Anda di halaman 1dari 24

VARIASI KANDUNGAN KLOROFIL DAN SIFAT DIELEKTRIKNYA

LAPORAN PRAKTIKUM BIOFISIKA

Oleh:
Vica Fibyana (161810201027)
Andik Dwi P. (161810201033)
Feni Wijayanti (161810201034)
Choirina Rachma (161810201035)
Azka Fidiana (161810201036)
Mariza Dwi A. (161810201040)
Toviatun (161810201042)

LABORATORIUM BIOFISIKA
JURUSAN FISIKA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2018
BAB 1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Daun merupakan salah satu organ tumbuhan yang tumbuh dari ranting,
biasanya berwarna hijau (mengandung klorofil) dan terutama berfungsi sebagai
penangkap energi dari cahaya matahari untuk fotosintesis. Daun merupakan organ
penting bagi tumbuhan dalam melangsungkan hidupnya karena tumbuhan adalah
organisme autotrof obligat, ia harus memasok kebutuhan energinya sendiri melalui
konversi energi cahaya matahari menjadi energi kimia. Daun memiliki bentuk dan
ukuran tertentu sehingga dapat melakukan tugas penting, membuat makanan seefisien
mungkin. Tumbuhan yang tumbuh di tempat gelap dan teduh memiliki daun yang
lebar agar dapat menangkap sinar matahari sebanyak mungkin. Di daerah yang
banyak hujan, daun sering memiliki lapisan yang mengkilat dan tahan air. Beberapa
daun memiliki duri untuk melindungi diri, sementara daun lainnya tebal dan kuat
untuk bertahan di udara dingin.
Daun terletak di bagian atas tumbuhan dan melekat pada batang. Daun
merupakan modifikasi dari batang. Daun merupakan bagian tubuh tumbuhan yang
paling banyak mengandung klorofil sehingga kegiatan fotosintesis paling banyak
berlangsung di daun. Fungsi daun yang utama pada setiap tumbuhan pada dasarnya
sama, yaitu berfungsi sebagai tempat pengolahan zat makanan. Proses pengolahan zat
makanan pada daun ini disebut fotosintesis. Dalam fotosintesis di perlukan air dan
karbon dioksida. Dengan bantuan cahaya matahari, air dan karbon dioksida diubah
oleh klorofil menjadi senyawa organik atau karbohidrat dan oksigen. Karbohidrat
inilah yang menjadi nutrisi bagi tumbuhan. Karbohidrat digunakan sebagai sumber
energi dan bahan untuk membuat senyawa lain yang dibutuhkan tumbuhan.
Sebagaian dari karbohidrat ini di simpan sebagai cadangan makanan.
Pengertian fotosintesis adalah proses pembentukan karbohidrat dari karbon
dioksida (CO2) dan air (H2O) dengan bantuan sinar matahari. Tunbuhan mampu
melakukan fotosintesis karena mempunyai sel-sel yang mengandung klorofil (zat
hijau daun). Dalam fotosintesis, energi cahaya matahari diserap oleh klorofil dan
diubah menjadi energy kimia yang disimpan dalam bentuk karbohidrat atau senyawa
organic lainnya. Di dalam tumbuhan karbohidrat diubah menjadi protein, lemak,
vitamin atau senyawa lainnya. Senyawa-senyawa organik ini, selain di manfaatkan
tumbuhan, juga berguna untuk manusia dan hewan herbivore sebagai bahan makanan.
Setiap daun memiliki kandungan yang berbeda-beda, yang berpengaruh terhadap
proses fotosintesis.
Selain itu, ekstrak daun juga mempunyai sifat dielektrik. Sifat dielektrik
merupakan sifat yang menggambarkan tingkat kemampuan suatu bahan untuk
menyimpan muatan listrik pada tegangan yang tinggi. Setiap bahan akan memiliki
sifat kelistrikan. Misalnya, kapasitansi, impedansi dan dielektrik. Pengukuran sifat
dielektik tidak lepas dari pengukuran kapasitansinya. Sehingga, secara tidak langsung
pengukuran kapasitansi mempunyai arti penting pada pengukuran dielektik suatu
bahan.
Hermawan (2005) mengatakan setiap bahan memiliki sifat listrik yang khas
dan besarnya sangat ditentukan oleh kondisi internal bahan tersebut, seperti momen
dipol listrik, komposisi bahan kimia, kandungan air, keasamaan dan sifat internal
lainya. Sifat dielektrik adalah parameter utama yang memberikan informasi tentang
interaksi bahan dengan energi listrik. Sifat dielektrik pada beragam bahan pangan
dibutuhkan untuk memahami perilaku bahan ketika dimasukkan ke medan listrik,
pada frekuensi dan suhu tertentu.
Penelitian mengenai karakteristrik listrik suatu bahan telah dilakukan oleh .
Studi ini meliputi nilai impedansi, konduktivitas, kapasitansi dan konstanta dielektrik
pada minyak goreng sawit, lemak babi dan lemak sapi tanpa adanya pencampuran
antar bahan. Oleh karena itu, penulis ingin melakukan penelitian mengenai pengaruh
variasi kandungan klorofil terhadap sifat dielektriknya.
1.2 Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari praktikum variasi kandungan klorofil dan sifat


dielektriknya adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana pengaruh kandungan klorofil pada daun tanaman dari berbagai posisi
daun terhadap karakteristik dielektri ?
2. Bagaimana pengaruh jenis daun daun tanaman terhdap karakteristik dielektrik ?
1.3 Tujuan

