu tindakan berupa hukuman yang diberikan kepada
orang yang melanggar peraturan. Peraturan atau undang-undang merupakan
rambu-rambu bagi seseorang untuk melakukan sesuatu mengenai apa yang
harus dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Sanksi diperlukan
agar peraturan atau undang-undang tidak dilanggar.

Tabel 2.3
Hasil Pengujian Validitas
Sanksi Pajak R r
(X3) (hitung) (tabel) Keterangan
Indikator I 0,656 0,3610 Valid
Indikator II 0,696 0,3610 Valid
Indikator III 0,659 0,3610 Valid
Indikator IV 0,619 0,3610 Valid

Dalam hal indikator pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner berkaitan


dengan sanksi pajak tersebut adalah valid, karena setiap indikator diperoleh
masing-masing R-hitung berada diatas r-tabel (sebesar 0, 3610) yang artinya,
indikator pertanyaan dalam kuesioner itu mampu mengungkapkan sesuatu
yang akan diukur oleh suatu kuesioner tersebut berupa apakah ada pengaruh
sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi yang melakukan
pekerjaan bebas dengan cara melakukan korelasi antar skor butir pertanyaan
dengan total skor variabel

4. Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi yang Melakukan pekerjaan Bebas


Pengertian kepatuhan pajak (tax compliance) disini adalah wajib pajak
yang mempunyai kesediaan untuk memenuhi kewajiban pajaknya sesuai
dengan aturan yang berlaku tanpa perlu diadakannya pemeriksaan, investigasi
seksama, peringatan ataupun ancaman, dalam penerapan sanksi baik hukum
maupun administrasi.
Tabel 2.4
Hasil Pengujian Validitas

3406
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Kepatuhan wajib
pajak yang
melakukan
pekerjaan bebas
(Y) R (hitung) r (tabel) Keterangan

Indikator I 0,822 0,3610 Valid

Indikator II 0,693 0,3610 Valid

Indikator III 0,805 0,3610 Valid

Indikator IV 0,669 0,3610 Valid

Dalam hal indikator pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner berkaitan


dengan kepatuhan wajib pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas
tersebut adalah valid, karena setiap indikator diperoleh masing-masing R-
hitung berada diatas r-tabel (sebesar 0, 3610) yang artinya, indikator
pertanyaan dalam kuesioner itu mampu mengungkapkan sesuatu yang akan
diukur oleh suatu kuesioner tersebut berupa apakah wajib pajak orang pribadi
yang melakukan pekerjaan bebas telah patuh dalam menjalankan kewajiban
perpajakannya dengan benar dengan cara melakukan korelasi antar skor butir
pertanyaan dengan total skor variabel.
Secara keseluruhan sosialisasi perpajakan, pengetahuan perpajakan,
sanksi pajak dan kepatuhan wajib pajak orang pribadi yang melakukan
pekerjaan bebas hasil tersebut menunjukan masing-masing item dari masing-
masing menunjukan nilai Corrected Item-Total Corelation yang berada diatas
nilai r tabel pada signifikan 0,05 dengan uji 2 sisi dengan jumlah data (n) = 28
yaitu 0,3610. Dengan demikian, item-item pada masing- masing variabel
tersebut layak digunakan sebagai alat ukur dalam pengujian statistik.

2.6.1.2 Uji Reliabilitas


Hasil pengujian reliabilitas untuk masing – masing variabel diringkas
pada tabel dan penjelasan dibawah ini.

1 Sosialisasi Perpajakan
Sosialisasi perpajakan adalah upaya yang dilakukan oleh Dirjen Pajak
untuk memberikan sebuah pengetahuan kepada masyarakat dan khususnya
wajib pajak agar mengetahui tentang segala hal mengenai perpajakan baik
peraturan maupun tata cara perpajakan melalui metode-metode yang tepat.

3407
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Tabel 2.5
Hasil Pengujian Reliabilitas

Sosialisasi
Perpajakan Alpha Batasan Keterangan
(X1)

Indikator I 0,798 0,6 Reliabel


Indikator II 0,734 0,6 Reliabel
Indikator III 0,706 0,6 Reliabel
Indikator IV 0,856 0,6 Reliabel

Dalam hal jawaban responden atas indikator pertanyaan yang diajukan


oleh peneliti dalam kuesioner berkaitan dengan sosialisasi perpajakan tersebut
adalah reliabel, karena hasil pengujian reliabilitas Cronbach Alpha (α)
masing masing indikator lebih besar dari ketentuan batasan reliabel (yaitu
sebesar 0,6), yang artinya jawaban dari responden terhadap pertanyaan adalah
konsisten berkaitan dengan sosialisasi perpajakan.

2. Pengetahuan Perpajakan
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi melalui panca indera
manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan peraba.
Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Atau
dapat diartikan juga sebagai suatu hasil tahu seseorang dari proses
penginderaan terhadap suatu objek tertentu yang berkaitan dengan teknis
perpajakan.

Tabel 2.6
Hasil Pengujian Reliabilitas
Pengetahuan
Perpajakan Alpha Batasan Keterangan
(X2)
Indikator I 0,734 0,6 Reliabel
Indikator II 0,652 0,6 Reliabel
Indikator III 0,651 0,6 Reliabel
Indikator IV 0,779 0,6 Reliabel
Indikator V 0,770 0,6 Reliabel

Dalam hal jawaban responden atas indikator pertanyaan yang diajukan


oleh peneliti dalam kuesioner berkaitan dengan pengetahuan perpajakan

3408
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

tersebut adalah reliabel, karena hasil pengujian reliabilitas Cronbach Alpha


(α) masing masing indikator lebih besar dari ketentuan batasan reliabel (yaitu
sebesar 0,6), yang artinya jawaban dari responden terhadap pertanyaan adalah
konsisten berkaitan dengan pengetahuan perpajakan.

3. Sanksi Pajak
Sanksi adalah suatu tindakan berupa hukuman yang diberikan kepada
orang yang melanggar peraturan. Peraturan atau undang-undang merupakan
rambu-rambu bagi seseorang untuk melakukan sesuatu mengenai apa yang
harus dilakukan dan apa yang seharusnya tidak dilakukan. Sanksi diperlukan
agar peraturan atau undang-undang tidak dilanggar.

Tabel 2.7
Hasil Pengujian Reliabilitas
Sanksi Pajak
Alpha Batasan Keterangan
(X3)
Indikator I 0,776 0,6 Reliabel
Indikator II 0,756 0,6 Reliabel
Indikator III 0,777 0,6 Reliabel
Indikator IV 0,805 0,6 Reliabel

Dalam hal jawaban responden atas indikator pertanyaan yang diajukan


oleh peneliti dalam kuesioner berkaitan dengan pengetahuan perpajakan
tersebut adalah reliabel, karena hasil pengujian reliabilitas Cronbach Alpha
(α) masing masing indikator lebih besar dari ketentuan batasan reliabel (yaitu
sebesar 0,6), yang artinya jawaban dari responden terhadap pertanyaan adalah
konsisten berkaitan dengan sanksi pajak.

4. Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi yang Melakukan pekerjaan Bebas


Pengertian kepatuhan pajak (tax compliance) disini adalah wajib pajak
yang mempunyai kesediaan untuk memenuhi kewajiban pajaknya sesuai
dengan aturan yang berlaku tanpa perlu diadakannya pemeriksaan, investigasi
seksama, peringatan ataupun ancaman, dalam penerapan sanksi baik hukum
maupun administrasi.

Tabel 2.8
Hasil Pengujian Reliabilitas
3409
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Kepatuhan wajib
pajak yang
melakukan Alpha Batasan Keterangan
pekerjaan bebas
(Y)

Indikator I 0,797 0,6 Reliabel

Indikator II 0,878 0,6 Reliabel

Indikator III 0,803 0,6 Reliabel

Indikator IV 0,853 0,6 Reliabel

Dalam hal jawaban responden atas indikator pertanyaan yang diajukan


oleh peneliti dalam kuesioner berkaitan dengan pengetahuan perpajakan
tersebut adalah reliabel, karena hasil pengujian reliabilitas Cronbach Alpha
(α) masing masing indikator lebih besar dari ketentuan batasan reliabel (yaitu
sebesar 0,6), yang artinya jawaban dari responden terhadap pertanyaan adalah
konsisten berkaitan dengan kepatuhan wajib pajak orang priibadi orang pribadi
yang melakukan pekerjaan bebas.
Berdasarkan tabel-tabel yang terdapat dalam penjelasan masing-masing
variabel diatas menujukkan bahwa item-item dari masing-masing variabel
menunjukkan nilai Cronbach’s Alpha yang berada diatas 0,6. Dengan
demikian item-item tersebut adalah reliabel dan layak digunakan sebagai alat
ukur dalam pengujian statistik.

2.6.2 Uji Asumsi Klasik


Uji asumsi klasik adalah persyaratan statistik yang harus dipenuhi pada
analisis regresi berganda yang berbasis Ordinary Least Square (OLS). Uji
asumsi klasik dibutuhkan untuk mengetahui apakah hasil estimasi regresi
berganda yang dilakukan telah terdistribusi secara normal (normalitas) dan
benar-benar bebas dari adanya gejala heteroskedastisitas, multikolonieritas,
dan autokorelasi.

2.6.2.1 Uji Normalitas

Uji normalitas menguji apakah dalam sebuah model regresi, variabel


bebas dan variabel terikat, atau keduanya mempunyai distribusi normal atau
tidak. Model regresi yang baik adalah distribusi data normal atau mendekati

3410
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

normal. Normalitas dapat diketahui dengan menggunakan uji statistik non-


parametrik Kolmogrov Smirnov pada alpha sebesar 5%. Jika nilai signifikan
dari pengujian Kolmogrov Smirnov lebih besar dari 0,05 berarti data normal.

Tabel 2.9
Pengujian Normalitas
One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Unstandardized
Residual
N 30
Normal Parametersa,b Mean ,0000000
Std. Deviation 1,98686265
Most Extreme Differences Absolute ,123
Positive ,086
Negative -,123
Test Statistic ,123
Asymp. Sig. (2-tailed) ,200c,d
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
c. Lilliefors Significance Correction.
d. This is a lower bound of the true significance.

Hasil uji Kolmogrov Smirnov pada table 2.9 memperlihatkan bahwa


nilai Signifikan untuk seluruh variabel Kepatuhan wajib pajak yang melakukan
pekerjaan bebas, sosialisasi perpajakan, pengetahuan perpajakan dan sanksi
pajak sebesar 0,200. Dengan demikian data yang digunakan dalam penelitian
ini menyebar secara normal.

2.6.2.2 Uji Heteroskedastisitas


Gambar 2.10

3411
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Uji Heteroskedasitas

Dari grafik scatterplots terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak


serta tersebar baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y. Hal ini
dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi,
sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi kepatuhan wajib
pajak yang melakukan pekerjaan bebas.

2.6.2.3 Uji Multikolinearitas


Uji multikolinieritas bertujuan untuk mengetahui apakah dalam model
regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi bebas
multikolinieritas jika mempunyai nilai Tolerance >0,10 atau sama dengan
VIF < 10. Untuk mengetahui apakah terjadi multikolonieritas dapat dilihat dari
tabel 4.4 berikut.
Tabel 2.11
Pengujian Multikolinieritas

Coefficientsa
Unstandardized Standardized Collinearity
Model Coefficients Coefficients t Sig. Statistics

3412
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Std.
B Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) 11,549 5,062 2,282 ,031
Sosialisasi
-,187 ,222 -,193 -,841 ,408 ,595 1,680
Perpajakan
Pengetahuan
,381 ,185 ,377 2,055 ,050 ,934 1,070
Perpajakan
Sanksi Pajak ,093 ,253 ,086 ,366 ,717 ,574 1,741
a. Dependent Variable: Kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas

Dari data pada tabel diatas dapat diketahui bahwa semua variabel
independen memiliki nilai Tolerance lebih besar dari 0,10 dan nilai VIF kurang
dari 10. Maka dari itu dapat disimpulkan bahwa seluruh variabel indenpenden
yang digunakan dalam penelitian ini tidak berkorelasi antara variabel
indenpenden satu dengan variabel indenpenden lainnya.

2.6.3 Analisis Regresi Berganda


Analisis regresi berganda adalah analisis hubungan antara dua atau
lebih variabel independen dengan variabel dependen. Analisis ini digunakan
untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel
dependen, apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif
atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai
variabel independen mengalami kenaikan atau penurunan.

2.6.3.1 Uji Hipotesis

Perhitungan regresi berganda ini dilakukan dengan menggunakan


bantuan program SPSS. Hasil dari perhitungan diperoleh sebagai berikut

Tabel 2.12
Uji Hipotesis
Coefficientsa

Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Std.
Model B Error Beta t Sig.
3413
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

1 (Constant) 11,549 5,062 2,282 ,031


Sosialisasi
-,187 ,222 -,193 -,841 ,408
Perpajakan
Pengetahuan
,381 ,185 ,377 2,055 ,050
Perpajakan
Sanksi Pajak ,093 ,253 ,086 ,366 ,717
a. Dependent Variable: Kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan
bebas

Persamaan regresinya sebagai berikut :


Y = α -β1 X1 +ß2X2+ß3X3+ e
Y = 11,549- 0,187 X1+0,381X2+0.093X3

Dari hasil persamaan regresi diatas menunjukkan bahwa variabel


indenpenden yaitu Sosialisasi Perpajakan (X1) bertanda negatif sedangkan
variabel independen Pengetahuan Perpajakan (X2), Sanksi Pajak (X3) memiliki
nilai koefisien regresi bertanda positif. Hal ini menunjukkan bahwa variabel
indenpenden Sosialisasi Perpajakan berpengaruh negatif terhadap Kepatuhan
wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas sedangkan variabel independen
Pengetahuan Perpajakan dan Sanksi Pajak berpengaruh positif terhadap
Kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas.

2.6.3.2 Uji Regresi secara Parsial (Uji statistik t)

Hasil analisa secara parsial (uji t) dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 4.12
Coefficientsa
Unstandardized Standardized
Coefficients Coefficients
Std.
Model B Error Beta t Sig.
1 (Constant) 11,549 5,062 2,282 ,031

3414
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Sosialisasi
-,187 ,222 -,193 -,841 ,408
Perpajakan
Pengetahuan
,381 ,185 ,377 2,055 ,050
Perpajakan
Sanksi Pajak ,093 ,253 ,086 ,366 ,717
a. Dependent Variable: Kepatuhan wajib pajak yang melakukan
pekerjaan bebas

Y = 11,549- 0,187 X1+0,381X2+0.093X3


a. Konstanta

Berdasarkan hasil estimasi data dalam model regresi terdapat nilai


konstanta sebesar 11,549. Nilai konstanta bertanda positif
menggambarkan kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan
bebas mengalami kecenderungan meningkat sebesar 11,549%.

III. Hasil dan Pembahasan


3.1.1 Hasil Penelitian
b. Pengaruh sosialisasi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak
yang melakukan pekerjaan bebas
Persamaan regresi menunjukkan bahwa koefisien regresi variabel
Sosialisasi Perpajakan adalah -0,187. Artinya jika Sosialisasi
Perpajakan mengalami penurunan maka kepatuhan wajib pajak yang
melakukan pekerjaan bebas akan menurun sebesar 18,7%. Nilai t-
hitung dari koefisien regresi Sosialisasi Perpajakan adalah sebesar -
0,841, sedangkan nilai t-tabel 5% dengan derajat bebas 26 (30-4)
adalah sebesar 2,0555. Nilai t-hitung lebih kecil dari t-tabel 5%
sehingga diputuskan untuk menerima H0. Artinya secara parsial
sosialisasi perpajakan berpengaruh negatif dan tidak signifikan
terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas pada
tingkat kepercayaan 95%.

c. Pengaruh pengetahuan perpajakan terhadap kepatuhan wajib


pajak yang melakukan pekerjaan bebas
Persamaan regresi menunjukkan bahwa koefisien regresi variabel
pengetahuan perpajakan adalah 0,381. Artinya jika pengetahuan
perpajakan mengalami peningkatan maka kepatuhan wajib pajak yang
melakukan pekerjaan bebas akan meningkat sebesar 38,1%. Nilai t-
hitung dari koefisien regresi pengetahuan Perpajakan adalah sebesar
2,055, sedangkan nilai t-tabel 5% dengan derajat bebas 26 (30-4)
adalah sebesar 2,0555. Nilai t-hitung sama dengan t-tabel 5% sehingga

3415
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

diputuskan untuk menerima H1. Artinya secara parsial pengetahuan


perpajakan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepatuhan
wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas pada tingkat kepercayaan
95%.
d. Pengaruh sanksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak yang
melakukan pekerjaan bebas
Persamaan regresi menunjukkan bahwa koefisien regresi variabel
sanksi pajak adalah 0,093. Artinya jika sanksi pajak mengalami
peningkatan maka kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan
bebas akan meningkat sebesar 9,3%. Nilai t-hitung dari koefisien
regresi sanksi pajak adalah sebesar 0,366, sedangkan nilai t-tabel 5%
dengan derajat bebas 26 (30-4) adalah sebesar 2,0555. Nilai t-hitung
lebih kecil dengan t-tabel 5% sehingga diputuskan untuk menerima H0.
Artinya secara parsial sanksi pajak berpengaruh positif namun tidak
signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan
bebas pada tingkat kepercayaan 95%.
3.1.2 Uji F
Untuk mengetahui pengaruh secara bersama-sama (simultan) variabel
bebas terhadap variabel terikat maka digunkan uji F. Hasil pengujian dengan
menggunakan SPSS adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.

1 Regression 25,386 3 8,462 4,922 ,001b

Residual 114,481 26 4,403

Total 139,867 29

a. Dependent Variable: Kepatuhan wajib pajak yang melakukan


pekerjaan bebas
b. Predictors: (Constant), Sanksi Pajak, Pengetahuan Perpajakan,
Sosialisasi Perpajakan

Dari tabel 43.1 dapat dilihat bahwa nilai F-hitung adalah 4,922,
sedangkan nilai F-tabel 0,05 adalah 2,98. Karena F-hitung lebih kecil dari f-
tabel maka disimpulkan menerima H1. Artinya secara simultan variabel
3416
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

sosialisasi perpajakan, pengetahuan perpajakan dan sanksi pajak berpengaruh


positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan
pekerjaan bebas pada tingkat kepercayaan 95%.

3.1.3 Uji Determinasi (R2)


Koefisien determinasi (R2) digunakan untuk mengukur kebaikan suai
model dapat menerangkan variasi variabel terikat. Nilai R2 dapat dilihat pada
tabel berikut ini:

Tabel 3.2
Model Summaryb

Adjusted R Std. Error of


Model R R Square Square the Estimate

1 ,426a ,181 ,087 2,09836

a. Predictors: (Constant), Sanksi Pajak, Pengetahuan


Perpajakan, Sosialisasi Perpajakan
b. Dependent Variable: Kepatuhan wajib pajak yang
melakukan pekerjaan bebas
Dari tabel 3.2 dapat dilihat bahwa koefisien determinasi (r square)
variabel kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas adalah 0,181.
Artinya, sebesar 18,1% kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan
bebas dapat dijelaskan oleh peubahan sosialisasi perpajakan, pengetahuan
perpajakan dan sanksi pajak secara bersama-sama.

3.2 Pembahasan Hipotesis


3.2.1 Pembahasan hipotesis sosialisasi perpajakan berpengaruh positif
terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas

Sosialisasi perpajakan adalah upaya yang dilakukan oleh Dirjen Pajak


dalam pemberian wawasan, dan pembinaan kepada wajib pajak yang dalam
hal ini wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas agar mengetahui tentang
segala hal yang mengenai perpajakan baik peraturan maupun tata cara
perpajakan melalui metode-metode yang tepat. Ketika masyarakat khususnya
wajib pajak orang pribadi mengetahui dan memahami peraturan perpajakan
3417
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

yang berlaku maka semakin patuh wajib pajak tersebut untuk memenuhi
kewajiban perpajakannya atau dengan kata lain, ketika kegiatan sosialisasi
yang semakin meningkat, maka tingkat kepatuhan wajib pajak orang pribadi
pribadi yang melakukan pekerjaan bebas akan meningkat pula, demikian pula
sebaliknya.
Berdasarkan analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa secara
teori maupun secara fakta lapangan adalah tidak benar ketika masyarakat
khususnya wajib pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas
mengetahui dan memahami peraturan perpajakan yang berlaku maka semakin
patuh wajib pajak tersebut untuk memenuhi kewajiban perpajakannya atau
dengan kata lain, ketika kegiatan sosialisasi yang semakin meningkat, maka
tingkat kepatuhan wajib pajak orang pribadi pribadi yang melakukan pekerjaan
bebas tidak akan meningkat pula namun sebaliknya. Hal ini disebabkan oleh
peran sosialisasi cenderung tidak merata, proses akses sosialisasi yang rumit
bagi sebagian kalangan, dan waktu luang yang kurang cukup.
3.2.2 Pembahasan hipotesis pengetahuan perpajakan berpengaruh
positif terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan
pekerjaan bebas
Pengetahuan merupakan hasil “tahu” dan ini terjadi melalui panca
indera manusia yaitu indera penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa dan
peraba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan
telinga. Kepatuhan wajib pajak yang dalam hal ini wajib pajak yang
melakukan pekerjaan bebas dapat diukur dari pengetahuan yang dimiliki wajib
pajak baik itu mengenai peraturan, konsep ketentuan umum di bidang
perpajakan, jenis pajak yang berlaku di Indonesia mulai dari subjek pajak,
objek pajak, tarif pajak, perhitungan pajak terutang, dan pembayaran dan
pengisian pelaporan pajak secara tepat waktu.
Semakin tinggi pengetahuan dan pemahaman wajib pajak, maka wajib
pajak dapat menentukan perilakunya dengan lebih baik dan sesuai dengan
ketentuan perpajakan dalam hal pemenuhan pelaksanaan kewajiban perpajakan
sebagai bentuk kepatuhannya. Jika wajib pajak tidak memiliki pengetahuan
mengenai peraturan dan proses perpajakan, maka wajib pajak tidak dapat
menentukan perilakunya dengan tepat dan semakin tidak patuh. Upaya untuk
meningkatkan kesadaran wajib pajak sehingga wajib pajak semakin patuh
adalah dengan meningkatkan pengetahuan di bidang perpajakannya.
Dari data yang telah diolah, Persamaan regresi menunjukkan bahwa
koefisien regresi variabel pengetahuan perpajakan adalah 0,381. Artinya jika
pengetahuan perpajakan mengalami peningkatan maka kepatuhan wajib pajak
yang melakukan pekerjaan bebas akan meningkat sebesar 38,1%. Nilai t-
hitung dari koefisien regresi pengetahuan Perpajakan adalah sebesar 2,055,
3418
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

sedangkan nilai t-tabel 5% dengan derajat bebas 26 (30-4) adalah sebesar


2,0555. Nilai t-hitung sama dengan t-tabel 5% sehingga diputuskan untuk
menerima H1. Artinya secara parsial pengetahuan perpajakan berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan
pekerjaan bebas pada tingkat kepercayaan 95%.
Berdasarkan analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa secara
teori maupun secara fakta lapangan adalah benar jika semakin tinggi
pengetahuan dan pemahaman wajib pajak, maka wajib pajak dapat
menentukan perilakunya dengan lebih baik dan sesuai dengan ketentuan
perpajakan dalam hal pemenuhan pelaksanaan kewajiban perpajakan sebagai
bentuk kepatuhannya. Jika wajib pajak tidak memiliki pengetahuan mengenai
peraturan dan proses perpajakan, maka wajib pajak tidak dapat menentukan
perilakunya dengan tepat dan semakin tidak patuh. Upaya untuk meningkatkan
kesadaran wajib pajak sehingga wajib pajak semakin patuh adalah dengan
meningkatkan pengetahuan di bidang perpajakannya.

3.2.3 Pembahasan hipotesis sanksi pajak berpengaruh positif terhadap


kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas
Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan
perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan
dituruti/ditaati/dipatuhi, dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat
pencegah agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan. Apabila
kewajiban pajak tidak dilaksanakan, maka ada konsekuensi hukum yang bisa
terjadi karena pajak mengandung unsur pemaksaan. Konsekuensi hukum
tersebut adalah pengenaan sanksi-sanksi perpajakan. Semakin berat sanksi
yang dikenakan kepada wajib pajak yang tidak mematuhi ketentuan perpajakan
diduga akan mempengaruhi kepatuhan wajib pajak tersebut untuk memenuhi
semua ketentuan yang berlaku dalam hal pemenuhan kewajiban perpajakannya
Dari data yang telah diolah, Persamaan regresi menunjukkan bahwa
koefisien regresi variabel sanksi pajak adalah 0,093. Artinya jika sanksi pajak
mengalami peningkatan maka kepatuhan wajib pajak yang melakukan
pekerjaan bebas akan meningkat sebesar 9,3%. Nilai t-hitung dari koefisien
regresi sanksi pajak adalah sebesar 0,366, sedangkan nilai t-tabel 5% dengan
derajat bebas 26 (30-4) adalah sebesar 2,0555. Nilai t-hitung lebih kecil
dengan t-tabel 5% sehingga diputuskan untuk menerima H0. Artinya secara
parsial sanksi pajak berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap
kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas pada tingkat
kepercayaan 95%.
Berdasarkan analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa sanksi
benar akan mempengaruhi kepatuhan wajib pajak orang pribadi yang
3419
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

melakukan pekerjaan bebas namun secara teori, hipotesis yang telah dibuat
pada sampel tidak dapat diberlakukan pada populasi yang artinya kesimpulan
pada sampel tidak berlaku tidak dapat digeneralisasi dalam fakta lapangan
bahwa jika Semakin berat sanksi yang dikenakan kepada wajib pajak yang
tidak mematuhi ketentuan perpajakan yang disebabkan oleh beberapa sanksi
yang akan dikenakan kepada wajib pajak baik berupa sanksi administrasi
maupun sanksi pidana yang diduga akan mempengaruhi kepatuhan wajib pajak
tersebut untuk memenuhi semua ketentuan yang berlaku dalam hal pemenuhan
kewajiban perpajakannya.

3.2.4 Pembahasan hipotesis sosialisasi perpajakan, pengetahuan


perpajakan dan sanksi pajak berpengaruh positif terhadap
kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas
Secara keseluruhan (simultan) sosialisasi perpajakan, pengetahuan
perpajakan, dan sanksi pajak, diduga akan meningkatkan kepatuhan wajib
pajak orang pribadi yang melakukan pekerjaan bebas jika wajib pajak tersebut
dibekali oleh pengetahuan teknis yang memadai dengan dibarengi oleh
kegiatan sosialisasi pemberian wawasan berupa pengetahuan teknis
perpajakan, dan diberikannya sanksi kepada para pelaku pekerja bebas yang
akan dikenakan kepada wajib pajak bila tidak memenuhi kewajiban
perpajakannya dengan baik maka, diduga akan memudahkan wajib pajak
dalam memenuhi dan patuh dalam hal kewajiban perpajakannya terhadap
pemerintah. Dari data yang telah diolah, diperoleh nilai F-hitung adalah 4,922,
sedangkan nilai F-tabel 0,05 adalah 2,98. Karena F-hitung lebih kecil dari F-
tabel maka disimpulkan menerima H1. Artinya secara simultan variabel
sosialisasi perpajakan, pengetahuan perpajakan dan sanksi pajak berpengaruh
positif dan signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan
pekerjaan bebas pada tingkat kepercayaan 95%.
Berdasarkan analisis data tersebut dapat disimpulkan bahwa secara
teori maupun secara fakta lapangan adalah benar jika wajib pajak tersebut bila
dibekali oleh pengetahuan teknis yang memadai dengan dibarengi oleh
kegiatan sosialisasi pemberian wawasan berupa pengetahuan teknis
perpajakan, dan diberikannya sanksi kepada para pelaku pekerja bebas yang
akan dikenakan kepada wajib pajak bila tidak memenuhi kewajiban
perpajakannya dengan baik maka, diduga akan memudahkan wajib pajak
dalam memenuhi dan patuh dalam hal kewajiban perpajakannya terhadap
pemerintah.

IV. Kesimpulan dan Saran

3420
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

Setelah melakukan penelitian di Kantor Pelayanan Pajak (KPP)


Pratama Medan Timur tentang pengaruh sosialisasi perpajakan, pengetahuan
perpajakan dan saksi pajak terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi yang
melakukan pekerjaan bebas di kecamatan Medan Timur, maka diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
1. Secara parsial sosialisasi perpajakan berpengaruh negatif dan tidak
signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan
pekerjaan bebas.
2. Secara parsial pengetahuan perpajakan berpengaruh positif dan
signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan
pekerjaan bebas.
3. Secara parsial sanksi pajak berpengaruh positif namun tidak
signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan
pekerjaan bebas.
4. Secara simultan variabel sosialisasi perpajakan, pengetahuan
perpajakan dan sanksi pajak berpengaruh positif dan signifikan
terhadap kepatuhan wajib pajak yang melakukan pekerjaan bebas.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan evaluasi bagi pihak KPP
Pratama Medan Timur apakah sosialisasi yang dilakukan sudah efektif atau
belum, sehingga kegiatan sosialisasi yang dilakukan tidak sia-sia dan dapat
meningkatkan kepatuhan wajib pajak khusus para pelaku pekerja bebas agar
dapat memaksimalkan penerimaan pajak. Serta untuk aparat pajak, sebaiknya
lebih meningkatkan lagi pelayanan dan terus bersikap positif agar tidak
menimbulkan prasangka negatif dari wajib pajak orang pribadi khusus para
pelaku pekerja bebas sehingga tidak menurunkan kepatuhan wajib pajak orang
pribadi pekerja bebas

DAFTAR PUSTAKA

Devano,Soni dan Rahayu S. K, 2006. Perpajakan: Konsep, Teori, dan Isu,


Edisi Pertama, Cetakan Pertama: Kencana Prenada Media Group,
Jakarta.
3421
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3396-3421

H.Eddy Faisal, 2016. Memahami Amnesti Pajak Dengan Cerdas dan


Lengkap: Buku Pintar Indonesia, Jakarta Barat.
Mardalis, 2010. Metode Penelitian: Suatu Pendekatan Proposal, Edisi
Pertama, Catatan Kedua Belas: Bumi Aksara, Jakarta.
Mardiasmo, 2006. Perpajakan, Edisi Revisi: Andi Yogyakarta.

