Anda di halaman 1dari 6

Kelompok II:

Firna Muflihani
M Agus Syam
Muhammad Ichsan

Teori Ketundukan
Amelia Indah Kusdewanti, Iwan Triyuwono, Ali Djamhuri
***

Pendahuluan
Buku ini diajukan oleh penulis sebagai anti-tesis dari Teori Agensi / Agency Theory
(AT). AT menjadi basis penelitian-penelitian telah menjadi konsep yang dominan dalam
akuntansi dan diadopsi oleh teori akuntansi positif ini (Gaffikin, 2007; Hunt III & Hogler,
1990). Tidak mengherankan kemudian nilai-nilai yang terkandung dalam AT turut masuk
dalam akuntansi (Chua, 1986; Tinker et al., 1982) dan cabang-cabangnya yaitu auditing (Hope
et al. 2012; Mihret, 2014), good corporate governance (Roberts 2005; Archer et al., 1998),
etika (Noreen, 1988; Archer et al., 1998), dan bahkan dalam akuntansi Islam (Hijazi et al.,
2010).
Penulis menggambarkan nilai-nilai AT ini telah membelenggu sisi human sejati atau
ruh atau jiwa individu melalui penjara-penjara yang kemudian dikategorikan sebagai penjara
kesadaran, penjara (keter)hubungan, dan penjara ilmiah:
Penjara kesadaran
AT meletakkan prinsip “aku adalah makhluk ekonomi yang rasional”. Terdapat dua
pemaknaan atas pernyataan tentang “aku” tersebut. Pertama “aku” dalam konteks AT memiliki
sifat self-interest (Arnold & de Lange, 2004; Chwastiak, 1999). Sifat ini dimiliki baik oleh
prinsipal maupun agen. Kedua, manusia ekonomi yang rasional memahami bahwa “aku” akan
selalu mengarah kepada rindakan rasional demi sebuah kepuasan material semata.
Jensen & Mecking (1976: 318) pun juga mendefinisikan “hubungan keagenan sebagai sebuah
kontrak dimana satu atau lebih orang (pemberi kuasa) melibatkan orang lain (agen) untuk melakukan
suatu jasa/pelayanan atas nama mereka melalui pendelegasian beberapa kewenangan pengambilan
keputusan kepada agen”. Pernyataan ini menyiratkan adanya satu kepentingan saja, yakni kepentingan
prinsipal.
Masalah kemudian timbul atas hubungan ini, yaitu asimetri informasi dan akibatnya, moral
hazard. Asimetri informasi terjadi saat manajer memiliki informasi yang lebih dari yang dimiliki pihak
investor (prinsipal). Manajer diasumsikan tidak akan mengungkap informasi tersebut jika tidak ada
insentif (Gaffikin, 2007).
Dalam literatur-literatur yang ada disebutkan, untuk mengatasi masalah keageagenan ini adalah
memahami perilaku agen itu sendiri. Jensen & Meckling (1994) menggambarkan bahwa seorang man
(agen) akan selalu melakukan apapun untuk memenuhi kepuasan dirinya sendiri,“..tidak ada yang
namanya “kebutuhan” manusia. Yang ada hanya keinginan, nafsu manusia, atau dalam bahasa ekonomi,
permintaan (demand).” Dalam hal ini diasumsikan bahwa kebutuhan manusia itu sangat besar dan bisa
jadi tidak terbatas dalam hal materi. Asumsi inilah yang mendasari hubungan keagenan dari pihak-pihak
yang kesemuanya memiliki sifat self-interest karena keinginan masing-masing yang tak terbatas.
Asumsi yang melandari AT ini membuat kesadaran jiwa menjadi terabaikan dan terlelap.
Banyak hikmah dari kearifan lokal dan petuah-petuah religius yang mengajarkan kita tujuan akhir
manusia yang sejati, pelajaran yang mengajarkan kita untuk menyadari bahwa hidup tidak hanya di
dunia (materi) saja, tapi juga untuk persiapan menghadapi Tuhan. Kesadaran ini dapat dicapai
sepenuhnya ketika manusia menyadari terlebih dahulu siapa dirinya seutuhnya, yang pada akhirnya
menuntun dirinya menghadirkan rasa yang mendalam (perasaan untuk kembali ke Tuhan).
