Anda di halaman 1dari 58

TUGAS PERBAIKAN

ASUHAN KEPERAWATAN RETENSI URIN

PADA SISTEM PERKEMIHAN

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK IV

KELAS : III B

DOSEN PEMBIMBING

NS. LENNI SASTRA.S.KEP.M.S

PROGRAM STUDI

S1 KEPERAWATAN

STIKES MERCUBAKTIJAYA PADANG

2017

1
PENYUSUN

1. ATIKA RESTI FEBRIANI : 151211062


2. DWI NIKEN DESMANOLA : 151211068
3. HAFIZAH SRI DEFI : 151211074
4. MUHAMMAD ALMUSAWI : 151211081
5. PUTRI MAINILA : 151211086
6. RIA YULIANA PUTRI : 151211090
7. TESSA DELVITA SARI : 151211095
8. WAHYUNING FUJI SEFRIANI : 151211098
9. WELYA SAFITRI : 151211099
10. YAN AGUSTO SABELLAU : 151211100

2
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, atas rahmat dan
hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan Makalah ini dengan judul “Asuhan Keperawatan
Retensi Urin Pada Sistem Perkemihan”.

Dalam penyusunan Makalah ini, penulis menyadari bahwa dalam penulisan ini masih
banyak hambatan dan kesulitan, tetapi berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak
maka Makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya dan semoga dapat bermanfaat
dalam menambah pengetahuan terutama dalam bidang keperawatan medis.

Penulis menyadari dalam pembuatan Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,
yang artinya masih banyak kekurangan. Maka dari itu penulis meminta saran kritik dari
pembaca, guna memperbaiki dan membangun dalam pembuatan Makalah selanjutnya.

Demikian akhir kata dari penulis, yang benar datangnya hanya semata dari Allah
SWT dan salah datangnya dari penulis, harap penulis semoga Makalah ini dapat bemanfaat
bagi pembaca pada umumnya serta profesi perawat pada khususnya dalam segi teoritis. Dapat
membuka wawasan keilmuan, khususnya wawasan keperawatan . Amin.

Padang, 5 Januari 2018

Penyusun

3
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 1
B. Tujuan 2

BAB II KONSEP DASAR


A. Definisi 3
B. Etiologi 3
C. Anatomi & Fisiologi 7
D. Patofisiologi/Woc 25
E. Manifestasi Klinis 27
F. Komplikasi 28
G. Pemeriksaan penunjang 28
H. Penatalaksanaan 28

BAB III ASUAHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A. Pengkajian 30
B. Diagnosa 34
C. Intervensi 34

BAB IVPENUTUP
A. Kesimpulan 51
B. Saran 51

DAFTAR PUSTAKA 52

4
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Sistem perkemihan, yang menyediakan sarana pengeluaran kotoran cair dari tubuh,
terdiri atas ginjal,ureter,kandung kemih,dan uretra. Organ-organ tersebut berperan
penting dalam keseimbangan cairan, elektrolit,dan asam basa. Urine dibentuk sebagai
produk kotoran disaring dari darah oleh ginjal.Urine lalu di transfortasikan melalui
ureter menuju kandung kemih, dimana urine disimpan hingga diekresikan dari tubuh
melalui uretra. Dalam keadaan normal,mengosongkan kandung kemih merupakan
tindakan fakultatif yang sebagian bergantung pada fungsi sistem saraf yang benar.
(Bennita W, 2013. Hal 318).
Retensi urin kronik disebabkan obstruksi uretra yang semakin hebat sehingga
akhirnya kandung kemih mengalami dilatasi. Pada keadaan ini kemih keluar terus –
menerus karena kapasitas Kandung kemih terlampau. Penderita tidak mampu berkemih
lagi, tetapi urine keluar terus tanpa kendali.Sering penderita itu dianggap inkontinensia,
terapi kandung kemih yang penuh dapat diraba dan mungkin fundusnya mendekati
pusat paa palpasi perut. (Sjamsuhidajat.2007)
Pada retensi urin, kandung kemih dapat menahan 2000– 3000 ml urin. Retensi urin
dapat terjadi akibat obstruksi uretra, traumabedah, perubahan stimulasi saraf sensorik
dan motorik kandung kemih, efeksamping obat dan ansietas.
Penelitian yang dilakukan di Amerika pada pria dengan usia antara 40 sampai 83
tahun memiliki resiko yang cukup tinggi antara 4,5 – 6,8 per 1000 pria pertahun untuk
mengalami retensi urin, dan semakin meningkatnya usia maka seorang pria akan lebih
rentan untuk mengidap retensi urin. Hasil penelitian Warner (2009) mengatakan bahwa
retensi urin umum terjadi setelah anastesi dan pembedahan, dengan laporan kejadiannya
antara 50% - 70%.Kemudian Olsfaruger (1999) mengatakan bahwa anastesi spinal lebih
signifikan menyebabkan retensi urin dibandingkan dengan anastesi umum. 44% dari
pasien pasca pembedahan dengan anastesi spinal memiliki volume kandung kemih lebih
500ml (retensi urin) dan 54% tidak memiliki gejala distensi kandung kemih
(Lamonerie, 2004). Dalam 10 tahun terakhir terdapat 333 kasus tentang retensi urin. 19
dari 167 orang (11%) memiliki retensi urin. Risiko retensi urin terbesar adalah pasien

5
yang lebih tua, atau yang mengonsumsi obat antikolinergik, atau yang memiliki riwayat
diabetes.
Padaretensiurine, penderitatidakdapatmiksi,buli-buli penuhdisertai rasa sakit yang
hebat di daerah suprapubik dan hasrat ingin miksiyang hebat disertai mengejan.
Retensio urine dapat terjadi menurut lokasi,factor obat dan factor lainnya seperti
ansietas, kelainan patologi urethra,trauma dan lain sebagainya. Akibat lanjut retensi
urin, buli-buli akan mengembang melebihikapasitas maksimal sehingga tekanan di
dalam lumennya dan tegangan daridindingnya akan meningkat.
Penatalaksanaan yang dapat diberikan kepada pasien dengan retensi urin
sangat penting untuk dilakukan tatalaksanayang baik dan efisien. Maka dari itu
hendaknya kita sebagai calon perawat sangat penting untuk mempelajari retensi urin,
sehingga dapat memberikan informasi kepada klien atau keluarga mengenai intervensi
baik dalam mencegah maupun mengatasi kasus retensi urin dengan baik dan sesuai
kode etik keperawatan.

B. TUJUAN

a. Tujuan umum
Memperoleh informasi atau mendapatkan gambaran secara umum tentang asuhan
keperawatan klien dengan ganggguan sistem perkemihan

b. Tujuan khusus
a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian tentang retensi urin
b. Mahasiswa mampu melakukan diagnosa tentang retensi urin
c. Mahasiswa mampu melakukan intervensi tentang retensi urin
d. Mahasiswa mampu melakukan dokumentasi tentang retensi urin

6
BAB II

KONSEP DASAR

A. DEFINISI

Retensi urin adalah ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan sebagian


atau keseluruhan urin saat berkemih.Pengobatan diarahkan pada penyelesaian penyebab
masalah.(Black & Hawks.2014. Hal 261)
Retensi urin (yang akut maupun kronis) merupakan ketidakmampuan untuk
melakukan urinasi meskipun terdapat keinginan atau dorongan terhadap hal tersebut.
(Brunner & Suddarth.2001.Hal 1392)
Retensi urine adalah akumulasi urine yang nyata di dalam kandung kemih akibat
ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih.Urine tersebut berkumpul di kandung
kemih, meregangkan dindingnya sehingga timbul perasaan tegang, tidak nyaman, nyeri
tekan pada simfisis pubis, gelisah, dan terjadi diaforesis (berkerigat).
(Potter,Patricia.A.2005.Hal 1686)
Retensi urine didefinisikan sebagai ketidakmampuan berkemih.Retensi urine akut
adalah ketidakmampuan berkemih tiba – tiba pada keadaan kandung kemih yang
nyeri.Retensi urine kronis adalah keadaan kandug kemih yang membesar penuh, tidak
nyeri dengan atau tanpa kesulitan berkemih. (Brunner & Suddarth.2001)
Retensi urine adalah keadaan penderita yang tidak dapat kencing padahal kandung
kemih penuh.Keadaan ini disebabkan oleh sumbatan mekanis pada uretra atau gagguan
fungsional kandung kemih dan sfingternya, misalnya pascabedah setelah penderita
bangun dari blusan.Retensi urine kronik disebabkan obstruksi uretra yang semakin hebat
sehingga akhirnya kandung kemih mengalami dilatasi.(R.Sjamsuhidajat & Wim de
Jong.2010.)

7
B. ETIOLOGI

1. Faktor Resiko
Kegagalan detrusor adalah penyebab paling umum terjadinya retensi urine pada
perempuan.Kegagalan kandung kemih untuk berkontraksi sering kali berkaitan
dengan kelainan neurologis.Pada laki-laki, retensi sering kali terjadi akibat obstruksi
yang terjadi dikarenakan pembesaran prostat. Kelainan lainnya yang dapat
menyebabkan retensi adalah striktur uretra, obat-obatan, disinergia dertrusor-sfingter,
batu, gumpalan darah, kontraktur leher kandung kemih, dan riwayat mutilasi genital
pada perempuan. Neuropati yang memengaruhi status neurologis dari kandung
kemih dan menganggu refleks miksi.Ingatlah bahwa retensi urine muncul sebagai
manisfestasi dari kondisi patologis lainnya.
Retensi dapat disebabkan oleh berkurangnya input sensoris menuju dari
kandung kemih, ketengangan otot, rasa cemas, atau kondisi neurologis lainnya yang
mempengaruhi kandung kemih. Operasi sering kali menjadi faktor penyebab anestasi
spinal sering kali menyebabkan retensi dibandingkan dengan anestasi umum.Setelah
operasi, 10-15% klien yang menjalani anestasi umum membutuhkan pemasangan
kateter dikarenakan ketidakmampuan berkemih.Sementara itu, sekitar 20-25% dari
klien yang menjalani anestasi spinal membutuhkan kateter.
Pada perempuan, prolaps dari dinding belakang vagina (rektokel atau enterokel)
meningkatkan risiko terjadinya retensi karena tekanan yang timbul pada uretra.
Sistokel yang besar juga dapat menyebabkan kinking pada leher kandung kemih
sehingga, mengurangi kemampuan pengosongan kandung kemih.
Lebih dari setengah laki-laki yang berumur dari 50 mengalami BPH, yang
menjadi penyebab umum retensi urine. Hal ini bukan masalah yang dapat dicegah
dan pasien dengan prostat yang membesar harus dipantau secara ketat dalam
kemungkinan terjadinya obstruksi sekunder yang disebabkan oleh pembesatan
prostat. Penyakit atau perlakuan neurologis, seperti diabetes melitus, trauma
sumsum tulang belakang, atau sklerosis multipe, juga dapat menyebabkan menjadi
penyebab retensi urine. Faktor resiko lain seperti riwayatb kelainan struktural dan
penggunaan obat tertentu, seperti antidepresan trisiklik. Pada beberapa klien,
penyebab psikogenik dapat ditemukan.(Black & Hawks. Hal 261)

8
1. Retensi akut
Ditandai dengan nyeri, sensasi kandung kemih yang penuh dan distensi kandung
kemih ringan.penyebab tersering:
 Anak-anak –nyeri abdomen, obat-obatan
 Usia muda-pasca operasi, obat-obatan, ISK akut, trauma, hematuria
 Usia lanjut-akut pada retensi kronis dengan BPH, tumor, pascaoperasi
2. Retensi kronis
Ditandai dengan gejala-gejala iritasi kandung kemih (frekuensi, disuria, volume
sedikit), atau tanpa nyeri, distensi yang nyata, inkontinesia urin (sering
berhubungan dengan ISK sekunder) penyebab tersering:
 Anak-anak kelainan kongenital
 Usia muda-trauma, pascaoperasi
 Usia lanjut- BPH,struktur, karsinoma prospat
3. Retensi neurogenik
 Penyebab dari neuron motorik atas (upper motor neuron, UMN)
menyebabkan retensi kronis dengan inkontinensia refleks.
 Penyebab dari neuron motorik bawah (lower motor neuron, LMN )
menyebabkan retensi urine dengan inkontinensia overflow.
 Retensi urine jarang dijumpai pada dewasa muda dan hampir selalu
membutuhkan pemeriksaan penunjang untuk menyingkirkan penyebab yang
mendasari
 Retensi urine sering dijumpai pada pria usia lanjut sering akibat kelainan
prostat.

