Anda di halaman 1dari 16

MINOR ILLNESS

DIARE NON SPESIFIK DAN KONSTIPASI

Oleh:
1. Rindita Kristianingrum 12/333218/FA/09277
2. Yana Bintoro Priambodo 14/362825/FA/09982
3. Rifda Latifa 14/362908/FA/10062
4. Ni Putu Ayu Linda 14/368082/FA/10166

PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER


FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2018
I. PENDAHULUAN
Diare didefinisikan sebagai kondisi buang air besar berupa feses lunak atau cair
sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari dan biasanya ditimbulkan karena gejala dari
infeksi pada saluran pencernaan (WHO, 2017). Seseorang mengalami diare umumnya
diindikasi terjadinya ketidakseimbangan absorbsi dan sekresi air dan elektrolit.
Berdasarkan tipe klinis diare dapat dibagi menjadi tiga, yaitu diare akut berair (berlangsung
beberapa jam atau hari, dan termasuk kolera), diare akut berdarah (disentri), dan diare
kronik atau persisten (berlangsung selama 14 hari atau lebih) (Guandalini, 2017).
Berdasarkan penyebabnya diare dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1. Diare Spesifik, yaitu diare yang disebabkan adanya infeksi bakteri, parasit
maupun virus.
2. Diare Non Spesifik, yaitu diare yang terjadi dikarenakan akibat salah
mengkonsumsi makanan (makanan yang terlalu pedas sehingga mempercepat
peristaltik usus), ketidakmampuan lambung dan usus dalam memetabolisme
laktosa (lactose intolerance), dan ketidakmampuan memetabolisme sayuran
atau buah tertentu (kubis, kembang kol, sawi, nangka, durian).
Untuk tanda dan gejala diare non spesifik antara lain sebagai berikut :
1. Tidak adanya kenaikan suhu tubuh penderita.
2. Tidak ditemukan adanya lendir atau darah di dalam feses penderita.
Sedangkan konstipasi adalah suatu gejala bukan penyakit. Dalam masyarakat dikenal
dengan istilah sembelit, merupakan suatu keadaan sukar atau tidak dapat buang air besar,
feses (tinja) yang keras, rasa buang air besar tidak tuntas (ada rasa ingin buang air besar
tetapi tidak dapat mengeluarkannya), atau jarang buang air besar. Ada 2 jenis konstipasi
berdasarkan lamanya keluhan yaitu konstipasi akut dan konstipasi kronis. Disebut
konstipasi akut bila keluhan berlangsung kurang dari 4 minggu. Sedangkan bila konstipasi
telah berlangsung lebih dari 4 minggu disebut konstipasi kronik.
Konstipasi dapat disebabkan karena :
1. Kurangnya makanan berserat dan minum cairan
2. Kurang aktivitas gerak dan pekerjaan yang menuntut duduk terlalu lama
3. Kebiasan menunda buang air besar.
4. Adanya gangguan mekanis pada usus.
Menurut Akmal, dkk (2010), terdapat beberapa tanda dan gejala yang umum
ditemukan pada sebagian besar atau terkadang beberapa penderita konstipasi, yaitu sebagai
berikut:

2
1. Perut terasa begah, penuh dan kaku;
2. Tubuh tidak fit, terasa tidak nyaman, lesu, cepat lelah sehingga malas
mengerjakan sesuatu bahkan terkadang sering mengantuk;
3. Feses lebih keras, panas, berwarna lebih gelap, dan lebih sedikit daripada
biasanya;
4. Feses sulit dikeluarkan atau dibuang ketika air besar, pada saat bersamaan tubuh
berkeringat dingin, dan terkadang harus mengejan atupun menekan-nekan perut
terlebih dahulu supaya dapat mengeluarkan dan membuang feses (bahkan
sampai mengalami ambeien/wasir);
5. Lebih sering bung angin yang berbau lebih busuk daripada biasanya;

