Anda di halaman 1dari 34

STUDI KASUS MENGENAI KECERDASAN EMOSIONAL DAN

TIPE KEPRIBADIAN PADA BIDAN PRAKTIK MANDIRI


Eka Rasyid Deatri
Fakultas Psikologi, Unika Atma Jaya
eka.rasyiddeatri@yahoo.com

Abstrak
Bidan merupakan salah satu profesi yang bergerak di bidang pelayanan
masyarakat khususnya bidang kesehatan. Minat serta permintaan akan jasa
seorang bidan terus meningkat setiap tahunnya, khususnya di Indonesia. Profesi
bidan sendiri merupakan profesi dengan tuntutan pekerjaan yang sangat berat,
meliputi kesejahteraan dan keselamatan pasien. Selain itu, bidan juga dituntut
untuk menjalankan perannya sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga. Kedua
peran tersebut harus dijalani dengan baik. Oleh karena itu, bidan harus mampu
menjaga kondisi fisik maupun psikologis, jika tidak maka dapat menimbulkan
stres, kelelahan kerja, gangguan fisik maupun psikologis, atau bahkan dapat
membahayakan keselamatan pasien.
Tuntutan karakteristik dan kemampuan yang diharapkan dimiliki oleh
seorang bidan dalam konsep ilmu Psikologi tercakup dalam kecerdasan
emosional. Pentingnya seluruh kemampuan tersebut di atas dimiliki oleh seorang
bidan terlihat lebih sesuai dijelaskan dengan konsep Bar-On yang melihat
kecerdasan emosional sebagai suatu sinergi antara lima skala besar yaitu
kemampuan intrapersonal, interpersonal, adaptability, stress management dan
general mood. Selain itu, tipe kepribadian juga dirasa memiliki peranan penting
dalam profesi bidan selain kecerdasan emosional.
Tujuan penelitian ini yaitu ingin melihat gambaran kecerdasan emosional
dan tipe kepribadian bidan praktik mandiri. Penelitian dilakukan dengan
pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus dengan tiga partisipan. Penelitian
ini menggunakan alat ukur kecerdasan emosional Bar-On Emotional Quotient
Inventory (EQ-i) yang berjumlah 133 item untuk mengukur lima aspek kecerdasan
emosional dan alat ukur kepribadian yaitu NEO PI-R serta panduan wawancara.
49
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan emosional memegang
peranan penting dalam profesi ketiga partisipan. Ketiga partisipan memiliki
pemahaman yang baik mengenai konsep kecerdasan emosional, namun ketiganya
tidak mengaplikasikannya dengan baik dalam pekerjaannya ataupun dalam
kehidupan sehari-hari. Ketiga partisipan lebih menunjukkan gambaran tipe
kepribadiannya.
Kata Kunci: kecerdasan emosional, bidan praktik mandiri, kepribadian

Abstract
A midwife is one who is engaged in the profession of public services,
especially health. Interest and demand for the services of a midwife continues to
increase every year, especially in Indonesia. Midwifery profession itself is a
profession with a very heavy job demands, including the welfare and safety of
patients. In addition, midwives are also required to perform its role as a wife and
homemaker. Both of these roles must be lived well. Therefore, a midwife should be
able to maintain her physical and psychological condition, otherwise it can
caused stress, fatigue, physical or psychological disorders, or can even jeopardize
a patient safety. The demand characteristics and capabilities expected of a
midwife in Psychology concepts is integrated in the emotional intelligence
concept. The importance of all the capabilities which should be owned by a
midwife looks more in line with the concept described by Bar-On who explained
emotional intelligence as a synergy between the five large-scale, namely the
ability of intrapersonal, interpersonal, adaptability, stress management and
general mood. In addition, the type of personality is also considered to have an
important role in the profession of midwifery in addition to emotional intelligence.
The purpose of this research is to examine the emotional intelligence and
personality type of midwives who practice independently.
The study was conducted with a qualitative approach by the case study
method with 3 participants. This study uses the Bar-On Emotional Quotient
Inventory (EQ-i) measurement tool, which contains 133 items to measure five
aspects of emotional intelligence and the NEO PI-R personality measurement
50
tool as well as an interview guide. The results show that emotional intelligence
plays an important role in all three participants profession. All three participants
have a good understanding of the concept of emotional intelligence, but all three
do not apply well in their work or in everyday life, they intended to show their
personality type which is contrast to their understanding of the emotional
intelligence concept.
Keywords: emotional intelligence, midwife, personality

