Anda di halaman 1dari 24

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Karies Gigi

Karies gigi merupakan penyakit yang terdapat pada jaringan keras gigi yaitu

email, dentin, dan sementum yang mengalami proses kronis regresif. Karies gigi

terjadi karena adanya interaksi antara bakteri di permukaan gigi, plak, atau

biofilm, dan diet, terutama komponen karbohidrat, yang dapat difermentasikan

oleh bakteri plak menjadi asam, terutama asam laktat dan asetat. Ditandai dengan

adanya demineralisasi jaringan keras gigi, dan rusaknya bahan organik akibat

terganggunya keseimbangan email dan sekelilingnya, menyebabkan terjadinya

invasi bakteri, dan kematian pulpa, serta berkembangnya bakteri ke jaringan

periapeks, sehingga dapat menimbulkan rasa nyeri pada gigi (Putri, dkk., 2011).

1. Etiologi Karies

Karies gigi merupakan penyakit periodontal, yang dapat menyerang seluruh

lapisan masyarakat. Etiologi karies bersifat multifaktorial, sehingga memerlukan

faktor-faktor penting seperti host, agent, mikroorganisme, substrat, dan waktu

(Kidd, dkk., 2002). Ada yang membedakan faktor etiologi karies, atas faktor

penyebab primer yang langsung mempengaruhi biofilm, atau lapisan tipis normal

pada permukaan gigi, yang berasal dari saliva, dan faktor modifikasi yang tidak

langsung mempengaruhi biofilm (Kidd dan Bechal, 2012).

5
6

Gambar 2.1. Etiologi Karies Gigi (Kidd,


dkk., 2002).

a. Host

Host adalah gigi itu sendiri (Tjiptowidjojo, 2015) dan saliva (Tarigan,

2012). Terdapat banyak penyebab kerusakan gigi yang disebabkan faktor host,

yaitu:

1) Kualitas gigi

Kekerasan atau density gigi terhadap pengerusakan gigi yang

disebabkan asam dalam mulut, tergantung dari struktur gigi dan nutrisi yang

cukup pada waktu pembentukan gigi (Tarigan, 2012).

2) Morfologi Gigi

Morfologi gigi telah lama dikenal sebagai faktor penting terjadinya

karies. Berdasarkan pengamatan klinis, bahwa daerah ceruk dan fisura gigi

posterior sangat rentan terhadap karies. Makanan dan debris atau sisa

makanan, serta mikroorganisme mudah melekat di celah-celah gigi.

Berdasarkan hasil pengamatan, menunjukkan hubungan antara kedalaman

ceruk dan fisura, dengan gigi yang rentan terhadap karies (Tarigan, 2012).
7

3) Struktur gigi dan pertumbuhannya

Setiap gigi dalam mulut terdiri dari 3 bagian yaitu mahkota gigi, leher

gigi dan akar gigi. Mahkota gigi adalah bagian dari gigi, yang tampak dalam

rongga mulut, dan mempunyai bentuk yang berbeda-beda, sesuai dengan

fungsinya, yaitu gigi seri atau insisal untuk memotong makanan, gigi taring

atau cuspid untuk mencabik makanan, gigi molar kecil atau bicuspid dan

gigi geraham/molar untuk mengunyah makanan). Leher gigi adalah bagian

pertemuan antara mahkota gigi dan gusi. Akar gigi adalah bagian yang

tertanam dalam tulang rahang, dan tidak tampak dalam rongga mulut

(Tarigan, 2012).

4) Susunan gigi geligi dalam rahang :

Gigi yang berjejal atau crowded dan tidak rata, akan sangat sulit untuk

dilakukan pembersihan secara alami, selama proses penguyahan. Demikian

juga akan cukup sulit untuk dapat membersihkan gigi dan mulut dengan

baik, dengan menggunakan sikat gigi dan benang gigi (dental floss), jika

gigi dalam keadaan berjejal atau bertumpang tindih. Oleh sebab itu, kondisi

ini dapat menyebabkan masalah karies gigi (McDonald dan Avery, 2005).

5) Kehadiran alat-alat gigi dalam mulut :

Gigi tiruan lepasan, space maintainers, dan alat orthodontik lainnya

sering mendorong untuk terjadinya retensi dari sisa-sisa makanan dan plak,

ini terbukti dengan adanya peningkatan populasi bakteri. Streptococcus

mutans secara signifikan meningkat selama perawatan aktif. Namun, ketika


8

masuk minggu ke 6-15 fase retensi perawatan, tingkat mikroba menurun

secara signifikan, pada tingkat yang setara dengan anak-anak yang tidak

menggunakan alat orthodontik. Pasien yang menggunakan alat gigi dalam

rongga mulut, harus menjaga kebersihan mulut, dengan menyikat gigi lebih

cermat (McDonald dan Avery, 2005).

b. Agent

Agent dalam hal ini yaitu bakteri yang menyebabkan kerusakan gigi.