II. PATOFISIOLOGI
A. Diare Non Spesifik
Terdapat empat mekanisme patofisiologi yang mengganggu keseimbangan antara air
dan elektrolit sehingga berakibat pada terjadinya diare. Mekanisme patofisiologi tersebut
meliputi:
1. Perubahan transport ion aktif yang disebabkan oleh penurunan absorbsi natrium
atau peningkatan sekresi klorida
2. Perubahan motilitas usus
3. Peningkatan osmolaritas luminal
4. Peningkatan tekanan hidrostatik jaringan
Berbagai mekanisme di atas digunakan sebagai dasar pengelompokkan diare secara
klinik, yaitu secretory, osmotic, exudative, dan perubahan motilitas usus.
1. Secretory diarrhea
Terjadi ketika suatu senyawa pemicu menyebabkan terjadinya peningkatan sekresi
atau penurunan absorpsi air dan elektrolit dalam jumlah besar. Senyawa yang dapat
memicu sekresi berlebih diantaranya adalah vasoactive intestinal peptide (VIP) dari tumor
pankreatik, laksatif, hormon, racun bakteri, dan garam empedu berlebih. Banyak dari agen
tersebut bekerja dengan menstimulasi cyclic adenosine monophosphate intraseluler dan
menghambat Na+/K+-adenosine triphosphatase (ATPase), sehingga berakibat pada
peningkatan sekresi. Selain itu, mediator-mediator tersebut juga banyak yang menghambat
absorpsi ion secara simultan. Secara klinis, secretory diarrhea diketahui dari volume stool
yang besar (>1 L/hari) dengan kandungan ionik yang normal dan osmolaritas yang kurang
lebih sama dengan plasma. Puasa tidak akan mengubah volume stool dari pasien.

3
2. Osmotic diarrhea
Disebabkan oleh absorbsi zat-zat yang mempertahankan cairan intestinal. Proses
ini terjadi dengan adanya sindrom malabsorbsi, intoleransi laktosa, penggunaan ion
divalent (contohnya antasida yang mengandung magnesium) atau konsumsi karbohidrat
yang sangat sukar larut (contohnya laktulosa). Ketika solute yg sukar larut ditransport, usus
menyesuaikan osmolalitas plasma, sehingga air dan elektrolit akan berpindah ke dalam
lumen. Secara klinis, osmotic diarrhea dapat dibedakan dengan tipe diare yang lain karena
diare akan berhenti jika pasien kembali pada keadaan puasa.
3. Exudative diarrhea
Disebabkan oleh penyakit inflamasi saluran pencernaan yang menyebabkan
pelepasan mukus, protein atau darah ke dalam usus.
4. Perubahan motilitas usus
Hal ini menyebabkan diare melalui tiga mekanisme, yaitu pengurangan waktu
kontak dalam usus halus, pengosongan kolon yang terlalu dini, dan pertumbuhan bakteri
secara berlebihan. Chyme harus terpapar epitelium usus pada jangka waktu yang cukup
sehingga absorbsi berjalan normal dan proses sekresi dapat terjadi. Jika waktu kontak ini
berkurang, diare akan terjadi. Contoh penyebab diare ini adalah obat (contohnya
metoclopramide) dan operasi bypass. Sementara itu, peningkatan waktu kontak
menyebabkan pertumbahan bakteri secara berlebih (Dipiro dkk., 2008).

B. Konstipasi
Konstipasi tidak dikategorikan sebagai penyakit, melainkan gejala dari suatu
penyakit. Penanganan konstipasi dimulai dari mencari penyebabnya. Konstipasi mungkin
terjadi akibat gangguan saluran pencernaan (irritable bowel syndrome atau diverkulitis),
gangguan metabolik (diabetes), atau gangguan endokrin (hipotiroidisme). Konstipasi
umumnya disebabkan oleh makanan yang rendah serat atau penggunaan obat seperti opiate
(Dipiro dkk., 2005)
Konstipasi sering terjadi pada lansia. Beberapa penyebabnya adalah diet yang tidak
tepat (rendah serat dan kurangnya intake cairan), berkurangnya kekuatan otot dinding
abdomen, berkurangnya aktivitas fisik, dan adanya penyakit lain seperti kanker kolon dan
diverkulitis, meningkatnya frekuensi seiring dengan peningkatan umur. Namun pada
dasarnya frekuensi gerakan usus tidak menurun pada lansia. Konstipasi pada bayi dan anak-
anak perlu diperhatikan karena mungkin mengindikasikan adanya gangguan neurologi atau
saraf (Dipiro dkk., 2005).