Berdasarkan hasil Survey Indonesia, bidan sebagai tenaga


Demografi dan Kesehatan (SDKI), medis memiliki tanggung jawab dan
tahun 2012 Angka Kematian Ibu cakupan yang cukup luas, meliputi
(AKI) mencapai 359 per 100.000 kesehatan ibu (reproduksi,
kelahiran hidup dan Angka Kematian kehamilan, dan persalinan) dan anak.
Bayi (AKB) mencapai 52 per Selain tanggung jawab tersebut,
100.000 kelahiran hidup. Angka- bidan juga harus menjalankan
angka tersebut dikatakan cukup program–program pemerintah, serta
tinggi dan bahkan tertinggi di diwajibkan membuka praktik di
ASEAN (Sufa, 2013 dalam “Menkes wilayah yang tidak memiliki dokter.
Kaget”). Dengan begitu, maka Berdasarkan definisi tersebut, maka
kualitas pelayanan kesehatan dapat dilihat bahwa bidan merupakan
khususnya dalam masa kehamilan salah satu profesi yang bergerak di
dan proses persalinan harus bidang pelayanan masyarakat
ditingkatkan. Salah satu peran yang khususnya bidang kesehatan.
sangat penting dalam memberikan Tanggung jawab akan hidup pasien
pelayanan masa kehamilan dan merupakan faktor penentu
proses persalinan adalah bidan. keberhasilan seorang bidan yang
Kompetensi sebagai bidan inilah bekerja dalam bidang pelayanan
yang diharapkan dapat ikut berperan masyarakat (Cherniss, dalam
dalam menurunkan AKI dan AKB. Ritonga, 2006).
Menurut Permenkes Nomor Menurut hasil survey rutin
1464/Menkes/Per/X/2010, di BKKBN, jumlah bidan praktik
51
mandiri (swasta) pada tahun 2006 mampu dan dituntut untuk turut
yaitu sebanyak 954 orang, terjadi merasakan proses dan pengalaman
peningkatan sebanyak 22,3% dari yang menegangkan dalam setiap
tahun 2003. Peningkatan tersebut proses yang berkaitan dengan
menunjukkan bahwa kebutuhan kehamilan dan proses persalinan.
masyarakat akan keberadaan bidan Dengan demikian, selain
pun kian meningkat. Guna menelaah bertanggung jawab terhadap
lebih jauh mengenai bidan, peneliti kesehatan dan keselamatan
melakukan wawancara terhadap pasiennya, seorang bidan dituntut
seorang bidan (Bidan N, 40 tahun) untuk dapat berempati dan
yang telah memiliki pengalaman memahami pasiennya dengan baik,
kurang lebih 20 tahun melakukan dan seringkali bahkan harus
praktik sebagai bidan. Dari hasil mengabaikan perasaannya sendiri.
wawancara dengan Bidan N Seperti telah disebutkan sebelumnya
didapatkan bahwa bidan masih bidan harus menjalankan program –
menjadi tujuan pertama ketika pasien program pemerintah dan memiliki
mengalami keadaan darurat, tanggung jawab sosial terhadap
khususnya di pemukiman dengan kesehatan ibu dan anak di
tingkat sosial ekonomi menengah ke lingkungan dan masyarakat di
bawah. Hal ini dikarenakan sekitarnya. Di luar tuntutan
hubungan yang lebih dekat dan pekerjaan, tidak jarang seorang bidan
hangat dibandingkan dengan dokter, juga harus menjalankan perannya
biaya yang lebih murah, dan jam sebagai seorang wanita yaitu istri dan
praktik bidan yang sangat fleksibel. ibu dalam keluarganya. Hal ini
Dari pemaparan di atas, maka dapat diperkuat dengan tempat praktik
disimpulkan bahwa seorang bidan yang biasanya dibuka di rumah bidan
praktik mandiri memiliki tuntutan itu sendiri. Untuk menjadi seorang
pekerjaan yang berat, yang tidak bidan yang baik, maka bidan harus
hanya berfokus pada perawatan ibu mampu menjalani kedua peran
hamil dan proses persalinan. Sebagai tersebut dengan baik. Dengan begitu,
sesame perempuan, ia dianggap kesejahteraan fisik maupun
52
psikologis bidan pun harus tetap hasil penelitian Hunter (2004),
terjaga dengan baik pula agar ia didapatkan bahwa para bidan yang
mampu menjalankan kedua peran merasa kesulitan untuk menerapkan
tersebut. Terlebih lagi jika melihat pelayanan berbasis pada
permintaan dan minat akan jasa yang kesejahteraan wanita ternyata
diberikan oleh seorang bidan ini menganggap bahwa emotional
terus meningkat. labour dalam pekerjaan sebagai
Menurut Hunter (2005), seorang bidan sangat berat dan
bidan merupakan salah satu mereka membutuhkan bantuan dalam
pekerjaan dengan ketegangan mengatur emosi mereka sendiri. Hal
emosional yang tinggi. Bidan ini sejalan dengan hasil penelitian
diminta untuk dapat memenuhi dari Vitello-Cicciu (2003) yang
tuntutan-tuntutan pekerjaan yang menyatakan bahwa bidan merupakan
sangat melibatkan emosi seorang pekerjaan yang memberikan
pekerjannya atau yang biasa disebut pelayanan kesehatan masyarakat di
dengan emotional labour atau mana pekerjaan tersebut sangat
emotional work. Emotional labour rentan dengan stres dan tidak sehat
didefinisikan sebagai manajemen secara emosional. Hal ini
perasaan dan emosi untuk dikarenakan para bidan selalu
menunjukkan suatu emosi yang memaksakan diri mereka untuk
dapat dilihat dari ekspresi wajah atau merasakan suatu emosi tertentu
tubuh untuk menyembunyikan atau sesuai dengan harapan institusi atau
menekan suatu emosi yang dirasakan pun pasien mereka, yang disebut
sebenarnya (Hochschild dalam dengan ingcoruence atau dissonance
Hunter,2005). Tuntutan untuk selalu emotions dan akan berkembang
mengelola emosi dengan baik ini menjadi emotional labour. Penelitian
seringkali menimbulkan kondisi dari Oncel, Zeynep, dan Efe (2007)
stres, kelelahan emosional, juga menunjukkan bahwa tingkat
kehilangan jati diri, dan dampak stres pada bidan yang berkaitan
negatif bagi diri sendiri baik secara dengan pekerjaan cukup tinggi dan
psikologis atau pun fisiologis. Dari juga menimbulkan kelelahan
53
emosional yang tinggi pula. Jika berlangsung terus menerus, maka
emosi-emosi ini tidak diatur dengan keadaan semacam ini akan
baik maka akan terjadi burn-out dan membentuk seorang bidan menjadi
gangguan-gangguan psikologis pada seorang yang bersikap “dingin”,
seorang bidan yang dapat kurang hangat, dan tidak
mengakibatkan turunnya kualitas mendahulukan kesejahteraan atau
pelayanan jasa yang diberikan atau pun keselamatan pasiennya. Selain
pun membahayakan bagi itu, kesejahteraan fisik dan
keselamatan pasien. psikologis bidan itu sendiri pun tidak
Berdasarkan hasil penelitian akan terjaga dengan baik karena
Hunter (2005) dikatakan bahwa tidak adanya reward timbal balik
seorang bidan dapat mengatur yang berkontribusi terhadap
emosinya dalam menghadapi pekerjaannya. Ketua pengurus Ikatan
tuntutan pekerjaan yaitu dengan Bidan Indonesia (IBI), Gunarmi Hadi
affective neutrality, yaitu membuat dalam “Keputusan Menteri” (2007)
dirinya berada dalam kondisi tidak memaparkan bahwa seorang bidan
ada emosi sama sekali untuk yang baik adalah apa yang disebut
menghindari emosi-emosi negatif dengan “bidan delima” yaitu bidan
atau affective aware yaitu yang memiliki karakteristik
mengungkapkan emosi dan bersahabat, rasa peduli yang tinggi,
perasaannya pada sesama. Namun, memberikan kasih sayang,
pada praktiknya, kebanyakan bidan kehangatan sehingga pasien yakin
lebih banyak menggunakan cara berada di tangan yang tepat,
affective neutrality dalam konteks mengerti apa yang dirasakan oleh
pekerjaannya sehingga pasien, mampu memperoleh rasa
mempengaruhi kesejahteraan percaya dari pasien, sabar
emosionalnya. Dari hasil penelitian mendengarkan segala permasalahan
Hunter dan Deery (2005) seorang pasien, senang berbicara dengan
bidan cenderung menghiraukan pasien, memberi pendapat sesuai
perasaannya dan lebih berfokus pada profesi namun juga menghargai
pekerjaannya saja. Jika hal ini keputusan pasien, simpati,
54
memberikan solusi terbaik, memiliki Salovey dan Mayer (1990)
pikiran positif, murah senyum, dan membagi kemampuan dan
memberikan sentuhan personal. keterampilan kecerdasan emosional
Dari uraian di atas dapat ini ke dalam empat area, yaitu
disimpulkan bahwa profesi bidan kemampuan untuk merasakan emosi
merupakan pekerjaan dengan individu itu sendiri dan juga orang
kerentanan stres yang tinggi serta lain secara akurat, kemampuan untuk
melibatkan emosi mendalam antara menggunakan emosi tersebut dalam
bidan dan pasiennya. Ketegangan memfasilitasi proses berpikir,
emosi yang dirasakan akibat tuntutan kemampuan untuk memahami emosi,
pekerjaan juga membuat bidan dan kemampuan untuk mengatur
diharapkan mampu memahami, emosi sehingga dapat mencapai
mengolah, dan mengekspresikan tujuan tertentu. Konsep kecerdasan
emosinya dengan baik. Bidan harus emosional juga dikemukakan oleh
memiliki kepekaan terhadap apa Goleman (1995) yang mengatakan
yang dirasakan oleh pasiennya, bahwa kecerdasan emosional
seorang bidan juga harus merupakan sekumpulan dari
menunjukkan kehangatan dan kemampuan dan kompetensi
ketulusan pada pasien tidak seseorang yang terdiri dari elemen
terpengaruh dari masalah pribadi motivasi, kesadaran diri, regulasi
yang dimilikinya saat itu. Selain itu, diri, empati, dan juga kemampuan
mengingat pekerjaannya yang sangat untuk memiliki hubungan yang baik.
berisiko maka keterampilan dan Dalam perkembangannya, Bar-On
konsentrasi penuh juga dibutuhkan (2004) menjabarkan faktor-faktor
oleh seorang bidan. Tuntutan utama kecerdasan emosional sebagai
karakteristik dan kemampuan yang sekumpulan dari kemampuan,
telah digambarkan di atas tersebut, kompetensi, dan keterampilan non-
dalam konsep ilmu Psikologi kognitif yang mempengaruhi
tercakup dalam kecerdasan keberhasilan seseorang dalam
emosional. menghadapi tuntutan dan tekanan
dari lingkungannya.
55
Dalam melihat kecerdasan juga harus mampu untuk menyadari,
emosional, Bar-On juga menyertakan memahami, menghargai perasaan
kemampuan individu dalam orang lain. Ia juga diharapkan
menghadapi tantangan dan kemampuan untuk bekerja sama,
memenuhi tuntutan lingkungan serta berkontribusi, dan turut serta menjadi
kemampuan untuk selalu bagian masyarakat yang konstruktif.
menyesuaikan diri dengan situasi Pentingnya seluruh kemampuan
yang ada. Selain itu, Bar-On tersebut di atas dimiliki oleh seorang
mengemukakan bahwa kecerdasan bidan terlihat lebih sesuai dijelaskan
emosional merupakan hal penting dengan konsep Bar-On, yang
untuk menentukan keberhasilan melihat kecerdasan emosional
seseorang dalam menghadapi sebagai suatu sinergi antara lima
kehidupannya dan juga memiliki skala besar yaitu kemampuan
