Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

PERAN MIKROORGANISME DALAM KEHIDUPAN SEHARI-


HARI
Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Mikrobiologi Umum
Dosen Pengampu: Dr. H. Ulfah Utami, M.Si

Oleh:
Muhammad N. Hassan (11620060)
Kelas: Biologi-A

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM


MALANG
2013

0
“Rekayasa Genetika Bakteri Bacillus thuringiensis dalam
Perakitan Tanaman Transgenik Tahan Hama”

A. PENDAHULUAN

Rekayasa genetika adalah proses


mengidentifikasi dan mengisolasi DNA
dari suatu sel hidup atau mati dan
memasukkannya dalam sel hidup
lainnya. Rekayasa genetika merupakan
suatu cara memanipulasikan gen untuk
menghasilkan makhluk hidup baru
dengan sifat yang diinginkan. Rekayasa
genetika disebut juga pencangkokan
gen atau rekombinasi DNA. Dalam
rekayasa genetika digunakan DNA
untuk menggabungkan sifat makhluk
hidup. Hal itu karena DNA dari setiap makhluk hidup mempunyai struktur yang
sama, sehingga dapat direkombinasikan. Selanjutnya DNA tersebut akan
mengatur sifat-sifat makhluk hidup secara turun-temurun.
Rekayasa genetika menjadi kenyataan sejak tahun 1973 ketika
dikembangkan teknik untuk mengisolasi dan menggabungkan potongan-potongan
DNA yang tidak sama sehingga menghasilkan molekul DNA rekombinan yang
aktif. Molekul yang telah direkayasa ini dapat dimasukkan kedalam sel bakteri.
Rekayasa Genetika pada mikroba bertujuan untuk meningkatkan efektivitas
kerja mikroba tersebut (misalnya mikroba untuk fermentasi, pengikat nitrogen
udara, meningkatkan kesuburan tanah, mempercepat proses kompos dan
pembuatan makanan ternak, mikroba prebiotik untuk makanan olahan), dan untuk
menghasilkan bahan obat-obatan, tanaman transgenic tahan hama dan kosmetika,
serta Pembuatan insulin manusia dari bakteri ( Sel pancreas yang mempu
mensekresi Insulin digunting , potongan DNA itu disisipkan ke dalam Plasmid

1
bakteri ) DNA rekombinan yang terbentuk menyatu dengan Plasmid diinjeksikan
lagi ke vektor, jika hidup segera di kembangbiaakan.
Prosedur rekayasa genetika dengan menggunakan mikroorganisme adalah
sebagai berikut.
1. Pemurnian DNA/Isolasi gen dengan menghancurkan atau melisiskan semua sel
yang mengandung gen yang ditargetkan, kemudian dipisahkan dengan
sentrifuge pada kecepatan tinggi dan ditambahkan bahan kimia sehingga
didapatkan DNA murni. Ada tiga macam sumber DNA yang dapat diisolasi,
yaitu sebagai berikut.
2. DNA dapat berasal dari total genom organisme yang diinginkan
3. DNA yang dibuat dari mRNA yang diisolasi dari jaringan tertentu. DNA ini
dapat dibuat dari mRNA dengan menggunakan enzim reserve transcriptase.
4. DNA dibuat secara invitro dari nukleotida dan enzim polimerase DNA. Adapun
tahap-tahapnya, antara lain:
1. Pemecahan DNA : molekul DNA yang besar dipecah dengan menggunakan
gelombang ultrasonic, maka akan dijumpai fragmen random. Dengan
menggunakan enzim khusus bagi fragmen DNA seperti endonuklease
restriksi akan diperoleh DNA intermolekuler dan intramolekuler atau hanya
akan didapatkan urutan fragmen DNA dengan urutan tertentu. Supaya lebih
stabil dikaitkan dengan enzim yang disebut T-4 DNA ligase. Contoh
endonuklease restriksi adalah Hind II, Bam H1 dan Eco RI.
2. Pemindahan gen/transfer DNA pada sel vector yang sesuai:transfer DNA ke
bakteri yang hidup (cloning vector : plasmid, bakteriofage atau kosmid)
dapat dengan cara, DNA asing dipaksakan berintegrasi dengan kromosom
menjadi genom. Atau dengan cara gen asing dapat dikembangkan menjadi
suatu bagian yang outonom molekul DNA yang sedang berkembang.
Molekul DNA disebut sebagai vector. Penyambungan ini menggunakan
enzim ligase.
3. Memasukkan DNA rekombinan/kimera DNA ke dalam sel inang. Sel inang
yang dipakai harus seaman mungkin dan tidak bersifat patologis. Cara
memasukkan DNA rekombinan kedalam sel inang dapat dilakukan dengan
cara transformasi, transfeksi, DNA packaging dan micro injection.