Martono Nanang, 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Edisi Revisi: PT.


Raja Grafindo, Jakarta.

Resmi Siti, 2009. Perpajakan: Teori dan Kasus, Buku Satu, Edisi kelima:
Salemba Empat, Jakarta.
Riduan, 2010. Dasar-Dasar Statistika: Edisi Revisi, Catatan Kedelapan:
Alfabeta, Bandung.
Suandy Erly,2011. Hukum Pajak, Edisi Kelima: Salemba Empat, Jakarta.
Waluyo dan Wirawan B, Iiyas, 2003. Perpajakan Indonesia, Buku I : Indek

3422
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

Analisis Materi Pengajaran Guru Sekolah Minggu HKBP Tahun 2017


Terhadap Pertumbuhan Iman Anak-anak
Di HKBP Petra Pematangsiantar

Oleh

Sunggul Pasaribu, M.Pd.K


Dosen Prodi Pendidikan Agama Kristen
Universitas HKBP Nommensen Medan

Abstract

Jesus called them and said, ; “And they brought unto him also infants,
that he would touch them: but when his disciples saw it, they rebuked them.
But Jesus called them unto him, and said, Suffer little children to come unto
me, and forbid them not: for of such is the kingdom of God.” (Luke 18:15-
16). God expects the Church to have children educated in the knowledge of
His Word as we find at Deutereonomy 6:4-7,; “Hear, O Israel: The Lord our
God is one Lord: And thou shalt love the Lord thy God with all thine heart,
and with all thy soul, and with all thy might. And these words, which I
command thee this day, shall be in thine heart: And thou shalt teach them
diligently unto thy children, and shalt talk of them when thou sittest in thine
house, and when thou walkest by the way, and when thou liest down, and
when thou risest up“. To find out how far the teaching topics of the Sunday
School Teacher’s HKBP teaches on the growth chrildren of faith at the
HKBP Petra Pematangsiantar 2017. The method used in this study with
qualitative research, konprehensip, collection of observation data, interviews
to know how the congregation response and how in the Sunday School
Teaching Handbook of HKBP 2017 relevant to building the growth of
children's faith. Thus it can be seen that there is a relationship of teaching
curriculums of Sunday School HKBP to the growth of faith of Sunday
School HKBP Petra Pematangsiantar.
Key Words : Church, Teaching, School Sunday

1.PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang Masalah
Tuhan Yesus sangat mengasihi anak-anak. Ajaran Yesus ini menjadi
teladan bagi gereja untuk membina dan mempersiapkan masa depan Gereja
sebagai ahli waris Kerajaan Allah (Ul. 6:4-7). Namun dalam kenyataannya,

3422
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

masih banyak orangtua, penatua, dan warga gereja kurang memperhatikan


pola pendidikan dan pembinaan iman anak-anak (Sekolah Minggu). Sikap
Yesus dalam Injil Lukas menjadi daya pendorong gereja bahwa tugas
mendesak gereja terhadap anak-anak sebagai pemilik kerajaan Allah tidak
boleh diabaikan sebagaimana pernyataan Tuhan Yesus, “maka datanglah
orang-orang membawa anak-anaknya yang kecil kepada Yesus, supaya Ia
menjamah mereka. Melihat itu murid-murid-Nya memarahi orang-orang itu.
Tetapi Yesus memanggil mereka dan berkata,: "Biarkanlah anak-anak itu
datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka, sebab
orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah (Lukas 18:15-
16).
Mendidik anak-anak sebagai generasi penerus akan menjamin
pertumbuhan gereja secara alamiah. Kualitas gereja pada masa mendatang
ditentukan oleh bagaimana orangtua dan pendidik mengajar anak-anak.
Pertumbuhan gereja secara kualitas dan kuantitas tergantung pada
pendidikan generasi penerusnya. Bila pendidikan bagi generasi penerus
diutamakan berarti gereja meletakkan dasar yang kokoh hidup kerohanian
jemaat Tuhan. Sehingga mereka tidak akan mudah terbawa arus yang
mengombang-ambingkan iman kepercayaannya, maka mereka telah siap
menjadi penerus gereja ke masa depan.
Jhon Stott (2002:34) mengatakan bahwa pertumbuhan dan
perkembangan gereja sebagai institusi (lembaga) tidak terlepas dari majelis
jemaat yang memimpinnya, di mana para anggota majelis jemaat ini
memiliki tugas dan tanggung jawab yang saling berkaitan dalam
memberikan pelayanan yang dibutuhkan para jemaatnya dalam
mendewasakan iman mereka. Masa depan kehidupan Gereja nantinya adalah
tanggung jawab para anak-anak itu sendiri. Demi kelangsungan hidup dan
misi gereja maka anak-anak harus benar-benar dibina agar mempunyai dasar
dan pegangan hidup beriman yang teguh serta dapat menunjukkan
kepribadian yang aktif sehingga memiliki tanggung jawab yang penuh
terhadap masa depan Gereja.
Perkembangan dan pertumbuhan fisik dan psikis anak-anak penting
untuk menjadi pembahasan sesuai dengan fase (tahapan) pertumbuhannya.
Secara emosi, anak belajar mengendalikan ketika mereka berhubungan
dengan orang lain. Secara sosial anak belajar berhubungan dengan orang
lain. Secara Spritual, anak-anak dapat menangkap dan memakai konsep-
konsep dan prisip-prinsip Alkitab. Dalam kehidupan mereka konsep dan
prinsip tersebut diajarkan sesuai dengan tingkat intelektualnya dan dikaitkan
dengan pengalaman mereka setiap hari.

3423
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

Dalam pertumbuhannya, anak mampu memperhatikan perilaku


keagamaan yang diterima melalui inderanya, anak mulai meniru perilaku
keagamaan secara sederhana dan mulai mengekspresikan rasa sayang dan
cinta kasih, anak mampu meniru secara terbatas perilaku baik atau sopan ,
anak mampu meniru dan mengucapkan bacaan doa, lagu keagamaan dan
gerakan beribadah secara sederhana, mulai berprilaku baik atau sopan bila
diingatkan, anak mampu melakukan keagamaan secara berurutan dan mulai
belajar membedakan perilaku baik dan buruk (Singgih Gunarsah,1997:23)
Guru Sekolah Minggu merupakan pelayanan yang sangat efektif,
yang terjun langsung dalam pelayanan pendidikan gerejawi di mana sebagai
guru (pengajar) menyandang jabatan rohani yang kudus karena panggilan
dari Allah (Efesus 4:11-12). Sebab itu, seorang guru harus menyelesaikan
tugas yang sudah dipercayakan Allah dengan setia, artinya guru sekolah
minggu mengenal dan percaya akan kuasa Tuhan Allah melalui pertumbuhan
iman ke arah yang lebih dewasa, karena melalui penidikan agama yang
diberikan oleh guru sekolah minggu bertujuan untuk mendewasakan iman
anak.
Dapat disimpulkan bahwa pihak yang dapat berperan memotivasi
anak dalam mengikuti ibadah adalah guru sekolah Minggu dan orang tua.
Maka peran guru sekolah minggu sangatlah penting dalam pembinaan dan
pembentukan spritualitas anak, karena sekolah Minggu merupakan
pelayanan kesaksian gereja sebagai tubuh Kristus yang kelihatan di dunia ini.
Itulah sebabnya guru sekolah minggu bertanggung jawab terhadap tugasnya,
yaitu memberikan pengenalan dan pengetahuan yang benar tentang firman
Tuhan.
Namun menurut pengamatan langsung ke lapangan, maka terlihat
masih kurangnya perhatian dan pelayanan gereja terhadap materi pengajaran
guru sekolah minggu. Ini dapat dibuktikan bahwa gereja masih sibuk dengan
program rutinitas geeja, seperti ; program pembangunan fisik, pesta-pesta
kategorial, pembahasan anggaran, membangun kemegahan gereja, sibuk
dengan urusan organisasi gereja. Mengapa hal ini terjadi, serta apakah yang
menyebabkan pertumbuhan keimanan anak-anak sekolah minggu menjadi
lambat? Jawaban dari hypothesa penulis bahwa gereja (Majelis Jemaat)
kurang memberikan perhatian terhadap pertumbuhan rohani anak sekolah
minggu. Sehubungan dengan pentingnya meneliti dan menganlisa materi
pengajaran yang dipersiapkan oleh Guru sekolah minggu maka penulis
membuat judul penelitian ini, yaitu ; Analisis Materi Pengajaran Guru
Sekolah Minggu HKBP Terhadap Pertumbuhan Iman Anak-anak di
HKBP Petra Pematangsiantar tahun 2017.

1.2.Rumusan masalah umum:


3424
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

Sejauhmanakah hubungan materi pengajaran guru sekolah Minggu terhadap


pertumbuhan iman (spritualitas) Anak-anak Sekolah Minggu di HKBP Petra
Pematangsiantar Tahun 2017.

1.3.Rumusan Masalah khusus :


1. Apakah materi pengajaran guru sekolah minggu HKBP terhadap
pertumbuhan iman (spiritualitas) anak sekolah minggu
2. Apakah pokok-pokok materi dalam kurikulum pengajaran guru
sekolah minggu HKBP terhadap pertumbuhan iman (spritualitas)
anak sekolah minggu
3. Apakah relevansi materi pengajaran guru sekolah minggu HKBP
terhadap pertumbuhan iman (spiritualitas) anak sekolah minggu

1.4.Tujuan Penelitian
Berdasarkan analisis materi pengajaran Guru Sekolah Minggu di atas,
bahwa sesuatu penelitian yang dilakukan tentu ada tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan dengan rumusan masalah di atas, penelitian ini mempunyai
tujuan , yakni :
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui apakah pengaruh materi pengajaran Guru Sekolah
Minggu HKBP terhadap pertumbuhan iman (spritualitas) anak-anak
di HKBP Petra Pematangsiantar Tahun 2017.
b. Tujuan Khusus :
1. Untuk mengetahui apakah pengaruh materi pengajaran Guru
Sekolah Minggu terhadap pertumbuhan iman (spiritualitas) anak
sekolah minggu
2. Untuk mengetahui apakah pokok-pokok materi dalam Kurikulum
pengajaran guru sekolah minggu terhadap pertumbuhan iman
(spritualitas) anak sekolah minggu
3. Untuk mengetahui apakah relevansi materi pengajaran guru
sekolah minggu terhadap pertumbuhan iman (spiritualitas) anak
sekolah minggu

1.5.Manfaat Penelitian
Sehubungan dengan tujuan diatas, maka yang menjadai manafaat
penelitian adalah :
1. Menambah pemahaman tentang materi pengajaran guru sekolah
minggu terhadap pertumbuhan iman (spiritualitas) anak-anak di
HKBP Petra Pematangsiantar
3425
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

2. Sebagai bahan masukan bagi guru sekolah minggu dalam mendidik


dan membimbing pertumbuhan iman (spiritualitas) anak sekolah
minggu
3. Sebagai bahan kajian bagi pengembangan materi pengajaran guru
sekolah minggu HKBP secara umum.

2. METODOLOGI PENELITIAN
2.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Sesuai dengan judul penelitian ini yaitu,; Analisis.Materi Pengajaran
guru Sekolah Minggu Terhadap Pertumbuhan Iman Anak-anak di HKBP
Petra Pematangsiantar Tahun 2017, berada di Jalan Ahmad Yani No. 63
Pematangsiantar.
Penelitian ini dilakukan dengan kajian literatur dan pengamatan
(obsrevasi), wawancara, pengenalan lapangan, penerimaan ijin penelitian,
penentuan tempat dan lokasi serta penetapan jadwal penelitian. Kemudian
penelitian selanjutnya dilakukan dengan pengumpulan data, analisa data,
penyusunan konsep laporan, penggandaan laporan penelitian dan
penyampaian hasil penelitian.
Adapun alasan memilih lokasi penelitia ini adalah :
1. Penulis adalah Majelis Jemaat di HKBP Ressort Petra
Pematangsiantar
2. Penulis tertarik karena letaknya strategis untuk pengembangan
penelitian
3. Masalah ini belum pernah diteliti di gereja HKBP secara umum
dan di HKBP Petra Pematangsiantar secara khusus.
2.2. Methode dan Strategi Penelitian
Methode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk
mendapatkan data dan tujuan dan kegunaan penelitian itu. Dalam penelitian
ini penulis menggunakan methode penelitian dengan :
a. Dengan cara ilmiah.
b. Data, data yang diperoleh melalui penelitian ini adalah data empiris dan
data kepustakaan yang teramati dengan valid.
c. Setiap penelitian mempunyai tujuan dan kegunaan tertentu melalui
penemuan, pengembangan dan pembuktian.. d.Wawancara
2.3. Tehnik Pengumpulan Data
Tehnik pengumpulan data merupakan cara atau jalan yang digunakan
oleh peneliti untuk mengumpulkan data dalam penelitian. Tehnik
pengumpulan data dalam penelitian menurut Suharsini, secara garis besar
dibedakan menjadi dua yaitu, tes dan non-test. Data tersebut diperoleh
dengan menggunakan instrument test. Menurut Sugiono, untuk
menghasilkan data penelitian yang lebih akurat dapat menggunakan

3426
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

wawancara dan angket. Wawancara digunakan sebagai tehnik pengumpulan


data apabila ingin melakukan pendahuluan untuk menemukan permasalahan
yang harus diteliti, sedangkan angkte digunakan untuk menemukan
sejauhmanakah relevansi materi pengajaran guru sekolah minggu..
2.4. Wawancara dan Angket
Wawancara dan Angket merupakan tehnik pengumpulan data yang
dilakukan dengan memberi seperangkat pertanyaan lisan untuk wawancara
atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawab melalui angket.
Dalam penelitian ini penulis menggunakan angket dalam pengumpulan data
yaitu memeroleh data tentang pengaruh materi ajar guru sekolah minggu
terhadap pertumbuhan iman anak-anak di HKBP Petra Pematangsiantar
Tahun 2017.
Dalam penlitian ini, penulis menggunakan angket tertutup dengan
jawaban pilihan ganda untuk mengumpulkan data. Adapun alasan untuk
meilih angket tertutup adalah : a.Responden lebih mudah menjawab.
b.Waktu yang digunakan responden dalam menjawab relatif singkat.
c.Responden berpusat pada pokok persoalan
Setiap pertanyaan yang diajukan dalam angket memiliki alternatif
jawaban yang terdiri dari empat (4) plihan dengan ketentuan :a.Untuk pilihan
a diberi bobot empat (4). b.Untuk pilihan b diberi bobot tiga (3). c.Untuk
pilihan c diberi bobot dua (2). d.Untuk pilihan d diberi bobot satu (1)
2.5. Spesifikasi dan Rancangan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian ini, maka sifat
penelitian yang digunakan adalah preskrptif analitis, artinya suatu penelitian
yang ditujukan untuk mendapatkan saran-saran mengenai apa ynag harus
dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tertentu. Sehingga penelitian ini
dapat memberikan gambaran tentang, “Analisis Materi Pengajaran Guru
Sekolah Minggu HKBP Terhadap Pertumbuhan Iman Anak-anak Di
HKBP Petra Pematangsiantar Tahun 2017”
Adapun isntrumen yang digunakan adalah Buku Panduan Mengajar
Sekolah Minggu HKBP Tahun 2017, Buku, wawancara, alat tulis, buku
catatan harian penelitian, alat perekam, dan alat penyimpan data serta kamera
digital yang berfungsi sebagai pendukung tugas peneliti. Lokasi penelitian
di kota Pematangsiantar dengan waktu selama 3 (tiga) Bulan.

2.6. Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data


Untuk mencari membahas permasalahan dalam penelitian ini, maka
diperlukan sumber-sumber penelitian. Dalam penelitian ini, pengumpulan
data diperoleh dari penelitian kepustakaan yang didukung dengan penelitian
lapangan (field research). Penelitian kepustakaan (library research) yaitu
menghimpun data dengan melakuakn penelaahan bahan kepustakaan atau

3427
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

data sekunder yang meliputi bahan hukum primer, bahan hukum sekunder
dan bahan hukum tersier.
a. Bahan materi pengajaran primer, ; yaitu, bahan-bahan materi pengajaran
Guru guru Sekolah Minggu HKBP Tahun 2017 yang menjadi acuansudut
norma dasar, Buku buku Ahli Teologia, Katekhesmus Besar dan Kecil,
Buku Sejarah Kerajaan Allah. Buku buku Tafsiran yang relevan dengan
nats khotbah minggu.
b. Bahan hukum sekunder, yaitu bahan yang memberikan penjelasan
mengenai bahan hukum primer yang berupa buku, hasil-hasil penelitian
adn atau karya ilmiah dari kalangan ahli teologia maupun buku rohani,
termasuk penjelasan dari internet.
c. Bahan Materi pengajaran Tersier, yaitu bahan yang memberi petunjuk
dan penjelasan terhadap bahan materi pengajaran yang primer dan bahan
materi penjelasan sekunder, seperti kamus Alkitab, ensiklopedia dan
sebagainya.
Hasil pengumpulan data kepustakaan ini selanjutnya dikuatkan dengan hasil
penelitian lapangan yakni melalui metode opservasi dan wawancara yakni
dengan cara mendengar, mengamati secara mendalam dengan para informan
pakar Pendidika dan Teologi khususnya tentang piskologi perkembangan
anak untuk menggali data lebih lengkap. Selanjutnya setelah data diperoleh,
maka dilakukan pengecekan dengan melakukan observasi (pengamatan)
kembali di tempat pengajaran anakanak sekolah minggu di Gereja HKBP
Petra.
2.7. Alat pengumpulan Data
Didalam penelitian sosial (agama) normatif, data diperoleh dari
bahan-bahan materi pengajaran Agama yang tertulis. Alat pengumpulan data
yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan cara: Studi dokumen.
Pembahasan mengenai studi dokumen atau bahan pustaka, akan mengawali
pembicaraan mengenai alat-alat pengumpulan data dalam penelitian, karna
bahan kepustakaan atau bacaan dalam penelitian sangat diperlukan, yaitu
dengan cara mempelajari dogma dan bahan-bahan materi pengajaran sekolah
minggu HKBP, teori, buku-buku, hasil penelitian dan dokumen-dokumen
lain yang berhubungan dengan masalah pendidikan anak dan cerita Alkitab
tentang perkembangan dan pertumbuhan iman yang akan diteliti

2.8. Analisis Data


Didalam penelitian sosial (agama) normatif, maka analisis data pada
hakekaktnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematis terhadap bahan-
bahan materi pengajaran yang tertulis. Sitematis berarti, membuat klasifikasi
terhadap bahan-bahan materi pengajaran Alkitab tertulis tersebut, untuk
memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi.

3428
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

Sebelum analisis dilakukan, terlebih dahulu diadakan pemerikassan


dan evaluasi terhadap semua data yang telah dikumpulkan (Bahan materi
pengajaran Alkitab primer, sekunder maupun tersier), untuk mengetahui
validitasnya. Setelah itu kegiatan data tersebut akan disistematisasikan
sehingga menghasilkan klasifikasi yang selaras dengan permasalahan yang
dibahas dalam penelitian ini dengan tujuan untuk memperoleh jawaban yang
baik pula. Selanjutnya data dianalisa denagn menggunakan metode analisis
kualitatif dan selanjutnya ditarik kesimpulan dengan menggunakan metode
deduktif, yakni berpikir dari hal yang umum menuju kepada hal yang khusus
atau spesifik dengan menggunakan perangkat normatif sehingga dapat
memberikan jawaban yang jelas atas permasalahan dan tujuan penelitian.

2.9. Model Teoritis


Untuk lebih mengetahui gambaran secara sistematis dalam rangka
analitis data mengenai :
“ Analisis Materi Pengajaran Guru Sekolah Minggu HKBP Terhadap
Pertumbuhan Iman Anak-anak di HKBP Petra Pematangsiantar tahun
2017”

Variabel bebas ( x) Variabel Terikat (


Y)
(Indevendent Variabel) ( Devendent Variable)

Materi Pengajaran Pertumbuhan Iman


1. Aspek Kognitif 1. Berdoa
2. Aspek Afektif 2. Bersekutu
3. Aspek Piskomotorik 3. Pelayanan

3.KAJIAN PUSTAKA
3.1. Pengajaran Sekolah Minggu Di Gereja
3.1.1. Sejarah dan Latar Belakang Sekolah Minggu.
Pada masa akhir abad 18, Inggris sedang dilanda suatu krisis
ekonomi yang sangat parah. Setiap orang bekerja keras untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya, bahkan anak-anak dipaksa bekerja untuk bisa
mendapatkan penghidupan yang layak. Pada saat itu, wartawan Robert
Raikes mendapat tugas untuk meliput berita tentang anak- anak gelandangan
di Gloucester bagi sebuah harian (koran) milik ayahnya. Apa yang dilihat
Robert sangat memprihatinkan sebab anak- anak gelandangan itu harus
bekerja dari hari Senin sampai Sabtu. Apa yang dilakukan anak-anak pada
hari Minggu itu? Hari Minggu adalah satu-satunya hari libur bagi mereka
3429
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

yang dihabiskan untuk bersenang-senang. Tapi karena mereka tidak pernah


mendapat pendidikan (karena tidak bersekolah), anak-anak itu menjadi
sangat liar. Mereka minum-minum dan melakukan berbagai macam
kenakalan dan kejahatan. ( R. Boehlkhe 1997 : 379 ).
Melihat keadaan itu Robert Raikes bertekad untuk mengubah
keadaan. Ia dengan beberapa teman mencoba melakukan pendekatan kepada
anak-anak tersebut dengan mengundang mereka berkumpul di sebuah dapur
milik Ibu Meredith di kota Scooty Alley. Selain mendapat makanan, di sana
mereka juga diajarkan sopan santun termasuk membaca dan menulis. Tapi
hal paling indah yang diterima anak-anak di situ adalah mereka mendapat
kesempatan mendengar cerita-cerita Alkitab. (R. Boehlkhe 1997 : 383).
Pada awalnya, gereja tidak mengakui kehadiran gerakan Sekolah
Minggu yang dimulai oleh Robert Raikes ini. Tetapi karena kegigihannya
menulis ke berbagai publikasi dan membagikan visi pelayanan anak ke
masyarakat Kristen di Inggris, dan juga atas bantuan John Wesley (pendiri
gereja Methodis), akhirnya kehadiran Sekolah Minggu diterima oleh gereja.
Mula-mula hanya oleh Gereja Methodis, namun akhirnya juga oleh gereja-
gereja Protestan lain. Ketika Robert Raikes meninggal dunia tahun 1811,
jumlah anak yang hadir di Sekolah Minggu di seluruh Inggris mencapai lebih
dari 400.000 anak. Dari pelayanan anak ini, Inggris tidak hanya diselamatkan
dari revolusi sosial, tapi juga diselamatkan dari generasi yang tidak
mengenal Tuhan. (R. Boehlkhe 1997 : 384-385).
Pemakaian istilah Sekolah Minggu secara historis ada keterkaitan
antara kegiatan untuk anak Sekolah Minggu pertama yang diadakan oleh
Raikes di inggris tahun 1970-an, yakni semangat penginjilan bagi buruh
anak-anak melalui “sekolah” baca tulis dan etika. Istilah Sekolah juga dapat
menunjukkan unsur-unsur pendidikan yang dipakai, misalnya murid, guru,
materi/bahan, proses belajar-mengajar dengan tujuan yang jelas dan
emosional, yang semuanya termasuk bagian dari kurikulum.
Menurut penulis dapat disimpulkan jika kita amati alasan yang
dikemukakan memakai kata Sekolah Minggu, “Sekolah” dan “Minggu”,
masing-masing memberi makna, yaitu : ada unsur kebaktian dan unsur
pendidikan.

3.1. Pertumbuhan Iman (spiritualitas) Anak-anak Sekolah Minggu


3.1.1. Pengertian Pertumbuhan
Menurut H.C.Witherington menguraikan makna istilah pertumbuhan
dan perkembangan beriringan dengan istilah pendewasaan, pendidikan, dan
belajar (Psikologi Remaja 2011:76). Menurutnya perubahan struktur dan
perbaikan dan tingkah laku merupakan fungsi-fungsi dari pertumbuhan
organisme. Jadi pertumbuhan bukanlah pendewasaan lawan belajar, karena

3430
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

belajar bergantung pada pendewasaan. Pertumbuhan merupakan makna


yang lebih luas, yang meliputi pendewasaan belajar dan perkembangan.

Dari pendapat Witherington ini dapat disimpulkan bahwa


pertumbuhan lebih merupakan suatu sifat umum dari seluruh organisme,
seluruh personalitas atau kepribadian, sedangkan perkembangan merupakan
bagian dari pertumbuhan yang menunjuk pada perluasan fungsi-fungsi secara
rinci.

3.1.2. Pertumbuhan Iman


Pertumbuhan iman sepada dengan kata pertumbuhan rohani
mengingatkan kita kepada kata-kata seperti “kecakapan rohani” atau
“kehidupan rohani” atau “kebutuhan rohani”. Untuk dapat memahami kata
“rohani” disini dengan baik, menurut Firet kita harus bertolak dari “manusia
sebagai roh dalam arti manusia seutuhnya”, tetapi ditinjau dari fungsinya
yang rohani. Maka dapat dikatakan bahwa pengertian “rohani” adalah
pertanyaan tentang makna atau arti hidup orang beriman.
Pertumbuhan kerohanian (iman) sama seperti tubuh jasmani kita,
tidak otomatis bertumbuh dan menjadi dewasa dan kuat, demikian juga
halnya dengan hidup rohani kita, tidak dengan sendirinya bertumbuh dan
menjadi kuat. Begitu juga kaum muda di sekolah tidak bertumbuh secara
rohani begitu saja, namun juga harus ada bimbingan dari orang – orang
tertentu. Secara umum banyak orang yang sudah lama menjadi Kristen
namun belum bertumbuh hidup rohaninya, maupun orang yang baru Kristen
atau yang baru menerima kristus sebagai Tuhan dan juru slamatnya perlu
mengupayakan hidup dalam rohani.
Menurut Siregar ( 60:2009), dibawah ini dituliskan beberapa tanda
atau ciri kehidupan beriman tidak bertumbuh atau tidak dewasa, yaitu:
1. Hidup tidak berbuah, hanya hidup untuk sendiri (egoistis).
2. Kompromi dengan dunia, hanyut oleh arus zaman, gampang jatuh
kedalam godaan iblis, dunia dan kedinginan. Menyesuaikan diri dengan
gaya hidup duniawi (12:2). Berulang-ulang mengalah terhadap dosa
(lihat Roma 7:15, 17).
3. Tidak tertarik, berminat atau menaruh perhatian kepada perkara.
Beberapa pandangan tentang proses pertumbuhan hidup rohani, yaitu:
firman Tuhan, doa, pelayanan dan persekutuan.
4. Tidak merasa berdosa atau menyesal, tidak gelisah, hati nurani tetap
tenang,bila melakukan dosa atau kejahatan atau pelanggaran hukum
Tuhan. Tidak memiliki kepekaan secara rohani. Tidak ada kerinduan
untuk hidup dalam kekudusan dan ketaatan kepada firman Tuhan.

3431
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

5. Tidak peduli kepada kejahatan, penderitaan, ketidak-adilan yang terjadi


di masyarakat sekitar dan tidak berminat atau tergerak untuk
meringankan beban orang yang menderita .
6. Tidak tergerak atau tertarik untuk melakukan pekerjaan Tuhan atau
pelanyanan dalam jemaat: diakoni sosial , penginjilan, program dalam
jemaat.
7. Selalu menonjolkan perbuatannya atau sumbangannya dalam gereja.
8. Lebih tertarik kepada organisasi, bangunan megah dan keramaian acara
pesta atau kegiatan yang semarak dalam jemaat ketimbang hidup rohani,
umpamanya: doa, PA, pertobatan, pelayanan kasih dan penginjilan.

3.1.3 Aspek-aspek Pertumbuhan Iman Anak-anak Sekolah Minggu


3.1.3.1. Doa
Melalui kehidupan doa, apakah doa pribadi atau secara kelompok,
kita senantiasa dilatih untuk senantiasa berserah kepada Tuhan,
mengandalkan Tuhan, bergantung dan berharap pada Tuhan, dan senantiasa
berjalan dalam iman. Doa adalah nafas rohani orang percaya. Doa dilukiskan
juga sebagai tangga untuk mencapai surga. Tuhan Yesus mengajar murid-
murid-Nya berdoa (Mat 6 : 5-15) dan menasehati mereka agar bertekun
dalam doa (Luk 18:1;22:40). Tuhan Yesus adalah teladan bagi kita dalam hal
berdoa. Doa adalah kebutuhan kita yang terbesar. Rahasia segala kegagalan
adalah justru kegagalan dalam doa. Doa adalah salah satu kunci penting
dalam kemenangan dalam perang rohani dalam kemajuan dalam pelayanan
(Ef 6: 18-20). Doa adalah merupakan hak istimewa bagi kita anak-anak
Tuhan, karena didalam kristus kita dapat menghampiri hadirat Allah yang
kudus itu. Kita dapat berseru kepadanya: “ ya bapa, ya abba” (Roma 8 : 15).
Membaca firman Tuhan dan merang renungkannya serta hidup dalam doa
membuat kita semakin dewasa, kuat dan berbuah secara rohani, dan semakin
mencerminkan kehidupan kristus.
Doa adalah salah satu kehidupan kristen yang sangat penting
disamping belajar firman Tuhan, bersekutu dan menyaksikan iman percaya
kepada orang lain. Berdoa berati berbicara kepada tuhan Allah di surga,
lewat doa orang percaya menyalurkan isi hatinya kepada penciptanya.
Ada beberapa cara yang dipakai orang beriman untuk menyampikan
isi hatinya kepada Tuhan. Isi hati tersebut dapat disampaikan dalam
nyanyian syukur atau dalam bentuk ucapan syukur. Isi hati juga dapat
disampaikan lewat tulisan seperti yang diperbuat oleh nabi Daud, Asaf, Musa
dan para pemazmur lainnya. Mereka berysukur atas apa yang telah diperbuat
Tuhan bagi mereka. Disamping cara-cara tersebut, doa juga merupakan dalah
satu cara untuk menyatakan pujian dan kekaguman orang beriman akan
Tuhan, akan kebesaranNya, kekuasaanNya, kemahatahuanNya dan
kemahahadirannya. Doa juga merupakan salah satu cara untuk
3432
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

mengungkapkan pengakuan orang percaya akan kasih Allah yang dinyatakan


dalam pengorbanan Yesus Kristus.
Melalui doa, orang percaya juga menyampaikan kerinduan hatinya
dalam bentuk permohonan agar Allah menolongnya. Mungkin permohonan
tersebut adalah hal-hal yang ada hubungan dengan pergumulan batin,
penyakit, masalh ekonomi atau kebutuhan sehari-hari. Permohonan juga
mungkin merupakan permintaan akan pertolongan Tuhan untuk
memampukan mengahadapi berbagai masalah hidup atau untuk
memampukan dia melakukan perang rohani melawan kuasa iblis yang selalu
mengganggu hidupnya.
Semua jenis doa tersebut dipanjatkan orang percaya kepada Allah
yang dikenalnya didalam yesus kristus karena ia menyakini bahwa Tuhanlah
satu-satunya yang menjadi tumpuan hidupnya dan merupakan alamat doa
yang benar. Untuk berdoa dengan tenang, orang beriman mencari waktu
yang khusus seperti yang dilakukan oleh Daniel (Dan 6;10). Ia mengambil
satu tempat seperti yag dilakukan Tuhan Yesus (Mar 1:35). Doa tersebut
kadang-kadang dilakukan secara pribadi tetapi juga ada kalanya dilakukan
dalam bentuk persekutuan dengan orang lain. Yesus mengatakan bahwa
kalau ada dua orang sepakat di dunia untuk meminta kepada Bapa maka ia
akan menjawab doa (Mat 18:19).