pengaruh langsung terhadap intrapersonal, interpersonal,
kesejahteraan psikologis seseorang adaptability, stress management dan
secara umum. Mengacu kepada general mood. Berdasarkan
tuntutan yang tinggi terhadap profesi pemahaman tersebut maka alat ukur
bidan, dapat dijabarkan bahwa yang digunakan dalam penelitian ini
seorang bidan harus memiliki adalah Bar-On Emotional
kemampuan untuk menghargai dan Intelligence Inventory (EQ-i).
menerima diri sendiri dengan baik, Selain aspek intrapersonal
namun juga kemampuan untuk dan interpersonal yang diberi
memahami perasaan diri sendiri, perhatian cukup besar oleh Bar-On,
kemampuan untuk mengekspresikan dalam alat ukur Bar-On Emotional
perasaan, keyakinan, pikiran, dan Intelligence Inventory (EQ-i) juga
mempertahankan haknya dengan akan dikaji aspek adaptability
cara yang tidak merugikan diri dengan sub-skala reality testing yang
sendiri dan orang lain. Seorang bidan dibutuhkan untuk memahami
juga harus mampu untuk mengontrol kemampuan melihat korespondensi
diri sendiri dan terbebas dari antara apa yang dialami dan apa
ketergantungan emosional, selain yang sebenarnya terjadi, flexibility
56
yaitu kemampuan untuk emosional dengan performa kerja,
menyesuaikan emosi, pikiran, dan termasuk di dalamnya aspek
tingkah laku terhadap perubahan kepemimpinan dan juga
situasi dan kondisi yang terjadi, produktivitas. Sebuah organisasi atau
problem solving yaitu kemampuan institusi yang tidak menghiraukan
untuk mengidentifikasi dan aspek kecerdasan emosional para
mendefinisikan suatu masalah pekerjanya dapat menyebabkan
dengan baik serta menerapkan solusi tingkat produktivitas yang rendah,
yang efektif. Dalam skala stress komunikasi internal yang buruk yang
management dengan sub-skala stress mengarah pada kebingungan,
tolerance diharapkan dapat dilihat ketidakpastian, kekerasan, dan
kemampuan untuk bertahan dari performa kerja yang buruk. Hal ini
situasi yang tidak menguntungkan juga yang terjadi pada profesi bidan,
dan penuh tekanan tanpa harus dimana kecerdasan emosional
„hancur‟ disertai dengan kemampuan seorang bidan dapat berpengaruh
menghadapi situasi tersebut secara pada performa kerja atau pun
efektif, impulse control yaitu produktivitasnya.Menurut hasil
kemampuan untuk menunda suatu penelitan Patterson (2011),
impuls, dorongan, atau keinginan kecerdasan emosional merupakan hal
yang dimiliki. Pada aspek general yang sangat penting dalam praktik
mood dengan sub-skala optimism kerja seorang bidan. Di Indonesia,
akan diukur kemampuan untuk penelitian Patterson pernah dikaji
melihat sisi kehidupan yang lebih melalui penelitian Ritonga (2009)
baik dan tetap bersikap positif yang mengatakan bahwa terdapat
bagaimana pun keadaannya, serta hubungan antara kecerdasan
aspek happiness yaitu kemampuan emosional dengan stres kerja pada
untuk merasa puas dan menikmati profesi bidan, yaitu semakin tinggi
kehidupannya. kecerdasan emosional seorang bidan
Bar-On (2006) mengatakan maka semakin rendah tingkat stress
bahwa terdapat hubungan yang kerjanya, begitu juga sebaliknya.
signifikan antara kecerdasan Lolaty, Abdulhakim, dan Jabbar
57
(2014) juga mengatakan bahwa untuk diri sendiri atau pun orang
kecerdasan emosional merupakan lain, khususnya pasien yang akan ia
faktor penting dalam kesehatan bantu. Bidan yang juga seorang
mental seseorang dan pekerja wanita memiliki kecenderungan
profesional dalam bidang pelayanan untuk terlibat secara emosi terhadap
kesehatan. Kecerdasan emosional pasiennya. Hal ini dikarenakan
dapat meminimalisir stres yang sebagai wanita, bidan mungkin akan
dialami para pekerjanya dan juga atau pernah melalui proses yang
dapat memprediksi faktor-faktor dilalui oleh pasiennya sehingga
kesuksesan pada pekerja pelayanan secara tidak langsung bidan ikut
kesehatan. Kecerdasan emosional merasakan emosi-emosi yang timbul
yang buruk dapat menimbulkan dari serangkaian proses kehamilan
gangguan psikologis seperti depresi, hingga persalinan. Oleh karena itu,
adiksi, dan gagal dalam membangun dalam penelitian ini tidak hanya
karir. Dengan begitu, dapat melihat peran kecerdasan emosional
dikatakan bahwa kecerdasan bidan, namun juga akan melihat
emosional ini merupakan salah satu gambaran kepribadian bidan secara
komponen penting yang harus keseluruhan. Adapun alat tes yang
dimiliki oleh seorang bidan. Seorang akan digunakan dalam penelitian ini
bidan yang tidak memiliki adalah NEO Personality Inventory-
kemampuan ini akan berpotensi Revised (NEO PI-R) yang disusun
mengalami stress dan bahkan oleh Costa dan McCrae (1992). NEO
gangguan psikologis yang nantinya PI-R mengukur lima domain besar
akan berdampak buruk pada yang terdiri dari enam faset pada
kesejahteraan dan keselamatan setiap domainnya yang mampu
pasien. memfasilitasi asesmen yang detil dan
Tipe kepribadian diduga juga komprehensif terhadap pengukuran
akan berperan dalam cara seorang kepribadian pada orang dewasa.
bidan memahami, memaknai, Kelima domain tersebut adalah
mengelola, dan juga neuroticism menggambarkan
mengekspresikan emosinya baik penyesuaian emosional yang kurang
58
baik dan emosi-emosi negatif yang waktu, dan dapat diandalkan seperti
dirasakan seperti anxiety, angry aspek competence, order,
hostility, depression, self- dutifulness, achievement striving,
consciousness, impulsiveness, dan self-discipline,dan deliberation.
vulnerability, extraversion Seperti apa yang telah
menggambarkan tendensi seorang dipaparkan sebelumnya, maka dapat
individu dalam ketertarikannya dikatakan bahwa seorang bidan harus
membina hubungan dengan orang memiliki rasa cemas yang rendah
lain yang tercermin dari aspek agar mampu memberikan atensi
warmth, assertiveness, penuh terhadap pelayanannya,
gregariousness, activity, excitement sehingga diharapkan ia akan
seeking,dan positive emotion, memiliki skor yang rendah pada
Openness to Experience domain neuroticism. Bidan juga
menggambarkan tendensi keterbukan dituntut untuk bersikap ramah,
akan hal-hal atau pengalaman yang hangat, dan memberikan kasih
baru seperti fantasy, aesthetics, sayang. Bidan juga harus senang
feelings, actions, ideas, dan values, membina relasi dengan pasien-
agreeableness menggambarkan pasien, hal ini membuat seorang
kemauan untuk menaruh perhatian bidan haruslah memiliki skor tinggi
terhadap kesejahteraan orang lain, pada domain extraversion. Bidan
simpatik, bersedia membantu, dan sebagai seorang pekerja dan pemberi
percaya bahwa orang lain juga akan pelayanan kesehatan di mana dunia
membantu jika mereka medis terus berkembang maka bidan
membutuhkannya yang ditandai juga dituntut untuk selalu
dengan aspek trust, berkembang dan terbuka dengan hal
straightforwardness, altruism, atau teknologi yang baru. Hal ini
compliance, modesty, dan membuat bidan sebaiknya memiliki
tendermindedness, serta skor yang tinggi pada domain
conscientiousness menggambarkan openness to experience. Skor
tendensi individu dengan kemauan agreeableness yang tinggi juga harus
kuat, berorientasi pada detil, tepat dimiliki oleh seorang bidan. Hal ini
59
merujuk pada sikap sabar, dipilih menggunakan teknik criterion
kompromi, dan keutamaannya dalam sampling dimana peneliti mengambil
mementingkan kesejahteraan pasien, seluruh responden yang memenuhi
sedangkan skor yang cukup pada kriteria dalam penelitian (Patton,
domain conscientiousness setidaknya 2002).
dimiliki oleh seorang bidan sebagai
motivasi pengembangan terhadap Instrumen Penelitian
karirnya. Instrumen yang digunakan
untuk mengumpulkan data dalam
METODE PENELITIAN penelitian ini adalah lembar data diri
Penelitian ini menggunakan partisipan, alat ukur kecerdasan
pendekatan kualitatif dengan metode emosional Bar-On Emotional
studi kasus. Penelitian kualitatif Quotient Inventory (EQ-i) (Bar-
dilakukan dengan tujuan untuk On,2004) untuk mengukur lima
menggambarkan dan mempelajari aspek kecerdasan emosional yang
suatu fenomena secara rinci dan telah diadaptasi ke dalam Bahasa
mendalam, mendapatkan hasil Indonesia dan terdiri dari 133 item,
observasi tentang perilaku setiap serta alat ukur kepribadian NEO-PI-
responden, sekaligus melakukan R yang dikembangkan oleh Costa &
analisa dan perbandingan antara McCrae, yang juga telah diadaptasi
responden yang satu dengan ke dalam Bahasa Indonesia (Halim et
responden yang lain (Patton, 2002). al, 2004), terdiri dari 240 item.
Dalam penelitian ini, partisipan Panduan wawancara yang
penelitian ialah seorang bidan yang digunakan, mengacu pada aspek-
terdaftar resmi dan memiliki izin aspek kecerdasan emosional Bar-On
praktik, memiliki tempat praktik dan dikaitkan dengan profesi bidan.
mandiri, dan juga sehat secara
jasmani dan psikologis agar mampu Tahapan Pelaksanaan
mengikuti seluruh rangkaian tahapan Peneliti melakukan
penelitian. Sampel yang diambil dari wawancara awal pada salah seorang
populasi dalam penelitian ini akan bidan untuk mengetahui gambaran
60
mengenai kebidanan. Kemudian berupa pemberian alat tes EQ-i, alat
peneliti mulai mencari bidan-bidan ukur NEO PI-R, dan tes grafis (DAM
praktik mandiri yang sesuai dengan dan BAUM). Selain itu, peneliti juga
kriteria penelitian yang telah melakukan pertemuan-pertemuan
ditentukan dan menghubungi para secara informal baik pada partisipan
bidan tersebut. Selanjutnya, peneliti dan juga orang terdekat partisipan.
membuat janji pada bidan-bidan Hal ini bertujuan untuk mendapatkan
yang sekiranya bersedia menjadi informasi tambahan mengenai
partisipan dalam penelitian ini dan gambaran kecerdasan emosional dan
melakukan sejumlah pertemuan. juga tipe kepribadian partisipan.
Dalam pertemuan tersebut, peneliti Setelah peneliti selesai menganalisis
melakukan wawancara mendalam hasil anamnesa dan juga tes
mengenai kehidupan dan juga aspek kepribadian, peneliti membuat
kecerdasan emosional partisipan, rancangan intervensi untuk
melakukan pemeriksaan psikologis diaplikasikan kepada partisipan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tabel I: Hasil Tes EQ-i dan NEO PI-R Partisipan Penelitian


