Anda di halaman 1dari 16

Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.

3 Agustus 2016 : 276-290

PENDUGAAN PARAMETER GENETIK DAN KOMPONEN


RAGAM SIFAT PERTUMBUHAN PADA BANGSA BABI
LANDRACE

ESTIMATION OF GENETIC PARAMETERS AND VARIAN COMPONENT


OF GROWING UP CHARACTER FOR LANDRACE SWINE

Vierman1, Marida S. Nababan 2 Armyn Hakim Daulay 3 dan Hamdan 3

1. Kepala Balai Pembibitan Ternak unggul Kerbau dan Babi Siborong-Borong, Sumut
2. Mahasiswa Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara
3. Staf Pengajar Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

The genetic information of Landrace can determine the breeding strategy in the
future. This study aimed to find out the heritability value, genetic correlation, and
breeding value of Landrace swine. This research was conducted at Balai Penelitian
Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Siborongborong, Tapanuli Utara on June
2015. The research used nested unbalanced design. The research used data record of
production from 465 Landrace Swine with 245 male swine and 220 female swine. The
result showed that the heritability value of birth weight and weaning weight were 0.14
and 0.36, respectively. Genetic correlation value (birth weight – weaning weight) (litter
size – birth weight) (litter size – weaning birth) were 0.24%; -0.06% and -0.14%,
respectively. The conclusion of this research is the coefficient variance of growth trait on
Landrace swine is high however, have low correlation. Criteria selection of growth trait
based on birth weight and weaning weight.

Keywords: Landrace swine, heritability, genetic correlations, breeding value.

ABSTRAK
Informasi genetik babi Landrace menentukan strategi pemuliaan di masa
mendatang. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai heritabilitas, korelasi genetik, dan
nilai pemuliaan babi Landrace. Penelitian dilakukan di Balai Pembibitan Ternak Unggul
dan Hijauan Pakan Ternak Desa Siaro Kecamatan Siborongborong Kabupaten Tapanuli
Utara pada bulan Juni 2015. Rancangan yang digunakan adalah pola tersarang data tidak
seimbang. Materi penelitian merupakan data produksi dari 465 ekor Babi Landrace
dengan jantan sebanyak 245 ekor dan betina sebanyak 220 ekor. Hasil penelitian
menunjukkan nilai heritabilitas bobot lahir dan bobot sapih berturut-turut adalah 0.14 dan
0.36. Nilai korelasi genetik (bobot lahir-bobot sapih) (jumlah anak sekelahiran-bobot
lahir) (jumlah anak sekelahiran-bobot sapih) dengan nilai masing-masing adalah: 0.24%;
-0.06% dan -0.14%. Kesimpulan penelitian adalah nilai koefisien keragaman sifat
pertumbuhan pada babi Landrace memiliki keragaman yang tinggi namun korelasi
genetiknya rendah. Kriteria terhadap seleksi sifat pertumbuhan pada babi Landrace
didasarkan pada bobot lahir dan bobot sapih.

Kata kunci : Babi Landrace, heritabilitas, korelasi genetik, nilai pemuliaan.