4
Penggunaan obat yang menghambat fungsi muskular atau neurologis saluran
pencernaan, terutama kolon, dapat menyebabkan konstipasi. Mayoritas kasus konstipasi
terinduksi obat disebabkan oleh opiat, agen bersifat antikolinergik, dan antasida yang
mengandung aluminum atau kalsium. Kebanyakan obat dengan efek penghambatan pada
fungsi usus tergantung pada dosis. Semakin besar dosis maka resiko konstipasi semakin
sering terjadi.
Golongan opiat memiliki efek pada semua bagian usus, tetapi efek paling berat
yaitu pada kolon. Mekanisme utama golongan opiat dalam menyebabkan konstipasi adalah
perpanjangan waktu transit intestin sehingga menyebabkan spastik dan kontraksi
nonpropulsif. Mekanisme lain dapat berupa peningkatan absorpsi elektrolit. Semua turunan
opiat dapat menyebabkan konstipasi, tetapi tingkat efek penghambatan intestin berbeda-
beda satu sama lain. Opiat yang digunakan secara oral memiliki efek penghambatan yang
lebih besar daripada penggunaan secara parenteral. Enkefalin (polipeptida seperti opiat
endogen) yang digunakan secara oral diketahui memiliki sifat antimobilitas (Dipiro dkk.,
2005).
Obat dengan sifat antikolinergik menghambat fungsi usus dengan aksi
parasimpatolitik pada saluran cerna, terutama kolon dan rektum. Banyak tipe obat dengan
aksi antikolinergik digunakan secara umum pada pasien rawat inap dan rawat jalan. Sebuah
studi menunjukkan bahwa penggunaan amitriptilin, difenhidramin, dan thioridazin
dikaitkan dengan kebutuhan laksatif pada 800 pasien rawat inap. Pada pasien usia lebih
dari 65 tahun, obat-obat yang paling sering menyebabkan konstipasi adalah antikolinergik,
aspirin, furosemide, nitrogliserin, dan amitriptilin (Dipiro dkk., 2005).

III. SASARAN DAN STRATEGI TERAPI


A. Diare Non Spesifik
1. Sasaran Terapi dan Strategi
a. Mengurangi Penyebab diare  Menemukan penyebab diare dan menghilangkan
kuman penyebab diare
b. Gejala diare  Mengatasi gejala yang timbul
c. Resiko dehidrasi  Mencegah resik kematian akibat dehidrasi berat
2. Langkah konkret yang dapat dijalankan adalah sebagai berikut:
a. Minimalisir penyebab diare

5
Pengelolaan makanan yang menjadi prioritas pertama terapi diare. Sebagian besar
tenaga kesehatan, menyarankan untuk menghentikan makanan padat selama 24 jam
dan menghindari produk susu.
b. Peredaan gejala diare
Apabila terdapat gejala mual dan muntah ringan maka dilakukan diet rendah residu
yang mudah dicerna selama 2 jam. Jika muntah terjadi dan tidak dapat diatasi dengan
antiemetik maka jangan mengkonsumsi makanan lewat mulut terlebih dahulu. Akan
tetapi pada anak-anak dengan diare bakteri akut, asupan makanan tetap diberikan.
c. Pengelolaan risiko dehidrasi
Rehidrasi dan pemeliharaan air dan elektrolit merupakan tindakan pengobatan utama
sampai pada periode diare berakhir. Jika muntah dan dehidrasi tidak parah, pemberian
enteral menjadi metode yang dipilih dan lebih ekonomis.

B. Konstipasi
1. Sasaran Terapi
a. Mengidentifikasi penyebab konstipasi
b. Mencegah terjadinya konstipasi
c. Mengurangi gejala konstipasi
d. Memulihkan fungsi normal saluran pencernaan
2. Langkah konkret:
a. Aspek terpenting dalam terapi konstipasi adalah mengubah pola makan
dengan meningkatkan konsumsi makanan yang berserat. Disarankan
setidaknya 14 gram serat untuk mencukupi kebutuhan dalam sehari.
b. Buah-buahan, sayuran, dan sereal adalah makanan yang mengandung
tinggi serat.
c. Percobaan perubahan pola makan dengan tinggi serat ini setidaknya harus
dilakukan selama 1 bulan agar fungsi saluran cerna kembali normal.
d. Pasien harus diperingatkan adanya beberapa hal yang mungkin muncul
pada minggu-minggu pertama seperti gangguan perut dan banyak buang
gas, terutama dengan meningkatnya konsumsi sereal padi.