2. Usia Dan Tahap Perkembangan


Orang dewasa lanjut mengalami penurunnan fungsi perkemihan yang berakibat
pada beberapa contoh inkontensia dan meningkatnya resiko infeksi saluran
kemih(ISP). Perubahan anatomi dan hormonal selama kehamilan juga menghambat
fungsi perkemihan.
 Faktor psikososial
Keadaan emosi seseorang dan juga ekspektasi sosiokultural dapat mengganggu
eliminasi urine. Stress dan kecemasan dapat memicu desakan intens untuk
buang air kecil atau mempunyai efek berlawanan dengan mencegah relaksasi

9
otot dan saluran yang bertanggung jawab untuk mengkosongkan kandung
kemih. Kapan dan dimana yang tepat untuk buang air didikte oleh aturan
sosiokultural, pada akhirnya seseorang dapat berhenti buang air jika tempat dan
waktunya dianggap tidak tepat.Posisi juga mempengaruhi kemampuan individu
untuk buang air kecil.Pria biasanya terbiasa buang air kecil dengan berdiri dan
wanita biasanya dengan posisi duduk, pada akhirnya pispot merupakan
tantangan nyata untuk orang yang tidak mampu duduk atau berdiri untuk buang
air kecil.Selain itu, orang dewasa dan juga anak-anak terkadang mengabaikan
desakan untuk buang air kecil karena sangat tekun dalam aktivitas kerja atau
bermain.

3. Gangguan Kesehatan
 Berkurangnya kekencangan otot:
Otot abdominal dan perineal yang lemah mengganggu kontrol kandung kemih
dan saluran perkemihan, yang pada gilirannya berakibat pada retensi
urine.Faktor yang mendukung berkurangnya kesehatan kandung kemih
diantaranya obesitas, kehamilan kembar, mengejan selama melahirkan,
meregang untuk gerakan lambung, imobilitas dalam waktu lama, kateterisasi
berkepanjangan, atrofi menopause, dan trauma.
 Luka saraf:
Kondisi apa saja yang menyebabkan kerusakan pada pusat saraf yang
mengontrol fungsi kandung kemih dapat berakibat pada retemsi urine atau
inkontensia urine. Kondisi seperti stroke dan luka sumsum tulang belakang
paling sering dikaitkan dengan kerusakan tertentu.

4. Intervensi Medis Dan Bedah


Berbagai medikasi dapat mengganggu eliminasi urine.Beberapa antidepresan,
antihistamin, dan narkotika menyebabkan retensi urine.
Prosedur bedah reproduktif, intestinal ,dan urinaria dapat meningkatkan
retensi urine selama periode pasca operasi. Hal ini pada dasarnya diakibatkan oleh
edema/pembengkakan jaringan. Selain itu, medikasi yang digunakan untuk
mengontrol rasa sakit( narkotika dan anestetik) dapat mengganggu kontraktilitas

10
otot perkemihan dan filtrasi glomerulus, sehingga menurunkan keluaran urine.
(Bennita W, 2013. Hal 309-311)

5. Hipertrofi prostat jinak (BPH)


Pada laki-laki, kelenjar prostat berada tepat di bawah kandung kemih,
mengelilingi uretra (saluran kencing).Ketika pria bertambah umur, prostat melebar,
menimbulkan tekanan di sekeliling dan menyebabkan gajala-gejala seperti sering
kencing dan retensi urin.Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan saluran
kencing dan tekanan di bawah kandung kemih.Retensi urin dapat berkembang
ketika tubuh sulit mengosongkan kandung kemih.Hydronephorosis dan dilatasi
ruang ginjal dan ureter adalah komplikasi retensi urin akibat pembesaran prostat.
(Mary DiGiulio.dkk.2014.hal 383)
Retensi urin disebabkan oleh kecemasan, pembesaran prostat, kelainan
patologi uretra, ( infeksi, tumor, kalkulus), trauma, disfungsi neurogenik kandung
kemih dan beberapa keadaan lain. Beberapa obat meyebabkan retensi urin yang
mancakup preparat antikolinergik-anti spasmodik, seperti atropine, preparat anti
depresan-anti psikotik, seperti fenotiazin, preparat anti histamine, seperti
pseudoefedrin hidroklorida (Sudafed), preparat penyekat β-adrenergic, seperti
propranolol, dan preparat antihipertensi , seperti hidralazin. (Brunner &
Suddarth.2001)

C. ANATOMI DAN FISIOLOGI

Sistem urinaria adalah suatu sistem tempat terjadinya proses penyaringan darah
sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-
zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut
adalam air dan dikeluarkan berupa urine (air kemih).

ANATOMI

1. GINJAL
Ginjal merupakan organ terpenting dalam mempertahankan homeostastis cairan
tubuh secara baik. Berbagai fungsi ginjal untuk mempeertahankan homeostatik
dengan mengatur volume cairan , keseimbangan osmotik, asam basa, ekresi sisa
metabolisme , sistem pengaturan hormonal dan metabolisme. Ginjal terletak dalam

11
rongga abdomen , retroperitonial primer kiri dan kanan kolumma vertebralis,
dikelilingi oleh lemak dan jaringan ikat di belakang peritonium. Batas atas ginjal kiri
seringgi iga ke 11, ginjal kanan setinggi iga ke 12, batas bawah ginjal kiri sertinggi
vetebra lumbalis ke-3 . tiap-tiap ginjal mempunyai panjang 11,25 cm, lebar 5-7 cm,
tebal 2,5 cm. Ginjal kiri lebih panjang dari ginjal kanan , berat ginjal pada laki-laki
dewasa 150-170 gram, wanita dewasa 115-155 gram. Bentuk ginjal seperti kacang ,
sisi dalam menghadap ke vetebra torakalis , sisi luasnya cembung dan diatas setiap
ginjal terdapat sebuah kelenjar suprarenal.
a. Struktur ginjal.
Ginjal ditutupi oleh kapsul tunika fibrosa yang kuat.Apabila kapsul dibuka
terlihat permukaan dari ginjal licin dengan warna merah tua. Dengan membuat
potongan vertikal dari ginjal melalui margo lateris ke margo medialisakan
terlihat hilus yang meluas keruangan sentral yang disebut sinus renalis bagian
atas dari pelvis renalis.
b. Ginjal terdiri dari
 Bagian dalam (internal) medula. Substansia medularis terdiri dari piramid
renalis jumlahnya antara 8-16 buah yang mempunyai basis sepanjang
ginjal, sedangkan aspeknya menghadap ke sinus renalis.
 Bagian luar eksternal korteks, substansia kortekalis bewarna coklat merah,
konsistensi lunak dan bergranula. Substansia ini tepat dibawah tunika
fibrosa , melengkung sepanjang basis piramid dinamakan kolumma renalis.
c. Pembungkus ginjal
Ginjal dibungkus oleh suatu massa jaringan lemak yang disebut kapsula
adiposa. Bagian yang paling tebal terdapat pada tepi ginjal yang memanjang
melalui hilus renalis.Ginjal dan kapsula adiposa tertutup oleh suatu lammina
khusus dari fasia subserosa yang disebut fasia renalis yang terdapat diantara
lapisan dalam dari fasia profunda dan stratum fasia subserosa internus. Fasia
subserosa terpecah menjadi dua bagian yaitu lamella anterior (fasia prerenalis)
dan lamella posterior( fasia retrorenalis) (Syaifuddin.2011. hal 466-447).
d. Struktur Mikropis Ginjal
Satuan fungsional ginjal disebut nefron. Ginjal mempunyai lebiih kurang
13 juta nefron yang selama 24 jam dapat menyaring 170 liter darah dari arteri

12
reanalis.lubang-lubang yang terdapat pada piramid renal masing- masing
membentuk simpul satu badan malfigi yang disebut glomeruluus.
Nefron adalah masalah tubulus mikroskopis ginjal yang merupakan satuan
fungsional ginjal.nefron yang menyaring darah daan mengontrol komposisinya
setiap nefron berawal dari berkas kapiler yang terdiri dari.
 Glomeulus, merupakan gulungan atau anyaman kapiler yang terletak
didalam kaspula bowmen (ujung buntu tubulus ginjal yang bentuknya
seperti kapsula cekung menutupi glomerulus yyang saling mellitkan
diri).glomerulus menerima darah dari arteriola eferen dan meneeuskan
daah ke sistem vena melalui arteri ola eferen.ntrum secara bebas difiltrasi
dalam glomelulus sesuai dengn konsentrasi dalam plsma. Kalium juga
difiltrasi secara bebas.dipekirakan 10-20% klium plsma tekait oleh protein
an tidak bebas difiltrasi sehingga kaliium dengan keadaan normal
 Tubulus proksima konfulta,tubulus ginjal yang langsung berhubugan
dengan kepala bowmen dengan panjang 15 mm dan diameter 55mm
bentuknya berkelok-kelok menjalar dari korteks ke bagian medula kembali
ke koreks. Sekitar 2/3 dari natriuum yang filtrasi diabrbsopsi secara
istonik bersama klorida dan melibatkn transprotasi aktif
natrium.peningkatan reabsopsi natrium akan mengurangi pengeluaran air
dan nattrium. Hal ini dapat mengagangu pengeceran dan pemekatan urine
yang normal.kalium bearbsopsi lebih dari 70% kemungkinan dengan
mekanismetransprotasi aktif akan terpisah dari reabsopsi ntrium.
 Ansa henle, bentuknya lurus dan tebal,iteruskan e semen tipis selanjutnya
kee segen tebal 12mm, total panjang ansa henle 2-14mm.klrida secara aktif
diseap kemali kecabang asenden. Hansa henle dan natrium bergerak ecara
pasif untuk mempertahankan kenetralan listrik. Sekitar 5% natrium yang
difiltrasi diserap kembali karena nefron bersifat tidak permeabel erhadap
air reapsopsi kloria natrium di pers asendens penting untuk pemekatan
urine karena membantu mempertahankan intrgitas gradiens konsentrasi
medula. Kalium terfiltrasi sekiat20-25% bearbsopsi pada pers asenden
lengkungan hanle proses pasti terjadi karena graden elekttromia yang
timbulsebagai aknat fari reabsopsi aktif klorida pada segmen nefron ini.

