Anda di halaman 1dari 14

PENGGUNAAN ARCA DEWA SEBAGAI

ORNAMEN DARI KEMULAN DI SANGGAH


PAMERAJAN
OLEH :

PUTU GENTA ANANDA ESTE BAGUS / 1605521033

Arca adalah patung yang dibuat dengan tujuan utama sebagai media keagamaan, yaitu sarana
dalam memuja tuhan atau dewa-dewinya. Arca berbeda dengan patung pada umumnya, yang
merupakan hasil seni yang dimaksudkan sebagai sebuah keindahan. Oleh karena itu, membuat
sebuah arca tidaklah sesederhana membuat sebuah patung.

Hindu
Dalam agama Hindu, arca adalah sama dengan Murti (Dewanagari: मूर्ति ), atau murthi, yang
merujuk kepada citra yang menggambarkan Roh atau Jiwa Ketuhanan (murta). Berarti
"penubuhan", murti adalah perwujudan aspek ketuhanan (dewa-dewi), biasanya terbuat dari batu,
kayu, atau logam, yang berfungsi sebagai sarana dan sasaran konsentrasi kepada Tuhan dalam
pemujaan. Menurut kepercayaan Hindu, murti pantas dipuja sebagai fokus pemujaan kepada
Tuhan setelah roh suci dipanggil dan bersemayam didalamnya dengan tujuan memberikan
persembahan atau sesaji. Perwujudan dewa atau dewi, baik sikap tubuh, atribut, atau proporsinya
harus mengacu kepada tradisi keagamaan yang bersangkutan.
Arca tidak selalu ditemukan di dekat sebuah candi. Candi bisa jadi memiliki sebuah arca,
namun sebuah arca belum tentu ada dalam sebuah candi. Ada tiga jenis arca berdasarkan kuantitas
pemujanya, yakni:
a. Arca Istadewata, yaitu arca yang dimiliki oleh perseorangan, sehingga dapat dibawa
kemana-mana.
b. Arca Kuladewata, yaitu arca yang dimiliki oleh sebuah keluarga, biasanya terdapat di
rumah-rumah.
c. Arca Garbadewata, yaitu arca yang dipuja oleh banyak orang, dalam hal ini masyarakat.
Dalam ajaran agama Hindu, Wisnu (Dewanagari: र्िष्णु ; Viṣṇu) (disebut juga Sri Wisnu atau
Nārāyana) adalah Dewa yang bergelar sebagai shtiti (pemelihara) yang bertugas memelihara dan
melindungi segala ciptaan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam filsafat Hindu Waisnawa, Ia
dipandang sebagai roh suci sekaligus dewa yang tertinggi. Namun dalam legenda lain, Dewa
Brahma adalah Dewa Tertinggi. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan tradisi Hindu umumnya,
Dewa Wisnu dipandang sebagai salah satu manifestasi Brahman dan enggan untuk dipuja sebagai
Tuhan tersendiri yang menyaingi atau sederajat dengan Brahman. Umumnya, pada pura untuk
rumah keluarga atau sanggah pamerajan menggunakan arca Dewa Brahma dan Wisnu sebagai

1|Filosofi Penggunaan Arca Pada Sanggah Pamerajan


perlambang perlindungan yang biasanya dipakai pada bagian depan dari Kemulan yang biasa juga
disebut Rong Tiga.

