Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PENDAHULUAN CA SINONASAL

A. PENGERTIAN
Karsinoma sinonasal Pertumbuhan jaringan abnormal di sinus paranasal dan
jaringan sekitar hidung. Tumor ganas sinonasal merupakan penyebab kesakitan dan
kematian di bidang otorinolaringologi di seluruh dunia. Kebanyakan tumor ini
berkembang dari sinus maksilaris dan tipe histologi yang paling sering ditemukan
adalah karsinoma sel skuamosa (Fasunla dan Lasisi, 2007; Luce et al, 2002).
Tumor rongga hidung adalah pertumbuhan ke arah ganas yang mengenai
hidung dan lesi yang menyerupai tumor pada rongga hidung, termasuk kulit dari
hidung luar dan vestibulum nasi.

B. ETIOLOGI
Etiologi tumor ganas sinonasal belum diketahui dengan pasti, tetapi diduga
beberapa zat kimia atau bahan industri merupakan penyebab antara lain nikel, debu
kayu, kulit, formaldehid, kromium, isopropyl oil dan lain-lain. Pekerja di bidang ini
mendapat kemungkinan terjadi keganasan sinonasal jauh lebih besar. Alkohol, asap
rokok, makanan yang diasin atau diasap diduga meningkatkan kemungkinan terjadi
keganasan, sebaliknya buah-buahan dan sayuran mengurangi kemungkinan terjadi
keganasan (Roezin, 2007; Myers, 1989; D’Errico, Pasian, Baratti, Zanelli, Alfonzo,
Gilardi, 2009).
Paparan yang terjadi pada pekerja industri kayu, terutama debu kayu keras
seperti beech dan oak, merupakan faktor resiko utama yang telah diketahui untuk
tumor ganas sinonasal. Peningkatan resiko (5-50 kali) ini terjadi pada
adenokarsinoma dan tumor ganas yang berasal dari sinus. Efek paparan ini mulai
timbul setelah 40 tahun atau lebih sejak pertama kali terpapar dan menetap setelah
penghentian paparan. Paparan terhadap thorotrast, agen kontras radioaktif juga
menjadi faktor resiko tambahan (Roezin, 2007; Myers, 1989; Dhingra, 2007).

C. PATOFISIOLOGI
Berbagai jenis tipe tumor berbeda telah dijelaskan terdapat pada rahang atas.
Jenis histologis yang paling umum adalah karsinoma sel skuamosa, mewakili sekitar
80% kasus. Lokasi primer tidak selalu mudah untuk ditentukan dengan sejumlah
sinus berbeda yang secara umum terlibat seiring waktu munculnya pasien. Mayoritas
(60%) tumor tampaknya berasal dari antrum, 30% muncul dalam rongga hidung, dan
sisa 10% muncul dari etmoid. Tumor primer frontal dan sfenoid sangat jarang.
Limfadenopati servikal teraba muncul pada sekitar 15% pasien pada presentasi.
Gambaran kecil ini disebabkan drainase limfatik sinus paranasal ke nodus retrofaring
dandari sana ke rantai servikal dalam bawah. Sebagai akibatnya, nodus yang terlibat
diawaltidak mudah dipalpasi di bagian leher manapun. Tumor hidung dapat diketahui
bersama-sama dengan polip nasi dan cenderung untuk timbul bersama tumor hidung
sel skuamosa maligna, lebih sering timbul di dinding lateral hidung dan daapt pula
menyebabkan obstruksi saluran pernapasan hidung, perdarahan intermiten atau
keduanya.