3.1.3.2.Persekutuan atau ibadah


Dalam surat 1 Kor 1:9 rasul Paulus mengatakan bahwa Tuhan telah
memanggil orang-orang Kristen di Korintus kepada persekutuan dengan
anak-Nya Yesus Kristus. Dengan panggilan ini dipahami bahwa persekutuan
orang-orang Kristen bukanlah suatu persekutuan orang-orang yang kudus
dari dirinya sendiri, melainkan persekutuan orang-orang berdosa yang
dipanggil bersekutu dengan Kristus. Dengan persekutuan di dalam Kristus
ini, orang-orang Kristen menjadi kudus, jadi kekudusan Kristuslah yang
menguduskan orang-orang percaya. Bertitik tolak dari pemahaman akan
“Persekutuan” maka gereja sebagai tubuh Kristus harus mampu membangun
dan mengasuh anggota jemaatnya agar berdedikasi dan menjadi serupa
dengan citra Kristus.
Kesetaraan citra Kristus ini harus ditandai dengan penampakan
kedewasaan iman hidup orang-orang percaya (1 Kor 14 :12; Ef 4:11-13; Kol
1:28-29). Dengan demikian anak-anak sekolah minggu tidak akan yang
diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pelajaran, oleh permainan palsu
manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan. Untuk menjadikan
anak-anak bertumbuh dalam kedewasaan iman dan pengetahuan tentang
Kristus maka pertama-tama siswa harus benar-benar berakar pada Kristus.
Berakar di dalam Kristus berarti bahwa anak-anak sekolah minggu harus
menerima Kristus dan tetap berjalan di dalam Kristus (Kol 2:6; Ef 4:20-21).
3433
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

Hanya dengan jalan demikianlah anak-anak sekolah minggu menjadi kokoh


dan tidak dapat diombang-ambingkan rupa-rupa ajaran sesat.
Kedewasaan iman bertumbuh menjadi setara dengan citra atau
kepenuhan Kristus dapat diukur dengan mengamati hidup seseorang dan
memperhadapakannya dengan buah-buah roh (Gal 5:22-26). Persekutuan
antara manusia dengan Allah tidak mungkin lagi dapat dilakukan, karena
hubungan manusia dengan Allah sudah putus akibat jatuhnya manusia ke
dalam dosa. Namun dengan penebusan yang telah dilakukan Yesus Kristus
di kayu salib, manusia telah dapat kembali bersekutu dengan Allah, melalui
Yesus Kristus. Untuk menghayati perdamaian antara manusia dengan Allah
yang telah dianugerahkan Allah melalui Yesus di kayu salib inilah orang-
orang Kristen dipanggil untuk bersekutu didalam peribadatan. Persekutuan
yang harmonis, erat dan utuh merupakan syarat bagi pertumbuhan hidup
rohani. Persekutuan yang erat memberikan kebahagiaan dan sukacita bagi
orang percaya karena melalui persekutuan tersebut mereka dapat saling
menguatkan iman, saling mengasihi, saling menolong, saling mendoakan,
saling menasehati, saling menghibur. Tuhan menasehati kita untuk
memelihara dan memantapkan persekutuan kita sebagai anggota keluarga
Allah dan menjauhkan hal-hal yang dapat mengganggu, merusak atau
memecahkan peresekutuan kita (Ibr 10:25 ; Fil 2:2 ).
Orang percaya dipanggil memelihara persekutuan itu dengan jalan
menjauhkan sikap yang dirangkaikan dengan kata-kata “saling” yang bersifat
negatif sebagaimana terdapat beberapa ayat Alkitab, yaitu: saling membenci
(Mat. 24:10), saling menantang dan saling mendengki (Gal 5:26), saling
menfitnah (Yak. 4:11); saling membinasakan (Gal 5:15).
Sebaliknya kita dinasehati untuk mengamalkan delapan kata kunci
yang bersifat positif dirangkaikan dengan kata “saling”, yaitu,; 1.Saling
mengasihi (Roma 12:10; 13:8 1 Yoh 3:11). 2.Saling membantu (Gal 6:10; Fil
4:2; 1Yoh 3:16-17). 3.Saling mendoakan ( 2 Kor 1:11; Ef 6:18; 1 Tes 5:11).
4.Saling membagi (1Tim 6:18; Ibr 13:16). 5.Saling menasihati (Kol 3:16; Ibr
10 :25). 6.Saling menghibur (1 Tes 5:11). 7.Saling mengampuni (Ef 4:32)
3.1.3.3.Pelayanan
Menurut Alkitab dalam injil Markus 10:45, tugas melayani yang
diemban Yesus Kristus dan Gereja dipahami sebagai tindakan orang-orang
yang beriman untuk membuka diri dan memberikan diri terhadap
kepentingan dan keselamatan orang lain. Dengan kata lain, melayani berarti
suatu tindakan atau partispasi aktif orang-orang percaya terhadap penderitaan
orang lain. Dengan pemahaman ini dapat dimengerti bahwa pelayanan
mempunyai arti yang sangat luas, sebab pelayanan berkaitan erat dengan
karunia-karunia yang diberikan Allah kepada setiap orang.
Allah telah memberikan aneka karunia kepada orang-orang beriman
sesuai dengan tujuan Allah. Keseluruhan karunia yang diterima orang-orang
3434
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

percaya dari Allah, terdapat suatu rahasia yang paling berharga di dalamnya,
yaitu, “ Kasih”. Dengan berlandaskan kasih inilah anak-anak harus
bertumbuh dan berkembang bersama dan mengarah kepada kesempurnaan
iman sebagaiman yang dimiliki Kristus. Dalam pertumbuhan dan
perkembangan bersama ini nara didik akan hidup dalam kesatuan, hidup di
dalam damai sejahtera, seorang tidak ada yang menganggap dirinya yang
lebih tinggi atau lebih mulia dari yang lain. Untuk mencapai ini kita harus
mampu menggumuli apa yang dikatakan rasul Paulus: “seluruh karunia yang
telah diberikan ini hanya berguna dan dipergunakan untuk membangun
tubuh Kristus” (1 Kor 8:1, Rom 15:1-2). Aneka karunia yang berfokus di
dalam kasih, yang telah dimiliki orang-orang percaya dan bahkan telah
bertumbuh dan berkembang kearah kedewasaan, merupakan suatu sarana
orang-orang percaya untuk melayani Allah.

3.1.4.Pengajaran Sekolah Minggu Di HKBP


Di gereja HKBP tugas panggilan pelayanan kepada anak-anak diakui
berasal dari perintah dan pengajaran Tuhan Yesus. Anak-anak disambut
Tuhan Yesus untuk datang ke dalam kerajaan-Nya (Markus 10:13-16).
Tuhan mengharapkan agar anak-anak dididik dalam pengenalan akan
Firman Tuhan (Ulangan 6:4-7, Efesus 6:4). Oleh sebab itu HKBP sebagai
perwujudan tubuh Kristus di dunia ini terpanggil untuk melayani anak-anak
seperti yang dikehendaki Tuhan. Pelayanan kepada anak-anak
diselenggarakan dalam wadah sekolah minggu (Peraturan HKBP 2012-2022
pasal II : A.1) dalam HKBP. (GBKPP 1988 : 48).
Pelaksanaan pengajaran terhadap sekolah minggu di HKBP
dilakukan dalam bentuk ibadah dan khotbah. Ibadah secara bersama
diadakan di dalam gedung gereja. Semua siswa anak sekolah minggu dari
ketiga horong disatukan bersama-sama mengikuti ibadah. Setalah usai
ibadah kemudian dilanjutkan untuk menyampaikan khotbah yang
dilaksanakan dengan membagi sesuai tingkatan (horong) usia anak sekolah
minggu tersebut. Ibadah di dalam gereja wajib dipimpin oleh penatua
(Majelis Jemaat) yang sudah ditentukan petugasnya, dibantu oleh para guru
sekolah minggu berfungsi sebagai penjaga, pengawal, pengawas selama
ibadah berlangsung.
Pengkhotbah (pengajaran Firman Tuhan) dilakukan oleh guru
sekolah minggu yang diangkat dari antara warga jemaat kalangan pemuda,
atau orangtua, atau oleh majelis jemaat itu sendiri. Kemampuan mereka
mengajar (berkhotbah) dibekali dalam sermon (penelahan materi ajar)
sebagaimana yang telah disediakan nats serta penjelasannya oleh Biro
Sekolah Minggu, Departemen Koinonia HKBP dari Kantor Pusat HKBP.
Dari uraian di atas dapatlah diambil kesimpulan bahwa titik berat
pendidikan di sekolah minggu menekankan Ibadah, mengajar pengetahuan
3435
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

dan penghayatan dasar tentang Firman Tuhan, serta pengenalannya melalui


perbuatan dan perilaku sebagai anak-anak Tuhan. Untuk melihat
bagaimanakah materi dan program pengajaran terhadap anak sekolah minggu
oleh gereja, penulis mengambil salah satu contoh bentuk materi kurikulum
pengajaran yang dilaksanakan di gereja HKBP, yaitu :

Tanggal : 1 Januari 2017


Minggu : Tahun Baru
Nas : Mazmur 62:2-3

TUHAN ADALAH GUNUNG BATU PERUNDUNGAN

Tujuan Umum

Melalui materi pengajaran ini Anak Sekolah untuk mengetahui bahwa


Allah adalah pelindung sejati yang menyertai perjalanan hidup kita dan
tahun ke tahun.

Penjelasan Nas & Nilai Kristiani

Adik-adik SM! Selamat hari Minggu dan Selamat Tahun Baru!


Guru SM menunjukkan 2 buah gambar stik “2016” dan “2017”. Kita telah
menjalani 365 hari tahun 2016 dalam penyertaan kasih setia Tuhan. Hari
ini kita mengawali tahun 2017 dan berharap selalu dalam penyertaan Tuhan
untuk menjalaninya.
Nas Khotbah tertulis dalam Mazmur 62:2-3: “Hanya dekat Allah
saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.Hanya Dialah gunung
batuku dan keselamatanku, kota bentengku, aku tidak akan goyah”.
Pengakuan pemazmur ini lahir dari pengalaman imannya ketika
menghadapi serbuan dari orang- orang jahat. Namun bersama Tuhan
pemazmur selalu diselamatkan.
Salah satu kebutuhan manusia paling mendasar adalah kebutuhan
rasa aman dan tentram. Banyak orang mencoba untuk mencipta keamanan
dalam keluarga misalnya rumah yang berpagar tinggi, pengawasan yang
ketat terhadap anak-anak, memiliki bodyguard, dil. Namun seberapa
mampu kita menjaga keamanan itu? Seberapa kuat kita mengawasi anak-
anak setiap saat? Kita tidak mampu melakukannya tetapi Allah setia
melakukannya. Rasa aman kita yang sejati adalah di dalam pemeliharaan
dan naungan Allah sebab Dialah gunung batu keselamatan kita.
Dalam hidup ini tidak dapat dipungkiri bahwa selalu ada saja yang
membuat kita tidak aman dan tentram. Hal itu membuat kita selalu kuatir
menjalani kehidupan ini. Seluruh kehidupan ini tidak dapat kita kontrol
3436
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

dengan kekuatan kita sendiri. Dalam situasi seperti itulah Pemazmur berseru
kepada Allah menyerahkan hidupnya dalam pemeliharaan Ailah.

Pemazmur tidak kuasa menghadapi musuh-musuhnya sehingga dia


memohon Allah yang menghadapi mereka. Tidak semua orang yang
membenci kita harus kita hadapi dan kita lawan. Izinkah Allah yang turun
tangan untuk menaklukkan mereka, menaklukkan hatinya hingga tunduk
pada kasih Allah dan akhirnya mampu mengasihi. Tuhan akan berperang
untuk kamu dan kamu akan diam saja (Keluaran 14:14). Allah siap sedia
dalam segala waktu menjaga umatNya dan menaungi dengan kasih yang
kekal.
Dalam Mazmur ini digambarkan tentang kasih Allah yang
melindungi anak-anakNya seperti gunung batu yang kokoh dan kota benteng
sehingga musuh tidak kuasa untuk menyerang. Di dalam naungan gunung
batu dan kota benteng itulah kita diperlakukan Allah sangat istimewa. Allah
melakukan itu semua karena kita adalah ciptaan yang sangat berharga. Di
bawah naunganNya kita terlindungi dengan aman, nyaman dan sejahtera. Dia
yang mencipta dan memelihara sehingga dia selalu menganugerahi kita rasa
aman dan tentram.
Anak-anak SM pun akan merasakan pengalaman iman seperti ini.
Tubuh anak-anak yang masih lemah dan keeil, rentan sekali dengan berbagai
ancaman, kekerasan dan pelecehan. Anak-anak yang rentan itu tidak setiap
saat disertai oleh orangtua mereka. Apalagi kalau orangluanya bekerja setiap
hari, maka anak- anak akan terpisah dari pengawasan oranglua. Bagaimana
para orangtua itu begitu percaya diri meninggalkan anak-anaknya di
penitipan, di sekolah dan di rumah? Tentu saja orangtua punya keyakinan
bahwa ada pelindung sejati bagi anak-anak yaitu Tuhan dan malaikat-
malaikatNya.
HKBP dalam pengakuan imannya pasal I7: “Kita mempercayai dan
menyaksikan: Malaikat-malaikat adalah ciptaan Allah, yang taat kepada Dia,
dan roh pelayan, yang diutus untuk membantu para pewaris keselamatan.
(Ibr 1:14; Kej. 22: l l -12; Luk. 1: 11,26; 2:9; Mal 28:2; Yud 9; Why ! 2:7-9;
14:6; 20:1-3; 22:18; Mal 3:1).
Anak-anak SM yang sudah melewati 365 hari tahun 2016 dalam
penyertaan Tuhan, maka 365 hari ke depan di tahun 2017 akan dijalani juga
dalam penyertaan Tuhan. Dalam lika-liku perjalanan itu seluruh anak SM
tetap percaya bahwa Allah menjadi pelindung yang setia bagi anak-anak.

3437
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

TABEL MATERI PENGAJARAN SEKOLAH MINGGU HKBP


(Menurut Pembagian Kelas atau Horong)
Minggu,01 JANUARI 2017

HORONG I HORONG II HORONG III

Tujuan Mengetahui bahwa Mengetahui Mengetahui bahwa


Khusus Allah adalah pelindung bahwa Tuhanlah Tuhan adalah
yang sejati. yang menjadi gunung batu dan
Meneladani sikap yang pelindung setia kota benteng yang
mau melindungi orang bagi anak- teguh.
lain. anaknya. Terdorong untuk
Terdorong untuk selalu Meneladani sikap saling melindungi
percaya pada yang menjadi sesama teman.
pernyataan Allah. pelindung bagi Mengimani bahwa
sesama. Allah akan terus
Terdorong untuk menjadi pelindung
percaya pada setia.
pelindung kasih
setia Tuhan.
Persiapan Guru mempersiapakan Menjelaskan Menjelaskan kepada
Mengajar gambar gunung batu kepada anak- anak-anak hakekat
dan kota benteng anak hakekat Allah sebagai
kemudian menjelaskan Allah sebagai gunung batu dan
mengapa Allah disebut gunung batu dan kota benteng yang
sebagai gunung batu kota benteng teguh.
dan kota benteng. yang teguh. Menjelaskan fungsi
Anak-anak diajak Menjelaskan gunung batu dan
mengenang perjalanan fungsi gunung kota benteng sebagi
365 hari di tahun 2016 batu dan kota pelindung dari
dalam pernyataan kasih benteng sebagai segala mara bahaya.
setia Tuhan. pelindung dari Menunjukkan
Anak-anak di ajak untuk segala gambar-gambar
terus percaya bahwa marabahaya. realitas di
365 hari di tahun 2017 Menunjukkan masyarakat bahwa
akan di lalui dalam gambar-gambar selalu ada orang-
penyertaan Tuhan. realitas di orang jahat (Boleh
masyarakat memakai gambar)
bahwa selalu ada .Anak-anak Tuhan
orang-orang jahat Yesus akan selalu
(Boleh memakai terlindungi dari
gambar). Anak- pengaruh orang-
anak tuhan Yesus orang jahat.
akan selalu

3438
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

terlindungi dari
pengaruh orang-
orang jahat.
Ayat “Marilah kita bersorak-sorai Allahku,gunung “Jangalah gentar dan
Hafalan untuk Tuhan, Besorak-sorai batuku,tempat aku janganlah takut sebab
bagi gunung batu berlindungku,perisaik memang dari dahulu
keselamatan kita” u,tanduk telah ku kabarkan dan ku
keselamatanku,kota berikan hal itu kepada
(Mazmur 95:1). bentengku,tempat mu.Kamulah saksi-saksi
pelarianku,juruselam ku?Tidak ada gunung
atku,Engkau batu yang lain, tidak ada
menyelamatkan aku kukenal (Yesaya 44:8)
dari kekerasan 2
Samuel 22:3)

Nyanyian KJ No.37b:1 “Batu Karang KJ No. 413:1-2 BE No. 425:1-2 “Batu


yang Teguh” ”Tuhan Pimpin Mamak Di Au on”
Anakmu”

Doa Terimakasih Tuhan Engkau Terimakasih ya Tuhan Allah gunung batu


telah membuktikan kasih Tuhan Allah karena dan kota benteng yang
setiaMu melindungi kami engkaulah tempat teguh, Engkaulah
sepanjang hari di tahun perlindungan dan kota pelindung kami dalam
2016. Kiranya kasih Tuhan benteng yang teguh menjalani hari-hari kami
terus melindungi kami sehingga hidup kami sepanjang tahun ini.
dalam menjalani tahun 2017. aman tentram dalam Amin.
Amin perlindungan.Amin

Aktivitas Mewarnai gambar gunung Menggambar atau Menghitung hari! Anak –


dan kota benteng mewarnai gunung anak membuat tulisan di
batu dan kota kertas HVS warna-warni
benteng. 1 tahun = 365 hari,1
tahun = 12 bulan ,1
tahun = 52 minggu,(Jam
,menit,detik). Lalu di
tempel dipapan atau di
tembok. dalam
memjalani hari-hari itu,
Allah akan terus
melindungi.

(Kurikulum Pengajaran Sekolah Minggu HKBP 2017 : 7-10).

4. PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN


4.1. Analisis Materi Pengajaran Sekolah Minggu HKBP
Berdasarkan dokumen materi kurikulum pengajaran terhadap anak
sekolah minggu ini dapat dilihat bagaimanakah program pendidikan dan
3439
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

pengajaran terhadap anak-anak Sekolah minggu HKBP dilaksankan oleh


para guru pengajar (Lihat tabel dan Materi). Dengan materi kurikulum
pengajaran yang dipersiapkan oleh Departement Koinonia HKBP melalui
Biro Sekolah Minggu diharapkan kepada guru sekolah minggu dibekali
dengan materi seperti di atas. Dari uraian di atas penulis berpendapat,
kurikulum pengajaran di sekolah minggu masih lebih banyak menekankan
unsur kognitif, bersifat mengindroktinasi, dan belum menyentuh aspek afeksi
dan psikomotorik. Sementara capaian (tujuan) yang ditetntukan belumlah
sesuai dengan model atau metode yang tersedia dalam Buku Panduan
mengajar bagi sekolah minggu dimaksud.
Hal tersebut dapat dilihat dari penjelasan tujuan dari masing-masing
Horong I, II, II, di mana misalnya kita dapati pada kolom Tujuan Khusus
terhadap Horong I pada butir kedua, ; “Meneladani sikap yang mau
melindungi orang lain”. Sesuai dengan tingkatan usia pada kelompok
Horong I (Usia 3 – 6 tahun) pengelompokan anak usia ini termasuk pada
BALITA (Bayi Usia Lima Tahun) belumlah mampu untuk meneladani orang
lain, tingkat berfikir usia ini masih mengenal, meniru – belum mampu
memaknai, atau meneladani.
Dalam buku “Pokok-pokok pengajaran Agama Kristen (2003:74)”
Agustinus (396-340) seorang uskup dari Hippo di Afrika utara mengatakan
bahwa “Semua manusia akan gelisah sebelum meraka menemukan ketengan
di dalam Allah”. Dari pemahaman-pemahaman di atas ini dapat disimpulkan
bahwa tujuan Allah menciptakan manusia adalah agar manusia melayani
Allah. Pelayanan terhadap Allah dapat dipahami dengan aneka cara yang
sesuai dengan situasi dan kondisi keberadaan hidup setiap individu atau
kelompok.seluruh aspek kehidupan manusia dapat dijadikan sebagai sarana
pelayanan manusia terhadap Allah.
Setelah mencermati dan menganalisa materi pokok (judul pelajaran
atau materi yang akan diajar) maka penulis menilai bahwa penekanan tujuan
materi pengajaran guru sekolah minggu HKBP terhadap perumbuhan iman
anak anak di HKBP Petra Pematangsiantar belum menunjukkan bagaimana
pengajaran yang sesuai dengan model pengajaran berdasarkan kurikulum
pendidikan yang mengarah kepada pertumbuhan keimanan. Hal ini dapat
telihat dari rendahnya mutu kejelasan dari nats yang diuraikan dalam Buku
Panduan Sekolah Minggu HKBP. Materi pengajaran untuk kalangan guru
sekolah minggu yang dimuat masih sekitar “pembentukan karakter”
(karakter-building). Belum mengajarkan materi yang mengarahkan
pertumbuhan iman berdasarkan aspek pengetahuan yang mendasar serta
metode pengajaran yang belum sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
Misalnya hal ini terlihat dari sistematika rencana pembelajaran yang
disiapkan modelnya belum mendasarkan kepada pola penyususnan syllabus
dan RPP (Rencana Program Pembelajaran), Yaitu Topi atau judul yang
3440
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

relavan, Sub Topik Judu, Indikator pencapaian, Tujuan belum sesuai dengan
Teks dan Konteks nats.
Kompetensi Dasar Horong 3 : Menjelaskan makna kebersamaan
dengan orang lain tanpa kehilangan identitas. Indikator, “Bersimpati dan
berempati terhadap orang lain”. Materi pelajaran 15, “Menghargai orang
lain”. Referensi Alkitab (1 Samuel 18:1, Mateus 18:21-22, Markus 10:43-
44). Menurut penulis, kompetensi dasar 3 ini temanya “Allah Sebagai
Perlindungan”. Berdasarkan pendidikan dialogis dan model pendidikan
konsientisasi, maka judul pelajaran “Allah Sebagai Perlindungan”, dan
referensi Alkitab (Kejadian 4:2, 13:8, Imamat 10:4, Markus 6:3, Kisah Rasul
2:29, 2 Samuel 1:26, 2, Tawarikh 31:15, 2 Raja-raja 9:).
Apabila kita melihat materi pokok yang diajarkan : “Allah Sebagai
Perlindungan“ (lihat table di atas “Standar Kompetensi”), dan setelah
mencermati Kompetensi Dasar 1, 2, dan 3, terhadap Indikator masing-
masing kompetensi dan judul pelajaran (lihat table ‘Kompetensi Dasar’).
Maka penulis mengambil kesimpulan bahwa Standar Kompetensi tidak
dicerminkan oleh materi/judul pelajaran sebagaimana yang dimaksud oleh
kompetensi dasar dalam indikator 1, 2, dan 3. Topik pelajaran ‘Allah Sebagai
Perlindungan’ adalah topik yang bersifat dogmatis, sedangkan dalam
penjabaran yang diurai dalam buku tersebut bersifat praktika (nilai-nilai
kristiani). Seharusnya mata pelajaran ini menunjukan otoritas Tuhan alam
hidup manusia, Dialah Allah satu-saunya yang berkuasa melindungi
menolong, tempat penagduan.

5.KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan kajian pustaka yaitu, Buku panduan Guru guru sekolah
minggu HKBP sebagai kerangka teoritis, kerangka konseptual dan model
teoritis serta pembahasan materi pengajaran guru sekolah minggu HKBP
terhadap pertumbuhan iman anak anak sekolah minggu sebagaimana telah
dipaparkan di atas maka dapatlah diambil kesimpulan atas judul penelitian
tersebut, yakni ;
1. Tanggung jawab gereja terhadap pertumbuhan iman anak sekolah
minggu HKBP Petra Pematangsiantar dilakukan oleh guru sekolah
minggu dibawah pembinaan dan pengawasan Majelis jemaat HKBP
Petra serta tenaga pengajar dari kalngan warga jemaat yang berlatar
belakang pendidikan mahasiswa dan pekerja gereja yang bertugas di
lingkungan lembaga HKBP (seperti Biro Emergency HKBP serta
Pegawai Panti Asuhan Elim HKBP.

3441
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

2. Meskipun terdapat bahwa belum tercapainya model kurikulum


pendidikan dan pengajaran sebagaimana penyusunan Syllabus dan
RPP (Rencana Program Pengajaran) berdasarkan kurikulum inti
gereja namun dengan bantuan kegiatan sermon yang dilakukan oleh
Pendeta di jemaat HKBP Petra terhadap pengetahuan guru sekolah
minggu akan menjadi pendorong terhadap kemampuan dan
ketrampilan seorang guru dalam menyampaikan materi pengajaran
sekolah minggu.
3. Pertumbuhan iman anak sekolah minggu di HKBP Petra berdasarkan
materi pengajaran yang disampaikan oleh guru sekolah minggu dapat
dilakukan secara konvensional (apa adanya), yaitu ; pendidikan dan
pengajaran yang masih menekankan hanya pada aspek persekutuan,
seperti ; bagaimana si anak rajin ke gereja setiap minggu, tertib dalam
mengikuti ibadah di dalam gereja.

Saran – saran
1. Hendaknya gereja tidak boleh menyerahkan urusan melakukan
program pendidikan dan pengajaran terhadap anak sekolah minggu
hanya kepada warga jemaat semata. Majelis jemaat khususnya
Pendeta sebagai pemimpin dan Teolog harus memberi perhatian yang
maksimal terhadap pertumbuhan iman anak sekolah minggu.
2. Sebaiknya gereja senantiasa melibatkan kalangan tokoh pendidikan
dan Teolog dalam merumuskan kurikulum dan materi pengajaran
guru sekolah minggu agar sesuai dengan metode dan teori pendidikan
dan pengajaran anak-anak berlaku untuk umum.

DAFTAR KEPUSTAKAAN
Alkitab, Lembaga Alkitab Indonesia, Jakarta 2011
Andar Ismail (Penyunting). “Ajarlah Mereka Melakukan” . Kumpulan
Karangan Seputar Pendidikan Agama Kristen. BPK GM Jakarta
2006.

Boehlke, Robert R, Ph.D. Sejarah Perkembangan Pikiran dan Praktek


Pendidikan Agama Kristen. Dari Yohannes Amos Comenius
sampai Perkembangan PAK di Indonesia. BPK GM Jakarta 1997.

Biro Sekolah Minggu HKBP. Panduan Mengajar Sekolah Minggu HKBP.


Departement Koinonia HKBP Pearaja Tarutung 2017

3442
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3422-3443

D.Singgih dan Ny.D.Singgih,Gunarsah. Psikologi untuk Membimbing.


BPK GM Jakarta 2000

Cully Iris,V. Dinamika Pendidikan Kristen. BPK GM Jakarta 1958.


Groome Thomas,H. Christian Religious Education. Harper & Row.
Canada 1980.
Homrighausen,E.G & Enklaar,I.H. Pendidikan Agama Kristen. BPK GM
Jakarta 1957.
Kantor Pusat HKBP, Aturan dan Peraturan HKBP 1994-2004 . Pearaja
Tarutung 1994.
----------------------. Garis-garis Besar Kebijaksanaan Pembinaan Dan
Pengembangan Huria Kristen batak Protestan (GBKPP HKBP).
Pearaja Tarutung. 1989.
--------------------. Aturan Dan Peraturan HKBP Tahun 2002. Pearaja
Tarutung. 2002.

Kelompok Kerja PAK PGI. Suluh Siswa Bertumbuh Dalam Kristus. BPK
GM Jakarta 2009.

Mangunhardjana. Pembinaan, Arti Dan Metodenya. Penerbit Kanasius


Yogyakarta 1986.

Nasution,S. Kurikulum Dan Pengajaran. PT Bumi Aksara Bandung 1989.

Siregar Nurliani, Belajar Dan Pembelajaran. Universitas HKBP


Nommensen Medan 2015

Singgih Gunarso, Psiikologi Remaja. BPK GM Jakarta 1992

Stott John, Isu-isu Global Menantang Kepemimpinan Kristiani.


