Anda di halaman 1dari 8

iptek hortikultura

TEKNOLOGI PRODUKSI BENIH BERKUALITAS


PADA KRISAN MENGGUNAKAN TUNAS PUCUK
SEBAGAI SUMBER EKSPLAN

Krisan (Chrysanthemum morifolium Ramat; penurunan kualitas bunga potong yang dihasilkan
Dendranthema grandiflora L.) merupakan (Muhit 2007; Budiarto & Marwoto 2010;
tanaman hias yang sangat penting dan bernilai Istianingrum et al. 2013). Meski biaya produksi
ekonomi tinggi di Indonesia. Tanaman ini untuk pembelian stek berakar yang cukup rendah,
telah dibudidayakan hampir di seluruh wilayah yaitu Rp100,00 per stek, namun kondisi bunga
Indonesia dengan sentra produksi terbesar yang dominan tidak berkualitas menyebabkan
terdapat di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, nilai jual bunga yang dihasilkan juga rendah.
Sulawesi Selatan, dan Sumatera Utara. Total Akibatnya pendapatan petani juga menurun
luas areal tanam krisan mencapai 10.871.199 cukup signifikan. Oleh karena itu teknologi
m2 dengan total produksi mencapai 427,2 juta produksi stek berkualitas yang menjamin
tangkai dengan produktivitas mencapai 40,7 ketersediaannya secara berkelanjutan sangat
tangkai/m2 (Badan Pusat Statistik dan Direktorat diperlukan untuk menunjang kemajuan agribisnis
Jenderal Hortikultura 2017abc). Nilai jual produk krisan di Indonesia.
ini berkisar antara Rp 8.000,00 – 130.000,00 Di Indonesia, teknologi produksi stek krisan
per ikat tergantung kualitas, jenis, dan asal usul berkualitas melalui aplikasi kultur jaringan
bunga (Kartika 2017). Permintaan, nilai ekonomi, sudah dilaporkan. Pada umumnya nodus
dan areal budidaya krisan terus meningkat dari digunakan sebagai sumber eksplan pada tahap
tahun ke tahun dan kondisi ini tidak hanya inisiasi tunas dan perbanyakan (Dwimahyani
menuntut penyediaan varietas unggul baru yang & Gandanegara 2001; Yusuf 2015; Shintiavira
memenuhi preferensi dan kebutuhan konsumen, 2012; ). Medium yang digunakan adalah medium
namun juga sangat membutuhkan ketersediaan ½ atau Murashige dan Skoog (1962) penuh
benih berkualitas secara berkesinambungan yang ditambah dengan hormon asam asetat-3-
dengan harga yang tetap terjangkau oleh petani, indol (IAA) pada konsentrasi 1 mg/l; 0,5 mg/l
pengusaha, dan pengguna lainnya. α-asam asetat naftalen (NAA) + 1,5 mg/l N6-
Secara tradisional, krisan umumnya benzylaminopurin (BAP); 0,5 mg/l asam butirat
diperbanyak melalui penyetekan tunas dari indol (IBA) + 1,5 mg/l BAP; 2 mg/l alar + 1
tanaman induk yang telah disiapkan (Dwimahyani mg/l BAP; 5% air kelapa + 0,5 mg/l BAP; 1–3
& Gandanegara 2001; Budiarto & Marwoto mg/l BAP; 0,25–0,5 mg/l BAP (Basri 2008;
2009; Istianingrum et al. 2013). Di tingkat Shintiavira 2012; Astutik 2010; Indriani 2014;
petani, produksi stek untuk produksi bunga Tilaar 2015; Lubis 2016). Pemanfaatan media
krisan umumnya dilakukan dari tanaman induk inisiasi dan perbanyakan yang berbeda tersebut
yang diindukkan lagi dalam jangka waktu yang memberikan hasil yang bervariasi. Studi-studi
cukup lama. Pemanfaatan stek secara terus tersebut umumnya belum mampu memberikan
menerus hasil tanaman induk yang diindukkan hasil yang maksimal dan tidak semua tahapan
lagi menyebabkan terjadinya degenerasi dan kultur in vitro dipelajari secara lengkap.