NEO PI-R
Partisipan EQ-i Neuroticism Extraversion Openness to Agreeableness Conscientiousness
Experience
NM 135 36 51 40 55 61
(Sangat (Rendah) (Rata-rata) (Rendah) (Rata-rata) (Tinggi)
Tinggi)
S 149 35 60 48 49 74
(Sangat (Rendah) (Tinggi) (Rata-rata) (Rata-rata) (Sangat Tinggi)
Tinggi)
NR 159 44 45 38 45 58
(Sangat (Rendah) (Rata-rata) (Rendah) (Rata-rata) (Tinggi)
Tinggi)

Partisipan Pertama: NM (60 emosional yang sangat baik, terlihat


tahun) dari seluruh skor dalam tes tersebut
Berdasarkan skor tes EQ-i, berkisar dari kategori average hingga
NM terlihat memiliki kecerdasan markedly high. Skor EQ-i juga

61
menunjukkan rasa mandiri dan tidak sebagai bidan. Hal ini terlihat dari
bergantung secara emosional masa praktik kerjanya selama 40
terhadap orang lain sehingga akan tahun dan juga pengalaman yang
membantu dirinya dalam sangat kaya. Dalam wawancara, NM
menghadapi situasi-situasi dalam terlihat memiliki kecerdasan
hidupnya. Walau begitu, rasa optimis emosional yang cukup baik dalam
yang kurang baik terkadang konteks pekerjaannya sebagai
mempengaruhi kemampuan NM seorang bidan, namun jika digali
secara keseluruhan dan cenderung lebih dalam melihat pada sisi
menghambat NM untuk menangani kehidupannya, tidak menunjukkan
dan melihat situasi seperti apa hal yang sama. Hal ini yang
adanya. Selain itu, rasa empati yang menunjukkan bahwa kecerdasan
kurang juga membuatnya sulit untuk emosional NM tidak sebaik hasil tes.
membina hubungan dengan Hal ini juga menunjukkan bahwa
lingkungan sosialnya. NM memang mampu memenuhi
Namun, setelah dilakukan tuntutan peran sebagai bidan dengan
wawancara lebih dalam, kecerdasan segala beban kerjanya, namun
emosional NM yang terlihat cukup kurang mampu mempertahankan
baik, ternyata tidak sebaik seperti kesejahteraan emosionalnya dalam
apa yang digambarkan dari hasil tes peran yang lain di luar profesinya.
EQ-i. NM terlihat kurang memiliki Selain itu, jika dikaitkan dengan
kemampuan dalam area intrapersonal hasil pemeriksaan kepribadian yang
(emotional self-awareness, menunjukkan bahwa NM termasuk
assertiveness, dan independence) dan pribadi yang konservatif dan
juga interpersonal (empathy dan memegang teguh tradisi atau norma-
interpersonal relationship). norma yang diyakininya, maka
Perbedaan antara tes EQ-i dengan dapat dipahami bahwa NM
hasil wawancara ini terjadi antara cenderung menampilkan gambaran
lain karena NM mengasumsikan yang baik dan jawaban yang
pertanyaan-pertanyaan dalam tes normatif seperti ketika ia
EQ-i mengacu pada pekerjaannya mengerjakan tes EQ-i tersebut.
62
Terlihat juga bahwa NM cenderung Dari aspek sosial, NM memiliki
untuk menekan dorongan dan minat sosial yang cukup namun
keinginannya, sehingga terkadang ia dihadapkan dengan kemampuan
sulit menentukan keinginan dan interpersonal yang rendah,
tujuan hidupnya. NM membutuhkan khususnya pada aspek empati, maka
kehadiran dan dukungan dari orang NM kesulitan untuk membina relasi
lain untuk menjalani hidupnya. Hal sosial yang diharapkan. Namun, jika
ini tercermin dari rendahnya dalam konteks pekerjaannya sebagai
kemampuan asertif dan rasa mandiri bidan, NM terlihat memiliki
dalam diri NM. Selama ini, ia tanggung jawab sosial yang terbilang
mendapat arahan dan pegangan tinggi walau sebenarnya NM sangat
untuk berpijak dari mendiang membutuhkan kehadiran dan
suaminya. Namun, ketika suami NM dukungan orang lain. NM kurang
meninggal dunia tiga tahun lalu, NM memiliki kemampuan untuk
menyadari bahwa ia merasa tidak mengekspresikan emosi dan
berdaya dan inferior. Dengan perasaannya dengan baik, akibatnya
keadaan seperti ini, NM tidak dapat ia terbiasa untuk memendam seluruh
mengatasi masalah yang timbul di perasaan atau emosinya, baik ketika
kehidupannya, seperti masalah berhadapan dengan pasien atau
dengan anak serta menantunya. dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal
Masalah ini sangat mengganggu bagi di atas membuat NM belum mampu
NM saat ini. Selain itu, NM merasa mencapai aktualisasi diri di usia yang
bahwa ia tidak mampu lagi sudah menginjak dewasa akhir.
menerima perawatan persalinan yang Dengan demikian dapat disimpulkan
seharusnya merupakan tugas paling bahwa dalam bekerja sebagai bidan
penting dari seorang bidan. Saat ini NM terlihat memiliki potensi
NM hanya membuka praktik untuk kecerdasan emosional yang cukup
perawatan yang tidak begitu sulit, baik terlihat dari masa kerjanya
seperti KB, penyakit-penyakit selama 40 tahun dan tidak
ringan, dan pemeriksaan bayi atau menemukan masalah yang berat.
balita. Namun, kecerdasan emosional yang
63
cukup tersebut tidak digunakan baik terhadap situasi-situasi yang
ketika NM menjalankan perannya menimbulkan stres sehingga S
dalam kehidupan sehari-hari mampu mengatasi situasi apa pun. S
sehingga menghambat NM dalam memiliki rasa yakin dan bangga
menjalani masa tuanya dengan terhadap dirinya dan rasa mandiri
bahagia. Hal ini serupa dengan yang sangat tinggi namun kurang
informasi yang didapatkan dari anak peka terhadap emosi dan perasaan
NM yang menyatakan bahwa NM yang dimilikinya. Kondisi ini diduga
merasa terbebani dan terlihat kurang disebabkan karena rasa empatinya
bahagia. Oleh karena itu, untuk yang kurang baik, sehingga membuat
meningkatkan kecerdasan emosional S cenderung tidak peka terhadap
NM maka dibutuhkan pemahaman lingkungan sekitarnya, S cenderung
lebih mengenai kecerdasan mengekspresikan emosi dan
emosional, seperti psikoedukasi perasaannya begitu saja tanpa
mengenai kecerdasan emosional. memperhatikan situasi yang ada.
Keadaan seperti inilah yang dapat
Partisipan Kedua: S (40 tahun) menghambat hubungan sosial S.
Berdasarkan hasil tes EQ-i, S Namun, hasil yang didapat dari
memiliki kecerdasan emosional yang wawancara tidak sejalan dengan skor
sangat baik, kisaran skor dari tes EQ-i yang sangat tinggi, terlihat
tersebut berkisar antara kategori high bahwa kecerdasan emosional S
hingga markedly high. Dengan terbilang cukup. Terdapat beberapa
begitu dapat disimpulkan bahwa area yang masih perlu ditingkatkan
secara keseluruhan S mampu dari diri S, seperti area intrapersonal
mengatasi tuntutan dan tekanan (assertiveness) dan interpersonal
lingkungan yang ada. Hal ini dibantu (empathy dan interpersonal
oleh kemampuan S untuk relationship), serta sub-skala
menyesuaikan diri dengan impulse-control.
perubahan-perubahan yang terjadi Hasil yang berbeda tersebut
dalam hidupnya. Selain itu, ditunjang dipengaruhi oleh kepribadian S yang
dengan daya tahan S yang sangat memiliki pandangan bahwa dirinya
64
hebat dan ingin menunjukkan dan interpersonal khususnya
kehebatannya pada orang lain agar kemampuan rasa empati serta
mendapatkan perhatian dari impulse-control, membuat ambisi S
lingkungannya. Salah satu terhambat, padahal, dalam profesinya
kebanggaan dirinya adalah karena ia sebagai pemberi jasa pelayanan
juga dipercaya menjadi bidan di masyarakat S sangat membutuhkan
ruang operasi yang dianggap sulit kemampuan-kemampuan tersebut.
dan ia mampu bertahan Hal ini terlihat dari S yang kurang
dibandingkan dengan rekan-rekan mampu menjalin hubungan baik
lainnya. Rasa bangga dan percaya dengan para pasiennya. Selain itu
diri yang besar ini terlihat mewarnai berulang kali S terbentur konflik
jawaban S, sehingga skor-skor yang akibat pasien S tidak terima dengan
dihasilkan pun terbilang tinggi. cara S berkomunikasi, atau seringkali
Terlihat bahwa S juga membutuhkan S memaksakan kehendak dan
pengakuan dan penghargaan dari pendapatnya ketika menangani
orang-orang di sekitarnya. pasien. S lebih mementingkan
Kebutuhan S ini diduga terkait kebutuhan dirinya dibandingkan
dengan kemampuan interpersonal, dengan kebutuhan pasien. Dengan
impulse-control dan assertiveness begitu, Bidan S membutuhkan
rendah dan menghambat hubungan psikoedukasi guna meningkatkan
sosialnya. S mengaku berulang kali pemahaman dan kemampuan
mengalami konflik baik dengan kecerdasan emosionalnya.
pasien atau pun dalam
kesehariannya. Dalam melakukan Partisipan Ketiga: NR (32 tahun)
kontak sosial, S cenderung Berdasarkan hasil EQ-I, NR
menunjukkan sikap yang agresif. S menunjukkan skor kecerdasan
terlihat memiliki dorongan dan emosional yang sangat baik, kisaran
motivasi untuk berprestasi yang skor dalam tes EQ-i ini berada dalam
sangat tinggi, khususnya dalam hal kategori high hingga markedly high.
pekerjaannya. Namun, dengan Namun, hasil ini tidak cukup valid
rendahnya kemampuan intrapersonal untuk diinterpretasi lebih jauh
65
dikarenakan NR memiliki skor praktiknya sebagai bidan mandiri.
positive impression yang terlampau Namun, hasil tes EQ-i tetap
tinggi, yang berarti NR menilai dipertimbangkan mengingat index
dirinya terlalu positif dari yang inkonsistensi NR masih dalam
sebenarnya. Dari hasil wawancara kategori konsisten.
pun terlihat bahwa kecerdasan NR menganggap bahwa
emosional NR tidak seperti yang perasaan atau emosi bukanlah hal
digambarkan oleh hasil tes, yaitu yang penting, emosi NR masih
terlihat cukup dengan beberapa skala terbilang belum matang dan
yang terbilang kurang baik yaitu kekanakan. Dalam menghadapi
intrapersonal (emotional self- emosi dan perasaannya, NR
awareness dan assertiveness), cenderung memilih untuk
interpersonal (social responsibility, menghindari situasi-situasi yang
empathy, dan interpersonal dapat menimbulkan emosi-emosi
relationship), sub-skala problem negatif. Selain itu, NR sendiri
solving dan stress tolerance. memiliki kerentanan terhadap rasa
Kebutuhan NR untuk terlihat baik ini cemas. Hal ini mempengaruhi
diduga karena NR sendiri memiliki kemampuan assertiveness, problem
kebutuhan untuk dihargai oleh solving, dan terutama stress
lingkungannya. NR besar di tolerance yang rendah. Terkait
lingkungan yang selalu memberikan dengan profesinya, keadaan ini
kemudahan bagi apa pun yang ia sangat mempengaruhi performanya
inginkan. NR tampak tidak terlalu sebagai seorang bidan. NR tidak
mementingkan nilai-nilai atau norma berani dan tidak mau mengambil
yang pada umumnya dituntut oleh kasus yang sulit, NR selalu merujuk
masyarakat, sehingga jalan pintas pasien tersebut. NR sendiri terlihat
bukanlah sesuatu yang harus kurang memiliki dorongan besar
dihindari. Hal ini terlihat dari NR untuk menghadapi kasus-kasus
yang memilih untuk menyuap tersebut, bagi NR yang terpenting
petugas pengawas dari Puskesmas adalah hasil yang baik tanpa
untuk memudahkan akses dan izin memperdulikan proses
66
pencapaiannya atau usaha yang pekerjaan yang mulia. Hal ini sangat
dilakukan. Sebenarnya NR memiliki bertentangan dengan NR menjalani
kebutuhan akan mendapatkan afeksi pekerjaannya. Kecerdasan emosional
atau perhatian dari lingkungannya, NR yang kurang baik membuat ia
namun, minat NR terhadap tidak menghiraukan aturan-aturan
lingkungan sosial terbilang rendah yang ada dan juga cenderung
sehingga NR cenderung mendahulukan kepentingan
mendapatkan keinginannya dengan pribadinya, khususnya jika terkait
caranya sendiri tanpa dengan pendapatan yang akan
mempertimbangkan aturan dan didapatnya. Oleh karena itu,
keadaan lingkungan sekitar. Pada kecerdasan emosional NR perlu
hakikatnya, pekerjaan seorang bidan ditingkatkan, salah satu caranya
adalah pekerjaan yang melayani dengan pemberian psikoedukasi
masyarakat sehingga dapat dikatakan mengenai kecerdasan emosional.