YAYASAN KOMUNIKASI BINA KASIH/OMF 1996 Jakarta

Suharsini Arikunto, Methodologi Penelitian. Bumi Aksara Jakarta 2009

3443
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

ANALISIS PERENCANAAN DAN PENGANGGARAN


PROGRAM KESEHATAN IBU DAN ANAK (KIA)
TERHADAP PENCAPAIAN MDGS DI DINAS KESEHATAN
KABUPATEN MANDAILING NATAL TAHUN 2015

Oleh:
Mawaddah, SKM, M. Kes
Staf Pengajar Akbid Namira Madina Panyabungan

ABSTRACT

One important indicator in the achievement of the MDGs to improve


health of maternal and child (KIA) that is contained in the fourth and fifth
goals.Indonesia's commitment to achieve the MDGs in 2015 through efforts
to reduce MMR from 359 to 102 per 100,000 live births and IMR from 32 to
23 per 1,000 live births is still far from the target of achieving the MDGs, as
well as in Mandailing Natal.
The research used qualitative method. The informants were all
personnel that were involved in the planning and budgeting process of KIA
program. They consisted of Informants in this study are all elements analyze
the planning and budgeting of KIA program. The data were analyzed
qualitatively with Spradley analysis technique.
The result of the research showed that the planning and budgeting
process of KIA program in the Health Office of Mandailing Natal
Districtdid not use fully implement the planning and performance-based
budgeting. Situation analysis, problem formulation, and goal setting
program uses methods that can not accommodate the needs of the real, still
planning and budgeting processes are still using incremental.
That could be all apllying the planning and budgetting for
performance's based, advocacy and socialization intense to local
governments to increase APBD budget allocated by the Health Office of
Mandailing Natal District,Need for Education and Technical Training
Program Development KIA well as the need for Active Role midwife
program coordinator KIA, and manejerial need to increase leadership on
all health fronts.
Keywords: Planning, Budgeting, KIA Program

3444
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Permasalahan
Millinium Development Goals (MDGs) atau Tujuan
Pembangunan Milenium adalah upaya untuk memenuhi hak-hak dasar
kebutuhan manusia melalui komitmen bersama antara 189 negara anggota
Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Tujuan MDGs untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat pada tahun 2015. Upaya percepatan pencapaian
MDGs menjadi prioritas pembangunan nasional dan sinergis antara
perencanaan nasional di pusat dan daerah. Salah satu indikator penting
dalam pencapaian MDGs adalah Meningkatkan Kesehatan Ibu dan Anak
(KIA) yaitu terdapat pada tujuan keempat dan kelima.
Masalah KIA masih menjadi permasalahan kesehatan dan masih menjadi
kontribusi permasalahan kesehatan dalam mencapai target MDGs.
Komitmen Indonesia untuk mencapai tujuan MDGs di tahun 2015 melalui
upaya penurunan AKI dari 359 menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup
dan AKB dari 32 menjadi 23 per 1.000 kelahiran hidup masih jauh dari
target pencapaian MDGs (Laporan pencapaian MDGs, 2013).
Salah satu kabupaten di Provinsi Sumatera Utara yang masih
memiliki permasalahan KIA adalah Kabupaten Mandailing Natal. Profil
Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal tahun 2013 menunjukkan
bahwa kematian ibu, bayi, balita terlihat naik turun sepanjang tahun 2010-
2014, dan terjadi peningkatan tajam pada tahun 2011.
Alokasi anggaran Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal untuk
program KIA mengalami fluktuasi dari tahun 2012-2014. Pada tahun 2012
alokasi anggaran KIA dari belanja langsung APBD Kesehatan yaitu sebesar
0,9 %. Pada tahun 2013 yaitu sebesar 0,5% dan 2,1 % di tahun 2014.
Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa daerah memiliki komitmen
yang kurang terhadap program KIA (Profil Dinas Kesehatan Kabupaten
Mandailing Natal 2012-2014).
Penelitian Iswarno, dkk., (2013), menunjukkan bahwa komitmen
pemerintah di Kabupaten Kepahiang Provinsi Bengkulu terhadap program
KIA masih rendah. Hal ini terbukti dengan minimnya alokasi anggaran
program KIA pada tahun 2008 yang hanya 2 % dari total anggaran Dinas
Kesehatan Kabupaten Kepahiang. Penelitian Erpan, dkk., (2012) di
Kabupaten Lombok Tengah, mendeskripsikan bahwa alokasi anggaran
program KIA tahun 2010 sebesar 4,2% dari belanja langsung Dinas
Kesehatan, dan dari sejumlah anggaran KIA tersebut 81,9% diperuntukkan
untuk jaminan persalinan gratis, namun pada tahun 2011 menurun drastis
menjadi 0,8% dari belanja langsung Dinas Kesehatan, hal ini disebabkan
adanya sharing dana dari APBN berupa program Jampersal.

3445
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Bidang


Program pada Januari 2015 menjelaskan bahwa anggaran untuk KIA lebih
kecil dibandingkan dengan bidang lain, karena program KIA masih
dianggap belum prioritas dibandingkan dengan upaya percepatan
pembangunan fisik, dan kurangnya kemampuan Sumber Daya Manusia
(SDM) dalam melakukan perencanaan sehingga sulit memilah prioritas
program yang bisa diajukan dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKA).
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti tertarik untuk meneliti
proses perencanaan dan penganggaran program KIA terhadap Pencapaian
MDGs di Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal tahun 2015.

B. Permasalahan
Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana proses
perencanaan dan penganggaran program KIA terhadap pencapaian MDGs di
Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal tahun 2015.

C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis proses perencanaan dan
penganggaran program KIA terhadap pencapaian MDGs di Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailing Natal tahun 2015.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Program Kesehatan Ibu dan Anak
Program pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) merupakan salah satu
program pelayanan kesehatan dasar. Pelayanan KIA menjadi tolok ukur
dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan dan memiliki 10
(sepuluh) indikator kinerja, antara lain (Depkes RI, 2008) :
1. Persentase cakupan kunjungan ibu hamil K4 dengan target 95%;
2. Persentase cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani dengan target
80%;
3. Persentase cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang
memiliki kompetensi kebidanan dengan target 90%;
4. Persentase cakupan pelayanan nifas dengan target 90%
5. Persentase cakupan neonatus komplikasi yang ditangani dengan target
80%;
6. Persentase cakupan kunjungan bayi dengan target 90%;
7. Persentase cakupan desa/kelurahan Universal Child Immunization
(UCI) dengan target 100%;

3446
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

8. Persentase cakupan pelayanan anak balita dengan target 90%;


9. Persentase cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak
usia 6-24 bulan pada keluarga miskin dengan target 100%;
10. Persentase cakupan bayi BBLR yang ditangani dengan target 100%

B. Pengertian MDGs
Millenium Development Goals (MDGs) atau Tujuan Pembangunan
Millenium adalah hasil kesepakatan kepala negara dan perwakilan dari 189
negara Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang mulai dijalankan pada
September 2000, berupa delapan butir tujuan untuk dicapai pada tahun
2015. Targetnya adalah tercapai kesejahteraan rakyat dan pembangunan
masyarakat pada 2015. Target ini merupakan tantangan utama dalam
pembangunan di seluruh dunia yang terurai dalam Deklarasi Milenium, dan
diadopsi oleh 189 negara serta ditandatangani oleh 147 kepala pemerintahan
dan kepala negara pada saat Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Milenium di
New York ada bulan September 2000 tersebut. Pemerintah Indonesia turut
menghadiri Pertemuan Puncak Milenium di New York tersebut dan
menandatangani Deklarasi Milenium tersebut (Brainly, 2015).
Deklarasi berisi komitmen negara masing-masing dan komunitas
internasional untuk mencapai 8 buah sasaran pembangunan dalam MDGs,
sebagai satu paket tujuan yang terukur untuk pembangunan dan pengentasan
kemiskinan. Penandatanganan deklarasi ini merupakan komitmen dari
pemimpin-pemimpin dunia untuk mengurangi lebih dari separuh orang-
orang yang menderita akibat kelaparan, menjamin semua anak untuk
menyelesaikan pendidikan dasarnya, mengentaskan kesenjangan jender
pada semua tingkat pendidikan, mengurangi kematian anak balita hingga
2/3 , dan mengurangi hingga separuh jumlah orang yang tidak memiliki
akses air bersih pada tahun 2015 (Brainly, 2015).
Adapun tujuan atau sasaran MDGs, yaitu menanggulangi kemiskinan dan
kelaparan, mencapai pendidikan dasar untuk semua, mendorong kesetaraan
gender dan pemberdayaan perempuan, menurunkan angka kematian anak,
meningkatkan kesehatan ibu, memerangi penyebab HIV/AIDS, malaria dan
penyakit menular lainnya, kelestarian lingkungan hidup, serta membangun
kemitraan global dalam pembangunan. Sebagai salah satu anggota PBB,
Indonesia memilih dan ikut melaksanakan komitmen tersebut (Prasetyawati,
2012).

3447
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

C. Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan Terpadu (P2KT)


Perencanaan dan Penganggaran Kesehatan Terpadu (P2KT) merupakan
perencanaan dan penganggaran program kesehatan tahunan, yang
merupakan implementasi tahunan dari rencana strategis. Dengan demikian,
dokumen Renstra Kesehatan Daerah harus menjadi rujukan dalam
menyusun P2KT, dengan kata lain P2KT perencanaan kesehatan untuk
seluruh wilayah kabupaten/kota (areawide planning). Oleh sebab itu, suatu
masalah kesehatan dilihat kaitannya dengan ekologi daerah secara
keseluruhan. Masalah KIA misalnya, dilihat dalam perspektif host - agent -
environment dimana host adalah individu dan penduduk secara keseluruhan
dalam lingkungan daerah yang multi dimensi (sosial budaya, pola hidup,
ekonomi, dan kemasyarakatan) (Depkes RI, 2007).
P2KT menekankan pentingnya eksplorasi atau menemukan intervensi
terhadap faktor-faktor resiko terjadinya suatu masalah kesehatan, yaitu (1)
faktor resiko lingkungan dan (2) faktor resiko perilaku, yang
mengintegrasikan kegiatan langsung (pelayanan klinis dan kesehatan
masyarakat) dengan kegiatan penunjang (manajemen) dan kegiatan
pengembangan (capacity building). (Depkes RI, 2007)
Penyusunan anggaran dalam P2KT didasarkan pada (1) target kinerja
program, (2) biaya satuan, (3) ketersediaan dan sumber biaya dan
melibatkan semua unit Dinas Kesehatan, Puskesmas dan sedapat mungkin
juga melibatkan RSUD. Terdapat lima kegiatan pokok dalam penyusunan
perencanaan dan penganggaran terpadu dalam program kesehatan adalah (1)
analisis situasi dan perumusan masalah, (2) penentuan tujuan, (3)
identifikasi kegiatan, (4) penyusunan rencana operasional dan (5) integritas
perencanaan. Adapun proses perencanaan dan penganggaran kesehatan
terpadu antara lain (Depkes RI, 2007) :

1. Analisis situasi dan perumusan masalah


Analisis situasi dan masalah adalah proses untuk mengidentifikasi
adanya masalah kesehatan dan cakupan program apakah sudah
mencapai target yang telah ditetapkan. Rumusan deskripsi masalah
sangat penting untuk merumuskan tujuan umum (outcome) yang akan
dicapai kegiatan.

Analisis situasi kesehatan daerah akan menghasilkan :


a. Gambaran besaran masalah kesehatan dan distribusinya menurut
penduduk, tempat dan waktu;

3448
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

b. Faktor-faktor resiko yang berkaitan dengan masalah kesehatan tersebut,


mencakup faktor resiko lingkungan dan perilaku;
c. Pencapaian program tahun lalu;
d. Kesenjangan dalam pencapaian target menurut program dan wilayah
puskesmas;
e. Kebijakan pembangunan kesehatan nasional dan daerah (termasuk
target program);
f. Hal-hal yang perlu diprioritaskan dalam rencana tahun mendatang.

Permasalahan kesehatan yang ada kemudian di analisis penyebab


masalahnya. Analisis penyebab masalah merupakan suatu proses sistematik
untuk menilai faktor-faktor yang merupakan penyebab langsung maupun
tidak langsung. Seringkali penyebab masalah yang terjadi jumlahnya banyak
dan tidak semua dapat diatasi, untuk itu perlu dilakukan prioritas penyebab
masalah yang akan ditangani sehingga muncullah suatu kegiatan prioritas
(Depkes RI, 2008).
Salah satu cara untuk menentukan prioritas masalah adalah metode Skoring.
Metode ini digunakan untuk memberikan nilai terhadap penyebab masalah
yang telah diidentifikasi. Batasan kriteria yang digunakan berupa: a)
besarnya penyebab masalah yaitu kesenjangan antara target tahun
sebelumnya dengan tahun terakhir, b) kepentingan yaitu gambaran seberapa
jauh pelayanan dianggap penting untuk ditanggulangi, c)
kemudahan/kelayakan artinya seberapa jauh masalah pelayanan dapat
ditanggulangi, dapat dilihat dari tersedianya sarana, prasarana, SDM,
metoda, dana, dan teknologi, d) dukungan untuk perubahan adalah besarnya
dukungan dari stakeholder dapat berupa kebijakan, dana dan keterlibatan, e)
resiko adalah besarnya resiko apabila penyebab masalah tidak segera
ditangani (Depkes RI, 2008).
Berdasarkan prioritas masalah yang telah ditetapkan kemudian dibuat
berbagai upaya kegiatan untuk selanjutnya dilakukan penentuan prioritas
kegiatan sehingga apabila anggaran program terbatas kegiatan dapat
dikurangi sesuai dengan prioritasnya. Ada berbagai kriteria untuk memilih
prioritas kegiatan yaitu: a) konsistensi yaitu kegiatan sesuai dengan strategi
nasional dan rencana kerja kabupaten/kota yang sudah ada; b) evidence
based, kegiatan yang telah terbukti efektif dalam menanggulangi masalah
kesehatan; c) penerimaan, kegiatan dapat diterima oleh semua institusi
terkait termasuk masyarakat setempat; d) mampu laksana, kegiatan mampu
dilaksanakan berdasarkan kondisi setempat, fasilitas, SDM, dana, dan
infrastruktur yang dibutuhkan tersedia/bisa didapat (Depkes RI, 2008).
2. Penentuan tujuan

3449
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

Tujuan yang ditetapkan dan dirumuskan adalah target program untuk tahun
mendatang. Ada dua hirarki dalam perencanaan program kesehatan yaitu
pertama tujuan yang berkaitan dengan perbaikan derajat kesehatan yaitu
penurunan morbiditas dan mortalitas dan kedua tujuan yang berkaitan
dengan perbaikan kinerja program. Tujuan yang berkaitan dengan
pencapaian sejumlah output (target) disebut tujuan khusus yang mengacu
pada rumusan kinerja program, sedangkan tujuan yang berkaitan dengan
outcome disebut tujuan umum yang mengacu pada rumusan masalah.

3. Identifikasi kegiatan
Identifikasi kegiatan sangat penting dalam perencanaan karena kaitannya
yang erat dengan perhitungan kebutuhan anggaran. Secara garis besar,
kegiatan dalam program kesehatan dapat dibagi lima, yaitu: 1) kegiatan
pelayanan individu : penemuan kasus (case finding), pengobatan kasus
(case treatment); 2) kegiatan pelayanan masyarakat : kegiatan intervensi
terhadap faktor resiko lingkungan dan perilaku, mobilisasi sosial
(kemitraan); 3) kegiatan manajemen untuk mendukung pelayanan individu
dan masyarakat, termasuk sistem informasi, monitoring, supervisi,
koordinasi; 4) kegiatan pengembangan/peningkatan kapasitas (untuk 1, 2
dan 3), yaitu kegiatan untuk memelihara dan mengembangkan kapasitas
program termasuk kegiatan pelatihan, pembelian alat, penambahan fasilitas,
pengadaan kenderaan.
Untuk keperlukan penyusunan anggaran berbasis kinerja, kegiatan-kegiatan
program tersebut diatas dibagi dua kelompok kegiatan, yaitu: (1) kegiatan
langsung terdiri dari pelayanan individu (temuan kasus, pengobatan,
kegiatan pengembangan) dan pelayanan masyarakat (intervensi lingkungan
dan perilaku, mobilisasi masyarakat dan peranserta, serta kegiatan
pengembangan); (2) kegiatan tidak langsung terdiri dari kegiatan rutin
(perencanaan, monitoring, supervisi, evaluasi) dan kegiatan pengembangan.
4. Penyusunan rencana operasional
Dari langkah-langkah sebelumnya kemudian disusun rencana operasional
yang berisi daftar kegiatan, output kegiatan, lokasi, jadwal pelaksanaan dan
penanggungjawab pelaksana.
5. Integritas perencanaan
Dalam melakukan integritas perencanaan perlu diperhatikan kesamaan
sasaran, jadwal dan output kegiatan. antara kegiatan yang berbeda. Apabila
ada rencana kegiatan yang dapat diintegrasikan dengan kegiatan lain maka
rencana program untuk kegiatan bersangkutan perlu dirubah dan kegiatan
tersebut dialihkan ke program lain.

3450
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

III. METODE PENELITIAN


Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bertujuan menganalisis
perencanaan dan penganggaran program KIA terhadap pencapaian MDGs.
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bertujuan menganalisis
perencanaan dan penganggaran program KIA terhadap pencapaian MDGs.
Penelitian ini dilakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal
pada rentang waktu bulan Mei tahun 2015 sampai dengan Januari tahun
2016.
Informan dalam penelitian ini adalah unsur yang terlibat dalam proses
perencanaan dan penganggaran program KIA di Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailing Natal yang ditentukan secara purposive yaitu teknik
pengambilan sampel penelitian dengan beberapa pertimbangan tertentu yang
bertujuan agar data yang diperoleh nantinya bisa lebih representatif yang
terdiri dari: (1) Tim Anggaran Pemerintah Daerah (Bappeda, Dinas
Pengelolaan Keuangan dan Badan Administrasi Pembangunan), (2) Unsur
DPRD Kabupaten Mandailing Natal Komisi D, (3) Unsur Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailing Natal, dan (4) Puskesmas.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Deskripsi Karakteristik Informan
Dari hasil pengumpulan data primer terdapat 14 informan, diperoleh
karakteristik informan sebagai berikut :

Tabel 1. Karakteristik Informan


No Informan Jabatan
1. 1 Kepala Dinas Kesehatan
2. 2 Kasubag Program
3. 3 Kabid Pelayanan dan Promkes
4. 4 Kepala Seksi Pelayanan kesehatan Dasar
5. 5 Kasubag Keuangan
6. 6 Bendahara Pengeluaran
7. 7 Kabid Litbang Bappeda

8. 8 Anggota Komisi 4 DPRD/Anggota Bidang Kesehatan

9. 9 Anggota Komisi 4 DPRD/ Anggota Bidang Kesehatan

10. 10 Anggota Komisi 2 DPRD/ Anggota Badan Anggaran

11. 11 Anggota Komisi 3 / Anggota Badan Anggaran


12. 12 Sekretaris Dinas Kesehatan

3451
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

13. 13 KepalaPuskesmas Panyabungan Jae


14. 14 Kepala Puskesmas Gunung Tua

B. Variabel Input Sumber Daya Manusia


1. Kuantitas Sumber Daya Manusia
Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa dari sisi kuantitas SDM di Dinas
Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal belum memadai. Untuk itu perlu
dilakukan analisis kebutuhan SDM terutama pada bagian perencanaan dan
penganggaran sehingga dinas kesehatan mampu membuat dan mengusulkan
perencanaan kebutuhan SDM di dinas kesehatan.
Jumlah SDM pada sub bagian program ada sebanyak 3 orang yaitu 1orang
kepala sub bagian program dari Sarjana Psikologi, 1 orang D4 kebidanan,
dan 1 SKM yang baru bekerja selama 1 bulan pada saat peneliti melakukan
penelitian ini. Sedangkan pada bagian perencanaan KIA sendiri juga terdiri
dari 3 orang yaitu 1 orang dokter dan 2 orang bidan.

2. Kompetensi Sumber Daya Manusia


Berdasarkan hasil penelitian dapat dilihat bahwa SDM pada bagian
perencanaan masih kurang dan belum memadai. Permasalahan yang ada
yaitu ketidaksesuaian antara pekerjaan yang dilakukan dengan backround
pendidikan yang dimiliki petugas sehingga terkadang menjadi kendala
dalam membuat perencanaan dan pencapaian program. Menurut informan
petugas pada bagian perencanaan harus berasal dari berbagai disiplin ilmu.

C. Regulasi dan Petunjuk Teknis


Hasil penelitian menunjukkan bahwa menurut informan hal-hal yang
mendasari muncul dan terlaksananya program KIA di Kabupaten
Mandailing Natal yaitu Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat
(IPKM) Mandailing Natal yang masih rendah. Untuk IPKM Kabupaten
Mandailing Natal pada tahun 2013 juga masih berada di peringkat ke 20
dari belakang yaitu peringkat 420 dari 440 Kabupaten di Indonesia. Hal ini
tentu menjadi permasalahan yang serius yang memerlukan kebijakan yang
tepat di Kabupaten Mandailing Natal khususnya Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailing Natal.
Usaha kabupaten Mandailing Natal dalam memenuhi komitmennya dalam
KIA demi tercapainya target MDGS sudah ada dengan dikeluarkannya Surat
Edaran Bupati Mandailing Natal No. 440/1128/Dinkes/2015 tentang

3452
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

Pertolongan Persalinan Dilaksanakan di Fasilitas Kesehatan Milik


Pemerintah dan Swasta pada tanggal 26 Juni 2015.

D. Sarana dan Prasarana


Berdasarkan hasil penelitian dengan informan terkait dengan crosscheck
sarana dan prasarana untuk program KIA di puskesmas sudah memadai
apalagi dengan adanya program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) jadi
puskesmas bisa menggunakan dana dari BPJS untuk membeli peralatan
yang bisa dijadikan sebagai media untuk menyampaikan informasi kepada
masyarakat. Kegiatan promotif dan preventif KIA puskesmas masih
kekurangan alat peraga yang bisa digunakan dan masih kekurangan leaflet-
leaflet dari dinas kesehatan.

E. Pendanaan
Adapun sumber dana untuk program KIA berdasarkan hasil wawancara di
Kabupaten Mandailing Natal yaitu dari APBD, APBN (TP/Tugas
Pembantuan), EMAS, USAID, dan dana BOK. Secara keseluruhan
pendanaan menurut informan masih kurang.
Kebutuhan anggaran untuk program KIA di Dinas Kesehatan Kabupaten
Mandailing Natal secara aktual sangat bervariasi setiap tahunnya. Data
anggaran menunjukkan kecenderungan anggaran porsi anggaran bidang
KIA lebih besar sumber APBD dibandingkan dengan APBN. Alokasi
anggaran program KIA tahun 2015 sesuai hasil telaah DPA (Dokumen
Pelaksanaan Anggaran) yang telah disetujui menunjukkan penurunan yang
drastis dari Rp298.275.000,00 menjadi Rp147.740.000,00 pada tahun
2015. Alokasi anggaran tersebut cenderung diposkan pada program-program
KIA yang sudah pernah dilakukan tahun-tahun sebelumnya dan sedikit
inovasi program kerja pada tahun 2014.

F. Proses Perencanaan dan Penganggaran Program KIA


1. Analisis Situasi dan Perumusan Masalah dan Penentuan Tujuan
Program
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada tahap analisis situasi dan
perumusan masalah kesehatan di Dinas Kesehatan tidak dilakukan analisis
secara mendalam lagi, dinas kesehatan membuat perencanaan dari laporan
puskesmas kemudian bagian perencanaan KIA membuat perencanaan

3453
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

berdasarkan data dan laporan dari puskesmas. Itu artinya analisis situasi
seperti penentuan prioritas masalah kesehatan ibu dan anak masih belum
dilakukan secara sistematis dan belum mengarah pada program KIA yang
penting untuk diusulkan dalam anggaran, sehingga akan berimplementasi
terhadap keberhasilan penanggulangan KIA di Kabupaten Mandailing Natal.

2. Identifikasi Program/Kegiatan dan Penyusunan Rencana Kegiatan


dan Anggaran
Hasil penelitian menunjukkan bahwa langkah teknis yang dilakukan oleh
Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal pada tahapan ini yaitu
dengan cara membuat dan munyusun RKA yang akan diusulkan sebagai
usulan program dan anggaran. RKA yang dibuat oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailing Natal berdasarkan analisis dan evaluasi program
tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa model perencanaan yang
digunakan adalah model inkremental (penambahan). Perubahan-perubahan
yang diharapkan dari perencanaan tidak bersifat radikal (keras menuntut
perubahan), melainkan perubahan-perubahan kecil atau penambahan-
penambahan pada aspek-aspek program yang sudah ada.

Kurangnya analisis berbasis kinerja terhadap semua usulan kegiatan


program KIA, usulan hanya didasarkan pada usulan yang telah ada pada
tahun sebelumnya, sementara secara terus-menerus permasalahan yang ada
belum tentu itu saja yang menjadi kebutuhan program di tahun berikutnya,
walaupun pada perencanaan lima tahunan usulan suatu program diharapkan
dapat berkesinambungan.

3. Penyusunan Rencana Kegiatan dan Anggaran


Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa masalah yang ditemukan
dalam penganggaran program KIA terbatasnya dana untuk program KIA
sehingga tidak semua kegiatan dapat ditampung. Peningkatan jumlah
alokasi anggaran KIA dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya
kapasitas staff yang mendampingi dokumen anggaran.Kapasitas staff perlu
ditingkatkan salah satunya dengan penekanan penggunaan intervensi
berbasis bukti. Perencanaan yang sistematis dan didukung oleh data serta
bukti dapat berkontribusi meningkatkan alokasi dana kesehatan melalui
advokasi di level daerah (Marthias dkk, 2014).
Adapun langkah-langkah dalam penyusulan anggaran di Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailimg Natal sudah disesuaikan dengan Permendagri No.
54 tahun 2010.

3454
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

4. Integritas Perencanaan Program KIA


Integritas perencanaan merupakan langkah penting dalam penyusunan
program dan pengambilan keputusan anggaran. Proses integrasi kegiatan
dilakukan setelah semua program menyusun kegiatan secara lengkap.
Apabila ada rencana kegiatan yang dapat diintegrasikan dengan kegiatan
lain maka rencana program untuk kegiatan bersangkutan perlu dirubah dan
kegiatan tersebut dialihkan ke program lain (Depkes RI, 2007).
Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal telah melakukan integrasi
usulan program KIA dengan program lainnya yang berkaitan dengan alokasi
anggaran dan koordinasi lintas program. Hal ini dilakukan untuk mengindari
adanya kegiatan-kegiatan yang tumpang tindih yang outputnya sebenarnya
berkaitan dengan program KIA. Selain itu sinkronisasi juga dilakukan
dalam bentuk laporan.
Integrasi program KIA jika dilihat dari telaah Dokumen Pelaksanaan
Anggaran (DPA) Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing pada tahun 2015
dimana program Bina Gizi dan Kesehatan KIA terintegrasi dengan program
Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Kesehatan Lingkungan dan program
Peningkatan Kapasitas Sumber Daya Aparatur.
Mengingat program KIA merupakan isu penting yang menjadi salah
satu agenda prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang tertuang
dalam RPJMN 2010-2014 dan menjadi salah satu agenda pencapaian MDGs
harusnya Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal memberi perhatian
lebih dan perlu memprioritaskan program KIA di Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailing Natal.

5. Proses Perencanaan Program KIA di Puskesmas


Untuk lebih memahami bagaimana perencanaan dan penganggaran program
KIA sebenarnya dilakukan di Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal
peneliti melakukan crosschek tentang proses perencanaan dan penganggaran
program KIA di Puskesmas Panyabungan Jae dan Puskesmas Gunung Tua.
Puskesmas Panyabungan Jae dan Pukesmas Gunung Tua hanya membuat
perencanaan tahunan. Perencanaan tahunan Puskesmas tertuang dalam POA
tahunan Puskesmas.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Puskesmas Panyabungan Jae
pelatihan-pelatihan yang menunjang kemampuan manajemen Puskesmas di
Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal sangat jarang dilakukan, dan
tidak semua Kepala Puskesmas menurutnya sudah mendapatkan pelatihan
kemampuan manajemen Puskesmas. Mengingat pentingnya sebuah
perencanaan sebaiknya Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal

3455
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

menurut peneliti harus lebih memberi perhatian dengan melaksanakan


pelatihan manajemen Puskesmas terutaman mengenai pembuatan
perencanaan.

6. Identifikasi Keadaan dan Masalah Program KIA di Puskesmas


Berdasarkan hasil penelitian didapat bahwa Puskesmas Panyabungan jae
dan Puskesmas Gunung Tua telah membuat perencanaan yang diawali
dengan identifikasi masalah berdasarkan analisa pencapaian cakupan
program yang diusulkan oleh penanggung jawab program dan disesuaikan
dengan petunjuk juknis BOK. Untuk mencari akar permasalahan program
KIA Puskesmas Gunung Tua menggunakan metode tulang ikan sudah
diupayakan 2 tahun lalu, akan tetapi berdasarkan pernyataan Kepala
Puskesmas Gunung Tua hal ini tidak berjalan disebabkan kemampuan
manajerial Kepala Puskesmas yang masih kurang. Dengan demikian
diperlukan kemampuan Kepala Puskesmas untuk membangun team work
yang efektif.
Adapun prioritas masalah KIA di Puskesmas Panyabungan Jae yaitu angka
kematian ibu dan anak yang masih tinggi, dan jumlah penderita gizi buruk
masih cukup tinggi.

7. Penyusunan Rencana Kegiatan Program KIA


Lokakarya mini sebagai kegiatan yang bertujuan untuk memantau kegiatan
Puskesmas sekaligus penyusunan perencanaan Puskesmas sudah
diselenggarakan setiap bulan oleh Puskesmas Panyabungan Jae dan
Puskesmas Gunung Tua.
Sesuai dengan kebijakan tentang Standart Biaya Umum disesuaikan dengan
Keputusan Bupati Mandailing Natal Nomor 900/679/K/2014 tanggal 17
Desember 2014 tentang Standar Biaya Umum Pemerintah Kabupaten
Mandailing Natal Tahun Anggaran 2015 dan seterusnya Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailing Natal juga telah mengeluarkan Surat Keputusan
Nomor 440.441/3254/DINKES/2015 perihal Pemberitahuan Standart Biaya
Umum kepada seluruh Kepala Puskesmas Kabupaten mandailing Natal
untuk dapat dijadikan sebagai pedoman dalam pelaksanaan kegiatan di
Puskesmas.
Pengalokasian anggaran untuk program KIA di Puskesmas Panyabungan
Jae dan Puskesmas Gunung Tua berdasarkan hasil penelitian sepenuhnya
hanya menggunakan dana BOK (Bantuan Operasional Kesehatan).

