Anda di halaman 1dari 172

MATERI DIODA

Silahkan pilih menu berikut untuk memudahkan pencarian


materi :
1. Pengenalan Dioda
2. Dioda Penyearah
3. Penyearah Setengah Gelombang
4. Dioda Penyearah Gelombang Penuh (Full Wave Rectifier)
5. Penyearah Gelombang Penuh dengan Trafo Center-Tap
(CT)
6. Penyearah Gelombang Penuh Dua Kutub (Bipolar)
7. Rangkaian Dioda Clipping
8. Dioda Zener
9. Photodioda
10. Dioda LED (Light Emitting Diode)
11. Dasar 7 Segment Display menggunakan Dioda LED

Dioda Khusus : Thyristor


12. Dioda SCR (Silicon Control Rectifier)
13. TRIAC (Triode for Alternating Current)
14. DIAC (Diode Alternating Current)
1. Pengenalan Dioda

Dioda adalah salah satu jenis komponen elektonika


yang sifatnya terbuat dari material semikonduktor, yang
terdiri dari dua terminal atau elektroda (diode / dua
terminal) yang bertindak atau dapat juga berfungsi seperti
sakelar on-off.

Ketika Dioda dalam keadaan "On" dioda berlaku


sebagai short circuit (rangkaian tertutup) dan dioda
melewati arus listrik. Ketika dioda dalam keadaan "Off",
maka dioda berlaku sebagai open circuit (rangkaian
terbuka) dan dioda tidak melewati arus listrik. Pada dioda
ini terdapat dua terminal yang berbeda dan ditandai
dengan sebuah tanda untuk masing-masing terminal
positif (+) dan terminal negatif (-).

Sebuah dioda sederhana terdiri dari PN-Junction


(sambungan antara kutub positif dan negatif dai bahan
semikonduktor tersebut. Adapun karakteristiknya adalah
sebagai berikut :

a. Saat dalam keadaan arus maju / forward bias (kutub


positif dioda terhubung dengan sumber tegangan dan
kutub negatif dioda terhubung dengan negatif /
ground), memerlukan tegangan yang rendah untuk
terjadi hubungan (konduktansi). Tegangan jatuh
(voltage drop) digaga selama terjadi terhubung.
b. Batas maksimal arus maju / forward bias dibatasi oleh
kemampuan disipasi penahan panas dari dioda
tersebut. Biasanya sekitar 1000 mA
c. Terdapat arus balik yang lemah (small reverse current)
d. Tiap dioda memiliki tegangan balik maksimum
(breakdown voltage) yang tidak dapat dilampaui tanpa
kerusakan pada dioda tersebut.

Secara singkat kita dapat membedakan menurut tipe-


tipe dari dioda, yaitu :

a. Dioda Penyearah (Rectifier Diode), pada jenis dioda ini


bisaanya digunakan untuk aplikasi power supply atau
catudaya. Dioda jenis ini dapat dikatakan elemen yang
dapat mengkonversi / merubah arus AC ke arus DC.

b. Dioda Switching (Switching Diode), Jenis dioda ini


memiliki rating daya yang lebih rendah dibandingkan
dioda penyearah, tetapi dapat berfungsi lebih baik
pada aplikasi perangkat elektronik dengan
berfrekuensi tinggi.
c. Dioda Zener, yaitu dioda jenis khusus yang dapat
merecover atau menahan tegangan breakdown
dikarenakan ketika tegangan reverse-bias (terbalik).
Jenis dioda ini biasanya digunakan sebagai tegangan
regulator pada tiap levelnya dan melindungi dari
hentakan sumber tegangan yang tinggi.

d. Dioda Optic (Optical Diode), dioda khusus ini


biasanya peka terhadap suatu rangsangan lingkungan,
misalnya cahaya, jarak, dll. Jenis dioda ini biasanya
digunakan untuk sensor-sensor

e. Dioda Khusus (Spesial), yaitu seperti varactor (dioda


dengan nilai kapasitansi), tunnel dioda atau dioda
schottky.
Gambar Macam-macam Bentuk Dioda dan Simbolnya
2. Dioda Penyearah

a. Prinsip Kerja Dioda


Dioda penyearah merupakan salah satu
komponen semikonduktor yang terdiri dari dua
hubungan atau persimpangan antara P (Anoda) dan N
(Katoda) adalah salah satu perangkat semikonduktor
yang paling sederhana dan memiliki karakteristik
melewati arus listrik hanya satu arah. Namun tidak
seperti resistor, dioda tidak berprilaku linear
sebuhungan dengan tegangan yang diberikan sebagai
dioda yang memiliki hubungan tegangan dan arus
yang eksponensial (V-I) dan oleh karena itu kita tidak
dapat menyamakannya dengan menggunakan
persamaan rumus Hukum Ohm.
Sebuah dioda adalah komponen listrik yang dapat
mengalirkan arus dalam satu arah dan menahan arus
litrik dalam arah yang sebaliknya. Jenis dioda modern
yang banyak digunakan dalam mendisain rangkaian
adalah dioda semikonduktor, walaupun dioda dengan
teknologi lainnya juga ada. Dioda semikonduktor
memiliki simbol rangkaian seperti ditunjukkan pada
gambar dibawah. Biasanya, istilah dioda menunjuk
pada komponen yang digunakan untuk sinyal-sinyal
kecil , yaitu untuk arus yang kurang dari 1 A (I < 1 A).
Sedangkan dioda untuk keperluan daya besar (I > 1 A)
biasanya lebih dikenal dengan nama penyearah
(rectifier).

Gambar Simbol rangkaian dioda semikonduktor. Arah panah


menunjukkan arah arus listrik yang dapat dilewati oleh
elektron.
Ketika dioda digunakan pada rangkaian lampu
sederhana, dioda dapat mengalirkan atau menahan
arus listrik yang menuju ke lampu, tergantung dari
polaritas dari sumber tegangan yang dihubungkan
pada terminal dioda.

Gambar Operasional dioda : (a) Arus bisa lewat menuju


lampu; pada kondisi ini dioda mengalami bias maju (forward
bias). (b) Arus tidak bisa lewat ke lampu; dioda mengalami
bias terbalik (reverse bias)
Ketika polaritas baterai yang terhubung pada
dioda memungkinkan arus dapat mengalir ke lampu,
dioda dikatakan mengalami bias maju (forward bias).
Sebaliknya, ketika polaritas baterai dibalik sehingga
dioda menahan arus dalam rangkaian, dioda dikatakan
mengalami bias terbalik (reverse bias).
Cukup jelas, arah anak panah dari simbol dioda
menunjukkan kemana arah arus listrik dapat mengalir.
Sebelum membahas arah arus pada dioda. Pertama kita
perlu mengetahui, dalam analisa rangkaian listrik ada
dua aturan arah arus listrik. Pada jaman awal-awal
penemuan listrik, orang-orang menganggap listrik
adalah gerakan muatan listrik positif yang mengalir
dari kutub positif menuju kutub negatif
baterai/sumber tegangan. Namun seiring kemajuan
ilmu pengetahuan, diketahui bahwa yang sebenarnya
bergerak adalah muatan listrik negatif atau disebut
elektron.
Dioda dapat mengalirkan arus listrik apabila
terminal anoda dari dioda (simbol anak panah > ),
dihubungkan ke terminal yang tegangannya lebih
positif daripada terminal katodanya (simbol garis lurus
tegak, |) sehingga arus listrik konvensional dapat
mengalir sesuai dengan arah panah simbol dioda.
Sebaliknya, apabila katoda diberi tegangan yang lebih
positif daripada anoda, arus tidak dapat mengalir.
b. Rangkaian Forward Bias

Perhatikan gambar dibawah, apabila arah arus listrik


yang keluar dari sumber tegangan memiliki arah yang
sesuai dengan arah anak panah dari dioda, maka dioda
mengalami bias maju (forward bias) dan arus dapat
mengalir dalam rangkaian. Sebaliknya, apabila arah arus
listrik yang keluar dari baterai memiliki arah yang
berlawanan dengan arah panah dari dioda, maka dioda
mengalami bias terbalik (reverse bias) dan arus listrik
tidak dapat mengalir dalam rangkaian.

Gambar Agar arus dapat mengalir dalam rangkaian, maka


arah arusnya harus sesuai dengan arah panah dari dioda

Lihat rangkaian sederhana yang terdiri dari sumber


tegangan, dioda, dan lampu pada gambar dibawah
adalah cara pengukuran tegangan pada masing-masing
komponen pada saat dioda mengalami bias maju dan bias
terbalik.

Gambar Mengukur tegangan pada rangkaian dioda : a) Bias


maju (forward). b) Bias terbalik (reverse)

Pada saat dioda mengalami bias maju (forward bias),


dioda dapat mengalirkan listrik. Pada kondisi ini, dioda
seakan-akan menjadi short circuit. Tetapi walaupun
dioda mengalami short circuit, tetapi hasil pengukuran
tegangan pada dioda tidak menunjukkan angka nol volt.
Ada sedikit tegangan yang terukur pada dioda saat
mengalami bias maju, pada voltmeter nilai tegangan yang
terukur sekitar 0.7 V. Pada saat yang bersamaan tegangan
pada lampu hampir sama dengan tegangan sumber, yaitu
5.3 V. Sebaliknya, pada gambar b, dioda mengalami bias
terbalik (reverse bias). Pada kondisi ini, arus listrik tidak
dapat mengalir menuju lampu sehingga lampu tidak
menyala.
Tegangan dioda sama dengan tegangan sumbernya,
sedangkan tegangan lampu menunjukkan angka nol volt.
Dari percobaan sederhana ini, bisa dikatakan bahwa
dioda hampir mirip dengan saklar. Pada saat bias maju,
dioda seperti saklar yang tertutup, sedangkan pada saat
bias terbalik, dioda seperti saklar yang terbuka.
Perbedaan utama dengan saklar adalah, pada saat bias
maju (saklar menutup) dan arus dapat mengaliri dioda,
tegangan dioda tidak sama dengan nol volt, tetapi ada
nilai drop tegangan pada dioda yaitu sebesar 0.7 V.

Drop tegangan sebesar 0.7 V saat kondisi bias maju


ini disebabkan ada sesuatu yang terjadi pada daerah
pemisah (depletion region) . Daerah pemisah (depletion
region) adalah suatu titik/daerah sambungan yang
memisahkan antara dua jenis bahan semikonduktor yang
menyusun dioda, yaitu bahan semikonduktor jenis P dan
jenis N. Materaial tipe P adalah penyusun utama dari
anoda, sedangkan material tipe N adalah penyusun
utama katoda. Apabila tidak ada tegangan pada katoda
dan anodanya, daerah pemisah ini hadir diantara dua
jenis material semikonduktor tersebut dan mencegah
terjadinya aliran listrik.
Apabila sumber tegangan cukup kuat untuk
mendesak terus (sumber tegangan > 0.7 V), maka daerah
pemisah ini akan jebol dan arus dapat mengalir melewati
dioda. Penjelasan ini diilutrasikan pada gambar dibawah.

Gambar Dioda yang dirangkai Forward Bias

Jadi dapat dikatakan bagian depletion layer itu


sebagai pemisah antara P dan N, jika semakin besar
depletion layer, maka arus listrik akan sulit melewati
(Reverse Bias). Namun jika depletion layer semakin tipis
atau menurun maka arus listrik akan mudah untuk
melewati dioda (Forward Bias).

Sebaliknya, pada saat dioda mengalami bias maju


(forward bias), daerah pemisah ini semakin sempit dan
akhirnya “jebol” sehingga arus dapat mengalir melewati
dioda. Pada saat bias maju, kutub positif sumber
tegangan dihubungkan pada anoda (bahan tipe-P) dan
kutub negatif dihubungkan pada katoda (bahan tipe-N).
Sebagaimana kita ketahui, muatan listrik sejenis akan
saling tolak menolak. Bahan tipe-P akan ditolak oleh
kutub positif sumber tegangan dan bahan tipe-N ditolak
oleh kutub negatif sumber tegangan, akibatnya material
tipe P dan N ini sama-sama didesak ke arah tengah dan
daerah pemisahnya menjadi semakin sempit.

Apabila sumber tegangan cukup kuat untuk


mendesak terus (sumber tegangan > 0.7 V), maka daerah
pemisah ini akan jebol dan arus dapat mengalir melewati
dioda. Penjelasan ini diilutrasikan pada gambar dibawah.
Untuk dioda yang dibuat dari bahan silikon,
tegangan maju (forward voltage) adalah 0.7 V.
Sedangkan untuk dioda berbahan germanium memiliki
tegangan maju sebesar 0.3 V. Perbedaan bahan kimia
antara silikon dan germanium yang membuat tegangan
maju kedua jenis dioda ini memiliki perbedaan. Tegangan
maju ini akan relatif bernilai konstan berapapun besarnya
arus yang mengaliri dioda, ini berarti dioda memiliki sifat
yang berbeda dengan resistor dimana tegangan resistor
linier dengan arus yang mengaliri resistor.

Gambar Dioda mengalami bias maju. (a) Tegangan maju tapi


masih belum terlalu kuat untuk menjebol daerah pemisah. (b)
Tegangan sudah cukup besar untuk dapat menjebol daerah
pemisah dan masuk kedalam kategori tegangan kerja dioda .
Untuk membedakan anoda dan katoda, pada badan
dioda diberi suatu strip berwarna putih untuk
menandakan bahwa kaki tersebut adalah katodanya.

c. Rangkaian Reverse Bias

Sekarang, apabila dioda mengalami bias terbalik


yaitu saat kutub positif sumber tegangan dihubungkan ke
katoda, dan kutub negatif ke anoda, daerah pemisah
(depletion region) akan semakin lebar. Hal ini
disebabkan, material tipe N pada katoda tertarik menuju
kutub positif sumber tegangan, dan material tipe P pada
anoda tertarik menuju kutub negatif sumber tegangan.
Akibatnya kedua jenis material ini sama-sama tertarik ke
arah “luar” dan daerah pemisahnya semakin lebar dan
arus semakin sulit untuk bisa lewat. Penjelasan ini
diilutrasikan pada gambar dibawah.
Gambar Daerah pemisah (depletion region) semakin lebar
saat bias terbalik (reverse bias)

Gambar Grafik Reverse Bias

Jika kita memberikan tegangan yang terbalik


(Reverse Bias) dimana kutub tegangan (+) sumber
tegangan dihubungkan dengan Anoda (N) dan kutub
negatif (-) dihubungkan dengan Katoda (P), maka akan
menghasilkan depletion layer yang semakin meningkat
(besar) maka arus akan sulit melewati dioda akan diblok
oleh pembesaran pada depletion layer.

Untuk mempermudah analisa rangkaian, biasanya


dioda diganti dengan sumber tegangan sebesar 0.7 V
(untuk dioda silikon) saat dioda mengalami bias maju,
berapapun itu nilai arus yang mengaliri diioda. Yang
perlu dimengerti adalah tegangan dioda tidak akan
berubah saat dilalui arus, berapapun itu besar arusnya.
Inilah mengapa dalam banyak referensi dikatakan bahwa
tegangan dari dioda semikonduktor akan bernilai
konstan 0.7 V untuk silikon dan 0.3 V untuk
germanium.

Selain itu ada hal lain yang harus diperhatikan, pada


saat dioda mengalami bias terbalik (reverse bias), arus
memang tidak bisa melewati dioda. Tapi pada
kenyataannya terdapat arus dalam jumlah yang sangat
kecil (nano hingga mikro ampere) yang mengaliri dioda.

Arus ini disebut dengan arus bocor (leakage current).


Karena nilainya yang sangat kecil, biasanya arus ini
diabaikan. Arus bocor ini disebabkan adanya aliran dari
pembawa minoritas (minority carriers) yang mengalami
bias maju saat dioda mengalami bias terbalik. Penjelasan
lebih lengkap mengenai arus dari pembawa minoritas ini
akan dibahas pada bagian dioda zener.

Dioda memang bisa menahan arus apabila tegangan


dari sumber terbalik terhadap arah dioda. Tetapi sama
seperti kebanyakan insulator, dioda memiliki
keterbatasan terhadap tegangan reverse ini. Mungkin
tegangan reverse 10 hingga 30 V dapat ditahan oleh dioda
yang mengalami bias terbalik. Tetapi apabila tegangan
baliknya sudah sekitar ratusan volt bisa saja dioda yang
seharusnya bisa menahan arus, tiba-tiba jebol (break
down) sehingga arus bisa mengalir saat dioda mengalami
bias terbalik. Tegangan bias terbalik maksimum yang bisa
ditahan oleh dioda disebut dengan tegangan balik puncak
(Peak Inverse Voltage atau disingkat PIV).

Berapa besar dari PIV ini dapat anda lihat pada


datasheet yang dikeluarkan oleh pabrikan dioda tersebut.
Sama seperti tegangan bias maju, rating dari PIV juga
dipengaruhi oleh suhu. Biasanya rating PIV untuk dioda
yang umum berkisar 50 V pada suhu ruangan. Tetapi ada
juga dioda dengan PIV ratusan bahkan hingga ribuan volt
namun tentunya dengan harga yang lebih mahal.
d. Karakteristin PN Dioda

Gambar Kurva dioda yang menunjukkan hubungan


antara arus dengan tegangan dioda.