Bakteri yang paling berperan adalah Streptococcus mutans dan Lactobacillus.

Bakteri Streptococcus mutans memiliki enzim glucosyltransferase, yang dapat

membentuk suatu polisakarida ekstraseluler, sehingga terjadi perlekatan dengan

dextran yang melekatkan bakteri ke permukaan gigi dan membentuk plak

(Tjiptowidjojo, 2015).

Penebalan plak yang semakin menumpuk, dapat menghambat fungsi

saliva, dalam menetralkan pH. Penumpukan plak akan mendorong jumlah

perlekatan bakteri, yang semakin banyak. Bakteri-bakteri ini banyak

memproduksi asam, dengan tersedianya karbohidrat, yang mudah meragi, seperti

sukrosa dan glukosa, menyebabkan pH plak akan menurun, sampai dibawah 5,

dalam waktu 1-3 menit. Penurunan pH yang berulang-ulang dalam waktu tertentu,

akan mengakibatkan demineralisasi permukaan gigi, dan dimulai proses karies

(Houwink dan Winchel, 2000).


9

c. Substrat Makanan

Jenis makanan yang berpengaruh terhadap kesehatan gigi dan mulut,

yaitu:

a. Jenis makanan yang mengandung karbohidrat, lemak, protein, makanan

yang lunak dan lengket.

b. Jenis makanan yang mempunyai fungsi mekanis dari makanan yang

dimakan, yaitu bersifat membersihkan gigi, seperti apel, jambu air,

bengkuang, dan sebagainya (Tarigan, 1992).

Sebagai substrat dalam mulut yang paling berperan terhadap kemungkinan

terjadinya karies gigi karena mudah difermentasikan adalah karbohidrat.

Karbohidrat dapat diubah oleh mikroorganisme, yang dapat merusak email

(McDonald dan Avery, 2005).

d. Waktu

Pengaruh waktu dalam proses terjadinya karies gigi, sangat berperan

sekali. Permulaan terjadinya karies adalah paparan dari bakteri seperti

Streptococcus mutans dan substrat makanan, yang menyebabkan demineralisasi

permukaan gigi, sehingga terjadi lubang. Dari lesi yang terlihat sampai terjadinya

lubang, sangat membutuhkan waktu (Cappelli dan Shulman, 2005).

Kerusakan gigi terjadi dalam waktu yang cukup lama. Apabila kedua

faktor diatas yaitu agent dan substrat bertemu, dalam waktu yang lama, akan

memungkinkan terjadinya reaksi fermentasi di rongga mulut, sehingga terbentuk

suasana asam (pH di bawah 6). Hal ini apabila berlangsung dalam waktu yang

lama, akan terjadi demineralisasi dari enamel gigi, yaitu bahan anorganik dari
10

enamel larut dalam suasana asam, sehingga ada jalan masuk dari mikroba-

mikroba yang memang selalu ada dalam rongga mulut, untuk merusak bagian

organik dari enamel (Tjiptowidjojo, 2015).

2. Patogenesis Karies Gigi

Terjadinya karies gigi dimulai dengan kerusakan pada email, yang dapat

berlanjut ke dentin. Untuk dapat terjadinya suatu proses karies pada gigi,

dibutuhkan empat faktor utama yang harus saling berinteraksi yaitu faktor host,

aget, substrat, dan waktu. Mekanisme terjadinya karies gigi dimulai dengan

adanya plak, beserta bakteri penyusunnya. Dalam proses terjadinya karies,

mikroorganisme Lactobacillus dan Streptococcus mutans mempunyai peranan

yang sangat besar. Proses karies dimulai oleh Streptococcus mutans, dengan

membentuk asam, sehingga menghasilkan pH yang lebih rendah. Penurunan pH

tersebut mendorong Laktobacillus untuk memproduksi asam, dan menyebabkan

terjadinya proses karies (Ramayanti dan Purnakarya, 2013).

Streptococcus mutans memiliki sifat-sifat tertentu, yang memungkinkannya

memegang peranan utama dalam proses karies gigi, yaitu memfermentasi

karbohidrat menjadi asam, sehingga mengakibatkan pH menurun, membentuk,

dan menyimpan polisakarida intraseluler dari berbagai jenis karbohidrat.

