Anda di halaman 1dari 11

PEJABAT NEGARA KORUPSI TETAP DI PERLAKUKAN KHUSUS

DALAM MASA HUKUMAN

MAKALAH

Diajukan untuk memenuhi tugas Pendidikan Pancasila yang diampu

oleh Dra. Siti Mutmainah, M. Pd.

Oleh :

Anisa Kurnia Sari

18030234017

Kimia – B 2018

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN KIMIA

PRODI S1 KIMIA

2018

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan
karunia-Nya, sehingga makalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan
Pancasila ini dapat terselesaikan dengan baik tanpa suatu rintangan apapun.

Makalah Pendidikan Pancasila yang berjudul “Pejabat Negara Korupsi


Tetap Di Perlakukan Khusus Dalam Masa Hukuman“ ini kami susun sebagai
penyusun nilai UTS pada mata kuliah Pendidikan Pancasila dan juga memberikan
wawasan dan pemaham yang lebih tentang Etika Politik yang baik dan benar.

Sebagai penulis saya menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak


yang telah mendukung kelancaran dan terciptanya makalah ini.

Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kesalahan dan jauh dari
kata sempurna, oleh karena itu kritik dan saran sangat kami butuhkan untuk
menyempurnakan makalah ini dimasa yang akan datang. Atas kurang lebihnya
kami mengucapkan terima kasih.

Surabaya, 13 Oktober 2018

Penulis

ii
DAFTAR ISI

Halaman Cover ................................................................................................ i

Kata Pengantar ................................................................................................ ii

Daftar Isi ......................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ............................................................................1


1.2 Tumusan Masalah ........................................................................1
1.3 Tujuan ......................................................................................... 1

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan ...............................................................................1


2.2 Pengertian Etika ...........................................................................1
2.3 Pengertian Etika Politik ............................................................... 2
2.4 Solusi Permasalahan ....................................................................3
2.5 Solusi Berdasarkan Pendapat Pribadi ...........................................5

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan ................................................................................. 7


3.2 Saran ........................................................................................... 7

Daftar Pustaka ................................................................................................. iv

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Etika dalam kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya jauh dari nilai-
nilai moral dan kesatuan sosial. Tindakan-tindakan tidak etis dicerminkan
dalam praktik keseharian, misalnya; korupsi, tindakan main hakim sendiri,
tawuran pelajar, kejahatan, budaya kekerasan, bulliying dan penyimpangan
soisal lainnya.
Etika sebenarnya berada dalam dimensi yang berperan untuk mengatur
kesantunan sosial masyarakat dalam bertindak dan perperilaku. Kesadaran
untuk saling menghargai perbedaan adalah penciri negara Indonesia yang
sejak di proklamirkan pada tahun 1945 memang memiliki keberagaman adat,
budaya, agama, suku dan bahasa.
Pancasila sebagai sistem etika di samping merupakan way of life bangsa
Indonesia, juga merupakan struktur pemikiran yang disusun untuk
memberikan tuntunan atau panduan kepada setiap warga Negara Indonesia
dalam bersikap dan bertingkah laku. Pancasila sebagai sistem etika,
dimaksudkan untuk mengembangkan dimensi moralitas dalam diri setiap
individu sehingga memiliki kemampuan menampilkan sikap spiritualitas
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Bagaimana solusi terhadap pejabat Negara yang korupsi tetapi di
perlakukan khusus dalam masa hukuman?

1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk menganalisis solusi terhadap pejabat Negara yang korupsi tetapi
di perlakukan khusus dalam masa tahanan

1
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Permasalahan

“ Sel Mewah Setya Novanto di Lapas Sukamiskin Diminta Segera


Dihapus ”

Berita tersebut saya ambil dari internet pada tanggal 13 Oktober 2018 pukul
20.08 dengan link (https://www.liputan6.com/news/read/3649411/sel-mewah-
setya-novanto-di-lapas-sukamiskin-diminta-segera-dihapus)

2.2 Pengertian Etika


2.2.1 Secara etimologi “etika” berasal dari bahasa Yunani, yaitu”ethos” yang
berarti watak, adat ataupun kesusilaan. Jadi etika pada dasarnya dapat
diartikan sebagai suatu kesediaan jiwa seseorang untuk senantiasa patuh
kepada seperangkat aturan-aturan kesusilaan.
2.2.2 Secara filsafat, etika membahas tentang tingkah laku manusia dipandang
dari segi baik dan buruk. Etika lebih banyak bersangkut dengan prinsip-
prinsip dasar pembenaran dalam hubungan dengan tingkah laku
(Kattsoff, 1986).
2.2.3 Suseno (2001) mendefinisikan etika sebagai ilmu atau refleksi sistematik
berkaitan dengan pendapat-pendapat, norma-norma, dan istilah-istilah
moral.
2.2.4 Menurut Aristoteles, etika adalah ilmu tentang tindakan tepat dalam
bidang khas manusia. Objek etika adalah alam yang berubah terutama
alam manusia, oleh karena itu etika bukan merupakan episteme atau
bukan ilmu pengetahuan. Pendapat ini bertentangan dengan Franz yang
menganggap bahwa etika merupakan ilmu yang sistematis.
2.2.5 Menurut Sumaryono (1995) etika berkembang menjadi studi tentang
manusia berdasarkan kesepakatan menjadi studi tentang menusia
berdasarkan kesepakatan menurut ruang dan waktu yang berbeda, yang

2
menggambarkan perangai manusia dalam kehidupan manusia pada
umumnya.

