Anda di halaman 1dari 6

Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 3/SKLN-XI/2013

a. Pengertian Lembaga Negara

Lembaga negara meupakan lembaga pemerintahan yang dibuat oleh, dari dan untuk
negara. Lembaga negara bertujuan untuk membangun negara itu sendiri. Secara umum tugas
lembaga negara antara lain menjaga stabilitas keamanan, politik, hukum, HAM dan budaya,
selain itu juga menjadi bahan penghubung antara negara dan rakyatnya, yang paling penting
adalah membantu menjalankan roda pemerintahan. Dari penjelasan tersebut dapat dikatakan
bahwa kedudukan dan kewenangan lembaga negara sangat berpengaruh pada sistem
pemerintahan dan konstitusi yang berlaku. Kedudukan lembaga negara telah termuat dalam
Undang-Undang Dasar tahun 1945 baik secara implisit maupun eksplisit. Substansi dalam
dasar negara indonesia juga memuat tentang tugas dan juga wewenang lembaga negara
tersebut, yang telah disesuaikan dalam perubahan amandemen. Lembaga negara dibentuk
berdasarkan atau karena diberi kekuasaan oleh Undang-undang Dasar, ada pula yang dibentuk
dan mendapatkan kekuasaannya berdasarkan Keputusan Presiden. Hirarki atau ranking
kedudukannya tentu saja tergantung pada derajat pengaturannya menurut peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

b. Lembaga yang berperkara dalam Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 3/SKLN-


XI/2013

 Pemohon Terdiri Dari :

1. Dr. Muhammad, S.IP., M.Si yang beralamat di Jalan Barrang Lompo Nomor 31/32
RT/RW 005/001, Kelurahan Malimongan, Kecamatan Wajo, Kota Makasar.

2. Nasrullah, S.H, yang beralamat di Jalan Sultan Agung Nomor 18 Yogyakarta.

3. Endang Wihdatiningtyas, S.H. yang beralamat di Kauman PA II/49 RT.003/RW009,


Desa/Kelurahan Gunung Ketur, Kecamatan Pakualaman, Yogyakarta.

4. Daniel Zuchron, yang beralamat di Bojong Depok Baru, OF/25, Bojong Gede, Kota
Depok.

1
5. Ir.Nelson Simanjuntak,S.H yang beralamat di Jalan Keramat Benda Raya Nomor 15,
Kelurahan Bakti Jaya, Kecamatan Sukma Jaya, RT003/RW027, Depok, Jawa Barat
16418. Kelimanya merupakan Ketua dan Anggota Badan Pengawas Pemilihan Umum
(Bawaslu) periode 2012-2017 yang beralamat di Jalan MH.Thamrin Nomor 14, Jakarta
Pusat, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama bertindak untuk dan atas nama Badan
Pengawas Pemilihan Umun (Bawaslu).

 Termohon Terdiri Dari :

1. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Aceh (DPRA) beralamat di Jalan Tgk.H.M Daud
Beureuh, Banda Aceh, 2321.

2. Gubernur Aceh, beralamat di Jalan Tjut Nyak Arief, Banda Aceh, Nanggroe Aceh
Darussalam.

 Uraian Singkat Perkara :

Pemohon telah mengajukan permohonan bertanggal 21 Juni 2013 yang diterima di


Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi (selanjutnya disebut Kepaniteraan Mahkamah)
berdasarkan Akta Penerimaan Berkas Permohonan Nomor 318/PAN.MK/2013 pada
tanggal 25 Juni 2013 dan telah dicatat dalam Buku Registrasi Perkara Konstitusi pada
tanggal 3 Juli 2013 dengan Nomor 3/SKLN-XI/2013, yang telah diperbaiki dan diterima
dalam persidangan Mahkamah pada tanggal 30 Juli 2013. Kedudukan hukum pemohon
dan termohon.

 Kedudukan Hukum Pemohon :


Pasal 22E ayat (5) Undang-Undang Dasar 1945 dan UU Nomor 22 Tahun 2007
tentang Penyelenggara Pemilihan Umum telah dicabut pada tanggal 16 Oktober 2001 dan
diganti dengan UU Nomor 15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum, yang
di dalamnya juga menjabarkan Pasal 22E UUD 1945 yaitu Pasal 1 angka 5 UU Nomor
15 Tahun 2011 tentang Penyelenggara Pemilihan Umum menyatakan: "Penyelenggara
Pemilu adalah lembaga yang menyelenggarakan Pemilu yang terdiri atas Komisi Pemilihan
Umum dan Badan Pengawas Pemilu sebagai satu kesatuan fungsi penyelenggaraan
Pemilu untuk memilih anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah,