3456
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

8. Penyusunan Rencana Pelaksanaan (Plan Of Action)


Perencanaan yang disusun berdasarkan prioritas masalah yang ada. Setelah
peneliti melakukan crosschek ke Puskesmas Panyabungan Jae dan
Puskesmas Gunung Tua, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal
sudah melakukan pidbag terhadap usulan yang diajukan oleh Puskesmas.
Dimana POA yang diajukan oleh Puskesmas harus sesuai dengan juknis
pengunaan dana BOK pada tahun 2015. Dalam juknis BOK tahun 2015
disampaikan bahwa minimal 60% dari total alokasi dana BOK Puskesmas
digunakan untuk program kesehatan prioritas melalui berbagai kegiatan
yang berdaya ungkit tinggi untuk pencapaian tujuan MDGs bidang
kesehatan, dan maksimal 40% dari total alokasi dana BOK Puskesmas
digunakan untuk program kesehatan lainnya dan manajemen Puskesmas.
Berdasarkan rekapitulasi POA pada tahun 2015, Puskesmas
Panyabungan Jae dan Puskesmas Gunung Tua mengalokasikan dananya
terbesar untuk sama-sama untuk upaya kesehatan KIA, KB, dan pelayanan
gizi. Puskesmas Panyabungan Jae untuk upaya KIA, KB, dan pelayanan
gizi mengalokasikan dananya sebesar 74% dari total dana BOK yang
diterima sedangkan Puskesmas Gunung Tua mengalokasikan dananya untuk
upaya kesehatan tersebut sebesar 58%.

Kerja Sama dan Kemitraan Puskesmas dengan Lintas Sektoral


Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa dalam minilokakarya lintas
sektoral Puskesmas sebenarnya sudah dilakukan. Namun dalam
pelaksanaannya masih menemukan banyak kendala.
Berdasarkan hasil penelitian kerja sama lintas sektoral masih sangat lemah
disebabkan belum merasakan memiliki tanggung jawab yang sama terhadap
kesehatan, masyarakat belum mempunyai keinginan yang sama untuk
mewujudkan masyarakat yang sehat, komitmen bersama masih kurang
sebagai stecholder di kecamatan yang bertanggung jawab kepada wilayah
kerjanya sehingga Kepala Puskesmas membutuhkan pendekatan-pendekatan
yang harus lebih keras untuk mewujudkan komitmen dan keinginan yang
sama dengan lintas sektoral bahwa kesehatan bukan hanya tugas bidang
kesehatan, akan tetapi semua lintas sektoral juga mempunyai tanggung
jawab.
Diharapkan semua pihak saling memahami tufoksi masing-masing sehingga
program KIA dapat ditingkatkan.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

3457
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan
beberapa sebagai berikut:
1. Sumber Daya Manusia untuk proses perencanaan dan penganggan KIA
di Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal secara kuantitas dan
kualitas masih perlu ditingkatkan.
2. Sarana dan prasarana yang ada untuk program KIA sudah cukup
memadai.
3. Proses perencanaan dan penganggaran program KIA di Dinas
Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal belum menggunakan
perencanan dan anggaran berbasis kinerja dan masih mengikuti model
inkremental.
4. Alokasi anggaran untuk program KIA masih belum memenuhi
kebutuhan yang ada.
5. Kemampuan manejerial Puskesmas Panyabungan Jae, Puskesmas
Gunung Tua, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal masih
kurang.
6. Kemampuan tekhnis pada bagian perencanaan dan penganggaran
program KIA masih kurang.
7. Kerja sama dan koordinasi lintas sektoral antara Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailing Natal , Puskesmas, dan Kecamatan dalam
kegiatan program KIA masih sangat kurang.

B. Saran
Berdasarkan kesimpulan di atas, maka dapat disarankan sebagai berikut:
1. Perlu adanya peningkatan kemampuan manejerial pemimpin di semua
lini kesehatan.
2. Perlu adanya peningkatan kemampuan tehknis petugas di bagian
perencanaan dan penganggaran program KIA.
3. Perlu ada pendidikan dan pelatihan teknis penyusunan program KIA.
4. Dinas Kesehatan perlu menelaah kembali pengalokasian dana APBD
untuk semua kegiatan agar sesuai dengan tujuan organisasi untuk
mengatasi keterbatasan dana APBD dan kelemahan sistem inkremental.
5. Bagi Bidan Koordinator program KIA dan Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten Mandailing Natal agar berperan aktif dalam
mempertahankan usulan kegiatan program dalam forum SKPD agar
program yang dibutuhkan terakomodir dalam dokumen perencanaan
dan penganggaran.
6. Dinas Kesehatan perlu melakukan advokasi dan sosialisasi secara intens
kepada Pemerintah Daerah sebagai upaya meningkatkan alokasi dana
APBD Dinas Kesehatan, sehingga kegiatan program KIA mendapatkan
alokasi yang lebih banyak dan memadai tanpa mengurangi alokasi
untuk kegiatan lainnya.

3458
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

7. Perlu adanya peningkatan kerjasama dan koordinasi lintas sektoral


dalam semua kegiatan program KIA dan peningkatan pemahaman
mengenai tufoksi masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA

Brainly, 2015. Apakah Pengertian MDGs?.


http://brainly.co.id/tugas/2089056. diakses tanggal 25 Maret
2015.

Departemen Kesehatan RI, 2007. Modul Pelatihan Perencanaan dan


Penganggaran Kesehatan Terpadu (P2KT) . Edisi 4. Jakarta.

_________, 2008. DTPS-KIBBLA: Perencanaan Kesehatan Ibu, Bayi


Baru Lahir dan Anak dengan Pemecahan Masalah melalui
Pendekatan Tim Kabupaten/Kota. Jakarta.

Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara, 2014. Profil Kesehatan


Provinsi Sumatera Utara Tahun 2013. Medan.

Iswarno, Hasanbasri, M., dan Lazuardi, L., 2013. Analisis untuk


Penerapan Kebijakan : Analisis Stakeholder dalam Kebijakan
Program Kesehatan Ibu dan Anak di Kabupaten Kepahiang.
Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia; Vol. 02 No.02 Juni
2013.

Marthias, Tiara., Kurniawan, M. Faozi., Putri, Likke Prawidya.,


Harbianto, Deni., Marbun, Deswanto., Nandy, Robin., dan
Trisnantoro, Laksono., 2014. Perencanaan dan Penganggaran
Berbasis Bukti untuk Sektor KIA sebagai Upaya Peningkatan
Kesehatan Ibu dan Anak di Provinsi Papua. Yogyakarta : Pusat
Kebijakan dan Manajemen Kesehatan, Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada, dan Unicef Indonesia.

3459
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

Prasetyawati, E.A. 2012. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dalam


Millenium Development Goals (MDGs). Yogyakarta : Muha
Medika.

Permendagri Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan


Peraturan Pemerintah Nomor 8 Tahun 2008 tentang Tahapan,
Tatacara Penyusunan, Pengendalian dan evaluasi Pelaksanaan
Rencana Pembangunan Daerah.

Profil Kesehatan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2011.


____________, Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2012.
____________, Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2013.
____________, Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2015.

Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Surat Edaran Bupati Mandailing Natal No. 440/1128/Dinkes/2015


tentang Pertolongan Persalinan Dilaksanakan di Fasilitas
Kesehatan Milik Pemerintah dan Swasta.

3460
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3444-3460

3461
ISSN 0853 - 0203
ANALISIS FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN RENDAHNYA
PEMBERIAN IMUNISASI DPT DI DESA GUNUNG TUA JULU KECAMATAN
PANYABUNGAN KABUPATEN MANDAILING NATAL TAHUN 2016

Oleh:
Nikmah Choiriah Parinduri, SST,M.Kes
Staf Pengajar Akbid Namira Madina Panyabungan

ABSTRACT

Long-term national development stresses on life quality of excellent resources .So


that we focus to the young generationsn who need guidance and care from all disease than
can stop their growth to be adulthood to continue long term national development.
This observation aims to know information factor about something low DPT (Diphteria,
Pertussis,Tetanus). immunization in Gunung Tua Julu village of Panyabungan
district,Mandailing Natal. This observation is analytical survey with corelasi approach this
instrument used quesioner from 38 moms who have baby ages two to four months. Primary
and secondary data were processed and analyzed wiht quantitative univariat and bivariat
analyses . Bivariat analysis used chi square test the significant value is p < 0.05.
Based on the univariat result of research / observation can be seen that the majority of
respondents age from 30 – 35 is 22 persons (57,9%) and minority is 20 - 29 is 16 person (
42,1%) . for the respondents education majority of high school (SMA, D3, PT) is 24
persons (63,2%) and minority of secondary school (SD, SMP) is 14 persons (36,8%) . For
unemployment ( house wife) is 26 persons (31.58%) and minority of employes (PNS, farmer,
merchant etc) is 12 persons ( 68.42%) . based on the reseach result , the distance from
health facility majority is 27 persons (71,1%) and minority is 11 persons (28,9%).
The result showed that some factors which related to the giving of DPT ((Diphteria,
Pertussis,Tetanus) in Gunung Tua Julu Mandailing Natal district is job / occupation (
value p: 0,11) supporting from husband (0.001) disdance (p: 0.003) knowledge (0.026).
To all health worker in puskesmas Gunung Tua Julu need to give counseling to all moms /
mothers who have baby about how important giving DPT (Diphteria, Pertussis,Tetanus).
imunization and to all local health workers to give more information to the society so that
they know more about imunization.

Key words: Giving DPT (Diphteria, Pertussis,Tetanus). immunization


1.PENDAHULUAN
A. Latar Belakang

Pembangunan nasional jangka panjang menitik beratkan pada kualitas hidup sumber daya
manusia yang prima. Untuk itu kita bertumpu pada generasi muda yang memerlukan asuhan
dan perlindungan terhadap penyakit yang mungkin dapat menghambat tumbuh kembang nya
menuju dewasa yang berkualitas tinggi guna meneruskan pembangunan nasional jangka
panjang tersebut (Ranuh, 2008).
Pembangunan kesehatan juga tidak terlepas dari komitmen Indonesia sebagai warga
masyarakat dunia untuk ikut merealisasikan tercapainya Millenium Development Goals
(MDGS). Dalam MDGS tersebut, kesehatan dapat dikatakan sebagai unsur dominan, karena
dari delapan agenda kesehatan, dan tiga yang lain berkaitan secara tidak langsung. Lima
agenda yang berkaitan langsung dengan kesehatan itu adalah agenda ke I (Membrantas
kemiskinan dan kelaparan) ,Agenda ke 4 (Menurunkan angka kematian anak), Agendake 5
(Meningkatkan kesehatan ibu), Agenda ke 6 (Memerangi HIV dan AIDS, Malaria dan
penyakit lainnya).
Pemberian imunisasi pada anak bertujuan agar tubuh kebal terhadap penyakit tertentu.
Kekebalan tubuh juga dipengaruhi oleh beberapa factor diantaranya tingginya kadar antibodi
pada saat dilakukan imunisasi, potensi antigen yang disuntikkan ,waktu antara pemberian
imunisasi. Mengingat efektif dan tidaknya imunisasi tersebut akan tergantung dari faktor
yang mempengaruhi sehingga kekebalan tubuh dapat diharapkan pada diri anak (Hidayat,
2005). Imunisasi bertujuan untuk mencegah penyakit berbahaya salah satunya adalah
imunisasi DPT (Diphteria, Pertussis, Tetanus). Imunisasi DPT (Difteri ,Pertusis, Tetanus)
merupakan imunisasi yang digunakan untuk mencegah terjadinya penyakit difteri, pertusis
dan tetanus (Aziz, 2008).
Menurut laporan WHO (World Health Organization) angka cakupan imunisasi untuk
DPT( Difteri Pertusis Tetanus) secara global adalah 78% dari sekitar 35 triliyun anak
didunia. Berarti terdapat 28 juta anak di dunia yang belum mendapat imunisasi DPT(Pusat
Komunikasi Publik 2010).
Cakupan imunisasi secara global ialah BCG 90 %, DPT3 83 %, Polio 84% ,Hepatitis B
75% dan Campak 84 %.
Berdasarkan angka Provinsi Sumatera Utara, pencapaian UCI (Universal Child
Immunisasi) tingkat desa/ kelurahan selama empat tahun terakhir mengalami penurunan
yaitu 70,67% tahun 2008 menurun menjadi 69, 42% di tahun 2009 menurun menjadi69,26%
di tahun 2010 dan pada tahun 2011 menjadi 52,53%, hasil ini belum mencapai target yang
ditetapkan Provinsi Sumatera Utara tahun 2008 yaitu sebesar 80% dari seluruh kabupaten /
kota yang di pantau. Di Sumatera Utara tahun2008 hanya 3 kabupaten / kota yang memenuhi
target nasional sebesar 100% yaitu Toba Samosir, Karo dan Sibolga. Rendahnya cakupan ini
dapat menjadi factor presdisposisi KLB PD3I di sumatera Utara sehingga upaya uang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya KLB PD3I ini adalah dengan meningkatkan cakupan
imunisasi sampai dengan diatas 95% .
Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan beberapa alasan anak tidak
diimunisasikan antara lain karena takut anaknya panas, keluarga tidak mengizinkan , tempat
imunisasi jauh , kesibukan orang tua, sering nya anak sakit, dan tidak tahu tempat imunisasi , ujar
Menteri RI, Prof. Dr.dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K).
Data riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013 menyebutkan beberapa alasan anak tidak
diimunisasikan antara lain karena takut anaknya panas, keluarga tidak mengizinkan , tempat
imunisasi jauh , kesibukan orang tua, sering nya anak sakit, dan tidak tahu tempat imunisasi ,
ujar Menteri RI, Prof. Dr.dr. Nila Farid Moeloek, Sp.M(K).
Imunisasi DPT dipengaruhi adanya kecemasan terhadap pemberian imunisasi DPT bayi
dan melalaikan peluang untuk pemberian vaksin dan sumber – sumber yang adekuat
kesehatan dan programnya dimana ibu -ibu untuk membawa bayinya di imunisasi salah
satunya adalah dipengaruhi dengan kecemasan ibu.

Berdasarkan hasil observasi survei awal pada bulan pebruari tahun 2016 di puskesmas
Gunung Tua melalui laporan Tahunan Imunisasis Rutin Tahun 2015 di Desa Gunung Tua
Julu dengan jumlah 38 ibu yang mempunyai bayi didapatkan hasil cakupan imunisasi HB
usia 0 bulan atau kurang dari 7 hari 88%, imunisasi BCG sebesar 91, 2% , DPT sebesar
78,6 %, Campak 83, 1 %, Polio 1 sebesar 114, 9 %, Polio 2 sebesar 110,1 %, Polio 3 sebesar
94,2 %, Polio 4 sebesar 81,8%. Dari data diatas dapat dilihat bahwa sebagian sudah
mencapai terget pencapaian program imunisasi dan sebagiannya lagi belum mencapai target.
Berdasarkan latar belakang di atas peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang
“ Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Rendahnya Pemberian Imunisasi DPT di
Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016.

B. Rumusan Masalah

Apakah Faktor yang berhubungan dengan rendahnya pemberian imunisasi DPT di Desa
Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016.
C. Tujuan Penelitian
1).Tujuan Umum

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor – faktor yang berhubungan dengan
rendahnya pemberian imunisasi DPT di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan
Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016.
2). Tujuan Khusus

1. Mengetahui hubungan faktor umur terhadap rendahnya pemberian Imunisasi DPT


di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal
Tahun 2016.
2. Mengetahui hubungan faktor pendidikan terhadap rendahnya pemberian Imunisasi
DPT di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal
Tahun 2016.
3. Mengetahui hubungan faktor pekerjaan terhadap rendahnya pemberian Imunisasi
DPT di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal
Tahun 2016.
4. Mengetahui hubungan faktor pengetahuan terhadap rendahnya
pemberian Imunisasi DPT di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten
Mandailing Natal Tahun 2016.
5. Mengetahui hubungan faktor dukungan suami terhadap rendahnya
pemberian Imunisasi DPT di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan
Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016.
6. Mengetahui hubungan faktor sikap terhadap rendahnya pemberian Imunisasi DPT
di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal
Tahun 2016.
7. Mengetahui hubungan faktor jarak terhadap rendahnya pemberian Imunisasi DPT
di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal
Tahun 2016.
D. Manfaat Penelitian

1). Bagi Responden/ ibu


Untuk menambah pengetahuan ibu tentang pentingnya pemberian imunisasi DPT pada
bayi.
2). Bagi Instansi Kesehatan
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan cakupan imunisasi DPT
pada bayi khususnya di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan
Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016.
3). Bagi penelitian selanjutnya
Penelitan ini diharapkan dapat membantu sebagai bahan bacaan dan masukan
untuk penelitian selanjutnya

II. TINJAUAN PUSTAKA


Imunisasi adalah suatu usaha memberikan kekebalan bayi dan anak terhadap
penyakit.Imunisasi suatu tindakan dengan sengaja memasukkan vaksin berupa mikroba hidup
yang sudah dilemahkan.Dimana imunisasi dapat menimbulkan kekebalan terhadap
tubuh.Imunisasi juga dapat dikatakan suatu tindakan dengan sengaja memasukkan vaksin
yang berisi mikroba hidup yang sudah dilemahkan pada balita.Imunisasi merupakan salah
satu pencegahan penyakit infeksi senus yang paling efektif.
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan seseorang secara aktif
terhadap suatu antigen, sehingga bila kelak ia terkena antigen yang serupa, tidak terjadi
penyakit .
a. Imunisais DPT ( Difteri Pertusis Tetanus)
1. Difteri –> Kuman yang menyebabkan penyakit difteri, menyerang salura pernapasan,
menimbulkan lapisan putih di tenggorokan dengan efek dapat menyumbat saluran
nafas, dan toksinnya dapat mengganggu kerja jantung.
2. Pertusis –> kuman penyebab penyakit batuk rejan atau batuk 100 hari dengan ciri
khas batuk beruntun
3. Tetanus –> kuman penyebab penyakit tetanus, yaitu kekakuan seluruh tubuh
termasuk otot pernapasan sehingga menyebabka kematian akibat gagal nafas
4. Hepatitis B –> virus penyabab peradangan pada hati dimana keadaan kronis dapat
menyebabkan kerusakan hati (sirosis hepatis) dan kanker hati (hepatoma)
5. Haemophilus influenza tipe B –> kuman penyebab radang paru-paru (pneumonia) dan
radang otak (meningitis) terbanyak pada anak-anak.

b. Etiologi Difteri
Disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae, bakteri gram positif yang bersifat polimorf
tidak bergerak dan tidak membentuk spora.Pewarnaan sediaan langsung dapat dilakukan
dengan biru metilen atau biru loluidon dan dilepaskannya.Basil ini dapt ditemukan dengan
sediaan langsung dari lesi.

c.Etiologi Pertusis
Penyebab pertusis adalah Bordetella pertusiss atau Hemophilus pertusiss, adenovirus tipe 1,
2, 3 dan 5 ditemukan dalam traktus respiratorius, trakts gastrointestinalis dan traktus
genitourinarius penderita pertusis bersama-sama Bordetella pertusiss atau tanpa adanya
bordetella pertusis. Pula didapatkan B. parapetusis.
d.Etiologi Tetanus
Penyebab penyakit ini ialah Clostridium tetani yang hidup anaerob, berbentuk spora selama
di luar tubuh manusia, tersebar luas di tanah dan mengeluarkan toksin bila dalam kondisi
baik.Toksin ini dapat menghancurkan sel darah merah, merusak leukosit dan merupakan
tetanospamin yaitu toksin yang neurotropik yang dapat ketegangan dan spasme otot.

e. Pencegahan DPT
Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin.Pencegahan
difteri tergabung dalam vaksin DPT (Difteri,Pertusis ,Tetanus). Vaksin ini meliputi difteri,
tetanus, dan pertusis atau batuk rejan. Vaksin DPT Difteri ,Pertusis, Tetanus) adalah salah
satu dari lima imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan
lima kali pada saat anak berusia dua bulan, empat bulan, enam bulan, 1,5-2 tahun, dan lima
tahun.Perlindungan tersebut umumnya dapat melindungi anak terhadap difteri seumur
hidupnya.Tetapi vaksinasi ini dapat diberikan kembali pada saat anak memasuki masa remaja
atau tepatnya saat berusia 11-18 tahun untuk memaksimalisasi keefektifannya. Penderita
difteri yang sudah sembuh juga disarankan untuk menerima vaksin karena tetap memiliki
risiko untuk kembali tertular penyakit yang sama.

f. Jadwal Pemberian Imunisasi DPT ( Difteri, Pertusis, Tetanus)


Pemberian imunisasi untuk anak sudah tidak dipungkiri lagi pentingnya. Dengan adanya
vaksin baru yaitu Pentavalen (DPT), maka bisa dipastikan akan ada perubahan pada
pemberian jadwal imunisasi anak.
Sasaran imunisasi untuk anak dikategorikan menjadi 2, yaitu untuk bayi dan batita.Untuk
bayi, imunisasi yang diberikan merupakan imunisasi dasar yang terdiri atas Hepatitis, BCG,
Polio 1-4, Pentavalen (DPT), dan campak. Pembagiannya sesuai dengan usia bayi dibagi
menjadi sebagai berikut:
– Bayi berusia 0 bulan diberikan imunisasi Hepatitis B 0
– Bayi berusia 1 bulan diberikan imunisasi BCG dan Polio 1
– Bayi berusia 2 bulan diberikan imunisasi DPT 1 dan Polio 2
– Bayi berusia 3 bulan diberikan imunisasi DPT 2 dan Polio 3
– Bayi berusia 4 bulan diberikan imunisasi DPT 3 dan Polio 4
– Bayi berusia 9 bulan diberikan imunisasi campak.

g. Manfaat Imunisasi
Menurut Depkes ( 2007), ada beberapa manfaat dari imunisasi diantaranya:
a. Member kekebalan pada tubuh terhadap penyakit tertentu sesuai dengan
jenisimunisasi yang diberikan
b. Untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilangkan
penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat ( populasi) atau bahkan
menghilangkan penyakit sehingga kebal terhadap penyakit.

III. METODE PENELITIAN

A.Metode Penelitian
Jenis penelitian ini merupakan penelitian Survei analitik dengan desain Corelasi.
Untuk menganalisis faktor yang mempengaruhi rendahnya pemberian imunisasi DPT di
Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Penelitian ini
dilaksanakan pada bulan Mei 2016.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai bayi usia 2 – 4 bulan
di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal
sebanyak dari survey awal jumlah populasi adalah 38 orang. Adapun teknik pengambilan
sampel dalam penelitian ini adalah secara total sampling.

B. Teknik Pengumpulan Data


1. Data Primer
Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner
2. Data Sekunder
Pengumpulan data sekunder dilakukan dengan mengambil data- data dari dokumen
atau catatan yang diperoleh dari Puskesmas Gunung Tua Julu Kabupaten Mandailing
Natal Tahun 2016.
C. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini melalui dua tahapan analisis, yaitu:
1. Analisis Univariat
Analisis data secara univariat dilakukan untuk mendapat gambaran distribusi frekuensi
variabel defenden, masing-masing variabel independen yang meliputi faktor predisposisi
(umur ibu, pendidikan, pekerjaan, pengetahuan ), faktor pemungkin ( Dukungan suami
dan sikap) dan faktor pendorong ( Sumber informasi dan jarak ).
2. Analisis Bivariat
Analisis bivariat dilakukan untuk menguji ada tidaknya hubungan faktor predisposisi
(umur ibu, pendidikan, pengetahuan, dan pekerjaan), faktor pemungkin (dukungan
suami, sikap) dan faktor pendorong (sumber informasi dan jarak) dengan pemberian
imunisasi DPT di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten
Mandailing Natal Tahun 2016 diperoleh dengan menggunakan uji chi-square pada
α=0,05.

IV. PEMBAHASAN

1. Karakteristik responden
Dari Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada umur responden mayoritas dengan
umur 30 - 35 Tahun sebanyak 22 orang (57,9%), dan minoritas dengan umur 20 – 29 tahun
sebanyak 16 orang (42,1 %). Faktor umur berpengaruh dalam pemberian imunisasi DPT .
Bertambahnya umur dapat mempengaruhi pembentukan dan perubahan sikap dalam
memberikan imunisasi .
Dari Hasil Penelitian dapat dilihat bahwa pendidikan responden mayoritas dengan
pendidikan tinggi (SMA, D3, PT) sebanyak 24 orang (63,2%), dan minoritas dengan
pendidikan rendah (SD,SMP) sebanyak 14 orang (36,8%).
2.Hubungan faktor umur dengan pemberian Imunisasi DPT

Distribusi Frekuensi Umur Responden di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan


Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal.

Umur N %
20 - 29 tahun 16 42,1
30 - 35 tahun 22 57,9
Total 38 100

Umur dapat mempengaruhi cara pandang seseorang dalam menghadapi berbagai hal
ataupun dalam mengambil keputusan. Proses perkembangan kedewasaan di tentukan dengan
bertambahnya usia. Umur merupakan salah satu faktor pemudah yang berguna untuk
melakukan suatu tindakan yang mendukung kesehatan dalam hal ini adalah pemebrian
imunisasi DPT.
Berdasarkan hasil pada penelitian dimana (p < 0,05) berarti tidak ada hubungan yang
signifikan antara umur ibu dengan pemberian imunisasi DPT di desa Gunung Tua Julu
Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal. Penelitian ini didukung oleh
penelitian yang dilakukan Azmi (2005) di Puskesmas Biha Lampung, yang menyatakan tidak
ada hubungan yang bermakna antara umur ibu dengan pemberian imunisasi DPT pada bayi 2-
4 bulan. Hasil yang sama juga dikemukakan oleh Helmiati (2011) yang menyatakan bahwa
umur ibu tidak berpengaruh terhadap pemberian imunisasi DPT pada bayi 2- 4 bulan . Hal
ini dikarenakan kebanyakan responden pada penelitian ini mempunyai umur yang tidak
beresiko.
3. Hubungan Faktor Pekerjaan dengan pemberian Imunisasi DPT
Distribusi Frekuensi Pekerjaan Responden di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan
Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal

Pekerjaan N %
Bekerja (PNS, Petani, Pedagang) 12 31.58
Tidak bekerja ( IRT) 26 68.42
Total 38 100

Berdasarkan dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa pekerjaan responden dengan
pekerjaan Tidak bekerja (IRT) sebanyak 26 orang (31.58%), dan minoritas dengan
pekerjaan bekerja (PNS,Petani,Pedagang dll) sebanyak 12 orang (68/.42%).
Secara teori pekerjaan ibu akan mempengaruhi perilaku ibu melengkapi imunisasi anak.
Ibu yang bekerja akan lebih sibuk sehingga tidak ada waktu untuk melengkapi status
imunisasi anaknya. Sebaliknya ibu yang tidak bekerja mempunyai banyak waktu untuk dapat
mengimunisasi anaknya (Hastono, 2009). Pekerjaan merupakan salah satu hal yang
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak karena hal ini berkaitan
dengan status ekonomi dari keluarga orang tua dapat menyediakan semua kebutuhan anak
baik kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder.
Status pekerjaan seorang ibu, dapat berpengaruh terhadap kesempatan dan waktu yang
digunakan untuk meningkatkan pengetahuan dengan cara menambah informasi tentang
imunisasi dan perhatian terhadap kesehatan anak – anaknya.
Berdasarkan hasil pada penelitian dimana p= 0,011 (p < 0,05) berarti ada hubungan
yang signifikan antara pekerjaan ibu dengan pemberian imunisasi DPT di desa Gunung Tua
Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016.

4. Hubungan Faktor Pendidikan dengan pemberian imunisasi DPT


Distribusi Frekuensi Pendidikan Responden di Desa Gunung Tua Julu
Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal
Pendidikan n %

Tinggi (SMA, D3, PT) 24 63,2


Rendah (SD, SMP) 14 36,8
Total 38 100

Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa pendidikan responden mayoritas dengan
pendidikan tinggi (SMA, D3, PT) sebanyak 24 orang (63,2%), dan minoritas dengan
pendidikan rendah (SD,SMP) sebanyak 14 orang (36,8%).
Pendidikan adalah dasar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan
pengajaran dan latihan bagi perannya dimasa yang akan datang (Notoadmojo, 2012).
Hal ini didukung oleh teori yang dikemukan oleh Wati, (2013) Pendidikan diartikan
sebagai tahapan kegiatan yang bersifat kelembagaan yang dipergunakan untuk
menyempurnakan perkembangan individu dalam menguasai pengetahuan, kebiasaan, sikap
dan sebagainya. Artinya semakin tingginya tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin
mudah menerima informasi sehingga banyak pula pengetahuan yang dimiliki. Sebaliknya
pendidikan yang kurang akan menghambat perkembangan sikap seseorang terhadap hidup
sehat. Sehingga peneliti berasumsi bahwa masih banyaknya anak bayi yang pemberian
imunisasinya tidak lengkap sangat dipengaruhi oleh pengetahuan, sikap dan perilaku ibu yang
di latarbelakangi oleh tingkat pendidikan dari masing-masing individu itu pula.

Peningkatan pengetahuan tidak mutlak diperoleh di pendidikan formal saja, akan


tetapi juga dapat diperoleh dari pendidikan non formal. Semakin tinggi tingkat pendidikan
seseorang maka semakin tinggi pula motivasi untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan karena
telah memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih luas. Dikemukakan pula oleh
Notoadmodjo, (2003) bahwa melalui pendidikan seseorang dapat membuat keputusan yang
lebih baik dalam bertindak. Melalui pendidikan seseorang dapat membuat keputusan yang
lebih baik dalam bertindak.
Berdasarkan hasil penelitian dimana p =0,,618 (p < 0,05) berarti tidak ada hubungan
yang signifikan antara pendidikan ibu dengan pemberian imunisasi. Hasil ini sejalan dengan
penelitian yang dilakukan oleh Arwin ( 2012) yang menyatakan bahwa tingkat pendidikan
tidak ada hubungan dengan pemberian imunisasi DPT.