Tujuan dari dari praktikum variasi kandungan klorofil dan sifat dielektriknya
adalah :

1. Mengetahui pengaruh kandungan klorofil pada daun tanaman dari berbagai posisi
daun terhadap karakteristik dielektrik
2. Mengetahui pengaruh jenis daun daun tanaman terhdap karakteristik dielektrik
1.5 Manfaat

Manfaat dari praktikum variasi kandungan klorofil terhadap sifat


dielektriknya yaitu praktikan dapat mengetahui bahwa setiap jenis daun memilki
kandungan klorofil yang berbeda. Posisis daun (bagian ujung, tengah dan bawah)
berbeda pula tibgkat klorofilnya. Kandungan klorofil tersebut memiliki karakteristik
dielketrik yang berbeda pula.
BAB 2. DASAR TEORI

Daun (Folium)

Daun merupakan suatu bagian pada tumbuhan yang penting dan pada
umumnya tiap tumbuhan mempunyai sejumlah besar daun. Bagian batang tempat
duduknya atau melekatnya pada daun dinamakan buku-buku (nodus) batang dan
tempat diatas daun yang merupakan sudut antara batang dan daun dinamakan ketiak
daun (axila). Daun biasanya tipis melebar, kaya akan suatu zat warna hijau dan juga
menyebabkan tumbuhan atau daerah-daerah yang ditempati tumbuh-tumbuhan
nampak hijau pula (Fhan, 1991).

Daun terbagi menjadi daun tunggal dan daun majemuk. Pada daun majemuk
terdapat sejumlah anak daun yang melekat pada tangkai daun atau panjangannya.
Sumbu bersama seperti itu disebut rakis. Jika anak daun muncul di sisi lateral dari
rakis, daun disebut daun majemuk bersirip, dan jika semua anak daun muncul di
ujung rakis yang amat pendek sehingga dapat dikatakan melekat di ujung tangkai
daun bersama, maka daun seperti itu disebut daun majemuk menjari (Hidayat, 1995)

Bagian tubuh tumbuhan ini mempunyai umur yang terbatas, akhirnya akan
runtuh dan meninggalkan bekas pada batang. Pada waktu akan runtuh warna daun
akan berubah menjadi kekuning-kuningan dan pada akhirnya menjadi perang. Daun
yang telah tua, kemudian mati dan runtuh dari batang mempunyai warna yang
berbeda dengan daun yang masih segar. Daun yang muda berwarna hijau muda
keputih-putihan, dan kadang-kadang juga ungu atau kemerah-merahan. Sedangkan
yang sudah dewasa biasanya berwarna hijau (Fhan, 1991).

Fungsi Daun

Warna hijau dan duduknya pada batang yang menghadap ke atas itu memang
sudah selaras dengan fungsi daun bagi tumbuh-tumbuhan. Menurut Sutarmi (1983),
fungsi pada daun adalah sebagai alat untuk:
a. Pengambilan zat-zat makanan (resorbsi), terutama yang berupa zat gas
(Co2)

b. Pengolahan zat-zat makanan (asimilasi)

c. Penguapan air (transpirasi)

d. Pernapasan (respirasi)

Fungsi utama pada daun adalah menyintesis bahan organik dengan


menggunakan sinar sebagai sumber energi dengan melalui proses fotosintesis.
Pengubahan energi ini terjadi di dalam organel khususyang disebut kloroplas, yang di
dalamnya terdapat pigmen klorofil (Mulyani, 2006).

Bagian-Bagian Daun

Menurut Tjitrosoepomo (2005), pada daun terdapat bagian-bagian daun yang


diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Upih Daun atau Pelepah Daun (Vagina)

Daun yang berupih umumnya hanya kita dapati pada tumbuhan yang
tergolong dalam tumbuh yang berbiji tunggal (Monocotyledonae) saja, semua
(Gramineae), suku empon-empon (Zingiberaceae), pisang (Musa sapientium L.)
golongan palma (Palmae), dan sebagainya. Pada upih daun juga merupakan bagian
daun yang melakatnya atau memeluk batang.

