Anda di halaman 1dari 8

ADMINISTRASI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN

ADMINISTRASI PENDIDIK DAN TENAGA


KEPENDIDIKAN

A. PENGERTIAN ADMINISTRASI PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN


1. Pengertian administrasi
Administrasi dalam pengertian secara harfiah, kata “adminitstrasi” berasal dari bahasa
latin yang terdiri dari kata ad dan ministrare. Kata ad mempunyai arti sama dengan kata to
dalam bahasa inggris yang berarti “ke” atau “kepada”. Dan kata ministrare sama dengan kata
to serve atau to conduct yang berarti melayani, membantu dan mengarahkan. Dalam bahasa
inggris to administer berarti pula “ mengatur, memelihara dan mengarahkan”.
Jadi kata administrasi secara harfiah dapat diartikan sebagai kegiatan atau usaha untuk
membantu, melayani, mengarahkan atau mengatur semua kegiatan didala mencapai suatu
tujuan. ( Purwanto;1: 2007)
Administrasi dalam pengertian yang sempit yaitu kegiatan yang intinya adalah kegiatan
rutin catat mencatat, mendokumentasikan kegiatan, menyelenggarakan suart menyurat
dengan segala aspek serta mempersiapkan laporan.
Fungsi adminstrasi, jika dihubungkan dengan adminnistrasi pendidik maka bisa diartikan
bahwa hal ini merupakan upaya peningkatan efektifitas guru, dosen, dan lain lain utnuk
mencapai tujuan pendidikan itu sendiri.

2. Pendidik
Secara umum pendidik di indonesia lebih dikenal dengan pengajar, adalah tenaga
kependidikan yang berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan dengan tugas khusus
sebagai profesi pendidik. Pendidik mempunyia sebutan lain sesuai kekhususannya, yaitu
guru, dosen, konselor, pamong belajar, widyaiswara, tutor, instruktur, fasilitator. Sedangkan
dalam UU No. 20 tahun 2003 BAB XI pendidik dan tenaga kependidikan pasal 39
mengatakan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan
melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan
dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi
pendidik di perguruan tinggi.
Pendidik merupakan tenaga profesional, merancang pembelajaran, melaksanakan
pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, membimbing melatih meneliti mengabdi pada
masyarakat.

3. Tenaga kependidikan
UU no 20 tahun 2003 BAB XI pendidik dan tenaga kependidikan pasal 39 yaitu, tenaga
kependidikan bertugas melaksankan adminsitrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan,
dan pelayanan teknis untuk ,menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan.
Tenaga kependidikan meliputi kepala sekolah/madrasah, pengawas satuan pendidikan,
tenaga administrasi,tenaga kepustakaan, tenaga laboratorium, teknisi, pengelola kelompok
belajar, pemong belajar dan tanag kebersihan.
Tenaga kependidikan lainnya, orang yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan
pendidikan disatuan pendidikan, walaupun secara tidak langsung terlibat dalam proses
pendidikan, diantaranya:
 Wakil wakil/kepala urusan umumnya pendidik yang mempunyai tugas tambahan dalam
bidang yang khusus, untuk membantu kepala satuan pendidikan dalam penyelenggaraan
pendidikan pada institusi tersebut. Contoh kepala urusan kurikulum
 Tata usaha, adalah tenagak kependidkan yang bertugas dalam bidang adminisrasi intsitusi
tersebut. Bidang adminsitrasi yang dikelolanya adalah administrasi surat menyurat dan
pengarsipan, administrasi kepegawaian, administrasi peserta didik, administrai keuangan,
administrasi inventaris dan lain lain.
 Laboran, adalah petugas khusus yang bertanggung jawab terhadap alat alat dan bahan di
laboratorium.
 Pustakawan
 Pelatihan ekstrakulikuler
 Petugas keamanan (penjaga sekolah), petugas kebersiha dan lainnya.
Berdasarkan uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa administrasi pendidik dan
tenaga kependidikan adalah proses keseluruhan kegiatan pendidik yang meliputi
perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pelaporan, pengkoordinasian, pengawasan dan
pembiayaan, dengan menggunakan atau memanfaatkan fasilitas yang tersedia, baik personal,
materiil, maupun
B. PROSES ADMINISTRASI PTK
1. Manajemen tenaga kependidikan
Manajemen tenaga kependidikan yaitu rangkaian kegiatan menata tentang kependidikan
mulai dari merencanakan, membina hingga pemutusan hubungan kerja agar dapat
menyelenggarakan secara efektif dan efesien. Dalam UU No. 43 tahun 1999 yang dimaksud
menajamen kepegawaian (PNS) adalah keseluruhan upaya untuk meningkatkan efesiensi,
efektifitas dan derajat profesionalisme penyelenggaraan tugas, fungsi dan kewajiban
kepegawaian yang meliputi perencanaan, pengadaan, pengembangan kualitas, penempatan,
promosi, penggajian, kesejahteraan dan pemberhentian.

