Anda di halaman 1dari 9

Analisis Kasus Perkawinan

Perkawinan Beda Agama Lydia Kandou dan Jamal Mirdad

Kronologis Kasus:

Kasus yang menghebohkan pada waktu itu adalah pada tahun 1986 Lydia Kandou
menikah dengan aktor Jamal Mirdad yang jelas-jelas berbeda agama. Lydia Kandou yang
beragama kristen dan Jamal Mirdad yang beragama Islam. Pasangan ini tetap ingin menikah di
Indonesia dan memperjuangkan status mereka di Pengadilan Negeri. Pada waktu itu banyak
tentangan dan kecaman dari seluruh lapisan masyarakat secara terus menerus.

Langkah awal yang ditempuh Jamal Mirdad & Lydia Kandou adalah mengajukan
permohonan ke Kantor Urusan Agama, namun upaya itu ditolak oleh KUA. Kemudian mereka
ke Kantor Catatan Sipil sebagai jalan tengah, tetapi itu juga tidak bisa dilalui mereka dengan
lancar, upaya Jamal Mirdad dan Lydia Kandou tidak berhenti sampai disitu. Mereka menempuh
melalui jalur pengadilan,dari hal itu Hakim Endang Sri Kawuryan mengizinkan mereka menikah.
Dengan izin itu, pada 30 Juni 1986, Jamal dan Lydia resmi menikah.

Jamal Mirdad dan Lydia Kandou terselamatkan bisa menikah di Kantor Catatan Sipil
karena setelah mereka menikah, sejak 12 Agustus 1986, Kantor Catatan Sipil Jakarta
mengeluarkan keputusan, yang pada intinya menolak menikahkan pasangan berbeda agama,
khususnya laki - laki Islam dan wanita beragama lain, "KANTOR CATATAN SIPIL hanya
melaksanakan pencatatan perkawinan yang sudah sah menurut agama. Yakni, setelah
melangsungkan di gereja, vihara, atau pura.

Sumber: http://rmulyadi.blogspot.com/2010/02/lydia-kandou.html

A. Latar Belakang

Perkawinan merupakan peristiwa yang sangat penting dalam masyarakat. Dengan hidup
bersama, kemudian melahirkan keturunan yang merupakan sendi utama bagi pembentukan
negara dan bangsa. Mengingat pentingnya peranan hidup bersama, pengaturan mengenai
perkawinan memang harus dilakukan oleh negara. Di sini, negara berperan untuk melegalkan
hubungan hukum antara seorang pria dan wanita.

1
Masyarakat Indonesia merupakan masyarakat yang majemuk, khususnya bila dilihat dari
segi etnis / suku bangsa dan agama. Konsekuensinya, dalam menjalani kehidupannya
masyarakat Indonesia dihadapkan kepada perbedaan – perbedaan dalam berbagai hal, mulai
dari kebudayaan, cara pandang hidup dan interaksi antar individunya. Yang menjadi perhatian
dari pemerintah dan komponen bangsa lainnya adalah masalah hubungan antar umat
beragama. Salah satu persoalan dalam hubungan antar umat beragama ini adalah masalah
Pernikahan Muslim dengan non-Muslim yang selanjutnya kita sebut sebagai “perkawinan
beda agama’.

Masalah ini menimbulkan perbedaan pendapat dari dua pihak pro dan kontra, masing-
masing pihak memiliki argumen rasional maupun argumen logikal yang berasal dari
penafsiran mereka masing-masing terhadap dalil-dalil tentang pernikahan beda agama, karena
masalah perkawinan adalah masalah yang sangat rumit dan sangat vital khususnya bagi
masyarakat muslim.

Perkawinan berbeda agama merupakan masalah yang sangat sulit untuk dipecahkan tanpa
penyelesaian dan penjelasan yang tuntas di negara kita tercinta. Banyak pencari keadilan
yang kandas dalam menuntut hak mereka supaya dilegalkan.

Di Indonesia sendiri mempunyai peraturan yang mengatur perkawinan dalam Undang-


Undang Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan pasal 1 mendefinisikan bahwa:
“Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami
istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan
Ketuhanan Yang Maha Esa”, namun dalam pelaksanaanya masih banyak kekurangan karena
tidak diatur secara tegas. Faktanya Negara kita secara nyata mempunyai banyak agama.

