Anda di halaman 1dari 20

BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

I.1 Definisi
Demam Berdarah Dengue (DBD)adalah suatu penyakit demam berat yang
disebabkan oleh virus Dengue yang biasanya ditandai oleh 4 manifestasi klinik
utama yaitu demam tinggi, fenomena perdarahan, hepatomegali dan kegagalan
sirkulasi.1,2

I.2 Epidemiologi
Pada saat ini DBD adalah suatu penyakit endemis di banyak negara tropis baik
di Amerika maupun Asia.3 Antara tahun 1975 dan 1995, Demam Dengue
(DD)/DBD terdeteksi keberadaannya di 102 negara di dari lima wilayah WHO
yaitu : 20 negara di Afrika, 42 negara di Amerika, 7 negara di Asia Tenggara, 4
negara di Mediterania Timur dan 29 negara di Pasifik Barat.4
Di Indonesia DBD masih menjadi masalah kesehatan masyarakat
Indonesia.Sejak pertama kali dilaporkannya kasus DBD pertama kali di Surabaya
pada tahun 1968 terjadi kecenderungan peningkatan insidens, dan sudah menjadi
endemis di banyak kota besar bahkan telah terjangkit ke pedesaan.2
Tidak terdapat perbedaan jenis kelamin penderita. Di Indonesia penderita
DBD terbanyak ialah anak berumur 5-11 tahun. Pengaruh musim tidak begitu
jelas, tetapi dapat dikemukakan bahwa jumlah penderita meningkat antara bulan
September sampai Februari yang mencapai puncaknya pada bulan Januari.2

I.3 Etiologi
DBD disebabkan oleh virus dengue yang termasuk grup B Arthropod borne
virus (arbovirus) sekarang dikenal sebagai genus flavivirus, famili Flaviviridae,
dan mempunyai 4 jenis serotipe, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4. Penularan
virus dengue terjadi melalui peranan vektor, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Aedes
albopictus, Aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain dapat juga menularkan
virus ini tetapi merupakan vektor yang kurang berperan. Survei virologis
memperlihatkan bahwa keempat virus dengue ditemukan di Indonesia, virus

1
DEN-2 dan DEN-3 merupakan serotipe yang dominan, namun virus DEN-3
berkaitan dengan kasus DBD berat.2

I.4 Patogenesis
Virus Dengue masuk kedalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk aedes
aegypti atau aedes albopictus. Organ sasaran dari virus itu adalah organ
hepar,nodus limfaticus,sumsum tulang serta paru-paru. Data dari berbagai
penelitian menunjukkan bahwa sel-sel monosit dan makrofag mempunyai peranan
besar pada infeksi ini. Dalam peredaran darah,virus tersebut akan difagosit oleh
sel-sel monosit perifer.
Virus DEN mampu bertahan hidup dan mengadakan multifikasi didalam sel
tersebut. Infeksi virus Dengue dimulai dengan menempelnya virus genomnya
masuk ke dalam sel dengan bantuan organel-organel sel, genom virus membentuk
komponen-komponennya. Setelah komponen struktural dirakit, virus dilepaskan
dari dalam sel. Proses perkembangan virus DEN terjadi di sitoplasma sel.
Virus hanya dapat hidup dalam sel hidup sehingga harus bersaing dengan sel
manusia terutama dalam kebutuhan protein. Persaingan tersebut sangat tergantung
pada pada daya tahan tubuh manusia. Sebagian besar ahli masih menganut The
Secondary Heterologous Infection Hypothesis atau The Sequential Infection
Hypothesis yaitu bahwa demam berdarah dengue dapat terjadi apabila seseorang
setelah terinfeksi dengan virus dengue pertama kali mendapat infeksi ulangan
dengan tipe virus dengue yang berlainan.
Patogenesis terjadinya renjatan berdasarkan The Secondary Heterologous
Infection Hypothesis yaitu akibat infeksi kedua oleh tipe virus yang berlainan pada
seorang penderita dengan kadar antibodi anti dengue yang rendah, akan terbentuk
kompleks virus antibodi yang selanjutnya :

akan mengaktivasi sistem komplemen yang berakibat dilepaskannya
anafilatoksin C3a dan C5a. C5a menyebabkan meningkatnya permeabilitas
dinding pembuluh darah dan menghilangnya plasma melalui endotel
dinding tersebut.