2. Pengadaan tenaga kependidikan


Rekruitmen/ pengadaan adalah suatu proses kegiatan mengusahakan calon pegawai yang
tepat sesuai dengan persyaratan yang telah ada ditetapkan dalam klasifikasi jabatan. Sumber
pegawai dapat dari lembaga itu sendiri (internal) dan dari luar (eksternal). Internal lembaga,
artinya pegawai yang akan mengisi lowongan jabatan itu ditarik dari pegawai yang telah ada
dalam organisasi bersangkutan. Rekruitmen dengan cara ini merupakan usaha pengembangan
karir, promosi jabatan dalam lingkungan kerja yang sama, promosi mutasi untuk kenaikan
jabatan perpindahan kerja ke unit kerja bagian lain. Perekrutan dari dalam (internal)perlu
memperhatikan informasi tentang kualifikasi pegawai. Format kualifikasi berisi informaasi
tentang catatan prestasi pegawai, latar belakang pendidkan dan dapat tidaknya promosi. Cara
ini mempunyai beberapa keuntungan, antara lain meningkatkan moral, kegairahan kerja,
prestasi kerja dan lain lain. Ini tidak lain karena para pegawai mengharapkan
akan mendapatkan kesempatan promosi.

3. Pengangkatan tenaga kependidikan


Pengangkatan dan penempatan tenag kependidikan yang bukan tenaga pendidik ada
satuan pendidikan yang diselenggarakan oleh pemerintah dilakukan oleh menteri, menteri
lain atau pimpinan lembaga non departemen dengan memperhatikan keseimbangan antara
penempatan dan kebutuhan serta ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku bagi
pegawai negeri.
Pengangkatan dan penempatan tenaga kependidikan yang bukan pendidik pada satuan
pendidikan yang diselenggarakan oleh masyarakat dilakukan oleh penyelenggara satuan
pendidikan ynag bersangkutan dengan memerhatikan persyaratan yang ditetapkan oleh
penyelenggara dan ketentuan peraturan perundang undangan yang berlaku.

4. Penempatan tenaga kependidikan


Prinsip dasar penempatan dan penugasan pegawai adalah kesesuainan tugas dengan
kemampuan yang dimiliki pegawai tersebut yaitu The Right Man On The Right Place
tdimana harus memperhatikan bidang keahlian yang dimiliki oleh tenaga kependidikan.
Perwujudan penempatan yang tepat pada jabatan yang tepat, baik akan membawa hasil yang
baik bagi lembaga. Menurut PP No. 100 tahun 2000 tentang pengangkatan pegawai sipil
sebagaimana telag diubah dengan PP no.13 tahun 2002 bahwa pengangkatan dan penempatan
harus memiliki kualitifikasi dan tingkat pendidikan yang ditentukan dimana akan mendukung
pelaksanaan tugas dalam jabatannya secara profesional, khususnya dalam upaya penerapan
kerangka teori, analisis maupun metodologi pelaksanaan tugas dalam jabatannya. Selain itu
juga harus memiliki kompetensi jabatan yang diperlukan.