Perhatikan tegangan bias maju untuk dioda silikon


sebesar 0.7 V. Selain itu dioda juga memiliki batas
maksimum tegangan balik (tegangan break down).
Istilah pada gambar diatas dapat kita ketahui yaitu :

1. "Knee" (Voltage-Knee) atau Tegangan Kaki adalah


Tegangan pada saat arus mulai naik secara cepat
pada saat dioda berada pada daerah maju (Forward
Bias), tegangan ini sama dengan tegangan
penghalang. Apabila tegangan dioda lebih besar dari
tegangan kaki (V-Knee) maka dioda akan
menghantar dengan mudah dan sebaliknya bila
tegangan dioda (V-Knee) lebih kecil maka dioda tidak
menghantar dengan baik.
2. Barrier Voltage (V-Barrier) atau Tegangan Barrier
yaitu Tegangan penghalang yang dapat menghalangi
arus listrik yang mengalir. Perlu tegangan lebih
besar dari 0,7V (untuk diode yang terbuat dari bahan
silikon) pada Anode terhadap Katode agar diode
dapat menghantarkan arus listrik. Untuk diode yang
terbuat dari bahan Germanium memiliki tegangan
halang (V-Barrier) kira-kira 0,3V.
3. Breakdown Voltage atau Tegangan Breakdown
yaitu tegangan yang diberikan melampaui batas
“tegangan rusak” sehingga arus dapat mengalir ke
arah yang berlawanan.
4. Forward Current yaitu arus yang mengalir dari
Anoda ke Katoda atau dapat dikatakan juga dengan
seperti rangkaian Forward Bias.
5. Reverse Current yaitu arus yang mengalir dari
Katoda ke Anoda atau dapat dikatakan juga dengan
seperti rangkaian Reverse Bias.
e. Konsep Dioda Penyearah pada Penggunaan Sebagai
Catu Daya (Power Supply)

Konsep dasar penyearah gelombang yang dimaksud


adalah konsep penyearah gelombang dalam suatu power
supply atau catu daya. Penyearah gelombang (rectifier)
adalah bagian dari power supply / catu daya yang
berfungsi untuk mengubah sinyal tegangan AC
(Alternating Current) menjadi tegangan DC (Direct
Current). Komponen utama dalam penyearah gelombang
adalah diode yang dikonfiguarsikan secara forward bias.
Dalam sebuah power supply tegangan rendah, sebelum
tegangan AC tersebut di ubah menjadi tegangan DC
maka tegangan AC tersebut perlu di turunkan
menggunakan transformator stepdown. Ada 3 bagian
utama dalam penyearah gelombang pada suatu power
supply yaitu, penurun tegangan (transformer),
penyearah gelombang / rectifier (diode) dan filter
(kapasitor) yang digambarkan dalam blok diagram
berikut.
3. Dioda Penyearah Setengah Gelombang

Sekarang analisa rangkaian dioda dikembangkan


dengan memasukkan fungsi waktu seperti gelombang
sinus dan gelombang kotak. Rangkaian dioda paling
sederhana dengan input berupa sinyal sinus ditunjukkan
pada gambar 1. Untuk pembahasa awal ini, kita akan
menggunakan model dioda ideal (tidak ada drop
tegangan 0.7 V saat bias maju) agar analisa rangkaiannya
menjadi lebih sederhana.

Gambar 1 Rangkaian Penyerah Setengah Gelombang dan


Output Gelombangnya

Satu siklus gelombang penuh disebut dengan periode


(T) seperti ditunjukkan pada gambar 1. Sinyal sinus pada
gambar tersebut memiliki nilai rata-rata sama dengan nol.
Rangkaian pada gambar 1 ini disebut dengan penyearah
setengah gelombang (half-wafe rectifier) yang berfungsi
untuk membuat sinyal tersebut memiliki nilai rata-rata
yang tidak sama dengan nol. Rangkaian seperti ini
banyak digunakan pada proses konversi AC ke DC atau
lebih dikenal dengan sebutan adaptor. Ketika digunakan
pada proses menyearahkan sinyal, sebuah dioda
berfungsi sebagai penyearah (rectifier).
Rating daya dan arus dari dioda yang digunakan
sebagai penyearah biasanya memiliki nilai yang lebih
tinggi daripada dioda yang digunakan untuk memproses
sinyal-sinyal kecil.

Dalam interval t = 0 hingga t = T/2 pada gambar 1,


tegangan input, vi, bernilai positif sehingga arah arus dari
vi searah dengan arah panah dioda dan membuat dioda
mengalami bias maju (forward bias).

Penyearah setengah gelombang (half wave rectifer)


hanya menggunakan 1 buah diode sebagai komponen
utama dalam menyearahkan gelombang AC. Prinsip kerja
dari penyearah setengah gelombang ini adalah
mengambil sisi sinyal positif dari gelombang AC dari
transformator. Pada saat transformator memberikan
output sisi positif dari gelombang AC maka diode dalam
keadaan forward bias sehingga sisi positif dari
gelombang AC tersebut dilewatkan dan pada saat
transformator memberikan sinyal sisi negatif gelombang
AC maka dioda dalam posisi reverse bias, sehingga sinyal
sisi negatif tegangan AC tersebut ditahan atau tidak
dilewatkan seperti terlihat pada gambar sinyal output
penyearah setengah gelombang berikut.

Nilai tegangan puncak


input transformator :

Tegangan rata-rata DC
Frekuensi output = Frekuensi
Frekuensi Output
input

Output Puncak Vmax

Output DC (tanpa filter)

Ripple

Tegangan Inverse
Vmax*
Puncak

Keterangan : *dengan filter input kapasitor


Contoh Soal

Hasil Output Bentuk Gelombang Yang Telah Disearahkan

Hitung tegangan yang VDC dan arus IDC, yang melewati


sebuah resistor 100 Ohm dan dihubungkan dengan 240V RMS
Single-Phase, Setengah Gelombang Penyearah seperti terlihat
pada gambar diatas. Juga hitung Daya DC (Watt) yang di
butuhkan oleh beban.

Jawab :

a. Penyearah Setengah Gelombang dengan Smooting-


Capacitor
Pada gambar diatas merupakan contoh dioda
penyearah yang dikombinasikan dengan sebuah
komponen kapasitor. Jika dihubungkan dengan nilai
kapasitor besar yang melewati terminal tegangan
output yang diparalel dengan beban seperti gambar
diatas, maka tipe kapasitor diatas biasanya dikenal
dengan sebagai "Reservoir" atau Smoothing Capacitor.
Output gelombang terjadi pengisian dan
pengosongan muatan listrik pada Kapasitor.

Untuk mendapatkan nilai pada kapasitor diatas,


arus beban yang besar (lebih besar daripada beban
resistansi) maka pengosongan muatan kapasitor lebih
cepat (Konstanta Waktu RC) dan menaikan ripple.
Jika kita ingin mengetahui konstanta waktu RC yang
dibutuhkan untuk pengisian dan pengosongan
kapasitor, materi ini dibahas pada pengenalan
komponen dasar Kapasitor.

b. Parameter PIV Pada Dioda Penyearah Setengah


Gelombang

Peak Inverse Voltage (PIV) atau tegangan balik


puncak adalah rating dioda yang penting untuk
diketahui dalam mendesain suatu rangkaian
penyearah. Tegangan yang diberikan pada dioda
tidak boleh melebihi tegangan PIV saat mode bias
terbalik, apabila tegangan melebihi rating PIV, dioda
tersebut mengalami breakdown bahkan bisa merusak
dioda. Dioda yang mengalami break down dapat
mengalirkan arus saat bias terbalik. Nilai rating PIV
dari suatu dioda untuk mendesain rangkaian
penyearah setengah gelombang ini dapat dihitung
dari analisa rangkaian pada gambar 9 yang
menunjukkan dioda berada dalam kondisi bias
terbalik ("off") dan diberi tegangan maksimum oleh
sumber tegangan sebesar Vm. Dengan menggunakan
hukum Kirchoff tegangan (KVL), nilai PIV dari dioda
harus lebih besar dari nilai puncak tegangan sinyal
input (Vm).

Rating PIV > Vm untuk rangkaian penyearah


setengah gelombang.
Gambar Menentukan rating PIV dari dioda
yang akan digunakan pada rangkaian penyearah
setengah gelombang.

Karena mengalami bias maju (forward), dioda


diganti dengan short circuit seperti ditunjukkan pada
gambar dibawah sehingga tegangan output, vo ,
bersentuhan langsung dengan tegangan input pada
kedua terminalnya (vo = vi). Jadi dalam interval t = 0
hingga t = T/2, tegangan output, vo, sama dengan
tegangan input, vi.

Gambar Kondisi rangkaian pada saat tegangan sinyal input


bernilai positif

Untuk interval t = T/2 hingga t = T, polaritas


dari tegangan input vi ditunjukkan pada gambar 3.
Karena tegangan pada kaki anoda lebih negatif
daripada katoda, maka dioda mengalami bias terbalik
(reverse bias). Dioda diganti dengan open circuit.
Karena rangkaian open circuit, maka tidak ada arus
yang mengalir pada resistor R. Tegangan output vo
adalah tegangan resistor. Tegangan resistor v O = iR =
(0)R = 0 V. Jadi, pada saat t = T/2 hingga t = T,
tegangan output vO sama dengan nol. Hasil total satu
siklus penuh diilustrasikan pada gambar dibawah
tersebut yang dapat diketahui bahwa rangkaian
penyearah ini hanya bisa "melewatkan" atau
menyearahkan setengah siklus gelombang sinus yaitu
hanya pada siklus positifnya saja. Pada saat siklus
negatif, tegangan output sama dengan nol. Sekarang,
nilai tegangan rata-rata (VDC) dari vo tidak sama
dengan nol tetapi bisa dihitung

VDC = 0.318Vm ..................... (persamaan 1)

Gambar 3 Pada saat siklus tegangan sinyal input bernilai


negatif, tegangan output sama dengan nol.
Gambar Bentuk sinyal input dan hasil sinyal yang
disearahkan

Proses menghilangkan separuh sinyal input


dan mendapatkan nilai tegangan DC ini disebut
dengan menyearahkan setengah gelombang (half wave
rectification).

Pada pembahasan tadi, menggunakan model


dioda ideal untuk mendapatkan sinyal outputnya.
Sekarang kita memperhitungkan tegangan "on" dari
dioda, VT, pada proses penyearahan ini. Agar dioda
bisa "on", maka sinyal input minimal harus
bertegangan sebesar 0.7 V. Apabila sinyal tegangan
input, vi, kurang dari 0.7 V, dioda masih dalam
kondisi "off" sehingga tegangan output sama dengan
nol volt. Begitu nilai tegangan sinyal input lebih besar
dari 0.7 V, dioda baru bisa "on"dan dioda diganti
dengan sumber tegangan 0.7 V. Pada saat dioda "on",
tegangan output vo = vi - vT, dimana VT untuk dioda
silikon adalah 0.7 V. Jadi, apabila kita
mempertimbangkan tegangan "on"(VT) dari dioda
pada rangkaian penyearah ini, bentuk sinyal output,
vo, agak sedikit terpotong seperti ditunjukkan pada
gambar dibawah.

Gambar Efek dari mempertimbangkan tegangan "on"dari


dioda. Hasil sinyal outputnya sedikit berkurang dari hasil
sinyal output pada analisa sebelumnya.

Efek dari mempertimbangkan tegangan "on",


VT, ini mengurangi nilai rata-rata dari sinyal
outputnya. Pada kondisi ini, sinyal output, vo dapat
dihitung

VDC = 0.318 (Vm - VT) ....................... (persamaan 2)


Pada kenyataannya, apabila nilai tegangan
puncak dari sinyal input (Vm) jauh lebih tinggi
daripada VT, maka untuk menentukan level tegangan
DC nya juga bisa menggunakan pendekatan pada
persamaan 1.
Contoh Soal
(a) Gambarkan sinyal output vo dan hitung level
tegangan dc nya untuk rangkaian pada gambar
dibawah.
(b) Ulangi perintah (a) apabila dioda ideal tersebut
diganti dengan dioda silikon

Gambar Contoh soal rangkaian penyearah setengah


gelombang
Solusi: (a) Untuk kondisi ini dioda mengalami bias maju
(forward bias) saat tegangan sinyal input bernilai negatif
sehingga pada siklus ini tegangan output vo sama dengan
tegangan input vi Sedangkan pada saat siklus tegangan
positif, dioda mengalami bias terbalik (reverse bias) sehingga
arus tidak bisa mengalir dalam rangkaian dan tegangan
output vo sama dengan nol. Perhatikan pada gambar dibawah
Rangkaian penyearah ini hanya bisa melewatkan sinyal input
hanya pada setengah siklusnya, yaitu hanya pada siklus
negatif.
Tegangan output rata-rata (vDC) dapat dihitung
VDC = -0.318Vm = -0.318(20V) = -6.36 V
Tegangan vdc bernilai negatif menunjukkan bahwa polaritas
tegangan vo yang kita umpamakan pada gambar diatas,
terbalik dengan nilai yang sebenarnya.
(b) Dengan menggunakan dioda silikon, maka output
tegangannya ditunjukkan pada gambar dibawah.
Gambar Dengan mempertimbangkan tegangan "on" dari
dioda silikon, maka sinyal outputnya terpotong 0.7 V
Dengan memperhitungkan tegangan dari
dioda silikon sebesar 0.7 V, maka level tegangan DC
outputnya berkurang menjadi
VDC = -0.318(Vm - 0.7 V) = -0.318(19.3 V) = -6.14 V

4. Dioda Penyearah Gelombang Penuh (Full Wave


Rectifier)

Rangkaian penyearah gelombang penuh adalah


rangkaian yang menyearahkan satu gelombang penuh
(puncak dan lembah). Rangkaian gelombang penuh
dibedakan menjadi rangkaian jembatan dioda dan
rangkaian center tap.
Gambar Rangkaian penyearah gelombang penuh
menggunakan jembatan dioda
Rangkaian penyearah jembatan dibuat dengan
menggunakan empat buah dioda dengan membentuk sistem
jembatan. Penyearah Jembatan menentukan polaritas arus
mengalir berdasarkan gelombang sinus yang dapat
melintasinya menuju beban. Pada gambar diatas, terlihat
simbol yang digunakan Empat penyearah (D1 hingga D4)
masing-masing terhubung membentuk penyearah jembatan
gelombang.
Pada dasarnya untuk membuat penyearah
gelombang penuh (Full wave), kita dapat menggunakan 4
buah dioda atau dengan langung menggunakan komponen
dioda bridge.
a. Identifikasi Kaki Komponen Dioda Bridge

Adapun untuk bentuk komponen dioda bridge adalah


sebagai berikut:

Dalam pengidentifikasian kaki yang ada pada dioda brigde


dapat kita lihat dibadan komponen, misalkan pada gambar
diatas :
Kaki No.1 : Merupakan terminal positif (output) dari dioda
bridge
Kaki No.2 dan No.3 : Merupakan terminal yang dapat
dihubungkan pada sumber tegangan AC (jala-jala listrik) atau
tegangan input.
Kaki No.4 : Merupakan terminal negatif (output) dari dioda
bridge.
Pada dasarnya untuk membedakan kaki-kaki pada
dioda bridge ini kita bisa melihat langsung dari yang tertulis
pada badan komponen yang mewakili dari tiap-tiap fungsi
kaki komponen. Dan harus dipastikan untuk tidak terbalik
atau salah didalam pemasangannya, karena dapat merusak
komponen secara langsung.
Prinsip kerja dari rangkaian dioda jembatan ini adalah
ketika rangkaian jembatan mendapatkan siklus positif dari
siklus sinyal ac, arus akan mengalir ke beban (RL) melalui D2
(forward bias) dan dari RL akan dikembalikan ke sumber ac
melalui D3. Pada dioda D1 dan D4 bersifat off. Hal ini terjadi
karena D1 dan D4 mendapat bias mundur (reverse bias) karena
arus mengalir pada D2 dan D3.. Hal ini diperlihatkan pada
ilustrasi gambar di bawah ini, dimana jalur arus yang
disearahkan diberi warna merah.

Gambar Rangkaian penyearah gelombang penuh pada saat


silus positif
Pada saat rangkaian mendapatkan siklus negatif, arus
akan mengalir ke beban (RL) melalui D4 (forward bias) dan
dari beban akan dikembalikan ke sumber ac melalui D1. Hal
ini membuat D1 dan D4 mendapat bias mundur (reverse bias).
Hal ini diperlihatkan pada ilustrasi gambar di bawah ini,
dimana jalur arus yang disearahkan diberi warna merah.

Gambar Rangkaian penyearah gelombang penuh pada saat


siklus negatif
Hal ini membuat setengah gelombang pertama dan
kedua dapat disearahkan dan inilah mengapa rangkaian
dioda jembatan ini disebut sebagai rangkaian Penyearah
Gelombang Penuh.

b. Nilai DC atau Nilai Rata-rata

Pada prinsipnya, nilai dc penyearah gelombang penuh


sebagai berikut :

karena nilai dari

= 0,636 V, sehingga :
VDC = 0.636 VP

c. Frekuensi Keluaran

Frekuensi sinyal gelombang penuh adalah dua kali


frekuensi masukan. Hal ini karena sebuah keluaran
gelombang penuh mempunyai dua kali periode masukan
gelombang sinus, hanya saja rectifier gelombang penuh
membalikkan masing-masing periode setengah negatif
sehingga kita mendapatkan jumlah dua kali periode positif
sehingga :

fout = 2fIn

d. Penambahan Filter

Kurva keluaran arus dan tegangan dari penyearah


gelombang penuh terlihat tidak linear dan ini mengakibatkan
timbulnya noise. Noise yang dihasilkan pada penyearah
gelombang penuh ini masih tinggi dan tidak layak untuk
digunakan sebagai catudaya karena catudaya adalah
perangkat elektronika yang membutuhkan noise rendah.
Oleh sebab itu, untuk memperhalus keluaran dari penyearah
gelombang agar menghasilkan keluaran yang linear dan noise
yang rendah maka keluaran harus disaring (filtering)
menggunakan kapasitor.
Gambar Penambahan filter RC.

Gambar Bentuk sinyal input dan output penyearah berfilter.


Tegangan keluaran dari penyearah ini memiliki noise
yang lebih kecil jika dibandingkan dengan rangkaian
sebelumnya. Hal ini karena ketika tegangan turun, maka
muatan listrik yang tersimpan dalam kapasitor akan
dilepaskan sehingga bentuk tegangannya turun lebih landai.
Kemiringan penurunan ini tergantung pada besarnya RL dan
kapasitas Kapasitor. Semakin besar dua komponen ini maka
tegangan akan semakin halus dan linear.
Faktor Kerut (Ripple)
Keluaran dari penyearah terdiri dari tegangan searah
dan tegangan bolak balik atau ripple.
Faktor kerut didefinisikan :

Keterangan:
Vr (rms) = harga tegangan kerut yang terukur oleh voltmeter
AC.
Vdc = harga tegangan keluaran DC yang terukur oleh
voltmeter DC

Tegangan kerut adalah berbanding langsung terhadap arus


beban (RL).
e. Aplikasi Penyearah Gelombang Penuh yang Dilengkapi
Dengan Kapasitor

Agar tegangan penyearahan gelombang AC lebih


rata dan menjadi tegangan DC maka dipasang filter
kapasitor pada bagian output rangkaian penyearah seperti
terlihat pada gambar berikut.

Fungsi kapasitor pada rangkaian diatas untuk


menekan riple yang terjadi dari proses penyearahan
gelombang AC dan meloloskan arus DC. Setelah dipasang
filter kapasitor maka output dari rangkaian penyearah
gelombang penuh ini akan menjadi tegangan DC (Direct
Current).
Keterangan gambar diatas yang dpat diformulasikan sebagai
berikut :
(a) Sebuah kapasitor diparalelkan dengan beban resistor akan
menghasilan DC Output yang lebih halus.
(b) Output tegangan yang sudah dihaluskan oleh rangkaian
kapasitor yang diparalelkan dengan beban resistor selama
rangkaian kapasitor.
(c) Rangkaian dalam keadaan pengisian muatan listrik
(charging).
(d) pengosongan dari muatan listrik dari kapasitor

5. Penyearah Gelombang Penuh dengan Trafo Center-Tap


(CT)

Rangkaian penyearah gelombang penuh yang juga


banyak digunakan ditunjukkan pada gambar 6.
Penyearah gelombang penuh tersebut hanya
menggunakan dua dioda tetapi harus menggunakan trafo
center tap (CT). Keluaran dari trafo CT dimasukkan ke
rangkaian penyearah gelombang penuh yang terdiri dari
dua buah dioda ini.

