Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH KIMIA KIMIA BAHAN ALAM HAYATI

IDENTIFIKASI SENYAWA METABOLIT SEKUNDER DARI FAMILI MORACEAE

Dosen Pengampu : M. Widyo Wartono, M.Si

Disusun Oleh:
LINDASARI (M0313039)
MARTA NAUQINIDA (M0313042)
METIN YULIATI (M0313043)
MIA DWI MULIANI (M0313045)
MOCHAMAD FAUZAN (M03130)
MUDHITA KUSUMA (MM03130)

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM


UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2015

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL................................................................................................i

DAFTAR ISI ……………......................................................................................ii

DAFTAR TABEL.. ...............................................................................................iii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................iv

BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1

A. Latar Belakang Masalah.....................................................................................1

B. Rumusan Masalah................................................................................................2

C. Tujuan...................................................................................................................3

BAB II LANDASAN TEORI..................................................................................3

A. Famili Moraceae.....................................................................................................3

B. Genus Arthocarpus..............................................................................................3

C. Genus Morus..........................................................................................................4

D. Genus Ficus............................................................................................................4

E. Genus Dorstenia.....................................................................................................5

BAB III HASIL DAN PEMBAHASAN..................................................................6

A. Senyawa Metabolit Sekunder dalam Moraceae......................................................6

B. Genus Morus........................................................................................................6

C. Genus Ficus..........................................................................................................8

D. Genus Dorstenia.................................................................................................11

E. Genus Arthocarpus............................................................................................12

F. Genus Trilepisium................................................................................................13

G. Genus Antiaris......................................................................................................14

H. Genus Broussonetia............................................................................................15

BAB V PENUTUP ...............................................................................................17

Kesimpulan..........................................................................................................17

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................18

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Aktivitas Antimikroba perak nanopartikel pada mikroorganisme...........16

DAFTAR GAMBAR

iii
Gambar 1. Sruktur Senyawa 1-5..............................................................................6

Gambar 2. Struktur Senyawa 1-3.............................................................................7

Gambar 3. Struktur Senyawa 1 dan 2......................................................................7

Gambar 4. Struktur Senyawa 1 (3-geranil-3-fenil-2,4,5,7-tetrahidroksiflavon).....8

Gambar 5. Fistulosine ..........................................................................................9

Gambar 6. Struktur Senyawa 1-5 .........................................................................10

Gambar 7. Struktur dari senyawa nomor 1-17 dan korelasi HMBC....................13

Gambar 8. Struktur Senyawa 1 dan 2 ..................................................................14

Gambar 9. Struktur (1) Toxicarioside N dan (2) Toxicarioside O .......................14

Gambar 10. Struktur (1) (+)-pranferol, (2) antiarone M, dan (3) anticerol A .....15

Gambar 11. Struktur 1 dan 2.................................................................................15

Gambar 12. Pengaruh senyawa dalam kulit Broussonetia papyfera ....................16

Gambar 13. Analisis DPPH dan pembentukan kelat ion logam Fe2+ .................16

iv
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Moraceae, sering disebut keluarga murbei atau keluarga ara, adalah keluarga tanaman
berbunga yang terdiri dari sekitar 40 genera dan lebih dari 1000 spesies. Sebagian besar
tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, sedikit di daerah beriklim sedang (Judd et al.,
2008). Genus terpenting dalam family Moraceae adalah Ficus, Artocarpus, Morus, dan
Cudrania. Genus Artocarpus terdiri dari hampir 60 spesies yang terdapat di Asia dari Timur
sampai Selatan (Heyne, 1987).
Pengembangan berbagai teknik dalam bidang Kimia Bahan Alam dewasa ini sangat
pesat dipacu dengan kebutuhan akan pemanfaatan bahan kimia dari tumbuhan untuk
kesejahteraan ummat manusia. Kenyataannya dilaporkan banyak bahan alam dimanfaatkan
sebagai bahan obat, pertanian dan industri, diperkirakan 70 % dari bahan obat yang beredar di
seluruh dunia berasal dari tumbuhan. Bahan kiimia tersebut tidak hanya memiliki aktivitas
biologi tapi sering menunjukkan jenis struktur kimia yang dapat dikembangkan sebagai
senyawa model untuk sintesis dan memungkinkan memiliki aktivitas biologi yang baru pula.
Pada dua dekade lalu kajian yang sistematik telah dilakukan isolasi, karakterisasi, evaluasi
biologi dan farmakologi terhadap bahan kimia alami dari tumbuhan obat yang bernilai
ekonomis dari genus Morus dan Artocarpus.
Tumbuhan Moraceae merupakan sumber senyawa fenol terutama dari kelompok
flavonoid, stilbenoid, arilbenzofuran dan Adduct Diel‐Alder, banyak senyawa fenol tersebut
mengandung gugus isoprenil dengan ciri yang tidak ditemukan dalam tumbuhan famili
lainnya, antara lain terikatnya gugus isoprenil pada posisi C‐3 dan pola oksigenasi di cincin B
dari flavonoid Moraceae. Keunikan ini menyebabkan terjadinya diversifikasi kerangka
flavonoid yang luar biasa. Senyawa kimia yang diperoleh dapat pula digunakan sebagai
bahan untuk mempelajari reaksi-reaksi di dalam kimia organik, seperti reaksi penataan ulang,
reaksi siklisasi, dan juga sebagai bahan prototipe atau model molekul untuk dilakukannya
sintesis bahan tersebut, jika mempunyai aktivitas pengobatan yang baik. Selain itu manfaat
penelitian ini adalah sebagai bagian yang sangat penting dari keanekaragaman hayati dan
harus digunakan secara lestari untuk generasi mendatang.

Disamping itu data penelitian selanjutnya menunjukkan senyawa‐senyawa fenol yang


terprenilasi di atas dilaporkan menunjukkan bioaktivitas yang penting seperti anti tumor,
antimalaria dll. Dan istimewanya tambahan substituent soprenil pada kerangka senyawa fenol
di atas berakibat meningkatnya bioaktivitas dengan sangat signifikan dibandingkan senyawa
fenol sejenis yang tidak terprenilasi. Kajian saintifik terhadap enzim yang berperan pada
proses prenilasi tersebut menjadi sangat penting, untuk itu dilakukan isolasi dan karakterisasi
enzim preniltransferase dalam tumbuhan Moraceae yang berperan pada biosintesis senyawa‐
senyawa bioaktif fenol terprenilasi tersebut. Dengan teridentifikasinya aktivitas enzim
preniltransferase dalam tumbuhan Moraceae, membuka peluang untuk memanfaatkannya
dalam biotransformasi berbagai senyawa fenol yang banyak terdapat dalam tumbuhan ini
menjadi terprenilasi.
1
Kelemahan dari penelitian bahan alam konvensional adalah, ketersediaan bahan kimia
di alam sangat kecil jumlahnya dan kesulitan dalam sintesis serta diversifikasi struktur
molekulnya masih merupakan hambatan. Melalui pendekatan baru “combinatorial
biosynthesis” dalam penggunaan bahan kimia bioaktif yang potensial menjanjikan solusi
untuk kedua masalah di atas. Kajian aspek ini melibatkan pengembangan cara untuk
mendapatkan bahan2 kimia bioaktif melalui biotransformasi menggunakan prekursor yang
tersedia menggunakan enzim preniltransferase yang diisolasi dari tumbuhan Morus. Prenilasi
menyebabkan terjadinya keanekaragaman senyawa flavonoid misalnya, hal ini terjadi melalui
posisi prenilasi pada cincin aromatik, variasi panjang rantai prenil dan modifikasi lebih lanjut
dari bagian prenil seperti siklisasi dan hidroksilasi.
Demikian pentingnya senyawa prenil fenol untuk target kesehatan sehingga kajian
mengenai enzim preniltransferase menjadi sangat menarik akhir2 ini. Pada akhir tahun 2009
Yazaki berhasil mengidentifikasi enzim preniltransferase dari kultur sel Sophora flavescens.
Dan sejauh ini belum ada laporan di literatur yang melakukan penyelidikan terhadap
preniltrnasfrerase pada tumbuhan Moraceae. Projek ini menjadi salah satu tahapan dalam
pengembangan riset kimia bahan alam dengan sasaran jangka panjang yang sangat jelas dari
segi teknik, saintifik maupun outcome.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang akan diangkat adalah:
1. Apa saja genus yang merupakan suatu famili moraceae?
2. Bagaimana isolasi serta aplikasi senyawa metabolit sekunder dari berbagai tanaman dari
famili moraceae?