11
No. 13 - November 2017

Gambar. 1. Variasi warna, tipe, dan insect proof untuk menyimpan tanaman induk

Gambar 2. Kondisi tanaman donor dan kondisi eksplan yang dipanen. (A) tanaman induk masih
muda, (B) tanaman induk dengan tunas pucuk hasil pemangkasan yang siap digunakan
sebagai sumber eksplan, dan (C) tunas pucuk yang dipanen sebagai sumber eksplan

Aklimatisasi umumnya juga dilakukan dengan potensial untuk penyediaan benih berkualitas
mengeluarkan seluruh tanaman + akarnya, dan secara berkesinambungan. Teknologi tersebut
cara ini umumnya menghasilkan keberhasilan dimulai dari pemilihan tanaman donor hingga
aklimatisasi yang rendah, bahkan pada kasus proses aklimatisasinya diuraikan sebagai berikut:
tertentu seluruh tanaman yang diaklimatisasi
Pemilihan Tanaman Donor
membusuk dan mati, meski perendaman pestisida
(bakterisida dan fungsidia) dilakukan. Pemilihan tanaman donor dalam kultur
jaringan krisan merupakan langkah awal yang
Balai Penelitian Tanaman Hias (Balithi)
sangat penting untuk dilakukan dalam menunjang
juga telah melakukan perbanyakan krisan
keberhasilan produksi benih berkualitas sesuai
berbasis kultur jaringan. Pada awalnya kultur
tujuan. Tanaman donor yang dipilih tidak hanya
in vitro krisan dikembangkan menggunakan berorientasi pada nilai komersial dan tingginya
nodus sebagai sumber eksplan, medium MS, permintaan pasar, namun hal yang sangat penting
dan ½ MS sebagai media dasar, IAA pada untuk diperhatikan adalah memperhatikan kondisi
konsentrasi 0,1–0,5 mg/l sebagai hormon dan pertumbuhan tanaman donor. Tanaman
dan konsentrasi dasar, jumlah subkultur yang donor yang baik dipilih dari tanaman krisan
belum ditetapkan dan aklimatisasi plantlet yang sehat, tumbuh vigor, dan tidak ada tanda
disertai perendaman pestisida (bakterisida dan serangan hama penyakit. Untuk menghindarkan
fungisida) konsentrasi 1–2% selama ± 3 menit terjadinya serangan hama-penyakit yang dapat
disertai penyungkupan menjadi cara dasar menurunkan kualitasnya maka tanaman donor
untuk aklimastisasi plantlet (Shintiavira 2012). harus ditempatkan pada rumah kaca/rumah
Kondisi tersebut menyebabkan benih krisan yang lindung yang bebas dan tidak mudah diinvasi
berkualitas dan kapasitas regenerasi yang tinggi atau dimasuki oleh hama-penyakit (insect proof).
dengan keberhasilan aklimatisasi yang optimal
belum berhasil dicapai. Oleh karena itu teknologi Pengambilan Eksplan
produksi benih berkualitas krisan menggunakan Kondisi eksplan merupakan salah satu
tunas pucuk sebagai sumber eksplan menjadi faktor penentu dalam menghasilkan benih
teknologi produksi benih alternatif yang sangat krisan yang berkualitas. Eksplan yang baik

12
iptek hortikultura

Gambar 3. Penyiapan eksplan. (A) tunas pucuk dengan 3–4 daun yang diambil dari tanaman donor,
(B) tunas pucuk dipersiapkan menjadi eksplan dengan cara memotong/membuang daun
ke-2, 3, dan 4 sehingga menyisakan 1–2 daun muda yang menutup titik tumbuh, dan (C)
eksplan yang siap untuk proses sterilisasi

Gambar 4. Proses sterilisasi eksplan. (A) eksplan yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam
botol jam, (B) Botol jam berisi eksplan yang ditutup dengan saringan dan diletakkan
di bawah air mengalir selama 5 menit, (C) eksplan yang siap diberi perlakuan alkohol
10% selama 3 menit, (D) eksplan diprasterilisasi dengan larutan pestisida selama 45
menit di atas shaker, (E) eksplan disterilisasi dengan klorok 5% selama 3–5 menit, dan
(F) eksplan steril yang ditiriskan sebelum isolasi tunas pucuk dilakukan

adalah eksplan yang masih muda, aktif tumbuh, Setelah pemanenan, tunas dimasukkan ke dalam
sehat, vigor, dan tidak ada tanda-tanda adanya plastik yang telah diberi label sesuai dengan nama
serangan hama penyakit. Jika eksplan tersebut varietas, jenis, warna atau penanda lain yang
belum bisa dipanen maka pemangkasan tanaman dinilai penting. Eksplan kemudian dibawa ke
untuk menginduksi tunas-tunas yang baru perlu laboratorium untuk menjalani proses selanjutnya.
dilakukan dengan tujuan mendapatkan sumber
Penyiapan Eksplan
eksplan yang sesuai untuk penyediaan benih
berkualitas. Eksplan yang diambil adalah tunas Eksplan hasil pemanenan dari tanaman
pucuk dengan 1–1,5 cm panjang, 2–3 daun yang donor terpilih selanjutnya dipersiapkan untuk
masih menutup dan belum tumbuh sempurna, proses sterilisasi. Eksplan dikeluarkan dari
dipanen pada pagi hari pukul 07.00–08.30. plastik/wadah penyimpan. Pemotongan atau