Gambar Rangkaian penyearah gelombang penuh


menggunakan trafo center tap (CT)
Pada saat tegangan input vi bernilai positif dan
diinputkan pada lilitan primer dari trafo, maka rangkaian
ekivalennya ditunjukkan pada gambar dibawah. Ada dua
keluaran tegangan dari trafo CT ini pada lilitan sekundernya.
Kedua keluaran ini memiliki bentuk gelombang yang sama
apabila susunan polaritas dari kedua tegangannya seperti
ditunjukkan pada gambar dibawah. Pada saat siklus tegangan
positif, dioda D1 "on" dan dioda D2 "off". Arus dapat mengalir
melewati dioda D1. Sehingga tegangan output v o (atau
tegangan pada resistor R) memiliki bentuk yang sama dengan
tegangan inputnya.

Gambar 7 Kondisi rangkaian pada saat siklus tegangan positif


vi
Pada saat siklus tegangan negatif, kondisi rangkaian
ditunjukkan pada gambar dibawah. Kali ini dioda D 1"off" dan
dioda D2 "on", arus masih bisa mengalir melewati dioda D2.
Dan tegangan output, yaitu tegangan pada resistor R, bernilai
positif sesuai dengan polaritas vo yang telah ditentukan. Jadi,
rangkaian ini memiliki fungsi yang sama dengan rangkaian
penyearah gelombang penuh pada gambar 1.
Gambar Kondisi rangkaian pada saat siklus tegangan negatif
Vi
Sekilas, penyearah gelombang penuh dengan trafo CT
ini terlihat lebih ringkas karena hanya menggunakan dua
buah dioda. Tetapi untuk rangkaian dengan kebutuhan daya
yang tinggi, trafo CT tersedia dalam ukuran yang sangat
besar dan harganya yang mahal. Konsekuensinya, rangkaian
penyearah dengan trafo CT ini lebih umum digunakan untuk
membuat power supply daya rendah (low power).
Contoh Soal :
Tentukan bentuk gelombang output dari rangkaian pada
gambar dibawah, lalu hitunglah level tegangan DC nya
(tegangan rata-rata).
Gambar Contoh soal rangkaian jembatan penyearah
Solusi :
Pada saat tegangan input bernilai positif, kondisi rangkaian
ditunjukkan pada gambar 10. Tetapi untuk mengitung
tegangan output, vo, pada rangkaian gambar 10 ini agak sulit
karena hubungan seri-paralel dari ketiga resistor itu tidak
begitu jelas. Maka rangkaian pada gambar 10 digambar ulang
sehingga tampak pada rangkaian gambar 11 dimana
hubungan seri paralel antar resistor bisa terlihat. Dari
rangkaian pada gambar 10, tegangan vo dapat dihitung
dengan mudah dengan menggunakan aturan pembagi
tegangan (voltage divider) yaitu:

Maka tegangan maksimum dari outputnya adalah


Gambar Kondisi rangkaian pada saat tegangan input bernilai
positif

Gambar Rangkaian pada gambar 10 digambar ulang untuk


mempermudah analisa seri-paralel
Tegangan maksimum dari outputnya adalah 5 V. Hasil
yang sama persis diperoleh saat tegangan input bernilai
negatif. Arus listrik mengalir melewati dioda yang sebelah
kiri. Hasil tegangan output untuk satu siklus penuh tegangan
input ditunjukkan pada gambar dibawah.
Gambar Bentuk gelombang hasil tegangan output dari contoh
soal

6. Penyearah Gelombang Penuh Dua Kutub (Bipolar)

Penyearah gelombang penuh dengan trafo CT pada


penjelasan di atas menghasilkan tegangan output DC
yang bernilai positif. Kita bisa memodifikasi rangkaian
tersebut sehingga dapat menghasilkan tegangan output
DC yang bernilai negatif. Caranya adalah dengan
membalik arah dioda pada rangkaian gambar 6. Lebih
jauh lagi, kita bisa menempatkan penyearah gelombang
penuh "positif" dan penyearah gelombang penuh
"negatif" secara paralel seperti ditunjukkan pada gambar
13.
Gambar 13 Rangkaian penyearah gelombang penuh dua
kutub (bipolar) dengan trafo CT.
Rangkaian penyearah gelombang penuh polaritas
(kutub) positif menggunakan dua dioda berwarna hitam.
Sedangkan rangkaian penyearah gelombang penuh polaritas
negatif menggunakan dua dioda yang berwarna biru. Bisa
anda lihat pada gambar 13, rangkaian ini menghasilkan dua
sinyal output yaitu tegangan DC positif dan tegangan DC
negatif dengan menggunakan sebuah trafo CT dan satu sinyal
input AC (tegangan AC satu fasa).
Alternatif lain dari rangkaian penyearah gelombang
penuh bisa anda perhatikan pada gambar 14.

Gambar 14 Rangkaian jembatan penyearah gelombang penuh


alternatif dengan 4 dioda penyearah.

7. Rangkaian Dioda Clipping


Dioda Clipping atau Clipper juga seperti kita kena
dengan Dioda Limiter (dioda pembatas), adalah
rangkaian yang membentuk gelombang dari suatu
gelombang dengan memotongnya pada suatu bagian
(clip), bagian atas, bawah atau keduanya bersamaan
untuk menghasilkan gelombang output yang baru dan
pipih (flat) dari sebuah input. Contohnya pada penyearah
setengah gelombang adalah salah satu rangkaian clipper,
dimana semua tegangan yang dibawah nol (tegangan (-)
minus) di hilangkan.
Rangkaian dioda clipping dapat digunakan pada
sebuah variasi aplikasi untuk dimodifikasi pada sebuah
gelombang input dan menggunakan dioda schottky atau
untuk memberikan perlindungan dari tegangan berlebih
menggunakan dioda zener untuk memastikan bahwa
tegangan output yang dibutuhkan tidak melebihi kelevel
tingkatan tertentu dari lonjakan tegangan tinggi pada
rangkaian. Dan dioda clipping dapat diaplikasikan
sebagat rangkaian pembatas tegangan.
Kalau kita lihat dioda sinyal atau dioda penyearah
pada pembahasan sebelumnya, bahwa rangkaian yang
dibentuk memiliki hasil bentuk gelombang baru (dari AC
ke DC), kita dapat mengasumsikan input tegangan AC
adalah sinusoidal dan hasil outputnya menjadi
disearahkan setengah gelombang. Dan disinilah dasar
operasi dari rangkaian dioda clipping.
Meskipun rangkaian tegangan dioda clipping dapat
dibentuk dalam beberapa bentuk gelombang, kita dapat
mengasumsikan kembali bahwa tegangan inputnya
adalah sinusoidal. seperti gambar dibawah ini :
a. Rangkaian Dioda Clipping Positif

Pada rangkaian dioda clipping ini, dioda


dirangkai dengan forward bias (dimana anoda lebih
positif daripada katoda) selama pada gelombang
siklus positif sinusoidal. Untuk dioda menjadi
forwaard bias, tegangan inputnya harus lebih dari
+0,7 volt untuk dioda jenis silion dan +0,3 volt untuk
dioda jenis dioda germanium.
Ketika dioda bekerja pada forward bias, maka
arus yang melewati dioda yang secara reverse bias
akan ditahan, sehingga munculah hanya siklus positif
saja dan ini menjadikan gelombang input sinusoidal
(bulak-balik) menjadi terpotong (clipping) hanya satu
siklus saja.
b. Rangkaian Dioda Clipping Negatif

Dan disinilah rangkaian reverse dioda


dimana dioda pada siklus forward bias selama pada
siklus negatif akan batasi (di clipping) menjadi -0,7
volt, sehingga hanya melewati siklus setengah positif
saja. Dioda yang dirangkai seperti ini akan
membatasi siklus setengah negatif dari input
tegangan dan dapat disebut juga dengan rangkaian
clipper negatif.

cc.

c. Rangkaian Dioda Clipping Dua Siklus (Positif &

Negatif)

Jika kita menghubungkan dua dioda pada


paralel dan saling terbalik dimana saling dirangkai
forward bias dan reverse bias, maka akan menghasilkan
setengah siklus yang saling dibatasi, baik untuk
siklus positif maupun untuk siklus negatif.

Pada dioda ideal, output tegangan dibawah ini


akan menjadi nol. Namun aktualnya bagaimanapun
juga tegangan jatuh forward bias yang melewati
dioda di batasi (clipping) pada +0,7 volt dan -0,7 volt.
Tetapi kita bisa meningkatkan +/- 0,7 volt ke
beberapa nilai tertentu yang kita inginkan dengan
menaikan niai maksimum atau VPEAK dari gelombang
sinusoidal dengan menghubungkan bersama dioda
dalam rangkaian seri yang membuat penambahan
tegangan 0,7 volt atau dengan menambahkan sebuah
tegangan bias dari dioda tersebut

d. Rangkaian Bias Dioda Clipping

Untuk menghasilkan rangkaian dioda clipping


untuk gelombang dengan tegangan yang berbeda
pada level yang sama, sebuah bias tegangan (V BIAS)
kemudian ditambahkan dan dirangkai seri dengan
dioda seperti pada gambar dibawah.
Tegangan yang melintasi dioda diserikan dan
dikombinasikan dengan sumber tegangan tambahan
dengan lebih besar dari VBIAS. Contohnya jika level
VBIAS berada pada 4,0 v, lalu tegangan sinusoidal
diterminal anoda pada dioda harus lebih besar
daripada 4,0 +0,7 = 4,7 volt

e. Bias Positif Dioda Clipping

Seperti rangkaian dioda clipping sebelumnya


dimana dioda dihubungkan secara forward bias
dengan sumber tegangan AC dan kemudian
diberikan tegangan reverse bias (terbalik) pada dioda
dari tegangan bias baterai, maka Output bentuk
gelombang berada pada level -VBIAS yaitu -0,7 volt .
f. Bias Negatif Dioda Clipping

Sebuah variable dioda clipping atau dioda


pembatas level dapat didapatkan dengan
memvariasikan bias tegangan dari dioda. Jika antara
kedua siklus positif dan negatif di batasi (clipping) ,
kemudian keduanya dibiaskan menggunakan dioda.
Namun untuk kedua negatif dan positif dioda
clipping, tegangan baias yang diperukan tidak sama.
Tegangan bias positif terdapat pada satu level,
contohnya 4 volt dan tegangan bias negatif pada
lainnya, contohnya seperti pada gambar dibawah.

g. Dioda Clipping dengan Bias Level yang Berbeda


Ketika siklus tegangan positif dicapai pada +4,7
volt, D1 membatasi gelombang pada +4,7 dan D2
membatasi hingga mencapai -6,7 volt. Oleh karena
itu, semua tegangan positif di atas 4,7 V dan tegangan
negatif di bawah -6,7 V secara otomatis terpotong."
Keuntungan dari penggunaan rangkaian bias
dioda clipping ini adalah untuk menjaga atau
mencegah dari sinyal output yang berlebihan dari
batas tegangan yang ditetapkan bagi kedua siklus
dari gelombang input. Pembatasan dengan clipping
ini juga dapat mencegah hal yang bisa menyebabkan
gangguan dari sebuah sensor bising (noise sensor) atau
tegangan suplay positif dan negatif.
Jika level dioda clipping diatur terlalu rendah
atau input gelombang terlalu besar, maka
pembatasan (clipping) atau eliminasi dari kedua
puncak gelombang dapat berakhir dengan bentuk
gelombang persegi.

h. Rangkaian Cliping Dioda Zener

Penggunaan dari sebuah tegangan bias


ditujukan karena jumlah tegangan gelombang yang
dibatasi (clipping) dapat dikontrol dengan akurat.
Tetapi salah satu kelemahan rangkaian dioda clipping
adalah membutuhkan tambahan baterai (sumber
tegangan) yang nantinya mungkin bisa menjadi
masalah.
Salah satu cara untuk membuat rangkaian
dioda clipping tanpa memerlukan sebuah tambahan
sumber tegangan yang digunakan pada dioda.
Seperti kita tau bahwa dioda zener adalah
salah satu tipe dari dioda khusus yang memiliki
kemampuan bekerja pada bagian teganngan
breakdown reverse bias dan dapat digunakan untuk
regulator (pembatas) tegangan seperti halnya pada
prinsip dioda clipping sebelumnya. Pada bagian
reverse bias, dioda zener bertindak seperti layaknya
dioda silikon biasa dengan tegangan jatuh forward bias
mencapai 0,7 volt (700mV) ketika dihubungkan. Sama
pada seperti diatas.
Namun, pada bagian reverse bias tegangan di
blok selama dioda zener mencapai tegangan
breakdown. Pada titik ini arus reverse yang melewati
dioda zener naik tajam

i. Clipping Dioda Zener


.

Dioda zener bertindak seperti bias rangkaian


dioda clipping dengan bias tegangan sama dengan
tegangan breakdown dioda zener. Pada rangkaian ini
selama dari setengah gelombang dioda zener
dibiaskan terbalik (reverse), sehingga bentuk
gelombang dibatasi (clipping) pada tegangan dioda
zener.
Kita dapat membuat contoh lain dengan
menggunakan karakteristik dari tegangan reverse
dioda zener untuk membatasi (clipping) kedua bentuk
gelombang menggunakan hubungan dioda zener
yang diserikan (back-to-back) seperti gambar dibawah.

j. Gelombang Penuh (Full-Wave) Clipping Dioda


Zener
Output gelombang penuh dari rangkaian
clipping dioda zener menyerupai dengan rangkaian
bias yang menggunakan dioda penyearah
sebelumnya. Output gelombang akan dibatasi
(clipping) pada tegangan dioda zener ditambah
dengan tegangan jatuh 0,7 volt dari forward bias dioda
lain. Jadi kita bisa ambil contoh, pada setengah siklus
positif akan dibatasi (clipping) pada penjumlahan
dari dioda zener, ZD1 ditambah 0,7 volt dari ZD2 dan
begitu juga dengan sebaliknya untuk setengah siklus
negatif.
Dioda zener dibuat dengan berbagai batas
tegangan yang bervariasi dan dapat digunakan untuk
memberikan referensi tegangan yang berbeda pada
setiap setengah siklus, sama seperti diatas. Dioda
zener juga tersedia dengan tegangan breakdown
yang berbeda-beda, mulai dari 2,4 sampai 33 volt
dengan tolerasisi 1 atau 5% pada bagian reverse
breakdown.
k. Kesimpulan Dioda Clipping

Selain digunakan seperti penyearah, dioda


juga dapat digunakan untuk membatasi, memotong
(clipping) bagian atas atau bawah atau keduanya dari
bentuk gelombang ditingkat level DC tertentu dan
melewatinya ke Output tanpa distorsi. Pada
contohnya kita asumsikan pada gelombang
sinusoidal, tetapi pada beberapa teori lainnya
gelombang masukan (Gelombang Input) bisa dalam
beberapa berbentuk lainnya.
Rangkaian Dioda Clipping digunakan untuk
menghilangkan (eliminasi) noise amplitudo atau
lonjakan tegangan, meregulasi tegangan atau
menghasilkan bentuk gelombang baru dari sinyal
yang ada seperti mengkuadratkan puncak gelombang
sinusoidal untuk mendapatkan sebuah gelombang
persegi (bentuk gelombang baru).
Pengaplikasian yang paling umum dari
sebuah rangkaian dioda clipping ini adalah roda gila
(fly-wheel) atau rangkaian motor pemutar pada kaset
tape dan lain sebagainya.
8. Dioda Zener

Dioda zener adalah salah satu jenis dioda yang


memiliki sisi exsklusif pada daerah breakdownnya,
sehingga dapat dimanfaatkan sebagai stabilizer atau
pembatas tegangan. Struktur dioda zener hampir sama
dengan dioda pada umumnya, hanya konsentrasi doping
saja yang berbeda. Kurva karakteristik dioda zener juga
sama seperti dioda pada umumnya, namun pada daerah
breakdown dimana pada saat bias mundur mencapai
tegangan breakdown maka arus dioda naik dengan cepat
seperti pada gambar karakteristik dioda zener dibawah.
Daerah breakdown inilah yang menjadi referensi untuk
penerapan dari dioda zener. Sedangkan pada dioda biasa
daerah breakdown merupakan daerah kritis yang harus
dihindari dan tidak diperbolehkan pemberian tegangan
mundur sampai pada daerah breakdown, karena bisa
merusak dioda biasa.
Gambar Bentuk dan Karakteristik Dioda Zener

a. Prinsip Kerja Dioda Zener

Pada dasarnya, Dioda Zener akan menyalurkan


arus listrik yang mengalir ke arah yang berlawanan jika
tegangan yang diberikan melampaui batas "Breakdown
Voltage" atau Tegangan Tembus Dioda Zenernya.
Karakteristik ini berbeda dengan Dioda biasa yang hanya
dapat menyalurkan arus listrik ke satu arah. Tegangan
Tembus (Breakdown Voltage) ini disebut juga dengan
Tegangan Zener.
Dalam Rangkaian diatas, Dioda Zener dipasang
dengan prinsip Bias Balik (Reverse Bias), Rangkaian tersebut
merupakan cara umum dalam pemasangan Dioda Zener.
Dalam Rangkaian tersebut, tegangan Input (masuk) yang
diberikan adalah 12V tetapi Multimeter menunjukan
tegangan yang melewati Dioda Zener adalah 2,8V. Ini artinya
tegangan akan turun saat melewati Dioda Zener yang
dipasang secara Bias Balik (Reverse Bias). Sedangkan fungsi
Resistor dalam Rangkaian tersebut adalah untuk pembatas
arus listrik.
Dari gambar diatas dapat kita ketahui yaitu :
VS atau VIN: Tegangan Sumber atau Tegangan Input
RS : Resistor Seri atau yang dihubungkan seri dengan dioda
zener
VOUT = VZ : Adalah Output dari dioda zener atau tegangan
yang sudah d melewati
RL : Dalam hal ini bisa disebut juga dengan beban rangkaian
IZ : Arus yang melewati dioda zener
IL : Arus yang melewati ke rangkaian beban
Pada dasarnya penggunaan resistor yang dihubungkan
seri pada dioda zener digunakan untuk membatasi arus yang
masuk ke dioda zener supaya tidak berlebihan dengan
tegangan sumber (V Input), sehingga menghasilkan tegangan
output (V Output) yang telah stabil dari dioda zener. Resistor
yang dihubungkan dengan terminal katoda zener ini sangat
penting, jika tidak dihubungkan dengan tanpa beban resistor
maka beban arus akan Nol (IL=0) dan semua arus rangkaian
akan melewati dioda zener yang mana akan merubahnya
menjadi disipasi daya maksimum sehingga dapat merusak
komponen dioda zener tersebut.
Pemilihan nilai resistor yang terlalu kecil juga dapat
menghasilkan arus dioda yang lebih besar ketika beban RL
dihubungkan dan besarnya akan menaikan disipasi daya
yang dibutuhkan dari dioda zener, jadi berhati-hatilah dalam
pemilihan nilai resistor untuk dioda zener, harus sesuai
dengan nilai rating daya yang dibutuhkan sehingga tidak
melebihi atau dalam kondisi impedansi yang tinggi.
Beban RL dihubungkan titik temu antara resistor yang
diserikan dan Katoda zener dan inilah yang akan menjadi
tegangan output dari dioda zener.
Namun secara keseluruhan kesimpulan dari prisip
kerjanya adalah dioda zener akan bekerja pada kondisi
reverse bias (terbalik). Rangkaian tegangan regulator dapat
dibuat dengan menggunakan didoa zener untuk menjaga
hasil output tegangan DC yang konstan. Hasil output
melintasi zener di beban (dalam hal ini beban rangkaian bisa
bervariasi lampu atau lainnya). Tegangan yang melintasi
dioda zener terdiri dari sebuah arus yang dibatasi oleh
sebuah resistor (RS) yang dhubungkan seri dengan dioda
zener dan Tegangan sumber (VS).
Tabel Tegangan Standar Dioda Zener