6
IV. PENATALAKSANAAN
A. Diare Non Spesifik
Obat yang biasa dipakai sebagai terapi farmakologis untuk diare non spesifik adalah
golongan antimotilitas, adsorben, antisecretory, antibiotik, enzim, dan mikroflora
usus(Dipiro dkk., 2008)..

7
B. Konstipasi
Dasar pengobatan dan pencegahan sembelit harus terdiri dari pembentuk bulk agent
selain modifikasi diet yang meningkatkan serat makanan. Untuk pasien dengan konstipasi
akut biasa menggunakan laksatif atau kartatika. Namun sebelum laksatif atau kartatika
yang ampuh digunakan, bisa diambil langkah yang lebih sederhana. Seperti pemberian
gliserin suppositoria atau tap water enema. Jika tidak berefek bisa menggunakan sorbitol
oral, bisakodil dosis rendah atau senna, atau saline laksatif. Jika pengobatan pencahar
diperlukan lebih dari 1 minggu, orang tersebut seharusnya disarankan untuk berkonsultasi
dengan dokter untuk mengetahui apakah penyebabnya sembelit yang membutuhkan
perawatan dengan agen selain obat pencahar.
Bagi beberapa pasien yang terbaring di tempat tidur atau geriatri, atau orang lain
yang mengalami konstipasi kronis, bulk agent tetap menjadi lini pengobatan pertama, tapi
penggunaan laksatif yang lebih manjur mungkin relatif lebih sering digunakan. Agen
contohnya susu dari magnesia dan laktulosa.
Pada pasien yang dirawat di rumah sakit tanpa penyakit GI, konstipasi mungkin
terkait pada penggunaan anestesi umum dan/atau zat opiat. Laksatif oral atau rektal dapat
digunakan . Untuk inisiasi buang air besar, bisa dengan tap water enema atau gliserin
supositoria dianjurkan, atau susu dari magnesia.

8
V. EVALUASI PRODUK
A. Diare Non Spesifik
1. Neo Entronstop
Produsen:
Kalbe (Isi 2 blister @ 12 tablet)
Deskripsi:
Rangkaian obat untuk mengatasi Diare non spesifik beserta gejalanya. Mengandung
Attapulgite 650 mg dan Pectin 50 mg yang berfungsi menyerap racun, toksin, bakteri
dan virus penyebab diare. Obat ini termasuk dalam golongan obat bebas.
Dosis:
Dws & anak > 12 tahun, 2 tablet tiap kali BAB (maks 12 tab/hari), 6-12 tahun 1
tablet tiap kali BAB (maks 6 tab/hari)
Kegunaan: Harga:
1. Mengatasi diare Rp 1.500,00 (Kalbe Store)
2. Mengeluarkan racun

2. Diapet

Produsen
SOHO (Sediaan kapsul terdiri dari 4 kapsul tiap kemasan,
dan sediaan sirup dengan kemasan botol 60 mL)

Deskripsi:
Bahan utama dari Diapet® adalah ekstrak daun jambu (psidii folium) and ekstrak kunyit
(curcumae domesticate rhizoma). Daun jambu dipercaya sebagai antidiare karena memiliki
kandungan tannin. Diapet termasuk obat herbal terstandar.
Dosis:
Dewasa dan Anak : 2-3 x sehari 2 kapsul, untuk menyembuhkan diare yang akut : 2 x sehari
2 kapsul
Harga:
Kapsul: Rp. 2.000,00/strip (K24)

3. New Diatabs
Produsen:
PT. Medifarma Lab
Deskripsi:
pengobatan simptomatik pada diare yang tidak
diketahui penyebabnya yang memiliki zat aktif berupa
Attalpulgit 600 mg. Termasuk golongan obat bebas
dengan kemasan 1 strip berisi 4 tablet.
Dosis:
12 th 2 tablet setiap setelah buang air besar. Maksimal
6 tablet sehari.
Harga:
Rp 2.900,00 /strip