2
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah, Presiden dan Wakil Presiden secara Langsung
oleh Rakyat, serta untuk memilih Gubernur, Bupati, dan Walikota secara Demokratis".
Selanjutnya dalam Pasal 1 angka 16 UU Nomor 15 Tahun 2011 dinyatakan: "Badan
Pengawas Pemilu, selanjutnya disebut Bawaslu, adalah lembaga penyelengara Pemilu yang
bertugas mengawasi penyelenggaraan Pemilu diseluruh wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
 Kedudukan Termohon
Yang sesuai dengan Pasal 18 ayat (3) dan ayat (6) UUD 1945, "Pemerintah
Daerah yang memiliki hak otonom mempunyai kewenangan mengatur dan mengurus
kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri, mengatur merupakan
perbuatan menciptakan norma hukum yang dituangkan dalam Peraturan Daerah".
Adapun tugas dan wewenang panitia pengawas pemilihan umum tertuang dalam UU
No 11 tahun 2006 tentang pemerintahan Aceh, Pelaksanaan tugas sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pasal 62 :

Tugas dan wewenang panitia pengawas pemilihan umum sebagaimana dimaksud


dalam Pasal 61 dilakukan melalui:

a. Pengawasan semua tahap penyelenggaraan pemilihan Gubernur/Wakil Gubernur,


Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/ Wakil Walikota;

b. Penyelesaian sengketa yang timbul dalam pemilihan Gubernur/ Wakil Gubernur,


Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/Wakil Walikota;

c. Penerusan temuan dan laporan yang tidak dapat diselesaikan kepada instansi yang
berwenang; dan

d. Pengaturan hubungan koordinasi antara panitia pengawas pada semua tingkatan.

 Kewenangan Yang Dipersengketakan

Kewenangan konstitusional Pemohon yang diambil, oleh Termohon I (DPRA) adalah


mengenai kewenangan dalam membentuk pengawas pemilihan Provinsi Aceh sebagai
lembaga yang melakukan Pengawasan penyelenggaraan Pemilu.

 Amar Putusan

3
Bahwa menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima. Demikian diputuskan
dalam Rapat Permusyawaratan Hakim oleh sembilan Hakim Konstitusi, yaitu M. Akil
Mochtar, selaku Ketua dan masing-masing anggota, pada hari Rabu, tanggal 30 Juni 2013
yang diucapkan dalam Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi terbuka untuk umum pada
hari Kamis, tanggal 16 Januari 2014, selesai diucapkan pukul 16.30 WIB, oleh delapan
Hakim Konstitusi, yaitu Hamdan Zoelva, selaku Ketua merangkap Anggota dan hakim
anggota lainnya, dengan didampingi oleh Rizki Amalia sebagai Panitera Pengganti, serta
dihadiri oleh Pemohon dan tanpa dihadiri oleh para Termohon.
c. Kesimpulan Hasil Analisis Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 3/SKLN-XI/2013
Dalam Kedudukan hukum, kedudukan pemohon yang tertuang dalam undang-undang
dasar 1945 berdasarkan hal tersebut di atas merupakan salah satu lembaga yang
menyelenggarakan pemilihan umum, yang bersifat tetap yang merupakan bagian dari suatu
komisi pemilihan umum sebagaimana Pasal 22E ayat (5) UUD 1945. Sehingga kedudukan
pemohon diakui dalam Undang-undang sebagai lembaga negara yang sudah dijelaskan secara
rinci tanpa terdapat kerancuan. Walaupun bawaslu tidak secara eksplisit dicantumkan dalam
undang-undang dasar 1945 tetapi tetap memiliki kedudukan dan kewenangan secara khusus
yang disebutkan pada pasal diatas.
Adanya kasus persengketaan tersebut terjadi dikarenakan pembentukan Bawaslu Provinsi
yang sudah terlambat dikarenakan pemilu DPR, DPD dan DPRD yang telah ditetapkan oleh
KPU sudah berjalan, sehingga Bawaslu pusat berinisiatif untuk membentuk bawaslu tersebut.
pembentukan ini juga mendapat persetujuan dari Komisi II DPR. Selain itu penyebab nya
yaitu menurut pemohon, yang dapat membentuk Bawaslu Provinsi Aceh juga merupakan
kewenangannya (pemohon), dan bukan kewenangan para Termohon.
Pemohon juga telah mengajukan bukti-bukti yang akan dijadikan bahan pertimbangan
mahkamah konstitusi dalam memutus perkara. Bukti-bukti dari satu sampai tiga puluh tiga
bukti yang berisi salinan fotocopy bukti tertulis tersebut telah terbandel didalam satu map
yang kemudian diserahkan pada mahkamah konstitusi.
Pada (bukti P-27) yang menyatakan Bahwa Gubernur Aceh mengirimkan surat Nomor
470/21738 tanggal 19 April 2013, kepada Pemohon, perihal Permasalahan Pembentukan
Bawaslu Aceh. Isi surat pada pokoknya meminta kepada Pemohon untuk meninjau ulang
proses pembentukan Bawaslu Provinsi Aceh dan melanjutkan pertemuan untuk mencari
solusi dalam penyelesaian pemasalahan kewenangan rekruitmen calon anggota Bawaslu
Provinsi Aceh. Hal ini telah menunjukkan bahwa gubernur aceh saat pertama kali terjadi