B. Analisis Kasus

1. Perkawinan Beda Agama Menurut Hukum Positif Indonesia

Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa dasar hukum perkawinan di Indonesia


yang berlaku sekarang ada beberapa peraturan, diantaranya adalah:

a. Buku I Kitab Undang-undang Hukum Perdata;


b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan;

2
c. Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama, Undang-Undang
Nomor 3 Tahun 2006 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989
Tentang Peradilan Agama dan Undang-Undang Nomor 50 Tahun 2009 Tentang
Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan
Agama;
d. PP No. 9/1975 tentang Peraturan Pelaksana UU No.1/1974;
e. Intruksi Presiden No. 1/1991 tentang Kompilasi Hukum Islam di Indonesia.

Dalam Kompilasi Hukum Islam mengkategorikan perkawinan antar pemeluk agama


dalam bab larangan perkawinan. Pada pasal 40 huruf c dinyatakan bahwa dilarang
melangsungkan perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita yang tidak
beragama Islam. Kemudian dalam pasal 44 dinyatakan bahwa seorang wanita Islam
dilarang melangsungkan perkawinan dengan seorang pria yang tidak beragama Islam. KHI
tersebut selaras dengan pendapat Prof. Dr. Hazairin S.H., yang menafsirkan pasal 2 ayat 1
beserta penjelasanya bahwa bagi orang Islam tidak ada kemungkinan untuk menikah
dengan melanggar hukum agamanya.

Dalam KHI telah dinyatakan dengan jelas bahwa perkawinan beda agama jelas tidak
dapat dilaksanakan selain kedua calon suami isteri beragama Islam. Sehingga tidak ada
peluang bagi orang-orang yang memeluk agama Islam untuk melaksanakan perkawinan
antar agama.

Kenyataan yang terjadi dalam sistem hukum Indonesia, perkawinan antar agama dapat
terjadi. Hal ini disebabkan peraturan perundang-undangan tentang perkawinan memberikan
peluang tersebut terjadi, karena dalam peraturan tersebut dapat memberikan beberapa
penafsiran bila terjadi perkawinan antar agama.

Berdasarkan UU No. 1/1974 pasal 66, maka semua peraturan yang mengatur tentang
perkawinan sejauh telah diatur dalam UU No. 1/1974, dinyatakan tidak berlaku lagi yaitu
perkawinan yang diatur dalam Kitab Undang-undang Hukum Perdata / BW, Ordonansi
Perkawinan Indonesia Kristen dan peraturan perkawinan campuran. Secara a contrario,
dapat diartikan bahwa beberapa ketentuan tersebut masih berlaku sepanjang tidak diatur
dalam UU No. 1/1974.

3
Mengenai perkawinan beda agama yang dilakukan oleh pasangan calon suami isteri
dapat dilihat dalam UU No.1/1974 tentang perkawinan pada pasal 2 ayat 1, bahwa
Perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan
kepercayaannya. Pada pasal 10 PP No.9/1975 dinyatakan bahwa, perkawinan baru sah jika
dilakukan dihadapan pegawai pencatat dan dihadiri dua orang saksi. Dan tata cara
perkawinan dilakukan menurut hukum masing-masing Agamanya dan kepercayaannya.

Dalam memahami perkawinan beda agama menurut undang-undang Perkawinan ada


tiga penafsiran yang berbeda. Pertama, penafsiran yang berpendapat bahwa perkawinan
beda agama merupakan pelanggaran terhadap UU Nomor 1 Tahun 1974 pasal 2 ayat 1 jo
pasal 8 f. Pendapat kedua, bahwa perkawinan antar agama adalah sah dan dapat
dilangsungkan, karena telah tercakup dalam perkawinan campuran, dengan argumentasi
pada pasal 57 tentang perkawinan campuran yang menitikberatkan pada dua orang yang di
Indonesia tunduk pada hukum yang berlainan, yang berarti pasal ini mengatur perkawinan
antara dua orang yang berbeda kewarganegaraan juga mengatur dua orang yang berbeda
agama. Pendapat ketiga bahwa perkawinan antar agama sama sekali tidak diatur dalam UU
No. 1/1974, oleh karena itu berdasarkan pasal 66 UU No. 1/1974 maka persoalan
perkawinan beda agama dapat merujuk pada peraturan perkawinan campuran, karena
belum diatur dalam undang-undang perkawinan.

2. Pendapat Hukum Terhadap Perkawinan Beda Agama

Merujuk pada Undang-undang No. 1/1974 pada pasal 57 yang menyatakan bahwa
perkawinan campuran adalah perkawinan antara dua orang yang di Indonesia tunduk pada
hukum yang berlainan, karena perbedaan kewarganegaraan dan salah satu pihak
berkewarganegaraan Indonesia.

