Anda di halaman 1dari 5

Muhammad Ichsan (186020300111033)

Akuntansi Multiparadigma

MEMAHAMI FRAUD DALAM DIMENSI SEKULARISTIK DAN NILAI ISLAMI

Fraud dan agency theory


Fraud, kata ini sudah menjadi umum yang tidak hanya dalam istilah finansial saja,
melainkan sudah merambah kepada hampir semua dimensi kehidupan. Dalam buku-buku teks
akuntansi, istilah fraud identik dengan kecurangan. Ditarik lebih jauh lagi, fraud merupakan
bentuk dari sebuah kesalahan, bentuk kesalahan yang lainnya lagi adalah error (kekeliruan).
Meskipun dari segi dampaknya sama, yakni karakter reliability (keandalan) atas informasi
yang diberikan dalam suatu laporan keuangan akhirnya berkurang atau bahkan tereliminasi,
namun kedua jenis kesalahan ini memiliki perbedaan yang sangat tipis sekaligus fundamental
yakni unsur kesengajaan. Pada satu sisi, error adalah kesalahan yang timbul karena
ketidaksengajaan, sementara fraud di sisi lain memang oleh pelakunya sengaja untuk
dilakukan.
Berbicara fraud dalam koridor praktik akuntansi – sebagaimana didefinisikan oleh
Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) sebagai salah saji dalam pelaporan keuangan secara sengaja
atau tidak semestinya – sebenarnya memiliki hulu yang terletak pada perilaku moral yang
menyimpang. Berbagai teori, konsep, dan argumen telah mencoba menjawab persoalan ini.
Salah satu yang disebut paling relevan adalah Agency Theory (AT), yang kemudian turut
dikaitkan dengan Fraud Triangle (FT) yang awalnya dirintis oleh Donald Cressey, seorang
sosiolog asal AS. Dari FT ini kemudian bermunculan teori-teori turunan serta
pengembangannya seperti fraud diamond, fraud square, fraud pentagon, hingga akronim
MICE (money, ideology, coercion, ego/entitlement) dalam rangka mencoba menjelaskan
tentang fraud (Free, 2015).
Ragam eksplorasi ide-ide di atas kenyataannya tidak memberikan jawaban dan solusi
yang dapat memuaskan semua pihak. Paling tidak ada missing-link yang sepertinya enggan
dimasukkan ke dalam rumusan teori-teori tersebut di atas. Bahkan FT sebagai cornerstone
referensi di bidang fraud dan forensik dianggap Morales et. al (2014) hanyalah translasi yang
sengaja didesain untuk melegitimasi intervensi profesional dari berbagai komunitas seperti
ACFE (Association of Certified Fraud Examiner). Lebih lanjut Morales et. al (2014)
menjelaskan bahwa akibat perspektif FT ini akhirnya organisasi diwajibkan mengawasi ketiga

1
kaki dari segitiga FT (tekanan/motif, peluang, dan rasionalisasi/justifikasi) melalui sebuah
pengendalian internal yang rigor. Sehingga fraud ditetapkan sebagai masalah yang melibatkan
individu dan organisasi, namun tidak merepresentasikan sebagai masalah sosial, politik, atau
sejarah.
Menilik kembali kepada AT, sebagai teori yang in line dengan FT, tentunya sangat
esensial melihat asumsi dasar yang melandasi teori tersebut. Dalam hubungan agensi pada teori
ini terdapat masalah laten agensi yang oleh karenanya menimbulkan biaya agensi. Masalah
agensi (agency problem) disebutkan akan selalu ada karena motivasi “self-interest” yang
terdapat pada masing-masing pihak dalam hubungan (prinsipal dan agen) merupakan sifat
alami manusia (nature of man). Dalam salah satu postulat REMM (Resourceful, Evaluative,
Maximizing Model) – salah satu model keperilakuan sebagai pembentuk sifat alami manusia –
yang menyatakan bahwa keinginan tiap individu tidak terbatas, tersirat egoisme yang menuntut
untuk dapat selalu terpuaskan. Pemuasan self-interest ini termanifestasi melalui insentif yakni
bonus (bagi agen) dan laba (bagi prinsipal). Dalam perjalanan keterpuasan self-interest inilah
agency problem (cost) ini muncul, termasuk fraud di dalamnya.
Mengikuti nalar yang dibangun AT, terlihat ada logical fallacy di dalamnya terutama
pada konsekuensi self-interest yang harus dipuaskan. Jika keinginan (self-interest) itu sendiri
adalah tidak terbatas, maka bentuk apapun insentifnya sewajarnya tidak akan dapat memuaskan
keinginan/ego/self-interest itu. Menggunakan analogi lain, jika suatu penyakit memang diakui
tidak tersembuhkan, maka resep (materi) apapun yang diberikan tidak akan mampu
menyembuhkan. Solusi yang ada pun hanya bersifat temporer. Sehingga pencarian solusi atas
masalah agensi menggunakan rumus AT akan selalu berada dalam pusaran, self-interest –
pemuasan – insentif, tak berbatas dan tanpa henti. Dan ini mungkin dapat menjelaskan
mengapa fraud selalu muncul dengan kecanggihan dan kecerdikannya yang semakin menjadi-
jadi.
Maka jelaslah apa yang dituliskan Jensen dan Meckling (1994) dalam kalimat tepat di
akhir artikelnya “REMMs are everywhere”. Terima kasih Tuan Jensen dan Tuan Meckling,
berkat Anda berdua sekarang kita semua mafhum, “Frauds are everywhere!”.

