Anda di halaman 1dari 9

KASUS SNP FINANCE

SNP Finance merupakan bagian dari Columbia, toko yang menyediakan


pembelian barang secara kredit. Dalam kegiatannya SNP Finance mendapatkan
dukungan pembiayaan pembelian barang yang bersumber dari kredit perbankan

Pada pulan Juli 2017 mulai timbul masalah pada SNP finance dimana
terdapat perbedaan angka akuntansi antara SNP sebagai multifinance dengan
bank seperti Bank Mandiri yang terlihat dari CAPS yaitu suatu
aplikasi connecting. OJK kemudian meminta dilakukan pemeriksaan kepada pihak
perbankan secara internal dan oleh pengawas, setelah dilakukan pemeriksaan
oleh investigator internal bank mandiri ditemukan bahwa ternyata tidak pernah
dilakukan rekonsiliasi antara banking yang disebabkan adanya kesalahn system
yang tidak sempurna.

Terlepas dari permasalahan system yang dapat diperbaiki, tim kemudian


berkoordinasi dengan pengawas SNP di Industri Keuangan Non Bank (IKNB).
Hingga akhirnya ditemukan MTN (medium term note) yang diterbitkan oleh SNP
finance.

Columbia mengalami penurun bisnis yang pada akhirnya permasalahan


menjadi Non Performing Loan (NPL). Salah satu tindakan yang dilakukan oleh
SNP Finance untuk mengatasi kredit bermasalah tersebut adalah melalui
penerbitan Medium Term Note (MTN), yang diperingkat oleh Pefindo
berdasarkan laporan keuangan SNP yang diaudit DeLoitte

Diketahui bahwa pada bulan desember 2015-2017 SNP mendapatkan


peringakat efek dari Perfindo yaitu idA-/stable. Kemudian pada Maret 2018,
rating SNP Finance naik menjadi idA/stable. Namun Pefindo kembali
menurunkan rating SNP Finance sebanyak 2 kali. Pertama pada bulan Mei 2018,
diturunkan menjadi idCCC/credit watch negative dan pada bulan yang sama
menurunkan lagi ke peringkat idSD/selective default.

Hingga pada akhirnya SNP finance terbukti melakukan memanipulasi


daftar kreditur kepada bank. Hal ini diketahui setelah salah satu bank
melaporkan mengalami kerugian. Dari 14 bank yang diduga ditipu, baru satu
bank yang melaporkan kerugian. Bank tersebut merasa telah ditipu sebanyak Rp
450 miliar.

Saat terjadi permasalahan, SNP Finance lalu mengajukan penundaan


kewajiban pembayaran utang (PKPU) terhadap kewajibannya sebesar kurang
lebih Rp 4,07 triliun, yang terdiri dari kredit perbankan Rp 2,22 triliun dan MTN
sebesar Rp 1,85 triliun

Terlepas dari kasus yang tengah bergulir ini, sejumlah pihak mensinyalir
adanya kelemahan bank dalam menjalankan prinsip kehati-hatian. Selain itu,
system pengawasan otoritas pun dinilai perlu dievaluasi. Pembobolan dana
perbankan melalui kredit fiktif biasanya terdeteksi setelah ada kasus gagal bayar.
Biasanya untuk debitur yang sudah lama, bank mengandalkan kepercayaan dan
rating korporasi. Nah ini menjadi satu kelemahan apabila kredit yang diberikan,
seperti channeling, dan bank tidak melakukan pengecakan ulang kepada
nasabah.

Sejauh ini muncul nama bank-bank yang memberikan keterangan


kerugaian atas SNP Finance yaitu, Panin Bank, Mandiri dan BCA yang dibobol SNP
Finance. Bank Mandiri tercatat mengucurkan kredit terbesar yakni Rp. 1,4 Triliun,
sedangkan Bank Panin sebesar Rp. 140 Miliar. Adapun BCA mengonfirmasi dana
yang digelapkan sebesar Rp. 210 Miliar, Bank Woori Saudara Rp. 16 Miliar, Bank
Capital Rp. 30 Miliar, Bank Sinarmas Rp. 9 Miliar, Bank J-Trust Rp. 55 Miliar, Bank
Internasioanl Nobu Rp. 33 Miliar, Bank BJB Rp. 25 Miliar, Bank Nusa Parahyangan
Rp. 46 Miliar, Bank Cina Trust Rp. 50 Miliar, Bank Ganesha Rp. 77 Miliar, Bank
Resona Perdania Rp. 74 Miliar, Bank Victoria Rp. 55 Miliar, Bank BCA Rp. 210
Miliar, dan Bank Panin Rp. 141 Miliar.

