Anda di halaman 1dari 16

A.

Masalah

Seorang perempuan berusia 25 tahun dibawa ke UGD RS ingin meminta visum et repertum
karena mengaku telah diperkosa oleh bosnya saat akan lembur dikantor. Pada pemeriksaan
fisik dan penunjang didapatkan tanda-tanda persetubuhan.

B. Kalimat kunci

1. Perempuan berusia 25 tahun, meminta visum et repertum.


2. Mengaku Telah diperkosa oleh bosnya.
3. Pada pemeriksaan fisik dan penunjang didapatkan tanda-tanda persetubuhan.

C. Pertanyaan

1. Jelaskan pengertian dari kejahatan seksual ?


2. Jelaskan perbedaan dari persetubuhan dan pemerkosaan ?
3. Jelaskan tanda-tanda persetubuhan ?
4. Bagaimana alur pemeriksaan Visum Et Repertum ?
5. Jelaskan jenis pemeriksaan pada korban pemerkosaan ?
6. Buatkan Visum Et Repertum berdasarkan skenario ?
7. Jelaskan rehabilitasi korban pemerkosaan berdasarkan skenario ?
8. Jelaskan aspek hukum skenario ?

D. JAWABAN

1. Jelaskan pengertian dari kejahatan seksual ?


Kejahatan seksual sebagai salah satu bentuk dari kejahatan yang menyangkut
tubuh, kesehatan dan nyawa manusia. Mempunyai kaitan dengan ilmu forensic sebagai
pembuktian dari kejahatan tersebut. Bisa disimpulkan kejahatan seksual adalah
perilaku pendekatan yang terkait dengan seks yang tidak diinginkan, termasuk
permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya baik secara verbal maupun
fisik merujuk pada seks.(1,3)

1
Akan tetapi ada juga teori yang menjelaskan sebab terjadinya kejahatan seksual yang
berhubungan dengan gender terkait yaitu konsep gender mengacu pada pembedaan posisi
dan peran laki-laki dan perempuan sebagai akibat dari interpretasi atas perbedaan karakter
biologis yang berbeda antara laki-laki dan perempuan. Konsep gender adalah bentukan atau
konstruksi masyarakat, dan dapat berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya.
Ideologi gender sebagai konstruksi sosial menyebabkan dilestarikannya mitos-mitos serta
pembedaan atau diskriminasi terhadap perempuan, Adanya pembedaan antara laki-laki dan
perempuan pada akhirnya menciptakan pola relasi kuasa yang timpang. Relasi kuasa yang
timpang ini menjadi akar dari adanya pemaksaan satu kehendak dari seseorang kepada
orang lain, atau dari sekelompok orang atau institusi kepada kelompok lain.11 Dalam
banyak kasus kekerasan terhadap perempuan, kedudukan dan relasi yang tidak seimbang
antara pelaku dan korban telah menjadi faktor utama penyebab kekerasan terhadap
perempuan. kekerasan itu muncul sebagai akibat dari adanya bayangan tentang peran
identitas berdasarkan jenis kelamin yang dikaitkan dengan bayangan mengenai kekuasaan
yang dapat dimilikinya. Hal ini membantu menjelaskan mengapa kekerasan seringkali
merupakan hasil dari sebuah ketakutan yang dipersepsikan oleh pelaku ketimbang
ketakutan yang sebenarnya. Misalnya: istri yang menjadi korban kekerasan suami hanya
karena suami menganggap istri serong apabila pergi ke kantor. Dengan demikian kekerasan
sebenarnya lebih merupakan alat untuk melakukan kontrol sosial dan secara disadari atau
tidak, memberi dampak yang buruk kepada korban. Kekerasan terdiri dari tindakan
memaksakan kekuatan fisik dan kekuasaan pada pihak lain. Biasanya perilaku kekerasan
diikuti dengan tujuan untuk mengontrol, memperlemah, bahkan menyakiti pihak lain. Hal
yang patut diingat di sini, meski tindak kekerasan dapat menyebabkan implikasi yang
serius bagi kesehatan fisik dan mental, fenomena ini bukanlah hanya sebuah fenomena
medis. Tindak kekerasan juga bukanlah sebuah fenomena kriminal yang berdiri sendiri,
melainkan sebuah fenomena yang melintasi lingkup hukum, etika, dan kesehatan serta
berkaitan erat pula dengan etika moral, budaya, politik, dan juga latar belakang pribadi.(3)

