Anda di halaman 1dari 9

Malang, 20 Oktober 2018

Kepada Yth.
KETUA MAHKAMAH KONSTITUSI
REPUBLIK INDONESIA
Jl. Medan Merdeka Barat No. 6
Jakarta Pusat 10110

Hal: Permohonan Pengujian Pasal 75 ayat (2) huruf b Undang-Undang


Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan terhadap Undang-Undang
Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.

Dengan hormat,
1. dr.M. Gilang Ariesta,SpOG Warga Negara Indonesia, dokter Spesialis
Kandungan, Beralamat di jalan Kembang Kamboja, Malang, Jawa Timur
2. Habib Solihin, S.Kep. Warga Negara Indonesia, Pegawai Negeri Sipil;,
Beralamat di jalan Kembang Kamboja, Malang, Jawa Timur.

1. Nama; dr.M. Gilang Ariesta,SpOG


Pekerjaan: dokter Spesialis Kandungan
Warga Negara: Indonesia
Alamat: di jalan Kembang Kamboja, Malang, Jawa Timur.
Nomor Telepon:081234567898
Email:Gilang@gmail.com

2. Nama; Habib Solihin, S.Kep


Pekerjaan: Pegawai Negeri Sipil
Warga Negara: Indonesia
Alamat: di jalan Kembang Kamboja, Malang, Jawa Timur.
Nomor Telepon: 082283879955
Email:Solihinhabib@gmail.com

1
2

Dengan ini memberi kuasa kepada:


Akhyar Fauzan S.H.,Alfian Maulana, S.H.,Azhari Fadil.S.H. Para
konsultan hukum yang berkantor di Alex and Associate Law Firm,
memilih domisili hukum di Jalan MT Haryono Nomor 345 Malang, Jawa
Timur, bertindak untuk dan atas nama pemberi kuasa, berdasarkan Surat
Kuasa Khusus terlampir . Selanjutnya disebut sebagai PEMOHON.

A. Kewenangan Mahkamah Konstitusi


1. Perubahan Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945
telah menciptakan sebuah lembaga baru yang berfungsi untuk mengawal
konstitusi, yaitu Mahkamah Konstitusi, sebagaimana tertuang dalam Pasal
24 Ayat (1) dan Ayat (2), serta Pasal 24C Undang Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 , yang diatur lebih lanjut dalam Undang-
Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang
Mahkamah Konstitusi (Lembaran Negara Tahun 2011 Nomor 70,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 5266).
2. Bahwa salah satu kewenangan yang dimiliki oleh Mahkamah Konstitusi
adalah melakukan pengujian undang-undang terhadap konstitusi
sebagaimana diatur dalam Pasal 24C Ayat (1) Undang Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi:
“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama
dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk menguji undang-
undang terhadap Undang-Undang Dasar...”
3. Selanjutnya, Pasal 10 ayat (1) huruf a Undang-Undang Mahkamah
Konstitusi menyatakan:

“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama


dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk:
a. menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar
Negara Republik Indonesia Tahun 1945, ....”
3

4. Pasal 29 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48 Tahun


2009 tentang Kekuasaan Kehakiman (Lembaran Negara Tahun 2009
Nomor 157, Tambahan Lembaran Negara Nomor 5076), selanjutnya
disebut “Undang-Undag Kekuasaan Kehakiman” menyatakan:
“Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili pada tingkat pertama
dan terakhir yang putusannya bersifat final untuk:
a. menguji undang-undang terhadap Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945”

5. Bahwa mengacu kepada ketentuan tersebut di atas, Mahkamah Konstitusi


berwenang untuk melakukan pengujian konstitusionalitas suatu undang-
undang terhadap Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.

B. Kedudukan Hukum (Legal Standing) Pemohon

1. Dimilikinya kedudukan hukum/legal standing merupakan syarat yang


harus dipenuhi oleh setiap pemohon untuk mengajukan permohonan
pengujian undang-undang terhadap UUD NRI 1945 kepada MK
sebagaimana diatur di dalam Pasal 51 ayat (1) Undang Undang No 24
Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi sebagaimana telah diubah
dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2011 tentang Perubahan atas
Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi.

Pasal 51 ayat (1) Undang Undang No 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah


Konstitusi :
“Pemohon adalah pihak yang menganggap hak dan/atau Hak
Konstitusionalnya dirugikan oleh berlakunya undang-undang, yaitu:
a. perorangan warga negara Indonesia;
b. kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan
sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip
4

Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam


undang-undang;
c. badan hukum publik atau privat; atau
d. lembaga negara.”