C. Tujuan Penelitian
Oleh karena permasalahan diatas maka tujuan yang diharpakan adalah:
1. Mengetahui berbagai macam genus dari famili moraceae.
2. Mengetahui kandungan senyawa, isolasi serta aplikasi senyawa metabolit sekunder dari
berbagai tanaman dari famili moraceae.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Famili Moraceae

Moraceae, sering disebut keluarga murbei atau keluarga ara, adalah keluarga tanaman
berbunga yang terdiri dari sekitar 40 genera dan lebih dari 1000 spesies. Sebagian besar
tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, sedikit di daerah beriklim sedang (Judd et al.,
2008). Genus terpenting dalam family Moraceae adalah Ficus, Artocarpus, dan Morus.
Genus Artocarpus terdiri dari hampir 60 spesies yang terdapat di Asia dari Timur sampai
Selatan (Heyne, 1987). Moraceae diketahui mengandung beragam metabolit sekunder seperti
alkaloid, terpenoid, tannin, sterol, stilben, dan flavonoid. Terpenoid dan flavonoid ditemukan
di dua genus tersebut, sementara alkaloid baru ditemukan pada genus Ficus. Terpenoid yang
umum ditemukan adalah dari golongan triterpen, sementara senyawa flavonoid yang telah
ditemukan adalah senyawa-senyawa flavonoid dengan kerangka dasar benzoquinon,
naftoquinon, kumarin, santon, rotenoid, calkon, flavan, flavanon, dan flavon (Bourgaud, et
al.2001). Moraceae adalah famili tumbuhan yang memiliki banyak kegunaan, antara lain
sebagai bahan makanan, sumber kayu, dan sebagai sumber obat-obatan tradisional. Sebagai
bahan makanan yang terkenal diantaranya, dari genus Artocarpus yaitu buah nangka (A.
heterophyllus), sukun (A. communis), dan cempedak (A. champeden), sementara dari genus
Morus terkenal dengan daun dari pohon Mulberry (M. alba) yang merupakan makanan bagi
ulat sutra. Batang dari tumbuhan famili Moraceae ini juga dapat dipergunakan sebagai
sumber kayu untuk pembuatan perabotan rumah yang cukup kuat, untuk pembuatan
konstruksi rumah, dan juga untuk pembuatan kerangka perahu nelayan. Sebagai sumber obat-
obatan tradisional, tumbuhan dari famili Moraceae ini menempati urutan ketujuh dari 40
famili tumbuhan pada pengobatan tradisional Indonesia, dengan aktifitas yang beragam mulai
dari antioksidan, antidiare, antiinflammasi, anti malaria, antihipertensi, sampai anti kanker.
(Heyne. 1987)
B. Genus Artocarpus
Genus Artocarpus merupakan salah satu genus dari Famili Moraceae yang termasuk
kepada tribe Artocarpeae. Tumbuhan genus Artocarpus terdiri dari 60 spesies dan
terdistribusi mulai Srilangka, India, Pakistan, Indo China, Malaysia, hingga kepulauan
Solomon (Lemmens, 1995). Famili Moraceae ini terdiri dari 60 genera yang terdiri dari 1400
spesies terdistribusi di daerah tropis dan subtropis wilayah Asia. Genus Artocarpus terutama
terdiri dari pohon sukun dan nangka. Tumbuhan ini merupakan tumbuhan asli dari Asia
Selatan dan Asia Tenggara, New Guinea dan Pasifik Selatan. Tumbuhan ini terdapat di hutan
tropis biasanya ditemukan di bawah ketinggian 1.000 m. Di Indonesia terdapat 32 spesies
tumbuhan dalam genus Artocarpus ini (Heyne, 1987). Spesies Artocarpus yang terdapat di
ekosistem hutan beragam pada habitat yang berbeda. Keragamannya yang ada di seluruh
dunia bergantung pada cara konservasi dan keadaan dari genus Artocarpus (Jagtab and Bapat,
2010), keragaman yang paling besar adalah di Malesian. Spesies dalam genus Artocarpus

3
terdistribusi sebagai berikut: Malaysia 16 spesies, Sumatera 17 spesies, Borneo (Kalimantan)
23 spesies, Filipina 15 spesies, Sulawesi 6 spesies, Jawa 4 spesies, Sunda 3 spesies, Maluku 8
spesies, dan New guenia 6 spesies (Lemmens, 1995).
Berdasarkan penelusuran literatur, spesies dalam genus Artocarpus mengandung senyawa
kelompok non fenol dan senyawa kelompok fenol. Senyawa kelompok non fenol yang
umumnya terdapat pada genus Artocarpus berupa senyawa terpenoid seperti triterpen, dan
senyawa steroid seperti β-sitosterol dan stigmasterol. Kandungan senyawa kelompok fenol
sangat beragam seperti: flavonoid, stilben, dan santon. Flavonoid ini masih terbagi lagi atas
turunan flavan, flavon, flavanon, flavonol, dan lain-lain

C. Genus Morus
Menurut Ferlinhayati (2010) salah satu family tumbuhan yang berpotensi sebagai
sumber kimia bioaktif dan jumlahnya relative besar adalah Moraceae, dimana salah satu
genus utama dari family ini adalah Morus. Tumbuhan morus yang biasa dikenal oleh
masyarakat dengan sebutan “mulberry” atau “murbei” ini tumbuh baik di daerah beriklim
sedang dan subtropics, yang tersebar di wilayah Asia, Afrika dan Ameika. Sembilan spesies
diantaranya berasal dari Asia yaitu daerah Cina (Vankatesh dan Seema. 2008). Di Indonesia
ditemukan beberapa jenis Morus yang dapat tumbuh dengan baik antara lain: Morus nigra,
M.alba.bombycis.var. Lembang yang merupakan Morus local, M.multicaulis, M.australis,
Malba.var.macrophylla, dan M.cathayana yang merupakan Morus impor ( Atmosoedarjo et
al.2000). Hasil kajian fitokimia dari tumbuhan Morus memperlihatkan bahwa metabolit
sekunder utama dari tumbuhan ini adalah senyawa turunan fenol. Beberapa senyawa turunan
fenol yang telah dilaporkan dari genus ini antara lain dari golongan stilbenoid, 2-
arilbenzofuran, flavonoid( yang meliputi kerangka calkon, flavanone, flavanonol dan
flavonol), adduct Diels-Alder, santon, dan kumarin (Nomura, dkk.,1988 dan Syah,dkk.,2000)

D. Genus Ficus
Secara umum masyarakat mengenal Ficus dengan nama beringin, ara/aro, jilabuak
atau sikalabuak dengan ciri khas pada bentuk dan struktur buah yang disebut dengan fig atau
syconium. Fig merupakan bunga atau buah semu majemuk yang disusun oleh receptaculum
atau dasar bunga yang berdaging dan berair. Bunga atau buah yang sesungguhnya terdapat
pada dinding sebelah dalam dari receptaculum tersebut (Hooker, 1982). Ficus terdiri dari
hampir 800 jenis, yang tersebar di seluruh dunia, tetapi lebih banyak didapatkan pada daerah
tropis dan sebagian besar di Indo-Malesia (Ridley, 1925). Dari sekian banyak jenis Ficus,
Ridley (1925) melaporkan ada 92 jenis di Asia dan Asia tropis. Merril (1974)
mempublikasikan 100 jenis yang terdapat di Philipina. Kochummen (1978) juga melaporkan
bahwa ada 101 jenis yang ada di Semenanjung Malaya, sedangkan Jawa memiliki 72 jenis
(Backer,1965). Hooker (1982) mempublikasikan 600 jenis yang terdapat di India, Burma, dan
Srilangka. Menurut Loutfy et al., (2005) jumlah Ficus pada daerah tropis sudah hampir
mencapai 800 jenis.Banyak spesies Ficus yang dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional
beberapa penyakit. Bagian daun, batang, biji, dan getah dimanfaatkan dalam pengobatan
rematik, diare, kembung, diabetes, hipertensi, dan bisul (De Padua et al., 1999). Pada
tanaman spesies Ficus diketahui mengandung glikosida flavonoid, asam fenolat, alkaloid,
steroid, saponin, kumarin, tannin, dan triterpenoid (El-Hawari et al., 2012).