Kesadaran materi pada AT yang semakin dalam dan semakin dianggap suatu kebenaran oleh
penganutnya ini. Kesadaran ini menghilangkan sifat murni jiwa yang lainnya. Dalam bahasa Al-Qur’an
faktor yang menghilangkan atau menghalangi ini diistilahkan sebagai “al khannas” (lihat QS An-Nas
114: 1-6), dimana manusia diperintahkan untuk memohon lindungan dari kejahatan bisikan al-khannas
ini. Dalam konteks ini, penulis memandang bahwa akuntansi perlu disucikan jiwanya dan penjara
kesadaran yang diciptakan oleh AT perlu untuk dihilangkan. Jika al-khannas merupakan jiwa itu sendiri
(dalam hal ini adalah AT), maka al-khannas harus dihilangkan untuk membentuk ulang akuntansi yang
berdasarkan ketuhanan.
Penjara (keter)hubungan
Penjara (keter)hubungan yang dimaksud adalah pemisahan hubungan manusia yang muncul
dalam AT. Keterpisahan ini muncul pada hubungan antara sesama manusia (prinsipal dan agen), antara
manusia dengan dirinya sendiri, antara manusia dengan makhluk lainnya (alam), dan antara manusia
dengan Tuhan.
Pemisahan hubungan antar sesama manusia ini terlihat dalam pernyataan Jensen & Meckling
(1976), bahwa perilaku agen tergantung pada kontrak. Satu-satunya penghubung antara prinsipal dan
agen hanyalah kontrak yang di dalamnya memuat insentif sebagai subtitusi ekspektasi prinsipal
terhadap perilaku agen (pencapaian titik ekuibilirium). Hal ini mengindikasikan bahwa agen terpisah
dari hubungan interaksi dengan yang lain.
Pada konteks keterpisahan hubungan dengan dirinya sendiri, hal ini merupakan satu bentuk
kelemahan dari asumsi AT yang tidak mampu melihat siapa dirinya sesungguhnya. Hal ini lagi-lagi
dibuktikan dari pandangan manusia yang self-interest, serta setiap perilakunya yang hanya didorong
oleh motivasi uang semata. Asumsi ini menyiratkan bahwasanya manusia adalah makhluk yang
material, padahal manusia terdiri dari tubuh, jiwa, dan ruh.
Ketidaktahuan akan diri manusia itu menjadikan perilaku dianggap terpisah dari dimensi
lainnya. Ketidakmampuan AT dalam menangkap tentang keutuhan jiwa akan membuat dirinya terpisah
dari dimensi alam, dan lebih jauh akan terpisah dari Tuhan.
Penjara ilmiah
Jenis penjara ini bisa dikataikan sebagai konsekuensi dari kedua penjara sebelumnya yang
berkaitan dengan dimensi ontologi manusia di dalam AT. Dengan pandangan bahwa pada hakekatnya
manusia adalah manusia ekonomi yang rasional (homo economicus), maka pemecahan-pemecahan
masalah untuk menghadapi tipe manusia ini adalah dengan solusi-solusi yang sifatnya empiris dan
matematis. Solusi-solusi ini misalnya dilakukan oleh Fama (1980); Jensen & Meckling (1976); dan
Ross (1973) atas permasalahan yang muncul dalam AT. Ini merupakan epistemologi hasil adaptasi dari
abad pencerahan yang menyatakan bahwa ilmu pengetahuan harus dibebasan dari apapun yang bersifat
tidak rasional. Rasional dalam hal ini adalah apapun yang dapat diterima oleh rasio dan indera. Agama
dan Tuhan adalah hal yang sangat tradisional dan harus dihindari dalam ilmu pengetahuan modern (Al
Attas, 2001), karena menurut pandangan ini keduanya tidak rasional dan empiris.
Berkembangnya sebuah teori tidak lepas dari perkembangan lingkup budaya yang ada. Budaya
dari Barat yang bersifat kolonialisme melahirkan pula konsep akuntansi yang bersifat demikian
(Baydoun dan Willet, 1994). Lebih jauh disebutkan bahwa akuntansi tidak terbebas dari nilai-nilai yang