13
No. 13 - November 2017

Gambar 5. Proses isolasi tunas pucuk. (A) eksplan steril sebagai bahan sumber tunas pucuk, (B)
proses isolasi tunas pucuk menggunakan pinset dan pisau kultur, (C) tunas pucuk hasil
isolasi, dan (D) tunas pucuk yang berhasil diisolasi dan ditanam di medium MS-0

pembuangan daun hingga menyisakan satu isolasi tunas pucuk. Dengan hati-hati pisau
daun yang paling ujung dan dekat titik tumbuh kultur digunakan untuk membuang sisa tangkai
dilakukan menggunakan pisau kultur atau cutter daun yang masih melekat tahap demi tahap
yang telah dibasahi/dibersihkan dengan alkohol hingga mencapai daun paling ujung dan dekat
96%. Eksplan yang menyisakan satu daun muda sekali dengan titik tumbuh. Setelah itu lakukan
selanjutnya akan menjalani proses sterilisasi. pemotongan titik tumbuh dengan satu primordia
daun secara transversal dengan pisau kultur.
Sterilisasi Eksplan Ukuran eksplan lebih kurang 1–1,5 mm. Eksplan
Eksplan yang telah dipersiapkan untuk yang telah dipotong kemudian segera ditanam
sterilisasi dimasukkan dalam saringan teh/ dalam medium MS-0 dalam posisi tegak lurus, di
saringan kemudian dicuci dengan air mengalir mana bagian bawah menempel pada permukaan
selama 5 menit. Pindahkan eksplan dan rendam media. Botol kultur + eksplan selanjutnya
dalam larutan alkohol 10% selama 3 menit sambil diinkubasi pada kondisi terang 12 jam di bawah
digojok secara manual, kemudian dibilas dengan lampu fluoresen dengan intensitas ± 13 µmol/
air akuades tiga kali (@ 1–3 menit). Pindahkan m2/s atau 1.066 lux, 24 ± 1°C pada siang hari
eksplan pada larutan pestisida (2,5 g/l bakterisida dan tambahan 4 jam pada pukul 10.00 – 02.00
dan fungisida sistemik) yang telah ditambah pada malam hari selama 2–10 hari. Tahap ini
satu tetes larutan tween 20/80 dan gojok secara utamanya digunakan untuk memastikan bahwa
manual atau diletakkan di atas shaker dan diputar tunas pucuk yang dikultur tumbuh baik dan bebas
pada kecepatan 200 rpm selama 45 menit, setelah dari kontaminasi baik jamur maupun bakteri.
itu bilas dengan akuades tiga kali (@ 1–3 menit). Keberhasilan pada tahap ini ditandai dengan
Pindahkan dan rendam lagi eksplan ke larutan 5% tunas pucuk yang tetap hijau, tumbuh sehat, dan
klorok (NaOCl) sambil digojok secara manual tidak ada tanda-tanda kontaminasi eksplan baik
selama 3–5 menit, 10% klorok selama 3–5 menit, oleh bakteri maupun jamur.
kemudian dibilas dengan air akuades steril tiga
Rejuvinasi Awal
kali (@ 1–3 menit). Eksplan kemudian ditiriskan
dalam erlenmeyer yang ditutup dengan tisu steril Rejuvinasi merupakan tahapan penting
dalam posisi erlenmeyer terbalik. yang dilakukan untuk memulihkan kapasitas
regenerasi eksplan menggunakan sitokinin.
Isolasi dan Penanaman Tunas Pucuk pada Rejuvinasi awal dilakukan dengan memindahkan
Media Inisiasi tunas pucuk yang dikultur pada medium MS-0
Isolasi tunas pucuk dilakukan dengan cara dan bebas kontaminasi pada medium MS yang
mengambil eksplan steril yang telah ditiriskan ditambah dengan 0,5 mg/l BAP (medium
menggunakan pinset dan meletakkannya di Rejuvinasi-1). Kultur diinkubasi pada kondisi
atas cawan petri steril baik dengan atau tanpa terang yang sama dengan tahap sebelumnya
tisu steril. Eksplan dipegang dengan pinset selama ± 1,5 bulan. Keberhasilan pada tahap ini
dalam posisi tegak lurus, selanjutnya dengan ditandai dengan tumbuhnya tunas pucuk dengan
menggunakan pisau kultur yang lancip, lakukan 1–5 tunas baru tergantung respons varietas, daun