5. Hubungan Pengetahuan dengan Pemberian Imunisasi DPT


Distribusi Frekuensi Pengetahuan Responden di Desa Gunung Tua Julu
Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal
Pengetahuan n %

Baik 17 44,7
Kurang Baik 21 55,3
Total 38 100

Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa pengetahuan responden mayoritas dengan
pengetahuan kurang baik sebanyak 21 orang (55,3%) dan minoritas dengan pengetahuan baik
sebanyak 17 orang (44,7%).
Pengetahuan adalah isi dari tahu dan isi, ini terjadi setelah orang melakukan
penginderaan terhadap suatu objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui panca indra
pengelihatan, pandangan, penciuman, perabaan, dan perasaan. Sebagai besar
pengetahuandiproleh dari mata dan telinga(Notoadmodjo, 2003).
Nanda ( 2005 ) menjelaskan bahwa faktor yang berkaitan dengan kurang pengetahuan
terdiri dari kurang terpapahnya informasi kurang daya ingat/ hafalan, salah menafsirkan
informasi keterbatasan kongnitif, kurang berminat dan tidak familiar terhadap sumber daya
informasi.
Notoadmodjo ( 2003 )pengertahuan adalah kognitif merupakan domain yang sangat
penting akan terbentuknya tindakan seseorang. Karena itu pengalaman dan penelitian
ternyata perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari perilaku yang
didasari oleh pengetahuan.
Pengetahuan akan mempengaruhi tindakan seseorang. Untuk mendapat pengetahuan
diperlukan proses belajar. Dengan belajar akan dapat terjadi perubahan tingkah laku.
Perubahan tingkah laku tersebut bisa mengarah yang lebih baik, buruk jika individu
menganggap objek yang dipelajari tidak sesuai dengan keyakinannya.
Dari data yang telah diperoleh bahwa hasil penelitian yang telah dilakukan di
Puskesmas Polonia Medan Tahun 2013, sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan oleh
Zhyo Zhecret Di Puskesmas Mowewe Kabupaten Kolaka Tahun 2013, yang hasilnya bahwa
dari 35 responden responden mayoritas memiliki pengetahuan yang baik sebanyak 19
responden (54,3%).
Berdasarkan hasil pada penelitian dimana nilai p = 0,026 (p < 0,05) berarti ada
hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan pemberian imunisasi DPT di
desa Gunung Tua Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016.
Hubungan antara status imunisasi dasar pada bayi usia 0-12 bulan lengkap dengan
pengetahuan ibu tentang imunisasi, pendidikan orangtua, pendapatan orangtua, dan jumlah
anak. Di antara beberapa faktor tersebut pengetahuan ibu tentang imunisasi merupakan suatu
faktor yang sangat erat hubungannya dengan status imunisasi anak (Ismail, 2009). Imunisasi
merupakam program penting dalam upaya pencegahan primer bagi individu dan masyarakat
terhadap penyebaran penyakit menular. Imunisasi menjadi kurang efektif bila ibu tidak mau
anaknya diimunisasi dengan berbagai alasan. Beberapa hambatan pelaksanaan imunisasi
menurut WHO (2005) adalah pengetahuan, lingkungan dan logistik, urutan anak dalam
keluarga dan jumlah anggota keluarga, sosial ekonomi, mobilitas, keluarga, ketidak stabilan
politik, sikap petugas kesehatan, pembiayaan.

6. Hubungan Sikap dengan Pemberian Imunisasi DPT


Distribusi Frekuensi Sikap Responden di Desa Gunung Tua Julu Kecamatan
Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal

Sikap n %
Setuju 19 50
Tidak Setuju 19 50
Total 38 100

Hasil penelitian dapat dilihat bahwa variabel Sikap responden dengan sikap
sebanyak 19 orang (50%) dan sikap tidak setuju sebanyak 19 orang (50%).
Sikap adalah keteraturan tertentu dalam hal perasaan, pemikiran,predisposisi tindakan
seseorang terhadap suatu aspek dilingkungan sekitarnya (Azwar, 2007).
Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu
stimulasi atau objek yang tidak dapat langsung. Sikap ibu – ibu yang ada di desa gunung tua
julu masih sedikit tertutup terhadap sesuatu hal yang terjadi atau sesuatu hal yang datang
pada mereka, misalnya seperti peneliti datang ketika membagikan kuesioner kepada mereka,
tetapi ibu – ibu yang ada disana sedikit tertutup,tetapi peneliti terus menjelaskan tentang
pengisian kuesioner dan akhirnya para ibu – ibu mau mengisi kuesioner tersebut. Seorang
ahli psikologi sosial Newcom menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau
kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan dari motif tertentu.
Berdasarkan teori Lawrance Green dalam Notoatmodjo (2007), menyatakan bahwa
perilaku seseorang tentang kesehatan dapat juga ditentukan oleh ketersediaan fasilitas, sikap
dan perilaku para petugas kesehatan terhadap kesehatan juga akan mendukung dan
memperkuat terbentuknya perilaku.
Seperti yang dikemukakan Azwar 2013 bahwa sikap terdiri dari 4 tingkatan yaitu
Menerima (receiving), individu ingin dan memperhatikan rangsangan (stimulus) yang
diberikan, Merespons (responding), sikap individu dapat memberikan jawaban apabila
ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan, Menghargai (valuing); sikap
individu mengajak orang lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah, dan
Bertanggung Jawab (responsible), sikap individu akan bertanggung j awab dan siap
menanggung segala risiko atas segala sesuatu yang dipilihnya. Hasil diatas sejalan dengan
pendapat Sunaryo, 2004 yang mengatakan bahwa sikap merupakan organisasi pendapat,
keyakinan seseorang mengenai objek, yang disertai adanya perasaan untuk membuat respons
atau berperilaku dalam cara tertentu yang dipilihnya. Berdasarkan hasil uji chi square pada
penelitian dimana p= 0,328 (p < 0,05) berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara
sikap ibu dengan pemberian imunisasi DPT di desa gunung tua julu kecamatan panyabungan
kabupaten mandailing natal tahun 2016.
Penelitian ini didukung dengan penelitian Santi Nur Kartika (2012) menyatakan tidak
ada hubungan yang signifikan dengan keeratan hubungan antara sikap ibu dengan
pemberian imunisasi DPT.

7. Hubungan Faktor Dukungan suami atau Keluarga dengan Pemberian


Imunisasi DPT
Distribusi Frekuensi Dukungan suami Responden di Desa Gunung Tua Julu
Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal
Dukungan Suami n %

Mendukung 12 31,6
Kurang Mendukung 26 68,4
Total 38 100
Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa dukungan suami responden mayoritas
dengan Kurang mendukung sebanyak 26 orang (68,4%) dan minoritas dengan mendukung
sebanyak 12 responden (31.6%).
Dukungan suami adalah salah satu bentuk interaksi yang didalamnya terdapat
hubungan yang saling memberi dan menerima bantuan yang yang bersifat nyata yang
dilakukan oleh suami terhadap istrinya (Hidayat, 2011). Pada dasarnya , dukungan suami
mengacu kepada dukungan sosial keluarga yang berasal dari suami, ayah, ibu mertua .Hal ini
berdasarkan pada teori yang menyebutkan bahwa dukungan sosial keluarga mengacu pada
dukungan , dukungan yang dipandang oleh keluarga dapat di akses, diadakan atau dapat
dijangkau oleh keluarga. Dukungan sosial keluarga dapat berasal dari sumber internal yang
meliputi dukungan dari suami dan i, atau dukungan dari saudara kandung dan keluarga besar.
(Asih etal,Eds, 2000).
Dukungan suami diharapkan mampu memberikan manfaat atau sebagai pendorong
ibu dalam memberikan imunisasi . Dukungan suami terdiri dari empat jenis yaitu dukungan
informasional, dukungan pemilaian , dukungan instrumental dan dukungan dukungan
emosional.
Keluarga merupakan bagian terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala keluarga
dan anggota keluarga lainnya yang bertempat tinggal di dalam satu rumah karena adanya
hubungan darah maupun ikatan pernikahan, sehingga terdapat interaksi antara anggota
keluarga satu dengan anggota keluarga lainnya, apabila salah satu dari anggota keluarga
memperoleh masalah kesehatan, maka akan dapat berpengaruh kepada anggota keluarga
lainnya. Sehingga keluarga merupakan focus pelayanan kesehatan yang strategis karena
keluarga mempunyai peran utama dalam pemeliharaan kesehatan seluruh anggota keluarga,
dan masalah keluarga saling berkaitan, keluarga juga dapat sebagai tempat pengambil
keputusan (decision making) dalam perawatan kesehatan (Mubarak, 2012).
Menurut Februhartanty ( 2012), bahwa peranayah atau ssuami dalam tindakan
pemberian imunisasi antara lain ikut serta dalam pengambilan keputusan untuk mau ikut
memberikan imunisasi kepada bayinya, pemberian dukungan emosional selama masa
pemberian imunisasi ,pemberian informasi terhadap kesehatan ibu dan bayi.
Menurut Notoadmodjo (2010) mengatakan bahwa salah satu penyebab perubahan
perilaku kesehatan seseorang dapat ditentukan oleh ada tidaknya dukungan sosial (Social
Support) dari lingkungan sekitar. Dalam hal ini termasuk juga dukungan suami dalam
pemberian imunisasi DPT.
Berdasarkan hasil penelitian dimana p = 0,001 (p < 0,05) berarti ada pengaruh yang
signifikan antara dukungan suami dengan pemberian imunisasi DPT di desa gunung tua
julu kabupaten mandailing natal tahun 2016.
Hasil ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh helmiati (2012) yang
menyatakan ada hubungan antara dukungan suami dengan pemberian imunisasi DPT.
8. Hubungan Faktor Jarak kefasilitas kesehatan dengan pemberian imunsiasi DPT
Distribusi Frekuensi Jarak ke Fasilitas Kesehatan Responden di Desa Gunung Tua
Julu Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal

Jarak Kefasilitas Kesehatan n %


Jauh 11 28,9
Dekat 27 71,1
Total 38 100

Berdasarkan dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa jarak kefasilitas kesehatan
dengan jarak mayoritas dekat sebanyak 27 orang (71,1%) dan minoritas dengan jarak jauh
sebanyak 11 responden (28,9%).
Berdasarkan hasil penelitian responden, dapat dilihat bahwa dimana P 0,003 (p <
0,05) berarti ada hubungan yang signifikan antara jarak ke fasilitas kesehatan dengan
pemberian imunisasi DPT .
Menurut teori Lawrence Green dalam buku Notoatmodjo (2012), seseorang tidak mau
mengimunisasikan anaknya di posyandu dapat disebabkan karena orang tersebut tidak tahu
manfaat imunisasi bagi anaknya atau karena rumah yang jauh dari posyandu atau puskesmas
tempat mengimunisasikan anaknya. Berdasarkan hasil analisis ada hubungan yang signfikan
antara jarak pemberian imunisasi terhadap bayi atau balita. Terdapat adanya hubungan
yang signifikan dikarenakan bahwa hampir dari seluruh responden menyatakan bahwa lokasi
pemberian imunisasi mudah dijangkau oleh responden, dan berdasarkan hasil wawancara
diketahui bahwa semua responden dengan mudah menuju ketempat pemberian imunisasi
karena jarak rumah dengan tempat pelayanan imunisasi berjarak lebih dekat,sehingga
kebanyakan dari mereka dapat menjangkau hanya dengan berjalan kaki. Penelitian ini sesuai
dengan penelitian Prayogo Ari et al (2013), bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
jarak kefasilitas kesehatan dengan pemberian imunsiasi DPT.

V. KESIMPULAN DAN SARAN

a. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan tentang analisis faktor
yang berhubungan dengan rendahnya pemberian imunisasi DPT di Desa Gunung Tua Julu
Kecamatan Panyabungan Kabupaten Mandailing Natal Tahun 2016 dapat disimpulkan
sebagai berikut:
1. Ada hubungan yang signifikan antara pekerjaan, dukungan suami, jarak tempuh, dan
pengetahuan dengan rendahnya pemberian imunisasi DPT di Kabupaten Mandailing
Natal Tahun 2016.
2. Tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, pendidikan, dan sikap dengan
rendahnya pemberian imunisasi DPT di Kabupaten Mandailing Natal tahun 2016.

B.Saran

1. Bagi Puskesmas

a. Bagi petugas kesehatan di Puskesmas Gunung Tua Julu agar memperhatikan dan
meningkatkan penyuluhan imunisasi DPT kepada ibu – ibu yang mempunyai bayi usia 2-
4 bulan.
b. Bagi tim kesehatan yang ada di Puskesmas Gunung Tua Julu supaya lebih
meningkatkan lagi pelayanan kesehatan dengan prosedur yang telah dibuat dan jadwal-
jadwal yang telah ditentukan tentang pemberian imunisasi DPT pada bayi 2 – 4 bulan.

2. Bagi Responden

a. Kepada ibu – ibu untuk lebih aktif dalam mencari berbagai macam sumber
informasi seperti media cetak, media massa, media elektronik dan lain – lain mengenai
imunisasi DPT.
b. Perlu pendekatan secara promosi kesehatan kepada masyarakat mengenai manfaat dari
pemberian imunisasi pada bayi atau balita. Misalnya membuat pamphlet atau poster
mengenai manfaat dari pemberian imunisasi.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya


a. Penelitian ini perlu dilanjutkan oleh peneliti selanjutnya untuk mengetahui faktor-faktor
yang berhubungan terhadap rendahnya pemberian imunisasi DPT pada bayi.

DAFTAR PUSTAKA
Aziz A, Hidayat A. 2003. Metode Penelitian Tehnik Analisis Data:
. Salemba Medika

Ranuh IGN dan Suyitno H. 2008. Pedoman Imunisasi Di Indonesia.


Jakarta: Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia.
Riwidikdo, H. 2008. Statistik Kesehatan , Yogyakarta : Mitra
Cendikia Press
Riyanto A, 2009, Pengolahan dan Analisis Data Kesehatan ,
Yogyakarta: Nuha Medika
Riduwan, 2008. Metode dan Teknik Menyusun Tesis.Bandung: Alfabeta.
Saifuddin., 2006. Buku acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.
Jakarta : Bina Pustaka
Simanjuntak, 2003. Faktor – faktor yang berhubungan
dengan Kelengkapan Pemeriksaan Kehamilan di Puskesmas
Pakuaji Tahun 2003. UI
Wawan, A dan Dewi , M. 2010 Teori dan Pengukuran
Pengetahuan, Sikap dan Prilaku Manusia. Yogyakarta. Nuha
Medika.
Wahit, (2011). Promosi kesehatan untuk kebidanan, Jakarta :
Salemba medika.
Winkjosastro, 2005. Ilmu Kebidanan. Jakarta. Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawirohardjo.
Umar. Khalimah, 2008. Hubungan antara karakteristik dan sikap ibu balita dengan
penerapan imunisasi campak di wilayah kerja Puskesmas Gunungpati, Skripsi
PENGAPLIKASIAN MEDIA PEMBELAJARAN
BERBAHASA MANDARIN BERPENGARUH PADA
PENGUCAPAN SERTA PELAFALAN PADA
ANAK TK WIYATA DHARMA MEDAN

Oleh :
Chyntia Hualangi, S.Kom., MTCSOL
Staf Pengajar STBA PIA

ABSTRACT
Seeing the development of China that was able to affect the world
economy, the Headmaster of the School to take steps to provide Mandarin
materials ranging from kindergarten, elementary, junior high school. Learning
a foreign language, students can directly connect the brain with oral. Learning
Mandarin, the brain must deal with two different departments at once: sounds
and meanings. That is why children who as young as learning IQ Mandarin
languages are up between 15-20%. With that, it is expected that Mandarin can
be learned since childhood because in addition to children more quickly in
absorbing the lesson, Mandarin is a difficult language and has a lot of
vocabulary. TK Wiyata Dharma Medan is one kindergarten that realizes the
importance of Mandarin. Therefore, Head of Kindergarten Tama Wiyata
Dharma Medan gives opportunity writer to conduct research in big zero class
(B) and small zero class (A) with aim of student of TK Wiyata Dharma Medan
can know and learn basic Mandarin language. The material given is the same,
just different teaching methods. Because in class A not all students can read
and write, so students are still assisted to spell Mandarin pronunciation from
teacher's utterance and assisted in writing letters, either writing pinyin or hanzi.
While class B students already have the competence of reading and writing, so
students stay deepening pronunciation, how to write hanzi and its meaning.
And because the new Chinese subjects were first taught in this kindergarten, so
the unavailability of guidebooks to be presented. So, the author sought and
made his own material to be delivered.Based on the discussion can be
concluded as follows; If there is an error in the pronunciation position and the
way of pronunciation, then the resulting pronunciation will be less precise.
Media images in the process Teaching and Learning Activities can motivate
TK Wiyata Dharma Medan students in learning Mandarin. Students can write
and memorize hanzi with image media. Game media can create classroom
situations to be democratic and open, thus making students comfortable in class
and daring to explore themselves. This is evident from the evaluation results in
every meeting. Results obtained by students on average are good

Kata Kunci : Bahasa Mandarin, TK,Media Pembelajaran


I. PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah.
Memasuki era globalisasi seperti sekarang ini peranan bahasa mandarin
sangat penting. Apalagi sekarang menjadi bahasa Internasional kedua setelah
bahasa Inggris. Penggunaan bahasa Mandarin sangat dibutuhkan guna
memperlancar hubungan bisnis, studi, perdagangan, dan pariwisata. Pentingnya
mempelajari bahasa asing dijadikan sebagai suatu persiapan demi
meningkatkan kompetensi saat memasuki dunia kerja. Kesadaran ini membuat
banyak orang Indonesia tertarik mempelajari bahasa Mandarin.
Melihat perkembangan China yang ternyata mampu mempengaruhi
ekonomi dunia, maka Kepala Sekolah mengambil langkah memberikan materi
Bahasa Mandarin mulai dari TK, SD, SMP, SMA. Belajar bahasa asing, murid
langsung bisa menghubungkan otak dengan lisan. Belajar bahasa Mandarin,
otak harus berhubungan dengan dua jurusan yang berbeda sekaligus, yaitu:
bunyi dan arti. Itulah sebabnya anak yang sejak kecil belajar bahasa mandarin
IQ’nya naik antara 15-20%. Dengan itu, diharapkan bahasa Mandarin dapat
dipelajari sejak kecil karena selain anak-anak lebih cepat dalam menyerap
pelajaran, bahasa Mandarin merupakan bahasa yang susah dan memiliki
banyak kosakata.
TK Wiyata Dharma Medan merupakan salah satu TK yang menyadari
pentingnya bahasa Mandarin. Oleh karena itu, Kepala Sekolah TK Wiyata
Dharma Medan memberikan kesempatan penulis untuk melaksanakan
penelitian di kelas nol besar (B) dan kelas nol kecil (A) dengan tujuan siswa
TK Wiyata Dharma Medan dapat mengenal dan mempelajari bahasa Mandarin
dasar. Materi yang diberikan sama, hanya metode pengajarannya yang berbeda.
Karena di kelas A belum seluruh siswa dapat membaca dan menulis, jadi siswa
masih dibantu mengeja pelafalan bahasa Mandarin dari ucapan guru dan
dibantu dalam menulis huruf, baik menulis pinyin maupun hanzi. Sedangkan
siswa kelas B sudah mempunyai kompetensi membaca dan menulis, jadi siswa
tinggal memperdalam pengucapan, cara menulis hanzi dan maknanya. Dan
karena mata pelajaran bahasa Mandarin baru pertama kali diajarkan di TK ini,
jadi tidak tersedianya buku panduan untuk disajikan. Maka, penulis mencari
dan membuat sendiri materi yang akan disampaikan.
Dalam pendidikan anak usia 4-6 tahun khususnya Taman Kanak-kanak
merupakan masa anak mengamati, mendengar dan menirukan. Karena itu
diperlukan metode pengajaran dan media pembelajaran dalam upaya
mengembangkan kemampuan dasar berbahasa. Tidak mudah memberikan
pelajaran bahasa Mandarin kepada siswa, agar mereka dapat menyukai dan
enjoy dengan bahasa Mandarin. Dengan pikiran yang dibuat setenang mungkin,
santai, dan terbuka sehingga bahan materi yang merangsang saraf penerima
dapat diterima dan dipertahankan untuk jangka waktu yang lama (Soenjono
Dardjowidjojo,1996;63). Untuk mempermudah siswa menerima pelajaran
dibutuhkan media pembelajaran. Anggani Sudono mengemukakan bahwa
media pembelajaran atau sumber belajar adalah bahan termasuk juga alat
permainan untuk memberikan informasi maupun berbagai keterampilan kepada
siswa, misalnya buku referensi, buku cerita, dan buku gambar-gambar. Dalam
pelaksanaan proses pembelajaran, penulis menggunakan media gambar dan
permainan dalam penyampaian materi bahasa Mandarin. Dengan menggunakan
media gambar, siswa dapat menerima dan mengerti maksud dari materi yang
disampaikan. Dan khususnya memudahkan siswa dalam menulis hanzi.
Sedangkan dengan menggunakan media permainan, siswa akan merasa senang,
enjoy, antusias dan bersemangat untuk belajar, sekaligus dapat memudahkan
siswa untuk mengingat kosakata-kosakata yang diberikan. Dengan memberikan
pelajaran yang disertai media bantu, sebuah pelajaran menjadi lebih menarik
dan tidak membosankan, juga dapat memicu daya kreatif anak. Dan lagi media
gambar dan permainan sangat efisien dan efektif dalam proses pembelajaran.

B. Rumusan Masalah.
Perumusan masalah diperlukan guna menegaskan masalah-masalah yang
akan diteliti, sehingga memudahkan pengerjaannya serta dapat mencapai
sasaran yang diinginkan. Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka
penulis merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah cerita gambar dalam pengenalan bahasa Mandarin dapat efektif
dan lebih mudah dipahami oleh siswa TK Wiyata Dharma Medan ?
2. Apa saja kendala yang dialami selama proses belajar mengajar dan
bagaiman solusinya?

C. Tujuan Penelitian.
Tujuan penulis dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui apakah media gambar dalam pengucapan dan
pelafalan bahasa Mandarin dasar dapat efektif dan lebih dipahami oleh
siswa TK Wiyata Dharma Medan .
2. Untuk mengetahui apa saja kendala yang dialami selama proses belajar
mengajar dan bagaimana solusinya.

II. LANDASAN TEORI


A. Belajar Bahasa Asing Kedua
Penggunaan bahasa ibu atau bahasa pertama kali adalah suatu hal yang
wajar dan ilmiah. Seorang anak pada umur kurang lebih lima tahun sering
disebut “Akil Baliq secara bahasa” (Linguistically Adult) sudah lancar dan
mantap dalam berbahasa ibu, baik dalam lafal, tata bahasa maupun penggunaan
kalimat dalam percakapan. Sedangkan belajar bahasa kedua yaitu bahasa diluar
bahasa Indonesia. Bahasa asing adalah bahasa yang dipakai oleh orang asing
yaitu kelompok orang atau masyarakat diluar lingkungannya, misalkan: bahasa
Inggris, Mandarin, Jepang, Arab dan lain-lain.
Belajar bahasa bukan hanya kegiatan menghafal, tetapi juga mencoba
mengerti arti dan kegunaan bahasa tersebut dalam bahasa tulis dan lisan.
Menurut paham Behaviorisme, belajar harus berlangsung dalam lima tahap
yaitu a. Trial and Error b. Mengingat-ingat c. Meniru d. Mengasosiasikan e.
Menganalogi ( Pranomo, 1996:21 ).
Yang dimaksud dengan bahasa kedua adalah bahasa yang tidak
diperoleh seseorang secara wajar dari kecil (M.F. Baradja, 1990:21).
Pemerolehan bahasa kedua diartikan dengan mengajar dan belajar bahasa asing
dan atau bahasa kedua lainnya (Henry Guntur Tarigan, 1988:125).
Belajar bahasa kedua (bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Jepang,
bahasa Arab, dan sebagainya) pada umumnya dilakukan secara formal, yaitu di
kelas bersama seorang guru dengan menggunakan buku teks tertentu. Hakikat
belajar bahasa kedua tidak sama dengan belajar bahasa pertama. Belajar bahasa
pertama dimulai dari “nol” (pembelajar belum menguasai bahasa apa pun) dan
perkembangan pemerolehan bahasa ini berjalan seiring dengan perkembangan
fisik dan psikisnya.
Menurut Bialystok, dalam belajar bahasa kedua terdapat tiga macam
ilmu pengetahuan (knowledge) dalam proses belajar bahasa kedua, yaitu Input,
Knowledge, dan Output. Pembelajar jika ingin berhasil dalam belajar bahasa
kedua harus memiliki pengalaman (language exposure) dan ini disebut Input.
Kemudian, segala macam informasi dan pengalaman yang diperoleh si
pembelajar harus disimpan di suatu tempat yang disebut Knowledge. Dan
akhirnya sampailah pada Output, yaitu kemampuan untuk memahami dan
mengutarakan isi hati (M.F. Baradja, 1990: 23-24; Bialystok, 1980: 46).
Kosakata merupakan semua kata yang terdapat dalam suatu bahasa,
kekayaan kata yang dimiliki oleh seorang pembicara atau penulis. Kata yang
dipakai dalam suatu bidang ilmu pengetahuan ( TIM penyusun Kamus Pusat
Bahasa, 1995 : 327), sedangkan menurut Zainuddin (1992 : 8), kosakata
digunakan untuk mewakili suatu nama, sifat, bentuk dan jenis benda, bisa
menggunakan kesatuan bahasa yang bermakna, yang disebut kata atau
kelompok kata.
Kualitas keterampilan berbahasa seseorang jelas bergantung kepada
kualitas dan kuantitas yang dimilikinya. Semakin besar kosakata yang dimiliki
semakin besar pula kemungkinan terampil berbahasa. Sehingga bisa dikatakan
bahwa kuantitas dan kualitas, tingkatan dan kedalaman kosakata seseorang
merupakan indeks pribadi yang terbaik bagi perkembangan mentalnya
(Tarigan, 1993 : 2-3).

B. Suggestopedia
2.2.1 Sejarah Perkembangan Suggestopedia
Metode ini dirintis pada musim panas tahun 1975 di Bulgaria ketika
sekelompok peminat di Institut Penelitian Pedagogy di bawah Georgi Lozanow
melakukan penelitian mengenai pengajaran bahasa asing. Pada awal
perkembangannya, suggestopedia hanya dicoba di negara-negara Eropa Timur
seperti Uni Soviet, Jerman Timur, dan Hongaria (Soenjono Dardjowidjojo,
1996:62). Menurut Lozanow, sebagai landasan yang paling dasar
suggestopedia adalah suggestology, yakni suatu konsep yang menyuguhkan
suatu pandangan bahwa manusia bisa diarahkan untuk melakukan sesuatu
dengan memberikannya sugesti.
Pikiran harus dibuat setenang mungkin, santai, dan terbuka sehingga
bahan-bahan yang merangsang saraf penerimaan bisa dengan mudah diterima
dan dipertahankan untuk jangka waktu yang lama (Soenjono Dardjowidjojo,
1996:63).
Ciri-ciri metode ini mencakup suasana sugestif di tempat penerapannya,
dengan cahaya yang lemah lembut, musik yang sayup-sayup, dekorasi ruangan
yang ceria, tempat duduk yang menyenangkan, dan teknik teknik dramatik
yang dipergunakan oleh guru dalam penyajian bahan pembelajaran. Semua itu
secara total bertujuan membuat para pembelajar santai, yang memungkinkan
mereka membuka hati untuk belajar bahasa dalam suatu model yang tidak
menekan atau membebani para siswa. (Richards dan Rodgers, 1993:142).
Teknik pelaksanaan pengajaran bahasa dengan suggestopedia sangat
unik. Untuk kelas yang intensif, pembelajar bertemu selama empat jam sehari,
enam kali seminggu, untuk jangka waktu satu bulan. Ostrander dan Schruder
yang menyatakan bahwa suggestopedia bisa menghasilkan sampai 50 kali lebih
baik daripada metode lain (Bancroft dalam Soenjono Dardjowidjojo, 1996:66).
Soenjono Dardjowidjojo (1996:66) memberikan kritik yang realistis
terhadap penerapan suggestopedia. Menurutnya, apabila metode ini diterapkan
di Indonesia maka akan terjadi pertentangan antara prinsip dasar suggestopedia
dengan realitas yang dihadapi para guru di sekolah. Sebagai guru bahasa di
sekolah, mereka harus mengikuti suatu sistem kurikulum yang berlaku, dan
sudah tentu sekolah tidak mungkin menyediakan ruang yang besar untuk
gerakan fisik siswa atau pun ruangan yang nyaman dengan music klasik,
dekorasi ruang yang cerah, dan persyaratan penciptaan kondisi suggestopedia
lainnya.
Menurut Stevick (dalam Muljanto Sumardi, 1996:20), pendekatan
pengajaran bahasa yang mengutamakan peranan siswa dan berorientasi pada
kebutuhan siswa disebut pendekatan yang bersifat humanistik. Dan menurut
Stevick, pengajaran bahasa dianggap tidak bersifat humanistik apabila siswa
belajar hanya karena tradisi atau karena kemauan orang lain, atau apabila
proses belajar mengajar dikuasai sepenuhnya oleh guru. Tidak ada komunikasi
antara guru dan siswa, antara siswa dengan siswa yang lain. Siswa datang ke
sekolah dengan rasa tegang, takut membuat kesalahan, atau takut akan
disalahkan guru.
(Muljanto Sumardi, 1996:23) mengemukakan mengenai beberapa cirri
pendekatan yang bersifat humanistik, yaitu:
1. Melibatkan siswa seutuhnya dan memberi peranan lebih besar kepada
siswa, induktif pendekatannya dan non korektif. Yang terakhir ini
artinya bahwa membuat kesalahan dalam proses belajar itu wajar dan
koreksi itu dilakukan nanti.

2. Pendekatan ini menganjurkan dan menggalakkan situasi komunikatif


dan mencoba menciptakan suasana dan rasa kebersamaan. Banyak guru
setuju bahwa rasa takut dan bosan adalah musuh utama learning. Rasa
gembira dan tenang merupakan prasyarat bagi proses belajar yang
efektif dan cepat. Ini berarti bahwa dalam mempelajari bahasa siswa
harus merasa aman, tak terancam, santai, dan juga tertarik pada
pelajaran dan merasa terlibat dalam berbagai kegiatan yang bermakna
dalam bahasa yang dipelajarinya.