2
4. Identifikasi/penapisan dan seleksi DNA yang baru diperoleh dari cirri klon
rekombinan. Untuk menyeleksi DNA baru hasil rekombinan agar sesuai
dengan yang diinginkan dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu cara
genetic, hibridasi asam nukleat dan immunokimia.

B. PEMBAHASAN
B.1 Bacillus thuringiensis
Bacillus thuringiensis (Bt) adalah bakteri gram positif yang
berbentuk batang, aerobik dan membentuk spora. Banyak strain dari
bakteri ini yang menghasilkan protein yang beracun bagi serangga. Sejak
diketahuinya potensi dari protein Kristal/cry Bt sebagai agen pengendali
serangga, berbagai
isolat Bt dengan
berbagai jenis
protein kristal yang
dikandungnya telah
teridentifikasi.
Sampai saat ini telah
diidentifikasi protein
kristal yang beracun
terhadap larva dari
berbagai ordo serangga yang menjadi hama pada tanaman pangan dan
hortikultura. Kebanyakan dari protein kristal tersebut lebih ramah
lingkungan karena mempunyai target yang spesifik sehingga tidak
mematikan serangga bukan sasaran dan mudah terurai sehingga tidak
menumpuk dan mencemari lingkungan.
Kristal protein yang bersifat insektisidal ini sering disebut dengan δ-
endotoksin. Kristal ini sebenarnya hanya merupakan pro-toksin yang jika
larut dalam usus serangga akan berubah menjadi polipeptida yang lebih
pendek (27149 kd) serta mempunyai sifat insektisidal. Pada umumnya
kristal Bt di alam bersifat protoksin, karena ada-nya aktivitas proteolisis
dalam system pencernaan serangga dapat mengubah Bt-protoksin menjadi

3
polipeptida yang lebih pendek dan bersifat toksin. Toksin yang telah aktif
berinteraksi dengan sel-sel epithelium di midgut serangga. Bukti-bukti
telah menunjukkan bahwa toksin Bt ini menyebabkan terbentuknya pori-
pori (lubang yang sangat kecil) di sel membrane di saluran pencernaan dan
mengganggu keseimbangan osmotik dari sel-sel tersebut. Karena
keseimbangan osmotik terganggu, sel menjadi bengkak dan pecah dan
menyebabkan matinya serangga. Seperti dalam al-Qur’an Allah telah
menjelaskan dalam surat An Nahl ayat 13:
‫ضرموختنللةفاًأنولذنونر ۥ ۥهۥُرإلنكلفىِذنذللنكنلنءاَين ةةةللقنوومممينكذككرروُنن‬
‫نوُنماًنذنرأنلنركوملفىِٱولنور ل‬
Artinya: Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu
di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan
Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran.
Allah telah menciptakan berbagai macam makhluk hidup di bumi ini
mulai dari yang bisa dilihat dengan mata sampai yang kasat mata. Itu
merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Misalnya saja bakteri Bacillus
thuringiensis yang merupakan makhluk hidup mikroskopis yang
diciptakan oleh Allah yang tidak hanya memberikan dampak negative
yaitu menghasilkan racun bagi serangga tetapi juga memberikan dampak
positif yaitu kita dapat mempelajarinya dalam rekayasa genetika.
B.2 Tanaman Transgenik
Tanaman transgenik adalah tanaman yang telah disisipi atau
memiliki gen asing dari spesies tanaman yang berbeda atau makhluk hidup
lainnya. Penggabungan gen asing ini bertujuan untuk mendapatkan
tanaman dengan sifat-sifat yang diinginkan, misalnya pembuatan tanaman
yang tahan suhu tinggi, suhu rendah, kekeringan, resisten terhadap
organisme pengganggu tanaman, serta kuantitas dan kualitas yang lebih
tinggi dari tanaman alami. Sebagian besar rekayasa atau modifikasi sifat
tanaman dilakukan untuk mengatasi kebutuhan pangan penduduk dunia
yang semakin meningkat dan juga permasalahan kekurangan gizi manusia
sehingga pembuatan tanaman transgenik juga menjadi bagian dari
pemuliaan tanaman.