Rating Daya Dioda Zener BZX55 (500mWatt)

2.4V 2.7V 3.0V 3.3V 3.6V 3.9V 4.3V 4.7V

5.1V 5.6V 6.2V 6.8V 7.5V 8.2V 9.1V 10V

11V 12V 13V 15V 16V 18V 20V 22V

24V 27V 30V 33V 36V 39V 43V 47V

Rating Daya Dioda Zener BZX85 (1.3Watt)

3.3V 3.6V 3.9V 4.3V 4.7V 5.1V 5.6 6.2V

6.8V 7.5V 8.2V 9.1V 10V 11V 12V 13V

15V 16V 18V 20V 22V 24V 27V 30V

33V 36V 39V 43V 47V 51V 56V 62V

Contoh Soal:
Sebuah power supply memiliki tegangan stabil sebesar 5 Volt
(V-Output) yang telah distabilkan dari tegangan sebelumnya
yaitu 12V (V Input) menggunakan dioda zener. Rating Daya
maksimum dari dioda zener adalah 2Watt.
Diketahui :
VOUT = 5V
VS atau VIN = 12 V
Daya (P) = 2W

Jawab :
Dengan menggunakan rangkaian regulator dioda zener
diatas, maka dapat dihitung
a) Arus maksimum yang mengalir pada dioda zener

b) Nilai Minimum dari resistor seri (R S)

c) Berapakah Arus beban (IL) jika beban resistor (RL) adalah


1K Ohm yang melewati dioda zener

d) Arus Dioda Zener (IZ) pada saat beban maksimal

IZ = IS - IL = 400mA - 5mA = 395mA


b. Penggunaan dioda zener pada rangkaian power supply
(Catu Daya)

Gambar dioda zener menggunakan rangkaian dioda bridge


(jembatan)
Seperti kita lihat pada gambar diatas bahwa prinsipnya
adalah sama, yaitu Dioda zener dirangkai seri dengan R dan
tegangan output dari dioda zener diberikan kepada RL
(Beban Rangkaian atau Vout).

Untuk menghitung Arus Listrik (Ampere) tersebut, kita


dapat menggunakan Hukum Ohm seperti dibawah ini
(12 - 2,8) /460 = 19,6mA
Jika menggunakan Tegangan yang lebih tinggi,
contohnya 24V. Maka arus listrik yang mengalir dalam
Rangkaian tersebut akan semakin besar :
(24 - 2,8) / 460 = 45mA
Akan tetapi, tegangan yang melewati Dioda Zener
akan sama yaitu 2,8V. Oleh karena itu, Dioda Zener
merupakan Komponen Elektronika yang cocok untuk
digunakan sebagai Voltage Regulator (Pengatur Tegangan),
Dioda Zener akan memberikan tegangan tetap dan sesuai
dengan Tegangan Zenernya terhadap Tegangan Input yang
diberikan.
Pada umumnya Tegangan Dioda Zener yang tersedia
di pasaran berkisar di antara 2V sampai 70V dengan daya
(power) dari 500mW sampai dengan 5W.
Untuk menghitung disipasi daya Dioda Zener, kita
dapat menggunakan rumus :

Contoh :
P = 2,8 x 19,6
P = 54,9mW
Dioda Zener biasanya diaplikasikan pada Voltage Regulator
(Pengatur Tegangan) dan Over Voltage Protection
(Perlindungan terhadap kelebihan Tegangan).

9. Photodioda

Dioda peka cahaya adalah jenis dioda yang berfungsi


mendektesi cahaya. Berbeda dengan dioda biasa,
komponen elektronika ini akan mengubah menjadi arus
listrik. Cahaya yang dapat dideteksi oleh dioda peka
cahaya ini mulai dari cahaya inframerah, cahaya tampak,
ultra ungu sampai dengan sinar-X.

a. Bahan Materi Pembuat

Photodiodes dibuat dari semikonduktor dengan bahan


yang populer adalah silicon ( Si) atau galium arsenida (GaAs),
dan yang lain meliputi InSb, InAs, PbSe. Material ini
menyerap cahaya dengan karakteristik panjang gelombang
mencakup: 2500 Å - 11000 Å untuk silicon, 8000 Å - 20,000 Å
untuk GaAs.

b. Prinsip Kerja dan Karakteristik Photodioda


Photodioda adalah sebuah dioda yang dioptimasi untuk
menghasilkan aliran elektron (atau arus listrik) sebagai
respon apabila terpapar oleh sinar ultraviolet, cahaya tampak,
atau cahaya infra merah. Kebanyakan photodioda dibuat dari
silikon, tetapi ada juga yang dibuat dari germanium dan
galium arsenida. Daerah sambungan semikonduktor tipe P
dan N tempat cahaya masuk harus tipis sehingga cahaya bisa
masuk ke daerah aktifnya (active region) atau daerah
pemisahnya (depletion region) tempat dimana cahaya diubah
menjadi pasangan elektron dan hole.

Ketika sebuah photon (satu satuan energi dalam cahaya) dari


sumber cahaya diserap, hal tersebut membangkitkan suatu
elektron dan menghasilkan sepasang pembawa muatan
tunggal, sebuah elektron dan sebuah hole, di mana suatu hole
adalah bagian dari kisi-kisi semikonduktor yang kehilangan
elektron. Arah Arus yang melalui sebuah semikonduktor
adalah kebalikan dengan gerak muatan pembawa. cara
tersebut didalam sebuah photodiode digunakan untuk
mengumpulkan photon - menyebabkan pembawa muatan
(seperti arus atau tegangan) mengalir/terbentuk di bagian-
bagian elektroda.

Gambar Photodioda : Simbol rangkaian dan penampang


melintangnya
Pada gambar di atas, lapisan tipe-P yang dangkal
terdifusi ke lapisan jenis-N menghasilkan sambungan PN
didekat permukaan lapisan "wafer" tersebut. Lapisan tipe-P
harus tipis sehingga bisa melewatkan cahaya sebanyak
mungkin. Difusi tipe-N yang banyak ada di belakang lapisan
"wafer" tersebut menempel dengan kontak logam.
Cahaya yang masuk ke bagian atas photodioda masuk
ke dalam lapisan semikonduktor. Lapisan tipe-P yang tipis di
atas membuat banyak foton melewatinya menuju daerah
pemisah (depletion region) tempat dimana pasang elektron
dan hole terbentuk. Medan listrik yang tercipta di daerah
pemisah menyebabkan elektron tertarik ke lapisan N,
sedangkan hole ke lapisan P. Sebenarnya, pasangan elektron
dan hole bisa dibentuk pada semua daerah dari bahan
semikonduktor. Namun, pasangan elektron dan hole yang
tercipta di daerah pemisah akan terpisah ke daerah masing-
masi ng yaitu daerah P dan N. Banyak pasangan elektron dan
hole yang terbentuk di daerah P dan N mengalami
rekombinasi. Hanya ada beberapa yang berekombinasi di
daerah pemisah. Oleh karena itu, hanya ada sedikit pasangan
hole dan elektron yang ada di daerah N dan P, dan pasangan
hole-elektron di daerah pemisah adalah yang menyebabkan
terjadinya arus listrik pada saat photodioda terkena cahaya
(photocurrent).
Tegangan dari photodioda bisa kita cek dengan
melakukan percobaan. Penggunaan photodioda pada mode
photovoltaic (PV) tidak linier dalam range yang sangat
dinamis, selain itu juga sensitif dan memiliki noise yang
rendah pada frekuensi di bawah 100 kHz. Mode operasi yang
paling banyak digunakan adalah mode photocurrent (PC)
karena arus yang dihasilkan lebih proporsional/linier
terhadap jumlah fluks cahaya dengan intensitas tertentu,
selain itu juga respon frekuensinya juga lebih tinggi. Kurva
yang menunjukkan hubungan antara intensitas cahaya
dengan arus yang dihasilkan oleh photodioda ditunjukkan
pada gambar 2. Mode photocurrent bisa dicapai dengan
menempatkan photodioda dalam kondisi bias terbalik
(reverse bias). Penguat arus (penguat transimpedansi) harus
digunakan dengan photodioda yang memiliki mode
photocurrent. Linieritas pada mode photocurrent bisa dicapai
selama photodioda tidak sampai dalam kondisi bias maju
(forward bias).

Gambar Hubungan antara intensitas cahaya dengan arus


yang dihasilkan pada photodioda
Photodioda juga sering digunakan untuk kecepatan
tinggi. Masalah kecepatan respon maka erat kaitannya
dengan efek kapasitansi parasit pada photodioda, dimana
kapasitansi parasit ini bisa diminimalisir dengan mengurangi
luas permukaan cell nya. Oleh karena itu, sensor pada
sambungan fiber optik berkecepatan tinggi memiliki luasan
permukaan hanya sekitar 1 mm2. Kapasitansi parasit juga
bisa dihilangkan dengan meningkatkan ketebalan daerah
pemisahnya yang dilakukan pada saat proses
manufakturnya. Selain itu juga bisa diperkecil dengan
meningkatkan tegangan balik (reverse voltage) pada
photodioda.
Photodioda Avalence (APD) didisain untuk beroperasi
pada tegangan bias terbalik (reverse bias) yang sangat tinggi
menghasilkan efek melipatgandakan elektron sama seperti
photomultiplier tube. Tegangan balik (reverse voltage) pada
photodioda sekitar 10 V hingga 2000 V. Tegangan bias
terbalik yang sangat tinggi ini mempercepat proses
perubahan elektron menjadi pasangan elektron-hole pada
daerah instrinsik sehingga memiliki kecepatan yang cukup
pada pembawa tambahan (additional carriers) dari proses
tumbukan dengan kisi-kisi kristal. Sehingga lebih banyak
elektron yang dihasilkan dari sebuah foton. Tujuan dari APD
adalah melakukan penguatan di dalam photodioda sehingga
mengatasi noise pada amplifier eksternalnya. Tetapi APD
menghasilkan noise nya sendiri. Pada kecepatan tinggi, APD
lebih unggul dari kombinasi penguat dioda PIN, tetapi tidak
untuk aplikasi kecepatan rendah. APD sangat mahal, kira-
kira hampir sama dengan tabung photomultiplier. Sehingga
APD unggul terhadap photodioda PIN hanya untuk aplikasi-
aplikasi khusus. Salah satunya adalah pada aplikasi
penghitung foton tunggal pada fisika nuklir.
Cahaya memiliki energi berupa paket-paket energi
yang disebut dengan foton. Energi foton ini bergantung pada
frekuensi dari gelombang cahaya tersebut sesuai dengan
persamaan
W = hf
dimana h adalah konstanta Planck yang memiliki nilai
sebesar 6.624 x 10-34 J/s. h adalah suatu konstanta, energi
bergantung pada frekuensi gelombang cahaya yang
merambat.
Sebaliknya, frekuensi ditentukan dari panjang gelombang
dari cahaya yang merambat sesuai dengan persamaan
λ = v/f
dimana
λ adalah panjang gelombang dalam meter
v adalah kecepatan cahaya 3 x 108 m/s
f adalah frekuensi gelombang cahaya yang merambat dalam
Hz
Umumnya panjang gelombang dinyatakan dalam satuan
Angstrom (Å) atau mikrometer (μm). Konversi satuan ini
kedalam meter adalah
1 Å = 10-10 m dan 1 μm = 10-6 m
Panjang gelombang adalah penting karena ia akan
menentukan material apa yang akan digunakan pada divais
optoelektronik tersebut. Respon spektral relatif untuk
Germaniun (Ge), Silikon (Si), dan selenium ditunjukkan pada
gambar 4. Spektrum dari cahaya tampak juga dimasukkan
dengan beberapa contoh warna.

Gambar Respon spektral relatif untuk bahan bahan silikon,


germanium, dan selenium
Jumlah elektron bebas yang dihasilkan dari masing-
masing material linier dengan intensitas cahaya yang
menerpa photodioda tersebut. Intensitas cahaya memiliki
parameter fluks lumen per satuan luas. Fluks lumen diukur
dalam satuan lumen (lm) atau watt. Kedua satuan tersebut
memiliki hubungan
1 lm = 1.496 x 10-10 W
Intensitas cahaya biasanya diukur dengan satuan lm/ft2,
footcandles, atau W/m 2, dimana
1 lm/ft2 = 1 fc = 1.609 x 10-9 W/m2

c. Pemasangan Photodioda Dengan Posisi Reverse


(Terbalik)

Perhatikan perbedaan pemasangan dua jenis dioda


pada gambar di bawah. Pada gambar (LED "Light Emiting
Diode") sebagaimana pada pemasangan dioda seharusnya
yakni terpasang forward bias sedangkan pada gambar ke
dua, (Photodioda) pada gambar diatas terpasang reverse
bias.
Hal ini dilakukan karena berdasarkan teori mengenai
dioda. Saat dioda dipasang reverse, maka arus tidak akan
mengalir karena hambatan yg sangat besar sekali. Ingat
bahwa tegangan breakdown dari dioda saat reverse itu
sekitar ratusan volt. Jadi bisa dikatakan pada keadaan ini
dioda sebagai kondisi Open Circuit jika dianalogikan seperti
switch.
Photodioda adalah semikonduktor jenis sambungan
PN dimana daerah operasinya adalah pada mode bias
terbalik (reverse bias). Rangkaian dasar dari photodioda,
konstruksinya, serta simbolnya ditunjukkan pada gambar
dibawah.

Gambar Cara melakukan bias pada photodioda.


Ingat prinsip kerja pada dioda bahwa arus saturasi
dalam mode bias terbalik terbatas hanya beberapa mikro
ampere. Arus tersebut disebabkan aliran dari pembawa
minoritas yang terdapat pada meterial tipe P dan tipe N.
Apabila ada cahaya yang mengenai sambungan PN nya,
maka akan dihasilkan transfer energi dari rambatan
gelombang cahaya (dalam bentuk foton) menjadi struktur
atomik, menghasilkan peningkatan jumlah pembawa
minoritas (minority carriers) dan meningkatkan level dari
arus balik. Perhatikan grafik pada gambar 6 menujukkan
hubungan antara arus dan tegangan photo dioda dalam mode
bias terbalik untuk berbagai level intensitas cahaya. Arus
gelap (dark current) adalah arus yang mengalir pada saat
tidak ada cahaya yang mengenai photodioda. Perhatikan
bahwa arus yang mengalir pada photodioda akan benar-
benar menjadi nol hanya ketika photodioda tersebut diberi
tegangan positif sebesar VT. Perhatikan juga gambar diatas,
lensa cembung digunakan untuk mengkonsentrasikan cahaya
agar jatuh pada daerah pemisah.
Gambar Hubungan arus dan tegangan pada photodioda
dalam beberapa level intensitas cahaya
Bentuk fisik dari photodioda yang dijual di pasaran
ditunjukkan pada gambar dibawah.

Gambar Bentuk fisik photodioda yang dijual di pasaran


d. Aplikasi penggunaaan Photodioda

1. Pada Robot Line Tracker

Sifat dari photodioda adalah jika semakin


banyak cahaya yang diterima, maka nilai resistansi
diodanya semakin kecil dan menyebabkan jumlah
pembawa muatan yang dialirkan semakin besar.

Pada Robot Line Tracker, Photodioda


digunakan sebagai penangkap gelombang cahaya
yang dipancarkan oleh Infrared. Besarnya tegangan
atau arus listrik yang dihasilkan oleh photodioda
tergantung besar kecilnya radiasi yang dipancarkan
oleh infrared.

Sensor photodioda hanya memanfaatkan sifat


cahaya yang akan dipantulkan jika mengenai benda
berwarna terang dan akan diserap jika mengenai
benda berwarna gelap. Sebagai sumber cahaya kita
gunakan LED (Light Emiting Diode) yang akan
memancarkan cahaya merah. Dan untuk menangkap
pantulan cahaya LED, kita gunakan photodiode. Jika
sensor berada diatas garis hitam maka photodioda
akan menerima sedikit sekali cahaya pantulan. Tetapi
jika sensor berada diatas garis putih maka
photodioda akan menerima banyak cahaya pantulan.
Berikut adalah ilustrasinya :

2. Photodioda digunakan sebagai sensor pada sistem


keamanan.

Salah satu penggunaan dari photodioda adalah pada


sistem alarm sebagai keamanan, ditunjukkan pada gambar
dibawah. Rangkaian tersebut terdiri dari sumber cahaya
sebagai pemnacar (Tx) dan photodioda sebagai penerima
(Rx). Arus balik (reverse current) sebesar Iλ akan dihasilkan
oleh photodioda selama cahaya yang dipancarkan oleh Tx
mengenai photodioda. Tetapi arus yang mengalir pada
photodioda akan menjadi minimum mendekati nol apabila
ada penghalang diantara Tx dan Rx sehingga photodioda
idak bisa menangkap cahaya dari Tx. Begitu arus yang
mengar pada photodioda mendekati nol, maka sinyal ini akan
diproses oleh suatu rangkaian (misalkan rangkaian yang
terdiri dari gerbang logika) untuk menyalakan alarm.
Sehingga, apabila ada orang yang berjalan melewati pintu
tersebut, alarm akan berbunyi.