C. Media Pembelajaran.
Kata media berasal dari kata medium yang secara harfiah artinya
perantara atau pengantar. Menurut Purnamawati dan Eldarni (2001 : 4) yaitu:
“media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan
dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan,
perhatian dan minat siswa sedemikian rupa sehingga terjadi proses belajar”.
Dalam dunia pengajaran, pada umumnya pesan atau informasi tersebut berasal
dari sumber informasi, yaitu guru, sedangkan penerima informasinya adalah
siswa.
Anggani Sudono mengemukakan bahwa media pembelajaran atau
sumber belajar adalah bahan termasuk juga alat permainan untuk memberikan
informasi maupun berbagai keterampilan kepada siswa; antara lain buku
referensi, buku cerita, gambar-gambar, nara sumber, benda atau hasil-hasil
budaya.
Media pembelajaran sebagai alat bantu dalam proses belajar dan
pembelajaran adalah suatu kenyataan yang tidak bisa kita pungkiri
keberadaannya. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka materi
pembelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh siswa, terutama materi
pembelajaran yang rumit dan komplek. Manfaat media dalam proses
pembelajaran (Arif S. Sadiman 1996) adalah:
a. Dapat memperjelas penyampaian pesan agar tidak bersifat verbalitas
(dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan).
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, daya indra: objek kecil.
c. Dapat mengatasi sifat pasif anak didik.
d. Media pengajaran dapat menarik dan memperbesar perhatian anak didik
terhadap materi pengajaran yang disajikan
e. Menimbulkan rangsangan dan motivasi siswa untuk belajar mandiri
sesuai kemampuan dirinya.
1. Prinsip memilih media pembelajaran
Ada beberapa prinsip yang perlu diperhatikan dalam pemilihan media
pembelajaran, yaitu :
a. media yang dipilih hendaknya selalu menunjang tercapainya tujuan
pengajaran
b. media yang dipilih hendaknya disenangi guru dan siswa yang
disesuaikan dengan kemampuan siswa
c. media yang digunakan hendaknya tepat kegunaan dan tujuannya
d. media yang dipilih hendaknya memang tersedia, artinya alat/bahannya
atau tersedia waktu untuk mempersiapkan dan mempergunakannya.

2. Jenis-jenis Media
Ada berbagai macam jenis media yang lazim digunakan dalam
pembelajaran, diantaranya adalah :
a. Media grafis termasuk media visual
Media grafis berfungsi untuk menyalurkan pesan dari sumber ke
penerima pesan. Saluran yang dipakai menyangkut indera penglihatan. Media
ini banyak jenisnya seperti gambar(foto), sketsa, diagram, bagan(chart),
garifk(graphs), papan panel, papan buletin.

b. Media audio, yang berkaitan dengan pendengaran


Ada beberapa jenis media yang dapat dikelompokan dalam media
audio, antara lain radio, alat perekam pita magnetik, piringan hitam dan
laboratorium bahasa.

c. Media Proyeksi diam


Beberapa jenis media proyeksi diam antara lain: Film bingkai (slide),
Film rangkai, Overhead transparancy (OHT), Overhead projector (OHP).

d. Media cetak seperti buku, surat kabar.

D. Kesimpulan Sementara
Dari bab 2 ini dapat diperoleh kesimpulan sementara yaitu sebagai
berikut:
1. Media pembelajaran dalam mempelajari Bahasa Mandarin serta
melafalkan Bahasa Mandarin sangatlah banyak.
2. Bahasa Mandarin sangatlah penting karena Bahasa Mandarin merupakan
Bahasa Internasional kedua setelah Bahasa Inggris
3. Bahasa Mandarin sangatlah penting sehingga harus diajarkan kepada anak-
anak mulai sejak kecil karena anak kecil lebih mudah menirukan pelafalan
dan sugesti yang diberikan oleh orang dewasa.

III. PEMBAHASAN
A. Mempelajari pengucapan Dalam Bahasa Mandarin
Cara pengucapan dalam bahasa Mandarin sangat penting. Cara
pengucapan adalah landasan untuk bisa menguasai bahasa Mandarin. Maka,
ingin belajar bahasa Mandarin harus memahami cara pengucapannya dulu.
Bahasa Mandarin merupakan bahasa yang tidak menggunakan abjad
latin dalam sistem penulisannya, oleh karena itu tanpa adanya sistem penulisan
latin akan sulit bagi orang asing untuk mempelajari bahasa Mandarin. Maka
pada tahun 1958 pemerintah Cina secara resmi menggunakan sistem fonetik
pinyin, yang dibuat oleh Lembaga Pembaharuan Tulisan (LPT) Republik
Rakyat Cina (中国文字改革委员会/ zhōng guó wén zì gǎi gé wěi yuán huì)
sebagai sistem penulisan latinnya. Sistem fonetik pinyin mempermudah
pemelajar asing yang hanya menguasai huruf latin. Saat ini pinyin telah
digunakan pada banyak tempat seperti pada sistem pengetikan huruf han di
komputer, telepon genggam, petunjuk jalan, bahan ajar, software komputer,
dan lain-lain.
Bentuk penulisan pinyin paling sedikit terdiri dari satu suku kata, dan
setiap suku kata terdiri dari huruf vokal (声母/shēng mǔ) dan huruf konsonan
(韵母/yùn mǔ) dan nada (声调/ shēng diào) yang diletakkan di atas huruf
vokal. Bentuk suku yin(拼音).
Apa itu Pinyin ?
kata pinyin dapat berupa huruf vokal saja seperti : a, e, ai, ei, ao, ou,
atau terdiri dari huruf konsonan dan vokal, seperti : ba, mu, na, le, ti dan dapat
juga terdiri dari huruf vokal dan konsonan, seperti : en, er.

B. Cara Melafalkan Pinyin


Pinyin memiliki vokal dan konsonan. Cara pelafalan vokal lebih kurang
sama dengan pelafalan vokal dalam bahasa Indonesia, namun untuk konsonan
memiliki perbedaan yang cukup jauh dengan bahasa Indonesia, berikut adalah
bentuk konsonan dalam Pinyin :
1. Suara bibir (bilabial) : b p m
2. Suara gigi atas dan bibir bawah (labio dental) : f
3. Suara ujung Lidah (apico dental) : d t n l
4. Suara pangkal lidah (dorso velar) : g k h
5. Suara badan lidah : j q x
6. Suara lidah ditekuk ke langit-langit mulut (apico palatal) : zh ch sh r
7. Suara lidah pada gigi depan bagian dalam (lamino dental) : z c s
C. Vokal Bahasa Mandarin
Vokal dalam pinyin memiliki banyak kesamaan dengan vokal dalam
Bahasa Indonesia. Vokal dalam pinyin juga memiliki vokal tunggal, vokal
ganda dan vokal dengung/nasal. Berikut adalah penjelasan mengenai cara
pelafalan vokal pinyin :

Vokal Cara Pelafalan


1. a dilafalkan a, seperti dalam kata “aku”
2. I dilafalkan i, seperti dalam kata “ibu”
3. u dilafalkan u, seperti dalam kata “udara”
4. e dilafalkan e, seperti dalam kata “entah”, dan dapat dilafalkan
seperti e dalam kata “enak”
5. o dilafalkan o, seperti dalam kata “orang”
6. ü disebut sebagai ü umlaut, pengucapannya terlebih dahulu
lafalkan vokal i, kemudian rubah posisi mulut menjadi vokal
u.Contoh
7. ai lafalkan vokal a terlebih dahulu, lalu posisi mulut diubah
menjadi lafal vokal i. seperti “ai” dalam kata “belai”
8. ei lafalkan vokal e terlebih dahulu, lalu posisi mulut diubah
menjadi lafal vokal i. seperti “ei” dalam kata “hei!”
9. ao lafalkan vokal a terlebih dahulu, lalu posisi mulut diubah
menjadi lafal vokal o. seperti “ao” dalam kata “row” bahasa
Inggris.
10. Ou lafalkan vokal o terlebih dahulu, lalu posisi mulut diubah
menjadi lafal vokal u. seperti “ou” dalam kata “o..ow!!”
11. Ia lafalkan vokal i terlebih dahulu, lalu posisi mulut diubah
menjadi lafal vokal a. seperti “ia” dalam kata “ya!!”
12. Ie lafalkan vokal i terlebih dahulu, lalu posisi mulut diubah
menjadi lafal vokal e dalam kata “enak”
13. Iao lafalkan vokal i terlebih dahulu, lalu posisi mulut diubah
menjadi lafal vokal ao. seperti dalam lafal “yao”
14. Ua lafalkan vokal u terlebih dahulu, lalu posisi mulut diubah
menjadi lafal vokal a. seperti dalam lafal “wa”
15. Uo lafalkan vokal u terlebih dahulu, lalu posisi mulut diubah
menjadi lafal vokal o. seperti dalam lafal “wo”
16. Uai lafalkan vokal u terlebih dahulu, lalu posisi mulut diubah
menjadi lafal vokal ai. seperti dalam lafal “wai”
17. Üe lafalkan vokal ü terlebih dahulu, lalu posisi mulut diubah
menjadi lafal vokal e dalam kata “enak”
18. An lafalkan seperti dalam kata “anjing”
19. En lafalkan seperti dalam kata “entah”
20. Ang lafalkan seperti dalam kata “angka”
21. Eng lafalkan seperti dalam kata “enggak”
22. Ong lafalkan vokal o terlebih dahulu lalu tanpa merubah posisi
mulut, lafalkan eng.
23. ian=ien lafalkan vokal i terlebih dahulu lalu tanpa merubah posisi
mulut, lafalkan vokal an yang dilafalkan seperti kata en dalam
“enak”
24. in lafalkan seperti dalam kata “internet”
25. iang lafalkan seperti dalam kata “yang”
26. ing lafalkan seperti dalam kata “inggris”
27. iong=iung lafalkan vokal i terlebih dahulu lalu tanpa merubah
posisi mulut, lafalkan vokal ong. lafalkan seperti yung dalam kata
“gayung”
28. uan lafalkan seperti dalam kata “awan”
29. uang lafalkan seperti dalam kata “uang”
30. ueng lafalkan seperti dalam lafal “weng”
31. üan lafalkan vokal ü terlebih dahulu lalu tanpa merubah posisi
mulut, lafalkan vokal an
32. ün lafalkan vokal ü terlebih dahulu lalu tanpa merubah posisi
mulut, lafalkan vokal en

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan bab sebelumnya, dapat disimpulkan sebagai berikut :
- Apabila terjadi kesalahan dalam posisi pelafalan dan cara pelafalan, maka
lafal yang dihasilkan akan kurang tepat.
- Media gambar dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar dapat
memotivasikan siswa TK Wiyata Dharma Medan dalam belajar bahasa
Mandarin. Siswa dapat menulis dan menghafal hanzi dengan media
gambar.

B. Saran
Adapun saran-saran tersebut adalah :
1. Penyediaan sarana penunjang yang memadai dalam belajar
bahasa Mandarin, seperti buku-buku pelajaran dari penerbit yang telah
diakui bukunya atau bahan bacaan untuk mendukung.
2. Para guru di TK Wiyata Dharma Medan harus sering memberi pelatihan
kepada para siswanya agar mereka dapat melafalkan bahasa mandarin
dengan tepat
3. Media yang digunakan harus bisa membuat para siswa untuk dapat
semakin meningkatan kemampuan dalam berbahasa Mandarin
V. DAFTAR PUSTAKA
Chen, Landong. 2005. Yuyan Huanjing Dui Eryu Xide de Yingxiang. Puyang
Zhiye Shengshu Xueyuan Xuebao, (1).

Brown, H. D. 2000. Principles of Language Learning and Teaching.


Michigan : Longman. Dai, Manchun, Xiao, Yunnan. 1995. Yuyan
Huanjing de Leixing yu Zuoyong. Hunan Daxue Xuebao, (2).

Dulay, H. Burt, M. dan Krashen, S. 1982. Language Two. New York :


Oxford University Press.

Krashen, S.D. 1981. Second Language Acquisition and Second Language


Learning. Oxford : Pergamon Press.

Krashen, S.D. 1982 . Principle and Practice in Second Language


Acquisition. Oxford : Pergamon Press.
Lan, Caiping. 2004. Nengli Diaocha Yanjiu. Hetian Shifan Zhuanke
Xuexiao Xuebao, (2).

Liu, Kui. 2012. Wangluo Duomeiti Huanjing Xia Daxue Yingyu Xuexi de
Yuyan

Huanjing Yanjiu. Chifeng Xueyuan Xuebao, (12).

Moleong, L.J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif. Edisi Revisi.


Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Mufarrokah, A. 2009. Strategi Belajar Mengajar. Yogyakarta : Teras.

Parke, R.D dan Hetherington, E.M. 1999. Child Psychology, A


Contemporary Viewpoint. New York : McGraw Hill Companies.

Sears, W. 2004. Anak Cerdas, Peran Orang Tua dalam Mewujudkannya.


Jakarta: Emerald Publishing.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D).
Bandung: Penerbit Alfabeta.

Sitompul, S.D.M. 2007. Gambaran Kemampuan Berbahasa Pada


Anak Pra Sekolah di Kota Medan. Medan : Program Pasca Sajarna
Universitas
Sumatera Utara.
Tarigan. Guntur, Henry. 1988. Pengajaran Pemerolehan Bahasa.
Bandung: Angkasa.

Widi, R.K. 2010. Asas Metodologi Penelitian (Sebuah Pengenalan dan


Penuntun Langkah demi Langkah Pelaksanaan Penelitian).
Yogyakarta : Graha Ilmu.

Wang, Ashu, Sun, Mingcu. 2009. Jiating Yuyan Huanjing duì Xueqian
Ertong Shuangyu Jiaoyu de Yingxiang. Xinjiang Shifan Daxue Yuyan
Xueyuan, (4).

Yang, Anhong. 2009. Yuyan Huanjing he Ertong yu ma Xuanze, Zhuanhuan


Yanjiu.Xuzhou Shifan Daxue Xuebao, (1).

Yang, Xianming. 2008. Chenmo qi Lilun de Zai Renshi. Hubei Chengren


Jiaoyu Xueyuan Xuebao, (1).

Zhang, Chongfu. 1999. Yuyan Huanjing yu Dier yuyan Huode. Shijie H


VISI (2018) 26(1) 3490-3497
MINAT BELAJAR BAHASA MANDARIN
DI ERA GLOBALISASI

Oleh :
Darmawan Wijaya, S.S., MTCSOL
Staf Pengajar STBA PIA

ABSTRACT
One foreign language that is often encountered in everyday life is
English which is an international language. Many people use English in
their daily lives to be familiar and fluent in English. But not only English is
now an international language, but Mandarin has become an international
language as well. Mandarin has already seen its role.
Not only Chinese people need this language, but also all the people.
Currently a lot of job vacancies that require the candidate of his career can
be Mandarin language. Usually used to communicate with guests from
China.
There are so many parents who provide Chinese language for S1 study in
China, with the hope that their children can continue their parent's business
and hope also to be able to speak Mandarin well in business later. But
unfortunately today many people who have not realized the importance of
Mandarin. The number of Chinese languages is still far behind the number
of English lessons. The number of tutoring places is not as much as English
lessons. In Indonesia the new government began to accept Chinese culture
in recent years.
By mastering Mandarin we can be recommended to overseas companies are
growing, because most large companies that require a career can use
mandarin language. So essentially with us mastering Mandarin we get
many benefits. In addition, the Chinese language enthusiasts in every year
continue and continue to grow.

Kata Kunci : Chinese, Work

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.
Bahasa adalah salah satu kemampuan dasar dan alamiah yang
dianugrahkan pada umat manusia. Bahasa asing sekarang banyak digunakan
di era globalisasi. Saat ini, perkembangan arus teknologi semakin cepat dan
tak terkendali dan komunikasi yang melibatkan dua Negara atau lebih sering
banyak terjadi. Untuk itu kita perlu mempelajari bahasa asing untuk

3490
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3490-3497
mempermudah komunikasi dengan orang lain, sehingga tidak perlu terpaku
pada bahasa Indonesia. Saat ini, untuk mendapatkan pekerjaan, peran bahasa
asing juga terlihat. Perusahaan - perusahaan juga sekarang ini mengandalkan
orang- orang yang dapat menguasai bahasa asing.
Pada zaman sekarang penggunaan bahasa mandarin sangat diperlukan,
zaman sekarang ini orang - orang yang bisa menggunakan bahasa mandarin
akan mendapatkan banyak lowongan pekerjaan. Bahasa mandarin sekarang
juga banyak peminatnya baik anak- anak, remaja, pemuda bahkan orang
dewasa. Bahasa mandarin di Indonesia sekarang ini sangat berkembang,
hampir semua sekolah swasta di ajarkan bahasa mandarin bahkan sekolah
yang tidak ada pelajaran bahasa mandarin, anak- anaknya mecari guru bahasa
mandarin untuk bisa belajar mandarin.

B. Rumusan Masalah
Adapun permasalahan dalam penelitian ini adalah Berapa banyak yang minat
bahasa mandarin di Indonesia, Apa manfaat dari penggunaan bahasa
mandarin di Indonesia, Pentingkah kita mempelajari bahasa mandarin,
Apakah penggunaan bahasa mandarin itu sangat bermaanfaat di dunia
pekerjaan nanti, Apakah bahasa mandarin itu bahasa yang di favoritkan.

C. Tujuan Penelitian
Tujian dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui berapa banyaknya
presentase yang minat belajar bahasa mandarin, Untuk mengetahui manfaat
penggunaan bahasa mandarin di Indonesia,Untuk mengetahui pentingnya
mempelajari bahasa mandarin di era globalisasi, Untuk mengetahui manfaat
apa saja dari penggunaan bahasa mandarin didunia pekerjaan, Untuk
mengetahui bahasa mandarin itu apakah bahasa yang di favoritkan atau tidak.

II. TINJAUAN PUSTAKA


A. Minat Bahasa Mandarin
Sejak bahasa mandarin diakui Perserikatan bangsa - bangsa (PBB)
sebagai bahasa internasional kedua setelah bahasa Inggris, minat masyarakat
terhadap bahasa ini terus meningkat.
Yang menarik, bukan hanya warga Tionghoa yang tertarik mendalaminya,
warga non- Tinghoa semakin banyak yang serius mempelajarinya. Apalagi
sejak Negara itu hampir menguasai ½ dari perekonomian dunia, bahasa
mandarin makin digemari. Banyak perusahaan yang ”menyekolahkan”
pegawainya di sekolah bahasa mandarin. Hal ini di kearenakan kondisi
lapangan pekerjaan saat ini menurut tenaga kerja yang ahli bahasa mandarin.
Tak hanya orang Tionghoa yang membutuhkan bahasa ini, tapi juga
semua masyarakat. Saat ini banyak sekali lowongan pekerjaan yang
mengharuskan calon kariawannya bisa bahasa mandarin. Biasanya digunakan
untuk berkomunikasi dengan tamu dari China.
3491
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3490-3497
Banyak sekali orang tua yang memberikan bekal bahasa mandarin untuk
study S1 di China, dengan harapan agar anaknya dapat meneruskan usaha
orang tuanya dan berharap pula agar bisa bebahasa mandarin dengan baik
dalam berbisnis nantinya.
Namun sayang saat ini masyarakat banyak yang belum menyadari
pentingnya bahasa mandarin. Jumlah les bahasa mandarin masih jauh
dibandingkan jumlah les bahasa Inggris. Jumlah tempat lespun tak sebanyak
les bahasa Inggris. Di Indonesia pemerintah baru mulai bisa menerima
kebudayaan China beberapa tahun belakangan ini.

B. Karakter Bahasa Mandarin


Tradisional Chinese merupakan hanzi yang digunakan sejak jaman, dan
versi ini hurufnya sangat kompleks dan stroke-nya sangatlah banyak.
Tradisional Chineses digunakan mayoritas pada Taiwan. Kalau Simplified
Chinese, hanzinya baru digunakan sejak sekitar tahun 1950-an. Simplified
Chinese, seperti namanya, sama - sama bahasa mandarin tetapi karakter atau
hurufnya telah disederhanakan sehingga mudah untuk diingat. Simplified
Chinese kenapa tidak digunakan di Taiwan? Kemungkinan karena Taiwan
dulunya kan merupakan bagian dari China namun melepas diri karena tidak
setuju dengan cara ajaran komunisme, nah mereka hingga sekarang masih
tidak setuju sehingga Simplified Chinese dianggap propaganda dan pengaruh
mainland - China dan tidak digunakan oleh Taiwan. Ada juga yang
mengatakan masyatakan Taiwan memiliki pride atau harga diri dalam
menggunakan Traditional Chinese, karena menjunjung tinggi tradisi menulis
sejak jaman nenek moyang mereka.
Pada jaman dulu kala, sekitar tahun 1200 sebelim masehi, karakter -
karakter teksnya belum seperti hanzi yang sekarang. Bahkan karakternya
masih merupakan ilustrasi kecil dari benda - benda hidup dan mati.
Berbeda dengan teks - teks lain pada umumnya yang melambangkan cara
pebgucapan (contohnya bahasa Inggris A= ei, B= bi, C= sii), karakter
mandarin mewakili suatu objek secara individual. Pohon= 木,bulan= 月,
hari= 日dll. Beda dengan huruf latin dan modern yang digunakan
berdasarkan pengucapannya.

C. Manfaat Belajar Bahasa Mandarin


Belajar bahasa mandarin memiliki banyak manfaat. Manfaat dari
belajar bahasa mandarin dapat di uraikan sebagai berikut ;
1. Belajar bahasa mandarin dapat meningkatkan IQ.
2. Belajar bahasa mandarin, ternyata bermanfaat bagi pengembangan otak
besar.
3. Belajar bahasa mandarin akan memperlancar komunikasi dalam
bekerja.

3492
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3490-3497
4. Belajar bahasa mandarin sebagai investasi awal berbisnis di China.
5. Belajar bahasa mandarin dapat menimbulkan kepercayaan diri dari
pejabat dan pengusaha local di China.
6. Belajar bahasa mandarin akan menimbulkan RESPECT dari penduduk
negeri di China dalam imvestasi/ bisnis.
Lissold mencatat bahwa bahasa mandarin bagi orang China di seluruh
penjuru dunia adalah pusat dari dari perasaan, sementara huruf - huruf
China adalah pusat bangsa itu. Dengan demikian China akan lebih
respect dan menaruh kepercayaan dengan seorang investor asing yang
mampu menjalani komunikasi dengan bahasa mandarin yang baik dan
kemudian akan berlanjut dengan pembicaraan - pembicaraan yang lebih
hangat sehingga jelas bahwa bahasa mandarin menjadi bagian yang tak
terpisahkan dari China.
7. Belajar bahasa mandarin sama saja kita mempelajari bahasa pengantar
di dunia.
8. Belajar bahasa mandarin bermanfaat bagi hubungan politik.
9. Belajar bahasa mandarin kita tidak ketinggalan zaman.
10. Belajar bahasa mandarin akan membuka pintu penghasilan.
11. Kesempatan diterima apabila melamar di perusahaan bertaraf
internasional lebih besar.
12. Kesempatan bekerja di luar negeri.
13. Belajar bahasa mandarin mengurangi resiko penyakit pikun.
14. Belajar bahasa mandarin dapat memperluas pengetahuan pengetahuan
mengenai kebudayan China.

III. METODE PENELITIAN

A. Rencangan Pengelitian.
Tahap Persiapan : mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan
dalam kegiatan penelitian yang dilakukan.

B. Tempat, Waktu dan Subjek Penelitian


Tempat Penelitian : Kampus STBA PIA, Jln. K.L Yos Sudarso Lr. 12
Lingkungan XI Glugur Kota Medan 20115.
Waktu Penelitian : 1. Senin 10 Oktober 2016.
Subjek Penelitian : Subjek penelitian ini adalalah 50 % Mahasiswa
STBA PIA, dan 50% Masyarakat Medan. Penelitian ini dengan
membagikan kuesioner pada 50 orang.

C. Teknik Pengumpulan Data


Pengumpulan data ini dilakukan dengan membagikan kuesioner pada 50
orang yang berada di STBA PIA, selain itu pada Masyarakat kota Medan.

3493
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3490-3497
Soal Kuesioner

1. Menurutmu apakah manfaat 2. Apakah kamu suka belajar bahasa


dari belajar bahasa mandarin?
mandarin?
3. Menurutmu apakah bahasa 4. Apakah banyak manfaat dari kita
mandarin penting? belajar bahasa mandarin?
5. Apakah kamu bisa 6. Menurutmu bagaimana
menggunakan bahasa perkembangan bahasa mandarin di
mandarin? Medan ?
7. Jika ya, Apakah kamu sering 8. Menurutmu dengan menggunakan
menggunakan bahasa bahasa mandarin dalam sehari- hari
mandarin dalam kehidupanmu kita akan lacar berbahasa mandarin?
sehari- hari?
9. Menurutmu bagaimana 10. Apa tanggapanmu bagi masyarakat
perkembangan bahasa Indonesia yang ingin belajar bahasa
mandarin di Indonesia? mandarin dan ingin belajar bahasa
mandarin

D. Teknik Analisis Data

MASYARAKAT
NO SOAL INDONESIA YANG PRESENTASE
STBA PIA
DI MEDAN
Pentingnya bahasa
1 mandarin
Penting Penting 85%

Banyak manfaat bahasa


2 mandarin
Banyak Banyak 95%

Bisa menggunakan bahasa


3 mandarin
Bisa Bisa 70%

Sering menggunakan
4 bahasa mandarin
Sering Sering 75%

Suka belajar bahasa


5 mandarin
Suka Suka 85%

Dari hasil analisa di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat bahasa mandarin
sangat di era globalisasi ini sangat banyak, dan peminat bahasa mandarin di era
globalisai ini juga sangat banyak. Baik di dalam STBA PIA dan Masyarakat
luar di Indonesia khususnya Medan.
3494
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3490-3497

IV. ANALISIS DAN PEMBAHASAN


A. Minat Bahasa Mandarin Di Era Globalisasi
Pada jaman sekarang ini, peminat bahasa mandarin sangat tinggi. Hampir
60% masyarakat di Indonesia memiliki minat belajar bahasa mandarim.
Karena meraka tahu bahwa dengan mempelajari bahasa mandarin jenjang
kariernya akan naik atau akan meningkat. Bukan hanya orang - orang
Chinese yang sekarang bisa menggunakan bahasa mandarin, dan bukan hanya
orang- orang Chinese yang memiliki minat besar dalam belajar bahasa
mandarin. Tetapi orang- orang non Chinese bisa menggunakan bahasa
mandarin dan orang - orang non Chinese memiliki minat besar dalam belajar
bahasa mandarin. Karen bukan hanya bahasa Inggris yang sudah menjadi
bahasa internasional sekarang ini tetapi bahasa mandarin juga sudah menjadi
bahasa internasional kedua yang ad di ndonesia. Bukan hanya di Indonesia di
luar Indonesia seperti Singapore, Malaysia, Vietnam dll sudah menggunakan
bahasa mandarin, bahkan bahasa utama di negeri itu sudah menggunakan
bahasa mandarin. Jadi sudah dapat di simpulkan bhwa bahasa mandarin itu
sekarang ini sudah mendunia.

B. Manfaat Penggunaan Bahasa Mandarin Di Indonesia


Penggunaan bahasa mandarin di Indonesia sangat bermanfaat. Selain
bermanfaat bagi diri sendiri juga bermanfaat bagi orang lain. Penggunaan
bahasa mandarin zaman sekarang ini sudah mulai kelihatan, karena sudah
banyak orang yang menggunakan bahasa mandarin. Di perusahaan- perusahaan
besar sekarang ingin pegawainya bisa berbahasa mandarin dengan baik dan
benar. Dengan menggunakan bahasa mandarin kemungkinan besar
perusahaanya dapat bekerja sama dengan perusahaan- perusahaan besar di luar
negeri.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Dari penelitian yang penulis lakukan terhadap judul MINAT BELAJAR
BAHASA MANDARIN DI ERA GLOBALISASI. Dapat disimpulkan bahwa
banyak orang di Indonesia sekarang ini sangat minat belajar bahasa mandarin.
Tidak hanya orang keturunan Chinese yang menyukai atau yang minat belajar
bahasa mandarin tetapi orang yang non Chinese juga memiliki minat yang
besar dalam belajar bahasa mandarin. Bahasa mandarin di ERA
GLOBALISASI sangat berkembang khususnya di Indonesia karena dengan
belajar bahasa mandarin kita mendapatkan banyak manfaatnya. Dengan
menguasai bahasa mandarin kita dapat di rekomendasikan ke perusahaan -
perusahaan luar negeri yang berkembang, karena kebanyak perusahaan besar
yang mewajibkan kariawannya bisa menggunakan bahasa mandarin. Jadi
intinya dengan kita menguasai bahasa mandarin kita mendapatkan banyak
3495
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3490-3497
manfaatnya. Selain itu juga peminat bahasa mandarin disetiap tahun terus dan
terus berkembang.

B. Saran
Diharapkan suatu saat nanti minat bahasa mandarin di Indonesia lebih
meningkat dari tahun - tahun sebelumnya. Dan di harapkan juga generasi muda
di Indonesia bisa menggunakan bahasa mandarin.

DAFTAR PUSTAKA

Bungin, H. Burhan. 2005. Metodologi Penelitian Kuantitatif.


Jakarta: Kencana Prenada Media Group

Campbell, WJ. 1962. Some Effects of Teaching Foreign Language.


New Jersey: Prentice Hall

Clark, H.H and V. Eve. 1977. Psychology and Language: An


Introduction to Psycholinguistics. New York: Harcourt Brace
Javanovich, Inc.

Cooper Dr, and Emory, C.W. 1995. Metode Penelitian Bisnis.


Jakarta: Penerbit Erlangga

Ferdinand, Roy. 2002. Analisis Pengaruh Penggunaan Menu Berbahasa


Asing Pada Beberapa Restoran Hotel di Medan. (penelitian) Medan:
Fakultas Sastra USU

Fromkin, Victoria & Robert Rodman. 1998. An Introduction to


Language. Orlando: Harcourt Brace College Publishers

Hakuta, K. (1986). Mirror of Language . New York: Basic Books

Nawawi, H. 1993. Metode Penelitian Bidang Sosial. Yogyakarta:


Gadjah Mada University

Roberts, Paul. 1958. Understanding English. New York: Harper &


Brothers.

Sianturi, Nasib. 2003. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah Terhadap


Anggaran Belanja Pembangunan Dalam Analisis Potensi
Perekonomian Daerah Kabupaten Karo Propinsi Sumatera Utara.
(penelitian) Medan: Fakultas Sastra USU

3496
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3490-3497

Spillane, J James. 1987. Ekonomi Pariwisata Sejarah dan Prospeknya.