13
 Tubulus distal konvulta, bagian tubulus ginjal yang berkelok-kelok dan
jauh letaknya dari kapsula bowman,panjangnya 5mm. Tubulus distal dari
masing- masing nefron bermuara ke duktus kaligens yang panjangnya
20mm. Masing- masing duktus koligens berjalan melalui korteks dan
medula ginjal, bersaatu membentuk satu dukus yang bberjaln lurus dan
bermuara ke dalam duktus beilini seterusnya menuju kaliks minor ke pada
apek masing- masing piramid meedula ginjal.
 Panjang nefron keseluruhan ditambah dngan duktus koligens 45-
65mm. Nefron yang berasal dari glomerulus korteks (nefron
korteks), dalam keadaan normal sekitar 5-10% natrium terfiltrasi
mencapai daerah reabsopsi di bagia distal. Mekanisme pasti
reapsopsi natrium pada daerah ini ditukar dengan ion hidrogen atau
kalium di bawah pengaruh aldesteron.
 Sekresi kalium terjadi secara mumi.suatu peroses pasif yang terjadi
karena gradien elektrokmia yang ditimbulkan leh perbedaan besar
potensial pada segmen nefron ini.gradien ini dipertahankan oleh
pertukaran aktif natrium dan kalium pada mem ran basolateral sel
tubulus.mekanisme ini dikendalikan oleh alddesteron yang
mengendalikan tubulus distal terhadap sekresi kalium.
 Duktus koligen medula ,bukan merupakan saluran metabolik tetati
pengaturan secar halus ekresi natrium urine terjadi disini dengan
aldesteron yang paling berperan terhadap berapsopsi natrium.peningkatan
aldesteron dihubungkan dengan peningkatan reabsopsi natrium.duktus in
memiliki kemampuan mearsopsi dan menyekresi kalium.ekresi aktf kalium
diperlihatkan pada duktus koligen koortikal dan dikendalikan oleh
aldesteron.reabsopsi aktif kalium murni terjadi falam duktus koligen
medula.
e. Aparatus juksta glomerulus
Arteriol aferen dan ujung akhi ansa henle asendens tebal,nefon yang sama
bersentuh untuk jarak yang pendek.pada titik persentuhan sel tubulus (ansa
henle)asendens menjadi tinggi dinamakan mekula densa,dinding arteriola yng
bersentuh dengan ansa henle menjadi tebal karena sel-selnya mengandung butir-
butir sekresi renin yang besar disebut sel juksta glomerulus.makula densa dan

14
sel juksta glomerulus erat sekali kaitnya dengan pengaturan volume cairan
ekresi dan tekanan darah. (Syaifuddin.2011. hal 448-449).
f. Elektromikroskopis Glomerolus
Glumerulus berdiameter 200 µm, dibentuk oleh invaginasi suatu anyaman
kapiler yang menempati kapsula Bowman, mempunyai dua lapisan seluler yang
memisahkan dari dalam kapiler glomerulus dan filtrat dalam yang memisahkan
darah dari dalam kapiler glomerulus dan filtrat dalam kapsula Bowman yaitu
lapisan endotel kapiler dan lapisan epitel khusus yang terletak di atas kapiler
glomerulus.
Kedua lapisan ini dibatasi oleh lamina basalis, di samping itu terdapat sel-
sel stelata yang disebut sel masangial.Sel ini mirip dengan sel-sel parasit yang
terdapat pada dinding kapiler seluruh tubuh.Zat-zat inu bermuatan netral,
diameter 4nm, dapat melalui membran glumerulus dan zat yang lebih dari 8nm
hampir semuanya terhambat.
g. Peredarahan Darah Ginjal
Ginjal mendapat darah dari arteri renalis merupakan cabang dari aorta
abdominalis, sebelum masuk ke dalam massa ginjal. Arteri renalis mempunyai
cabang yang besar yaitu arteri renalis anterior dan yang kecil arteri renalis
posterior.Cabang anterior memberikan darah untuk ginjal anterior dan
ventral.Cabang posterior memberikan darah untuk ginjal posterior dan bagian
dorsal. Di antara kedua cabang ini terdapat suatu garis (brudels line) yang
terdapat disepanjang margo lateral dari ginjal. Pada garis ini tidak terdapat
pembulu darah sehingga, kedua cabang ini akan menyebar sampai ke bagian
anterior dan pasterior dari kolisis sampai ke medula ginjal, terletak diantara
piramid dan disebut arteri interlobularis.
Setelah sampai didaerah medula membelok 990 melalui basis piramid yang
di sebut arteri Arquarta. Pembuluh ini akan bercabang menjadi arteri
interlobularis yang berjalan tegak ke dalam korteks berakhir dengan:
 Vase aferen glonerulus untuk 1-2 glomerulus.
 Pleksus kapiler sepanjang tubulus melingkar dalam korteks tanpa
berhubungan dengan glomerulus.
 Pembuluh darah menembus kapsula Bowman.

15
Dari glomerulus keluar pembuluh darah aferen, selanjutnya terdapat suatu
anyaman yang mengelilingi tubuli kontorti.Di samping itu ada cabang yang
lurus menuju ke pelvis renalis memberikan darah untuk ansa Henle dan duktus
koligen yang dinamakan arteri rektal (A. Spuriare).Dari pembuluh rambut ini
darah kemudian berkumpul dala pembuluh kapiler vena bentuknya seperti
bintang disebut vena stellata berjalan ke vena interlumbalis.

Pembuluh limfe mengikuti perjalanan A.renalis menuju ke nodi limfa tikus


aorta lateral yang terdapat disekitar pangkal A renalis, dibentuk oleh pleksus
yang berasal dari massa ginjal, kapsula fibrosa dan bermuara di nodus lateral
aortika.

h. Persarafan Ginjal
Saraf ginjal lebih kurang 5 ganglion.Ganglion ini membentuk pleksus
renalis yang berasal dari cabang yang terbawah dan di luar ganglion pleksus
seliaka.Pleksus aukustikus, dan bagian bawah spelenikus. Pleksus renalis
bergabung dengan pleksus spermatikus dengan cara memberikan beberapa
serabut yang dapat menimbulkan nyeri pada testis pada kelainan ginjal.
i. Fungsi Ginjal
Pembentukan urine adalah untuk mempertahankan homeostasis dengan
mengatur volume dan komposisi darah. Proses ini meliputi pengeluaran larutan
sampah organik produk metabolisme. Produk sampah yang perlu mendapat
perhatian adalah urea, kreatinin dan asam urat.Produk sampah ini larut dalam
aliran darah, dan hanya dapat dibuang dengan dilarutkannya urine.Pembuangan
bahan-bahan sampah ini disertai dengan kehilangan air yang tidak dapat
dihindarkan.
Ginjal dapat menjadi bahwa cairan yang hilang tidak mengandug substrak
organik yang sangat bermanfaat yang terdapat dalam plasma darah, seperti gula
dan asam amino. Bahan bernilai ini harus diserap kembali untuk digunakan
oleh jaringan lain.
Fungsi ginjal
1. Mengatur volume air (cairan) dalam tubuh. Kelebihan air dalam tubuh
akan diekskresikan oleh ginjal sebagai urine (kemih) yang encer dalam
jumlah besar. Kekurangan air (kelebihan keringat) menyebabkan urine

16
yang diekskresikan berkurang dan konsentrasinya lebih pekat,sehingga
susunan dan volume cairan tubuh dapat dipertahankan relatif normal.
2. Mengatur keseimbangan osmotik dan mempertahankan keseimbangan ion
yang optimal dalam plasma (keseimbangan elektrolit). Bila terjadi
pemasukan/pengeluaran yang abnormal ion-ion akibat pemasukan garam
yang berlebihan/penyakit perdarahan (diare dan muntah) ginjal akan
meningkat ekskresi ion-ion yang penting (mis, Na,K,Cl, Ca dan fosfat).
3. Mengatur keseimbangan asam basa cairan tubuh, bergantung pada apa
yang dimakan. Campuran makanan menghasilkan urin yang bersifat agak
asam, pH kurang dari 6, ini disebabkan hasil akhir metabolisme protein.
Apabila banyak makan sayur-sayuran, urine akan bersifat basa pH urine
bervariasi antara 4,8-8,2. Ginjal menyekresi urine sesuai dengan
perubahan pH darah.
4. Ekskresi sisa-sisa metabolisme (ureum, asam urat, kreatinin) zat-zat
toksik, obat-obatan, hasil metabolisme hemoglobin dan bahan kimia asing
(pestisida).
5. Fungsi hormonal dan metabolisme. Ginjal menyekresi hormon renin yang
mempunyai peranan penting mengatur tekanan darah (sistem renin
angiotensin aldosteron); membentuk eritropoiesis; mempunyai peranan
penting untuk memproses pembentukan sel darah merah (eritropoiesis). Di
samping itu ginjal juga membentuk hormon dihidroksikolekalsiferol
(vitamin D aktif) yang diperlukan untuk absorpsi ion kalsium di usus.
(Syaifuddin.2011. hal 450-452).

2. URETER
Ureter terdiri dari dua buah saluran, masing-masing bersambung dari ginjal ke
kandung kemih ( vesika urinaria ), panjangnya 25-35 cm, dengan penampang 0,5
cm, mempunyai tiga jepitan di sepanjang jalan. Piala ginjal berhubungan dengan
ureter, menjadi kaku ketika melewati tepi pelvis dan ureter menembus kandung
kemih.
Lapisan ureter terdiri dari :
 dinding luar jaringan ikat ( jaringan bibrosa )
 lapisan tengah otot ( otot polos )

17
 lapisan sebelah dalam ( mukosa )

Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan peristaltic setiap 5 menit sakali


untuk mendorong air kemih masuk kedalam kandung kemih ( vesika urinaria ).
Pelvis ginjal ( pelvis ureter ) bagian ujung atasnya melebar membentuk cororong ,
terletak didalam hulus ginjal, menerima kalik mayor, ureter keluar dari hulus ginjal,
berjalan vertical kebawah di belakang peritoneum parietal, melekat pada muskulus
psoas yang memisahkan dengan prosesus transverses vertebrae lumbalis.

Pembagian ureter menurut tempatnya:

 pars abdominalis ureter, dalam kavum abdomen ureter terletak dibelakang


peritoneum, sebelah anterior M. psoas mayor, ditutupi oleh fasia subserosa, vasa
spermatika / ovarika interna menyilang ureter secara obliq, selanjutnya ureter
akan mencapai kavum pelvis menyilang arteri iliaka eksterna,. Ureter kanan
terletak pada pars desendens duo denum, sewaktu turun kebawah terdapat di
kanan bawah dan disilang oleh kolon dekstra dan vasa iliaka iliokolika, dekat
aperture pelvis akan dilewati oleh bagian bawah mesenterium dan bagian akhir
uleum. Ureter kiri disilang oleh vasa koplika sinistra dekat aperture pelvis
superior, berjalan dibelakang kolon sigmoid dan mesenterium.
 pars pelvis ureter, berjalan pada bagian dinding lateral dari kavum pelvis
sepanjang tepi anterior dari insisura iskiadika mayor dan tertutup olah
peritoneum. Ureter dapat ditemukan di depan arteri hipogastrika bagian dalm
nervus obturatoris, arteri vasialis anterior dan arteri hemoroidalis media. Pada
bagian bawah insisura iskiadika mayor uretr agak miring ke bagian medial untuk
mencapai sudut lateral dari vesika urinaria.

Ureter Pria Dan Wanita

Ureter pada pria terdapat didalam visura seminalis bagian atas dan disilang oleh
duktus deferens dan dikelilingi oleh pleksus vesikalis. Akhirnya uretr berjalan obliq
sepanjang 2 cm didalam dinding vesika urinaria pada sudut lateral dari trigonum
vesika. Sewaktu menembus vesika urunaria, dinding atas dan dinding bawah ureter
akan tertutup pada waktu vesika urinaria penuh, membentuk katup (valvula) dan
mencegah pengembalian urine dari vesika urinaria.

18
Ureter pada wanita terdapat dibelakang fossa ovarika, berjalan kebagian medial
dan kedalam bagian lateral serviks uteri bagian atas vagina untuk mencapai fundus
vesika urinaria. Dalam perjalanan ureter didampingi oleh arteri uterine sepanjang
2,5 cm. selanjutnya arteri ini menyilang ureter dan menuju ke atas di antara lapisan
ligamentum latum. Ureter mempunyai jarak 2 cm dari sisi serviks uteri.Ada tiga
tempat yang penting dari ureter tempat mudah terjadi penyumbatan.

 pada ureter pelvis junction diameter 2 mm.


 penyilangan vassa iliaka diameter 4 mm.
 pada saat masuk ke vesika urinaria diameter 1-2 cm.