mengikutinya jauh di atas teknik maupun praktek yang ada. Oleh karena itu, secara sederhana terungkap
bahwa AT sebenarnya memiliki permasalahan baik ontologi, epistemologi, maupun metodologinya.
Dari segi nilai pun AT memiliki kelemahan karena hilangnya dimensi etika dan moral yang menjadi
pegangan dalam pembentukannya.
Jalan pembebasan
Untuk membebaskan jiwa dari penjara-penjara yang disebutkan di atas, perlu suatu prinsip yang
utuh dan tidak terpisah-pisah untuk melihat dalam sudut pandang yang lebih luas. Satu-satunya jalan
untuk melakukan pembebasan ini, menurut penulis, adalah kembali pada prinsip Tauhid, yakni unity.
Tauhid memandang realitas sebagai satu kesatuan. Al Faruqi (1998:11) menyatakan “Al Tawhid is a
general view of reality, of truth, of the world, of space and time, of human history and destiny”. Tauhid
adalah prinsip tentang awal dan akhir.
Gunungan wayang diambil oleh penulis sebagai analogi jalan pembebasan. Keselarasannya
dengan prinsip Tauhid akan membawa manusia pada jalan fitrahnya. Nasr (1989) menyebutkan bahwa
dalam sebuah kesenian muncul sacred science yang dengan seluruh prinsipnya terkandung kebenaran
atas hukum Tuhan dan kosmos (seluruh ciptaan Tuhan, artinya selain Tuhan itu sendiri). Tahapan-
tahapan dalam gunungan wayang merupakan bentuk refleksi atas perjalanan manusia menuju Tuhan.
Dalam perjalanan mencapai tujuan sejati, gunungan wayang secara implisit memberikan
gambaran untuk mencapai kehidupan setelah mati (Purwoko, 2012). Arti mati disini bukan secara
ragawi, melainkan secara batiniah. Kondisi sebelum mati secara batin tetap dikatakan hidup, akan tetapi
kehidupan yang “mati”, kosong, fana. AT mengalami sebuah hidup tanpa tujuan sejati, maka dikatakan
sedang berada dalam kefanaan atau kehampaan yang mendalam.
Konsep penyucian dalam kematian ini berbeda dengan konsep takziyah yang dilakukan oleh
Mulawarman (2011). Takziyah dalam Mulawarman (2011) lebih menekankan pada pertumbuhan dan
perkembangan jiwa yang terus menerus sehingga menuju ketakwaan. Sedangkan penyucian dalam
tulisan Teori Ketundukan ini lebih menekankan pada kematian jiwa dan pembangunan jiwa yang sama
sekali baru. Tidak ada keterkaitan antara jiwa lama dan jiwa baru yang nantinya muncul dalam
akuntansi.
Filosofi gunungan wayang dalam konstruksi konsep (teori)
Buku ini menggunakan pendekatan filosofis, dengan gunungan wayang sebagai filsafatnya.
Filsafat ini memiliki perbedaan mendasar dengan filsafat Barat yang dijadikan pijakan dalam konstruksi
ilmu, terutama dalam hal ini adalah akuntansi. Secara esensi berfilsafat a la Barat dan Timur amat
berbeda, Timur yang dimaksud disini adalah Jawa. Hal ini dikarenakan pengejawantahan filsafat Jawa
termaktub dalam wayang dan seperti yang telah disebutkan, seni tradisional mengandung pengetahuan
mengenai esensi.
Wayang sebagai pengejawantahan filsafat Jawa, sangkan paraning dhumadi. Purwadi (2007)
menjelaskan filsafat wayang berbicara tentang eksistensi hidup manusia yang pertama-tama
diasumsikan sebagai kenyataan hidup. Dari kenyataan itu muncul pernyataan yang mendasar, dari mana
dan kemana akhirnya, dan akhirnya muncul konsep sangkan paraning dhumadi atau ajaran tentang
tempat asal dan kembali manusia. Gunungan wayang menempati posisi yang sangat penting dalam
sebuah pertunjukan wayang. Tidak ada pertunjukan wayang tidak pernah ada awal dan akhir tanpa
adanya gunungan wayang.