14
iptek hortikultura

Gambar 6. Pertumbuhan tunas pucuk pada tahap rejuvinasi awal. (A) tunas pucuk yang dikultur
pada medium MS-0 2 hari setelah kultur, (B) tunas pucuk yang dikultur pada medium
MS yang ditambah 0,5 mg/l BAP 10 hari setelah kultur, (C) dua tunas hasil regenerasi
tunas pucuk pada medium MS yang ditambah 0,5 mg/l BAP 25 hari setelah kultur dan
(D) tiga tunas hasil regenerasi tunas pucuk pada medium MS yang ditambah dengan 0,5
mg/l BAP 1,5 bulan setelah kultur

Gambar 7. Rejuvinasi lanjutan untuk memperbanyak eksplan. (A) tunas hasil rejuvinasi awal pada
medium MS yang ditambah 0,5 mg/l BAP 1,5 bulan setelah kultur yang digunakan
sebagai sumber eksplan untuk perbanyakan pada tahap rejuvinasi ke-2, (B) tunas yang
telah dipotong dan dikelompokkan secara berurutan dari tunas pucuk, nodus 1, 2, 3
dan 4, (C) nodus 1 yang dikultur pada medium MS yang ditambah 0,25 mg/l BAP pada
awal subkultur, dan (D) dua tunas baru hasil regenerasi eksplan yang dikultur pada
medium MS yang ditambah 0,25 mg/l BAP

kecil, ruas pendek, batang vigor, dan munculnya 1–3 tunas baru tergantung respons varietas, daun
kalus dipangkal tunas. kecil, ruas pendek, batang vigor, dan munculnya
kalus dipangkal tunas yang ukurannya lebih kecil
Rejuvinasi Lanjutan
dibanding pada tahap rejuvinasi awal. Sementara
Rejuvinasi lanjutan dilakukan dengan nodus akan tumbuh dengan 1–2 tunas baru
memotong tunas hasil rejuvinasi awal ke medium tergantung respon varietas dengan kondisi tunas
rejuvinasi lanjutan. Tunas dipegang dengan hampir sama dengan kondisi tunas yang diamati
pinset dan dipotong dengan pisau kultur. Tunas pada tahap rejuvinasi awal.
selanjutnya dipotong dari tunas pucuk dengan
satu daun, nodus 1, 2, 3, dan 4, potongan eksplan Subkultur 1 – 5
selanjutnya dikelompokkan sesuai dengan Subkultur adalah tahap perbanyakan
posisinya artinya tunas pucuk dengan tunas tanaman. Tahap ini dilakukan sama persis
pucuk, nodus 1 dengan nodus 1, dan seterusnya. dengan tahap rejuvinasi lanjutan. Tunas hasil
Eksplan yang telah dikelompokkan selanjutnya rejuvinasi lanjutan setelah tumbuh dengan 5–6
dikultur pada medium MS yang ditambah dengan daun digunakan sebagai sumber eksplannya.
0,25 mg/l BAP. Kultur diinkubasi pada kondisi Tunas selanjutnya dipotong dari tunas pucuk
terang yang sama dengan tahap sebelumnya dengan satu daun, nodus 1, 2, 3, dan 4, potongan
selama ± 1,5 bulan. Keberhasilan pada tahap ini eksplan selanjutnya dikelompokkan sesuai
ditandai dengan tumbuhnya tunas pucuk dengan dengan posisinya. Potongan eksplan yang

15
No. 13 - November 2017

Gambar 8. Subkultur tunas untuk tujuan perbanyakan. (A) tunas hasil rejuvinasi lanjutan yang
digunakan sebagai sumber eksplan, (B) tunas pucuk yang disubkultur pada medium ½
MS-0 untuk tujuan perbanyakan, (C) nodus 3 yang dikultur pada medium ½ MS-0 untuk
tujuan perbanyakan, dan (D) Kondisi tunas hasil subkultur yang hampir seragam dan
berasal dari nodus 2 sebagai sumber eksplan 1,5 bulan setelah kultur