2
2. Jelaskan perbedaan dari persetubuhan dan pemerkosaan ?
Perbedaan dari persetubuhan dan pemerkosaan dapat dilihat dari pasal 285 KUHP
yang berbunyi “barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa
perempuan yang bukan istrinya bersetubuh dengan dia, dihukum, karena memperkosa,
dengan hukuman penjara selama-lamanya dua belas tahun” dan termasuk kedalam
delik biasa, sedangkan persetubuhan tidak diatur secara khusus dalam hukum akan
tetapi persetubuhan hanya memisahkan dengan anak dibawah umur sedangkan untuk
persetubuhan berdasarkan raa saling suka dan belum menikah belum memiliki
hukuman atau pidana dalam peraturan undang-undang di Indonesia. Persetubuhan oleh
kalangan hukum sebagai perpaduan antara 2 kelamin yang berlainan jenis guna
memenuhi kebutuhan biologis yaiut kebutuhan seksual. Persetubuhan yang legal (yang
tidak melanggar hukum) adalah yang dilakukan dengan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1. Wanita tersebut adalah istri sah (sesuai UU Nomor 1/74 tentang perkawinan) ada
izin (consent) dari wanita yang disetubuhi.
2. Wanita tersebut sudah cukup umur, sehat akalnya, tidak sedang dalam keadaan
terikat perkawinan dengan orang lain dan bukan anggota keluarga dekat.
Persetubuhan dikatakan kejahatan apabila masuk kedalam deskripsi pasal 288
KUHP, ialah bila seorang suami melakukan persetubuhan dengan istrinya yang
belum mampu kawin dengan mengakibatkan luka-luka, luka berat atau
mengakibatkan kematian. Sedangkan pemerkosaan adalah tindakan menyetubuhi
seorang wanita yang bukan istrinya dengan kekerasan atau ancaman kekerasan.
Dimana harus memenuhi 2 unsur yaitu :
1. Unsur pelaku :
- Harus seorang laki-laki
- Mampu melakukan persetubuhan

2. Unsur korban :
- harus seorang perempuan
- bukan istri pelaku
3. Unsur perbuatan :
- Persetubuhan denga paksa

3
- Pemaksaan tersebut harus disertai kekerasan fisik atau ancaman
kekerasan.(1,3)

3. Jelaskan tanda-tanda persetubuhan ?

Persetubuhan adalah peristiwa dimana terjadi penetrasi penis kedalam vagina,


penetrasi tersebut dapat lengkap atau tidak lengkap dengan atau tanpa disertai
ejakulasi.

1. Tanda-tanda langsung
a. Robeknya hymen akibat penetrasi penis
Hal ini disebabkankan penetrasi penis yang menekan hymen sehingga
menyebabkan adanya robekan, pada kasus-kasus pemerkosaan robekan ini
selain disebabkan penetrasi penis, juga biasa disebabkan karena adanya
paksaan penetrasi penis sehingga menyebabkan robekan.
b. Lecet atau memar akibat gesekan penis
Lecet dan memar ini sendiri bisa disebabkan karena adanya paksaan penetrasi
penis kedalam alat kelamin wanita secara paksa dan cepat sehingga
menyebabkan lecet atau memar
2. Tanda-tanda tidak langsung
a. Terjadinya kehamilan.
terjadinya kehamilan jelas merupakan tanda adanya persetubuhan, akan tetapi
karena waktu yang dibutuhkan untuk itu cukup lama, dengan demikian “nilai”
bukti ini menjadi kurang oleh karena kemungkinan yang jadi tersangka pelaku
kejahatan menjadi bertambah, hal mana yang mempersulit penyidikan dan
membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dapat mengungkapkan kasus.
b. Terjadinya penularan penyakit kelamin
Penularan penyakit kelamin pada wanita hanya merupakan petunjuk bahwa
wanita itu telah mengalami persetubuhan dengan laki-laki yag telah menderita
penyakit kelamin dan sejenisnya, misalnya sifilis.akan tetapi perlu juga kita
ketahui bahwa kemunculan dari penyakit kelamin bisa juga disebabkan