Etimologi
Penjelasan tradisional menyatakan bahwa kata Viṣṇu berasal dari Bahasa Sanskerta, akar
katanya viś, (yang berarti "menempati", "memasuki", juga berarti "mengisi" — menurut
Regweda), dan mendapat akhiran nu. Kata Wisnu kira-kira diartikan: "Sesuatu yang menempati
segalanya". Pengamat Weda, Yaska, dalam kitab Nirukta, mendefinisikan Wisnu sebagai vishnu
vishateh ("sesuatu yang memasuki segalanya” ), d vishito bhavati tad vishnurbhavati (yang mana
sesuatu yang tidak terikat dari belenggu itu adalah Wisnu).
Akar kata viś juga dihubungkan dengan viśva ("segala"). Pendapat berbeda-beda mengenai
penggalan suku kata "Wisnu" misalnya: vi-ṣṇu ("mematahkan punggung"), vi-ṣ-ṇu ("memandang
ke segala penjuru") dan viṣ-ṇu ("aktif"). Penggalan suku kata dan arti yang berbeda-beda terjadi
karena kata Wisnu dianggap tidak memiliki suku kata yang konsisten.
Wisnu dalam susastra Hindu
Lukisan Wisnu melakukan Triwikrawa saat menjelma sebagai Wamana. Lukisan ini berasal
dari Nepal, dibuat sekitar abad ke-19.
Susastra Hindu banyak menyebut-nyebut nama Wisnu di antara dewa-dewi lainnya. Dalam
kitab Weda, Dewa Wisnu muncul sebanyak 93 kali. Ia sering muncul bersama dengan Indra, yang
membantunya membunuh Wretra, dan bersamanya ia meminum Soma. Hubungannya yang dekat
dengan Indra membuatnya disebut sebagai saudara. Dalam Weda, Wisnu muncul tidak sebagai
salah satu dari delapan Aditya, namun sebagai pemimpin mereka. Karena mampu melangkah di
tiga alam, maka Wisnu dikenal sebagai Tri-wikrama atau Uru-krama untuk langkahnya yang lebar.
Langkah pertamanya di bumi, langkah keduanya di langit, dan langkah ketiganya di dunia yang
tidak bisa dilihat oleh manusia, yaitu di surga.
Dalam kitab Purana, Wisnu sering muncul dan menjelma sebagai seorang Awatara, seperti
misalnya Rama dan Kresna, yang muncul dalam Itihasa (wiracarita Hindu). Dalam penitisannya
tersebut, Wisnu berperan sebagai manusia unggul.
Dalam kitab Bhagawadgita, Wisnu menjabarkan ajaran agama dengan mengambil sosok
sebagai Sri Kresna, kusir kereta Arjuna, menjelang perang di Kurukshetra berlangsung. Pada saat
itu pula Sri Kresna menampakkan wujud rohaninya sebagai Wisnu, kemudian ia menampakkan
wujud semestanya kepada Arjuna.

Wujud Dewa Wisnu


Dalam Purana, dan selayaknya penggambaran umum, Dewa Wisnu dilukiskan sebagai dewa
yang berkulit hitam-kebiruan atau biru gelap; berlengan empat, masing-masing memegang: gada,
lotus, sangkala, dan chakra. Yang paling identik dengan Wisnu adalah senjata cakra dan kulitnya

2|Filosofi Penggunaan Arca Pada Sanggah Pamerajan


yang berwarna biru gelap. Dalam filsafat Waisnawa, Wisnu disebutkan memiliki wujud yang
berbeda-beda atau memiliki aspek-aspek tertentu.

A. Tiga wujud
Dalam ajaran filsafat Waisnawa (terutama di India), Wisnu disebutkan memiliki tiga aspek
atau perwujudan lain. Ketiga wujud tersebut yaitu: Kāraṇodakaśāyi Vishnu atau Mahā Vishnu;
Garbhodakaśāyī Vishnu; dan Kṣirodakasāyī Vishnu. Menurut Bhagawadgita, ketiga aspek tersebut
disebut "Puruṣa Avatāra", yaitu penjelmaan Wisnu yang memengaruhi penciptaan dan peleburan
alam material. Kāraṇodakaśāyi Vishnu (Mahā Vishnu) dinyatakan sebagai Wisnu yang berbaring
dalam "lautan penyebab" dan Dia menghembuskan banyak alam semesta yang jumlahnya tak dapat
dihitung; Garbhodakaśāyī Vishnu dinyatakan sebagai Wisnu yang masuk ke dalam setiap alam
semesta dan menciptakan aneka rupa; Kṣirodakasāyī Vishnu (Roh utama) dinyatakan sebagai
Wisnu masuk ke dalam setiap makhluk dan ke dalam setiap atom.

B. Lima wujud
Dalam ajaran di asrama Waisnawa di India, Wisnu diasumsikan memiliki lima wujud, yaitu:
1. Para. Para merupakan wujud tertinggi dari Dewa Wisnu yang hanya bisa ditemui di Sri
Waikunta, juga disebut Moksha, bersama dengan pasangannya — Dewi Lakshmi, Bhuma
Dewi dan Nila Di sana Ia dikelilingi oleh roh-roh suci dan jiwa yang bebas.
2. Vyuha. Dalam wujud Vyuha, Dewa Wisnu terbagi menjadi empat wujud yang mengatur
empat fungsi semesta yang berbeda, serta mengontrol segala aktivitas makhluk hidup.
3. Vibhava. Dalam wujud Vibhava, Wisnu diasumsikan memiliki penjelmaan yang berbeda-
beda, atau lebih dikenal dengan sebutan Awatara, yang mana bertugas untuk membasmi
kejahatan dan menegakkan keadilan di muka bumi.
4. Antaryami. Antaryami atau “Sukma Vasudeva” adalah wujud Dewa Wisnu yang berada
pada setiap hati makhluk hidup.
5. Arcavatara. Arcavatara merupakan manifestasi Wisnu dalam imajinasi, yang digunakan
oleh seseorang agar lebih mudah memujanya sebab pikirannya tidak mampu mencapai
wujud Para, Vyuha, Vibhava, dan Antaryami dari Wisnu.