Frauds are everywhere!


Kecurangan (fraud) terjadi juga selain di lingkungan bisnis. Yang paling
mengkhawatirkan dan di depan mata adalah bentuk fraud yang sudah menjadi endemik di
sektor pemerintahan, yaitu korupsi. Yang menyedihkan sebenarnya adalah pengungkapan
wakil ketua lembaga antikorupsi nasional bahwa 80% kasus korupsi pejabat pemerintahan

2
melibatkan pengusaha (Antara News online, April 2018). Pejabat pemerintahan dan pengusaha
ini, walau mungkin tidak seluruhnya, didominasi oleh lulusan perguruan tinggi. Gejala ini
sebenarnya telah tersirat pada fenomena academic fraud yang terdapat di lingkungan perguruan
tinggi.
Perguruan tinggi seharusnya adalah salah satu tempat mencetak tenaga profesional
yang tidak hanya berotak, tetapi juga bermoral. Namun, yang terjadi di lapangan justru masih
sering ditemukan praktik-praktik kecurangan, yang kemudian disebut dengan academic fraud
(Fitriana & Baridwan, 2012). Penelitian yang dilakukan oleh Brown & Chang (2003)
menyebutkan bahwa hampir 90% mahasiswa melakukan cheating dalam ujian mereka.
Kemudian pada penelitian lain, yang dilakukan oleh Maslen (2003) dilaporkan bahwa 80% dari
mahasiswa di Australia mengaku melakukan kecurangan akademis (Fitriana & Baridwan,
2012). Fitriana & Baridwan sendiri melakukan penelitian atas perilaku kecurangan akademik
mahasiswa akuntansi melalui dimensi FT. Hasilnya yang ditunjukkan memang terdapat
pengaruh dimensi-dimensi tersebut terhadap kecurangan akademis. Mengenai apakah
mahasiswa yang menjadi sampel penelitian juga pernah melakukan kecurangan akademis
sehingga pertanyaan penelitian tadi terjawab secara unanimous, berikut hubungannya dengan
statistik korupsi yang disebutkan sebelumnya, rasanya patut kita refleksikan dalam diri masing-
masing.

Sekulerisme penanganan fraud dan tawaran nilai Islami


Teori-teori konvensional yang ada, seperti AT dan FT, mencoba menjelaskan perilaku
menyimpang serta solusi atas masalah tersebut. Sayangnya kedua teori ini menganggap melihat
egoisme atau self-interest sebagai sifat alamiah manusia yang menjadi penyebab masalah.
Sementara itu dalam Islam melihat manusia secara fitrahnya adalah suci. Memang, dalam
perjalanan hidupnya, manusia banyak dihadapkan pada pilihan-pilihan moral dimana bisikan-
bisikan untuk mengambil yang buruk turut menyertainya. Pada kondisi itu manusia
diperintahkan untuk menjauhi pilihan yang buruk, bahkan dinyatakan bahwa itulah musuh
yang nyata (lihat QS. Al-Baqarah: 208) 1.
Fraud, terutama korupsi ditengarai oleh Setiawan (2016) sebagai dampak pusaran
modernisasi yang sekuleristik yang menjadikan agama seakan-akan “terpisahkan” (untuk tidak
mengatakan “terlupakan) dari kehidupan modern hari ini. Bahkan Kementrian Agama yang
seharusnya menjadi tempat berkumpulnya orang yang paham agama, ternyata praktik-praktik
kecurangan berlangsung sedemikian rupa. Ini dapat dibuktikan pada rilisan ICW (Indonesia