Pembuluh Darah Ureter


Pembuluh darah yang memperdarahi ureter adalah arteri renalis, arteri
spermatika interna, arteri hipogastrika, dan arteri vesikalis inferior.
Persarafan Ureter
Cabang dari pleksus mesenterikus inferior, pleksus spermatikus , dan pleksus
pelvis. Sepertiga dari bawah ureter terisi sel-sel saraf yang bersatu dengan ranti
eferen dan nervus vagus. Rantai everen dari nervus torakalis XI,XII, dan nervus
lumbalis. Nervus vagus mempunyai rantai aferen untuk ureter.
(Syaifuddin.2011. hal 453-454).

3. VESIKA URINARIA
Vesika urinaria terletak tepat dibelakang os pubis. Bagian ini tempat
menyimpan urine, berdinding otot kuat, bentuknya bervariasi sesuai dengan jumlah
urine yang dikandung. Vesika urinaria pada waktu kosong terletak di apeks vesika
urinaria dibelakang tepi atas simfisis pubis.Permukaan posterior vesika urinaria
berbentuk segitiga, merupakan muara ureter dan sudut inferior membentuk uretra.
Bagian atas permukaan vesika urinaria ditutup oleh peritoneum yang membentuk
dinding anterior.Bagian bawah permukaan posterior dipisahkan dari rectum oleh
duktus deferens, vesika seminalis, dan vesika retrovesikalis. Permukaan superior
seluruhnya ditutupi oleh peritoneum dan berbatas dengan gulungan ileum dan
kolon sigmoid, sepanjang lateral permukaan peritoneum melipat ke dinding lateral
pelvis. Apabila vesika urinaria terisi penuh, permukaa superior membesar dan
menonjol ke atas masuk, ke dalam rongga abdomen, peritoneum menutupi bagian

19
bawah dinding anterior kolumna vesika urinaria , terletak dibawah vesika urinaria
dan permukaan atas prostat. Serabut otot polos dinding vesika urinaria dilanjutkan
sebagai serabut otot polos prostat kollum vesika urinaria yang dipertahankan pada
tempatnya pada pria oleh ligamentum puboprostatika dan pada wanita ligamentum
pubovesikalis,yang merupakan penebalan fasia pelvis.
Membrane mukosa vesika urinria dalam keadaan kosong berlipat-lipat.Lipatan
ini menghilang apabila vesika urinaria terisi penuh.Daerah membrane mukosa
permukaan dalam adalah basis vesika urinaria yang dinamakan juga
trigonum.Ureter menembus dinding vesika urinaria secara mirirng membuat seperti
katub untuk mencegah aliran balik urine ke ginjal pada wktu vesika urinaria terisi.
Lapisan otot vesika urinaria terdiri adri otot polos, tersusun dan saling berkaitan
disebut M. detrusor vesika, peredaran darah vesika urinaria berasal dari arteri
vesikalis superior dan inferior yang merupakan cabang dari arteri iliaka
interna.Venanya membentuk pleksus venosus vesikalis yang berhubungan dengan
pleksus prostatikus yang mengalirkan darah ke vena iliaka interna.Pembuluh limfe
vesika urinaria mengalirkan cairan limfe ke dalam nodi limfatik iliaka interna dan
nodi limfatik iliaka eksterna.
Persarafan berasal dari pleksus hipogastrika inferior, serabut ganglion
simpatikus berasal dari ganglion lumbalis 1 dan 2 berjalan turun ke vesika
urinaria melalui pleksus hipogastrikus .serabut preganglion parasimpatis yang
keluar dari nervus splenikus pelvis yang berasal dari nervus sakralis
 Pengisian Dan Pengosongan Vesika Urinaria
Dinding ureter mengandung otot polos yang tersusun dalam berkas
spiral longitudinal dan sirkuler. Lapisan otot yang tidak terlihat.Kontraksi
peristaltic teratur 1-5 kali/menit menggerakan urine dari pelvis renalis ke
vesika urinaria, disemprotkan setiap gelombang peristaltic.Ureter berjalan
miring melalui dinding vesika urinaria unruk menjaga ureter tertutup kecuali
selama gelombang peristaltic dan mencegah urine tidak kembali ke ureter.
Kontraksi otot M. detrusor bertanggung jawab untuk pengosongan
vesika urinaria selama berkemih (mikturisi).Berkas otot berjalan pada sisi
uretra.Serabut ini dinamakan sfingter uretra iterna.Sepanjang uretra terdapat
spingter uretra membranosa (sfingter uretra eksterna).
 Berkemih

20
Berkemih merupakan suatu reflex spinalis yang dipermudah dan
dihambat oleh pusat saraf yang lebih tinggi dikendalikan oleh pusat saraf di
otak. Refleks diawali dengan peregangan otot vesika urinaria waktu terisi
oleh urine. Impuls aferens meninggalkan medula spinalis dari segmen yang
sama, berjalan melalui serabut saraf preganglion parasimptis menuju servus
splangnikus pelvikus dan pleksus hipogastrikus inferior menuju dinding
vesika urinaria, bersinaps dengan neuron postanglion. Melalui lintasan saraf
ini otot polos vesika urinaria (M. desrusor) berkontraksi dan sfingter vesika
dibuat lemas, inpuls eferens juga berjalan ke sfingter uretra melalui nervus
pudendus (nervus II, III dan IV) dan sfingter ini melemas bila urine masuk
ke uretra.Inpuls eferens tambah berjalan ke medulla spinalis dari uretra
memperkuat refluks.
Pada anak muda, berkemih merupakan refleks sederhana dan
berlangsung apabila vesika urinaria tegang. Pada orang dewas refleks regang
sederhana dihambat oleh aktivitas konteks serebri sampai waktu dan tempat
berkemih tersedia. Serabut penghambat berjalan ke bawah bersama menuju
segmen sakralis II, III dan IV medulla spinalis.Kontraksi ureter yang
menutup uretra dikendalikan secara volunteer.Pengendalian volunteer
berkemih dalam keadaan normal selama tahun pertama dan kedua
kehidupan.(Syaifuddin.2011. hal 455-456).

4. URETRA
Uretra merupakan alur sempit yang berpangkal pada kandung kemih dan
fungsinya menyalurkan urin keluar.
Uretra Pria
Uretra pria mulai dari orifisium uretra interna didalam vesika urinaria sampai
orifisium uretra eksterna ada penis, panjangnya 17,5-20 cm yang terdiri dari:
 Uretra prostatika, merupakan saluran terlebar, panjangnya 3 cm, berjalan
hamper vertical melalui glandula prostat, mulai dari basis sampai ke apeks dan
lebih dekat ke permukaan anterior. Bentuk salurannya seperti kumparan yang
bagian tengah lebih luas, makin ke bawah makin dangkal kemudian bergabung
dengan pars membranasea. Potongan transversal saluran ini menghadap ke
depan. Pada dinding posterior terdapat Krista uretralis yang berbentuk
penonjolan membrane mukosa dan jaringan di bawahnya dengan panjang 15-17
21
cm tinggi 3 cm. pada kiri dan kanan Krista uretralis terdapat sinus prostakus
yang ditembus oleh orifisium duktus prostatikus. Dari lobus lateralis glandula
prostate dan duktus dari lobus medial glandula prostat bermuara di belakang
Krista uretralis. Bagian depan dari Krista uretralis terdapat tonjolan yang
disebut kolikus seminalis yang pada orifisum utrikulus prostatikus berbentu
kantong sepanjang 6 cm yang berjalan ke atas dan ke belakang di dalam
substansia prostat di belakang lobus medial .dindingnya terdiri dari jaringan
ikat, lapisan muskularis dan membrane mukosa, beberapa gladula kecil yang
terbuka ke permukaan dalam.
 Uretra pars membranasea. Saluran uretra ini yang paling pendek dan paling
dangkal, berjalan mengarah ke bawah dank e depan di antara apeks glandula
prostata dan bulbus uretra. Pars membranasea menembus diafragma
urogenilatis, panjangnya kira-kira 2,5 cm di bawah belakang simfisis pubis,
diliputi oleh jarang sfingter uretra membranasea. Di depan saluran ini terdapat
vena dorsalis penis yang mencapai pelvis di antara ligamentum transversal
pelvis dan ligamentum arquarta pubis.
 Uretra pars kavernosus, merupakan saluran terpanjang dari uretra, terdapat
didalam korpus konvernosus uretra ke orifisium superfisialis. Panjangnya kira-
kira 15 cm di mulai dari pars membranasea sampai diafragma urogenitalis.
Pars kavernosus uretra berjalan ke depan dan ke atas menuju bagian depan
simfisis pubis. Pada keadaan penis berkontraksi, uretra bagian ini akan
membelok ke bawah dank e depan. Pars kavernosus ini dangkal sesuai dengan
korpus penis (6 mm) dan berdilatasi ke belakang. Bagian depan berdilatasi di
dalam glans penis yang akan mebentuk fossa navfikularis uretra.
 Orifisium uretra eksterna, merupakan bagian erector yang paling berkontraksi,
berupa sebuah celah vertical. Kedua sisi ditutup oleh dua bibir kecil,
panjangnya 6 mm. ke dalam uretra bermuara glandula uretralis dan dibagi
dalam 2 bagian:
 Glandula yang terdapat di bawah tunika mukosa di dalam korpus
kavernosus uretra (glndula pars uretralis)
 Lacuna bagian dalam epithelium. Lacuna yang lebih besar di permukaan
atas disebut lacuna magna. Orifisium dari lacuna ini menyebar ke depan

22
sehingga dengan mudah menghalangi ujung kateter yang dilalui sepanjang
saluran.

Uretra Wanita
Uretra wanita terletak di belakang simfisis, bejalan sedikit miring kea rah
atas.Salurannya dangkal, panjangnya jir-kira 4 cm mula dari orifisium uretra interna
sampai ke orifisium uretra eksterna. Uretra ini terdapat di belakang simfisis pada
dinding anterior vagina, menjurus obliq ke bawah dan menghadap ke depan.
Apabila tidak berdilatasi, diameternya 6 cm. uretra ini menembus fasia
oris.Glandula uretra bermuara ke uretra, yamg terbesar di antaranya adalah glandula
para uretralis (skene) yang bermuara ke dalam orifisium uretra dan hanya berfungsi
sebagai saluan eksresi.
 Tunika muskularis
 Lapisan spongeosa
 Lapsan mukosa sebelah dalam

Diafragma urogenitalis dan orifisium eksterna langsung di depan permukaan vagina


2,5 cm di belakang gland klitoris. (Syaifuddin.2011. hal 457-458).