Berdasarkan pada pasal 57 UU No. 1/1974, maka perkawinan beda agama di


Indonesia bukanlah merupakan perkawinan campuran. Sehingga semestinya pengajuan
permohonan perkawinan beda agama baik di KUA dan Kantor Catatan Sipil dapat ditolak.

Menurut Purwoto S. Gandasubrata bahwa perkawinan campuran atau perkawinan beda


agama belum diatur dalam undang-undang secara tuntas dan tegas. Oleh karenanya, ada
Kantor Catatan Sipil yang tidak mau mencatatkan perkawinan beda agama dengan alasan

4
perkawinan tersebut bertentangan dengan pasal 2 UU No.1/1974. Dan ada pula Kantor
Catatan Sipil yang mau mencatatkan berdasarkan GHR, bahwa perkawinan dilakukan
menurut hukum suami, sehingga isteri mengikuti status hukum suami.

Ketidakjelasan dan ketidaktegasan Undang-undang Perkawinan tentang perkawinan


antar agama dalam pasal 2 adalah pernyataan “menurut hukum masing-masing agama atau
kepercayaannya”. Artinya jika perkawinan kedua calon suami-isteri adalah sama, tidak ada
kesulitan. Tapi jika hukum agama atau kepercayaannya berbeda, maka dalam hal adanya
perbedaan kedua hukum agama atau kepercayaan itu harus dipenuhi semua, berarti satu
kali menurut hukum agama atau kepercayaan calon dan satu kali lagi menurut hukum
agama atau kepercayaan dari calon yang lainnya.

Dalam praktek perkawinan antar agama dapat dilaksanakan dengan menganut salah
satu cara baik dari hukum agama atau kepercayaan si suami atau si calon isteri. Artinya
salah calon yang lain mengikuti atau menundukkan diri kepada salah satu hukum agama
atau kepercayaan pasangannya.

Dalam mengisi kekosongan hukum karena dalam UU No. 1/1974 tidak secara tegas
mengatur tentang perkawinan antar agama. Mahkamah Agung sudah pernah memberikan
putusan tentang perkawinan antar agama pada tanggal 20 Januari 1989 Nomor: 1400
K/Pdt/1986.

Dalam pertimbangan MA adalah dalam UU No. 1/1974 tidak memuat suatu ketentuan
tentang perbedaan agama antara calon suami dan calon isteri merupakan larangan
perkawinan. Dan hal ini sejalan dengan UUD 1945 pasal 27 yang menyatakan bahwa
segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam hukum, tercakup di dalamnya
kesamaan hak asasi untuk kawin dengan sesama warga negara sekalipun berlainan agama
dan selama oleh undang-undang tidak ditentukan bahwa perbedaan agama merupakan
larangan untuk perkawinan, maka asas itu adalah sejalan dengan jiwa pasal 29 UUD 1945
tentang dijaminnya oleh negara kemerdekaan bagi setiap warga negara untuk memeluk
agama masing-masing.

Dengan tidak diaturnya perkawinan antar agama di UU No. 1/1974 dan dalam GHR
dan HOCI tidak dapat dipakai karena terdapat perbedaan prinsip maupun falsafah yang

5
sangat lebar antara UU No. 1/1974 dengan kedua ordonansi tersebut. Sehingga dalam
perkawinan antar agama terjadi kekosongan hukum.

Di samping kekosongan hukum juga dalam kenyataan hidup di Indonesia yang


masyarakatnya bersifat pluralistik, sehingga tidak sedikit terjadi perkawinan antar agama.
Maka MA berpendapat bahwa tidak dapat dibenarkan terjadinya kekosongan hukum
tersebut, sehingga perkawinan antar agama jika dibiarkan dan tidak diberiakan solusi
secara hukum, akan menimbulkan dampak negatif dari segi kehidupan bermasyarakat
maupun beragama berupa penyelundupan-penyelundupan nilai-nilai sosial maupun agama
serta hukum positif, maka MA harus dapat menentukan status hukumnya.

Mahkamah Agung dalam memberikan solusi hukum bagi perkawinan antar agama
adalah bahwa perkawinan antar agama dapat diterima permohonannya di Kantor Catatan
Sipil sebagai satu-satunya instansi yang berwenang untuk melangsungkan permohonan
yang kedua calon suami isteri tidak beragama Islam untuk wajib menerima permohonan
perkawinan antar agama.