Tabel II: Analisis Partisipan Penelitian


SM S NR
Usia 60 tahun 40 tahun 32 tahun
Status Pernikahan Janda Cerai Menikah Menikah
meninggal
Anak 4 anak 2 anak 1 anak
Suku Bangsa Batak Batak Jawa
Pendidikan Terakhir Akademi Akademi Kebidanan Akademi
Kebidanan Kebidanan
Alasan menjadi bidan Keinginan sendiri, Keinginan sendiri, Keinginan sendiri,
cita-cita dari sejak karena bosan jadi menambah
remaja perawat, ingin penghasilan
sesuatu yang lebih
Lama Praktik 40 tahun 6 tahun 3 tahun
Jenis Praktik Mandiri Mandiri dan klinik Mandiri dan
klinik, serta
pelayanan
posyandu
Pengalaman Kerja Bidan di rumah Perawat di rumah Perawat 4 tahun,
sakit dan puskesmas sakit, bidan ruang bidan di klinik 3
hingga pensiun dan operasi, bidan di tahun, dan bidan
praktik mandiri klinik, dan bidan praktik mandiri
praktik mandiri
Kecerdasan Hasil EQ-i  NM mampu  Secara  Hasil tes EQ-i
Emosional mengatasi keseluruhan S NR terbilang
tuntutan dan mampu tidak cukup
tekanan mengatasi valid untuk

67
lingkungan tuntutan dan diinterpretasi,
dengan sangat tekanan hal ini
baik. Hal ini lingkungan yang dikarenakan
ditunjang ada dengan baik. skor Positive
dengan Hal ini dibantu Impression
kemampuannya oleh terlampau
untuk kemampuan S tinggi yang
menyesuaikan untuk menunjukkan
dirinya dengan menyesuaikan bahwa NR
perubahan- diri dengan terlalu menilai
perubahan yang perubahan- dirinya positif
ada. perubahan yang dibanding
 Kemandirian terjadi dalam keadaan yang
emosional yang hidupnya. sebenarnya.
ia miliki  Selain itu,
membantu NM ditunjang
dalam dengan daya
menghadapi tahan S yang
situasi-situasi sangat baik
dalam terhadap situasi-
hidupnya. situasi yang
 kemampuan menimbulkan
empati yang stres, S mampu
kurang mengatasi
membuatnya berbagai situasi.
sulit untuk  S memiliki rasa
membina yakin dan
hubungan bangga terhadap
dengan dirinya dan
lingkungan kemandirian
sosialnya emosionalyang
sangat tinggi
namun kurang
peka terhadap
emosi dan
perasaan yang
dimilikinya.
Wawancara Secara keseluruhan, Secara keseluruhan, Secara
NM memiliki S memiliki keseluruhan, NR
kecerdasan kecerdasan memiliki
emosional yang emosional yang kecerdasan
cukup baik. kurang baik. emosional yang
kurang baik.
Intrapersonal : Intrapersonal :
kurang baik kurang baik Intrapersonal :
 Walau NM  S memiliki self- rata-rata
memiliki self- regard dan  NR memiliki
regard yang baik, kemandirian yang self-regard dan
namun NM baik. Namun, S rasa
kurang memiliki kurang mampu kemandirian
kemampuan untuk memahami yang cukup
untuk memahami emosi dan baik namun NR
emosi dan perasaannya atau kurang
perasaannya atau pun dalam memiliki
pun mengekspresikan- kemampuan
68
mengekspresikan- nya. untuk
nya dengan baik. memahami dan
 Aktualisasi diri S mengekspresika
pun juga belum n emosi atau
 NM juga kurang tercapai. Hal ini perasaannya
memiliki cukup dengan baik.
kemandirian menghambat  Kesulitan
emosional dan pekerjaannya dalam ekspresi
tidak bergantung sebagai pemberi emosi
pada orang lain. jasa pelayanan seringkali
 NM juga kurang masyarakat. berpengaruh
dapat mencapai dan
aktualisasi diri menghambat
yang baik di fungsi
usianya. Hal ini kehidupan
cukup sehari-harinya.
berpengaruh
dalam
kehidupannya
dan dalam
menjalani
profesinya
sebagai bidan.
Interpersonal : Interpersonal : Interpersonal :
kurang baik kurang baik rendah
 NM bertanggung  S memiliki  hubungan sosial
jawab dan cukup tanggung jawab NR terbilang
berkontribusi profesi yang kurang baik.
terhadap baik. Namun, NR kurang
pekerjaannya tidak disertai menunjukkan
sebagai bidan. dengan rasa tanggung jawab
Namun, NM empati yang baik sosial, baik
kurang memiliki pula, sehingga sebagai
empati dan relasi sosial S individu atau
hubungan sosial pun menjadi pun sebagai
yang baik. kurang baik. seorang bidan.
 Selain itu, NR
kurang memiliki
rasa empati dan
hubungan sosial
yang baik.