9
4. Imodium
Produsen: Johnson & Johnson
Deskripsi: Antimotilitas usus untuk pengobatan diare akut dan
kronik. Mengandung Loperamide HCl 2 mg. Termasuk golongan
obat keras.
Dosis: Diawali 2 tablet, dilanjutkan dengan 1 tablet tiap diare (untuk
diare akut). Dosis diare kronis sama seperti diare akut, maksimal 8
tablet per hari

5. Oralit
Produsen: Indofarma
Deskripsi:
Elektrolit pengganti cairan tubuh untuk mengatasi dehidrasi pada
kondisi diare dan muntah. Mengandung Glucose anhydrous 4g, NaCl
0.7g, Na. bicarbonate 0.5g, CaCl2 0.3g.
Obat ini merupakan golongan obat bebas.
Dosis:
Sebanyak mungkin terutama pada 3 jam pertama
Peyajian: Larutkan 1 bungkus ke dalam 200 ml air matang.
Harga: 500/pcs

B. Konstipasi
1. Stimulan
Pencahar stimulan bekerja dengan cara meningkatkan motilitas usus dan sering kali
menyebabkan kram perut. Tidak boleh digunakan pada obstruksi usus. Penggunaan jangka
panjang dapat menyebabkan diare dan efek terkait seperti hipokalemia, namun
penggunaan jangka panjang dapat dipertimbangkan pada keadaan tertentu.

a. Microlax
Komposisi:
Na lauryl sulfoasetat 45 mg, Na sitrat 450 mg, asam sorbat 5 mg, PEG
400 625 mg, sorbitol 4,465 mg.
Indikasi:
Meredakan sembelit dan melancarkan pencernaan melalui saluran dari
rektal. Mekanisme kerja dengan cara melunakkan gerakan usus
sehingga membantu pengosongan usus tanpa mengganggu lapisan
usus.
Dosis:
Dewasa dan anak usia > 3 tahun : 1 tube dengan memasukkan pipa
aplikator seluruhnya pada anus. Anak usia 1-3 tahun : ½ tube.
Kontraindikasi:
Pasien alergi / hipersensitivitas terhadap zat aktif Microlax, penderita wasir akut,
penderita radang usus besar
Efek samping:
Sensasi perih pada rektal (dubur), kemerahan pada kulit, diare, dehidrasi
Peringatan:

10
Hanya untuk jangka pendek, tidak digunakan untuk pasien wasir akut atau
mengalami peradangan pada usus besar, pastikan produk tidak pada tanggal
kadaluarsa dan terbungkus dengan baik, aman untuk anak kecil, ibu hamil dan
menyusui, serta orang dengan usia lanjut.

b. Dulcolax

Komposisi:
Bisakodil merangsang pleksus saraf mukosa
kolon
Indikasi:
Konstipasi, tablet bekerja dalam 10-12 jam,
suppositoria bekerja dalam 20-60 menit
Dosis:
Oral 5-10 mg malam hari, kadang-kadang perlu
ditingkatkan menjadi 15-20 mg. Anak-anak 6-12
tahun 5 mg. Untuk memperoleh efek obat yang cepat, berikan saat perut kosong,
jangan diberikan dalam waktu 1 jam sesudah pemberian antasida, susu atau
produknya
Kontraindikasi:
Obstruksi usus, bedah perut akut, IBD akut, dehidrasi berat
Efek samping:
Kram & nyeri abdomen, iritasi lokal, reaksi alergi termasuk angioedema &
reaksi anafilaktoid.
Interaksi:
Pada dosis tinggi, resiko gangguan keseimbangan elektrolit akan meningkat jika
diberikan bersama diuretik dan kortikosteroid
Peringatan:
Penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan gangguan keseimbangan
cairan dan elektrolit, serta hilangnya tonus otot polos kolon. Hal ini dapat
menyebabkan meningkatnya dosis laksatif yang dibutuhkan untuk evakuasi, dan
lama kelamaan dapat menyebabkan konstipasi menjadi permanen

2. Laktulosa
Laktulosa merupakan suatu katartika osmotik. Laktulosa adalah disakarida
sintetis analog dengan laktosa, mengandung galaktosa dan fruktosa. Dimetabolisme
oleh bakteri kolon menjadi asam laktat dan sejumlah kecil asam asetat & asam
format. Produk-produk ini menghasilkan peningkatan tekanan osmotik dan
mengasamkan isi kolon, menghasilkan peningkatan kandungan air dalam tinja dan
melunakkan tinja.