2. Tangkai Daun (Petiolus)

Tangai daun merupakan bagian daun yang mendukung helainnya dan bertugas
untuk menempatkan helaian daun tadi pada posisi sedemikian rupa, hingga dapat
memperoleh suatu cahaya metahari yang sebanyak-banyaknya. Bentuk dan ukuran
tangkai daun amat berbeda-beda menurut jenisnya tumbuhan, bahkan pada satu
tumbuhan ukuran dan bentuknya dapat berbeda. Umumnya tangkai daun berbentuk
silinder dengan sisi atas agak pipih dan menebal pada pangkalnya.

3. Helaian Daun (Lamina)

Tumbuhan yang demikian banyak terdapat macam dan ragamnya itu


mempunyai daun yang berbeda-beda pula, baik mengenai bentuk, ukuran, maupun
warnanya adalah tidak mudah untuk menemukan dua jenis tumbuh-tumbuhan yang
pada helaian daunnya persis sama bentuk dan warnanya. Oleh sebab itu, walaupun
tidak besar nilainya, terutama dalam hal yang meragukan, sering orang
membandingkan pada bentuk helaian daun untuk memperoleh kepastian mengenai
jenis tumbuhan yang dihadapi untuk dikenal. Karena helaian daun merupakan bagian
daun yang terpenting dan menarik perhatian, maka suatu sifat yang sesungguhnya
hanya berlaku untuk helainnya, yang disebut pula sebagai sifat daunnya.

Ujung Daun (Apex Folii)

Ujung daun dapat pula memperlihatkan bentuk yang beraneka rupa. Menurut
Tjitrosoepomo (2005), bentuk-bentuk ujung daun yang sering dijumpai adalah
sebagai berikut:

a. Runcing (Acutus), jika kedua tepi daun di kanan kiri ibu tulang sedikit
demi sedikit menuju ke atas dan pertemuannya pada puncak daun membentuk suatu
sudut lancip (lebih kecil dari 900).

b. Meruncing (Acuminatus), seperti pada ujung yang meruncing, tetapi titik


pertemuan kedua tepi daunnya jauh lebih tinggi dari dugaan, hingga ujung daun
nampak sempit panjang dan runcing.

c. Tumpul (Obtusus), tepi daun yang semula masih agak jauh dari ibu
tulang, cepat menuju ke suatu titik pertemuan, hingga terbentuk sudut yang tumpul
(lebih besar dari 900), sering kita jumpai pada daun bangun daun bulat telur terbalik
atau bangun sudip.

d. Membulat (Rotundatus), seperti pada ujung yang tumpul, tetapi tidak


terbentuk sudut sama sekali, hingga ujung daun erupakan semacam suatu busur,
terdapat pada daun yang bulat atau jorong, atau pada daun bangun ginjal.

e. Rompang (Truncatus), ujung daun tampak sebagai garis yang rata.

f. Terbelah (Retusus), ujung daun justru memperlihatkan suatu lekukkan,


kadang-kadang amat jelas.

g. Berduri (Mucronatus), yaitu jika ujung daun ditutup dengan suatu bagian
yang eruncing keras, merupakan suatu duri.

5. Pangkal Daun (Basis Folii)

Apa yang telah diuraikan mengenai ujung daun pada umunya dapat pula
diberlakukan untuk pangkal daun. Selain dari itu ada pula kalanya, bahwa kedua tepi
daun di kanan kiri pangkal dapat bertemu dan berlekatan satu sama lain. Menurut
Tjitrosoepomo (2005), pangkal daun dibedakan dalam:

1. Yang tepi daunnya di bagian itu tidak pernah bertemu, tetapi terpisah oleh
pangkal ibu tulang atau ujung tangkai daun. Dalam keadaan demikian pangkal daun
dapat:

a. Runcing (Acutus), biasanya terdapat pada daun bangun memanjang,


lanset, belah ketupat, dan lain-lainnya.

b. Meruncing (Acuminatus), biasanya pada daun bangun bulattelur


sungsang atau daun bangun sudip

c. Tumpul (Obtusus), pada daun-daun bangun daun bulat telur, jorong


d. Membulat (Rotundatus) pada daun-daun bangun bulat, jorong, dan bulat
telur.

e. Rompang atau rata (Truncatus), pada daun-daun bangun segitiga, delta,


dan tombak

f. Berlekuk (Emarginatus), pada daun-daun bangun jantung, ginjal, dan


anak panah.

2. Yang tepi daunnya dapat bertemu dan berlekatan satu sama lain, yang
diantaranya adalah sebagai berikut:

a. Perteuan tepi daun pada dangkal terjadi pada suatu sisi yang sama
terhadap batang sesuai dengan letak daun pada batang tadi, seperti yang dapat kita
lihat pada daun-daun bangun perisai.

b. Pertemuan tepi daun terjadi pada sisi seberang batang yang berlawanan
atau berhadapan dengan letak daunya. Dala hal ini tampaknya seperti pangkal daun
tertembus oleh batangnya (perfoliatus).