Simpanan ini dapat dipecahkan kembali oleh bakteri Streptococcus mutans

apabila karbohidrat eksogen kurang, sehingga dengan demikian menghasilkan

asam terus menerus (Kriswandidi, dkk., 2005).

Streptococcus mutans melekat pada permukaan gigi, dengan perantara

glukan. Produksi glukan yang tidak dapat larut dalam air, merupakan faktor
11

virulensi yang penting. Glukan merupakan suatu polimer dari glukosa, sebagai

hasil reaksi katalis glucosyltransferase. Glukosa yang dipecah dari sukrosa

dengan adanya glucosyltransferase, dapat berubah menjadi glukan. Streptococcus

mutans menghasilkan dua enzim, yaitu glucosyltransferase dan

fruktosyltransferase. Enzim-enzim ini bersifat spesifik, untuk substrat sukrosa

yang digunakan untuk sintesa glukan, dan fruktan, atau levan. Koloni

Streptococcus mutans yang ditutupi oleh glukan, dapat menurunkan proteksi dan

daya antibakteri saliva terhadap plak gigi (Regina, 2007).

Plak dapat menghambat difusi asam, keluar dalam saliva, sehingga

konsentrasi asam pada permukaan enamel meningkat. Asam akan melepaskan ion

hidrogen, yang bereaksi dengan kristal apatit dan merusak enamel, berpenetrasi

lebih dalam ke dalam gigi, sehingga kristal apatit menjadi tidak stabil dan larut.

Selanjutnya terjadi infiltrasi bakteri asidurik dan asidogenik pada dentin, dan

menyebabkan dekalsifikasi dentin, yang dapat merusak gigi. Hal ini menyebabkan

produksi asam meningkat, dan menyebabkan reaksi pada kavitas gigi juga

menjadi asam, sehingga kondisi ini akan menyebabkan proses demineralisasi gigi

terus berlanjut. Perlekatan bakteri karena adanya reseptor dekstran, pada

permukaan dinding sel, sehingga mempermudah interaksi intersel selama formasi

plak. Dekstran berhubungan dengan kariogenik alami bakteri (Regina, 2007).

Tes mikrobiologi dipakai untuk penilaian karies, dengan menggunakan

sampel saliva, untuk mengetahui jumlah koloni Streptococcus mutans dan

Lactobacillus, di dalam rongga mulut. Selanjutnya, dikuantifikasi dan

diekstrapolasi untuk memperoleh jumlah koloni bakteri tersebut, dalam hitungan


12

permililiter saliva, yang disebut dengan colony forming unit (CFU), dan

ditetapkan sebagai:

a. Aktifitas karies yang tinggi, jumlah koloni Streptococcus mutans > 106

/mL, sedangkan jumlah koloni Lactobacillus > 105 /mL.

b. Aktifitas karies yang rendah, jumlah koloni Streptococcus mutans < 105

/mL, sedangkan jumlah koloni Lactobacillus < 104 /mL (Samaranayake,

2002).

3. Klasifikasi Karies Gigi

a. Berdasarkan Stadium Karies (dalamnya karies)

1. Karies Superfisialis

Karies hanya mengenai enamel, dentin belum terkena

Gambar 2.2 Karies Superfisialis (Sari, 2014)


13

2. Karies Media

Karies sudah mengenai dentin, tetapi belum melebihi setengah dentin.

Gambar 2.3. Karies Media (Sari, 2014).

3. Karies Profunda

Karies sudah mengenai lebih dari setengah dentin dan kadang sudah

mengenai pulpa.

Gambar 2.4. Karies Profunda (Sari, 2014).

b. Berdasarkan Keparahan atau Kecepatan Berkembangnya

1. Karies Ringan

Kasusnya disebut ringan jika serangan karies hanya pada gigi yang

paling rentan seperti pit (depresi yang kecil, besarnya seujung jarung yang

terdapat pada permukaan oklusal dari gigi molar) dan fisure (suatu celah

yang dalam dan memanjang pada permukaan gigi) sedangkan kedalaman


14

kariesnya hanya mengenai lapisan email (iritasi pulpa) (Kidd dan Bechal,

2012).

2. Karies Sedang

Kasusnya dikatakan sedang jika serangan karies meliputi

permukaan oklusal dan aproksimal gigi posterior. Kedalaman karies

sudah mengenai lapisan dentin (hiperemi pulpa) (Kidd dan Bechal,

2012).