Menurut pengakuan Bos BCA yang menjadi korban pembobolan oleh SNP
Finance, modus yang dilakukan diketahu dengan mengajukan kredit fiktif. Nilai
kredit yang diajukan ke bank di mark-up dari nilai sebenarnya. Awal mula
kerjasama antara SNP Finance dengan Bank BCA yaitu pada bulan Juni 2016
dimana SNP Finance mengajukan kredit. Besaran kredit berjenjang hingga
November 2017 nilainya mencapai Rp. 545 Miliar.

Semula SNP mengangsur secara rutin. Sisa kewajiban SNP Finance terus
berkurang hingga menjadi Rp. 210 Miliar. BCA memberikan kepercayaan untuk
menyalurkan kredit kepada SNP Finance karena memiliki kinerja keuangan yang
sehat. Menurut hasil audit Deloitte tahun 2017 dan rating Pefindo Maret 2018,
kondisi keuangan SNP Finance sehat. Bahkan pada Maret 2018, SNP Finance
masih menerbitkan Medium Term Notes (MTN). Pefindo juga menaikan peringkat
utang SNP Finance dari idA- menjadi idA. Pembayaran kredit mulai tersendat
setelah 18 April 2018.

Dampak besar dari kasus ini menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan
Pembiayaan Indonesia Suwandi Wiratno menilai kasus yang melibatkan
multifinance dengan modus double financing hingga menggunakan piutang fiktif
sebagai jaminan untuk memperoleh kredit bank. Perbankan mulai memperketat
kredit ke multifinance, atau menyebabkan kesulitan bagi multifinance untuk
mendapatkan kredit dari bank.

Salah satu langkah bank untuk menghindari hal serupa, akan mengubah
sikap bank menjadi leih konservatif dan selektif dalam memberikan akses
financial kepada perusahaan pembiayaan atau multifinance. Selain itu bank akan
meminta multifinance untuk menyerahkan asset lebih besar untuk pinjamannya
guna menumbuhkan rasa kepercayaan dengan kreditur.
Ditengah kasus pidana terhadap pengurus SNP Finance, perusahaan
pembiyaan tersebut juga tengah menghadapi ancaman dicabutnya izin usaha
menyusul penetapan pembekuan kegiatan usaha (PKPU) sebagai rentetan kasus
gagal bayar bunga MTN sebesar Rp. 6,75 Miliar.

Adapun tersangka dari kasus ini yaitu LC (pendiri grup Columbia) DS


(direktur Utama) AP (Direktur Oprasional) RA (Direktur Keuangan) CDS (Manager
Akuntansi) AS (Asisten Manager Keuangan), LD dan SL dua dari mereka masih
buron. Para pelaku melakukan aksinya dengan mengajukan kredit ke bank
beserta jaminan berupa daftar piutang fiktif. Daftar tersebut telah mereka
manipulasi sehingga mendapatkan jumlah uang yang lebih besar saat pencairan
kredit dari bank. Barang bukti yang telah disita yaitu, salinan perjanjian kredit
antara bank P dengan PT SNP, salinan jaminan fidusia piutang yang dijaminkan
kepada bank P, dan salinan laporan keuangan PT SNP periode 2016-2017.

Mereka terancam pasal 263 KUHP, dan/atau Pasal 372 KUHP, dan/atau
Pasal 378 KUHP, dan/atau pasal 3, pasal 4, pasal 5 undang-undang nomor 8
tahun 2010 tentang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian
uang.

Infomarsi terakhir KAP yang mengaudit SNP Finance mendapatkan sanksi


administrative berupa pembatalan pendaftaran kepaada Auditor Public
Marlinna, Auditor Publik Merliyana Syamsyul dan Kantor Akuntan Publik Satrio,
Bing, Eny dan Rekan yang merupaka salah satu KAP di bawah Deloitte Indonesia.
Hal ini disebabkan karna Laporan keuangan tahunan PT SNP telah diaudit AP dari
KAP Satrio, Bing, Eny dan Rekan dan mendaptkan opini Wajar Tanpa
Pengecualian.
ANALISIS KASUS KAITANNYA DENGAN TEORI :

1. Utilitarianisme

Teori utilitarianisme adalah teori etis yang menilai suatu tindakan etis jika
bermanfaat bagi banyak orang, namun mengabaikan motivasi dan integritas
semua pemangku kepentingan pada saat pengambilan keputusan.