276
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

PENDAHULUAN
Babi adalah ternak monogastrik dengan interval generasi yang lebih
singkat dari domba, sapi, kerbau dan kuda serta pertumbuhan yang cepat. Ternak
babi merupakan hewan polytocous (melahirkan anak lebih dari satu), serta jarak
antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya pendek.
Dilihat dari keberadaannya, produksi ternak babi yang dipelihara oleh
masyarakat belum memberikan hasil yang optimal. Perkembangan dunia usaha
peternakan tidak terlepas dari faktor bibit, pakan dan manajemen. Faktor-faktor
tersebut harus diperhatikan dan dilaksanakan dengan baik untuk mendapatkan
penampilan ternak yang diinginkan sehingga mendatangkan keuntungan yang
diharapkan. Peningkatan produktivitas dari segi pemuliaan didukung oleh
perbaikan mutu genetik melalui seleksi pada pejantan karena sekitar 50% sifat
diwariskan pejantan kepada keturunannya. Hal ini lah yang mendorong para
peneliti untuk memperbaiki produksi ternak khususnya ternak babi melalui
penelitian pemuliaan ternak.
Keragaman fenotipik sifat menunjukkan perbedaan yang terukur antara
individu yang satu dengan individu yang lain dalam suatu populasi untuk sifat
tertentu. Keragaman fenotipik sifat menjadi materi dasar yang harus diperhatikan
oleh pemulia karena tanpa keragaman sifat maka sifat tersebut tidak dapat
diseleksi. Faktor-faktor yang menyebabkan keragaman fenotipik adalah faktor
genetik, faktor lingkungan, dan interaksi keduanya (Kurnianto, 2009).
Jumlah anak perkelahiran (littersize) dan kemampuan induk dalam
mengasuh anak merupakan rangkaian yang tak terpisah-pisahkan dalam
menghasilkan sejumlah anak babi hidup sampai disapih. Anak babi dengan bobot
lahir yang tinggi mempunyai pertambahan bobot badan harian (daily again) dan
bobot sapih yang lebih baik dari pada anak-anak babi yang bobot lahirnya rendah.
Babi Landrace menjadi pilihan para peternak karena pertumbuhannya cepat,
konversi makanan sangat bagus dan temperamennya jinak.
Berdasarkan pemaparan di atas maka perlu diadakan seleksi di dalam
pemilihan bibit unggul. Melalui pendugaan nilai parameter genetik dan ragam
sifat pertumbuhan maka setiap ternak akan diketahui nilai pemuliaan dan
peringkat mutu genetiknya dalam suatu populasi tersebut. Individu dengan

277
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

rangking tertinggi memiliki potensi genetik untuk ternak seleksi guna


memperbaiki mutu genetik dalam suatu populasi ternak diwaktu mendatang.
Dengan demikian perkawinan ternak bukan terjadi secara kebetulan dan liar
melainkan teratur dan terarah.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN


Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan di Balai Penelitian Ternak Unggul dan Hijauan
Pakan Ternak Sinur, Desa Siaro, Kecamatan Siborongborong, Kabupaten
Tapanuli Utara, sekitar 255-260 km dari Kota Medan dengan ketinggian lokasi
sekitar 1250 m di atas permukaan laut, dengan suhu berkisar 20-250C. Penelitian
akan dilakukan pada bulan Juni 2015.
Bahan dan Alat Penelitian
Bahan
Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah data recording bangsa
babi galur murni Australia (Landrace) yaitu dengan menggunakan data time series
selama 1 generasi berupa (nomor dan bangsa tetua, tanggal kawin, tanggal lahir,
nomor anak, jenis kelamin, bobot lahir, bobot sapih, jumlah anak sekelahiran dan
jumlah anak yang disapih) diperoleh dari catatan atau recording bangsa babi galur
murni Australia (Landrace) di BPTU – HPT Siborongborong. Jumlah data
recording ternak babi galur murni Australia (Landrace) di BPTU-HPT
Siborongborong yang digunakan pada penelitian berkisar 245 ekor betina dan 220
ekor jantan.
Alat
Pada penelitian ini digunakan buku dan alat tulis untuk mencatat data
recording ternak babi galur murni Australia bangsa Landrace.
Metode Penelitian
Metode yang digunakan adalah metode pengambilan data recording
berupa data time series dalam 1 generasi. Data recording ini diperoleh dari
instansi terkait dengan menggunakan data time series yaitu nomor dan bangsa
tetua, tanggal kawin, tanggal lahir, nomor anak, jenis kelamin, bobot lahir, bobot

278
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

sapih, jumlah anak sekelahiran dan jumlah anak yang disapih pada bangsa babi
Landrace dalam 1 generasi.
Parameter Penelitian
1. Komponen Ragam
Sesuai pernyataan Kurnianto (2010) komponen ragam terdiri dari ragam,
koefisien keragaman, dan peragam berdasarkan kuantitatif sebagai berikut :
a. Bobot lahir
b. Bobot sapih
c. Jumlah anak sekelahiran
Rumus bobot badan terkoreksi adalah sebagai berikut :
BLT = BL x FKJKBL
BST = BS x FKJKBS
Keterangan :
BLT = Bobot lahir terkoreksi (kg)
BST = Bobot sapih terkoreksi (kg)
1.1 Ragam (σ2)
Ragam (σ2) merupakan rata-rata kuadrat simpangan ukuran masing-
masing individu paling berguna untuk mempelajari keragaman populasi
(Kurnianto, 2010).
∑(𝑿𝒊 −𝝁)𝟐
σ2 = 𝑵