C. KESEJAHTERAAN PTK
1. Tunjangan khusus
a. Tunjangan khusus jenjang pendidikan menengah adalah tunjangan yang diberikan kepada
guru jenjang pendidikan menegah sebagai penghargaan atas dedikasi dalam melaksanakan
tugas daerah khusus.
b. Tunjangan khusus ditunjuk untuk mewujudkan amanat undang undangguru dan dosen antara
lain , mengangkat martabat guru. Meningkatkan kompetensi guru, memajukan profesi guru,
meningkatkan mutu pembelajaran dan meningkatkan pelayanan pendidikan yang bermutu.
c. Daerah khusus adalah daerah yang terpencil atau terbelakang, daerah dengan kondisi
mesyarakat adat terpencil, daerah perbatasan dengan negara lain, daerah yang mengalami
bencana alam, bencana sosial atau daerah yang berada dalam keadaan darurat lain.
Besaran dana tunjangan
Jumlah dana tunjangan khusus bagi guru PNS dan guru bukan PNS yang telah inpassing
adalah setara 1 kali gaji pokok, dikenakan pajak penghasilan (PPh) sesuai ketentuan yang
berlaku. Jumlah dana tunjangan khusus bagu guru bukan PNS (GBPNS) yang belum
inpassing adalah sebesar Rp. 1.500.000 per orang per bulan, dikenakan pajak penghasilan
(PPh) sesuai ketentuan yang berlaku.

2. Tunjangan fungsional
Program tunjangan fungsional dibayarkan kepada guru PNS dan Non PNS baik sekolah
negeri maupun swasta. Berdasarkan data dari setditjen PMPTK, jumlah guru nasional
sebanyak 2.304.613 guru ynag tersebar di 33 provinsi. Pembayaran tunjangan fungsional
besarnya berdasarkan golongan II, III, dan IV untuk guru non PNS diberikan subsidi secara
bertahap sesuai dengan kemampuan keuangan negara.
UU no 14 tahun 2005 pasal 17 mengamanatkan pemerintahan daerah memberikan tunjangan
fungsional sebagaimana dimaksud kepada guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang
diselenggaran oleh pemerintah dan pemerintahan daerah. Disamping ini juga memberikan
subsidi tunjangan fungsional kepada guru ynag diangkat oleh satuan pendidikan yang
diselenggarakan masyarakat sesuai dengan peraturan perundang undangan yang berlaku.
Dalam pelaksanaan tunjangan fungsional sebagaimana dimaksud oleh diatas dialokasikan
dalam anggaran pendapatan dan belanja negara dan/atau anggaran pendapatan dan belanja
daerah.
Untuk memenuhi amanat undang undang tersebut departemen pendidikan nasional, dalam hal
ini direktorat jenderal peningkatan mutu pendidik dan tenaga kependidikan melalui progran
dekonsentrasi meluncurkan salah satu program yaitu pemberian tunjangan fungsional bagi
guru.
3. Tunjangan profesi
Program tunjangan profesi dibayarkan kepada guatau sertru yang telah memiliki sertifikat
atau sertifikasi pendidik setelah melalui uji kompetensi pleh lembaga yang berwenang.
Besarnya tunjangan profesi sebesar satu kali gaji pokok guru pada tingkat pangkat atau
golongan dan masa kerja garu berdasarkan peraturan perundang undangan yang berlaku.
UU no 14 tahun 2003 pasal 16 menjelaskan bahwa pemerintah memberikan tunjangan profesi
sebagaimana dimaksud kepada guru (PNS dan Non PNS) yang telah memiliki sertifikat
pendidik yag diangkat oleh penyelenggara pendidikan atau satuan pendidikan yang
diselenggarakan oleh masyarakat. Tunjangan profesi diberikan setara dengan satu kali gaji
pokok guru yang diangkat oleh satuan pendidikan yang diselenggaakan oleh pemerintah atau
pemerintah daerah yang tingkat, masa kerja dan kualitifikasi yang sama. Tunjangan profesi
sebagaimana dimaksud di atas dialokasikan dalam anggaran pendapatan dan belanja negara
(APBN) dan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Tunjangan profesi diberikan
kepada guru yang memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a. Memenuhi persyaratan akademik sebagau guru sesuai undang undang nomor 14 tahun 2005
tentang guru dan dosen
b. Memiliki satu atau lebih sertifikat pendidik yang telah diberi nomor registrasi guru oleh
depdiknas
c. Melaksanakan tugas sebagai guru tetap yang diangkat ileh pemerintah daerah atau satuan
pendidikan yang diselenggarakan masyarakat dan bertugas sebagai guru tetap pada satuan
pendidikan dengan beban kerja minimal 24 jam tatap muka dan maksimal 40 jam tatap muka
perminggu pada satu atau lebih satuan pendidikan ynag memiliki izin pendirian dari
pemerintah atau pemerintah daerah.
d. Tidak terikat sebagai tenaga tetap pada instansi selain dimaksud dalam huruf c
e. Mengajar sebagai guru mata pelajaran dan atau guru kelas pada satuan pendidikan yang
sesuai dengan peruntukkan sertifikat pendidik yang dimiliki.
f. Terdaftar pada SiM PTK/ SIM NUPTK pada dinas pendidikan provinsi/ kabupaten/ kota
maupun ditjen PMPTK sebagai guru tetap pada satu satuan pendidikan.