3. Karies Berat/Parah

Kasusnya dikatakan berat jika serangan juga meliputi gigi anterior

yang biasanya bebas karies. Kedalaman karies sudah mengenai pulpa,

baik pulpa tertutup maupun pulpa terbuka (pulpitis dan gangren pulpa).

Karies pada gigi anterior dan posterior sudah meluas ke bagian pulpa

(Kidd dan Bechal, 2012).

c. Klasifikasi Karies Menurut G.V. Black

Menurut G.V. Black bahwa klasifikasi karies gigi dapat dibagi atas 5, yaitu:

1. Kelas I adalah karies yang mengenai permukaan oklusal gigi posterior.

2. Kelas II adalah karies gigi yang sudah mengenai permukaan oklusal

dan bagian aproksimal gigi posterior.

3. Kelas III adalah karies yang mengenai bagian aproksimal gigi anterior.

4. Kelas IV adalah karies yang sudah mengenai bagian aproksimal dan

meluas ke bagian insisal gigi anterior.


15

5. Kelas V adalah karies yang mengenai bagian servikal gigi anterior dan

posterior (Kidd dan Bechal, 2012).

4. Faktor Resiko Karies

Karies merupakan penyakit multifaktorial, untuk dapat menyebabkan

terjadinya karies, harus didapatkan berbagai macam faktor resiko. Faktor resiko

adalah berbagai aspek atau karakteristik dasar, dari studi populasi yang

mempengaruhi kemungkinan terjadinya suatu penyakit. Adanya hubungan sebab

akibat antara faktor resiko dengan terjadinya karies, penting sebagai proses

identifikasi, dan menilai perkembangan lesi awal karies (Riech, dkk., 1999).

a. Pengalaman Karies

Pengalaman karies menurut penelitian epidemiologis, adalah

pengalaman karies yang berhubungan terhadap perkembangan karies,

dimasa mendatang. Sensitifitas parameter ini hampir mencapai 60%.

Tingginya skor pengalaman karies pada gigi desidui, dapat memprediksi

terjadinya karies pada gigi permanennya (Riech, dkk., 1999).

b. Umur

Dampak proses penuaan terhadap kesehatan gigi dan mulut, antara lain

karies gigi. Dengan bertambahnya usia, semakin lama gigi berada dalam

lingkungan mulut, faktor resiko terjadinya karies gigi akan lebih besar

berpengaruh terhadap gigi (Cappelli dan Shulman, 2005). Anak-anak

mempunyai resiko karies yang paling tinggi, ketika gigi mereka baru erupsi,
16

sedangkan orang tua lebih beresiko terhadap terjadinya karies akar (Riech,

dkk.,1999). Tarigan (2012) membuat faktor umur menjadi 3 fase, yaitu:

1) Periode gigi campuran, disini Molar 1 paling sering terkena karies.

2) Periode pubertas (remaja) umur antara 14- 20 tahun. Pada masa ini

terjadi perubahan hormonal, yang dapat menimbulkan

pembengkakan gusi, sehingga kurang terjaganya kebersihan mulut,

dan dapat meningkatkan prosentase karies.

3) Umur antara 40-50 tahun. Pada umur ini sudah terjadi retraksi, atau

menurunnya gusi dan papil, sehingga sisa-sisa makanan sering lebih

sukar dibersihkan.

c. Jenis Kelamin

Jenis kelamin wanita masa kanak kanak dan remaja memliki nilai

Decay, Missing, Filled, Teeth (DMFT) lebih tinggi dibandingkan pria.

Walaupun demikian, komponen gigi yang hilang (M, missing) lebih sedikit

daripada pria, umumnya karena oral hygiene wanita lebih baik. Sebaliknya,

pria mempunyai komponen tumpatan pada gigi (F, filled) yang lebih banyak

dalam indeks DMFT (Riech, dkk., 1999).

d. Oral Hygiene

Salah satu komponen dalam terjadinya karies adalah plak bakteri pada

gigi. Karies dapat dikurangi dengan melakukan penyingkiran plak secara

mekanis, dari permukaan gigi. Pembersihan dengan menggunakan pasta gigi

mengandung fluoride secara rutin, dapat mencegah karies. Pemeriksaan gigi


17

yang teratur dapat mendeteksi gigi, yang berpotensi menjadi karies. Kontrol

plak yang teratur dan pembersihan gigi dapat membantu mengurangi insiden

karies gigi. Apabila plaknya sedikit, maka pembentukan asam akan

berkurang, dan karies tidak dapat terjadi (Riech, dkk., 1999).