4
Beberapa contoh tanaman transgenik yang dikembangkan di dunia
tertera pada tabel dibawah ini:

Jenis Sifat yang Modifikasi Foto


Tanaman telah
dimodifikasi
Padi Mengandung Gen dari tumbuhan narsis, jagung, dan bakteri
provitamin AErwinia disisipkan pada kromosom padi
(beta
karoten)
dalam
jumlah
dalam
jumlah tinggi
Jagung, Tahan Gen toksin Bt dari bakteri Bacillus thuringiensis
kapas, (resisten) ditransfer ke dalam tanaman.
kentang terhadap
hama.
Tembakau Tahan Gen untuk mengatur pertahanan pada cuaca dingin
terhadap dari tanaman Arabidopsis thaliana atau dari
cuaca dingin. sianobakteri (Anacyctis nidulans) dimasukkan ke
tembakau.

Tomat Proses Gen khusus yang disebut antisenescens ditransfer


pelunakan ke dalam tomat untuk menghambat enzim
tomat poligalakturonase (enzim yang mempercepat
diperlambat kerusakan dinding sel tomat). Selain menggunakan
sehingga gen dari bakteri E. coli, tomat transgenik juga
tomat dapatdibuat dengan memodifikasi gen yang telah
disimpan dimiliknya secara alami.
lebih lama
dan tidak

5
cepat busuk
Kedelai Mengandung Gen resisten herbisida dari bakteri Agrobacterium
asam oleatgalur CP4 dimasukkan ke kedelai dan juga
tinggi dandigunakan teknologi molekular untuk
tahan meningkatkan pembentukan asam oleat.
terhadap
herbisida
glifosat.
Dengan
demikian,
ketika
disemprot
dengan
herbisida
tersebut,
hanya gulma
di sekitar
kedelai yang
akan mati.
Ubi jalar Tahan Gen dari selubung virus tertentu ditransfer ke
terhadap dalam
penyakit http://id.wikipedia.org/wiki/Ubi_jalar”>ubi
tanaman jalar dan dibantu dengan teknologi peredaman gen.
yang
disebabkan
virus
Pepaya Resisten Gen yang menyandikan selubung virus PRSV
terhadap ditransfer ke dalam tanaman pepaya
virus
tertentu,
contohnya
Papaya
ringspot

6
virus
(PRSV).
Melon Buah tidakGen baru dari bakteriofag T3 diambil untuk
cepat busuk. mengurangi pembentukan hormon etilen (hormon
yang berperan dalam pematangan buah) di melon.

B.3 Perakitan Tanaman Transgenik Tahan Hama dengan Menggunakan


Gen dari Bacillus thuringiensis
Perakitan
tanaman transgenic
tahan hama merupakan
salah satu bidang yang
mendapat perhatian
besar dalam perbaikan
tanaman. Perakitan
tanaman transgenik
tahan hama umumnya
mempergunakan gen dari Bacillus thuringiensis (Bt).
Dalam program perakitan tanaman transgenik diperlukan kerja sama
antar peneliti dari berbagai disiplin ilmu, seperti disiplin ilmu serangga
(entomologi), kultur jaringan, biologi molekuler, dan pemuliaan tanaman.
Keterkaitan disiplin ilmu ini dalam perakitan tanaman transgenic tahan
hama sangat erat. Peran masing-masing disiplin ilmu dalam perakitan
tanaman transgenik tahan hama diuraikan berikut ini:

1. Entomologi
a. Penentuan jenis hama target dan gen tahan yang akan
digunakan
Sebelum tanaman transgenik dirakit, perlu dilakukan penentuan
prioritas jenis atau spesies hama yang akan dikendalikan dengan tanaman
transgenik yang akan dirakit. Untuk keperluan ini umumnya akan dicari

