Anda di halaman 1dari 7

TEORI PERENCANAAN GENERASI PERTAMA :

PERENCANAAN RASIONALISTIK-KOMPREHENSIF
Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Teori Perencanaan (TKP 509)
Dosen Pengampu :

Dr. Ir. Hadi Wahyono, MA.


Wido Prananingtyas ST, MDP, PhD.
Dr. Ir. Jawoto Sih Setyono, MDP.
Ir. Agung Sugiri, MPSt.

Muhammad Yazid Alwi Nasution


21040115120056

DEPARTEMEN PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA


FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
Latar Belakang

Sekitar awal abad ke-20, terdapat banyak teori perencanaan kota yang
terimplementasikan ke dalam bentuk rencana-rencana kerja dan beberapa buku teks
yang menjelaskan hubungan antara arsitektur dan urbanisme (Mandelbaum, 2001).
Dalam penerapannya, banyak perencanaan yang dipadukan dengan berbagai teori
yang pada akhirnya tidak mampu untuk dilaksanakan sehingga dalam pemenuhan
aspirasi, suatu kelompok atau masyarakat lebih mendominasi dibanding dengan
para ahli atau pembuat teori yang hanya memeberikan kritik, saran, pertanyaan dan
lain sebagainya tanpa memandang latarbelakang objek yang direncanakan.
Dilihat dari sejarahnya dalam negara-negara berkembang, terdapat 2 model
disiplin dalam perencanaan oleh Masik (2005) dikutip dalam (Conyers et al, 1984)
antara lain yang pertama perencanaan fisik dan perencanaan ekonomi. Dalam hal
ini, perencanaan ekonomi dianggap masih berjalan dengan sendirinya dan terpisah
dari perencanaan fisik sehingga masing-masing dari keduanya memiliki badan atau
lembaga sejenisnya sendiri. Hal ini mirip dengan konteks di Indonesia sebagai
negara berkembang, dilatarbelakangi dengan pewarisan perencanaan dari penjajah
sebelumnya, yang masih berkonsentrasi dalam pembangunan bidang fisik,
sementara di bidang lainnya seperti aspek sosial, ekonomi, dan lainnya justru masih
butuh perhatian lebih.
Indonesia termasuk negara yang condong melakukan kegiatan politiknya
melalui pendekatan top-down. Artinya pelaksanaan perencanaan masih dianggap
kaku karena mengikuti petunjuk pelaksanaan dan teknis yang ditetapkan
pemerintah pusat. Pemerintah belum tentu mengetahui apa saja karakteristik di
suatu wilayah dengan wilayah lain, sehingga belum tentu juga perencanaan yang
akan diterapkan akan sama karena kebutuhan wilayah yang berbeda-beda. Dengan
demikian, perencanaan rasional dalam konteks ini diartikan sebagai pendekatan
top-down dimana perencanaan bukan hanya bergerak di bidang fisik, tetapi juga
dalam bidang sosial, ekonomi, dan lain sebagainya. Produk akhir dari model ini
biasanya berupa masterplan dan perencanaan daerah yang sudah mencakup bentuk
aspirasi, kepentingan dan kebutuhan masyarakat, atau dengan kata lain, model
perencanaan rasional lebih mengutamakan partisipasi masyarakat dalam
penerapannya.
Tujuan

Adapun tujuan laporan ini dibuat agar mengetahui karakteristik teori


perencanaan generasi pertama : perencanaan rasionalistik-komprehensif baik dari
ciri maupun asumsi pendekatannya. Selain itu juga dilengkapi dengan contoh
implementasinya dengan studi kasus di Indonesia.

Karakteristik Teori Perencanaan Generasi Pertama

Pengertian
Suatu kerangka pendekatan yang logis dan teratur, mulai dari diagnosis
sampai kepada tindakan yang didasarkan pada analisis fakta yang relevan.
Diagnosis masalah yang dikaji melalui kerangka teori dan nilai-nilai, Perumusan
tujuan dan sasaran dalam rangka pemecahan masalah diarahkan untuk merancang
alternatif cara-cara untuk mencapai tujuan, dan pengkajian atas efektivitas cara-cara
tersebut. Adapun proses perencanaan komprehensif dilakukan secara urut.
Langkah-langkah prosesnya antara lain:
(1) Pengumpulan dan pengolahan data,
(2) Analisis,
(3) Perumusan tujuan dan sasaran perencanaan,
(4) Pengembangan alternatif rencana,
(5) Evaluasi dan seleksi alternatif rencana, dan
(6) Penyusunan dokumen rencana.