Lactulax ® (Ikapharmindo)
Komposisi: Laktulosa
Indikasi: Konstipasi kronik, ensefalopati portal-sistemik, termasuk keadaan pre
koma hepatic dan koma hepatic
Dosis:
Konstipasi kronis dibagi dalam dosis awal (3 hari) dan dosis penunjang. Dewasa,
berat: 30-45 mL, kemudian 15-25 mL. Sedang: awal 15-30 mL, kemudian 10-15 mL.
Ringan: awal 15 mL, kemudian 10 mL. Anak-anak 6-14 tahun, awal: 15 mL,

11
kemudian 10 mL. 1-6 tahun: 5-10 mL (awal dan penunjang). Bayi:
5 mL (awal dan penunjang). Pre-koma hepatik dan koma hepatik,
awal: 30-50 mL 3x/hari. Penunjang disesuaikan dengan kebutuhan
penderita dan harus dicegah terjadinya diare (MIMS, Edisi 12)
Kontraindikasi: Galaktosemia (pasien diet rendah galaktosa)
Perhatian: Diabetes
Efek samping: Dehidrasi, ketidaknyamanan pada perut, kram
perut, mual, muntah
Kemasan: Sirup 3,335 g/5 mL x 120 mL

VI. SIMULASI KASUS KONSTIPASI


Seorang Bapak bernama Budi (50 tahun) datang ke apotek ingin membeli obat
sembelit (kesulitan buang air besar) yang sudah ia rasakan sejak dua hari yang lalu.
Sebelumnya beliau sudah pernah mengalami hal yang sama dan bercerita menggunakan
obat yang dimasukkan ke dubur. Sehingga, ia meminta obat tersebut pada Apoteker.

a. Terapi non farmakologi:


Sarankan kepada Bapak Budi untuk melakukan modifikasi diet yang melibatkan
komponen berserat tinggi, seperti kacang-kacangan, sayuran hijau, buah-buahan segar,
dan sereal atau snack berbahan gandum, oat, atau bekatul. Selain itu, Bapak Budi perlu
memperbanyak minum air putih setiap harinya. Kontrol pola makan terhadap makanan
cepat saji yang mengandung banyak lemak, serta jangan suka menahan BAB.

b. Terapi farmakologi:
Diberikan Dulcolax (Bisakodil) Suppositoria 10 mg sebanyak 3 obat. Diberikan
informasi bahwa obat digunakan1x sehari saat sebelum tidur dan agar siaga untuk buang
air besar esok pada pagi harinya. Apabila dalam 3 hari gejala tidak membaik atau
disertai keluhan lain seperti demam, mual, muntah, maka dianjurkan untuk segera
menghubungi dokter.
Bapak Budi sudah pernah menggunakan suppositoria sebelumnya, sehingga
Apoteker hanya perlu mengkonfirmasi cara penggunaannya kepada Bapak Budi. Leaflet
cara penggunaan suppositoria diberikan kepada Bapak Budi, seperti di bawah ini.

12
13
VII. SIMULASI KASUS DIARE
Seorang ibu datang ke apotek mengeluh merasakan sakit perut dan telah
mengalami Buang Air Besar (BAB) 4-5 kali dalam sehari dengan konsistensi encer tetapi
tidak berlendir dan tidak berdarah. Setelah ditanya kembali, ia mengatakan sebelumnya
makan makanan pedas di rumah makan Padang. Selain itu bibir pasien juga terlihat kering
dan mengeluh merasa kehausan.

a. Terapi non Farmakologi


Menyarankan kepada sang ibu untuk menjaga asupan air dan mengurangi
makanan pedas selama gejala diare masih belum berkurang.
b. Terapi Farmakologi
 Diberikan oralit untuk rehidrasi dan pemeliharaan air dan elektrolit. Diberikan
infromasi cara pakai: 1 bungkus oralit dilarutkan dalam 200 mL air matang. Pada
3 jam pertama minum 12 gelas, selanjutnya minum 2 gelas setiap setelah BAB.
Jangan diminum jika oralit sudah dilarutkan lebih dari 24 jam.
 Diberikan Neo Entrostop (Attapulgite 650 mg dan Pectin 30 mg). Diberikan
infromasi aturan pakai: diminum 2 tablet setiap setelah BAB dengan maksimal 12
tablet dalam sehari.
 Jika dalam 2-3 hari gejala tidak berkurang atau disertai keluhan lain seperti demam,
mual, muntah, perubahan bau atau warna feses, dianjurkan untuk segera
menghubungi dokter.