Keterangan :
σ2 = ragam untuk populasi
N = banyaknya data populasi
μ = rata-rata populasi
1.2 Koefisien Keragaman (KK)
Pada umumnya, benda besar beragam dan benda kecil beragam kecil.
Untuk membuat perbandingan, akan mudah bila simpangan baku dinyatakan
sebagai persentase dari rata-rata. Simpangan baku yang dinyatakan sebagai
persentase dari rata-rata disebut koefisien keragaman (Kurnianto, 2010).

𝜎
KK = (100%)
𝜇

279
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

Keterangan :
σ = standar deviasi untuk populasi
μ = rata-rata populasi
1.3 Peragam
Peragam adalah salah satu perhitungan yang harus dilakukan untuk
mengetahui bentuk hubungan dan keeratan hubungan antara 2 atau lebih
parameter kuantitatif (Kurnianto, 2010).

[( ∑𝑿)(∑𝒀)]
∑𝑿𝒀 ∑𝑿𝒀−{
𝒏
Sxy = 𝒏−𝟏 = 𝒏−𝟏

2. Parameter Genetik
2.1 Estimasi Nilai Heritabilitas (h2)
Dengan metode rancangan tersarang (nested design) un-balanced, nilai
pendugaan heritabilitas dari pejantan (h2S) dan betina (h2S) akan dihitung
menggunakan rumus menurut Kurnianto (2010) sebagai berikut :

4σ2 s
h2S =(σ2 s+ σ2 d+σ2 w)

4σ2 d
h2D =(σ2 s+ σ2 d+σ2w)

Untuk model Unbalanced design, perhitungan koefisien-koefisien (k1, k2,


dan k3) yang menunjukkan anak per induk dan per pejantan pada kondisi tidak
sama dilakukan dengan rumus-rumus sebagai berikut:
∑ 𝑛2 𝑖𝑗
K1 = (n.. - ∑𝑖 ) / DBD
𝑛𝑖.
∑𝑗 𝑛2 𝑖𝑗 ∑𝑖 ∑𝑗 𝑛2 𝑖𝑗
K2 = ( ∑𝑖 − )/DBS
𝑛𝑖. 𝑛..
∑𝑖 𝑛𝑖.2
K3 = (n.. - ) / DBS
𝑛..

280
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

2.2 Estimasi Korelasi Genetik (rG)


Estimasi korelasi genetik akan dilakukan dengan metode pola tersarang
(Nested design) dengan analisa peragam (Covarians) menurut Kurnianto (2010)
sebagai berikut :

4 Cov s
Korelasi genetik (rg) =
√4σ2 s (X).4σ2 s (Y)

2.3 Estimasi Nilai Pemuliaan (Estimated Breeding Value)


Menurut Kurnianto (2010), nilai pemuliaan dapat ditaksir dengan
menggunakan satu catatan produksi dari 1 individu, yaitu :
EBV = h2(𝑃– 𝑃̅)
Keterangan :
EBV = Estimated Breeding Value
h2 = Nilai heritabilitas sebagai pembobot
P = Produksi dari catatan tunggal ternak yang sedang dihitung NP nya
̅
P = Rata-rata produksi dari ternak pembanding (ternak-ternak lain yang
berproduksi pada tempat dan waktu yang sama).
3. Analisis Data
Analisis terhadap sifat kuantitatif (bobot badan nyata dan terkoreksi),
heritabilitas dan nilai pemuliaan dilakukan dengan program Microsoft Excel.
Sedangkan nilai korelasi genetik dilakukan dengan bantuan program SPSS.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Sesuai analisis statistik hasil penelitian dapat dilihat pada tabel rekapitulasi
hasil penelitian sebagai berikut:

281
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

Tabel 1. Rekapitulasi hasil penelitian pendugaan parameter genetik dan komponen


ragam sifat pertumbuhan babi Landrace.