Hasil perencanaan bersifat rinci, jelas, dan berupa rancangan


pengembangan fisik atau tata ruang, antara lain meliputi peta rencana guna lahan,
peta rencana jaringan jalan, dan sebagainya. Setelah rencana selesai dibuat, maka
dilakukan proses pengesahan oleh pihak legislatif, dan kemudian dilakukan
implementasi rencana (aksi/tindakan) (Kent, 1964). Adapun ciri atau karakteristik
teori ini antara lain:
• Dilandasi oleh keinginan untuk mencapai tujuan yang utuh.
• Didasari oleh seperangkat spesifikasi tujuan yang lengkap, menyeluruh dan
terpadu.
• Prediksi yang tepat serta ditunjang oleh sistem informasi yang lengkap,
handal dan rinci.
• Prediksi yang diarahkan pada tujuan jangka panjang.

Asumsi
Diasumsikan bahwa suatu konsensus umum terhadap cara dan tujuan yang
mempunyai makna kepentingan/ kesejahteraan umum (publik interest/ common
good) dapat dicapai. Pemilihan rencana yang terbaik pada dasarnya merupakan
suatu proses teknikal yang dapat diselesaikan melalui analisis yang cermat atas data
yang relevan dan akurat. Dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien oleh suatu
mekanisme perencanaan yang sentralistik. Selain itu juga memiliki waktu
pelaksanaan yang jelas.

Implementasi

Secara formal, perencanaan (kota) di Indonesia saat ini mengikuti corak


perencanaan komprehensif yang diungkapkan dengan Peraturan Menteri Dalam
Negeri nomor 28 tahun 1987 tentang pedoman perencanaan kota (Djunaedi, 2002).
Dalam pengimplementasiannya, dapat ditarik beberapa contoh di Indonesia terkait
perencanaan pembangunannya dengan teori perencanaan rasional komprehensif.
Tulisan ini mengkaji tentang hubungan sistem perencanaan pembangunan di
Indonesia yang bersifat komprehensif dengan Pedoman Rencana Detail Tata Ruang
(RDTR) Kota.
Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, menurut Undang-Undang Nomor
25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, adalah satu
kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-
rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang
dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan
Daerah. Ada lima tujuan perencanaan pembangunan menurut UU 25/2004, yaitu:
• Mengkoordinasikan pelaku-pelaku pembangunan.
• Mengintegrasikan pembangunan antara daerah, waktu, fungsi pemerintah
yang berbeda (pusat maupun daerah).
• Menghubungkan dan menyelarakan perencanaan, penganggaran,
pelaksanaan, dan pengawasan.
• Mengoptimalkan partisipasi masyarakat.
• Memanfaatkan sumber daya dengan baik.

Adapun hubungan antara sistem perencanaan pembangunan di Indonesia dan


teori perencanaan rasional komprehensif dapa dilihat dari karakteristik teori yang
sama-sama dilandasi oleh keinginan untuk mencapai tujuan yang utuh, didasari
oleh seperangkat spesifikasi tujuan yang lengkap, menyeluruh dan terpadu. Hal ini
membuktikan bahwa integrasi antar tujuan saling berhubungan. Poin
“menghubungkan dan menyelarakan perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan
pengawasan” dan “mengoptimalkan partisipasi masyarakat” dalam tujuan
perencanaan pembangunan menurut UU 25/2004 juga sudah cukup jelas bahwa
konsensus memiliki peran yang sangat penting dalam pengambilan keputusan.