4
E. Genus Dorstenia
Genus Dorstenia (Moraceae) adalah genus besar yang biasanya terdapat di daerah
tropis diseluruh dunia yang meliputi 170 spesies tanaman keras herba dengan rimpang
succulent. Genus ini diakui sebagai sumber yang kaya prenyl dan geranyl-tersubstitusi
kumarin, chalcones, flavanon, flavon, flavonol dan terpenoid (Heinke et al., 2012; Ngadjui
et al., 2003). Triterpen merupakan produk alami yang ditemukan terutama pada tanaman.
Asam triterpen berperan dalam kegiatan biologis dan farmakologis termasuk anti-inflamasi,
antimikroba, antivirus, sitotoksik dan efek kardiovaskular (Silva et al., 2012). Beberapa
spesies Dorstenia menunjukkan indikasi etnobotani kuat tentang gigitan anti-ular sifat
keracunan. efek tersebut mungkin terkait dengan kehadiran triterpenoid (Vilegas et al., 1997).

5
BAB III

HASIL DAN PEMBAHAN

A. Senyawa Metabolit Sekunder dalam Moraceae

Moraceae adalah famili tumbuhan yang memiliki banyak kegunaan, antara lain
sebagai bahan makanan, sumber kayu, dan sebagai sumber obat-obatan tradisional. Hasil
isolasi senyawa dari moraceae didapatkan berbagai senyawa metabolit sekunder seperti
akaloid terpenoid, tannin, sterol, stilben, dan flavonoid. Isolasi senyawa tersebut dapat
dilakukan dengan menggukan metode ekstraksi dalam pelarut polar seperti metanol maupun
etanol dimana pemurnian dilakukan dengan menggunakan metode kromatografi (HPLC dan
KLT). Sedangkan untuk elusidasi struktur senyawa dilakukan dengan menggunakan metode
spektroskopi yang meliputi UV, IR, H-NMR, C-NMR, dan HR-MS. Makalah ini membahas
berbagai senyawa metabolit sekunder yang berhasil diisolasi dari moraceae utamanya dari
genus morus, fiscus, dorstenia, rondotia, arthocarpus, selain iti dalam makalah ini juga akan
dibahas mengenai aktivitas biologis dari senyawa hasil isolasi tersebut.
B. Genus Morus
Isolasi terhadap 5 senyawa baru turunan 2-arilbezofuran dari kulit batang tanaman
Morus wittiorum telah berhasil dilakukan oleh Tan et al. (2010). Berdasarkan anailis elusidasi
struktur diketahui senyawa 1-5 memiliki rumus molekul berturut-turut C29H34O6, C29H32O5,
C19H18O5, 19H18O5 dan C15H12O5, struktur senyawa 1-5 diperlihatkan pada Gambar 1. Analisis
biologi menunjukan bahwa senyawa 1 memiliki aktivitas antioksidan dan aktivitas anti
inflasmasi yang tinggi. Senyawa 1 memiliki aktivitas antioksidan terhadap lipid peroksida
dalam mikrosom hati dengan rasio inhibitor sebesar 100%, sedangkan rasio inhibitor terhadap
pelepasan β-glukoronidase dari tikus sebesar 76%.

Gambar 1. Sruktur Senyawa 1-5 dari kulit batang Morus wittiorum

6
Isolasi senyawa lain dari kulit batang Morus wittiorum dilakukan kembali oleh Tan et
al. (2012), di mana dalam penelitan tersebut senyawa yang diisolasi juga merupakan senyawa
turunan 2-arilbenzofuran. Hasil isolasi diperoleh 3 senyawa baru yang masing-masing
berwarna coklat berbentuk serbuk amorf. Berdasarkan analisis elusidasi struktur diketahui
senyawa 1-3 memiliki rumus molekul berturut-turut C29H34O7, C29H36O8 dan C24H36O6.
Struktur senyawa 1-3 ditunjukkan pada Gambar 2. Analisis biologi menunjukan bahwa
senyawa 2 memiliki aktivitas anti inflamasi dan aktivitas sitoksik yang cukup tinggi.
Aktivitas anti inflasmasi senyawa 2 terhadap terhadap pelepasan β-glukoronidase dari tikus
sebesar 86.6%, dan sitoksitas terhadap sel kanker lambung (line BGC-823) dengan nilai IC50
sebasar 1.45 μM.

Gambar 2. Sruktur Senyawa 1-3 dari kulit batang Morus wittiorum


Isolasi senyawa dari tanaman Morus lain yaitu dari daun Morus alba L. telah
dilakukan oleh Yang et al. (2010). Diperoleh 2 senyawa baru yang termasuk dalam golongan
senyawa chalcones, di mana senyawa 1 berbentuk jarum berwarna kuning dan senyawa 2
berbentuk serbuk berwarna kuning, diketahui senyawa 1 (C20H18O5) dan senyawa 2
(C20H18O6) memiliki struktur seperti pada Gambar 3. Senyawa 1 memiliki sifat sitoksik
terhadap sel BGC823 (sel kanker perut) dan HCT-8 (sel kanker kolon) dengan nilai IC50
berturut-turut sebesar 5.7 dan 6.4 μg/mL, sedangkan senyawa 2 memiliki nilai IC50 sebesar
8.3 dan 9.4 μg/mL.

Gambar 3. Sruktur Senyawa 1 dan 2 dari daun Morus alba L.


Kemudian Dat et al.(2010) juga melakukan isolasi senyawa dari daun Morus alba L.
Diperoleh 11 senyawa yang mana 1 diantaranya merupakan senyawa baru yang termasuk
dalam golongan flavonoid yang berbentuk serbuk amorf berwarna kuning dan memiliki
rumus molekul C30H35O6 yang merupakan 3-geranil-3-fenil-2,4,5,7-tetrahidroksiflavon dan
memiliki struktur seperti pada Gambar 4. Sedangakan 10 senyawa lainya berupa 3′,8-
diprenyl-4′,5,7-trihydroxyflavone (2), kuwanon S(3), 8-geranylapigenin (4), cyclomulberrin
(5), sanggenon J and K (6, 7), cyclomorusin (8), morusin (9), atalantoflavone (10), dan
kaempferol (11) (Gambar 4). Senyawa 1 memiliki sifat sitoksik terhadap sel HeLa (Human
cervical adenocarcinoma), MCF-7 (human breast carcinoma)dan Hep-3B (human

7
hepatocarcinoma) dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 1.32±0.51, 3.92±0.91 dan
5.22±0.95 μM.

Gambar 4. Sruktur Senyawa 1-11 dari daun Morus alba L.