D. MANIFESTASI KLINIK
Tumor nasal dan sinus paranasal dalam keadaan tertentu tidak memberikan
gejala yang tetap. Mungkin hanya berupa rasa penekanan atau nyeri, atau tidak
dijumpai rasa nyeri. Sumbatan nasal satu sisi dapat diduga suatu tumor sampai dapat
dibuktikan dengan pemeriksaan-pemeriksaan penunjang lain. Sekret dapat encer
serosanguinosa atau purulen. Mungkin ditemukan parastesia, anestesia atau paralisis
saraf-saraf otak. Nyeri apabila dijumpai, lebih terasa di malam hari atau bila pasien
berbaring. Mungkin pula gejalanya menjalar ke gigi atas atau gigi palsu bagian atas
terasa menjadi tidak pas lagi. Dapat terjadi pembengkakan wajah sebelah atas seperti
sisi batang nasal dan daerah kantus medius, penonjolan daerah pipi, pembengkakan
palatum durum, palatum mole, tepi alveolar atau lipatan mukosa mulut dan epistaksis.
Pada 9% hingga 12% pasien sering asimtomatik sehingga diagnosis sering terlambat
dan penyakit telah memasuki stadium lanjut (Bailey, 2006; Ballenger, 1994).
Perubahan daerah orbita pada tumor sinus relatif sering ditemukan. Dapat
pula terdapat gangguan persarafan otot-otot eksterna bola mata. Isi rongga orbita
dapat terdorong ke berbagai arah dengan akibat timbulnya proptosis dan enoftalmus.
Penonjolan di belakang tepi infraorbital atau tepi supraorbital dapat teraba. Sumbatan
saluran lakrimalis dapat timbul. Trismus merupakan gejala yang mengganggu dan ini
merupakan pertanda perluasan penyakit ke arah daerah pterigoid. Perluasan ke arah
nasofaring dapat menimbulkan gejala sumbatan tuba Eustachius, seperti nyeri telinga,
tinnitus dan gangguan pendengaran (Ballenger, 1994).
Metastasis regional dan jauh sering tidak terjadi meskipun penyakit telah
berada dalam stadium lanjut. Insidensi metastasis servikal pada gejala awal bervariasi
dari 1% hingga 26%, dari kasus yang pernah dilaporkan yang terbanyak adalah
kurang dari 10%. Hanya 15% pasien dengan keganasan sinus paranasal berkembang
menjadi metastasis setelah pengobatan pada lokasi primer. Jumlah ini berkurang
hingga 11% pada pasien yang mendapat terapi radiasi pada leher (Bailey, 2006).

E. KLASIFIKASI TUMOR
1. Tumor jinak
Tumor jinak tersering adalah papiloma skuamosa. Secara makrokopis mirip
dengan polip, tetapi lebih vaskuler, padat dan tidak mengkilap. Ada 2 jenis
papiloma, pertama eksofitik atau fungiform dan yang kedua endofitik disebut
papiloma inverted. Tumor ini sangat cenderung untuk residif dan dapat berubah
menjadi ganas. Lebih sering dijumpai pada anak laki-laki usia tua. Terapi adalah
bedah radikal misalnya rinotomi lateral atau maksilektomi media. Tumor jinak
angiofibroma nasofaring sering bermanifestasi sebagai massa yang mengisi
rongga hidung bahkan juga mengisi seluruh rongga sinus paranasal dan
mendorong bola ke anterior.
2. Tumor ganas
Tumor ganas yang tersering adalah karsinoma sel skuamosa (70 %),disusul oleh
karsinoma yang berdeferensiasi dann tumor kelenjar. Sinus maksila adalah yang
tersering terkena (65-80%), disusul sinus ethmoid (15-25%), hidung sendiri
(24%), sedangkan sinus sphenoid dan frontal jarang terkena.Metastasis ke
kelenjar leher jarang terjadi (kurang dari 55 %) karena rongga sinus sangat miskin
dengan system limfa kecuali bila tumor sudah menginfiltrasi jaringan lunak
hidung dan pipi yang kaya akan system limfatik. Metastasis jauh juga jarang
ditemukan (kurang dari 10 %) dan organ yang sering tertekan metastasis jauh
adalah hati dan paru.
3. Invasi Sekunder
a) Pituitary adenomas
b) Chordomas
c) Invasi sekunder lain ( karsinoma nasofaring, meningioma, tumor
ondontogenik, neoplasma skeleton kraniofasial jinak dan ganas, tumor orbita
dan apparatus lakrimal.