Prinsip utilitarianisme menyatakan bahwa pembuat keputusan harus


mempertimbangkan kepentingkan kolektif atau seluruh pihak yang ada di
perusahaan bukan kepentingan individu. Pada kasus SNP ini telihat bahwa cara
yang digunakan oleh pihak manajemen untuk mendapatkan kucuran dana dari
pihak bank yaitu salah dengan melakukan manipulasi data kreditur, hal ini tentu
memberikan dampak negative bagi kelangsungan perusahaan. Perusahaan tidak
mempertimbangkan dampak untuk membayar kewajibannya diluar batas
kemampuan perusahaanitu sendiri

Sebenarnya hal ini tentu melanggar etika, Banyak orang yang salah
mengartikan teori ini dengan mengatakan tujuan menghalalkan cara. Namun ini
adalah sebuah aplikasi yang tidak tepat dari teori etika. Bagi para utilitarian,
tujuan akhir tidak pernah membenarkan sarana.

Ada berbagai cara untuk mencegah atau menghadapi kondisi perusahaan


yang sedang pailit, dapat dilakukan dengan cara yang salah atau yang benar.
Sebagai contoh cara yang salah yang dapat memberikan konsekuensi negative
yaitu dengan memanipulasi seperti yang dilakukan SNP namun ada banyak cara
lain yang misalnya dapat dilakukan SNP untuk menghadapi permasalahaan
tersebut yang pertama meminta suntikan dana dari grupnya yaitu PT Columbia
untuk membantu meringankan kreditnya, kedua Bank papan atas seperti
BankMandiri, BRI, BNI, BTN dan BCA diharpakan dapat melakukan akuisisi
terhadap SNP Finance, ketiga surat utang sejatinya dapat dilakukan
restrukturisasi dengan memperpanjang tenor pembayaran bunga. Cara-cara
tersebut berbeda secara etika. Cara yang satu benar secara etika dan yang lain
tidak. Nah disinilah tugas manajer dalam melihat perbedaan ini untuk
pengambilan keputusan, kemudian menggunakan imajinasi moralnya untuk
mengidentifikasi cara alternative untuk mencapai tujuan akhir yang sama.
Terlihat dalam kasus ini manajer mengalami dilemma, disatu sisi ingin
mengamankan perusahaannya, disisi lain harus menerima konsekuensi dari apa
yang telah diperbuatnya.

2. Deontologi

Menurut prinsip deontology tindakan dapat dibenarkan secara etika,


meskipun tidak menghasilkan keuntungan bersih atas kebaikan terhadap
kejahatan bagi para pengambil keputusan atau bagi masyarakat secara
keseluruhan. Yang diuamakan atau poin dari teori ini yaitu niat dan motivasi
pelaku, berbeda dengan teori utilitiarianisme yang mengutamakan konsekuensi
dari sebuah keputusan.

Nilai moral yang dimaksud oleh kant yaitu ketika seseorang bertindak
berdasarkan rasa kewajiban. Seseorang akan bertindak dengan benar saat
seseorang itu mengikuti tugas dan kewajiban etikanya. Kaitannya dengan kasus
SNP yaitu SNP tidak bertindak sesuai dengan kewajibannya, tugas atau kegiatan
bisnis SNP yaitu memberikan pembiayaan kepada nasabah, namun dibalik itu
SNP juga memiliki kewajiban untuk melunasi hutangnya kepada pihak debitur.
Pada kenyataannya SNP tidak dapat memenuhi kewajibannya terhadap debitur,
SNP malah melakukan manipulasi untuk menghindarinya. Jadi disini karna pada
dasarnya sumber dana yang didapat SNP yaitu berasal dari pembiayaan Bank,
seharusnya SNP bukan hanya mementingkan seberapa banyak dana yang
diperoleh dari Bank yang akhirnya digunakan untuk pembiayaan kepada
nasabahnya. Tetapi harus memikirkan juga kewajiban pembayaran kepada pihak
debitur atas dana yang didapat.