Parameter penelitian
Komponen Ragam Parameter Genetik
Sifat Pertumbuhan Ragam Koefisien Peragam Heritabilitas Korelasi
keragaman genetik
(%)
a.Bobot 0.10 19.98 0.14
lahir
Bobot
b.Bobot 0.11 19.88
lahir
lahir
terkoreksi
a.Bobot 6.61 22.70 0.36
sapih
Bobot
b.Bobot 6.67 22.65
sapih
sapih
terkoreksi
Jumlah anak 5.13 27.89
sekelahiran
Bobot lahir-bobot 0.21 0.24
sapih
Jumlah anak -0.05 -0.06
sekelahiran-bobot
lahir
Jumlah anak -0.82 -0.14
sekelahiran-bobot
sapih

Komponen Ragam
Koreksi terhadap jenis kelamin menunjukkan bahwa bobot badan
terkoreksi lebih besar yaitu dengan nilai 1,64 dibandingkan bobot badan nyata
dengan nilai 1,61. Demikian juga dengan nilai ragam (Tabel 1) bobot badan
terkoreksi lebih tinggi dengan nilai 0,11 dibandingkan nilai ragam bobot badan
nyata dengan nilai 0,10. Hal ini menunjukkan keragaman data setelah dikoreksi
lebih rendah dibandingkan tidak dikoreksi. Keragaman data pada bobot badan
dapat terjadi disebabkan beberapa faktor seperti faktor umur induk, genetik,
manajemen, dan fertilitas pejantan sehingga perlu diadakan koreksi terhadap data
bobot badan. Menurut Davendra and Mcleroy (1982) tujuan koreksi data adalah
untuk mengurangi pengaruh keragaman data yang disebabkan oleh faktor
lingkungan. Variasi yang tinggi akan berpengaruh terhadap nilai parameter

282
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

genetik. Sehingga proses seleksi bersifat fair yang bebas dari pengaruh
(Kurnianto, 2010).
Nilai keragaman dari sifat bobot lahir dan bobot sapih memiliki
keragaman yang besar yaitu di atas 15 %. Hal ini sesuai dengan pernyataan
Kurnianto (2009) yang menyatakan bahwa kategori keragaman ialah: <5%
keragaman kecil, 6%-14% keragaman sedang, ≥15% keragaman besar.
Keragaman pada sifat terkoreksi pada bobot sapih lebih besar dibandingkan
koreksi bobot lahir disebabkan karena bobot sapih masing-masing individu telah
menunjukkan potensi genetiknya yang sangat variatif terhadap lingkungan.
Peragam dihitung untuk mengetahui tingkat keeratan hubungan antara dua
sifat pertumbuhan tertentu. Kurnianto (2009) menyatakan bahwa untuk
mengetahui bentuk hubungan dan keeratan hubungan antara dua parameter atau
variabel, maka salah satu perhitungan yang harus dilakukan adalah peragam. Pada
Tabel 1 nilai peragam antara sifat jumlah anak sekelahiran dengan bobot lahir
yaitu -0.05. Kedua sifat tersebut memiliki nilai peragam yang negatif dan kategori
sangat rendah, yaitu apabila terjadi peningkatan pada sifat yang satu akan
menurunkan sifat yang satunya. Artinya dengan kenaikan jumlah anak sekelahiran
maka akan menurunkan bobot lahir.
Nilai peragam pada sifat pertumbuhan antara jumlah anak sekelahiran
dengan bobot sapih yaitu -0.82. Kedua sifat tersebut memiliki nilai peragam
yang negatif dengan kategori tinggi, sehingga sifat jumlah anak sekelahiran
dengan sifat bobot sapih memiliki hubungan yang saling berlawanan yaitu apabila
dengan kenaikan pada satu sifat akan menurunkan sifat yang lain. Artinya dengan
kenaikan jumlah anak sekelahiran akan menurunkan bobot sapih. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Munir (2013), yang menyatakan bahwa tanda kovarians (+
atau -) menunjukkan hubungan antara peubah acak positif/negatif. Jika bergerak
ke arah berlawanan (x membesar dan y mengecil), maka hasil kali (x – µx) (y –
µy) cenderung akan bernilai negatif.
Nilai peragam antara sifat bobot lahir dan bobot sapih termasuk di dalam
kategori rendah sehingga sifat bobot lahir dan bobot sapih memiliki hubungan
yang rendah. Kedua sifat tersebut memiliki nilai yang rendah dan positif, yaitu
apabila terjadi penurunan pada sifat bobot lahir maka akan menurunkan sifat