2.3 Pengertian Etika Politik


Menurut Aritoteles dalam Nichomachean Ethics, politik adalah sesuatu
yang indah dan terhormat. Sedangkan menurut Plato dalam bukunya,
Republic, politik itu agung dan mulia, yakni sebagai wahana membangun
masyarakat utama.
Etika politik adalah nilai-nilai azas moral yang disepakati bersama baik
pemerintah dan atau masyarakat untuk dijalankan dalam proses pembagian
kekuasaan dan pelakasanaan keputusan yang mengikat untuk kebaikan
bersama. Etika politik tetap meletakkan dasar fundamental manusia sebagai
manusia. Dasar ini lebih meneguhkan akar etika politik bahwa kebaikan
senantiasa didasarkan kepada hakikat manusia sebagai makhluk yang beradab
dan berbudaya (Kaelan, 2002).
Etika politik adalah filsafat moral tentang dimensi politik
mempertanyakannya tanggung jawab dan kewajiban manusia sebagai manusia
dan sebagai warga Negara terhadap Negara, hukum dan sebagainya (Suseno,
1988). Tujuan etika politik adalah membantu agar pembahasan masalah-
masalah idiologis dapat dijalankan secara obyektif. Hukum dan kekuasaan
Negara merupakan pembahasan utama etika politik.

2.4 Solusi Permasalahan


Haryatmoko (2003), seorang pakar etika mengakatan bahwa etika politik
adalah nonsens. Menurutnya, politik dibangun bukan dari yang ideal, tidak
tunduk pada apa yang semestinya. Yang ada adalah tujuan menghalalkan
segala cara. Mengamati fenomena politik nasional dewasa ini, Haryatmoko
menilai bahwa kini sulit untuk mencari politikus jujur, santun dan memiliki
integritas moral yang tinggi. Dan hingga kini, hampir tidak pernah muncul
politikus yang benar-benar menjalankan praksis etika politik yang
mencerminkan negarawan yang memiliki keutamaan-keutamaan moral. Telah
menjadi binalisasi (menjadikan biasa) praktik korupsi dan masyarakat permisif

3
atas korupsi. Dalam pernyataannya yang boombastis dinytakan bahwa
‘korupsi terjadi mulai dari istana hingga kelurahan, sejak orang lahir sampai
mati, dari tempat ibadah hingga ke toilet’ dan pelaku korupsi di Indonesia
tidak pernah merasa bersalah. Itu disebabkan, pertama, karena korupsi sudah
menjadi kebiasaan. Kedua, tiadanya sanksi hukum atau pelaku yang mudah
dijerat hukum, ketiga, korban korupsi tidak berwajah dan keempat,
mekanisme silih berganti atas kejahatan.
Sejauh ini nilai-nilai ideal pancasila belum sepenuhnya dibumikan dalam
kenyataan terutama karena krisis keteladanan para penyelanggara Negara.
Tiap warga berlomba menghianati bangsa dan sesamaanya, rasa saling
percaya memudar, hukum dan institusi lumpuh sehingga tidak mampu
meredam penyalahgunaan kekuasaan, ketamakan dan hasrat meraih
kehormatan merajalela, kebaikan dimusuhi dan kejahatan diagungkan. Untuk
itu perlu kitanya membumikan nilai etika Pancasila sebagai pantulan cita-cita
dan kehendak bersama yang mengharuskan pancasila hidup dalam realita,
tidak hanya jadi retorika atau verbalisme dipentas politik.

Langkah-langkah yang dilakukan untuk menanggulangi korupsi sebagai


berikut :

1. Merestrukturisasi organisasi di berbagai sektor pemerintahan sehingga


bisa memudahkan dalam pengawasan/kontrol terhadap kinerja aparat
pemerintahan.
2. Meningkatkan kesejahteraan pegawai sehingga bisa mengurangi
dorongan untuk melakukan korupsi
3. Penegakan hukum secara tegas dengan menerapkan peraturan
perundang-undangan yang mengatur tentang korupsi, kolusi, dan
nepotisme. Selain itu, pemberian sanksi pidana maupun sanksi sosial
yang bisa memberikan efek jera sekaligus bisa memberikan peringatan
bagi aparatur negara lainnya agar tidak melakukan korupsi.
4. Meningkatkan kesadaran seluruh elemen bangsa untuk turut
berpartisipasi dalam melakukan kontrol sosial serta pengawasan kinerja