D. CUTI PTK
Cuti adalah keadaan tidak masuk kerja yang diijinkan dalam jangka waktu tertentu. Tujuan
pemberian cuti adalah dalam rangka usaha menjamin kesegaran jasmani dan rohani.
1. Dasar hukum
a. Undang undang republik indonesia nomor 8 tahun 1976 tentang pokok pokok kepegawaian
sebagaimana telah diubah dengan undang undang RI nomor 43 tahun 1999
b. Peraturan pemerintah RI nomor 24 tahun 1976 tentang cuti pegawai negeri sipil
c. Keputusan bersama 3 menteri cuti bersama
d. Surat edaran nomor SE- 3559/ MK.1/2009

2. Jenis jenis cuti


a. Cuti tahunan.
Merupakan hak PNS, termasuk CPNS yang telah bekerja secara terus menerus selama satu
tahun. CPNS hanya berhak atas cuti tahunan kecuali ditentukan lain oleh pejabat yang
berwenang memberikan cuti berdasarkan pertimbangan kemanusiaan. Selama menjalankan
cuti tahunan, PNS/CPNS yang bersangkutan TKPKN
Penggunaan cuti tahunan
1) Penggunaan curi tahunan dapat digabungkan dengan cuti bersama dengan jumlah paling
sedikit menjadi 3 hari kerja
2) Cuti bersama yang tidak digunakan karena kepentingan dinas dan berdasarkan surat tugas
tetap menjadi hak cuti tahunan PNS
3) Cuti tahunan yang tersisa 6 hari kerja atau kurang tetap menjadi hak PNS yang bersangkutan
4) Cuti tahunan yang tersisa lebih dari 6 hari kerja harus dimintakan penagguhan oleh
PNS/CPNS kepada pejabat yang berwenang memberikan cuti, agar penagguhan dimaksud
dapat dilaksanakan ditahun selanjutnya.
5) Pejabat yang berwenang memberikan cuti dapat menangguhkan cuti tahunan paling lama
akhir bulan desember tahun yang berjalan
6) Cuti tahunan yang tersisa digabungkan penggunaannya dengan cuti tahunan tahun yang
sedang berjalan, daat diambil untuk paling lama delapan belas hari kerja termasuk cuti
tahunan yang sedang berjalan dan dua puluh empat hari kerja termasuk cuti tahunan yang
sedang berjalan. Apabila cuti tahunan tidak diambil secara penuh dalam beberapa tahun
7) Pengajuan permohonan cuti tahunan yang tersisa digabungkan penggunaannya dengan cuti
tahunan yang sedang berjalan harus mencantumkan jumlah cuti tahunan ynag tersisa di cuti
tahunan pada masing masing tahun yag bersangkutan
8) Tanpa adanya persetujuan penangguhan dari pejabat yang berwenang memberikan cuti,
lamanya cuti tahunan yang dapat diambil dalam tahun yang sedang berjalan menjadi paling
lama 18 hari kerja
b. Cuti besar
Hal cuti besar merupakan hal PNS yang telah bekerja paling kurang 6 tahun secara terus
menerus. PNS yang akan/telah menjalani cuti besar tidak berhak lagi atas cuti tahunan dalam
tahun yang bersangkutan. Selama menjalankan cuti besar, PNS yang bersangkutan tidak