7
hama yang tidak mempunyai sumber gen tahan dari spesies tanaman
inangnya, misalnya hama penggerek batang padi, penggerek batang
jagung, hama kepik, dan hama pengisap polong. Setelah itu ditentukan
kandidat gen tahan yang akan dipakai, misalnya Bt-toksin, proteinase
inhibitor (PI) atau gen tahan lainnya (Bahagiawati 2000). Jika pilihan jatuh
pada Bt-toksin, kemudian ditentukan gen Bt atau gen cry yang akan
digunakan. Sampai saat ini paling sedikit telah dikenal enam golongan gen
cry dan masing-masing gen mempunyai hama target tertentu. Untuk PI
harus ditentukan kelas PI yang akan digunakan. PI yang digunakan untuk
pengendalian hama terdiri atas tiga kelas, yaitu serine PI, cysteine PI, dan
aspartyl PI. Baik Bt-toksin maupun PI dapat menghambat pertumbuhan
serangga dengan mengganggu proses pencernaannya. Untuk mengetahui
insektisida protein yang mempunyai potensi untuk menghambat
pertumbuhan hama target dapat dilakukan percobaan in vitro atau in vivo.
Beberapa penelitian in vitro (dalam tabung uji) telah dilakukan untuk
mengetahui pengaruh produk dari suatu gen tahan terhadap enzim-enzim
yang terdapat dalam sistem pencernaan suatu jenis serangga. Penelitian
dilakukan dengan mengekstraksi saluran pencernaan serangga untuk
mengisolasi enzim enzimnya. Dari penelitian ini dapat diketahui jenis
enzim pencernaan yang dominan pada spesies hama tersebut dan
insektisida protein yang dapat dipakai untuk menghambat aktivitas
pencernaan hama. Penelitian in vivo dapat dilakukan dengan membuat
makanan buatan atau menyemprot tanaman atau bagian tanaman dengan
gen produk (protein) dari kandidat gen, dilanjutkan dengan infestasi
serangga target dan pengamatan pertumbuhan serangga. Dari penelitian ini
dapat diketahui potensi insektisida protein dalam menghambat
pertumbuhan serangga, serta dosis yang dibutuhkan untuk dapat
membunuh serangga hama dimaksud.
b. Konfirmasi ketahanan tanaman transgenik tahan hama target
Setelah ditentukan kandidat gen yang akan digunakan dalam proses
transformasi, pekerjaan selanjutnya dapat diserahkan ke disiplin ilmu lain
seperti kultur jaringan dan biologi molekuler. Peran ahli serangga

8
(entomolog) diperlukan kembali apabila tim transformasi telah
mendapatkan tanaman putative transformant. Ahli serangga diperlukan
untuk menentukan kemampuan gen yang terekspresi pada tanaman
transgenic dalam menahan perkembangan hama target. Pada kasus-kasus
tertentu, meskipun transgen (gen yang diintroduksi ke tanaman) telah
terekspresi pada level yang tinggi pada tanaman transgenik, namun
keberadaannya belum mampu menghambat pertumbuhan hama target.
Setelah dilakukan pengujian di laboratorium dan rumah kaca, penelitian
dilanjutkan di lapangan (uji terbatas pada daerah terisolasi) untuk
mengetahui penampilan tanaman transgenik di lapangan. Pengaruh
tanaman transgenic terhadap hama target dan nontarget terutama musuh
alaminya juga harus diketahui untuk memenuhi persyaratan sebelum
tanaman transgenik dilepas, dan juga sebagai bahan dalam perakitan paket
pengendalian hama terpadu (PHT) tanaman transgenik yang akan dilepas
tersebut.
c. Perakitan teknologi PHT tanaman transgenic
Peran entomolog selanjutnya diperlukan dalam menentukan paket
sistem bercocok tanam tanaman transgenik tahan hama. Entomolog
diharapkan dapat memberikan informasi mengenai cara memantau hama
yang dapat dilakukan oleh petani. Pemantauan ini penting untuk
menentukan perlu atau tidaknya petani menyemprot pestisida untuk
mengendalikan hama pada pertanaman tersebut. Monitoring juga perlu
dilakukan pada musuh alami hama yang terdapat pada ekosistem
pertanaman tanaman transgenik itu. Sebagai contoh, sistem paket
penanaman kentang transgenik yang mengandung gen cry 3A telah
diajukan oleh Fieldman dan Stone (1997).

2. Kultur Jaringan
Kultur jaringan merupakan disiplin ilmu yang sangat menentukan
keberhasilan proses transformasi. Kultur jaringan merupakan gabungan
antara ilmu dan seni dalam menumbuhkan sel tanaman, jaringan atau