ALAM
AKHIRAT

MUSTIKA

ALAM ALAM
FANA KEMATIAN

Gambar: Gunungan Wayang & Segitiga Tahapan Kehidupan


Dalam gambar di atas simbol mustika merupakan inti serta puncak dari tujuan hidup,
yaitu mencapai kesempurnaan. Pencapaian kesempurnaan ini adalah sebagai bentuk kesadaran
akan tujuan,, tentang asal muasal dari mana dan kemana, serta kembali kepada Tuhan sebagai
tujuan utama. Dapat terlihat juga unsur utama dalam gunungan wayang, yakni tiga sudut yang
sangat penting. Tiga sudut tersebut adalah alam fana, alam kubur, serta alam akhirat. Alam
fana merupakan tempat manusia hidup dalam dunia ini, alam kubur adalah alam setelah
kematian, dan alam akhirat yang merupakan alam abadi yang akan didiami manusia setelah
alam kematiannya, atau alam abadi.
Dengan tiga sudut tersebut sebagai gambarannya, peneliti membuat sebuah jalan
sebagai jalan konstruksi konsep baru penggani AT, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya
bahwa jalan penyucian yang digunakan adalah kematian (batiniah) untuk menuju kehidupan
yang sesungguhnya. Jalan penyucian ini dikonstruksi berdasarkan filosofi Jawa untuk
melahirkan akuntansi yang berlandaskan konsep yang holistik dan transendental, melalui tahap
berikut:
1. Fase pertama, fana;
2. Fase kedua, menapak jalan kematian, mematikan diri, ketiadaan yang sebenar-benarnya ada;
3. Jalan baru, jiwa akuntansi dalam cinta dan keindahan.
Fase pertama, fana
Dalam tahapan ini terdapat refleksi keadaan akuntansi saat ini. Realitas yang coba
ditampilkan melalui angka-angka dan deskripsi dalam suatu laporan akuntansi pada dasarnya
adalah realitas semu (fana), sebab tidak menggambarkan realitas yang sesungguhnya.
Sebagian besar fase pertama ini sebenarnya sudah dijelaskan pada awal tulisan ini,
mengenai bagaimana nilai self interest yang terkandung AT kemudian turut teradopsi dalam
akuntansi positif, hingga individu-individu yang terlibat di dalamnya, oleh penulis, dianggap
terpenjara jiwanya.
Fase kedua, menapak jalan kematian hingga ketiadaan yang sebenar-benarnya ada
Fase kedua bermakna bahwa dalam proses ini tidak ada hidup, artinya mengalami
kematian. Kematian yang dimaksud adalah disini adalah kematian batin dari jiwa. Proses ini
dinamakan mati di dalam hidup. Fase ini oleh penulis dipecah ke dalam tiga tahap lagi. Yang
pertama adalah “menapak jalan kematian”, yaitu jalan yang digunakan untuk mematikan
jiwa akuntansi dengan tujuan pencapaian tahapan akhir pada jagad atas. Untuk menapaki jalan
kematian ini diperlukan pemahaman atas kesadaran yang muncul dalam hubungannya sebagai
manusia dengan manusia, alam (kosmos), dan Tuhan.
Tahapan berikutnya adalah “mematikan diri”, dimana dalam tahapan ini tidak ada
kehidupan di dalamnya, karena batin memasuki alam kematian untuk mengetahui kembali
tujuan hidupnya di dunia ini yakni bertemu dengan Tuhan. Untuk mencapai keadaan “mati”
seperti yang telah disebutkan sebelumnya, maka cara yang harus dilakukan oleh akuntansi
adalah mematikan dirinya dengan metode “bunuh diri”. Metode ini merupakan metode
penyerahan diri total, menghilangkan segala yang bersifat egois. Jiwa akuntansi yang bersifat
materialisme harus dimatikan, memunculkan kembali Tuhan serta mengungkapkan kembali
tujuan-tujuan yang hendak dicapai. Jika selama ini AT sebagai jiwa akuntansi bertujuan untuk
mengikat serta mewujudkan kepuasan diri, maka setelah proses kematian, jiwa yang baru akan
muncul dengan tujuan yang baru pula. Konsekuensi atas kehadiran jiwa yang baru dalam
akuntansi ini adalah penyiapan “raga” akuntansi yang baru.
Tahap terakhir dalam fase ini adalah “ketiadaan yang sebenar-benarnya ada”.
Makna “ada” disini berbeda dengan “ada” yang sebelumnya dialami oleh AT, akan tetapi
merupakan kehidupan dari jiwa yang telah melalui proses “kematian”. Pada tataran ini posisi
akuntansi pun sudah tidak lagi bersifat antroposentris, akan tetapi yang dimiliki akuntansi
adalah kesadaran kosmis akan posisinya dalam tiga alam, yakni alam bawah atau alam raga
(akuntansi tidak lagi menjadi sebuah tirani yang membuat ketidakseimbangan hubungan antara