FISIOLOGI

1. Proses Pembentukan Urine


Glomelurus berfungsi sebagai ultrafiltrasi pada simpai bowman, untuk
menampung hasil filtrasi dari glomerulus. Pada tubulus ginjal akan terjadi
penyerapan kembali zat-zat yang sudah disaring pada glomelurus dan sisa cairan
akan diteruskan ke piala ginjal. Urine yang berasal dari darah dibawa oleh arteri
renalis masuk ke dalam ginjal. Langkah pertama proses pmbentukkan urine
ultrafiltrasi darah/plasma dalam kapiler glomelurus berupa air dan kristaloid.
Selanjutnya didalam tubuli ginjal disempurnakan dengan proses reabsorpsi.
Selanjutnya didalam tubuli ginjal disempurnakan dengan proses reabsorpsi zat-zat
yang esensial dari cairan filtrasi untuk dikembalikan ke dalam darah. Selanjutnya
proses sekresi dikeluarkan ke dalam urine.
Tahap pembentukkan darah
a. Proses filtrasi

23
Pembentukkan urine dimulai dengan filtrasi sejumlah besar cairan yang
bebas protein dari kapiler glomelurus ke kapsula Bowman. Kebanyakkan zat
dalam plasma difiltrasi secara bebas kecuali protein sehingga filtrasi secara
bebas kecuali protein sehingga fltrasi glomelurus dalam kapsula Bowman
hamper sama dengan plasma, diubah oleh reabsorspsi air dan zat terlalu spesifik,
kembali ke dalam darah atau oleh sekreasi zat lain dari kapiler peritubulus ke
dalam tubulus.
Proses filtrasi (ultrafiltrasi) terjadi pada glomerulus. proses ini terjadi karena
permukaan aferen lebih besar dari permukaan eferen sehingga terjadi
penyerapan darah. Setiap menit kira – kira 1.200 ml darah, terdiri dari 450 ml
sel darah dan 660 ml plasma masuk ke dalam kapiler glomerulus. Untuk proses
filtrasi diperlukan tekanan filtrasi untuk mendapatkan hasil akhir :
 Tekanan yang menyebakan filtrasi, merupakan hail kerja jantung. Tekanan
hidrostatik kapiler glomerulus kira – kira 50 mmHg, tekanan ini cenderung
mendorong air dan garam melalui glomerulus
 Tekanan yang melawan filtrasi. Tekanan hidrostatik cairan di dalam kapsul
bowman kira – kira 5 mmHg. Tekanan osmotic koloid protein kira – kira 30
mmHg yang cenderung menarik air dan garam kedalam pembuluh kapiler
 Tekanan air menyebabkan filtrasi dikurangi tekanan yang melawan filtrasi
sama dengan fitrasi aktif (50 – 30 + 5 mmHg = 25 mmHg). Kira – kira 120
ml plasma difiltrasi setiap menit. Pada glomerulus membrane filtrasi hanya
dapat dilalui oleh plasma, garam, glukosa dan molekul kecil lainnya. Sel
darah dan plasma terlalu besar untuk difiltrasi dengan cara ini.
 Susunan cairan filtrasi sama seperti susunan plasma darah tetapi tidak ada
proteinnya.membran glomerulus bekerja sebagai suatu saringan biasa dan
tidak memerlukan energi untuk proses ini. Pembentukan urine dimulai
dengan filtrasi sejumlah besar cairan yang bebas protein dari kapiler
glomerulus ke kapsula bowman.
Kebanyakan zat dalam plasma difiltrasi secara bebas kecuali protein,
sehingga filtrate glomerulus dalam kapsula bowman hamper sama dengan
dalam plasma. Cairan diubah oleh reabsorpsi air dan zat terlarut spesifik
kembali kea lam darah atau oleh sekresi zat lain dari kapiler peritubulus ke
dalam tubulus.

24
b. Proses absorpsi
Penyerapan kembali sebagian besar terhadap glukosa, natrium, klorida,
fosfat, dan ion bikarbonat. Proses ini terjadi secara pasif yang dikenal dengan
obligator reabsorpsi dan terjadi pada tubulus atas. Dalam tubulus ginjal cairan
filtrasi dipekatkan dan zat yang penting bagi tubuh direabsorpsi.Kegiatan ini
banyak dipengaruhi oleh hormone – hormone dan zat – zat yang direabsorpsi
berubah sesuai dengan keperluan tubuh setiap saat.
Air diserap dengan jumlah yang banyak. Zat esensial yang mutlak diperlukan
(mis, glukosa,NaCI, dan garam) direabsorpsi dengan sempurna ke dalam kapiler
peritubular, kecuali kadarnya melebihi ambang ginjal. Batas kadar tertinggi
suatu zat dalam darah yang apabila dilampaui menyebabkan ekskresi zat
tersebut masuk kedalam urine. Zat yang sebagian diabsorpsi sel – sel tubulus
bila diperlukan, misalnya kalium.Zat yang yang hanya diabsorpsi dalam jumlah
kecil dari hasil metabolisme, misalnya ureum, fosfat, dan asam urat. Dan zat
yang sama sekali tidak diabsorpsi, tidak dapat disekrei oleh sel tubulus,
misalnya kreatinin.
Jumlah total air yan diabsorpsi lebih kurang 120 ml/menit, 70 -80% diabsorpsi
oleh tubulus proksimal, disebut juga reabsorpsi air obligatori sisanya 20 -30%
diabsorpsi secara fakultatif dengan bantuan hormone vasopressin (ADH,
hormone antidiuretik) di tubule distal.Sebagian kecil sisanya diabsorpsi pada
duktus koligen yaitu saluran tempat bermuaranya tubulus distal.
c. Proses sekresi
Tubulus ginjal dapat mensekresi atau menambah zat – zat kedalam cairan
filtrasi selama metabolisme sel – sel membentuk asam dalam jumlah besar.
Namun pH darah dan cairan tubuh dapat dipertahankan sekitar 7,4 (alkalis), el
tubuh membentuk amoniak yang bersenyawa dengan asam kemudian disekresi
sebagai ammonium supaya pH darah dan cairan tubuh tetap alkali.
2. Refleks berkemih
Ketika kandung kemih terisi banyak urine, tekanan kandung kemih menjadi
lebih tinggi.Sinyal sensorik dari reseptor kandung kemih dihantarkan kesegmen
sacral medulla spinalis melalui nervus pelvikus, kemudian secara refleks kembali
lagi ke kandung kemih melalui nervus parasimpatis.Ketika kandung kemih terisi
sebagian, kontraksi berkemih biasanya secara spontan berelaksasi.Setelah beberapa
detik otot detrusor berhenti berkontraksi dan tekanan turun kembali kegaris basal.

25
Oleh karena kandung kemih terus terisi, refleks berkemih menjadi bertambah
sering dan menyebabkan kontraksi otot detrusor lebih kuat. Pada saat berkemih
menjadi cukup kuat menimbulkan refleks lain yang berjalan melalui nervus
pudendal ke spingter eksternus untuk menghambatnya. Jika inhibisi ini lebih kuat
dalam otak dari pada sinyal konstriktor volunteer ke sfingter eksterna, berkemih pun
akan terjadi. Jika berkemih tidak terjadi kandung kemih terisi lagi dan refleks
berkemih menjadi semakin kuat.(Syaifuddin.2011. hal 463-466).
3. Perangsangan Berkemih
Refleks berkemih adalah refleks medulla spinalis. Seluruhnya bersifat
automatic, tetapi dapat dihambat atau dirangsang oleh pusat dalam otak pusat ini
antara lain :
 Pusat perangsang dan penghambat kuat dalam batang otak, terletak di pons
varoli.
 Beberapa pusat yang terletak di korteks serebral, terutama bekerja sebagai
penghambat tetapi dapat menjadi perangsang.

Refleks berkemih merupakan dasar penyebab terjadinya berkemih, tetapi pusat


yang lebih tinggi normalnya memegang peranan. Sebagai pengendali akhir dari
berkemih sebagai berikut :

1. Pusat yang lebih tinggi menjaga secara parsial penghambatan refleks


berkemih, kecuali peristiwa berkemih dikehendaki
2. Pusat yang lebih tinggi dapat mencegah berkemih, bahkan jika refleks
berkemih timbul dengan membuat kontraksi tonik terus menerus. Pada
sfingter eksternus kandung kemih sampai mendapat waktu yang baik untuk
berkemih
3. Jika tiba waktu untuk berkemih, pusat kortikal dapat mrangsang pusat
berkemih sakral untuk membantu mencetuskan refleks berkemih. Dalam
waktu bersamaan menghambat sfinghter eksternus kandung kemih sehingga
peristiwa berkemih dapat terjadi
Berkemih dibawah keinginan tercetus dengan cara seseorang secara
sadar mengonsentrasikan otot – otot abdomennya yang meningkatkan
tekanan dalam kandung kemih, mengakibatkan urine ekstra memasuki
kandung kemih, sehingga meregangkan dinding kandung kemih. Hal ini
menstimulasi reseptor regang dan merangsang refleks berkemih
26
sertamenghambat sfingter eksternus uretra secara simultan. Biasanya seluruh
urine akan keluar dalam keadaan normal.

4. Transpor Urine Pada Berkemih


Urine mengalir dari duktus koligentes masuk ke kalik renalis, meregangkan
kaliks renalis, meningkatkan aktivitasnya yang kemudian mencetuskan kontraksi
peristaltik menyebar ke pelvis renalis kemudian turun sepanjang ureter.Dengan
demikian mendorong urine dari pelvis renalis kearah kandung kemih.Dinding ureter
terdiri dari otot polos dan dipersarafi oleh saraf simpatis, kontraksi peristaltik pada
ureter ditingkatkan oleh perangsangan parasimpatis dan dihmbat oleh perangsangan
simpatis.
Ureter memasuki kandung kemih menembus otot detrusor di daerah trigonum
kandung kemih sepanjang beberapa sentimeter menembus dinding kandung kemih.
Dinding kandung kemih cenderung menekan ureter dengan demikian mencegah
aliran balik urine dari kandung kemih sewaktu terjadi kompresi kandung kemih.
Setiap gelombang peristaltik yang terjadi sepanjang ureter akan meningkatkan
tekanan dalam ureter, sehingga bagian yang menembus dinding kandung kemih
membuka dan memberikan kesempatan urine mengalir kedalam kandung kemih.

5. Filtrasi Glomerulus
Kapiler glomerulus secara relatif bersifat impermeabel terhadap protein plasma
yang lebih besar dan permeable terhadap air dan larutan yang lebih kecil seperti
elektrolit, asam amino, glukosa, dan sisa nitrogen.
Glomerulus mengalami kenaikan tekanan darah 90 mmHg.Kenaikan ini terjadi
karena atreriola aferen yang mengarah ke glomerulus mempunyai diameter yang
lebih besar dan memberikan sedikit tahanan dari kapiler yang static (TH).Gerakan
masuknya ke dalam kapsula bowman disebut sebagai filtrasi glomerulus. Tiga faktor
dalam proses filtrasi dalam kapsula bowman menggambarkan integrasi ketiga faktor
tersebut.
 Tekanan osmotic (TO)
Tekanan yang dikeluarkan oleh air (sebagai pelarut) pada membran
semipermeabel sebagai usaha untuk menembus membran semipermeabel
kedalam area yang mengandung lebih banyak molekul yang dapat melewati
membran semipermeabel. Pori-pori dalam kapiler glomerulus membuat
27
membran semipermeabel mungkin untuk melewati yang lebih kecil dan air
tetapi mencegah molekul yang lebih besar, misalnya protein dan plasma.
 Tekanan hidrostaltik (TH)
Sekitar 15mmHg dihasilkan oleh adanay filtrasi dalam kapsula dan berlawanan
dengan tekanan hidrostatik darah.Juga mengeluarkan tekanan osmotik 1-
3mmHg yang berlawanan dengan osmotik darah.
 Perbedaan tekanan osmotik plasma dengan cairan dalam kapsula bowman
mencerminkan perbedaan konsentrasi protein. Perbedaan ini menimbulkan pori-
pori kapiler mencegah protein plasma untuk difiltrasi.
Tekanan hidrostaltk plasma dan tekanan osmotik filtrat kapsula bowman bekerja sama
untuk meningkatkan gerakan air. Molekul permeable kecil dari plasma masuk ke
dalam kapsula bowman. Tekanan hidrostaltik dan tekanan osmotik filtrat dalam
kapsula bowman bersama- sama mempercepat gerakan air dan molekul permeable
dari kapsula bowman masuk ke kapiler. Jumlah tekanan (90-39)-(32-15) =70 mmhg,
akan mempermudah perpindahan filtrat dari aliran darah ke dalam kapsula bowman
.laju ini dinamakan laju fitrasi glomerulus (LFG).
Pada orang sehat jumlah pertukaran filtrasi per menit 125 ml. faktor klinis yang
mempengaruhi LFG adalah tekanan hidrostaltik dan tekanan osmotic filtrat.
Hipporoteinemia terjadi pada kelaparan akan menurunkan tekanan osmotik dan
meningkatkan LFG. (Syaifuddin.2011. hal 466-468).