9
organ tanaman dari pohon induk pada media buatan. Kultur jaringan
tanaman terbagi dalam dua kelompok besar, yaitu kultur unorganized
tissue dan kultur organized tissue. Kultur unorganized tissue terdiri atas
beberapa sistem kultur, seperti kultur kalus, kultur suspensi, kultur
protoplas, dan kultur anther, sedangkan kultur organized tissue terdiri atas
kultur meristem, shoottip, node culture, kultur embrio dan root culture.
Dalam perakitan tanaman transgenik, ahli kultur jaringan diperlukan dalam
penyediaan sel atau jaringan target, transformasi dan seleksi, serta
regenerasi sel atau jaringan transgenik.
a. Penyediaan sel atau jaringan target
Jika jenis tanaman yang akan ditransformasi telah ditetapkan,
langkah berikutnya adalah menentukan bagian tanaman yang akan
digunakan sebagai eksplan serta media untuk induksi kalus regenerasi atau
organogenesis. Jenis media akan menentukan keberhasilan kultur jaringan
dan transformasi. Media ini biasanya terdiri atas vitamin, hormon, asam
amino, dan sumber energi dalam bentuk sukrosa, dan untuk media padat
diperlukan agar atau gelating agent lainnya. Media yang digunakan dalam
pembentukan kalus atau undifferentiated tissues berbeda dengan media
untuk pembentukan organ. Hal ini bergantung pada komposisi hormon
tumbuh auksin dan sitokinin. Untuk tanaman padi, jaringan yang sangat
responsif dan merupakan sumber sel yang sangat baik untuk mendapatkan
tanaman transgenik padi adalah sel kalus dari embrio. Penggunaan selsel
kalus yang sedang tumbuh aktif memperbanyak diri (actively growing
embryogenic calli) dapat menjamin efisiensi transformasi yang tinggi.
b. Transformasi dan seleksi
Beberapa teknik transformasi yang dikenal adalah elektroforesis,
gene-gun, dan dengan mempergunakan bakteri Agrobakterium.
Sel atau jaringan yang telah tertransformasi dipisahkan dari jaringan
yang tidak tertransformasi untuk menghindarkan terjadinya jaringan yang
dichotume. Di samping itu, sel yang tidak tertransformasi akan tumbuh
lebih baik dari sel-sel yang tertransformasi sehingga harus dibuang.
Seleksi dilakukan dengan beberapa kali subkultur sehingga diyakini bahwa

10
jaringan atau sel yang hidup atau lolos dari seleksi (diseleksi dengan media
yang berisi herbisida atau antibiotik) bukan escape. Jenis agen atau bahan
yang digunakan untuk seleksi tergantung pada gen seleksi yang digunakan.
Gen seleksi ini dapat berupa antibiotic seperti neomycin
phosphotransferase (NPT II) yang menyebabkan resistensi terhadap
antibiotik kanamisin, atau gen bar yang menyebabkan resistensi terhadap
herbisida seperti basta (PPT) dan bialafos. Di samping selectable marker,
transformasi juga dilakukan dengan menyertakan gen reporter (reporter
genes). Ada beberapa reporter genes yang dipakai untuk transformasi,
antara lain GUS ((β-glucoridase), LUC (luciferase), dan antosianin.
c. Regenerasi sel atau jaringan transgenic
Jika transformasi dilakukan dengan embriogenesis maka ahli kultur
jaringan dituntut untuk dapat meregenerasikan sel atau jaringan yang
sudah tertransformasi itu menjadi plantlet. Pada komoditas tertentu,
regenerasi sel atau jaringan transgenik menjadi plantlet sulit dilakukan
sehingga diperlukan kejelian mata untuk melihat jaringan yang
embriogenik. Jaringan embriogenik yang telah tertransformasi
ditumbuhkan pada media regenerasi untuk mendapatkan plantlet yang
normal bentuknya.
3. Biologi Molekuler Tanaman
Disiplin ilmu biologi molekuler sangat diperlukan dalam perakitan
tanaman transgenik, terutama dalam bidang penelitian berikut ini.
1. Konstruksi dan rekonstruksi plasmid atau vektor. Konstruksi plasmid
atau vektor harus cocok untuk proses transformasi. Konstruksi
diperlukan untuk mendapatkan ekspresi transgen yang tinggi atau
optimum. Beberapa komponen dalam plasmid atau vector yang dapat
ditukar sesuai dengan kebutuhan adalah promoter, gen reporter, gen
seleksi, dan gen yang akan diintroduksi itu sendiri. Melalui perakitan
ini diharapkan gen yang diintroduksi dapat terekspresi secara
maksimum pada jaringan tanaman.
2. Konfirmasi keberadaan transgen serta kestabilannya. Konfirmasi
keberadaan dan integrasi transgen dapat dilakukan dengan