B. Pengetahuan

Pengetahuan merupakan hasil atau wujud dari pengiinderaan terhadap suatu

objek tertentu. Penginderaan terjadi melalui paska indera, yakni indera

penglihatan, penciuman, parasa, dan baraba. Pengetahuan manusia sebagian besar

diperoleh melalui indera penglihatan dan pendengaran. Pengetahuan merupakan

domain yang sangat penting dalam bentuk tindakan seseorang (over behavior)

(Notoadmodjo, 2007). Menurut Notoatmodjo (2007), terdapat 6 (enam) tingkatan

pengetahuan yang dicakup dalam domain kognitif, yaitu:

1. Tahu (know), diartikan sebagai hal mengingat suatu materi yang

sebelumnya telah dipelajari. Merupakan tingkat pengetahuan yang paling

rendah.

2. Memahami (comprehension), diartikan sebagai kemampuan seseorang

dalam menjelaskan secara benar, tentang objek yang diketahui, dan dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar dan jelas.

3. Aplikasi (application), diartikan sebagai suatu kemampuan, untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada kondisi yang nyata atau

sebenarnya.

4. Analisis (analysis), diartikan sebagai kemampuan dalam menjabarkan


18

suatu materi kedalam komponen-komponen, tetapi masih dalam satu

struktur organisasi, dan masih berkaitan satu sama lainnya.

5. Sintesis (synthesis), diartikan sebagai suatu kemampuan, untuk

menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang

baru.

6. Evaluasi (evaluation), Berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan

penilaian pada suatu materi atau objek. Penilaian yang dilakukan

berdasarkan kriteria yang ditentukan sendiri atau kriteria yang sudah ada.

Dari keenam tingkatan tersebut semuanya saling berkaitan dan

mempengaruhi, sehingga apabila semuanya dialami oleh seseorang, maka akan

menimbulkan suatu prilaku sebagai hasilnya (Notoatmodjo, 2003). Kesehatan gigi

susu sangat mempengaruhi perkembagan dan pertumbuhan gigi tetap. Oleh karena

itu, peran serta orangtua sangat diperlukan didalam bimbingan, memberikan

pengertian, mengingatkan dan menyediakan fasilitas kepada anak, supaya kelak

dapat memelihara kebersihan gigi dan mulut (Riyanti, 2005).

1. Pengetahuan Ibu tentang Kesehatan Gigi Anak

Pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi sangat penting karena merupakan

faktor yang penting dalam memberikan pengaruh pada kesehatan dan penyakit

gigi anak. Penelitian yang dilakukan di Sangihe mengenai pengetahuan ibu

mencakup dua kategori pengetahuan yaitu pengetahuan baik dan pengetahuan

buruk (Solikin, dkk., 2013).

Pengetahuan ibu didasari juga oleh beberapa faktor seperti pekerjaan,

tingkat pendidikan, pengalaman mengasuh anak, lingkungan tempat tinggal, serta


19

status ekonomi. Salah satu faktor yang jelas mempengaruhi yaitu lingkungan

tempat tinggal responden. Lingkungan tempat tinggal responden termasuk dekat

dengan kota. Kedekatan dengan perkotaan menyebabkan kesempatan responden

untuk memperoleh informasi, tentang kesehatan gigi anak dari media massa,

penyuluhan, atau informasi dari tenaga kesehatan relatif mudah (Solikin, dkk.,

2013).

Informasi mengenai kesehatan gigi yang disampaikan oleh iklan pasta gigi

atau sikat gigi, maupun iklan layanan masyarakat tentang pemeliharaan gigi

merupakan salah satu sumber informasi, tentang kesehatan gigi anak yang

diterima ibu. Informasi yang diterima tersebut secara tidak sadar dapat

meningkatkan pengetahuan ibu tentang kesehatan gigi anak (Jayanti, 2012).

2. Peran Orang Tua

Peranan ibu terhadap lingkungan anak-anak ini tidak berhenti dimasa anak-

anak saja, tetapi masih berlangsung dan kadang-kadang sampai seumur hidupnya,

khususnya pengaruh yang berupa pengalaman yang menegangkan, menakutkan,

menggoncangkan, membahayakan, dan lain-lain (Notoadmodjo, 2013).

Peran aktif orang tua terutama ibu sangat dibutuhkan dalam perawatan gigi

anak, karena anak biasanya tidak peduli dengan kondisi giginya, ini menjadi tugas

orang tua terutama ibu mengajarkan kepada anaknya akan pentingnya menjaga

kebersihan gigi dan mulut. Berikut beberapa contoh yang dapat dilakukan agar

anak mau merawat giginya (Notoadmodjo, 2010):

a. Memberikan contoh menyikat gigi sesudah makan, sebelum tidur dengan

mengikut sertakan secara bersama.