Klasifikasi histologi tumor ganas di daerah hidung dan sinus paranasalis menurut
WHO :
1. Karsinoma Sel skuamosa
Karsinoma sel skuamosa merupakan neoplasma epitelial maligna yang berasal
dari epitelium mukosa kavum nasi atau sinus paranasal termasuk tipe keratinizing
dan non keratinizing. Karsinoma sel skuamosa sinonasal terutama ditemukan di
dalam sinus maksilaris (sekitar 60 -70 %), diikuti oleh kavum nasi (sekitar 10-
15%) dan sinus sfeinodalis dan frontalis (sekitar 1 %). Simpton berupa rasa penuh
atau hidung tersumbat, epitaksis, rinorea, nyeri, parastesia, pembengkakan pada
hidung, pipi dan palatum, luka yang tidak kunjung sembuh atau ulkus, adanya
massa pada kavum nasi, pada kasus lanjut dapat terjadi proptosis, diplopia, atau
lakrimasi. Pemeriksaaan radiologis, CT scan, atau MRI dapat didapatkan
perluasan lesi, invasi tulang dan perluasan pada struktur-struktur yang
bersebelahan seperti mata, pterygopalatine atau ruang infratemporal. Secara
makroskopik, karsinoma sel skuamosa kemungkinan berupa exophtic, fungating
atau papiler. Biasanya rapuh, berdarah, terutama berupa nekrotik, atau indurated,
dermacated atau infiltratif.
2. Mikroskopik Keratinizing Squamous Cell Carsinoma
Secara histologi, tumor ini identik dengan carsinoma sel skuamosa dari lokasi
mukosa lain pada daeah kepala dan leher. Ditemukan diferensial skuamosa, di
dalamm bentuk keratin ekstraseluler atau keratin intraseluler (sitoplasma merah
muda, sel-sel diskerotik) dan / atau / intercellular bridges. Tumor tersusun di
dalam sarang – sarang, massa atau sebagai kelompok kecil sel-sel atau sel-sel
individual. Invasi ditemukan tidak beraturan. Sering terlihat reaksi stromal
desmoplastik. Karsinoma ini dinilai berupa diferensiansi baik, sedang atau buruk.
3. Mikroskopik Non- Keatinizing (Cylindrical Cell, transitional) Carsinoma
Tumor ini merupakan tumor yang berbeda dari traktus sinonasal yang
dikarakteristikkan dengan pola plexiform atau ribbon-like growth pattern. Dapat
menginvasi ke dalam jaringan dibawahnya dengan batas yang jelas. Tumor ini
dinilai dengan diferensiasi sedang ataupun buruk. Diferensiasi buruk sulit sebagai
skuamosa, dan harus dibedakan dari olfactory neruoblastoma atau karsinoma
neuroendokrin.
4. Undifferentiated Carsinoma
Undifferentiated Carsinoma merupakan karsinoma yang jarang ditemukan, sangat
agresif dan histogenesisnya tidak pasti. Undifferentiated carcinoma berupa massa
yang cepat membesar sering melibatkan beberapa tempat (saluran sinonasal) dan
melampaui batas-batas anatomi dari saluran sinonasal. Gambaran mikroskopik
berupa proliferasi hiperselular dengan pola pertumbuhan yang bervariasi,
termasuk trabekular, pola seperti lembaran, pita, lobular, dan organoid. Sel-sel
tumor berukuran sedang hingga besar dan bentuk bulat hingga oval dan memiliki
inti sel pleomorfik dan hiperkromatik, anak inti menonjol, sitoplasma eosinofilik,
rasio inti dan sitoplasma tinggi, aktivitas mitosis meningkat dengan gambaran
mitosis atipikal, nekrosis tumor dan apoptosis. Pemeriksaan tambahan seperti
imunohistokimia, mikroskop elektron dan biologi molekuler seringkali diperlukan
dalam diagnosis undifferentiated carcinoma dan dapat membedakan keganasan ini
dari neoplasma ganas lainnya.

5. Limfona Maligna
Kebanyakan limfoma yang timbul di dalam kavum nasi berasal dari sel natural
killer (NK). Meskipun demikian, beberapa laporan kasus mengidentifasikan
bahwa limfoma primer dapat juga berasal dari sel B dan T. Limfoma pada nasal
jarang ditemukan di western countries, umumnya dijumpai di negara-negara Asia.
Dikarakteristikkan dengan infiltrat limfotomas difus yang meluas ke mukosa
nasal dan sinus paranasal, dengan pemisahan yang luas dan destruksi mukosa
kelenjar sehingga memperlihatkan clear cell change. Nekrosis koagulatif luas dan
apoptotic bodies selalu diterapkan. Dinding pembuluh darah sering ditemukan
angiosentrik, angiodestruksi dan deposit fibrinoid. Sel-sel limfoma ukurannya
bervariasi mulai dari kecil, medium hingga berukuran besar. Sel-sel memiliki
sitoplasma pucat dan granul azurofilik pada sitoplasmanya yang dapat dilihat
dengan pewarnaan Giemsa. Beberapa kasus berhubungan dengan infiltrat
inflamatori yang mengandung limfosit kecil, histiosit, sel-sel plasma dan
eosinofil. Terkadang hiperflasia pseudoepiteliomatosa pada pelapis epitel
skuamosa dapat ditemukan, menyerupai karsinoma sel skuamosa berdiferensiasi
baik.
6. Adenokarsinoma
Sinonasal adenokarsinoma dikenal sebagai tumor glandullar maligna dan tidak
menunjukkan gambaran spesifik. Adenokarsinoma dijumpai 10 hingga 14 %
keseluruhan tumor ganas dan sinus paranasal. Secara klinis merupakan neoplasma
agresif lokal, sering ditemukan pada laki-laki dengan usia antara 40 hingga 70
tahun. Tumor ini timbul di dalam kelenjar salivasi minor dari traktrus
aerodigestivus bagian atas. Sering ditemukan pada sinus maksilaris dan ethmoid.
Simton primer berupa hidung tersumbat, nyeri, massa pada wajah dengan
deformasi dan / atau proptosis dan epistaksis, bergantung pada lokasinya.
Adenokarsinoma menunjukkan tiga pola pertumbuhan yaitu sessile, papilari, dan
alveolar mucoid. Adenokarsinoma menyerbar dengan minginvasi dan merusak
jaringan lunak dan tulang disekitarnya dan jarang bermetastasis. Prognosis jelek
dan biasanya penderita meninggal dunia disebabkan penyebaran lokal tanpa
adanya metastasis.
7. Melanoma Maligna
Biasanya ditemukan pada usia 50 tahun. Tidak ada perbedaan yang signifikan
antara pria dan wanita, dapat ditemukan pada kedua jenis kelamin. Secara
makroskopik, masaa polipoid berwarna keabu-abuan atau hitam kebiru-biruan
pada 45 % kasus. Di dalam kavum nasi, lokasi yang sering ditemukan melanoma
maligna ini adalah daerah posterior septum nasal diikuti dengan turbinate medial
dan inferior. Tumor menyebar melalui aliran darah atau limfatik. Metastasis nodul
servikal dapat ditemukan pada pemeriksaan awal.