283
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

bobot sapih. Hal ini sesuai dengan pernyataan Munir (2013), yang menyatakan
bahwa peragam antara dua peubah menunjukkan sifat asosiasi (hubungan) antara
keduanya. Jika peubah tersebut bergerak searah (x membesar dan y membesar)
maka hasil kali (x – µx) (y - µy) cenderung bernilai positif.
Bobot Lahir
Rata-rata bobot lahir pada anak jantan (1.64 ± 0.31) dan betina (1.57 ±
0.32). Hal ini sesuai dengan pernyataan Sihombing (1997) yang meyatakan bahwa
rataan bobot lahir anak babi Landrace bervariasi antara 1,09-1,77 kg.
Berdasarkan jenis kelamin bobot lahir anak jantan lebih besar
dibandingkan betina. Hal ini berkaitan dengan kemampuan sifat fetus jantan lebih
baik dalam mengekspresikan gen dan menyerap nutrisi dari induk dibandingkan
betina. Hal ini sesuai dengan pernyataan Sihombing (1997), yang menyatakan
bahwa bobot lahir anak sangat bervariasi dan dipengaruhi beberapa faktor seperti
genetik, pakan, jenis kelamin (Widodo dan Hakim, 1981). Bobot lahir juga
dipengaruhi oleh faktor keindukan (maternal effect), dimana hal ini sesuai dengan
pernyataan Toelihere (1981) yang menyatakan bahwa selama pertumbuhan
prenatal (di dalam uterus), plasenta jantan lebih besar jika dibandingkan dengan
betina. Dengan demikian kesempatan fetus jantan untuk memperoleh zat makanan
cukup banyak jika dibandingkan dengan yang betina.
Bobot Sapih
Hasil analisis bobot sapih babi Landrace berdasarkan jenis kelamin pada
jantan yaitu (11.39 ± 2.57) dan pada betina (11.29 ± 2.57), lebih rendah
dibandingkan dengan bobot sapih pada babi Landrace secara umum yang
direkomendasikan oleh NRC (1998) yaitu sekitar 13-18 kg. Bobot sapih sangat
ditentukan antara lain oleh jenis kelamin, bobot badan induk, keadaan saat ternak
lahir dan kemampuan induk menyusui anaknya, kuantitas dan kualitas ransum
serta suhu lingkungan (Sihombing, 1997) dan hal ini didukung oleh pernyataan
Bourdon (1997), yang menyatakan bahwa bobot sapih dipengaruhi komponen
genetik induk (maternal genetic effect) yaitu pengaruh gen yang mempengaruhi
kondisi lingkungan pada induk dan akhirnya mempengaruhi performans individu.
Variasi bobot badan dari berbagai penelitian dapat disebabkan oleh
faktor seperti perbedaan jumlah ternak penelitian, metode yang digunakan dan