20

b. Menceritakan hal-hal yang menarik dan menyenagkan jika gigi sehat dan

sebaliknya.

c. Tidak menjadikan dokter gigi dan tenaga kesehatan gigi sebagai ancaman jika

anak nakal.

Dengan demikian, lambat lalu kita dapat menanamkan disiplin dan kebiasaan

untuk merawat giginya sendiri, dan juga tugas orang tua terutama ibu dalam

mempersiapkan aspek-aspek psikologi anak sebelum anak dibawa kerumah sakit

atau klinik gigi, sehingga si anak tidak menanggap perawatan gigi sebagai suatu

yang menakutkan (Notoadmodjo, 2010).

1. Memanjakan anak (offer-affection)

Anak-anak seperti ini kurang dapat dipersiapkan untuk mendapatkan

tempat yang tepat dimasyarakat, di sekolah atau ditengah keluarga dan

mereka kurang keberanian, untuk masuk ke dalam kamar praktek atau ruang

pemeriksaan kesehatan gigi.

2. Kekhawatiran yang berlebih-lebihan (over anxiety)

Anak menjadi sangat tergantung pada orang tua, penakut, pemalu

sehingga si anak akan merasa canggung apabila tidak bersama orang tua

mereka.

3. Melindungi anak secara berlebihan (over protection)

Gejala utama yang nampak pada anak ini ialah selalu menolak

kewajibannya untuk sesuatu dan tingkah lakunya tidak bertanggung jawab

juga selalu ingin menjadi setiap keadaan.


21

4. Sikap yang keras (over authority)

Sebagai akibat anak menyatakan perasaan dalam bentuk dalam negatif,

selalu mempertahankan diri terhadap bentuk yang dianggap merugikan dan

merintang dirinya, serta keras kepala.

5. Sikap kurang kasih sayang (under affection)

Akan menimbulkan sikap anak jadi pemalu, pendiam, suka menyadari

kurang percaya diri, sehingga suka menipu orang lain.

C. Perilaku

Perilaku merupakan respon atau reaksi seseorang terhadap stimulus atau

rangsangan (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 2001). Perilaku

merupakan segala kegiatan dan atau aktivitas manusia, baik yang diamati lansung

maupun yang tidak diamati oleh pihak luar (Notoarmodjo, 2007). Perilaku

mempunyai peranan yangsangat besar terhadap status kesehatan individu, maupun

kelompok masyarakat (Kartono, 2000). Dari pengertian tersebut dapat

disimpulkan bahwa perilaku merupakan suatu respon atau tanggapan seseorang

setelah ada pemicu baik dari dalam diri ataupun dari lingkungan.

1. Jenis-Jenis Perilaku

Skinner dalam Notoatmodjo (2007) menjelaskan bahwa perilaku terjadi

melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, kemudian organisme tersebut

memberikan respon atas stimulus yang diperoleh. Untuk itu skinner membagi dua
22

jenis perilaku berdasarkan respon terhadap stimulus-stimulus yang mungkin

muncul, antara lain:

a. Perilaku tertutup (Convert Behavior)

Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus dalam

bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon atau reaksi terhadap

stimulus ini masih terbatas pada perhatian, persepsi, pengetahuan,

kesadaran, dan sikap yang terjadi pada orang yang menerima stimulus.

b. Perilaku terbuka (overt behavior)

Perilaku terbuka merupakan respon terhadap stimulus dalam

bentuk tindakan nyata atau terlihat. Perilaku ini dapat diamati oleh orang

lain dengan mudah.

2. Tahap Membentuk Perilaku

Perilaku merupakan proses yang dilakukan berulang kali. Perilaku tidak

dapat muncul secara tiba-tiba. Rogers dalam Notoatmodjo (2007)

mengungkapkan bahwa sebeelum seseorang memiiki perilaku baru, maka orang

itu memiliki beberapa tahapan. Proses tersebut antara lain awarness, evaluation,

trial, dan adoption.

a. Awareness (Kesadaran)

awarness merupakan tahap awal dalam mengadopsi perilaku. Karena

dengan kesadaran ini akan memicu seseorang untuk berfikir lebih lanjut

tentang apa yang ia terima.