Adaptability : Adaptability : baik Adaptability :


cukup  S memiliki cukup
 NM memiliki kemampuan  dalam praktek
kemampuan untuk bersikap kebidanan NR
untuk bersikap fleksibel dan selalu berusaha
fleksibel dalam mengatasi menyesuaikan
pekerjaannya masalah yang ada dirinya dengan
sebagai bidan sesuai dengan segala
serta mampu atuaran dan perubahan yang
mengatasi keadaan yang ada namun,
masalah yang ada ada,khususnya sebagai seorang
dengan baik dalam praktik bidan, NR
sesuai dengan kebidanan. kurang mampu
69
keadaannya pada mengatasi
saat itu. masalah-
masalah sulit
dengan resiko
tinggi bahkan
cenderung
untuk
menghindarinya
.
Stress Management Stress Management: Stress
: baik kurang baik Management :
 NM memiliki  S mampu cukup
daya tahan menghadapi  NR cukup dapat
terhadap situasi-situasi mengelola
sumber stres yang dorongan atau
yang cukup baik menimbulkan emosi yang ia
 Selain itu, NM stres dengan miliki. Namun,
terbiasa untuk baik. Namun, S NR kurang
selalu kurang mampu memiliki daya
mengontrol atau menahan tahan terhadap
meredam segala dorongan dan situasi yang
perasaan, impuls yang menimbulkan
emosi, dan dimiliki. Hal ini stress dan
keinginannya. kurang baik bagi cenderung
profesi S sebagai menghindarinya
bidan. . Hal ini cukup
menghambat
performanya
sebagai bidan.

General Mood : General Mood : General Mood :


baik baik baik
 NM merasa  S cukup merasa  NR merasa
bahagia dengan bahagia dan bahagia dan
hidup dan menikmati apa menikmati
pekerjaannya yang dikerjakan hidup
selama ini , selama ini. S juga khususnya
namun NM memiliki rasa pekerjaannya.
kurang memiliki optimis yang  NR juga
rasa optimis dan baik, baik dalam optimis
cenderung hidupnya dan memandang
menjalani hidup pekerjaan. masa depan
dan pekerjaannya dengan
seadanya. berbagai
rencana dan
pengembangan
yang dimiliki.
Kepribadian NEO PI-R  Dorongan lemah,  Dorongan  Dorongan
menekan segala berprestasi sangat prestasi tinggi,
keingingan tinggi kurang yakin
karena terlalu  kurang diri dan
mengikuti aturan menghiraukan wawasan
dan norma yang emosi dan sempit.
ada, konservatif. perasaan yang  Emosi bukanlah
 Keinginan dimilikinya suatu yang
70
berprestasi tinggi,  walau S penting bagi
namun tidak merasakan NR.
yakin diri. perasaan-  Rentan
 tidak mampu perasaan negatif, terhadap cemas,
ekspresi emosi cenderung namun selalu
dengan baik, meredam dan dihindari
cenderung melupakannya sumber
meredam segala  S memiliki kecemasan.
emosi khususnya kebutuhan yang  Minat sosial
emosi negatif cukup besar akan rendah, tidak
 Minat sosial kehadiran orang percaya orang
cenderung baik, lain dan minat lain, skeptis,
hangat, dan sosialnya cukup sinis, dingin,
ramah. Sangat baik. dan tidak
butuh kehadiran  S memiliki ramah.
orang sebagai kebutuhan untuk  Dalam bekerja,
sumber dukungan menunjukkan cukup hati-
baginya. kehebatan dirinya hati,teliti,
 Dalam bekerja, pada terencana,
sangat hati-hati, lingkungannya. namun tidak
teliti, sangat  S lebih disiplin.
terencana,patuhi mementingkan
aturan dan dirinya sendiri
prosedur. dan kurang
bersedia
memberikan
bantuannya
 Dalam bekerja,
sangat hati-hati,
teliti, sangat
terencana,
mematuhi aturan
dan prosedur.

Grafis  Dorongan dan  Dorongan yang  Dorongan kuat,


(DAM motivasi lemah, cukup kuat, namun tidak
dan mengabaikan namun kurang terarah dengan
BAUM) keinginannya, mampu baik
terbilang pasrah. mengarahkanny  berfokus pada
 Emosi cenderung a dengan baik hasil daripada
ditutupi dan sehingga tidak proses.
tidak dapat  Motivasi untuk
diekspresikan tersalurkan maju masih
dengan baik.  S kurang kurang dan
 Minat sosial dan mampu terpaku pada
kontak sosial mengeskpresika apa yang
rendah. Ada rasa n emosi dan diketahuinya
inferior membuat perasaan yang saja.
NM ragu-ragu. dimilikinya  Emosi kurang
 Kemampuan walau matang dan
intelektual sebenarnya S kurang mampu
diasumsikan di membutuhkan mengekspresika
bawah rata-rata. perhatian dari n emosinya
orang lain. dengan baik.
 Emosi kurang  Minat sosial
71
stabil kurang baik,
 Dalam hanya ingin
membina relasi mendapatkan
sosial, S lebih afeksi dari
hati-hati dan lingkungan
cenderung tanpa mau
memilih. Ada memberikan
perasaan curiga afeksi.
akan  Kemampuan
lingkungan intelektual
sekitar sehingga diasumsikan
menunjukkan rata-rata, tapi
sikap agresi ingin
ketika menunjukkan
melakukan lebih.
kontak sosial.
 Kemampuan
intelektual
diasumsikan
rata-rata.

