Anda di halaman 1dari 9

Manifestasi klinis

1. Akut :
 Kelenjar membesar
 Nyeri dan pembengkakan leher
 Demam
 Sakit bila menelan
 Radang akut pada interstitium
 Dapat terjadi supurasi dan pembentukan abses
2. Subakut ( Tiroiditis Granulomatosa)
 Rasa nyeri pada leher
 Demam
 Penurunan berat badan
 Mudah lelah
 Rasa tidak enak badan
 Anoreksia
 Takikardia
 Tremor
 Mialgia akan menyertai pembesaran tiroid
3. Kronis ( Tiroiditis Hashimoto)
 Pembesaran tiroid tanpa rasa nyeri
 Demam
 Peningkatan berat badan
2.6 Komplikasi
1. Hipotiroidisme dan Hipertiroidisme
2. Kerusakan pita suara
3. DM tipe 1
4. Penyakit Addison
5. Leukemia
6. Sklerosis multiple
2.7 Pemeriksaan penunjang
Penatalaksanaan keperawatan :
1. T4 dan T3 serum
 T 4 Serum
Tes yang paling sering dilakukan adalah penentuan T4 serum dengan
teknik radioimmunoassay atau peningkatan kompetitif. Kisaran T4 dalam
serum yang normal berada diantara 4,5 dan 11,5 mg/dl (58,5 hingga 150
nmol/L). T4 terikat terutama dengan TBG dan prealbumin : T3 terikat lebih
longgar. T4 normalnya terikat dengan protein. Setiap factor yang mengubah
protein pengikat ini juga akan mengubah kadar T4.
 T 3 Serum
T3 serum mengukur kandungan T3 bebas dan terikat, atau total T3
total, dalam serum. Sekresinya terjadi sebagai respon terhadap sekresi TSH
dan T4. Meskipunkadar T3 dan T4 serum umumnya meningkat atau menurun
secara bersama-sama,namun kadar T4 tampaknya merupakan tanda yang akurat
untuk menunjukan adanya hipertiroidisme, yang menyebabkan kenaikan kadar
T4 lebih besar daripada kadar T3. Batas-batas normal untuk T3 serum adalah 70
hingga 220 mg/dl (1,15 hingga 3,10nmol/L)

2. Kadar TSH serum


 Tes TSH (Thyroid Stimulating Hormone)

Sekresi T3 dan T4 oleh kelenjar tiroid dikendalikan hormone stimulasi


tiroid(TSH atau tirotropin) dari kelenjar hipofisis anterior. Pengukuran
konsentrasi TSH serum sangat penting artinya dalam menegakkan diagnosis
serta penatalaksanaan kelainan tiroid dan untuk membedakan kelainan yang
disebabkan oleh penyakit pada kelenjar tiroid sendiri dengan kelainan yang
disebabkan oleh penyakit pada hipofisisatau hipotalamus.kadar TSH dapat
diukur dengan assay radioimunometrik, nilainormal dengan assay generasi
ketiga, berki sar dari 0,02 hingga 5,0 μU/ml. Kadar TSH sensitif dan dapat
dipercaya sebagai indikator fungsi tiroid. Kadar akan berada dibawah normal pada
klien dengan peningkatan autonom pada fungsi tiroid (penyakit graves, hiperfungsi
nodul tiroid).

3. Ambilan iosidium radioskopi


Tes ambilan iodium radioaktif dilakukan untuk mengukur
kecepatan pengambilan iodium oleh kelenjar tiroid. Kepada klien disuntikan atau
radionuklida lainnya dengan dosis tracer, dan pengukuran pada tiroid dilakukan
dengan alat pencacah skintilas (scintillation counter) yang akan mendeteksi.

2.8 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis
Penatalaksanan yang dapat dilakukan antara lain :
 Anti-inflamasi nonsteroid (NSAID) digunakan untuk mengurangi rasa
sakit pada leher, penggunaan asam asetil salisilat (aspirin) perlu
dihindari bila gejala hipertiroidisme timbul, karena aspirin akan
mengusir hormon tiroid dari tempat penyikatannya hingga
meningkatkan jumlah hormon tersebut dalam darah.
 Antitiroid yang akan menyekat sintetis T3 dan T4 efektif untuk
mengobati tiroiditis karena tirotoksikosis
 Kortikostroid oral kadang-kadang dapat diresepkan untuk meredakan
rasa nyeri dan mengurangi pembengkakan
 Aspirin atau obat anti peradangan non-steroid lainnya (misalnya
ibuprofen) bisa mengurangi nyeri dan peradangan.
 Bisa diberikan kortikosteroid (misalnya prednison) selama 6-8 minggu.
Jika pemberian kortikosteroid dihentikan, gejalanya sering kembali
muncul.
 Antipiretik untuk menurunkan demam akibat inflamasi.