4
karena kehigienisan atau kebiasaan hidup yang tidak dijaga sehimgga
menyebabkan mudahnya terinfeksi penyakit.(1)

4. Bagaimana alur pemeriksaan Visum Et Repertum ?


Alur dari pemeriksaan visum et repertum bermula dari laporan korban ataupun
keluarga korban baik itu kepolisi, dokter ataupun kedua-duanya. Apabila laporan
tersebut dibawa kedokter maka dokter akan membuat surat keterangan dokter yang
nantinya surat ini akan dibawa kepolisi sebagai permintaan korban untuk polisi agar
dilakukan visum et repertum dengan dasar adanya surat keterangan ataupun
pemeriksaan dokter, setelah itu maka muncullah surat permintaan visum dari
penyidik polisi kepada dokter untuk dibuatkan visum et repertum kepada dokter
yang dimana setelah melakukan pemeriksaan maka dibuatlah surat visum et
repertum oleh dokter yang diberikan surat visum et repertum kepada penyidik polisi
untuk digunakan sebagai alat bukti. Apabila korban melapor kepada polisi maka,
polisi akan membuat surat permintaan visum et repertum kepada dokter, yang
dimana setelah melakukan pemeriksaan maka dibuatlah surat visum et repertum
oleh dokter yang diberikan surat visum et repertum kepada penyidik polisi untuk
digunakan sebagai alat bukti. Jika korban melapor kepolisi dan dokter maka mereka
akan berkoordinasi bersama dan membuat surat visum et repertum yang dimana
setelah melakukan pemeriksaan maka dibuatlah surat visum et repertum oleh dokter
yang diberikan surat visum et repertum kepada penyidik polisi untuk digunakan
sebagai alat bukti. Adapun instansi yang biasanya memiliki hubungan dokter dan
polisi dalam satu institusi adalah rumah sakit dibawah naungan lembaga penegakan
hukum seperti rumah sakit bhayangkara. Perlu juag diketahui bahwa surat visum
dokter tidak akan keluar tanpa adanya permintaan surat visum dari penyidik
walaupun korban, berkeras agar dokter melakukan visum maka dokter akan hanya
membuat resume medis, dan juga surat visum et repertum hanya diberikan kepada
polisi yang bertanggung jawab atas permintaan visum et repertum dan nantinya
akan digunakan sebagai alat bukti dalam peradilan seperti yang diatur dalam pasal
184 tentang alat bukti sah.

5
Bagan alur pemeriksaan visum et repertum(1,2)

6
5. Jelaskan jenis pemeriksaan pada korban pemerkosaan ?
A. Anamnesis
1) Mencari keterangan tentang diri korban :
a. Nama, umur, alamat, dan pekerjaan korban
b. Status perkawinan korban
c. Persetubuhan yang pernah dialami korban sebelum terjadi peristiwa pemerkosaan
ini
d. Tanggal menstruasi terakhir
e. Kehamilan, riwayat persalinan atau keguguran
f. Penyakit dan operasi yang pernah dialami korban
g. Kebiasaan korban terhadap alkohol atau obat-obatan
2) Mencari keterangan tentang peristiwa pemerkosaan
a. Tanggal, jam, dan tempat terjadinya
b. Keadaan korban saat sebelum kejadian
c. Posisi korban pada waktu kejadian
d. Persetubuhan yang dilakukan si pelaku terhadap korban
e. Cara perlawanan korban
f. Hal-hal yang diperbuat korban setelah mengalami pemerkosaan
g. Pelaporan peristiwa pemerkosaan kepada polisi oleh siapa, kapan, di mana, serta
hubungan si peapor dengan korban
B. Pemeriksaan Fisik
1) Pemeriksaan baju korban
a. Ada yang hilang
b. Ada robek-robekan
c. Ada kancing yang hilang
d. Ada bekas tanah, pasir, lumpur, atau bahan lainnya
e. Ada noda darah
f. Ada sperma
2) Pemeriksaan tubuh korban
a. Pemeriksaan tubuh korban secara umum