284
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

perbedaan waktu penelitian. Hal ini sesuai dengan pernyataan Prihandini et al.,
(2011) yang menyatakan faktor lingkungan (non-genetik) tidak seluruhnya dapat
diseragamkan karena pola pemeliharaan ternak setiap tahunnya tidak sama.
Jumlah Anak Sekelahiran
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata jumlah anak
sekelahiran pada ternak babi Landrace sebesar 8.12 ekor. Jumlah anak
sekelahiran pada kelahiran pertama bervariasi antara 6.71-9.45 ekor bagi bangsa
murni Australia (Landrace) dan angka ini akan naik sampai induk berumur 3
tahun atau kelahiran ke 5 yang bervariasi antara 8.32-12.43 ekor (Brahmana et al.,
1976). Babi dara yang baru dikawinkan akan menghasilkan jumlah anak
sekelahiran yang lebih sedikit daripada babi induk (Sihombing, 1997).
Jumlah anak sekelahiran pada babi Landrace memiliki keragaman yang
besar yaitu 27.89 % (Tabel 1). Tingginya keragaman dari sifat pertumbuhan babi
Landrace menunjukkan bahwa dapat dilakukan perbaikan genetiknya. Hal ini
sesuai dengan pernyataan Pane (1993), yang menyatakan bahwa makin besar
variasinya makin besar pula kemungkinan dapat dilaksanakan perbaikan mutu
secara keseluruhannya. Variasi dapat terjadi pada sifat yang terlihat (fenotip) dan
yang tidak terlihat (genotip).
Estimasi Nilai Heritabilitas
Hasil analisis statistik (Tabel 1) nilai heritabilitas sifat bobot lahir adalah
0.14 dan nilai heritabilitas pada sifat bobot sapih adalah 0.36. Nilai pewarisan
pada sifat bobot lahir yang diperoleh dari hasil penelitian tergolong sedang dan
nilai pewarisan pada sifat bobot sapih tergolong tinggi. Hal ini sesuai dengan
pernyataan Hardjosubroto (1994), yang menyatakan bahwa pada umumnya h2
dikatakan rendah bila nilainya berkisar antara 0 sampai 0.1, sedang bila nilainya
0.1 sampai 0.3 dan tinggi bila melebihi 0.3. Kurnianto (2009), menyatakan bahwa
faktor-faktor yang membedakan nilai heritabilitas suatu sifat diantaranya pada
periode waktu yang berbeda, sifat suatu bangsa, dan metode yang digunakan
dalam pendugaan serta jumlah dan asal data yang berbeda.
Bila dibandingkan dengan nilai heritabilitas bobot lahir, maka pengaruh
ragam lingkungan pada heritabilitas bobot sapih ternak babi Landrace yang
diteliti lebih rendah. Pengaruh gen aditif lebih besar pada bobot sapih

285
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

menyebabkan nilai heritabilitas yang dihasilkan lebih tinggi dibandingkan


heritabilitas bobot lahirnya. Tingginya nilai pewarisan pada sifat bobot sapih
dibandingkan pada sifat bobot lahir maka harapan untuk mendapatkan kemajuan
atau perbaikan mutu genetik relatif lebih cepat pada sifat bobot sapih, karena
dengan heritabilitas tinggi maka waktu yang dibutuhkan untuk mencapai
kemajuan genetik relatif cepat. Menurut Dalton (1984) nilai heritabilitas dikatakan
tinggi jika lebih dari 0,3.
Nilai heritabilitas dengan kategori sedang sampai tinggi menggambarkan
bahwa faktor genetik sangat berperan dalam menentukan keragaman fenotipik
ternak, sehingga dapat secara maksimal dimanfaatkan dalam peningkatan
kemajuan genetik melalui program seleksi. Hardjosubroto (1994) menambahkan
bahwa suatu sifat apabila memiliki nilai heritabilitas yang tinggi apabila
digunakan untuk seleksi maka akan menunjukkan respon seleksi yang tinggi.
Karena nilai heritabilitas sifat bobot sapih pada penelitian lebih tinggi
dibandingkan dengan sifat bobot lahir, maka seleksi akan lebih berhasil dan
efisien apabila dilakukan pada saat ternak akan disapih.
Korelasi Genetik
Hasil analisis statistik (Tabel 1) menunjukkan nilai korelasi antara bobot
lahir-bobot sapih yaitu sebesar 0.24, lebih tinggi dibandingkan korelasi jumlah
anak sekelahiran-bobot lahir dan jumlah anak sekelahiran-bobot sapih masing-
masing adalah -0.06 dan -0.14. Nilai korelasi tersebut tergolong rendah sesuai
dengan pernyataan Warwick et al., (1984) yang menyatakan bahwa nilai korelasi
tinggi berkisar antara 0.5-1.0; sedang berkisar antara 0.25-0.5 dan rendah <0.25.
Nilai korelasi hanya berlaku pada populasi dimana nilai tersebut diduga dan pada
kurun waktu tertentu.
Nilai korelasi antara bobot lahir dengan bobot sapih sebesar 0.24
menunjukkan bahwa sifat bobot lahir berkorelasi genetik positif berderajat sedang
dengan sifat bobot sapih. Jadi seleksi dengan sifat bobot sapih diharapkan dapat
meningkatkan kenaikan bobot lahir generasi selanjutnya sebagai tanggapan
seleksi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Warwick et al (1995), yang menyatakan
bahwa korelasi dapat positif apabila satu sifat meningkat, maka sifat lain juga
meningkat. Noor (1996) menambahkan bahwa korelasi genetik yang positif ada