11
polymerase chain reaction (PCR) dan Southern-blot. PCR hanya
dapat menginformasikan ada atau tidaknya sekuen transgen sesuai
dengan primer yang dipakai. PCR merupakan cara yang popular
digunakan karena dapat menganalisis secara cepat sampel yang
banyak jumlahnya. Meskipun demikian, PCR mempunyai beberapa
kelemahan. Sampel yang positif PCR hanya menunjukkan adanya
sekuen yang homolog dengan primer dan berada pada jarak yang
memungkinkan dihasilkannya produk PCR. Namun, hasil PCR tidak
dapat member informasi tentang asal DNA yang teramplifikasi,
apakah dari kontaminan atau dari sampel yang diinginkan. Hasil
PCR juga tidak dapat menunjukkan apakah template tersebut sudah
terintegrasi ke dalam genom tanaman atau belum. Penelitian
menunjukkan bahwa hanya 85% dari total tanaman transgenic yang
positif PCR juga positif mengandung DNA dan protein yang
dimaksudkan. Untuk mengetahui apakah seluruh basa yang ada
dalam transgen terintegrasi dalam genom tanaman perlu dilakukan
Southern-blot. Southern blot juga dapat menginformasikan jumlah
copy gen yang terintegrasi dan pengaturan kembali pada transgen
setelah terintegrasi dalam genom tanaman.
3. Konfirmasi ekspresi dari gen yang diintroduksi serta kestabilannya.
Setelah diketahui ada gen yang diintroduksi pada tanaman, perlu
dilakukan analisis untuk mengetahui apakah gen tersebut dapat
terekspresi pada tanaman target. Analisis dapat dilakukan dengan
dot-blot (ELISA) maupun Western-blot. Keberadaan suatu transgen
pada tanaman belum menunjukkan bahwa gen tersebut dapat
terekspresi. Untuk mengekspresikan dirinya, gen memerlukan
seperangkat sistem untuk memulai proses ekspresi tersebut. Gen atau
DNA di dalam nukleus harus dapat ditranskrip menjadi mRNA.
Selanjutnya mRNA ini harus dapat keluar dari nukleus ke sitoplasma
yang kemudian mengadakan proses translasi untuk menghasilkan
protein sesuai dengan template DNA-nya. Dalam proses ekspresi ini
banyak hal yang dapat terjadi sehingga gen tidak dapat menghasilkan

12
protein yang dimaksud. Hal ini dikenal dengan istilah gene
silencing, suatu kasus di mana ditemukan keberadaan sekuen DNA
transgen dalam tanaman transgenic tetapi gen tersebut tidak dapat
membentuk protein yang diinginkan. Beberapa faktor yang diduga
menjadi penyebabnya adalah terjadinya metilasi DNA dan co-
suppressing dari sekuen yang homolog Setelah gen yang diintroduksi
dapat terintegrasi dan terekspresi, selanjutnya proses ini memerlukan
disiplin ilmu serangga dan pemuliaan tanaman untuk memastikan
gen yang terekpresi pada tanaman transgenik dapat berfungsi sebagai
insektisida dalam pengendalian hama tertentu serta untuk
mengetahui kestabilan transgen.
4. Pemuliaan Tanaman
Sebelum transformasi tanaman dimulai, perlu ditentukan varietas
(genotipe)tanaman yang akan digunakan sebagai target sel atau jaringan
untuk ditransformasi. Hal ini disebabkan tidak semua varietas responsif
terhadap kultur jaringan. Setelah transgen dipastikan terkandung dalam
tanaman transgenik, selanjutnya ditentukan apakah transgen tersebut
diturunkan pada keturunannya mengikuti rasio Mendelian. Dalam upaya
perbaikan tanaman transgenic perlu dilakukan penyilangan antara tanaman
transgenik dan galur elit untuk mendapatkan tanaman transgenik
tahanhama yang mempunyai sifat agronomi yang diinginkan pula. Untuk
maksud tersebut dapat digunakan teknik molekuler guna menyeleksi
keturunan dari tanaman transgenik, seperti seleksi restriction fragment
length polymorphism (RFLP), dan random amplified polymorphic DNA-
PCR (RAPD-PCR). Melalui pemuliaan diharapkan dapat diperoleh
tanaman transgenik yang mampu bersaing dengan tanaman nontransgenik,
antara lain dalam potensi hasil tinggi yang dapat dicapai oleh petani.