7
Tanda- tanda kekerasan :
o Daerah di sekitar mulut sewaktu korban dibungkam
o Daerah sekitar leher sewaktu korban dicekik
o Pergelangan tangan, lengan, sewaktu korban disergap
o Payudara sewaktu digigit atau diremas-remas
o Sebelah dalam paha sewaktu korban dipaksa untuk membuka kedua tungkainya
punggung sewaktu korban dipaksa tidur di tanah
b. Pemeriksaan tubuh korban secara khusus
Memeriksa keadaan hymen korban, meliputi :
o Bentuk dan sifat hymen
o Besarnya lubang hymen
o Adanya robek hymen
o Sifat dan lokalisasi robekan hymen
o Ukuran diameter lubang hymen dapat dilalui satu jari kelingking, telunjuk, atau
dua jari dengan mudah atau sukar.
C. Laboratorium
pemeriksaan laboratorium pada korban pemerkosaan bertujuan untuk mengetahui:

1) pemeriksaan adanya sperma,

a) bahan pemeriksaan: cairan vagina,

Metoda:

(1) tanpa pewarnaan: suatu tetes cairan vaginal di taruh pada gelas objek dan
kemudian di tutup, pemeriksaan di baawah mikroskop pembesaran 500 kali. Hasil
yang di harapkan: sperma yang masih bergerak

(2) Dengan pewarnaan: buat sediaan apus dari cairan vagina pada gelas objek,
keringkan di udara, fiksasi dengan api, warnai dengan malachite-green 1% dalam
air, tunggu 10-15 menit,cuci dengan air, warnai dengan Eosin –yellowish 1%
dalam air, tunggu 1 menit,cuci dengan air, keringkan dan periksa di bawah
mikroskop.

8
(3) Hasil yang di harapkan: bagian basis kepala sperma berwarna ungu,bagian hidung
merah muda.

b) Bahan pemeriksaan: pakaian,

Metoda:

(1) Pakaiaan yang mengandung bercak di ambil sedikit pada bagian tengahnya
(konsentrasi sperma terutama di bagian tengah)
(2) Warnai dengan pewarnaan BAEECHI selama 2 menit,
(3) Cuci dengan HCL 1%
(4) Dehidrasi dengan alkohol 70% , 80% dan alkohol absolut,
(5) Bersihkan dengan Xylol
(6) Keringkan dan letakan pada kertas saring ,
(7) Dengan jarum, pakaian yang megandung bercak di ambil dengan benangnya 1-2
helai, kemudian di urai sampai menjadi serabut-serabut pada gelas objek,
(8) Teteskan canada balsem, di tutup dengan gelas penutup lihat di bawah mikroskop
dengan pembesaran 500 kali.
(9) Hasil yang di harapkan: Kepala sperma berwarna merah, bagiian ekor biru muda ,
kepala sperma tampak menempel pada serabut-serabut benang.
Pembuatan pewarna BAEECHI:
a. Acid-fuchin 1% (1 tetes atau 1 ML)
b. Methylene-blue 1% (1 tetes atau 1 ML)
c. HCL 1% (40 tetes atau 40 ML)

2) Pemeriksaan adanya cairan semen (air mani)

a) Bahan pemeriksaan: Cairan vagina.

Metoda:

(a) Cairan vaginal di taruh pada kertas Whatman


(b) Semprot dengan reagensia

9
(c) Perhatikan warna ungu yang timbul dan catat dalam berpa detik warna ungu
tersebut timbul.
(d) Hasil yang di harapkan: Warna ungu timbul dalam waktu kurang dari 30 detik,
berarti asam fosfatase berasal dari prostat ,berarti indikasi besar;warna ungu
timbul kurang dari 65 detik, indikasi sedang.(1,2,3)

10
6. Buatkan Visum Et Repertum berdasarkan skenario ?