6. Daging daun (Intervenium)

Yang digunakan daging daun (Intervenium) ialah bagian daun yang terdapat
di antara tulang-tulang daun dan urat-urat daun. Bagian inilah yang merupakan dapur
tumbuhan yang sesungguhnya. Di bagian ini zat-zat yang diambil dari luar diubah
dijadikan zat-zat yang sesuai dengan keperluan kehidupan tumbuh-tumbuhan tadi.
Warna hijau pada daun sebenarnya adalah warna yang terkandung dalam bagian ini,
juga kalau daun mempunyai warna lian, misalnya merah, berbintik-bintik kuning, dan
lain-lain.
Contoh-Contoh Daun

Beberapa ahli berpendapat bahwa terdapat contoh-contoh pada daun yang


dapat digunakan pada praktikum ini untuk mengetahui morfolagi dan bagian-bagian
daun, yang diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Jagung (Zea mays L.)

Jagung termasuk tanaman yang tidak memerlukan persyaratan tanah yang


khusus dalam penanamannya. Jagung dikenal sebagai tanaman yang dapat tumbuh di
lahan kering, sawah, dan pasang surut. Produktivitas jagung dapat dipengaruhi oleh
beberapa faktor, diantaranya tempat tumbuh atau tanah, air, dan iklim. Agar tanaman
jagung dapat tumbuh dengan baik dalam menghasilkan tongkol dan biji yang banyak,
diperlukan tempat penanaman dan iklim sesuai syarat tumbuh tanaman jagung.
Tanaman jagung termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan spesies Zea
mays L. Jagung termasuk tanaman berakar serabut, batang yang tidak bercabang
berbentuk bulat yang mempunyai ruas-ruas dan buku ruas. Daun jagung memanjang
dan keluar dari buku-buku batang.Daun terdiri dari tiga bagian, yaitu kelopak daun,
lidah daun, dan helaian daun. Bunga pada jagung termasuk bunga tidak lengkap
karena tidak memiliki petal dan sepal. Bunga jagung juga termasuk bunga tidak
sempurna karena bunga jantan dan betina berada pada bunga yang berbeda
(Suryaningsih dkk, 2012).

2. Bambu (Bambusa sp).

Bambu termasuk dalam anak suku Bambusoideae dan suku Poaceae. Suku
Poaceae dikenal juga dengan nama Graminae atau suku rumput-rumputan. Bambu
mudah sekali untuk dibedakan dengan tumbuhan lainnya, karena tumbuhnya
merumpun. Ciri lainnya adalah batang bulat, berlubang di tengah dan beruas-ruas,
percabangan kompleks, setiap daun bertangkai, dan bunganya terdiri atas sekam,
sekam kelopak dan sekam mahkota serta 3-6 buah benang sari. Morfologi bambu
dapat dilihat pada karakteristik pada adalah akar rimpang yang terdapat dibawah
tanah dan membentuk sistem percabangan. Batang berupa buluh yang terdiri atas ruas
dan buku-buku. Pelepah buluh merupakan hasil modifikasi daun yang menempel
pada setiap ruas, yang terdiri dari daun pelepah buluh, kuping pelepah buluh, dan
ligula. Percabangan umumnya terdapat pada nodus. Helaian daun bambu merupakan
daun yang mempunyai urat daun yang sejajar. Helaian daun yang dihubungkan
dengan pelepah oleh tangkai daun. Pelepah daun dilengkapi oleh kuping pelepah dan
ligula (Yani, 2012)

3. Daun Bawang (Allium fistulosum L.).

Tanaman bawang daun (Allium fistulosum L.) yang merupakan salah satu
komoditas hortikultura yang berasal dari kawasan Asia Tenggara. Di Indonesia, pada
tanaman yang dikenal dengan nama ‘loncang’ ataupun ‘muncang’ ini biasa digunakan
masyarakat sebagai bahan untuk memasak karena memberikan aroma yang harum
dan rasa yang enak. Bawang daun potensial dan layak dikembangkan secara intensif
dalam skala agribisnis. Selain teknik budidaya yang optimal, cara meningkatkan
produktivitas tanaman ini adalah melalui program pemuliaan tanaman. Pada daun
memiliki warna daun hijaun keputihan. Daun yang lebih hijau diduga dapat memiliki
kandungan klorofil yang lebih tinggi. Pada daun yang memiliki klorofil yang lebih
tinggi diharapkan lebih efisien dalam melakukan proses fotosintesis (Asri dkk, 2015).