2

menimbulkan agregasi trombosit sehingga mengakibatkan trombosit
kehilangan fungsi dan mengalami metamorfosis dan dimusnahkan oleh
sistem RE dengan akibat terjadinya trombositopenia hebat dan perdarahan.

terjadi aktivasi faktor Hageman ( factor XII ) yang selanjutnya juga
mengaktivasi sistem koagulasi dengan akibat terjadinya pembekuan
intravaskular yang meluas. Disamping itu aktivasi factor XII akan
menggiatkan sistem kinin yang berperan dalam meningkatkan
permeabilitas dinding pembuluh darah, menurunnya faktor koagulasi dan
kerusakan hati akan menambah beratnya perdarahan.3,5,6

I.5 Manifestasi Klinik


Infeksi virus dengue bisa bersifat asimtomatik atau berupa demam yang tidak
jelas, berupa demam dengue sampai dengan demam dengue dengan kebocoran
plasma yang berakibat syok.2,4,6 Bentuk klasik DBD ditandai dengan demam
tinggi, mendadak 2-7 hari, disertai muka kemerahan. Keluhan lain yang tidak khas
seperti anoreksia, sakit kepala, nyeri oto, tulang, sendi, mual, dan muntah sering
ditemukan. Bentuk perdarahan yang paling sering ditemukan adalah uji torniket
pasitif. Epistaksis dan perdarahan gusi lebih jarang ditemukan. Hati biasanya
membesar dengan variasi dari just palpable sampai 2-4 cm di bawah arkus
kostarum kanan. Drerajat pembesaran hepar tidak sejajar dengan beratnya
penyakit.2,6

I.6 Diagnosis
WHO (1997) memberikan pedoman untuk membantu menegakkan diagnosis
dini DBD, disamping menentukan derajat beratnya penyakit. Kriteria diagnosis
menurut WHO (1997) adalah sebagai berikut:
1. Kriteria klinis
a. Demam tinggi mendadak, terus-menerus selama 2-7 hari.
b. Manifestasi perdarahan ditandai satu atau lebih keadaan berikut : uji
torniquet positif, ptekie, purpura, ekimosis, perdarahan mukosa, epistaksis,
perdarahan gusi, hematemesis dan melena
c. Hepatomegali

3
d. Syok yang ditandai nadi cepat dan lemah disertai penurunan tekanan nadi,
hipotensi, kaki dan tangan dingin, kulit lembab dan pasien tampak gelisah.
2. Kriteria Laboratorium
a. Trombositopenia ( trombosit  100.000/mm3)
b. Hemokonsentrasi ( peningkatan hematokrit  20%)
Diagnosis ditegakkan bila terdapat dua kriteria klinis ditambah satu kriteria
laboratorium. Pada kasus syok, peningkatan hematokrit dan adanya
trombositopenia mendukung diagnosis demam berdarah dengue. 2,6
Indikator fase syok:
1. Hari sakit ke-4 s/d 5
2. Suhu turun
3. Nadi cepat tanpa demam
4. Hipotensi
5. Leukopenia ( <5000/mm3 ) 2,4
WHO (1997) mengklasifikasikan derajat penyakit DBD dalam 4 klasifikasi :
1. Derajat I
Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya manifestasi perdarahan
adalah uji torniquet.
2. Derajat II
Seperti derajat I, disertai perdarahan spontan di kulit dan atau perdarahan
lain.
3. Derajat III
Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan nadi
menurun (20 mmHg) atau hipotensi, sianosis disekitar mulut, kulit dingin
dan lembab serta penderita tampak gelisah.
4. Derajat IV
Syok berat, nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak terukur.2,4,6

I.7 Tata Laksana


Dasar pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan
plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan perdarahan.
Pedoman tatalaksana awal pada kasus DD/DBD dibagi menjadi 3, yaitu :