Rancangan Intervensi dengan program yang berbasis teknik


Berdasarkan hasil penelitian terapeutik, baik dalam bentuk
yang telah dilakukan, maka terlihat konseling atau intervensi yang
bahwa kecerdasan emosional disesuaikan dengan kebutuhan
memegang peranan penting terhadap masing-masing, agar aspek
profesi pelayanan kesehatan seperti kecerdasan emosional yang masih
halnya seorang bidan. Hasil belum kuat dapat terasah lebih baik.
penelitian juga menunjukkan bahwa Oleh karena itu, peneliti menyusun
kecerdasan emosional ketiga sebuah intervensi bersifat
partisipan masih harus ditingkatkan psikoedukasi dengan tema
guna memaksimalkan performanya “kecerdasan emosional” yang akan
sebagai bidan dan juga untuk diberikan secara individual dalam
mendapatkan kesejahteraan emosi bentuk konseling. Konseling
dalam menjalani kehidupan sehari- diberikan untuk menggali masalah
hari. Menurut Bar-On (2004) atau hambatan yang dirasakan oleh
emotional intelligence seseorang partisipan. Selanjutnya, dalam proses
akan berkembang dan berubah intervensi peneliti akan disebut
selama masa kehidupan, serta dapat sebagai konselor. Kegiatan intervensi
ditingkatkan melalui pelatihan atau ini bersifat sangat fleksibel dan
72
bergantung pada keadaan partisipan partisipan diizinkan untuk
yang akan mengikuti kegiatan. Setiap melanjutkan proses kegiatan secara
sesi dapat disesuaikan dengan mandiri. Hal ini mengingat bahwa
kebutuhan pengembangan partisipan. kecerdasan emosional bersifat
Jika partisipan memiliki hambatan personal sehingga lebih baik
atau kelemahan pada beberapa aspek dilakukan secara mandiri agar hasil
kecerdasan emosional, maka yang dicapai lebih maksimal. Pada
konselor disarankan untuk saat partisipan selesai, maka konselor
menambah kegiatan atau sebaiknya melakukan sesi pertemuan
memperpanjang waktu kegiatan pada untuk membahas seluruh rangkaian
aspek tersebut sebelum berlanjut proses kegiatan dan mengajak
pada sesi berikutnya. Kegiatan ini partisipan untuk membuat sebuah
hendaknya diberikan secara bertahap kesepakatan atau kontrak yang
agar memudahkan partisipan. menyatakan kesediaan partisipan
Intervensi ini terdiri dari untuk tetap mengaplikasikan
tujuh sesi yang saling berkaitan yaitu kegiatan-kegiatan yang telah
untuk meningkatkan kecerdasan dilakukan sehingga pengembangan
emosional partisipan. Pada empat kecerdasan emosional ini dapat
sesi pertama, kegiatan ini dilakukan mencapai hasil yang lebih baik.
dengan cara melakukan konseling
dimana konselor akan sangat Pembahasan
berperan dalam membimbing Berdasarkan hasil tes EQ-i
partisipan untuk dapat melalui sesi maka ketiga partisipan mendapatkan
berikutnya. Pada tiga sesi berikutnya, skor EQ yang tinggi. Menurut Bar-
jika konselor melihat partisipan telah on (2004), kecerdasan emosional
memiliki insight mengenai tidak hanya sadar terhadap emosi dan
kecerdasan emosional, sepakat untuk perasaan serta menggunakan
melakukan kegiatan yang diberikan, informasi tersebut dalam kehidupan,
dan memiliki komitmen yang cukup namun juga termasuk di dalamnya
(terlihat dari tugas rumah yang komponen-komponen tambahan
diberikan pada tiga sesi awal) maka yang tidak kalah penting untuk
73
menentukan keberhasilan seseorang disebutkan bahwa kecerdasan
ketika menghadapi tuntutan emosional merupakan faktor penting
lingkungan. Dengan begitu, hasil tes dalam kesehatan mental seseorang
EQ-i yang tinggi tersebut dan pekerja profesional dalam
menunjukkan bahwa ketiga bidang pelayanan kesehatan.
partisipan memiliki kecerdasan Kecerdasan emosional yang buruk
emosional yang baik termasuk sadar dapat menimbulkan gangguan
akan keadaan emosinya dan juga psikologis seperti depresi, adiksi, dan
memiliki kemampuan atau bekal gagal dalam membangun karir.
untuk menghadapi tuntutan Skor tes EQ-i yang tinggi
lingkungan yang ada. Namun, kemungkinan besar dikarenakan
gambaran tersebut tidak sesuai kecenderungan partisipan untuk
dengan hasil wawancara yang menjawab pernyataan dalam tes EQ-i
dilakukan baik pada ketiga partisipan berdasarkan apa yang seharusnya
ataupun pada orang terdekat atau apa yang menjadi tuntutan
partisipan. Hasil wawancara dalam profesi bidan, tidak
menunjukkan bahwa ketiga berdasarkan dengan apa yang
partisipan terlihat memiliki sebenarnya terjadi dalam diri
kecerdasan emosional yang kurang partisipan. Partisipan menjadi terarah
baik, hal ini juga terlihat dari hasil untuk menampilkan suatu gambaran
observasi yang dilakukan oleh diri yang dianggap baik, terlihat dari
peneliti. Selain itu, hasil wawancara partisipan NR yang memiliki skor
dengan orang terdekat juga positive impression yang terlampau
mempertegas gambaran ini dan tinggi. Hal ini berarti bahwa hasil tes
menunjukkan dampak dari EQ-i menunjukkan bahwa para
kecerdasan emosional ketiga partisipan memahami konsep-konsep
partisipan yang kurang baik ini, kecerdasan emosional secara
dalam kehidupan sehari-hari atau kognitif, namun partisipan tidak
pun dalam profesinya sebagai bidan. mengaplikasikan atau
Sejalan dengan penelitian Lolaty, mengimplementasikan konsep
Abdulhakim, dan Jabbar (2014) tersebut ke dalam kehidupan sehari-
74
hari atau pun dalam tugasnya sebagai tuntutan lingkungan serta serupa
seorang bidan. Keadaan inilah yang dengan sekumpulan trait
menimbulkan adanya perbedaan kepribadian. Hasil penelitian
yang signifikan antara hasil tes EQ-i menunjukkan bahwa hasil tes EQ-i
dengan hasil wawancara atau pun ketiga partisipan tidak sejalan
observasi yang dilakukan oleh dengan tipe kepribadian partisipan.
peneliti. Dari hasil tes menunjukkan bahwa
Menurut Bar-On (2004) ketiga partisipan memiliki
kecerdasan emosional akan terus kecerdasan emosional yang baik,
berkembang seiring berjalannya usia namun hasil pemeriksaan
dan pengalaman atau pembelajaran kepribadian menunjukkan bahwa
yang dilakukan individu semasa ketiga partisipan memiliki masalah
hidupnya. Namun, hasil penelitian pada aspek emosi dan sosial. Hasil
menunjukkan hasil yang tidak sesuai penelitian ini juga menunjukkan
dengan pernyataan Bar-On. Usia dan bahwa, tes EQ-i hanya menunjukkan
pengalaman kerja pada ketiga gambaran pemahaman partisipan
partisipan tidak mempengaruhi pada tataran kognitif dan
tingkat kemampuan kecerdasan pengetahuan saja, sehingga terdapat
emosional para partisipan. Hal ini perbedaan pada hasil wawancara dan
terlihat dari partisipan NM yang observasi. Hal ini terlihat dari
berusia 60 tahun dan telah karakteristik tipe kepribadian para
melakukan praktik bidan selama 40 partisipan yang lebih menonjol
tahun menunjukkan skor EQ-i yang dibandingkan dengan aplikasi
paling rendah dibandingkan kedua pemahaman konsep kecerdasan
partisipan lainnya. Bar-On (2004) emosional yang baik tersebut. Tipe
mengkonsepkan kecerdasan kepribadian yang menonjol seperti
emosional sebagai suatu sekumpulan emosi partisipan yang kurang stabil
kemampuan, kompetensi, dan atau aspek extraversion yang
keterampilan non-kognitif yang terbilang rendah sehingga
dapat menentukan keberhasilan menghambat relasi sosial para
seseroang dalam menghadapi
75
partisipan dimana sangat dibutuhkan meningkatkan kedua aspek tersebut.
oleh seorang bidan. Ketiga partisipan terlihat tidak
memiliki masalah pada aspek
SIMPULAN DAN SARAN general mood. Usia dan masa praktik
Simpulan kerja sebagai bidan tidak memiliki
Kecerdasan emosional pengaruh terhadap kecerdasan
Berdasarkan hasil penelitian emosional yang dimiliki oleh
maka terlihat bahwa kecerdasan seorang bidan.
emosional memiliki peranan penting
dalam profesi sebagai bidan, Aspek kepribadian
khususnya pada ketiga partisipan. Hasil pemeriksaan
Meski hasil tes menunjukkan skor kepribadian dengan alat ukur NEO
kecerdasan emosional yang baik, PI-R menunjukkan bahwa ketiga
namun setelah dilakukan validasi partisipan memiliki trait yang
kualitatif melalui wawancara dan hampir serupa. Ketiga partisipan
observasi, tidak seluruh subtes memiliki aspek kepribadian
teraplikasikan dengan baik dalam neuroticism yang rendah, NM dan
kehidupan ketiga partisipan sehari- NR memiliki aspek extraversion
hari. Hal ini terlihat berpengaruh dalam kategori rata-rata sedangkan S
pada profesinya sebagai bidan yang termasuk ke dalam kategori tinggi,
tidak maksimal atau pun dalam aspek openness to experience yang
kehidupan sehari-hari menjadi rendah bagi NM dan NR serta
kurang bahagia. Ketiga partisipan kategori rata-rata bagi S, aspek
terlihat memiliki kemampuan agreeableness yang berada di
intrapersonal dan interpersonal yang kategori rata-rata, serta aspek
kurang baik, di mana kedua aspek ini concientousness yang tinggi pada
dirasa cukup penting dalam praktik NM dan NR serta sangat tinggi bagi
kerja sebagai bidan. Aspek S.
adaptability dan stress-management Aspek emosi dan relasi sosial
terlihat cukup dimiliki oleh NM dan merupakan area masalah pada ketiga
S, namun bagi NR terlihat juga harus partisipan. Ketiga partisipan melihat
76
emosi dan perasaan bukanlah sebagai hati-hati, penuh perencanaan, dan
suatu hal yang penting. Emosi selalu mengikuti aturan dan prosedur