Dari putusan MA tentang perkawinan antar agama sangat kontroversi, namun putusan
tersebut merupakan pemecahan hukum untuk mengisi kekosongan hukum karena tidak
secara tegas dinyatakan dalam UU No. 1/1974.

Putusan Mahkamah Agung Reg. No. 1400 K/Pdt/1986 dapat dijadikan sebagai
yurisprudensi, sehingga dalam menyelesaikan perkara perkawinan antar agama dapat
menggunakan putusan tersebut sebagai salah satu dari sumber-sumber hukum yang berlaku
di Indonesia.

Dalam proses perkawinan antar agama maka permohonan untuk melangsungkan


perkawinan antar agama dapat diajukan kepada Kantor Catatan Sipil. Dan bagi orang Islam
ditafsirkan atas dirinya sebagai salah satu pasangan tersebut berkehendak untuk
melangsungkan perkawinan tidak secara Islam. Dan dengan demikian pula ditafsirkan
bahwa dengan mengajukan permohonan tersebut pemohon sudah tidak lagi menghiraukan
status agamanya. Sehingga pasal 8 huruf f UU No. 1/1974 tidak lagi merupakan halangan
untuk dilangsungkan perkawinan, dengan anggapan bahwa kedua calon suami isteri tidak
lagi beragama Islam. Dengan demikian Kantor Catatan Sipil berkewajiban untuk menerima

6
permohonan tersebut bukan karena kedua calon pasangan dalam kapasitas sebagai mereka
yang berbeda agama, tetapi dalam status hukum agama atau kepercayaan salah satu calon
pasangannya.

Bentuk lain untuk melakukan perkawinan antar agama dapat dilakukan dengan cara
melakukan perkawinan bagi pasangan yang berbeda agama tersebut di luar negeri.
Berdasarkan pada pasal 56 UU No. 1/1974 yang mengatur perkawinan di luar negeri, dapat
dilakukan oleh sesama warga negara Indonesia, dan perkawinan antar pasangan yang
berbeda agama tersebut adalah sah bila dilakukan menurut hukum yang berlaku di negara
di mana perkawinan itu berlangsung.

Setelah suami isteri itu kembali di wilayah Indonesia, paling tidak dalam jangka waktu
satu tahun surat bukti perkawinan dapat didaftarkan di kantor pencatatan perkawinan
tempat tinggal mereka. Artinya perkawinan antar agama yang dilakukan oleh pasangan
suami isteri yang berbeda agama tersebut adalah sah karena dapat diberikan akta
perkawinan.

Permasalahan yang dapat timbul apabila dilangsungkannya suatu perkawinan beda agama
antara lain menurut saya :

1. Keabsahan perkawinan.
Mengenai sahnya perkawinan yang dilakukan sesuai agama dan kepercayaanya yang
diatur dalam pasal 2 ayat (1) UUP. Hal ini berarti UU Perkawinan menyerahkan
keputusannya sesuai dengan ajaran dari agama masing-masing. Namun, permasalahannya
apakah agama yang dianut oleh masing-masing pihak tersebut membolehkan untuk
dilakukannya perkawinan beda agama. Misalnya, dalam ajaran islam wanita tidak boleh
menikah dengan laki-laki yang tidak beragama Islam [Al Baqarah (2):221]. Selain itu
juga dalam ajaran Kristen perkawinan beda agama dilarang (I Korintus 6: 14-18).
2. Pencatatan Perkawinan
Apabila perkawinan beda agama tersebut dilakukan oleh orang yang beragama Islam
dan Kristen, maka terjadi permasalahan mengenai pencatatan perkawinan. Apakah di
Kantor Urusan Agama atau di Kantor Catatan Sipil oleh karena ketentuan pencatatan
perkawinan untuk agama Islam dan di luar agama Islam berbeda. Apabila ternyata
pencatatan perkawinan beda agama akan dilakukan di Kantor Catatan Sipil, maka akan