13
B.3 Cara Perakitan Tanaman Transgenik Tahan Hama
1. Menentukan prioritas jenis atau spesies
hama yang akan dikendalikan dengan
tanaman transgenik yang akan dirakit.
Untuk keperluan ini umumnya akan
dicari hama yang tidak mempunyai
sumber gen tahan dari spesies tanaman
inangnya, misalnya hama penggerek
batang padi, penggerek batang jagung,
hama kepik, dan hama pengisap polong.
Setelah itu ditentukan kandidat gen
tahan yang akan dipakai, misalnya Bt-
toksin, proteinase inhibitor (PI)
2. Setelah gen yang diinginkan didapat maka dilakukan perbanyakan gen
yang disebut dengan istilah kloning gen. Pada tahapan kloning gen, DNA
yang mengkode protein cry akan dimasukkan ke dalam vektor kloning
(agen pembawa DNA), contohnya plasmid Bacillus thuringiensi.
Kemudian, vektor kloning akan dimasukkan ke dalam bakteri sehingga
DNA tersebut dapat diperbanyak seiring dengan perkembangbiakan
bakteri.
3. Apabila gen yang diinginkan telah diperbanyak dalam jumlah yang
cukup maka akan dilakukan transfer gen tersebut ke dalam sel
tumbuhan yang berasal dari bagian tertentu, salah satunya adalah bagian
daun. Transfer gen ini dapat dilakukan dengan beberapa metode, yaitu
metode senjata gen, metode transformasi DNA yang diperantarai
bakteri Agrobacterium tumefaciens, dan elektroporasi (metode transfer
DNA dengan bantuan listrik). Berikut adalah penjelasan tentang
beberapa metode transfer gen, diantaranya:
 Metode senjata gen atau penembakan mikro-proyektil. Metode
ini sering digunakan pada spesies jagung dan padi. Untuk
melakukannya, digunakan senjata yang dapat menembakkan mikro-
proyektil berkecepatan tinggi ke dalam sel tanaman. Mikro-proyektil

14
tersebut akan mengantarkan DNA untuk masuk ke dalam sel
tanaman. Penggunaan senjata gen memberikan hasil yang bersih dan
aman, meskipun ada kemungkinan terjadi kerusakan sel selama
penembakan berlangsung.
 Metode transformasi yang diperantarai oleh Agrobacterium
tumefaciens. Bakteri Agrobacterium tumefaciens dapat menginfeksi
tanaman secara alami karena memiliki plasmid Ti, suatu vektor
(pembawa DNA) untuk menyisipkan gen asing.Di dalam plasmid Ti
terdapat gen yang menyandikan sifat virulensi untuk menyebabkan
penyakit tanaman tertentu. Gen asing yang ingin dimasukkan ke
dalam tanaman dapat disisipkan di dalam plasmid Ti. Selanjutnya, A.
tumefaciens secara langsung dapat memindahkan gen pada plasmid
tersebut ke dalam genom (DNA) tanaman. Setelah DNA asing
menyatu dengan DNA tanaman maka sifat-sifat yang diinginkan
dapat diekspresikan tumbuhan.
 Metode elektroporasi.Pada metode elektroporasi ini, sel tanaman
yang akan menerima gen asing harus mengalami pelepasan dinding
sel hingga menjadi protoplas (sel yang kehilangan dinding sel).
Selanjutnya sel diberi kejutan listrik dengan voltase tinggi untuk
membuka pori-pori membran sel tanaman sehingga DNA asing
dapat masuk ke dalam sel dan bersatu (terintegrasi) dengan DNA
kromosom tanaman. Kemudian, dilakukan proses pengembalian
dinding sel tanaman.
4. Setelah proses transfer DNA selesai, dilakukan seleksi sel daun untuk
mendapatkan sel yang berhasil disisipi gen asing. Hasil seleksi
ditumbuhkan menjadi kalus (sekumpulan sel yang belum
terdiferensiasi) hingga nantinya terbentuk akar dan tunasApabila telah
terbentuk tanaman muda (plantlet), maka dapat dilakukan pemindahan
ke tanah dan sifat baru tanaman dapat diamati.
B.5 Dampak Positif dari Tanaman Transgenik
1. Rekayasa transgenik dapat menghasilkan prodik lebih banyak dari
sumber yang lebih sedikit.