14
VIII. PENUTUP
1. Diare Non Spesifik
a. Tujuan utama terapi untuk diare adalah mencegah kehilangan cairan dan elektrolit
berlebih.
b. Terapi swamedikasi diare dibatasi hanya untuk pasien dengan diare akut yang
mengalami dehidrasi ringan sampai sedang, sementara pasien dengan dehidrasi
berat harus dirujuk.
c. Larutan rehidrasi oral adalah terapi andalan. Pasien atau keluarga pasien perlu
diberitahukan cara menyiapkan dan menggunakan larutan rehidrasi oral
d. Meskipun kebanyakan diare akut adalah penyakit self limiting, tetapi penggunaan
obat – obat tanpa resep juga dapat digunakan untuk membantu mengurangi gejala
dan cukup aman digunakan selama pemakaiannya sesuai dengan petunjuk
pemakain.
e. Obat non resep yang tersedia di Indonesia untuk terapi farmakologi diare
diantaranya bismuth subsalisilat, adsorbent (kaolin, attapulgite, pectin), zinc dan
probiotik. Apabila diare tidak membaik dalam 3 hari, sebaiknya sarankan pasien
untuk ke dokter atau pusat pelayanan kesehatan primer.

2. Konstipasi
a. Konstipasi merupakan penurunan frekuensi buang air besar dengan feses yang
kering, keras dan sulit dikeluarkan.
b. Terapi Farmakologi diantaranya dapat dengan menggunakan pencahar
pembentuk massa (psyllium), lubrikan (paraffin), emolien (docusate), laktulosa,
sorbitol, turunan difenilmetan (bisakodil), antrakuinon (senna), maupun katartika
salin (garam magnesium, natrium)
c. Terapi Non-Farmakologi berupa modifikasi diet, olahraga, peningkatan asupan
cairan dan membiasakan diri buang air besar secara rutin; umumnya cukup
membantu pada kasus konstipasi sederhana
d. Pasien diingatkan untuk menggunakan obat sesuai dengan petunjuk penggunaan
dan aturan yang tertera pada kemasan
e. Apoteker berperan membantu pasien memilih terapi yang efektif dan tepat sesuai
dengan kondisi pasien

15
DAFTAR PUSTAKA
Akmal, M., 2010, Ensiklopedi Kesehatan untuk Umum, Ar-ruzz Media, Yogyakarta.

American Pharmacists Association, 2007, Drug Infomation Handbook, 17th Ed, Lexi-Comp
Inc., Ohio.

Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., dan Posey, L.M., 2005,
Pharmacotherapy: A Pathophysiology Approach, 6th Ed, 684-685, McGraw Hill,
New York.

Dipiro, J.T., Talbert, R.L., Yee, G.C., Matzke, G.R., Wells, B.G., dan Posey, L.M., 2008,
Pharmacotherapy: A Pathophysiologic Approach, 7th Ed, McGraw Hill, New York.

Guandalini, Stefano, 2017, Diarrhea, Medscape, [online] tersedia di


https://emedicine.medscape.com/article/928598-overview#a1 , diakses pada 28
Februari 2018

Kasdu, D., 2005, Solusi Problem Kehamilan, Puspa Swara, Jakarta.

Mansjoer, A., 2000, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3 Jilid 2, Media Aesculapius
Fakultas Kedokteran UI, Jakarta.

MIMS, 2012, MIMS Indonesia Petunjuk Konsultasi, Edisi 12, PT Bhuana Ilmu Populer
(Kelompok Gramedia), Jakarta.
Uliyah, M dan Hidayat, A., 2008, Keterampilan Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan,
Salemba Medika, Jakarta.

WHO, 2017, Diarrhoeal disease, Media Centre, [online] tersedia di :


http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs330/en/ , diakses pada 28 Februari
2018

16