Kapasitor

Listrik merupakan salah satu energi yang sangat dibutuhkan oleh semua
orang. Oleh karena itu, dalam pemakaian listrik sering kali sejumlah muatan disimpan
untuk digunakan pada kesempatan lain. Alat penyimpan muatan ini disebut sebagai
kapasitor. Kapasitor merupakan dua buah penghantar sebarang yang terisolasi,
mengangkut muatan yang sama besarnya dan berlawanan tanda sebesar +q dan -q.
Salah satu struktur sebuah kapasitor adalah duah pelat penghantar yang ditempatkan
berdekatan tetapi tidak bersentuhan. Jika kedua tegangan diberi tegangan listrik,
maka muatan positif akan terkumpul pada salah satu penghantar dan muatan negatif
pada penghantar lainnya. Muatan positif tidak dapat mengalir menuju pelat
bermuatan negatif sebaliknya karena terpisah oleh bahan dielektrik yang non
konduktif. Muatan ini tersimpan selama tidak ada konduksi pada ujung-ujung
kakinya (Halliday, 1996).

Kapasitor Pelat Sejajar

Konstruksi dari suatu kapasitor secara sederhana adalah dua elektroda pelat
sejajar yang dipisahkan oleh dielektrik, atau secara umum disebut sebagai kapasitor
pelat sejajar. seperti yang ditunjukan pada gambar 2.1 dibawah ini.

Gambar 2.1 Kapasitor Pelat Sejajar (Sutrisno, 1985).

Apabila kapasitor pelat sejajar dengan luas penampang (A) dipisahkan oleh
dielektrik dengan jarak (d), kemudian pelat tersebut diberi tegangan (V), maka akan
timbul medan listrik (E) yang bekerja didalam dielektrik. Akibat adanya medan
elektrik, maka muatan yang terkandung didalam dielektrik akan terpolarisasi. Ditinjau
dari fungsinya, dielektrik merupakan sifat atau bahan yang dapat memisahkan secara
elektris dua buah penghantar yang bertegangan, sehingga antar penghantar yang
bertegangan tersebut tidak terjadi hubung singkat yang dapat mengakibatkan
lompatan api (flashover). Maka dielektrik dapat disebut juga sebagai bahan isolasi
(Sutrisno, 1985).

Pada tahun 1837, Michael Faraday melakukan penelitian tentang pengaruh


suatu pengisian ruang di antara pelat kapasitor dengan menggunakan bahan
dielektrik. Faraday menggunakan dua kapasitor yang identik, dimana salah satu
kapasitor diberi suatu bahan dielektrik di antara kedua pelatnya, sedangkan kapasitor
yang lain di antara kedua pelatnya berisi udara pada tekanan normal. Kedua kapasitor
tersebut diberi potensial listrik yang besarnya sama, namun setelah diukur muatan
kapasitor yang mengandung bahan dielektrik jauh lebih besar dari pada muatan pada
kapasitor yang mengandung udara. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan bahan
dielektrik di antara kedua pelat kapasitor dapat meningkatkan nilai kapasitansi
kapasitor (Hayt dan Buck, 2006).

Kapasitansi adalah besaran yang menyatakan kemampuan dari suatu kapasitor


untuk dapat menampung muatan listrik (Tipler, 1991). Kapasitansi bergantung pada
ukuran dan bentuk konduktor dan akan bertambah bila ada sebuah material
pengisolasi atau dielektrik (Young et al, 2003). Untuk tinjauan kapasitor keping
sejajar, faktor geometri yang menentukan adalah luas penampang keping sejajar dan
jarak antara kepingnya, sedangkan sifat bahan dielektriknya ditentukan oleh nilai
konstanta dielektrik bahannya (Sutrisno, 1985).

Konstanta Dielektrik

Konstanta dielektrik adalah perbandingan nilai kapasitansi kapasitor pada


bahan dielektrik dengan nilai kapasitansi di ruang hampa. Konstanta dielektrik atau
permitivitas listrik relatif juga diartikan sebagai konstanta yang melambangkan
rapatnya fluks elektrostatik dalam suatu bahan bila diberi potensial listrik. Konstanta
ini merupakan perbandingan energi listrik yang tersimpan pada bahan tersebut jika
diberi sebuah potensial, relatif terhadap ruang hampa. Sifat dielektrik merupakan sifat
yang menggambarkan tingkat kemampuan suatu bahan untuk menyimpan muatan
listrik pada beda potensial yang tinggi. Secara praktis, sifat dielektrik sering dikaitkan
dengan kelistrikan bahan isolator yang ditempatkan di antara dua keping kapasitor
(Sutrisno, 1985).

Apabila bahan isolator itu dikenai medan listrik yang dipasang di antara kedua
keping kapasitor, maka didalam bahan tersebut dapat terbentuk dwikutub (dipole)
listrik. Sehingga pada permukaan bahan dapat terjadi muatan listrik induksi. Bahan
dengan sifat seperti ini disebut sebagai bahan dielektrik. Tidak seperti konduktor,
pada bahan dilektrik tidak terdapat elektron-elektron konduksi yang bebas bergerak di
seluruh bahan oleh pengaruh medan listrik. Sebuah bahan dielektrik di dalam medan
listrik dapat dipandang sebagai suatu susunan, atau gugusan, dipol listrik di dalam
ruang hampa, pasangan-pasangan muatan listrik positif dan negatif yang titik-titik
pusatnya tidak berada di satu lokasi yang sama (Sutrisno, 1985).