15
2. Rekayasa tanaman dapat hidup dalam kondisi lingkungan ekstrem akan
memperluas daerah pertanian dan mengurangi bahaya kelaparan.
3. Makanan dapat direkayasa supaya lebih lezat dan menyehatkan.
B.6 Dampak Negatif dari Tanaman Transgenik
a. Aspek Sosial atau Ekonomi
Berbagai komoditas pertanian hasil rekayasa genetika telah
memberikan ancaman persaingan serius terhadap komoditas serupa
yang dihasilkan secara konvensional. Penggunaan tebu transgenik
mampu menghasilkan gula dengan derajat kemanisan jauh lebih tinggi
daripada gula dari tebu atau bit biasa
b. Aspek Kesehatan
1. Potensi Toksisitas Bahan Pangan
Dengan terjadinya transfer genetik di dalam tubuh organisme
transgenik akan muncul bahan kimia baru yang berpotensi
menimbulkan pengaruh toksisitas pada bahan pangan. Sebagai
contoh, transfer gen tertentu dari ikan ke dalam tomat, yang tidak
pernah berlangsung secara alami, berpotensi menimbulkan risiko
toksisitas yang membahayakan kesehatan.
2. Potensi Menimbulkan Penyakit/Gangguan Kesehatan
WHO pada tahun 1996 menyatakan bahwa munculnya
berbagai jenis bahan kimia baru, baik yang terdapat di dalam
organisme transgenik maupun produknya, berpotensi menimbulkan
penyakit baru atau pun menjadi faktor pemicu bagi penyakit lain.
Sebagai contoh, gen aad yang terdapat di dalam kapas transgenik
dapat berpindah ke bakteri penyebab kencing nanah (GO), Neisseria
gonorrhoeae.

16
c. Aspek Lingkungan
1. Potensi Erosi Plasma Nutfah
Penggunaan tembakau transgenik telah memupus kebanggaan
Indonesia akan tembakau Deli yang telah ditanam sejak tahun 1864.
Tidak hanya plasma nutfah tanaman, plasma nutfah hewan pun
mengalami ancaman erosi serupa. Sebagai contoh,
dikembangkannya tanaman transgenik yang mempunyai gen dengan
efek pestisida, misalnya jagung Bt, ternyata dapat menyebabkan
kematian larva spesies kupu-kupu raja (Danaus plexippus) sehingga
dikhawatirkan akan menimbulkan gangguan keseimbangan
ekosistem akibat musnahnya plasma nutfah kupu-kupu tersebut.
2. Potensi Pergeseran Gen
Daun tanaman tomat transgenik yang resisten terhadap
serangga Lepidoptera setelah 10 tahun ternyata mempunyai akar
yang dapat mematikan mikroorganisme dan organisme tanah,
misalnya cacing tanah.
3. Potensi Pergeseran Ekologi
Organisme transgenik dapat pula mengalami pergeseran
ekologi. Organisme yang pada mulanya tidak tahan terhadap suhu
tinggi, asam atau garam, serta tidak dapat memecah selulosa atau
lignin, setelah direkayasa berubah menjadi tahan terhadap faktor-
faktor lingkungan tersebut.
C. KESIMPULAN
Tanaman Bt merupakan tanaman transgenik yang mempunyai ketahanan
terhadap hama, di mana sifat ketahanan tersebut diperoleh dari bakteri Bacillus
thuringiensis. Bakteri B. thuringiensis menghasilkan protein kristal Bt, atau
Crystal protein (Cry) yang merupakan protein endotoksin yang bersifat racun bagi
serangga (insektisidal). Bt protein yang dihasilkan oleh gen Bt dapat meracuni
hama yang menyerang tanaman jagung. Gen ini bertanggung jawab dalam
ketahanan terhadap serangga hama penggerek tanaman. Bt protein dipecah oleh
suatu enzim pemecah dalam pencernaan yang bersifat alkalin dari larva serangga

17
dan menghasilkan protein pendek yang mengikat dinding pencernaan. Pengikatan
dapat menyebabkan kerusakan membran sel sehingga larva berhenti beraktivitas.

18
DAFTAR PUSTAKA

Amirhusin, Bahagiawati. 2004. Perakitan Tanaman Transgenik Tahan Hama.


Bogor: Jurnal Litbang Pertanian
Amirhusin, Bahagiawati. 2004. Penggunaan Bacillus thuringiensis sebagai
Bioinsektisida. Bogor : Buletin AgroBio
Krisno, Agus. 2011. Rekayasa Genetika Bakteri Bacillus thuringiensis Dalam
Perakitan Tanaman Transgenik Tahan Hama.
http://aguskrisnoblog.wordpress.com. Diakses pada tanggal 05
September 2013 pukul 11:04 WIB.
Waluyo, Lud. 2005. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press
Prabowo, Radhian Ardy. 2010. Makalah Pengantar Bioteknologi Dalam Proteksi
Tanaman (PTN 403); Jagung Transgenik yang Mengandung Gen Bt.
Bogor: Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut
Pertanian Bogor

19