3. Photodioda digunakan sebagai sensor pada alat


pencacah jumlah barang

Model rangkaian seperti ini juga bisa diletakkan pada


sabuk konveyor sebagai sensor yang banyak digunakan di
pabrik-pabrik untuk menghitung jumlah barang yang lewat.
Ketika ada suatu barang atau objek menghalangi garis cahaya
tegak lurus yang dipancarkan dari sumber cahaya (Tx), maka
photodioda akan memberikan sinyal kerangkaian untuk
mencacah atau menghitung jumlah suatu barang atau benda
yang melewati.

10. Dioda LED (Light Emitting Diode)

LED (Light Emitting Diode) adalah dioda yang dapat


memancarkan cahaya pada saat mendapat arus bias maju
(forward bias). LED (Light Emitting Dioda) dapat
memancarkan cahaya karena menggunakan dopping
galium, arsenic dan phosporus. Jenis doping yang
berbeda dapat menhasilkan cahaya dengan warna yang
berbeda. LED (Light Emitting Dioda) merupakann salah
satu jenis dioda, sehingga hanya akan mengalirkan arus
listrik satu arah saja.

Kata LED merupakan ialah suatu semikonduktor


yang memancarkan cahaya monokromatik yang tidak
koheren ketika diberi tegangan maju. Gejala ini termasuk
bentuk elektroluminesensi. Warna yang dihasilkan
bergantung pada bahan semikonduktor yang dipakai,
dan bisa juga ultraviolet dekat atau inframerah dekat.

LED akan memancarkan cahaya apabil diberikan


tegangan listrik dengan konfigurasi forward bias.
Berbeda dengan dioda pada umumnya, kemampuan
mengalirkan arus pada LED (Light Emitting Dioda)
cukup rendah yaitu maksimal 20 mA. Apabila LED (Light
Emitting Dioda) dialiri arus lebih besar dari 20 mA maka
LED akan rusak, sehingga pada rangkaian LED dipasang
sebuah resistor sebagai pembatas arus.

Lampu LED adalah Lampu masa depan ( Teknologi )


yang super hemat dan ramah lingkungan , dan juga
sangat tahan lama sampai dengan 10 Tahun. LED
merupakan sejenis lampu yang akhir-akhir ini muncul
dalam kehidupan kita. LED dulu umumnya digunakan
pada gadget seperti ponsel atau PDA serta komputer.
Sebagai pesaing lampu bohlam dan neon, saat ini
aplikasinya mulai meluas dan bahkan bisa kita temukan
pada korek api yang kita gunakan, lampu emergency dan
sebagainya. Led sebagai model lampu masa depan
dianggap dapat menekan pemanasan global karena
efisiensinya.

a. Struktur Dasar LED

Semikonduktor merupakan material yang dapat


menghantarkan arus listrik, meskipun tidak sebaik
konduktor listrik. Semikonduktor umumnya dibuat
dari konduktor lemah yang diberi ‘pengotor’ berupa
material lain. Dalam LED digunakan konduktor
dengan gabungan unsur logam aluminium-gallium-
arsenit (AlGaAs). Konduktor AlGaAs murni tidak
memiliki pasangan elektron bebas sehingga tidak
dapat mengalirkan arus listrik. Oleh karena itu
dilakukan proses doping dengan menambahkan
elektron bebas untuk mengganggu keseimbangan
konduktor tersebut, sehingga material yang ada
menjadi semakin konduktif.

LED merupakan dioda, sehingga memiliki kutub


( polar ). Arah arus konvensional hanya dapat
mengalir dari anoda ke katoda. Perhatikan bahwa 2
kawat ( kaki ) pada LED memiliki panjang yang
berbeda. Kawat yang panjang adalah anoda
sedangkan yang pendek adalah katoda. (diambil dari
marktechopto.com)

Jika kita melihat kedalam lampu LED itu sendiri,


kita dapat membedakan ke dua kutub tersebut.
Perhatikanlah gambar berikut.
b. Karakteristik LED

Terlebih dahulu lihatlah grafik sebelah kanan.


Pilihlah terang LED yang diinginkan dan pakailah grafik
ini untuk menentukan arus yang diperlukan. Sebagai
contoh, Kita memilih intensitas luminous ( tingkat terang
gelap sebuah LED ) sebesar 1, diketahui bahwa arus
sebesar 20 mA yang diperlukan.
Ini bearti bahwa arus 20 mA harus melewati LED
untuk mendapatkan terangnya LED sebesar 1. Sekarang,
kita dapat menghitung jatuh tegangan pada LED
berdasarkan arus yang diketahui. Lihatlah grafik sebelah
kiri pada 20 mA. Sekarang kamu tahu bahwa jatuh
tegangannya sebesar 1,85 V. Ketahuilah bahwa jatuh
tegangan pada LED tidak hanya sebuah fungsi dari arus,
tetapi juga warna LED dan suhu (disebabkan perbedaan
zat kimia pada LED ).

Jenis Karakteristik LED

Bahan Panjang Vf
Warna
Semikonduktor Gelombang @20mA

Infra-
GaAs 850-940nm 1,2 V
Merah

GaAsP 630-660nm Merah 1,8 V

Amber
GaAsP:N 606-6205nm 2,0 V
(Orange)

GaAsP:N 585-595nm Kuning 2,2 V

AlGaP 550-570nm Hijau 3,5 V

SiC 430-505nm Biru 3,6 V

GalnN 450nm Putih 4,0 V

Dari Tabel diatas, kita lihat dari tiap LED memiliki


tegangan jatuh forwad bias (Vf) masing-masing PN
junctionnya dan parameter ini tergantung dari bahan
material semikonduktor yang digunakan. Tegangan jatih
forward bias (Vf) biasanya adalah 20mA.
Pada contoh kebanyakan LED digunakan pada
tegangan rendah (DC) dengan sebuah resistor yang
diserikan yang berguna untuk membatasi arus.

Gambar Kurva Karakteristik Light Emiting Diode dan


Hubungan V-I
Sebuah LED yang dihubungkan pada rangkaian
forward bias yang melintasi sumber tegangan harus
menggunakan pembatas arus (current limiting)
menggunakan sebuah resistor untuk melindungi dari
aliran arus yang berlebihan. Jangan menghubungkan
langsung LED dengan sebuah sumber tegangan misalkan
seperti baterai atau sumber tegangan adaptor karena hal
ini akan merusak LED dengan cepat karena terlalu besar
arus yang melewatinya dan bahkan dapat terbakar.
Kemudian, menentukan berapa tegangan yang
digunakan untuk LED. Contohnya, jika menggunakan
regulator 5 V, berati tegangan yang digunakan adalah 5 V.
Jika menggunakan baterei 6 V, bearti tegangan yang
digunakan 6 V.

c. Nilai Resistor untuk LED

Salah satu kegunaan LED yang paling sering


ditemukan adalah sebagai Lampu Indikator, terutama
pada indikator ON / OFF sebuah perangkat Elektronika.
Hal ini dikarenakan kelebihan LED yang mengkonsumsi
arus listrik lebih kecil dibandingkan dengan jenis-jenis
lampu lainnya.

LED memiliki arus maju (Forward Current)


maksimum yang cukup rendah sehingga dalam
merangkai LED, kita harus menempatkan sebuah Resistor
yang berfungsi sebagai pembatas arus agar arus yang
melewati LED tidak melebihi batas maksimum arus maju
LED itu sendiri. Jika tidak, LED akan mudah terbakar dan
rusak.
Rata-rata arus maju (Forward Current) maksimum
sebuah LED adalah sekitar 25mA sampai 30mA
tergantung jenis dan warnanya. Berikut ini adalah tabel
arus maju maksimum dan tegangan maju untuk masing-
masing jenis dan warna LED pada umumnya (LED bulat
dengan diameter 5mm).

VF VR
Jenis LED Warna IF Max VF (Type)
Max Max

Standar Merah 30mA 1,7V 2,1V 5V

Merah
Standar 30mA 2,0V 2,5V 5V
Terang

Standar Kuning 30mA 2,1V 2,5V 5V

Standar Hijau 20mA 2,2V 2,5V 5V

High
Biru 30mA 4,5V 5,5V 5V
Intensity

Super Bright Merah 30mA 1,85V 2,5V 5V

Low Current Merah 30mA 1,7V 2,0V 5V

Keterangan :
IF Max : Arus Maju (Forward Current) Maksimal
VL : Tegangan LED
VF Max : Tegangan Maju (Forward Voltage) maksimum
VR Max : Tegangan Terbalik (Reverse Voltage) maksimum

d. Menghitung Nilai Resistor untuk LED

Setelah kita mengetahui Tegangan dan Arus Maju


untuk LED seperti pada tabel diatas, maka kita dapat
menghitung nilai Resistor yang diperlukan untuk
rangkaian LED agar LED yang bersangkutan tidak
terbakar atau rusak karena kelebihan arus dan tegangan.

Rumus yang dipakai adalah sebagai berikut :

Dimana :
RS = Nilai Resistor yang diperlukan (dalam Ohm (Ω))
VS = Tegangan Input (dalam Volt (V))
VF = Tegangan LED (dalam Volt (V))
I = Arus Maju LED (dalam Ampere (A))

Resistor disini berfungsi sebagai pengatur kuat arus


uang mengalir pada LED. Resistor dipasang seri dengan
LED. Jika tidak ada pengatur kuat arus maka LED akan
terbakar.

Arus menentukan seberapa terang sebuah LED. Lebih


besar arus maka lebih terang pula LED itu. Arus pada LED
seharusnya sekitar 10 – 20 mA. Ketika arus melewati
sebuah LED, jatuh tegangan pada LED sekitar 1,6 V,
sebenarnya tergantung pada arus juga. Jadi begitulah
gunanya sebuah resistor.

Secara matematis besarnya nilai resistor pembatas


arus LED (Light Emitting Dioda) dapat ditentukan
menggunakan persamaan berikut.
Dimana :
R = resistor pembatas arus (Ohm)
Vs = tegangan sumber yang digunakan untuk mensupply
tegangan ke LED (volt)
2 volt = tegangan LED (volt)
0,02 A = arus maksimal LED (20 mA)
Contoh 1 :
Sebuah LED dengan warna Orange (Amber) Tengangan jatuh
forward bias dalam LED sebesar 2V dihubungkan dengan
sumber tegangan DC. Gunakan rangkaian seperti gambar
diatas untuk menghitung nilai resistor seri yang digunakan
untuk membatasi arus maju (forward) ke kurang dari 10
mA.Dan juga hitung arus yang melewati pada dioda jika
diganti dengan Resistor 100 Ohm.
Jawab :
1) Resistor resi yang digunakan 10mA

2) Dengan resistor 100 Ohm


Contoh 2 :
Jika kita ingin membuat rangkaian seperti dibawah dimana
LED dihubungkan dengan sumber tegangan sebesar 9V,
maka akan dapat langsung merusak LED tersebut, bahkan
elemen pada dioda LED tersebut dapat terbakar.

Cara yang tepat adalah dengan ditambahkannya resistor,


paling tidak sekitar 1k Ohm. Hal ini berguna untuk
membatasi arus berlebih yang masuk ke dioda dan tidak
meruksaknya. Seperti gambar dibawah :
Semakin rendah nilai resistor, semakin terang nyala lampu
LED tersebut.
Hal yang perlu diingat dalam perhitungan, Arus Maju
LED (I) tidak boleh melebihi Arus Maju Maksimal (IF Max)
yang telah ditentukan seperti tertera di dalam tabel atas.
Resistor yang berfungsi sebagai pembatas arus ini
dipasang secara seri dengan LED seperti gambar rangkaian di
bawah ini :
Rangkaian Indikator LED untuk arus DC
Rangkaian Indikator LED pada sumber arus AC

Rangkaian yang ditunjukkan di diatas ini adalah


salah satu aplikasi utama LED. Rangkaian ini dirancang oleh
kabel secara paralel terbalik dengan dioda normal, untuk
mencegah perangkat dari menjadi reverse bias. Nilai
resistansi seri harus setengah, relatif terhadap sirkuit DC.

e. Keuntungan dari Dioda LED

1. Tegangan yang sangat rendah dan saat ini cukup


untuk mendorong LED.
2. Rentang tegangan - 1 sampai 2 volt.
3. Arus (Current) - 5 sampai 20 milliampere.
4. Jumlah output daya kurang dari 150 miliwatt.
5. Waktu respon sangat hanya sekitar 10 nanodetik.
6. Perangkat ini tidak memerlukan pemanasan apapun
dan hangat waktu.
7. Bentuk ukuran mulai dari kecil seperti miniatur
sampai seukuran lampu biasanya
8. Memiliki konstruksi kasar dan karenanya dapat
menahan getaran.
9. Sebuah LED memiliki rentang hidup lebih dari 20
tahun.

f. Kekurangan

1. Sedikit kelebihan tegangan atau arus dapat merusak


perangkat.
2. Perangkat ini dikenal memiliki bandwidth yang
jauh lebih luas dibandingkan dengan laser.
3. Suhu tergantung pada daya output radiasi dan
panjang gelombang.

Contoh Menghitung Nilai Resistor untuk LED


Berikut ini beberapa contoh perhitungan nilai resistor yang
diperlukan untuk Rangkaian Indikator LED.

Contoh 1 :
Jika tegangan Input adalah 12V dan LED yang digunakan
adalah LED Hijau (VL = 2.2V), Arus Maju (I) adalah 20mA
(diganti menjadi Ampere menjadi 0.02A). Berapakah Nilai
Resistor yang diperlukan?
Penyelesaian :
Diketahui :
VS = 12V
VL = 2.2V
I = 0.02A
R=?
Jawaban :
R = (VS – VL) / I
R = (12V – 2.2V) / 0.02A
R = 490Ω

Nilai Resistor Standar yang mudah didapatkan di


pasaran adalah 510Ω (usahakan untuk menggunakan nilai
resistor standar terdekat yang nilai resistansinya lebih tinggi).
Contoh 2 :
Jika tegangan Input adalah 9V dan LED yang digunakan
adalah LED Biru (VL = 4.5V), Arus Maju (I) adalah 25mA
(diganti menjadi Ampere menjadi 0.025A). Berapakah Nilai
Resistor yang diperlukan?
Penyelesaian :
Diketahui :
VS = 9V
VL = 4.5V
I = 0.025A
R=?

Jawaban :
R = (VS – VL) / I
R = (9V – 4.5V) / 0.025A
R = 180Ω
Pada dasarnya, rumus perhitungan Nilai Resistor ini
adalah berdasarkan Hukum Ohm. Untuk mengetahui lebih
jelas mengenai Hukum Ohm.

g. Rangkaian LED Seri

Kita dapat menghubungkan dari beberapa LED


yang dirangkai seri untuk menambah jumlah yang
dibutuhkan, untuk menungkaitkan level pencahayaan
atau pensinyalan ketika menggunakan pada suatu
display.

Sama seperti menggunakan resistor yang dirangkai


seri, LED dihubungkan dalam rangkaian seri dengan
semuanya pada posisi arus forward bias (IF), yang
mengalir melalui hubungan anoda ke katoda.
Jika semua LED dihubungkan dengan rangkaian seri,
arus yang melalui rangkaian adalah sama, namun lebih
baik jika pada tipe atau warna yang sama.
Rangkaian Seri LED

Meskipun LED dirangkai seri dan arus yang


melaluinya adalah sama, tegangan jatuh (voltage drop) seri
diantara LED-LED perlu dipertimbangkan ketika menghitung
nilai resistansinya yang akan digunakan untuk membatasi
arus atau nilai resistor yang diperukan (RS).
Setiap LED memiliki tegangan jatuh (voltage drop)
ketika sebuah LED membutuhkan tegangan 1,2 volt,
kemudian tegangan jatuh (voltage drop) pada ketiga nya akan
menjadi 3 x 1,2 volt = 3,6 volt.
Jika kita menganggap bahwa ketiga LED tadi
diberikan tegangan 5 volt dengan arus sekitar 10mA (sama
seperti gambar diatas). Kemudian tegangan jatuh yang
mengalir pada resistor, maka nilainya dapat dihitung :

Catatan :
Pada komponen resistor dipasaran, untuk
mendapatkan nilai resistor 140 Ohm kita dapat menggunakan
nilai resistansi yang mendekati pada range 140 Ohm tersebut,
misalakan kita dapat menggunakan 150 Ohm dengan
Toleransi +/- 10% (kode warnanya adalah Coklat-Hijau-
Hitam-Hitam-Perak).

h. Rangkaian LED Driver

Dari beberapa teori tentang LED, ada fungsi


penggunaan LED lainnya disamping sebagai pencahayaan
atau pensinyalan, yaitu untuk mengendalikan pensaklaran
"ON" dan "OFF". Output keluaran dari gerbang logika IC
TTL dan CMOS keduanya antara tegangannya dan arus
sinking (arus listrik mengalir dari positif battery melalui
kolektor-emitor dan ke ground) keduanya berguna
sehingga dapat menggerakan / drive sebuah LED. Output
normal IC (Integrated Circuit) memiliki arus output drive
sekitar 50mA pada konfigurasi sink mode, tetapi memiliki
output interal yang terbatas sekitar 30mA pada
konfigurasi source mode.

Salah satu cara arus LED harus dibatasi oleh nilai


yang aman menggunkan sebuah resistor seri seperti yang
sudah kita pahami sebelumnya. Dibawah ini adalah
contoh LED driver menggunakan Inverting IC tetapi
dengan ide yang sama untuk tipe output Integrated Circuit
baik rangkaian kombinasional ataupun sekuensial.

i. Rangkaian Driver IC
Jika LED lebih dari satu yang digunakan untuk
mendrive pada waktu yang sama, seperti barisan LED-LED
dalam jumlah yang banyak, atau beban arus yang tinggi
untuk IC (Integrated Circuit) atau hanya ingin menggunakan
komponen diskrit dari IC, maka cara alternatif untuk
mendrive LED-LED menggunakan baik transistor bipolar
NPN atau PNP sebagai saklar (switch) seperti gambar
dibawah. Seperti sebelumnya, rangkaian ini menggunakan
sebuah resistor yang diserikan dengan LED yang digunakan
untuk membatas arus pada LED

j. Rangkaian Driver Transistor


Tingkat kecerahan dari light emiting diode
(LED) tidak dapat mengontrol dengan
memvariasikan arus yang melewatinya. Membiarkan
arus berlebih yang melewati disekitar LED akan
membuat lebih bersinar terang tetapi juga dapat
menyebabkan disipasi panas berlebih. Dioda LED
dibuat untuk menghasilkan sejumlah cahaya tertentu
yang dirangkai secara forward bias mulai dari sekitar
10mA sampai 20mA.