Konstanta dielektrik merupakan bilangan konstanta yang besarnya bergantung


pada sistem dan bahan yang digunakan. Sedangkan sistem yang digunakan adalah
nilai kapasitor yang dibentuk dari dua buah pelat sejajar yang dipisahkan oleh ruang
hampa dengan nilai kapasitor yang terbentuk dari dua buah pelat sejajar yang
dipisahkan oleh dua bahan dielektrik (Tadjuddin, 1998).

Hermawan (2005) mengatakan setiap bahan memiliki sifat listrik yang khas
dan besarnya sangat ditentukan oleh kondisi internal bahan tersebut, seperti momen
dipol listrik, komposisi bahan kimia, kandungan air, keasamaan dan sifat internal
lainya. Contoh dari bahan dielektrik adalah mika, kertas, udara dan lain-lain. Bahan
dielektrik umumnya digunakan untuk memisahkan dua pelat sejajar pada kapasitor.
Sifat dielektrik adalah parameter utama yang memberikan informasi tentang interaksi
bahan dengan energi elektromagnetik. Sifat dielektrik pada beragam bahan pangan
dibutuhkan untuk memahami perilaku bahan ketika dimasukkan ke medan listrik,
pada frekuensi dan suhu tertentu(Sutrisno,1985).
Dielektrik memiliki karakteristik memperlemah medan listrik antara
elektroda. Molekul-molekul dalam dielektrik akan menghasilkan medan listrik
tambahan yang arahnya berlawanan dengan medan listrik luar. Jika molekul-molekul
dalam dielektrik bersifat polar, dielektrik tersebut memiliki momen dipol permanen.
Momen dipol secara normal tersebar secara acak. Dalam pengaruh medan listrik di
antara elektroda, momen dipol menerima gaya yang memaksa momen dipol tersebut
menyearahkan diri dengan arah medan listrik. Kemampuan momen dipol
menyearahkan diri dengan medan listrik bergantung pada kuat medan dan temperatur.
Pada temperatur tinggi, gerak termal molekul-molekul yang bersifat acak cenderung
menghambat proses penyearahan. Muatan positif memiliki arah sesuai dengan arah
medan listrik sedangkan muatan negatif memiliki arah yang berlawanan dengan mean
listrik (Tjitrosoepomo, 2005).

Tadjuddin (1998) menyatakan dielektrik cair lebih banyak digunakan sebagai


material isolasi dalam peralatan tegangan tinggi karena dielektrik cair mempunyai
beberapa kelebihan yaitu:

1. Dielektrik cair memiliki kerapatan 1000 kali atau lebih dibandingkan


dengan dielektrik gas, sehingga memiliki kekuatan dielektrik yang lebih tinggi.

2. Dielektrik cair akan mengisi celah atau ruang yang akan diisolasi
secara serentak melalui proses konversi dengan menghilangkan panas yang timbul
akibat rugi energi.

3. Dielektrik cair cenderung dapat memperbaiki diri sendiri (self healing)


jika terjadi pelepasan muatan (discharge).
BAB 3. METODE PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan

Alat dan Bahan yang digunakan dalam praktikum variasi kandungan klorofil
dan sifat dielektriknya adalah sebagai berikut :

1. Kapasitansi Meter berfungsi sebagai pengukur nilai kapasitor

2. Daun tanaman (3 variasi) sebagai bahan yang akan diukur nilai konstanta
dielektriknya

3. Aquades berfungsi sebagai bahan campuran dengan daun tanaman

4. Kabel penghubung berfungsi untuk menghubungkan plat pcb dengan kapasitansi


meter

5. 2 plta PCB sebagai plat yang digunakan untuk diukur nilai kapasitornya

6. Wadah berfungsi sebagai tempat untuk mencampurkan daun tanaman dengan


aquades

7. Mistar untuk mengukur panjang

8. Solasi untuk menutup permukaan 2 plat PCB

9. Mortar berfungsi menghaluskan daun tanaman

10. Pipet untuk memindahkan sampel dari wadah ke plat PCB

11. Neraca untuk mengukur massa daun tanaman


3.2 Desain Praktikum

Desain Praktikum dari praktikum variasi kandungan klorofil dan sifat


dielektriknya adalah sebagai berikut :

3.3 Langkah Kerja

Langkah kerja dari praktikum variasi kandungan klorofil dan sifat


dielektriknya adalah sebagai berikut :

1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan pada praktikum.

2. Bahan daun tanaman diambil dari berbagai posisi daun yang mana menentukan
umur daun.

3. Bahan daun dengan massa 50 gr diremas atau dihaluskan, kemudian


dicampurkana aquadest sebanyak 50 ml.