Pembagian sistem TNM menurut Simson sebagai berikut :


T :
T–1:
a. Tumor pada dinding anterior antrum
b. Tumor pada dinding nasoantral inferior
c. Tumor pada palatum bagian anteromedial
T–2:
a. Invasi ke dinding lateral tanpa mengenai otot
b. Invasi ke dinding superior tanpa mengenai orbita
T–3:
a. Invasi ke m.pterigoid
b. Invasi ke orbita
c. Invasi ke selule etmoid anterior tanpa mengenai lamina kribrosa
d. Invasi ke dinding anterior dan kulit diatasnya
T–4 :
a. Invasi ke lamina kribrosa
b. Invasi ke fosa pterigoid
c. Invasi ke rongga hidung atau sinus maksila kontra lateral
d. Invasi ke lamina pterigoid
e. Invasi ke selule etmoid posterior
f. Ekstensi ke resesus etmo-sfenoid
N : Kelenjar getah bening regional
N – 1 : Klinis teraba kelenjar, dapat digerakkan
N – 2 : Tidak dapat digerakkan

M : Metastasis
M–1 : Stadium dini, tumor terbatas di sinus
M–2 : Stadium lanjut, tumor meluas ke struktur yang berdekatan

Berdasarkan TNM ini dapat ditentukan stadium yaitu stadium dini (stadium 1 dan 2),
stadium lanjut (stadium 3 dan 4). Lebih dari 90 % pasien datang dalam stadium lanjut
dan sulit menentukan asal tumor primernya karena hampir seluruh hidung dan sinus
paranasal sudah terkena tumor.

Stadium
Stadium 0 T 1s N0 M0
Stadium 1 T1 N0 M0
Stadium II A T2a N0 M0
Stadium II B T1 N1 M0
T2a N1 M0
T2b N0,N1 M0
Stadium III T1 N2 M0
T2a, T2b N2 M0
T3 N2 M0
Stadium IV a T4 N0, NI, N2 M0
Stadium IV b Semua T N3 M0
Stadium IV c Semua T Semua N M1

