Anda di halaman 1dari 6

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM KOROSI

SEL GALVANIS KOROSI

1. Andika Soeharmat (03)


2. Indah Sukmawati (12)
3. Yasinta Octaliya Rosly (22)
4. Hartanti Zulia Hidayah (11)
5. May Andy Dwi Wantoro (13)
6. Nadia Rahayu Lestari (16)

2B/DIII TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI MALANG

2018
SEL GALVANIS KOROSI

 Tujuan Percobaan :
Memahami adanya proses reaksi redoks didalam sistem elektrokimia yang tersusun atas
dua jenis logam berbeda.
 Dasar Teori:
Redoks ( reduksi-oksidasi). Reduksi adalah penerimaan elektron atau penurunan
bilangan oksidasi, sedangkan oksidasi adalah pelepasan elektron atau peningkatan
bilangan oksidasi
Contoh : reaksi reduksi
Cu2+(aq) + 2e ® Cu (s) Ag+(aq) + e ® Ag(s)
Contoh : reaksi oksidasi
Zn(s) ® Zn2+(aq)+ 2e Al(s) ® Al3+(aq) + 3e
Transfer elektron pada reaksi redoks dalam larutan berlangsung melalui kontak
langsung antara partikel-partikel berupa atom , molekul atau ion yang saling serah terima
elektron. Pembahasan transfer elektron melalui sirkuit luar sebagai gejala listrik, dan reaksi
redoks yang seperti ini akan dipelajari pada elektrokimia.
Sel elektrokimia merupakan suatu sel atau tempat terjadinya aliran elektron yang
disebabkan oleh perubahan energi kimia menjadi energi listrik atau sebaliknya. Sel ini
dikelompokkan menjadi dua macam yaitu :
1. Sel Volta
2. Sel Elektrolisis
Sel Volta melibatkan perubahan energi kimia menjadi energi listrik sedangkan sel
elektrolisis melibatkan perubahan energi listrik menjadi energi kimia. Sel Volta (sel
galvani) memanfaatkan reaksi spontan (∆G < 0) untuk membangkitkan energi listrik,
selisih energi reaktan (tinggi) dengan produk (rendah) diubah menjadi energi listrik.
Rangkaian sel elektrokimia pertama kali dipelajari oleh Luigi Galvani (1780) dan
Alessandro Volta (1800). Sehingga disebut sel Galvani atau sel Volta. Keduanya
menemukan adanya pembentukan energi dari reaksi kimia tersebut. Energi yang
dihasilkan dari reaksi kimia sel Volta berupa energi listrik
Sel Elektrolisis adalah sel yang menggunakan arus listrik untuk menghasilkan reaksi
redoks yang diinginkan dan digunakan secara luas di dalam masyarakat kita. Baterai aki
yang dapat diisi ulang merupakan salah satu contoh aplikasi sel elektrolisis dalam
kehidupan sehari-hari (lihat Elektrokimia I : Penyetaraan Reaksi Redoks dan Sel Volta).
Baterai aki yang sedang diisi kembali (recharge) mengubah energi listrik yang diberikan
menjadi produk berupa bahan kimia yang diinginkan. Air, H2O, dapat diuraikan dengan
menggunakan listrik dalam sel elektrolisis. Proses ini akan mengurai air menjadi unsur-
unsur pembentuknya. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
2 H2O(l) ——> 2 H2(g) + O2(g)
Rangkaian sel elektrolisis hampir menyerupai sel volta. Yang membedakan sel
elektrolisisdari sel volta adalah, pada sel elektrolisis, komponen voltmeter diganti
dengan sumber arus (umumnya baterai). Larutan atau lelehan yang ingin dielektrolisis,
ditempatkan dalam suatu wadah. Selanjutnya, elektroda dicelupkan ke dalam larutan
maupun lelehan elektrolit yang ingin dielektrolisis. Elektroda yang digunakan umumnya
merupakan elektroda inert, seperti Grafit (C), Platina (Pt), dan Emas (Au). Elektroda
berperan sebagai tempat berlangsungnya reaksi. Reaksireduksi berlangsung di katoda,
sedangkan reaksi oksidasi berlangsung di anoda. Kutub negatif sumber arus mengarah
pada katoda (sebab memerlukan elektron) dan kutub positif sumber arus tentunya
mengarah pada anoda. Akibatnya, katoda bermuatan negatif dan menarik kation-
kation yang akan tereduksi menjadi endapan logam. Sebaliknya,anoda bermuatan positif
dan menarik anion-anion yang akan teroksidasi menjadi gas.