2. Tindakan bedah
Dilakukan tindakan tiroidektomi dimana kelenjar tiroid dapat diambil
sebagian atau seluruhnya. Jika pengambilan sebagian kelenjar tiroid dapat
mengakibatkan penurunan fungsi tiroid atau lebih dikenal dengan hipotiridisme
sedangkan kalau pengambilan seluruh bagian kelenjar tiroid mengakibatkan tiroid
kehilangan fungsi sehingga dibutuhkan pengganti hormon.
ASUHAN KEPERAWATAN TIROIDITIS
1. Pengkajian
a. Data Demografi : identitas klien, umur, jenis kelamin, dan sebagainya.
b. Riwayat kesehatan
Keluhan Utama :
Keluhan yang ditimbulkan dari klien tiroiditis adalah nyeri akibat peradangan
yang terjadi pada area sekitar faring.
c. Riwayat Kesehatan Sekarang
Klien merasakan nyeri pada bagian leher dan pada terkadang disertaid engan
gangguan menelan dan komunikasi verbal.
d. Riwayat Kesehatan Masa Lalu
Apakah klien dulu pernah menderita penyakit yang sama atau penyakit
gangguan hormon tiroid lainnya.
e. Riwayat Kesehatan Keluarga
Apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit yang sama ataupenyakit
gangguan hormon tiroid lainnya
f. Pemeriksaan fisik
 Inspeksi.
Periksa leher terhadap kemungkinan asimetri. Tiroid normal hampir tidak
nampak. Persilakan klien untuk menelan, sambil mengamati gerakan naik tiroid.
Pembesaran tiroid secara difus seringkali menyebabkan pembesaran leher secara
merata.
 Palpasi.
Terdapat dua cara palpasi kelenjar tiroid. Cara anterior dilakukan dengan
klien dan pemeriksa duduk berhadapan. Dengan memfleksi leher klien atau memutar
dagu sedikit ke kanan, pemeriksa dapat merelaksasi muskulus sternokleidomastoideus
pada sisi itu, sehingga memudahkan pemeriksaan. Tangan kanan pemeriksa
menggeser laring ke kanan dan selama menelan, lobus tiroid kanan yang tergesar
dipalpasi dengan ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri. Lakukan hal serupa pada lobus
kiri.
Pada cara posterior, pemeriksa meletakkan kedua tangannya pada leher klien,
yang posisi lehernya sedikit ekstensi. Pemeriksa memakai tangan kirinya mendorong
trakea ke kanan. klien diminta menelan sementara tangan kanan pemeriksa meraba
tulang rawan tiroid. Lakukan cara yang sama saat pemeriksaan tiroid kiri.
Konsistensi kelenjar harus dinilai. Kelenjar tiroid normal mempunyai
konsistensi mirip jaringan otot. Keadaan padat keras terdapat pada kanker atau luka
parut. Lunak, atau mirip spons seringkali dijumpai pada goiter toksik. Nyeri tekan
pada kelenjar tiroid terdapat pada infeksi akut atau perdarahan ke dalam kelenjar.

g. Pemeriksaan persistem
a. Aktifitas / istirahat
Gejala : insomnia, sensitivitas T, otot lemah, gangguan koordinasi, kelelahan otot.
Tanda : atrofi otot.
b. Sirkulasi
Gejala : palpitasi, nyeri dada (angina).
Tanda :disritma (vibrilasi atrium), irama gallop, mur-mur, peningkatan tekanan
darah dengan tekanan nada yang berat.Takikardi saat istirahat, sirkulasi kolaps, syok
(krisis tiroksikosisi).
c. Eliminasi
Gejala : urine dalam jumlah banyak, perubahan dalam feces, diare.
d. Integritas ego
Gejala : mengalami stres yang berat (emosional, fisik)
Tanda : emosi labil euforia sedang sampai delirium), depresi
e. Pencernaan
Gejala : kehilangan berat badan mendadak, napsu makan meningkat, makan banyak,
makannya sering kehausan, mual, muntah.
Tanda : pembesaran tiroid, goiter, edema non pitting terutama daerah pretibial.
f. Neurosensori
Tanda : bicara cepat dan parau, gangguan status mental, perilaku (bingung,
disorientasi, gelisah, peka rangsang), tremor halus pada tangan, tanpa tujuan
beberapa bagian tersentak-sentak, hiperaktif refleks tendon dalam (RTP).
g. Nyeri/kenyamanan
Gejala : nyeri orbital, fotofobia.
h. Pernapasan
Tanda : frekuensi pernapasan meningkat, takipnea, dispea, edema paru (pada krisis
tirotoksikosis).
i. Keamanan
Gejala : tidak toleransi terhadap panas, keringat yang berlebihan, alergi terhadap
iodium (mungkin digunakan saat pemeriksaan).
Tanda : suhu meningkat di atas 37,4ºC, diaforesis kulit halus, hangat dan kemerahan
Eksotalus: retraksi, iritasi pada konjungtiva dan berair, pruritus, lesi eritema (sering
terjadi pada pretibial) yag menjadi sagat parah.
j. Seksualitas
Tanda : penurunan libido, hipomenorea, amenorea dan impoten.

2. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan proses inflamasi
2. Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan proses penyakit
4. Gangguan personal hygiene berhubungan dengan keterbatasan mobilisasi setelah
operasi
5. Kerusakan menelan berhungan dengan kerusakan neuromuskular

3. Intervensi keperawatan

No. Diagnosa keperawatan Tujuan & kriteria Intervensi Rasional


hasil
1. Nyeri b.d proses inflamasi Setelah mendapatkan 1. Kaji lokasi dan 1. Untuk mengetahui
asuhan keperawatan skala nyeri. lokasi dan berapa
selama 3 x 24 jam, skalanya.
diharapkan : 2. Ajarkan 2. Untuk mengatasi
Nyeri berkurang manajemen rasa nyeri yang
dengan skala 0 – 2, nyeri, teknik dialami.
tidak ada tanda – napas dalam, &
tanda kesakitan. imajinasi.
3. Pantau kondisi 3. Untuk mengetahui
pasien tiap 2 jam. kondisi pasien dan
mencegah
terjadinya
komplikasi yang
tidak diinginkan.

4. Kolaborasi untuk 4. Dapat membantu


pemberian mengurangi rasa
analgetik. nyeri.
2. Hipertermi b.d proses Setelah mendapatkan 1. Berikan kompres 1. Dapat membantu
inflamasi asuhan keperawatan panas pada proses penurunan
selama 3 x 24 jam ketiak. panas yang
diharapkan : dialami klien.
Suhu tubuh normal 2. Anjurkan klien 2. Karena kondisi
(36,5 – 37,5 º C), untuk tubuh yang
tidak ada tanda menggunakan lembab memicu
dehidrasi, mukosa baju yang dapat pertumbuhan
bibir lembab. menyerap jamur sehingga
keringat. berisiko
menimbulkan
komplikasi.
3. Kolaborasi untuk 3. Membantu
pemberian obat. menurunkan suhu
tubuh klien.
3. Perubahan nutrisi kurang Setelah mendapatkan 1. Awasi 1. Untuk
dari kebutuhan tubuh b.d asuhan keperawatan pemasukan diet, menghindari mual
proses penyakit selama 3 x 24 jam berikan makan dan muntah dan
diharapkan : sedikit tapi memenuhi
Porsi makan kembali sering. kebutuhan nutrisi
normal, BB normal, pasien.
pemeriksaan 2. Berikan 2. Menghilangkan
laboratorium normal, perawatan mulut rasa tidak enak.
dan tidak sebelum makan.
menunjukkan tanda – 3. Anjurkan klien 3. Mencegah
tanda malnutrisi. makan dalam tersedak.
posisi duduk
tegak.
4. Kolaborasi 4. Untuk memenuhi
dengan tim gizi. kebutuhan nutrisi
klien.
4. Gangguan personal Klien dapat 1. Kaji tingkat 1. Untuk mengetahui
hygiene b.d keterbatasan memenuhi mobilisasi. sejauh mana klien
mobilisasi setelah operasi kebutuhannya sendiri. dapat bekerja
Diharapkan : klien sama.
dapat mandi sendiri di 2. Bantu klien 2. Dengan
kamar mandi. dalam membantu klien,
pemenuhan kebersihan diri
kebutuhan dasar klien dapat
maupun terpenuhi.
kebutuhan
personal hygiene.
5. Kerusakan menelan b.d Klien mampu 1. Terapi monitor 1. Monitor
kerusakan neuromuskular menelan secara konsistensi
adekuat. makanan yang
Diharapkan : adanya dibentuk dari
reflek menelan, usaha latihan menelan
menelan secara dan monitor tanda
normal, kenyamanan dan gejala
dalam menelan. aspirasi.

4.Evaluasi

1. Nyeri berkurang

2. Suhu tubuh kembali normal

3. Tidak ada tanda dehidrasi

4. Mukosa bibir lembab

5. Porsi makan kembali normal


6. BB normal, pemeriksaan laboratorium normal, tidak menunjukkan tanda – tanda
malnutrisi

7. Klien dapat memenuhi kebutuhannya sendiri

8. Mampu menelan secara adekuat