Penggunaan arus yang sedikit akan


memungkinkan pada situasi penghematan daya.
Namun bagaimanapun jika mengurangi arus dibawh
5mA akan membuat redup cahaya yang akan keluar
atau jika memasang LED teralu banyak.

Cara yang lebih baik untuk mengontrol


tingkat kecerahan LED ialah dengan menggunakan
sebuah proses kontrol yang dikenal dengan "Pulse
Width Modulation" atau PWM. Dimana LED berulang
kali berubah dari keadaan "ON" dan "OFF" pada
beberapa frekuensi tergantung intensitas
pencahayaan yang dibutuhkan.
k. Intensitas Cahaya LED Menggunakan PWM

Pada gambar diatas, konfigurasi LED dengan PWM


dikendalikan oleh duty-cycle, LED dalam kondisi "ON-OFF"
dimana dalam kecepatan yang tidak dapat diihat dengan
mata manusia sangat cepat perubahannya karena diberikan
frekuensi pulsa yang cukup tinggi, sehingga muncul sebagai
output pencahayaan yang berkedip dan secara kontinyu.
Pulsa pada frekuensi 100Hz atau lebih besar terlihat lebih
terang dan juga sebaliknya jika semakin rendah pulsa yang
diberikan oleh PWM, maka LED akan semakin redup.

l. LED dengan Banyak Warna (Multi Colour)

LED tersedia dalam beberapa macam bentuk, warna


dan berbagai ukuran dengan intensitas cahaya yang
berbeda-beda. Yang paling umum dan murah adalah LED
standar dengan ukuran 5mm dengan bahan Red Galium
Arsenide Phoshide (GaAsP).

LED juga dikemas dalam beberapa macam misalkan


dalam bentuk huruf dan angka, yang paling umum adalah
display Seven Segmen.

Bahkan saat ini untuk Televisi Full Colour dengan


layar datar menggunakan display LED dengan
multicoloured LED yang dikontrol oleh IC.
Kebanyakan dioda LED hanya memancarkan cahaya
hanya satu warna output saja. Namun terdapat pula LED
dengan berbagai warna yang berbeda dalam satu
komponen.

m. Bi-Coloured Light Emiting Diode (LED dengan Dua


Warna)

Bi-colour Light Emiting Diode (LED) memiliki dua


chip yang dihubungkan bersama pada hubungan "paralel
terbalik". salah satu kondisi diode dipasang forward dan
diode yang satunya lagi dihubungkan dengan reverse.
Pada Bi-coulour LED ini menghasilkan salah satu dari dua
warna, misalkan Warna merah yang dipancarkan bila
perangkat terhubung dengan arus yang mengalir dalam
satu arah dan warna hijau dipancarkan ketika bias ke arah
lain.

Jenis pengaturan LED ini yang secara Bi-directional


(dua arah) ini berguna untuk memberikan indikasi
polaritas, misalkan sambungan yang benar dari suatu
sumber tegangan DC (baterai) dan lainnya. Dalam satu
komponen terdapat dua warna yang dicampur dan akan
saling bergantian dengan cahaya output dari LED.

Terminal A
LED AC
+ -

LED
ON OFF ON
Ke-1

LED
OFF ON ON
Ke-2
Warna Hijau Merah Kuning

Warna Merah dan Hijau merupakan warna pergantian antara


LED,

1. Jika arus mengalir melalu A ke B maka LED yang akan


menyala "ON" adalah warna Hijau.
2. Jika arus mengalir melalu B ke A maka LED yang akan
menyala "ON" adalah warna Merah.
3. Jika arus AC yang mengalir pada LED, maka warna dasar
dari LED (Kuning) yang akan menyala "ON"

Gambar Dioda LED Bi-colour


n. Tri-Coloured Light Emiting Diode (LED dengan Tiga
Warna)

Jenis LED yang paling banyak dipasaran adalah LED


yang terdiri dari Tiga warna dalam satu komponen
dengan terminal katoda yang dihubungkan bersama,
sehingga menghasilkan tiga terminal (kutub kaki
komponen). Ini disebut juga dengan Tricolour LED

Pada LED tiga warna ini juga dapat menghasilkan


tambahan warna utama (pada warna ke-3) seperti Orange
dan Kuning dengan mengaktifkan "ON" kedua LED dalam
rasio yang berbeda dari arus forward bias seperti
diperlihatkan pada tabel sehingga menghasilkan 4 warna
yang berbeda dari 2 diode junction

o. Multi atau Tricoloured LED


Gambar Tricoloured LED dengan 3 Terminal Kaki Komponen

Output Warna Merah Orange Kuning Hijau

Arus pada LED 1 0 5mA 9,5mA 1,5mA

Arus pada LED 2 10mA 6,5mA 3,5mA 0

Gambar Tricoloured LED dengan 4 Terminal Kaki


Komponen LED dengan warna tunggal ataupun bermacam-
macam warna dapat dikombinasikan engan sebuah kemasan
tunggal yang dapat menghasilkan banyak warna. LED
semacam ini biasanya digunakan untuk display maupun
seven segmen, bargraph dan lain-lain.

p. Kelebihan LED dan Kekurangan LED

Seiring dengan semakin mahalnya biaya listrik dan


semakin meningkatnya kesadaran tentang pentingnya
menjaga lingkungan hidup, Lampu penerang yang terbuat
dari LED menjadi semakin populer dan mulai
menggantikan peranan Lampu penerang yang saat ini
masih dijuluki sebagai Lampu “Energy Saving (Hemat
Energi)” yakni Lampu Fluorescent atau CFL (Compact
Fluorescent Lamp). Terutama bagi Perusahaan-
perusahaan yang memerlukan Penerangan hingga 24 Jam
sehari, penghematan Listrik dengan menggantikan Lampu
TL (Tube Lamp) atau CFL (Compact Fluorescent Lamp)
menjadi Lampu LED menjadi semakin penting dan
mendesak (Urgent).

1. Kelebihan LED sebagai Lampu Penerang


LED adalah singkatan dari Light Emitting Diodes yaitu
Komponen Elektronika yang terbuat dari
Semikonduktor yang dapat menghantarkan arus listrik
ke satu arah dan menghambat arus listrik dari arah
sebaliknya. LED merupakan jenis Dioda yang dapat
memancarkan cahaya saat dialiri arus listrik. Teknologi
LED (Light Emitting Diodes) yang diperuntukan
menjadi Lampu Penerang menjadi semakin matang
dan berkembang serta menjadi salah satu pilihan
terbaik dalam industri maupun rumah tangga dalam
hal penghematan biaya listrik. Beberapa Produsen
Lampu penerang (lighting) yang mulai giat
mempromosikan dan memproduksi massal Lampu
LED sebagai Lampu Penerang umum diantaranya
adalah Philips, OSRAM, Panasonic dan GE (General
Electric).

Untuk lebih jelas mengenai kelebihan atau


keuntungan dalam pemakaian Lampu LED sebagai alat
penerangan, berikut ini adalah 6 alasan utama
mengapa kita dianjurkan untuk memakai Lampu LED
(Light Emitting Diodes) serta perbandingannya dengan
lampu CFL (Compact Fluorescent Lamp) dan Lampu
Pijar (incandescent Lamp).
2. Umur Penggunaan yang lebih lama

Berdasarkan data dari Philips, Lampu LED


dapat digunakan hingga 15.000 Jam, sedangkan
Lampu CFL hanya dapat bertahan hingga 8.000 Jam.
Berarti Lampu LED lebih awet 2 kali lipat dari Lampu
CFL yang kita gunakan saat ini. Jika dibandingkan
dengan Lampu Pijar, keawetan Lampu LED adalah
15 kali lebih baik dari Lampu Pijar yang hanya dapat
digunakan hingga 1.000 Jam saja.

3. Hemat Listrik

Salah satu nilai Jual Lampu LED adalah


kelebihannya dalam menghemat pemakaian Listrik.
Sebuah Lampu LED 9 Watt dapat menggantikan
Lampu CFL 12 Watt dengan hasil terang cahaya
(Lumen) yang sama. Berarti Lampu LED lebih hemat
listrik sekitar 25% dibanding dengan Lampu CFL.
Jika dibandingkan dengan Lampu Pijar, maka Lampu
LED lebih hemat sekitar 85% dari Lampu Pijar
(Lampu Pijar memerlukan 60 Watt untuk menghasil
terang cahaya yang sama yaitu 600 LM).

4. Ramah Lingkungan

Lampu LED tidak mengandung Merkuri


yaitu bahan kimia yang dapat membahayakan
Lingkungan hidup. Bahan-bahan pembuat Lampu
LED terdiri dari bahan yang tidak berbahaya (non-
toxic) dan dapat di daur ulang (Recycle). Di samping
itu, daya tahan Lampu LED yang lama juga dapat
menghemat sumber daya dalam memproduksinya.

5. Tidak Menimbulkan Panas dan Emisi UV


(Ultraviolet)

Lampu LED tidak memproduksi Sinar UV


(Ultraviolet) dan juga Energi Panas sehingga sangat
cocok untuk menerangi lokasi yang meletakan
produk ataupun bahan yang sensitif terhadap emisi
UV seperti penerangan di Museum, situs Arkeologi
dan Galeri kesenian.

6. Frekuensi Switching

Lampu LED dapat di ON-kan dan OFF-kan


sesering mungkin tanpa mempengaruhi umur
penggunaannya sedangkan Lampu CFL akan cepat
rusak jika sering di-ON-kan dan OFF-kan (Frekuensi
Switching yang tinggi).

7. Waktu penyalaan yang cepat (Instan)


Lampu LED dapat menyala (ON) dan
mencapai titik terang maksimal dalam waktu yang
sangat cepat. Hal ini sangat berbeda dengan Lampu
CFL (Compact Fluorescent Lamp) yang memerlukan
beberapa detik untuk mencapai titik terang yang
maksimal. Dengan demikian, Lampu LED sangat
cocok untuk digunakan sebagai lampu Signal
ataupun Lampu lalu lintas.

Meskipun harga Lampu LED lebih tinggi


dibandingkan dengan Lampu CFL, tetapi jika
dibandingkan dengan kelebihan yang dapat
diperoleh dari Lampu LED maka dapat disimpulkan
bahwa pemakaian Lampu LED memang lebih
diuntungkan baik dari segi Ekonomi maupun segi
perlindungan Lingkungan Hidup. Sebagai Informasi
pembanding, Harga sebuah Lampu LED 9 Watt saat
ini adalah sekitar Rp. 100.000 sedangkan harga
Lampu CFL 12 Watt adalah sekitar Rp. 35.000.
Namun secara garis besar, harga lampu LED lebih
mahal dibanding lampu CFL, namun Lampu LED
memiliki kualitas yang baik.

8. Dasar 7 Segment Display menggunakan Dioda LED


7 Segment Display - Display 7 Segmen atau
dalam bahasa Inggris disebut dengan 7 Segment
Display adalah komponen Elektronika yang dapat
menampilkan angka desimal melalui kombinasi-
kombinasi segmennya. 7 Segment Display pada
umumnya dipakai pada Jam Digital, Kalkulator,
Penghitung atau Counter Digital, Multimeter Digital
dan juga Panel Display Digital seperti pada
Microwave Oven ataupun Pengatur Suhu Digital .
Display 7 Segmen pertama diperkenalkan dan
dipatenkan pada tahun 1908 oleh Frank. W. Wood
dan mulai dikenal luas pada tahun 1970-an setelah
aplikasinya pada LED (Light Emitting Diode).
Display 7 Segmen memiliki 7 Segmen dimana
setiap segmen dikendalikan secara ON dan OFF
untuk menampilkan angka yang diinginkan. Angka-
angka dari 0 (nol) sampai 9 (Sembilan) dapat
ditampilkan dengan menggunakan beberapa
kombinasi Segmen. Selain 0 sampai 9, Display 7
Segmen juga dapat menampilkan Huruf Hexadecimal
dari A sampai F. Segmen atau elemen-elemen pada
Display 7 Segmen diatur menjadi bentuk angka "8"
yang agak miring ke kanan dengan tujuan untuk
mempermudah pembacaannya. Pada beberapa
Display 7 Segmen, terdapat penambahan "titik" yang
menunjukan angka koma decimal. Terdapat beberapa
jenis Display 7 Segmen, diantaranya adalah
Incandescent bulbs, Fluorescent lamps (FL), Liquid
Crystal Display (LCD) dan Light Emitting Diode
(LED).

q. LED 7 Segmen ( 7 Segment LED )

Salah satu jenis Display 7 Segmen yang sering


digunakan oleh para penghobi Elektronika adalah 7
Segmen yang menggunakan LED (Light Emitting Diode)
sebagai penerangnya. LED 7 Segmen ini umumnya
memiliki 7 Segmen atau elemen garis dan 1 segmen titik
yang menandakan "koma" Desimal. Jadi Jumlah
keseluruhan segmen atau elemen LED sebenarnya adalah
8. Cara kerjanya pun boleh dikatakan mudah, ketika
segmen atau elemen tertentu diberikan arus listrik, maka
Display akan menampilkan angka atau digit yang
diinginkan sesuai dengan kombinasi yang diberikan.
Terdapat 2 Jenis LED 7 Segmen, diantaranya adalah "LED 7
Segmen common Cathode" dan "LED 7 Segmen common
Anode".

LED 7 Segmen Common Cathode (Katoda)


Pada LED 7 Segmen jenis Common Cathode (Katoda),
Kaki Katoda pada semua segmen LED adalah terhubung
menjadi 1 Pin, sedangkan Kaki Anoda akan menjadi Input
untuk masing-masing Segmen LED. Kaki Katoda yang
terhubung menjadi 1 Pin ini merupakan Terminal Negatif (-)
atau Ground sedangkan Signal Kendali (Control Signal) akan
diberikan kepada masing-masing Kaki Anoda Segmen LED.7
Segment display (common cahtode.
LED 7 Segmen Common Anode (Anoda)
Pada LED 7 Segmen jenis Common Anode
(Anoda), Kaki Anoda pada semua segmen LED adalah
terhubung menjadi 1 Pin, sedangkan kaki Katoda akan
menjadi Input untuk masing-masing Segmen LED. Kaki
Anoda yang terhubung menjadi 1 Pin ini akan diberikan
Tegangan Positif (+) dan Signal Kendali (control signal)
akan diberikan kepada masing-masing Kaki Katoda
Segmen LED.7 Segment Display (Common Anode)

r. Prinsip Kerja Dasar Driver System pada LED 7 Segmen

Berikut ini adalah Blok Diagram Dasar untuk mengendalikan


LED 7 Segmen :
Blok Diagram 7 Segment Display
Blok Dekoder pada diagram diatas
mengubah sinyal Input yang diberikan menjadi 8
jalur yaitu "a" sampai "g" dan poin decimal (koma)
untuk meng-ON-kan segmen sehingga menghasilkan
angka atau digit yang diinginkan. Contohnya, jika
output dekoder adalah a, b, dan c, maka Segmen LED
akan menyala menjadi angka ""7". Jika Sinyal Input
adalah berbentuk Analog, maka diperlukan ADC
(Analog to Digital Converter) untuk mengubah sinyal
analog menjadi Digital sebelum masuk ke Input
Dekoder. Jika Sinyal Input sudah merupakan Sinyal
Digital, maka Dekoder akan menanganinya sendiri
tanpa harus menggunakan ADC.
Fungsi daripada Blok Driver adalah untuk
memberikan arus listrik yang cukup kepada
Segmen/Elemen LED untuk menyala. Pada Tipe
Dekoder tertentu, Dekoder sendiri dapat
mengeluarkan Tegangan dan Arus listrik yang cukup
untuk menyalakan Segmen LED maka Blok Driver ini
tidak diperlukan. Pada umumnya Driver untuk
menyalakan 7 Segmen ini adalah terdiri dari 8
Transistor Switch pada masing-masing elemen LED.

s. Dioda Khusus : Thyristor

Thyristor termasuk jenis semikonduktor. Kata


Thyristor diambil dari bahasa yunani yang berarti pintu.
Fungsi utama Thyristor adalah sebagai saklar. Thyristor
yang sering dipakai ada tiga, yaitu SCR, DIAC, dan
TRIAC.

Simbol Thyristor :
Bentuk Fisik Thyristor

11. Dioda SCR

SCR singkatan dari Silicon Control Rectifier. SCR


adalah diode yang mempunyai fungsi sebagai
pengendali. SCR merupakan thyristor yang paling sering
digunakan. SCR dapat melakukan penyaklaran untuk
arus yang besar. Silicon Controlled Rectifier (SCR)
merupakan alat semikonduktor empat lapis (PNPN) yang
menggunakan tiga kaki yaitu anoda (anode), katoda
(cathode), dan gerbang (gate) – dalam operasinya.

Disamping itu, pemicuan gerbang lebih mudah


dibandingkan dengan pemicuan breakover. Karena itu
banyak digunakan untuk mengatur motor, pemanas, AC,
dan pemanas induksi. Adapun bagian-bagiannya adalah
sebagai berikut, komponen dengan tiga pemicu yaitu
Anoda(A),Katoda(K) dan Gate(G).

Simbol untuk SCR:

Bentuk Fisik Dioda SCR :

Diagram dan skema SCR:


Gambar Diagram dan Skema SCR
a) Susunannya. (b) Susunan ekivalen. (c) Rangkaian ekivalen.
(d) Simbol Rangkaian
Kontruksi SCR :

Gambar Konstruksi dari SCR

SCR dapat dikategorikan menurut jumlah arus yang


dapat beroperasi, yaitu SCR arus rendah dan SCR arus tinggi.
SCR arus rendah dapat bekerja dengan arus anoda kurang
dari 1 A sedangkan SCR arus tinggi dapat menangani arus
beban sampai ribuan ampere.
Pada kenyataannya, SCR mirip dengan dioda karena
SCR menghantarkan hanya pada satu arah. SCR harus diberi
bias maju dari anoda ke katoda untuk konduksi arus. Tidak
seperti pada dioda, ujung gerbang yang digunakan berfungsi
untuk menghidupkan alat.