286
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

jika seleksi untuk suatu sifat tidak saja berakibat diperbaikinya sifat tersebut,
tetapi juga sifat keduanya yang berkorelasi. Makin tinggi nilai korelasinya maka
makin erat hubungan antara kedua sifat tersebut.
Nilai korelasi jumlah anak sekelahiran dengan bobot lahir dan jumlah anak
sekelahiran dengan bobot sapih berturut-turut adalah -0.06 dan -0.14. Nilai
tersebut menunjukkan bahwa sifat jumlah anak sekelahiran berkorelasi genetik
negatif berderajat rendah dengan sifat bobot lahir dan bobot sapih. Hal ini
menunjukkan jumlah anak sekelahiran yang tinggi dapat menurunkan bobot lahir
dan bobot sapih dari babi Landrace. Hal ini sesuai dengan pernyataan Noor
(1996), yang menyatakan bahwa jika dua sifat berkorelasi negatif maka kemajuan
seleksi pada sifat akan mengakibatkan menurunnya kemajuan genetik untuk sifat
keduanya. Sesuai dengan pernyataan Lasley (1978), nilai korelasi rendah
menunjukkan bahwa gen yang mempengaruhi kedua sifat tersebut masih sangat
sedikit sekali dan tidak dapat dipakai sebagai tolak ukur program seleksi (Hakim,
1999). Rendahnya hubungan tersebut dikarenakan pada bobot lahir masih
dipengaruhi faktor maternal effect (induk) (Bourdon, 1997) sedangkan pada bobot
sapih dipengaruhi potensi pertumbuhan masing-masing individu (Cole, 1982).
Nilai Pemuliaan (Estimated Breeding Value)
Sesuai hasil analisis statistik menunjukkan nilai pemuliaan bobot lahir dan
bobot sapih dari 245 ekor anak jantan dan 220 ekor anak betina babi Landrace
yang telah dievaluasi. Nilai pemuliaan positif berada diatas rata-rata kelompok,
sedangkan nilai pemuliaan negatif berada dibawah rata-rata kelompok.
Berdasarkan hasil analisis statistik, nilai pemuliaan bobot lahir dan bobot
sapih anak jantan babi Landrace, nilai pemuliaan positif berada diatas rata-rata
kelompok sedangkan nilai pemuliaan negatif berada dibawah rata-rata kelompok.
Nilai pemuliaan bobot lahir anak jantan yang diatas rata-rata sebanyak 144 ekor
sedangkan untuk nilai pemuliaan bobot sapih anak jantan yang diatas rata-rata
sebanyak 125 ekor dari total populasi.
Anak jantan yang memiliki nilai pemuliaan berdasarkan nilai
pembobotnya yang paling tinggi didalam populasinya diharapkan dapat dijadikan
tetua pada generasi berikutnya. Dikarenakan anak jantan memiliki nilai pemuliaan
yang tinggi diatas rata-rata mempunyai potensi yang baik untuk sifat tertentu