sesama manusia dan kepada alam menjadi terganggu), alam tengah (sebagai pembebas batin
melalui konstruksi asumsi yang bernilai lebih tinggi dari sekedar alam materi, melainkan
menempatkan akuntansi pada tataran spiritualitas yang lebih tinggi melalui kalbu), dan alam
atas (proses menghadirkan Tuhan dalam akuntansi)
Jalan baru, jiwa akuntansi dalam cinta dan keindahan
Pada akhirnya perjalanan menuju Sang Akhir akan melalui dilalui pula melalui cinta
dan keindahan. Cinta yang bukan bersifat kedirian/keakuan/keegoisan, bukan yang bersifat
materi, namun melampaui dimensi tersebut. Cinta seperti ini akan membawa pada sebuah
keindahan. Keindahan yang dimaksu adalah keindahan ketundukan, yang akan membawa pada
satu konsekuensi logis yakni rahmatan lil alamin. Inilah sebuah keindahan yang bersifat
membebaskan diri dari keterikatan intelektual yang menutupi realitas tertinggi. Teori
ketundukan lahir dari cinta dan keindahan yang transendental tersebut.
Asumsi teori ketundukan
Teori ketundukan merupakan bentuk antitesis AT. Asumsi yang digunakan dalam
pembangunan teori ini adalah asumsi ketundukan. Asumsi ketundukan yang pertama adalah
unity atau Tauhid. Segala sesuatu yang ada di alam ini adalah berasal dari yang satu. Kesatuan
realitas merupakan satu konsep yang harus dibawa dalam ketundukan ini dan menjadi konsep
yang sangat penting dan tidak bisa dipisah-pisahkan. Ketundukan baik antara manusia dengan
Tuhan, dengan dirinya sendiri atau batinnya, serta dengan kosmos. Berangkat dari satu
keyakinan yang satu, yakni keyakinan akan adanya Tuhan sang penguasa alam.
Prinsip-prinsip teori ketundukan
Secara singkat tabel berikut dapat menunjukkan prinsip-prinsip yang ada dalam teori
ketundukan
TAUHID
Tauhid Rububiyah Tauhid Mulkiyyah Tauhid Uluhiyah
 Satu-satunya Tuan dan  Tauhid Mulkiyah berarti  Allah SWT sebagai
sekaligus Tuhan hanyalah satu, bahwa penguasa alam ini tujuan akhir
Allah SWT. Prinsip pelayanan adalah Allah SWT. Dalam  Tujuan dalam
yang utama adalah pelayanan kerajaannya yang luas ini, hakekat penciptaan
pada Allah SWT seluruh makhluk memiliki adalah “dari tiada,
 Master atau tuan lain selain status yang sama, kecuali menjadi ada,
Tuhan haruslah hilang tingkat keimanannya kembali tiada
 Hierarki organisasional tetap  Implikasi tauhid ini pada teori (Chodjim, 2015).
ada, namun dalam kerangka ketundukan adalah Teori ketundukan
amanah, bukan keagenan (AT). menggeser posisi manusia dalam kerangka ini
Amanah pada pemimpin yang semula dalam AT memiliki tujuan
sebagai pemberi amanah sebagai raja yang menguasai ketakwaan, yakni
sebagai wujud amanah pada makhluk lain untuk pada jalan lurus
Tuhan kepentingan dirinya sendiri, menuju ketiadaan.
 Menuju kesejahteraan yag mengembalikan posisi  Dengan demikian
egaliter (organisasi, manusia pada fitrahnya, yakni muncuk pula tujuan
masyarakat, serta lingkungan), dalam jaring keseimbangan pembebeasan, yaitu
bukan kesejahteraan  Segala pengambilan membebaskan dari
“ego”organisasi keputusan selain dalam segala tujuan selain
 Mewujudkan ketakwaan dalam rangka amanah, pelayanan Dia, membebaskan
ketundukan, rasa saling terhadap Allah SWT, serta dari tujuan-tujuan
menyayangi pada sesama melingkupi kebaikan seluruh eksploitatif, guna
makhluk makhluk membentuk
 Menggeser posisi prinsipal  Menolak hubungan tirani keharmonisan
dalam organisasi, sebagai (dominasi dan eksploitatif) kosmos yang
pemberi amanah, sekaligus yang muncul pada hierarki egaliter kepada-
pemegang amanah, sebagai organisasional Nya.
pemimpin sekaligus sebagai
hamba
Perbandingan Agency Theory dan Teori Ketundukan
Perbandingan Agency Theory Teori Ketundukan
1. Relationship Hubungan kontraktual Hubungan holistik
2. Basis Ketidakpercayaan Amanah dan penyatuan

3. Implikasi Kesejahteraan sepihak Kesejahteraan bersama


Dysfunctional behaiour Keadilan distributif
Agency problem, agency costs Mutual agreement
4. Prinsip Self interest Berbasis Tauhid Rububbiyah,
Uluhiyyah, dan Mulkiyah
5. Orientasi Kapitalistik Nilai-nilai Islam
6. Realitas Ekonomi Kemenyatuan