KOP SURAT INSTITUSI

Kendari, 16 Oktober 2018


PRO JUSTITIA
VISUM ET REPERTUM
No :……………………….

Yang bertandatangan di bawah ini, Dedi Afandi dokter spesialis forensik pada Bagian Ilmu
Kedokteran Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo, atas
permintaan dari kepolisian sektor Lepo-lepo dengan suratnya No. Pol :
R/12/VER/VI/2011/Reskrim tertanggal lima belas Oktober dua ribu delapan belas maka dengan
ini menerangkan bahwa pada tanggal lima belas Oktober dua ribu delapan belas pukul sepuluh
lewat sepuluh menit Waktu Indonesia Bagian Tengah, bertempat di Bagian Ilmu Kedokteran
Forensik dan Medikolegal Fakultas Kedokteran Universitas Halu Oleo telah melakukan
pemeriksaan korban dengan nomor registrasi 123456 yang menurut surat tersebut adalah :

Nama : Nn. X. -------------------------------------------------------------


Umur : 25 tahun. ---------------------------------------------------------
Jenis Kelamin : perempuan. -----------------------------------------------------
Warga negara : Indonesia. -------------------------------------------------------
Pekerjaan : pegawai kantoran ----------------------------------------------------------------
Agama : Islam/Kristen/Hindu/Budha
Alamat : Jl. Forensik gang Medikolegal no. 37, Kendari.

HASIL PEMERIKSAAN :
1. Korban datang dalam kesadaran baik, dengan keadaan umum tampak sakit sedang, emosi
tenang, sikap selama pemeriksaan sangat membantu.

11
2. Penampilan bersih, pakaian rapi, tanpa robekan, tanpa kancing terputus.-
3. Korban mengaku disetubuhi oleh bosnya saat lembur di kantor
4. Riwayat haid: teratur. Hari pertama haid terakhir:.....
5 . Pada tubuh korban ditemukan luka-luka (tanda- tanda kekerasan) : Tidak ditemukan luka pada
bagian tubuh lain.
7. Pada pemeriksaan Alat kelamin :
a. Bagian luar : ..........(misalnya : memar atau lecet)
b. Selaput dara : terdapat robekan selaput dara (arah jam... , warnanya....)
d. Mulut leher rahim : ........................

8. Pemeriksaan laboratorium : .........................(plano test +/-)

9. Benda bukti yang diserahkan kepada polisi : ................

KESIMPULAN

Pada pemeriksaan korban perempuan yang menurut keterangan penyidik berusia dua puluh lima
tahun, pada selaput dara ditemukan robekan. Hasil pemeriksaan penunjang didapatkan tanda
persetubuhan. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada bagian tubuh lainnya. Demikianlah
visum et repertum ini dibuat dengan sebenarnya dengan
menggunakan keilmuan yang sebaik-baiknya, mengingat sumpah sesuai dengan
Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

Dokter Pemeriksa

Dr.dr.Dedi Afandi,D.F.M.,Sp.F.M.

12
7. Jelaskan rehabilitasi korban hidup pemerkosaan pada skenario?

pemulihan korban kekerasan menurut versi korban sendiri, terutama sangat


bergantung pada 4 (empat) faktor yaitu:

1. Keluarga sebagai alasan untuk survive atau adanya dukungan memadai dari keluarga.

2. Pekerjaan sebagai sumber daya bagi survival atau tersedianya kemampuan untuk
mendapat penghasilan untuk membiayai hidup.

3. Tuhan dan agama sebagai sebuah pemahaman tentang survival atau adanya dukungan
spiritual (agama, kepercayaan).

4. Memberi dan menerima penguatan dari orang lain (partisipasi sosial) sebagai strategi
survival atau tersedianya dukungan komunitas.

