Anda di halaman 1dari 6

PERCOBAAN 6

PEMISAHAN ZAT AKTIF DENGAN EKSTRAKSI FASE PADAT

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Melakukan pemisahan bahan kimia obat dari sediaan obat tradisional
(jamu) dengan metode ekstraksi fase padat
2. Melakukan analisis kualitatif hasil ekstraksi fase padat dengan metode
kromatografi lapis tipis dan KCKT
II. PRINSIP PERCOBAAN
III. TEORI DASAR
Ekstraksi adalah pemisahan suatu zat dari campurannya dengan
pembagian sebuah zat terlarut dua pelarut yang tidak dapat bercampur untuk
mengambil zat terlarut dari suatu pelarut ke pelarut lain. Seringkali campuran
benda padat dan cair misalnya bahan alami tidak dapat atau sukar sekali
dipisahkan dengan metode pemisahan termis yang telah dibicarakan. misalnya
saja karena komponennya saling bercampur secarasangat erat, peka terhadap
panas dan beda sifat fisiknya terlalu kecil (Khopkar, 1990).
Ekstraksi fasa padat disebut juga sorbent extraction adalah proses
ekstraksi yang melibatkan fasa padat dan fasa cair. Pada proses ekstraksi ini
fasa padat lebih berperan untuk berinteraksi dengan zat yang diekstraksi dari
pada fasa cairnya yang bertindak sebagai pelarut dari zat yang diekstraksi.
Ekstraksi dilakukan dengan mengalirkan larutan lewat fasa padat sebagai
pengisi kolom. Sebagai fasa padat dipilih senyawa yang mempunyai sisi aktif
pada permukaan sehingga akan berinteraksi dengan zat terlarut yang
dikehendaki, yang dikenal dengan istilah isolat. Proses yang pertama
dilakukan adalah mengisi kolom dengan fasa padat dan membasahinya
dengan pelarut tertentu yang dikenal sebagai proses solvasi. Pada proses ini,
pelarut yang lazim digunakan adalah metanol, asetonitril, isopropanol atau
THF ( Van Home, 1985, 14 ).
EFP memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan ekstraksi cair-
cair yaitu dengan menggunakan EFP proses ekstraksi menjadi lebih sempurna,
pemisahan analit dari matriks menjadi lebih efisien, mengurangi pelarut
organic yang digunakan. EFP merupakan proses pemisahan yang efisien
sehingga recovery yang tinggi (>99%) lebih mudah dicapai jika dibandingkan
dengan ekstraksi caircair. Pada ekstraksi cair-cair masih diperlukan ekstraksi
beberapa kali untuk memperoleh recovery yang tinggi, sedangkan dengan
SPE hanya dibutuhkan satu tahap saja (Rohman, 2009).
Untuk meningkatkan sensitivitas dan selektivitas dalam analisis
sampel, saat ini metode SPE dapat digabungkan dengan metode lain seperti
kromatografi (GC-MS) Spektrofotometer UV-Vis, HPLC, Kromatografi Gas
dan Massa. Kombinasi antara kromatografi dan SPE dapat digunakan secara
lebih sederhana dan efektif dalam pemurnian, analisis sampel (Barnes et al,
2016).
Prinsip ekstraksi padat-cair adalah adanya kemampuan senyawa dalam
suatu matriks yang kompleks dari suatu padatan, yang dapat larut oleh suatu
pelarut tertentu. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk tercapainya
kondisi optimum ekstraksi antara lain: senyawa dapat terlarut dalam pelarut
dengan waktu yang singkat, pelarut harus selektif melarutkan senyawa yang
dikehendaki, senyawa analit memiliki konsentrasi yang tinggi untuk
memudahkan ekstraksi, serta tersedia metode memisahkan kembali senyawa
analit dari pelarut pengekstraksi (Fajriati dkk, 2011).
Dapat diketahui bahwa ada 4 tahap dalam prosedur SPE, yaitu (Kealey
and Haines, 2002) :
1. Pengkondisian
Kolom (cartridge) dialiri dengan pelarut sampel untuk
membasahi permukaan penjerap dan untuk menciptakan nilai pH yang
sama, sehingga perubahan perubahan kimia yang tidak diharapkan
ketika sampel dimasukkan dapat dihindari.
2. Retensi (tertahannya) sampel
Larutan sampel dilewatkan ke dalam cartridge untuk menahan
analit yang diharapkan sementara komponen lain terelusi.
3. Pembilasan
Tahap ini penting untuk menghilangkan seluruh komponen
yang tidak tertahan oleh penjerap selama tahap retensi.
4. Elusi
Tahap ini merupakan tahap akhir untuk mengambil analit yang
dikehendaki jika analit tersebut tertahan pada penjerap.