4. Diusun alat seperti pada gambar.

5. Diukur jarak antara kedua plat dengan mistar.


6. Dinyayalakan power supply dan atur tegangan sehingga ditunjukkankan angka
tertentu dan kuat medan.

7. Diulangi langkah nomor 3-6 untuk jenis daun yang berbeda.

3.4 Analisis Data

Analisis data dari praktikum variasi kandungan klorofil dan sifat dielektriknya
adalah sebagai berikut :

𝐶𝑑
𝑘=
𝜀0 𝐴

Keterangan :

C : Nilai kapasitpr (F)

𝜀0 : Permitivitas bahan pada ruang hampa senilai 8.854 187 817 × 10−12 F·m−1

k : konstanta dielektrik

𝐴 : luas plat (𝑚2 )

d : jarak antar plat (m)


BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

Hasil dari praktikum variasi kandungan klorofil dan sifat dielektriknya adalah
sebagai berikut :
4.1.1 Daun tanaman mangga

Posisi
C (pF) ε0 A (m^2) d (m) m (g) V (ml) K
Daun
Ujung 30 0,000000885 0,000483 0,005 0,3 3 0,000351
Tengah 35,7 0,000000885 0,000483 0,005 0,3 3 1,02E-07
Bawah 44,1 0,000000885 0,000483 0,005 0,3 3 0,000516

4.1.2 Daun tanaman rambutan

Posisi
C (pF) ε0 A (m^2) d (m) m (g) V (ml) K
Daun
8,865 x 10^- 0,00048 8,57E-
Ujung 30 7 3 0,005 0,3 3 08
Tenga 8,865 x 10^- 0,00048 0,00045
h 39,2 7 3 0,005 0,3 3 9
8,865 x 10^- 0,00048 0,00047
Bawah 40,5 7 3 0,005 0,3 3 4

4.1.3 Daun tanaman Jambu

Posisi
C (pF) ε0 A (m^2) d (m) m (g) V (ml) K
Daun
8,865 x 10- 0,00048 0,00054
Ujung 46,5 7 3 0,005 0,3 3 4
Tenga 8,865 x 10- 0,00048
h 34,3 7 3 0,005 0,3 3 9,8E-08
8,865 x 10- 0,00048 0,00069
Bawah 59,2 7 3 0,005 0,3 3 2
4.2 Pembahasan
Praktikum variasi kandungan klorofil dan sifat dielektriknya dilakukan
dengan menggunakan sampel 3 variasi jenis tanaman. Variasi daun tanaman tersebut
diantaranya daun mangga, daun rambutan dan daun jambu. Variasi daun tanaman
tersebut diambil pula daun dari berbagai posis diantaranya daun pada posisi ujung,
tengah dan posisi bawah. Praktikan melakukan pengamatan yang pertama yaitu
terhadap jenis daun tanaman mangga dari 3 posisi yaitu daun bagian ujung, tengah
dan posisi bawah. Praktikum ini luas plat keping sejajar, jarak plat, massa daun dan
volume sama pada setiap posisi daun. Tahap pertama menghasilkan data nilai
kapasitor yang berbeda untuk setiap posisi daun pada daun tanaman mangga.
Pernyataan ini menandakan bahwa posisi daun memiliki kandungan klorofil yang
berbeda-beda. Kandungan klorofil tersebut berpengaruh terhadap karakteristik
dielektrik. Seperti yang terlihat pada tabel menghasilkan data semakin pekat warna
daun maka semakin besar pula nilai kapasitornya. Nilai konstanta dielektrik
sebanding dengan nilai kapasitornya, maka seperti terlihat pada tabel bahwa semakin
besar nilai kapasitor maka semakin besar pula nilai kapasitansi dielketriknya.