4
1. DD, DBD derajat I, dan DBD derajat II tanpa peningkatan kadar
hematokrit
- tirah baring
- pemberian antipiretik
- banyak minum
- pemberian cairan infus sesuai kebutuhan rumatan dapat dipertimbangkan
bila pasien tidak dapat minum atau muntah terus menerus.
- monitor suhu, jumlah trombosit dan hematokrit
2. DBD derajat II dengan peningkatan kadar hematokrit
- pemberian infus Dextrose 5%-1/2 NaCl 0,9% 6-7 ml/kgBB/jam
- makan dan terutama banyak minum
- monitor tanda vital, kadar Ht, Hb, dan trombosit
3. DBD disertai syok (Sindrom Syok Dengue, derajat III dan IV)
- Penggantian volume plasma segera, cairan intravena larutan ringer laktat
10-20 ml/kgBB secara bolus diberikan dalam waktu 30 menit. Apabila
syok belum teratasi tetap diberikan ringer laktat 20 ml/kgBB ditambah
koloid 20-30 ml/kgBB/jam, maksimal 1500ml/hari
- Pemberian cairan 10 ml/kgBB/jam dapat dipertahankan sampai 24 jam
atau sampai klinis stabil. Volume cairan diturunkan menjadi 7
ml/kgBB/jam dan selanjutnya 5 ml dan 3 ml apabila tanda vital membaik.
- Jumlah urin 1 ml/kgBB/jam merupakan indikasi bahwa sirkulasi membaik
- Pada umumnya cairan tidak perlu diberikan lagi 48 jam setelah syok
teratasi.
- Koreksi asidosis metabolik dan elektrolit pada DBD syok.
- Indikasi pemberian darah:
a. Terdapat perdarahan secara klinis
b. Setelah mendapat cairan kristaloid dan koloid, syok menetap,
hematokrit turun, diduga telah terjadi perdarahan, berikan darah segar
10 ml/kgBB
c. Apabila kadar hematokrit tetap >40vol%, maka berikan darah dalam
volume kecil

5
d. Plasma segar beku dan suspensi trombosit berguna untuk koreksi
gangguan koagulopati atau koagulasi intravaskular desiminator (KID)
pada syok berat yang menimbulkan perdarahan masif.
e. Pemberian transfusi suspensi trombosit pada KID harus selalu disertai
plasma segar (berisi faktor koagulasi yang diperlukan), untuk
mencegah perdarahan lebih hebat.

I.8 Pencegahan
Pencegahan penyakit DBD tergantung pada pengendalian vektor, yang dapat
dilakukan dengan beberapa metode diantaranya : metode lingkungan, biologis dan
kimiawi. Cara yang paling efektif adalah mengkombinasikan cara-cara diatas,
disebut dengan 3M plus, yaitu menutup, menguras, menimbun. Selain melakukan
beberapa hal lain seperti menggunakan kelambu waktu tidur, menggunakan
repellent, memasang obat nyamuk, menggunakan insektisida, dll.3,4 Vaksin
terhadap berbagai tipe virus dengue masih dalam penelitian.4

6
BAB II
ILUSTRASI KASUS

Identitas Pasien
Nama :W
Umur : 10 5/12 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Suku bangsa : Minang

Anamnesis (Alloanamnesis diberikan oleh ibu kandung)


Seorang anak perempuan berumur 10 tahun 5 bulan, dirawat di bangsal Ilmu
Kesehatan Anak RSUP DR M. Djamil Padang sejak tanggal 5 Januari 2008
dengan :

Keluhan Utama:
Demam sejak 3 hari sebelum masuk RS

Riwayat Penyakit Sekarang:


 Demam sejak 3 hari sebelum masuk RS, tinggi, terus-menerus, tidak
menggigil, tidak berkeringat, dan tidak disertai kejang
 Keluhan nyeri perut disangkal pasien
 Pendarahan hidung, gusi dan tempat lain tidak ada.
 Muntah tidak ada
 Batuk pilek tidak ada.
 Sesak nafas tidak ada
 Buang air kecil terakhir 8 jam sebelum masuk RS, jumlah sedikit, warna
biasa
 Buang air besar jumlah dan warna biasa
 Pasien telah dirawat di RS Pariaman selama 1 hari, kemudian dirujuk ke
RS DR M.Djamil dengan keterangan DHF, telah mendapat terapi IVFD
RL 40 tetes/menit mikro dengan hasil pemeriksaan laboratorium Hb14,8
gr/dl, Ht 46 %, trombosit 38.000/mm3, leukosit 5150/mm3.

7
Riwayat Penyakit Dahulu:
Pasien belum pernah sakit seperti ini sebelumnya.

Riwayat Penyakit Keluarga:


 Tidak ada anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini.
 Tetangga pasien ada yang dirawat di RS dengan demam dan didiagnosa
DBD.