F. PENATALAKSANAAN
1. Drainage/Debridement
Drainage adekuat (seperti nasoantral window) seharusnya dibuka pada
pasien dengan sinusitis sekunder dan pada pasien yang mendapat terapi radiasi
sebagai pengobatan primer (Bailey, 2006).
2. Resection
Surgical resection selalu direkomendasikan dengan tujuan kuratif.
Palliative excision dipertimbangkan untuk mengurangi nyeri yang parah, untuk
dekompresi cepat dari struktur-struktur vital, atau untuk debulking lesi massif,
atau untuk membebaskan penderita dari rasa malu. Pembedahan merupakan
penatalaksanaan tunggal untuk tumor maligna traktus sinonasal dengan angka
ketahanan hidup 5 tahun sebesar 19% hingga 86% (Bailey, 2006).
Dengan kemajuan-kemajuan terbaru dalam preoperative imaging,
intraoperative image-guidance system, endoscopic instrumentation dan material
untuk hemostasis, teknik sinonasal untuk mengangkat tumor nasal dan sinus
paranasal mungkin merupakan alternatif yang dapat dilakukan untuk traditional
open technique. Pendekatan endoskopik dapat dipakai untuk melihat tumor dalam
rongga nasal, etmoid, sfenoid, medial frontal dan sinus maksilaris medial. Frozen
section harus digunakan untuk melihat batas bebas tumor (Bailey, 2006; Zinreich,
2006; Nicolai et al, 2008; Lund et al, 2007; Poetker et al, 2005).
3. Rehabilitasi
Tujuan utama rehabilitasi post operasi adalah penyembuhan luka primer,
memelihara atau rekonstruksi bentuk wajah dan pemulihan oronasal yang terpisah
kemudian memperlancar proses bicara dan menelan. Rehabilitasi setelah reseksi
pembedahan dapat dicapai dengan dental prosthesis atau reconstructive flap
seperti flap otot temporalis dengan atau tanpa inklusi tulang kranial, pedicled
atau microvascular free myocutaneous dan cutaneous flap (Bailey, 2006).
4. Terapi Radiasi
Radiasi digunakan sebagai metode tunggal untuk membantu pembedahan
atau sebagai terapi paliatif. Radiasi post operasi dapat mengontrol secara lokal
tetapi tidak menyebabkan kelangsungan hidup spesifik atau absolut. Sel-sel tumor
yang sedikit dapat dibunuh, pinggir tumor non radiasi dapat dibatasi sepanjang
pembedahan dan penyembuhan luka post operasi lebih dapat diperkirakan
(Bailey,2006).
5. Kemoterapi
Peran kemoterapi untuk pengobatan tumor traktus sinonasal biasanya
paliatif, penggunaan efek cytoreductive untuk mengurangi rasa nyeri dan
penyumbatan, atau untuk mengecilkan lesi eksternal massif. Penggunaan cisplatin
intrarterial dosis tinggi dapat digunakan secara bersamaan dengan radiasi pada
pasien dengan karsinoma sinus paranasal. Angka ketahanan hidup 5 tahun
sebesar 53%. Pasien yang menunjukkan resiko pembedahan yang buruk dan yang
menolak untuk dilakukan operasi dipertimbangkan untuk mendapatkan kombinasi
radiasi dan kemoterapi (Bailey, 2006).

G. KOMPLIKASI
1. Perdarahan
Perdarahan dapat terjadi jika arteri pada awalnya di vasospasme dan jika tidak ada
perdarahan aktif dicatat sampai setelah operasi.
2. CSF
3. Epiphora
Epiphora adalah komplikasi umum dari operasi yang disebabkan oleh obstruksi
4. Diplopia
Diplopia adalah komplikasi yang dikenal dalam setiap operasi yang melibatkan
kerucut orbital.
5. Rekonstruksi

6. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Radiologic Imaging
Radiologic imaging penting untuk menentukan staging. Plain film menunjukkan
destruksi tulang, meskipun demikian pada beberpa kasus dapat menunjukkan
keadaan
normal.
2. Screening computed tomography (CT) scan lebih akurat daripada plain film
untuk menilai struktur tulang sinus paranasal dan lebih murah daripada plain film.
Pasien beresiko tinggi dengan riwayat terpapar karsinogen, nyeri persisten yang
berat, neuropati kranial, eksoftalmus, kemosis, penyakit sinonasal dan dengan
simtomp persisten setelah pengobatan medis yang adekuat seharusnya dilakukan
pemeriksaan dengan CT scan axial dan coronal dengan kontras atau magnetic
resonance imaging (MRI). CT scanning merupakan pemeriksaan superior untuk
menilai batas tulang traktus sinonasal dan dasar tulang tengkorak. Penggunaan
kontras dilakukan untuk menilai tumor, vaskularisasi dan hubungannya dengan
arteri karotid.
3. MRI dipergunakan untuk membedakan sekitar tumor dengan soft tissue,
membedakan sekresi di dalam nasal yang tersumbat dari space occupying lesion,
menunjukkan penyebaran perineural, membuktikan keunggulan imaging pada
sagital plane, dan tidak melibatkan paparan terhadap radiasi ionisasi. Coronal
MRI image terdepan untuk mengevaluai foramen rotundum, vidian canal,
foramen ovale dan optic canal. Sagital image berguna untuk menunjukkan
replacement signal berintensitas rendah yang normal dari Meckel cave signal
berintensitas tinggi dari lemak di dalam pterygopalatine fossa oleh signal tumor
yang mirip dengan otak.
4. Positron emission tomography (PET) sering digunakan untuk keganasan kepala
dan leher untuk staging dan surveillance. Kombinasi PET/CT scan ditambah
dengan anatomic detail membantu perencanaan pembedahan dengan cara melihat
luasnya tumor. Meskipun PET ini banyak membantu dalam menilai keganasan
kepala dan leher tetapi sangat sedikit kegunaannya untuk menilai keganasan pada
nasal dan sinus paranasal.
5. Angiography dengan carotid-flow study digunakan untuk penderita yang akan
menjalani operasi dengan tumor yang telah mengelilingi arteri karotid. Tes
balloon exclusion digunakan dengan single-photon emission CT (SPECT),
xenon CT scan atau trnascranial Doppler, dianjurkan apabila diduga terjadi
resiko infark otak iskemik jika areteri karotid internal dikorbankan. Tes ini tidak
dapat memprediksi iskemik pada area marginal (watershed) atau fenomena
embolik.
6. CT scan dada dan abdomen direkomendasikan untuk pasien dengan tumor yang
bermetastasis secara hematogen, seperti sarkoma, melanoma dan karsinoma kistik
adenoid. Penilaian metastasis penting jika reseksi luas dipertimbangkan untuk
dilakukan. Lumbar dan brain puncture serta spine imaging direkomendasikan jika
tumor telah menginvasi meningen atau otak.
TINJAUAN TEORI ASKEP CA SINONASAL
A. PENGKAJIAN
1. Identitas Pasien
Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,
suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor register.
2. Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik
Gejala-gejala khas tergantung ukuran tumor, keganAsan dan stadium penyakit,
antara lain:
Gejala hidung:
a. Buntu hidung unilateral dan progresif.
b. Buntu bilateral bila terjadi pendesakan ke sisi lainnya.
c. Skret hidung bervariasi, purulen dan berbau bila ada infeksi.
d. Sekret yang tercampur darah atau adanya epistaksis menunjukkan
kemungkinan keganasan.
e. Rasa nyeri di sekitar hidung dapat diakibatkan oleh gangguan ventilasi sinus,
sedangkan rasa nyeri terus-menerus dan progresif umumnya akibat infiltrasi
tumor ganas.
Gejala lainnya dapat timbul bila sinus paranasal juga terserang tumor seperti:
a. Pembengkakan pipi
b. Pembengkakan palatum durum
c. Geraham atas goyah, maloklusi gigi
d. Gangguan mata bila tumor mendesak rongga orbita.
Pada tumor ganas didapati gejala sistemik:
a. Penurunan berat badan lebih dari 10 %
b. Kelelahan/malaise umum
c. Napsu makan berkurang (anoreksia)
Pada pemeriksaan fisik didapatkan:
a. Inspeksi terhadap wajah, mata, pipi, geraham dan palatum: didapatkan
pembengkakan sesuai lokasi pertumbuhan tumor
b. Palpasi, teraba tumor dan pembesaran kelenjar leher

3. Pengkajian Diagnostik:
a. Rinoskopi anterior untuk menilai tumor dalam rongga hidung
b. Rinoskopi posterior untuk melihat ekstensi ke nasofaring
c. Foto sinar X:
1) WATER (untuk melihat perluasan tumor di dalam sinus maksilaris dan
sinus frontal)
2) Tengkorak lateral ( untuk melihat ekstensi ke fosa kranii anterior/medial)
3) RHEZZE (untuk melihat foramen optikum dan dinding orbita)
4) CT Scan (bila diperlukan dan fasilitas tersedia)
d. Biopsi
Biopsi dengan forsep (Blakesley) dilakukan pada tumor yang tampak. Tumor
dalam sinus maksilaris dibiopsi dngan pungsi melalui meatus nasi inferior.
Bila perlu dapat dilakukan biopsi dengan pendekatan Caldwell-Luc. Tumor
yang tidak mungkin/sulit dibiopsi langsung dilakukan operasi. Untuk
kecurigaan terhadap keganasan bila perlu dilakukan potong beku untuk
diperiksa lebih lanjut.

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Pre operasi (Doenges, 1999 dan Carpenito, 2000)
a) Nyeri akut berhubungan dengan kompresi/destruksi jaringan saraf dan proses
inflamasi.
b) Ansietas berhubungan dengan ancaman integritas biologis sekunder terhadap
pembedahan.
c) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
peningkatan status metabolik akibat keganasan
d) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit,
penyebab, perawatan dan pengobatan.

2. Post operasi
a) Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot sekunder
terhadap pembedahan
b) Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan sisi masuknya organisme
sekunder terhadap pembedahan (luka operasi) dan adanya jalur invasive.
c) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat efek anastesi
pasca pembedahan.