 Alat dan Bahan Percobaan :

Alat Bahan
Gelas kimia 250 ml Air
Kabel penjepit buaya NaCl
pH meter Indikator PP
Logam seng dan tembaga
Pipa U
Selotip
 Prosedur Percobaan

Menyiapkan larutan garam dapur NaCl kira-kira 0,5 gram dalam 100 ml air

Menambahkan beberapa tetes indikator pp dalam larutan tersebut

Memasukkan larutan tersebut ke dalam sebuah pipa U kira-kira 1 cm dari


ujung pipa

Memasang/ menempelkan pipa U tersebut dengan menggunakan selotip di


papan tulis putih

Memasukkan batang seng di salah satu ujung pipa U dan batang tembaga di
ujung lain, keduanya dihubungkan dengan kabel berpenjepit buaya

Mengamati dan mencatat waktu yang diperlukan untuk mulai timbul warna
merah di permukaan dari salah satu elektroda

 Data Pengamatan
Tabel 1. Keterangan Perubahan Warna Larutan Garam
Waktu Warna Panjang warna (cm)
(menit) Cu Zn Cu Zn
1 Merah muda bening 2 -
2 Merah muda bening 5 -
3 Merah muda bening 7 -
5 Merah muda bening 8 -
7 Merah muda Merah muda 9 0,5
 Pembahasan
Percobaan kali ini mengenai sel korosi atau sel volta menggunakan dua logam yaitu
seng (Zn) dan Tembaga (Cu) yang masing-masing dicelupkan kedalam pipa U yang
berisi larutan garam (NaCl), keduanya dihubungkan dengan kabel penjepit buaya.
Percobaan ini termasuk pengamatan reaksi sel elektrolisis. Sel elektrolisis merupakan
sel elektrokimia yang merubah energy listrik menjadi energy kimia. Pada sel
elektrolisis, reaksi mulai terjadi pada katode, yaitu tempat arus masuk (pada sel volta
reaksi terjadi pada anode yaitu tempat arus keluar). Pada elektrolisis katode merupakan
kutub negatif dan anoda kutub negatif. Pada katode akan terjadi reaksi reduksi dan
anode terjadi reaksi oksidasi.
Larutan NaCl diplih karena sifatnya yang elektrolit dan netral, sedangkan logam
seng dan tembaga digunakan karena keduanya ialah elektroda aktif sehingga mudah
bereaksi. Pada percobaan ini yang dielektrolisis ialah larutan garam, NaCl terdiri atas
kation Na+ dan Cl-, Na merupakan kation dari golongan 1A sehingga tidak mengalami
reduksi, oleh sebab itu dalam percobaan ini katoda yang mengalami reduksi adalah air
(H2O).
Persamaan reaksinya yaitu :
2H2O + 2e H2 + OH-
Berdasarkan pengamatan terjadi perubahan warna dari bening menjadi merah
muda saat ditambahkan indikator pp pada logam tembaga, warna ini berasal dari
OH- yang menunjukkan kondisi basa hasil dari reduksi H2O, indikator merah muda
menunjukkan sifat fenolftalein yang berubah warna dalam keadaan basa dengan pH
lebih dari 8,3 semakin basa maka warna yang ditimbulkan akan semakin merah
Anoda yang digunakan merupakan logam tidak inert yaitu Zn sehingga yang
teroksidasi logam anoda itu sendiri,
persamaan reaksinya yaitu :
Zn(S) Zn2+ + 2e
Pada logam Zn tidak mengalami perubahan warna di menit awal, namun berubah
warna merah muda dengan tinggi 0,5 cm. Percobaan pada anode ini tidak sesuai
dengan teori karena berdasarkan reaksi yang terjadi tidak terdapat zat yang
menyebabkan perubahan warna, fenolftalein tidak akan berwarna (bening) dalam
keadaan zat yang asam atau netral.
Reaksi yang terjadi

Larutan NaCl Na+ + Cl –


Katode (-) 2H2O + 2e - H2 + 2OH -
Anode (+) Zn2+ 2Zn + 2e -
Reaksi : 2 H2O + Zn2+ 2Zn + H2 + 2OH –

 Kesimpulan
Pada elektrolisis katode merupakan kutub negatif dan anoda kutub negatif. Pada
katode akan terjadi reaksi reduksi dan anode terjadi reaksi oksidasi. Pada katode yang
mengalami reduksi ialah air (H2O) serta terjadi perubahan warna dari bening ke merah
muda karena adanya ion OH -, sedangkan pada anode yang mengalami oksidasi ialah
logam seng (Zn).

 Daftar Pustaka
Pepsega Alex, 2013. “Laporan Sel Volta Korosi”. Teknik Kimia Politeknik Negeri
Malang.
Fatma Ayu Nandyanda. 2016. “Laporan Redoks dan Elektrokimia”. SMAN 2
Tangerang
Anonyim, 2018. Fenolftalein. Diakses pada tanggal 25 Oktober 2018 dari
www.wikipedia.com