Dengan demikian, untuk mencapai kondisi pulih, keempat faktor tersebut


merupakan hal yang paling diharapkan dan dibutuhkan oleh korban. Mengenai aspek
mendapatkan keadilan hukum dan penjatuhan pidana terhadap pelaku melalui Sistem
Peradilan Pidana, kegiatan lebih ditujukan kepada advokasi agar hak korban atas
kebenaran, keadilan, pemulihan, rasa keadilan dan ketidakberulangan terpenuhi. Harus
disadari sepenuhnya oleh semua pihak yang terlibat dalam Sistem Peradilan Pidana bahwa,
agar tujuan untuk memulihkan korban tercapai, keempat hal yang berkaitan dengan
pemulihan tersebut (dukungan keluarga, pekerjaan, agama/spritual, komunitas) harus
benar-benar diakomodasi dalam proses peradilan pidana tersebut. (5)

Proses penyembuhan korban dari trauma perkosaan ini membutuhkan dukungan dari
berbagai pihak. Dukungan ini diperlukan untuk membangkitkan semangat korban dan
membuat korban mampu menerima kejadian yang telah menimpanya sebagai bagian dari
pengalaman hidup yang harus ia jalani. Korban perkosaan memerlukan kawan bicara, baik
teman, orang tua, saudara, pekerja sosial, atau siapa saja yang dapat mendengarkan keluhan
mereka. Diharapkan dengan adanya dukungan ini maka korban akan mampu berdaya dan
menjalani kehidupannya seperti sediakala.(5)

13
8. Jelaskan aspek hukum skenario ?

 KUHP pasal 284


(1) Dihukum dengan pidana penjara paling lama Sembilan bulan : 1a. seorang pria
yang telah kawin, yang melakukan gendak (oversel), padahal diketahui bahwa pasal
27 BW (Burgerly Wetboek) berlaku baginya. 1b. seorang wanita yang telah kawin
yang melakukan gendak, padahal diketahui bahwa pasal 27 BW (Burgerlyk
Wetboek) berlaku baginya.
2a. seorang pria yang turut serta melakukan perbuatan itu, padahal diketahuinya bahwa
yang turut bersalah telah kawin;
2b. seorang wanita yang belum kawin yang turut serta melakukan perbuatan itu,padahal
diketahui olehnya bahwa yang turut bersalah telah kawin dan pasal 27BW berlaku
baginya.
(2) Tidak dilakukan penuntutan melainkan atas pengaduan suami/istri yang tercemar,
dan bilamana bagi mereka berlaku pasal 27 BW, dalam tenggang waktu tiga bulan
diikuti dengan permintaan untuk bercerai atau pisah-meja dan ranjang karena
alasan itu juga.
(3) Terhadap pengaduan ini tidak berlaku pasal 72,73, dan 75.
(4) Pengaduan dapat ditarik kembali selama pemeriksaan dalam sidang pengadilan
belum dimulai.
(5) Jika bagi suami istri itu berlaku pasal 27 BW, pengaduan tidak diindahkan selama
perkawinan belum diputuskan karena perceraian atau sebelum putusan yang
menyatakan pisah meja dan tempat tidur menjadi tetap.
 KUHP pasal 285
Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wanita
bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan
dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun
 KUHP pasal 286

14
Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan, padahal
diketahui bahwa wanita itu dalam keadaan pingsan atau tidak berdaya, diancam
dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun.

 KUHP pasal 287


(1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita di luar perkawinan, padahal
diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun,
atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam
dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun.
(2) Penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita itu belum
sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal
294.(4)

15
DAFTAR PUSTAKA

1. Aflanie, Iwan, dkk. 2017. Ilmu Kedokteran Forensik & Medikolegal. Jakarta : PT
Rajagrafindo Persada.
2. Abdul Mun’imIndries, AgungLegowo Tjiptomarnoto.2011. Penerapan Ilmu Kedokteran
Forensik dalam Proses Penyidikan. Jakarta: CV. Sagung Seto
3. Budiyanto, Arif, dkk.1997. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
4. Hamzah, andi. 2000. KUHP dan KUHAP (edisi digabungkan dalam satu buku). Rineka Cipta.
Jakarta.
5. Sulistyaningsih,Ekandari.2002.Dampak Sosial Psikologis Perkosaan.Buletin Psikologi
Tahun X, No.1,Vol 9-2.Universitas Gajah Mada: Yogyakarta.

16