C. INTERVENSI
Perencanaan merupakan tahap kedua dalam proses keperawatan yang terdiri dari
prioritas diagnosa keperawatan dan rencana keperawatan. Rencana perawatan
berdasarkan diagnosa keperawatan

1. Pre Operasi
a) Nyeri akut berhubungan dengan kompresi/destruksi jaringan saraf dan proses
inflamasi.
Tujuan : nyeri hilang atau terkontrol
Kriteria hasil: pasien tampak rileks, mampu tidur atau istirahat dengan baik,
nadi 80-84 x/menit, pasien tidak meringis lagi, skala nyeri
ringan (1-3).
Tindakan keperawatan:
(1) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0-10)
Rasional: perubahan karakteristik nyeri menunjukkan terjadinya
abses/peritonitis, memerlukan upaya evaluasi medik dan
intervensi.
(2) Pertahankan istirahat dengan posisis semi fowler.
Rasional: menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan
posisi terlentang.
(3) Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi
Rasional: meningkatkan relaksasi dan dapat meningkatkan kemampuan
koping.
(4) Berikan analgetik sesuai indikasi
Rasional: menghilangkan nyeri, mempermudah kerjasama dengan
intervensi terapi lain.

b) Ansietas berhubungan dengan ancaman integritas biologis sekunder terhadap


pembedahan.
Tujuan : ansietas terkontrol
Kriteria hasil : menggunakan mekanisme koping yang efektif dalam
mengatasi ansietasnya, pasien tidak cemas.
Tindakan keperawatan:
(1) Kaji tingkat ansietas, catat respon verbal dan non verbal.
Rasional: ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, meningkatkan
perasaan sakit, tidak tahu tentang penyakit dan keadaannya.
(2) Berikan informasi tentang penyakitnya.
Rasional: mengetahui apa yang diharapkan dapat menurunkan ansietas.
(3) Berikan kesempatan bertanya kepada pasien.
Rasional: dapat diketahui tingkat pemahaman pasien terhadap penjelasan
yang diberikan.
(4) Libatkan keluarga dalam perawatan pasien.
Rasional: orang terdekat lebih dipercaya pasien dan diharapkan dapat
memotivasi pasien untuk cepat sembuh.

c) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan


peningkatan status metabolik akibat keganasan
Tujuan : tidak terjadi kekurangan nutrisi.
Kriteria hasil : meningkatkan pemasukan makanan per oral, keluhan mual
muntah hilang dan nafsu makan meningkat.
Tindakan keperawatan:
(1) Dorong klien untuk meningkatkan asupan nutrisi (tinggi kalori tinggi
protein) dan asupan cairan yang adekuat.
Rasional: Asupan nutrisi dan cairan yang adekuat diperlukan untuk
mengimbangi status hipermetabolik pada klien dengan
keganasan.
(2) Dampingi klien pada saat makan, identifikasi keluhan klien tentang makan
yang disajikan.
Rasional: Mencegah masalah kekurangan asupan yang disebabkan oleh
diet yang disajikan
(3) Kolaborasi dengan ahli gizi dalam penentuan diet.
Rasional: dapat membantu memastikan kebutuhan nutrisi dalam
proses penyembuhan.

d) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang penyakit,


penyebab, parawatan dan pengobatan.
Tujuan : pengetahuan pasien bertambah mengenai perawatan pasca
pembedahan.
Kriteria hasil: menyatakan pemahaman mengenai perawatan pasca
pembedahan.
Tindakan keperawatan:
(1) Kaji tingkat pengetahuan pasien tentang perawatan pasca pembedahan.
Rasional: untuk mengetahui seberapa besar pengetahuan pasien.
(2) Beri penjelasan tentang prosedur pembedahan.
Rasional: dengan memberi penjelasan kepada pasien diharapkan
pengetahuan pasien bertambah.
(3) Beri kesempatan pasien untuk bertanya.
Rasional: untuk mengetahui seberapa besar pemahaman pasien
terhadap penjelasan yang diberikan.