4
pemegang kekuasaan publik serta memaksimalkan fungsi media massa
sebagai agen untuk mengontrol kinerja pemerintahan.
5. Menciptakan pemerintahan yang bersih, jujur, dan terbuka.
6. Hal ini bisa dimulai dengan perekrutan pegawai baru berdasarkan
keahlian dan menghapus jalur-jalur ilegal (suap dan nepotisme) sehingga
kedepan organisasi kepemerintahan bisa lebih baik.
7. Pencatatan kekayaan aparatur negara secara berkala sehingga bisa
diketahui apabila ada aparatur negara yang mempunyai kekayaan yang
tidak wajar.
8. Menanamkan rasa nasionalisme sejak dini, serta memberikan pendidikan
tentang dampak yang ditimbulkan akibat korupsi, kolusi, dan nepotisme,
serta membangun karakter generasi penerus bangsa yang berkarakter
Pancasila.

2.5 Solusi Berdasarkan Pendapat Pribadi


Saat ini banyak sekali petinggi petinggi Negara yang tidak memperhatikan
etika politik dalam mencari kekuasaan. Para petinggi Negara tersebut hanya
memfokuskan pada harta dan tahta. Mereka dapat melakukan segala macam
cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan tanpa memperdulikan
apakah perbuatannya itu benar ataupun salah, seperti contoh kasus yang
menimpa petinggi petinggi Negara sekarang, mereka rata – rata terjerat kasus
korupsi. Korupsi merupakan suatu perbuatan yang dapat dikatakan sebagai
penyimpangan etika politik yang tidak sesuai dengan nilai – nilai yang
terkandung dalam pancasila.
Dalam prinsip – prinsip dasar etika politik sudah jelas terkandung dalam
Pancasila. Dimana Pancasila adalah sumber etika politik yang mesti
direalisasikan. Para pejabat eksekutif, legilslatif maupun yudikatif, pelaksana
aparat dan hukum harus menyadari bahwa selain legitimasi hukum dan
legitimasi demokratis juga harus berdasar pada legitimasi moral yang memang
pembentukan dari nilai – nilai serta dikongkretisasi oleh norma.
Petinggi Negara yang terkait dengan tindakan korupsi seharusnya
diberikan hukuman sesuai dengan UU Tipikor No. 20 Tahun 2001 . Tidak

5
semestinya para petinggi Negara tersebut di perlakukan secara khusus, karena
di dalam UU Tipikor tidak mengkhusukan siapa yang melakukan tindakan.
Tetapi dalam UU tersebut di tujukan kepada ‘semua orang yang melakukan
tindak pidana korupsi’ maka akan dikenakan hukuman. Petinggi Negara
secara tidak langsung merupakan panutan masyarakat jadi mereka harus
memberikan contoh yang baik. Petinggi Negara seharusnya malu akan
perbuatannya sudah menghabiskan uang masyarakat. Tetapi petinggi Negara
menganggap mereka mempunyai banyak uang sehingga mereka dengan
mudah membayar semua yang mereka inginkan sehingga ketika mereka
sedang dalam masa hukuman mereka tetap saja diperlakukan secara khusus.

6
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Etika politik adalah nilai-nilai azas moral yang disepakati bersama baik
pemerintah dan atau masyarakat untuk dijalankan dalam proses pembagian
kekuasaan dan pelakasanaan keputusan yang mengikat untuk kebaikan
bersama. Etika politik tetap meletakkan dasar fundamental manusia sebagai
manusia. Dasar ini lebih meneguhkan akar etika politik bahwa kebaikan
senantiasa didasarkan kepada hakikat manusia sebagai makhluk yang beradab
dan berbudaya (Kaelan, 2002).
Dalam prinsip – prinsip dasar etika politik sudah jelas terkandung dalam
Pancasila. Dimana Pancasila adalah sumber etika politik yang mesti
direalisasikan oleh para pejabat eksekutif, legilslatif maupun yudikatif. Di
dalam Undang – Undang Tipikor No. 20 Tahun 2001 juga disebutkan bahawa
siapapun yang melakukan tindakan korupsi maka akan mendapatkan hukuman
sesuai dengan yang ada dalam undang-undang tersebut

3.2 Saran
Seharusnya penegakan hukum di Indonesia lebih di tingkatkan lagi dan
supaya ditiadakannya suap untuk mendapatkan tempat istimewa dalam masa
hukuman di dalam sell. Setiap orang di Indonesia memiliki kedudukan yang
sama dimata hukum baik pejabat Negara maupun rakyat biasa oleh karena itu
penegakan hukum harus diberlakukan dengan cara yang sama pula.

7
DAFTAR PUSTAKA

Warsono, dkk. 2017. Pendidikan Pancasila. Surabaya: Unesa University Press

Siahaan, Monang. 2014.Perjalanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Penuh


Onak Duri. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Qodar, Nafiysul. 2018. Sel Mewah Setya Novanto di Lapas Sukamiskin Diminta
Segera Dihapus. [online].
(https://deftaaprilda.blogspot.com/2016/10/etika-politik-yang
menyimpang-dari.html, diakses tanggal 13 Oktober 2018)

iv