Praktikan melakukan pengamatan yang kedua yaitu terhadap jenis daun


tanaman rambutan dari 3 posisi yaitu daun bagian ujung, tengah dan posisi bawah.
Praktikum ini luas plat keping sejajar, jarak plat, massa daun dan volume sama pada
setiap posisi daun. Tahap pertama menghasilkan data nilai kapasitor yang berbeda
untuk setiap posisi daun pada daun tanaman mangga. Pernyataan ini menandakan
bahwa posisi daun memiliki kandungan klorofil yang berbeda-beda. Kandungan
klorofil tersebut berpengaruh terhadap karakteristik dielektrik. Seperti yang terlihat
pada tabel menghasilkan data semakin pekat warna daun maka semakin besar pula
nilai kapasitornya. Nilai konstanta dielektrik sebanding dengan nilai kapasitornya,
maka seperti terlihat pada tabel bahwa semakin besar nilai kapasitor maka semakin
besar pula nilai kapasitansi dielketriknya.
Praktikan melakukan pengamatan yang ketiga yaitu terhadap jenis daun
tanaman jambu dari 3 posisi yaitu daun bagian ujung, tengah dan posisi bawah.
Praktikum ini luas plat keping sejajar, jarak plat, massa daun dan volume sama pada
setiap posisi daun. Tahap pertama menghasilkan data nilai kapasitor yang berbeda
untuk setiap posisi daun pada daun tanaman mangga. Pernyataan ini menandakan
bahwa posisi daun memiliki kandungan klorofil yang berbeda-beda. Kandungan
klorofil tersebut berpengaruh terhadap karakteristik dielektrik. Seperti yang terlihat
pada tabel menghasilkan data semakin pekat warna daun maka semakin besar pula
nilai kapasitornya. Nilai konstanta dielektrik sebanding dengan nilai kapasitornya,
maka seperti terlihat pada tabel bahwa semakin besar nilai kapasitor maka semakin
besar pula nilai kapasitansi dielketriknya. Praktikum dari setiap perlakuan 3 variasi
jenis tanaman dapat disimpulkan nilai konstanta dilektrik yang paling tinggi nilai
konstanta dielektrinya yaitu daun tanaman jambu, kemudian daun tanaman mangga
dan terakhir daun tanaman rambutan.
BAB 4. PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Kesimpulan dari praktikum variasi kandungan klorofil dan sifat dielektriknya


adalah sebagai berikut :

1. Kandungan klorofil pada daun berbanding terbalik dengan nilai konstanta


dielektrik. Semakin tinggi kandungan klorofil maka semakin kecil nilai konstanta
dielketriknya, sebaliknya semakin rendah kandungan klorofil maka semakin besar
nilai konstanta dielketriknya.
2. Perlakuan 3 variasi jenis tanaman dapat disimpulkan memiliki kandungan klorofil
berbeda berdampak pada nilai konstanta dielektrik. Nilai konstanta dilektrik yang
paling tinggi nilai konstanta dielektriknya yaitu daun tanaman jambu, kemudian
daun tanaman mangga dan terakhir daun tanaman rambutan.

4.2 Saran

Praktikan harus memahami isi modul yang akan dijadikan bahan praktikum,
sehingga kesalahan dalam praktikum dapat diminimalisir. Alat ukur yang akan
digunakan dikalibrasi terlebih dahulu. Alat-alat atau elemen elektronika diperiksa
terlebih dahulu menyesuaikan rangkaian sesuai dengan modul, sehingga data yang
diperoleh dengan tigkat kevalidan tinggi. Praktikan seharusnya lebih cermat dalam
membaca dan melakukan perhitungan sehingga hasil yang diperoleh valid.
DAFTAR PUSTAKA

Asri, Anisa Wulan, Endang Sulistyaningsih2, dan Rudi Hari Murti. 2015. Karakter
Morfologi dan Sitologi Tanaman Bawang Daun (Allium fistulosum L.) Hasil Induksi
Kolkisina pada Generasi Vegetatif Kedua. Vegetalika Vol.4 No.1 : 37 – 45. Diakses
pada tanggal 20 November 2015 pukul 19.35 WIB

Fhan, A. 1991. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Halliday, David dan Robert Resnick. 1996. Fisika Jilid 2 Edisi Ketiga.
[diterjemahkan Pantur Silaban dan Erwin Sucipta]. Jakarta: Erlangga.

Hayt, W. H. & Buck, J.A. 2006. Elektromagnetika. Jakarta: Erlangga.

Sutrisno. 1985. Elektronika Teori dan Penerapannya. Bandung: ITB.

Hermawan, B. 2005. Monitoring Kadar Air Tanah Melalui Pengukuran Sifat


Dielektrik Pada Lahan Jagung. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia. 7:15-22.

Hidayat, Estiti B. 1995. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Bandung: ITB

Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Yogyakarta: Kanisius

Suryaningsih, Martin Joni, A.A Ketut Darmadi. 2012. Inventarisasi Gulma Pada
Tanaman jagung (Zea mays L.) Di Lahan Sawah Kelurahan Padang Galak. Denpasar
Timur, Kodya Denpasar, Provinsi Bali. Jurnal Simbiosis I (1) : 1-8 ISSN : 2337-
7224. Diakses pada tanggal 20 November 2015 pukul 20.31 WIB
Sutarmi. 1983. Botani Umum 1. Jakarta: Gramedia.
Tadjuddin. 1998. Analisis Kegagalan Minyak Transformator Edisi ke-12. Jakarta :
Elektro Indonesia.
Tjitrosoepomo, Gembong. 2005. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press.

Yani, Ariefa Primair. 2012. Keanekaragaman dan Populasi Bambu Di Desa Talang
Pauh Bengkulu Tengah. Jurnal Exacta, Vol. X No. 1ISSN 1412-3617. Diakses pada
tanggak 20 November 2015 pukul 20.45 WIB