Zhang et al. (2010) melakukan isolasi senyawa dari daun tanaman Morus lain yaitu
Morus mongolica. Empat senyawa aktif baru yang termasuk dalam golongan flavonoid
berhasil diisolasi dalam penelitian tersebut. Senyawa 1 dan 2 berbentuk serbuk berwarna
primrose, senyawa 3 berbentuk jarum tak berwarna sedangkan senyawa 4 berupa minyak
berwarna merah-coklat. Diketahui senyawa 1-3 berturut-turut merupakan senyawa 8-
hidroksietil-7,2,4-trihidroksiflavon (C17H14O6), (±)-7-metoksi-8-hidroksietil-2,4-
dihidroksiflavon (C18H20O5), dan 2R,4R-8-hidroksietil-7,4-dihidroksi-4,2-epoksiflavon
(C17H16O5), sementara itu senya 4 merupakan 2E-3-(4-hidroksiisopentenil)-2,42’,4’-
tetrahidroksikalkon (C20H22O6).
C. Genus Fiscus
Chiang et al., (2005) telah melakukan isoalasi enam triterpen dari akar Ficus
microcarpa yang berupa senyawa 3b-acetoxy-12,19-dioxo-13 (18) –oleanene (C32H48O4) , 3b-
acetoxy-19 (29) -taraxasten-20a-ol (C32H52O3), 3b-acetoxy-21a, 22a-epoxytaraxastan-20a-ol
(C32H52O4), 3,22-dioxo-20-taraxastene (C30H46O2), 3b-acetoxy-11a, 12a-epoxy-16-okso-14-
taraxerene (C32H48O4), 3b-acetoxy-25-methoxylanosta-8,23-diena. Selain enam terpen di atas
didapatkan pula sembilan triterpen yang dikenal, yaitu 3b-acetoxy-11a, 12a-epoxy-14-
taraxerene, asam oleanonic 3b-acetoxy-25-hydroxylanosta-8,23-diena, asam acetylbetulinik,
asam betulonik, asam asetilursolik , asam ursonik , asam ursolik, dan asam 3-oxofriedelan-
28-OKI. Senyawa 8 dan triterpen pentasiklik 9-15 yang memiliki fungsi asam karboksilat
pada C-28 yang menunjukkan aktivitas sitotoksik yang signifikan terhadap garis sel tersebut
dan memberi nilai IC50 di LM kisaran 4,0-9,4. Sebelas triterpene (1,4,6 dan 8-15) ini diuji In
vitro sitotoksik menggunakan tiga baris sel kanker manusia, yaitu, HONE-1 nasopharyngeal
karsinoma, KB oral epidermoid carcinoma, and HT29 colorectal carcinoma cells untuk
mengetahui sitotoksisitas melawan ketiga sel kanker tersebut Senyawa 1, 4, dan 6 tidak
menunjukkan efek sitotoksisitas melawan sel kanker tersebut (> 10 lm). Atas dasar struktur
dan aktivitas hubungan, triterpen pentasiklik yang memiliki asam karboksilat di C-28,
termasuk senyawa 9-15 menunjukkan hasil sitotoksik lebih kuat dibandingkan uji triterpen
lainnya.
Subramaniam et al., (2009) telah mengisolasi 3 alkaloid dari batang Ficus fistulosa,
diantaranya 2 senyawa sudah diketahui atau dikenal yaitu (-)-14b-hydroxyanofine
8
(hydroxyantofine) , (-)-13aa-secoantofine dan satu lagi alkaloid baru yaitu fistulosin
(benzopyrroloisoquinoline ) dengan rumus molekul C19H23NO3 (gambar 5). Kemudian
dilakukan uji aktivitas terhadap anti jamur Aspergillus fumigatus dan Candida albicans, dari
pengujian diketahui bahwa ketiganya menunjukkan hasil yang negatif dari uji aktivitas anti
jamur.

Gambar 5. Fistulosine , 3. (-)-14b-hydroxyanofine (hydroxyantofine) dan 4. (-)-13aa-


secoantofine.
Senyawa hispidacine (1) dan hispiloscine (3) telah diisolasi dari Fiscus hispida L.
oleh Yapa et al., (2014). Senyawa hasil isolasi dievaluasi secara in vitro terhadap empat baris
sel kanker pada manusia (kanker payudara MDAMB- 231 dan MCF-7, kanker paru-paru
A549, dan kanker kolon HCT-116). Hasil analisa diketahui alkaloid 1 tidak menunjukkan
aktivitas antiproliferatif signifikan terhadap semua uji sel ini , sedangkan alkaloid 3
menunjukkan aktivitas yang cukup terhadap semua baris sel (IC50 <10 lm).
Dua septicine-jenis alkaloid baru berhasil diisolasi dari Ficus fistulosa oleh Yapa et
al. (2015). Dua senyawa baru berupa fistulopsines A dan B (1 dan 2), di mana fistulopsines A
(1) berupa minyak tidak berwarna yang merupakan13a (R) - (_) - 4-hydroxysepticine dan
fistulopsine B (2) terlihat seperti minyak yang berwarna kekuningan merupakan 13a (S) - (+)
- 3,6-didemethylsepticine. Kedua senyawa tersebut diuji aktifitas in vitro pertumbuhan
inhibitor melawan kanker usus (HCT 116) dan kanker payudara (MCF7). Didapatkan hasil
senyawa 1 aktivitas inhibitornya sekitar dua kali lebih kuat dari pada senyawa 2 terhadap
kedua sel kanker tersebut.
Yannick et al., (2014) melakukan isolasi senyawa metabolit sekunder dari Ficus
thonningii, diperoleh 21 senyawa berupa : thonningiol (1), thonningiisoflavone (2), b-
sitosterol (3), b-sitosterol 3-O-b-D-glucopyranoside (4), gancaonin G (5), b-Amirin asetat (6),
friedelin (7), lupeol hexanoate (8), lupeol asetat (9), alpinumisoflavone (10), wighteone (11),
dehydrofer- reirine (12), b-isoluteone (13), taxifolin (14), lupiwitheone hidrat (15), Rel (IM,
4S, 6R) p-mentana-3,6-diol (16), conrauiflavonol (17), aromadendrin (18), shuterin (19),
luteone (20), dan hidroxyalpinumisoflavone (21). Dua flavonoid baru, thonningiol (1) Dan
thonningiisoflavone (2) dan 19 senyawa yang dikenal diisolasi. b-Isoluteone (13) diisolasi
pertama kalinya dari alam. Kemudian dilakukan uji antimikroba. Pada hasil ini (Tabel 3), test
antimikroba menunjukkan bahwa ekstrak methanol buah ara F. thonningii bertindak
terhadap Escherichia coli, Proteus vulgaris, Providencia stuartii, Pseudomonas aeruginosa,
Staphylococcus aureus dan Candida albicans dengan konsentrasi bakterisida minimum

9
bervariasi antara 31,3-125 mg / mL sedangkan ekstrak akar aktif terhadap tiga isolat 14, 17
dan 19 yang aktif dengan MIC bervariasi antara 0,31 dan 1,25 mg / mL pada mikroorganisme
yang diuji. Namun Providencia stuartii dan Candida albicans tahan terhadap conrauiflavonol
(17) dan shuterin (19) sedangkan Pseudomonas aeruginosa adalah tahan terhadap taxifolin
(14).
Singh dan Jaiswal 2014, telah melakukan analisis kandungan senyawa dari tumbuhan
Ficus religiosa, pada bagian akar tumbuhan tersebut terdapat senyawa metabolit sekunder
yaitu saponin, tannin, flavonoid, steroid, terpenoid, bergapten (2), bergabtol (3), lanosterol
(1), β-sitosterol (4) dan stigmasterol (5). Struktur dari senyawa yang terkandung dalam akar
tumbuhan Ficus religiosa antara lain :

Gambar 6. Struktur Senyawa 1-5

Choudhary (2006) melakukan uji aktivitas antimikroba ekstrak etanol dari akar
Ficus religiosa dengan menggunakan metode difusi. Pengujian tersebut dilakukan terhadap
empat bakteri yaitu Bacillus subtilis (ATCC 6633), Staphylococcus aureus (ATCC 6538),
Escherichia coli (ATCC 11229), Pseudomonas aeruginosa (ATCC 9027) dan terhadap dua
jamur yaitu : Candida albicans (IMI 349.010) dan Aspergillus niger (IMI 076.837). Hasil
Penelitian menunjukkan ekstrak etanol akar Ficus religiosa menunjukkan bahwa 25mg/ml
ekstrak itu aktif terhadap semua strain bakteri dan efek terhadap dua jamur tersebut.
Penelitian lain juga dilakukan Joseph dan Justin (2010), yang melakukan analisis
terhadap Ficus racemosa. Tumbuhan Ficus racemosa mengandung senyawa metabolit
sekunder, pada bagian daun tumbuhan ini mengandung senyawa metabolit sekunder seperti
sterol, triterpenoid, alkaloid, tanin dan flavonoid, sedangkan kulit batangnya mengandung
senyawa seperti gluanol asetat, β-sitosterol, leukosianidin-3-O-β-D-glukopiranosida,
leukopelargonidin- 3-O-β-D-glukopiranosida, leukopelargonidin-3-O-α-L-ramnopiranosida,
lupeol , lupeol asetat dan α-amirin asetat, β-sitosterol dan stigmasterol. Bagian buahnya