23

b. Interest (Ketertarikan)

Interest merupakan tehap kedua setelah seseorang sadar terhadap

sesuatu stimulus. Seeorang pada tahap ini mulai melakukan suatu tindakan

dari stimulus yang diterimanya.

c. Evaluation (Menimbang)

Evaluation merupakan sikap seseorang dalam memikirkan baik buruk

stimulus yang ia terima setelah adanya sikap ketertarikan. Apabila stimulus

yang dianggap buruk atau kurang berkesan ia akan diam atau acuh.

Sebaliknya apabila stimulus yang ia terima dianggap baik, ia akan membuat

seseorang melakukan tindakan.

d. Trial (Mencoba)

Trial merupakan tahap lanjut pada seseorang yang telah mampu

memikirkan stimulus yang diperoleh baik atau buruk. Sehingga

menimbulkan keinginan untuk mencoba.

e. Adoption (Mengadopsi)

adoption merupakan tahap akhir setelah melewati tahap-tahap lanjut

pada sebelumnya. Perilaku ini akan muncul sesuai dengan kesadaran,

pengetahuan, dan sikap yang dimiliki seseorang. Sehingga ia mampu

melakukan suatu tindakan yang dianggap baik atau salah sesuai stimulus

yang ia terima.

Perilaku akan terbentuk berdasarkan proses, begitu pula pada perilaku

kesehatan. Perilaku akan ditunjukkan dengan keyakinan yang dimiliki.


24

Keyakinan itu dipengaruhi oleh latar belakang intelektual dan pengetahuan

yang dimiliki (Potter dan Perry, 2005).

D. Anak

1. Pengertian Anak

Anak adalah individu yang rentan, karena perkembangan kompleks yang

terjadi di setiap tahap masa kanak-kanak dan masa remaja. Lebih jauh, anak juga

secara fisiologis lebih rentan dibandingkan orang dewasa, dan memiliki

pengalaman yang terbatas, yang mempengaruhi pemahaman dan persepsi mereka

mengenai dunia. Awal terjadinya penyakit pada mereka, seringkali mendadak, dan

penurunan fungsi organ dapat berlangsung dengan cepat (Slepin, 2006).

Faktor kontribusinya adalah sistem pernapasan dan kardiovaskular yang

belum matang, yang memiliki cadangan lebih sedikit dibandingkan orang dewasa,

serta memiliki tingkat metabolisme yang lebih cepat, yang memerlukan curah

jantung lebih tinggi, pertukaran gas yang lebih besar dan asupan cairan, serta

asupan kalori yang lebih tinggi per kilogram berat badan dibandingkan orang

dewasa. Kerentanan terhadap ketidakseimbangan cairan pada anak adalah akibat

jumlah dan distribusi cairan tubuh. Tubuh anak terdiri dari 70-75% cairan,

dibandingkan dengan 57-60% cairan pada orang dewasa. Pada anak-anak

sebagian besar cairan ini berada di kompartemen cairan ekstra sel dan oleh karena

itu cairan ini lebih dapat diakses. Oleh karena itu kehilangan cairan yang relatif

sedang dapat mengurangi volume darah, menyebabkan syok, asidosis, dan

kematian (Slepin, 2006).


25

2. Karakteristik Anak

Kemampuan bicara anak tentu saja berbeda dengan kemampuan bicara

orang dewasa. Ada dua tipe karakteristik bicara anak (Dewanti, 2012) yaitu:

a. Berbicara yang berpusat pada diri sendiri (egosentrik) anak berbicara bagi

kesenangan diri mereka sendiri. Mereka tidak berusaha untuk bertukar ide

atau memperhatikan pendapat orang lain. Bicara egosentris adalah

percakapan semu atau monolog.

b. Bicara yang berpusat pada orang lain (sosialisasi) adalah bicara yang

disesuaikan dengan harapan orang lain yang diajak bicara. Hal ini dapat

terjadi bila anak mampu memandang situasi dari sudut pandang orang lain.

Menurut Piaget perkembangan bahasa (termasuk bicara) pada tahap

praoperasi merupakan transisi dari sifat-sifat egosentris ke interkomunikasi social.

Ginsberg dan Opper menyebutkan bahwa anak-anak menggunakan bahasa secara

non komunikatif dan komunikatif (Saparno, 2001).

a. Penggunaan bahasa nonkomunikatif

Ada tiga macam penggunaan bahasa yang nonkomunikatif (Saparno,

2001) antara lain:

a. Anak menirukan apa saja yang baru saja ia dengar. Ia menirukan

orang lain tanpa sadar.

b. Anak berbicara sendirian (monolog). Seorang anak kadang berbicara

keras secara sendirian tanpa mau berkomunikasi dengan orang lain

seperti saat bermain.