Penjelasan Pasal 51 ayat (1) Undang Undang No 24 Tahun 2003


tentang Mahkamah Konstitusi:
“Yang dimaksud dengan “hak konstitusional” adalah hak-hak yang
diatur dalam UUD NRI 1945.”

Berdasarkan ketentuan Pasal 51 ayat (1 )Undang Undang No 24 Tahun


2003 tentang Mahkamah Konstitusi tersebut, terdapat dua syarat yang
harus dipenuhi untuk menguji apakah Para Pemohon memiliki kedudukan
hukum (legal standing) dalam perkara pengujian undang-undang, yaitu
(i) terpenuhinya kualifikasi untuk bertindak sebagai pemohon, dan
(ii) adanya hak dan/atau Hak Konstitusional dari Para Pemohon yang
dirugikan dengan berlakunya suatu undang-undang.

2. Bahwa oleh karena itu, Para Pemohon menguraikan kedudukan hukum


(Legal Standing) Para Pemohon dalam mengajukan permohonan dalam
perkara a quo, sebagai berikut:

Pertama, Kualifikasi sebagai Para Pemohon. Bahwa kualifikasi


Pemohon I sampai dengan Pemohon II adalah sebagai perorangan
warga negara Indonesia.

Kedua, Kerugian Konstitusional Para Pemohon. Mengenai parameter


kerugian konstitusional, Mahkamah Konstitusi telah memberikan
pengertian dan batasan tentang kerugian konstitusional yang timbul
karena berlakunya suatu undang-undang harus memenuhi 5 (lima)
syarat sebagaimana Putusan MK Perkara Nomor 006/PUU-III/2005
dan Perkara Nomor 011/PUU-V/2007, yaitu sebagai berikut:
5

a. adanya hak dan/atau kewenangan Konstitusional pemohon yang


diberikan oleh Undang Undang Dasar Negara kesatuan Republik
Indonesia Tahun 1945;
b. bahwa hak dan/atau kewenangan Konstitusional pemohon
tersebut dianggap oleh para Pemohon telah dirugikan oleh suatu
Undang-Undang yang diuji;
c. bahwa kerugian hak dan/atau kewenangan Konstitusional
pemohon yang dimaksud bersifat spesifik (khusus) dan aktual
atau setidaknya bersifat potensial yang menurut penalaran yang
wajar dapat dipastikan akan terjadi;
d. adanya hubungan sebab akibat (causal verband) antara kerugian
dan berlakunya undang-undang yang dimohonkan pengujian;
e. adanya kemungkinan bahwa dengan dikabulkannya permohonan
maka kerugian dan/atau kewenangan Konstitusional yang
didalilkan tidak akan atau tidak lagi terjadi.
3. Bahwa Pemohon I sampai dengan Pemohon II sebagai perorangan Warga
Negara Indonesia, secara konstitusional telah dirugikan pemenuhan Hak
Konstitusionalnya untuk menjunjung tinggi dan menaati hukum yang
dipositifkan di dalam Undang-Undang a quo, oleh karena :
Pasal 75 ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan mengurangi hak konstitusional Pemohon I sampai
dengan Pemohon II yang melanggar konstitusi yaitu hak untuk hidup dan
juga aborsi memiliki resiko penderitaan yang berkepanjangan terhadap
kesehatan maupun keselamatan hidup seorang wanita. resiko kesehatan
terhadap wanita yang melakukan aborsi bersiko kesehatan dan
keselamatan secara fisik dan ganguan psikologis.
4. Bahwa dengan demikian, Para Pemohon memiliki kedudukan hukum
(legal standing) sebagai pemohon pengujian undang-undang dalam
perkara a quo karena telah memenuhi ketentuan Pasal 51 ayat (1) Undang-
Undang Mahkamah konstitusi beserta Penjelasannya dan 5 (lima) syarat
kerugian hak konstitusional sebagaimana pendapat Mahkamah selama ini
6

yang telah menjadi yurisprudensi dan Pasal 3 Peraturan Mahkamah


Konstitusi Nomor 06/PMK/2005.