10
mengandung senyawa seperti gluanol asetat, glukosa, asam tiglat, lupeol asetat, fridelin,
fitosterol yang lebih tinggi, pada bagian daunnya terdapat tetrasiklik triterpen gluanol asetat.
Tumbuhan Ficus racemosa ini juga memiliki aktivitas antibakteri sama dengan Ficus
regligiosa. Shaikh et al., (2010) melakukan penelitian terhadap daun dan kulit batang dari
spesies Ficus racemose. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak metanol dari daun dan kulit
batang Ficus racemose efektif dalam menghambat pertumbuhan bakteri Actinomyces
viscosus dengan konsentrasi minimum hambatnya sebesar 0.08mg/ml. Penelitian lain
terhadap tumbuhan Ficus racemose juga dilakukan oleh Deraniyagala et al., (1998), hasil
penelitiaan tersebut menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun Ficus racemosa memiliki
aktivitas antifungi terhadap enam jamur yaitu Trichophyton mentagrophytas, Trichophyton
rubrum, Trichophyton soundanense, Candida albicans,Candida krusei dan Torulopsis
glabrata.
Senyawa ceramide, cerebroside dan triterpenoid saponin telah berhasil diisolasi dari
akar Ficus elastica (Mbosso, 2012). Ketiga Senyawa menunjukkan aktivitas antimikroba
yang sangat baik terhadap semua strain mikroba yang diuji, terutama terhadap bakteri gram
negatif seperti E. coli dan K. pneumonia, dibandingkan dengan gentamisin referensi
antibiotik. Senyawa 1 adalah senyawa yang paling aktif dengan MIC dari 3 lg / ml dan MMC
dari 6 lg / ml terhadap S. saprophyticus sedangkan nilai yang diperoleh untuk gentamisin
referensi yang 980 dan 1950 lg / ml, masing-masing. Sedangkan senyawa 3 terpantau berada
terutama efisien terhadap E. faecalis, dengan MIC dan MMC nilai 30 dan 60 lg / ml.
Senyawa yang dikenal diisolasi dari akar F. elastica juga menunjukkan aktivitas yang baik
antimikroba, konsisten dengan literatur, asam betulinic, asam lemak linear, campuran alkohol
primer alifatik linear dan sitosteryl 3-O-b-D-glucopyranoside
D. Genus Dorstenia
Dorstenia turbinata digunakan secara tradisional dalam pengobatan penyakit infeksi
termasuk gastroenteritis dan infeksi kulit, dan rematik (komunikasi pribadi). Sebelumnya,
senyawa yang dikenal untuk aktivitas antimikroba mereka seperti 4-hydroxylonchocarpin dan
kanzonol C (Mbaveng et al., 2008) diisolasi dari ranting Dorstenia Turbinata (Ngameni et al.,
2006). Dalam penelitian ini, dihasilkan beberapa senyawa, antara lain :

5-

metoksi-3-[3-(ß-glucopyranosyloxy)-2-hidroksi-3 methylbutyl] psoralen (1), 5-metoksi-3-(3-

11
metil-2,3-dihydroxybutyl) psoralen (2), (2'S,3'R)3'hydroxymarmesin (3), 4-hydroxy-3-
Methoxybenzaldehyde (4) dan 4-methoxyphenol (5) juga terisolasi dari ranting D. turbinata
dan dikenakan antibakteri dan investigasi anti jamur (Ngameni et.al,2009).
Senyawa diprenylated chalcones dapat diisolasi dari ranting Dorstenia barteri var.
Subtriangularis dan Dorstenia angusticornis, yaitu 3,4-(2,2-dimethylpyrano)-3’-(2-hydroxy-3-
methylbut-3-enyl)-2’,4’-dihydroxychalcone (2) ; 3,5’-di-(2-hydroxy-3-methylbut-3-enyl)
4,2’,4’-trihydroxychalcone (3) ; 3’-(2-Hydroxy-3-methylbut-3-enyl)-5’-(3,3-dimethylallyl)-
4,2’,4’-trihydroxychalcone (4) (Ngadjui et.al,2005).

Senyawa yang terdapat didalam ranting Dorstenia elliptica dapat diisolasi dan
memberikan beberapa komponen senyawa, diantaranya adalah 3-(3,3-dimethylally)-4,2’,4’-
trihydroxylchalcone (1), O-[3-(2,2-dimethyl-3-oxo-2H-furan-5-yl)butyl]bergaptol (3). Pada
ranting Dorstenia elliptica ini juga dapat diisolasi prenylated flavan, yaitu 6-(1,1-
dimethylallyl)-7,4’-dihydroxyflavan (2) , dan dua monoterpenoid substitued furanocoumarin,
yaitu O-[3-(2,2-dimethyl-3-oxo-2H-furan-5-yl)-3-hydroxybutyl]bergaptol (4) dan O-[2-(5-
hydroxy-2,6,6-trimethyl-3-oxo-2H-pyran-2-yl)ethyl] bergaptol (5) (Abegaz et. al, 2004)

Senyawa prenylated flavonoid yang terdapat dalam bagian aerila dari


Dorstenia mannii dapat diekstraksi secara organik dan menghasilkan beberapa senyawa
flavonoid, yaitu 8-prenyl-6,7-(2,2-dimethylpyrano)-5,3’,4’-trihydroxy-flavanone (9) dan 8-

12
prenyl-6,7-(2,2 dimethyldihydropyrano)-5,3’,4’-trihydroxy-flavanone (10) (Ngadjui
et.al,2000)

Dorstenia foetida memiliki kandungan furanocumarin yang dapat diiso lasi dari daun
Dorstenia foetida. Furanocoumarins memiliki berbagai aktivitas biologis termasuk
antimikroba, antijamur, antioksidan dan antiinflamasi, sifat estrogenik atau antiestrogenik
serta efek penghambatan pada enzim P-450 sitokrom, pada asetilkolin esterase, dan pada
produksi prostaglandin E2.
Daun kering dari Dorstenia foetida yag diekstraksi dengan EtOH 80%, kemudian
dipartisi dengan kromatografi dengan pelarut n-heptana, EtOAc, n-BuOH diperoleh beberapa
fraksi yang diidentifikasi sebagai senyawa furanocumarin, yaitu 5-(2,3-epoxy-3-methyl-
butoxy)-chalepensin (6), 5-methoxy-3-(3-methyl-2,3-dihydroxybutyl)-psoralen-diacetate (7),
5-methoxy-3-[3-(b-D-glucopyranosyloxy)-2-acetyloxy-3-methyl-butyl]-psoralen (9) and 5-
(3-methyl-2,3-dihydroxybutyloxy)-3-[3-(b-D-glucopyranosyloxy)-2-hydroxy-3-methyl-
butyl]-psoralen (10) dan 7-hydroxy-5-methoxy-6-carboxymethyl-3-[3-(b-D-
glucopyranosyloxy)-2-hydroxy-3-methyl-butyl]-coumarin (11). Fraksi lain yang kemudian
juga dapat diidentifikasi sebagai turunan furanocumarin yaitu 5-(2,3-dihydroxy-3-methyl-
butoxy)-chalepensin (12), 5-(2-hydroxy-3-methoxy -3-methyl-butoxy)-chalepensin (13), 5-
(3-chloro-2-hydroxy-3-methyl-butoxy)-chalepensin (14) of 5-(2,3-epoxy-3-methyl-butoxy)-
chalepensin (6). (Heinke et. al,2011).

Senyawa turunan benzofuran dan turunan flavonoid dapat diisolasi dari akar
Dorstenia psilurus, yaitu 6,8,3'-triprenyl-5,7,2',4 '-tetrahydroxyfavone (1) and 3,6-diprenyl-
7,8-[2,2-dimethyl-3-hydroxydihydropyrano]-5,2 '-4'-trihydroxyfavone (2), 6,8-diprenyl-

13
3'[O]-4'-(2,2-dimethyl-pyrano)-3,5,7-trihydroxyfavone (4). 3,6-Diprenyl)-8-(2-hydroxy-3-
methylbut-3-enyl)-5,7,2',4 '-tetrahydroxyfavone (dorsilurin D) (5). Fraksi polar dari Dorstenia
psilurus dengan CH2Cl2 ± MeOH juga diidentifikasikan sebagai 6,8-diprenyl-3 '[O],4 '-(2,2
dimethylpyrano)-3,5,7-trihydroxyfavone, 3,6-diprenyl-8-(2-hydroxy-3-methylbut-3-enyl)-
5,7,2 ',4 '-tetrahydroxyfavone (6). (Ngadjui et. al, 1999).