Sebagaimana dalam metode kromatografi cair, retensi analit


tergantung pada konsentrasi sampel, kekuatan pelarut, dan karakteristik
penjerap. Pendekatan empiric untuk melakukan pengembangan metode SPE
melibatkan screening penjerap yang tersedia. Langkah pertama adalah
menentukan penjerap yang paling baik dalam hal kemampuan menahan analit
yang dituju. Pertimbangan kedua adalah pelarut yang dibutuhkan untuk
mengelusi analit yang dituju. Langkah ketiga adalah menguji matriks sampel
blanko untuk mengevaluasi adanya pengganggu yang mungkin ada. Akhirnya
(langkah keempat) menentukan recovery dengan menambahkan analit dalam
jumlah tertentu harus dilakukan (Ibnu Gholib G, 2010).
IV. DATA FISIK DAN KIMIA
1. Parasetamol
Pemerian : Hablur atau serbuk putih, tidak berbau rasa pahit
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, 7 bagian etanol 95%, 13
bagian aseton, 40 bagian gliserol dan PPG, larut dalam
larutan alkali hidroksida
Pka : 9,5 (Dirjen POM,1995)
2. Ammonium Hidroksida
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, bau khas menusuk kuat
Kelarutan : Mudah larut dalam air
Bahaya/efek : Kerusakan pada mata gangguank kulit, berbahaya jika
ditelan.
Penanganan : Terkena mata dibilas dengan air selama ± 15 menit,
terkena kulit siram dengan air, jika tertelan dengan
dimuntahkan (Dirjen POM,1995).
3. Aquadest
Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, tidak berbau tidak
berasa
Titik didih : 100°C (Dirjen POM,1995)
4. Metanol
Pemerian : Cairan jernih, herbal alkohol, beraun, dapat
terserap melalui kulit
BJ : 0,81
Kelarutan : Larut dalam air, eter, benzen, keton
Efek jangka panjang : Dermatitis, gangguan penglihatan
Reaksi : Dengan alumunium, timah hitam, oksidator
(Dirjen POM, 1995) (Material Safety Data Sheet Metanol)
5. Kloroform
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, mudah mengalir,
mempunyai sifat khas, bau eter rasa manis dan
membakar.mendidih pada suatu lebih dari 61°C
dipengaruhi oleh cahaya.
Kelarutan : Sukar larut dalam air, dapat bercampur dengan etanol,
dengan eter, benzen, heksan, lemak dan minyak
menguap
Efek : Dapat mengiritasi kulit, bahaya jika terhirup dan
tertelan. Memiliki efek karsinogenik, mutagenik dan
merusak organ yang terpapar
(Dirjen POM, 1995) (Material Safety Data Sheet Chloroform )
6. Asam Formiat
Pemerian : Cairan tidak berwarna, bau sangat tajam sangat
korosif
Kelarutan : Dapat bercampur dengan air dan etanol
Efek : Dapat menimbulkan iritasi jika kontak dengan kulit,
iritan dan korosif. (Dirjen POM, 1995)

V. ALAT DAN BAHAN

ALAT BAHAN
Gelas ukur Aqua Pro Injeksi
HPLC agilent
Membran filter PTFE 0,45μm Metanol pro HPLC
Pipet Volume
Labu takar
Alat bahan dr yang bikin dimasukin ke table ya kalo blm ditabelin
VI. PROSEDUR PERCOBAAN
VII. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGAN
VIII. PEMBAHASAN
IX. KESIMPULAN
DAFTAR PUSTAKA
Acros organics N.V. (2000). Material Safety Data Sheet Chloroform.
Acros organics N.V. (2000). Material Safety Data Sheet Metanol.
Barnes J, Tian L, Lotfis J, Hiznay J, Comhair S, Lauer M, Dweik R.(2016). Isolation
and analysis of sugar nucleotides using solid phase extraction and fluorophore
assisted carbohydrate electrophoresis. J. Barnesetal./MethodsX3.
Direktur Jendral POM.(1995). Farmakope Indonesia Edisi 4. Departemen kesehatan
RI
Fajriati, I., Rizkiyah, M., Muzakky, (2011). Studi Ekstraksi Padat Cair Menggunakan
Pelarut HF dan HNO3 pada Penentuan logam Cr dalam Sampel Sungai di
Sekitar Calon PLTN Muria. Jurnal ILMU DASAR Vol. 12 No. 1, 15 : 22.
Ibnu Gholib G.,Abdul R,.(2010). Kimia Farmasi Analisis. Pustaka Pelajar
Kealey, D. dan Haines, P. J., (2002), Instant Notes: Anal. Chem., BIOS Scientific
Publishers Limited, New York.
Khopkar, S,M. (1990). Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta: Universitas Indonesia
Press.
Rohman, A.(2009). Kromatografi untuk Analisis Obat. Yogyakarta : Pustaka Graha
Ilmu.
Van Home ( 1985 ) Sorbent Extractiion Technology, Harbor City. Analytichem.Int.
Inc.