berhak atas tunjangan, jabatan dan tidak memperoleh TKPKN.
Penggunaan cuti besar
1. PNS perlu merencanakan penggunaan cuti besar sejak awal tahun
2. Cuti besar dapat digunakan oleh PNS untuk memenuhi kewajiban agama; persalinan anaknya
yang keempat apabila PNS yang bersangkutan mempunyiai hak cuti besar menjelang
persalinan; dan keperluan lainnya sesuai pertimbangan pejabat yang berwenang memberikan
cuti
3. PNS yang telah melaksanakan cuti tahunan dan akan mengambil cuti besar pada tahun yang
bersangkutan harus mengembalikan TKPKN yang diterimanya selama melaksanakan cuti
tahunan
4. PNS yang akan/telah menggunakan cuti bersama berhak untuk cuti bersama;cuti tahunan
yang bersisa pada tahun sebelum digunakan cuti besar; cuti sakit; cuti bersalin untuk
pertama, kedua dan ketiga; dan cuti karena alasan penting
c. Cuti sakit
Hak cuti sakit merupakan hak PNS atau CPNS wanita yang mengalami gugur kandungan
Penggunaan cuti sakit:
1. PNS yang menderita sakit lebih dari dua hari harus melampirkan surat keterangan dokterdan
rumah sakit pemerintah/ puskesmas
2. PNS yang telah menggunakan cuti sakit untuk jangka waktu paling lama satu tahun enam
bulan dan telah aktif kembali bekerja , berhak atas : cut bersama; cuti tahunan pada tahun
yang berjalan dan cuti tahunan yang tersisa sebelum digunakan cuti sakit; cuti besar; cuti
bersalin dan cuti karena alasan penting.

d. Cuti bersalin
Merupakan hak PNS/CPNS wanita untuk persalunan anaknya yang pertama, kedua, ketiga.
Cuti bersalin yang digunakan oleh CPNS wanitay yang persali nan anaknya yang pertama
akan mengurangi hak cuti persalinan menjadi PNS
Penggunaan cuti bersalin:
1. PNS yang telah menggunakan cuti bersalin berhak atas cuti cuti lainnya
2. PNS wanita dapat diberikan cuti besar untuk persalinan anaknya yang keempat, apabila yang
bersangkutan mempunyai hak cuti besar menjelang persalinan.
3. PNS wanita yang akan telah menggunakan cuti besar untuk persalinan anaknya yang
keempat tidak berhak lagi atas cuti tahunannya dalam tahun yang bersangkutan
4. PNS wanita yang akan telah menggunakan cuti bersalin berhak atas cuti lainnya.
5. PNS wanita dapat diberikan cuti di luar tanggungan negara untuk persalinan anaknya yang
kelima dan seterusnya.
6. PNS wanita yang telah menggunakan cuti di luar tanggungan tersebut, berhak atas :
a. Cuti bersama
b. Cuti tahunan pada tahun yang berjalan dan cuti tahunan yang tersisa pada tahun sebelum di
gunakan cuti di luar tanggungan Negara.
c. Cuti besar setelah kerja kembali, paling kurang 6 (enam ) tahun secara terus menerus.
d. Cut sakit.
e. Cuti karena alasan penting.