Penentuan struktur flavonoid Rondotia menciana menggunakan HPLC-DAD


menunjukkan enam puncak dengan karakteristik spektra UV dari flavonol. Penelitian ini
dijelaskan bahwa daun murbei mengandung quercetin 3-O-glukosida, quercetin 3-O-
rutinosida, quercetin 3-O- (6-malonylglucoside), quercetin 3-O- (6-acetylglucoside),
kaempferol 3-O-glukosida, kaempferol 3-O- (6-acetylglucoside), kaempferol 3-O- (6-
malonylglucoside). Konstituen utama dari daun murbei adalah quercetin 3-O- (6-
malonylglucoside), diikuti oleh quercetin 3-O-rutinosida dan quercetin 3-O-glukosida.
Rondotia menciana menggunakan UDP-galactosyltransferase bukan UDP-
glukosiltransferase. Penyelidikan lebih lanjut dari fungsi biologis galactosides flavonol di R.
menciana dapat membantu untuk memahami evolusi, serta ekologi dari reaksi konjugasi
galactosyl flavonoid pada serangga, sehingga berpotensi sebagai sumber senyawa bioaktif
yang potensial. Analisis molekuler dan biokimia dari UDP-galactosyltransferase R.
menciana berguna untuk memahami dasar molekul substrat spesifisitas enzim UDP-
Glycosyltransferase pada hewan (Hirayama, 2013).
E. Genus Arthocarpus
Kandungan kimia dalam tanaman Artocarpus xanthocarpous sebagai inhibitor
biosintesis melanin telah diteliti oleh Jin (2015). Tyrosinase adalah enzim yang mengandung
tembaga yang memiliki monophenolase dan diphenolase untuk pembentukan melanin, yang
melindungi kulit dari kerusakan yang disebabkan oleh radiasi UV. Artocarpus xanthocarpous
adalah spesies Moraceae, yang umumnya kaya akan senyawa bioaktif polifenol. Isolat dari
Moraceae lainnya banyak mengandung flavonoid, stilbenoids, dan 2-arylbezofurans dan
memiliki banyak aktivitas biologis. Beberapa senyawa tidak menghambat sintesis melanin
atau aktivitas tirosinase dalam sel, walaupun memiliki jamur tirosinase aktivitas
penghambatan in vitro.

14
Senyawa flavonoid terprenilasi dari Artocarpus Altilis telah diisolsi oleh Lan (2013)
Hasil isolasi didapatkan 5 senyawa berupa senyawa 1 bernama 10-oxoartogomezianone,
senyawa 2 adalah 8-geranyl- 3- (hydroxyprenyl) isoetin, senyawa 3 adalah flavon derivatif
5,7,20,40,50-pentaoxygenated, senyawa 4 adalah isocycloartobiloxanthone, senyawa 5
bernama furanocyclocommunin.
Gambar 7. Struktur dari senyawa nomor 1-17 dan korelasi HMBC

Pengujian aktivitas antioksidan senyawa dari tanaman ini memiliki efek


penghambatan terhadap jamur tirosinase dan biosintesis melanin in vitro. Senyawa dengan
katekol B-ring dan ikatan 2,3-ganda dalam konjugasi dengan kelompok 4- karbonil di ring C
menunjukkan aktivitas antioksidan yang kuat. Senyawa yang mengandung baik 4-
hidroksifenil B-ring atau turunan dari kelompok C-3-hidroksi merupakan antioksidan kurang
kuat. Norartocarpetin dan artogomezianone menunjukkan aktivitas moderat, sedangkan
senyawa lain memiliki efek yang lemah atau tidak dapat dievaluasi dalam pengujian tersebut.
Senyawa 6 telah dilaporkan sebagai inhibitor melanogenesis yang tidak menghambat
aktivitas tirosinase. Senyawa dengan properti lipofilik lebih memasuki membran lebih
mudah, merupakan suatu inhibitor tirosinase yang baik.
F. Genus Trilepisium
Ango (2012) telah meneliti kandungan kimia dan aktivitas antimikroba dari Trilepisium
Madagascariense. Isolasi senyawa dari kulit, batang dan daun Trilepisium Madagascariense
menghasilkan dua senyawa yang belum terdefinisikan, yaitu, trilepisflavan (1) dan asam
trilepisuimic (2) (gambar ) selain sepuluh senyawa yang dikenal 30,7- dihydroxy- 40-
methoxyflavan, isoliquiritigenin, dihydrokaempferol, catechin, erythrodiol-3-Opalmitate,
luteolin, 8-C-glucopyranosylapigenin, asam caffeic, 1,3-dimethoxybenzene, asam
protocatechuic.

15
Gambar 8. Struktur Senyawa 1 dan 2
Kegiatan antibakteri dari dua ekstrak mentah dan 10 senyawa terisolasi diuji pada
Candida albicans. Nilai MMC / MIC untuk dihydrokampferol dan 8-C-
glucopyranosylapigenin < 4 mg/ml menunjukkan bahwa senyawa tersebut mampu berperan
sebagai antimikroba.
G. Genus Antiaris
Kandungan senyawa dalam biji Antiaris toxicaria telah diteliti oleh Zuo et al., 2013.
Diketahui bahwa biji Antiaris toxicaria mengandung senyawa strofantidin berupa
glucostrophanthidin, glucostrophalloside, toxicarioside K dan senyawa yang baru
teridentifikasi yaitu Toxicarioside N dan Toxicarioside O. Toxicarioside N yang diperoleh
berupa senyawa cardenolide yaitu serbuk putih amorf dengan terelusidasi sebagai
strophanthidol-3-O-β-D-glucopyranosyl-(1→4)-6-deoxy-β-D-allopyranoside. Toxicarioside
O yang diperoleh berupa senyawa cardenolide yaitu serbuk putih amorf dengan terelusidasi
sebagai strophanthidol-3-O-b-D-glucopyranoside. Struktur Toxicarioside N dan Toxicarioside
O ditunjukkan dengan Gambar 7.

Gambar 9. Struktur (1) Toxicarioside N dan (2) Toxicarioside O

Toxicarioside N dan Toxicarioside O memiliki sifat sitotoksisitas yang tinggi. Hal ini
ditunjukkan dengan pengujian senyawa pada sel mieloid leukimia dan sel kanker hati. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kedua senyawa menghasilkan aktivitas inhibitor yang kuat
terhadap sel mieloid leukimia SMMC-7721 dengan nilai IC 0.011 mM dan 0.016 mM, dan
terhadap sel kanker hati K562 dengan nilai 0.014 mM and 0.053 mM.
Bagian kulit Antiaris toxicaria diteliti oleh Li et al., (2015), diketahui bahwa kulit
Antiaris toxicaria mengandung senyawa xanthyletin, seselin, umbelliferone, 7-
demethylsuberosine, 8-hydroxy-7-methoxy-6-prenylcoumarin, vaginol, antiarsin B, antiarone
K, antiarone F dan senyawa yang baru teridentifikasi yaitu (+)-pranferol, antiarone M,
anticerol A. (+)-pranferol yang diperoleh berupa senyawa kumarin yaitu serbuk putih amorf
dengan terelusidasi sebagai 5-[(2S)-2-hydroxy-3-methylbutyloxy)]-psoralen. Antiarone M
yang diperoleh berupa senyawa flavonoid yaitu serbuk putih amorf dengan terelusidasi
sebagai (2S)-4,5,7-trihydroxy-3’-methoxy-2-prenylflavanone. Anticerol A yang diperoleh
berupa senyawa gliserol yaitu minyak tak berwarna dengan terelusidasi sebagai (7R*, 8R*)-
4-1’,3’-diol-2’-oxyl guaiacyl glycerol. Senyawa dalam kulit Antiaris toxicaria mempunyai

16
aktivitas antibakterial dan mampu menghambat osteoporosis. Struktur (+)-pranferol,
antiarone M dan anticerol A ditunjukkan pada Gambar 8.

Gambar 10. Struktur (1) (+)-pranferol, (2) antiarone M, dan (3) anticerol A

H. Genus Broussonetia
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Guo et al., (2013) diketahui bahwa kandungan
senyawa dalam kulit Broussonetia papyfera berupa senyawa flavonoid adalah uralenol,
papyriflavonol A, broussoflavonol B, broussochalcone A dan senyawa yang baru
teridentifikasi yaitu 5,7,3’,4’-tetrahydroxy-3-methoxy-8-geranylflavone dan 5,7,3’4’-
tetrahydroxy-3-methoxy-8,5’-diprenylflavone. 5,7,3’,4’-tetrahydroxy-3-methoxy-8-
geranylflavone dan 5,7,3’4’-tetrahydroxy-3-methoxy-8,5’-diprenylflavone yang diperoleh
berupa serbuk kuning. Struktur senyawa yang dihasilkan ditunjukkan pada Gambar 9.