D. PATOFISIOLOGI/WOC

Retensi urine adalah hal yang dapat berbahaya karena urine yang statis dapat
menyebabkan infeksi saluran kemih, pembentukan batu, dan bahkan pada akhirnya akan
menyebabkan komplikasi kerusakan strukstural jangka panjang pada kandung kemih,
ureter maupun ginjal. Selain itu, distensi kandung kemih yang terus-menerus dapat
menyebabkan hilangnya tonus kandung kemih.
Proses patologis dari retensi menyebabkan efek bola salju. Urine yang tertahan
meningkatkan tekanan hdidrostatik, terhahap dinding kantong kemih yang kemudian
menyebabkan hipertrofi otot detrusor, pembentukan trabekula (jaringan ikat pada dinding
kantong kemih), atau pembentukan divertikulum. Pada saat yang sama, peristaltik pada
otot ureter akan meningkatkan terhadap tekanan yang menumpuk pada urine. Ureter

28
secara perlahan terelongasi, menjadi berliku, dan fibrosis.Tekanan yang meningkat juga
menjalar ke pelvis dan kaliks renal serta parenkim renal. Hidronefrosis yangf kemudian
terjadi, akan menimbulkan tekanan pada pembuluh darah, menyebabkan iskemia dan
meningkatkan kerusakan ginjal. Jika proses ini tidak dihentikan, maka dapat
mengakibatkan terjadinya gagal ginjal dan kematian. Figur 34-7 menggambarkan
prosesnya.Bahkan setelah retensi urine dibebaskan, jika perubahan yang disebabkan oleh
meningkatnya tekanan sampai parenkin renal, maka kerusakan yang terjadi dapat
permanen dari inversibel.
Obat-obatan seperti opioid, antidepresen trisiklik, sedatif, antipasmodik, obat anti
parkinson, dapat mengganggu fungsi neurologi normal dan refleks berkemih. Penyakit
dengan efek neurologis, seperti stroke sklerosis multipel, diabetes melitus, tabes dorsalis,
dan lesi sumsum tulang belakang, juga dapat mengganggu refleks berkemih.
Retensi urine dapat menyebabkan ISK kronis atau beberapa seri ISK dan gangguan
perkemihan.Sebaliknya ISK kronis dan gangguan perkemihan dapat menyebabkan retensi
urine.Otot detrusor dapat teriritasi dan gagal untuk berfungsi dengan benar, sehingga
menyebabkan buang air kecil yang tidak tuntas.Iritasi dan pembentukan jaringan parut
pada leher kandung kemih atau uretra dapat terbentuk, sehingga membawa pasien ini
kepada resiko yang lebih tinggi untuk terjadinya retensi urine.
Penyakit psikogenik seperti ansietas, atau ketakutan untuk berkemih di kamar mandi
umum, dapat menyebabkan distensi kandung kemih dan terjadinya retensi
urine.Ketidakmampuan untuk merelaksasikan uretra karena adanya ansietas atau defisit
neurologi juga dapat menyebabkan terjadinya retensi urine.
Masalah anorektal, seperti hemoroid, abses, impaksifekal, dan prolaps vagina dapat
menjadi faktor yang memengaruhi, baik melalui abstruksi, atau dari spasma sekunder
otot-otot perineal yang memengaruhi uretra saat berkemih.
Menurunnya asupan oral atau cairan intravena menurunkan laju filtrasi glomerulus
(GFR), yang dapat menyebabkan produksi urine yang sangat lambat dan kandung kemih
yang teralu penuh.Peningkatan yang lambat menyebabkan otot detrusor mengakomodasi
peningkatan volume sehingga serat otot direntangkan melebihi kemampuan mereka untuk
berkontraksi menghambat mikturisi.
Retensi urine dengan inkontinesia overflow dihasilkan diri proses berikut ini.
Kandungan kemih yang terus mengisi, meningkatkan tekanan intravesika.Hingga pada
akhirnya tekanan ini melebihi resistansi dari sfingter.Urine mengalir keluar dari kandung
kemih hingga mengurangi tekanan intravesika. Manun hanya berhenti sampai pada level

29
tekanan batas yang dapat dikontrol oleh sfingter. Banyak klien melaporkan bahwa
kandung kemih tidak terasa kosong.Hal ini terjadi berulang kembali.
Obstruksi yang lama menyebabkan meningkatnya tekanan pada saluran kemih dan
dapat cenderung terbentuknya divertikula.Divertikulum adalah kantong yang dihasilkan
dari herniasi membran mukosa pelapis yang disebabkan oleh kelemahan dinding
muskular organ.Divertikula kantong kemih banyak dijumpai pada kaum laki-laki. Banyak
divertikula yang asimptomatik dan biasanya ditemukan secara tidak sengaja saat
pemeriksaan dari keluhan lain. Divertikula kantong kemih dapat menyebabkan dua
masalah utama yaitu:
 ISK , yang diakibatkan oleh urine yang statis,
 Keganasan, yang mungkin dapat terjadi karena iritasi kronis oleh infeksi yang terus
menerus.
Intervensi yang dilakukan biasanya mencakup menghilangkan obstruksi dan
mengatasi retensi, diikuti dengan operasi eksisi kantong dan pengembalian struktur
saluran kemih seperti normal.Pascaoperasi, drainase urine melalui kateter sangat
dibutuhkan untuk pemulihan jaringan.Klien yang sebelumnya sering atau memiliki
infeksi saluran kemih yang kronis biasanya membutuhkan terapi antibiotik jangka
panjang setelah operasi dilakukan.(Black & Hawks. 2014.Hal 262)

30
WOC

31
32
33
E. MANIFESTASI KLINIS

Manifestasi klinis yang utama dari retensi urine adalah kantong kemih yang
terdistensi atau ketidakmampuan untuk mengosongkan kantong kemih. Berkemih
sebanyak 25-50 ml satu atau beberapa kali dalam waktu satu jam dapat menjadi indikasi
adanya retensi dengan overflow. Pemeriksaan diagnostic yang utama adalah
kateterisasi.Residu postvoid yang lebih besar dari 100 ml setelah beberapa usaha untuk
berkemih mengindikasikan adanya retensio.Pemeriksaan diagnostic lainnya, sepereti
sitoskopi dan pemeriksaan urodinamik meliputi pemeriksaan tekanan berkemih,
membantu mengetahui sebab dari retensio.(Black & Hawks. 2014.Hal 263)
Retensi urine atau ketidakmampuan untuk mengkosongkan kandung kemih, terjadi
karena satu atau dua alasan. Apakah seseorang tidak dapat merasakan bahwa kandung
kemih sudah penuh atau terjadi ketidakmampuan untuk cukup merelaksasikan saluran
uretra agar kandung kemih benar-benar kosong. Seorang pasien yang mempunyai retensi
urine punya tanda-tanda dan gejala berikut:
 Ketidaknyamanan untuk buang air kecil atau buang air dalam jumlah sedikit
yang sering (25-50 ml setiap 2-3 jam).
 Tidak nyaman di area pubik
 Pembengkakan kandung kemih diarea suprapubik
 Ketidaksesuaian signifikan antara asupan cairan dan keluaran uine.

Jika retensi urine tidak diperbaiki akan menyebabkan hilangnya ketegangan kandung
kemih, ISP, dan kerusakan ginjal karena aliran balik urine. (Bennita W, 2013. Hal 312)

F. KOMPLIKASI

Pemasangan kateter jangka pendek dapat menjadi kontraindikasi. Komplikasi


potensial dari kateterisasi suprapubis mencakup lepasnya kateter, hematuria ( terutama
setelah penggunaan kateter yang sangat besar ), perforasi usus saat penggunaan trokar,
dan gagalnya penyembuhan luka, yang akan menibulkan fistula saluran kencing.
Hasil yang diharapkan. Saat kateter suprapubis digunakan dibandingkan kateter
uretra , tingkat ISK yang rendah, rasa nyaman meningkat, dan lebih mudahnya, protocol
latihan berkemih diharapkan. . (Black & Hawks. 2014.Hal 266)

34
Retensi urine dapat menimbulkan infeksi yang bias terjadi akibat distensi kandung
kemih yang berlebihan, gangguan suplai darah pada dinding kandung kemih dan
proliferasi bakteri. Gangguan fungsi renal juga dapat terjadi, khususnya bila terdapat
obstruksi saluran kemih. (Brunner & Suddarth’s.2001.Hal 1392)

G. PEMERIKSAAN PENUNJANG

 Ureum dan elektrolit : fungsi ginjal


 Kultur + sensitivitas MSU : berhubungan dengan infeksi, termasuk sitologi, jika
dicurigai terdapat tumor
 Sistografi : katup uretra, striktur
 IVU : batu ginjal/kandung kemih.
 Urodinamik : memberikan identifikasi dan penilaian masalah neurologis, penilaian
BPH
 Sistoskopi
(Pierce.A, potter 2005: 61)

H. PENATALAKSANAAN

1. Kateter Lurus
Peralatan yang digunakan untuk mendapatkan spesimen urine steril, menilai volume
urine residu, dan memindahkan penumpukan di kandung kemih.Kateterisasi
berselang dengan kateter lurus juga dapat digunakan untuk pasien yang mengalami
kerusakan saraf yang mempengaruhi fungsi kandung kemih. Resiko utama
kateterisasi adalah infeksi dan trauma jaringan. Tanpa memandang alasan yang
mendasari kateterisasi , hal ini memerlukan perintah dokter. (Bennita W, 2013. Hal
316)
2. Sistotomi suprapubik
Kateterisasi suprapubik terkadang diginakan untuk mengatasi retensi urine.
Pemasangan kateter mengizinkan klien post-operatif untuk memulai dipasang saat
kateter uretra dirasa susah, terutama pada klien dengan prostat yang sangat
membesar, struktur uretra, atau kuadriplegia. Anestasi lokal digunakan,walaupun
anestasi umum juga dapat digunakan jika terdapat prosedur operasi yang lain akan

35
dilakukan. untuk memfasilitasi pemasangan kateter ini, kantong kemih harus
didistensikan dengan urine atau air sebelum pemasangan. Jika kantong kemih tidak
dapat didistensikan secara optimal dengan urine, maka cairan tambahan dapat
dimasukkan melalui kateter atau sistoskop.
Kulit suprapubis disiapkan.Dengan teknik steril, kateter suprapubis dimasukkan
melalui insisi bedah yang kecil atau dengan melalui trokar yang menembus kulit ke
kantong kemih.Setelah trokar dipasang, inti kanula yang tajam dikeluarkan.Kateter
kemudian dijahit melalui kanula dan disambungkan dengan sistem pembuangan
yang tertutup.Kateter biasanya difiksasi dengan jahitan atau diamankan dengan
tutup yang dibuat secara komersial. Saat kateter dilepas, lapisan otot dari kantong
kemih akan berkontraksi secara langsung pada daerah tusukan dan mengecilkan
permukaan luka. (Black & Hawks.2014. Hal 265)

36
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS

A. PENGKAJIAN

a. Identitas Pasien
Pada identifikasi pasien, meliputi : nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, alamat,
pekerjaan, penanggung jawab.
Retensi urine bisa terjadi pada usia lanjut dan jenis kelamin pria lebih sering
terjadi karena hiperplasia prostat jinak atau kelainan prostat, dan pada perempuan
karena prolaps dari dinding belakang vagina (retrokel/entrokel) meningkatkan
risiko terjadinya retensi karena tekanan yang timbul pada uretra.

b. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan utama
Biasanya klien merasakan nyeri pada suprapubis berat dan ketidakmampuan
untuk miksi.
2. Riwayat kesehatan sekarang
Pada riwayat kesehatan sekarang biasanya terdapat keluhan yang dirasakan
oleh klien yaitu sulit untuk berkemih ada keinginan untuk berkemih, perutnya
bagian bawah nyeri, gatal pada daaerah perinealnya
3. Riwayat kesehatan dahulu
a. Biasanya klien pernah menalami infeksi saluran kemih, BPH, kanker
prostat, batu saluran kemih, riwayat striktur uretra, dan trauma urologi.dan
minum Obat-obatan: beberapa obat menyebabkan retensi urine yang
mencakup preparat antikolinergik-anti spasmodik seperti, atropine dan
penggunaan alkohol.
b. Riwayat operasi dan tindakan: Retensi dapat terjadi pada pasien
pascaoperatif, khususnya pasien yang menjalani operasi di daerah perineum
atau anal sehingga timbul spasme refluk sfinger. Anestesi umum akan
mengurangi inervasi otot kandung kemih, dan dengan demikian dorongan
untuk membuang air kecil tertekan. Riwayat penggunaan alkohol.