Riwayat Kehamilan Ibu:


Selama hamil ibu tidak pernah menderita penyakit berat, tidak
mengkonsumsi obat-obatan atau jamu, tidak pernah mendapat penyinaran selama
hamil, kontrol teratur ke bidan, tidak mendapat imunisasi, hamil cukup bulan.

Riwayat Kelahiran:
Lahir spontan, ditolong oleh bidan, cukup bulan, saat lahir langsung
menangis kuat, berat badan lahir 2700 gr, panjang badan 50 cm, tidak ada riwayat
kuning atau biru waktu lahir.

Riwayat Makanan dan Minuman:


Bayi : ASI : 0 – 1 1/2 tahun
Bubur susu : 4 bulan
Anak : Makanan utama : nasi 1/2 piring sebanyak 2 kali/ hari
Daging : jarang
Ikan : 6 kali/ minggu
Telur :1 kali/ minggu
Sayur mayur : jarang
Kesan : Kualitas dan kuantitas kurang

Riwayat Imunisasi:
Ibu pasien lupa, hanya ingat pasien pernah mendapat imunisasi 1x pada usia 1
bulan.
Kesan : imunisasi dasar tidak lengkap.

8
Riwayat Sosial Ekonomi:
Pasien merupakan anak ke-7 dari 7 bersaudara, Ayah sudah meninggal. Ibu
berumur 50 tahun, tamat SMP, pekerjaan ibu rumah tangga.

Riwayat Perumahan dan Lingkungan :


Tinggal di rumah permanen, pekarangan cukup luas,tidak pernah banjir,
sumber air minum dari sumur gali, buang air besar di kolam/tambak, sampah
dibakar.
Kesan : sanitasi dan higiene kurang

Riwayat tumbuh kembang:


Perkembangan fisik Perkembangan mental
Tengkurap : 4 bulan Isap jempol : (-)
Duduk : 7 bulan Gigit kuku : (-)
Berdiri : 11 bulan Mengompol : (-)
Berjalan : 12 bulan Apati : (-)
Gigi pertama : 5 bulan Sering mimpi : (-)
Bicara : 12 bulan Aktif sekali : (-)
Membangkang : (-)

Kesan : Perkembangan fisik dan mental normal

Pemeriksaan Fisik:
Tanda Vital
Keadaan umum : Tampak sakit sedang
Kesadaran : Sadar
Frekuensi Nadi : cepat dan halus
Tekanan darah : 80/ 60 mmHg
Frekuensi nafas : 28 x/ menit
Suhu : 36,4 C
Berat Badan : 22 kg
Tinggi Badan : 123 cm
Status gizi : BB/U : 62,86 %

9
TB/U : 87,23 %
BB/TB : 95,65 %
Kesan : Gizi kurang

Pemeriksaan Sistemik:
Kulit : Teraba dingin, sianosis tidak ada, ikterik tidak ada, ptekie spontan di
lengan bawah dan dada
Kepala : Bentuk bulat, simetris, tidak ada deformitas, rambut hitam tidak
mudah dicabut
Mata : Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, pupil isokor, diameter
pupil 2 mm, refleks cahaya +/+
Mulut : Mukosa mulut dan lidah basah, sianosis sirkumoral tidak ada
Telinga : Tidak ada kelainan
Hidung : Tidak ada kelainan
Tenggorok : T1-T1 tidak hiperemis, faring tidak hiperemis
Leher : Tidak ada pembesaran KGB
Dada : Paru : I : normochest, simetris, retraksi tidak ada
P : Fremitus kiri sama dengan kanan
P : Sonor
A : Vesikuler, ronkhi tidak ada, wheezing tidak ada
Jantung : I : Iktus tidak terlihat
P : Iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V
P : Batas jantung kiri : 1 jari medial LMCS RIC V
Batas jantung kanan: Linea sternalis dextra,atas: RIC II
A : Bunyi jantung murni, irama teratur, bising tidak ada.
Abdomen : I : tidak membuncit
P : distensi tidak ada, supel, hepar tidak teraba pembesaran, lien
tidak teraba
P : timpani.
A : bising usus (+) normal.
Genitalia : Status pubertas A1P1G1
Ekstremitas : Akral dingin, perfusi buruk

10
Reflek fisiologis +/+, reflek patologis -/-

Pemeriksaan Laboratorium
Darah : Hb : 14,6 gr/dl
Ht : 46 %
Leukosit : 6500 /mm3
Trombosit: 41.000 /mm3