Kegunaan SCR:

1. Sebagai rangkaian Saklar (switch control)


2. Sebagai rangkaian pengendali (remote control)

Ada tiga kelompok besar untuk semikonduktor ini


yang sama-sama dapat berfungsi sebagai Saklar (Switching)
pada tegangan 120 volt sampai 240 volt. Ketiga kelompok
tersebut adalah SCR ini sendiri, DIAC dan TRIAC.
a. Cara Kerja SCR

Adapun cara kerja dari SCR kita bisa terangkan ini


dengan sebuah rangkaian elektronik persegi sebagai berikut:
Saat kita menghubungkan SCR ke sumber tegangan,
plus(+) dan minus(-) ke K dan jangan menyuplai tegangan ke
gate(G), kedua transisitor dalam keadaaan cutoff. Menyuplai
pulsa (bahkan untuk waktu yang sangat pendek) ke gate
menyebabkan transistor Q2 terhubung. Penghubungan ini
menciptakan aliran arus yang pokok untuk transisitor Q1.
Arus ini terhubung dan menyebabkan aliran yang rata ke
base Q2. Aliran ini menjaga transistor Q2 dalam keadaan
terhubung, yang mana menjaga transistor Q1 dalam keadaan
terhubung walaupun pulsa dalam gate dalam keadaan
berhenti. Tipe dari penekanan tombol ini disebut penekanan
regeneratif termasuk umpan balik positif.

Karakter SCR terlihat pada gambar berikut:


Gambar Karakter SCR

Dalam tegangan belakang SCR seperti diode.Ini tidak


akan terhubung sampai alat ini breaks-over. Komponen SCR
dirancang untuk brek-over tegangan yang tinggi (dalam hal
ini untuk menghindari situasi ini). Vx lebih besar dari 400 V.

c. Operasi SCR

Operasi SCR sama dengan operasi dioda standar


kecuali bahwa SCR memerlukan tegangan positif pada
gerbang untuk menghidupkan saklar. Gerbang SCR
dihubungkan dengan basis transistor internal, dan untuk
itu diperlukan setidaknya 0,7 V untuk memicu SCR.
Tegangan ini disebut sebagai tegangan pemicu gerbang
(gate trigger voltage). Biasanya pabrik pembuat SCR
memberikan data arus masukan minimum yang
dibutuhkan untuk menghidupkan SCR. Lembar data
(Data sheet) menyebutkan arus ini sebagai arus pemicu
gerbang (gate trigger current). Sebagai contoh lembar data
2N4441 memberikan tegangan dan arus pemicu :
VGT = 0,75 V
IGT = 10 mA
Hal ini berarti sumber yang menggerakkan gerbang
2N4441 harus mencatu 10 mA pada tegangan 0,75 V untuk
mengunci SCR.

d. SCR yang dioperasikan dari sumber DC

Gambar SCR yang dioperasikan dari sumber DC


Skema rangkaian penghubungan SCR yang
dioperasikan dari sumber DC diperlihatkan pada Gambar
diatas. Anoda terhubung sehingga positif terhadap katoda
(bias maju). Penutupan sebentar tombol tekan (push button)
PB1 memberikan pengaruh positif tegangan terbatas pada
gerbang SCR, yang men-switch ON rangkaian anoda-katoda,
atau pada konduksi, kemudian menghidupkan
lampu.Rangkaian anoda-katoda akan terhubung ON hanya
satu arah.
Hal ini terjadi hanya apabila anoda positif terhadap
katoda dan tegangan positif diberikan kepada gerbang Ketika
SCR ON, SCR akan tetap ON, bahkan sesudah tegangan
gerbang dilepas. Satu-satunya cara mematikan SCR adalah
penekanan tombol tekan PB2 sebentar, yang akan
mengurangi arus anoda-katoda sampai nol atau dengan
melepaskan tegangan sumber dari rangkaian anoda-katoda.
SCR dapat digunakan untuk penghubungan arus pada beban
yang dihubungkan pada sumber AC. Karena SCR adalah
penyearah, maka hanya dapat menghantarkan setengah dari
gelombang input AC. Oleh karena itu, output maksimum
yang diberikan adalah 50%; bentuknya adalah bentuk
gelombang DC yang berdenyut setengah gelombang.
SCR yang dioperasikan dari sumber AC
Gambar SCR yang dioperasikan dari sumber AC
Skema penghubungan rangkaian SCR yang
dioperasikan dari sumber AC diperlihatkan oleh Gambar
diatas. Rangkaian anoda-katoda hanya dapat di switch ON
selama setengah siklus dan jika anoda adalah positif (diberi
bias maju). Dengan tombol tekan PB1 terbuka, arus gerbang
tidak mengalir sehingga rangkaian anoda-katoda bertahan
OFF. Dengan menekan tombol tekan PB1 dan terus-menerus
tertutup, menyebabkan rangkaian gerbang-katoda dan
anoda-katoda diberi bias maju pada waktu yang sama.
Prosedur arus searah berdenyut setengah gelombang
melewati depan lampu. Ketika tombol tekan PB1 dilepaskan,
arus anoda-katoda secara otomatis menutup OFF ketika
tegangan AC turun ke nol pada gelombang sinus.
Gambar Aplikasi SCR sebagai kontrol output suplay daya
pada motor DC
Ketika SCR dihubungkan pada sumber tegangan AC,
SCR dapat juga digunakan untuk merubah atau mengatur
jumlah daya yang diberikan pada beban. Pada dasarnya
SCR melakukan fungsi yang sama seperti rheostat, tetapi
SCR jauh lebih efisien. Gambar diatas menggambarkan
penggunaan SCR untuk mengatur dan menyearahkan
suplai daya pada motor DC dari sumber AC.
Gambar Aplikasi SCR untuk start lunak motor AC induksi

3 fase
Rangkaian SCR dari Gambar diatas dapat digunakan
untuk “start lunak” dari motor induksi 3 fase. Dua SCR
dihubungkan secara terbalik paralel untuk memperoleh
kontrol gelombang penuh. Dalam tema hubungan ini, SCR
pertama mengontrol tegangan apabila tegangan positif
dengan bentuk gelombang sinus dan SCR yang lain
mengontrol tegangan apabila tegangan negatif. Kontrol
arus dan percepatan dicapai dengan pemberian trigger
dan penyelaan SCR pada waktu yang berbeda selama
setengah siklus. Jika pulsa gerbang diberikan awal pada
setengah siklus, maka outputnya tinggi. Jika pulsa
gerbang diberikan terlambat pada setengah siklus, hanya
sebagian kecil dari bentuk gelombang dilewatkan dan
mengakibatkan outputnya rendah.

e. Aplikasi SCR

Pada aplikasinya, SCR tepat digunakan sebagai saklar


solid-state, namun tidak dapat memperkuat sinyal seperti
halnya transistor. SCR juga banyak digunakan untuk
mengatur dan menyearahkan suplai daya pada motor DC
dari sumber AC, pemanas, AC, melindungi beban yang
mahal (diproteksi) terhadap kelebihan tegangan yang
berasal dari catu daya, digunakan untuk “start lunak” dari
motor induksi 3 fase dan pemanas induksi. Sebagian besar
SCR mempunyai perlengkapan untuk penyerapan
berbagai jenis panas untuk mendisipasi panas internal
dalam pengoperasiannya.

1. Aplikasi SCR pada saklar solid state

Solid state relay berfungsi sama seperti halnya relay


mekanik, dengan solid state relay kita dapat
mengendalikan beban AC maupun DC daya besar
dengan sinyal logika TTL. Rangkaian solid state relay
terdiri dari 2 jenis, yaitu solid state relay DC dan solid
state relay AC. Pada gambar rangkaian dibawah
merupakan skema dari rangkaian solid state relay yang
digunakan untuk jaringan AC 220V dengan daya
maksimum 500 watt. Rangkaian solid state relay ini
dibangun menggunakan TRIAC BT136 sebagai saklar
beban dan optocopler MOC3021 sebagai isolator. Solid
state relay pada gambar rangkaian dibawah dapat
digunakan untuk mengendalikan beban AC dengan
konsumsi daya maksimal 500 watt.

Daya maksimum rangkaian solid state relay ini


ditentukan oleh kapasitas menglirkan arus oleh TRIAC
Q1 BT136. Untuk membuat rangkaian solid state relay
dapat dilihat gambar rangkaian dan komponen yang
digunakan sebagai berikut.

Gambar Rangkaian Solid State Relay 220VAC 500W


Rangkaian solid state relay pada gambar
diatas dapat digunakan untuk mengendalikan beban
dengan tegangan kerja AC dari 24 volt hingga 220
volt. Rangkaian solid state relay ini dikendalikan
dengan sinyal logika tinggi TTL 2 – 5 volt DC yang
diberikan ke jalur input solid state relay. Untuk
meningkatkan daya atau kemampuan arus solid state
relay ini dapat dilkukan dengan mengganti TRIAC
Q1 BT136 dengan TRIAC yang memiliki kapasitas
arus yang lebih besar. TRIAC Q1 BT136 pada
rangkaian solid state relay diatas harus dilengkapi
dengan pendingin (heatsink) untuk meredam panas
yang dihasilkan TRIAC pada saat mengalirkan arus
ke beban.

2. Pengontrolan Beban DC / AC

Perhatikan rangkaian pada gambar a dan b,


pada dasarnya merupakan pengontrol dc gelombang
penuh, disebut pengontrol dc/ac karena dapat
digunakan untuk mengendalikan beban AC maupun
beban DC, yang selanjutnya biasa dinamakan “Uni-bi
directional full wave controll ”.
Gambar Pengontrolan Beban AC/DC.

Untuk pemakaian beban ac sebagaimana


gambar a) bridge tidak dibebani (dihubung singkat),
beban dipasang di luar bridge. Selanjutnya untuk
beban DC sebagaimana gambar b), beban dipasang di
dalambridge sedangkan di luar bridge sambungan
rangkaian langsung ke sumber (tidak dibebani).

3. Rangkaian Pemicu (Trigger) pada Frekuensi AC-50


Hz

Pemanfaatan UJT secara konvensional


sebagai pemicu SCR melalui rangkaian relaxation
osilator merupakan pilihan yang tepat, rangkaian
relaxation oscillator uni junction transistor (RO-UJT)
dirancang agar sinyal/pulsa yang dihasilkan
senantiasa sinkron terhadap interval tegangan
sumber AC (power supply), serta mampu
menghasilkan daerah pengaturan sudut penyalaan
(a) atau sudut (j) konduksi antara 00 sampai dengan
1800, rangkaiannya sebagaimana pada gambar
dibawah berikut:

Gambar Rangkaian RO-UJT Pemicu SCR

Data teknis yang merupakan persyaratan /


pertimbangan dalam perancangan rangkaian RO-UJT
adalah: tegangan AC 220 volt / 50 Hz, UJT (misal
2N2646), tegangan bias RO-UJT (misal 12 volt dc)

Untuk menghasilkan sinyal picu yang tetap


sinkron terhadap perioda tegangan sumber AC (Us),
maka tegangan pencatu rangkaian RO-UJT adalah
tegangan dc rata yang secara periodik “off” dan
sinkron terhadap Us tersebut. Hal ini dapat dipenuhi
melalui rangkaian seri tahanan (Rz) dan zener dioda
(Dz) yang dihubungkan pada sumber dc gelombang
penuh hasil penyearahan Us melalui dioda jembatan
DB, selanjutnya tegangan output Dz (= Uz)
digunakan sebagai pencatu RO-UJT yaitu titik C-D.

Di tegangan depan SCR bisa breaks-over


dalam satu dari tiga kasus berikut:

1. Tegangan di dalam ini lebih besar dari VH


(Holding Voltage) dan arus pulsa yang tetap
diterima di gate.
2. Ketika tegangan diantara anoda dan katoda
kenaikan setinggi break-over depan VB (Break-
over Voltage). Dalam keadaan ini, hambatan
aliran tetap berhembus dalam transistor Q1, yang
menyebabkan hubungan Q2 dan dengan
demikian meningkatkan hubungan untuk Q1
sampai kedua transistor terhubung. Hal ini
biasanya bukan hubungan yang diinginkan,
dengan demikian SCR diprogram untuk VB yang
sangat tinggi (lebih dari 400 V).
3. Perubahan yang sangat cepat dari tegangan
dari VAK (tegangan diantara anoda dan katoda),
walaupun jika VAK lebih kecil dari VB. Untuk
menghindari situasi ini kapasitor kadang kala
ditambahkan dalam pararel ke SCR yang
dijelaskan pada contoh berikut:

Gambar Rangkaian SCR

4. Jenis-jenis SCR

Dalam prakteknya, dikenal berbagai piranti


pnpn yang serupa dengan SCR. Berikut ini
adalah penjelasan dari berbagai jenis SCR
tersebut.
a. LASCR ( light-activated SCR)

LASCR atau SCR aktivasi-cahaya


ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Tanda-
tanda panah menunjukkan cahaya datang yang
akan menembus jendela piranti dan mengenai
lapisan-lapisan pengosongan transistor. Bila
cahaya itu cukup kuat, elektron-elektron valensi
akan dilepaskan dari orbitorbitnya menjadi
elektron-elektron bebas. Ketika elktron-elektron
ini mengalir keluar dari kolektor dan memasuki
basis transistor, maka proses regenerasi akan
berlangsung sampai LASCR menjadi tertutup
atau menyambung.

Setelah LASCR ditutup oleh suatu picu


cahaya, keadaan ini akan bertahan terus
walaupun tidak mendapat masukan cahaya
selanjutnya. Untuk memberi sensitivitas
maksimum terhadap cahaya, gerbang SCR
dibiarkan terbuka seperti ditunjukkan oleh
Gambar dibawah. Jika dikehendaki tingkat alih
(tingkat acuan) yang dapat diubah-ubah, maka
rangkaian pengatur dapat ditambahkan seperti
diperlihatkan pada Gambar. Hambatan gerbang
akan mengalihkan sebagian dari elektron
elektron yang dihasilkan oleh cahaya masuk dan
dengan demikian mengubah kepekaan rangkaian
terhadap cahaya yang masuk.
Gambar Rangakaian LASCAR (a)
Sensitivitas maksimum (b) Titik alih yang
variabel

b. GCS ( gate-controlled switch)

Seperti yang telah diketahui, pemutusan arus


rendah merupakan cara yang normal untuk
membuka saklar SCR. Namun saklar kendali
gerbang (GCS) adalah saklar yang dirancang
untuk dibuka secara mudah dengan picu
prategangan balik. Untuk GCS penutupan
dilakukan dengan picu positif dan pembukaan
dilakukan dengan picu negatif (atau dengan
pemutusan arus rendah). Rangkaian GCS
diberikan pada Gambar 4.2.7. Setiap picu positif
akan menutup saklar tersebut dan setiap picu
negatif akan membukanya. Sebagai akibatnya
akan diperoleh keluaran gelombang persegi
seperti terlihat dalam gambar. Piranti GCS
digunakan dalam rangkaian-rangkaian pencacah,
rangkaian-rangkaian digital dan penerapan-
penerapan lain yang menyediakan picu negatif
untuk penghentian operasi.

Gambar Rangkaian GCS

c. SCS ( silikon-controlled switch)

Daerah-daerah pengandung tak-murnian


dari suatu saklar kendali silikon (SCS) diperlihatkan
pada Gambar 4.2.8. Masing-masing daerah tersebut
dihubungkan dengan penyalur luar. Bayangkan
bahwa piranti ini terdiri dari dua bagian yang
terpisah seperti ditunjukkan pada Gambar 4.2.8.
Dengan demikian sistem ini ekuivalen dengan saklar
penahan yang menyediakan saluran kepada kedua
basisnya. Suatu picu prategangan maju yang
diberikan kepada salah satu basis tersebut akan
menutup SCS. Begitu pula suatu picu prategangan
balik pada salah satu basisinya akan membuka
piranti saklar ini.

Lambang rangkaian SCS diperlihatkan pada


Gambar 4.2.8.Gerbang di bawah disebut gerbang
katode. Gerbang di atas disebut gerbang anode.
Dibandingkan dengan SCR, SCS terhitung sebagai
piranti daya rendah. Arus yang dihadapi berukuran
mili ampere dan bukan berukuran ampere seperti
dijumpai dalam operasi SCR.
Gambar SCS
(a) Susunannya. (b) susunan ekuivalen. (c) Rangkaian
ekuivalen. (d) Simbol Komponen

d. Crowbar SCR
Salah satu aplikasi penting dari SCR adalah
melindungi beban seperti IC digital terhadap kelebihan
tegangan yang berasal dari catu daya, dimana kelebihan
tegangan ini dapat menyebabkan kerusakan pada piranti
tersebut.
Pada gambar dibawah menunjukkan catu daya VCC
yang digunakan pada beban yang diproteksi. Dibawah
kondisi normal, VCC lebih kecil dari tegangan breakdown
dida zener. Dalam kasus ini, tidak ada tegangan pada R,
dan SCR akan tetap terbuka. Beban akan menerima
tegangan VCC dan semuanya baik.

Gambar Crowbar SCR


Apabila tegangan catu daya naik sehingga VCC
terlalu besar, dioda zener akan breakdown dan tegangan
akan terlihat pada hambatan R. Apabila tegangan ini lebih
besar daripada tegangan pemicu SCR, SCR akan tersulut
dan menjadi grendel yang tertutup. Tindakan ini mirip
dengan melempar sebuah crowbar melalui terminal beban.
Karena SCR akan hidup sangat cepat (1ms untuk 2N4441),
beban akan secara cepat dilindungi dari efek yang
merusakkan karena kelebihan tegangan. Kelebihan
tegangan yang menyulut SCR adalah :
Vcc =VZ + VGT
Crowbar, melalui bentuk proteksi yang drastis,
merupakan hal yang perlu untuk banyak IC digital yang
tidak dapat menahan kelebihan tegangan yang cukup
besar. Daripada merusakkan IC yang mahal, kita dapat
menggunakan SCR crowbar untuk mempersingkat
terminal beban pada saat pertama kali ada tanda
kelebihan tegangan. Dengan SCR crowbar, sebuah
sekering atau pembatas arus dibutuhkan untuk mencegah
kerusakan pada catu daya.
Crowbar pada gambar diatas merupakan sebuah
prototipe, sebuah rangkaian dasar yang dapat
dimodifikasi dan dikembangkan. Prototipe ini tepat bagi
banyak aplikasi . Akan tetapi tidak memiliki soft turn-on
karena sudut pada zener berbentuk melengkung dan tidak
bersudut tajam. Ketika kita melakukan perhitungan
toleransi tegangan zener , soft turn-on tersebut dapat
mengakibatkan tegangan daya menjadi sangat berbahaya
sebelum SCR terbakar.
Salah satu cara untuk mengatasi soft turn-on adalah
dengan menambahkan sedikit perolehan tegangan seperti
Gambar 4.2.10. Umumnya, transistor dalam keadaan mati.
Namun ketika tegangan keluaran meningkat, transistor
akhirnya menyala dan menghasilkan tegangan tegangan
tinggi diluar R4. Karena transistor menyediakan perolehan
tegangan swamped kira-kira R4 / R3, sedikit kelebihan
tegangan dapat menggerakkan SCR.