Hubungan dengan Dewa lain


Dewa Wisnu memiliki hubungan dengan Dewi Lakshmi, Dewi kemakmuran yang
merupakan istrinya. Selain dengan Indra, Wisnu juga memiliki hubungan dekat dengan Brahmā
dan Siwa sebagai konsep Trimurti. Kendaraan Dewa Wisnu adalah Garuda, Dewa burung. Dalam
penggambaran umum, Dewa Wisnu sering dilukiskan duduk di atas bahu burung Garuda tersebut.
Dewa Wisnu merupakan Yang Maha Kuasa(Tidak ada dewa yang lebih tinggi dari Wisnu).
Brahma lahir dari pusar Wisnu dan Siwa lahir dari dahi Wisnu.

3|Filosofi Penggunaan Arca Pada Sanggah Pamerajan


Tradisi dan Pemujaan
Dalam tradisi Dvaita Waisnawa, Wisnu merupakan Makhluk yang Maha Kuasa. Dalam
filsafat Advaita Vedanta, Wisnu dipandang sebagai salah satu dari manifestasi Brahman. Dalam
segala tradisi Sanatana Dharma, Wisnu dipuja secara langsung maupun tidak langsung, yaitu
memuja awatara-nya.
Aliran Waisnawa memuja Wisnu secara khusus. Dalam sekte Waisnawa di India, Wisnu
dipuja sebagai roh yang utama dan dibedakan dengan Dewa-Dewi lainnya, yang disejajarkan
seperti malaikat. Waisnawa menganut monotheisme terhadap Wisnu, atau Wisnu merupakan
sesuatu yang tertinggi, tidak setara dengan Dewa.
Dalam tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu memanifestasikan dirinya menjadi Awatara,
dan di India, masing-masing awatara tersebut dipuja secara khusus.
Tidak diketahui kapan sebenarnya pemujaan terhadap Wisnu dimulai. Dalam Veda dan
informasi tentang agama Hindu lainnya, Wisnu diasosiasikan dengan Indra. Shukavak N. Dasa,
seorang sarjana Waisnawa, berkomentar bahwa pemujaan dan lagu pujia-pujian dalam Veda
ditujukan bukan untuk Dewa-Dewi tertentu, melainkan untuk Sri Wisnu — Yang Maha Kuasa —
yang merupakan jiwa tertinggi dari para Dewa.
Di Bali, Dewa Wisnu dipuja di sebuah pura khusus untuk dia, bernama Pura Puseh, yakni
pura yang harus ada di setiap desa dan kecamatan. Di sana ia dipuja sebagai salah satu manifestasi
Sang Hyang Widhi yang memberi kesuburan dan memelihara alam semesta.
Menurut konsep Nawa Dewata dalam Agama Hindu Dharma di Bali, Dewa Wisnu
menempati arah utara dalam mata angin. Warnanya Hitam, Aksa

Dewaraja
Arca Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran anumerta
Kertarajasa, raja pertama Majapahit. Tradisi memuliakan raja bagaikan dewa merupakan tradisi
dewaraja.
"Dewaraja" adalah konsep Hindu-Buddha yang memuja dan menganggap raja memiliki sifat
kedewaan, bentuk pemujaan ini berkembang di Asia Tenggara. Konsep ini terkait dengan sistem
monarki yang menganggap raja memiliki sifat illahiah, sebagai dewa yang hidup di atas bumi,
sebagai titisan dewa tertinggi, biasanya dikaitkan dengan Siwa atau Wishnu. Konsep ini terkait
dengan gagasan India mengenai raja jagat cakrawartin. Secara politik, gagasan ini dilihat sebagai
suatu upaya pengesahan atau justifikasi kekuasaan raja dengan memanfaatkan sistem keagamaan.
Konsep ini mencapai bentuk dan wujudnya yang paling canggih di Jawa dan Kamboja, dimana
monumen-monumen agung seperti Prambanan dan Angkor Wat dibangun untuk memuliakan raja
di atas bumi.

Istilah
Dalam bahasa Sanskerta istilah dewa-raja dapat bermakna "raja para dewa" atau "raja yang
juga (titisan) dewa". Dalam masyarakat dewa Hindu, jabatan dewa tertinggi biasanya disandang
4|Filosofi Penggunaan Arca Pada Sanggah Pamerajan
oleh Siwa, terkadang Wisnu, atau sebelumnya Indra. Kerajaan langit tempat para dewa
bersemayam di swargaloka merupakan bayangan kerajaan fana di atas bumi, konsep ini
memandang raja sebagai dewa yang hidup di muka bumi.