3
Corruption Watch) tahun 2012 yang mendudukkan Kementrian tersebut pada ranking teratas
institusi terkorup. Bahkan pengadaan Al-Qur’an pun menjadi objek korupsi di institusi ini.
Sekulerisasi ini yang menjadikan fraud semakin mewabah. Motivasi, peluang, dan
rasionalisasi dalam deskripsi FT dan konsep-konsep turunannya dianggap telah mencakup
semua aspek yang mendasari kecurangan ini terjadi, serta menawarkan solusi yang dianggap
tepat untuk mengurangi atau menghilangkan fraud itu yakni melalui insentif dan pengendalian
internal yang kuat. Tidak disadari secara tidak langsung teori-teori yang ada turut memelihara
fraud itu terjadi, jika asumsinya adalah motivasi berbasis self-interest yang tidak pernah
terpuaskan. Padahal jika direnungi lebih dalam, seorang individu dapat menutup atau menjauhi
fraud opportunity (salah satu kaki fraud triangle) jika ia menyadari ada Tuhan yang mengawasi
segala tindak tanduknya, seperti yang diwahyukan dalam QS. Az-Zalzalah 7-82.
Perbedaan pendekatan nilai Islami dan sekularistik dalam memahami fraud ini terlihat
secara nyata. Perbedaan ini dapat kita amati pada ucapan seorang pemimpin di masa sekarang
dengan pemimpin era sahabat Rasulullah SAW. Jika pemimpin sekarang, tatkala
memenangkan suatu pemilihan, ucapan pertama kali yang terlontar adalah alhamdulilllah,
dengan bayangan gelimangan harta materi di benaknya kelak. Sedangkan pemimpin di era
sahabat mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi raji’uun ketika diangkat menjadi pimpinan
umat, karena menyadari betapa beratnya amanah yang nanti akan dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya nilai Islam yang dijalani secara kaffah (menyeluruh) baik oleh ulil amri
(pemerintah, aparatur negara), ulil amwal (saudagar, pengusaha), dan ulil anfus (tokoh
masyarakat) serta masyarakat dalam kehidupan sehari-hari akan menumbuhkan integritas
terkuat pada diri manusia yang dapat membentengi dari segala bentuk fraud.
__________________________________________________________________________

Catatan:

1. “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh.
Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithan. Sesungguhnya syaithan itu
musuh yang nyata bagi kamu.” (QS. Al-Baqarah: 208)
2. “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarrah niscaya dia akan melihat
(balasannya). Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun
niscaya dia akan melihat (balasannya) pula” (QS. Az-Zalzalah 7-8).

4
Daftar referensi:

________. Antara Kantor Berita Indonesia (online). Diakses tanggal 11 Oktober 2018.
<https://www.antaranews.com/berita/704798/kpk-80-persen-kasus-korupsi-melibatkan-
pengusaha>.
Fitriana, Annisa dan Baridwan, Zaki (2012). Perilaku kecurangan akademik mahasiswa
akuntansi: dimensi fraud triangle. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 3, Nomor 2,
Agustus 2016, Hlm. 242-254
Free, Clinton. 2015. “Looking through the fraud triangle: a review and call for new
directions”. Meditari Accountancy Research, Vol. 23 Issue: 2, pp.175-196

Morales, J., Gendron, Y. and Guénin-Paracini, H. (2014), “The construction of the risky
individual and vigilant organization: a genealogy of the fraud triangle”, Accounting,
Organizations and Society, Vol. 39 No. 3, pp. 170-194.

Setiawan, AR (2016). Al-halalu bayn wal haroomu bayn: tafsir agama(wan) atas multitafsir
“sisi gelap” pengelolaan keuangan daerah. Jurnal Akuntansi Multiparadigma, Volume 7,
Nomor 1, April 2016, Hlm. 17-35