Diagnosis kerja : DBD derajat III


Gizi kurang
Sikap : O2 2 liter/ menit
IVFD RL 20 cc/ kgBB/ ½ jam
Banyak minum
ML 1600 kkal
Rencana : Pemeriksaan Hb, Ht setiap 4 jam
Pemeriksaan trombosit setiap 24 jam
Balance cairan
Kontrol vital sign
Pemeriksaan IgG dan IgM Dengue

FOLOW UP
5 Januari 2008 (Demam hari ke-4)
Pukul 22.00 – 22.30 ( ½ jam kemudian)
S/: demam tidak ada, muntah tidak ada, perdarahan tidak ada, nyeri perut tidak
ada, sesak nafas tidak ada
O/: Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : sadar.
Tanda vital Pukul 22.10 Pukul 22.20 Pukul 22.30
Frek nadi 110x/menit 110x/menit 108 x/menit
TD 90/70 mmHg 80/50 mmHg 100/70 mmHg
frek nafas 28 x/menit 28x/menit 24 x/menit
Suhu 36,50C 36,80C 36,8 0C.

Ekstremitas : akral hangat, perfusi baik

11
Lab : Hb 11,8 gr/dl
Ht : 32 %
Kesan : syok teratasi
Sikap : IVFD RL 10 cc/kgbb/jam
Banyak minum
ML 1600 kkal
Rencana : Pemeriksaan Hb, Ht tiap 4 jam
Pemeriksaan Trombosit 24 jam
Kontrol tanda vital
Balance cairan

Pukul 24.00:Nadi 115x/ menit, TD: 100/70 mmHg, nafas: 24x/ menit,suhu 36,8oC

Pukul 01.00:Nadi 112x/ menit, TD:110/70 mmHg, nafas: 24x/ menit, suhu 37oC

Pukul 02.00:Nadi 100x/ menit, TD: 110/90 mmHg, nafas : 22x/ menit, suhu 37oC

Pukul 03.00:Nadi 104x/menit, TD: 110/70 mmHg, nafas : 24x/ menit, suhu 37oC

Kesan : keadaan post syok stabil

6 Januari 2008 (Demam hari ke-5)


Pukul 07.00 wib
S/: demam tidak ada, muntah tidak ada, perdarahan baru tidak ada, nyeri perut
tidak ada, sesak nafas tidak ada
O/: Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : sadar.
Frek nadi : 104 x/menit
TD : 100/70 mmHg
frek nafas : 22 x/menit
Suhu : 36,5 0C.
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
Dada : paru dan jantung tidak ditemukan kelainan

12
Abdomen : distensi tidak ada, supel, hepar tidak teraba pembesaran,
lien tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, perfusi baik

Balance cairan ( 9 jam) : input : PE : 2500 cc output : urine : 800 cc


PO : 650 cc IWL : 183 cc
3150 cc 983 cc
Balance : +2167 cc
Urin : 3,6 cc/kgbb/jam
Laboratorium : Hb : 12,1 gr/dl
Ht : 39 %
Trombosit : 57.000/mm3
Urin : Protein (-)

Reduksi (-)

Bilirubin (-)

Urobilin (+)

Feses : Makroskopis : warna kuning, konsistensi lunak

Mikroskopis : eritrosit (-)

Leukosit (-)

Telur cacing (-)

Kesan : tidak ada perburukan


Sikap : IVFD RL 7 cc/ kgBB/ jam
Terapi lain dilanjutkan
Rencana : Pemeriksaan Hb, Ht setiap 4 jam
Pemeriksaan Trombosit setiap 24 jam
Balance cairan

Pukul 11.00 wib


Tanda vital : TD : 100/ 70 mmHg,Nadi : 90x/ menit,Nafas 24x/ menit,suhu 37,1oC
Laboratorium : Hb : 12,6 gr/dl; Ht : 39 %

13
Kesan : stabil
Sikap : terapi dilanjutkan

Pukul 15.00wib
Tanda vital : TD : 120/ 70 mmHg,Nadi : 94x/ menit,Nafas 24x/ menit,suhu 37,1oC
Laboratorium : -
Kesan : klinis pasien stabil
Sikap : terapi dilanjutkan