Tujuan
Konsep dewaraja dibentuk melalui ritual keagamaan yang dilembagakan dalam pranata
kerajaan bercorak Hindu-Buddha di Asia Tenggara. Hal ini memungkinkan raja untuk mengklaim
memiliki wewenang ilahiah yang bisa digunakan untuk memastikan legitimasi politik, mengelola
tatanan sosial, menata aspek ekonomi dan agama. Dalam aspek politik, memperkuat hak raja dan
wangsa yang berkuasa sebagai penguasa negeri yang sah. Hal ini juga digunakan untuk menjaga
ketertiban sosial, memuliakan raja sebagai dewa hidup yang pastinya menuntut pelayanan
maksimal rakyatnya dan pengabdian umatnya. Memperkenalkan sistem kasta India juga
mendefinisikan kelas sosial, pekerjaan, serta cara hidup rakyat mereka.
Kepercayaan dewaraja juga memungkinkan raja untuk mengerahkan rakyatnya untuk
melakukan pekerjaan umum berskala besar dan proyek-proyek raksasa, misalnya menciptakan dan
memelihara sistem pengairan hidrolik yang rumit untuk mendukung pertanian padi dalam skala
besar, atau untuk membangun monumen agung, membangun candi-candi untuk menghormati raja
yang telah wafat. Contoh dari proyek-proyek pembangunan besar misalnya pembangunan candi
Borobudur, Prambanan, juga kompleks percandian dan baray di Angkor.

Filosofi Penggunaan pada Sanggah Pamerajan


Pada sanggah pamerajan, digunakan arca dewa brahma dan wisnu yang membawa gada
sebagai perlambang pelindung yang selalu menjaga kesucian merajan dan juga menjaga leluhur
karena menurut kepercayaan bahwa leluhur yang telah meninggal, maka jiwanya akan tinggal atau
bersthana pada rong tiga di bagian kemulan. Jadi adanya arca tersebut dipercaya sebagai pelindung
dari leluhur serta penjaga sanggah pamerajan dan kesuciannya. Pada perupaan sebagai pelindung
sanggah merajan rumah yang rata – rata berukuran sedang untuk rumah, bentuk dari patung atau
arca dewa tersebut sedikit disederhanakan karena mengingat ketersediaan tempat. Bentuk yang
umum digunakan lebih sering berupa ksatria yang membawa senjata dan tangan yang awalnya
berjumlah 4 sedikit dimodifikasi menjadi hanya dua tangan saja. Berikut adalah rupa – rupa dari
sekilas penampilan arca dewa.

TAMPAK DEPAN

5|Filosofi Penggunaan Arca Pada Sanggah Pamerajan


SKETSA TAMPAK DEPAN DARI ARCA DEWA
OLEH : I GEDE PUTU WIDYA KUSUMA A. K. / 1605521035

TAMPAK SAMPING KANAN

6|Filosofi Penggunaan Arca Pada Sanggah Pamerajan


SKETSA TAMPAK SAMPING KANAN DARI ARCA DEWA
OLEH : PUTU GENTA ANANDA ESTE BAGUS / 1605521033

PERSPEKTIF

7|Filosofi Penggunaan Arca Pada Sanggah Pamerajan


SKETSA PERSPEKTIF KANAN DARI ARCA DEWA
OLEH : I GEDE PUTU WIDYA KUSUMA A. K. / 1605521035

SUMBER GAMBAR

8|Filosofi Penggunaan Arca Pada Sanggah Pamerajan


GAMBAR 1 TAMPAK KESELURUHAN KEMULAN
LOKASI : JL. JALAK PUTIH GG.1 NO.3 PENDEM, JEMBRANA, BALI

9|Filosofi Penggunaan Arca Pada Sanggah Pamerajan


GAMBAR 2 ARCA DEWA BRAHMA
LOKASI : JL. JALAK PUTIH GG.1 NO.3 PENDEM, JEMBRANA, BALI

10 | F i l o s o f i P e n g g u n a a n A r c a P a d a S a n g g a h P a m e r a j a n
GAMBAR 3 ARCA DEWA WISNU
LOKASI : JL. JALAK PUTIH GG.1 NO.3 PENDEM, JEMBRANA, BALI
\

LAMPIRAN GAMBAR

11 | F i l o s o f i P e n g g u n a a n A r c a P a d a S a n g g a h P a m e r a j a n
12 | F i l o s o f i P e n g g u n a a n A r c a P a d a S a n g g a h P a m e r a j a n
13 | F i l o s o f i P e n g g u n a a n A r c a P a d a S a n g g a h P a m e r a j a n
14 | F i l o s o f i P e n g g u n a a n A r c a P a d a S a n g g a h P a m e r a j a n