Gambar Penambahan perolehan transistor ke crowbar


Dioda yang digunakan akan mengkompensasikan
temperature dioda emitter dasar transistor. Penyesuaian
pelatuk ini menyebabkan kita mengatur trip point dari
rangkaian tersebut, yang secara tipikal berada 10 sampai 15
persen di atas tegangan normal.
Crowbar dapat ditambah dengan amplifier IC seperti Gambar
dibawah.
Kotak segitiga merupakan sebuah IC penguat yang
disebut dengan pembanding (comparator ). Penguat ini
memiliki masukan nonpembalik(+) dan inverting (-). Saat
masukan nonpembalik lebih besar dari masukan pembalik ,
maka keluaran akan positif. Ketika masukan pembalik lebih
besar daripada masukan nonpembalik, maka keluarannya
akan menjadi negatif. Penguat memiliki perolehan tegangan
yang cukup besar, biasanya 100.000 kali atau lebih. Karena
perolehan tegangan yang besar ini, rangkaian dapat
mendeteksi kelebihan tegangan yang paling kecil. Dioda
zener menghasilkan tegangan 10V, yang diberikan ke
masukan minus dari penguat.
Ketika tegangan catu 20 V (keluaran normal), penala
pemicu diset untuk menghasilkan tegangan sedikit lebih kecil
daripada 10 V pada masukan positif. Karena masukan negatif
lebih besar daripada masukan positif, keluaran penguat akan
negative dan SCR terbuka. Apabila tegangan catu di atas 20
V, masukan positif pada penguat menjadi lebih besar
daripada 10 V. Kemudian, keluaran penguat menjadi positif
dan SCR tersulut. Hal ini secara cepat akan memutus catu
dengan crowbar terminal beban.

Gambar Penambahan amplifier IC ke crowbar

Keuntungan dan Kerugian SCR


Keuntungan SCR :

1. Penekanan tombol yang sangat pendek berdasarkan


penekanan tombol yang regeneratif. Ini mengurangi
penurunan tegangan di dalam ini dan mengijinkan
produksi komponen SCR, yang bisa menahan arus yang
sangat besar (100 ampere)
2. Sebuah transistor bisa juga menekan tombol arus dalam
cara yang sama. Keuntungan dari transistor adalah
pematian ini dilakukan dengan sederhana yaitu
menghentikan arus di base.

Kekurangan SCR :

1. Keburukan dari SCR adalah pematian ini. Pematian dari


SCR hanya ada satu cara yaitu mengurangi arus yang
mengalir melalui ini disamping arus yang utama.

2. Kerugiannya adalah waktu penekanan tombol lebih lama


dan selama penekanan tombol dalam keadaaan tegangan
yang tinggi dibangun dalam ini, dengan demikian ini
tidak bisa digunakan untuk penekanan tombol untuk arus
yang besar.

12. TRIAC (Triode for Alternating Current)

TRIAC mempunyai kontruksi sama dengan DIAC,


hanya saja pada TRIAC terdapat terminal pengontrol
(terminal gate). Sedangkan untuk terminal lainnya
dinamakan main terminal 1 dan main terminal 2
(disingkat mt1 dan mt2). Seperti halnya pada DIAC,
maka TRIAC pun dapat mengaliri arus bolak-balik, tidak
seperti SCR yang hanya mengalirkan arus searah (dari
terminal anoda ke terminal katoda).
Lambang TRIAC di dalam skema elektronika, memiliki
tiga kaki, dua diantaranya terminal MT1 (T1) dan MT2
(T2) dan lainnya terminal Gate (G).

Lambang TRIAC di dalam skema elektronika,


memiliki tiga kaki, dua diantaranya terminal MT1 (T1)
dan MT2 (T2) dan lainnya terminal Gate (G)

Gambar Lambang TRIAC skema Elektronika

Gambar dibawah memperlihatkan struktur dalam


pada TRIAC
Gambar Struktur TRIAC

TRIAC setara dengan dua SCR yang dihubungkan


paralel. Artinya TRIAC dapat menjadi saklar keduanya
secara langsung. TRIAC digolongkan menurut
kemampuan pengontakan. TRIAC tidak mempunyai
kemampuan kuasa yang sangat tinggi untuk jenis SCR.

Jenis- jenis TRIAC


Ada dua jenis TRIAC:

1. Low-Current
Low-Current TRIAC dapat mengontak hingga kuat
arus 1 ampere dan mempunyai maksimal tegangan
sampai beberapa ratus volt.
2. Medium-Current.
Medium-Current TRIACS dapat mengontak sampai
kuat arus 40 ampere dan mempunyai maksimal
tegangan hingga 1.000 volt.

Cara kerja TRIAC Sebelum menghidupkan


TRIAC, sebuah arus yang sangat kecil mengalir pada
beban dan semua sumber tegangan turun ke RC filter
dobel. Tegangan ini dibagi dan bergerak di fase VC.
Ketika VG melewati penghidupan tegangan, TRIAC
hidup dan terhubung sampai ke input tegangan
setengah lingkaran dan berhenti. Ketika input
tegangan turun menjadi 0V, TRIAC mati dan
prosedur penghidupannya berulang di tegangan
yang terbalik.
Gambar Gelombang dari rangkaian TRIAC

Gambar Rangkaian picu TRIAC


Selama setengah perioda negative, muatan negative
akan berada pada plat bagian atas kapasitor dan jika
tegangan yang berada pada kapasitor telah mencukupi, maka
TRIAC akan ON.
Kecepatan pengisian kapasitor diatur oleh hambatan
R2, dimana jika R2 bernilai besar, maka pengisisannya akan
lambat sehingga terjadi penundaan penyalaan yang panjang
dan arus rata-ratanya kecil. Jika R2 bernilai kecil, maka
pengisian kapasitor akan cepat dan arus bebannya tinggi.

Karakteristik TRIAC
TRIAC tersusun dari lima buah lapis semikonduktor
yang banyak digunakan pada pensaklaran elektronik. TRIAC
biasa juga disebut thyristor bi-directional. TRIAC merupakan
dua buah SCR yang dihubungkan secara paralel.
Berbeda dengan SCR yang hanya melewatkan
tegangan dengan polaritas positif saja, tetapi TRIAC dapat
dipicu dengan tegangan polaritas positif dan negatif, serta
dapat dihidupkan dengan menggunakan tegangan bolak-
balik pada Gate.TRIAC banyak digunakan pada rangkaian
pengedali dan pensaklaran.
TRIAC hanya akan aktif ketika polaritas pada Anoda
lebih positif dibandingkan Katodanya dan gate-nya diberi
polaritas positif, begitu juga sebaliknya. Setelah terkonduksi,
sebuah TRIAC akan tetap bekerja selama arus yang mengalir
pada TRIAC (IT) lebih besar dari arus penahan (IH)
walaupun arus gate dihilangkan. Satu-satunya cara untuk
membuka (meng-off-kan) TRIAC adalah dengan mengurangi
arus IT di bawah arus IH.

13. DIAC (Diode Alternating Current)

DIAC memiliki dua terminal (elektroda) saja. Simbol


DIAC pada skema lektronik:

Gambar (a) Simbol DIAC (b) Struktur DIAC

DIAC ini dirancang (di posisi ke yang lain) untuk


dihidupkan oleh tegangan yang lebih besar dari VB –
nya.Tegangan VB sangatlah kecil. Ada perbedaan DIAC
dengan VB tegangan berkisar antara +- 10 V sampai 15 V.
Karakteristik DIAC

Ketika tegangan dari DIAC bergerak dari tegangan


VB,DIAC break-over dan berperan sebagai diode
penghubung. Peranan ini sama pada kedua arah.
Menambahkan DIAC pada gerbang TRIAC
meningkatkan substansi tegangan penghidupan dari
TRIAC dan dengan demikian didapatkan tenaga yang
lebih dalam pengontrolan dalam tegangan tinggi.
DIAC merupakan komponen yang paling sederhana dari
keluarga thyristor, semi konduktor yang terdiri dari tiga
lapisan seperti pada transistor pnp. Hubungan hanya
dilakukan dengan tiga lapisan luarnya saja, sehingga
dengan demikian DIAC hanya mempunyai dua macam
terminal, komponen ini dapat bekerja pada tegangan AC
maupun DC, dan dapat konduksi dari dua arah, seperti
thyristor lainnya DIAC mempunyai sifat seperti tabung
tiratron.

DIAC banyak di gunakan dalam rangkaian


rangkaian pengendali, penyaklaran, dan pemicu. DIAC
digunakan tersndiri atau digabungkan dengan TRIAC,
transistor atau SCR. Rangkaian ekuivalen dari DIAC
adalah dua buah diode empat lapis yang dipasang secara
paralel seperti terlihat pada dibawah. Dilihat secara ideal
ini sama dengan sistem saklar penahan dalam Gambar
(b). DIAC tidak akan menghantar sampai tegangan yang
melaluinya melebihi tegangan breakover dalam salah
satu arahnya. Lambang dari DIAC terlihat pada Gambar
(d).
Gambar DIAC
(a) Rangkaian ekuivalen. (b) Sistem saklar-penahan
ekuivalen.
(c) Saklar penahan kiri tertutup. (d) Simbol Komponen

Gambar (a), maka dioda yang berada di sebelah kiri


akan menghantar bila harga v mulai melampaui tegangan
breakover DIAC. Dalam hal ini saklar penahan kiri tertutup
seperti yang terlihat pada Gambar (c) saat v memiliki
polaritas yang berlawanan dengan yang ditunjukkan dalam
Gambar (a), maka saklar-penahan kanan yang akan menutup
bila v mulai melampaui tegangan breakover. Saat
penghantaran arus pada DIAC sudah mulai berlangsung,
satusatunya cara untuk membukanya kembali adalah dengan
cara pemutusan arus rendah. Ini berarti mengurangi arus
sampai di bawah batas arus-penahan dari piranti yang
bersangkutan. Pada komponen DIAC, konsentrasi
pengotorannya tidak seperti pada pengotoran transistor
tetapi mempunyai jumlah yang sama pada kedua
pertemuannya sehingga memungkinkan terjadinya operasi
yang simetris. Jadi tidak ada yang dapat disebut anoda atau
katoda secara eklusif. Karena lapisan p dan n dalam
komponen tersebut disusun secara seri maka DIAC tidak
akan konduksi dalam arah maju tetapi selalu mempunyai
perilaku seperti diioda bandangan yang diberi pra tegangan
terbalik. Hal ini terjadi tanpa memandang arah tegangan
yang diberikan.
Pada saat suatu tegangan diberikan ke komponen,
suatu arus bocor yang sangat kecil akan mengalir. Keadaan
ini disebut keadaan “off”dari DIAC. Pada titik ini terjadi
jebolan bandangan dan tiba-tiba akan mengalir arus yang
besar. Ini merupakan keadaan “on” DIAC. Sekali DIAC
dijadikan on dengan menggunakan tegangan postif atau
negatif, komponen ini akan terus menghantarkan arus sampai
tegangannya dihilangkan atau dikurangi menjadi nol.
Di sini, arus bocor yang kecil (IBO+ untuk tegangan
positif atau IB0- untuk tegangan negatif). Mengalir sampai
tegangan yang diberikan mencpai tegangan breakover. Pada
saat tegangan breakover dicapai, arus akan meningkat
dengan tajam dari I+ atau I- . Efek resistansi negatif akan
muncul seperti terlihat pada kurva lengkung ke arah
belakang. Akibatnya arus menaik jika teganganya sedikit
diturunkan.
Penggunaannya yang utama adalah untuk memberi
denyut picu ke TRIAC. Tetapi tentu saja denyut pemicu dan
sifat konduksi dua arahnya dapat digunakan pada berbagai
tujuan selain pengoperasian TRIAC. Salah satu penggunaan
DIAC yang paling sederhana adalah sebagai penyaklar
otomatis. Sebuah DIAC akan memberikan resistansi yang
sangat tinggi baik dalam AC maupun DC sampai tegangan
yang diberikan mencapai nilai VBO kritis. Apabila nilai ini
sudah tercapai atau dilampaui maka DIAC akan konduksi.
Dengan demikian komponen dua terminal yang
sederhana ini dapat disakelarkan dengan tegangan kendali
yang menaik dan tetap terkonduksi sampai tegangan tersebut
diturunkan ke nol.
Gambar DIAC 1N5411
Pada gambar dibawah memperlihatkan sebuah
rangkaian saklar peka amplituda sederhana yang
menggunakan sebuah DIAC 1N5411. Tegangan puncak AC
atau DC sebesar 35 Volt akan menyebabkan DIAC
terkonduksi dan akan mengalirkan arus sebesar 14 mA
melalui resistor keluaran R2. DIACnya sendiri dapat
konduksi pada tegangan dibawah 35 Volt. Dengan arus
sebesar 14mA, tegangan keluaran yang terdapat pada resistor
1000Ω adalah 14 V. Apabila sumber tegangannya mempunyai
resistor dalam pada jalur keluarannya, maka resistor R2 dapat
di hilangkan.
Untuk mengoperasikan rangkaian ini, atur tegangan
masuk agar naik secara perlahan ahan mulai dari nol sambil
memperhatikan nilai keluarannya. Sampai sekitar 30 volt
tegangan keluarannya akan sangat kecil. Pada sekitar 35 Volt,
DIAC secara tiba tiba akan jebol dan suatu tegangan akan
muncul pada resistor R2 apabila tegangan keluaran DIAC nol
maka DIAC tersebut akan mati dan perlu dipicu lagi dengan
tegangan beramplituda sebesar 35 Volt.
14. Dioda Varactor

Dioda Varactor atau bisa disebut juga dengan


Varicap Dioda adalah piranti semikonduktor yang
biasanya digunakan didalam industri elektronika. Dioda
varactor adalah jenis dioda yang memiliki kapasitansi
yang bervariasi sebagai fungsi dari tegangan yang
ditetapkan pada tiap terminalnya yang sifatnya
mempunyai kapasitas yang berubah-ubah jika diberikan
tegangan.

Dengan kata lain dioda ini merupakan variabel


kapasitor yang diatur oleh tegangan. Pemasangan dioda
ini adalah pada bias mundur (reverse bias) mirip dengan
dioda Zener.

Kelebihan dari dioda ini adalah mampu


menghasilkan nilai kapasitansi tertentu sesuai dengan
besar tegangan yang diberikan kepadanya. Dengan dioda
ini maka sistem penalaan digital pada sistem transmisi
frekuensi tinggi mengalami kemajuan pesat, seperti pada
radio dan televisi. Contoh sistem penalaan dengan dioda
ini adalah dengan sistem PLL (Phase lock loop), yaitu
mengoreksi oscilator dengan membaca penyimpangan
frekuensinya untuk kemudian diolah menjadi tegangan
koreksi untuk oscilator.

simbol dan komponen dioda varactor

Bahan dasar pembuatan dioda varactor ini adalah


silikon dimana dioda ini sifat kapasitansinya tergantung
pada tegangan yang diberikan padanya. Jika tegangan
tegangannya semakin naik, kapasitasnya akan turun.
Dioda varikap banyak digunakan pada pesawat penerima
radio dan televisi di bagian pengaturan suara (Audio).
Prinsip kerja pada Dioda Varactor, lapisan
pengosongan (Depletion Layer) diantara Junction P dan N
terdapat Kapasitansi transisi atau disebut juga Kapasitansi
Pengosongan yaitu antara kapasitansi barier dan
kapasitansi persambungan.
Semakin besarnya tegangan yang diumpankan
pada Varaktor akan memperkecil nilai Kapasitansi
transisi, hal ini diakibatkan seolah-olah melebarnya
depletion layer atau memperjauh jarak lempengan-
lempengan pembentuk kapasitor didalam dioda tersebut.
Oleh karena itu Varaktor adalah Dioda yang nilai
kapasitansinya dikendalikan oleh tegangan.
Contoh rangkaian pada dioda varactor

Besarnya frekuensi resonansi pada Dioda Varaktor yang di


paralel dengan Induktor :

Aplikasi penggunaan Dioda Varactor pada bagian Tuner


Dioda varactor biasanya digunakan pada modulator
frekuensi atau pada pengatur frekuensi otomatis dalam
pemancar FM atau penerima FM, Penerima Radio FM dan
peralatan komunikasi yang menggunakan frekuensi tinggi.
Beberapa Contoh Dioda Varactor berikut nilai Kapasitansi,
perubahannya terhadap tegangan :

Perubahan Nilai
No Spesifikasi Perbandingan
Tegangan Kapasitansi

1 IN51242 -4V s.d -60V 3:1 15pF~5pF

2 ECG610 4V s.d 30V 3:2 6.8pF~2.7pF

3 ECG612 4V s.d 30V 4:1 12pF~2.9pF

4 ECG613 4V s.d 30V 7:1 22pF~2.9pF


Tabel Perubahan Kapasitas terhadap Tegangan pada

Varactor

Daftar Pustaka

- modul materi elektronika dasar - Fauzan A Mahanani


- Syahyr, Ahmad. Makalah "Rangkaian Dioda sebagai Penyearah".
- Mukti, Bayu Kuncoro. http://ilmu-elektronika.co.cc/index.php/arus-bolak-
balik-ac/rangkaian-penyearah-gelombang-rectifier-circuit.html.
- Dwiono, Wakhyu. http://trensains.com/rectifier.htm. 2008
- http://elektronika-dasar.web.id/teori-elektronika/konsep-dasar-penyearah-
gelombang-rectifier/
- http://www.produksielektronik.com/2014/05/pengertian-seven-7-segment-
display-7-segmen/
- http://www.produksielektronik.com/2013/11/kelebihan-keuntungan-
memakai-lampu-led-light-emitting-diode-lampu-penerang/
- http://elektronika-dasar.web.id/komponen/led-light-emitting-dioda/
- http://www.circuitstoday.com/how-a-led-works-light-emitting-diode-working
- http://www.slideshare.net/diatmika/pengertian-led
- http://www.produksielektronik.com/2014/03/cara-menghitung-nilai-resistor-
untuk-led/
- http://id.wikipedia.org/wiki/DIAC
- http://www.electronics-tutorials.ws/diode/diode_6.html
- Hasad Andi, 2011. Materi Kuliah Elektronika Industri, Teknik Elektro, UNISMA
Bekasi
- Malvino A.P., 2003. Prinsip-prinsip Elektronika, Salemba Teknika, Jakarta
- Petruzella F.D., 2001. Elektronik Industri, Andi Yogyakarta
- http://namakuvee.wordpress.com/2014/04/18/aplikasi-thyristor-dan-scr/