Pukul 19.00 wib


Tanda vital : TD : 100/ 70 mmHg,Nadi : 90x/ menit,Nafas 22x/ menit,suhu 37 oC
Laboratorium : Hb :12,4 gr/dl, Ht : 33 %
Kesan : stabil
Sikap : terapi dilanjutkan

Pukul 23.00 wib


Tanda vital : TD : 110/ 70 mmHg,Nadi : 96x/ menit,Nafas 20x/ menit,suhu 37 oC
Laboratorium : -
Kesan : Klinis pasien stabil
Sikap : terapi dilanjutkan

Pukul 02.00 wib


Tanda vital : TD : 110/ 70 mmHg,Nadi : 92x/ menit,Nafas 20x/ menit,suhu 37 oC
Laboratorium : Hb : 10,8 gr/dl, Ht 29 %
Kesan : stabil
Sikap : terapi dilanjutkan

Tanggal 7 Januari 2008 (Demam hari ke-6)


Pukul 07.00 wib
S/: demam tidak ada, muntah tidak ada, perdarahan baru tidak ada, nyeri perut
tidak ada, sesak nafas tidak ada
O/: Keadaan umum : tampak sakit sedang

14
Kesadaran : sadar.
Frek nadi : 92 x/menit
TD : 110/70 mmHg
frek nafas : 20 x/menit
Suhu : 37 0C.
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
Dada : paru dan jantung tidak ditemukan kelainan
Abdomen : distensi tidak ada, supel, hepar tidak teraba pembesaran,
lien tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, perfusi baik

Balance cairan : Input : PE 3500 cc Output : Urine 1500 cc


PO 1000 cc IWL 440 cc
4500 cc 1940 cc
Balance : +2560 cc
Urine : 2,8 cc/kg BB/jam

Laboratorium : Hb : 15,2 gr/dl


Ht : 42%
Kesan : stabil
Sikap : IVFD RL 5 cc/ kgBB/ jam
Terapi lain dilanjutkan
Rencana : Pemeriksaan Hb, Ht setiap 4 jam
Pemeriksaan Trombosit setiap 24 jam
Balance cairan

Pukul 15.00 wib


Tanda vital : TD : 110/ 70 mmHg,Nadi : 96x/ menit,Nafas 22x/ menit,suhu 37 oC
Laboratorium : -
Kesan : Klinis pasien stabil
Sikap : terapi dilanjutkan

15
Laboratorium : Hb : 13,8 gr/dl; 13 gr/dl
Ht : 38%; 36%

8 Januari 2007 (Demam hari ke-7)


Pukul 07.00 wib
S/ : demam tidak ada, muntah tidak ada, perdarahan baru tidak ada, nyeri perut
tidak ada, sesak nafas tidak ada, nafsu makan ada.
O/: Keadaan umum : tampak sakit sedang
Kesadaran : sadar.
Frek nadi : 90 x/menit
TD : 120/70 mmHg
frek nafas : 18 x/menit
Suhu : 37 0C.
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
Dada : paru dan jantung tidak ditemukan kelainan
Abdomen : distensi tidak ada, supel, hepar tidak teraba pembesaran,
lien tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, perfusi baik

Balance cairan : input : PE : 2500 cc output : urine :1500 cc


P0 : 1000 cc IWL : 440 cc
3500 cc 1940 cc
Balance : +1560 cc
Urine : 2,8 cc/kgBB/jam
Laboratorium : Hb : 13,1 gr/dl
Ht : 38 %
Trombosit : 155.000/mm3
Kesan : stabil
Sikap : stop IVFD
Terapi lain dilanjutkan
Rencana : Pemeriksaan Hb, Ht setiap 8 jam
Pemeriksaan Trombosit setiap 24 jam

16
Pukul 15.00 wib
Tanda vital : TD : 110/ 70 mmHg,Nadi : 96x/ menit,Nafas 20x/ menit,suhu 37 oC
Laboratorium : -
Kesan : Klinis pasien stabil
Sikap : terapi dilanjutkan