37
4. Riwayat kesehatan keluarga
Tanyakan apakah ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit serupa
dengan klien dan apakah ada riwayat penyakit bawaan atau keturunan
berhubungan dengan masalah pada ginjal atau urologi

c. Pemeriksaan Fisik
 Keadaan Umum
Biasanya klien tampak compos mentis dan lemah,
 Tanda-Tanda Vital
Td : Meningkat
Nadi : Meningkat
Suhu : Meningkat
Rr : Frekuensi Pernapasan Meningkat.

 Head to toe
1. Kepala
Bentuknya normal, kulit kepala bersih, tidak ada lesi, warna rambut
hitam
2. Mata
Konjungtiva anemis, penglihatan baik, reflek pupil baik, gerakan bola
mata baik
3. Hidung
Bentuk simestris tidak ada polip, tidak da kelainan pada hidung
4. Mulut
Membran mukosa mulut kering, tidak ada pendarahan dan
pembengkakan pada gusi
5. Telinga
Bentuk simestris, tidak menggunakan alat bantu pendengaran,
6. Wajah
Klien tampak meringis, Bentuk wajah simestris, tidak ada edema, muka
terlihat pucat,
7. Leher

38
Tidak ada pembesaran tiroid dan getah bening
8. Dada dan thorak
Bentuk dada normal, pola nafas teratur, suara nafas vecikuler, tidak
menggunakan otot-otot bantu pernafasan,
9. Abdomen
 Inspeksi : tampak kembung
 Palpasi : adanya nyeri tekan pada abdomen
 Auskultasi : pada kuadran atas abdomen dilakukan untuk
mendeteksi bunyi bruit
 Perkusi pada area supra pubik, apakah menghasilkan bunyi pekak
yang menunjukkan distensi kandung kemih
10. Integumen dan kuku
Kulit terlihat pucat, kering, dan keluar keringat dingin terutama pada
ujung-ujung ekstermitas. Tugor kulit menurun
11. Sistem Kardiovaskuler
irama jantung regular, nyeri dada tidak ada, bunyi jantung normal
12. Ekstremitas
pada ekstremitas bawah dan atas biasanya lemah yang di akibatkan
muntah yang terus menerus sehingga tidak terdapat cadangan
karbohidrat dalam tubuh sehubungan dengan proses penyakit
13. Pemeriksaan rektum dan anus meliputi inspeksi dan palpasi. Inspeksi
feses, meliputi observasi feses klien terhadap warna, konsistensi, bentuk
permukaan,jumlah, bau dan adanya unsur-unsur abdomen

d. Pola Fungsi Kesehatan

1. Pola istirahat tidur


Biasanya klien dengan penyakit perkemihan frekwensi tidur, durasi dan waktu
tidurnya terganggu karena adanya rasa nyeri,
2. Pola persepsi terhadap kesehatan
Biasanya klien memiliki kebiasaan merokok, alcohol, obat-obatan dan pola
makan yang tidak teratur.
3. Pola aktivitas latihan
Biasanya klien terganggu dalam segala hal

39
4. Pola nutrisi
Biasanya pada klien dengan penyakit perkemihan dapat ditemukan pola
makan sebelum sakit yang sering dikonsumsi oleh klien yang merupakan
faktor yang dapat menyebabkan terjadinya seperti makanan yang tinggi
natrium, kalium, kalsium sedangkan pola makan selama sakit biasanya
mengalami penurunan frekuensi dan porsi karena klien mengalami mual.Pada
klien dengan sistem perkemihan harus dikaji kebiasaan minum yang kurang
dari kebutuhannya dan yang dapat memperberat penyakitnya seperti kopi, teh
dan alkohol, selama sakit biasanya intake dibatasi sesuai output.
5. Pola eliminasi
Biasanya klien dengan penyakit perkemihan di temukan pola Eliminasi yang
terganggu,
6. Pola kognitif perceptual
Biasanya klien dengan penyakit perkemihan tidak mengalami gangguan dalam
pola kognitif perseptual.
7. Pola konsep diri
Biasanya klien dengan penyakit perkemihan dapat juga mengalami gangguan
mengenai harga diri, ideal diri, identitas diri, gambaran diri dan peran diri.
8. Pola koping
Biasanya klien dengan penyakit perkemihan mengalami gangguan mengenai
respon pasien dalam menghadapi suatu masalah.
9. Pola seksual – reproduksi
Biasanya klien dengan penyakit perkemihan mengalami gangguan mengenai
pola seksual dan reproduksi
10. Pola peran hubungan
Biasanya klien dengan penyakit perkemihan kadang mengalami gangguan
11. Pola nilai dan kepercayaan
Biasanya klien dengan penyakit perkemihan tidak mengalami gangguan

40
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Nyeri akut b.d agens cedera biologis


2. Retensi urine b.d Sumbatan saluran perkemihan
3. Gangguan eliminasi urin b.d obstruksi anatomik
4. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh b.d kurang asupan makanan
5. Kelebihan volume cairan b.d kelebihan asupan cairan
6. Ansietas b.d perubahan kesehatan
7. Risiko infeksi

C. INTERVENSI KEPERAWATAN

NO Dx Keperawatan NOC NIC


1. Nyeri akut b.d agens Control nyeri Pain managemen
cedera biologis indikator  Kaji secara
 Mengenali kapan nyeri komperhensip tentang
terjadi nyeri meliputi : lokasi
 Menggunakan tindakan karakteristik dan
pengurangan (nyeri) tanpa onset, durasi, frekwensi,
analgesic. kualitas, intensitas /
 Menggunkan analgesic beratnya nyeri dan faktor
yang direkomendasikan prespitasi
 Melaporkan gejala yang  Observasi adanya
tidak terkontrol pada petunjuk non verbal
professional kesehatan mengenai
 Mengenali apa yang terkait ketidaknyamanan
dengan gejala nyeri terutama pada mereka

 Melaporkan nyeri yang yang tidak dapat

terkontrol berkomunikasi secara


efektif.

Tingkat nyeri  Gunakan strategi


komukasi terapeutik

41
 Nyeri yang dilaporkan untuk mengetahui
 Panjang episode nyeri pengalaman nyeri dan
 Mengerang dan menangis sampaika penerimaan

 Tidak bias beristirahat pasien terhadap nyeri.

 Mengerinyit  Evaluasi pengalamanan

 Frekuensi nafas nyeri dimasa lalu yang


meliputi riwayat nyeri
kronik individu atau
keluarga atau nyeri yang
menyebabkan
ketidakmampuan/kecaca
tan.
 Berikan informasi
mengenai nyeri, seperti
penyebab nyeri, berapa
nyeri akan dirasakan
,dan antisifasi dari
ketidaknyaman terhadap
prosedur.
 Ajarkan prinsip-prinsip
manajemen nyeri
 Ajarkan penggunaan
tehnik non formakologi (
ex : relaksasi, guided
imagery, terapi musik,
distraksi, aplikasi, panas
dingin, massase, TENS,
hippotis, terapi bermain,
terapi aktivitas,
akupressure )
 Berikan individu
penurunan nyeri yang
optimal dengan

42
peresapan analgesic.
 Dukungan istirahat/tidur
yang adekuat untuk
membantu penurunan
nyeri
 Anjurkan pasien untuk
berdiskusi tentang
pengalamannya
nyerisecara tepat
 Kendalikan factor
lingkungan yang dapat
mempengaruhi rspon
pasien teehadap
ketidaknyamanan
misalnya, suhu, ruangan,
pencahayaan, suara
bising.
 Libatkan keluarga untuk
mengurangi nyeri

Analgetik Administration

 Tentukan lokasi,
karakteristik, kualitas
dan keparahan nyeri
sebelum mengobati
pasien
 Cek perintah pengobatan
meliputi obat, dosis, dan
frekuensi obat analgesic
yang diresepkan
 Monitor tanda vital
sebelum dan setelah
memberikan analgesic

43
markotik pada
pemberian dosis pertama
kali atau jika ditemukan
tanda-tanda yang tidak
biasanya
 Evaluasi kemampuan
pasien untuk berperan
serta dalam pemilihan
analgesic, rute dan dosis
dan keterlibatan pasien,
sesuai kebutuhan.

2. Retensi urine b.d Retensi Urine Kateter urin


Sumbatan saluran Eliminasi Urine Aktivitas-aktivitas :
perkemihan Indicator :  Pasang alat dengan tepat
 Pola eliminasi 1/3  Berikan privasi dan
 Jumlah urine 1/5 tutupi pasien dengan
 Mengosongkan kandung baik untuk kesopanan
kemih sepenuhnya 1/5 yaitu hanya mengekspos
 Mengenali keinginan daerah genitalia
untuk berkemih 1/3  Isi bola kateter sebelum
 Retensi urine 1/3 pemasangan kateter
 Nyeri saat berkemih 1/3 untuk memeriksa

 Ragu untuk berkemih 1/3 ukuran dan kepatenan


kateter

Keparahan Gejala  Posisi pasien dengan


Indicator : tepat ( misalnya,

 Intensitas gejala 1/3 perempuan terlentang

 Frekuensi gejala 1/3 dengan kedua kaki

 Terkait kegelisahan 1/3 direnggangkan atau


fleksi pada bagian
panggul dan lutut; laki-
laki dengan posisis
terlentang )

44
 Bersihkan daerah miatus
uretra dengan larutan
anti bakteri, saline steril,
atau air steril sesuai
kewajiban lembaga
 Masukkn dengan lurus
atau retensi kateter
kedalam kandung kemih
 Gunakan ukuran kateter
yang sesuai
 Pastikan bahwa kateter
yang dimasukkan cukup
jauh kedalam kandung
kemih untuk mencegah
trauma pada jaringan
uretra dengan inflamsi
balon
 Isi bola kateter untuk
menetapkan kateter,
berdasarkan usia dan
ukuran tubuh sesuai
rekomendasi pabrik
 Hubungkan retensi
kateter kekantong sisi
tempat tidur drenase
atau pada kantong kaki
 Amankan kateter pada
kulit dengan plester
yang sesuai
 Tempatkan kantong
drainase dibawah
permukaan kandung
kemih

45
 Monitor imtake dan
output
 Lakukan pengosongan
kantong kateter

Perawatan retensi urin


Aktivita-aktivitas :
 Lakukan komperensif
system perkemihan
focus terhadap
intekonensia
 Monitor adanya
penggunaan agen-agen
yang tidak sesuai resep
mengandung bahan
anticholinergic
 Atau alpha-agonist
 Gunakan kekuatan
sugesti dengan
mengunakan air yang
mengalir dengan
menyiram toilet
 Stimulasi reflek
kandung kemih dengan
membasahi abdomen
dengan air dingin,
memberikan sentuhan
pada paha bagian dalam
atau air yang mengalir
 Pasangkan kateter urine
sesua kebutuhan
 Anjurkan pasien tau
keluarga untuk mencatat