C. Alasan-alasan Permohonan
1. Bahwa objek permohonan pengujian ini adalah materi muatan Pasal 75
ayat (2) huruf b Undang-undang Nomor 36 tahun 1999 tentang Kesehatan.
Pasal 75 ayat berbunyi :
(1) “larangan melakukan aborsi”.
(2)“ Larangan sebagaimana dimaksud ayat (1) dapat dikecualikan
berdasarkan:
b. Kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma
psikologis bagi korban pemerkosaan.
2. Bahwa menurut Para Pemohon Pasal 75 ayat (2) huruf b Undang-undang
Nomor 36 tahun 1999 tentang Kesehatan bertentangan dengan Pasal Pasal
28A ,Pasal 28B ayat (2) dan Pasal 28I ayat (1) Undang-Undang Dasar
Republik Indonesia Tahun 1945 .
3. Bahwa, berdasarkan Pasal 28A Undang Undang Dasar Negara Republik
Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi : “ setiap orang berhak untuk hidup
serta berhak mempertahankan hidup dan kehidupannya.”
Pada kenyataannya setiap janin atau bayi yang tertanam dirahim setiap
wanita memiliki hak untuk hidup serta mempertahankan kehidupannya.
Aborsi merupakan tindakan kekerasan terhadap janin sehingga janin
tersebut dibunuh dan dikeluarkan secara paksa dari rahim ibunya. Oleh
sebab itu tergambar jelas bahwa tindakan aborsi sangat bertentangan
dengan Pasal 28A Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia
Tahun 1945.
4. Bahwa, berdasarkan Pasal 28B ayat (2) Undang Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi : “ setiap anak berhak atas
kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, serta berhak atas
perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.”
Aborsi adalah sebuah tindakan yang tidak manusiawi dengan
menggunakan kekerasan yang secara langsung aborsi telah merenggut
7

nyawa seorang bayi yang masih dalam keadaan suci, yang sejatinya sejak
berupa Janin telah dianggap sebagai subyek hukum sehingga berhak untuk
hidup, tumbuh, dan berkembang tanpa adanya kekerasan dan diskriminasi.
Oleh sebab itu, bahwa tindakan aborsi sangat bertentangan dengan Pasal
28B ayat (2) Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
5. Bahwa, berdasarkan Pasal 28I ayat (1) Undang Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945 yang berbunyi: “ hak untuk hidup, hak
untuk tidak disiksa, hak kemerdekaan pikiran dan hati nurani, hak
beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak untuk diakui sebagai pribadi di
hadapan hukum dan untuk tidak dituntut atas dasar hukum yang berlaku
surut adalah hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan
apapun.”
Bahwa tindakan aborsi ,merupakan tindakan yang jahat dan tidak
inkonstitutional melanggar hak asasi manusia merupakan hak dasar yang
dimiliki oleh manusia yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa dan ini
tidak boleh dikurangi dalam bentuk apapun. Tindakan aborsi memiliki
resiko penderitaan yang berkepanjangan terhadap kesehatan maupun
keselamatan hidup seorang wanita. resiko kesehatan terhadap wanita yang
melakukan aborsi bersiko kesehatan dan keselamatan secara fisik dan
ganguan psikologis .Dengan Demikian Jelas bertentangan dengan Pasal
28I ayat (1)Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun
1945.
6. Berdasarkan alasan-alasan tersebut Hak untuk hidup merupakan hak
paling mendasar yang dimiliki setiap manusia , dengan diberlakukannya
ketentuan Pasal 75 ayat (2) huruf b Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009
tentang Kesehatan telah melanggar ketentuan paling dasar tersebut yang
khusus tercantum dalam Pasal 28A ,Pasal 28B ayat (2) dan Pasal 28I ayat
(1) Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945.
8

D. Permohonan
1. Berdasarkan seluruh uraian di atas, jelas bahwa di dalam permohonon uji
materil ini terbukti bahwa Pasal 75 ayat (2) huruf b Undang-Undang
Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan, merugikan Hak Konstitusional
Para Pemohon yang dilindungi (protected), dihormati (respected),
dimajukan (promoted), dan dijamin (guaranted) ) Undang-Undang Dasar
Republik Indonesia Tahun 1945.
2. Oleh karena itu, diharapkan dengan dikabulkannya permohonan ini dapat
mengembalikan Hak Konstitusional Para Pemohon sesuai dengan amanat
Konstitusi.
3. Dengan demikian, Para Pemohon mohon kepada Majelis Hakim Konstitusi
yang mulia berkenan memberikan putusan sebagai berikut:
a. Menerima dan mengabulkan permohonan Para Pemohon untuk
seluruhnya;
b. Menyatakan Pasal 75 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 36
tahun 2009 tentang Kesehatan bertentangan dengan Undang-
Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 dan tidak
mempunyai kekuatan mengikat; dan
c. Memerintahkan untuk memuat putusan ini dalam Berita Negara
Republik Indonesia sebagaimana mestinya;
4. Apabila Mahkamah berpendapat lain mohon Putusan seadil-adilnya (ex
aequo et bono).

Hormat kami,
Kuasa Hukum Pemohon :

Akhyar Fauzan S.H.

Alfian Maulana, S.H.


9

Azhari Fadil.S.H.

Anda mungkin juga menyukai