Yogyakarta: Kanisius Press

Sugiono. 1999. Metodologi Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta


Sutrisno, Hadi. 2001. Metodologi Reset II. Yogyakarta: Fakultas
Psikologi Universitas Gadjah Mada

Wahab, Salah. 2003. Industri Pariwisata Dan Peluang Kesempatan Kerja,


PT. Pertja Jakarta..

3497
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

THE EFFECT OF USING SMALL GROUP WORK TECHNIQUE


ON STUDENTS’ READING COMPREHENSION AT THE FIRST
SEMESTER OF ENGLISH DEPARTMENT STUDENTS
Oleh
Nenni Triana Sinaga
Dosen Pendidikan Bahasa Inggris
FKIP Universitas HKBP Nommensen

Abstract
The students are difficult to understand the reading comprehension
because they do not know what techniques to understand the texts. The
technique of this research used the Small Group Work Technique to
improve the students’ capabality in reading comprehension. The purpose
of this research is to know the effect of using small group work technique
on students reading comprehension. This research was done at HKBP
Nommensen University with the population all of the students in the first
semester of English Department. The number of populations are 154
students which the samples are 39 students. The method of this research
used the experimental research. The instrument of this research was the
multiple choice tests. The research design used pre - test and post - test.
The t-test result in data analysis was proved the value of tobserved higher
than ttable (0,99> 0,125). It means the alternative hypothesis was accepted.
The result of experimental group was 50-70 with mean score was 60,26 in
pre-test and post test’ score was 75-95 with mean score was 83,42. The
control group was 45-70 with the mean score was 54,73 in pre-test and the
score of post test was 60-80 with the mean score was 70,26. The
conclusion is that the mean score of students in experimental group was
rise than control group. It means that the alternative hypothesis ( Ha) was
accepted and there is a significant effect of using small group work
technique on the students’ reading comprehension at the first semester of
English Department Students.

Keyword: Small Group Work Technique, Reading Comprehension,


English Department Students.

3498
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

1. INTRODUCTION
1.1. The Background of Study
Reading is very important to the English Learner. Lecutre should be
plan all lessons with the intention of helping the students become skill
readers. According to Moore (1999:380), reading is a complex skill that
takes years to truly master. If lectuers expect students to reach the desired
level of competence in their subject, they must address their students to
read and learn through reading.
Base on the explanation above, the lecture should have good technique
in teaching reading. There are some tehnique in teaching English which
are whole class grouping, students on their own (individuals), ringing the
changes, pair work, small group work. One of them is small group work
technique in teaching English reading comprehension. Small group work
consists of three students in the class room work together to discuss the
materials. Each group will develop and the group should have purpose and
students should be work together to achieve the goal. The goal brings the
group together. They can communicate and learn one each other about the
reading comprehension. Besides that, small group work technique has a
consisten and educationally significant effect on students reading
comprehension. A most of students think that English reading is difficult,
using small group work technique in teaching larning process can solve the
student problem in reading comprehension. Based on the explanation
above, we can get conclusion that the researcher need to do the research
with the title “The Effect of Using Small Group Work Technique on
Students’ Reading Comprehension at the first Semester of English
Department Students”.
1.2. The Problem of the Study
The researcher formulated as the problem of the study is: “is there
any significant effect of small group work technique on student’s
reading comprehension?”
1.3. The Objective of the Study
To find out the significant affects of the small group work
technique to achievement in reading comprehension.
1.4 The Scope of the Study
The researcher focuses on application using of small group work
technique on the students to comprehend the text about level of reading
comprehension.
1.5. The Significance of the Study
The aim of this study is to know about reading comprehension and
the researcher hopes this study gives advantages to any who read it.

3499
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

The first : to the researcher to increase the quality of students in


reading comprehension and to make the students more interest, to be
more active in reading comprehension especially in the small group
work technique.
Second : to the reader who are students in English Department, that the
result of the study is expected to be useful for them to develop their
English, as references in their thesis.
1.6. REVIEW OF RELATED LITERATURE
Theoritical Framework
Research is a special kind of inquiry, since not all inquiry is based
on data collection and analyisis. The research considered as a scientific
way to discover new fact to get additional information. In doing a
research, it is very important to clarify terms that related to the study in
order to have the same perspective of the implementation in the field.
The terms fuction to give a concept that is specially mean in the
particular context. In this case, the researcher is going to elaborate the
terms those are importants for the purpose of this study.
Definition of Technique
According to Brown (2001:14), technique is the specific activities
manifested in the classroom that were consistent with a method and
therefore were in harmony and therefore were in harmony with an
approach well. Techniques could include playing baroque music while
reading a passage in the foreign language, getting students to sit in the
yoga position while listening a list of words, or having learners adopt a
new name in the classroom and role play that new person.
The techniques are the behavioral manifestation of the principles in
other words, the classroom activities and procedures derived from an
application of the principles. It will presently be seen that a given
technique may well be associated with more than one method. If two
methods share certain principles, then the techniques that are the
application of these principles could well be appropriate for both
methods.
Definition of Small Group Work Technique
Accordingto Harmer (2001: 117), small group work technique is
the small number of the students consists of three to five which may
give the chance many times to students to be active in changing their
ideas and the lecture may involve in the discussion that is strickt
necessary. The lecture should consider not only before the activity is
started but also during and after it.
Advantages and Disadvantages of Small Group Work Technique

3500
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

According to Harmer ( 2001:117), mentions the advantages and


disadvantages of small group work technique: Advantages; Small
group work dramatically increases the amount of talking for individual
student, Small group works are more than two people in the group,
Small group work encourages broader skills of cooperation and
negotiation, and yet is more private than work in front of the whole
class. It promotes learner autonomy by allowing students to make their
own decisions in the group without being told what to do by the lecture,
although we do not wish any individuals in groups to be completely
passive, nevertheless students can choose their level of participation
more readily than in whole class situation. Disadvantages of Small
Group Work: It is likely to be noisy. Some lectures feel that they lose
control, and the whole class feeling which has been painstakingly built
up may dissipate when the class is split into smaller entities. Not all
students enjoy it since would prefer to be focusing the lectur’s attention
rather than working with their peers. Individuals may fall into group
roles that become fossilised, so that some are passive where as others
may dominate.
Grouping Students
Grouping students is to do a group activity with students and
then, when it is over, ask them to write or say how they felt about it
(either in English or their own language). Students show a marked
initial to working in groups, through organising a successful activity
demonstration and discussion, to strike the kind of bargain.
Concept of Reading Comprehension
Reading comprehension must have concept to teach the
students. The important parts that is needed in reading comprehension
will explain as following: According to Heilman (2005:1), preparing to
teach children reading in today schools is a big responsibility. The task
of using certain material, of covering material, of meeting individual
needs, of ensuring all children are literate, and of fostering independent
learning is certainly not one for timid souls. Reading is useful for other
purpose too any exposure to English (provided students understand it
more or less) is a good thing for language students. Reading text also
provides opportunities to study language: vocabulary, grammar,
punctuation, and the way we construct sentences, paragraphs and text
(Harmer, 1998:68).
Content Reading Strategies
According to Moore (1999:388), comprehension is the key to
reading to learn. Strategies used in promoting this comprehension of

3501
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

text can be organized around the concept that you should implement
appropriate strategies before, during, and after reading assignments.
Before Reading Strategies: Comprehension of text is
dependent on the interaction of reader with the text, it is essential that
the reader become aware of what he or she already knows about the
subject before beginning to read. During Reading Strategies: Helping
your students complete their reading assignments successfully during
reading begins with recognizing the purpose for reading. That purpose
can be set by you or by students themselves when they ask the
question” what do the lecturer to know?” students should be led to”
confirm or redefine predictions, clarify ideas, construct meaning for
each segment of information. After Reading Strategies: What you do
with students after reading is equally as important as what you do both
before and during reading, yet the activity used most frequently after
reading is simply an independent student activity or a group preview.
The independent activity typically consist of answering selected
questions at the end of the chapter, and the reviews are often strictly
lecuter centered, which tends to engender responses from students that
are less than enthusiastic.
Level of Reading
According to Moore (1999:382), reading ability often varies
greatly among middle and secondary school students. In fact, students
in a single classroom may vary by as much as eight years in the graded
reading levels. According to Betts (quoted by Moore, 1999:382),
established way of considering the variation in reading ability within
the student according to four reading levels, they are:
1. Independent level is the highest level, the student reads fluently and
with excellent comprehension.
2. Instructional level is the highest level of which students can make
progress in reading with instructional guidance.
3. Frustration level is the level at which students are unable to
pronounce many of the words and are often unable to comprehend the
material satisfactory.
4. Listening capacity is the level at which students can understand
material that is read aloud. This level is also known as the potential
level, because it represents the level at which students would have no
problem with comprehension if they could read fluently.
Reading Comprehension
According to Heilman (2005:237), comprehension is a multifaceted
process affected by a variety of factors. Reading instruction is to foster in

3502
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

each youngster the ability to understand our printed language. The


comprehension process is the realization that is an internal, mental
process that cannot be observed or studied directly. Many investigators
relate reading to thinking and argue that both reading and thinking are
inseparable in understanding our printed language. According to Heilman
(1981:246),There are three level of reading comprehension. The
following levels of comprehension. Call tells us about how far the
students understand about reading material and which level that has been
achieved. Literal comprehension: Understanding the ideas and
information explicitly stated in the passage. Interpretative
comprehension: Understanding of ideas and information not explicitly
stated in the passage. Critical comprehension: Analyzing, evaluating,
and personally reacting to information presented in a passage.
Conceptual Framework
As the theoretical frame work, reading is process of getting
meaning by combining information from a text and background
knowledge. So, meaning of the text will be important in order to get the
comprehension of the text, comprehension is the goal of reading. To get
the meaning of the text, we must combine background knowledge and
information from a text. A Student, who was good background
knowledge, must be helpful to comprehend a text. The problem is what
about the student who has less background and knowledge. lecturer
should be tried to help them, and make a student who has good
background knowledge more valuable.
Hypothesis
Hypothesis is a temporary answer to the problem till proven through
research data collected ( Arikunto, 2006:71). According to Panjaitan
(2012:101), hypothesis can be interpreted as an answer to a temporary or
suspected that the truth will be tested through analysis of data obtained.
According to Arikunto (2006:73), there are two kinds of hypothesis that
used in the research. They are:
1. Working hypothesis (Alternative hypothesis) in brief “Ha”. The
meaning of “Ha” there is relationship or effect between the
variable X and Y.
2. Null hypothesis in brief “Ho”. The meaning of “Ho” there is no
relationship or effect between the variable X and Y.
So, hypothesis of this research can be formulated as follows:
Ha : There is the effect Small group work technique on students
reading comprehension.

3503
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

Ho : There is no the effect Small group work technique on students


reading comprehension.

II. RESEARCH METHOD


2,1. Research Design
The research designed is experimental research. “Experimental
research design is the blue print of the procedures that enable the
researcher to test hypothesis by reaching valid conclusions about
relationships between independent and dependent variables” ( Best,
1981:68). According to Best (1981:68), there are two kinds of variables
which are: The independent variables are the conditions or
characteristic that the experimenter manipulates in his or her attempt to
certain their relationship to observed phenomena. The dependent
variables are the condition or characteristics that appear, disappear, or
change as the experimenter, introduces, removes, or changes independent
variables.
This research has two variables. Independent variable is small group
work tehnique and dependent variable is reading comprehension. This
research use of two groups of the student: namely experimental group
and control group. Experimental group is the group that received the
treatment by using smal group work tehnique. And the researcher gives
two kinds of test namely pre-test and post-test for different group.
Research Design
Group Pre-test Treatment Post-test

Experimental X X2

Control Y - Y2
Where: X = Pre-test of the experimental group, Y =Pre-test of
the control group, X2 =Post-test of the experimental group, Y2
=Post-test of the control group, =Teaching reading using smal
group work tehnique
- =Teaching reading using conventional method
2.2. Time and Place of The Research
This research was conduct at the first semester of English
department students. The time of the research is on December 2017-
January 2018.

2.3. Population and Sample

3504
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

The researcher has explain about the population and sample, to


get more the explanation we can read in bellow: Population According
to Arikunto (2006:130), population is all subject of research. The
population of the research is all the first semester of English department
students. The population consists of 130 students which are three classes
of group A : 55 students, group B: 48 students and group C: 50 students.
Sample is partially or representative of the population research
(Arikunto, 2006:131). This research uses a random sampling system.
According to Panjaitan (2006:134) random sampling is a sample that
selected randomly where every member of the population has an equal
chance to become the research sample.
According to Arikunto (2006:134), sample is chosen from all of
the population, if the subject less than 100, it is better to take all be
sample in this research, then if the subject more than 100, it can take 10%
- 15%, or 20% - 25%, or more is sample in this research. Based on the
statement above, the total of students are more than 100 students. There
for, the researcher choose 20%-25% from all group. So the total of the
sample are 38 students. The experimental group 19 students and the
control group 19 students too.
2.4. The Instrument for Collecting Data
The instrument for collecting data in this study is reading
comprehension test. In collecting data, pre-test and post-test were
conducted to both the experimental and control group. The tests were
Taken from the text give by the researcher. The multipe choice test
consisted of 20 items, each correct answer score 1 so the highest score is
20. And each incorrect answer is give 0 score.

2.5. The Procedure of Research


The procedure use in the research is a Test. Test is used to
measure the skills, intelligence knowledge, ability or talent possessed by
individual or group (Arikunto, 2006:150). Test use in this research is pre-
test and post-test.
Pre-test
Pre-test is a test or training before given a material to students. The
purpose of the pre-test is to determine early in students ability to answer
question and to know the different of the score between experimental
group and control group.
Treatment

3505
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

Treatment is use to experimental group and control group.


Experimental group, the researcher taught by using small group work
tehnique.

Treatment for Experimental Group


NO Teacher Activities Student Activities

1 Greet the students The students greet the lecturer

2 Check the students Listen to the lecturer


attendence.

3 Gave pre- test The students answer the


question of the text

4 The lecturer ask the students The students make the group
to make group are diveded
into 4 groups (level reading The students then are divided
and grouping students), The a team consists of four
lecturer make a number of students
teams divided into four
The students listen carefully to
students each group consist of
explanation
four student. The lecturer
introduced and socialized the
topic of the lesson

5 The lecturer read the text and The students repeat the
ask the students to repeat it, lecturer reading, The students
Then the lecturer explains the listen the lecturer expanation,
first step is what dealing with After the lecturer explains it,
the author view point based the students give the argument
on the text what the author is saying in
the text.

6 Gave the direction related to Students listen to the lecturer


the post test, Gave post test.
Students answer the post test

3506
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

Treatment for Control Group


No TEACHER ACTIVITIES STUDENT ACTIVITIES
1 Greet the students The students great the lecturer

2 Check the students Iisten to the lecturer


attendence
3 Gave pre test The students answer the
questions of the text

4 The lecturer give the Students listen carefully and


students the reading text try to understand the lecturer
introduced and socialized explanation. The students read
the topic, The lecturer asked the text and find the difficult
them read and found the word carefully.
difficult words. The lecturer
asked then one by one.

5 The lecturer then disscused The students try to translate


the story with the students, the text carrefully, The
asked them to translated the students practice their
text order they know what pronounciation based on the
the text about, The lecturer lecturer’s instruction, The
translate the text, give students listen the lecturer
example of the correct explain and answer the
pronounciation, The exercise base on the text
lecturer explained what the
story is about and then
asked them to do exercise,to
answer the questions base
on the text

3507
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

6 Gave direction related to Listen the lecturer


the post- test
7 Gve post- test

Post-test
Post-test will performed after the treatment will give to students. The
researcher gives the score to experimental group and control group.
Scoring of the Test
In scoring the test, the researcher gave the score in pre-test and post-
test to experimental group and control group. The researcher will use
score from 0 – 100 to experimental group and control group. Criteria of
scoring test as the following:
= × 牢㔴
Where: S = Score of the test, R = Number of correct answer, N =
Number of item
Criteria of Scoring Test
SCORE LETTER CATEGORIZE

80 – 100 A VERY GOOD


66 – 79 B GOOD
56 – 65 C GOOD ENOUGH
46 - 55 D BAD
Less than 45 E VERY BAD

Validity and Reliability of the Test


Validity and reliability show how qualities of the test. According to
Best (1981:197), there are two parts before to analysis data as following:
Validity
There are three types of validity. They are content validity,
construct validity, criterion-related validity.
1. Content validity is based upon careful examination of course
textbooks, sylable, objectives and the judgments of subject matter
specialists.

3508
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

2. Construct validity is the degree to which score can be accounted for


by the explanatory constructs of a sound theory.
3. Criterion-related validity is a broad term refers to different criteria
of time frame in judging the usefulness of a test.
Releability: A test is reliable to the extent that it measure consistently,
from one time to another. In tests that have a high coefficient of
reliability, errors of measurement have been deducted to a minimum.
Data Analysis
In this data analysis, experimental group and control group
compared by applying the test to know the effect of small group work
technique on reading comprehension. According to Arikunto (2006:311),
the formula of the ttest as the following:
楹=
[ ]

Where: Mx = the mean of experimental group, My = the mean of


control group, ∑ 2
= the standard deviation of experimental grou, ∑ 2
= the standard deviation of control group, = the total of samples of
experimental group
= the total of samples of control group
III. DATA ANALYSIS AND FINDINGS
3.1. Data
This study consists of the data obtained was put in the tables and
was conducted by organizing the quantitative data, represents four kinds
of data analysis and finding, they are: The result of the Pre - Test and
Post - Test of the Control and Experimantal Group. The following are the
scores of the students of the pre–test and post–test groups . The scores
are displayed in the table:
The Score of the Pre–Test and post–Test of the Control Group
No Students’ Name Score pre-test Score post- test

1 Aprianti Simanullang 60 70

2 Endang Suryani 55 75

3 Ester Stevani Nadeak 50 80

4 Sindy Agita Br Ginting 50 75

5 Cindi Pramita Br. Barus 50 60

3509
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

6 Mesy Megawati 50 70

7 Leminer Pardosi 60 75

8 Marlina Sianturi 45 60

9 Rut Apriana 50 60

10 Sely Margaret Sitohang 60 75

11 Elpri Agustina Sitompul 65 80

12 Kristin Simaremare 60 60

13 Betti Esliana 65 80

14 Megawati Junisia 45 60

15 Debby Christin Gulo 55 60

16 Sofhia Ranti Siregar 70 80

17 Astri Malau 60 70

18 Natty Julyanti 55 75
Pandiangan

19 Ulfa Sinaga 50 80

Total 1.005 1.345

Mean 52,8 70.78

From table 4.1, it can be seen that in the control group, the
highest score of the pre–test was 70 and lowest 45, while the highest
score of the post-test was 80 and the lowest was 60. Based on this criteria
scoring of the test, it was obvious that: There was 2 students got
score 45 in pre-test, it was categorized “Very bad”. There was 5 students
got score 50 in pre-test, it was categorized “Bad”. There was 6 students
got score 55, there was 5 students got score 60, there was 1 student got
score 65 in pre-test, it was categorized “Good enough”. There was 1
student got score 70 in pre -test, it was categorized “Good”. There was 6
students got score 60 in post-test, it was categorized “good enough”.

3510
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

There was 3 students got score 70, there was 5 students got score 75 in
post-test, it was categorized “good”. there was 5 students got score 80 in
post-test, it was categorized “ very good”

The score of the Pre–Test and Post–Test of the Experimental Group


No Students’ Name Score pre–test Score post–test

1 Dona Novelia Sinaga 60 75

2 Eviana Girsang 50 80

3 Finta Romauli Pakpahan 70 90

4 Romian Julisda 60 85

5 Windya Roni Simamora 60 90

6 Lili Fanny Saragih 65 95

7 Gracia Eunike 60 85

8 Fanny Siagian 65 80

9 Octavia Sitompul 60 80

10 Pesta Novita Nababan 50 75

11 Romauli Sormin 50 75

12 Winda Br Harahap 60 85

13 Hot Uli Malau 60 90

14 Berliana Oktavia 70 85

15 Seprima Marpaung 70 90

16 Rosanna Marpaung 55 80

3511
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

17 Maria Magdalena 60 75

18 Rosi Krisdayanti 50 80

19 Winda Yuliana Matondang 70 90

Total 1.205 1.410

Mean 63.42 74.21

From table 4.2, it can be seen that in the experimental group, the highest
score of the pre–test was 70 and lowest 50, while the highest score of the
post-test was 95 and the lowest was 75.
Based on the criteria scoring of the test, it was obvious that: There
was 3 students got score 50, there was 1 students got score 55 in pre-test,
there was categorized “Bad”. There was 7 students got score 60, there
was 2 students got score 65 in pre-test, there was categorized “good
enough”. There was 3 students got score 70 in pre-test, it was
categorized “good”.
There was 4 students got score 75 in post-test, it was categorized
“good”. There was 5 students got score 80, there was 4 students got score
85, there was 5 students got score 90, There was 1 students got score 95
in post-test; there was categorized “very good”.

Data Analysis
The following there are three kinds of data analysis in this
research. There are the reability of the test, analysis the data by using T-
Test formula, and testing.
The Reability of the Test
The reability of the test the researcher used the Arikunto (2010)
by r11 formula. The data of reability test as the following:

The Calculation Score of Try Out Class for Reability


No Name of Students Score (x) Score (x2)

1 Dona Novelia Sinaga 16 256

2 Eviana Girsang 16 256

3 Finta Romauli Pakpahan 14 196

4 Romian Julisda 19 361

3512
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

5 Windya Roni Simamora 16 256

6 Lili Fanny Saragih 15 225

7 Gracia Eunike 14 196

8 Fanny Siagian 13 169

9 Octavia Sitompul 14 196

10 Pesta Novita Nababan 19 361

11 Romauli Sormin 19 361

12 Winda Br harahap 16 256

13 Hot Uli Malau 14 196

14 Berliana Oktavia 11 121

15 Seprima Marpaung 12 144

16 Rosanna Marpaung 15 225

17 Maria Magdalena 16 256

18 Rosi Krisdayanti 16 256

19 Winda Yuliana 14 195

Total 289 4483

Mean 15,21
Based on the table 4.3 above before calculating the reability of the
test the researcher search of mean and varians formula of the try out first.
The calculation of the mean and varians formula is started as follows:
The Mean Score of Try Out Class

∑ "#$
= = = 15,21
! %$

Varians Formula

3513
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

+ , + 12, 15.7
* " ../0 33#4 33#4 3.4$8
) = ,V = 2
,V= 2
,V=
, V=
! %$ %$ %$
##

%$

V = 4.63

Based on the data above after the value of mean and variant
formula calculated, the researcher wants to calculate the reability of the
test by used Arikunto (2010) r11 formula. The value of reability of the
test can be seen in the following:

K = 20 M = 15,21 Vt = 4.63
; M+k − M,
r11 = : = +1 − ,
;−1 ;. @A
20 15,21+20 − 15,21,
r11 = : = +1 − ,
20 − 1 20+4.63,

20 15,21+4,79, 20 72.85
r11 = : = H1 − J , r11 = : = +1 − ,
19 92.6 19 92.6

r11 = 1,05+1 − 0,786,, r11 = 1,05 +0,214,, r11 = 0,2247


From the data, it is obtained that reability of the test was 0,2247.
According to Arikunto (2003:75) the reability of a test is considered as
the following:
0,800 – 1,00 reability is very high
0,600 – 0,800 reability is high
0,400 – 0,600 reability is sufficient
0,200 – 0,400 reability is low
0,00 – 0,200 reability is very low
So, it means that the reability of the test in this research was 0, 2247.
It means that the reability of test is low.

Analyzing the Data by Using T – Test Formula

3514
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

From the result of the tests, as shown before, a calculation is


made to find out whetever the small group work technique has significant
effect on students reading comprehension. The formula is :

mx − my
A=
O " + O " 1 1
+ [ + ]
+ −2

The Calculation of T – Test Control Group


No Pre–test (Y1) Post–test ( Y2) Deviation ( d ) Squared deviation
( d 2)

1 60 70 10 100

2 55 75 20 400

3 50 80 30 900

4 50 75 25 625

5 50 60 10 100

6 50 70 20 400

7 60 75 15 225

8 45 60 15 225

9 50 60 10 100

10 60 75 15 225

11 65 80 15 225

12 60 60 0 0

13 65 80 15 225

14 45 60 15 225

15 55 60 5 25

3515
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

16 55 70 15 225

17 60 70 10 100

18 55 75 20 400

19 50 80 30 900

Total 1040 1335 295 5625

Mean 54,73 70.26

Frist the researcher calculate the mean and deviation of control


group before calculate the test. The mean of the control group as
following:
* "$8
My = !Q, My = %$ My =15.52
*
The deviation of the control group is ∑ 2 = ∑ 2 - +! )2, =
5.625 -
"$8 #R.S"8
+ %$ )2 , = 5.625 - + %$ ), = 5.625 – 4.580, = 1.045
From the calculation result, it is obtained that the mean of control
group is 15.52 and the deviation 1.045. Then the researcher calculate the
mean and deviation of Experimental group, the data calculation can be
seen in the following table:

The Calculation of T - Test Experimental Group


No Pre – test Post – test ( X2) Deviation ( d ) Squared deviation
(X1) ( d2)

1 60 75 15 225

2 50 80 30 900

3 70 90 20 400

4 60 85 25 625

5 60 90 30 900

6 65 95 15 225

7 60 85 25 625

3516
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

8 65 80 15 225

9 60 80 20 400

10 50 75 25 625

11 50 75 25 625

12 60 85 25 625

13 60 90 30 900

14 70 85 15 225

15 70 90 20 400

16 55 80 25 625

17 60 75 15 300

18 50 80 30 900

19 70 90 20 400

Total 1.145 1.585 425 10.150

Mean 60.26 83,42 22.36 644

First the researcher calculate the mean and deviation of


experimental group before calculate the – test. The mean of the control
group as following:
* 3"8
Mx = ! Mx =
%$
Mx=22,36
The deviation of the experimental group is
* 3"8 %#S.T"8 ,
∑ 2 = ∑ 2 - + )2, = 10.150 - + )2, = 10.150 - + ) = 10.150–
! %$ %$
,
9.506 = 644
From the calculation result, it is obtained that the mean of
experimental group is 22,36 and the deviation 644.
From the both group calculation result above, it is obtained that

A=
[ ]

3517
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

"".4T %8.8"
A= VWW XW7
U Y [ ]
2 2 2 2
T.#3
A= V12
U Y
5V 2
T.#3 T.#3 T.#3
A= A= A= A = 0.99
√3T.$% S,%S8 √3R.ST T,##

3.2. Testing Hypothesis


The basis of testing the hypothesis is Ha is accepted if the tobserved
> ttable
In this research, the calculation of the value by using t-test for
degree of freedom (df) 36 at level significant 0,125 where the tcritical value
is 0.99. The result of computing the t-test shown that the tobserved is higher
than ttable or we can see as follows: Tobserved > ttable (0,125) with df 36,
0,99 > 0,125) with df 36
After that, there is conclusion that the alternative hypothesis (Ha)
is accepted. It means that, there is significant effect of using small group
work technique on students reading comprehension of students at English
Depatment.

3.3. The Research Findings


Based on the result of the t-test in data analysis above, the
hypothesis is proved the value of tobserved is higher than ttable (0,99> 0,125)
and degree of freedom (df) = Nx + Ny – 2 = 36. It means that the
alternative hypothesis was accepted. Based on the result of data analysis
that score of pre-test in experimental group 50 until 70 to reach of mean
score 60.26 and score post test in experimental group 75 until 95 to reach
of mean score 83,42 and score of pre test in control group 45 until 70 to
reach of mean score 54,73 and score of post test in control group 60 until
80 to reach of mean score 70.26. After that can be see the conclusion of
mean score of the students in experimental group was rise than control
group.

3518
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

IV. CONCLUSION AND SUGGESTION


4.1. Conclusion
Result of the t-test in data analysis above, the hypothesis is proved
the value of tobserved is higher than ttable (0,99> 0,125) and degree of freedom
(df) = Nx + Ny – 2 = 36. It means that the alternative hypothesis was accepted.
Based on the result of data analysis that score of pre-test in experimental
group 50 until 70 to reach of mean score 60,26 and score post test in
experimental group 75 until 95 to reach of mean score 83,42 and score of pre
test in control group 45 until 70 to reach of mean score 54,73 and score of
post test in control group 60 until 80 to reach of mean score 70,26. After that
can be see the conclusion of mean score of the students in experimental group
was rise than control group. Based on the explanations above, it means that
the alternative hypothesis ( Ha) accepted. It means that there is a significant
effect of using small group work technique on the students’ reading
comprehension in at the first semester of English Department Students.
4.2. Suggestion
In relation to the conclusion above, suggestions are staged as the
following:
1. It is better that the english lecturer should be use small group work
technique in teaching reading comprehension as the alternative in
teaching method.
2. It is suggested to the the lecturers to enrich teaching process,
especially using small group work technique as it can give significant
effect on students’ reading comprehension.
3. Both lecturer and students should be ready cooperate small group
work technique so that they can increasing the teaching learning
process.

REFERENCES
Arikunto, S. 2003. Dasar Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi
Aksara.
________ , S. 2006.Prosedure Penelitian. Jakarta:Rineka Cipta
________ , S. 2010. Prosedure penelitian. Jakarta: rineka cipta
Best, J.W. (1981). Research in Education (4th ed.). United States of
Amarica: Prentice-Hall.

Brown, H.D. (2001). Teaching by Principles: An Iteractive Approach to

3519
ISSN 0853 - 0203
VISI (2018) 26(1) 3498-3520

Language Pedagogy(2nd ed.). Addison Wasley: Longman.

Grabe and Stoller. (2002). Purpose for Reading.


th
www.purposeofreading.htm 13 April 2013 at 19:45 pm

Harmer, J. (1998). How to Teach English: An Introduction to the


Practice of English Language Teaching. Addison Wesley:
Longman.

Harmer, J. ( 2001). The Practices of English Language Teaching ( 3th


ed.).
Malaysia: Longman.

Heilman, A.W. (1981). Practices Teaching Reading (5th ed.). United


States of America: Abell and Howell Company.

Moore,K.D. (1994). Middle and Secondary School Instructional Methods


(2nd ed.). East Central University Singapure: Mc Graw- Hill.

Nunan, D. (1999). Second Language Teaching & Learning. University of


Hongkong : Heinle and Heinle Publisher.

Panjaitan, B and Panjaitan,K. ( 2012). Operasional Prosedur Penelitian.


Medan: Poda.

3520
ISSN 0853 - 0203