Gambar 11. Struktur (1) 5,7,3’,4’-tetrahydroxy-3-methoxy-8-geranylflavone dan


(2) 5,7,3’4’-tetrahydroxy-3-methoxy-8,5’-diprenylflavone

Senyawa 5,7,3’4’-tetrahydroxy-3-methoxy-8,5’-diprenylflavone dan broussoflavonol


B dapat digunakan sebagai obat kanker payudara, di mana aktivitas antiploriferasi pada sel
kanker payudara MCF-7 cells secara in vitro selama 7 hari dan 72 jam mengalami penurunan
yang cukup drastis (Gambar 10). Senyawa pada kulit Broussonetia papyfera ini mampu
digunakan sebagai obat kanker payudara dan diaplikasikan di bidang kesehatan.

Gambar 12. Grafik pengaruh senyawa dalam kulit Broussonetia papyfera terhadap aktivitas
antiploriferase kanker payudara MCF-7

17
Kemudian Sun et al., (2012) meneliti bagian buah Broussonetia papyfera, diketahui senyawa
aktif berupa fenolik yang terkandung merupakan 7-hydroxycoumarin, protocatechuate acid,
protocatechuic acid dan epicatechin. Pembuktian senyawa aktif ditunjukkan pada Gambar 11
dimana setelah penambahan ekstrak buah, aktivitas pembentukan radikal DPPH menjadi
terinhibisi dan pembentukan kelat ion logam Fe2+ meningkat.

Gambar 13. Analisis DPPH dan pembentukan kelat ion logam Fe2+ pada sampel ekstrak buah
Broussonetia papyfera

Sedangkan Gopalakrishna et al., (2015) telah meneliti daun Broussonetia papyfera. Ekstrak
daun Broussonetia papyfera dapat digunakan material untuk sintesis perak nanopartikel
sebagai agen antimikroba. Uji fitokimia pada ekstrak daun menunjukkan adanya senyawa
alkaloid, gliserol, flavonoid, gula pereduksi, saponin dan senyawa fenolik lain. Aktivitas
antimikroba perak nanopartikel menunjukkan aktivitas tertinggi pada Bacillus cereus.
Aktivitas antimikroba ditunjukkan pada Tabel 1.
Tabel 1. Aktivitas Antimikroba perak nanopartikel pada berbagai mikroorganisme

18
BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan mengenai famili Moraceae maka dapat disimpulkan:
1. Genus yang paling utama dari famili Moraceae adalah Arthocarpus, Morus dan Fiscus.
Selain itu dalam makalah ini juga dijelaskan mengenai genus Dorstenia, Trilepisium,
Antiaris, dan Broussonetia.
2. Hasil isolasi senyawa dari moraceae didapatkan berbagai senyawa metabolit sekunder
seperti akaloid terpenoid, tannin, sterol, stilben, dan flavonoid. Isolasi senyawa
tersebut dapat dilakukan dengan menggukan metode ekstraksi dalam pelarut polar
seperti metanol maupun etanol dimana pemurnian dilakukan dengan menggunakan
metode kromatografi (HPLC dan KLT). Sedangkan untuk elusidasi struktur senyawa
dilakukan dengan menggunakan metode spektroskopi yang meliputi UV, IR, H-NMR,
C-NMR, dan HR-MS.

SARAN
Saran yang dapat diberikan dalam makalah Moraceae ini adalah:
1. Perlu bahasan mengenai berbagai genus lain dari famili Moraceae dan perlu
bahasan lebih dalam mengenai penjelasan genus famili Moraceae yang telah ada.
2. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam kaitan dengan aplikasi senyawa
metabolit sekunder yang terkandung dalam genus di famili Moraceae untuk
kebermanfaatan manusia.

19
DAFTAR PUSTAKA
Abegaz, B., Ngadjui, B., Folefo, G., Fotso, S., Ambassa, P., Bezabih, M., Dongo, E.,
Rise, F., Petersen, D. 2004. Prenylated flavonoids, monoterpenoid
furanocoumarins and other constituents from the twigs of Dorstenia
elliptica (Moraceae). Phytochemistry 65 : 221-226.
Ango, Patrick Y., Deccaux W.F.G. Kapche, Victor Kuete, Bonaventure T.
Ngadjui,Merhatibeb Bezabih, Berhanu M. Abegaz. 2012. Chemical
constituents of Trilepisium madagascariense (Moraceae) and their
antimicrobial activity. Phytochemistry Letters (5): 524–528
Atmosoedarjo, S., Junus, K., Mien, K., Wardono. S., Wibowo, M. 2000. “Sutera Alam
Indonesia”. Jakarta : Indonesia Printer.
Bourgaud, F., Gravot, A., Milesi, S., Gontier, E. 2001. “Review:Production of plant
secondary metabolites:a historical perspective”. Plant Science 161, 839-
851.
Choudhary, G.P. 2006. “Evaluation Of Ethanolic Extract Of Ficus religiosa Bark On
Incision And Excision Wounds In Rats”. Planta Indica 2(3):17-19.
Deraniyagala, S.A., Wijesundera, R.L.C., Weerasena, O.V.D. 1998. “Antifungal
Activity Of Ficus racemosa Leaf Extract and Isolation Of The Active
Compound”. Journal National Science Counc Sri Lanka 26: 19-26.
Dat, N.T., Binh P.T.X., Quynh L.T.P., Minh C.V., Huong H.T., Lee, J.J. 2010.
“Cytotoxic prenylated flavonoids from Morus alba”. Fitoterapia 81: 1224–
1227.
De Padua, L.S., Bunyapraphatsara, N., Lemmens, R.H.M. 1999. ”Medicinal and
Poisonous Plants I”. Bogor: Prosea.
El-Hawary, S.S., Wasel, G.M., El-Menshawi, B.S., Ibrahim, N.A., Mahmoud, K.,
Ayoub, M.M, 2012, Antitumor and Antioxidant Activity of Ficus elastica
Roxb and Ficus benghalensis Linn. Family Moraceae. World Applied
Sciences Journal 19(11) : 1532-1539.
Gopalakrishnan, S., Kaupa, P., Lakshmi, S. Y. S., Banu, F. 2015. “Antimicrobial
Activity Of Synthesized Silver Nanoparticles And Phytochemical Screening
Of The Aqueous Extract Of Antiaris toxicaria”. Phytochemistry Letters
4(1): 2–5.
Guo, F., Feng, L., Huang, C., Ding, H., Zhang, X., Wang, Z., Li, Y. 2013.
“Prenylflavone Derivatives From Broussonetia papyrifera, Inhibit The
Growth Of Breast Cancer Cells In Vitro And In Vivo”. Phytochemistry
Letters 6(3): 331–336.
Heinke, R., Franke, K., Porzel, A., Wessjohann, L., Awadh, A., Schmidt, J. 2011.
“Furano- coumarins from Dorstenia foetida”. Phytochemistry 72 : 929–934.
Heinke, R.; Franke, K.; Michels, K.; Wessjohann, L.; Ali, N.A.A., Schmidt, J. 2012.
“Analysis Of Furanocoumarins From Yemenite Dorstenia Species By
Liquid Chromatography/Electrospray Tandem Mass Spectrometry”.
Journal Mass. Spectrom 47 : 7–22.