Didalam teori deontology terdapat 2 hukum salah satunya imperative


kategoris yang memiliki 2 aspek yang pertama hukum memerlukan suatu
kewajiban, dan suatu tindakan benar secara etika jika hanya jika pepatah
tersebut dapat diuniversalkan secra konsisten. Contoh dalam kasus ini, SNP tidak
dapat mengatakan bahwa ia diperbolehkan melakukan kecurangan dengan
memanipulasi laporan atau data kreditur dengan alasan kondisi perusahaan yang
tidak baik, sementara pada saat yang sama SNP mengatakan bahwa nasabah
tidak boleh melakukan pelanggaran kewajiban dengan alasan kondisi ekonomi
yang tidak baik. Sehingga kesimpulanya kita harus memenuhi kewajiban kita
terhadap orang lain, sama halnya kita mengharapkan orang lain memenuhi
kewajibannya terhadap kita.

3. Keadilan dan kewajaran

Dalam theory of justice menyajikan sebuah argument didasarkan pada


posisi individu memiliki kepentingannya masing-masing dan kemandirian. Tak
seorang pun bisa mendapatkan semua hal yang mereka inginkan karna aka nada
orang lain yang akan mencegah hal ini terjadi, karna mereka juga mungkin
menginginkan hal yang sama. Oleh karena itu terdapat kebutuhaan bagi semua
orang untuk bekerja sama karena itu adalah kepentingan utama semua orang.
Masyarakat dapat dilihat sebagai pengaturan kerja sama untuk mencapai
keuntungan bersama.

Namun PT SNP mengabaikan prisinsip keadilan, disini kaitanya dengan


kerja sama yang terjalin dengan pihak bank sebagai kreditur. Kerjasama yang
diharapkan kedua belah pihak yaitu untuk sama-sama mendapatkan keuntungan,
bank memberikan dana dalam bentuk piutang kepada SNP dan SNP mengakui
sebagai hutang kepada bank yang harus dibayar sesuai dengan jangka waktu
yang disepakati. Akan tetapi kenyataannya PT SNP malah melakukan tindak
kecurangan dengan memanipulasi data nasabah agar mendapatkan kucuran
dana yang lebih besar, namun pada akhirnya tidak mampu memenuhi
kewajibannya kepada bank. Hal ini tentu merugikan pihak bank, dan untuk
menuntut keadilan bank dapat melaporkan hal ini kepada pihak yang berwenang
dan diharapkan mendapatkan ganti rugi dari pihak SNP atas kerugian yang
dialami Bank. Ini merupakan salah satu bentuk keadilan procedural dimana kita
dapat menuntut hak kita dengan membawanya ke jalur hukum.

4. Etika Kebajikan

Kebajikan adalah karakter yang membuat orang bertindak etis dan


membuat orang tersebut menjadi manusia yang bermoral, watak lain yang sering
disebut sebagai kebajikan meliputi : kejujuran, integritas, kepentingan pribadi,
kesetaraan, rendah hati dan masih banyak lagi. Salah satu watak kebajikan yang
telah diabaikan oleh SNP yaitu kejujuran, tindakan manipulasi yaitu salah satu
bentuk membohongi atau menipu pihak lain.

Sehingga kasus SNP ini telah melanggar etika kebajikan, tidak ada
perbuatan kecurangan yang telah merugikan banyak pihak yang dapat ditolelir.
Karna berdasarkan sumber yang telah kami baca, tidak ada alasan yang jelas
mengapa SNP melakukan manipulasi kredit fiktif. Dapat ditarik kesimpulan, para
pelaku melakukan hal tersbut untuk kepentingan pribadinya masing-masing.

5. Imajinasi Moral

Imajinasi moral berati datang dari sebuah solusi konservatif dan inovatif
untuk suatu dilemma etika. Seperti yang telah dijelaskan pada teori
utilitarianisme, terdapat beberapa alternative yang dapat diambil oleh SNP untuk
menangani masalah keuangannya. Bisa menggunakan cara yang baik atau
beretika dan dengan cara yang tidak baik namun memiliki hasil yang sama. Hal ini
tergantung dari imajinasi seorang manajer untuk mengambil keputusan yang
seperti apa.

Pada kasus ini manajer SNP menggunakan imajinasinya yang salah,


mereka menganggap bahwa dengan melakukan penipuan dengan kredit fiktif
akan menghasilkan keuntungan yang besar. Namun mereka mengabaikan
konsekuensi yang akan terjadi. Pada akhirnya PT SNP harus menerima kenyataan
pait, yaitu ketika usahanya terbongkar karna banyaknya korban yang melaporkan
dengan jumlah kerugian yang fantastis.