ketiganya terbilang kurang stabil. yang ada. Hal ini ditunjang dengan
Ketiganya kurang memiliki profesinya sebagai bidan yang
kemampuan untuk mengekspresikan menuntut ketelitian dan konsentrasi
emosinya dengan baik. Hal ini juga yang penuh ketika menghadapi
berpengaruh pada relasi sosial yang pasien, khususnya dalam hal
dimiliki cenderung tidak mendalam. persalinan.
Ekspresi emosi ini diasumsikan
dipengaruhi oleh adanya tuntutan Saran
pekerjaan sebagai pelayan kesehatan Peneliti menyadari bahwa
yang mengharuskan seorang bidan masih terdapat beberapa kekurangan
selalu menampilkan emosi tertentu yang perlu diperbaiki dalam
ketika bekerja walaupun penelitian ini agar mencapai hasil
bertentangan dengan perasaan yang lebih baik. Jumlah partisipan
sebenarnya. NM terlalu memendam yang digunakan dalam penelitian ini
emosi dan perasaannya baik ketika masih terbatas, jika jumlah partisipan
menghadapi pasien atau pun dalam dapat ditambahkan pada penelitian
kehidupan sehari-harinya, sedangkan selanjutnya, maka akan
S cenderung mengekspresikan menambahkan informasi dan
perasaannya apa adanya tanpa menghasilkan analisis yang lebih
menghiraukan lingkungan sekitar kaya mengenai peran kecerdasan
sehingga seringkali terlibat konflik emosional dan gambaran kepribadian
bahkan dengan pasien sekali pun. pada bidan praktik mandiri. Peneliti
NR tidak begitu menghiraukan juga menyadari bahwa masih
perasaannya dan lebih memilih untuk terdapat beberapa aspek yang
menghindari situasi-situasi yang mempengaruhi kecerdasan
menimbulkan emosi negatif, begitu emosional pada bidan praktik
juga ketika bekerja sebagai bidan. mandiri, seperti tingkat inteligensi,
Dalam bekerja, ketiga partisipan urutan kelahiran, atau tingkat sosial
memiliki cara kerja yang sama, yaitu ekonomi partisipan. Maka
77
disarankan pada penelitian agar dapat melihat partisipan ketika
selanjutnya untuk lebih menggali sedang praktik dan berhadapan
mengenai aspek-aspek tersebut agar dengan pasien. Bagi lembaga
mendapatkan hasil yang lebih kaya. pendidikan diharapkan untuk
Dari hasil penelitian menunjukkan memberikan pembekalan mengenai
bahwa tes EQ-i milik Bar-On dirasa kecerdasan emosional pada calon
kurang mampu menggambarkan bidan sebagai bekal dalam
mengenai kecerdasan emosional menghadapi tuntutan pekerjaan yang
partisipan yang berada di Indonesia. berat saat bekerja kelak. Bagi Ikatan
Hal ini dikarenakan item-item pada Bidan Indonesia (IBI) dan instansi
tes tersebut terlihat lebih mengukur kesehatan yang mempekerjakan
pemahaman partisipan mengenai seorang bidan diharapkan untuk
konsep kecerdasan emosional memberikan informasi, seminar,
sehingga mengarahkan partisipan pelatihan, atau konseling mengenai
untuk menjawab pada jawaban yang kecerdasan emosional terhadap para
diharapkan atau pun yang seharusnya bidan. Hal ini bertujuan agar para
bukanlah pada apa yang sebenarnya bidan tidak hanya paham akan
terjadi. Berdasarkan hal tersebut, konsep kecerdasan emosional,
peneliti menyarankan agar dalam namun juga memiliki kemampuan
penelitian berikutnya dapat untuk mengaplikasikan atau
ditambahkan serta dibandingkan mengimplementasikan dalam
dengan instrumen kecerdasan pekerjaannya.
emosional lainnya.
Adapun saran praktis dalam DAFTAR PUSTAKA
penelitian ini meliputi: Anne. (2003). Emotional intelligence
Peneliti dan partisipan in nursing work. United
diharapkan memiliki waktu yang Kingdom. Diunduh pada
lebih lama agar dapat menggali tanggal 2 September 2013 dari
informasi yang lebih dalam. Selain http://pure.qub.ac.uk/portal/file
itu, peneliti mengharapkan dapat s/811670/EBM057%20to_auth
melakukan observasi secara langsung or.pdf
78
Bar-On, Reveun. (2004). Bar-On 7%252Fs11920-007-0034-
emotional quotient inventory: 6.pdf?auth66=1401963576_0f5
A measure of emotional 2e1193318bacbef557cf980614
intelligence. Multi-Health 3a1&ext=.pdf
System Inc. Kanada Direktorat Bina Kesehatan Anak.
Bordbar, M. Faridhosseini, F. (2010). (2012). Upaya percepatan
Psychoeducation for bipolar penuruan angka kematian ibu
mood Disorder: Clinical, dan bayi di Indonesia. Jakarta:
research, treatment Kementerian Kesehatan
approaches to affective Republik Indonesia. Diunduh
disorders. Diunduh pada pada tanggal 04 Desember
tanggal 10 Mei 2014 dari 2012 dari
http://cdn.intechopen.com/pdfs http://www.kesehatananak.dep
-wm/30156.pdf kes.go.id/index.php?option=co
Cherniss, C. (2000). Emotional m_content&view=article&id=8
intelligence: What is it and 2:upaya-percepatan-
why it is matters. Diunduh penurunan-angka-kematian-
pada tanggal 06 November ibu-dan-bayi-baru-lahir-di-
2013 dari indonesia&catid=35:berita&Ite
www.eiconsortium.org/researc mid=73
h/whatisem.tn.pdf Erozkan, A. (2013). Assessment of
Cuijpers & Schuurman. (2007). Self- social problem solving with
help interventions for anxiety respect to emotional
disorders: An overview. intelligence. Turki: Mugla Sıtkı
Amsterdam: Department of Kocman University, Faculty of
Clinical Psychology, Vrije Education. Diunduh pada
Universiteit Amsterdam. tanggal 15 Mei 2014 dari
Diunduh pada tanggal 10 Mei http://www.tojce.com/july2013
2014 dari /Erozkan,%2016-32.pdf
http://download.springer.com/s Faiq, M. H. (2012). UNICEF:
tatic/pdf/960/art%253A10.100 Kematian ibu dan anak
79
Indonesia masih tinggi. Midwifery Research, March-
Jakarta: Kompas. Diunduh April.Vol. 19. Diunduh pada
pada tanggal 3 Desember 2012 tanggal 2 November 2013 dari
dari http://www.ncbi.nlm.nih.gov/p
http://health.kompas.com/read/ mc/articles/PMC4020032/
2012/06/14/1729404/UNICEF. Lukens, E P & McFarlane, W. R.
Kematian.Ibu.dan.Anak.Indone (2004). Psychoeducation as
sia.Masih.Tinggi evidence-based practice:
Goleman. (2004). Emotional Consideration for practice,
intelligence. London: research, and policy. Oxford
Bloomsburg Publishing. University Press. Diunduh
Hunter, B. (2005). Building our pada tanggal 10 Mei 2014 dari
knowledge about emotion work http://btci.edina.clockss.org/cgi
in midwifery: Combining and /reprint/4/3/205.pdf
comparing findings from two Omidiri.et.al. (2012). Personality
different research. United type and emotional intelligence
Kingdom: Diunduh pada as predictors of academic
tanggan 02 September 2013 achievement in student at
dari Kashan University of Medical
http://www.rcm.org.uk/Easysit Science. Iran: Kashan
eWeb/getresource.axd?AssetID University of Medical Science.
=51785 Diunduh pada tanggal 1 April
Kumar, R. (1999). Research 2014
methodology: A step by step Oncel, S., Zeynep, C. O., & Efe, E.
guide for beginners. London: (2007). Work-related stress,
SAGE Publication Ltd. burnout and job satisfaction in
Lolaty, dkk. (2014). Emotional Turkish midwives. Diunduh
intelligence and related factors pada tanggal 07 Desember
in medical science students of 2012 dari
an Iranian university. Iran : http://search.proquest.com/doc
Iranian Journal of Nursing and view/209910028/13ADBAA0E
80
DB3D42BF2D/2?accountid=4 Santrock, J. W. (2004). Life-span
8149 development. New York:
Patton, M. Q. (1990). Qualitative McGraw-Hill,Inc.
evaluation and research Singh, A. P. & Pathardikan, A. D.
methods (2nd ed). California: (2010). Effect of personality
Sage. traits and emotional
Periksa kehamilan ke dokter atau intelligence on leadership
bidan?. (2012). Diunduh pada effectiveness. India:
tanggal 5 Desember 2012 dari Department of Applied
http://radarlampung.co.id/read/ Psychology VBS, Punvanchal
bandarlampung/metropolis/498 University Jaunpur. Diunduh
09-periksa-kehamilan-ke- pada tanggal 1 April 2014 dari
dokter-atau-bidan http://www.inflibnet.ac.in/ojs/i
Patterson, D. & Begley.A.M. (2011). ndex.php/MC/article/viewFile/
An exploration of the 583/552
importance of emotional Stock, J. (1994). Continuity of care
intelligence in midwifery: in maternity services: The
Evidence based midwifery. implications for midwives.
Diunduh pada tanggal 2 United Kingdom: Health Manpower
September 2013 dari Management. Diunduh pada
http://pure.qub.ac.uk/portal/file tanggal 7 Desember 2012 dari
s/811670/EBM057%20to_auth http://search.proquest.com/doc
or.pdf view/206620542/13ADBBE32
Ritonga, R. S.. (2006). Hubungan F73433DBE4/5?accountid=48
antara kecerdasan emosi 149
dengan stres kerja pada bidan Sutherland, V. & Cooper, C. (1990).
di Rumah Sakit Ibu dan Anak Understanding stress. London:
Budi Kemuliaan. Jakarta: Chapman and Hall.
Fakultas Psikologi UNIKA Tafazoli.et.al. (2012). Relationship
Atma Jaya. Skripsi. Tidak between Emotional Intelligence
Diterbitkan. and Clinical Performance of
81
Students. Iran: Department of
Midwifery Faculty of Nursing
and Midwifery. Diunduh pada
tanggal 01 Mei 2014 dari
http://fmej.mums.ac.ir/article_
420_0.html
WHO. (2009). Nursing and
midwifery human resources for
health: Global standards for
initial education of
professional nurses and
midwives. Department of
Human Resources and Health.
Geneva. Diunduh pada tanggal
29 November 2012 dari
http://www.who.int/hrh/nursin
g_midwifery/hrh_global_stand
ards_education.pdf

82