7
dilakukan pemeriksaan terlebih dahulu apakah perkawinan beda agama yang
dilangsungkan tersebut memenuhi ketentuan dalam pasal 2 UUP tentang syarat sahnya
suatu perkawinan. Apabila pegawai pencatat perkawinan berpendapat bahwa terhadap
perkawinan tersebut ada larangan menurut UUP maka ia dapat menolak untuk melakukan
pencatatan perkawinan [pasal 21 ayat (1) UUP].
3. Status Anak
Apabila pencatatan perkawinan pasangan beda agama tersebut ditolak, maka hal itu
juga akan memiliki akibat hukum terhadap status anak yang terlahir dalam perkawinan.
Menurut ketentuan pasal 42 UUP, anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau
sebagai akibat perkawinan yang sah. Oleh karena tidak dilakukannya pencatatan
perkawinan, maka menurut hukum anak tersebut bukanlah anak yang sah dan hanya
memiliki hubungan perdata dengan ibunya atau keluarga ibunya [pasal 2 ayat (2) jo. pasal
43 ayat (1) UUP].
4. Perkawinan Beda Agama Yang Dilakukan Di Luar Negeri
Apabila ternyata perkawinan beda agama tersebut dilakukan di luar negeri, maka
dalam kurun waktu satu tahun setelah suami istri itu kembali ke wilayah Indonesia harus
mendaftarkan surat bukti perkawinan mereka ke Kantor Pencatatan Perkawinan tempat
tinggal mereka [pasal 56 ayat (2) UUP]. Permasalahan yang timbul akan sama seperti
halnya yang dijelaskan dalam poin 2. Meskipun tidak sah menurut hukum Indonesia, bisa
terjadi Catatan Sipil tetap menerima pendaftaran perkawinan tersebut. Pencatatan di sini
bukan dalam konteks sah tidaknya perkawinan, melainkan sekedar pelaporan
administratif.
C. Kesimpulan
Dari uraian tersebut diatas, dengan ini penulis kemukakan beberapa hal sebagai
kesimpulan, sebagai berikut :
1. Undang-Undang No.1/1974 tentang Ketentuan Pokok Perkawinan, tidak mengatur tentang
perkawinan beda agama. Oleh karena itu perkawinan antar agama tidak dapat dilakukan
berdasarkan pada pasal 2 ayat 1 UU No.1/1974, bahwa perkawinan adalah sah, apabila
dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya. Dan pada pasal
10 PP No.9/1975 dinyatakan bahwa, perkawinan baru sah jika dilakukan dihadapan
pegawai pencatat dan dihadiri dua orang saksi. Dan tata cara perkawinan dilakukan
menurut hukum masing-masing Agamanya dan kepercayaannya.
2. Dalam mengisi kekosongan hukum karena dalam UU No. 1/1974 tidak secara tegas
mengatur tentang perkawinan antar agama, Mahkamah Agung dalam yurisprudensinya

8
tanggal 20 Januari 1989 Nomor: 1400 K/Pdt/1986, memberikan solusi hukum bagi
perkawinan antar agama adalah bahwa perkawinan antar agama dapat diterima
permohonannya di Kantor Catatan Sipil sebagai satu-satunya instansi yang berwenang
untuk melangsungkan permohonan yang kedua calon suami isteri tidak beragama Islam
untuk wajib menerima permohonan perkawinan antar agama.
3. Dalam proses perkawinan antar agama maka permohonan untuk melangsungkan
perkawinan antar agama dapat diajukan kepada Kantor Catatan Sipil. Dan bagi orang Islam
ditafsirkan atas dirinya sebagai salah satu pasangan tersebut berkehendak untuk
melangsungkan perkawinan tidak secara Islam. Dan dengan demikian pula ditafsirkan
bahwa dengan mengajukan permohonan tersebut pemohon sudah tidak lagi menghiraukan
status agamanya. Sehingga pasal 8 huruf f UU No. 1/1974 tidak lagi merupakan halangan
untuk dilangsungkan perkawian, dengan anggapan bahwa kedua calon suami isteri tidak
lagi beragama Islam. Dengan demikian Kantor Catatan Sipil berkewajiban untuk menerima
permohonan tersebut bukan karena kedua calon pasangan dalam kapasitas sebagai mereka
yang berbeda agama, tetapi dalam status hukum agama atau kepercayaan salah satu calon
pasangannya.
4. Perkawinan antar agama dapat juga dilakukan oleh sesama warga negara Indonesia yang
berbeda agama dengan cara melakukan perkawinan tersebut di luar negeri.
D. Daftar Pustaka
Buku:
Abdurrahman, Kompilasi Hukum Islam, Cet. 5, Jakarta: Akamedika Pressindo,. 2004.
Anshary.M, 2010, Hukum Perkawinan Di Indonesia, Cet.kesatu, Jakarta, Pustaka
Pelajar.
Hilman Hadikusuma, 1990, Hukum Perkawinan Indonesia, Bandung, Mandar Maju.
Peraturan Perundang-Undangan:
Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Kitab Undang-Undang Hukum Perdata