Gambar 9. Aklimatisasi plantlet cara baru yang lebih efektif dan efisien dengan tingkat keberhasilan
yang tinggi. (A) plantlet yang siap untuk digunakan sebagai bahan aklimatisasi, (B) tunas
dengan 2–4 daun yang siap diaklimatisasi, (C) tunas dengan 2–4 yang telah ditanam dan
siap untuk ditutup dengan plastik transparan, (D) tunas yang telah ditanam dalam bak
plastik dan ditutup dengan plastik transparan selama 7 hari, (E) tunas hasil aklimatisasi
yang telah berakar pada umur 15 hari, dan (F) tunas berakar hasil aklimatisasi dengan
akar yang sehat dan siap digunakan sebagai sumber tanaman induk maupun untuk
produksi bunga jika kebutuhan benih sangat mendesak

telah dikelompokkan selanjutnya ditanam varietas. Pada tahap subkultur ke-5, eksplan
pada medium ½ MS-0 dan diinkubasi pada dibiarkan tumbuh hingga jumlah daun mencapai
kondisi yang sama. Pada tahap ini tunas hasil 4–5 daun saja. Tunas inilah yang selanjutnya
perbanyakan ukurannya makin meningkat seiring dipersiapkan untuk proses aklimatisasi.
dengan jumlah subkultur. Ukuran daun makin
lebar, ukuran antar ruas makin panjang. Pada Aklimatisasi
subkultur ke 3–5 pada beberapa varietas mulai Aklimatisasi dilakukan dengan cara
diikuti dengan munculnya akar, jumlahnya 1–3 mengambil botol kultur yang berisi tunas/plantlet
akar, 0,2–2,5 cm panjang akar tergantung respons yang telah tumbuh dengan 4–5 daun. Buka plastik

16
iptek hortikultura

yang menutup botol kultur, dengan pinset, pegang dimulai dari pemilihan tanaman donor hingga
tunas pada posisi di bawah daun ke-2, ke-3 atau aklimatisasi stek in vitro. Teknologi ini telah
ke-4, selanjutnya dengan pisau kultur potong digunakan di UPBS Balithi untuk memproduksi
batang pada posisi miring di atas daun ke-3, ke-4 benih sumber dari 50 VUB krisan. Total produksi
atau ke-5 dan langsung ditanam pada media arang benih sumber per tahun mencapai 20.000-22.500
sekam bakar yang telah dibasahi air secukupnya plantlets dan 430.000-450.000 stek berakar.
pada kedalaman 1–2 cm. Potongan tunas ditanam
dengan kerapatan 1,5 cm x 1,5 cm (panjang dan
lebar) atau menyesuaikan lebar kanopi daun.
Satu bak plastik yang diisi dengan media arang DAFTAR PUSTAKA
sekam pada ketebalan ± 5 cm ditanam 200–300
stek menyesuaikan lebar kanopi daun dari tunas 1. Astutik 2010, ‘Penggunaan alar dan BA (Benzyl
Adenine) dalam media kultur jaringan krisan’,
yang diaklimatisasi. Bak plastik ditutup plastik
Buana Sains, vol. 10, no. 1, hlm. 77-82.
transparan selama 7 hari. Bak plastik yang berisi
stek tunas hasil kultur in vitro biasanya mulai 2. Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal
Hortikultura 2016a, Luas panen krisan menurut
berakar 5–7 hari setelah tanam dan dapat dipanen
provinsi Tahun 2011-2015, dilihat 26 Juli
pada umur ± 12 hari. Keberhasilan aklimatisasi
2017,<http://hortikultura.pertanian.go.id/wp-
95–100%. content/uploads/2016/02/statistik-produksi-2014.
Potensi Produksi Benih Berkualitas pdf>.
Teknologi produksi benih berkualitas 3. Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal
krisan ini memiliki potensi produksi benih Hortikultura 2016b, Produksi krisan menurut
yang cukup tinggi. Dari satu eksplan tunas provinsi Tahun 2011-2015, dilihat 26 Juli 2017,
pucuk akan dihasilkan 156.250 tunas siap <http://hortikultura.pertanian.go.id/wp-content/
aklimatisasi dengan kecepatan penggandaan uploads/2016/02/statistik-produksi-2014.pdf>.
satu eksplan menghasilkan lima eksplan pada 4. Badan Pusat Statistik dan Direktorat Jenderal
tahap berikutnya berhasil dicapai selama 13 Hortikultura 2016c, Produktivitas krisan menurut
bulan. Jika faktor kegagalan seluruh proses provinsi Tahun 2011-2015, dilihat 26 Juli 2017,
adalah 10% maka diakhir proses akan dihasilkan <http://hortikultura.pertanian.go.id/wp-content/
uploads/2016/02/statistik-produksi-2014.pdf>.
140.625 tanaman G-0. Benih yang dihasilkan ini
adalah benih berkualitas yang memiliki kapasitas 5. Basri, Z 2008, ‘Multiplikasi empat varietas krisan
regenerasi yang tinggi dan stek turunannya ketika melalui teknik kultur jaringan’, Jurnal Agriland,
digunakan untuk penyediaan tanaman induk vol. 15, no. 4, hlm. 271-77.
maupun tanaman produksi akan menghasilkan 6. Budiarto, K & Marwoto, B 2009, ‘Mother plant
tanaman dengan produksi bunga yang maksimal. productivity and cutting quality of chrysanthemum
Teknologi ini telah berhasil diaplikasikan di varietas grown under plastichouse and open
UPBS Balithi untuk memproduksi berbagai VUB conditions’, Indonesian Journal of Agriculture,
vol. 2, no. 2, pp. 115-20.
krisan yang berada dalam ruang lingkupnya.
Total VUB yang diproduksi dengan teknologi ini 7. Dwimahyani, I & Gandanegara, S 2001,
ada 50 VUB. Total produksi benih sumber yang ‘Perbanyakan tanaman krisan (Chrysanthemum
dihasilkan sejak 2011 hingga 2016 berkisar antara morifolium) melalui kultur jaringan’, Berita
Biologi, vol. 5, no. 4, hlm. 413-19.
20.000 –22.500 plantlets dan 430.000–450.000
stek berakar per tahun. 8. Indriani, BS 2014, ‘Efektivitas substitusi sitokinin
dengan air kelapa pada medium multiplikasi
tunas krisan (Chrysanthemum indicum L.) secara
In Vitro’, Skripsi, Jurusan Biologi, Fakultas
KESIMPULAN Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,
Universitas Negeri Semarang, 97 hlm.
Teknologi produksi benih berkualitas 9. Istianingrum, P, Damanhuri & Soetopo, L 2013,
krisan menggunakan tunas pucuk sebagai ‘Pengaruh generasi benih terhadap pertumbuhan
sumber eksplan merupakan teknologi produksi dan pembungaan krisan (Chrysanthemum)
benih berkualitas yang lebih optimal dibanding Varietas Rhino’, Jurnal Produksi Tanaman, vol.
teknologi sebelumnya. Aplikasi teknologi ini 1, no, 3, pp. 1-8.