3. Post operasi
a) Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan spasme otot sekunder
terhadap pembedahan
Tujuan: nyeri hilang atau terkontrol.
Kriteria hasil: pasien tampak rileks, mampu tidur atau istirahat dengan baik,
nadi 80-84 x/menit, pasien tidak meringis lagi, skala nyeri
ringan (1-3).
Tindakan keperawatan:
(1) Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, beratnya (skala 0-10).
Rasional: perubahan karakteristik nyeri menunjukkan terjadinya
abses/peritonitis, memerlukan upaya evaluasi medik dan
intervensi.
(2) Ajarkan teknik distraksi seperti berbincang-bincang dan menonton dan
relaksasi seperti nafas dalam.
Rasional: dengan distraksi mengalihkan fokus terhadap nyeri dan
relaksasi dapat meningkatkan koping.
(3) Observasi vital sign.
Rasional: respon nyeri meliputi perubahan TD, nadi dan pernafasan yang
berhubungan dengan keluhan dan tanda vital memerlukan
evaluasi lanjut.
(4) Beri posisi semi fowler
Rasional: menghilangkan tegangan abdomen yang bertambah dengan
posisi terlentang.
(5) Berikan lingkungan yang tenang.
Rasional: memepercepat penyembuhan pasien.
(6) Berikan analgetik sesuai dengan indikasi.
Rasional: menghilangkan nyeri mempermudah kerjasama dengan
intervensi lain.
b) Risiko terhadap infeksi berhubungan dengan sisi masuknya organisme
sekunder terhadap pembedahan (luka operasi) dan adanya jalur invasif.
Tujuan : infeksi tidak terjadi.
Kriteria hasil: tanda-tanda infeksi tidak ada, mencapai penyembuhan luka
tepat waktu, hasil laboratorium WBC (4,00-11,00 k/ul), bebas
drainase purulen, eritema dan demam.
Tindakan keperawatan:
(1) Gunakan teknik aseptik pada semua prosedur perawatan dan rawat luka
dengan teknik steril.
Rasional: mikroorganisme bisa masuk pada setiap prosedur yang
dilakukan.
(2) Observasi tanda-tanda infeksi (kalor, dolor, tumor, rubor, functiolaesa)
Rasional: deteksi dini perkembangan infeksi memungkinkan melakukan
tindakan dengan segera.
(3) Observasi tanda-tanda vital.
Rasional: dengan adanya infeksi dapat terjadi sepsis.
(4) Delegatif dalam pemberian obat antibiotik.
Rasional: antibiotik dapat membunuh kuman penyebab infeksi.
c) Intoleran aktivitas berhubungan dengan kelemahan akibat efek anastesi pasca
pembedahan.
Tujuan : pasien dapat beraktivitas secara mendiri.
Kriteria hasil: menunjukkan peningkatan yang dapat diukur dengan toleransi
aktivitas.
Tindakan keperawatan:
(1) Observasi tingkat kemampuan pasien dalam beraktivitas.
Rasional: diharapkan dapat mengetahui seberapa besar kemampuan
pasien dalam beraktivitas.
(2) Anjurkan pasien untuk melakukan aktivitas secara mandiri.
Rasional: meningkatkan kemampuan pasien untuk beraktivitas secara
mandiri sampai tingkat normal.
(3) Dekatkan alat-alat dan keperluan pasien sehingga mudah dicapai.
Rasional: dengan mendekatkan alat-alat memudahkan pasien untuk
menjangkau dan melatih pasien untuk memenuhi
kebutuhannya secara mandiri.
(4) Bantu pasien dalam pemenuhan aktivitasnya.
Rasional: diharapkan pasien dapat memenuhi kebutuhannya.

D. IMPLEMENTASI
Tindakan yang dilaksanakan sesuai dengan rencana asuhan keperawatan yang
telah disusun sebelumnya berdasarkan tindakan yang telah dibuat dimana tindakan
yang dilakukan mencakup tindakan mandiri dan kolaborasi.

E. EVALUASI
Dalam proses keperawatan berdasarkan permasalahan yang muncul maka hal-hal
yang diharapkan pada evaluasi adalah sebagai berikut :
1. Pre operasi
a) Nyeri hilang atau terkontrol.
b) Ansietas terkontrol.
c) Tidak terjadi kekurangan nutrisi.
d) Pengetahuan pasien bertambah tentang perawatan pasca pembedahan.
2. Post operasi
a) Nyeri hilang atau terkontrol.
b) Infeksi tidak terjadi.
c) Pasien dapat beraktivitas secara mandiri.
DAFTAR PUSTAKA

Adams at al (1997), Buku Ajar Penyakit THT, Ed. 6, EGC, Jakarta

Carpenito (2000), Diagnosa Keperawatan-Aplikasi pada Praktik Klinis, Ed. 6, EGC,


Jakarta

Doenges at al (2000), Rencana Asuhan Keperawatan, Ed.3, EGC, Jakarta

Tim RSUD Dr. Soetomo (1994), Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit THT,
RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.

Price & Wilson (1995), Patofisologi-Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit, Ed.4, EGC,
Jakarta
5. Roezin, A. et al. 2007. Tumor Hidung dalam : Soepardi E, Iskandar N, eds., Buku Ajar
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok. Edisi ke-6. Jakarta: BP FK UI.
6. Rousch GC. 1999. Epidemiology of Cancer of The Nose and Paranasal Sinuses
-Current Concepts in Cummings – Otolaryngology - Head Neck Surgery 3rd ed.
New York: Maple Vail Book Manufacturing Group Mosby-Year Book