Laboratorium : Hb : 13,8 gr/dl; 12,5 gr/dl


Ht : 38%; 35 %

9 Januari 2007 (Demam hari ke-8)


Pukul 07.00 wib
S/ : demam tidak ada, muntah tidak ada, perdarahan baru tidak ada, nyeri perut
tidak ada, sesak nafas tidak ada, nafsu makan ada.
O/: Keadaan umum : tampak sakit ringan
Kesadaran : sadar.
Frek nadi : 80 x/menit
TD : 120/70 mmHg
frek nafas : 20 x/menit
Suhu : 36,5 0C.
Mata : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik.
Dada : paru dan jantung tidak ditemukan kelainan
Abdomen : distensi tidak ada, supel, hepar tidak teraba pembesaran,
lien tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat, perfusi baik
Laboratorium : Hb : 13,5 gr/dl
Ht : 39 %
Trombosit : 154.000/mm3
Kesan : stabil
Sikap : pasien diizinkan pulang

17
BAB III
DISKUSI

Telah dilaporkan seorang pasien anak perempuan umur 10 5/12 tahun


dengan diagnosis kerja Demam Berdarah Dengue derajat III. Diagnosis kerja
ditegakkan berdasarkan anamesis, pemeriksaan fisik dan hasil laboratorium. Data
yang diperoleh dari anamnesis yaitu demam tinggi,terus menerus, tidak
berkeringat,dan tidak disertai kejang sejak 3 hari sebelum masuk RS. Dari
pemeriksaan fisik didapatkan bahwa terdapat petechie pada lengan bawah dan
dada, akral dingin, nadi cepat dan halus serta tekanan darah 80/60 mmHg. Dari
pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan nilai hematokrit dan
trombositopenia. Gejala dan tanda yang ditemukan tersebut sesuai dengan gejala
Demam Berdarah Dengue derajat III berdasarkan kriteria WHO (1997).
Pengobatan yang dilakukan adalah pemberian cairan Ringer Laktat yang
dimulai dari 20cc/kgBB/30menit untuk mengatasi syok, jumlahnya terus
diturunkan secara bertahap menjadi 5cc/kgBB/jam sesuai keadaan keadaan klinis
pasien. Monitor tanda vital dilakukan tiap 10 menit sampai syok teratasi. Setelah
syok teratasi, monitor tanda vital tetap dilakukan secara berkala sesuai dengan
keadaan pasien. Pemeriksaan hemoglobin dan hematokrit yang seharusnya
dilakukan tiap 4-6 jam, tidak berjalan sesuai dengan rencana terapi karena pasien
menolak untuk diambil darah. Pasien dipulangkan pada hari rawatan ke-5 (demam
hari ke-8) karena telah memenuhi kriteria untuk memulangkan pasien yaitu : tidak
demam, nafsu makan membaik, tampak perbaikan secara klinis, 3 hari setelah
syok teratasi, jumlah trombosit >50.000/mm3, tidak dijumpai distres pernapasan.2,4

DAFTAR PUSTAKA

18
1. Behrman Richard,2000. Ilmu Kesehatan Anak (Nelson : Textbook of
Pediatrics). Jakarta:EGC, hal : 1134-1136.

2. Hadinegoro, Sri RH, Hindra IS. editor. Demam berdarah dengue naskah
lengkap pelatihan bagi pelatih dokter spesialis anak & dokter spesialis
penyakit dalam dalam tatalaksana kasus DBD. Jakarta : Balai penerbit FKUI.
1998.

3. Halstead, Scott B. Dengue fever and dengue hemorrhagic fever. Dalam :


Richard EB, Robert MK, Hal BJ, editor. Nelson textbook of pediatrics. 17 th
Edition. Philadelphia : Saunders, 2004; hal 1092-1094.

4. Cipto, Fuad. Dengue hemorrhagic fever. 2007. Diunduh dari www.fkui.org

5. Garna H, Hadinegoro SR, Sumarmo. Infeksi Virus Dengue. Dalam :Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Anak Infeksi dan Penyakit Tropis. Edisi 1. Jakarta: Bagian
Ilmu Kesehatan Anak FKUI, hal 176-208. 2002

6. Hadinegoro, Sri RH, Soegeng S, Suharyono W, Thomas S. editor.


Tatalaksana demam dengue/demam berdarah dengue. Jakarta : Departemen
Kesehatan. 1999.

Presentasi Kasus

19
DEMAM BERDARAH DENGUE

Oleh:

CHAIRUNNISA TAWADHU RIZAL


03 120 121

Pembimbing:

Dr. YORVA SAYOETI, Sp.A(K)

BAGIAN ILMU KESEHATAN ANAK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS
RSUP DR. M. DJAMIL PADANG
2007

20