17
No. 13 - November 2017

10. Kartika, D 2017, Daftar harga berbagai jenis 14. Tilaar, WJ, Runtung & Tulung, S 2015, ‘Induksi
bunga krisan di pasaran, http://harga.web.id/ tunas dari nodul krisan kulo dalam media
daftar-harga-berbagai-jenis-bunga-krisan-di- Murashige dan Skoog yang diberi sitokinin’,
pasaran, info, 2 Agustus 2017. Eugenia, vol. 21, no. 2, hlm. 94-104.
11. Lubis, YM 2016, ‘Regenerasi in vitro tanaman 15. Yusuf, SW 2015, Standar operasional prosedur:
krisan (Chrysanthemum morifolium) melalui Perbanyakan benih florikultura (seri perbanyakan
tunas aksiler sebagai respon terhadap media benih krisan), Direktorat Perbenihan Hortikultura,
dasar dan benziladenin serta aklimatisasi Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian
plantlet’, Skripsi, Fakultas Pertanian, Universitas Pertanian, 123 hlm.
Lampung, Bandar Lampung, hlm. 66.
12. Muhit, A 2007, ‘Teknik produksi tahap awal benih
vegetatif krisan (Chrysanthemum morifolium
R.)’, Buletin Teknik Pertanian, vol. 12, no. 1,
pp. 14-8.
13. Shintiavira, H 2012, ‘Studi pengaruh substitusi
hara makro dan mikro media MS dengan pupuk Budi Winarto
majemuk dalam kultur in vitro krisan’, J. Hort., Balai Penelitian Tanaman Hias
vol. 22, no. 4, hlm. 334-41. Jln. Raya Ciherang, PO. Box 8, Sindanglaya,
Pacet-Cianjur, Jawa Barat, Indonesia 43253
E-mail: budi.winarto67@yahoo.co.id

18