4
perdebatan, memilih untuk menyelesaikan solusi dengan cara damai, tetapi malah
menjadikannya perdebatan antara keduanya yang tak kunjung usai, kemudian atas keputusan
bersama mereka memilih penyelesaian tersebut melalui jalur hukum.
Pemohon juga menyampaikan petitum yang isinya mengabulkan permohonan pemohon
untuk seluruhnya, menyatakan termohon I dan II tidak memiliki kewenangan untuk
membentuk pengawas pemilihan provinsi Aceh, dan/atau Panwaslu Kabupaten/Kota Aceh
pada Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, Menyatakan Pemohon
memiliki kewenangan konstitusional untuk membentuk Badan Pengawas Pemilihan Umum
Provinsi Aceh yang bersifat tetap untuk melakukan Pengawasan Penyelenggaraan Pemilihan
Umum di Provinsi Aceh. Sedangkan amar putusan yang diputuskan oleh mahkamah konstitusi
yang telah memberikan keadilan dalam memutus bahwa permohonan pemohon tidak diterima.
Akibat tidak diterimanya permohonan tersebut karena jika lembaga pemerintahan Aceh dapat
melaksanakan pemilihan Bawaslu sendiri yang sesuai dengan undang-undang yang menjadi
pedoman sebagaimana dilaksanakannya peraturan di daerah Aceh.
Sikap mahkamah konstitusi dalam menyelesaikan kasus sengketa lembaga negara ini
sudah sangat baik terlihat dari aturan yang telah ada pada pasal 24 C ayat 1 UUD 1945 juncto
pasal 61 UU MK menjadi dasar pertimbangannya, yang mana isinya yaitu kewenangan yang
dipersengketakan haruslah kewenangan yang diberikan oleh UUD 1945, lembaga negara
dimaksud adalah lembaga negara yang mempersengketakan kewenangannya yang diberikan
oleh UUD 1945. Dari hal ini terlihat jelas bahwa mahkamah terlebih dahulu
mempertimbangkan obyek sengketa, kemudian mempertimbangkan pihak-pihak yang
bersengketa. Pertimbangan itu telah sesuai dengan prosedur yang ada dalam alur dasar negara.
Persengketaan yang terjadi diantara keduanya menurut Mahkamah, kewenangan yang menjadi
objectum litis permohonan Pemohon bukanlah kewenangan Pemohon yang diberikan oleh
UUD 1945, melainkan kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang, yaitu UU 15/2011,
sehingga bukan merupakan objectum litis dalam SKLN sebagaimana dimaksud Pasal 24C
ayat (1) UUD 1945 dan Pasal 61 UU MK, sedangkan subyeknya Mahkamah, Pemohon, yaitu
Bawaslu, adalah salah satu lembaga yang melaksanakan fungsi penyelenggaraan Pemilu,
menurut Mahkamah, para Termohon, yaitu DPRA dan Gubernur Aceh (Pemerintahan Daerah
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam) merupakan lembaga yang melaksanakan
pemerintahan di daerah, oleh karena subjectum litis dikaitkan dengan objectum litis
permohonan Pemohon bukan merupakan objek SKLN maka menurut Mahkamah,

5
permohonan Pemohon tidak memenuhi ketentuan Pasal 24C ayat (1) UUD 1945 dan Pasal 61
UU MK, sehingga pokok permohonan tidak perlu dipertimbangkan.
Maka permohonan pemohon yang tidak dapat diterima tadi secara singkat tidak
memenuhi syarat kedudukan hukum yang ada. Di mana seseorang atau suatu pihak ditentukan
memenuhi syarat dan oleh karena itu mempunyai hak untuk mengajukan permohonan.
Dengan adanya kriteria legal standing, berarti tidak semua orang atau pihak mempunyai hak
mengajukan permohonan ke Mahkamah konstitusi. Hanya mereka yang benar-benar
mempu¬nyai kepentingan hukum saja yang boleh menjadi pemohon.
Dengan demikian keputusan yang telah diputus oleh hakim mahkamah konstitusi sudah
memenuhi dasar-dasar yang sesuai dan telah memberikan keputusan yang seadil-adilnya
dalam sengketa kedua lembaga itu. Maka, adanya keputusan itu baiknya untuk menerima dan
menghargai, agar tidak terjadi konflik yang menimbulkan perpecahan antar lembaga.