20
Heyne, K. 1987. “Tumbuhan Berguna Indonesia” Jilid II. Jakarta : Badan Litbang
Kehutanan.
Hirayama, Chikara, Hiroshi Ono, Yan Meng, Toru Shimada, Takaaki Daimon. 2013.
Flavonoids from the cocoon of Rondotia menciana. Phytochemistry (94):
108–112

Hooker, J. D. 1982. “Flora of British India Vol.V “. India: Binshen Singh Mahendra
Pal Singh.
Jin, Yu-Jing, Cha-Chi Lin, Tzy-Ming Lu, Jih-Heng Li, Ih-Sheng Chen, Yueh-Hsiung
Kuo, Horng-Huey Ko. 2015. Chemical constituents derived from
Artocarpus xanthocarpus as inhibitors of melanin biosynthesis.
Phytochemistry (117): 424–435
Joseph, B., Justin, S. 2010. “Phypharmacological and Phytochemical Properties Of
Three Ficus Species”. International Journal Of Pharma and Bio Sciences 1
(4).
Judd, Walter, Campbell, Christopher, Kellogg, Elizabeth A., Stevev, Peter F.,
Donoghue, M.J. 2008. “Plant Systematics: A Phylogenetic Approach “.
Sinauer Associates, Inc.
Kochmmen, K.M. 1978. “Moraceae in tree flora of Malaya Vol. Three”. London :
Longman group Limited.
Lan, Wen-Chun, Cheng-Wei Tzeng, Chun-Ching Lin, Feng-Lin Yen, Horng-Huey
Ko,. 2013. Prenylated flavonoids from Artocarpus altilis: Antioxidant
activities and inhibitory effects on melanin production. Phytochemistry
(89): 78–88

Li, X.S., Zhu, J.J., Zhao, H., Li, S.-L., Hao, X.-J., Yao, X.-S., Tang, J.-S. 2015.
“Three New Compounds From The Bark Of Antiaris toxicaria”.
Phytochemistry Letters 13: 182–186.
Mbosso, Emmanuel Jean Teinkela, Jules Clément Assob Nguedia, Franck Meyer,
Bruno Ndjakou Lenta, Silvère Ngouela, Benjamin Lallemand, Véronique
Mathieu, Pierre Van Antwerpen, Anna Longdoh Njunda, Dieudonné
Adiogo, Etienne Tsamo, Yvan Looze, Robert Kiss, René Wintjens. 2012.
Ceramide, cerebroside and triterpenoid saponin from the bark of aerial roots
of Ficus elastica (Moraceae). Phytochemistry (83): 95–103
Loutfy, M.H.A., Karakist, E.A.K., Khalifa, S.F., Mira, E.R.A. 2005. “Numerical
Taxonomic Evaluation Of Leaf Architecture Of Some Species Of Genus
Ficus L”. International journal of agriculture and biology 7(3): 352–357.
Ngadjui, B., Kouam, S., Dongo, E., Kapche, G., Abegaz, B. 2000. “Prenylated
Flavonoids From The Aerial Parts Of Dorstenia mannii”. Phytochemistry
55 : 915-919.

21
Ngadjui, B., Tabopda, T., Dongo, E., Kapche, G., Sandor, P., Abegaz, B. 1999.
Dorsilurins C, D And E, Three Prenylated Flavonoids From The Roots Of
Dorstenia psilurus. Phytochemistry 52 : 731-735.
Ngadjui, B., Watchueng, J., Keumedjio, F., Ngameni, B., Simo, I., Abegaz, B. 2005.
“Prenylated Chalcones, Flavone And Other Constituents Of The Twigs Of
Dorstenia angusticornis And Dorstenia barteri Var. Subtriangularis”.
Phytochemistry 66 : 687–692.
Ngadjui, B.T., Abegaz, B.M.2003. ”The Chemistry And Pharmacology Of The Genus
Dorstenia (Moraceae)”.Journal National Product 29 :761–805.
Ngameni, B., Kuete, V., Ngadjui, B., Mbaveng, A., Awoussong, P., Patnam, R., Roy,
R., Simo, I. 2009. “Antibacterial And Antifungal Activities Of The Crude
Extract And Compounds From Dorstenia turbinata (Moraceae)”. South
African Journal of Botany 75: 256-261.
Nomura, T., Hano, Y., Aida, M. 1998. “Isoprenoid-Substitued Flavonoids From
Artocarpus Plants (Moraceae)”. Heterocycles 47(2): 1170-1205.
Ridley, H. N. 1925. “The flora of the Malaya Peninsul”a. London: L. Reeve & Co.
Ltd. Henrietta street Convent Garden.
Shaikh, T., Rub, R., Bhise, K., Pimprikar, R.B., Sufiyan, A. 2010. “Antibacterial
Activity of Ficus racemosa Linn. Leaves on Actinomyces viscosus”.
Journal Pharmacological Science Research 2: 41-44.
Silva, M.L., David, J.P., Silva, L.C.R.C., Santos, R.A.F., David, J.M., Lima, L.S.,
Pedro, S.R., Fontana, R. 2012. “Bioactive Oleanane, Oupane And Ursane
Triterpene Acid Derivatives”. Molecules 17: 12197–12205.
Singh, S., Jaiswal, S. 2014. “Therapetic Properties Of Ficus religiosa”. International
Journal Of Engineering Resesarch and General Sciences 2(5).
Subramaniam., Kenny, K.H., Ang, S.N., Antony, D.B., Mark, S.B. 2009. “A
Benzopyrroloisoquinoline Alkaloid From Ficus fistulosa”. Phytochemistry
Letters 2: 88–90.
Sun, J., Liu, S.F., Zhang, C.S., Yu, L.N.B., Zhu, F., Yang, Q.L. 2012. “Chemical
Composition And Antioxidant Activities Of Broussonetia papyrifera
Fruits”. PLoS ONE 7(2): 1–8.
Sunderland., MaJagtap, U.B., Panaskar, S.N., Bapat, V.A. 2010. “Evaluation Of
Antioxidant Capacity And Phenol Content In Jackfruit (Artocarpus
heterophyllus Lam.) Fruitpulp”. Plant Foodsfor Human Nutrition.
Syah, Y.M., Achmad,S.A., Ghisalberti,E.L., Hakim,E.h., Imam,M.Z.N., Makmur, L.,
Mujahiddin, D. 2000. “Andalasi A,A New Stilbene Dimer From Morus
macrour”. Fitoterapia 71(6): 630-635.
Tan, Y., Wang H., Chen R. 2012. “Anti-Inflammatory And Cytotoxic 2-
Arylbenzofurans From Morus wittiorum”. Fitoterapia 83: 750-753.
Tan, Y., Yang Y., Zhang T., Chen R., Yu, D. 2010. “Bioactive 2-Arylbenzofuran
Derivatives From Morus wittiorum. Fitoterapia 81: 742–746.

22
Veronica, A.Y., Bi-Juin L.,, Kang-Nee, T., Sandy, H.S.L., Kien-Thai, Y., Yun-Yee, L.,
Toh-Seok, K., Kuan-Hon, L. 2014. “Hispidacine, An Unusual
8,40oxyneolignan-Alkaloid With Vasorelaxant Activity, And Hispiloscine,
An Antiproliferative Phenanthroindolizidine Alkaloid, From Ficus hispida
Linn. Phytochemistry.
Veronica, A.Y., Mohannad, E.Q., Vijay, J.R., Tracey, D.B., Hwei-San, L., Kae-Shin,
S., Kien-Thai, Y., Yun-Yee, L., Kuan-Hon, L. 2016. “Fistulopsines A And
B Antiproliferative Septicine-Type Alkaloids From Ficus fistulosa”.
Phytochemistry Letters 15: 36–141.
Yang, Y., Zhang T., Xiao L., Yang L., Chen R. 2010. “Two New Chalcones From
Leaves Of Morus alba L”. Fitoterapia 81: 614–616.
Yannick S.F., Fongang, Q., Jean, J.K., Bankeu., Muhammad, S., Ali, A.F., Awantu.,
Ahmed, Z., Clement, N.A., Lateef, M., Bruno, N.L., Silvere, A.N., Etienne,
T. 2014. “Flavonoids And Other Bioactive Constituents From Ficus
thonningii 3 Blume (Moraceae)”. Phytochemistry Letters.
Yi-Ming, C., Jang-Yang, C., Ching-Chuan, K., Chi-Yen, C., Yueh-Hsiung, K. 2005.
“Cytotoxic triterpenes from the aerial roots of Ficus microcarpa”.
Phytochemistry 66: 495–501.
Zhang, X., Jing Y., Wang G., Wang Y., Zhao H., Ye W. 2010. “Four New Flavonoids
From The Leaves Of Morus mongolica”. Fitoterapia 81: 813–815.
Zuo, W. J., Dong, W.H., Jing-Chen., Zhao, Y.X., Chen, H.Q., Mei, W.L., Dai, H.F.
2013. Two New Strophanthidol Cardenolides From The Seeds Of Antiaris
toxicaria”. Phytochemistry Letters 6(1): 1–4.

23