Jika dilihat dari sisi Pedoman RDTR Kota, RDTR Kota sendiri memiliki tujuan,
antara lain:
1. Menyusun pedoman teknis yang menjadi acuan dalam penjabaran RTRW
Kota kedalam RDTR Kota;
2. Merumuskan ketentuan ketentuan, syarat-syarat, dan kriteria teknis yang
berlaku dalam penyusunan kegiatan fungsional dapat dipenuhi dalam
pengembangan fungsi;
3. Menjadi kendali mutu bagi produk Rencana Detail Tata Ruang Kota.
Adapun sasaran pedoman antara lain :
1. Memudahkan Pemerintahan Daerah, maupun Perencana Daerah dalam
penyusunan Rencana Detail Tata Ruang Kota;
2. Sebagai alat evaluasi bagi pejabat berwenang daerah untuk menilai Rencana
Detail Tata Ruang Kota yang disusun pihak ke tiga;
3. Sebagai alat peran serta masyarakat untuk ikut dalam proses perencanaan,
pemanfaatan dan pengendalian serta pengawasan pembangunan daerahnya.

Konteks ini menjelaskan bahwa implementasi teori perencanaan rasional


komprehensif yang diterapkan dalam RDTR Kota adalah adanya peran
masyarakat dalam proses perencanaan baik dalam hal pengendalian maupun
pengawasannya. Keduanya dianggap berhubungan karena diasumsikan bahwa
suatu konsensus umum terhadap cara dan tujuan yang mempunyai makna
kepentingan/kesejahteraan umum dapat dicapai. Artinya, konsensus sebagai
kesepakatan yang telah disetujui secara bersama-sama baik antar kelompok atau
individu setelah adanya perdebatan dan penelitian yang dilakukan menjadi hal
penting dan sangat dipertimbangkan dalam mengambil keputusan.
Kesimpulan
Adapun dasar dilakukannya perencanaan secara komprehensif didasari
dengan ada penduduknya atau calon penduduk yang pasti, sehingga ada data
kependudukan, sosial-ekomnomi dan sebagainya yang akan dianalisis. Layaknya
namanya, komprehensif, berarti mempunyai skala luas, dengan pengambilan
keputusan yang kompleks. Dapat disimpulkan bahwa dilihat dari segi penerapan
maupu praktiknya, terdapat berbagai model perencanaan dan pendekatan yang
diimplementasikan di negara-negara maju, tetapi pada kenyataannya di Indonesia
dan beberapa negara berkembang lebih dominan memakai model perencanaan yang
komprehensif, karena banyaknya masyarakat Indonesia yang masih tergolong
minoritas, sehingga dengan model rencana ini aspirasi kelompok
minoritas/tertindas bisa saja diperjuangkan oleh para perencana secara adil. Adapun
kelebihan teori perencanaan generasi pertama antara lain lebih banyak
mempertimbangkan konsensus dan keterlibatan masyarakat, perencanaan yang
bersifat menjamah seluruh aspek, dan sifat perencanaan yang netral tidak berpihak.
Dari berbagai penerapannya, terdapat beberapa kekurangan yang dianggap menjadi
poin penting dalam teori perencanaan ini antara lain :
• Kurang memberikan informasi dan arahan yang relevan bagi pembuat
keputusan mengenai prioritas dari hasil rumusan jangka panjang.
• Penyelesaian masalah yang kompleks dinilai sulit dilaksanakan
(keterbatasan dana dan dinamika mayarakat) atau program terlalu ambisius
sehingga sulit direalisasikan.
• Asas totalitas membutuhkan sistem informasi yang lengkap, handal dan
rinci, membutuhkan waktu dan biaya yang tinggi sehingga beberapa
penganut teori lain menganggap tidak realistis.
• Asas totalitas membutuhkan koordinasi yang baik, pada kenyataannya
koordinasi membutuhkan keterpaduan berbagai aspek, sehingga lebih
sering dianggap sebagai masalah baru.
Daftar Pustaka

Mandelbaum, S. J. (2001). Planning Theory (North American).


Kent, Jr. T.J. (1964). The Urban General Plan. Chandler Publishing Company,
San Fransisco, CA.
Djunaedi, Ahmad. (2002). Keragaman Pilihan Corak Perencanaan (Planning
Styles) untuk Mendukung Kebijakan Otonomi Daerah.
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2008 Tentang Pedoman
Perencanaan Kawasan Perkotaan.
Conyers, Diana and Hills, Peter. (1984) An Introduction to Development Planning
in The Third World. John Willey & Sons, Brisbane.
Masik, A. (2005). Hubungan Modal Sosial dan Perencanaan. Journal of Regional
and City Planning, 16(3), 1-23.
Direktorat Jenderal Penataan Ruang. Pedoman Rencana Detail Tata Ruang Kota.