46
urine output sesuai
kebutuhan
 Anjurkan cara untuk
menghindari konstipasi
peces
 Monitor intake dan
output
 Monitor derajat distensi
kandung kemih dengan
palpasi dan perkusi
3. Gangguan eliminasi  Urinary elimination Urinary Retention Care
urin b.d obstruksi  Urinary Contiunence
 Lakukan penilaian
anatomik
Indikator : kemih yang
komprehensif berfokus
 Kandung kemih kosong
pada inkontinensia
secara penuh
(misalnya, output urin,
 Tidak ada residu urine
pola berkemih kemih,
>100-200 cc
fungsi kognitif, dan
 Intake cairan dalam
masalah kencing
rentang normal
praeksisten)
 Bebas dari ISK
 Memantau penggunaan
 Tidak ada spasme bladder
obat dengan sifat
antikolinergik atau
properti alpha agonis
 Memonitor efek dari
obat-obatan yang
diresepkan, seperti
calcium channel
blockers dan
antikolinergik
 Menyediakan
penghapusan privasi

47
 Gunakan kekuatan
sugesti dengan
menjalankan air atau
disiram toilet
 Merangsang refleks
kandung kemih dengan
menerapkan dingin
untuk perut, membelai
tinggi batin, atau air
 Sediakan waktu yang
cukup untuk
pengosongan kandung
kemih (10 menit)
 Gunakan spirit
wintergreen di pispot
atau urinal
 Menyediakan manuver
Crede, yang diperlukan
 Gunakan double-void
teknik
 Masukkan kateter
kemih, sesuai
 Anjurkan pasien /
keluarga untuk
merekam output urin,
sesuai
 Instruksikan cara-cara
untuk menghindari
konstipasi atau impaksi
tinja
 Memantau asupan dan
keluaran
 Memantau tingkat

48
distensi kandung kemih
dengan palpasi dan
perkusi
 Membantu dengan
toilet secara berkala
 Memasukkan pipa ke
dalam lubang tubuh
untuk sisa
 Menerapkan
kateterisasi intermiten
 Merujuk ke spesialis
kontinensia kemih

4. Ketidakseimbangan Status nutrisi: Asupan Manajemen


nutrisi: kurang dari nutrisi elektrolit/cairan
kebutuhan tubuh b.d Indikator : Aktivitas :
kurang asupan  Asupan protein  Dapatkan spesimen
makanan  Asupan karbohidrat laboratorium untuk
 Asupan serat pemantauan
 Asupan vitamin perubahan cairan

 Asupan mineral atau elektrolit yang

 Asupan zat besi sesuai.

 Asupan kalsium  Timbang berat

 Asupan natrium badan harian dan

Status nutrisi: Asupan pantau gejala.

makanan dan cairan  Berikan cairan yang

Indikator : sesuai.

 Asupan makanan  Tingkatkan intake /

secara oral asupan cairan per

 Asupan makan secara oral yang sesuai.

tube feeding  Berikan pengganti

 Asupan cairan secara nasogastrik yang

49
oral diresepkan
 Asupan nutrisi berdasarkan output,
parenteral yang sesuai.
Keparahan mual dan muntah  Minimalkan asupan
Indikator : makanan dan
 Frekuensi mual minuman dengan
 Intensitas mual diuretik atau
 Frekuensi muntah pencahar.

 Intensitas muntah  Pastikan bahwa

 Ketidakseimbangan larutan intravena

elektrolit yang mengandung


elektrolit diberikan
dengan aliran yang
konstan dan sesuai.
 Monitor hasil
laboratorium yang
relevan dangan
keseimbangan
cairan.
 Jaga pencatatan
intake / asupan
output yang akurat.
 Monitor tanda-tanda
vital, yang sesuai.
 Monitor respon
pasien terhadap
terapi elektrolit yang
diresepkan.
 Berikan resep diet
yang tepat untuk
caairan tertentu atau
pada
ketikseimbangan

50
elektrolit.
 Monitor efek
samping dari
suplemen elektrolit
yang diresepkan.
 Monitor kehilangan
cairan.
 Instruksikan pasien
dan keluarga
mengenai alasan
untuk pembatasan
cairan, tindakan
hidrasi, atau
administrasi
elektrolit tambahan,
seperti yang
ditunjukkan.

Manajemen Nutrisi
Aktivitas :
 Tentukan status gizi
pasien dan
kemampuan untuk
memenuhi
kebutuhan gizi.
 Atur diet yang
diperlukan.
 Anjurkan pasien
mengenal
modifikasi diet yang
diperlukan.
 Tawarkan makanan
ringan yang padat

51
gizi.
 Pastikan diet
mencakup makanan
tinggi kandungan
serat untuk
mencegah
konstipasi.
 Monitor kalori dan
asupan makanan.
 Anjurkan pasien
untuk memantau
kalori dan intake
makanan.

5. Kelebihan volume
Elelectrolit and acid base Manajemen cairan
cairan b.d kelebihan balance Aktivitas-aktivitas
asupan cairan Fluid balance  Timbang berat badan
setiap hari dan monitor
Indikator status pasien-pasien
 Keseimbangan intake  Masukkan kateter urine
output dalam 24 jam  Monitor hasil
 Serum elektrolit laboratorium yang
 Edema perifer relevan dengan retensi
 Kehausan cairan (misalnya,
peningkatan berat jenis,
pening BUN penurunan
hematokrit, dan
peningkatan kadar
osmolaritas urin)
 Monitor tanda-tanda
vital pasien
 Monitor indikasi
kelebihan cairan/retensi

52
(misalnya, crackles,
elevasi CVP atau
tekanan kapiler paru
yang terganjal,
edema,distensi vena
leher, dan asites)
 Monitor perubahan
berat badan pasien
sebelum dan sesudah
dialysis
 Kaji lokasi dan luasnya
edema, jika ada
 Monitor makanan/cairan
yang dikonsumsi dan
hitug asupan kalori
harian
 Berikan cairan, dengan
tepat
 Distribusi asupan cairan
selama 24 jam
 Batasi asupan air
 Konsultasi dengan
dokter jika tanda-tanda
dan gejala kelebihan
volume cairan

6. Ansietas b.d
Tingkat Kecemasan Pengurangan Kecemasan
perubahan kesehatan

Indikator : Aktivitas :
 Strees berkurang  Gunakan pendekatan
 Otot tegang yang tenang dan
 Wajah tegang meyakinkan

 Meremas tangan  Nyatakan harapan yang

53
 Tidak konsentrasi ada pada pasien
 Cemas yang disampaikan  Jelaskan semua prosedur
 Takut yang disamapaikan dengan benar dan tenang
 Dorong keluarga untuk
mendampingi
 Lakukan usapan dada
 Berada di sisi klien
 Puji serta kuatkan klien
 Dorong aktivitas yang
tidak kompetitif
 Berikan informasi
faktual

Peningkatan koping

Aktivitas:

 Bantu pasien dalam


mengidentifikasi tujuan
yngg tepat
 Dukung hubungan
pasien
 Berikan penilaian dan
diskusikan yang
memiliki tujuan yang
baik
 Gunakan pendekatan
yang tenang

7. Risiko infeksi ImImune Status Infection Control (Kontrol


Knowledge : Infection control infeksi)
Risk control  Gunakan sabun
antimikrobia untuk
Indikator : cuci tangan

54
 Klien bebas dari tanda dan  Cuci tangan setiap
gejala infeksi sebelum dan sesudah
 Mendeskripsikan proses tindakan kperawtan
penularan penyakit, factor  Gunakan baju, sarung
yang mempengaruhi tangan sebagai alat
penularan serta pelindung
penatalaksanaannya.  Pertahankan
 Menunjukkan kemampuan lingkungan aseptik
untuk mencegah timbulnya selama pemasangan
infeksi alat
 Ganti letak IV perifer
dan line central dan
dressing sesuai dengan
petunjuk umum
 Gunakan kateter
intermiten untuk
menurunkan infeksi
kandung kencing

Infection Protection
(proteksi terhadap infeksi)
 Monitor tanda dan
gejala infeksi sistemik
dan lokal
 Monitor kerentanan
terhadap infeksi
 Batasi pengunjung
 Partahankan teknik
aspesis pada pasien
yang beresiko
 Pertahankan teknik
isolasi k/p
 Berikan perawatan

55
kuliat pada area
epidema
 Inspeksi kulit dan
membran mukosa
terhadap kemerahan,
panas, drainase

56
BAB IV

PENUTUP

A. KESIMPULAN
Retensi urin adalah ketidakmampuan kandung kemih untuk mengosongkan
sebagian atau keseluruhan urin saat berkemih.Pengobatan diarahkan pada penyelesaian
penyebab masalah.(Black & Hawks.2014. Hal 261)
Retensi urine adalah akumulasi urine yang nyata di dalam kandung kemih akibat
ketidakmampuan mengosongkan kandung kemih.Urine tersebut berkumpul di
kandung kemih, meregangkan dindingnya sehingga timbul perasaan tegang, tidak
nyaman, nyeri tekan pada simfisis pubis, gelisah, dan terjadi diaforesis (berkerigat).
(Potter,Patricia.A.2005.Hal 1686). Retensi dapat disebabkan oleh berkurangnya input
sensoris menuju dari kandung kemih, ketengangan otot, rasa cemas, atau kondisi
neurologis lainnya yang mempengaruhi kandung kemih. Operasi sering kali menjadi
faktor penyebab anestasi spinal sering kali menyebabkan retensi dibandingkan
dengan anestasi umum.Setelah operasi, 10-15% klien yang menjalani anestasi umum
membutuhkan pemasangan kateter dikarenakan ketidakmampuan
berkemih.Sementara itu, sekitar 20-25% dari klien yang menjalani anestasi spinal
membutuhkan kateter.

B. SARAN
Dengan adanya tanda klinis diatas, perawat diharapkan dapat memberikan
asuhan keperawatan yang holistik dan profesional, untuk memberikan pelayanaan
kesehatan yang efisien dan komprehensif dengan mengetahui pemeriksaan diagnostik
dan penatalaksanaan pada retensi urin. Diharapkan dengan mengetahui, hal tersebut
Perawat dapat mendiagnosa keperawatan dan memberikan intervensi keperawatan
yang sesuai dengan kode etik keperawatan dan dapat melakukan tindakan kolaboratif
terhadap tenaga medis dalam satu visi dan misi kesehatan yaitu mensejahterakan
masyarakat Indonesia yang sehat dan menjadi lebih baik.

57
DAFTAR PUSTAKA

Digiolio, marry,dkk. 2014. Keperawatan Medical Bedah .Yogyakarta: Rapha Publishing


Vaughans, bennita. 2013. Keperawatan Dasar .Yogyakarta : Rapha Publishing
R, Sjamsuhidajat & Wim De Jong .2010 .Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De jong Ed
3.Jakarta: Buku Kedokteran EGC
R, Sjamsuhidajat & Wim De Jong .2004 .Buku Ajar Ilmu Bedah Sjamsuhidajat-De jong Ed
2.Jakarta: Buku Kedokteran EGC
Grace, Pierce A &Neil R. Borley. Ilmu Bedah.Jakarta : Erlangga
Syaifuddin.2011 . Anatomi Fisiologi : Kurikulum berbasis kompetensi untuk kepearawatan &
kebidanan, ed.4.Jakarta : Buku Kedokteran EGC
Brunner &Suddarth . 2001 .Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth Ed
8 Vol.2 .Jakarta : Buku kedokteran EGC
Patricia A, Potter. 2005 .Buku Ajar Fundamental Keperawatan Ed 4 .Jakarta : Buku
Kedokteran EGC
Black, Joyce M dan jane Hokanson Hawks. 2014 .Keperawatan Medikal Bedah Ed 8. Jakarta
: Salemba Medika
Herdman.T.Heather & Kamitsuru shigemi dkk.2015.Diagnosis Keperawatan.Ed 10.Jakatra :
EGC
Moorhead, Sue. dkk. 2016. Nursing Outcomes Classification(NOC)Ed 5.Singapore : Elsevier
Inc
Bulechek, Gloria M. 2016. Nursing Interventions Classification(NIC)Ed 6. Singapore:
Elsevier Inc

58

Anda mungkin juga menyukai