287
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

untuk diturunkan ke generasi berikutnya. Menurut Kurnianto (2010) menyatakan


bahwa pada program seleksi untuk memilih individu-individu ternak yang
mempunyai keunggulan genetik tinggi, maka nilai pemuliaan menjadi suatu
keharusan untuk diketahui. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan
Hardjosubroto (1994) yang menyatakan bahwa apabila seekor ternak (biasanya
seekor pejantan) telah diketahui besar nilai pemuliaannya, hal ini berarti bahwa
bila pejantan tersebut dikawinkan dengan induk-induk secara acak pada populasi
normal maka rerata performans keturunannya kelak akan menunjukkan
keunggulan sebesar setengah dari nilai pemuliaan pejantan tersebut terhadap
performans populasinya.
Nilai pemuliaan bobot lahir anak betina babi Landrace dari hasil
penelitian bernilai positif berada di atas rata-rata kelompok sebanyak 104 ekor
sedangkan nilai pemuliaan bobot sapih anak betina yang di atas rata-rata sebanyak
105 ekor dari total populasi.
Anak betina yang memiliki nilai pemuliaan diatas rata-rata populasinya
diharapkan dapat dijadikan induk untuk generasi selanjutnya. Pemilihan ternak
berdasarkan nilai pemuliaan dapat dilihat dari besarnya nilai pembobotnya.
Ternak yang mempunyai nilai pemuliaan lebih besar dari yang lainnya akan lebih
baik jika dijadikan tetua bila dibandingkan dengan ternak yang memiliki nilai
pemuliaan rendah. Kurnianto (2010) juga menyatakan bahwa besarnya pembobot
tergantung pada sumber informasi yang digunakan untuk menduga nilai
pemuliaan.
KESIMPULAN
Nilai koefisien keragaman sifat pertumbuhan pada babi Landrace
memiliki keragaman yang tinggi. Nilai heritabilitas pada sifat bobot lahir
tergolong sedang dan nilai heritabilitas pada sifat bobot sapih yang diperoleh dari
hasil penelitian tergolong tinggi. Nilai korelasi yang rendah sampai sedang
menunujukkan hubungan antar sifat belum cukup efektif terhadap percobaan
seleksi. Individu dengan nilai pemuliaan diatas rata-rata kelompok dapat dijadikan
ternak seleksi.

288
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

DAFTAR PUSTAKA
Bourdon, R. M. 1997. Understanding Animal Breeding. Prentice Hall, Inc, New
Jersey.
Brahmana, S.S., A.N. Barus., Irawati dan B.D. Sinuraya. 1976. Survey Breeding
Performans Babi di Kecamatan Medan Labuhan. Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan (Laporan Penelitian).
Cole, D.J.A dan G.R. Foxrcroft. 1982. Control of Pig Reproduction. Butterworth
Scientific, London.
Dalton, D.C. 1984. An Introduction to Practical Animal Breeding. 2nd Edition.
Granada Publishing Limited. London
Davendra, C. And G.B.Mcleroy. 1982. Goat and Sheep Production in the Tropics.
Longman Group Limited, Harlow, Esesex, UK
Hakim,L. 1999. Pemuliaan Ternak: Upaya Untuk Meningkatkan Performans
Produksi. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Ilmu Pemuliaan
Ternak. Universitas Brawijaya. Malang.
Hardjosubroto, W.1994. Aplikasi Pemuliaan Ternak di Lapangan. Grasindo
Jakarta
Kurnianto, E. 2009. Pemuliaan Ternak. Cetakan Pertama. Graha Ilmu. Yogyakarta
Kurnianto, E. 2010. Ilmu Pemuliaan Ternak. Lembaga Pengembangan dan
Penjaminan Mutu Pendidikan. Universitas Diponegoro. Semarang.
Lasley, 1978. Genetics of Livestock Improvement, Third Edition Printice-Hall of
India Private Limited, New Delhi.
Munir,R. 2013. Variansi dan Konvariansi. Teknik Elektro dan Informatika. ITB.
Bandung.
Noor, R. R. 1996. Genetika Ternak. Cetakan Pertama Penebar Swadaya, Jakarta.
Pane, I. 1993. Pemuliabiakan Ternak Sapi. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.
Prihandini, P,W.,L.Hakim dan V.M.A. Nurgiartiningsih. 2011. Seleksi Pejantan
Berdasarkan Nilai Pemuliaan Pada Sapi Peranakan Ongole di Loka
Penelitian Sapi Potong Grati-Pasuruan. Jurnal Ternak Tropika Vol 12 No.1
hal 97-107.
Sihombing, D.T.H. 1997. Ilmu Ternak Babi. Cetakan pertama. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.

289
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

Toelihere, M. 1981. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa, Bandung


Warwick, E. J., J. M. Astuti dan W. Hardjosubroto. 1995. Pemuliaan Ternak.
Cetakan kelima. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Widodo,W. dan L.Hakim.,1981. Pemuliaan Ternak. Lembaga Penerbitan
Universitas Brawijaya, Malang.

290
Jurnal Peternakan Integratif Vol. 4 No.3 Agustus 2016 : 276-290

291