26

c. Monolog diantara teman-teman. Seorang anak kadang berbicara

dengan diri sendiri agak keras, meskipun ia berada di tengah teman-

temanya. Beberapa anak yang sedang duduk bersama dapat berbicara

sendiri-sendiri, tanpa ada maksud untuk berhubungan dengan teman

yang lain.

b. Penggunaan bahasa komunikatif.

Seorang anak mulai mencoba berhubungan dengan orang lain.

Misalnya, anak mencoba menjelaskan bagaimana permaian berfungsi

atau kadang mengkritik teman lain. Mereka saling berbicara dan

menanggapi apa yang dikatakan temanya, meskipun masih sering salah

komunikasi.

E. Hubungan Pengetahuan Orang Tua tentang Kesehatan Gigi dan Mulut

dengan Keparahan Karies pada Anak

Hubungan antara pengetahuan ibu dengan tingkat keparahan karies, hal itu

juga sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Bahuguna di India yang

menyatakan bahwa selain pengetahuan yang berpengaruh terhadap kesehatan gigi

anak yaitu sikap dan kesadaran orang tua. Inisiatif orang tua merupakan hal

penting dalam upaya kesehatan gigi anak. Inisiatif orang tua dalam hal ini

berperan penting guna upaya pencegahan penyakit gigi pada anak, juga sebagai

promotif terhadap masalah kesehatan gigi yang ada (Natamiharja, 2010).

Banyak faktor yang menyebabkan sulitnya meningkatkan kesehatan gigi

dan mulut pada anak. Salah satu faktor yang penting adalah peranan ibu. Sebagai
27

pemegang figur pertama yang dikenal anak sejak lahir, perilaku dan kebiasaan ibu

akan sangat menentukan status kesehatan gigi anaknya. Banyak teori tentang

tingkah laku seperti Health Belief Model dan teori Reasoned Action menyatakan

tentang peranan besar dari pengetahuan dan perilaku dalam perubahan tingkah

laku. Dalam hal ini, khususnya pada peranan pengetahuan dan tingkah laku orang

tua dalam perilaku kesehatan. Pengetahuan ibu mengenai kesehatan gigi anak ini

meliputi pengetahuan ibu tentang penyebab karies gigi, frekuensi menyikat gigi

yang benar, tanda-tanda awal lesi karies, jenis makanan yang menyebabkan

karies, serta pentingnya kunjungan kedokter gigi secara berkala.

Masa anak merupakan dasar pembentukan fisik dan kepribadian pada masa

berikutnya. Dengan kata lain masa anak-anak merupakan masa emas

mempersiapkan seorang individu menghadapi tuntutan zaman sesuai potensinya.

Jadi setiap anak berhak mendapatkan perhatian dari orang tua khususnya

kesehatan gigi, supaya turut meningkatkan potensi anak di masa pertumbuhan dan

perkembangannya (Natamiharja, 2010).

F. Pengukuran Pengetahuan

Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau

Kuesioner yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek

penelitian atau responden (Notoadmodjo, 2010). Untuk memudahkan terhadap

pemisahan tingkat pengetahuan dalam penelitian, tingkat pengetahuan dibagi

berdasarkan skor yang terdiri dari (Arikunto, 2006):

1. Dikatakan baik bila skor atau nilai 76-100%.

2. Dikatakan cukup bila skor atau nilai 56-75%.


28

3. Diakatakan kurang bila skor atau nilai <56.

Baik, apabila subyek mampu menjawab dengan benar 76-100% dari seluruh

pertayaan. Cukup, apabila subyek mampu menjawab dengan benar 56-75%, dan

kurang, apabila subyek mampu menjawab dengan benar <56 (Arikunto, 2006).

Menurut Erwin Chriastianto (2014), Pengukuran pengetahuan responden

diperoleh melalui kuesioner dengan jumlah pertanyaan 20 item. Jenis pertanyaan

untuk mengukur tingkat pengetahuan ada dua, yaitui:

1. Baik : jika responden menjawab 76-100% (16-20) pertanyaan dengan

benar.

2. Cukup : jika responden menjawab 56-75% (11-15) pertanyaan dengan

benar.

3. Kurang : jika responden menjawab <56% (<10%) pertanyaan dengan

benar. Untuk menilai tingkat pengetahuan dengan rumus sebagai berikut:

Jumlah jawaban ×100


Nilai pengetahuan =
Total skor